Ef 2:11-22 Damai antar kelompok dalam tubuh Kristus [19 Jul 2015]

Kitab Efesus memaparkan kehidupan kristiani sebagai kehidupan bersama. Tafsiran Alkitab di Indonesia tertular dengan individualisme Barat, tetapi hal itu tidak cocok untuk perikop ini, yang berbicara tentang bangsa-bangsa, Israel, dan tubuh Kristus. Terus, untuk yang lupa (atau tidak pernah tahu), “LAI” merujuk pada Alkitab bahasa Indonesia, dan “Yunani” pada terjemahan saya yang harfiah atas teks aslinya dalam bahasa Yunani. Bukan karena LAI salah, tetapi karena ada segi dari teks yang tidak sempat dibawa ke dalam terjemahan yang mau saya pakai dalam tafsiran saya.

Penggalian Teks

Tema kitab Efesus muncul dalam 1:10, yaitu rencana Allah “untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu”. Rencana itu mencakup semua manusia yang percaya dan menerima Roh Kudus (1:13). Dalam 2:1–10, Paulus menggunakan pola A B -A (lawan dari A). Kondisi manusia berdosa yang di bawah murka Allah itu dijelaskan dalam aa.1–3; kondisi manusia yang sudah diselamatkan dan sedang diperbaiki dijelaskan dalam aa.8–10; yang memungkinkan perubahan dahsyat itu ialah Kristus, karena oleh iman kita turut dibangkitkan dan diberi tempat di surga bersama dengan Dia (aa.4–7). Perikop kita menggunakan pola yang sama, pada tingkat kelompok atau bangsa. Aa.11–12 menjelaskan kondisi bangsa-bangsa yang terasing dari Allah dan umat-Nya; aa.19–22 menjelaskan kondisi umat yang telah menjadi satu. Kembali, yang menentukan dalam perubahan ini ialah Kristus yang mempersatukan (aa.13–18).

Keterasingan bangsa-bangsa itu terjadi “dahulu”, yaitu pada zaman “daging” yang di dalamnya sunat “lahiriah” (Yunani: “dalam daging”) menjadi ciri khas umat Allah (11). Pada zaman itu, rencana Allah berpusat pada Israel (12). Dia memanggil Abraham dan mengadakan serangkaian perjanjian yang mengembangkan janji-Nya kepada Abraham bahwa semua bangsa akan diberkati di dalam keturunannya (LAI “ketentuan-ketentuan yang dijanjikan” adalah “perjanjian-perjanjian dari janji” secara harfiah). Pada zaman nabi-nabi, janji itu berpusat pada pengharapan akan seorang Mesias (alias Kristus; bdk. Mzm 89:20–38 untuk perjanjian dengan Daud yang mendasari pengharapan itu). Bahasa Paulus dalam a.12 menegaskan keterasingan bangsa-bangsa: LAI “tidak termasuk” = Yunani “terasing”, dan LAI “tidak mendapat bagiam dalam” = Yunani “orang-orang asing”. Makanya, mereka tanpa pengharapan dan pengenalan akan Allah yang tersedia bagi kaum Israel. Hal itu mungkin tercermin dalam perbedaan cara berdosa antara bangsa-bangsa dan Israel dalam aa.1–3. Bangsa-bangsa itu mudah dikendalikan oleh Iblis (a.2), karena tidak memiliki pengharapan dan tidak mengenal Sang Khalik. Dosa Israel tidak kentara seperti itu, tetapi hawa nafsu “daging” mereka tetap tidak dikendalikan (a.3). Tersirat dalam “yang menamakan dirinya ‘sunat’” dalam a.11 adalah suatu kekurangan rohani dari Israel juga.

