Mrk 9:33-37 Allah menyambut orang yang rendah [23 Sep 2018]

Penggalian Teks

Setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias (8:29), Markus 9-10 berfokus pada makna mengikuti Mesias yang akan disalibkan. Penyataan kemuliaan Yesus di atas gunung menunjukkan bahwa penderitaan dan penghinaan itu tidak mengurangi kedudukan Yesus sebagai Anak Allah (9:7) melainkan merupakan jalan yang harus Dia tempuh (9:12). Tetapi Israel secara keseluruhan tidak percaya (9:19), dan bahkan murid-murid Yesus kurang percaya (9:28).

Soal kurang percaya itu tidak hanya soal kuasa Yesus, tetapi juga pemahaman tentang jalan salib. Setelah Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa Dia akan mati baru bangkit (9:30-32), ada serangkaian perikop yang menguraikan kerendahan dan penyangkalan diri sebagai sifat jalan salib untuk murid-murid Yesus. Perikop kita diantarkan oleh ucapan narator bahwa “mereka tidak mengerti perkataan” tentang kematian dan kebangkitan Yesus itu (9:32). Mereka mengerti bahwa mereka pergi ke Yerusalem untuk mendirikan Kerajaan Allah, tetapi tidak dapat membayangkan bahwa Yesus akan menjadi Raja melalui salib yang lemah dan hina itu.

Menuju Kapernaum yang menjadi pusat pelayanan Yesus selama itu, mereka mulai memperebutkan kedudukan mereka di bawah Yesus setelah Dia menjadi Raja yang mulia (33-34). Ketika Yesus mulai mengorek apa yang menjadi percakapan mereka, mereka diam. Barangkali, mereka malu karena perbincangan mereka mendaulat otoritas Yesus untuk mengatur kedudukan mereka. Tetapi kesadaran itu masih ada dalam pola yang mengutamakan kedudukan.

Yesus mengambil kesempatan itu untuk mengajar mereka. Dia duduk dan memanggil mereka selaku guru mereka (35a). Dia menyampaikan dalil (35b) yang diteguhkan dengan gambaran konkret (36-37). Bahwa mereka belum mengerti menjadi jelas dalam cerita selanjutnya, tetapi setelah Yesus mati dan bangkit, ajaran Yesus itu justru menonjol dan dihayati di dalam komunitas yang mendukung penulisan Injil ini. Kita pun membacanya sebagai ajaran yang hanya masuk akal karena Yesus sendiri telah menempuh jalan itu.

Dalil Yesus menyatakan sesuatu yang hanya digenapi sepenuhnya oleh Yesus sendiri: hanya Dia yang melayani segenap umat manusia dalam kematian-Nya, dan hanya Dia yang menjadi manusia terdahulu sebagai Mesias. Pola itu berlaku bagi semua dalam Kerajaan-Nya, tetapi tentu pada lingkup yang lebih terbatas, karena kita tidak diberi seluruh dunia untuk melayani. Namun, prinsipnya tetap ada: kedudukan berkorelasi dengan seberapa jauh kita melayani orang, bukan dengan berapa orang yang melayani kita.

Contoh konkret Yesus menggigit karena penyambutan berkaitan erat dengan kedudukan. Kemudian, kedudukan seseorang dilihat antara lain dalam kedudukan orang yang menjadi utusannya. Dan Yesus menempatkan diri-Nya dengan seorang anak, lalu mengatakan bahwa anak-anak seperti itu menjadi utusan-Nya. Kalimat terakhir menegaskan bahwa pola Yesus ini menyatakan diri Allah. Allah menempatkan diri-Nya dengan Yesus dan anak-anak, bukan dengan orang yang dipandang tinggi oleh manusia. Jadi, salah paham murid-murid Yesus lebih dari sekadar kekurangan sikap terhadap sesama atau terhadap Yesus sebagai guru, tetapi juga merupakan salah paham tentang Allah sendiri.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah menyambut orang yang rendah menurut dunia ke dalam Kerajaan-Nya. Kita diajak melayani sesama supaya kita mendapat kedudukan sejati itu.

Makna

Dalam pola pelayanan presbiterial, kedudukan sebagai majelis dipahami sebagai kesempatan (dan tanggung jawab) untuk melayani dalam tugas-tugas tertentu. Kepada pemimpin yang melayani demikian, jemaat disuruh untuk memberi kehormatan (Ibr 13:17). Namun, karena pimpinan jemaat banyak tampil dan banyak mengatur, tugas itu sering dikejar karena dilihat sebagai kedudukan yang menarik secara duniawi. Seperti dijelaskan dalam Yak 4:1-3, sikap itu hanya bermuara pada cekcok di dalam jemaat. Kembali, Yakobus tidak menyuruh jemaat untuk sekadar memperbaiki sikap mereka tetapi untuk tunduk kepada Allah. Hal itu mengandaikan apa yang sudah disampaikan Yakobus tentang Allah, misalnya bahwa Dia adalah sumber segala hal yang baik (Yak 1:17), sumber hikmat yang membawa damai (3:14-18). Di balik sikap yang salah ada pemahaman tentang Allah yang salah.

