Yes 7:10-17 Percayalah pada pertanda Tuhan [18 Des 2016]

Penggalian Teks

Yesaya bernubuat di Yehuda (kerajaan Selatan) selama zaman pemerintahan beberapa raja (1:1). Dia dipanggil pada tahun kematian raja Uzia (6:1, 740/739 SM). Kurang lebih lima tahun kemudian, ketika Ahas baru mulai mengambil alih kendali pemerintahan dari ayahnya Yotam, Israel (kerajaan Utara) dan Aram (daerah Suriah sekarang) menyerang Yehuda karena Yehuda tidak mau bersekutu dengan mereka untuk melawan Asyur. (Ahas malah menjadikan Yehuda sebagai negara vasal dari Asyur; lihat 2 Raj 16:7–9.) Dalam Yes 7:1, kita diberitahu bahwa penyerangan itu tidak berhasil (demikian juga 2 Raj 16:5); fokus narasi ini adalah (kurangnya) iman raja Ahas sebelum hasil itu terjadi. Bahwa Yehuda gemetar wajar saja (7:2), tetapi melalui Yesaya, Allah memberitahu Ahas bahwa sebentar lagi Israel dan Aram akan hancur (7:3–9a). Oleh karena itu, Ahas disuruh untuk percaya sehingga teguh (7:9b).

Untuk menguatkan (atau menguji?) iman Ahas, Tuhan kemudian menawarkan pertanda yang akan ditentukan oleh Ahas sendiri (11). Ahas menolak tawaran itu, dengan alasan yang kelihatan saleh, yaitu untuk tidak mencobai Tuhan (12). Ul 6:16 memang memperingati Israel demikian, dengan merujuk pada peristiwa di Masa. Pada saat itu, menghadapi kekurangan air, Israel mempertanyakan apakah Tuhan hadir di tengah-tengah mereka (Kel 17:7). Andaikan Ahas sungguh saleh, dia akan mengaminkan hadirat Tuhan dengan menjawab bahwa sebuah pertanda mubasir karena dia sudah percaya pada janji Allah melalui Yesaya itu. Tetapi, dia tidak hanya menolak untuk mencobai Tuhan, dengan minta tolong ke Asyur dia juga menolak untuk mengandalkan Tuhan. Dia gagal percaya, seperti sudah dikira dalam 7:9b itu.

Jawaban Yesaya adalah jawaban hukuman. Ahas (serta keluarga Daud) dituduh melelahkan Allah (13), tetapi Allah tetap menyediakan pertanda bagi Ahas (14a). Pertanda ini dari satu segi biasa-biasa saja, yaitu kelahiran putera yang menandakan bahwa hanya dalam waktu beberapa tahun, Israel dan Aram akan ditinggalkan kosong (14b–16). Hanya namanya yang luar biasa: anak ini akan menjadi pertanda akan hadirat Tuhan (Imanuel = “Allah menyertai kita”) yang ditolak Ahas itu. Oleh karena Ahas tidak percaya, dia “tidak teguh jaya” (7:9), sehingga hadirat Tuhan pertama-tama dialami Yehuda dalam hukuman (17). Upeti yang diberikan Ahas kepada Asyur menjadi satu langkah lagi dalam kemerosotoan kejayaan Yehuda yang akhirnya bermuara pada pembuangan ke Babel.

Anak Imanuel itu ternyata adalah anak Yesaya sendiri (8:1–4), tetapi setelah hukuman Allah atas Israel, kita membaca tentang seorang putera yang lain yang akan lahir. Putera itu akan menjadi seorang keturunan Daud yang kebalikan dari Ahas: bijak, kuat, damai, dan adil (9:5–6). Sebagai “Allah yang Perkasa”, Dia akan membawa hadirat Allah ke tengah-tengah umat-Nya, bahkan ke tengah-tengah umat manusia.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus, Sang Imanuel yang lahir dan bangkit dan akan menyertai kita sampai pada akhir zaman, adalah wujud janji Allah yang memampukan kita berdiri teguh jaya di hadapan ancaman.

Makna

Mazmur 80 menyampaikan kerinduan Israel dalam pembuangan supaya Allah memulihkan mereka melalui orang yang Dia pilih (80:18–20). Anak yang diharapkan itu yang lahir dari keturunan Daud menurut daging (Rom 1:3), dan yang merintis zaman Roh ketika dibangkitkan (1:4). Injil Matius mulai dengan silsilah yang menempatkan Yesus sebagai jawaban Allah terhadap pembuangan Israel (Mat 1:17), kemudian mengangkat janji Yesaya untuk memberitakan bahwa di dalam Yesus Allah menyertai kita (1:23). Injil itu berakhir dengan janji bahwa penyertaan itu akan berlaku untuk semua orang dari segala bangsa yang bergabung dengan Yesus yang telah dibangkitkan itu (28:20).

Kelahiran Yesus yang mau dibunuh Herodes dan akhirnya disalibkan oleh Pilatus itu mengungkapkan kondisi manusia “menurut daging”, yakni bahwa kita rentan dan fana. Makanya, sama seperti keluarga Daud pada zaman Ahas, manusia di dalam daging melelahkan sesama dan Allah dengan ulah-ulah yang berasal dari ketakutan dan ketidakpercayaan. Manusia di dalam daging malah menolak untuk percaya kepada Tuhan, dan lebih suka mencari jalan keluar sendiri. Tetapi Tuhan telah memberi kita lebih dari sebuah pertanda saja, yaitu Sang Imanuel yang telah bangkit dan akan menyertai kita sampai pada akhir zaman. Jika kita menolak Sang wujud dari janji Allah itu, kita menghadapi malapetaka yang lebih dahsyat lagi dari Asyur, yaitu kebinasaan kekal. Tetapi jika ketika percaya kepada-Nya, kita akan berdiri teguh jaya sebagai orang-orang kudus yang dikasihi Allah (Rom 1:5–7).

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s