Kol 2:6-15 “Berakar di dalam Kristus, bukan kuasa-kuasa dunia” [24 Jul 2016]

Penggalian Teks

Aa.6–7 ini bisa dilihat sebagai ringkasan dari seluruh surat. Karya dan kodrat Kristus Yesus sebagai Tuhan telah diuraikan dalam 1:13–23. Penerimaan Yesus oleh jemaat dan di seluruh dunia telah disyukuri dalam 1:3–8, termasuk peran pemberita Injil seperti Epafras, dan pelayan Paulus, termasuk pengajaran, diuraikan dalam 1:24–2:5. Gambaran dari ‘hidup di dalam Dia’ sudah muncul dalam doa Paulus (1:9–12), dan akan diuraikan secara lebih terperinci dalam pp.3–4. Yang diuraikan dalam perikop kita adalah bagaimana kita berakar di dalam dan dibangun di atas Kristus itu. Hal itu dimulai dengan peringatan untuk membangun cara berpikir (“filsafat”, a.8), termasuk budaya (“ajaran turun-temurun”), atas dasar Kristus. Kemudian, 2:16–23 memaparkan ajaran sesat yang mencari dasar yang lain, diimbangi dengan cara berpikir di dalam Kristus (3:1–4).

Aa.9–10 menyampaikan bahwa apapun yang menawarkan hidup yang “penuh”, yaitu apapun yang kita anggap keren, berbobot, asyik, layak dikagumi atau ditakuti, yaitu apa yang disebut sebagai “pemerintah dan penguasa” yang mengendalikan sekaligus menopang kehidupan kita, Kristus adalah kepala dari semuanya karena Allah diam sepenuhnya di dalam Dia, seperti sudah dia jelaskan dalam 1:19. Dalam 1:20, bahwa Allah diam di dalam Kristus menjadi dasar untuk pendamaian seluruh dunia; dalam 2:11–15, Paulus menyoroti identitas orang percaya di dalam Kristus. Jadi, berakar dan dibangun atas Kristus pertama-tama berarti menerima Kristus sebagai kepala atas segala yang selama ini menjadi penguasa dan pengendali hidup. Kita mendapatkan kepenuhan di dalam Kristus; semua yang lain adalah filsafat yang kosong, jika ditempatkan sebagai sumber kepenuhan di atas Kristus.

Bagaimana manusia mendapatkan kepenuhan itu? Dalam aa.11–15, Paulus beranjak dari dasar bahwa di dalam umat Allah ada kehidupan yang sejati. Filfsafat dunia bermaksud menawarkan cara hidup yang menghidupkan. Taurat adalah “filsafat” Allah yang menawarkan kepada umat-Nya pengampunan lewat kurban, dan cara hidup bersama yang berkenan di hadapan Allah. Paulus menunjukkan bagaimana di dalam Yesus, Allah menawarkan itu. Dia mulai dengan sunat sebagai lambang keanggotaan umat Allah. Sunat lahiriah diganti dengan “sunat Kristus”, yaitu kematian Kristus pada kayu salib (11). Kristus disunat; orang yang percaya ikut disunat dengan ikut dikuburkan dan dibangkitkan bersama dengan Kristus. Menjadi bagian dari umat Allah dilakukan dengan menjadi bagian dari Kristus. Penguburan terhadap hidup lama ditandai dengan baptisan; orientasi kepada hidup baru terjadi dengan iman kepada kemampuan Allah untuk membangkitkan manusia yang mati (12).

Kemudian, Paulus memperjelas bahwa dasar untuk hidup baru itu ialah penghapusan pendakwaan hukum (13–15). Hukum itu bukan hanya hukum Taurat, tetapi semua hukum dari filsafat yang menjadi penguasa atas kehidupan manusia. Sejauh mana hukum-hukum itu mencerminkan kehendak Allah, ketidakmampuan manusia untuk hidup baik — kematian rohaninya — terungkap olehnya. Tetapi, filsafat itu tidak mampu menghidupkan kembali. Sebaliknya, kematian Kristus meniadakan hukum-hukum itu sebagai sesuatu yang berhak mendakwa dan menghukum. Tuntutannya dipakukan pada salib sehingga dianggap dilunasi oleh kematian Kristus sendiri. Kemudian kebangkitan Kristus melepaskan kuasa yang menghidupkan. Dengan demikian, penguasa-penguasa kehilangan kuasanya. Ternyata mereka tidak bersenjata lagi dengan hak menghukum, dan mereka dibuat malu karena terbongkar ketidakberdayaan mereka untuk menghidupkan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita diajak untuk berakar dalam Kristus sebagai kepala atas semua penguasa, yaitu sebagai satu-satunya Penguasa yang membebaskan dari kuasa dosa dan memberi kita hidup baru.

Makna

Berakar di dalam Kristus berarti membuat kematian dan kebangkitan-Nya sebagai sumber nutrisi dan batu karang kehidupan kita. Dia menjadi kekaguman tertinggi kita, di atas semua penguasa. Dia menjadi sumber identitas: orang percaya melihat dirinya sebagai orang yang diampuni, dilepaskan dari ikatan-ikatan buruk adat dan budaya, dan yang memiliki masa depan karena kebangkitan Kristus. Identitas di sini dilihat sebagai konsep tentang asal usul, tentang masa depan, dan tentang kelompok di mana seseorang mencari solidaritas. Memang manusia termasuk dalam berbagai kelompok yang mendukun kehidupannya dan membawa harapan-harapan tertentu. Tetapi bagi orang percaya, Kristus lebih mulia dan lebih menentukan dari semuanya.

Jadi, akar di dalam Kristus yang menentukan cara hidup, bukan cara hidup yang menentukan apakah saya berakar dalam Kristus. Usaha kita untuk berbuat baik tidak mampu mengalahkan filsafat yang kosong, entah itu budaya seperti materialisme, praktek seperti judi, atau adat yang bermaksud baik tetapi sering merugikan karena dibelokkan oleh dosa. Masyarakat akan keluar dari berbagai “penyakit sosial” ketika mereka menemukan sesuatu yang lebih baik; tugas kita, seperti Paulus, adalah memberitakan Kristus kepada tiap-tiap orang supaya Dia yang terbaik menuntun kita kepada kedewasaan (1:28).

Pos ini dipublikasikan di Kolose dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s