Kis 10:1-48 Berita untuk semua orang [10 Mei 2015]

Renungan ini dibantu oleh kelompok proponen yang akan membawa perikop ini di beberapa jemaat hari Minggu ini.

Penggalian Teks

Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk menjadi saksi-Nya di Yerusalem (pp.1–7), Yudea dan Samaria (8:1–9:31), sampai ke ujung bumi. Hal terakhir sudah dimulai ketika Filipus menginjili orang Etiopia itu (8:26–40), dan dalam p.9 rasul Paulus dipanggil kepada bangsa-bangsa. Tetapi ada satu hal yang belum terlalu dipikirkan oleh gereja perdana, yaitu, sejauh mana bangsa-bangsa itu harus menanggung hukum Taurat, termasuk menghindari makanan yang najis, dan disunat. Peristiwa yang diceritakan dalam p.10 ini menjadi penting kemudian untuk menjawab persoalan itu (lihat sidang Yerusalem, p.15). Sulitnya serta pentingnya persoalan itu dilihat dalam berbagai keajaiban yang dipakai Tuhan untuk mempertemukan Kornelius dan Petrus, termasuk malaikat, penglihatan, dan penentuan waktu secara terpisah.

Lukas menyampaikan kisah Kornelius dan Petrus secara bergantian sampai mereka bertemu. Kornelius diperkenalkan sebagai orang yang saleh, walaupun dia bukan orang Yahudi (aa.1–2; “takut akan Tuhan” menunjukkan bahwa dia biasa mengikuti ibadah orang Yahudi sehingga dia tahu tentang Allah Israel). Sama seperti Ayub dalam PL, kesalehannya melebihi kebanyakan orang dari umat Allah. Namun, ada sesuatu yang belum dia miliki, dan Allah akan memperhatikan (“mengingat”) dia dengan menyampaikan hal itu kepadanya melalui Petrus (3–6). Apanya yang kurang sama sekali belum dijelaskan di sini. Kornelius taat pada penglihatan itu dengan langsung menyuruh orang-orang kepada Petrus (7–8).

Jika jawaban akan kebutuhan Kornelius ada pada Petrus, ternyata ada sesuatu dalam Petrus yang harus diperbaiki supaya tidak menghalanginya menyampaikannya kepada Kornelius. Hal itu dilakukan melalui penglihatan tentang makanan-makanan najis (9–16). Lukas tidak merekam perikop yang ditemukan dalam Mk 7:1–20 yang menunjukkan bahwa Yesus menganggap semua makanan itu halal (Mk 7:19b). Bagaimanapun juga, gereja perdana hidup sebagai orang Yahudi, hanya dengan perbedaan bahwa mereka menyembah Yesus sebagai Mesias yang di dalam-Nya Allah telah melawat umat-Nya (bdk. Luk 1:76–78). Tidak ada alasan di Yerusalem untuk memikirkan ulang soal makanan, Sabat, ataupun sunat, karena semua di dalam gereja perdana adalah orang Yahudi. Petrus masih dalam kondisi bingung ketika ketiga pesuruh Kornelius datang, dan Roh Kudus harus tetap menuntun dia untuk menerima mereka (17–23a).

Semuanya baru mulai dijelaskan ketika Petrus sampai ke rumah Kornelius (23b–27). Petrus menjelaskan makna dari penglihatannya, yaitu bahwa tidak ada manusia yang najis (28). Sistem kenajisan dalam PL bermaksud untuk mendorong Israel tampil lain dari yang lain untuk memperlihatkan kekudusan Allah, tetapi oleh banyak orang Yahudi, keterpisahan dari manusia lain menjadi lebih utama daripada kesaksiannya. Petrus mulai sadar bahwa Allah tidak bermaksud untuk umat-Nya menajiskan orang. Setelah penjelasan dari Kornelius yang dengan jelas menunjukkan bahwa Allah memperhatikan Kornelius sama seperti orang-orang Yahudi yang saleh (bandingkan Zakaria dan Elisabet, Lk 1:6), Petrus sampai pada pengakuannya dalam a.34–35, bahwa Allah tidak membedakan antara orang Yahudi dengan bangsa-bangsa.

