Yoh 12:20-33 Menempuh jalan Raja yang disalibkan [22 Mar 2015] (Minggu Sengsara VI)

Dengan senang hati saya kembali ke blog ini, agar tulisan ini menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pelayan-pelayan firman, khususnya di Gereja Toraja, tetapi juga di mana saja leksionari dipakai. Pada hemat saya, mengajarkan firman Tuhan merupakan kesempatan yang luar biasa untuk mempelajari firman-Nya. Saya berharap bahwa bahan ini membantu dalam rangka itu. Tentunya, kewajiban pelayan firman untuk berdoa dan menerapkan firman itu pertama-tama kepada dirinya sendiri ada di luar jangkauan materi ini.

Penggalian Teks

Allah memilih Israel untuk memulihkan berkat yang lenyap karena dosa (Kej 12:1–3). Tetapi Israel terdiri atas orang-orang berdosa, dan perjanjian Allah dengan Israel memperjelas sifat manusia yang berdosa, karena mereka membalas kebaikan Allah dengan pemberontakan (Yer 31:32). Makanya, melalui Yeremia yang banyak menubuatkan hukuman atas Israel, Allah juga memberitakan keselamatan di balik hukuman itu (Yeremia 31–32). Khususnya, Dia menjanjikan perjanjian yang baru (Yer 31:31). Dalam perjanjian itu, hati umat-Nya akan berubah menjadi taat, dan mereka akan menikmati hubungan dengan Allah sebagai umat-Nya (Yer 31:33), karena dosa mereka akan diampuni dengan tuntas (Yer 31:34).

Pas sebelum perikop kita, Yesus masuk ke Yerusalem sebagai Raja Israel (Mesias) untuk menggenapi janji-janji Allah seperti itu (Yoh 12:12–19). Orang Farisi, yang mewakili kepentingan kaum kalangan atas Yahudi, melihat bahwa pengaruh mereka atas orang banyak itu terancam oleh popularitas Yesus (12:19). Tetapi, pengaruh mereka yang moralistis dan banyak menghakimi itu tidak sanggup membawa pengampunan atau mengubah hati, seperti yang Allah janjikan melalui Yeremia. Dalam perikop kita, Yesus menjelaskan bagaimana Dia akan menjadi Mesias yang menderita demi tujuan itu.

Penjelasan Yesus dipicu oleh permintaan beberapa orang Yunani untuk bertemu dengan Yesus (20–22), karena karya-Nya justru akan membuka berkat bagi bangsa-bangsa. Dia melukiskan karya-Nya sebagai pemuliaan (23), dan mungkin saja mereka mengaitkan hal itu dengan kedatangan-Nya masuk Yerusalem sebagai Raja Israel. Tetapi Yesus malah berbicara tentang kematian: biji gandum baru mencapai tujuannya bila mati (24). Jika hal itu saja sudah mengagetkan, terlebih lagi implikasinya bagi murid-murid Yesus (25–26). Jalan menuju hubungan dengan Allah sebagai umat-Nya (bahasa Yeremia), yaitu mencapai hidup yang kekal dan dihormati Allah (bahasa Yesus), ialah siap mati sama seperti Yesus.

Yesus langsung memperlihatkan sikap yang Dia maksudkan (27–28a). Dia tidak menghadapi kematian dengan tenang: jiwa-Nya “terharu”. Dia rindu supaya bisa diselamatkan dari salib, tetapi Dia mengingat kembali dan memilih tujuan-Nya demi kemuliaan Allah. Allah langsung bersuara mendukung bahwa jalan salib adalah jalan kemuliaan bagi Yesus, dan suara itu memisahkan orang banyak: ada yang mendengarnya, ada yang menganggap itu bunyi guntur saja (28b–29). Hal itu menggambarkan pemisahan yang akan terjadi disebabkan oleh cara Yesus mati (30–33). Para pengikut penguasa dunia (seperti orang Farisi tadi) akan tuli terhadap perlunya Mesias Allah disalibkan, dan mereka akan dilemparkan ke luar (31). Tetapi, “semua orang”—artinya, bukan hanya orang Yahudi tetapi juga bangsa-bangsa seperti yang datang tadi—akan ditarik oleh salib untuk datang kepada Yesus, yaitu siapa saja yang memandang kepada salib itu (bdk. 3:14–15 dari minggu yang lalu).