Suatu catatan untuk pemimpin jemaat: Jika kita mencermati gaya Yesus, kita melihat bahwa menjadi pemimpin yang melayani bukan soal menjadi pekerja tunggal. Ada gaya “servant leadership” yang enggan untuk memberdayakan sesama karena takut dilihat malas. Ada juga gaya yang enggan berwibawa karena hal itu akan dianggap kurang “egaliter”, seakan-akan Yesus meniadakan semua bentuk hierarki. Tetapi dalam perikop ini, Yesus memakai wibawa-Nya sebagai guru dengan duduk dan memanggil mereka, dan Dia memberitahu mereka apa yang benar, karena dalam hal pokok ini tidak ada titik temu antara sikap duniawi dan sikap Kerajaan Allah. Jadi, Dia melayani mereka dengan mengajar mereka, dengan memberdayakan mereka untuk kemudian mengutus mereka ke dalam dunia, dan Dia menuju Yerusalem untuk mati bagi mereka.

Iklan
Dipublikasi di Markus | Tag | Meninggalkan komentar

Ul 4:1-2, 6-9 Bangga akan hikmat ilahi [2 Sep 2018]

Penggalian Teks

Kitab Ulangan terdiri atas himbauan Musa kepada Israel setelah mereka sampai dataran Moab di seberang sungai Yordan dan sebelum Musa meninggal dan Yosua memimpin Israel memasuki tanah Kanaan. Pembahasan itu berputar di sekitar tiga pokok utama: keselamatan yang sudah dilakukan Allah sehingga Israel berada di ujung tanah perjanjian; berkat yang akan dialami dalam tanah perjanjian; dan ketaatan sebagai penyambung antara keselamatan dan berkat itu. Hal itu dilihat dalam a.1: “maka sekarang” merujuk pada penceritakan kembali karya keselamatan itu dalam pp.1-3; ayat itu berakhir dengan tujuan memasuki dan menduduki tanah itu sebagai pemberian Allah; dan di antaranya terdapat perlunya mendengarkan ajaran Allah. A.2 menunjukkan bahwa perintah Tuhan sudah pas untuk tujuan itu. Tentu, pengurangan perintah berarti ada perintah Tuhan yang dibiarkan dilanggar. Tetapi penambahan perintah juga dilarang. Seperti dijelaskan Yesus, penambahan perintah menjadi tradisi manusiawi yang justru merongrong perintah Allah (Mrk 7:8-9).

Aa.3-4 mengangkat Baal-Peor sebagai peringatan bagi orang yang menentang Allah, dan a.5 mengingatkan Israel tentang peran Musa dalam mengajarkan perintah Allah kepada mereka.

Aa.6-8 mirip dengan aa.1-2, tetapi dengan nada kebanggaan. Perintah Allah menawarkan hikmat kepada Israel yang akan membuat bangsa-bangsa kagum, andaikan dipraktekkan (6). Allah dinyatakan di dalamnya sebagai Allah yang begitu dekat (7) dan begitu adil (8). Itulah berkat yang dijanjikan kepada Israel: pertolongan Allah serta masyarakat yang beres. Berkat itu yang semestinya dikejar dengan menjadi taat kepada Allah.

Selain visi berkat itu, Israel juga perlu mengingat apa yang sudah dilakukan Allah bagi mereka (9). Ingatan itu perlu dibudayakan dengan diajarkan kepada anak-cucu. Hanya atas dasar karya keselamatan Allah maka visi tentang berkat Allah dapat dipertahankan, dan ketaatan kepada Allah mendapat tempatnya sebagai penghayatan anugerah dan bukan amal.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Ketaatan kepada perintah Allah merupakan cara untuk menikmati dan memelihara keselamatan Allah. Semestinya kita bangga akan ajaran Yesus dan para rasul sebagai jalan hikmat yang akan membuat kita manusia baru. Jadi, kita pun tidak akan menambahi atau mengurangi ajaran yang sudah sempurna itu.

Makna

Hukum Taurat tidak lagi berfungsi sebagai adat yang mengikat bagi gereja, tetapi sebagaimana dimaknai oleh Yesus dan para rasul tetap menjadi hikmat Allah yang mengajarkan kedekatan dengan Allah dan keadilan di dalam jemaat. Kematian dan kebangkitan Kristus menjadi karya besar Allah sebagai dasar iman, dan di dalam Kristus dunia baru adalah sepadan dengan tanah yang dijanjikan kepada Israel. Injil adalah pengumuman tentang karya Allah itu. Jadi, ketaatan orang kristen juga merupakan penghayatan Injil dan bukan amal. Karena kita sudah ditebus dari dosa dan ada janji masuk ke dalam dunia baru, maka kita hidup sesuai dengan ajaran Kristus.

Pola itu muncul dengan jelas dalam Yak 1:17-27. Kita telah dijadikan oleh firman sebagai buah sulung ciptaan baru (1:18). Firman yang ditanam itu menjadi daya berkat yang menyelamatkan (menyehatkan) jiwa kita (1:21) ketika kita mempraktekkannya (1:22-27). Mempraktekkan firman bukan amal untuk mencapai keselamatan, tetapi cara menghayatinya.

Dipublikasi di Ulangan | Tag , | Meninggalkan komentar

Yos 24:1-2a, 14-18 Beribadalah kepada Tuhan Sang Penebus [26 Ag 2018]

Penggalian Teks

Setelah kesimpulan dalam 21:43-45 bahwa Allah telah menggenapi segala janji-Nya kepada Israel, pp.22-24 mempersoalkan kesetiaan Israel selanjutnya. Dalam p.23, Yosua menyampaikan pesan yang mengingatkan mereka tentang kesetiaan Tuhan, tetapi juga memperingati mereka bahwa jika Israel tidak setia maka bangsa-bangsa yang telah dihalau akan menjadi jerat bagi mereka. Dalam 24:1-28, Yosua mengikat perjanjian di Sikhem dengan menceritakan karya keselamatan Tuhan bagi mereka (24:2-13), menantang mereka untuk setia kepada Tuhan itu (aa.14-18), dan memastikan bahwa niat unuk beribadah kepada Tuhan saja itu tegas (24:19-24). Pasal 23 itu seperti pembinaan bagi para pemimpin Israel; p.24 mengikat seluruh bangsa secara formal.

