Yes 35:1-10 Dikuatkan oleh Pengharapan [11 Des 2016]

Penggalian Teks

Yesaya 28–35 berbicara tentang hukuman dan keselamatan Allah, dengan Yes 34 sebagai hukuman terhadap bangsa-bangsa. Yes 34:9–17 memberi gambaran tentang alam yang sudah dikuasai maut dan tidak lagi layak untuk manusia. Pasal 35 ini menjawab dengan janji keselamatan bagi Israel. Padang gurun akan berubah (1–2) sebagai persiapan untuk pembalasan oleh Allah untuk menyelematkan umat-Nya (3–4); orang dan tanah akan pulih (5–7) sehingga ada jalan raya untuk umat Allah pulang dengan sukacita (8–10).

A.10 diulang pada 51:11, sehingga sebagian besar penafsir menafsir perikop ini berkaitan dengan pulangnya Israel dari pembuangan ke Babel, seperti dalam pp.40 dst. Kalau begitu, padang gurun yang bergirang adalah padang gurun yang ada di antara Israel dan Babel. Sebagai sarana untuk pembebasan umat Allah, padang gurun itu akan diberi semarak seperti beberapa tempat yang terkenal (1–2; Libanon terkenal karena pohon-pohon aras, salah satu kayu yang istimewa; Saron dan Karmel adalah dua daerah yang subur). Kesuburan baru padang gurun itu digambarkan sebagai kegirangan; dalam a.10 kita melihat ada manusia yang menyatakan kegirangan itu.

Janji itu menjadi latar belakang untuk menguatkan orang-orang Israel yang memperhatikan nubuatan ini (4). Dasar penguatan itu adalah tindakan Allah yang akan menyelamatkan melalui pembalasan (5). Sejauh keselamatan itu dari pihak yang menindas, entah Firaun, Babel, atau Iblis, keselamatan mengandaikan ketegasan Allah terhadap pihak itu.

Keselamatan itu digambarkan sebagai penyembuhan manusia (5–6a) dan pemulihan alam (6b–7). Keempat hal yang disembuhkan bisa ditafsir sebagai masalah jasmani, dan juga sebagai kiasan untuk masalah rohani, seperti tuli terhadap firman Allah (Yes 29:18), atau malas bergerak (lumpuh) dan bersyukur (bisu). Alam itu diubah dari tempat yang sulit didiami menjadi tempat yang subur dan segar. Yang menarik, pemulihan alam itu diangkat sebagai alasan (“sebab”) untuk penyembuhan manusia: yang baru dilihat ketika mata dibuka adalah alam yang menimbulkan sorak-sorai, bukan ketandusan dan kegersangan.

Padang gurun yang dipulihkan itu menjadi jalan raya untuk Israel pulang (8–10). Jalannya kudus: hanya orang yang layak mendapat tempat di atasnya (8), dan mereka dilindungi dari segala bahaya (9). Sama seperti dalam kitab Keluaran, rombongan Israel ini dibebaskan dari seberang sebuah padang gurun untuk berjumpa dengan Tuhan (Allah hadir di gunung Sinai kemudian di Kemah Suci dalam kitab Keluaran, kemudian di Bait Allah di atas bukit Sion pada zaman Yesaya dst). Kemuliaan padang gurun di awal perikop itu menjadi gambaran dari kemuliaan perjumpaan dengan Allah oleh orang-orang yang dibebaskan dari pembuangan itu; kemuliaan itu diiringi oleh sorak-sorai dan sukacita yang abadi (10).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita dikuatkan untuk menempuh jalan keselamatan dengan pembaruan oleh Roh Kudus dan pengharapan akan dunia baru.

Makna

Dalam perikop ini, pulangnya Israel dan pemulihan dunia terjadi serentak. Namun, ketika pulangnya Israel diceritakan dalam kitab Ezra, tidak ada penyembuhan orang (5–6a), pemulihan alam (6b–7), jalan raya (8), atau sukacita abadi (10); sebaliknya yang mereka mengalami ialah banyak keluh kesah. Hal itu tidak dianggap meniadakan janji Allah dalam nubuatan ini; janji itu ditunda saja. Adalah menarik bahwa silsilah Matius tidak menyebutkan pulangnya Israel (Mat 1:12–16), seakan-akan pembuangan itu masih berlangsung sampai zaman Yesus. Kemudian, Yesus menyinggung a.5 dari perikop kita untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dinantikan itu (Mat 11:3). Dia memang menyembuhkan orang secara jasmani, tetapi hal itu juga menjadi simbol dari hal-hal rohani (misalnya, orang buta dalam Yohanes 9). Namun, pemulihan alam semesta belum terwujud dalam pelayanan-Nya; ternyata hal itu masih kita nantikan (Rom 8:18–25). Jadi, Ibr 12:12 menerapkan seruan dalam a.3 untuk jemaat yang dia tujukan. Pengharapan akan penggenapan nubuatan ini menjadi dasar untuk bersabar dalam kondisi yang buruk (Yak 5:7–11).

Makanya, perikop ini dipahami secara eskatologis: janji Allah ini mulai digenapi di dalam Yesus Kristus, dan kita masih menantikan penuntasannya. Dalam kitab Ibrani 3–4, perjalanan Israel di padang gurun adalah gambaran dari hidup yang mengikuti jalan yang dipelopori Yesus. Ada beberapa implikasi dari pehamaman itu untuk kita. Yak 5:7–11 sejajar dengan a.4 dari perikop kita: pembalasan Allah yang sudah dekat menjadi alasan untuk bertekun. Ibr 10:14 menyimpulkan bahwa oleh pengorbanan Yesus, kita pasti akan dibawa di atas Jalan Kudus sampai selamat (9). Ibr 12:4–11 juga menyampaikan bagaimana Allah sebagai Bapa menggunakan kesusahan sekarang untuk mendewasakan kita anak-anak-Nya.

Tema pemulihan (1–2, 5–7) juga ada penggenapannya dalam PB. Roh Kudus adalah pembawa berkat Allah bagi kita sekarang (Gal 3:14) dan jaminan akan penuntasannya ke depan (Ef 1:14). Dengan kuasa Roh Kudus, kita mulai dipulihkan, dan kita menjadi lebih mampu melihat kemuliaan dan janji Allah di tengah kebobrokan dunia ini.

Hal terakhir: penafsiran ini bukan “perohanian” perikop Yesaya yang menyepelekan tubuh, karena Roh menghidupkan tubuh kita untuk menjadi persembahan yang hidup (Rom 8:11; 12:1). Jalan mengikuti Yesus adalah jalan tubuh, bukan hanya jalan di dalam hati. Yang berubah ialah tempatnya. Kita tidak berjalan dari Babel ke Yerusalem, ataupun berkeliling di Galilea. Kita menuju dunia baru di mana saja kita berada, dengan diperbaharui oleh Roh Kudus dan dengan sukacita akan pengharapan sukacita abadi.

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s