Lukas 18:9-18 Menjadi seperti orang berdosa dan anak [23 Okt 2016]

Penggalian Teks

Lukas 17:20–37 berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang membedakan, artinya, ada yang selamat, ada yang dihukum. Perumpamaan berikut (18:1–8) berbicara tentang kerinduan Allah untuk membenarkan umat pilihan-Nya yang tertindas. Pada akhir cerita itu, Yesus bertanya, “jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (18:8). Kemudian, ada tiga cerita yang sepertinya menjelaskan soal iman itu. Orang Farisi itu beriman kepada kesalehannya sendiri (18:11–12), dan orang kaya itu beriman kepada kekayaannya (18:22–23). Hanya pemungut cukai yang imannya seperti seorang anak, yaitu, merendahkan diri (18:14b).

Perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dialamatkan kepada orang yang “menganggap dirinya benar” (bisa juga “mengandalkan dirinya sebagai orang benar”) dan “memandang rendah semua orang lain” (9). Yesus menceritakan dua orang, yang satu jelas benar, yang satu jelas tidak benar (10). Orang Farisi itu berlaku adil terhadap sesama (11) dan juga taat kepada Allah (12). Yesus tidak mempersoalkan penilaian itu. Sebaliknya, pemungut cukai mengaku sendiri bahwa dia tidak layak di hadapan Allah. Dan memang begitu; dia adalah pejabat yang korup dan memeras orang kecil. Tetapi keputusan Allah kebalikan dari kenyataan itu. Orang Farisi mungkin menganggap bahwa dia merendahkan dirinya di hadapan Allah, tetapi sikapnya terhadap orang lain bercerita lain. Tidak ada rendah hati di hadapan Allah bersama dengan sombong di hapadan manusia. Sebaliknya, si pemungut cukai sadar akan kondisinya yang sangat rendah di hadapan Allah sehingga mengandalkan kemurahan Allah semata-mata.

Soal kerendahan muncul dengan anak-anak yang dibawa. Mereka adalah brefos, yaitu anak yang masih menyusu. Anak-anak kecil seperti itu sudah serendah mungkin, sepenuhnya bergantung pada ibunya untuk bisa bertahan hidup. Mereka dibawa kepada Yesus untuk dijamah, yaitu, diberkati (bdk. Mrk 10:16). Para murid tidak setuju (15b). Kata “memarahi” (epitimao) berarti menegor dengan keras untuk menghentikan sesuatu. Mengapa mereka keberatan tidak dijelaskan, tetapi jika kita berangkat dari 18:14b, mereka menganggap bahwa tidak pantas kalau Yesus berurusan dengan anak.

Sikap mereka terhadap seorang brefos mengungkapkan sikap hati mereka yang sebenarnya. Alhasil, Yesus sangat keberatan terhadap mereka (16). Dengan paralelisme yang tegas — “biarlah mereka datang … jangan menghalangi mereka” — Yesus mau menerima anak-anak itu. Justru anak-anak itu yang memiliki sifat anggota-anggota Kerajaan Allah. Implikasinya ialah bahwa cara masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah menjadi seperti anak kecil itu.

Kata brefos menarik karena menutup tafsiran yang merujuk pada sifat yang diklaim untuk anak, seperti kepolosan atau kerendahan hati. Seorang bayi belum sampai sombong atau tidak, tetapi kerendahannya adalah sesuatu yang objektif. Pemungut cukai itu juga tidak mengada-ada dengan menyesali dosanya, dia sadar akan keadaannya yang sebenarnya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus mendorong kita untuk bergantung hanya kepada Allah dengan menjadi sadar bahwa kita adalah orang berdosa sama seperti yang lain, dan bahwa kita tidak berdaya membantu diri sendiri, sama seperti anak kecil. Dia mengangkat sikap kita terhadap koruptor dan anak kecil sebagai ukurannya.

Makna

Alangkah enaknya andaikan kita bisa merendahkan diri di hadapan Allah dengan kata dan dengan perasaan, sementara kita masih bebas untuk memandang rendah anak, bawahan, koruptor, pengacau masyarakat, dsb. Perasaan bahwa saya polos, tangisan dalam ibadah di hadapan Allah, dan sandiwara-sandiwara yang lain bukan petunjuk yang andal tentang kondisi kita; hanya bagaimana kita bersikap terhadap dan memperlakukan orang-orang yang dianggap remeh, entah karena kecil seperti anak, entah karena jahat seperti koruptor. Sikap yang ditunjukkan Yesus bukan menganggap mereka baik-baik saja seperti kita, tetapi memahami bahwa kita juga tidak berdaya seperti anak kecil, dan lepas dari kuasa Allah yang terus-menerus kita juga busuk seperti koruptor; kemampuan dan perubahan yang ada pada diri kita bukan milik kita tetapi pemberian Allah.

Tentunya, ketidakberdayaan kita tidak persis seperti anak kecil, dan kebusukan kita tidak persis seperti orang yang tega merugikan orang miskin. Tetapi, mungkin kita ditolong jika kita mengingat bahwa tingkah laku yang paling membuat kita marah dalam diri orang lain seringkali mencerminkan kelemahan dalam diri kita sendiri. Saya kesal terhadap orang yang tidak tepat waktu, tetapi saya sendiri sering terlambat; saya bersuara dengan berapi-api terhadap perselingkuhan, tetapi mata saya berkeliaran terus. Jadi, kritik saya terhadap orang lain adalah titik awal kesadaran diri. Kemudian, kita mengamati sikap kita terhadap koruptor dan bertanya, apakah saya tidak pernah memilih pelayanan berdasarkan amplop, atau cemburu kepada rekan pelayanan yang di tempat “basah”? Setelah diberi mobil dinas dan tunjangan-tunjangan besar oleh majelis, mampukah saya mengungkapkan dosa-dosa majelis itu dengan tegas dari firman Allah?

Sama halnya, sebuah kemajelisan yang mengabaikan pelayanan anak sudah terjamin menjalankan pelayanan yang mengutamakan gengsi dan memihak orang besar, betapa kemampuan mereka untuk berdoa di konsistori. Yesus mengamati tutur kata dan tindakan yang muncul dari hati, bukan pengakuan diri di depan sesama.

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s