Kol 3:1-11 Kejarlah hidup dan kemuliaan di dalam Kristus [31 Jul 2016]

Penggalian Teks

Paulus sudah menjelaskan keutamaan Kristus (p.1), dan bahwa kita menemukan keberkatan atau kehidupan yang berhubungan dengan Allah karena sudah mati dan bangkit bersama dengan Kristus. Soal mati itu diuraikan dalam 2:20–23, dan Paulus menegaskan bahwa orang percaya telah mati terhadap ‘roh-roh dunia’ (2:20) yang berkaitan dengan peraturan hidup untuk menemukan kesaktian atau keberkatan. Tetapi, jika kita telah mati terhadap cara lama untuk memperoleh berkat, bagaimana cara barunya? Jadi, perikop ini menguraikan implikasi dari kebangkitan kita bersama dengan Kristus (1a). Aa.1–4 menguraikan keberadaan kita di surga bersama dengan Kristus; aa.5–7 pelepasan dosa dalam rangka murka Allah; aa.8–11 pelepasan dosa dalam rangka tujuan Allah akan manusia baru. Aa.12 dst menguraikan lebih terperinci pola hidup baru itu.

Gambaran Paulus dalam aa.1–4 sederhana: Kristus yang bersama dengannya kita dibangkitkan itu duduk di sebelah kanan Allah. Kelestarian hidup kita terpusat pada Kristus, aman bersama Dia di surga (3). Kemuliaan kita — bobot kita sebagai manusia sehingga keberadaan kita berarti — tersimpan dengan Kristus dan akan dinyatakan kelak (4). Manusia selalu mau maju dalam hal-hal yang dianggap menentukan dalam soal kelestarian hidup dan kemuliaan (termasuk citra dan penghargaan). Cara yang tepat dicari; pemahaman untuk lebih berhasil di dalamnya dipikirkan. Jadi, kalau hidup dan kemuliaan kita berada di dalam Kristus, kita akan mau mendalami “segala harta hikmat dan pengetahuan” yang tersembunyi di dalam Kristus supaya kita hidup sesuai dengannya.

Dalam aa.5–11, menjadi jelas bahwa perlawanan antara perkara di atas dan di bumi bukan soal di mana kita bertindak, tetapi bagaimana kita bertindak di bumi. Juga, perlawanan itu bukan soal jiwa melawan raga. Hawa nafsu adalah masalah jiwa yang duniawi (5); berkata jujur kepada sesama orang percaya adalah tindakan tubuh yang surgawi (9). Orang yang duniawi mencari kelestarian hidup dan kemuliaan di dalam dunia; orang yang surgawi mencari hal-hal itu di dalam Kristus yang ada di surga (tetapi akan kembali dari sana kelak). Kedua-duanya mengungkapkan dasar hidup mereka dalam tingkah laku mereka di bumi.

Secara harfiah, a.5a berbunyi, “Karena itu, matikanlah anggota-anggota yang di bumi”; “yang di bumi” itu memang sama dengan akhir a.2. “Anggota-anggota” barangkali dipakai seperti dalam Rom 6:11 untuk merujuk pada tubuh manusia yang menjadi sarana dosa. Terjemahan LAI bisa memberi kesan bahwa proses mematikan itu menyangkut batin saja (“dalam dirimu”), tetapi bahasa Paulus itu mengandaikan bahwa mematikan dosa itu akan menyangkut baik motivasi dan perasaan, maupun tindakan. Lima cara anggota tubuh berdosa disebutkan (5b). Yang pertama melanggar batas pernikahan, yang terakhir melanggar pengutamaan Allah sebagai sumber hidup, dan ketiga di tengah menggambarkan kenajisan batin yang terbawa oleh nafsu. Paulus mengajukan dua alasan mengapa kekacauan seperti itu mau dimatikan. Pertama, kekacauan itu merusak apa yang sakral di hadapan Allah (sekualitas dan penyembahan hanya kepada dia) sehingga menimbulkan murka Allah (6); hal-hal itu tidak cocok dengan dunia yang akan didirikan ketika Kristus kembali, sehingga harus disingkirkan. Kedua, jemaat pernah mengalami buruknya hidup seperti itu (7). Maksud Paulus bukan bahwa sekali jatuh kembali ke dalam hal-hal itu, orang percaya masuk neraka. Sebaliknya, mencari hal-hal di atas berarti bekerja sama dengan rencana Allah untuk menyingkirkan hal-hal itu. Allah menghapusnya dari dunia melalui proses hukuman; kita mematikan dan membuangnya dalam diri kita melalui pertobatan.

