Ibr 4:12-16 Setia kepada Yesus yang Agung [11 Okt 2015] (Minggu Kesatuan Umat Kristen se-Dunia)

Penggalian Teks

Surat Ibrani adalah khotbah yang disampaikan supaya para pendengarnya setia kepada Kristus. Demi tujuan itu, penulis menjunjung tinggi Sang Anak sebagai Firman yang terakhir dari Allah, lebih unggul bahkan dari Taurat (1:1–2:4). Sang Anak tidak hanya menyampaikan pesan dari Allah, Dia menyatakan keberadaan Allah (1:3). Jika Sang Anak itu mulia dan tinggi, mulai 2:5 penulis menjelaskan bahwa Anak itu tidak lain dari Yesus yang memasuki kondisi manusia dan memulihkannya (2:5–8). Mendengar Sang Anak berarti mengikuti jalan pemulihan yang telah Dia rintis itu (2:9–14). Cara pemulihan itu terkait dengan gelar Yesus sebagai Imam Besar yang mengalahkan Iblis dan maut dan mendamaikan dosa, sehingga keturunan Abraham, umat Allah, dipulihkan (2:15–16). Jadi, sebagai Anak, Yesus mewahyukan keberadaan Allah dan mewakili kuasa-Nya; sebagai Imam Besar, Yesus membuka jalan menuju ke kemanusiaan yang sejati dengan mendamaikan dosa dan menolong umat Allah dalam pencobaan.

Jalan yang dirintis Yesus itu menuju tempat perhentian yang kekal (4:9–11). Manusia perdana menikmati hari ketujuh Allah di tanah Eden, sementara Israel menikmatinya di tanah Kanaan. Tetapi kita belum sampai pada tempat perhentian itu; kita masih seperti Israel di padang gurun. 3:1–6 menempatkan kita sebagai rumah Allah seperti Israel di bawah Musa, sementara 3:7–4:11 mengangkat kegagalan Israel di padang gurun sebagai peringatan untuk tetap setia. Seperti dikutip dari Mzm 95:7–11, Israel tidak mendengar suara Allah karena hati yang keras, sehingga satu angkatan tidak mencapai tujuannya tetapi tewas di padang gurun (3:15–19).

Jadi, fungsi firman yang hidup dan kuat itu membuka dan membongkar ketidakpercayaan dan ketidaktaatan yang bersembunyi dalam pertimbangan dan pikiran kita (12–13). Firman Allah hidup dan berdampak: Dia bersumpah bahwa Israel tidak akan masuk ke tempat perhentian-Nya, dan itulah yang terjadi (3:15). Firman Allah menusuk: ia membongkar dalih-dalih kita, menelanjangi kekerasan hati kita, dan membawa penilaian dari Allah terhadap hati kita (LAI “membedakan” diperbaiki dengan “menilai” dalam Terjemahan Baru edisi 2). Penilaian itu tuntas, karena segala sesuatu terbuka di depan mata Allah, dan penilaian itu menjadi tolok ukur pertanggungjawaban kita terhadap Allah.

Setelah bagian ini yang mengingatkan kita tentang kuasa dan otoritas Allah, kembali penulis menyoroti Yesus sebagai Imam Besar yang Agung dan juga turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Bahwa Yesus itu memiliki kedudukan yang tinggi, sebagai manusia yang telah dimahkotai dengan kemuliaan (2:7–8a) dan sebagai Anak Allah, menjadi alasan untuk tetap setia (14). Yang disoroti dengan istilah “pengakuan” (“iman kita” adalah tambahan penjelas dari LAI) ialah kesetiaan kepada Yesus di depan umum; kita lebih kagum akan Yesus daripada pendapat umum.

Kesetiaan itu memang wajib, tetapi pada saat yang sama, penulis menunjukkan bagaimana Yesus membantu kita untuk setia. Kedudukan Yesus yang tinggi tidak meniadakan pengalaman-Nya di dunia; Dia mengerti pencobaan, dan juga bagaimana mengatasinya (15). A.16 berbicara tentang doa. Doa itu adalah doa kepada seorang Raja yang bertakhta. Makanya, penulis berbicara tentang “keberanian”, yaitu mengatasi rasa segan di hadapan petinggi. Keberanian itu sah karena takhta itu merupakan takhta “kasih karunia”. Kasih karunia di sini berarti bahwa Sang Anak akan berkenan mendengar permohonan kita karena rahmat-Nya. Makanya ada janji bahwa kita akan mendapat pertolongan pada waktunya. Pertolongan yang dimaksud ialah pertolongan supaya tetap setia, supaya dikoreksi oleh firman Allah yang hidup sehingga tidak jatuh dalam perjalanan karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan.

Maksud bagi Pembaca

Kita setia kepada Kristus dengan dikoreksi oleh firman Allah, dengan kagum akan kemuliaan Anak Allah, dan dengan ditolong oleh kasih karunia-Nya.

Makna

Perikop ini, seperti kitabnya secara keseluruhan, menekankan pentingnya setia, teguh berpegang pada pengakuan iman. Pergi ke gereja adalah salah satu wujud mengaku percaya yang diterima secara umum, tetapi sepertinya mengaku Kristus tidak diterima dalam semua konteks. Banyak orang tidak mau supaya iman mengganggu kebiasaan mereka, sehingga orang yang setia dicap “sok alim” atau “fanatik”. Di sini pentingnya gambaran kita akan Yesus. Jika kita menganggap Yesus agung dan mulia, kita akan justru merasa lebih malu menyangkal Dia daripada mengaku Dia di hadapan orang yang menyindir kesalehan kita. Jika kita menangkap bahwa Dia mengerti, kita tidak akan segan untuk memohon pertolongan-Nya dalam kelemahan kita.

Sikap kagum dan berani itu tidak muncul dengan sendirinya. Seringkali, orang menganggap berhak ditolong Allah, atau bahwa Allah tidak peduli. Kedua sikap itu muncul dari hati yang keras (yang satu dalam kesombongan, yang satu dalam kecemasan). Hanya firman Allah yang dapat membongkar hati kita supaya kita berubah. Jemaat yang marah-marah kepada pelayan setiap kali tersinggung oleh firman perlu diingatkan bahwa itulah salah satu fungsi firman itu.

Kedudukan Yesus mirip dengan peran leluhur (nene‘) dalam kepercayaan tradisional orang Toraja. Dia adalah bagian dari keluarga kita (2:11–14); Dia pernah hidup di dunia ini sehingga memahami pergumulan kita sebagai manusia (bdk. Mazmur 22); dan sekarang Dia menjadi sumber berkat ilahi. Makanya, di berbagai daerah di dunia, Yesus digelar Sang Leluhur. Tentu saja, Yesus adalah Anak Allah sebelum Dia lahir, karena dunia diciptakan melalui Dia (1:2). Maksud dari gelar itu bukan bahwa Yesus itu sesuai dengan kepercayaan lama, tetapi bahwa fungsi yang terasa dalam penyembahan dan doa kepada leluhur itu digenapi dengan lebih baik lagi dalam diri Yesus. Orang yang giat ma’nene’ sebagai sumber berkat belum menangkap bahwa Yesuslah lebih dari nene’, Dia juga adalah Imam Besar yang mendamaikan dosa kita, dan menuntun kita ke dunia yang baru.

Pos ini dipublikasikan di Ibrani dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s