Dalam rencana Allah, zaman itu sudah berlalu karena Kristus (13a). Dengan demikian, bangsa-bangsa yang jauh (terasing) dimungkinkan menjadi dekat, karena pengampunan dosa oleh darah Kristus (a.13b, bdk. 1:7). Hal itu diuraikan dalam aa.14–16. Hasil Kristus disebut “damai sejahtera” (14a), dan ada tiga klausa (bagian kalimat) yang menjabarkan hasil itu (14b–15a): mempersatukan dua pihak; merubuhkan perseteruan; dan membatalkan hukum Taurat. Hukum Taurat dengan jelas membagi manusia menjadi dua pihak, dan hal itu menimbulkan perseteruan karena kedagingan masing-masing pihak. Israel menganggap bangsa-bangsa paling sedikit najis, kalau bukan musuh Allah, sehingga harus dijauhi, dan hal itu dengan mudahnya dilakukan dalam kesombongan rohani (bdk. Rom 2:17–24). Bangsa-bangsa tentunya tidak suka sikap orang-orang Israel yang tampil angkuh. Jadi, dengan hukum Taurat tidak berlaku lagi, ketentuan-ketentuan yang menjaga kekudusan Israel tetapi juga memisahkan Israel dari bangsa-bangsa yang lain itu tidak lagi menimbulkan perseteruan.

Yang membuat hukum Taurat tidak berlaku lagi ialah daging Yesus (a.15a: LAI “dengan mati-Nya sebagai manusia” = Yunani “dalam daging-Nya”). Karena Paulus baru saja menyebut darah Yesus, hal itu memang merujuk pada kematian-Nya. Jika di bawah hukum Taurat, daging dan darah hewan dipersembahkan untuk menghapus dosa, daging Yesus telah menanggung kedagingan manusia, baik dari bangsa-bangsa maupun dari Israel. Jadi, fungsi hukum Taurat untuk menggambarkan dosa dan pengampunan Allah melalui ketentuan-ketentuan tentang kenajisan dan persembahan itu sudah digenapi oleh kematian Yesus. Kematian Yesus adalah tempat pengampunan dan pintu masuk untuk hidup yang berkenan di hadapan Allah.

Hasil Yesus itu memiliki dua tujuan (15b–16). Damai sejahtera tercapai dengan adanya satu manusia baru yang dibuat dari kedua pihak tadi. Di dalam Kristus, Yahudi dan non-Yahudi mendapat identitas di dalam Kristus yang lebih mendasar daripada identitas bangsanya. Yang kedua, kedua pihak itu diperdamaikan dengan Allah. Hal itu terjadi bersama-sama dalam tubuh Kristus, atas dasar pengampunan dosa dalam salib Kristus. Salib itu melenyapkan perseteruan, bukan hanya antara kedua pihak, tetapi juga antara manusia dengan Allah.

Jadi, Paulus kembali menyimpulkan hasil karya Kristus sebagai damai sejahtera bagi yang jauh dan yang dekat (17). Jika dulunya hanya orang Israel yang dapat mendekati Allah dalam Bait-Nya, sekarang kedua pihak memiliki jalan masuk kepada Allah Bapa (18). Hal itu terjadi dalam satu Roh (bdk. 1:13–14), yang memberi petunjuk bahwa tubuh Kristus dilihat sebagai pengganti Bait Allah sebagai tempat Allah hadir.

Hal itu dibuktikan dalam aa.19–22, yang membahas kondisi baru manusia karena hasil Kristus itu. Bangsa-bangsa (di dalam jemaat di Efesus) sudah menjadi warga umat Allah sama seperti orang Yahudi seperti Paulus, dan anggota keluarga Allah (19). Hal itu mejawab keterasingan mereka tadinya. Tetapi, tiba-tiba metafora Paulus beralih ke bangunan (20). Yesus Kristus dan para rasul dan para nabi memiliki tempat yang mendasar dalam bangunan itu (a.21; dalam 3:5b nabi-nabi adalah nabi-nabi kristen). Bangunan itu bertumbuh dalam Kristus—Paulus menggunakan bahasa yang mirip tentang tubuh Kristus dalam 4:15—menjadi bait Allah (21). Kita melihat dalam a.22 bahwa definisi Paulus tentang bait Allah itu bukan gedung melainkan tempat kediaman Allah oleh Roh. Jemaat telah mengambil alih fungsi Bait Allah, sama seperti Kristus telah menggenapi fungsi hukum Taurat. Di dalam Kristus, bangsa-bangsa mulai bersekutu dengan Israel, dan lebih dari itu, telah bersekutu dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk menaruh pengharapan kepada Kristus dengan menghayati tempat kita dalam tubuh-Nya sebagai kedudukan yang kudus. Hal itu merelatifkan pengharapan kelompok, kedudukan di dalam kelompok, dan semua yang membuat bait Allah (gereja) retak.

