Kej 3:8-19 Akibat dosa [7 Jun 2015]

Ada banyak perdebatan tentang apakah kisah ini cerita nyata atau simbolis. Penguraian di bawah mengandaikan dua hal. Yang pertama, dosa pernah masuk ke dalam dunia; kisah ini berbicara tentang sesuatu dalam sejarah dunia. Yang kedua, makna dari ular, pohon dan sebagainya adalah simbolis. Kita tidak belajar tentang menghadapi ular, tetapi tentang menghadapi Iblis; kita tidak belajar tentang berbagai jenis pohon, tetapi tentang dosa. Di luar itu, kita tidak tahu, dan tidak perlu tahu.

Penggalian Teks

Perikop ini menceritakan akibat dari ketidaktaatan manusia perdana. A.8 (bersama dengan a.7) menunjukkan perubahan dalam diri mereka akibat makan buah terlarang itu dalam a.6. Aa.9–13 menceritakan tanya-jawab Tuhan dengan mereka, yang membongkar kelicikan tanya-jawab ular dengan perempuan dalam 3:1–5. Aa.14–19 menceritakan vonis Tuhan yang mengubah kondisi baik taman Eden dalam 2:18–25 menjadi kondisi buruk yang kita alami sekarang. Setelah itu (3:22–24), manusia diusir dari taman, yang ke dalamnya Allah membawa masuk manusia setelah dibentuk dari tanah (2:5–17).

Perempuan makan buah itu karena pohon itu kelihatan enak, sedap, dan membuat berpengertian (6). Pengertian itu sudah disebut sebagai “pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Frase itu mungkin merujuk pada kemampuan untuk menentukan nilai sendiri, sama seperti Allah. Hanya, kemampuan itu jauh melampaui kemampuan manusia. Yang terjadi setelah makan ialah: mereka tahu bahwa mereka telanjang (7). Sebelumnya, mereka telanjang dan tidak merasa malu (2:25). Mereka mulai “tahu diri”, dan diri itu harus ditutupi.

Bahwa rasa malu itu pertanda masalah yang dalam menjadi jelas ketika mereka mendengar Tuhan berjalan-jalan di taman. Secara harfiah, “mereka mendengar suara Tuhan Allah” (“suara”, qol, diterjemahkan LAI “bunyi langkah”), suatu rumusan yang sering diperintahkan kepada Israel. Hanya, suara atau bunyi ini menjadi ancaman bagi mereka, sehingga mereka bersembunyi (8). Tuhan mencari Adam, dan memberinya kesempatan untuk menyatakan diri (9). Jawaban Adam mewakili manusia selanjutnya. Dia mendengar suara Allah (“suara-Mu”, qol-ka, diterjemahkan “bahwa Engkau ada”) dan dia takut; dia takut karena sadar bahwa dia telanjang, sehingga bersembunyi. Pertanyaan Allah mengungkapkan bahwa manusia itu berada di tempat rasa malu dan takut.

Kemudian Allah bertanya kepada mereka, seperti hakim bertanya kepada terdakwa (11–13). Dengan demikian, mereka memiliki kesempatan untuk mengaku. Dan memang, mereka mengaku, tetapi jawaban mereka menjadi licik, seperti ucapan si ular dalam aa.1–5. Manusia mempersalahkan isterinya, dan secara tersirat menuduh bahwa Allah berandil di dalamnya karena isterinya diberikan oleh Allah (12). Isterinya mempersalahkan ular yang memperdayakannya (13). Alasan mereka tidak salah, tetapi mereka tidak bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. Manusia yang langsung menerima larangan dari Allah lebih mengutamakan suara isterinya. Mereka yang semestinya berkuasa atas binatang dikendalikan oleh ular.

Kemudian, Allah menjatuhkan vonis atas masing-masing pihak. Ular akan makan debu—suatu kiasan untuk kekalahan yang besar (a.14, bdk. Mik 7:17). Ular akan dikalahkan oleh keturunan perempuan (a.15). Keturunan yang dimaksud mulai jelas dalam Kej 49:10, yaitu raja Daud, sehingga ayat ini dapat dilihat sebagai janji tentang Kristus, anak Daud itu. Hal itu memberi harapan ke depan, tetapi untuk sementara, pengalaman mereka akan diwarnai oleh susah payah—perempuan dalam melahirkan (16), laki-laki dalam mengerjakan tanah (17).

