Yeh 17:22-24 Diberkati dan ditinggikan [17 Jun 2018]

Penggalian Teks

Sebelas tahun sebelum kota Yerusalem dihancurkan oleh kerajaan Babel itu, raja Yoyakhin diangkut ke Babel beserta lapisan-lapisan atas Yehuda.1 Pamannya Zedekia diangkat raja Babel untuk menjadi raja, tetapi kemudian memberontak terhadap Babel dengan meminta tolong kepada Mesir. Jadi, rajawali pertama dalam perumpamaan dalam 17:1-10 yaitu raja Babel, dan rajawali kedua yaitu raja Mesir. Seperti dijelaskan dalam 17:11-21, pemberontakan terhadap Babel merupakan pemberontakan terhadap Tuhan yang mengutus Babel untuk menghukum dan merendahkan Israel.

Namun, di balik hukuman Allah tetap ada rencana keselamatan. Sama seperti raja Babel mengambil puncak pohon aras (lapisan atas Israel), Tuhan akan mengambil sebuah carang dan menanamnya (22a). Mengingat bahwa puncuk pohon aras itu merujuk pada raja-raja, carang ini juga adalah janji tentang seorang raja Israel. Tetapi maksud Tuhan bukan untuk merendahkannya seperti oleh raja Babel melainkan untuk meninggikannya (22b-23a). Carang itu akan menjadi pohon aras (kerajaan) yang hebat, yang menjadi tempat perlindungan untuk bangsa-bangsa (23b).2 Dengan demikian, ia memperlihatkan kuasa Tuhan kepada kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang menjungkirbalikkan keadaan manusia: Israel yang sombong direndahkan, dan Israel yang rendah akan ditinggikan (24). Tentu, janji tentang raja itu dipahami sebagai janji Mesianis ketika raja tidak lagi berkuasa di Israel setelah kembali dari pembuangan.

Gunung Israel yang tinggi kemungkinan besar merujuk pada Sion, tempat Bait Allah (seperti dalam Yes 2:2). Ketinggiannya tidak hanya merujuk pada kedudukannya yang tinggi, tetapi juga dekatnya dengan Allah, sumber berkat yang berpusat pada Bait-Nya yang kudus yang mewakili pohon kehidupan dalam taman Eden. Dalam rangka ini, burung-burung dapat mewakili seluruh ciptaan Tuhan, dan perbandingan tinggi/rendah dilengkapi dengan bertumbuh/layu. Kerajaan mesias ini akan menjadi sumber hidup.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus menanam Kerajaan Allah yang menjadi paling mulia sebagai tempat perlindungan dan pertumbuhan bagi semua. Pengharapan ini membawa kita untuk mencari hidup sejati daripada-Nya.

Makna

Nubuat hukuman (seperti 17:1-21) mau meyakinkan orang Israel pra-pembuangan bahwa hidup mereka tidak akan berjalan lurus terus-menerus jika mereka berdosa terus. Makanya, mereka terkejut ketika Yerusalem jatuh. Kemudian, nubuat-nubuat keselamatan seperti perikop kita mau meyakinkan orang Israel di Babel (termasuk komunitas di sekitar Yehezkiel) bahwa pembuangan juga tidak akan berlangsung terus-menerus. Di bawah raja yang ditentukan Allah (puncak pohon aras) Israel akan ditinggikan, diberkati (bertumbuh), dan menjadi berkat bagi yang lain (naungan bagi burung-burung). Kedua perumpamaan Yesus dalam Mrk 4:26-34 menyatakan bahwa proses itu sudah mulai dalam pelayanan Yesus, dan menegaskan bahwa proses itu adalah dari yang rendah (kecil) menjadi yang tinggi (besar). Mrk 4:32 merujuk pada Yeh 17:23 tadi bahwa gerakan yang diberkati dan bertumbuh itu menjadi berkat bagi yang lain. Yesus sendiri mewujudkan pola Kerajaan Allah itu ketika Dia direndahkan dalam kematian lalu ditinggikan dalam kebangkitan.

