Rom 11:1-2a, 29-32 Allah yang setia dan murah hati [17 Ag 2014]

Agak sulit mengaitkan perikop ini dengan HUT Kemerdekaan Indonesia. Paulus berbicara tentang rencana Allah yang jauh lebih luas daripada Indonesia sebagai negara. Namun, kesadaran tentang anugerah Allah semestinya membuat kita menjadi warga negara yang tidak buta terhadap kekurangan negara namun tetap percaya bahwa kemurahan Allah bekerja.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan pengharapan PL (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah: mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak ketimbang Ismael dan Yakub ketimbang Esau. Pada akhir p.9 (aa.24–29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah. Rom 9:30–10:21 menguraikan ketidakpercayaan Israel sebagai pilihan mereka (bagi Paulus, pilihan Allah dan pilihan manusia tidaklah bertentangan): mereka mengandalkan Taurat untuk diterima sebagai bangsa yang benar di hadapan Allah (9:30–10:4) sehingga mereka menolak pemberitaan Injil (10:5–10:21).

Dalam 11:1–2a, Paulus bertanya: apakah ketidaktaatan Israel yang menolak Injil berarti bahwa Allah menolak Israel? Dia sendiri adalah contoh utama bahwa ada orang Israel yang percaya kepada Kristus (1b), dan pada prinsipnya, Allah tidak akan mengingkari pilihan-Nya (2a). Adanya hanya sebagian Israel yang setia bukanlah hal yang baru (2b–4). Adanya orang percaya adalah soal anugerah dari Allah, bukan usaha manusia (5–6), dan adanya hanya sedikit dari Israel yang percaya itu bagian dari rencana Allah (7–10). Mengapa? Bukan karena Allah menolak Israel (11a), tetapi karena ketidaktaatan Israel adalah bagian dari rencana Allah supaya bangsa-bangsa juga masuk dalam pemulihan yang direncanakan Allah (11b–12). Aa.13–28 mau menegaskan bahwa hal itu bukan karena bangsa-bangsa itu hebat: sebaliknya, orang Israel adalah cabang-cabang asli dari umat Allah, dan Israel juga akan bertobat dan diselamatkan (26a). Akhirnya, aa.29–32 menyimpulkan penguraian Paulus: anugerah-anugerah Allah (seperti dalam 9:4–5; kata “kasih karunia” berbentuk jamak dalam bahasa aslinya) yang diberikan sesuai dengan pilihan Allah tidak akan dicabut oleh Allah (29). Israel akan melalui urutan yang sama dengan bangsa-bangsa: ketidaktaatan baru kemurahan (30–31). Sebagaimana dijelaskan dalam aa.13–28, ketidaktaatan Israel memberi peluang bagi bangsa-bangsa untuk bertobat, dan Paulus berharap bahwa pertobatan bangsa-bangsa akan mendorong Israel untuk bertobat. Dengan demikian, ketidaktaatan dari segenap umat manusia menjadi kentara, sehingga kemurahan Allah sebagai dasar hidup juga kentara (32). Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Maksud bagi Pembaca

Ketika kita melihat kelompok seperti Israel yang diberi segala kesempatan untuk mengenal Allah tetapi mengandalkan usaha diri ketimbang Allah, kita dikuatkan bahwa Allah setia pada pilihan-Nya, dan bahwa semuanya bergantung pada kemurahan Allah dalam Yesus Kristus, yang tetap memiliki rencana bagi mereka dan bagi kita. Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu tentang janji Allah, ataupun sombong terhadap orang lain.

Makna

Melihat bacaan dari leksionari, Mat 15:21–28 menunjukkan baik prioritas bagi Israel maupun tempat bangsa-bangsa dalam rencana Allah. Kej 45:1–15 menunjukkan bagaimana Yusuf mampu menerapkan kepercayaannya akan kedaulatan Allah (bdk. Kej 50:20). Di tengah ketidaktaatan saudara-saudaranya, dia melihat rencana Allah untuk mengerjakan kemurahan-Nya. Oleh karena itu, dia mampu mengampuni mereka. Sama seperti Yesus, Paulus meyakini rencana Allah yang menyangkut “pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (1:16). Dia juga mengenal sejarah Israel yang penuh ketidaktaatan yang di tengahnya Allah mengerjakan kemurahan-Nya, dan dia berusaha menjelaskan ketidaktaatan yang paling dahsyat, yaitu menolak Mesias, dalam rangka itu.

Mengapa kita, orang bukan Yahudi, semestinya peduli tentang penguraian itu? Satu jawaban ialah bahwa bila Allah tidak setia kepada Israel yang Dia panggil dan pelihara berabad-abad, mengapa kita berharap bahwa Dia akan setia kepada kita? Jika anak aslinya diabaikan, untuk apa kita mau diangkat? Tetapi, dengan memperlihatkan kesetiaan Allah, Paulus meneguhkan bahwa kita dapat mengandalkan-Nya. Khususnya, ketika gereja sendiri sepertinya penuh dengan kebobrokan, kita mengetahui bahwa rencana Allah bergantung pada pilihan Allah, bukan pada keberhasilan manusia.

Dia juga mau mencegah kesombongan rohani. Orang Toraja kadang mengatakan bahwa budaya Toraja cocok dengan Injil. Kita harus hati-hati dengan gagasan seperti itu: cabang asli satu-satunya, kata Paulus, ialah Israel; semua budaya yang lain dicangkokkan. Orang Toraja adalah orang-orang berdosa yang diterima Allah hanya karena Dia menunjukkan kemurahan-Nya kepada mereka oleh anugerah di dalam Kristus. Yang diperlawankan dengan ketidaktaatan bukan ketaatan melainkan kemurahan Allah. Kita menjadi susah mengampuni sesama, tidak seperti Yusuf, ketika kita menganggap diri kita lebih baik daripada mereka.

Perikop ini juga menyangkut pengharapan kita. Andaikan ketaatan adalah solusi terhadap keberdosaan manusia, pilihan Allah hanya merupakan langkah awal (panggilan) yang hasilnya tetap ada dalam tangan manusia yang pasti akan gagal. Tetapi, karena keselamatan tergantung pada pilihan Allah yang diterapkan melalui kemurahan-Nya dalam Kristus, maka kita tidak perlu digoyahkan oleh kegagalan-kegagalan kita, ataupun orang-orang lain.

Pos ini dipublikasikan di Roma dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Rom 11:1-2a, 29-32 Allah yang setia dan murah hati [17 Ag 2014]

  1. Ping balik: Rom 12:1-8 Demi kemurahan Allah [24 Ag 2014] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s