Galatia 6:1-10 “Cara dan Hasil Hidup dalam Roh” [3 Jul 2016]

Penggalian Teks

Sudah dua kali Paulus memperingati jemaat tentang sikap mereka: saling menelan (5:15) dan gila hormat (5:26). Sikap itu bertentangan dengan kasih yang merupakan penggenapan hukum Taurat (5:14). Tetapi hukum Taurat bukan solusinya, karena sikap-sikap itu muncul dari daging (5:19–21) yang hanya bisa dilawan oleh Roh (5:16–18a) lepas dari hukum Taurat (5:18b). Perikop kita menyampaikan beberapa langkah supaya jemaat bisa berubah dari kondisi yang rentan pelanggaran (1) menjadi jemaat yang tetap berbuat baik (10).

Paulus mengajukan himbauan kepada “kamu yang rohani”, yaitu, anggota jemaat yang memberi dirinya dipimpin oleh Roh (5:18). Merekalah yang akan mampu mendampingi orang yang berdosa untuk ‘memperbaiki’ mereka (artian harfiah dari LAI “memimpin ke jalan yang benar”). Tugas itu ternyata tidak mudah, karena yang mendampingi bisa juga dicobai, entah oleh dosa yang dibahas, entah oleh pendampingan yang kasar kepada orangnya sehingga tidak lagi menerapkan kasih (1).

Dalam aa.2–5, Paulus mulai dengan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian, dan berakhir dengan tanggungan yang dapat, dan harus, dipikul sendiri. Di antaranya dia membahas soal bermegah (3–4). A.3 langsung menanggapi sikap gila hormat yang menjadi peringatannya dalam 5:26, dan a.4 menyampaikan alternatifnya. Daripada memperbandingkan diri dengan orang yang jatuh ke dalam dosa (“keadaan orang lain”) sehingga menganggap diri berarti, semestinya dia bermegah dalam karya Roh Kudus dalam dirinya, lepas dari perbandingan dengan orang lain. Alasannya (“Sebab”, a.5) karena pekerjaan setiap orang adalah tanggungannya sendiri.

Jadi, aa.2–5 melanjutkan a.1. Dosa dan pendampingan orang berdosa adalah beban yang tidak mungkin dipikul sendirian, sehingga saling membantu dalam tugas itu adalah satu cara untuk saling mengasihi sesuai dengan hukum Kristus (cara menaati Allah dalam terang karya Kristus, dengan kuasa Roh). Tetapi berbuat baik, yaitu dengan dipimpin oleh Roh (5:25), bukan sesuatu yang bisa ditanggung oleh orang lain. Dalam mendampingi orang berdosa, ada bahaya yang besar bahwa kita memegahkan diri dalam perbandingan dengan orang berdosa itu.

A.6 mengandaikan relasi antara pengajar dan pelajar Firman. Firman merujuk pada berita keselamatan; dalam surat ini kita melihat bahwa PL dan ajaran seorang rasul (yang kemudian menjadi PB) adalah sarana utama. Para pengajar barangkali termasuk di antara “kamu yang rohani”, dan Paulus mau supaya pemuridan berdasarkan relasi yang erat berjalan, sebagai sarana supaya makin kentara cara hidup Roh daripada cara hidup daging. Pembagian “segala sesuatu yang baik” (kata “baik” sepertinya hilang dalam LAI) juga adalah contoh menabur dalam Roh (8).

Sebagai puncak dari 5:1–6:10, Paulus memberi peringatan yang keras bahwa Allah tidak dapat dipermainkan (7). Pembenaran oleh iman tidak berarti bahwa dosa tidak penting lagi. Menabur dalam daging atau Roh berarti memihak keinginan daging atau keinginan Roh yang berlawanan itu (5:17). Menabur dalam daging ada akibatnya; kehidupan makin hancur karena dosa-dosa yang dilakukan, dan Roh sebagai sumber hidup yang kekal makin asing dalam pengalaman orangnya (8). Pemahaman itu membawa pemahaman tertentu tentang waktu (kairos). Ada waktu yang diharapkan (bdk. 5:5), yaitu waktu kita menuai hidup yang kekal, yang menjadi motivasi untuk tetap berbuat baik (9). Kemudian, setiap waktu dilihat sebagai kesempatan untuk berbuat baik (10). Paulus tidak membatasi kasih sebagai penggenapan Hukum Taurat pada kalangan sendiri, tetapi jika mereka yang seiman tidak bisa saling mengasihi, adalah percuma berharap mereka bisa mengasihi yang lain.