Jadi, Kristus adalah sumber sejati berkat bagi umat Allah, bukan hanya dalam artian daya hidup jasmani melainkan juga dalam artian daya hidup kekal (2 Kor 5:14-17). Itulah yang mendorong rasul Paulus sebagai utusan Kristus untuk memberitakan Injil (5:18-21). Gereja yang percaya bahwa uanglah sumber sejati berkat akan membuat program berdasarkan keuangan; gereja yang percaya bahwa Kristus adalah pohon aras yang menjulung tinggi sampai kepada Allah akan mengakui layu keringnya karena dosa dan kepentingan yang picik dan akan melangkah dalam daya hidup Roh Kudus yang membuat bertaruk kembali.

Kerendahan itulah yang membawa kemuliaan bagi Allah yang meninggikan apa yang rendah. Sebagai raja Israel, Kristus diberi kedudukan yang tidak hanya lebih tinggi dari segala yang lain (“gunung yang menjulang ke atas”) tetapi malahan ada di surga, di sebelah kanan Allah. Muka umat Allah aman di tangan Allah, walaupun untuk sementara kita dihina bersama dengan Kristus. Makanya, gereja tidak usah memandang manusia secara duniawi lagi (2 Kor 5:16). Keselamatan gereja dan jemaat terdapat bukan dalam adanya orang-orang besar dalam kemajelisan, tetapi dalam karya Allah yang akan meninggikan kelak apa yang rendah sekarang.


  1. Barangkali, Yehezkiel ikut dalam rombongan itu, karena dia bernubuat dari tempat pembuangan sebelum Yerusalem dihancurkan.

  2. Dalam Yeh 31:6, burung di bawah naungan pohon dipakai sebagai kiasan untuk bangsa-bangsa kecil di bawah naungan kerajaan besar.

Iklan
Dipublikasi di Yehezkiel | Tag , | Meninggalkan komentar

Mrk 3:20-35 Mengenal kuasa Roh dalam pelayanan Yesus [10 Jun 2018] (Minggu Penghayatan Pentakosta III)

Penggalian Teks

Mrk 1-3 memperkenalkan Yesus dan pelayanan-Nya, termasuk berbagai reaksi terhadapnya: kekaguman orang banyak, perlawanan dari pemimpin agama, dan beberapa orang yang menjadi murid. Dalam perikop kita, berbagai reaksi itu menguat. Dalam a.20, Yesus dan murid-murid-Nya kewalahan karena banyaknya orang yang merindukan pelayanan-Nya. Perlawanan meningkat dengan kampanye ahli-ahli Taurat dari pusat (Yerusalem) untuk menjelekkan nama Yesus (22-30). Tetapi ada juga pihak yang baru: keluarga Yesus. Mereka menganggap Yesus tidak waras (21), tetapi ketika mereka datang untuk menjumpai Yesus (31-32), Yesus justru mengambil kesempatan untuk menunjuk murid-murid-Nya sebagai keluarga sejati-Nya (33-34). Perikop selanjutnya memaparkan berbagai perumpamaan Yesus yang dipakai untuk membedakan orang dalam dan orang luar (4:11-12). Yang di luar dan di dalam itulah yang diperlihatkan dalam perikop kita.

Jika keluarga Yesus menganggap Yesus tidak waras (21), pimpinan Yahudi malah menganggap-Nya kerasukan Beelzebul (22, 30), yaitu Iblis (23). Barangkali, tuduhan itu merupakan usaha untuk menjelaskan ulang mukjizat Yesus yang mengagumkan supaya orang banyak menolak-Nya. Namun, wibawa Yesus tetap sedemikian tinggi (karena orang banyak itu) sehingga ahli-ahli Tauratlah yang dipanggil (23a). Bahwa Dia memakai perumpamaan untuk berbicara dengan mereka menempatkan mereka sebagai orang luar (4:11-12). Penjelasan-Nya menggambarkan dunia setan sebagai kerajaan (24) atau rumah tangga (25) di bawah Iblis (23, 27) yang harus bersatu untuk bertahan. Kenyataan yang diabaikan oleh tuduhan para ahli Taurat itu ialah bahwa dampak pelayanan Yesus pada dunia roh-roh jahat terlalu dahsyat untuk dilihat sebagai muslihat dari Iblis sendiri. Kemudian, aspek rumah tangga muncul dalam perumpamaan kedua. Harta benda Iblis (orang-orang yang dikuasai setan) sedang dirampas Yesus dalam pelayanan-Nya; hal itu bukan karena kerja sama dengan Iblis tetapi karena Yesus telah berhasil mengikat si Iblis itu.

