2 Timotius 2:8-13 “Ingatlah Yesus Kristus” [9 Okt 2016]

Penggalian Teks

Surat 2 Timotius ini ditulis oleh Paulus kepada anak rohaninya Timotius ketika Paulus sadar bahwa sebentar lagi dia akan mati (4:6), barangkali oleh keputusan pengadilan Romawi (4:16). Dia mulai dengan menguatkan Timotius dalam kebenaran Injil (1:1–18), dan kemudian berpesan kepada Timotius untuk melanjutkan pelayanan Injil itu kepada orang lain (2:1–26, lihat 2:2 “orang-orang yang dapat dipercayai” yang termasuk “mereka” dalam 2:14). Setelah beberapa gambaran tentang sikap seorang pelayan (2:3–7), dalam perikop kita Paulus meringkas Injil yang diteruskan itu.

Kata “Injil” (euanggelion) berarti kabar baik yang penting untuk seluruh dunia. Jadi, kata itu merujuk pada peristiwa (“Sang Kaisar mempunyai seorang putera”), bukan kebenaran umum (“Allah itu baik”), dan peristiwa yang bermakna bagi semua, bukan bagi kelompok kecil saja. Peristiwa yang diumumkan dalam Injil Paulus yaitu kebangkitan Yesus dari antara orang mati; peristiwa itu penting bagi semua manusia karena menggenapi janji-janji Allah dalam PL akan pembaruan dunia melalui seorang anak Daud (a.8; lihat 3:14–15 untuk pentingnya PL sebagai saksi tentang Kristus). Yesus Kristus, Anak Daud, datang dan mengalahkan bukan penguasa duniawi secara duniawi, melainkan maut sebagai musuh terbesar manusia.

Karena berita itu penting bagi semua manusia, Paulus tidak mempersoalkan banyaknya penderitaannya sebagai pemberita Injil, bahkan bahwa dia diperlakukan sebagai seorang penjahat. Yang penting, firman Allah itu tetap dapat disiarkan (9). Injil itu menawarkan kemuliaan yang kekal yang jauh melampaui kehinaan penjara, dan Paulus rindu supaya keselamatan di dalam Kristus yang dia nikmati itu boleh juga dinikmati orang-orang yang dipilih Allah (10).

Isi Injil dan sikap Paulus sebagai pelayan Injil ditopang dengan syair yang barangkali lasim di jemaat (11–13). Ketiga baris pertama berbicara tentang awal, kelanjutan, dan akhir hidup orang percaya (“kita”). Baris pertama mirip dengan Rom 6:8 yang berbicara tentang perubahan status yang terjadi satu kali saja ketika seseorang bergabung dengan Kristus, sebagaimana ditandai dalam baptisan (Rom 6:2–4). Dasar perubahan status itu kematian dan kebangkitan Kristus. Orang percaya telah mati (tens aorist) terhadap hidup lama supaya hidup bersama dengan Kristus sekarang. Baris kedua memakai tens presen yang cocok dengan kondisi sementara, yaitu perlunya orang yang telah mati dengan Kristus untuk bertekun dalam iman (bdk. 2:3–7). Janji untuk memerintah dengan Kristus adalah bagian kita dalam pemulihan kuasa Adam yang dirusak oleh dosa (bdk. Why 22:5b, misalnya). Baris ketiga memakai tens futur, dan merupakan peringatan. Sama seperti Yesus dalam Mat 10:33, akibat dari penyangkalan Kristus ialah disangkal oleh Kristus. Dari contoh Petrus pada pengadilan Kristus, kita mengerti bahwa maksud Kristus bukan soal satu kali menyangkal, tetapi orientasi hidup. Pada akhir kehidupan seseorang, dilihat dari arah hidupnya apakah dia menyangkal Yesus atau tidak.

