Penggalian Teks
Perikop ini adalah alinea kelima di mana semua ayat dimulai dengan huruf kelima abjad Ibrani (ha). Huruf itu dipakai untuk bentuk kata kerja yang fungsinya mirip dengan imbuhan me- -kan dalam bahasa Indonesia. Ketujuh ayat pertama memakai bentuk itu dalam bentuk perintah untuk memohon Tuhan untuk menyebabkan sesuatu di dalam atau di sekitar pemazmur. Seperti dalam seluruh mazmur ini, fokusnya adalah torah, ajaran Tuhan yang menuntun dan membimbing Israel sebagai anak-Nya. Intinya adalah Taurat Musa yang mencakup janji-janji, kisah penebusan oleh Tuhan, dan perintah-perintah yang menyangkut cara beribadah kepada Tuhan dan hidup adil dengan sesama. Namun, pembimbingan Tuhan bagi umat-Nya tidak dibatasi pada zaman tertentu. Dalam perjalanan sejarah Israel, Taurat itu ditafsir dan dilengkapi oleh nabi-nabi dan tradisi hikmat. Semuanya mencapai kesempurnaan dan penggenapan dalam pelayanan Yesus. Mazmur ini terbuka untuk direnungkan oleh umat Tuhan sepanjang zaman.
Ketiga ayat pertama memohon supaya pemazmur dibimbing dalam jalan Tuhan (33, 35) dengan diberi pengertian (34). Semuanya atas dasar suatu kerinduan untuk menempuh jalan Tuhan sepenuhnya. Untuk mendukung kerinduan itu, dia berdoa supaya hati dan mata dipalingkan dari hal-hal yang tidak baik (36-37). Jika fokus kelima ayat pertama ini adalah pola hidup yang dijalani sebagai anak atau murid, dia kemudian mengangkat pemeliharaan Tuhan sebagai Raja yang mengiringinya. Firman Allah termasuk janji bagi orang-orang yang menjadi hamba yang takut akan Dia (38). Ada juga cela bagi orang yang mengingkari perjanjian-Nya (39). Hukum-hukum Allah (dilihat sebagai keputusan hakim dalam kasus-kasus [misypat]) itu baik, sehingga dia berdoa supaya tidak kena cela orang yang tidak setia.
Ayat terakhir membalikkan urutan kerinduan dan permohonan untuk meringkas dan menutupi permohonan sebelumnya. Pemazmur merindukan “titah-titah” Tuhan. Kata piqudim (selalu jamak) itu mungkin menyoroti pembimbingan Tuhan sebagai perangkat perintah yang mengatur kehidupan secara sistematis. Hasilnya adalah hidup dalam “keadilan” Tuhan. Kata tsedaqah itu pada dasarnya berarti tingkah laku yang benar. Tuhan bertindak dengan benar ketika Dia menyelamatkan orang yang takut akan Dia sesuai dengan janji-Nya dan menghukum orang fasik. Dia juga mengajar umat-Nya untuk hidup benar dan adil. LAI “dalam keadilan-Mu” menyoroti pola hidup, tetapi terjemahan “oleh keadilan-Mu” juga memungkinkan, dan sepertinya kedua tafsir itu dimaksud dan saling mengandaikan. Hidup benar (aa.33-37) dimungkinkan dan merupakan penghayatan dari kebenaran/keselamatan Allah (aa.38-39).
Tentang Apa dan Untuk Apa?
Allah yang setia dan adil memberi hidup yang sejati melalui janji dan ajaran-Nya. Kita belajar sebagai anak supaya bisa diarahkan oleh janji-Nya sebagai hamba.
Makna
Apakah karakter orang dewasa sudah tetap, tidak bisa diharap berubah? Konsep itu tentu ada benarnya, tetapi dengan menempatkan dirinya sebagai anak yang perlu dibimbing, pemazmur mengimani kemampuan Tuhan sebagai Bapa untuk mengajar dan membimbingnya sehingga ada perubahan pola hidup, meskipun berangsur-angsur seperti juga pertumbuhan anak. Unsur-unsur pembimbingan yang muncul dalam mazmur ini adalah keyakinan bahwa jalan Tuhan itu lebih baik dari hal-hal duniawi yang sia-sia, lebih indah (“aku menyukainya”, a.35), dan menawarkan kerangka yang benar/adil untuk hidup yang sejati. Pertobatan yang terus-menerus menjadi sulit ketika dosa tetap dianggap menguntungkan, asyik, dan aman.
Paulus menawarkan konsep yang mirip secara dramatis dengan berbicara tentang pengharapan Injil sebagai janji siang pada waktu malam (Rom 13:11-14). Jika janji Tuhan bagi Israel diteguhkan oleh penebusan dari Mesir yang dirayakan dalam perjamuan Paskah (Kel 12:1-14), kebangkitan Kristus menjadi dasar yang lebih kuat lagi. Keyakinan akan daya Tuhan untuk mengubah kita diteguhkan oleh pemberian Roh Kudus (Roma 8). Hal itu menjadi usaha bersama dengan saling mengoreksi dan mendoakan (Mat 18:15-20).
Paulus juga menegaskan kasih sebagai inti dari Taurat (Rom 13:8-10). Ketetapan, peringatan, keputusan hukum, dan perangkat titah membantu kita untuk memahami hidup dalam kasih secara konkret. Pemazmur mengangkat keadilan sebagai intinya. Hal itu mencegah konsep kasih yang digiring oleh perasaan saja. Paulus dapat berbicara tentang kasih karena konkretnya sudah dipaparkan di dalam pengorbanan Yesus (Rom 5:5-10).