Tempat yang dipakai Yosua adalah kota yang di samping gunung Ebal. Gunung itu menjadi tempat mezbah didirikan bagi Tuhan setelah mereka menduduki tanah Kanaan, dan di sana Israel mendengarkan hukum Taurat dan bersumpah kepada Tuhan dengan memanggil kutuk jika mereka tidak taat (8:30-35). Tetapi kali ini, Yosua menceritakan apa yang sudah dilakukan Tuhan bagi Israel. Dalam cerita itu, Israel mengenal Tuhan dalam dua aspek: siapakah Dia ketimbang ilah-ilah, dan karakter-Nya sebagai Tuhan yang setia dan baik.

Jadi, Yosua menyuruh Israel untuk takut dan beribadah kepada Tuhan yang menyelamatkan mereka, bukan ilah-ilah setempat yang menjadi kesukaan nenek moyang, entah di Aram, entah di Mesir (14). Soal takut berarti bahwa Israel harus memandang Tuhan sebagai sumber sejati berkat dan kutuk; soal beribadah berarti bahwa Dialah yang dilayani dengan menaati hukum-Nya, baik dalam hal ritus maupun dalam kehidupan bersama sebagai bangsa.

Yosua menyuruh Israel untuk beribadah kepada Tuhan, tetapi di luar Tuhan dia menyebutkan beberapa alternatif yang dapat mereka pilih (15). Adalah penting diperhatikan bahwa Tuhan tidak dipilih sebagai salah satu dari beberapa pemberi jasa berkat yang kurang lebih sepadan; Dia adalah Tuhan selayaknya. Tetapi di mana Tuhan ditolak, manusia pintar membuat-buat berbagai alternatif. Jadi, Israel dapat memilih ilah berdasarkan tradisi dari nenek moyang, atau berdasarkan tradisi setempat (Kanaan) yang baru bagi mereka. Yosua menegaskan jalan yang benar dengan menyatakan niatnya sekeluarga untuk beribadah kepada Tuhan. Kembali, niat itu bukan pilihan antara beberapa kemungkinan yang kurang lebih sama (seperti memilih antara beberapa merek motor) melainkan ketaatan kepada Tuhan yang sebenarnya.

Bangsa Israel menjawab sebagai semestinya (16-18). Mereka menyatakan niat untuk setia kepada Tuhan yang diakui sudah menjadi Allah mereka. Pengakuan itu didasarkan pada berbagai kebaikan-Nya kepada mereka: penebusan dari perbudakan di Mesir dengan berbagai mukjizat; perlindungan dalam jalan dari bahaya dan musuh; dan penghalauan bangsa-bangsa dari tanah Kanaan. Mereka mengenal siapakah Tuhan ketimbang ilah-ilah yang lain, dan mereka mengenal-Nya sebagai Tuhan yang baik dan setia. Itulah dasarnya untuk peneguhan perjanjian yang dilakukan Yosua kemudian (24:25-28).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Tuhan yang layak disembah adalah Tuhan yang menebus dan menyelamatkan umat-Nya. Kepada Dia sajalah kita ditantang untuk beribadah dan mencari berkat.

Makna

Allah mengadakan perjanjian yang baru di dalam Kristus, dan tanda bahwa kita termasuk di dalamnya ialah baptisan. Namun, baptisan tidak menggantikan perlunya manusia untuk mengenal siapakah Allah sebenarnya dan beribadah kepada-Nya. Kita lemah dan mudah dibingungkan oleh ajaran Yesus yang menantang pandangan duniawi kita (Yoh 6:60-65; ingat bahwa sebagian mereka mengikuti Yesus karena tertarik dengan roti dan kuasa). Kita berhadapan dengan kuasa-kuasa gelap dan sering digoda untuk mencari aman dengan menyesuaikan diri dengan tuntutannya (misalnya, berdiam diri di hadapan ketidakadilan), daripada mencari hikmat Tuhan (Ef 6:10-20). Dalam hal-hal itu, kita menjadi seperti orang Israel yang sulit setia kepada Tuhan karena sulit percaya bahwa berkat yang sesungguhnya hanya ada pada Dia.

Dasar kesetiaan kita terdapat dalam mengenal Allah Israel yang telah memperkenalkan diri-Nya kepada kita di dalam Yesus Kristus dengan kuasa Roh Kudus. Kita ditebus dari kuasa kegelapan dan perbudakan terhadap dosa oleh mukjizat kebangkitan Kristus (Kol 1:13-14); kita dilindungi dalam perjalanan oleh kuasa Roh Kudus (Rom 8); dan kita menjadi bagian dari misi Kerajaan Allah dengan melawan kuasa-kuasa yang dimanfaatkan oleh Iblis itu (Ef 6:10-20).