Kedua perumpamaan itu mengangkat pertanyaan tentang cara pandang ahli-ahli Taurat itu. Ada roh di balik pelayanan Yesus, tetapi roh itu bukan Beelzebul melainkan Roh Kudus (29). Mereka menafsir pembebasan yang luar biasa bagi orang-orang yang kerasukan itu sebagai karya Iblis. Itulah yang disebut hujat terhadap Roh Kudus. Jadi, ucapan Yesus itu bukan pemali yang menghancurkan keselamatan karena kekhilafan lidah, melainkan peringatan bahwa tidak ada harapan orang bertobat dan diampuni ketika cara pandangnya tentang karya Roh Kudus begitu kebalikan dari yang sebenarnya. Hujat keluarga Yesus terhadap-Nya muncul dari ketidaktahuan yang masih dapat diajar; orang-orang seperti ahli-ahli Taurat dalam cerita ini tidak pernah akan mau bertobat.

Sebaliknya, ada dari orang banyak yang justru melihat sesuatu dari Allah dalam pelayanan Yesus dan rindu untuk belajar daripada-Nya (32-34). Pernyataan Yesus bahwa mereka adalah keluarga-Nya yang sebenarnya itu menjadi bibit konsep jemaat sebagai keluarga Allah. Israel sebagai bangsa disebut anak Allah, dan individu-individu tertentu, terutama raja-raja Israel, juga disebut sebagai anak Allah. Tetapi di sini, semua murid Yesus menjadi keluarga dari Sang Anak Allah (bdk. 1:1) dan dengan demikian menjadi anak-anak Allah. Keluarga rohani ini yang akan menopang kehidupan mereka ketika ditolak dari keluarga asli (10:29-30). Mereka adalah anak yang membangkang terhadap Allah lalu bertobat, ketimbang ahli-ahli Taurat yang mengiyakan perintah Allah tetapi menolak Anak-Nya (Mat 21:28-32).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Keluarga Yesus adalah mereka yang mencari kehendak Allah di dalam Yesus yang berkarya dengan kuasa Roh Kudus, bukan di dalam keagamaan sendiri. Kita diperingati untuk mengenali kuasa Roh Kudus itu dan bersekutu dengan Allah di dalam-Nya.

Makna

Rusaknya persepsi rohani manusia oleh dosa muncul dalam Kej 3:8-15. Adam dan Hawa merasa takut di hadapan Allah sehingga bersembunyi, tetapi mengalihkan tanggung jawab atas perbuatan mereka kepada pihak yang lain (laki-laki kepada perempuan, perempuan kepada ular). Pola beragama seperti ahli-ahli Taurat dalam perikop kita mirip dengan pola itu; makanya mereka banyak mengecam “orang-orang berdosa”, tetapi mereka mempersalahkan Yesus daripada mengaku salah atau keliru. Janji Allah yang muncul dalam hukuman Allah terhadap ular dalam Kej 3:15 digenapi dalam pelayanan Yesus ini.

Kita selalu menghadapi godaan untuk menjadi seperti ahli-ahli Taurat. Terlalu banyak pejabat gerejawi menjadi pejabat dalam artian negatif: tugas utamanya menjadi pembelaan lembaga dan kedudukannya sehingga kritikan ditekan atau malah diserang balik. Hal itu bukan model keluarga yang dibangun Yesus. Dengan adanya yang Dia sebut sebagai “ibu” di dalam keluarga rohani-Nya, Yesus sendiri menempatkan diri-Nya di dalam keluarga Allah, bukan di atas-Nya.

