Yohanes 14:15-26 Roh Kudus membawa Hadirat Allah [15 Mei 2016]

Penggalian Teks

Setelah pembasuhan kaki, Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi (13:33). Setelah Petrus menyatakan keinginannya untuk mengikuti Yesus, Yesus mulai menguatkan murid-murid-Nya dengan penjelasan tentang makna dari kepergian-Nya. Dia menyuruh mereka untuk jangan gelisah tetapi percaya (14:1). Kemudian, Dia menjelaskan ke mana Dia akan pergi (rumah Bapa-Nya), dan bahwa dengan demikian Dia akan menjadi perantara doa mereka supaya mereka dapat melanjutkan misi-Nya di bumi (14:11–14). Bagian itu menegaskan bahwa di dalam diri Yesus, murid-murid berjumpa dengan Allah Bapa (14:8–10). Dalam aa.18–20, hal itu akan menjadi jelas bagi murid-murid Yesus ketika mereka berjumpa dengan Dia setelah Dia bangkit. Tetapi apa gunanya mereka berjumpa dengan Allah di dalam diri Yesus kalau mereka tidak berjumpa lagi dengan Yesus?

Dalam perikop kita, pemberian Roh Kudus menjawab kegelisahan itu. Sama seperti Yesus dikenal oleh murid-murid yang mengasihi-Nya, Roh Kudus akan diberikan bukan kepada dunia yang membenci Yesus, melainkan kepada murid-murid Yesus untuk menggantikan Yesus. Dengan demikian, persekutuan Yesus dengan Bapa-Nya (14:8–10 tadi) diperluas untuk mencakup murid-murid-Nya (Yesus dalam a.20b, Yesus dan Bapa dalam a.23b). Sama seperti Yesus, Roh Kudus akan menguatkan mereka (“Penolong” a.15 dan “Penghibur” a.26 menerjemahkan parakletos yang berarti pendamping, misalnya dalam pengadilan). Dia juga akan melanjutkan pelayanan Pengajaran oleh Yesus dengan mengingatkan mereka tentang ajaran Yesus (24–25). Oleh karena itu, Yesus menawarkan damai sejahtera ganti kegelisahan (14:27): persekutuan mereka dengan Allah yang mereka alami selama itu dengan Yesus akan menjadi lebih kaya dengan adanya Roh Kudus sebagai Penolong abadi. Damai sejahtera itu akan membantu mereka bersukacita bersama dengan Yesus bahwa Dia pulang ke Bapa-Nya (16:28).

Tiga kali Yesus mengaitkan kasih kepada-Nya dengan ketaatan: “memelihara perintah-perintah-Ku” (15), “memegang perintah-perintah-Ku dan memeliharanya” (21), dan “memelihara firman-Ku” (23). Wujud kasih tergantung pada apa yang dikasihi: mengasihi anak berbeda dengan mengasihi orang tua dalam berbagai aspek. Mengasihi Yesus dengan sejati harus menghitung bahwa Dia adalah Tuhan (Tuan) dan Guru (13:13). Jadi, kita hanya bisa mengasihi Yesus jika kita menempatkan diri sebagai hamba dan murid. Allah Bapa dan Yesus hanya bisa hadir dalam hati melalui Roh Kudus jika hati siap menerima Yesus sebagai Tuan dan Guru. Perintah yang baru saja disampaikan Yesus ialah untuk saling mengasihi dengan cara Yesus mengasihi kita (13:31–35), yaitu dengan kerendahan seperti ketika Yesus membasuh kaki.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Roh Kudus akan membawa hadirat Allah di dalam Yesus Kristus kepada kita yang mengasihi-Nya. Kita diajak untuk percaya kepada janji itu, sehingga kita mendapat kekuatan, belajar dari firman Yesus, dan hidup sebagai Bait Allah yang kudus.

Makna

Bahwa Allah diam di dalam kita melalui Roh Kudus berarti bahwa kita adalah Bait Allah. Hal itu menegaskan pentingnya taat: meremehkan perintah Yesus membuat kita tidak cocok untuk Allah hadir. Tentu, yang dimaksud dengan ketaatan di sini bukan kesempurnaan, melainkan kasih kepada Yesus. Kita mencintai cara Yesus hidup sebagai manusia dan kita peduli akan “apa kata Yesus”, bukan “apa kata orang”, yaitu pandangan dunia. Dalam bahasa Paulus, kita membiarkan diri dipimpin oleh Roh sehingga berbagi dalam kemuliaan Kristus (Rom 8:14–17). Dipimpin oleh Roh berarti memihak keinginan dari Roh (8:7) sehingga mematikan perbuatan yang berasal dari daging (8:13). Jika Yesus dalam perikop kita melihat Roh melawan dunia, Paulus melihat Roh melawan daging. (Kisah menara Babel bisa dilihat sebagai contoh dunia yang melawan Allah itu.)

Secara paling sederhana, janji Roh itu berarti bahwa di dalam pergumulan dan pencobaan, saya menyadari bahwa ada kuasa ilahi yang menolong saya. Kemudian, saya menyadari bahwa Yesus itu dekat, bahwa tuntunan yang dialami murid-murid Yesus juga ditawarkan kepada saya dengan Roh Kudus. Kemudian, saya menyadari bahwa hadirat ilahi itu bertentangan dengan pilihan untuk berdosa. Kuasa ilahi itu akan membantu saya untuk makin rindu hidup seperti yang diperintahkan Yesus. Adalah penting diingat bahwa ini merupakan janji. Roh Kudus hadir bagi semua orang beriman, yang mengasihi Yesus walau dengan tidak sempurna. Jadi, bukan kita mengukur adanya Roh Kudus dengan perasaan kita, tetapi kita percaya akan janji Yesus sebagai dasar untuk menikmati kehadiran Roh Kudus. Kita percaya akan janji Yesus karena kita percaya pada kesaksian murid-murid yang berjumpa dengan Yesus setelah Dia bangkit.

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s