Yes 6:1-8 Diutus oleh Allah Tritunggal [31 Mei 2015]

Hari Minggu ini adalah hari Tritunggal, walaupun tidak semua gereja berani mengangkat ajaran itu sebagai tema. Gereja saya mengangkat tema dari a.8a, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Jawabannya dalam kedua bacaan yang lain menunjukkan bahwa yang diutus itu orang yang percaya kepada Kristus oleh Roh Kudus.

Penggalian Teks

Yesaya 1–5 menggambarkan kebobrokan Israel yang akan bermuara pada penghukuman dari Allah. Yesaya 6 menceritakan panggilan nabi Yesaya. Secara kronologis hal itu terjadi sebelum nubuatan-nubuatan dalam pp. 1–5, tetapi pasal-pasal itu memberi latar belakang untuk panggilan Yesaya. Panggilan itu terjadi pada tahun kematian raja Uzia, raja yang lama berkuasa dan cukup berjaya (lihat 2 Raj 15:1–7; 2 Raj 15:32 menunjukkan bahwa Azarya juga disebut Uzia).

Yesaya berada di pelataran Bait Suci, tempat kurban dipersembahkan di atas mezbah. Allah (atau nama-Nya) hadir di sana, khususnya di ruang paling dalam. Tetapi dalam penglihatan Yesaya, jubah Allah saja memenuhi seluruh Bait Suci. Kata untuk Bait Suci (hekal) juga dipakai untuk istana, karena bait adalah istana dewa. Jadi, Yesaya melihat Allah sebagai Raja Agung, yang duduk di atas takhta di dalam istana-Nya (1). Abdi-abdi-Nya adalah para serafim, yang menyuarakan kekudusan Allah dengan bahasa isyarat—mereka menutupi wajah dan kaki (2)—dan juga suara (3a). Kekudusan itu dijelaskan dengan gelar “Tuhan semesta alam”. “Semesta alam” menerjemahkan kata tsevaot yang berarti tentara besar dan menegaskan kuasa-Nya sebagai Raja; a.3b menyatakan bahwa kemuliaan Allah—kesemarakan-Nya, nama-Nya yang agung, kemasyhuran-Nya—berada di seluruh bumi, walaupun manusia berdosa (dalam hal ini, Israel) tidak mampu melihatnya. Goyangan dan asap menyampaikan hal itu melalui indera sentuhan dan penciuman (4).

Yesaya menjadi sangat sadar akan kenajisannya, yang menjadi bagian dari kenajisan seluruh bangsa Israel (5). Ritus-ritus PL mengajar Israel bahwa apa yang kudus tidak boleh bersentuhan dengan apa yang najis, dan hal itu melambangkan sulitnya Allah yang kudus berdiam di tengah bangsa yang penuh dosa (ingat saja peristiwa anak lembu emas, di mana Allah mau menghapus bangsa itu, Keluaran 32–34). Para serafim saja, yang tidak berdosa, harus menutupi mulut dan kaki. Kenajisan itu seperti bahan bakar di hadapan api kekudusan Allah, sehingga terancam binasa. Khususnya, bibir bangsa itu najis karena ibadah kepada Tuhan disertai ketidakadilan dan pemberhalaan (lihat, misalnya, 1:15). Tetapi Tuhan telah menyediakan cara untuk mentahirkan umat-Nya, yakni dengan kurban-kurban. Jadi, seorang serafim mengambil bara dari mezbah untuk membakar habis kenajisan bibir Yesaya (6–7). Hal itu diartikan sebagai perginya (sar) kesalahannya dan penutupan (kiper) dosanya, sehingga akibat yang semestinya, kehancuran di hadapan Allah yang kudus, dihindarkan.

Dengan dikuduskannya Yesaya, dia siap untuk mendengar panggilan Tuhan. Tuhan memanggil terlebih dahulu (8), lalu memberitahu apa tugas Yesaya. Tugas itu adalah mengatakan firman Tuhan kepada bangsa (9)—makanya adalah penting bahwa bibir Yesaya ditahirkan lebih dulu.

