Tit 3:1-7 Rahmat yang membawa Pembaruan [25 Des 2016]

Penggalian Teks

Di awal surat ini kepada rekan sekerjanya Titus, Paulus memberi gambaran yang suram tentang kondisi jemaat di Kreta, dengan antara lain adanya orang-orang yang mencari keuntungan dalam pelayanan (1:11). Titus disuruh untuk menunjukkan cara hidup yang sehat (2:1–10, 15) berdasarkan kasih karunia Allah (2:11–14). Perikop kita mengikuti pola yang sama: nasihat (1–2) berdasarkan kasih karunia Allah (3–7). Ternyata jemaat itu kacau karena belum menangkap (atau menolak) kaitan antara kasih karunia Allah dan cara hidup mereka.

Aa.1–2 memberi gambaran singkat tentang orang yang sudah dididik oleh kasih karunia Allah: mereka akan menjadi warga masyarakat yang baik (1), dan tetangga yang baik (2). Dalam a.3 ada gambaran tentang orang yang belum dididik demikian; Paulus mengingatkan Titus bahwa dia pun pernah begitu ketika belum mengenal Kristus. Ada tujuh sifat yang disebut. Yang pas di tengah yaitu menjadi hamba nafsu. Ketiga sifat sebelumnya menggambarkan sudut pandang yang rusak; ketiga sifat berikutnya menunjukkan efeknya dalam rusaknya hubungan dengan sesama. Kesesatan manusia terjadi karena kerja sama antara kejahilan dan ketidaktaatan, sehingga kejahatan dan kebencian dalam dirinya (atau dalam kelompoknya) justru dianggap benar. Dalam kondisi pembenaran diri itu, nasihat tidak berdaya karena akan ditolak atau dialihkan dengan merendahkan kelompok yang lain.

Makanya, Paulus kembali kepada karya Allah di dalam Kristus oleh Roh (4–7). Paulus mulai dengan kemurahan dan “kasih-untuk-manusia” (filanthropia) Allah (4); sifat-sifat Allah itu menjadi nyata ketika Kristus datang (2:11) dan mati untuk kita (2:14). Berkat penyataan Kristus itu, Allah menyelematkan kita (5). Sejalan dengan kemurahan Allah, Paulus melihat dasar dari keselamatan itu sebagai rahmat Allah. Kata “kemurahan” menunjukkan bagaimana Allah memberi kita sesuatu yang baik; kata “rahmat” menunjukkan bahwa hal itu diberikan kepada orang yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Kita tidak mampu mengerjakan suatu kebenaran yang menyelamatkan, tetapi Kristus menjadi pemberian baik Allah yang menjawab kebutuhan kita.

Kemudian, Paulus menggambarkan keselamatan itu sebagai proses yang dimulai dengan baptisan (“permandian”) dan akan berpuncak pada penerimaan hidup yang kekal (5b–7). Baptisan menandai penjadian ulang (palinggenesia; LAI “kelahiran kembali”) orang-orang percaya. Sebelumnya kita adalah orang yang dibentuk oleh dan bergantung pada budaya dan adat yang dalam hal-hal tertentu menjadi wadah untuk menyatakan kejahilan dan ketidaktaatan manusia. Baptisan membersihkan kita dari semuanya itu sehingga kita memiliki identitas baru di dalam Kristus. Tetapi, identitas itu harus dibentuk terus-menerus di dalam diri kita, dan pembaruan itulah yang dikerjakan Roh Kudus. Roh Kudus itu merupakan pemberian yang paling berharga yang dilimpahkan kepada kita oleh Kristus (6), dengan demikian mewujudkan rahmat Allah (sehingga Kristus dan Allah sama-sama disebut Juruselamat). Akhir dari keselamatan itu adalah hidup yang kekal (7). Kembali Paulus menegaskan bahwa kelayakan (“dibenarkan”) untuk menjadi pewaris (LAI: “berhak menerima”) hidup kekal itu adalah kasih karunia Allah, bukan usaha kita.

Demikian pemberian Kristus mengobati kondisi kita: kejahilan dipulihkan oleh sudut pandang yang dibuka oleh kemurahan Allah. Karena kita dibenarkan oleh kasih karunia, kita dibebaskan dari pembenaran diri sehingga kita dimampukan untuk menyadari ketidaktaatan kita. Karena kita lahir kembali ke dalam identitas baru di dalam Kristus, kita menolak kuasa nafsu jahat atas kehidupan kita. Karena Roh Kudus dilimpahkan kepada kita, kita dimampukan untuk meninggalkan kejahatan dan kebencian, dan hidup sehat.

Dalam ayat berikutnya, Paulus mengatakan kepada Titus bahwa berita itu yang harus ditegaskan kepada jemaat untuk memotivasi “mereka yang sudah percaya kepada Allah” (3:8). Mungkin saja ada yang tidak percaya dan akan tetap hidup jahil, tetapi orang percaya tidak hanya perlu dinasihati tetapi juga dimotivasi dengan berita karya Allah di dalam Kristus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kemurahan dan rahmat Allah di dalam Kristus yang membawa kita kepada pembaruan dan hidup kekal itu menjadi motivasi untuk kehidupan dengan sesama yang sehat. Kita diajak untuk menerima hidup kekal sebagai tujuan hidup kita yang diterima sebagai anugerah, dan memberi diri diperbaharui oleh kuasa Roh Kudus.

Makna

Pada saat-saat merasa pesimis, analisis saya tentang kondisi gereja sbb. Paulus berbicara tentang karya Allah di dalam Kristus untuk mengangkat wawasan jemaat di Kreta sehingga kehidupan yang sehat itu menjadi sesuatu terasa wajar, meski sulit. Kita para pelayan agak enggan berbicara panjang lebar tentang Allah dan karya-Nya, karena wawasan kita semua (termasuk jemaat) condong terbatas pada apa yang kita lihat langsung di sekitar kita. Masyarakat dan tetangga bukan dilihat dari perspektif para pewaris hidup kekal yang dibenarkan oleh kasih karunia, tetapi seakan-akan kita hidup-mati berdasarkan pembenaran oleh sesama. Kita risih dengan identitas baru kita, dan enggan diperbaharui oleh Roh Kudus, karena dengan demikian kita harus tampil beda. Dengan demikian kita menjadi hamba “apa kata orang” (nafsu dan keinginan bersama) yang menuju upacara kematian yang hebat, bukan hamba Kristus yang menuju hidup yang kekal.

Seluruh aa.4–7 ini termasuk dalam pemberitaan Paulus sebagai satu paket yang utuh. Kadang pembenaran oleh kasih karunia diberitakan lepas dari kelahiran kembali dan kuasa Roh Kudus, sehingga orang menganggap bahwa Allah membenarkan semua cita-cita mereka, dan tidak sadar bahwa Allah memiliki misi yang jauh lebih mulia dari misi-misi kerdil kita (bdk. Luk 2:14). Kadang hidup kekal diberitakan sebagai semacam pemberesan masalah hidup pribadi setelah mati (dengan demikian jemaat dibebaskan untuk berfokus pada apa yang penting, yakni adat), bukan sebagai keanggotaan dalam masyarakat yang mulia dan termasyhur (Yes 62:7, 12). Kadang Allah dibicarakan lepas sama sekali dari Kristus, sehingga rahmat-Nya menjadi sifat yang melayang-layang dan kabur, bukan sesuatu yang dilihat secara konkret di dalam Kristus. Semoga penyataan Kristus dalam pemberitaan kita pada Natal ini membuka mata iman sehingga pembaruan hidup juga nyata.

Pos ini dipublikasikan di Titus dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s