Mzm 45:11-18 Identitas dan hormat di dalam Kristus [6 Jul 2014]

Leksionari minggu ini agak sulit. Rom 7:15–26 serta Mat 11:16–19 menyangkut pembebasan dari hukum Taurat, sementara Kej 24:34–67 dan perikop kita menyangkut pernikahan. MJ menghilangkan bacaan dari Kejadian, dan mungkin dengan salah ketik menunjukkan Mzm 145 sebagai mazmur pujian. Terus, karena pengayatan kitab Mazmur sering berbeda antara versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yang dimaksud oleh leksionaris adalah mulai pada ayat 11, bukan ayat 10. Yang tepat, dan akan diuraikan di bawah, ialah penafsiran Kristologis dari perikop ini.

(Untuk khotbah minggu depan, lihat postingan ini.)

Penggalian Teks

Mazmur 45 dibuat untuk pernikahan seorang raja Israel (10). Aa.2–10 memuji sang raja. Aa.11–13 menyampaikan nasihat kepada sang ratu; aa.14–16 menceritakan sang ratu masuk bersama rombongannya ke dalam istana; dan aa.17–18 berbicara tentang keturunan sang raja serta kemasyhuran namanya. (Bahasa Ibrani membedakan jenis kelamin kata pengganti orang kedua, sehingga jelas bahwa akhiran “-mu” dalam kedua ayat terakhir tidak lagi berbicara tentang sang ratu.)

Dalam aa.12–14, sang ratu dinasihati untuk berpisah dari keluarga asalnya (11), dan berpaut kepada raja (12). Raja itu akan bergairah akan isterinya, dan isterinya akan menghormati suaminya. Di dalam diri suaminya, raja yang mencintai keadilan dan membenci kefasikan itu (45:7), isteri akan dihormati oleh orang lain (13). Itulah maksud yang sejati dari “suami adalah kepala isteri”; bukan bahwa suami berhak untuk menyuruh, seperti perwira kepada prajurit, tetapi bahwa suami yang mewakili identitas keluarga, sama seperti kepala mewakili identitas orang.

Keindahan pakaian sang ratu menjadi tema dalam aa.14–15a; mulai dengan sang ratu di dalam kamarnya (14), dan kemudian ketika dibawa kepada raja (15a). Dia diiringi oleh teman-teman (15b) yang meramaikan sukacita akan perjumpaan ratu dengan raja (16). Keindahan pakaiannya melambangkan kemuliaannya, dan sukacita itu menggambarkan kebahagiaan yang akan mengalir untuk seluruh kerajaan dari perjumpaan mereka.

Kebahagiaan itu termasuk keturunan yang akan melanjutkan jasa para bapa leluhur (17a), yaitu menjadi besar di bumi (17b) sehingga semua bangsa berbahagia (18). Pernikahan ini menjamin kelanjutan janji Allah kepada Abraham (bapa leluhur pertama) supaya semua bangsa diberkati.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menguraikan kebahagiaan yang terjadi ketika isteri menyatu dengan suaminya. Termasuk ketika gereja menyatu dengan Kristus, dengan mencari identitas dan kebahagiaan di dalam Dia, sehingga menjadi indah dalam perbuatan baik dan bersukacita dalam perjumpaan dengan Dia.

Makna

Penafsiran Kristologis menerapkan Mazmur ini kepada Kristus dan gereja. Tafsiran itu bukan klaim bahwa mazmur ini bermaksud untuk berbicara tentang Kristus. Mazmur ini jelas ditulis untuk pernikahan seorang raja Israel. Tetapi, PB mengatakan bahwa Kristus adalah Raja Israel, dan bahwa Dia akan menikah dengan gereja (Ef 5:32; Why 19:6–8; 21:2). Konsep seperti apa yang mau disampaikan oleh kiasan itu? Mazmur ini pasti termasuk latar belakang dari janji itu, sehingga kita menerapkannya kepada Kristus dan gereja, tanpa melupakan konteks aslinya.

Jadi, yang pertama, gereja akan mendapat jatidiri di dalam Kristus (11–13). Dia adalah identitas gereja, dan makin kita bersatu dengan Dia, makin kita akan layak dihormati. Jadi, kita dinasihati untuk melupakan identitas-identitas lama, dan berpaut kepada Kristus. Orang Toraja kristen harus memilih: mau mendapat jatidiri dan kehormatan dalam upacara kematian yang besar, atau di dalam Kristus?

Yang kedua, gereja akan berusaha untuk menjadi seindah-indahnya bagi pengantinnya, yakni Kristus. Why 19:8 memaknai pakaian yang bagus sebagai perbuatan-perbuatan yang benar, dan perbuatan itu adalah hasil dari karya Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa dan menyucikan gereja (Ef 5:25–27). Kristus adalah Raja yang rela mati karena mencintai keadilan dan membenci kefasikan, makanya gereja dengan rela hati mau hidup berpadanan dengan Injil itu. Pengharapan akan pernikahan itu mengarahkan kehidupan kita sekarang.

Yang ketiga, pernikahan itu membawa kebahagiaan bagi orang-orang dari setiap bangsa di bumi (Why 21:24–26). Dalam Mzm 45:17–18, pengantin, keturunan raja, dan bangsa-bangsa merupakan tiga pihak, tetapi dalam PB, semuanya menjadi satu pihak di dalam gereja, yang terdiri atas anak-anak Abraham dalam iman, dari segala bangsa di bumi. Pengharapan di dalam Kristus adalah pengharapan untuk seluruh dunia.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s