Mzm 130:1-8 Berseru kepada Tuhan yang membebaskan [9 Ag 2015]

Dalam tafsiran di bawah, kita melihat manfaatnya teologi biblika (di sini, soal perjanjian), supaya apa yang tersirat bisa diungkapkan.

Penggalian Teks

Mazmur ini merupakan mazmur seruan dalam serangkaian mazmur yang diberi judul “nyanyian ziarah” (Mazmur 120–134). Ziarah yang dimaksud ialah ziarah naik ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah. Di sekitar mazmur kita, Mazmur 127 & 128 bercerita tentang syalom, dan Mazmur 129 bercerita tentang musuh-musuh yang mengancam syalom itu. Mazmur kita dan Mazmur 131 mendorong Israel untuk berharap hanya kepada Tuhan, dan Mazmur 132 mengangkat perjanjian Tuhan dengan Daud sebagai dasar untuk harapan itu. Mazmur 133 & 134 mengakhiri kelompok mazmur ini dengan gambaran tentang kesatuan dan berkat.

Soal perjanjian itu muncul dalam istilah “kasih setia” (a.7; Ibrani khesed) yang merujuk pada sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan relasi yang ada. Perjanjian dengan Daud meneguhkan perjanjian Tuhan dengan Abraham dan Israel. Sejak awalnya, Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari jurang-jurang yang dalam, terutama ketika membawa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, dan juga dalam riwayat Daud yang diselamatkan dari tangan Saul. Makanya, pemazmur tidak segan untuk berseru kepada Allah (1–2). Seruan itu tidak berasal dari sikap “siapa tahu, Tuhan bisa menolong” (dan kalau tidak, kita mencari ilah yang lain), tetapi dari sikap sudah mengenal siapa itu Tuhan. Pemazmur menggambarkan kondisinya (a.1 “jurang yang dalam”) dan keyakinannya bahwa jika Tuhan memperhatikan seruannya, Tuhan akan menolongnya (2).

Namun ada halangan yang muncul sejak Abraham pergi ke Mesir dan berbohong bahwa Sarai bukan isterinya, pas setelah dia menerima janji Allah yang luar biasa itu (Kej 12:10–20), dan juga dilihat dalam sepanjang riwayat Israel. Pemazmur sadar bahwa dia adalah orang yang sering berdosa (a.3; perhatikan bentuk jamak “kesalahan-kesalahan”). Kembali perjanjian dengan Allah menjadi dasarnya. Allah telah berkarya untuk memiliki suatu umat kesayangan-Nya, meskipun umat itu sering memberontak. A.3 menunjukkan bahwa andaikan Tuhan memperhitungkan dosa dengan tegas, tidak ada manusia yang luput. A.4 mengingatkan Tuhan tentang niat-Nya untuk mengampuni, sebagaimana dilihat juga dalam sejarah Israel, riwayat Daud, dan dalam sistem kurban bagi dosa dan kesalahan yang mewujudkan pengampunan itu. Perhatikan bahwa dia tidak bermaksud untuk menyepelekan dosanya atau membenarkan dirinya dengan dalih bahwa banyak orang yang lain juga ikut berdosa. Hal itu jelas dalam bahasanya: “siapakah yang dapat tahan?” Dosa membuat manusia selayaknya dihancurkan; hanya pengampunan dosa yang ditawarkan dalam perjanjian dengan Tuhan yang membawa pengharapan. Yang menarik di sini, Tuhan mengampuni supaya ditakuti. Bagi orang berdosa, sebuah relasi yang baik dengan Tuhan tidak mungkin andaikan yang diharapkan itu hukuman saja. Hukuman tanpa pengampuan hanya membuat manusia putus asa. Tetapi jika ada pengampunan dari Tuhan, maka kita bisa berelasi baik dengan Tuhan. Tentunya, relasi itu berbentuk takut akan Tuhan sebagaimana semestinya oleh sebuah umat kepada Tuhannya.

Makanya, dalam aa.5–6 pemazmur menyatakan pengharapannya kepada Tuhan. Berharap hanya kepada Tuhan adalah bagian dari takut akan Tuhan. Pemazmur menyatakan suatu pengharapan yang bersemangat: kata “jiwa” (Ibrani nefesh) di sini merujuk pada semangat, kerinduan, bahkan nafsu. Campur tangan Tuhan didambakan, seperti pengawal mengharapkan pagi. Kerinduan itu yang dianjurkan kepada Israel dalam aa.7–8. Di sini konteks lebih luas dari pengampunan Tuhan, yaitu pembebasan, muncul dalam istilah “kasih setia” yang dibahas tadi. Israel sering memberontak, sehingga pembebasan Israel dari jurang juga merupakan pembebasan dari kesalahan.

Kesetiaan terhadap perjanjian yang mencakup pengampunan dan pembebasan itu diteguhkan di dalam Yesus Kristus, anak Daud. Makanya, perikop ini menjadi firman Allah bagi kita yang percaya kepada Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Kita belajar dari pemazmur untuk berseru kepada Tuhan sebagai umat yang dibebaskan dari dosa dan hanya berharap kepada Tuhan.

Makna

Mazmur ini mengandaikan bahwa yang berseru itu orang setia, yaitu orang yang menempatkan dirinya sebagai anggota keluarga Allah atas dasar pengampunan Allah. Pola itu diperkuat di dalam Kristus. Melalui pengampunan karena karya-Nya pada salib, kita menjadi manusia baru, anggota tubuh Kristus, hamba-hamba Kristus. Hal-hal itu mau mengatakan bahwa identitas kita terletak dalam Kristus, sehingga hidup bagi Kristus adalah tujuan kita, bukan alat untuk sesuatu yang lain. Sama seperti orang Toraja hidup untuk upacara kematian yang baik, kita hidup untuk menjadi serupa dengan Kristus. Hal itu bisa dilihat berkaitan dengan ketiga tema tadi, yaitu seruan, pengampunan, dan pengharapan.

Jika ada orang yang tidak kita kenal yang minta tolong kepada kita, bisa saja kita membantunya, meskipun tidak ada imbalannya nanti, sama seperti Allah menganugerahkan matahari dan hujan bagi orang baik maupun jahat. Tetapi seruan pemazmur dan kita kepada Allah tidak demikian. Kita adalah bagian dari umat Allah yang dimaksud untuk membawa kemuliaan bagi Allah, bagian dari tujuan Allah untuk pembaruan bumi. Jadi, kita berseru kepada Allah bukan hanya karena kita bermasalah, tetapi karena kemampuan kita untuk hidup sebagai umat Allah itu terancam. Misalnya, Paulus dan Silas memuji Allah di penjara karena mereka tetap bisa bersaksi tentang Kristus (Kis 16:25), sementara Paulus gelisah tentang dosa besar dalam jemaat yang mengancam kesuciannya (2 Kor 11:2–3). Seruan orang yang mengenal Allah tentunya berbeda dengan seruan seseorang yang belum menjadi bagian dari umat Allah dalam hati. Orang itu mungkin saja berseru kepada Tuhan supaya luput dari malu karena dosa terungkap, atau menyertai seruannya dengan ketaatan yang berakhir ketika masalah selesai, atau berseru kepada Tuhan sebagai salah satu dari berbagai kuasa ilahi yang dikira mungkin saja bisa menolong.

Yang kedua, jika kita mengenal Allah di dalam Kristus, pengampunan dosa berharga karena membuka relasi dengan Tuhan, yaitu membuka kemungkinan untuk belajar takut akan Tuhan. Hal itu sangat berbeda dengan pengampunan sebagai izin untuk “berkanjang dalam dosa”. Hal itu juga berbeda dengan pandangan bahwa Tuhan mengampuni kita karena dosa kita sebenarnya “wajar saja” karena semua manusia berdosa. Secara manusiawi, anggapan itu masuk akal, tetapi dilihat dari perspektif anugerah Allah dosa itu sangat tidak wajar, karena membalas kebaikan Allah—pengorbanan Kristus—dengan kejahatan. Menyepelekan dosa adalah cara untuk menyepelekan anugerah, dan anugerah mengganggu orang-orang tertentu karena dengan demikian kita berutang budi kepada Allah.

Pengharapan menyangkut dua hal: apa yang diharapkan, dan sejauh mana hal itu dimungkinkan. Menjadi anak Allah berarti kita mengharapkan apa yang dijanjikan Allah. Hal itu termasuk kesatuan umat (Mazmur 133) dan berkat (Mazmur 134), tetapi sebelum hal-hal itu dapat dinikmati, kita perlu dibebaskan dari kesalahan kita. Kasih setia Tuhan tidak diukur oleh sejauh mana Dia mengabulkan cita-cita kita, tetapi sejauh mana Dia setia pada janji-janji-Nya di dalam Kristus.

Demikianlah pola kita berseru kepada Tuhan sebagai anggota tubuh Kristus. Jadi, pengampunan itu tidak bisa dipisahkan dari pembebasan dan pengharapan: pembebasan dari kuasa dosa, sehingga ada hati yang mencari apa yang dijanjikan Tuhan.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s