Fil 2:1-11 “Menerapkan Pola Kemuliaan yang Sejati” [20 Mar 2016]

Minggu depan blog istirahat, antara lain karena materi MJ untuk minggu Paskah adalah bagian saya.

Penggalian Teks

Fil 2:1–2 memperjelas apa yang dimaksud Paulus dengan seruannya untuk hidup berpadanan dengan Injil sehingga bersatu menghadapi perlawanan (1:27–30). Dia tahu dan bersukacita bahwa mereka berakar dalam Kristus melalui Roh sehingga perasaan mereka terbuka terhadap sesama (1), tetapi dia memanggil mereka untuk mewujudkan potensi itu dalam kesatuan pikiran dan jiwa (2). Kemudian, dia menyoroti dua halangan, yaitu pencarian kepentingan sendiri, dan pencarian pujian yang sia-sia (3a). Kedua halangan itu ditanggapi dalam urutan yang terbalik. Sebagai ganti mencari pujian, jemaat harus menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri (3b). Sebagai ganti mencari kepentingan sendiri, setiap warga jemaat harus memperhatikan kepentingan orang lain (4). Andaikan semua anggota jemaat begitu, maka keharmonisan berdasarkan kasih Allah dalam Kristus melalui Roh akan terwujud.

Nasihat ini kedengaran agak konyol (jika kedengaran wajar, mungkin belum dipahami). Apakah seorang tuan harus menganggap hambanya lebih utama? Apakah seseorang yang terpandang (misalnya, purnawirawan, karena Filipi adalah kota untuk pensiunan militer) mengutamakan anggota jemaat yang belum lama bertobat dari kehidupan yang kacau? Kata “rendah hati” (tapeinofrosunh, a.3b) biasanya dipakai dalam budaya Yunani untuk kerendahan, yaitu kedudukan rendah yang tidak dipilih. Menyuruh orang yang berkedudukan untuk merendahkan diri bahkan sampai menjunjung orang rendah lebih tinggi adalah nasihat yang mengacaukan tatanan sosial. Kemudian, memperhatikan kepentingan orang lain bisa dipahami kalau orang lain itu keluarga atau berada dalam relasi pelindung atau pendukung. Tetapi yang dimaksud Paulus adalah anggota jemaat yang dengannya mungkin saja tidak ada ikatan apa-apa kecuali bahwa mereka satu di dalam Kristus. Nasihat Paulus tidak terlalu masuk akal.

Makanya, Paulus menawarkan akal yang baru, yaitu pikiran dan perasaan seperti Kristus (5). Kristus yang setara dengan Allah mengutamakan manusia berdosa. Kedudukan-Nya tidak dipertahankan, tetapi diganti dengan kedudukan sebagai hamba (6–7). Dia merendahkan diri, yaitu, Dia dengan sengaja memiliki kedudukan yang rendah: rendah (taat) terhadap Allah, tetapi juga rendah di hadapan manusia pada kayu salib itu (8). Artinya, “merendahkan diri” bukan (hanya) soal tidak menyombongkan diri, melainkan kesiapan masuk dalam kondisi yang secara objektif rendah, bahkan hina. Yesus tidak hanya rendah hati, Dia masuk dalam kondisi sosial yang hina.

Pada saat yang sama, Dia tidak menjaga kepentingan-Nya, tetapi mengejar kepentingan manusia. Apa itu kepentingan manusia tidak dijelaskan di sini, tetapi sudah disingguung dalam a.1, dan dapat dilihat dalam 3:8–11. Dia bebas mengejar kepentingan manusia, karena Dia percaya kepada Allah Bapa-Nya. Dan memang, Allah meninggikan Dia dan menghormati-Nya dengan memberi-Nya nama tertinggi (9–11). Jadi, pikiran dan perasaan Kristus adalah ketaatan kepada Allah yang mempertaruhkan kepentingan dan hormat dalam keyakinan bahwa Tuhan akan bertindak.

Dengan memandang kepada Kristus ini dan mulai menyerap pikiran dan perasaan-Nya, nasihat Paul mulai masuk akal. Dengan demikian, harapan sukacita karena jemaat yang sehati sepikir dapat mulai terwujud.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kristus menunjukkan jalan menuju kemuliaan melalui kerendahan yang sangat. Paulus mau supaya kita menerapkan pola itu dalam relasi di dalam jemaat: memilih kerendahan demi mementingkan sesama dalam keyakinan bahwa kita akan ikut ditinggikan di dalam Kristus.

Makna

Perikop ini dengan muda dicampurkan dengan perikop yang lain yang melihat besarnya kasih Kristus/Allah dalam penderitaan Yesus. Hal itu tentu benar, tetapi bukan fokus perikop ini. Fokus perikop ini adalah kedudukan, atau status, atau penghormatan. Soal kepentingan yang sempit dan gila hormat sering dikeluhkan, tetapi solusinya bukan kerelaan untuk menderita. Banyak orang siap menderita demi dihormati atau tidak mendapat malu. Tetapi orang akan siap mendapat malu demi Kristus sudah mulai menangkap di mana kemuliaan yang sejati ditemukan.

Berikut ada dua contoh untuk menegaskan bahwa merendahkan diri menuntut lebih dari perasaan dalam hati bahwa saya tidak sombong. Yang pertama, warga jemaat yang buta huruf dengan pendeta yang berpendidikan teologi. Kepentingannya adalah pola pelayanan yang tidak membutuhkan dia membaca; kepentingan pendeta adalah pola pelayanan yang sudah diketahui. Mana yang mau diutamakan? Apakah pendeta mampu menganggap lebih utama warga jemaat seperti itu? Pada umumnya, daripada ketidakbecusan gereja dalam menanggapi keadaan mereka diakui, mereka diremehkan dengan istilah “terbelakang” dan “kolot”. Hal itu bukan berdasarkan pikiran dan perasaan Yesus.

Yang kedua, seorang donatur besar dan kelompok warga jemaat yang tidak mampu. Pikiran di luar Kristus mengatakan bahwa yang mendanai harus didengarkan; yang tidak mendanai didengarkan kalau tidak merepotkan. Di dalam Kristus, seorang donatur akan siap mengutamakan orang lain, bahkan ditegur karena usul yang melanggar kepentingan orang-orang tidak mampu itu. Tentu, usul orang mampu juga penting, tetapi bukan mereka yang pendapatnya biasanya diremehkan.

Bisa dibayangkan suasana jemaat yang di dalamnya semua dihargai, karena orang-orang yang berkedudukan tinggi siap menjadi rendah, sehingga semua sehati sepikir. Dasarnya adalah penghiburan kasih di dalam Kristus; polanya dipelajari dengan memandang Kristus. Di dalam Dia, yang dianggap konyol oleh dunia malah menjadi yang paling wajar.

Pos ini dipublikasikan di Filipi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s