Kemudian, relasi laki-laki dan perempuan diganggu. Ada banyak tafsiran akan bagian ini; yang berikut adalah refleksi saya. A.16b hampir identik dengan 4:7b. Dalam 4:7b, gairah dosa tertuju kepada Kain, dan Kain harus berkuasa atas dosa itu. Dalam a.16b, gairah perempuan tertuju kepada suami, dan suami akan berkuasa atas perempuan itu. Dalam Kid 7:10, gairah itu dari suami kepada isteri. Jadi, gairah itu belum tentu keinginan yang buruk. Terus, “akan” dan “harus” menggunakan bentuk kata kerja yang sama. Jadi, karena dosa mau merusak, keinginanya buruk (“menggoda”) dan Kain harus menguasainya. Apakah perempuan itu sejajar dengan dosa yang merusak? Pada dasarnya tidak, tetapi kondisi pasca kejatuhan membuat kepentingan isteri dan suami terasa bertentangan. Dalam 2:25 itu manusia dan isterinya begitu terbuka karena tidak ada yang harus ditutupi. Tetapi sekarang, Isteri menuntut dari suami menurut kepentingan yang tersembunyi, bahkan dari isteri sendiri. Suami mempertahankan kepentingannya dengan usaha mengendalikan isterinya. Kadangkala usaha itu perlu, kadangkala suami mempertahankan kepentingan yang tidak baik. Tetapi relasi kepala-pendamping dalam 2:18–25 menjadi perebutan kepentingan dalam kekelabuan motivasi karena dosa.

Akhirnya, kepada manusia itu Allah meletakkan tanggung jawab atas kejadian ini, karena kepada dialah perintah itu disampaikan, tetapi suara isterilah yang didengar, bukan suara Tuhan (17). Selain kesusahan mencari rezeki (18), kefanaan manusia yang dibuat dari debu akan muncul dan berlaku, sesuai dengan peringatan Allah berkaitan dengan larangan untuk memakan dari pohon itu (19). Tentunya, isterinya termasuk dalam hal kefanaan ini, dan mereka berdua kemudian diusir dari taman Eden supaya tidak hidup kekal dalam kekacauan itu dengan memakan dari pohon kehidupan.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk memahami kondisi dunia sebagai akibat dosa, dan untuk melawan dosa dalam pengharapan akan kemenangan Kristus atas Iblis.

Makna

Dosa merusak martabat manusia. Si perempuan (dan suaminya ikut saja) mencari apa yang baik, enak, dan menarik. Tetapi pengertian yang diperoleh membawa rasa malu seorang kepada yang lain, dan ketakutan terhadap Allah. Mereka tidak lagi bisa berbicara terus terang, sehingga relasi mereka dipersulit. Keenakan yang diharapkan menjadi kesusahan. Pohon itu dilihat baik, tetapi menimbulkan mereka diusir dari taman yang baik itu.

Dari satu segi, akibat dari dosa itu sudah terpola dalam dunia ini. Orang-orang benar tetap mengalami kesusahan dan tinggal di dunia yang jauh dari taman Eden. Makanya, banyak orang tidak melihat apa gunanya menjadi terlalu baik. Perikop ini tidak berguna untuk menakut-nakuti orang, karena menceritakan akibat yang sudah terlanjur terjadi. Jadi, adalah penting untuk memperhatikan janji di dalamnya, bahwa akibat-akibat buruk ini akan ditiadakan melalui keturunan perempuan itu, yakni Yesus Kristus. Pengharapan itu yang menggerakkan Paulus dalam 2 Kor 4:13–5:1. Kefanaan dikalahkan oleh kebangkitan (4:14; 5:1), dan kerusakan martabat dikalahkan oleh kasih karunia Allah (4:15–17). Dalam pengharapan itu, kita melihat bahwa ada gunanya melawan dosa, dan perikop ini membantu kita untuk memahami bagaimana.

Kita belajar bahwa kerusakan martabat diakibatkan oleh dusta Iblis dan diteguhkan oleh dusta manusia, dusta yang sering tidak disadari karena muncul dari kebutuhan untuk menutupi rasa malu dan takut yang ada. Dinamika itu membuat para ahli Taurat mengecap pelayanan Yesus yang dilakukan oleh kuasa Roh sebagai karya Iblis—Yesus melihat sikap itu sebagai pertanda hati yang begitu bengkok sehingga tidak ada harapan untuk bertobat (Mrk 3:28–30). Obat Yesus dan Paulus terhadap dusta Iblis ialah penyampaian kebenaran. Yesus membongkar dalih para ahli Taurat. Paulus percaya pada kebangkitan Yesus, sehingga dia siap memberitakan Injil (2 Kor 4:13–14). Makin kita memahami firman Allah, makin kita dapat menangkis dusta Iblis itu.

Khususnya, cara ular memperdayakan ialah dengan menawarkan sesuatu yang menarik, tetapi mustahil, seperti manusia menentukan apa yang baik dan yang jahat lepas dari firman Allah. Jadi, orang berkorupsi supaya aman secara ekonomi, dan tahu-tahu, merasa gelisah. Pemuda main perempuan untuk membuktikan kejantanannya, dan menjadi brengsek. Pemudi ikut karena mencari cinta, dan dikhianati. Di atas semua itu, persekutuan dengan Allah dirusak. Jadi, martabat mulai pulih ketika pengorbanan Yesus diterima sebagai penghapus noda yang meremukkan kepala Iblis, dan kita menolak dusta Iblis dan dusta dalam diri sendiri. Hal itu tidak berarti kita luput dari akibat dosa perdana manusia. Tetapi, kita mulai menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah, solusi Allah di dalam Kristus.

Pos ini dipublikasikan di Kejadian dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s