Aa.8–11 beralih dari hukuman Allah ke tujuan Allah, yaitu suatu manusia baru yang tidak terbagi-bagi oleh adat, keberadaban (orang Barbar dan Skit berada di luar peradaban kekaisaran), ataupun kedudukan sosial (11). A.8 menambahkan lima dosa yang merusak relasi antar-manusia. Semua dosa dalam a.8, dan juga soal berdusta dalam a.9, lebih mudah dilakukan kepada orang yang dianggap rendah, dan manusia lama menggunakannya untuk meninggikan diri atas orang lain. Tetapi di dalam Kristus semua memiliki kedudukan yang sama, ditandai dengan seragam Kristus yang dikenakan, dan gambar Allah dalam semua orang yang percaya kepada Kristus sedang diperbaiki (10). Mendustai (dan memarahi dsb) sesama orang percaya adalah menghina gambar Khalik yang melekat padanya.

Jadi, Kristus berada di surga bukan supaya kita melarikan diri dari dunia ini, tetapi sebagai penjamin bahwa manusia baru yang sedang dikerjakan di dalam jemaat adalah masa depan dunia ini, sehingga kita menanggalkan praktek manusia lama. Karena kita menganggap Kristus lebih mulia, dan melihat masa depan kita di dalam tangan-Nya, kita rindu untuk menanggalkan manusia lama yang najis dan merusak itu. Proses itu adalah usaha kita (“matikanlah”) sekaligus karya Allah di dalam diri kita (“diperbaharui”).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kristus adalah sumber kelestarian hidup (termasuk tidak dimurkai Allah) dan kemuliaan yang sejati (sebagai manusia baru). Oleh karena itu, kita sudah asyik dengan Kristus dan karya-Nya bagi kita, walaupun hal-hal itu baru akan dinyatakan kelak, dan kita berusaha untuk menolak hal-hal yang menyakiti hati Allah dan merusak persekutuan dengan sesama percaya.

Makna

Mungkin saja ada keasyikan dengan karya Kristus yang menjadi pelarian, tetapi hal itu masalah segelintir orang dalam konteks kita. Untuk sebagian jemaat, Kristus adalah lambang identitas saja, dan Allah berada untuk membantu mereka dalam cita-cita mereka. Yang menjadi jaminan kelestarian hidup dan/atau sumber pencariaan kemuliaan adalah pekerjaan atau keluarga. Bagi mereka, pertobatan berarti keluar dari beberapa kebiasaan buruk. Kesia-siaan pola itu disoroti dalam ketiga bacaan yang lain untuk minggu ini.

Bagi Paulus, Kristus harus menjadi substansi identitas kita, bukan embel-embel saja. Di atas saya mengartikan “hidup” sebagai kelestarian hidup, dan menyoroti kemuliaan, sebagai dua hal yang jelas mengarahkan kehidupan banyak orang. Kemudian, ada suatu visi tentang rencana Allah bagi dunia ini yang kita terapkan dalam cara hidup yang makin mendekati manusia baru, yakni Kristus. Hal-hal itulah yang harus disampaikan kepada jemaat, bukan sekadar “coba lebih baiklah”, jika kita mau menunaikan tanggung jawab kita untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan (kedewasaan) dalam Kristus (1:28).

Pos ini dipublikasikan di Kolose dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s