Baris keempat melanjutkan tema itu, karena “tidak setia” mirip dengan “menyangkal” (13). Hanya, dalam baris ini syair mengatakan bahwa Kristus “tetap” setia, bukan “tidak setia”. Ada sebagian penafsir yang menyamakan kesetiaan Kristus ini dengan penyangkalan dalam a.12b, sehingga baris keempat ini merupakan penegasan dari peringatan dalam baris ketiga. Hanya, setahu saya (dan beberapa penafsir yang lebih tahu), kata setia (pistos) tidak biasa dipakai untuk niat menghukum, hanya untuk niat menyelamatkan. Kemudian, tensnya dalam baris keempat ini kembali presen, cocok dengan kondisi sementara. Jadi, kita bisa menafsir, “Jika pada akhir hidup kita, jelas dari arah hidup bahwa sebenarnya kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; tetapi jika kita sementara tidak setia, Dia tetap setia memulihkan kita, karena tujuan dan janji-Nya ialah menyelamatkan semua orang percaya”. Jadi, ada peringatan, tetapi juga penguatan bagi kita yang sementara lemah bahwa Kristus akan tetap bekerja untuk memulihkan kita.

Hal itu juga merupakan penguatan bagi Timotius sebagai pelayan, bahwa menegur orang yang keliru dan sesat bisa saja ada hasilnya (lihat 2:14).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Berita tentang Yesus Kristuslah yang menjadi dasar untuk bertekun dalam kehidupan beriman dan pelayanan. Kematian dan kebangkitan-Nya menjadi patron untuk pertobatan, ketekunan, dan kesetiaan kita, serta penguatan ketika kita gagal. Jadi, mengingat Kristus adalah kunci untuk menjadi pelayan dan jemaat yang baik. Di dalam Dia ada keselamatan dan kemuliaan yang tidak akan hilang dengan kematian.

Makna

Satu-satunya perintah dalam perikop ini ialah “Ingatlah Yesus Kristus”. Memang benar bahwa hal itu mendorong Paulus untuk memberitakan firman supaya orang-orang pilihan Allah selamat, tetapi jika jemaat kita belum biasa mengingat Kristus, mereka belum siap menjadi pembawa berita tentang Kristus. Dengan kata lain, jika mereka belum merasakan kemuliaan di dalam Kristus, mereka akan tetap mempromosikan duit, gengsi, dan citra keluarga dalam pesta daripada mempromosikan Kristus.

Aa.11–13 meringkas implikasi Injil Paulus untuk orang percaya, dan semestinya mendapat porsi besar dalam khotbah kita, entah sebagai penjelasan akan misi Kristus yang di dalamnya kita mengambil bagian, entah untuk mengajak kita mencari kemuliaan yang kekal. Semangat memuji Allah dalam Mazmur 111 cocok juga untuk karya Allah di dalam Kristus.

Baris pertama: A.11b berbicara tentang pertobatan yang sejati: kita telah mati terhadap upacara dan rumah (dan amplop) besar sebagai tujuan hidup, supaya kita menikmati kehidupan yang sederhana bersama dengan Kristus. Kedua cerita tentang orang kusta (2 Raj 5; Luk 17:11–19) menggambarkan perubahan itu: kondisi kita berubah dari yang najis menjadi tahir.

Baris kedua: Pada prinsipnya, kematian dengan Kristus itu kejadian satu kali saja (makanya simbolnya, baptisan, tidak boleh diulang), tetapi kita perlu bertekun di dalamnya (2 Tim 2:12a), sama seperti Paulus menekuni (LAI: sabar menanggung) segala sesuatu (10a). Pemerintahan-Nya yang di dalamnya kita akan berbagi itu dialami sekarang sebagai kuasa untuk menjadi hamba-Nya yang sejati dengan melawan dosa (Rom 6:11–12).

Baris ketiga/keempat: Bagi orang-orang pilihan Allah, disangkal Kristus adalah penolakan yang paling ditakuti, jauh di atas penolakan keluarga (2 Tim 2:12b). Tetapi lemahnya kesetiaan kita tidak membatalkan kesetiaan Kristus yang telah mati bagi kita (13).

Demikianlah Injil yang mendasari hidup yang sungguh mulia sampai kekal: masa lampau duniawi disalibkan; masa kini diperjuangkan dengan Kristus; masa depan dipergantungkan hanya pada kesetiaan Kristus.

Pos ini dipublikasikan di 2 Timotius dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s