Rom 12:9-21 Menjadi tubuh Kristus dalam dunia [31 Ag 2014]

Perikop ini mengandung serangkaian nasihat yang semuanya indah dan menantang, tetapi sulit untuk dapat mengingat semuanya. Harapan saya bahwa penguraian ini dapat menjelaskan alur perikop, sehingga isinya lebih bisa diingat. (NB: Minggu depan tidak ada tulisan yang dimuat.)

Penggalian Teks

Kita perlu mengingat bahwa perikop ini adalah lanjutan dari nasihat mendasar untuk mempersembahkan tubuh kita kepada Allah (12:1–2), dalam konteks tubuh Kristus (12:3–8). Kita akan kewalahan kalau kita menganggap bahwa semuanya harus diterapkan seorang diri. Sebaliknya, tujuan Paulus ialah persekutuan yang diarahkan oleh kemurahan Allah sehingga tampil beda di dunia.

Aa.9–13 merupakan satu kalimat (dalam bahasa aslinya) yang menguraikan a.9a. Kasih kepada sesama berpura-pura kalau menutupi kejahatan (9b), kalau dingin (10a), kalau meremehkan sesama (10b). Kasih kepada Allah itu berpura-pura kalau malas (11a), karena Roh Allah tidak dipersilakan bekerja dalam roh kita, atau Kristus bukan lagi tujuan dari kehidupan kita (11b). Semangat kasih itu dipelihara dalam kesusahan, dengan mengingat pengharapan yang ditawarkan dalam Injil sehingga kita rajin berdoa (a.12; bdk. 5:3–5 dan 8:18–25). Dengan demikian, kita siap mental untuk membantu sesama orang percaya dalam kekurangan dan kebutuhannya (13).

Aa.14–21 beralih fokus kepada orang luar. Paulus mulai dengan konteks yang paling sulit: penganiayaan. Tubuh Kristus harus memberkati penganiaya (14), sama seperti Kristus mati bagi orang-orang durhaka (5:6). Untuk dapat mencapai kemampuan menanggapi seperti itu, tubuh Kristus harus bersatu dalam perasaan (15), dan dalam pemikiran (16a). Pemikiran yang dimaksud adalah kerendahan hati seperti dalam a.3. “Perkara-perkara yang sederhana” dapat diterjemahkan “orang-orang yang sederhana” (seperti NIV dan NRSV). Ke dalam, tubuh Kristus belajar untuk saling memberkati tanpa meremehkan penderitaan orang dan tanpa memandang bulu. Dengan demikian, tubuh Kritus mampu untuk memikirkan apa yang baik bagi semua orang (17b), baik yang berbuat jahat kepada kita (17a), maupun yang menerima usaha kita untuk hidup dalam perdamaian (18). Cara itu masuk akal, karena Allah sedang memperbaiki dunia. Yang menolak Dia akan dimurkai (19), tetapi ada juga yang akan dimenangkan karena jemaat tidak menuntut pembalasan (a.20; “bara api di atas kepala” mungkin merupakan kiasan akan pertobatan). Tidak membalas melainkan berbuat baik adalah cara kita ikut dalam jalan Tuhan yang telah mengalahkan dosa dalam Kristus (21).

Maksud bagi Pembaca

Paulus menasihati kita tentang bagaimana caranya kita tampil beda dalam dunia sebagai tubuh Kristus, bahkan terhadap dunia yang menganiaya kita.

Makna

Damai sejahtera bagi semua orang adalah tujuan Allah dalam Kristus. Namun, damai sejahtera tidak cocok dengan kejahatan (9), dan karena tubuh Kristus harus tampil beda (12:2), selalu akan ada ketegangan dengan dunia (14a, 17a). Kejahatan harus dikalahkan (21)! Hanya, cara kita mengalahkan kejahatan ialah dengan memberkati penganiaya (14b) dan berbuat baik kepadanya (17b, 20a), supaya dia bertobat (20b). Cara itu bisa saja terasa tidak adil, tetapi Paulus mengingatkan kita bahwa di balik semua yang terjadi, Allah akan mengerjakan keadilan (19b).

Namun, hukuman Allah adalah langkah terakhir dalam mewujudkan damai sejahtera. Langkah awal Allah ialah manusia baru di dalam tubuh Kristus, di mana kasih kepada sesama dan Allah dibentuk dan dipelihara (9–13). Kita sering merasa cemas tentang kualitas kasih dalam jemaat. Adalah jelas dalam nasihat Paulus bahwa kasih tidak sekadar sikap tetapi terwujud juga dalam tindakan konkret: bersukacita dengan (bukan iri hati terhadap) orang yang bersukacita, menangis dengan (bukan mendiamkan) orang yang menangis, membantu orang dalam kekurangan, dan bergaul dengan orang yang sederhana. Tetapi juga jelas bahwa tindakan dan sikap saling memengaruhi. Pembaruan budi oleh kemurahan Allah dibutuhkan supaya hidup dalam kasih serta memberkati penganiaya itu menjadi hal yang wajar; sebaliknya, usaha untuk hidup dalam kasih dan damai membantu kita untuk lebih mendalami kemurahan Allah yang memperdamaikan orang-orang durhaka (5:6).

Satu hasil dari nasihat Paulus ialah bahwa ternyata kita tidak perlu takut akan manusia. Manusia yang bersukacita, yang menangis, yang berkebutuhan, bahkan yang menganiaya, tetap adalah manusia yang kepadanya kita bisa memberi respons yang merupakan ibadah sejati kita kepada Tuhan.

Pos ini dipublikasikan di Roma dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s