Jadi, melalui pendampingan, tanggung jawab moral secara pribadi, pengajaran firman, dan kebergantungan pada Roh Kudus, jemaat yang rentan dosa bisa menjadi jemaat yang menggenapi Hukum Taurat, bukan dengan menanggung Hukum Taurat tetapi karena Roh Kudus yang diterima oleh iman.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Paulus menjelaskan cara supaya jemaat dapat menyatakan hidup dalam Roh. Mereka harus saling menolong dalam meluruskan orang yang melanggar. Mereka harus menilai pekerjaannya sendiri di bawah firman Tuhan, bukan membandingkan diri dengan yang lebih lemah. Mereka harus tetap takut akan Tuhan, yang tidak akan meniadakan akibat dari arah hidup, entah menabur dalam daging atau Roh. Hasilnya adalah jemaat yang tekun dalam berbuat baik.

Makna

Satu masalah dalam kekristenan (konteks jemaat di mana beragama kristen itu biasa) ialah anugerah “gampangan”. Orang mendengar pesan tentang pengampunan pelanggaran, dan menyimpulkan bahwa dosa ternyata tidak terlalu masalah bagi Allah. Mereka tidak lagi takut akan Allah karena ancaman hukuman hilang, dan mereka betah dalam kedagingan. Perselingkuhan, jimat, fitnah, dan percekcokan adalah hal-hal biasa yang dianggap kurang, tetapi, toh, ‘kita adalah manusia yang lemah’. Reaksi terhadap sikap seringkali adalah memasang hukum untuk mengendalikan tingkah laku orang. Hukum itu tidak membantu soal keinginan daging, tetapi memberi orang ‘benar’ dasar untuk menghakimi yang ‘salah’. Hal itu justru mendorong adanya saling menelan dan gila hormat; keinginan daging sama-sama muncul dalam orang ‘benar’ dan orang ‘salah’, hanya dengan cara yang berbeda-beda. Sokoguru gereja dengan mudah menjadi orang Farisi baru; gerakan pembaruan menyerang penyakit sosial dan membuat jemaat sakit dalam kesombongan dan kepentingan kelompok; Tata Gereja makin lama makin tebal.

Paulus menawarkan solusi yang lain, yang cocok dengan kemerdekaan yang mencirikan hidup dalam Kristus (5:1). Dia mau orang hidup sesuai dengan kehendak Allah dari dalam, bukan karena ‘apa kata orang’ (bdk. aa.3–4). Allah memang tetapi perlu ditakuti, dan konsep dalam aa.7–8 mirip dengan konsep pemali dalam artian bahwa ada akibat yang buruk dari pelanggaran. Tetapi Paulus membahas akibat itu dalam rangka batin dan relasi, bukan dalam rangka hal-hal yang datang dari luar (seperti hama atau penyakit; hal itu tidak mutlak, karena dalam 1 Kor 11:29–30 ada penyakit sebagai hukuman). Menabur dalam daging berbuahkan kebinasaan sebagai akibat alami, karena mengikuti keinginan daging merusak diri dan merusak relasi di dalam jemaat. Konsep Paulus tentang pembenaran oleh iman tidak berarti bahwa kematian Kristus menghapus akibat alami itu; sebaliknya, pembenaran oleh iman membuka jalan untuk menabur dalam Roh supaya dosa lama yang dihapus itu bisa ditinggalkan dan tidak merusak lagi. Hidup kekal juga bukan upah yang datang dari luar melainkan kelanjutan dari menabur dalam Roh. Menabur dalam Roh berarti sudah mulai menikmati relasi dengan Allah dalam Kristus (lihat Gal 2:19–20) dan relasi kasih dengan sesama. Di dunia baru, tidak ada jimat, fitnah, atau cekcok, sehingga tidak mungkin orang yang menabur dalam daging akan betah di sana. Teganya Allah dilihat dalam hal ini: Dia tidak akan menyesuaikan dunia baru supaya hidup menurut daging ada tempatnya. Manusia yang harus disesuaikan. Bagi orang yang menabur dalam Roh, penyesuaian itu akan membawa kelegaan, dengan tubuh kebangkitan yang lancar dikendalikan oleh Roh (1 Kor 15:42–44). Orang yang menabur dalam daging tidak dapat tahan dalam penyesuaian seperti itu; pikirkan saja kemarahan orang ketika terancam kepentingan jahatnya.

Dengan cara Roh, bukan hukum, kita tidak menghukum dan mengusir orang yang jatuh, tetapi membantu mereka untuk kembali memihak keinginan Roh yang ada dalam dirinya. (Pengucilan adalah langkah terakhir kalau semua usaha yang lain belum berefek.) Tujuannya supaya hati (keingingan, kerinduan, cita-cita) dan relasi pulih, dan dengan demikian mereka bisa kembali bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Galatia dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s