Mrk 9:38-50 Persembahan hidup yang bergaram [27 Sep 2015]

Penggalian Teks

Titik balik dalam Injil Markus adalah pemberitahuan Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa selaku Mesias Dia harus menderita (8:29–31). Hal itu diulang dua kali dalam perjalanan Yesus ke Yerusalem, sambil Yesus mengajar mereka makna mengkuti Mesias yang menderita. Perikop kita terdapat setelah pemberitahuan kedua (9:30–32). Pemberitahuan itu diikuti dengan teguran Yesus bahwa murid-murid-Nya harus menjadi yang terakhir. Sikap itu dicontohkan dengan penerimaan mereka terhadap anak (9:37). Yesus bisa saja diwakili oleh seorang anak, sama seperti Allah diwakili dalam diri Yesus yang bukan pembesar atau penguasa.

Murid-murid langsung menunjukkan ketidakpahaman mereka ketika Yohanes melaporkan, sepertinya dengan bangga, bahwa mereka mencegah orang mengusir setan dalam nama Yesus (38). Sepertinya, para murid mau menjadi yang terbesar dalam rangka pelayanan demi Yesus. Kepada orang Farisi yang menganggap bahwa kuasa Roh Kudus yang berlaku dalam Yesus itu kuasa Iblis, Yesus mengatakan bahwa “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku” (Mat 12:30). Tetapi orang ini, meskipun tidak termasuk dalam rombongan Yesus, searah dengan pelayanan Yesus, dia ada di pihak Yesus (39–40). Bukan hanya murid Yesus yang menjadi inti rombongan Yesus yang terlibat dalam misi-Nya, memberi secangkir air pun kepada utusan Yesus ada upahnya (41).

Sikap murid-murid Yesus itu menyesatkan. Yesus memperingatkan mereka untuk jangan menularkan sikap mereka kepada “anak-anak kecil yang percaya ini”, yaitu orang sederhana yang memberi secangkir air itu (42). Untuk tidak menyesatkan orang lain, mereka harus membuang sikap yang menyesatkan dalam diri sendiri, entah tangan, kaki, atau mata (43–48). Tentu, Yesus yang melihat hati sebagai sumber kenajisan (Mrk 7:20–23) menggunakan ketiga anggota ini sebagai kiasan. Dengan tangan kehendak manusia dinyatakan, termasuk kehendak untuk berkuasa (mis. Yos 2:24), yang bisa menjadi keinginan untuk menjadi yang pertama tadi. Kaki bisa tergelincir sehingga membawa orang ke dalam dosa (mis. Mzm 56:14; Ams 29:5), atau menjadi indah dengan membawa kabar baik (Yes. 52:7). Mata melihat hal yang diingini, entah baik atau buruk. Ini contoh-contoh saja. Pada hemat saya, kita bebas menerapkan ketiga anggota ini dengan cara yang masuk akal pendengar kita. Intinya bahwa membuang dosa dari kehidupan kita ibarat kehilangan anggota tubuh.

Alasan yang mendorong pembuangan dosa yang menyakitkan itu cukup keras. Ada dua akhir dalam aa.43–48, yaitu hidup (= Kerajaan Allah dalam a.47) dan Gehenna (“neraka”). Gehenna adalah Lembah Ben-Hinom di sebelah Selatan dari Yerusalem yang menjadi tempat pembuagan sampah karena pernah ada praktek menjijikkan seperti mengorbankan anak di dalamnya (Yer 7:31; bdk. Yes 66:24). Sebagai tempat sampah, ulat dan api tidak pernah mati (48). Makanya, tempat itu sudah menjadi kiasan lazim bagi orang Yahudi untuk tempat pembuangan manusia yang ditolak dari Kerajaan Allah. Maksud Yesus jelas. Lebih baik hidup kekal yang cacat daripada mati utuh. Tentu, perbandingan Yesus itu berlebihan. Bukan anggota tubuh yang dipotong, tetapi dosa dalam hati. Tetapi akibatnya untuk membiarkan dosa adalah serius sekali.

Kemudian, Yesus merujuk pada aspek lain dari api: bukan hukuman melainkan pemurnian (49). Api sebagai pemurni terdapat dalam Mal 3:2–3; Mal 3:1 (“Tuhan…akan masuk ke bait-Nya”) akan digenapi ketika Yesus tiba di Yerusalem. Hasil dari pemurnian itu ialah persembahan korban yang benar (Mal 3:3). Dalam Im 2:13, korban sajian harus memakai garam, yang menyimbolkan kelestarian perjanjian Israel dengan Allah. Jika api yang disebutkan Yesus merujuk pada Roh Kudus (Mt 3:11), maka Yesus merujuk pada daya pemurnian Roh Kudus yang dilepaskan setelah Dia datang ke Yerusalem dan melalui perapian mati di salib kemudian bangkit pada hari ketiga (bdk. pemberitahuan kedua tadi). Roh Kudus yang memampukan pembuangan dosa dalam diri seorang murid, sehingga mereka menjadi persembahan hidup yang bergaram.

