Ibr 9:24-28 Menantikan Sang Juruselamat [8 Nov 2015]

Penggalian Teks

Kitab Ibrani mau mendorong para pendengarnya untuk setia kepada Kristus. Ada tiga aspek besar dalam rangka itu. Yang pertama, penulis menjunjung tinggi Kristus. Apa saja yang dianggap mulia oleh manusia, Kristus itu lebih mulia. Yang kedua, Kristus mau membawa kita kepada kemuliaan itu, kepada peristirahatan yang kekal (4:9). Tetapi, yang ketiga, manusia adalah makhluk yang berdosa, yang sulit setia, seperti dilihat ketika Israel memberontak dan tewas di padang gurun. Bagaimana caranya Yesus bisa tidak malu menyebut kita saudara (2:11), dan bisa menjadi Imam Besar yang takhta-Nya dihampiri dengan berani (4:15)? Dalam 8:8–12, penulis mengutip janji dalam Yer 31:31–34 tentang perlunya perjanjian yang baru, yang membereskan persoalan dosa yang begitu melekat pada Israel, yang dalam hal ini mewakili manusia secara umum.

Pengadaan perjanjian baru itu yang dijelaskan dalam p.9, termasuk perikop kita. Kuncinya adalah darah Kristus. Dalam 9:11–14, darah itu menyucikan hati nurani sehingga kita berani beribadah kepada Allah. Tetapi, bukan hanya umat Israel yang ditahirkan oleh darah dalam PL. Allah itu intoleran terhadap dosa, sehingga kemah suci sebagai simbol tempat tinggal-Nya harus juga ditahirkan oleh darah, bersama dengan semua alatnya juga ditahirkan oleh darah (9:21–22). Darah Kristus menggenapi kedua fungsi itu, tetapi di dalam tempat tinggal Allah yang sebenarnya, yakni surga (9:23).

A.24 merupakan penegasan bahwa Kristus menyucikan tempat kudus di surga, sehingga penyucian itu sampai ke akar masalah, diadakan di hadirat Allah sendiri. Aa.25–26 menegaskan bahwa masalah itu diselesaikan secara tuntas, satu kali saja untuk selamanya. Dia menghapus dosa—membuatnya tidak berlaku lagi sebagai kendala di hadapan Allah—dan dengan demikian memulai zaman akhir, zaman penggenapan janji-janji Allah.

Semuanya itu disimpulkan dalam aa.27–28. Kematian dan penghakiman merupakan akhir dari kehidupan manusia. Kisah Yesus juga menyangkut kematian dan penghakiman terakhir. Dia mati bagi dosa yang merupakan penyebab kematian manusia. Oleh karena itu, ketika Dia datang untuk menghakimi dunia, dosa tidak menjadi masalah. Bagi orang yang menantikan Dia, kedatangan-Nya membawa keselamatan, beda dari angkatan Israel yang binasa di padang gurun.

Maksud bagi Pembaca

Penulis mau supaya pendengar yakin bahwa darah Yesus telah menuntaskan soal dosa, bukan hanya dari pihak manusia (hati nurani, 9:14) tetapi juga dari pihak Allah (surga, 9:23). Dengan demikian, kita akan menantikan Dia untuk mendapat keselamatan.

Makna

Jika kita bertanya kepada jemaat tentang apakah kedatangan Yesus dinantikan, apa jawaban mereka? Bagi seseorang yang sudah merasa dirinya benar, atau seseorang yang merasa puas dengan dunia ini, kedatangan Yesus adalah hal yang tidak menarik.

Lebih banyak menganggap bahwa kegiatan ritus (termasuk persembahan uang dsb) adalah pengganti kurban binatang, yang menghapus dosa-dosa kecil mereka. Kembali, kurban Kristus tidak terlalu dibutuhkan, dan kedatangan-Nya tidak sepenting kegiatan religius itu. Pernah ada mahasiswa mengadakan angket di sebuah jemaat, dan ketika ditanya tentang kebenaran dari Alkitab yang relevan untuk orang yang jatuh ke dalam dosa, hampir tidak ada yang menyebutkan Yesus. Allah adalah Mahapengampun, dan salib Kristus hanyalah simbol identitas kristiani.

Namun, saya duga bahwa orang-orang ini (sebagian cukup besar dari jemaat-jemaat yang kita layani) tidak nyaman dalam hati nuraninya, karena jelas kegiatan religius tidak mampu menuntaskan dosa. Kedatangan Kristus dikhawatirkan, sehingga ucapan agama lain, “semoga dia diterima di sisi Allah”, dianggap sah-sah saja.

Tidak ada “semoga” dalam a.28b. Bagi orang yang menantikan Dia, Yesus datang untuk menganugerahkan keselamatan. Mereka diterima di sisi Allah, karena Kristus telah membawa diri-Nya sebagai kurban ke dalam hadirat Allah sehingga menuntaskan soal dosa.

Bagaimana orang menjadi orang percaya yang menantikan Kristus? Yang pertama adalah kesadaran bahwa dirinya gagal di hadapan Allah—entah sadar karena hal-hal yang dilakukan, karena orang-orang di sekitarnya yang dikecewakan, atau karena introspeksi diri. Yang kedua, kesadaran itu tidak ditutupi dengan dalih atau pengandalan pada usaha sendiri. Yang ketiga, ditangkap bahwa kurban Yesus sudah cukup: kenajisan hati sudah disucikan; intoleransi Allah terhadap dosa sudah dinyatakan atas Kristus sebagai kurban.

Orang-orang itu akan menantikan Kristus sambil menempuh jalan yang telah Dia rintis, yaitu setia kepada Allah meski dihina, menderita, bahkan terancam maut. Hal itu akan mereka lakukan karena Kristus telah menjadi yang utama bagi mereka, lebih mulia dari segala yang lain.

Pos ini dipublikasikan di Ibrani dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s