Kis 10:34-43 Kebangkitan yang disaksikan [5 Apr 2015] (Perayaan Paskah)

Selamat Paskah! Semoga pemberitaan kita diasah dengan merenungkan pemberitaan rasul Petrus, sehingga Roh Kudus berkarya di antara kita.

Penggalian Teks

Cerita tentang perkunjungan Petrus ke rumah Kornelius menjadi terkenal, karena perubahan sikap yang terjadi dalam Petrus bahwa tidak ada manusia yang najis, orang kafir sekalipun (10:28). Perikop kita adalah isi penyampaian Petrus setelah Kornelius mempersilakannya untuk menyampaikan pesan dari Allah. Tentunya, Petrus berbicara tentang Yesus.

Petrus mulai dengan mengagumi Allah yang tidak membedakan orang berdasarkan bangsa (34). A.35 menimbulkan macam-macam tafsiran tentang maksud dari dan hubungan antara “takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran” dan “berkenan kepada-Nya”. Walaupun Petrus berbicara secara umum, contohnya Kornelius, yang memang digambarkan sebagai orang yang saleh dan takut akan Allah (10:2). Oleh karena itu, frase “Allah berkenan” sepertinya tidak bisa disamakan dengan “Kornelius sudah diselamatkan”, karena dalam 11:14 yang mendatangkan keselamatan itu berita yang disampaikan Petrus. Allah berkenan untuk mendatangkan berita keselamatan tentang Kristus. Jadi, yang baru bagi Petrus di dalam perkataan ini ialah soal “setiap bangsa”. Kristus datang kepada Kornelius sebagai orang non-Yahudi, bukannya Kornelius harus datang kepada Kristus dengan disunat menjadi orang Yahudi.

Cara Petrus menyampaikan Injil ialah dengan menceritakan kisah Kristus (36–41) serta maknanya (42–43). Sebagai orang yang “takut akan Tuhan” (10:2; istilah itu dipakai untuk orang-orang yang belajar dari orang Yahudi tetapi belum sampai disunat), Kornelius sudah tahu tentang Allah dan Israel. Jadi, Petrus memulai kisah Kristus dengan garis besarnya bahwa Yesus diutus ke Israel untuk membawa damai sejahtera (harapan PL), dan Ia juga adalah Tuhan (kurios = tuan, penguasa) dari semua orang (36). Petrus menonjolkan bahwa Allah ada di balik Yesus: baptisan-Nya oleh Yohanes (37) adalah pengurapan oleh Allah dengan Roh Kudus (a.38a), pelayanan Yesus yang membawa damai sejahtera itu bukti dari penyertaan Allah (a.38b), dan kematian Yesus dibalas oleh Allah dengan cara membangkitkan-Nya kembali (a.39b–40a). Petrus juga menegaskan bahwa dia adalah saksi mata dari apa yang terjadi di Yerusalem, baik penyaliban Yesus (39a), maupun kebangkitan-Nya (40b), termasuk makan dan minum bersama Dia (41), suatu hal yang membuktikan bahwa Yesus bangkit secara jasmani.

Makna dari kebangkitan yang diangkat oleh Petrus di sini ialah bahwa Yesus ditentukan menjadi Hakim pada penghakiman terakhir (42), tetapi juga bahwa ada pengampunan bagi mereka yang percaya kepada-Nya (43). Hal itu menggeneralisir apa yang dikatakan Petrus di Yerusalem. Orang Yerusalem selayaknya takut bahwa Yesus yang mereka salibkan telah dibangkitkan oleh Allah. Tetapi perihal Kornelius tidaklah demikian, dia tidak langsung terlibat dalam penyaliban Yesus. Namun, sekalipun dia adalah orang yang saleh yang berkenan di hadapan Allah, dia tetap selayaknya takut tentang penghakiman terakhir itu, suatu konsep yang kemungkinan besar sudah dia pelajari dari orang-orang Yahudi. Jadi, adanya pengampunan dalam nama Yesus adalah kabar baik. Pengampunan itu sesuai dengan rencana Allah yang disampaikan dalam nabi-nabi yang mungkin juga dia kenal, sedikit atau banyak.

Penyampaian berita bahwa Yesus adalah Hakim dan juga pembawa pengampunan sepertinya dianggap cukup oleh Roh Kudus, yang menguasai para pendengar Petrus sebagai tanda bahwa bahkan bangsa-bangsa dapat menerima berita tentang Kristus dan diselamatkan.