Jadi, garam adalah hidup yang makin disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan, yaitu Kerajaan Allah. Garam itu menjadi hambar ketika dosa dibiarkan berkembang, terutama dosa persaingan dan pengejaran kedudukan seperti yang dilihat dalam murid-murid Yesus tadi. Makanya, kumpulan murid yang bergaram akan hidup berdamai (50). Sebaliknya, damai adalah pertanda bahwa murid-murid mulai menangkap makna dari perendahan Yesus yang Dia lalui di Yerusalem sehingga mereka membuang sikap dan praktek yang menyesatkan.

Maksud bagi Pembaca

Para pengikut Yesus diajak menjadi persembahan hidup yang bergaram dengan membuang sikap-sikap yang menyesatkan dan merendahkan. Dasar dari perjuangan itu ialah pengorbanan Yesus sendiri.

Makna

Akhir dari perikop ini (50b) menegaskan apa yang dilihat dari perikop sebelumnya, yaitu bahwa yang dicari Yesus, yang cocok dengan cara Yesus mendatangkan Kerajaan Allah, ialah hidup berdamai. Hidup berdamai dilihat ketika pemimpin menghargai yang kecil seperti anak, dan ketika mereka yang menonjol dalam pelayanan menghargai mereka yang hanya mampu membantu dengan memberi minum. Hal itu terjadi ketika mereka yang berpengaruh berjuang keras terhadap sikap-sikap yang menyesatkan dalam dirinya, supaya tidak menyesatkan yang lain. Dengan demikian, persekutuan murid Yesus menjadi persembahan hidup kepada Allah yang tidak akan menjadi busuk ketika melayani dunia yang penuh daya pembusuk, sehingga menjadi kesaksian tentang kesetiaan janji-janji Allah di dalam Kristus.

Saya menegaskan aspek relasional dari ajaran Yesus ini karena warisan teologi yang individualis terlalu cepat menjadikan kemurnian jiwa sebagai ukuran, bukan dampaknya pada relasi. Contohnya, seorang pemarah berjuang untuk mengendalikan emosinya, dan berhasil. Karena jiwanya sudah baik-baik saja, dia tidak memperhatikan bahwa dia tetap merendahkan orang lain dengan berbagai cara, hanya sekarang dengan cara yang lebih lembut. Makanya, Yesus mengangkat sikap terhadap anak dan orang yang tidak memberi sumbangsih (atau sumbangun) sebagai ukuran akan sejauh mana seseorang menjadi murid yang sejati. Jika saya mengandalkan hati nurani melalui introspeksi hati, saya bisa saja menipu diri saya sendiri.

Lebih lagi, perlawanan terhadap dosa harus berakar dalam Kristus yang akan melalui penderitaan dan kematian supaya Kerajaan Allah memasuki fase baru dalam kebangkitan-Nya. Api Roh Kudus adalah hasil karya Kristus itu. Garam hidup berdamai adalah kesaksian terhadap kesetiaan janji-janji Allah dalam Kristus itu. Pertobatan yang radikal yang dituntut oleh Yesus dalam aa.43–48 tidak terlepas dari sejauh mana kita menangkap bahwa jalan hina yang ditempuh Yesus adalah juga jalan yang ditempuh oleh para pengikut-Nya.

Inti dari pertobatan itu adalah mengenali bahwa jalan melawan dosa itu merupakan jalan hidup yang sejati, yang searah dengan Kerajaan Allah.

Pada hemat saya, jemaat-jemaat kita sudah lama menjadi hambar, dan pada hemat saya juga, tidak kebetulan bahwa pemahaman mereka akan karya Kristus kabur. Jangan melewatkan kesempatan untuk menjunjung tinggi Kristus yang sedang menuju salib, yang menjadi teladan kerendahan diri yang membawa hidup yang sejati, termasuk damai seorang dengan yang lain. Dengan demikian, seruan pahit untuk membuang dosa memiliki dasar dalam Kristus, dan tujuan yang jelas, yaitu hidup bersama yang bersaksi tentang janji-janji Allah di dalam Kristus.

Pos ini dipublikasikan di Markus dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s