Amos 6:1-7 “Merasa Aman tetapi Hidup Mewah” [25 Sep 2016]

Penggalian Teks

Amos adalah orang dari kerajaan selatan, biasanya disebut Yehudah (terdiri atas bani Yehuda dan Benyamin), yang berkhotbah kepada kerajaan utara, biasanya disebut Israel (terdiri atas kesepuluh bani yang lain), mungkin 30–40 tahun sebelum kerajaan utara dihancurkan oleh orang Asyur (722 SM). Zaman raja Uzia di Yehuda dan raja Yerobeam di Israel menjadi masa yang makmur, karena politik internasional relatif damai mengurangi kerugian perang dan menambahkan keuntungan perdagangan. Masalahnya, kemakmuran itu diiringi dengan ibadah kepada ilah-ilah asing yang membenarkan kemerosotan moral, termasuk pemerasan orang miskin oleh kaum atas.

Perikop kita meyoroti kaum atas itu, baik dari Yehuda (Sion) maupun Israel (Samaria). Mereka adalah orang terkemuka dari bangsa yang pada saat itu berjaya di antara bangsa-bangsa yang lain. Mereka merasa aman, tetapi Amos berseru “Celaka!” atas diri mereka (1–2). Mereka merasa jauh dari malapetaka, tetapi Amos memanggil mereka (“Hai kamu”) untuk memahami rusaknya hidup mereka (3–6) dan menyatakan isi dari kecelakaan mereka, yakni pembuangan (7).

Rasa aman diangkat dalam a.1, dan a.2 menyampaikan beberapa contoh kota yang pernah seteguh Israel, tetapi sekarang tidak berjaya lagi. Contoh-contohnya adalah kota-kota yang ditaklukkan oleh Israel dan Yehuda. Yang mereka menganggap sebagai bukit kejayaan mereka semestinya dilihat sebagai peringatan. Aa.4–6a menggambarkan kemewahan mereka: gading adalah bahan yang sangat mahal untuk sebuah tempat tidur; mereka dapat makan daging terus-menerus; hari-hari mereka dihabiskan dengan rekreasi; dan bahkan minyak yang dipakai untuk mencuci rambut itu yang paling mahal. Hanya, kemewahan itu adalah akibat dari pemerintahan kekerasan, bukan pertanda perkenan Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya lebih cocok minyak itu dipahami dalam rangka berduka atas “hancurnya keturunan Yusuf” (6b), kehancuran yang sedang terjadi secara rohani, dan akan bermuara pada kehancuran negara (7).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah akan menjungkirbalikkan keadaan orang percaya yang merasa aman dan hidup mewah sementara orang yang semasyarakat (satu sistem sosial) dengan mereka terjebak dalam keterpurukan.

Makna

Apakah ucapan Amos, “pemerintahan kekerasan”, akan diterima oleh para pembesar Israel? Apakah semua yang hidup mewah itu terlibat aktif dalam merampas orang kecil? Bukankah kemewahan mereka adalah berkat Tuhan untuk disyukuri? Dalam konteks kita sekarang, Amos justru akan dituduh “menghakimi”, mengenakan penilaian yang jelek terhadap motivasi semua orang kaya itu, padahal hanya Tuhan yang tahu hatinya. Tetapi tuduhan Allah melalui Amos bukan tentang hati, tetapi tentang sistem kuasa yang membenarkan diri dengan teologi semu, dan membius dengan kemewahan anggota-anggota kaum atas terhadap penderitaan kaum bawah. Lihat saja murka yang merasa diri sangat benar yang keluar dari para pembesar yang kepetingannya ditusuk oleh seorang seperti Ahok.

Namun, Amos tidak menuduh bangsa-bangsa di sekitarnya karena tidak adil; dalam pp.1–2, Allah menuduh bangsa-bangsa karena kejahatan yang berlebihan. Melalui Amos, Allah menuduh umat-Nya sendiri yang sudah memiliki hukum Taurat yang menuntut keadilan bagi seluruh umat, yang kecil maupun yang besar. Apakah gereja sebagai umat Tuhan sekarang luput dari tuduhan Amos? Budaya amplop yang berkembang di gereja sepertinya memiliki fungsi yang sama — atau memang amplop itu biasanya diberikan kepada kaum bawah, bukan kepada yang sudah memegang kuasa dalam jemaat dan masyarakat? Hati kita tenang-tenang saja karena semua dibenarkan oleh sistem yang berlaku, tetapi sistem itu yang menempatkan Tuhan di bawah uang, dan sistem itu yang membawa kita kepada kehancuran. Mungkin saja kita menganggap bahwa gereja lagi berjaya, sementara kita buta akan dorongan ilah lain (uang) yang sebenarnya menentukan apa yang kita lakukan.

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus ternyata dalam kondisi itu: dia merasa nyaman karena tidak pernah memperhatikan Lazarus yang miskin, tetapi akhir dari kehidupannya yang mewah itu neraka (Luk 16:19–31). Nasihat Paulus kepada orang kaya melanjutkan kedua aspek utama dari pemberitaan Amos: pengandalan Allah (1 Tim 6:17), dan penggunaan uang untuk kebajikan bagi sesama (1 Tim 6:18). Tentunya, dosa-dosa itu ikut ditanggung Yesus pada salib, sehingga bahkan seorang Zakheus dapat menikmati keselamatan (Luk 19:1–10). Tetapi Zakheus pun mendukung apa yang dikatakan Paulus: pengeluaran uang demi sesama adalah bukti utama bahwa kita mengandalkan Allah, bukan rasa aman dalam hati nurani.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Amos dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s