Kemudian, dengan muda kita menjadi seperti keluarga Yesus dengan menganggap aliran atau pelayanan kristen tertentu “tidak waras” hanya karena embel-embel tertentu seperti gaya lagu, padahal andaikan dilacak, banyak orang dibantu dalam iman oleh pelayanan itu. Kita terpukau oleh embel-embel identitas yang dangkal daripada oleh substansi pekerjaan Roh Kudus.

Dipublikasi di Markus | Tag | Meninggalkan komentar

Yoh 3:1-17 Memandang Salib oleh kuasa Roh [27 Mei 2018] (Minggu Penghayatan Pentakosta I)

Penggalian Teks

Peristiwa dalam cerita ini ditempatkan di awal pelayanan Yesus. Hanya satu tanda Yesus yang sudah diceritakan dalam Injil (air menjadi anggur dalam 2:1-11), tetapi adanya banyak tanda lagi yang Dia lakukan disinggung dalam 2:23, seperti yang diceritakan di dalam ketiga Injil yang lain. Kemudian, Yesus telah menarik perhatian karena aksinya di Bait Allah sehingga para pemuka Yahudi mulai melawan-Nya (2:13-22). Dalam konteks itulah, salah satu dari mereka, Nikodemus, datang secara diam-diam pada malam hari. Kita pembaca Injil tidak tahu apa tujuannya yang sebenarnya, tetapi Yesus yang mengenal hati manusia (2:25) menerimanya dan berdialog dengannya. Hasilnya dalam percakapan ini tidak jelas, tetapi dalam Injil selanjutnya ternyata ada efeknya: dia mengusulkan jalan tengah mengenai Yesus kepada para pemimpin dalam perkunjunan Yesus selanjutnya ke Yerusalem (7:50), dan dia menyediakan bahan untuk mayat Yesus (19:39).

Nikodemus membuka percakapan dengan apa yang secara halus bertanya tentang wewenang ilahi Yesus untuk tanda-tanda yang Dia lakukan, termasuk penyucian Bait Allah (2). Jawaban Yesus disampaikan sebagai pernyataan penting (lihat penegasan di awal kalimat) bahwa Dia bertindak dengan wewenang Kerajaan Allah, tetapi juga dengan klaim bahwa jika hal itu belum dapat dilihat Nikodemus itu maka dia belum dilahirkan kembali (3). Nikodemus menangkap bahwa dia disinggung dan bereaksi (perhatikan “Kata” daripada “Jawab”) dengan menafsir perkataan Yesus tentang dilahirkan kembali itu secara sangat kaku (4). Yesus mengulang pernyataan-Nya disertai penjelasan. Kelahiran kembali itu dari Roh, dan memungkinkan orang tidak hanya untuk melihat Kerajaan Allah tetapi untuk memasukinya (5). Jadi, Yesus tidak berbicara tentang kelahiran jasmani (6), dan semestinya Nikodemus mengerti bahwa suatu pekerjaan Roh dibutuhkan untuk manusia menjadi layak untuk Kerajaan Allah (7) seperti dalam Yeh 36:26-27 dan Yeh 37:9-10, 14. Baik dalam nas dari Yehezkiel maupun dalam perikop ini, ada artian ganda dalam bahasa asli masing-masing antara angin dan Roh (8). Angin tidak langsung dilihat tetapi ada efeknya; Roh tidak dilihat tetapi membuat orang mampu melihat Kerajaan Allah dalam pelayanan Yesus dan memasukinya.

