Galatia 1:11-24 “Berjumpa dengan Yesus melebihi adat” [5 Jun 2016]

Penggalian Teks

Kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus pernah memberitakan Injil tentang Tuhan Yesus Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (1:4) sehingga mereka menerima Roh Kudus dan mengalami berbagai mukjizat Tuhan (3:2, 5). Paulus mencirikan Injil ini sebagai Injil kasih karunia (1:6), karena penyerahan Kristus bagi dosa adalah pemberian Allah kepada orang-orang yang tidak layak. Masalahnya, ada yang menyusul datang mengatakan bahwa untuk sungguh dibenarkan di hadapan Allah, orang percaya harus menanggung Hukum Taurat, terutama dengan disunat (6:12–13). Dengan demikian, pemberian Allah di dalam Kristus dipinggirkan untuk sesuatu yang lain (Hukum Taurat) sehingga praktis ditolak dan tidak berlaku lagi (5:4). Seluruh surat mau menanggapi masalah ini. Dalam pp.3–4 dia membuktikan Injil itu dari Kitab Suci, dan dalam pp.5–6 dia menunjukkan bagaimana Roh Kudus menimbulkan perubahan yang diharapkan oleh Hukum Taurat. Dalam 1:11–2:10, dia membela kerasulannya, termasuk dalam kaitan dengan rasul-rasul di Yerusalem yang sepertinya diatasnamakan oleh pengajar-pengajar sesat itu.

Aa.11–12 menjadi dalil Paulus, yaitu bahwa Injil itu berasal dari “penyataan Yesus Kristus” (12). Frase itu bisa berarti “penyataan yang disampaikan oleh Yesus Kristus”, tetapi dalam Kis 9:3–8 tidak ada petunjuk bahwa Yesus mengajar Paulus, sebaliknya Yesus menyatakan diri-Nya kepada Paulus. Dalil itu yang kemudian mau dibuktikan dalam 1:13–2:10. Fokus Paulus adalah membuktikan bahwa dia tidak bergantung pada manusia dalam menerima Injil itu. Tetapi dia juga memberi beberapa petunjuk tentang sifat Injil itu sebagai Injil anugerah, dan juga bahwa Injil itu sama dengan Injil para rasul yang lain.

Aa.13–17 menceritakan panggilan Paulus oleh Allah. Ada beberapa efek dari kesaksiannya. Pertama, dia mengaku maju dalam Hukum Taurat yang dibanggakan pengajar sesat, tetapi hal itu malah membawa dia untuk menganiaya jemaat Allah. Kedua, panggilan Allah atas hidupnya dialami bukan dalam ketaatannya terhadap Hukum Taurat, melainkan ketika Yesus berjumpa dengan dia. Di sini kita melihat sifat Injil sebagai kasih karunia: Paulus dipilih di kandungan ibunya sebelum dia berbuat baik atau buruk, dan dijumpai Kristus ketika dia telah berbuat buruk dengan menjadi musuh Allah. Ketiga, seperti nabi Yeremia yang dipanggil untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, Allah merencanakan kerasulan Paulus sejak dia dikandung. Beda dengan imam dan raja, nabi-nabi dipanggil di luar lembaga-lembaga Israel. Karena dipanggil langsung oleh Allah melalui penyataan diri Yesus, Paulus tidak perlu pergi ke Yerusalem supaya kerasulannya mereka teguhkan. Injilnya tidak bergantung pada mereka.

Aa.18–24 adalah bagian pertama dari soal relasi kerasulan Paulus dan Injilnya dengan Injil rasul-rasul di Yerusalem, yang notabene menjadi murid-murid Yesus langsung. Dalam bagian ini, Paulus tetap menekankan bahwa dia tidak bergantung pada mereka, tetapi ada paling sedikit dua petunjuk bahwa mereka satu haluan. Pertama, dia menumpang limabelas hari bersama dengan Petrus. Kedua, dia mengatakan bahwa mereka memuliakan Allah karena perubahan yang dia alami. Kerasulan dan Injil Paulus tidak sah karena mereka, tetapi tidak juga bertentangan. Hal itu diperjelas dalam 2:1–10, di mana mereka berunding dan bersepakat untuk satu Injil dengan pelayanan masing-masing.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita selayaknya tetap percaya pada Injil yang diberitakan Paulus, karena sumbernya adalah Yesus Kristus. Injil itu melebihi adat istiadat apapun karena memperjumpakan kita dengan Kristus, dan mampu menjangkau bahkan penganiaya seperti Paulus.

