Ibrani 11:1-16 Iman yang menyenangkan Allah [7 Ag 2016]

Penggalian Teks

Dalam Ibrani 3–4, penulis mengangkat perjalanan Israel di padang gurun menuju tanah perjanjian sebagai peringatan untuk para pendengarnya (surat ini dimaksud untuk diperdengarkan, bukan dibaca): “mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka” (3:19). Jika Allah adalah pangala tondok Israel yang membawa mereka ke tempat baru untuk mendirikan sebuah tempat perhentian dengan aluk (adat/Taurat) baru, Yesus sebagai Anak Allah adalah pangala tondok (3:1–6) yang memimpin umat orang percaya ke dunia baru (2:5, 10). Makanya, pengalaman Israel di padang gurun dapat berfungsi sebagai peringatan bagi kita. Di akhir penguraian itu, penulis menjelaskan bahwa Kristus adalah juga Imam Besar yang akan memberi orang percaya pertolongan supaya mencapai tujuan eskatologis itu (4:16). Pp. 5–10 menguraikan pelayanan Kristus sebagai Imam Besar, dengan kesimpulan bahwa kita memperoleh status kudus yang tidak pasang surut untuk mendekati Allah (10:19–22), asal “kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup” (10:31). Jadi, iman adalah cara kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Yesus itu.

Ada beberapa langkah dalam uraian penulis. Dia meletakkan dasar dalam aa.1–3, dengan definisi tentang iman yang akan dijelaskan melalui cerita-cerita nenek moyang, dan yang dasarnya adalah Allah sebagai Pencipta. Kemudian penulis menjelaskan iman sebagai jalan untuk berkenan di hadapan Allah (4–7). Kemudian dia mengangkat perjalanan Abraham (bdk. perjalanan Israel dalam pp.3–4) untuk mengatakan bahwa iman merindukan janji Allah di atas janji dunia ini (8–16). Aa.17–31 menambahkan orang-orang yang bertindak atas dasar hal-hal yang tidak kelihatan. Kemudian, penulis menyimpulkan kejayaan orang yang beriman (32–35a), dan penderitaan orang beriman (35b–38) yang dihina oleh dunia, tetapi sebenarnya dunia yang mendapat malu (38a). Kesimpulannya penting: janji yang mereka percayai belum mereka terima, karena semuanya akan ditepati bersama dengan orang yang percaya kepada Kristus (39–40).

Definisi penulis dalam a.1 menimbulkan berbagai tafsiran, tetapi terjemahan LAI cukup tepat. Kata “dasar” sebaiknya diartikan sebagai “substansi” (artian filosofis dari hupostasis), dan maksudnya bahwa dengan iman kita mulai berbagi dalam apa yang diharapkan. Dengan demikian, iman menjadi bukti akan apa yang tidak dilihat. Dalam agama tradisional, ritus menjadi bukti akan apa yang tidak dilihat, baik adanya roh dan dewa, maupun harapan akan kesuburan. Uraian berikutnya menjelaskan bagaimana iman dapat berperan demikian: yang tidak kelihatan itu tampak dalam kehidupan tokoh-tokoh beriman yang disaksikan dalam Kitab Suci (a.2). Dasar teologisnya muncul dalam a.3, yang belum berbicara tentang iman nenek moyang, yaitu penciptaan. Sebagaimana akan dilihat dalam tokoh-tokoh PL, orang beriman percaya bahwa Allah yang menciptakan dunia dari yang tidak kelihatan mampu untuk menepati janji tentang dunia baru yang belum kelihatan.

Habel, Henokh, dan Nuh menunjukkan bahwa manusia berkenan di hadapan Allah karena iman (4–7). Habel dibunuh, Henokh malah diangkat ke surga tanpa mati, tetapi mereka semua berkenan di hadapan Allah karena iman. Penulis menjelaskan bahwa dua aspek dari iman yang membuatnya diperlukan. Pertama, iman percaya bahwa Allah yang tidak kelihatan itu ada. Kedua, iman percaya bahwa Allah itu menawarkan apa yang baik kepada orang yang mencari Dia (6). Kisah Nuh menegaskan bahwa upah Allah itu berharga, yaitu keselamatan ketimbang hukuman. Nuh percaya pada apa yang belum kelihatan (air bah) sehingga dia menyelamatkan keluarganya dan membongkar kejahatan manusia yang lain (7).