Makna

Yang saya maksud dengan “pengharapan kelompok” ialah pengharapan-pengharapan yang dianggap penting dalam kelompok itu, seperti pesta besar untuk kaum Toraja, pangkat dan jabatan yang tinggi untuk kaum pegawai, dsb. Pengharapan-pengharapan itu sah-sah saja (hanya, kadangkala menghalalkan cara yang tidak sah), tetapi itu bukanlah pengharapan yang ditawarkan dalam Injil. Kalau bangsa-bangsa itu “tanpa pengharapan”, yang dimaksud ialah janji-janji Allah dalam PL yang bermuara pada pembaruan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai kepala (1:10). Intinya dalam perikop ini adalah jalan masuk kepada Bapa (18).

Namun, jalan masuk itu ternyata tidak ditempuh sendirian. Allah diam di dalam bait Allah/tubuh Kristus yang terdiri atas banyak orang. Makanya, damai sejahtera disoroti. Tetapi penekanan di sini bukan pada pendamaian antar orang, melainkan pada pendamaian antar kelompok. Kelompok, entah berdasarkan kedudukan, budaya, bangsa, atau (dalam dunia modern) pendidikan, selalu bisa menjadi tembok pemisah. Dengan wajar, kita beridentifikasi dengan orang-orang yang mirip dalam hal-hal yang kita anggap penting. Tantangannya di sini adalah menjadi satu di dalam Kristus, dengan menganggap identitas di dalam Kristus lebih pokok daripada perbedaan-perbedaan yang ada. Perbedaan itu tidak dihapus—Injil tidak menuntut orang buta huruf belajar membaca—tetapi Kristus yang mati bagi kita lebih penting daripada semua perbedaan itu.

Paulus juga tidak menghapus kategori “jauh”, tetapi mengubah isinya. Hukum Taurat adalah pemberian Allah, dan salah satu tujuan adalah supaya Israel menjadi bangsa yang kudus, yang lain dari yang lain. Jika dahulu sunat menjadi ciri khas umat Allah, sekarang Kristus menjadi ciri khasnya. “Di dalam Kristus” menyiratkan kondisi di luar Kristus; menjadi anggota keluarga Allah tidak berlaku otomatis untuk semua manusia. Masih ada yang jauh dan yang dekat. Bedanya bahwa yang dekat itu terdiri atas banyak bangsa dan budaya, bukan lagi hanya budaya hukum Taurat dalam Israel. Dengan demikian, damai sejahtera tetap diberitakan kepada yang jauh, supaya mereka juga diberi kesempatan untuk bergabung dengan Kristus dan menjadi bagian dari tempat kediaman Allah.

Tempat kediaman Allah itu tempat yang kudus. Prasangka terhadap orang kristen yang kurang berpendidikan, atau budayanya kita anggap terbelakang, mencemarkan tubuh Kristus jika kita menganggap iman kita lebih maju karena kita pakai baju modern. Bukannya bahwa embel-embel budaya modern tidak berguna, tetapi itu hanya salah satu dari banyak bentuk budaya yang membuat bangunan tubuh Kristus yang paling indah dan menarik.

Pos ini dipublikasikan di Efesus dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s