Mt 25:14-30 Giat untuk Tuhan kita [16 Nop 2014]

Tulisan saya muncul untuk satu kali saja bulan ini, karena ini perikop yang saya pakai ketika mengunjungi jemaat-jemaat di Sydney. Bila penyusunan disertasi sudah selesai, saya mau kembali menulis secara teratur. Tolong didoakan.

Penggalian Teks

Matius 24–25 berbicara tentang akhir zaman, sesuatu yang akan dimulai dalam kematian dan kebangkitan Kristus, tetapi lama kemudian baru akan sampai pada puncaknya. Kelamaannya itu menjadi tema dalam perumpamaan tentang hamba yang jahat (24:9), tentang kesepuluh gadis yang bijaksana dan bodoh (25:5), dan dalam perikop kita (25:19).

Cerita Yesus menyebutkan “seorang” yang ternyata tidak hanya memiliki beberapa hamba, tetapi juga kaya: dia memiliki uang tunai sebanyak delapan talenta. Satu talanton dalam bahasa Yunani itu anggaplah senilai satu milyar rupiah sekarang, jadi ada delapan milyar rupiah yang dipercayakan kepada tiga hamba itu (14–15). Yesus tidak menyebutkan apa urusan kepergiannya, tetapi pada zaman itu bepergian berisiko, dan tidak jelas kapan dia akan kembali. Namun, hamba pertama dan kedua tidak ragu-ragu, dan langsung menjalankan uang mereka sehingga beroleh laba 100% (16–17). Hamba ketiga beroleh 0%, karena dia mencari aman dengan menyembunyikan uangnya (18).

Akhirnya, tuan itu pulang, dan memanggil ketiga hamba (19). Hamba pertama dan kedua dengan penuh sukacita menunjukkan hasil mereka (20, 22). Tuan mereka pun bersukacita atas mereka. Dia memuji mereka dan menawarkan tanggung jawab yang lebih besar (21, 23). Intinya di kalimat terakhir perkataannya: “turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. Kedua hamba itu masing-masing bertindak sebagai orang yang menganggap diri satu kepentingan dengan tuannya. Kebahagiaan tuan dan hamba tak terpisahkan.

Lain cerita dengan hamba yang ketiga. Dia membela diri dengan menuduh bahwa tuannya tidak baik (kejam) dan tidak setia (menuai dengan tidak menabur). Dan memang, tuannya baru saja beroleh laba tujuh milyar tanpa bekerja sendiri sama sekali. Jadi, hamba itu berdalih bahwa mencari aman adalah satu-satunya respons yang cocok terhadap tuan seperti dia. Bahwa dia tidak merasa berbagian dalam kepentingan tuannya muncul dalam kalimat terakhir yang dia ucapkan: talentanya adalah kepunyaan tuan, bukan urusan dia (24–25).

Tentu, sang tuan tidak menerima dalih itu. Kebalikan dari kedua hamba yang lain, hamba ini jahat (tidak baik) dan malas (tidak setia). Kejahatannya karena sudah memfitnah tuannya. Kemalasannya karena, andaikan fitnahnya benar, dia tetap tidak merepotkan diri bahkan untuk pergi ke orang yang pintar berusaha pun tidak (26–27). Tetapi a.28 menunjukkan bahwa memang tuduhan hamba ketiga itu fitnah. Sang tuan mengambil talentanya dari hamba ketiga itu, bukan untuk dirinya, melainkan untuk diberikan kepada hamba pertama. Artinya bahwa kedua hamba pertama sungguh sudah menjadi bagian dari kepentingan tuannya; tuan mereka tidak akan membuang mereka, tetapi akan tetap melibatkan mereka dalam urusannya.

Akhirnya, aa.29–30 menunjukkan bahwa mencari aman ternyata bukan jalan yang aman. Hamba ketiga, yang tidak merasa berbagian dalam kepentingan tuannya, kehilangan apa yang dia terima dari tuannya, dan dikeluarkan.

Maksud bagi Pembaca

Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya, termasuk kita yang membaca perumpamaan ini, untuk kepergian-Nya, supaya kita giat bekerja untuk Kerajaan Allah karena kita sadar bahwa kita berbagian dalam kepentingan Dia. Cara kita menghadapi kehidupan kita, apakah dengan mencari aman atau dengan keberanian dan kreativitas, bergantung pada sikap kita terhadap Yesus, Tuhan kita.

Makna

Dalam bahasa Indonesia, talenta berarti pembawaan seseorang sejak lahir, bakat. Kata itu berasal dari perumpamaan ini melalui bahasa-bahasa Eropa, tetapi maksud Yesus lebih luas daripada bakat saja. Apa saja yang diberikan Tuhan kepada kita, termasuk uang, jaringan, kedudukan, pendidikan, dan waktu, bisa dipakai untuk kepentingan Tuhan kita, yakni Kerajaan Allah. Tentu, pemberian yang pokok ialah berita Injil, yang menjelaskan siapakah Raja dari Kerajaan Allah, yakni Yesus yang mati dan bangkit itu.

Perhatikan bahwa hamba ketiga tidak melanggar aturan apapun. Dia tidak merugikan tuannya dengan mencuri atau berkorupsi. Sebaliknya, kedua hamba pertama mempertaruhkan harta tuan mereka, karena ada kemungkinan bahwa usaha mereka tidak akan membawa hasil yang jelas, atau bahkan membawa kerugian. Tetapi mereka yakin bahwa tuan mereka akan menghargai mereka dan usaha mereka. Hamba ketiga hanya melihat peraturan dan risiko (a.25, “takut”), bukan kesempatan. Seorang kristen bisa saja memelihara kesepuluh hukum namun tidak peduli tentang Kerajaan Allah. Sebagai bendahara dia akan jujur, tetapi diminta untuk pelayanan yang di luar zona amannya, dia akan takut untuk mencobanya.

Masalahnya, ketakutan itu muncul dari sikap tidak percaya terhadap Yesus, Tuhan kita. Rasa takut itu mengatakan bahwa Tuhan itu kejam, Dia mau menjatuhkan kita kalau salah sedikit, sehingga lebih aman tidak berusaha sama sekali. Kemalasan itu juga muncul dari kesan bahwa Tuhan hanya mau memanfaatkan kita. Kita akan rugi dari segi waktu atau materi, tanpa ada imbalan sedikit pun. Dan memang, hanya kalau kita merasa berbagian dalam kepentingan Tuhan, maka semuanya akan dianggap sebagai kesempatan, bukan kerugian, entah uang yang dipersembahkan, waktu yang diberikan untuk melayani, atau kesusahan dalam mempedulikan sesama.

Makanya, rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah anggota tubuh Kristus, bagian dari Kristus dan satu kepentingan dengan Dia. Oleh karena kita dibenarkan oleh iman, kita tidak takut salah sehingga harus mencari aman, tetapi berani mengerjakan kasih yang timbul dari iman dan pengharapan.

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mt 25:14-30 Giat untuk Tuhan kita [16 Nop 2014]

  1. Mathius Sarangnga' berkata:

    Terima kasih dan salam kasih buat bapak atas materi yang kali ini dikirim lagi. Materi dari bapak lama dinantikan oleh para pembaca.

    Salam doa

    Pdt. Mathius Sarangnga’

  2. Tuto' berkata:

    Terimakasih atas tulisannya di minggu ini. sungguh sangat menolong. Salam dari Sandkan, Sabah. Saya juga jadi Tomentiruran di sandakan, Sabah. semoga desertasi doktornya boleh rampung. Dan semoga boleh reuni dalam kelompok PA di Toraja. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s