Kis 5:26-33 “Berita tentang Kristus Paling Penting” [3 Apr 2016]

Penggalian Teks

Kis 3–5 memberi gambaran tentang kehidupan jemaat di Yerusalem setelah keturunan Roh Kudus. Selain persekutuan mereka, unsur yang menonjol ialah keberanian Petrus dan rasul-rasul memberitakan Kristus, disertai mukjizat. Kali pertama mereka dibawa ke hadapan Mahkama Agama, mereka dilarang memberitakan Kristus (4:18), tetapi mereka langsung menyatakan niat mereka untuk taat kepada Allah (4:19) dan bersaksi tentang Yesus (4:20). Itulah yang mereka lakukan (5:12–16). Oleh karena itu, mereka dipenjara lagi (5:18), tetapi diselamatkan oleh malaikat pada malam (5:19) dan besoknya pagi-pagi kembali ke Bait Allah untuk memberitakan Kristus (5:21a). Makanya, ketika mereka mau dibawa ke hadapan Mahkama Agung, mereka harus diambil dari Bait Allah itu (26). Sama seperti ketika Yesus di Bait Allah, orang banyak tidak memihak pimpinan Yahudi, sehingga mereka harus hati-hati.

Keluhan Imam Besar termasuk bahwa pimpinan Yahudi dipersalahkan karena kematian Yesus (28). Petrus mengulang bahwa rasul-rasul harus taat kepada Allah daripada manusia (29), mengulang tuduhan itu (30b), dan memberitakan Injil (30–32). Berita Injil itu mulai dengan penyataan Allah kepada nenek moyang mereka. Kemudian ada kematian yang tidak adil, yang ditanggapi Allah dengan meninggikan Yesus untuk menerima gelar yang sering dipakai pemimpin Romawi, yaitu Pemimpin dan Juruselamat. Istilah “tangan kanan-Nya” menunjukkan bahwa ini adalah karya besar Allah. Karya itu bertujuan supaya ada pertobatan dan pengampunan bagi Israel. Kemudian, lewat Roh Kudus Allah mengutus rasul-rasul untuk menjadi saksi-saksi akan karya itu.

Karya Allah itu yang membuat para rasul harus memberitakan Injil sebagai saksi (29b, 32). Sebaliknya, para anggota Mahkama Agama tidak mau menerima penjelasan Petrus tentang rencana Allah, dan tidak mampu mendengar kabar baik bahwa pengampunan ditawarkan kepada mereka. Mereka hanya mendengar tuduhan Petrus. Cara yang bisa mereka pikirkan untuk menghapus kesalahan mereka adalah dengan membunuh rasul-rasul yang membawa pesan tentang kesalahan itu. Setelah perikop kita, Allah melindungi rasul-rasul dengan nasihat bijak Gamaliel (5:34 dst), dan juga melindungi Mahkama Agama dari mengulang kesalahan mereka terhadap Yesus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Berita tentang Kristus lebih penting daripada kepentingan agama.

Makna

Bahawa para rasul diutus untuk menjadi saksi akan kebangkitan Yesus dengan kuasa Roh Kudus disampaikan dalam Yoh 20:21–23. Dasar kesetiaan mereka adalah Yesus, yang menjadi Saksi yang setia (Why 1:5).

Konsep kebebasan beragama di Eropa muncul ketika bentuk ketaatan kepada Allah tidak lagi disepakati bersama, sehingga ada Katolik dan beberapa warna Protestan saling menyerang berdasarkan pemahaman masing-masing. Bahkan, berkembangnya individualisme berarti bahwa hati nurani bisa berbeda per orang, daripada pola lebih kolektif di mana suatu bentuk beragama dipegang bersama. Karena negara tidak bisa tahu mana yang sebenarnya dikehendaki Allah, nasihat Gamaliel dijadikan prinsip toleransi. Hal itu cocok dari sudut pandang negara.

Namun, toleransi beragama bukan maksud Petrus, yang notabene adalah rasul, bukan pejabat agama atau negara. Prinsip Petrus adalah taat kepada Allah. Allah sudah berkarya di dalam Kristus, makanya Kristus harus diberitakan. Kristus diberitakan bukan hanya kepada orang-orang Yahudi, tetapi juga kepada orang-orang non-Yahudi, termasuk pejabat-pejabat kekaisaran seperti Felix dan Festus (pp. 24–25). Sekarang, kita bukan saksi mata, dan tidak semua orang percaya dipanggil untuk memberitakan Injil di depan umum. Namun, Allah sudah berkarya di dalam Kristus, dan karya itu harus diberitakan.

Pemberitaan itu bisa saja mengganggu kepentingan, termasuk kepentingan pemuka agama. Berbeda dengan kesaksian Paulus kepada pejabat Romawi, Petrus di sini berbicara kepada lembaga yang mengaku mengabdi kepada Allah. Mereka sudah kecolongan membunuh Mesias Allah tetapi menolak untuk mengaku kesalahan itu. Jadi, di dalam pemberitaan Injil, Petrus juga harus membongkar kemunafikan mereka. Bahwa mereka sangat marah adalah risikonya membongkar kebenaran. Hal yang mirip terjadi ketika para Reformator mau memperjelas Injil dan membongkar korupsi yang merajalela di Gereja pada zaman itu, juga ketika gerakan Methodis yang dimulai sebagai gerakan pembaruan di dalam Gereja Anglikan di Inggris diusir dari gereja itu. Orang-orang yang mengutamakan Kristus di atas segalanya sering dikecam sebagai pengacau oleh denominasi. Tetapi, berita tentang Kristus itu lebih penting daripada kenyamanan pimpinan gereja.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s