Kis 1:15-26 Pemimpin yang menjaga integritas kesaksian jemaat [17 Mei 2015]

# #

Penggalian Teks

Perikop ini terasa sebagai selingan antara doa jemaat (1:14) dan jawaban doa itu pada hari Pentakosta (p.2). Di dalamnya, ada dua hal yang muncul berkaitan dengan peran Yudas. Yang pertama, bagaimana nasib orang yang mengkhianati Yesus itu (16)? Yang kedua, bagaimana dengan jumlah rasul yang tidak lagi genap duabelas (17)? Hal pertama dijawab dalam aa.18–20a, dan hal kedua dijawab dalam aa.20b–26.

Tentang nasib Yudas, Lukas menyisipkan informasi yang sudah diketahui oleh Petrus dan jemaat perdana yang kepadanya dia berbicara, yaitu bagaimana Yudas membeli tanah dengan hasil pengkhianatannya tetapi kemudian mati (18–19). Petrus kemudian mengutip dua nas dari kitab Mazmur. Kedua nas ini terdapat dalam doa pemazmur supaya orang jahat kena hukuman dari Allah. Mazmur yang pertama, Mazmur 69, dikutip beberapa kali dalam PB untuk menggambarkan penderitaan Yesus (misalnya, Mzm 69:22 oleh Mt 27:48). Kemudian, pemazmur berdoa supaya keadilan Tuhan tampak kepada mereka (Mzm 69:23–29). Petrus melihat dalam nasib Yudas bahwa Tuhan sudah bertindak demikian terhadap Yudas.

Mazmur kedua yang dikutip Petrus, yaitu Mazmur 109, memiliki pola yang sama. (LAI menggunakan tanda kutip di sekitar aa.6–20, sesuai dengan suatu tafsiran bahwa kutuk-kutuk itu bukan dari pemazmur melainkan dari musuhnya. Tetapi sepertinya Petrus melihat ayat-ayat itu sebagai harapan yang sah akan hukuman Allah terhadap seorang penindas.) Bedanya bahwa hukuman dalam nas yang dikutip termasuk “jabatannya” diambil orang lain. Jabatan Yudas sebagai salah satu dari keduabelas rasul diuraikan dalam aa.21–22, yaitu sebagai saksi. Kebangkitan adalah hal utama yang disaksikan, tetapi ternyata seorang rasul harus mampu bersaksi tentang seluruh kisah Yesus dari baptisan-Nya sampai kenaikan-Nya. Kebangkitan itu hanya bermakna dalam konteks seluruh kisah Yesus.

Ternyata ada dua orang yang memenuhi kriteria yang disampaikan Petrus (23). Kriteria itu jelas, tetapi mengenal hati ada di luar kemampuan manusia, sehingga mereka berdoa supaya Tuhan yang memilih di antara kedua calon ini (24–25). Pilihan itu dinyatakan melalui undi (26)—sesuatu yang tidak dilihat lagi dalam Kisah Para Rasul, dan mungkin terjadi karena Roh Kudus belum dicurahkan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau memperlihatkan bagaimana integritas kesaksian jemaat tentang Kristus dipelihara melalui kepemimpinan Petrus yang peka dan Alkitabiah. Dengan demikian, kita diyakinkan bahwa kesaksian rasul-rasul itu benar, dan kita juga didorong untuk menjaga integritas kesaksian kita tentang Kristus.

Makna

Ternyata pengampunan Allah ada batas—jika seseorang tidak mau bertobat, maka dia menempatkan dirinya di luar jangkauan pengampunan itu. Yudas bertindak sebagai musuh Yesus, dan nasibnya dianggap bukti tentang hukuman Allah. Kitab Ayub memperingati kita untuk tidak menafsir semua penderitaan sebagai hukuman Allah. Tetapi kalau dosanya jelas, seperti dosa Yudas, maka kita tidak usah heran jika Allah bertindak terhadap orangnya. Bagi jemaat yang menganggap bahwa pengampunan Allah itu kelonggaran terhadap kelemahan yang biasa-biasa saja, bukan pengampunan terhadap pemberontakan yang selayaknya dihukum berat, peringatan ini penting.

Hal itu lebih lagi berlaku dalam kaitan dengan gereja. Kesaksian tentang Yesus adalah soal hidup/mati kekal (1 Yoh 5:9–12). Kesaksian itu juga harus muncul dengan satu suara. Yesus merujuk pada soal Yudas, yang ditentukan untuk binasa sesuai dengan Kitab Suci (Yoh 17:12). Tetapi yang dibutuhkan setelah Yesus pergi ialah bahwa para rasul itu menjadi satu, seperti Allah dan Yesus adalah satu (Yoh 17:11). Pemilihan Matias memulihkan keutuhan kerasulan sehingga memelihara integritas kesaksiannya.

Petrus mampu melihat kebutuhan itu, dan untuk mendukungnya, dia mulai mempraktekkan tafsiran PL yang Kristosentris, yang sudah diajarkan Yesus kepada para rasul (Luk 24:44–47), dengan melihat Yesus sebagai penggenapan pemazmur yang tertindas.

Perikop ini sebenarnya tidak bermaksud untuk ditiru—kita bukan gereja perdana yang di dalamnya ada rasul-rasul yang kesaksiannya menjadi dasar untuk pemberitaan jemaat seterusnya. Tetapi kita bisa yakin bahwa Tuhan akan bekerja untuk menjaga kesaksian tentang Anak-Nya Yesus Kristus. Jika tidak ada pimpinan yang siap melangkah dengan jelas seperti Petrus, jangan sampai ada jemaat atau kelompok orang yang harus dipangkas, seperti Yudas.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kis 1:15-26 Pemimpin yang menjaga integritas kesaksian jemaat [17 Mei 2015]

  1. yober21 berkata:

    Syalom…mohom bantua untuk memberikan pengetahuan atas peristiwa Yudas… menurut Injil yudas mati dgn menggantung diri.. dan dalam kisah para rasul terkesan berbeda…terima kasih Tuhan Yesus memberkati..

  2. abuchanan berkata:

    Ya, betul terkesan berbeda. Bukan tidak bisa dicocokkan (misalnya, tali yang dipakai Yudas untuk menggantung diri terputus sehingga terjatuh dsb), tetapi yang lebih penting ialah perbedaan tujuan–Lukas menonjolkan tangan Tuhan, sementara Matius menonjolkan lengkapnya sikap Yudas yang buruk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s