Kita sering mengecam tindakan atau sikap tertentu tanpa mengusut ilah apakah yang ada di baliknya. Pada hemat penulis, ilah yang paling menarik bagi banyak jemaat ialah gengsi dan uang; sebagian juga tergoda oleh kuasa. Pengamatan di konteks pelayanan Saudara belum tentu sama. Bagaimana pun juga, perincian dosa tanpa mengusut pemberhalaan di baliknya tidak akan membawa perubahan yang langgeng. Pertobatan sejati ketika kita menjadi manusia baru yang mencari berkat dan hidup hanya dari Yesus Kristus sebagai Tuhan.

Dipublikasi di Yosua | Tag , | Meninggalkan komentar

Ef 5:15-21 Hikmat dalam Persekutuan [19 Ag 2018]

Penggalian Teks

Kitab Efesus memuat teologi Paulus yang telah dirumuskan untuk konteks Asia Kecil (sekarang Turki). Budaya itu mirip dengan budaya lama Toraja dalam hal seperti adanya roh-roh, kekuatan magik dsb. Dalam budaya siklis dan politeis itu, Paulus tetap berbicara tentang rencana Tuhan yang esa, bahwa Tuhan menciptakan dunia dan mau membawa dunia itu kepada satu tujuan, dengan menempatkan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai Kepala (1:10). Cara manusia bergabung dengan rencana itu ialah manusia bergabung dengan Kristus oleh iman (1:13-14), sehingga dihidupkan kembali (2:1-10) dan diperdamaikan di dalam tubuh Kristus (2:11-22). Dalam pasal 4, Paulus menguraikan tubuh Kristus itu (4:1-16), kemudian persekutuan manusia baru yang dihasilkan oleh keselamatan di dalam Kristus (4:17-32). Ciri-ciri kehidupan baru itu termasuk kasih (5:1-2), kesucian (5:3-7), dan terang (5:8-14). Itulah kerangka yang di dalamnya Paulus berbicara tentang hidup yang berhikmat dalam aa.15-17: jemaat perlu hidup sebagai orang-orang yang diterangi Kristus (14). Hikmat itupun tidak berdiri sendiri, tetapi perlu ditopang dengan saling berbagi dalam firman Tuhan oleh kuasa Roh Kudus (18-21).

Jalan hikmat itu bukan sesuatu yang akan muncul dari perasaan atau semangat saja, tetapi perlu direnungkan secara saksama (15). Soalnya, jemaat hidup pada masa kejahatan (16), yaitu di tengah dunia yang gelap (8a, 12). Karena kejahatan itu dicampurkan dengan kebaikan berkat imago Dei dalam manusia, pertimbangan yang saksama dibutuhkan. Ada dua aspek. Pertama, menghindar dari dosa. Bentuk kasar dari dosa-dosa dalam 5:3-5 tidak sulit dikenali, tetapi dosa seperti kata-kata yang kotor dan keserakahan muncul juga dalam bentuk yang lebih halus. Kedua, jemaat dipanggil untuk mempergunakan waktu yang ada. Mungkin kita merasa akan lebih mudah bersih jika mundur dari dunia, tetapi jemaat yang demikian tidak akan lagi dapat menjadi terang di dalam kegelapan. Kedua hal itu menunjukkan mengapa hidup berhikmat itu rumit: kehendak Tuhan tidak menjadi jelas begitu saja dengan semboyan dan dalil tetapi perlu usaha untuk dimengerti (17).

Usaha itu tidak mungkin seorang diri, tetapi membutuhkan kepenuhan Roh Kudus yang disalurkan dalam persekutuan (18-21). Berbagai bentuk nyanyian menyalurkan firman Tuhan seorang kepada yang lain melawan pikiran duniawi. Kebenaran itu menjadi landasan ucapan syukur yang menangkis kata-kata jelek yang mencirikan dunia yang gelap (5:4). Merendahkan diri menerapkan teladan Kristus secara konkret. Sebagaimana dicontohkan dalam ayat-ayat berikutnya, Kristus menjadi teladan bagi bawahan dengan taat kepada Bapa-Nya sepenuh hati, dan Dia menjadi teladan bagi atasan dengan memberikan nyawa-Nya bagi bawahan-Nya. Persekutuan yang demikian akan mencuci otak jemaat dari sikap-sikap duniawi sehingga mulai mampu mengerti kehendak Tuhan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Hikmat yang memampukan jemaat menjadi terang itu akan bertumbuh dalam persekutuan dalam Roh. Jemaat dianjurkan untuk membangun wacana yang memuji Allah dan menysukuri kasih-Nya dalam Kristus, dan berpikir keras tentang apa kehendak Tuhan di tengah dunia yang jahat.

Makna

Psikologi mengaminkan bahwa pikiran manusia lebih banyak dikendalikan oleh perasaan dan kepentingan daripada pertimbangan. Kita hanya berpikir keras ketika terasa penting. Di dalam persekutuan, kita memakan Kristus dan mulai menikmati hidup yang kekal (Yoh 6:51-58). Dengan demikian, perasaan dan kepentingan kita mulai disesuaikan dengan kehendak Allah, dan berpikir keras tentang kehendak-Nya menjadi penting.

Kehendak Allah itu tidak hanya menyangkut soal menghindar dari dosa, tetapi juga bagian kita dalam misi Allah. Dalam diri Salomo kita melihat kedua aspek itu: dia disuruh mengikuti perintah Allah (1 Raj 3:14), tetapi dia juga membutuhkan hikmat untuk menghakimi umat Allah dengan baik (3:9-10). Kita sering giat memikirkan bertahan hidup, menjadi kaya, dan menang atas saingan (3:11). Hal-hal itu diberikan kepada Salomo, dan menjadi warisan orang percaya pada zaman mendatang (Ef 1:18). Tetapi hikmat yang muncul dari Injil tentang Kristus akan menuntut pengurasan otak mengenai hal-hal yang lain, yakni hidup dalam kasih dan menjadi terang.