Nikodemus sudah mendapat jawaban yang jelas, tetapi tetap meragukan kaitannya dengan Yesus (9). Yesus menjawab dulu mengenai wibawa-Nya (10-11): semestinya Nikodemus mampu mengenali apa yang disaksikan oleh Yesus tentang Kerajaan Allah dan karya Roh itu. Kalau hal duniawi (karya Roh dalam diri orang) ternyata sulit, lebih lagi yang surgawi. Namun, Yesus sepertinya mengusahakan penjelasan tentang aspek surgawi itu. Dia telah turun dari surga (13) supaya ditinggikan pada salib (14) untuk meraih hidup kekal bagi setiap orang yang percaya, sama seperti orang Israel yang percaya dan memandang ular tembaga di padang gurun itu hidup (15). Penawaran hidup kekal kepada manusia yang menuju kebinasaan itu adalah hasil rencana surgawi yang berasal dari kasih Allah sendiri (16-17).

Dengan memperhatikan bahwa hidup kekal adalah hasil memasuki Kerajaan Allah, kita melihat bahwa Roh Kudus menerapkan di dalam kehidupan manusia di dunia rencana surgawi yang dilaksanakan pada salib Yesus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kerajaan Allah dilihat ketika dengan pembaruan oleh Roh, kita menangkap salib Kristus sebagai dasar Kerajaan Allah dan wujud nyata kasih Allah. Respons kita adalah memasuki Kerajaan Allah dengan percaya kepada Yesus yang tersalib itu dan menghayati pembaruan Roh Kudus.

Makna

Kadang konsep kelahiran baru diartikan sebagai niat pribadi untuk memperbaiki kehidupan kita. Tetapi tanpa Roh Kudus, daging hanya akan melahirkan daging. Manusia yang duniawi hanya akan mampu mencari tujuan-tujuan duniawi yang lebih baik, misalnya menggantikan keserakahan dengan tujuan agamawi seperti rajin memberi sedekah. Tetapi tanpa Roh, tujuan Allah dalam mengutus Anak-Nya Yesus Kristus akan tetap kabur. Nikodemus adalah pemuka agama yang kelihatan baik, saleh, dan tulus. Tetapi baginya Kristus adalah teka-teki yang membingungkan. Sebagian gejala di dalam jemaat memberi kesan yang sama. Hal-hal duniawi tidak hanya termasuk pembangunan fisik, tetapi juga kedudukan, program jemaat, dan penampilan. Hal-hal itu baik pada tempatnya, tetapi ketika menjadi tujuan, ada gejala bahwa visi jemaat akan Kerajaan Allah sudah menjadi kabur dan Roh sejati pelayanan sudah dipinggirkan.

Jadi, Yesus menegaskan bahwa hidup kekal itu berasal dari luar kita. Kita memandang kepada salib, bukan kepada diri sendiri, untuk diselamatkan. Pada salib itu, kita melihat kasih Allah kepada kita sebagai sumber hidup kekal, bukan kasih kita kepada Allah. Hidup kekal itu mulai dinikmati sekarang bukan karena daya dari dalam diri kita, tetapi karena daya Roh Kudus yang bekerja di dalam kita. Jadi, konsep percaya dalam perikop ini bukan sebagai daya manusia yang hebat, tetapi sebagai pengandalan akan karya Allah di dalam Kristus dan Roh. Dengan percaya, kita melihat sesuatu yang baru (Kerajaan Allah di dalam salib Kristus) yang sekalian menjadi tujuan kita, dan dalam mengejar tujuan itu ternyata ada daya tak terduga yang ikut serta. Hal itu menjelaskan mengapa dalam Injil ini, Yesus banyak berbicara tentang percaya. Budaya kewajiban di dalam jemaat memaksa perubahan dengan membujuk dan mempermalukan, tetapi dalam kepercayaan akan kuasa Roh, kita mengajak orang untuk memandang Yesus dan diubah.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , | Meninggalkan komentar

Yoh 17:6-19 Dikuduskan untuk diutus [13 Mei 2018]

Penggalian Teks

Doa Yesus dalam Yoh 17 mengakhiri pp.13-17 yang di dalamnya Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk tugas mereka setelah Dia pergi. Bagian ini disampaikan kepada Bapa di surga (17:1), tetapi dengan kesadaran bahwa murid-murid-Nya mendengar (13). Yesus tetap mengajar murid-murid-Nya, seperti dalam ketiga pasal sebelumnya, tetapi bagian ini juga bersifat janji, karena doa Yesus pasti dikabulkan. Jadi, dengan mendengarkan doa Yesus ini, mereka akan mampu bersukacita di tengah pergumulan yang akan mereka hadapi.

