Markus 15:20b-32 Memandang Salib [29 Mar 2015] (Minggu Sengsara VII)

Minggu-minggu pra-paskah menjadi kesempatan emas untuk pemberitaan Injil, karena kita berfokus pada diri dan karya Yesus yang begitu luar biasa. Tidak salah pada hemat saya kalau tidak banyak usul praktis yang ditawarkan. Yang penting Yesus yang ditonjolkan, supaya Dia dapat diimani lebih dalam oleh kita semua.

Penggalian Teks

Ada dua adegan dalam perikop ini. Aa.20b–25 menceritakan penyaliban Yesus, dan aa.27–32 menceritakan pengolok-olokan Yesus. Di antara kedua bagian ini, kita diberitahu bahwa alasan tertulis mengapa Yesus disalibkan ialah sebagai Raja orang Yahudi. Hal itu sudah muncul beberapa kali dalam p.15 ini. Imam-imam kepala bertanya tentang apakah Yesus adalah “Mesias” (14:61), tetapi untuk Pilatus istilah itu bergeser menjadi “Raja orang Yahudi” (15:2, 9, 12) supaya unsur politik yang menjadi urusan Roma dalam istilah Mesias itu jelas. Bagi Pilatus gelar itu tidak masuk akal, dan bagi tentara, gelar itu lucu (15:16–20).

Bagian pertama (20b–25) memberi dua petunjuk bahwa gelar itu tidak lucu. Yang pertama adalah sebutan Aleksander dan Rufus, yang sepertinya akan dikenal oleh pendengar Injil Markus. (Bdk. nama Rufus dalam Rom 16:13, satu alasan mengapa ada kemungkinan Injil Markus ditulis untuk jemaat-jemaat di sana.) Penyaliban Yesus bukan akhir cerita. Yang kedua ialah kutipan dalam a.24 dari Mzm 22:19 terkait dengan pembagian pakaian Yesus. Yesus mengalami penderitaan seperti raja Daud dalam Mazmur itu, tetapi akhir Mazmur 22 itu menceritakan pemulihan oleh Allah. Yang terjadi pada Yesus adalah bagian dari rencana Allah, dan rencana itu telah berbuah dalam keluarga Simon, orang Kirene itu.

Bagian kedua menunjukkan bagaimana Yesus menjadi Raja di atas salib, sesuai dengan papan di atas salib itu. Dengan disalibkannya Yesus, Bait Allah dirobohkan untuk dibangun kembali dalam tiga hari (29). Tetapi, hal itu hanya bisa dilakukan kalau Yesus tidak menyelamatkan diri-Nya (30). Jadi, ejekan imam-imam kepada adalah benar (tanpa disadari): untuk menyelamatkan orang lain, Yesus tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (31), karena Dia harus menjadi tebusan bagi banyak orang (Mk 10:45). Mereka mencari mujizat, yaitu Yesus turun dari salib, tetapi mereka tidak bisa melihat, lebih lagi percaya, bahwa Dia adalah Mesias yang sejati karena menyelamatkan orang banyak.

Jadi, p.15 ini sarat dengan ironi—pertentangan antara makna di permukaan dengan makna yang sebenarnya. Yesus disebut Raja orang Israel sebagai sindiran oleh tentara (15:16–20) dan sebagai ejekan oleh orang Yahudi (aa.27–32). Tetapi, Dia justru adalah Raja orang Yahudi, hanya dengan cara yang terlalu mengagetkan.

Maksud bagi Pembaca

Yesus menjadi Raja di atas salib untuk menyelamatkan kita. Kita selayaknya kagum, bersyukur, dan dengan demikian, cara pandang kita tentang dunia berubah. Kita belajar siap direndahkan demi kepentingan orang lain.

Makna

Flp 2:1–11 mengangkat penyaliban Yesus sebagai teladan untuk kita mementingkan orang lain. Jadi, kita tidak harus menunggu sampai diancam mati baru kita bisa mengikuti teladan Yesus. Merendahkan diri dan mementingkan orang lain bisa dalam banyak konteks. Hal itu tidak pernah mudah. Bahkan murid-murid Yesus saja yang telah mengikuti Dia selama tiga tahun, tetap tuli terhadap pemberitahuan tentang penghinaan dan kematian-Nya. Mereka tidak mau menerima anak diberkati (Mk 10:13–16), dan malahan sibuk bertengkar tentang siapa yang terbesar (Mk 10:35–45). Hanya Roh Kudus yang mengubah sikap mereka sehingga mereka siap ikut menderita dan dihina, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul mulai pasal 2. Hamba Tuhan dalam Yes 50:4–9 (lihat di sini juga menunjukkan bagaimana kesetiaan kepada Allah bisa membawa masalah/penderitaan.

Banyak implikasi praktis dari pandangan dunia yang dibukakan oleh pengorbanan Yesus. Tetapi, implikasi-implikasi itu belum bisa dilakukan selama imajinasi orang masih duniawi. Orang Yahudi melihat Yesus di salib dan tidak dapat melihat kemuliaan-Nya sehingga tidak percaya. Kita harus belajar memandang salib dan melihat kemuliaan Allah dalam kasih-Nya kepada kita. Dengan imajinasi yang mulai dibentuk oleh salib, maka mementingkan orang lain, bersabar dalam penghinaan, tekun dalam kegagalan, dan banyak hal lagi mulai masuk akal. Semoga memandang kepada Yesus menyegarkan iman dan pengharapan kita.

Pos ini dipublikasikan di Markus dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s