Dipublikasi di Efesus | Tag | 1 Komentar

1 Raj 19:4-8 Roti dari utusan Allah [12 Ag 2018]

Penggalian Teks

Perikop ini menceritakan satu langkah dalam pemulihan Elia sampai dia diutus kembali untuk menjadi alat Tuhan dalam menghakimi raja-raja Israel yang jahat (19:15-17). Kerapuhannya muncul setelah Ratu Izebel mengancam nyawanya (19:2). Walaupun dia telah melihat kuasa Tuhan dalam kemenganan besar-besaran atas nabi-nabi Baal (18:36-46), Elia melarikan diri karena takut akan ancaman itu (19:3). Dia meninggalkan bujangnya di Bersyeba. Kota itu di Yehuda, kerajaan Selatan yang di luar wilayah kuasa Ahab dan Izebel. Kota itu juga di pinggir wilayah Negeb, padang gurun yang menjadi tujuan Elia (4).

Di padang gurun Elia menawarkan nyawanya kepada Tuhan, setelah menyelamatkannya dari Izebel (19:2). Di depan Israel dia sudah berdiri sebagai orang yang memihak Tuhan dan bukan ilah-ilah yang lain seperti Israel turun-temurun, tetapi dia merasa “tidak lebih baik” daripada mereka. Barangkali, maksudnya bukan soal karakter melainkan manfaat bagi Tuhan: dia sudah gagal membawa perubahan yang berarti; pimpinan yang jahat tetap berjaya. Dengan tidur, dia memasrahkan nasibnya ke dalam tangan Tuhan (5a).

Ternyata Tuhan tetap mau berurusan dengan Elia. Dalam bahasa Ibrani, kata “malaikat” sama dengan kata “utusan” dalam a.2. Jadi, utusan Izebel diimbangi dengan utusan Tuhan yang membawa bukan ancaman melainkan ucapan hidup. Yang disediakan untuk Elia dihubungkan dengan peristiwa janda dalam 1 Raj 17:12-16, karena hanya dalam nas itu dan perikop kita ada kata roti dan kendi (“buli-buli” sama dalam bahasa Ibrani) bersama. Allah yang pernah memelihara kehidupan Elia dalam kekeringan yang panjang kembali memelihara hidupnya di padang gurun. Pelayanan utusan malaikan bertahap: kali pertama Elia istirahat kembali (6); kali kedua dia diberitahu akan perjalanan panjang (7).

Perjalanan itu ternyata ke gunung Horeb, nama dalam kitab Ulangan untuk gunung Sinai dalam kitab Keluaran. Roti itu memampukannya berjalan empat puluh hari sampai di Sinai, sama seperti manna memampukan Israel berjalan empat puluh tahun dari Sinai ke tanah perjanjian. Kembali ada hubungan kosa kata: dalam Bil 11:8 manna dijadikan roti bundar (kata yang sama dengan “roti” dalam perikop kita). Elia dibawa kembali ke awal perjanjian Allah dengan Israel. Di sana, Allah tidak akan membuat sesuatu yang baru, tetapi akan mengutus Elia untuk melanjutkan tugasnya, dengan penguatan bahwa ada sisa di dalam umat Allah yang setia (19:18). Tugas seorang nabi sering kelihatan tidak berguna, tetapi Tuhan mampu menjamah hamba-hamba-Nya sampai mereka berguna kembali.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Tuhan menguatkan hamba-hamba-Nya di tengah dunia yang menolak mereka. Kita diajak untuk memakan roti surgawi yang disalurkan melalui persekutuan di mana kita menjadi utusan Allah bagi sesama.

Makna

Manna adalah tipe dari Kristus yang merupakan roti yang turun dari surga untuk mati bagi manusia supaya kita beroleh hidup yang kekal (Yoh 6:50-51). Ef 4:25-32 menggambarkan cara berelasi dalam tubuh yang disuplai dari roti surgawi itu, yakni jemaat. Paulus memperbandingkan berbagi cara yang mematikan yang merusak persekutuan yang dikerjakan oleh Roh dengan cara-cara yang menyatakan kesatuan dalam tubuh dan menyalurkan pengampunan dan kasih Allah. Ketika mempraktekkan dusta, amarah, pencurian, perkataan kotor, dan fitnah, kita menjadi utusan iblis. Ketika kita berkata benar, berdamai, bekerja, dan membangun sesama, kita menjadi utusan Allah. Itulah yang akan memampukan jemaat untuk tugas kenabian kita di tengah dunia ini.

Tidak jarang adanya dusta dan sebagainya adalah gejala dari jemaat yang belum belajar memakan dari Kristus dalam kekecewaan hidup. Perikop kita menunjukkan bahwa orang sehebat Elia dapat cemas dan putus asa. Jemaat yang duniawi mempersalahkan orang yang demikian karena dianggap gagal; jemaat yang rohani mungkin saja menyuruhnya untuk lebih kuat dalam iman. Tetapi Elia tidak mampu memulihkan kondisinya seorang diri, dan hal yang sama dapat saja terjadi pada kita. Tuhan menjamah Elia melalui utusannya; Dia akan menyentuh kita melalui tubuh Kristus ketika jemaat menyatakan kebenaran dengan cara yang membangun supaya orangnya dapat merasakan kasih Allah kembali.