Jadi, perikop ini berawal dan berakhir dengan penjelasan Yesus bahwa Dia akan dimuliakan dengan ditinggikan pada salib, dan dengan demikian akan membawa keselamatan bagi semua orang. Di tengah penjelasan itu, kita belajar bahwa jalan yang ditempuh oleh kita yang ikut dalam keselamatan itu sama.

Maksud bagi Pembaca

Kita diarahkan untuk mengejar kemuliaan dengan jalan yang telah dirintis oleh Yesus, yaitu tidak mencintai nyawa di dunia ini. Pengarahan itu terjadi ketika kita memandang pada Yesus, sang Raja, yang disalibkan.

Makna

Jalan salib sama sekali tidak masuk akal. Dalam a.27, Yesus mengutip Mzm 6:4–5, di mana pemazmur berdoa untuk diselamatkan dari bahaya. Manusia diciptakan untuk hidup, dan mencintai nyawa adalah hal yang wajar. (Tentu, orang berdosa cenderung mengangkat berhala-berhala yang kehilangannya dianggap setara dengan mati—entah materi, hormat, atau kenikmatan.) Makanya, imajinasi kita perlu dipenuhi oleh kisah Yesus supaya kita mulai memahami mengapa jalan salib itu tidak hanya perlu, tetapi bahkan menjadi jalan yang mulia. Menyuruh orang menempuh jalan salib tanpa mereka menangkap jalan Yesus adalah moralisme—etika tanpa Injil.

Ibr 5:5–6 menangkap intinya dengan membandingkan penetapan Yesus sebagai Anak Allah sekaligus Imam Besar Agung. Mazmur 2 yang dikutip dalam Ibr 5:5 menggambarkan raja Israel sebagai orang yang menegakkan Kerajaan Allah dengan tegas (bdk. “gada besi” dalam Mzm 2:9). Tetapi, seorang imam mengenal kelemahan manusia dan mengobatinya dengan persembahan (Ibr 5:1–3), dan Yesus juga mengalami kondisi manusia itu sehingga Dia “dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibr 4:15).

Dalam ayat-ayat berikutnya (Ibr 5:5–7), penulis Ibrani agak mempertentangkan kedua status itu. Disalibkan tidak cocok dengan status-Nya sebagai Anak Allah (Ibr 5:8, “sekalipun Ia adalah Anak”), tetapi perlu untuk “Ia menjadi pokok [sumber/penyebab] keselamatan yang abadi” sebagai Imam Besar. Hal itu tidak mudah bagi Yesus. Dia berdoa dengan “ratap tangis dan keluhan” (Ibr 5:7), dan dalam pergumulan itu Dia belajar sulitnya manusia taat dalam pencobaan. Kita melihat hal yang senada dalam Yoh 14:27, bahwa Yesus terharu. Kata itu (tarasso) dipakai juga dalam Yoh 14:1, di mana Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya yang mulai memahami kedukaan yang menunggu mereka malam itu, “Jangan gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Maksud Yesus ternyata bukan bahwa semestinya kita tenang-tenang saja, karena Dia sendiri tidak tenang. Sebaliknya, tidak mencintai nyawa kita dalam dunia selalu merupakan hal yang sulit. Hati kita akan terharu, sama seperti Yesus. Tetapi, dalam kegelisahan hati kita percaya kepada Allah bahwa Dia menghormati orang yang tidak mencintai nyawanya dalam dunia ini, dan kita percaya kepada Yesus dengan mengejar kemuliaan dengan menempuh jalan salib itu. Jalan salib itu merupakan Taurat yang ditaruh dalam batin kita sehingga kita menjadi umat Allah yang sejati.

Kita adalah orang berdosa sama seperti Israel, tetapi ketika kemuliaan Sang Raja yang disalibkan mulai meresap sampai ke motivasi dan keinginan yang paling dalam, perubahan hati itu terjadi. Kita menjadi lega karena dosa kita diampuni dengan tuntas. Yang tadinya dicintai dan dianggap harga mati mulai hilang kemuliaannya; sebaliknya, salib Kristus yang menarik hati kita. Itulah cara Allah membentuk umat yang sejati dalam perjanjian baru.

Pos ini dipublikasikan di Ibrani, Yeremia, Yohanes dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s