2 Kor 12:1-10 Bermegah atas kelemahan [5 Jul 2015]

Penggalian Teks

Dalam 2 Korintus 10–13, Paulus membela diri—atau lebih tepat, membela pelayanannya—terhadap “rasul-rasul yang luar biasa” (12:11). Di balik semua yang dia katakan ada salib. Dalam kelemahan dan kehinaan salib, Allah justru mengerjakan keselamatan, dan pelayanan Injil itu harus bercermin pada pola itu. Makanya, dalam 11:23–33, Paulus membuktikan bahwa dia adalah pelayan Kristus (11:23) dengan serangkaian penderitaan. Bentuknya seperti daftar kemegahan yang biasa pada zaman itu, untuk menunjukkan sifat kepahlawanan dalam diri. Hanya, isinya berupa kesusahan, dan puncaknya menunjukkan kelemahan Paulus, bahwa dia tidak berdaya dan melarikan diri dari seorang penguasa (11:31–33). Paulus bermegah dalam kelemahan, yang di sini bersifat sosial/politik: Paulus bukan orang berkedudukan tinggi.

Perikop kita melanjutkan penyampaian Paulus tentang kemegahan itu. Dia masuk ke dalam soal penglihatan dan penyataan (1)—sesuatu yang sepertinya digemari oleh jemaat di sana dan mungkin menjadi kemegahan rasul-rasul luar biasa itu. Dalam aa.2–4 dia bermain-main dengan kegemaran itu. Dia tidak tahu penglihatan itu seperti apa, dan apa yang dia dengar tidak boleh diucapkan. Jadi, tidak ada penyataan baru daripadanya. Maksud Paulus diperjelas dalam aa.5–6. Dia memang pernah mengalami yang seperti itu, tetapi dia berbicara seakan-akan pengalaman itu terjadi pada orang lain untuk menegaskan bahwa dia akan bermegah atas kelemahannya (5), dan supaya orang menilai dia atas kinerjanya, bukan karena pengalaman tertentu (6).

Ternyata, sikap itu diajarkan langsung kepada Paulus oleh Tuhan. Kita tidak tahu apa yang disebut Paulus sebagai “duri di dalam daging” dan “utusan Iblis”. “Daging” sering dipakai Paulus untuk sifat manusia yang melawan Allah (bdk. Rom 8:5–8), jadi belum tentu yang dimaksud adalah penyakit. Usul-usul termasuk penyakit, pencobaan, bahkan musuh-musuh Paulus! Yang jelas, gangguan itu “menggocoh” (LAI versi baru: menghantam) Paulus. Yang dijelaskan Paulus ialah tujuan gangguan itu, yaitu untuk menekan kesombongan yang dapat muncul dari penglihatan itu (7). Lebih dari itu, Tuhan mengajar Paulus bahwa kelemahan Paulus adalah sarana yang paling cocok untuk kuasa Tuhan disalurkan (8–9a). Makanya, Paulus bermegah dalam kelemahannya. Ketika dia lemah, kuasa Tuhan membuat dia kuat, sehingga hal-hal yang sungguh berguna dihasilkan melaluinya (9b). Dari pengalaman pribadi itu, dia belajar untuk menerima semua bentuk kesulitan (pribadi, sosial, umum) sebagai kesempatan untuk Kristus berkarya melaluinya (10).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk bermegah atas kelemahan kita, supaya kuasa Tuhan tidak dihambat oleh kesombongan dan pengandalan diri.

Makna

Pengalaman Paulus bukan hal yang baru untuk umat Allah. Mazmur 123 menyampaikan keluhan umat Allah yang sudah jenuh dengan penghinaan. Mrk 6:1–13 menceritakan penolakan Yesus oleh kaum-Nya sendiri, serta kesederhanaan yang dituntut bagi murid-murid-Nya dalam misi mereka. Melalui pengalamannya, Paulus dimampukan untuk melihat lebih dalam makna salib Kristus bagi semua yang mau mengikuti-Nya.

Kuasa Tuhan dalam kelemahan kita tidak berarti bahwa kemampuan kita mubasir. Kalau kita mampu menulis, atau membawa motor di jalan yang sulit, atau menafsir dari bahasa Yunani dan Ibrani, itu semua hal-hal yang masing-masing berguna pada tempatnya. Tetapi, kejagoan dalam membawa motor tidak melunakkan hati seorang pendosa untuk bertobat, dan kehebatan dalam ilmu-ilmu tafsir tidak membawa anggota jemaat untuk merenungkan Alkitab secara pribadi. Jika dilakukan dengan sombong, justru efeknya terbalik: pendosa dikuatkan dalam dosanya karena melihat kemunafikan hamba Tuhan, dan anggota jemaat berkecil hati atas kemampuannya untuk membaca Alkitab sendiri. Kelemahan membuat kita setara dengan orang-orang lemah yang lain, dan menunjukkan bahwa yang berkarya adalah Allah sendiri.

Paulus tidak hanya menyadari bahwa kelemahannya merupakan kesempatan bagi Allah. Dia juga membangun kebiasaan bermegah atas kelemahan. Dalam budaya Yunani, bermegah atas kelebihan adalah hal yang penting dalam rangka diperhatikan dan diperhitungkan. Dalam budaya Toraja, bermegah atas kelebihan dianggap sebagai perendahan orang lain yang tidak sehebat. Tetapi, dalam semua budaya itu kelemahan ditutupi. Paulus bermegah atas kelemahan sebagai disiplin rohani yang mengingatkan dia bahwa Tuhanlah yang pokok, sehingga kuasa Tuhan dapat mengalir dengan lebih lancar dalam hidupnya dan pelayanannya. Bermegah atas kelemahan bukan cara untuk menyenangkan orang lain, melainkan cara untuk tetap berguna bagi Tuhan dalam berbagai macam kesulitan.

Pos ini dipublikasikan di 2 Korintus dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 2 Kor 12:1-10 Bermegah atas kelemahan [5 Jul 2015]

  1. Sugeng Purnomo berkata:

    Surabaya, 08 Juli 2015

    Terima kasih atas kiriman artikelnya sangat memberkati kami

    tuhan memberkati pelayanannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s