Lukas 15:1-3,11-32 “Penerimaan yang mengobati keterasingan” [6 Mar 2016]

Penggalian Teks

Perumpamaan tentang anak yang hilang yang terkenal ini muncul dalam konteks ketegangan yang makin menjadi dalam pp.13–14 antara Yesus dengan orang Farisi, karena orang-orang berdosa menjadi penggemar Yesus (15:1–2). Ada tiga perumpamaan yang disampaikan Yesus yang menyampaikan sukacita di surga ketika orang yang hilang ditemukan dengan bertobat. Pesan itu terutama ditujukan bagi “para pemungut cukai dan orang-orang berdosa” yang bertobat dengan mendengarkan Yesus. Perumpamaan yang ketiga memiliki struktur yang sama, tetapi diceritakan dari sudut pandang orangnya yang hilang, bukan pemilik yang kehilangan seperti dalam kedua perumpamaan awal. Dengan demikian, ada gambaran naratif tentang dosa, pertobatan, dan pengampunan Allah. Ada juga tambahan yang ditujukan bukan kepada orang-orang berdosa tetapi justru kepada orang-orang “benar” yang mempersoalkan penerimaan orang-orang berdosa oleh Yesus.

Semua ini semestinya disampaikan melalui khotbah naratif, yang mengikuti alur cerita dengan pemaknaan dan penerapan. Perhatikan bahwa yang menjadi hilang adalah seorang anak. Dosanya adalah melanggar kekeluargaan dengan mengejar kepentingan yang lain dari kepentingan ayahnya. Ternyata, dia menganggap bahwa kebahagiaan bukan ditemukan bersama dengan bapanya, melainkan sejauh mungkin daripadanya. Yang dicari dari ayahnya ialah kekayaannya, tetapi bukan orangnya. Pemungut cukai membuat uang lebih penting dari Allah; orang-orang berdosa yang lain dengan berbagai cara mencari kehidupan dalam “keluarga” (tongkonan) yang lain dari keluarga Allah. Akar itu yang menimbulkan kekacauan hidup. Makanya, Yesus tidak takut akan orang-orang itu, karena Dia mengerti masalah mereka yang sebenarnya.

Tentu saja, keterasingan dari sang bapa itu membawa kesengsaraan, walaupun hal itu hanya menjadi kentara ketika berhala yang mengobati keterasingan itu (dalam kisah ini, uang) habis. Kesadaran itu membawa si anak kepada pertobatan yang mungkin saja belum jelas. Ucapan yang dia rencanakan tetap melihat bapanya sebagai orang kaya, dan tidak membayangkan kemungkinan untuk rekonsiliasi. Dia mencari keselamatan, tetapi hal itu tidak dipahami sebagai pendamaian yang utuh dengan bapanya.

Ternyata sikap anaknya tidak terlalu penting. Begitu dia dilihat, sang bapa tergerak oleh perasaan kekeluargaan dan merangkul dan menerima dia dengan sangat. Rasa malu dan aib yang meliputi anak itu larut dan hilang dalam rangkulan yang penuh kerinduan ini. Perhatikan kembali, pengampunan di sini bukan terhadap pelanggaran ini atau itu, tetapi rangkulan yang menciptakan kedamaian dalam diri si anak itu. Yang dibutuhkan hanya bahwa anak itu kembali, bukan bahwa dia kembali dengan sikap yang sudah beres.

Yang terakhir ialah anak sulung yang menjadi marah. Dia taat, tetapi ternyata dia juga tidak merasa satu kepentingan dengan ayahnya; makanya dia tidak pernah berani memohon anak kambing untuk bersukacita dengan teman-temannya. Hanya, berbeda dengan adiknya, dia tidak berani menyatakan keterasingannya. Dia tampil taat, tetapi ketaatan itu justru dipakai untuk menuduh bapanya. Sikap orang Farisi yang mau supaya orang kacau ditolak menunjukkan bahwa, walaupun mereka tampil taat, secara tersembunyi Allah dimusuhi. Kita tidak diberitahu apakah anak sulung itu bergabung dengan sukacit bapanya atau tidak, tetapi itulah penawaran Yesus kepada orang-orang Farisi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Cerita ini menyampaikan penerimaan Allah yang menjembatani keterasingan manusia. Penerimaan itu menjawab akar dosa, yaitu ketidakpercayaan sehingga menolak Allah sebagai Bapa yang baik. Dengan demikian, manusia yang kacau dikuatkan bahwa penerimaan Allah itu tidak berdasarkan ketaatan, dan manusia yang tidak kacau didorong untuk bersukacita bersama dengan Allah dan Bapa mereka atas orang yang bertobat.

Makna

Gambaran naratif Yesus tentang dosa itu penting. Kita cenderung menganggap diri sedikit di atas rata-rata dalam banyak hal, termasuk kebenaran. Bahkan orang Farisi tidak menganggap diri sempurna, tetapi mereka adalah yang giat dalam urusan Allah, sehingga semestinya dihargai di atas para pengacau. Di balik ketidakpercayaan diri banyak warga jemaat untuk menyatakan diri benar, kita menemukan sikap meremehkan orang-orang tertentu (misalnya, narapidana) yang membuktikan bahwa sebenarnya mereka menganggap diri cukup benar. Tetapi ukuran dosa di sini menghancurkan kita: kebenaran yang cukup tidak berarti jika kita menganggap bahwa tuntutan Allah berlawanan dengan kepentingan kita. Setiap kali warga jemaat mengungkapkan bahwa suatu nilai hanya berlaku bagi pendeta, atau menganggap bahwa suatu nilai terlalu berat untuk diikuti kecuali oleh orang “fanatik”, kita menemukan bahwa sebenarnya mereka adalah anak-anak sulung: taat tetapi dalam hati tidak merasa satu kepentingan dengan Allah. Kemunafikan halus seperti itu sering bergandengan tangan dengan sikap cepat menghakimi sesama.

Lebih lagi para pendeta yang lain cerita di hadapan jemaat, lain cerita bersama dengan teman-teman. (Maksudnya bukan bahwa kita lebih santai dengan teman-teman–Yesus pun lebih terus terang dengan murid-murid-Nya. Tetapi jika nilai Alkitabiah yang dianjurkan di jemaat ternyata kita langgar ketika kita tidak sedang diamati, hal itu menunjukkan bahwa kita pun belum menerima Allah sebagai Bapa yang baik.) Apakah pendeta-pendeta itu yang juga suka menjelekkan sesama pendeta?

Syukur bahwa penerimaan Allah melampaui ketidakmampuan kita untuk bertobat dengan sungguh-sungguh. Justru dalam penerimaan Allah, sikap curiga kita terhadap Allah perlahan-lahan terkikis. Kemampuan bersukacita akan kebaikan Allah kepada orang lain adalah suatu pertanda akan perubahan itu dalam diri kita.

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Lukas 15:1-3,11-32 “Penerimaan yang mengobati keterasingan” [6 Mar 2016]

  1. pdt. hendrik tangaguling berkata:

    Selamat hari minggu pak. Terimakasih karena bapak sudah membantu saya lebih memahami perikop hari ini. TUHAN Yesus memberkati bapak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s