Lukas 9:37-43a “Kebesaran Allah dan Jalan Salib” [21 Feb 2016]

Penggalian Teks

Cerita ini menyangkut pengusiran roh yang menakjubkan. Unsur-unsur yang biasa untuk pengusiran dan penyembuhan ada: permohonan kepada Yesus, penundaan tercapainya penyembuhan (pendek saja di sini dengan keluhan Yesus), jadinya penyembuhan, dan reaksi orang. Pola itu yang disampaikan berulang kali dalam ketiga Injil Sinoptik supaya kita dilatih untuk datang kepada-Nya dengan kebutuhan kita. Namun, ada dua unsur yang tidak biasa, usaha para murid yang gagal (a.40), dan keluhan Yesus (a.41).

Untuk memahami unsur-unsur itu, alur cerita di sekitar peristiwa kita penting. Yesus diakui sebagai Mesias tetapi memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan mati dan bangkit, dan bahwa jalan seorang murid itu sama (9:18–27). Kemudian, kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah terungkap di gunung di depan tiga murid dan kita pembaca, tetapi bukan kepada orang lain (9:28–36, lihat a.36). Turunnya mereka dari gunung itu yang memulai perikop kita, yang memperlihatkan ketidakmampuan para murid ketimbang Yesus. Perikop kita berakhir dengan ketakjuban orang banyak. Tetapi keheranan “semua orang” langsung diimbangi dengan pemberitahuan yang kedua tentang penderitaan Yesus, yang diikuti cekcok para murid tentang siapakah yang terbesar (9:43b dst). Cerita ini ada di antara kemuliaan dan penolakan Yesus.

Jadi, kedua unsur tadi dapat dilihat sebagai alasan mengapa Yesus harus turun dari gunung (yang mewakili surga) dan menuju tempat penderitaan-Nya. Angkatan Israel pada zaman Yesus itu tidak percaya dan sesat (a.40). Perkataan Yesus terasa kurang empatik, tetapi sasaran-Nya bukan si anak kecil yang segera disembuhkan, melainkan murid-murid-Nya yang belum mampu menangani roh najis itu. (Saya sebutkan “najis” karena kata Yunani akathartos yang dipakai merujuk pada ketidakberesan yang melawan kekudusan Allah, bukan ketidakbenaran (kejahatan) yang melawan kebenaran Allah.) Mereka dipilih dari antara orang Israel untuk menjadi inti dari umat yang diperbaharui, tetapi masih sama dengan angkatan itu.

Jadi, Yesus turun ke dunia karena dunia itu dikuasai oleh kuasa-kuasa kekacauan: roh-roh yang merusak, dan angkatan yang tidak percaya dan sesat. Sebagai Anak Allah yang mulia Dia mampu mengusir roh yang najis itu. Namun, roh yang diusir itu juga hanyalah sebagian kecil dari masalah yang sebenarnya. Untuk menyelematkan angkatan yang tidak percaya dan sesat, Yesus harus diserahkan kepada manusia (9:43b–44). Itulah jawaban terhadap pertanyaan, “berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu?”: sampai mati dan dibangkitkan pada hari yang ketiga untuk menghapus kenajisan umat manusia.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Perikop ini menyangkut pengusiran setan, tetapi rujukannya lebih luas. Ketidakmampuan murid-murid Yesus menjadi ilustrasi dari kondisi dunia yang dikeluhkan Yesus. Pengusiran roh najis itu adalah tanda pemulihan segala sesuatu dalam kematian dan kebangkitan Kristus.

Sesuai dengan a.43, kita diajak untuk takjub akan kebesaran Allah, tetapi bukan hanya karena kuasa-Nya atas dunia gaib. Karya Kristus lebih dahsyat lagi, karena mampu mengusir kesesatan manusia. Sejauh mana kita takjub akan karya itu, sejauh itu kita akan mau bergabung dengan kelompok dan misi Yesus sebagai hal yang paling mulia.

Makna

Banyak konteks masyarakat masih takut terhadap kuasa gaib, dan/atau mengharapkan pertolongan dari dunia itu. Jika cakupan karya Yesus diperluas di atas sesuai dengan karya-Nya selanjutnya, karya itu tetap mencakup dunia gaib itu. Yesus lebih berkuasa dari semuanya itu. Dialah yang selayaknya kita andalkan, dan semakin kita percaya kepada-Nya, semakin kita akan bebas dari cengkeraman kuasa-kuasa itu. Bagi masyarakat seperti itu, kuasa Yesus ini yang paling cocok untuk membawa pesan teologis di bawah.

Jadi, kuasa Yesus terhadap roh yang kuat itu menjadi gambaran akan karya-Nya yang lebih luas. (Ingat bahwa kaitan ini dibuat oleh Lukas dalam a.43.) Yesus membiarkan diri-Nya menjadi anak yang diserang oleh kuasa-kuasa najis sampai Dia disalibkan, tetapi kemudian Dia dibangkitkan dan kembali kepada Bapa-Nya (seperti anak itu kepada bapanya dalam a.42b). Dengan demikian, kuasa-kuasa itu dibongkar dan dilucuti. Pemulihan dunia juga mengikuti pola itu: kemelut dunia adalah seperti guncangan anak itu sampai Yesus datang kembali untuk menuntaskan pemulihannya ini dan menyerahkannya kepada Bapa-Nya (1 Kor 15:28).

Jadi, tidak cukup takjub karena ada keajaiban sementara yang dilihat. Kebesaran Allah dilihat dalam Anak-Nya yang tidak hanya mampu mengusir roh najis, tetapi memulihkan kenajisan dunia melalui jalan salib. Barangkali, murid-murid Yesus telah percaya pada kuasa Yesus yang sudah berulangkali mereka lihat, tetapi adalah jelas bahwa mereka belum percaya pada jalan salib itu. Jalan saliblah yang tidak sesat; kepercayaan yang sejati berarti menerima jalan salib sebagai cara Allah memulihkan kenajisan dunia. Dengan demikian, takjub akan kebesaran Allah berarti rindu untuk mengikuti Yesus pada jalan salib itu sebagai jalan yang mulia.

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Lukas 9:37-43a “Kebesaran Allah dan Jalan Salib” [21 Feb 2016]

  1. uraian singkat yang sangat membantu dan bermutu. Sepertinya cukup lama baru muncul lagi. terima kasih sudah hadir lagi

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih, Pak.

  3. d berkata:

    trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s