Yoh 6:24-35 Kerjarlah Roti yang Sejati [2 Ag 2015]

Penggalian Teks

Yohanes 6 merupakan perenungan tentang peristiwa memberi makan lima ribu orang. Pada a.15 orang banyak mau menjadikan Dia raja, tetapi pada akhir pasal itu, kebanyakan orang tidak mengikuti-Nya lagi. Peristiwa Yesus berjalan di atas air (6:16–21) menjadi penguatan bahwa Dia berkuasa atas badai yang menantikan para pengikut-Nya yang setia. Kemudian, orang banyak itu mencari Yesus dan menemukan-Nya (24–25), dan terjadilah percakapan panjang di rumah ibadat di Kapernaum, yang diceritakan sampai a.58.

Perikop kita mencakup empat tanya-jawab pertama antara orang banyak dan Yesus. Kedua tanya-jawab pertama berbicara tentang pencarian (25–29). Mereka mungkin heran melihat Yesus di Kapernaum, karena mereka tahu bahwa Dia tidak mengikuti perahu murid-murid (22). Tetapi bentuk pertanyaan mereka (“bilamana”) menunjukkan bahwa mereka mencari Yesus. Hanya, Yesus menyoroti bahwa mereka tidak mencari makna (“tanda-tanda”) dari peristiwa memberi makan itu; mereka tidak berpikir lebih luas daripada kekenyangan mereka (a.26; kekenyangan tidak selalu dinikmati oleh orang-orang miskin). Jadi, mereka sudah bekerja keras mencari Dia demi makanan yang sementara saja, tetapi Yesus menyuruh mereka mencari makanan yang akan membawa mereka kepada hidup dalam zaman mendatang (“hidup kekal”). Penyedia makanan itu ialah “Anak Manusia”, yang sudah dijamin oleh Allah Bapa (27). Gelar “Anak Manusia” pertama dipakai dalam 1:51, di mana Yesus adalah titik temu antara surga dan bumi dalam penyataan. Setiap kali dipakai kemudian, Dia tetap adalah titik temu, dalam keselamatan (3:14), hukuman (5:27), dan di sini, sebagai makanan surgawi. Tetapi mereka belum menangkap hal itu. Mereka mendengar kata “Berkerjalah”, dan bertanya tentang apa yang harus dikerjakan (28). Jawaban Yesus mengejutkan: pekerjaan Allah ialah percaya kepada Yesus, utusan-Nya (29). Kepercayaan itu tidak sekadar penerimaan konsep. Tersirat di dalamnya adalah kerinduan akan hidup yang kekal dan kesadaran bahwa Yesuslah Pemberinya. Kepercayaan ini adalah melekatkan diri dengan siapa yang dipercayai. Peristiwa memberi makan banyak orang adalah tanda yang menunjukkan bahwa Yesuslah orang yang layak dipercayai.

Dalam tanya-jawab ketiga (30–33), mereka mulai berpikir tentang tanda, dan mereka menuntut tanda supaya mereka dapat melihat dan percaya. Sepertinya, mereka lupa bahwa mereka baru saja menyaksikan tanda besar dalam peristiwa memberi makan itu. Jadi, mereka sudah melihat tetapi belum percaya. Malahan, mereka menuntut balik supaya Yesus yang bekerja! Mereka mengangkat manna dari surga sebagai mukjizat yang membuat mereka percaya kepada Musa (31). Adalah menarik bahwa mereka mengutip dari Mazmur 78 yang menceritakan tentang Israel yang memberontak padahal mereka melihat karya-karya Allah. Yesus tidak menanggapi tuntutan mereka, tetapi menggunakan pemberian manna untuk memberitakan roti dari surga yang sungguh menghidupkan dunia (32–33). Tersirat di sini bahwa mereka salah paham tentang Musa. Mereka menganggap bahwa dengan menaati hukum Taurat dan giat melawan orang-orang kafir (bdk. 6:15 di mana mereka mau menjadikan Yesus raja) mereka akan mendatangkan Kerajaan Allah, alias hidup yang kekal. Yesus mau mereka melihat bahwa Musa merujuk kepada Dia, yang membawa hidup yang kekal dengan cara yang berbeda.