Sebenarnya, permohonan Yesus hanya beberapa, dan disampaikan sebagai bagian dari pemaparan lebih luas tentang hasil kematian-Nya bagi Yesus sendiri (17:1-5: “permuliakanlah Anak-Mu”, 17:1, 5), bagi murid-murid-Nya (perikop kita: “peliharalah mereka”, a.11; “melindungi mereka”, a.15; “Kuduskanlah mereka”, a.17), dan bagi gereja (17:20-26: “menjadi satu”, 17:21; “bersama-sama dengan Aku”, 17:24). Dari ringkasan itu kita melihat bahwa perikop kita menyoroti murid-murid Yesus, bukan gereja selanjutnya. Yesus meninjau kembali pelayanan-Nya kepada mereka, dan berdoa supaya mereka dipelihara dalam pencobaan yang sebentar lagi akan melanda mereka (ketika Yesus ditangkap dan disalibkan) dan dikuduskan untuk tugas mereka selanjutnya sebagai rasul.

Doa Yesus untuk murid-murid dalam a.11 muncul di tengah penjelasan tentang makna pelayanan-Nya bagi mereka (6-12). Murid-murid diberikan Allah kepada-Nya supaya nama Bapa dinyatakan kepada mereka (6). “Nama” di sini merujuk pada sifat dan pribadi Allah yang dinyatakan di dalam diri dan ajaran Yesus yang seluruhnya berasal dari Allah. Murid-murid yang dimiliki Yesus berasal dari Allah dan merupakan milik bersama (7, 10). Yesus telah menunaikan tugas-Nya untuk mengajar mereka sehingga mereka telah percaya (8) dan dengan demikian membawa kemuliaan bagi Yesus (10). Dia akan kembali kepada Bapa (10) setelah berhasil menjaga mereka dalam iman (12). Jadi, Bapa dimohon untuk melanjutkan tugas pemeliharaan mereka, terutama bahwa mereka bersatu dalam identitas nama Allah yang dinyatakan di dalam Yesus itu (11).

Nama Yesus itu menandakan perbedaan dari dunia yang muncul karena mereka telah dilahirkan kembali oleh Firman Yesus (aa.14; bdk. 1:12-13; 3:5-6). Karena dunia membenci Allah di dalam Yesus, mereka juga akan dibenci. Namun, tanggapan Yesus bukan supaya mereka ditarik dari dunia, melainkan dilindungi di dalam dunia (15). Perbedaan dengan dunia diulang dalam a.16, kali ini dengan tanggapan supaya mereka dikuduskan (17). Konsep kekudusan adalah perbedaan yang berakar dalam diri Bapa yang kudus, bukan keanehan yang sembarang. Kekudusan mereka akan berakar dalam kebenaran tentang Yesus yang disampaikan dalam firman Allah. Kekudusan itu memampukan misi. Yesus menguduskan diri untuk siap mati bagi dunia (19), dan mereka yang akan melanjutkan misi itu (18).

Pentingnya doa Yesus ini muncul dalam ayat berikutnya (17:20): orang lain akan percaya melalui pemberitaan mereka. Melalui kesatuan yang kudus dari orang-orang percaya di dalam Yesus dan Bapa, seluruh dunia dapat percaya (17:21).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Para rasul dikuduskan dalam kesatuan iman untuk diutus ke dalam dunia. Kita dikuatkan oleh doa Yesus untuk melanjutkan misi Allah itu sebagai jemaat yang kudus, yaitu sebagai jemaat yang dibangun atas dasar kebenaran di dalam Yesus dan yang dipelihara oleh Allah.

