Kis 4:32-35 Kebangkitan dasar jemaat yang bermurah hati [12 Apr 2015]

Kebangkitan bermaksud untuk membawa perubahan–dan perubahan kristiani muncul dari kebangkitan. Gambaran jemaat perdana memang luar biasa, tetapi kita perlu menangkap bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi dasarnya.

Penggalian Teks

Setelah khotbah Petrus pada hari Pentakosta, Lukas berselang-seling berbicara tentang cara hidup jemaat (2:42–47; 4:32–5:16) dan kesaksian rasul-rasul (3:1–4:31; 5:17–42). Kedua hal itu saling menopang, sebagaimana dilihat dalam kesehatian kumpulan orang percaya berdoa pas sebelum perikop kita (4:23–31).

Perikop kita berfokus pada soal menjual tanah untuk memenuhi kebutuhan jemaat. Hal itu terjadi dalam sikap “sehati dan sejiwa”, yang dalam soal kebutuhan diterapkan dengan sikap yang sudah membudaya (“tidak seorang pun yang berkata”) bahwa kepunyaan dianggap milik bersama (32). Hal itu bukan semacam sikap komunis, karena kita melihat bahwa Barnabaslah yang pergi menjual tanahnya, bukan orang percaya yang lain. Tetapi sikap itu melihat bahwa kepunyaan seseorang merupakan pemberian Tuhan untuk kebutuhan seluruh jemaat, bukan hanya untuk keluarganya sendiri.

Akar sikap itu disebut dalam a.33: kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, sehingga kasih karunia melimpah-limpah atas mereka. Oleh karena Yesus bangkit, orang-orang berada tidak lagi percaya terutama pada hartanya, melainkan pada kuasa Tuhan untuk memlihara mereka. Kuasa itu dilihat bukan hanya dalam mukjizat yang dilakukan oleh para rasul, melainkan juga dalam kecukupan yang dialami oleh seluruh jemaat (34a). Hal itu terjadi karena orang berada menguangkan tanah atau ladang (35). Adalah penting untuk memperhatikan bahwa kata “tanah” dan “rumah” dalam bahasa Yunani itu jamak. Maksudnya bukan bahwa yang hanya memiliki satu rumah menjualnya, karena dengan demikian dia sendiri akan menjadi miskin. Tetapi orang-orang yang memiliki beberapa rumah siap menjual salah satunya untuk kebutuhan jemaat. Uangnya dikumpulkan pada para rasul (35). Mengapa cara itu dipakai tidak dijelaskan, tetapi ada beberapa kemungkinan yang saya usulkan di bawah. Barnabas diangkat sebagai contoh (36–37), sekaligus untuk memperkenalkannya, karena dia menjadi penting sebagai rekan Paulus, mulai dengan Barnabas memperkenalkan Paulus kepada para rasul di Yerusalem (9:27).

Jadi, kesehatian jemaat bukanlah soal sikap saja. Sikap itu terwujud sesuai dengan kebutuhan.

Maksud bagi Pembaca

Iman kepada Yesus yang bangkit membawa jemaat untuk melihat hartanya sebagai sarana untuk melayani sesama sesuai dengan kebutuhannya. Itulah yang menjadi kesaksian hidup jemaat yang mengiringi pemberitaan kebangkitan itu.

Makna

Salah satu tanda bahwa pemberitaan Injil belum masuk ke dalam hati orang berada ialah ketika orang itu masih takut untuk bermurah hati dan membagikan kelebihannya kepada orang lain. Tanda yang lain: orang berada siap berbagi, tetapi dengan syarat bahwa si penerima berutang budi kepadanya. Oleh karena itu, menarik untuk diperhatikan bahwa para rasul menjadi pokok dalam penyaluran uang bantuan itu. Dengan demikian, tidak ada ikatan yang dibangun antara si pemberi dengan si penerima, sebagaimana kebiasaan pada zaman itu (dan sekarang). Si pemberi memberi kepada Kristus, dan mengharapkan balasan berkat dari Dia. Si penerima bersyukur kepada Kepala jemaat, dan membalas budi kepada Dia. Itulah namanya memberi tanpa pamrih: semua perhitungan ada di tangan Tuhan, bukan manusia, supaya Tuhan yang dimuliakan. (Jika ada filsuf yang mengatakan bahwa ketaatan manusia kepada Tuhan baru sempurna ketika dilakukan tanpa pamrih, filsuf itu menyingkirkan pengharapan yang dibawa oleh kebangkitan Yesus, yang mendahului semua yang kita lakukan. Hanya Allah yang memberi tanpa pamrih—hanya, sebenarnya ketika jemaat bertobat dan hidup sehati sejiwa termasuk dengan harta bendanya, Allah dimuliakan dan bersukacita. Mungkin filsuf itu berpikir logis tetapi terlalu sempit.)

Jadi, pola di mana diakonia diatur oleh kelompok yang berwenang di dalam jemaat itu tepat. Tentu, adalah penting bahwa pembagian itu sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan tersebut bisa diketahui dengan tepat ketika ada perhatian yang muncul dari kasih di dalam jemaat. Kalau tidak, kebutuhan bisa dilebih-lebihkan oleh calon penerima yang terlalu khawatir atau pemalas. Lebih sering, kebutuhan yang riil tidak diperhatikan karena perhatian yang kurang. Ketika hal itu mulai terjadi di Yerusalem, sistem segera diperbaiki supaya tidak ada yang diabaikan (Kis 6:1–6).

Namun, diakonia sulit kalau tidak ada yang siap memberi. Dan hal itu sulit ketika tidak ada orang berada, karena semua orang yang kepadanya Tuhan memberi kelebihan menganggap diri berkekurangan karena hati belum dikuatkan oleh berita kebangkitan Yesus, dan/atau belum menempatkan Yesus sebagai Pemimpin (Tuhan = kurios = tuan) atas keputusannya.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s