Rom 14:1-12 Terimalah sesama hamba Tuhan [14 Sep 2014]

Renungan di bawah adalah yang terakhir untuk selama beberapa minggu mendatang, supaya saya bisa fokus untuk menyusun. Untuk perikop minggu depan, lihat ini. Untuk perikop tgl 28 Sep, bahan MJ adalah bahan saya.

Penggalian Teks

Paulus masuk bagian ini setelah menguraikan mengenai kasih kepada sesama (12:9; 13:9) sebagai wujud mempersembahkan tubuh karena kemurahan Allah (12:1). Hal itu akan menuntut mereka tampil beda (12:2) sama seperti terang tampil beda pada waktu malam (13:11–14). Rom 14:1–15:13 membahas kesatuan dalam memuliakan Allah (15:6) walaupun ada perbedaan tingkat kekuatan iman (14:1; 15:1). Perikop kita menegaskan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Hakim. Oleh karena itu, sebagai ganti menghakimi sesama, kita semestinya bertindak dalam kasih (14:13–23), dengan membangun sesama, sama seperti Kristus tidak menyenangkan diri-Nya dan datang baik untuk orang Yahudi, maupun untuk bangsa-bangsa (15:1–13).

Ujung tombak sikap itu adalah penerimaan: orangnya diterima lepas dari pendapatnya yang mengganggu kita (1). Paulus menyebutkan dua contoh: makanan (2), dan pengkhususan hari (5). Soal makanan merujuk pada soal kenajisan, dan sebenarnya di dalam Kristus tidak ada yang najis lagi (14:14, 20). Makanya, Paulus menganggap iman kelompok itu “lemah”, karena mereka belum menangkap sepenuhnya kebebasan di dalam Kristus. Kelompok yang kuat cenderung menghina kelompok yang lemah—tentu kelompok yang lemah itu tidak bisa dianggap bersalah, mereka hanya bodoh atau kolot (3a). Tetapi kelompok yang lemah menghakimi kelompok yang kuat, karena mereka dianggap berbuat najis (3b). Tetapi, entah menghakimi secara sosial (menghina) atau secara agamawi (menghakimi), sikap itu melawan Allah (3c). Allah telah menerima setiap orang sebagai hamba-Nya, Dia yang berhak untuk menjatuhkan malah akan meneguhannya (4). Paulus beralih ke persoalan yang mungkin tidak sama hangatnya, yakni memelihara hari khusus (5a), untuk berbicara tentang tanggung jawab setiap hamba, yaitu, kita harus yakin tentang pendirian kita (5b). Hal itu dilihat karena kita melakukannya untuk Tuhan (6a). Soal makanan juga sama: sikap yang benar dilihat dalam diri orangnya yang bersyukur kepada Allah, entah makan atau tidak (6b).

Paulus menegaskan kepemilikan Tuhan dengan mengingatkan mereka bahwa Kristus telah mati dan hidup kembali, sehingga menjadi Tuhan baik atas kehidupan kita maupun kematian kita (7–9). Mungkin kematian di sini tidak hanya merujuk pada kematian fisik, tetapi juga usaha untuk mematikan dosa yang bisa saja menjadi salah satu alasan untuk tidak makan (bdk. 8:14). Atau, kematian fisik anggota kelompok yang lain dianggap bukti bahwa Allah tidak berkenan atas orangnya. Paulus menegaskan bahwa semua segi dari kehidupan kita ada di bawah kuasa Tuhan.

Kepemilikan Tuhan berlaku untuk semua orang percaya. Menghina sesama tidaklah membuktikan bahwa si penghina itu terpuji; menghakimi sesama tidaklah membuktikan bahwa si hakim itu benar (10a). Si penghina dan si hakim akan menghadap takhta pengadilan Allah juga (10b). Maksud Allah dalam menghakimi ialah sebagai penggenapan rencana keselamatan. Tuhan satu-satunya yang menawarkan keselamatan kepada semua orang (Yes 45:22), dan semua orang akan mengakui hal itu (Yes 45:23, yang dikutip Paulus dalam a.11). Kita tidak sanggup melakukan hal itu kepada sesama; kita cukup mempersiapkan diri saja (12).

Maksud bagi Pembaca

Paulus menuntut kita untuk menerima sesama, dengan mengingat bahwa Kristus yang mati dan bangkit adalah Tuhan yang: 1) telah menerima setiap hamba-Nya; 2) akan menilai pelayanan setiap hamba-Nya pada waktunya. Menghina dan menghakimi sesama orang percaya melangkahi hak Kristus sebagai Tuhan.

Makna

Perhatikan bahwa Paulus menilai pendapat kaum lemah tentang makanan itu salah (14). Jadi, maksudnya bukan untuk mengatakan bahwa setiap pendapat di dalam jemaat sama benarnya dan sama bobotnya. Soal makanan malah bukan hal yang sepele, karena menunjukkan sejauh mana orang tersebut menangkap bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat (10:4). Tetapi, sebuah pendapat yang keliru tidak membuat pemegangnya kafir, bodoh, atau seorang hamba kelas dua dalam Kerajaan Allah. Dia tetap dihargai Tuhan, dan berurusan dengan Tuhan mengenai kesetiaannya dalam melayani Tuhan. Bilamana ada diskusi tentang apa yang dipersoalkan, kita tidak berhak untuk menilai motivasi orang tersebut di hadapan Tuhan. Singkatnya: mengecam pendapat bukanlah menghakimi; menghakimi adalah menjatuhkan vonis bahwa seseorang (atau kelompok) bukan hamba yang setia kepada Tuhan.

Aa.10–12 perlu direnungkan oleh setiap pelayan, karena dalam tugas kita untuk menasihati sesama, kita bisa lupa bahwa kita sendiri akan diadili Allah. Saya agak gelisah ketika seorang pelayan mengatakan tentang tingkah laku yang salah secara umum, “Hal itu tidak pantas untuk seorang pelayan.” Seakan-akan, dia hanya mau taat dalam hal itu demi jabatannya. Setiap “hamba Tuhan” dalam artian sehari-hari adalah pertama-tama hamba Tuhan, sama seperti setiap jemaat biasa.

Pos ini dipublikasikan di Roma dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s