1 Timotius 1:12-17 “Anugerah bagi manusia yang tidak layak” [11 Sep 2016]

Penggalian Teks

Paulus menulis surat untuk menguatkan Timotius dalam tugas berat untuk menangani ajaran sesat di Efesus (1:3), sesuatu yang sudah dinubuatkan Paulus sendiri ketika dia bertemu dengan para penatua jemaat (Kis 20:25–35; banyak tema dalam ucapan Paulus yang juga muncul dalam 1 Timotius). Paulus mengungkapkan akar masalah dalam 1:3b–4: ajaran yang tidak bermuara pada hidup yang tertib berdasarkan iman. Hidup itu berpola kasih yang dipelajari dari Injil (1:7, 10b–11), bukan berpola ketaatan kepada Taurat sebagai hukum positif, walaupun Taurat tetap berfungsi untuk memberitahu orang berdosa di mana hidup mereka melanggar kasih itu (1:9–10a). Perikop kita menyampaikan sifat Injil itu sebagai anugerah melalui pengalaman Paulus sendiri. Paulus kemudian menegaskan bahwa Timotius harus menunaikan tugas itu dengan cara yang juga Injili (“dengan iman dan hati nurani yang murni”, 1:18–20).

Kata “anugerah” dalam bahasa Indonesia berarti pemberian dari “pihak atas … kepada pihak bawah” (KBBI). Kata kharis dalam bahasa Yunani mempunyai inti makna yang sama. Dalam budaya Yunani, pemberian yang demikian dianggap mengungkapkan sikap berkenan, dan semestinya dibalas paling sedikit dengan rasa syukur. Jadi, kata kharis dipakai juga untuk sikap yang berkenan itu (yaitu, “kasih karunia” dalam terjemahan LAI), serta ucapan syukur itu. Dalam a.12, “Aku bersyukur” secara harfiah berbunyi “Aku memiliki kharis”; cara mengucap syukur dalam bahasa Yunani itu adalah dengan mengaku sebagai penerima sebuah anugerah, dalam hal ini, sebuah pemberian dari Allah yang merupakan pihak paling atas.

Pemberian dari Allah itu memiliki beberapa aspek. Kristus Yesus menguatkan Paulus, menghargai Paulus (“menganggap setia”), dan melibatkan Paulus dalam urusan-Nya (12). Paulus dikasihani sebagai orang yang tidak berdaya keluar dari kesalahannya karena tidak beriman (a.13b; ketidaktahuan tidak membuat dosa Paulus ringan saja, tetapi membuat Paulus tidak mampu menyelematkan dirinya), dan dibekali dengan apa yang dibutuhkan untuk tugasnya, yaitu iman dan kasih (14). Penghargaan, pengasihan, dan pembekalan semuanya termasuk dalam anugerah. Sama seperti dalam budaya Yunani (dan kita), anugerah Allah menciptakan relasi timbal-balik yang menuntut kesetiaan dari yang di bawah dan pembekalan dari yang di atas.

Yang khas dengan anugerah Allah ialah bahwa anugerah itu diberikan kepada “seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas” (13). Pada umumnya, para pembesar memberikan anugerah kepada orang yang tidak berdaya tetapi ada layaknya sedikit, entah potensi, entah penyesalan, entah usaha sendiri. Allah memberikan anugerah iman dan kasih kepada seorang musuh yang bukan hanya tidak layak melainkan selayaknya dihukum dan dibinasakan. Anugerah yang melawan kelayakan itu menjadi penegasan Paulus dalam aa.15–16. Kristus Yesus datang justru untuk orang berdosa (15), dan sebagai orang yang paling berdosa Paulus menjadi contoh akan kesabaran Kristus bagi semua orang berdosa selanjutnya yang akan percaya dan menerima hidup kekal sebagai anugerah pengganti hukuman kekal.

