Mrk 10:35-45 Siap dihina untuk melayani [18 Okt 2015]

Penggalian Teks

Rombongan Yesus makin dekat Yerusalem dan makin cemas (10:32). Untuk ketiga kalinya Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita, mati, dan bangkit (10:33–34). Dalam kondisi ini, Yakobus dan Yohanes mendekati Yesus dengan iman yang kuat. Permintaan mereka supaya Yesus “mengabulkan suatu permintaan kami” (35) mirip dengan Yoh 14:13 (“apa juga yang kamu minta”; kemiripannya lebih jelas dalam bahasa aslinya dan TB2): mereka berani memohon. Mereka yakin bahwa Allah akan turun tangan untuk mendirikan kerajaan-Nya, meskipun Yesus tidak memiliki tentara atau kuasa, sehingga mereka meminta kedudukan terhormat ketika Yesus naik sebagai Raja Israel dan dunia (35–37). Yesus tidak menolak apa yang mereka imani, yaitu adanya kerajaan, dan adanya kedudukan yang tinggi di dalamnya (40). Namun, permintaan mereka bodoh (a.38: “Kamu tidak tahu”) karena tidak memperhitungkan penderitaan dan penghinaan yang harus dilalui, pertama-tama oleh Yesus (38), kemudian oleh mereka (39). Penderitaan itu digambarkan sebagai cawan dan baptisan. Penderitaan dan penghinaan akan masuk ke dalam diri-Yesus seperti minuman, dan akan meliputi-Nya seperti ketika seseorang dibaptis. Lebih lagi, kematian Yesus akan menjadi penggenapan baptisan-Nya. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Dia bergabung dengan Israel yang mengaku berdosa (1:5, 9). Dengan demikian, kematian-Nya bisa mewakili kematian Israel yang berdosa, seperti dinubuatkan dalam Yesaya 53 tentang hamba Tuhan. Kalau demikian, cawan itu berisi murka Allah, seperti dalam Yes 51:17. Cawan itu diambil dari Israel (Yes 51:22) karena pelayanan hamba Tuhan itu. Yakobus dan Yohanes tidak akan ikut mati bagi dosa dunia, tetapi mereka akan ikut menderita demi Injil kerajaan Allah, seperti kata Paulus dalam Kol 1:24. Kemenangan Yesus bukan soal unggul atas orang lain seperti dalam pertandingan, tetapi hasil perjuangan yang penuh pengorbanan. Kita mengingat bahwa Yakobus mati syahid ketika belum tua (Kis 12:2).

Mereka juga tidak tahu bahwa bukan Yesus yang menentukan kedudukan itu, melainkan Allah (40). Tugas Yesus adalah mati bagi dunia, bukan membagi-bagikan jabatan. Namun, ternyata sikap dangkal Yakobus dan Yohanes diikuti oleh murid-murid yang lain, yang menjadi marah, sepertinya karena mereka sendiri belum berani meminta kedudukan yang didambakan itu (41). Yesus menjawab dengan ucapan-Nya yang terkenal dalam aa.42–45. A.42 memaparkan cara dunia memimpin. Dua kata dipakai di sini, katakurieuo (tafsiran LAI: “memerintah dengan tangan besi”) dan katexousiazo (tafsiran LAI: “menjalankan kuasa dengan keras”). Kata yang pertama itu dipakai, misalnya, untuk penguasaan nafsu-nafsu buruk, jadi konsepnya adalah rakyat sebagai hal liar yang harus ditaklukkan, dikendalikan supaya sesuai dengan kepentingan pemerintah. Kata kedua langka, tetapi mungkin maksudnya adalah pemakaian kuasa yang melewati batas. Kepentingan pemerintah belum tentu buruk—kekaisaran Romawi bangga akan kedamaian yang terwujud—tetapi kepentingan itu dengan mudah menggilas rakyat. Mungkin saja banyak orang Yahudi membayangkan bahwa Mesias juga akan memerintah demikian, menerapkan Kerajaan Allah atas bangsa-bangsa dengan paksa demi kemuliaan Allah. Sepertinya itulah harapan Yakobus dan Yohanes.