Maksud bagi Pembaca

Tugas kenabian adalah membawa terang yang mengungkapkan dosa, termasuk dalam umat Allah sendiri. Kita harus ditahirkan oleh pengorbanan Kristus dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus untuk menjadi mampu menunaikan tugas itu.

Makna

Allah disebut kudus tiga kali, dan dalam a.8 Dia bertanya, “siapakah mau pergi untuk kami” (LAI “Aku”, tetapi bentuknya jamak). Mungkin Yesaya dan para pendengarnya akan memahami “kami” itu sebagai Allah beserta abdi-abdi-Nya di surga (makanya, LAI mungkin kesulitan dengan kata “kami”, karena jika pakai huruf besar, abdi-abdi itu tidak ilahi, tetapi jika pakai huruf kecil, melanggar kaidah modern tentang kata ganti untuk Allah). Tetapi, setelah kebangkitan Yesus, murid-murid-Nya menjadi sadar bahwa Allah telah datang dalam diri-Nya. Kemudian, setelah Yesus naik ke surga, mereka mengalami hadirat Yesus dan Bapa lewat Roh Kudus (bdk. Yoh 14:16–20). Keramaian di surga ternyata bukan hanya soal adanya malaikat-malaikat, tetapi ada dalam diri Allah sendiri.

Dalam Yoh 3:1–21, Yesus adalah pemberita Kerajaan Allah, sebagai Anak Manusia yang turun dari surga (12–13). Dia juga adalah Juruselamat (14–15). Tetapi, berita itu tidak bisa diterima, dan keselamatan itu tidak bisa dinikmati, kecuali seseorang dilahirkan kembali oleh Roh Kudus (3–6). Ini semua adalah karya Allah (16). Kita melihat bagaimana Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja sama untuk membawa keselamatan bagi manusia: Allah mengutus, Anak mewujudkan, Roh menerapkan di dalam diri manusia. Sama halnya dengan terang. Dalam aa.19–21, percaya itu dikaitkan dengan respons kita terhadap terang—sepadan dengan kekudusan Allah yang dilihat Yesaya. Yesus Kristus adalah wujud terang itu—Dialah yang mengekspos seberapa jauh bangsa Yahudi dari Allah (bdk. Yoh 12:41). Roh Kudus yang membuat kita lahir kembali sehingga kita siap diekspos oleh terang itu.

Kita bisa menambahkan contoh lagi dari Rom 8:12–17. Roh Kudus yang memampukan kita mematikan perbuatan daging (12) yang kuasanya hilang di dalam salib Kristus (6:6). Dengan demikian, kita menjadi anak Allah, dan pewaris bersama dengan Kristus, Sang Anak (17). Jadi, yang mengutus dalam Yes 6:8 adalah Allah Tritunggal yang tri-Kudus. Yang diutus adalah orang yang mampu melihat terang Allah oleh kuasa Roh Kudus, sehingga ditahirkan oleh pengorbanan Kristus.

Satu implikasi yang semestinya tidak dilupakan ialah bahwa pengutusan itu terjadi dalam konteks keberdosaan. Yesaya diutus kepada bangsa yang najis, dan dia alami apa yang dialami Yesus dalam Yoh 3:19–21, yaitu bahwa manusia menghindar dari terang karena dosanya. Rom 8:12–17 mulai dengan dosa dalam diri, dan berakhir dengan menderita bersama dengan Yesus karena kita ikut dalam tugas kenabian-Nya. Semua yang setia kepada Allah akan mengalami hal itu, lebih lagi pelayan yang tugasnya ialah memberitakan firman Tuhan yang mengungkapkan dosa tanpa memandang buluh. Hanya karya Allah Tritunggal yang akan memampukan kita.

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s