Amsal 25:1-7 Berdiri di tempat hina Raja Yesus [28 Ag 2016]

Penggalian Teks

A.1 menjadi judul pada koleksi amsal yang ditambahkan pada pp.10–24 pada zaman raja Hizkia. Aa.2–7 berbicara tentang raja-raja: aa.2–3 tentang rahasia hati raja; aa.4–5 tentang orang fasik sebagai sanga (campuran yang mengurangi kemurnian logam); aa.6–7 tentang hormat sebagai sesuatu yang diterima, bukan diraih.

Dalam aa.2–3, ada perbandingan antara Allah dan raja-raja. Ams 24:21–22 menyamakan kedua pihak itu sebagai yang berkuasa mutlak atas kehidupan manusia sehingga perlu disegani dan ditaati. Tetapi a.2 membedakannya. Allah adalah Raja yang menciptakan seluruh Kerajaan-Nya, dan Dia dikagumi karena atas kemauan-Nya saja Dia merahasiakan atau menyatakan hal-hal itu kepada manusia. Itulah kemuliaan Allah yang berdaulat mutlak. Sebaliknya, raja-raja di bumi adalah manusia saja. Raja manusiawi juga harus mengenal kerajaannya, tetapi hal itu menuntut penyelidikan kuat. Mereka dimuliakan ketika mampu mengungkapkan atau membongkar hal-hal yang tersembunyi. Hikmat Salomo adalah contoh baik dari usaha untuk mengungkapkan hal-hal yang dirahasiakan Allah dalam tatanan ciptaan-Nya. A.5 menyebutkan kefasikan orang-orang tertentu sebagai sesuatu yang perlu dibongkar supaya disisihkan. Dengan demikian, raja jauh di bawah Allah. Tetapi, dilihat dari perspektif masyarakat, hati raja manusiawi tetap tidak terduga, sama seperti hati Allah (a.3).

Aa.4–7 berbicara tentang istana, tentang orang-orang di sekitar raja (bangsawan, penasihat) yang berpengaruh pada kebijakan raja dan bersaing untuk kemuliaan yang terpusat pada raja (aa.2–3). Bisa saja niat raja untuk memerintah dengan adil (“kebenaran”) dibelokkan oleh penasihat yang mencari kepentingan yang sempit (5). Hal itu melemahkan takhta raja sama seperti kecemaran merusak keindahan perak (4). Dengan demikian, kemuliaan raja dinodai.

Kemuliaan raja terpencar kepada orang-orang di sekitarnya, dan hal itu tergambar dengan posisi orang ketika ada pertemuan atau kumpulan orang. Hal itu muncul karena kedekatan secara jasmani memberi kesempatan untuk memohon atau memberi nasihat, dan juga untuk membunuh. Jadi, kedekatan menjadi tanda kepercayaan oleh raja dan pengaruh terhadap raja. Karena raja adalah mulia (pusat kerajaan), maka kedekatan itu menandakan kedudukan atau status. Aa.6–7 seakan-akan memberi nasihat bagi seseorang yang baru muncul dalam pertemuan di istana. Kata “berlagak” berasal dari kata yang berarti “memberi hormat” (hadar), dalam bentuk yang di sini menunjukkan bahwa hormat itu diberi kepada diri sendiri (hitpael). Jadi, dari dua artian kata “berlagak” dalam KBBI, yang dimaksud oleh LAI ialah “menyombongkan diri”, bukan “berpura-pura”. Dengan mengambil posisi yang dekat raja, orangnya mengaku memiliki kedudukan tertentu (6). Taktik itu bisa saja berhasil dalam konteks tertentu, tetapi di hadapan raja yang adil dan mampu menyelidiki sesuatu, orang yang tidak menyodorkan diri akan dihormati (“naiklah ke mari”), dan pelagak akan direndahkan (7). Raja yang mulia mengatur kehormatan orang di bawah dengan baik; warganya yang baik siap menerima keputusannya, walaupun keputusan itu tidak terduga (3).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Raja semestinya mengatur kerajaannya supaya hormat diberikan kepada orang secara adil. Oleh karena itu, cara terhormat untuk dihormati raja adalah mengambil tempat yang rendah dan percaya kepada raja untuk ditinggikan. Hal itu berlaku lebih lagi untuk Tuhan sebagai Raja; dan lebih lagi pula ketika Raja itu mati hina pada salib.

Makna

Mazmur 112 memuji Tuhan karena Dia membagikan hormat kepada orang yang benar dan menyisihkan orang fasik. Yesus juga berbicara tentang Kerajaan Allah dalam Lukas 14:7–14. Dia berbicara dalam konteks persaingan hormat di depan sesama orang berada, bukan di hadapan raja. Yang diperebutkan bukan berkat dari atas (raja) melainkan pengakuan yang menentukan dalam timbal-balik (balas-membalas) kehidupan sosial. Nasihat Yesus dalam 14:11 mengingatkan kita akan nasihat Ams 25:7 tadi, bahwa merendahkan diri adalah jalan menuju hormat yang sejati. Tetapi dalam 14:12–14, Yesus membawa kita kembali ke Raja ilahi yang dapat membangkitkan orang mati. Menghormati orang tersisih akan mendapatkan kehormatan dari Allah. Kita memiliki pilihan: mengejar pembalasan dari sesama manusia dengan memandang muka, atau mengejar pembalasan dari Tuhan dengan menghormati orang yang tidak akan menguntungkan kita dalam dunia ini (14:15–24). Pilihan itu dipertajam ketika Yesus bergabung dengan orang tersisih dan terhina dengan mati pada salib. Menurut Ibr 13:12–14, mencari hormat dari Kristus berarti menanggung kehinaan-Nya.

Amsal 25:1–7 tetap merupakan nasihat yang berguna tentang masalah menyombongkan diri. Orang fasik mencari kedudukan yang lebih untuk menjalankan kefasikannya, tetapi orang benar menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Tetapi di hapadan Raja Yesus, semua itu memiliki makna yang dalam: kita siap menanggung kehinaan Kristus di luar perkemahan. PNS siap dihina karena berlaku adil; Ambe’ Tondok siap dihina karena melayani kepentingan orang rendah; pendeta siap dihina karena memanggil orang besar juga untuk bertobat; ibu siap dihina karena mengarahkan anak-anaknya ke Sekolah Minggu daripada pergi ke tempat judi. Semuanya berharap pertama-tama kepada Kristus sebagai Raja, sehingga tidak bergantung pada pembalasan dari manusia.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Amsal 25:1-7 Berdiri di tempat hina Raja Yesus [28 Ag 2016]

  1. Bryant berkata:

    Tuhan Yesus Kristus selalu memberkati dan memberikan semangat dalam memberitakan Firman Tuhan.

    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s