Pujian Paulus dalam a.17 juga menjadi contoh untuk kita ikuti. Allah dipuji sebagai Allah yang terlibat sebagai Raja dalam segala zaman ciptaan-Nya, dari penciptaan awal sampai penciptaan baru. Sebagai Raja, Dia telah berkenan menyelematkan para pemberontak seperti Paulus dan manusia berdosa lainnya. Pada saat yang sama, Dia adalah Allah yang transenden, yang tidak kelihatan dan tidak terkurung oleh waktu (“kekal”), satu-satunya Allah yang layak disembah. Tanpa transendensi itu, Allah akan kurang mampu membekali kita; tanpa keterlibatan-Nya sebagai Raja yang penuh kasih karunia, kebesaran Allah mengancam, bukan membawa pengharapan. Respons kita di sini adalah hormat dan kemuliaan. Karena Allah adalah sumber anugerah hidup, pengampunan, dan hidup baru, kita memberi Dia hormat di atas segala sumber hidup yang lain (seperti pemerintah atau keluarga). Karena Allah itu Raja yang kasih-Nya dan kuasa-Nya tiada taranya, kita terpesona dengan kemuliaan-Nya di atas semua yang lain yang mempesona (seperti upacara keluarga besar atau upacara pemerintahan yang ramai dan gemilang). Dengan demikian, iman yang dicetus oleh anugerah bermuara pada hidup tertib yang berpola kasih.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Paulus menggambarkan anugerah Allah dalam hidupnya sebagai hal yang tidak hanya melibatkan dan memberdayakannya, tetapi juga diberikan kepadanya padahal dia layak dihukum. Ajaran itu yang menjadi dasar hidup beriman, dan Paulus mau membawa kita untuk menghormati dan memuliakan Allah di atas segala pemberi yang lain.

Makna

Kedua bacaan PL menyoroti ketidakberdayaan manusia untuk keluar dari dosa. Israel sebagai bangsa segera membuat berhala ketika Musa naik ke gunung (Kel 32), dan bahkan Daud sebagai raja yang berkenan di hadapan Allah melanggar dengan berat (Mzm 51). Dalam Kel 32:7–14, Musa mengingatkan Allah akan tujuan-Nya untuk menyelamatkan Israel, dan pengharapan akan pengampunan menjadi dasar doa Daud itu (Mzm 51:9). Pergaulan Yesus dengan orang-orang berdosa juga menunjukkan bagaimana Allah mau menawarkan anugerah kepada orang yang sama sekali tidak layak (Luk 15:1–10).

Dunia Barat menjadi bingung tentang anugerah ketika ajaran sola gratia dari Reformasi dipertajam pada arah yang keliru secara teologis oleh filsuf Imanuel Kant (atau para penerusnya selanjutnya; saya bukan ahli tentang Kant sendiri). Dia menekankan bahwa sebuah tindakan baru etis ketika dimotivasi oleh kebaikan dari tindakan itu sendiri, bukan karena kebiasaan saja atau karena ada sesuatu yang diharapkan di dalamnya. Ditafsir secara ekstrim, seseorang semestinya bertindak sekarang lepas dari kisah hubungannya dengan orang lain: dia tidak membalas kejahatan dan tidak membalas budi baik; juga dia tidak mengharapkan balas budi dari penerima tindakannya. Dengan demikian, muncullah individu yang serba otonom, bukan manusia yang berada dalam jaringan relasi.

Ketika konsep itu diterapkan kepada Allah, Allah tidak lagi mengharapkan pertobatan manusia sebagai balas budi kasih Kristus pada salib yang mengharukan itu; Kant memang jauh lebih menekankan Allah sebagai penunjuk jalan yang diikuti oleh manusia yang berasio. Dengan demikian, muncullah anugerah murahan; pemberian Allah mau diterima tetapi relasi dengan Allah ditolak. (Itulah salah satu penyebab kristen KTP.) Tetapi kita sudah melihat bahwa anugerah Allah disertai kerinduan Allah yang besar, yaitu hidup manusia yang tertib berdasarkan iman (1 Tim 1:4), awal dari hidup yang kekal (16).

Pertobatan bisa dipahami sebagai kesadaran bahwa kerinduan Allah itu bukan pamrih, seakan-akan kita rugi jika pengharapan Allah akan pembaruan kita dipenuhi, melainkan pengharapan kita juga. Memberi hormat dan kemuliaan kepada Allah adalah pertanda bahwa kita sudah menangkap anugerah Allah kepada kita dalam semua aspeknya.

Pos ini dipublikasikan di 1 Timotius dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s