Kej 22:1-14 Tidak menyayangkan anaknya yang tunggal [29 Jun 2014]

Søren Kierkegaard adalah filsuf abad ke–19 yang mengangkat perikop ini untuk menyerang gereja yang larut dalam moralisme dan rasionalisme. Bagi dia, perikop ini menunjukkan bahwa iman itu di atas etika. Setuju atau tidak, kalau Saudara merasa nyaman dengan perikop ini, Saudara belum membacanya dengan baik.

Penggalian Teks

Kisah panjang menyangkut janji keturunan bagi Abraham semestinya selesai minggu yang lalu, ketika Ismael diusir, dan Ishak menjadi pewaris tunggal Allah. Tetapi ada kejutan yang pahit bagi Abraham, dan kita yang mendengarkan kisah ini. Tanpa mengerti seperti apa kepahitan itu, kita tidak mengerti Injil, sebagaimana yang akan dijelaskan di bagian Makna.

A.1 menyatakan tujuan Allah: untuk menguji Abraham. (Kata “mencoba” itu dipakai ketika ratu negeri Syeba “menguji” Salamo, 1 Raj 10:1.) Dahsyatnya perintah Allah ditegaskan terus dalam perikop ini, dengan menekankan relasi antara Abraham dan Ishak. Dalam a.2, Ishak adalah anak Abraham, anak yang tunggal (karena Ismael sudah diusir), anak yang dikasihi Abraham. Tiba-tiba, Abraham (dan kita) terkejut dengan apa yang harus dilakukan dengan anak yang dikasihi itu: dipersembahkan. Berulang kali dalam cerita selanjutnya, Ishak disebut “anaknya” atau “anakku”, dan dia memanggil Abraham “Bapa”.

Aa.3–5 menceritakan perjalanan Abraham; tiga hari lamanya untuk ketaatannya diuji. Dalam aa.6–8, Abraham dan Ishak berjalan ke gunung: dua kali dikatakan “keduanya berjalan bersama-sama” (6, 8), untuk menegaskan kedekatan mereka. Ishak mulai bingung dan bertanya, tetapi Abraham menjawab, tanpa memberitahu bahwa anak domba yang akan disediakan adalah Ishak sendiri.

Dalam a.9, Ishak mengalami kejutan yang pahit seperti yang dialami Abraham (dan kita) dalam a.2. Mezbah didirikan, kayu disusun, dan tahu-tahu, Ishaklah yang diikat, “anaknya itu”. Kemudian, tangan Abraham bersiap untuk melakukannya (10). Tidak ada perasaan yang diceritakan, baik dari Abraham, maupun dari Ishak. Yang diceritakan hanyalah ketaatan Abraham, yang terdiri atas tindakannya, entah bagaimana kondisi batinnya.

Dalam aa.11–15, ketegangan dan kengerian kisah ini tiba-tiba hilang: Allah menghentikan Abraham dari tindakannya, dengan menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti anaknya. Allah sudah melihat bahwa Abraham tidak menyayangkan anaknya yang tunggal. Abraham melihat bahwa Tuhan menyediakan.

Abraham lolos ujian, sehingga dalam 22:15–18, janji Allah kepada Abraham diteguhkan dengan sangat.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya anak-anak Abraham dalam iman rela menyerahkan bahkan yang paling berharga dalam relasi mereka dengan Allah, dalam keyakinan bahwa Allah yang berdaulat atas rencana-Nya dan bahwa Dia lebih besar daripada semua pemberian-Nya.

Makna

Perintah Allah kepada Abraham dalam perikop ini tidak bisa dipahami dengan baik. Mempersembahkan anak adalah kejahatan yang biasanya dilakukan dalam keadaan darurat untuk menarik perhatian dewa, tetapi tidak ada alasan Abraham untuk mau kehilangan anaknya. Mazmur 13 menggambarkan orang yang kehilangan akal tentang cara Tuhan dengannya, dan saya duga mazmur itu dekat dengan kondisi batin Abraham. Orang Toraja akan mengatakan kepada Abraham, “Itulah yang terbaik; Tuhan memiliki rencana yang indah; Tuhan lebih mengasihi Ishak daripada kita”, karena kita belum tahu bagaimana menangis dengan orang yang menangis. Tetapi, perintah ini tidak baik, dan tidak masuk akal.

