Lukas 9:57-62 “Lebih Penting dari Keluarga” [26 Jun 2016]

Renungan ini diperkaya dalam diskusi dengan beberapa rekan pelayan Wilayah II.

Penggalian Teks

Yesus melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem (9:51b), tempat Dia akan menderita, mati, dan dibangkitkan (9:22) selaku Mesias dari Allah (9:20, 35) sebelum Dia diangkat ke surga (9:51a). Yesus sudah memberitahu murid-murid-Nya bahwa mereka juga harus memikul salib (9:23) sebagai jalan menuju hidup (9:24). Cerita pertama setelah Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem ialah penolakan orang kepada-Nya, sehingga mereka harus mencari desa yang lain (9:52–56). Yesus sudah memberitahu keduabelas murid tentang kemungkinan itu (9:5), dan setelah perikop kita Dia mengutus tujuh puluh murid dengan kemungkinan yang sama (10:10–12). Mengikuti Yesus ternyata bukan hal yang mudah, dan dalam perikop kita Lukas memetik tiga perjumpaan orang dengan Yesus untuk memberi gambaran tentang hal itu. Perhatikan bahwa kita tidak diberitahu apakah mereka jadi mengikuti Yesus atau tidak; maksudnya supaya kita yang mendengar firman ini mengambil keputusan kita sendiri.

Dalam setiap perjumpaan ini ada ucapan orang dengan tanggapan Yesus. Ketiga tanggapan Yesus menggunakan gaya bahasa yang berlebihan dengan maksud menggelitik. Sama seperti ucapan-Nya untuk mencungkil mata (Mat 5:29) atau membenci orangtua (Luk 14:26), Dia tidak menyampaikan hukum positif, tetapi Dia mengajukan tantangan yang dimaksud untuk mengungkapkan atau menguji kesiapan hati orangnya. Ucapan-Nya merupakan hikmat, bukan hukum.

Dalam perjumpaan pertama, ada orang menawar untuk mengikuti Yesus “ke mana saja” (57). Yesus mengangkat rubah (Yunani alopex berarti rubah yang dianggap licik, bukan serigala yang dianggap ganas) dan burung sebagai contoh binatang yang memiliki tempat tinggal, yaitu tempat tetap untuk meletakkan kepala (58). Ada usul yang menarik bahwa rubah menyinggung Herodes (bdk. 13:31–32), sementara burung menyinggung orang Romawi (burung bisa merujuk pada orang-orang non-Yahudi, dan burung rajawali menjadi simbol di panji tentara Romawi). Kalau begitu, Yesus membandingkan kondisi warga Kerajaan Allah yang mengembara dengan kondisi kerajaan-kerajaan duniawi yang kelihatan mantap. Bagaimanapun juga, mengikuti Yesus berarti berbagi dalam kondisi Yesus yang berjalan ke Yerusalem dengan selalu berhadapan dengan perlawanan. Hal itu berlawanan dengan kerinduan kebanyakan orang untuk memiliki tempat yang tetap, aman, dan nyaman.

Dalam perjumpaan kedua, Yesus memanggil seseorang yang siap, tetapi mau menguburkan bapanya lebih dulu (59). Jawaban Yesus kasar dalam budaya Yahudi, dan mungkin dalam kebanyakan budaya di bumi (60). Dia menempatkan pemberitaan Kerajaan Allah di atas kewajiban seorang anak untuk menghormati ayah dengan mengurus penguburannya. Tidak dijelaskan apakah bapa itu tua tetapi sehat, sedang sekarat, atau sudah meninggal sehingga yang dimaksud adalah peletakan ulang tulang almarhum setahun setelah kematiannya. Yang terakhir paling masuk akal jika kita mengandaikan bahwa Yesus tidak bermaksud melarang orangnya mengikuti acara penguburan itu. Tetapi kita tetap harus mendengar bahasa Yesus yang kasar itu: orang matilah yang menjadi asyik dengan urusan orang mati. Merupakan kiasan biasa bagi orang Yahudi untuk menyebut orang non-Yahudi sebagai orang mati, tetapi di sini Yesus mengecap orang yang tidak mau bergabung dengan Kerajaan Allah demikian. Sebaliknya, Kerajaan Allah berorientasi hidup. Ucapan Yesus menusuk perasaan kita, dan mengundang pertanyaan, apakah Kerajaan Allah lebih penting bahkan daripada keluarga?

