Mzm 84:1-13 Berziarah hendak menghadap Allah [23 Ag 2015]

Penggalian Teks

Mazmur ini berjalan dari kerinduan kepada kepuasan. Kerinduan disampaikan dalam aa.2–5. Bait Allah itu disenangi sebagai tempat kediaman Allah (1). Kerinduan itu itu menghabiskan daya nafsu jiwa pemazmur, dan dia hendak bersorak-sorai kepada Allah secara jasmani dan juga batiniah. (Saya mengatakan “hendak”, karena bentuk kata kerja a.3a perfek untuk menyatakan kondisinya, sementara a.3b imperfek untuk menyatakan sesuatu yang belum aktual.) Jikalau burung dapat menikmati Bait Allah, tempat mezbah-mezbah menyediakan sarana untuk berdamai dengan dan bersekutu dengan Allah (4), lebih lagi manusia yang diam di sana berbahagia, karena mereka dapat memuji Allah terus (5).

Tetapi kebahagiaan tidak dibatasi hanya kepada manusia yang sudah ada di Bait Allah. Aa.6–8 menyampaikan pergumulan orang yang mau berziarah kepada Bait Allah. Mereka berbahagia karena mengandalkan kekuatan Tuhan dan rindu untuk melihat Bait-Nya (6). Bahkan perjalanan mereka menjadi berkat; a.7 mungkin merujuk pada hujan yang mulai turun pada saat berziarah yang mengisi mata air. Perjalanan mereka bertambah semangat semakin mereka mendekati tujuan mereka, yaitu berjumpa dengan Allah di Sion. Saya mengaitkan a.9 dengan aa.6–8 sebagai doa para peziarah.

Aa.9–10 merupakan doa untuk “yang Kauurapi” (mesyikheka), yaitu Mesias atau Raja. Dialah yang melindungi (sebagai perisai) Bait Allah. Dia didoakan “sebab” (awal a.11) dengan perlindungannya, Bait Allah menjadi tempat yang jauh dari kemah-kemah orang fasik, sehingga sungguh Allah dapat dinikmati di pelataran-Nya. Kerinduan pemazmur membuatnya lebih memilih satu hari dalam kerendahan di rumah Allahnya daripada seribu hari dalam kesenangan semu di tempat yang lain. Pilihan itu oleh karena (“sebab”, awal a.12) sifat Allah. Allah berfungsi sebagai matahari bagi Israel, yaitu sebagai terang yang menjadi sumber hidup, dan juga sebagai perisai (pelindung). Dia adalah sumber kasih dan kemuliaan dan semua kebaikan. Yang menerima semuanya itu ialah orang yang berintegritas (tamim, LAI “tidak bercela”). Fokus dari kata itu bukan bahwa mereka berhasil menghindar dari semua kesalahan, tetapi bahwa mereka berjalan sesuai dengan kerinduan mereka akan Tuhan. Yang berintegritas itu kelompok yang sama dengan a.13, dan lawan dari orang fasik. Jadi, manusia yang percaya itu berbahagia, biar mereka sementara jauh dari hadirat Allah dalam Bait-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk berziarah menghadap Allah kita, Raja yang baik dan mulia itu, dalam persekutuan jemaat di bawah perlindungan Mesias kita Yesus.

Makna

Mazmur ini menggambarkan orang Israel yang berziarah setahun tiga kali ke perayaan besar di Yerusalem. Di dalam perayaan itu mereka akan menghadap Allah dan disegarkan dalam jalan yang benar. Daya tarik kemah-kemah fasik akan pudar di pelataran Bait Allah yang mengingatkan mereka tentang kasih dan kemuliaan Allah.

Bait Allah tentunya bukan gedung gereja tetapi jemaat yang berkumpul untuk beribadah kepada Allah, dilindungi oleh Mesias Yesus yang melindungi umat-Nya supaya kita dapat menikmati hubungan dengan Allah. Jadi, setiap kali kita berkumpul, kita diberi kesempatan untuk disegarkan dalam dan menikmati Tuhan.

Aa.2–5 menantang kita tentang kerinduan kita akan Allah. Kalau kerinduan penjudi akan pertemuan, ataupun kerinduan keluarga akan upacara yang semarak, kedua kerinduan itu sering penuh dengan kegelisahan dan sukacita yang sementara saja. Tetapi pemazmur mengenal Allah sebagai Rajanya dan Allahnya. Kita tidak menghadap pejabat tinggi melainkan Tuhan yang dengan sukacita kita sembah.

Aa.6–8 mengajar kita tentang perjuangan iman. Mungkin bentuk kita bukan perjalanan jasmnani. Tetapi, sama seperti perjalanan jauh membutuhkan keberanian dan ketekunan dalam pengharapan, mempraktekkan sarana-sarana anugerah seperti berdoa, membaca Alkitab, menyisihkan persembahan, dan rajin bersekutu adalah hal-hal yang harus dijalani terus, untuk kita lebih mengenal Allah.

Aa.8–9 mengingatkan kita bahwa Kristus adalah perisai kita, yang sudah dipandang Allah dengan dibangkitkan dari antara orang mati. Aa.11–13 menunjukkan perbedaan ketika Kristus diterima sebagai Raja sehingga jemaat percaya kepada Allah, yaitu suasana persekutuan jemaat yang menyegarkan dan jauh lebih indah daripada berbagai tawaran yang lain. Di sini titik lemah kita. Gedung tidak susah diperindah, bahkan liturgi bisa dibuat menarik, tetapi persekutuan yang indah (karena, ingat, jemaat adalah Bait Allah, bukan gedungnya) lebih menantang. Namun, walaupun ada kesan bahwa kadang orang-orang fasik justru suka berkemah di dalam kemajelisan, dan kekacauan masyarakat dilampiaskan ke dalam jemaat, Tuhan itu ada dan dipuji-puji, kebaikan-Nya dan kemuliaan-Nya tampak bagi orang yang percaya, bagi orang yang hidupnya dikuasai oleh kerinduan akan Dia. Kembali, “hidup tidak bercela” tidak berarti bebas dari dosa, tetapi bebas dari menduakan Tuhan. Orang-orang yang percaya kepada Allah bisa saja banyak kepergiannya, tetapi hanya ada satu tujuan ziarah mereka, yaitu persekutuan dengan Allah bersama dengan umat-Nya.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s