Lebih lagi, membunuh anak pewaris janji Allah adalah sebuah kebodohan besar, tindakan tersebut seakan-akan meniadakan mukjizat kelahiran Ishak pada masa tua Abraham dan Sara. Manusia selalu yakin dengan apa yang masuk akalnya, terutama, di Toraja, menjadi PNS (pegawai lembaga mapan seperti bank atau Gereja Toraja boleh juga). Tetapi perintah Allah bisa liar sekali, di luar dugaan manusia. Yesus, dengan serius, memanggil murid-murid-Nya dari pekerjaan yang sah dan wajar sebagai nelayan dsb, untuk berkeliling memberitakan Injil. Dalam Mt 10:40–42, Dia juga memuji semua yang membantu mereka dalam pelayanan itu, padahal pelayanan itu merongrong lembaga keagamaan yang sah dan berlaku pada zaman itu. Seringkali, perintah Allah tidak akan lolos raker yang sehat, andaikan mau dimasukkan dalam program.

Dari segi Allah, yang diuji dalam perintah-Nya ialah kerelaan Abraham untuk menyerahkan apa yang paling berharga baginya, meskipun hal itu adalah pemberian Allah dan sarana janji Allah yang menjadi makna hidup Abraham (12). Abraham membuktikan bahwa dia lebih menghargai Allah daripada semua pemberian Allah. Makanya, Yakobus mengangkat kisah ini untuk menunjukkan bagaimana iman baru sempurna (utuh, genap) ketika dinyatakan dalam perbuatan (Yak 2:21–23). Penulis kitab Ibrani memberitahu kita bahwa Abraham percaya bahwa Allah dapat membangkitkan orang mati (Ibr 11:19). Dia begitu yakin bahwa janji Allah akan terwujud sehingga dia tidak bertanya lagi tentang kemampuan Allah untuk mewujudkan rencana-Nya, dan tidak bertanya lagi tentang harga yang harus dibayar. Dalam bahasa Paulus, dia sudah bebas dari kedagingan sehingga mampu untuk menaati Allah (Rom 6:12–23; sama seperti Yakobus, Paulus tidak membayangkan iman yang lepas dari ketaatan).

A.14b memberi petunjuk bahwa gunung di Moria itu adalah (atau diartikan sebagai) bukit Sion, tempat Bait Allah dibangun seribu tahun kemudian. Abraham menjadi orang Israel pertama yang anak sulungnya (menurut janji Allah) ditebus dengan seekor domba (a.13, bdk. Kel 34:20), dan perintis persembahan di gunung yang kudus itu.

Akhirnya, Abraham menjadi gambaran dari Allah. “Inilah Anak-Ku yang terkasih”, kata Allah Bapa ketika Yesus dibaptis. Paulus menarik kesimpulannya dalam Rom 8:32. Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita. Kata “menyayangkan” adalah kata yang dipakai dalam terjemahan Yunani dari Kej 22:12 (LAI: “tidak segan-segan untuk menyerahkan”). Hanya, Allah tidak bisa menarik tangan-Nya dari Yesus, karena justru Yesus yang harus menjadi pengganti orang-orang berdosa. Allah melalui peristiwa yang pahit ini bukan karena diuji, tetapi karena kasih.

Pos ini dipublikasikan di Kejadian dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kej 22:1-14 Tidak menyayangkan anaknya yang tunggal [29 Jun 2014]

  1. Matius Bondi berkata:

    tks atas Firman Tuhan yg senantiasa menyegarkan iman kita, TYM

  2. fredyarif berkata:

    Mkasih……… sangat membantu dalam persiapan…. SALAMA

  3. abuchanan berkata:

    Terima kasih atas tanggapan yang menguatkan. Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s