Kisah Abraham membuat penjelasan penulis lebih tajam lagi. Abraham adalah bapa orang percaya (2:16) dan penerima sumpah Allah yang digenapi di dalam Kristus (6:13–20). Aa.8–9 memperlawankan status Abraham sebagi ahli waris dengan kondisi riilnya sebagai orang asing. Oleh iman, hal itu bukanlah masalah bagi Abraham, karena yang dia dambakan ialah kota Allah yang teguh. Apa saja kondisinya dalam kehidupan ini, baik atau buruk, tidak sebanding dengan upah yang terbaik itu (a.10, bdk. a.6). Aa.11–12 mengangkat soal keturunan yang banyak, yang walaupun tidak dilihat oleh Abraham, diketahui oleh penulis dan pendengarnya. Allah menciptakan umat-Nya dari apa yang tidak kelihatan, yaitu pasangan yang menjelang maut.

Dalam aa.13–16, penulis sampai pada kesimpulan sementara: yang pokok dari iman mereka ialah kerinduan. Penulis menegaskan bahwa meskipun janji Allah tidaklah menjadi kelihatan selama mereka hidup (13), dan apa yang kelihatan adalah terjangkau (15), namun mereka memilih untuk menjadi pendatang di dunia ini karena janji Allah begitu lebih baik (12). Pengharapan akan janji Allah lebih berharga bagi mereka daripada wujud duniawi. A.16 mengembangkan a.6. Orang yang mencari Allah merindukan upah, yaitu tanah air surgawi yang tawarkan Allah. Allah tidak sekadar berkenan, tetapi malah bangga disebut Allah mereka, karena apa yang dirindukan itu memang sudah dipersiapkan. Iman mereka telah menangkap janji Allah sedemikian rupa sehingga janji itu menjadi kenyataan yang mengarahkan kehidupan orang beriman itu. Iman adalah cara mereka mulai berbagi dalam apa yang diharapkan; iman menjadi bukti, wujud nyata, dari apa yang tidak kelihatan itu.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Iman yang memampukan orang bertahan: percaya kepada Allah Pencipta yang dapat mewujudkan janji yang belum kelihatan; merindukan dunia baru itu di atas dunia sementara ini; dan melangkah sesuai dengan apa yang tidak kelihatan itu. Kita diajak untuk percaya dan rindu demikian, supaya hidup kita menjadi bukti dan kesaksian akan janji Allah itu. Dengan demikian, kita mulai mengalami dan menikmati realita mendatang itu, terutama bahwa Allah bangga menjadi Allah kita.

Makna

Judul LAI untuk p.11 adalah “saksi-saki iman”. Sebenarnya, yang pertama-tama bersaksi dalam p.11 ialah Allah melalui Kitab Suci (a.2 & a.39). Namun, iman mereka berbicara kepada kita (a.4b). Dengan demikian, iman adalah bukti, bukan untuk orangnya sendiri, melainkan bagi orang lain yang bisa menangkap apa yang tidak kelihatan dari cara orang beriman itu hidup. Dengan demikian, orang beriman memang bisa disebut saksi (seperti dalam 12:1), karena cara hidup mereka bersaki tentang janji Allah itu.

Hal itu penting dalam budaya yang masih berpikir konkret. Monoteisme agak sulit ditangkap dalam budaya yang demikian, karena jika Allah menciptakan segala sesuatu, tidak ada hal-hal konkret, seperti berhala atau upacara atau mimpi dari almarhum, yang mencirikan Allah itu. Lebih lagi, kurban PL yang juga konkret telah diganti dengan persembahan diri Yesus dalam Bait Allah di surga (9:24). Aliran filsafat yang berpendidikan pada zaman penulis kitab Ibrani sudah biasa menjadikan rasio sebagai bukti akan hal-hal yang tidak kelihatan, dan penulis agaknya tergolong orang terpelajar. Namun, kepada para pendengarnya dia menawarkan bukan argumentasi filosofis melainkan kisah-kisah orang beriman (berpuncak pada Kristus, 12:2–3). Mereka telah diakui oleh Allah dalam Kitab Suci, dan mereka memperlihatkan realita yang tidak/belum kelihatan dalam kehidupan mereka.

Namun, yang inti tidak sekadar percaya pada adanya Allah. Lebih penting — dan menantang — ialah kerinduan akan apa yang dijanjikan Allah itu. Kota surgawi, yang digambarkan sebagai upacara besar-besaran dalam 12:22–24, begitu lebih menarik daripada kediaman duniawi sehingga mereka siap mengabaikan yang duniawi itu supaya memperoleh yang surgawi. Setelah menguraikan karya Kristus yang begitu mempesona, taktik penulis untuk membangun kerinduan itu adalah melalui kisah-kisah orang yang rindu dalam iman. Kerinduan itu yang mulai menggabungkan kita dengan kenyataan yang kita harapkan itu.

Pos ini dipublikasikan di Ibrani dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ibrani 11:1-16 Iman yang menyenangkan Allah [7 Ag 2016]

  1. Ping balik: Lukas 6:43-45 Hati yang berbuah [14 Ag 2016] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s