Yohanes 13:31-35 Memuliakan Allah dengan kasih seperti Yesus [24 Apr 2016]

Penggalian Teks

Ketika Yudas keluar dari perkumpulan Yesus dengan murid-murid-Nya (a.31a), penderitaan dan kematian Yesus sudah terjamin. Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah waktu kemuliaan Yesus. Karena Yesus adalah utusan Allah yang akan melaksanakan rencana keselamatan Allah dengan ditinggikan pada salib, maka kemuliaan Yesus juga adalah kemuliaan bagi Allah (a.31b). Makanya, Yesus yakin bahwa rencana itu akan segera terwujud (a.32). Dia akan mati, bangkit, dan kembali kepada Bapa-Nya di surga.

Tetapi, ketika Yesus pergi, murid-murid-Nya akan tinggal di sini. Bagaimana keadaan mereka? Hal itu melatarbelakangi percakapan Yesus mulai dengan perikop ini sampai doa Yesus di p.17. Akhir doa itu juga berbicara tentang kemuliaan, kasih, dan hubungan erat antara Yesus dan murid-murid-Nya (17:24–26). Dalam a.34 Yesus memberi mereka sebuah perintah baru, yaitu untuk saling mengasihi. Perintah untuk mengasihi tidak baru, tetapi caranya baru. Mereka harus saling mengasihi sama seperti Yesus mengasihi mereka, yaitu, dengan pelayanan, pengorbanan dan kesabaran. Cara itu baru saja diperlihatkan dengan peristiwa membasuh kaki yang mengungkapkan satu makna dari kematian-Nya di salib, yaitu bahwa baik kemuliaan maupun kasih bukan dipraktekkan dalam rangka mencari status melainkan dengan mengutamakan kepentingan sesama.

Dalam a.35 ternyata perintah baru itu menjawab soal identitas mereka sebagai pengikut Yesus, yang terancam hilang ketika Dia tidak ada lagi untuk diikuti. Cara saling mengasihi yang baru itu begitu khas sehingga dapat menandai mereka sebagai pengikut Yesus, walaupun Dia tidak ada lagi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Cara membawa kemuliaan kepada Allah di hadapan manusia sama seperti Yesus yaitu saling mengasihi sama seperti Yesus.

Makna

Saling mengasihi sering dipahami sebagai saling membuat merasa nyaman, tanpa harus memikirkan kedudukan dan kepentingan. Artinya, orang yang berkedudukan tinggi merasa rela mengasihani orang rendah, asal kedudukannya tidak terancam. Tetapi kita harus mengingat bahwa perikop ini menjadi kesimpulan dari pembasuhan kaki. Cara Yesus mengasihi termasuk menjadi seorang hamba bagi murid-murid-Nya. Mengasihani dengan mempertahankan kedudukan bukan cara Yesus mengasihi.

Jadi, jemaat akan memulikan Allah antara lain ketika kepentingan orang kecil mendapat perhatian yang sama dengan kepentingan orang besar. Kesetaraan itu berlaku di mata Tuhan, bukan di mata kaum atas. Bahwa orang kecil dibina sejak kecil untuk berdiam diri bukan pembenaran bagi kaum atas. Bahwa pimpinan semua dari kaum atas, sehingga kepentingan orang kecil tidak diingat juga bukan alasan yang diterima — Yesus memerintah kita untuk saling membasuh kaki, dan perikop ini menegaskan bahwa hal itu bukan ritus saja. Pembaca yang tidak dapat melihat relevansi pemaknaan ini mungkin saja dibutakan oleh kedudukannya dalam kaum atas.

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s