Dipublikasi di 1 Raja-raja | Tag , | Meninggalkan komentar

Ef 4:1-16 Hidup dalam tubuh Kristus [5 Ag 2018]

Penggalian Teks

Untuk menguatkan “orang-orang kudus” (sebutan untuk seluruh jemaat) di Efesus, Paulus sudah memaparkan rencana Allah yang berpusat pada Kristus (p.1), bagaimana kita yang percaya menjadi manusia baru (2:1-10) di dalam gereja sebagai keluarga Allah dan tubuh Kristus (2:11-22) yang dibangun atas dasar pelayanan rasuli (3:1-13). Kuasa Allah yang tak terduga akan mengalir di dalam jemaat ketika Injil itu membawa Kristus dan kasih-Nya ke dalam batin jemaat oleh kuasa Roh Kudus untuk kemuliaan Allah (3:14-21). Dalam sisa suratnya, Paulus menggambarkan hidup yang berpadanan dengan panggilan yang terkandung dalam berita Injil itu (1). Karena rencana Allah ialah mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai kepala (1:10), pokok utama hidup itu adalah jemaat yang bertumbuh dalam kesatuan (4:1-16) sehingga pola hidup sebagai manusia baru (4:17-24) muncul dengan sesama jemaat di tengah kegelapan dunia (4:25-5:20), dan di dalam rumah tangga (5:21-6:9). Dengan demikian, jemaat makin siap menjadi bagian dari perjuangan Kristus melawan semua kuasa yang melawan Allah (6:10-20; bdk. 3:10 dan 1 Kor 15:20-26). Tubuh Kristus yang dewasa menjadi alat misi Allah.

Panggilan Allah pertama-tama menuntut kerendahan hati dan kesabaran supaya kesatuan Roh dipelihara (1-3). Kesatuan itu adalah pemberian Allah sebagaimana diperincikan dalam aa.3-6. Ternyata semuanya berakar dalam karya Kristus oleh Roh. Damai sejahtera terdapat dalam Kristus (2:14) oleh kematian-Nya (2:15) sehingga kita menjadi satu tubuh (2:16) dan Bait Allah yang kudus oleh satu Roh (Ef 2:21-22). Roh itu menjadi daya penghayatan orang percaya (1:13) dengan membuka hati orang percaya terhadap pengharapannya di dalam Kristus (1:17). Jika a.4 menyoroti Roh, a.5 menyoroti Kristus sebagai bentuk atau kerangka panggilan Allah: Dia adalah Tuhan (kurios atau penguasa tertinggi) yang menjadi satu-satunya sasaran iman dan makna mendasar baptisan. A.6 berpuncak pada Allah Bapa sebagai sumber dan tujuan karya Tritunggal itu (1:3; 2:18). Justru karena kesatuan jemaat merupakan anugerah dari karya besar Allah Tritunggal itu, maka jemaat diperintah untuk giat memeliharanya. Usaha itu pasti tidak mudah, karena membutuhkan kesabaran dan pengorbanan (3).

Jika dasar kehidupan itu kesatuan jemaat, daya tumbuhnya adalah kepelbagaian karunia yang diberikan Kristus sehingga seluruh tubuh tumbuh bersama dalam kedewasaan (7-16). Paulus mengambil Mzm 68:19 sebagai ayat rujukannya (8). Mazmur itu merayakan kenaikan Allah ke dalam Bait Allah di atas gunung Sion sebagai hasil kemenangan Allah atas bangsa-bangsa dengan membawa Israel dari Sinai. Kemenangan Allah itu digenapi ketika Kristus naik ke surga setelah menyelesaikan karya keselamatan-Nya (membawa umat Allah keluar dari kerajaan Iblis, dosa, dan maut, Ef 2:1-3) dalam masa kerendahan-Nya di bumi (9-10). Dalam Mzm 68:18 itu, Allah menerima pemberian-pemberian dari manusia, tetapi Paulus mengubah kata itu menjadi memberikan, sesuai dengan Mzm 68:36 yang merupakan ujung dari karya Allah yang dirayakan itu. Kristus menjadi makna utama dalam segala kedudukan, baik rendah maupun tinggi. Oleh karena itu, karunia-Nya dikerjakan dalam kerendahan seperti karya Kristus tetapi pada saat yang sama berbobot tinggi sebagai pemberian Kristus itu.