Maksud bagi Pembaca

Percayailah kesaksian para rasul bahwa kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Dia adalah jalan sejati menuju damai sejahtera yang sejati.

Makna

Mzm 118:14–24 merayakan keselamatan Allah kepada orang yang terbuang, tetapi ternyata menjadi pokok dalam rencana Allah (Mzm 118:22). Kalau dibaca berkaitan dengan Yesus, kita memahami bahwa Yesus dihajar karena dosa kita, tetapi tidak ditinggalkan dalam dunia orang mati (Mzm 118:18; bdk. penjelasan Petrus dalam Kis 2:31). Berita itulah yang disampaikan oleh Petrus kepada Kornelius.

Dari 1 Kor 15:1–11, kita diingatkan bahwa definisi Injil dalam PB ialah berita, khususnya berita tentang Kristus yang mati bagi dosa dan dibangkitkan sebagai penggenapan kisah Allah dengan Israel dalam PL (1 Kor 15:3–4). Berita menyangkut peristiwa. Berita Injil menyangkut peristiwa-peristiwa berkaitan dengan Kristus. Jadi, kalau dikatakan bahwa Allah itu baik maka tentu itu bukan Injil. Kita melihat kebaikan Allah di dalam berita Injil, tetapi Injil adalah berita tentang bagaimana Allah menunjukkan kebaikan-Nya di dalam Kristus. Berbicara tentang kebaikan Allah lepas dari Kristus bukanlah pemberitaan Injil. Sama halnya, damai sejahtera bukan Injil. Tentu saja, hanya kedatangan Kristus yang membawa damai sejahtera yang sejati dan kekal. Tetapi, berbicara tentang damai sejahtera lepas dari Kristus bukanlah pemberitaan Injil. Makanya, saya menganggap bahwa Injil itu baru ke Toraja 100an tahun yang lalu, kecuali mau diklaim bahwa dalam adat lama ada pengetahuan tentang Yesus yang mati bagi dosa dan dibangkitkan oleh Allah. Berbicara tentang penghapusan dosa oleh babi bukanlah pemberitaan Injil.

Dalam Kisah Para Rasul, para rasul tidak jemu-jemu berbicara tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang berkaitan dengan Kristus. Bahkan kepada para filsuf di Atena, di mana penyampaian Paulus agak filosofis (berbicara secara umum tentang kondisi dunia), ujung penyampaiannya ialah peristiwa kebangkitan Yesus. Kepada seorang tentara kafir yang saleh, Petrus lebih terperinci berbicara tentang pelayanan Yesus. Jadi, pemaknaan berita Injil memperhatikan konteks penyampaian, tetapi selalu berakar dalam apa yang dilakukan oleh Yesus.

Dalam khotbah Petrus ini, wujud dari damai sejahtera yang sejati itu dilihat dalam pelayanan Yesus, yakni perbuatan baik yang memulihkan (38). Kata “berbuat baik” (euergeteo) sering dipakai untuk para pembesar yang memberi masyarakat jasa yang besar, suatu nilai yang akan dipahami oleh orang berkedudukan seperti Kornelius. Tentu, pelepasan dari kuasa Iblis adalah jasa yang tidak terjangkau oleh orang kaya; kebaikan yang dibawa Yesus itu lebih dalam. Namun, ujungnya kematian Yesus. Hal itu bisa saja dilihat sebagai kegagalan jalan Yesus, sehingga manusia yang pikirannya wajar akan kembali ke pola berkuasa dan menjaga kepentingan seperti yang dikenal Kornelius dalam tugasnya sebagai pemimpin militer. Mzm 118:14–24 mencerminkan lazimnya orang benar dihantam, bahkan oleh umat Allah sendiri. Tetapi, ternyata Allah juga mampu menyelamatkan orang benar (Mzm 118:22–23), dan di dalam Yesus, Dia bahkan menyelematkan-Nya dari kuasa maut. Para rasul bersaksi bahwa hal itu telah terjadi. Dengan demikian, perkara dibalikkan: bukan dunia yang menghakimi Yesus yang tersalib, melainkan Yesus yang akan menghakimi dunia. Tetapi, syukur bahwa ada pengampunan, sehingga oleh kuasa Roh Kudus kita dapat menjadi bagian dari rencana damai sejahtera Allah itu.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s