Dalam perjumpaan ketiga, orangnya memohon untuk pamitan dahulu dengan keluarganya. Kita melihat permintaan yang mirip dari Elisa ketika dia dipanggil Elia, dan dia diberi izin bahkan untuk upacara perpisahan yang cukup mega, dengan sepasang lembu sebagai dagingnya (1 Raj 19:19–21). Yesus tidak melarang orangnya pamitan dengan keluarganya, tetapi mengambil gambaran dari kisah Elisa itu untuk mengatakan bahwa mengikuti Yesus berarti melihat ke depan, ke misi Kerajaan Allah itu, bukan mengingat-ingat apa yang ditinggalkan. Kalau dicermati, maksud Elisa juga begitu, karena dia membakar sarana pencarian nafkahnya, baik kedua ekor lembu, maupun bajaknya. Mengikuti Yesus membutuhkan komitmen yang tegas, yang menempatkan Kerajaan Allah di atas hal-hal berharga seperti keluarga.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Mengikuti Yesus dalam misi Kerajaan Allah lebih penting bahkan dari keluarga. Kita ditantang untuk mengambil langkah yang menunjukkan identitas baru kita di dalam Kristus, bukan lagi sebagai anggota keluarga/tongkonan jasmani yang dibantu-bantu Allah, melainkan sebagai anggota keluarga/tongkonan Kristus yang giat untuk kepentingan Allah.

Makna

Pemberhalaan adalah kekeliruan besar dalam PL (Mzm 16:4). Seperti dalam Dasa Titah satu sampai tiga, Allah adalah lebih penting dari semua yang lain, bahkan lebih penting dari diri saya. Bukannya Dia menyatakan diri-Nya kepada manusia untuk menjadi sarana penopang bagi cita-cita kita (entah diri, keluarga, kelompok), melainkan supaya cita-cita kita disesuaikan (dibuang atau diubah) sesuai dengan misi dan rencana Dia.

Pernyataan-pernyataan Yesus dalam perikop kita mempertajam tuntutan itu. Tempat tinggal dan keluarga (keduanya tercakup dalam konsep tongkonan, sama seperti bet dalam bahasa Ibrani dan oikos dalam bahasa Yunani) adalah hal yang baik yang menjadi penghalang bagi misi Kerajaan Allah ketika apa yang baik itu menjadi prioritas utama. Tanpa pemujaan dewa dalam ritus lama adat Toraja, keluarga tetap bisa menjadi berhala. Martabat diri terletak dalam citra keluarga yang tampak dalam upacara-upacara besar; pengharapan untuk hidup terletak pada keluarga. Makanya, norma dan tuntutan keluargalah yang berlaku, misi Kerajaan Allah diberi tempat sejauh mana tidak bertabrakan dengan keluarga yang utama itu. Tantangan Yesus bukan untuk berbuat baik saja (kegiatan keluarga itu baik, pada umumnya), tetapi untuk berbuat apa yang baik bagi misi Allah dalam dunia.

Soal berbuat baik menjadi fokus Galatia 5. Paulus sudah menjelaskan bahwa orang yang percaya kepada Kristus bukan lagi di bawah pengawasan Hukum Taurat. Dalam bagian ini, dia menunjukkan bahwa jika kita hidup oleh Roh Kudus, kita akan memenuhi inti dari Hukum Taurat, yakni kasih. Roh Kudus berlawanan dengan keinginan daging, termasuk cita-cita yang kurang baik. Dengan demikian, pertobatan lebih dari sekadar meninggalkan beberapa kebiasaan buruk; Roh mengubah karakter dan keinginan kita. Dengan demikian, Kristus hidup di dalam kita (Gal 2:19–20) dan kita mencerminkan watak keluarga Allah (Gal 3:26–27). Hal itu pelengkap yang penting bagi penekanan Yesus dalam perikop kita akan prioritasnya misi Kerajaan Allah.

Jadi, ajaran Paulus juga menempatkan keluarga Allah sebagai keluarga yang pokok. Reaksi kita terhadap ucapan-ucapan Yesus mengungkapkan sejauh mana identitas kita masih terletak pada keluarga jasmani kita. Kembali, Dia tidak memberi perintah, dan orang kristen berabad-abad terlibat dalam penguburan orangtua. Namun, pemberhalaan keluarga kuat di kalangan orang Toraja. Walaupun semua dapat melihat pemborosan dalam upacara keluarga yang lain, ada perlawanan yang panas dari banyak keluarga ketika ada usul supaya ritus dalam kalangan sendiri disederhanakan. Menyesuaikan upacara demi Kerajaan Allah adalah salah satu cara untuk menyampaikan bahwa memang Kerajaan Allah yang paling penting. Usul seperti itu dapat menjadi ilustrasi yang mempan untuk mengungkapkan berhala-berhala di dalam jemaat.

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s