Makna

Allah memelihara jemaat karena sebagai bangsa yang kudus ia menjadi harta kesayangan-Nya yang di dalamnya Yesus dipermuliakan. Doa Yesus sudah dikabulkan ketika para rasul mendirikan jemaat-jemaat di Yerusalem, Samaria, Galilea, kekaisaran Romawi, bahkan berbagai pelosok dunia menurut beberapa tradisi gereja. Karena kuasa Roh Kudus ada atas mereka, dan kesatuan dalam kasih tampak, banyak yang percaya melalui pemberitaan mereka. Allah akan tetap memelihara dan menguduskan gereja yang mereka mendirikan.

Doa Yesus ini tidak diterapkan langsung dalam salah satu tindakan, karena seluruh kehidupan gereja menjadi wujud nyata dari karya Allah ini. Respons kita yang tepat ialah merenungkan dan mengimani siapakah kita sebagai jemaat yang kudus dan diutus. Jemaat bukan lembaga sosial yang bertugas untuk menopang orang dalam kehidupan yang terarah pada berhala-berhala duniawi; jemaat juga bukan lembaga agamawi yang bertugas untuk membangun kemurnian lepas dari pergumulan dunia yang tercemar oleh dosa. Kekudusan mengarahkan kita kepada kepentingan Allah yang dinyatakan dalam misi-Nya; pengutusan mendorong kita untuk memperhatikan dunia. Mencintai dan dicintai oleh dunia memastikan bahwa kekudusan kita telah pudar; pengabaian pergumulan dunia yang larut dalam dosa karena tidak percaya memastikan bahwa misi kita kendur. Kedua pola itu dapat muncul bersamaan; itulah jemaat yang terancam dipotong dari pokok anggur sebagai ranting yang tidak mampu berbuah lagi (Yoh 15:2).

Dipublikasi di Yohanes | Tag , | Meninggalkan komentar

Kis 10:44-48 Roh sebagai ciri khas umat Allah [6 Mei 2018]

Penggalian Teks

Perikop kita adalah bagian akhir cerita perjumpaan Petrus dengan Kornelius. Cerita itu adalah bagian dari kisah lebih luas yang menjadi salah satu tujuan besar Lukas, yaitu bagaimana gereja perdana sampai pada menerima orang non-Yahudi sebagai orang-orang percaya sejati tanpa harus menyandang hukum Taurat. Hal itu sulit, karena implikasinya bahwa hukum Taurat merupakan adat orang Israel, dan bukan maksud Allah bagi semua manusia. Rasul Paulus kemudian mengembangkan pemahaman berdasarkan rencana keselamatan Allah yang berakar dalam janji kepada Abraham yang digenapi di dalam Kristus, yang di dalamnya hukum Taurat memiliki tempat yang terbatas (Gal 3-4; Rom 4-8). Tetapi refleksi teologis itu muncul karena kenyataan yang terjadi lebih dahulu, yaitu penurunan Roh Kudus atas orang-orang yang belum bersunat (bdk. Gal 3:1-5).

Perikop kita mulai di tengah jalan, ketika Petrus sedang menceritakan Injil, yaitu berita tentang Kristus dan penawaran pengampunan (10:34-43). Beritanya mirip dengan berita dalam Kis 2 yang berakhir dengan janji bahwa Roh Kudus akan mereka terima jika para pendengarnya memberi diri dibaptis (2:38). Tetapi kali ini, Roh Kudus tidak menunggu baptisan. Dia turun secara nyata dengan menimbulkan berbagai bahasa dalam orang-orang tak bersunat itu (45-46).1 Reaksi “tercengang-cengang” dari rombongan Petrus sama dengan reaksi orang banyak pada hari Pentakosta (2:7). Hal itu menunjukkan bahwa memang Allah melakukan sesuatu yang baru dan tak terduga.

