Lukas 17:5-10 “Iman yang tidak Berdalih” [2 Okt 2016]

Penggalian Teks

Dalam penceritaan Lukas, Yesus mulai mengajar murid-murid-Nya dengan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (16:1), tetapi reaksi orang Farisi yang tersinggung (16:14) ditanggapi dengan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang menunjukkan bahwa uang bukan jaminan berkat Allah (16:19–31). Dalam Luk 17:1, Yesus kembali berbicara kepada murid-murid-Nya dengan dua perkataan yang berat: bahayanya menyesatkan orang-orang kecil (17:1–2), dan perlunya mengampuni berulang kali jika orang yang ditegur menyesal (17:3–4). Menjadi murid Yesus berarti memahami bahwa uang tidak berguna, menanggung tanggung jawab yang besar terhadap orang yang dianggap tidak penting, dan mengadakan pengampunan yang melampaui keraguan dan kekesalan terhadap orang yang berulang kali melanggar.

Makanya, murid-murid Yesus memohon penambahan iman (5); mereka sadar akan beratnya ajaran Yesus ini. Ada dua jawaban Yesus. Pertama, Dia mengundang mereka untuk menggunakan iman yang ada, yang ternyata sudah cukup (6). Pohon ara adalah pohon yang besar, dan secara alami tidak dapat ditanam di laut. Tetapi bahkan yang semustahil itu dapat diatasi dengan iman yang paling kecil. Kedua, Yesus adalah Tuhan mereka, sehingga mereka tidak usah berdalih tetapi cukup melaksanakan ajaran-Nya saja (7–10). Tidak ada pujian ketika seorang percaya menjaga diri untuk tidak membuat orang berdosa, atau mengampuni sesama terus, karena demikian kewajiban kita sebagai hamba Tuhan. Tentu juga, iman yang berkuasa itu adalah iman yang bekerja untuk apa yang diperintah Allah.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Iman sejati bukan soal besar kecilnya, tetapi soal iman itu bergerak dalam ketaatan kepada Yesus sebagai Tuhan.

Makna

Perkataan Yesus dalam perikop kita tergolong keras, karena menantang daripada menghibur. Perumpamaan tentang hamba yang semestinya menganggap dirinya tidak berguna itu merendahkan kinerja hamba itu. Hal itu dapat dibandingkan dengan perumpamaan tentang talenta, yang di dalamnya tuan itu mengucap, “Baik sekali perbuatanmu itu”, atau Luk 12:37, di mana tuan yang kembali dari upacara justru melayani hamba-hamba yang setia menantikannya. Jadi, Luk 17:10 dalam perikop kita bukan satu-satunya gambaran tentang sikap Yesus terhadap kita, hamba-hamba-Nya. Yesus di sini khususnya menanggapi hama-hama iman: ketakutan, pengandalan diri, dan mengasihani diri sendiri. Kurang lebih, demikian juga tujuan Paulus kepada Timotius dalam 2 Timotius 1.

Yesus tidak menuntut sesuatu yang tidak Dia lakukan. Dia menuju salib dalam ketaatan yang penuh kepada Bapa-Nya, dan iman bahwa Allah akan membangkitkan Dia dari antara orang mati. Dalam doa-Nya di taman Getsemane, Dia tidak memohon supaya dikasihani, tetapi supaya dikuatkan. Dia melangkah dalam iman karena keyakinan-Nya bahwa Allah mampu menggenapi janji-Nya. Iman seperti itu yang diuraikan dalam Mzm 37:1–6 juga, pada level kehidupan sehari-hari.

Tantangan Yesus penting dalam budaya kekristenan yang melihat Allah sebagai penopang diri sendiri, bukan sebagai Tuhan yang mulia di atas keluarga, karir, dan uang. Berbuat baik sedikit, dan sebagian orang sudah merasa benar. Yang sama dalam semua perumpamaan tadi ialah bahwa hamba Yesus hidup bagi Tuhannya, bukan untuk dirinya sendiri. Melayani Dia sudah cukup; bahwa nanti ada pujian bagi hamba yang setia adalah anugerah saja.

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Lukas 17:5-10 “Iman yang tidak Berdalih” [2 Okt 2016]

  1. Yaya Rundupadang berkata:

    Terimakasih ulasannya, bahwa Iman bukan tentang besar Kecia, tetapi mengerjakan dengan that, Puang Yesu dipakala’bi’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s