Aa.11-16 menguraikan fungsi pemberian-pemberian itu. Setiap anggota jemaat terlibat dalam pertumbuhan tubuh Kristus (16), tetapi ada beberapa tugas yang berperan khusus (11) dalam memberdayakan seluruh tubuh itu (12) menuju kedewasaan (13-15). Berdasarkan 2:20 dan 3:5, para rasul dan nabi merupakan dasar gereja karena makna karya Kristus telah dinyatakan kepada mereka. PB merupakan rekaman wahyu itu. Pemberita Injil memperluas jangkauan gereja, dan gembala-pengajar1 menjaga dan memelihara jemaat yang sudah ada. Tugas semua orang kudus yang diberdayakan oleh penginjil dan gembala itu pelayanan, yaitu apa saja yang menuju pada pembangunan tubuh Kristus (12). Praktisnya pelayanan diuraikan dalam perikop-perikop selanjutnya. Tetapi dalam aa.13-16 Paulus menyoroti tujuannya, yaitu kedewasaan bersama. Ukurannya Kristus (13b) yang telah memenuhkan segala sesuatu itu (10). Kita menuju ukuran itu dalam kesatuan iman dan pengenalan akan Dia (a.13a; makanya tugas sebagai pengajar dikaitkan erat dengan tugas sebagai gembala). Paulus tidak berbicara di sini tentang pahlawan rohani, tetapi tentang kelompok (jemaat) yang dalam kesabaran saling membantu untuk mengenal Kristus dengan lebih benar. Ada dua ukuran praktis kedewasaan itu: kelompok tidak mudah tertipu oleh ajaran atau pengajar sesat (14), dan kelompok itu teguh dalam kebenaran yang tidak meninggalkan kasih bersama (15). Seperti disinggung dalam 3:18 (kasih Kristus hanya dapat ditangkap bersama-sama), tubuh Kristus bertumbuh karena kinerja semua anggotanya (16). Bahkan, Paulus mengatakan bahwa tubuh Kristus membangun dirinya dalam kasih: daya Roh Kudus dan pemberdayaan oleh karunia-karunia Kristus bekerja melalui setiap anggota.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Jemaat tumbuh dewasa karena oleh pelayanan firman mereka menangkap bersama-sama siapakah Kristus yang dinyatakan dalam Injil. Kita diajak untuk sekalian memegang kebenaran itu dan mengasihi sesama jemaat dengan cara ikut serta dalam pembangunan jemaat sesuai dengan karunia yang diberikan Kristus kepada kita.

Makna

Budaya individualis mewariskan teologi kepahlawanan rohani yang berat sebelah. Injil tidak memanggil kita untuk menjadi dewasa seorang diri, melainkan bersama-sama. Aspek kesatuan dalam iman menuntut seorang pengajar untuk memaparkan visi tentang Allah dan rencana-Nya di dalam Kristus (seperti Paulus dalam pp.1-3) yang dapat menjadi acuan bersama dalam saling membangun. Sebagian masalah yang muncul berasal dari pemahaman yang keliru atau dangkal akan Injil. Misalnya, sebagian jemaat mudah terombing-ambingkan karena terpesona oleh kedudukan atau kekayaan duniawi. Dalam kondisi seperti itu, tugas pengajar bukan supaya jemaat mengikuti keputusan tertentu, melainkan supaya mereka mulai menangkap kebenaran Allah yang ada di balik visinya sehingga mau maju bersama. Setiap kali kita sombong, kasar, atau memaksa, kita tidak hanya mengingkari nasihat Paulus dalam a.2 tetapi juga mengingkari visi Paulus (Injil) yang mendasarinya, karena Kristus telah turun ke bumi dalam kerendahan dan setelah naik tetap hanya memanggil kita melalui pemberitaan Injil, bukan menuntut kita dengan paksa.

Rata-rata, jemaat mau menjadi manusia yang baik. Sering kita (para pelayan) mengeluh bahwa mereka lebih memahami menjadi anggota tongkonan yang baik daripada anggota jemaat yang baik. Perikop ini mengundang dua refleksi. Pertama, apakah kita memaparkan visi tentang gereja yang di dalamnya mereka dapat menempatkan diri sebagai orang yang baik? Adakah budaya saling mendewasakan? Adakah kesempatan untuk memakai berbagai karunia untuk sesama? Atau program jemaat menjadi panggung untuk beberapa pahlawan rohani yang hanya ditonton oleh jemaat secara umum? Kedua, mungkin saja sebagian pendeta/penatua hanya pernah belajar menjadi pelayan yang baik, dan belum tahu bagaimana menjadi anggota tubuh yang baik lepas dari tugas yang formal.


  1. Paulus memakai satu kata sandang tertentu untuk kedua istilah itu. Hal itu menunjukkan bahwa satu peran dilihat dari dua segi.

Dipublikasi di Efesus | Tag , , | Meninggalkan komentar

2 Sam 7:1-17 Kerajaan Allah kukuh di dalam Kristus [22 Jul 2018]

Penggalian Teks

Perikop ini terjadi setelah Daud menjadi raja atas seluruh Israel serta mengalahkan orang Filistin. Dalam a.1, hal itu disimpulkan sebagai karya Tuhan yang memberi keamanan. Keamanan itu pernah dijanjikan kepada Musa (Kel 33:13) dan Yosua (Yos 1:13, 15), dan pertama kali digenapi di bawah Yosua (Yos 23:1), tetapi hilang karena pemberontakan Israel (kitab Hakim-hakim). Di bawah Daud, Israel mulai mengalami berkat Tuhan itu kembali. Namun, Daud sadar bahwa ada yang kelihatan belum aman, yaitu tabut perjanjian yang dibawa ke dalam Yerusalem tetapi belum memiliki rumah permanen (2). Makanya, dia mulai berpikir untuk membangun rumah (Ibrani: bayit) bagi Allah.