Melihat Roh Kudus turun seperti pada hari Pentakosta, Petrus (dalam wewenangnya sebagai rasul, utusan Kristus) menyuruh Kornelius sekeluarga untuk dibaptis. Kemudian, ada beberapa hari yang di dalamnya barangkali rombongan Petrus menjelaskan Kristus lebih jauh dari Kitab Suci (PL), mengingat bahwa Kornelius tidak asing sebagai orang yang takut akan Allah (10:2). Yang pokok di sini muncul dalam cerita selanjutnya, yaitu bahwa Petrus membaptis mereka tanpa menyunat mereka lebih dahulu lalu menginap dengan mereka. Soal pergaulan diperebutkan dalam 11:1-18, dan soal sunat muncul setelah pelayanan Paulus dalam p.15.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Roh Kudus menggantikan hukum Taurat sebagai ciri khas umat Allah. Kita diajak untuk menerima Roh Kudus dengan percaya kepada berita Injil dan dibaptis; kita diajak untuk ikut serta dalam pemberitaan Injil dengan kuasa Roh Kudus.

Makna

Tugas Petrus dalam p.10 ini ialah belajar bahwa Allah akan memanggil orang-orang non-Yahudi tanpa mereka harus menjadi orang Yahudi. Dalam perikop ini, dia diajar oleh karya Roh Kudus. Kita perhatikan bahwa Roh tidak menuntun Petrus untuk keluar dari berita Injil yang berpusat kepada Kristus tetapi dari hukum Taurat sebagai (ternyata) adat orang Israel. Jika adat yang diberikan Allah dapat ditiadakan sebagai hukum yang mengikat, lebih lagi adat-adat yang lain, entah dalam budaya, entah dalam tradisi gereja. Tentu, adat tetap dihargai sebagai perbekalan hikmat (lebih lagi hukum Taurat yang tetap merupakan firman Allah), tetapi belum tentu adat yang cocok di tempat yang satu tetap cocok dalam tempat yang baru. Roh Kudus menggantikan hukum Taurat sebagai daya gerak dan pengarah kehidupan jemaat.

Petrus setia memberitakan Injil, dan Roh Kudus yang membuat pemberitaan itu berdampak. Dalam seluruh pasal ini, Petrus tidak mengikuti program atau strategi. Sebaliknya, dia kewalahan tetapi siap dituntun Roh Kudus dan memberitakan Injil ketika diberi kesempatan. Apa yang dikerjakan Roh Kudus melampaui apa yang dia doakan atau pikirkan (Ef 3:20).

Kornelius sekeluarga dibaptis, dan barangkali mereka mengaku percaya kepada Kristus (walau hal itu tidak diceritakan). Tetapi kedua hal itu merupakan buah dari pencurahan Roh Kudus. Jika hal itu pertama-tama penting karena peran Kornelius sebagai buah sulung orang-orang tak bersunat, kita juga diingatkan bahwa Roh Kuduslah yang menjadi bobot atau daya di balik semua buah di dalam gereja. Yoh 15:9-17 menguraikan kasih Kristus sebagai cermin dari kasih Allah dan teladan bagi kasih persaudaraan itu, sebagai lanjutan dari Yoh 15:1-8 yang mengatakan bahwa kita berbuah ketika kita bergabung dengan Kristus oleh kuasa Roh (Yoh 14:15-20). Kadang, jemaat-jemaat kita asyik dengan program yang dikerjakan secara formalistik, berdasarkan bentuk atau kerangka (“form”) tanpa isi berupa daya rohani yang jelas. Mungkin kita dapat memasukkan Roh Kudus dalam program kita, tetapi lebih berguna berdoa untuk kuasa Roh Kudus, dan menyesuaikan program dengan apa yang dikerjakan Roh Kudus di dalam jemaat.


  1. LAI “bahasa roh” menerjemahkan bentuk jamak dari Yunani glōssa yang berarti lidah atau bahasa, seperti dalam Kis 2:4 yang diterjemahkan “bahasa-bahasa”. Mungkin LAI menganggap bahwa bentuk jamak dipakai karena setiap orang memakai bahasa roh masing-masing. Yang penting adalah bahwa peristiwa ini cukup bermiripan dengan hari Pentakosta sehingga tidak bisa disangkali bahwa Rohlah yang turun.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag | