Mzm 111:1-10 Layak diselidiki supaya takut akan Tuhan [16 Ag 2015]

Penggalian Teks

Mazmur ini merupakan mazmur hikmat, sebagaimana dilihat dalam a.10, dan juga oleh bentuknya sebagai mazmur akrostik (setiap baris—setengah ayat, atau sepertiga ayat untuk aa.9–10—berawal dengan huruf berdasarkan abjad Ibrani). Sebagaimana selayaknya untuk sebuah mazmur, perikop ini berawal dan berakhir dengan pujian. Tetapi tujuannya supaya jemaah (1) belajar takut akan Tuhan dan dengan demikian berakal budi yang baik (10). Hal itu akan terjadi ketika mereka suka menyelidiki perbuatan-perbuatan Tuhan (2). Jadi, aa.3–9 menyampaikan hasil penyelidikan pemazmur untuk membuat kita takut akan Tuhan sehingga berhikmat.

Aa.3–5 mulai dengan keagungan Tuhan yang abadi (3). “Agung dan semarak” adalah kombinasi yang lazim (aslinya enak diucapkan: hod wehadar), dan cocok untuk seorang raja (bdk. Mzm 21:6). Yang semarak itu pekerjaan Tuhan (3a), dan yang abadi ialah keadilan Tuhan (3b). Tetapi pemazmur tidak menguraikan dua hal yang terpisah, tetapi satu hal yang dilihat dari dua perspektif: pekerjaan Tuhan yang hebat, karena mengerjakan keadilan (tsedaqa). Kata tsedaqa merujuk pada sifat atau tindakan yang sesuai dengan relasi; di sini Allah membuat yang adil (atau benar) bagi umat-Nya. Aa.4–5 berbicara tentang wujud dari keadilan itu. Perbuatan-perbuatan yang ajaib yang pernah dilakukan Tuhan merupakan hal yang dapat diingat umat-Nya untuk membuktikan kasih sayang-Nya (4). Hal itu termasuk pemberian rezeki kepada orang yang takut akan Dia, karena orang-orang itu yang telah membiarkan dirinya terikat dengan Tuhan dalam perjanjian, yang diingat Tuhan untuk selama-lamanya (5). Ketika diselidiki, perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan mengingatkan jemaah akan kasih sayang-Nya berdasarkan janji-Nya. Sikap yang cocok terhadap Tuhan yang melakukan keajaiban dan memberi jemaah rezeki tidak lain dari takut akan Tuhan yang akan membawa akal budi yang baik.

A.6 memperjelas dasar dari semuanya itu: karya Allah memberi Israel tanah Kanaan. Dalam keluaran dari Mesir, Israel melihat keajaiban-keajaiban Tuhan, termasuk diberi rezeki (manna dsb), dan Dia membuat perjanjian dengan mereka. Aa.4–6 merujuk pada peristiwa itu, tetapi bahasa yang lebih umum dipakai untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tetap seperti itu.

Aa.7–9 menyelidiki beberapa aspek dari keluaran itu. Keluaran itu merupakan perbuatan tangan Allah, disebut “tangan” karena Allah langsung bekerja. Sifat dari perbuatan itu ialah kebenaran (emet) dan keadilan (di sini mishpat). Kata emet berarti sesuai dengan standar yang ada; dalam konteks ini maksudnya bahwa Tuhan setia pada janji-Nya dalam perjanjian. Kata misypat merujuk pada hasil dari pekerjaan seorang hakim (syopet); tangan Tuhan membentuk umat yang tertata dengan baik (7a). Hal itu termasuk titah-titah-Nya, yang memungkinkan jemaah berjalan sesuai dengan perjanjian (emet) dan dalam kejujuran (yasyar, diterjemahkan “orang-orang benar” dalam a.1). Hal itu juga termasuk pembebasan, yaitu pembebasan dari Mesir yang memungkinkan hidup jujur mereka (9a). Jadi, kembali perjanjian Tuhan ditegaskan sebagai hal yang abadi (9b). Akhirnya, tema keagungan diangkat kembali: nama Tuhan kudus dan dahsyat (9c). Kata “dahsyat” secara harfiah berarti “layak ditakuti”. Pembebasan dan perintah Tuhan menciptakan jemaah yang dapat menikmati tanah yang diberikan kepada mereka, sehingga Tuhan layak dihormati.

Jadi, a.10 merupakan kesimpulan yang tepat. Tuhan itu layak ditakuti, dan takut akan Tuhan akan membawa akal budi yang baik. Orang-orang itu akan membawa puji-pujian yang abadi bagi Tuhan di depan jemaah-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur ini mengajak kita untuk menyelidiki perbuatan Tuhan supaya kita menjadi kagum dan takut akan Dia (percaya kepada Yesus) sehingga berhikmat. Mencermati pemeliharaan Tuhan (4–5), perintah-Nya (7–8) dan karya-Nya yang membebaskan kita akan membuat kita orang yang makin membanggakan Tuhan dan menikmati perjanjian-Nya.

Makna

Kekuatan perbuatan Allah diberitakan kepada kita dengan membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Perbuatan besar itu menjamin bahwa kita akan memiliki dunia sebagai keturunan Abraham dalam iman (bdk. Rom 4:13; 5:17). Yesus memperlihatkan kepada kita melalui kata dan tindakan suatu cara hidup yang benar dan jujur, dan membebaskan kita dari hukuman dan kuasa dosa. Kasih sayang Allah dibuktikan pada salib Kristus, sehingga kita hidup dalam keyakinan bahwa Allah Bapa akan memberi kita hal-hal yang baik. Allah setia pada perjanjian-Nya, yang bertujuan dunia baru yang penuh keadilan. Jadi, satu bagian dari karya-Nya adalah perubahan jemaat menjadi semakin serupa dengan Kristus oleh kuasa Roh Kudus.

Karya itu agung dan semarak; nama Yesus itu kudus dan dahsyat! Ketika keagungan keluarga dalam upacara lebih dipentingkan, atau kesemarakan judi yang ramai lebih menarik, kita diperkenan Tuhan untuk melihat kondisi sebenarnya dari hati anggota-anggota jemaat, bahwa ada “jemaah” selain jemaat Tuhan yang lebih mereka andalkan. Jika pada waktu yang sama kita melihat banyak akal budi yang buruk dalam tingkah laku jemaat, tidak usah heran. Orang memperebutkan rezeki karena belum menangkap bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Orang tidak bertindak setia kepada Tuhan dan sesama (dengan emet) karena belum memahami kesetiaan (emet) Tuhan. Orang tidak menghargai pembebasan dari kuasa dosa, hanya berharap akan pembebasan dari hukuman supaya bebas berdosa lagi. Bahkan pelayan mencari popularitas dengan jemaat, termasuk dengan khotbah-khotbah yang mengatakan secara tersirat bahwa pergumulan dan dosa jemaat lebih penting daripada karya Tuhan, karena karya Tuhan nyaris alpa dari khotbah-khotbah tersebut.

Jadi, akar dari kebodohan jemaat adalah belum takut akan Tuhan, atau, dalam bahasa Yohanes 6, belum percaya kepada Yesus sebagai roti yang hidup. Kita belum mengenal karya-Nya, sehingga belum mengenal sifat-Nya, sehingga belum mengerti sikap seperti apa yang semestinya kita pakai kepada-Nya, yakni, takut, bangga, percaya. Bagi Paulus, terang dari Kristus yang menjadi alasan untuk mempergunakan waktu yang ada, bukan seperti orang bebal (Ef 5:14–16). Jika besoknya Indonesia merayakan hari kemerdekaan, kita bisa bersyukur bahwa ada banyak kesempatan untuk bertindak di dalam negara berdemokrasi ini sebagai orang yang berakal budi yang baik.

Semoga Saudara mau memuji Tuhan dalam khotbah minggu ini, dengan menyelidiki perbuatan-perbuatan-Nya yang besar di tengah jemaat.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s