Yes 25:6-9 Bersukacita dalam pengharapan [1 Nov 2015]

Penggalian Teks

Yesaya 24 bernubuat tentang kehancuran bumi karena penghukuman Allah atas dosa manusia. Maksudnya menjadi jelas dalam 24:21–23, yaitu supaya semua penguasa yang melawan Allah dihancurkan, sehingga Allah memerintah di tengah umat-Nya di Sion. Yes 25:1–5 memuji Allah karena penghukuman itu membebaskan orang lemah dan miskin dari penguasa-penguasa itu, dan mendiamkan nyanyian bualan mereka.

Perikop kita menggambarkan pemerintahan Allah semesta alam—Allah yang berkuasa atas semua penguasa itu—di gunung Sion itu. Ternyata yang miskin dan lemah itu berasal dari segala bangsa. Mereka akan menikmati perjamuan yang layak untuk kaum raja yang tadinya menindas mereka (6). Bahkan dalam Why 21:24, 26 dikatakan bahwa segala kekayaan bangsa-bangsa akan dinikmati oleh umat Allah. Lebih dari itu, Dia akan meniadakan maut yang menjadi kain perkabungan dan tudung atas segala bangsa; dengan demikian tidak ada lagi air mata dan aib (7–8). Aib yang dimaksud adalah kegagalan Israel untuk hidup sebagai umat pilihan Allah yang dinyatakan dalam hukuman Allah atas Israel—perikop ini melihat pemulihan setelah aib itu.

Respons umat Allah disampaikan dalam a.9. Yang dipuji ialah Allah. Dia dipuji dengan gembira karena dinanti-nantikan; di tengah kesusahan, umat-Nya berharap hanya kepada Dia sehingga pujian mereka meluap ketika keselamatan itu tiba. Sebaliknya (setelah perikop kita), orang-orang yang sombong, yang tidak menantikan Allah, akan seperti Moab: diinjak-injak dan dicampakkan ke tanah dan debu (25:10–12).

Maksud bagi Pembaca

Supaya umat Allah bersukacita dalam pengharapan akan perjamuan akbar dan pemulihan bahkan dari maut dan dosa pada akhir zaman.

Makna

Perikop ini berbicara tentang Yesus Kristus. Dia yang menanggung penghukuman Allah lalu bangkit mengalahkan maut. Oleh karena itu, Dia telah diberi segala kuasa di bumi dan di surga (Mt 28:18), dan Dia sedang memerintah sampai semua musuh Allah ditaklukkan di bawah kaki-Nya (1 Kor 15:25). Dia menjadi roti hidup yang bertahan sampai hidup yang kekal: daging-Nya mengenyangkan dan darah-Nya menggembirakan (bdk. Yohanes 6). Maut adalah musuh terakhir untuk ditiadakan; aib umat-Nya telah dihapus. Dialah yang dengan sempurna menantikan keselamatan sehingga menjadi yang pertama bangkit dari antara orang mati.

Perikop ini berbicara tentang gereja (kita). Di dalam Kristus, kita turut dihukum dan dipulihkan (Rom 6:1–14) sehingga kita diperkenan menikmati daging yang mengenyangkan dan darah yang menggembirakan itu (mungkin Yoh 11:32–44 dapat dilihat sebagai gambaran akan hal itu). Maut tidak lagi membuat kita takut dan pelit; rasa malu tidak lagi mengendalikan jalan kita di depan orang lain. Di dalam kebangkitan Kristus, kita memiliki dasar yang kuat untuk menantikan keselamatan Allah yang tuntas, untuk mengejar sukacita yang sejati. Hal itu membuat kita optimis: bukan tentang manusia atau penguasa-penguasa dunia, melainkan tentang daya kebangkitan yang sedang bekerja oleh Roh Kudus dalam dunia ini karena Kristus adalah Raja. Optimisme itu bisa disebut optimisme yang kristosentris.

Perikop ini berbicara tentang dunia baru, suatu pengharapan yang tetap bermakna bahkan untuk orang-orang percaya yang hidupnya sudah hancur di Suria dan tempat-tempat yang lain, karena melampaui kondisi kita. Pada saat itu, perjamuan itu bukan lagi hanya melalui simbol; Allah dan Kristus akan ada di tengah kita, tanpa selubung apa saja; dan pujian kita akan sempurna. Hal itu digambarkan dalam Why 21:1–7. Sebaliknya, Why 21:8 menunjukkan bahwa akan ada “orang-orang Moab” yang menolak anugerah Allah dan binasa. (Leksionari tidak memasukkan ayat-ayat hukuman itu, tetapi bagi saya konsep keselamatan tidak utuh tanpa melihat alternatifnya.)

Ketiga hal ini saling berkaitan. Tujuan MJ yang pertama berbicara tentang optimisme (“Allah sanggup memulihkan keadaan kita”). Saya istilahkan sebagai optimisme yang kristosentris, dalam perbandingan dengan optimisme yang alami tentang manusia dan penguasa. Soalnya, kedua pihak itu sering mengecewakan. Saya memilih kristosentris daripada teosentris karena rencana Allah jauh lebih jelas ketika dilihat di dalam Kristus. Memang betul bahwa Allah sanggup memulihkan kita, tetapi dalam kematian dan kebangkitan Kristus kita sudah melihat bagaimana caranya, dan kita mengenal Kristus yang sedang memerintah sebagai Raja. Kristus adalah gambar Allah yang konkret bagi manusia yang sulit menangkap apa yang abstrak saja.

Optimisme tidak sama dengan pengharapan. Optimisme tidak ada gunanya bagi orang yang berlutut sebelum dipenggal kepalanya karena setia kepada Kristus. Mereka bertahan karena pengharapan. Namun, optimisme adalah salah satu wujud pengharapan dalam keseharian. Kedewasaan iman muncul ketika kita puas dengan darah dan daging Kristus dan memandang Yesus sebagai Raja yang sebenarnya atas dunia ini. Dengan demikian, kita tidak dikendalikan oleh uang dan reputasi, dan kita akan berani mengambil risiko.

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s