Yesus menjungkirbalikkan makna kepemimpinan itu. Di komunitas Yesus, pembesar harus menjadi pelayan, dan yang terkemuka malah menjadi hamba (43–44). Hal itu sejajar dengan 10:31, di mana orang yang terdahulu dalam materi (kaya) menjadi terakhir (tidak masuk) dalam Kerajaan Allah, sementara orang miskin akan masih lebih dahulu. Yesus menerapkan prinsip itu ke dalam struktur komunitas-Nya. Dia tidak menyangkal bahwa akan ada pembesar dan orang-orang terkemuka, dan memang keduabelas murid menjadi terkemuka di gereja perdana. Tetapi caranya adalah cara pelayan atau hamba. Seorang pelayan mencari kebaikan orang-orang yang dilayani, dan seorang hamba tidak menuntut dihormati.

Akhirnya, Yesus mengangkat diri-Nya sebagai teladan (45). Dia adalah Anak Manusia yang akan menerima segala kuasa Kerajaan Allah (bdk. Dan 7:13–14), tetapi untuk mencapai garis itu Dia harus meminum cawan penderitaan dan penghinaan seperti baru saja dikatakan kepada mereka (10:32–34). Salib adalah hukuman yang dikhususkan bagi kaum budak, sehingga Yesus akan menjadi seorang hamba dalam soal kehilangan hormat. Hal itu akan Dia lakukan sebagai pelayan untuk kebaikan banyak orang, karena nyawa-Nya akan menjadi tebusan bagi mereka. Kata tebusan (lutron) merujuk pada uang yang dipakai untuk menebus seorang hamba. Seperti dijelaskan di atas, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya menjadi cara Allah membawa manusia dari maut ke hidup baru; nyawa Yesus menjadi harga yang dibayar supaya kita bebas dari dosa dan maut.

Maksud bagi Pembaca

Yesus menusuk dengan teladan-Nya sendiri kesombongan murid-murid sepanjang zaman yang mau mengendalikan daripada melayani, mau dipandang daripada menjadi hamba.

Makna

Kembali saya menyoroti soal penghinaan dan hormat, karena bagi saya, pemahaman akan salib Kristus paling tepat diukur di situ. Dengan gampang orang menerima bahwa dosa mereka diampuni, tetapi adalah jauh lebih sulit menerima soal memikul salib, menjadi seperti anak, dan di sini menjadi seperti hamba yang siap tidak dihormati. Pada hemat saya, kalau hal itu belum ditangkap, kemungkinan besar pengampunan dosa juga kurang dihargai, dan kita belum memasuki jalur yang sejati sebagai pengikut Yesus. Mengkhotbahkan teologi salib ini dengan tepat akan seperti menyentuh bisul.

Ibr 5:5–10 menegaskan hal itu. Yesus adalah Anak Allah dan juga Imam Besar (5:5–6). Soal Yesus diangkat sebagai Imam Besar langsung diikuti dengan cerita tentang penderitaan Yesus di taman Getsemane (5:7). Ternyata, sekalipun Dia adalah Anak yang mulia, Dia harus belajar taat melalui penderitaan (5:8). Artinya, ketaatan hanya terbukti dan disempurnakan dalam penderitaan. Kedudukan Yesus tidak meluputkan Dia dari melakukan apa saja yang dibutuhkan supaya Dia menjadi pokok keselamatan bagi kita (5:9). Jadi, sebagai Imam Besar, Dia tidak hanya mengerti pergumulan kita (4:15), tetapi Dia sudah menunjukkan jalan yang harus ditempuh oleh orang-orang yang telah menerima keselamatan.

Pos ini dipublikasikan di Markus dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s