Usul itu masuk akal nabi Natan juga (3), tetapi rencana Tuhan ternyata berbeda. Dia segera menyampaikan firman kepada Natan untuk diteruskan kepada Daud sebagai hamba-Nya (4-5a, 17). Penolakan Daud oleh Tuhan untuk mendirikan Bait-Nya disampaikan dalam tiga ucapan. Firman pertama menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah menuntut supaya tabut-Nya diberi rumah permanen (5b-7). Dan memang, Allah sudah menunjukkan bahwa tanpa perlindungan orang Israel pun, Dia mampu membela simbol hadirat-Nya itu bahkan ketika tabut-Nya dirampas orang Filistin (1 Sam 4-6). Firman kedua menguraikan kasih karunia Allah kepada Daud (8b-9, 11b) yang juga berdampak pada Israel (10). Di dalam Daud, Israel telah mendapat tanah sehingga bertambah banyak (“menanamkannya”) di bawah raja yang mendapat nama yang besar. Semuanya itu menggenapi janji Allah kepada Abraham (Kej 12:1-3).

Firman ketiga menyampaikan janji yang baru dari Allah kepada Daud selaku raja Israel (11c-16). Janji itu menyangkut bayit (LAI: “keturunan”) bagi Daud. Maksudnya memang keturunan, tetapi bukan dalam artian menjadi banyak (seperti untuk Abraham) tetapi dalam artian sebagai pimpinan Israel yang menjadi landasan yang kukuh bagi umat Allah. Baru di dalam konteks anugerah Allah itu, keturunan Daud akan berjasa bagi Allah dengan mendirikan rumah (bayit) bagi-Nya. Timbal-balik itu menunjukkan prioritas anugerah Allah, dan bahwa kekukuhan kerajaan Israel ada karena kekukuhan hadirat Allah yang disimbolkan oleh adanya rumah permanen.

Dalam janji Allah itu, raja Israel sebagai wakil Israel mendapat gelar “anak Allah” (14a). Sebelumnya, gelar itu dikenakan kepada Israel secara keseluruhan (Kel 4:22). Masalahnya bahwa Israel menjadi anak yang nakal, dan raja Saul mewakili Israel dalam hal itu. Jadi, janji Allah kepada Daud ini menerapkan pola didikan yang dipakai Allah juga kepada Israel sebagai anak-Nya: dosa dihukum (14b), tetapi pilihan Allah tidak akan berubah (15). Pola itulah yang membuat bayit (LAI: “keluarga”) dan kerajaan Daud kukuh.

Tanggapan Daud dalam perikop selanjutnya sangat tepat, tetapi ternyata Daud sendiri akan menjadi contoh pertama didikan Tuhan. Setelah dia berzinah dan membunuh (p.11), Daud dididik dengan bayit-nya (keluarganya) menjadi kacau sampai Daud diusir dari Yerusalem dan hampir kehilangan kerajaannya (pp.13-19). Didikan Allah kepada baik Israel maupun rajanya berpuncak dalam peristiwa pembuangan yang begitu berat sehingga Israel bertanya apakah mereka sebenarnya ditolak. Mazmur 89 menceritakan karya Allah yang berpuncak pada janji kepada Daud itu (disebut sebagai perjanjian dalam Mzm 89:4), dan menantang Allah untuk kembali menunjukkan kasih setia-Nya (Mzm 89:39, 50). Baru dalam Kristus, anak Daud dan Anak Allah, jawaban Allah menjadi sangat jelas.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kerajaan Allah kukuh di dalam Kristus, anak Daud yang pemerintahan-Nya kekal itu. Kita diajak untuk mempercayakan diri kepada janji keselamatan di dalam Kristus, dan menghayati status kita sebagai keluarga Allah dan Bait Allah yang kudus.

Makna

Mrk 6:34 menggambarkan kondisi Israel tanpa raja: seperti domba tanpa gembala. Yesus menjadi gembala yang baik bagi orang-orang Israel (Mrk 6:53-56). Tetapi rencana Allah lebih luas. Dengan mati pada kayu salib, Yesus meniadakan hukum Taurat (Ef 2:15) sebagai jalan tunggal kepada Allah (2:16-18) sehingga orang dari segala bangsa dapat bergabung dengan umat Allah (2:19). Dalam rangka itu, jemaat sebagai tubuh Kristus menggenapi semua artian kata bayit tadi. Ia merupakan keluarga Allah (2:19b), dan juga tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya (2:21-22) sebagai bangunan rohani yang dibangun atas dasar para rasul dan nabi dengan Kristus sebagai batu penjuru (2:20). Di dalam jemaat, setiap orang percaya mendapat tempat yang aman.

Janji Allah kepada Daud digenapi pertama-tama di dalam Kristus, bukan di dalam kita. Olehnya, kita dikuatkan bahwa rencana keselamatan Allah bukan rencana darurat tetapi sesuatu yang sudah lama direncanakan (bahkan berakar sebelum raja Daud di dalam Abraham). Kemudian, kita dapat belajar bahwa janji itu kukuh, sekalipun ada yang kelihatan sebagai ancaman besar terhadap rencana Allah, seperti pembuangan atau salib. Kemudian, kita merupakan bayit yang diberikan Allah kepada Kristus dan sekaligus bayit yang dibangun atas dasar Kristus. Sebagai keluarga Allah, kita dianugerahi status sebagai anak Allah yang diberikan kepada Daud dan dimiliki secara hakiki oleh Kristus. Dengan demikian, didikan sebagai cara Allah untuk mengampuni dosa tanpa membiarkan dosa juga berlaku untuk kita sebagai keluarga Allah. Sebagai Bait Allah, kita dipanggil untuk menjadi umat yang kudus yang menempatkan Allah di tengah kehidupan kita bersama-sama sebagai jemaat, dan juga dalam kehidupan kita sebagai orang percaya.

Dipublikasi di 2 Samuel | Tag , , | Meninggalkan komentar