Penawaran Yesus tentang roti itu menarik perhatian mereka, apakah karena mereka menafsirnya berkaitan dengan perut lagi? Mereka minta diberi roti itu (34), dan akhirnya Yesus mengungkapkan identitas roti yang Dia berikan itu, yakni, diri-Nya sendiri (35). Jadi, percaya kepada-Nya akan memenuhi rasa lapar dan haus selama-lamanya. Jadi, soal roti dan percaya tadi sudah disimpulkan di sini. Tentunya, rasa lapar dan haus itu bukan perkara tubuh jasmani. Yesus adalah jawabannya, tetapi atas pertanyaan yang tidak diajukan semua orang, karena kerinduan akan Allah tidak dimiliki semua orang. Aa.36–46 menunjukkan bahwa hal itu bahkan mustahil bagi manusia; hanya Allah yang bisa menarik orang kepada Kristus. Tetapi bagi yang dipilih, pilihan itu tampak dengan mereka datang kepada Kristus, ada jaminan akan kebangkitan dan hidup kekal (40).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk mengejar Yesus seperti orang yang rindu kenyang dengan hidup yang kekal, hidup yang sesuai dengan zaman yang akan datang.

Makna

Kita sepertinya agak gelisah mendengar ucapan Yesus bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah ialah percaya kepada Kristus (29). Kita biasanya mau mengatakan bahwa iman tidak cukup tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Mengapa kita enggan setuju dengan Yesus? Satu alasan mungkin adalah bahwa kita berpikir bahwa ada iman tanpa rasa lapar, bahwa kita bisa mengimani Yesus tanpa merindukan-Nya. Jika kita mulai puas dengan Yesus, maka judi, gosip yang menjatuhkan, gila hormat, dsb, mulai hilang kuasanya atas kehidupan kita. Sebaliknya, kita akan giat hidup dalam terang (bdk. 3:19–21) sama seperti orang banyak itu giat mencari roti yang sementara.

Jadi, hati-hatilah terhadap tema “Kerjakanlah yang dikehendaki Allah”, bahwa “yang dikehendaki Allah” dengan sangat jelas diartikan sebagai kepercayaan dalam artian kerinduan akan Yesus yang melebihi kerinduan-kerinduan yang lain. Lupakan tujuan “Agar warga jemaat memahami bahwa kehidupan dan pekerjaan kita adalah untuk mewujudkan rencana Allah”, bukan karena salah, tetapi karena kalau kita belum merindukan Yesus, belum menjadi sadar bahwa Dia adalah roti yang paling memuaskan, maka percuma kita diajak untuk terlibat dalam rencana Allah. Perikop kita berfokus pada yang mendasar, Yesus sebagai roti hidup. (Mengapa tema dan tujuan itu tidak menyebutkan Kristus?) Bukan waktunya kali ini untuk berfokus pada perbuatan baik ataupun misi dalam rangka rencana Allah; tugas kita adalah berfokus pada fokus perikop itu.

Untuk hal itu, bisa saja ada hal-hal tertentu dibahas (seperti daftar gila dsb di atas), tetapi bukan untuk membahas kesalahan kegiatan itu, tetapi untuk menyorotinya sebagai roti yang palsu. Bagi orang Israel, perang suci terhadap orang Romawi adalah roti yang palsu. Mungkin dalam masyarakat kita, ada berbagai bentuk yang lain. Orang suka memfitnah sesama karena suka tampil lebih baik daripada orang lain. Hal itu berarti bahwa mereka tidak puas dengan penerimaan oleh Allah di dalam Kristus, sehingga mereka mencari pujian dari sesama. Orang suka berkorupsi, karena tidak percaya bahwa kekayaan di dalam Kristus melebihi uang. Banyak roti palsu yang ditawarkan dalam dunia ini, tetapi Kristuslah roti yang datangnya dari surga. Orang mencari aman dalam pilihan pekerjaan karena belum menangkap bahwa Yesus adalah Raja di atas segala raja, bahkan atas pemerintah Indonesia.

Ingat bahwa ketika orang melihat mukjizat yang besar yang dilakukan oleh Yesus, mereka tidak percaya (36). Hanya Allah yang dapat menimbulkan rasa tertarik dalam diri orang sehingga mencari Yesus (44). Injil tidak benar karena dipercaya ramai-ramai atau karena ada mukjizat-mukjizat, tetapi karena Yesus. Mari kita mengejar Dia.

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s