Yoh 18:33-37 Satu-satunya Kerajaan yang Benar [22 Nov 2015]

Penggalian Teks

Yesus ditangkap sesuai dengan kepentingan Yahudi yang diucapkan kembali dalam 18:14, “Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.” Tetapi mereka harus menyerahkan Yesus kepada Pilatus, karena mereka tidak berhak menghukum mati orang (18:31). Perikop kita adalah awal pemeriksaan Yesus oleh Pilatus. Pilatus masuk kembali ke dalam gedungnya, karena orang Yahudi ada di luar supaya tidak najis, dan Yesus ada di dalam sebagai orang tahanan. (Hal itu ironis, karena niat para pemimpin Yahudi menajiskan mereka, sementara Yesus tidak bersalah.)

Pilatus bertanya tentang Yesus sebagai raja (33). Barangkali, dia sudah tahu tentang harapan Mesianis akan adanya raja Israel yang akan menggulingkan orang Romawi, dan hanya hal yang sebesar itu yang layak untuk dia dipanggil oleh pemimpin-pemimpin Yahudi. Tetapi Yesus tidaklah tampil sebagai pemberontak biasa, makanya Pilatus bertanya dengan nada terkejut, “Engkau inikah?” Jawaban Yesus ironis tetapi penuh makna (34). Dia menjawab seakan-akan Pilatus bersaksi tentang diri-Nya, dan Dia bertanya apakah kesaksian itu muncul dari dalamnya atau hanya mengikuti pendapat orang lain. Pilatus dengan tegas meletakkan tanggung jawab untuk pengadilan Yesus pada pimpinan Yahudi, tetapi mau memberi Yesus kesempatan untuk membela diri-Nya (35).

Tiga kali dalam jawaban-Nya, Yesus menyebutkan “Kerajaan-Ku” (36). Dengan mengatakan bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia atau dari sini, Dia menjawab pertanyaan tersirat Pilatus: raja seperti apakah yang para pengikutnya sama sekali tidak berjuang untuk dia? Yesus mengakui bahwa kerajaan dunia akan demikian. Pilatus menangkap pengakuan tersirat Yesus bahwa Dia adalah raja, dan mempertanyakan hal itu lagi (37a). Yesus enggan mengiyakan bahwa Dia adalah raja, karena konsep Pilatus itu duniawi. Jadi, Yesus menjawab bahwa Dia datang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran. Kata “kebenaran” adalah aletheia, apa yang sebenarnya di balik yang kelihatan (bukan dikaiosune, apa yang sesuai dengan norma). Tetapi maksud Yesus bukan aletheia ala filsafat Yunani. Yang di balik yang kelihatan itu kerajaan Allah, kerajaan yang ada di balik segala kuasa duniawi.

Pilatus langsung bertanya dengan sinis atau ragu, “Apakah kebenaran itu?” Perkembangan selanjutnya—bahwa Yesus disalibkan meskipun Pilatus tahu bahwa Dia tidak bersalah—membuktikan bahwa kebenaran itu tidak ada pada penguasa-penguasa dunia, termasuk agama. Di balik keadilan yang kelihatan justru ada kepentingan-kepentingan yang najis.

Maksud bagi Pembaca

Kita perlu mengimani bahwa hanya kerajaan Allah yang didatangkan oleh Kristus itu merupakan kerajaan yang sebenarnya, sehingga kita akan memilih setia kepada Allah meskipun ditolak oleh kerajaan-kerajaan dunia.

Makna

Ada pemahaman filsafat Yunani bahwa kebenaran filosofis adalah jalan untuk menguasai diri: rasio menjadi raja atas nafsu. Pemahaman itu merembes ke dalam gereja dalam bentuk bahwa cukup kita melawan dosa dalam diri kita untuk menjadi anggota sejati kerajaan Allah. Kedua bacaan yang lain membantu kita untuk memahami tema kerajaan dengan lebih tepat.

Dalam Dan 7:9–14, pada zaman Israel di bawah kuasa kerajaan-kerajaan raksasa, Daniel melihat penglihatan tentang Anak Manusia yang diberi kerajaan Allah sebagai jawaban terhadap empat kerajaan raksasa yang digambarkan sebagai binatang buas. Kerajaan itu merupakan kebenaran di balik kemuliaan yang kelihatan dari kerajaan-kerjaan dunia, dan kerajaan itulah yang mau didirikan oleh Yesus melalui salib dan kebangkitan-Nya.

Why 1:4–8 berbicara dari perspektif pasca-kematian dan kebangkitan Yesus. Yesus Kristus sudah terbukti sebagai Saksi yang setia (5) yang menjadi penguasa atas raja-raja bumi. Kemuliaan dan kuasa yang sejati ada pada Dia (6b). Kemuliaan adalah daya tarik yang menyatakan kelayakan sesuatu untuk dikagumi dan diterima; berkaitan dengan kuasa, kemuliaan menyatakan keabsahannya sehingga kuasa itu diamini, bukan dilawan. Kita yang telah menerima kasih Kristus yang melepaskan kita dari dosa kita itu telah menjadi anggota-anggota kerajaan yang bukan dari dunia itu (5b–6a). Sifatnya yang non-duniawi dilihat dari identitas kita, yakni imam-iman yang beribadah kepada Allah dan memberitahukan kemuliaan Kristus kepada bangsa-bangsa.

Jadi, kerajaan Kristus merupakan kerajaan. Dia adalah rajanya yang memiliki warga, yaitu mereka yang menerima kasih-Nya sehingga dibebaskan dari dosa. Dia sementara bersabar sampai semua musuh-Nya meratapi Dia, entah dalam pertobatan entah karena dihukum.

Jika hal itu diimani, apa akibatnya? Kita tidak akan memutlakkan kerajaan dan lembaga duniawi lagi. Pemerintah berhenti menjadi harapan pertama kita, kuasa berhenti menjadi perebutan pertama kita. Semangat kita akan ditujukan kepada kerajaan Kristus sebagai kerajaan yang sejati, yang sungguh mulia sebagai sumber kasih dan pembebasan yang sejati. Hal itu tentu berdampak pada cara kita terlibat dalam politik dan masyarakat, lebih lagi karena kita hidup dalam demokrasi. Kita peduli, tetapi karena digerakkan oleh pengharapan kerajaan Kristus, bukan karena kandidat atau program tertentu adalah jawaban terhadap kondisi dunia ini.

Semangat yang bertahan berasal dari visi; semangat iman yang sejati berasal dari visi akan kerajaan Kristus yang bukan dari dunia.

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yoh 18:33-37 Satu-satunya Kerajaan yang Benar [22 Nov 2015]

  1. Marthen Lius berkata:

    Selamat Tahun Baru 2016, selamat melayani dan semoga ada kesempatan untuk berbagi di to mentiruran, karena menurut saya ini sangat bermafaat, syalom.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s