Namun, Petrus juga tahu apa yang dibutuhkan oleh Kornelius dan oleh banyak orang yang sudah dia kumpulkan itu. Kepada orang Yahudi yang saleh dan orang non-Yahudi yang saleh, Petrus akan memberitakan Kristus. Kristus adalah Tuhan dari semua orang—hal itu sudah lebih bermakna bagi Petrus sekarang—yang membawa damai sejahtera bagi semua orang (36). Damai sejahtera itu diperlihatkan dalam pelayanan-Nya (37–38), tetapi sifat manusia diperlihatkan dalam reaksi orang Yahudi (yang saleh!) untuk menyalibkan Dia (39). Namun, Allah mengungkapkan realita yang sebenarnya dengan membangkitkan Yesus, dan menentukan Petrus dkk untuk menjadi saksi akan kebangkitan itu. Yesus ini telah ditentukan untuk melaksanakan penghakiman Allah, yaitu cara Allah memulihkan dunia dengan menyingkirkan semua (orang) yang melawan Allah (40–42). Karena orang salehpun membunuh Yesus, semestinya tidak ada harapan bagi manusia berhadapan dengan Sang Hakim itu. Tetapi, Petrus juga bersaksi bahwa ada pengampunan untuk setiap orang yang percaya kepada Yesus (43). Manusia yang membunuh Yesus diberi kesempatan untuk bertobat.

Pada titik itu dalam pemberitaan, Roh Kudus turun ke atas para pendengar sama seperti Roh turun atas murid-murid pada hari Pentakosta (Kis 2; bdk. 11:15). Kornelius dkk tidak hanya diperkenankan mendengar berita tentang Yesus, tetapi Allah menunjukkan bahwa mereka diterima sepenuhnya ke dalam gereja tanpa bersunat atau menanggung peraturan hukum Taurat yang lainnya. Demikian pengartian Petrus ketika dia menjelaskannya kepada gereja di Yerusalem (11:2–3, 16–18; 15:1 dst). Percaya kepada Kristus yang bangkit dan menerima Roh Kudus yang dicurahkan itu menjadi ciri umat Allah, bukan lagi memegang hukum Taurat.

Maksud bagi Pembaca

Berita tentang Kristus sebagai Hakim yang mengampuni itu untuk semua orang dan semua macam orang. Jika kita beridentifikasi dengan Kornelius sebagai orang non-Yahudi yang mungkin berusaha hidup baik, kita akan belajar bahwa Yesus tetap adalah kebutuhan utama kita untuk bersekutu dengan Allah. Jika kita beridentifikasi dengan Petrus, sebagai orang percaya yang mau bersaksi tentang Kristus (lebih lagi sebagai pelayan), kita akan belajar bahwa kita harus melepaskan semua prasangka tentang siapa bisa dan tidak bisa dijangkau oleh Injil.

Makna

Walaupun warga jemaat belajar bahwa kita diselamatkan semata-mata karena karya Kristus bagi kita, saya menduga bahwa banyak jemaat akan bingung seandainya khotbah dimulai dengan menggambarkan Kornelius dan bertanya, “Apa yang masih kurang padanya?” Karena dia seperti anggota jemaat idaman: rajin memberi persembahan, rajin berdoa, saleh. Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya kepadanya dengan mengutus Petrus untuk memberitakan Kristus kepadanya. Dalam 11:14, malah diperjelas bahwa pesan Petrus akan membawa keselamatan bagi Kornelius dkk.

Apakah jemaat bisa ditempatkan seperti Kornelius: belum percaya kepada Yesus meskipun mereka dibaptis dan disidi? Pertanyaan itu tidak usah dilakukan per orang, tetapi kita bisa bertanya apakah kesalehan jemaat itu muncul dari iman yang membuat Yesus yang berbuat baik, mati dan bangkit itu sentral? Iman yang lazim siap mengandalkan kuasa di luar diri dalam kondisi yang terdesak, dan siap melakukan hal-hal tertentu (seperti rajin beribadah) supaya berkenan kepada kuasa itu. Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Yesus jauh lebih daripada itu. Kita melihat hati misi Allah dalam pelayanan Yesus; kita melihat kasih Allah yang berkorban, dan hikmat Allah yang bermain dalam kelemahan dalam salib Kristus, dan kita melihat kuasa pemulihan Allah dalam kebangkitan Yesus. Percaya pada Yesus berarti menjadi tertarik untuk bermisi, menderita, dan mencari pembaruan jiwa bukan pemaksaan tubuh. Bertobat berarti menempatkan Yesus ini sebagai Hakim sehingga agenda Yesus mengarahkan kehidupan kita. Ciri khasnya Yesus bukan bahwa Dia adalah Allah ala konsep kita tentang Allah, melainkan bahwa Dia yang melayani, mati, dan bangkit itu Allah yang sejati

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s