Amos 8:1-8 “Ketidakadilan mengundang hukuman Tuhan” [17 Jul 2016]

Penggalian Teks

Amos bernubuat pada suatu masa kejayaan Israel utara. Israel berjaya secara ekonomi dan politik, tetapi kejayaan itu diperoleh atas penderitaan dan pemerasan orang miskin. Karena kaum atas rajin beribadah dan diberkati secara jasmani, mereka yakin bahwa Tuhan berkenan atas mereka. Amos diutus dari Yehuda, kerajaan Selatan, untuk memperingati orang dalam kerajaan Utara bahwa Allah yang memberkati mereka juga adalah Allah yang tega menghukum mereka kalau seandainya mereka melanggar — dan untuk memberitahukan mereka bahwa mereka sedang melanggar dengan sangat. Dalam 7:10–17, kita membaca bagaimana pemberitaan Amos itu tidak diterima, sehingga 8:1–9:10 menjadi penegasan tentang hukuman yang akan datang itu.

Aa.1–3 menceritakan sebuah penglihatan yang berfungsi sebagai permainan kata: “buah-buahan musim kemarau” (Ibrani: qayits, a.1) mirip dengan “kesudahan” (qets, a.2b). Kesudahan yang dimaksud itu mengerikan. Secara teologis, Allah “tidak akan memaafkan” (‘-B-R) umat-Nya lagi. Selama itu, Allah melewati (artian harfiah ’-B-R itu) umat-Nya, sehingga kesudahan tidak datang. Dengan kedatangan Allah untuk menghukum, pujian akan diganti dengan ratapan karena banyaknya mayat.

Aa.4–7 menjelaskan dasar untuk kesudahan itu. Intinya bahwa para penguasa menindas orang miskin (a.4). Aa.5–6 mengungkapkan isi hati atau motivasi mereka yang sebenarnya, bukan wacana mereka seorang kepada yang lain yang mereka pakai untuk membenarkan budaya penindasan mereka. Jika selama itu Allah melewati mereka, mereka menantikan hari raya lewat (“berlalu” juga dari kata dasar ’-B-R), supaya laba yang merugikan sesama bisa mereka lanjutkan. Ternyata ibadah kepada Allah bukan puncak dari seminggu atau sebulan bekerja, melainkan interupsi pada ibadah mereka yang sesungguhnya, yaitu ibadah kepada laba dan kuasa (5). Selain kecurangan dalam berdagang barang, mereka juga ternyata tega memperdagangkan manusia (6).

Tetapi, bukankah Allah itu Mahapengampun, Mahapengertian? A.7 menegaskan bahwa Dia sama sekali bukan Mahapelupa. Semua penindasan yang mereka lakukan akan diingat, dan hukuman Allah akan menjadi seperti banjir yang mengacaukan segalanya sebelum surut. Ayat-ayat berikutnya menggambarkan dahsyatnya hukuman itu.

Kurang lebih empat puluh tahun setelah Amos membongkar dalih-dalih masyarakat kerajaan Utara (sekitar 760 SM), kerajaan Utara itu dihancurkan oleh orang Asyur (722/1 SM). Hanya 9:11–15 yang memberi petunjuk bahwa di balik hukuman itu akan ada keselamatan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Perikop ini menjadi peringatan bahwa keadilan dalam berdagang dan dalam memperlakukan sesama adalah ciri dari umat Allah yang setia. Kita diajak untuk mengukur motivasi hati bukan dari wacana di dalam pikiran atau dengan sesama, tetapi dari praktek kita di mana saja kita memiliki kuasa. Namun, konteks kita berbeda dari Amos. Keselamatan dalam 9:11–15 sudah terwujud dalam Kristus. Kesudahan belum datang, dan pertobatan masih terbuka. Pengampunan yang sudah digenapi di dalam Kristus memampukan kita untuk bertobat dari praktek-praktek itu.

Makna

Bahkan orang kristen yang saleh mampu mengembangkan wacana yang membenarkan diri. Banyak orang saleh pada abad ke–18 dan ke–19 membenarkan perbudakan orang kulit hitam di Amerika. Ada juga orang saleh yang merasa tega memberi gaji yang rendah sebagai praktek bisnis yang ‘lasim’. Tentu, para pejabat negara yang menyelewengkan uang yang diperuntukkan bagi masyarakat itu sama. Semuanya mengembangkan wacana bersama yang membenarkan diri, tetapi perikop kita mengungkapkan motivasi yang sebenarnya.

Satu cara untuk mencapai pembenaran itu adalah menggeneralisir seruan seperti dalam perikop kita menjadi tentang ‘dosa’ secara umum. Kemudian, yang disebut dosa adalah dosa kalangan orang lain, misalnya: orang miskin mencuri makanan sedikit itu dosa, tetapi kalau orang besar memberi gaji rendah untuk kerja keras buruhnya itu legal dan sah. (Paling sedikit, ketentuan UMP membuat gaji rendah tidak legal.) Seruan Amos yang mengancam kepentingan orang berkuasa dijinakkan dan dialihkan. Kemudian, karena wacana etis di kalangan kita menyoroti dosa orang lain, hati nurani kita merasa kurang lebih nyaman, dan ternyata Anak Allah menderita dan mati di kayu salib sekadar untuk mengampuni beberapa kelemahan kecil dalam kehidupan kita.

Memang, semua manusia telah berdosa (Rom 3:23), terutama karena tidak memuliakan Allah sebagai Allah (Rom 1:21–23). Oleh karena itu, kita semua juga cenderung menyalahgunakan kuasa yang kita miliki atas sesama, besar atau kecil (Rom 1:29–31). Buruh yang ditindas bisa saja melampiaskan sakit hatinya kepada isteri atau anak; orang dalam minoritas yang ditekan saling memperebutkan status di dalam minoritas itu. Hanya, kemakmuran membuat kita makin mudah membenarkan diri seperti di atas, karena berkat jasmani yang mengalir dianggap pembenaran atas gaya hidup kita. Andaikan kita sungguh-sungguh duduk di kaki Yesus daripada sibuk-sibuk dengan pelayanan (Luk 10:38–42), kita akan belajar bahwa Yesus melanjutkan ajaran nabi-nabi yang membongkar dalih-dalih komunal kita. Yesus membenci ketidakadilan, dan dalih-dalih komunal tidak membenarkannya.

Tentu, di dalam kematian Yesus Kristus ada pengampunan (Kol 1:15). Tetapi, pengampunan bukan izin untuk berdosa; karya Kristus bermaksud untuk membebaskan kita dari kuasa kegelapan (1:14) supaya kita bersekutu dengan Allah di dalam Kristus (1:27) dan menjadi dewasa (‘sempurna’, 1:28). Artinya bahwa kita rindu dan makin mampu untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Tuhan, yang di dalamnya tidaklah termasuk ketidakadilan. Hal itu merupakan proses; tidak semua dalih komunal dibongkar begitu orang bertobat. Tetapi orang percaya mampu bertobat, yaitu, mampu mengaku bahwa cara kita selama ini salah sehingga kita mulai berubah. Kita tidak harus membenarkan diri ketika ditegur, karena kita tahu bahwa kita dibenarkan hanya di dalam Kristus. Orang yang bersikeras dalam dalih komunal yang membenarkan penyalahgunaan kuasa menunjukkan apa yang paling penting bagi mereka, yaitu laba dan kuasa (bdk. Mazmur 52).

Pos ini dipublikasikan di Amos dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s