Yohanes 21:1-19 “Semeja dan sejalan dengan Tuhan” [10 Apr 2016]

Penggalian Teks

Injil Yohanes sudah mencapai kesimpulan yang kuat pada akhir p.20, sehingga pasal 21 terasa sebagai tambahan. Fokusnya bukan hanya pada kebangkitan Yesus, tetapi juga pada kehidupan bergereja: Petrus diutus untuk menjadi gembala domba-domba Yesus yang perdana; suatu tugas yang kemudian diemban oleh semua penatua, yaitu tua-tua jemaat (1 Pet 5:1–2).

Aa.1–14 menyampaikan penampakan Yesus (lihat “Yesus menampakkan diri” dalam a.1 & 14). Penampakan ini terjadi di Galilea. Dalam Injil Lukas, Yesus hanya menampakkan diri kepada para murid di Yerusalem, tetapi dalam Injil Matius para murid disuruh ke Galilea (Mat 28:7), dan tidak ada penampakan diri Yesus di Yerusalem. Injil Yohanes melihat dua penampakan kepada murid-murid Yesus di Yerusalem (dengan beberapa lagi kepada individu), baru penampakan ketiga ini (kepada murid-murid) di Galilea. Barangkali, pertemuan ini terjadi sebelum pertemuan di Mat 28:16–20 (yang menjadi pertemuan keempat kepada murid-murid sebagai kelompok).

Jika mereka telah disuruh ke Galilea, tetapi belum bertemu dengan Yesus, maka wajar saja bahwa mereka mengisi waktu dan/atau mencari nafkah dengan kembali ke pekerjaan mereka. Sama seperti dalam Lukas 5:5, hasil mereka nol, tetapi ketika mereka mengikuti nasihat Yesus, banyak ikan ditangkap. Kemiripan peristiwa itu bisa menjelaskan mengapa murid yang dikasihi Yesus mengenali Yesus (7), yang ternyata tidak jelas di pantai (4). Makan ikan dan roti mungkin juga suatu kebiasaan, mengingat bahwa justru kedua makanan itu yang tersedia untuk “diperbanyak” ketika Yesus memberi makan lima ribu orang/keluarga (Yoh 6:9).

Cara Yesus bertemu dengan mereka lembut dan ramah. Sikap itu melanjutkan ketiga kali Dia sudah mengucapkan “damai sejahtera” kepada mereka dalam dua pertemuan sebelumnya. Soalnya, mereka semua gagal setia kepada-Nya, dan kaget dengan kebangkitan-Nya. Dengan beberapa cara, seperti makan roti dan ikan bersama, Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Yesus yang mereka kenal, walaupun dalam kondisi yang baru, dan bahwa Dia tetap menerima dan menyertai mereka.

Yang mungkin paling merasakan kegagalannya ialah Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali. Aa.15–17 memulihkan Petrus dan mengutusnya kembali. Ketiga kali dia menyangkal Yesus diimbangi dengan tiga kali dia menyatakan kasihnya kepada Yesus, dan tiga kali dia diutus untuk menjadi gembala. Domba-domba yang mau digembalakan adalah milik Yesus (“-Ku”), tetapi penggembalaan dilakukan oleh manusia. Tugas itu penuh risiko, sehingga Yesus menantang Petrus untuk mengikuti-Nya, meskipun dia harus menderita (18–19).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus menerima dan mengampuni murid-murid-Nya untuk menjadi sahabat serta gembala yang juga siap menderita.

Makna

Dalam banyak film Barat (diikuti oleh film Asia seperti dari Jackie Chan), pahlawannya mencapai titik terburuk seakan-akan mau mati, tetapi kemudian bangkit kembali. Kemudian apa? Pembalasan habis-habisan terhadap musuh! Itulah yang sering dicari manusia yang sudah diinjak-injak dan dipermalukan. Apakah yang dilakukan Yesus ketika Dia berjumpa dengan murid-murid-Nya yang telah meninggalkan Dia? (Pertanyaan itu lebih tajam lagi jika kita mengingat kemuliaan-Nya yang diperlihatkan dalam Why 5:11–14.) Dia mengucap, “Damai sejahtera bagi kamu!” Makan bersama, serta percakapan dengan Petrus, meneguhkan penerimaan dan pengampunan itu. Hanya, mereka diterima untuk mengikuti Yesus dalam jalan salib. Kecuali mereka mengasihi Yesus, hal itu tidak akan mungkin. (Pola itu lebih jelas lagi dalam pemanggilan musuh jemaat, Paulus, menjadi utusan kepada bangsa-bangsa dalam Kis 9:1–20.)

Yang ditawarkan kepada ketujuh murid ialah persekutuan: mereka makan bersama. Itulah tujuan penerimaan Yesus: bukan tiket gratis masuk surga (saja), tetapi hubungan yang erat, yang di dalamnya kita menjadi bagian dari persekutuan Tritunggal (bdk., misalnya, Yoh 17:21–23). Hal itu ditawarkan kepada semua orang percaya, bukan hanya mereka yang dipanggil menjadi gembala.

Urutannya jelas: makan dulu, baru dipanggil menjadi gembala. Jadi, menjadi gembala adalah pertama-tama soal mengenal Yesus selaku orang percaya biasa. Kita menjadi gembala karena mengasihi Yesus. Gembala yang tidak mengasihi Yesus, yang hanya membaca Alkitab untuk menegur orang lain dan berdoa syafaat karena ada akta di dalam liturgi, adalah gembala upahan. Dia akan menghilang begitu ada ancaman dalam tugasnya (10:12), dan dia tidak akan mampu menggembalakan domba-domba Yesus dengan setia, lebih lagi menyerahkan nyawanya sama seperti Yesus (21:18–19).

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s