Makna

Untuk memberitakan perikop ini dengan jelas, kita perlu memikirkan di mana jemaat ditempatkan di dalamnya. Apakah jemaat ditempatkan bersama dengan Paulus yang dipanggil untuk memberitakan Injil? Usul itu tidak salah, tetapi tema itu lebih cocok untuk 1 Kor 9–10, misalnya. Di sini, kerasulan Paulus yang dipersoalkan, berkaitan dengan Injil apa yang dipercayai. Dalam Gal 2:19–21 Paulus menyampaikan pengalaman hidupnya sebagai contoh, tetapi untuk menjelaskan implikasi dari pembenaran oleh iman, bukan sebagai contoh penginjilan.

Kalau begitu, bagaimana dengan pertobatan Paulus dari agama Yahudi ke iman kepada Kristus? Hal itu jelas menyindir pengajar palsu yang menonjolkan Hukum Taurat, tetapi hal itu bukan masalah sekarang (kecuali kalau Adven atau saksi Jehovah kuat di suatu daerah?). Dalam tradisi Reformasi, Hukum Taurat dijadikan simbol dari usaha manusia untuk menyelamatkan diri. Hal itu benar, tetapi saya mau menawarkan tafsiran yang melengkapi pemahaman itu.

Saya beranjak dari bahasa Paulus yang merelatifkan kepercayaan lamanya sebagai suatu -isme (Yunani: Yudaismos) yang merupakan ‘adat istiadat’ atau tradisi yang diwariskan turun-temurun (Yunani: paradosis). Dalam argumentasi teologisnya, dia menerima bahwa Hukum Taurat berasal dari Allah, tetapi dia menganggap janji kepada Abraham yang digenapi dalam Kristus itu lebih mendasar, sehingga Taurat hanya berlaku sampai iman kepada Kristus (3:15–25). Namun, dalam 4:3, 5, 8–9, dia menyamakan Taurat itu dengan kepercayaan kafir jemaat Galatia sebagai “roh-roh dunia” (4:3, 9) yang memperhamba (bdk. “takluk” 4:3). Menanggung Hukum Taurat adalah kembali ke perhambaan yang lama, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Jadi, Hukum Taurat bisa juga dilihat sebagai simbol adat istiadat yang memperhamba. Dalam konteks kita, “Injil yang lain” adalah berkat melalui adat dan pemali, dengan upacara mati sebagai harapan eskatologis. Perhatikan bahwa Paulus menggambarkan Injil sebagai janji berkat, berdasarkan Kej 12:3, yang digenapi dalam pemberian Roh Kudus karena percaya kepada Kristus (Gal 3:8, 14). Pertanyaan tentang Injil mana yang mau dipercaya dapat juga diajukan sebagai pertanyaan tentang tempat di mana berkat dicari.

Kalau begitu, Gal 1:11–12 mengatakan bahwa hanya ada satu sumber berkat sejati, yaitu Kristus. Aa.13–17 menunjukkan bagaiman bahkan adat yang diberikan Allah tidak membawa berkat itu. Aa.18–24 menunjukkan bahwa berjumpa dengan Yesus tidak bergantung pada lembaga gereja, tetapi lembaga gereja yang sejati akan memuliakan Allah setiap kali ada kehidupan yang dijamah Kristus (24). Injil itu dijamin oleh Paulus yang dipilih Allah untuk menjadi baik teladan anugerah maupun pemberita dari anugerah itu.

Pos ini dipublikasikan di Galatia dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s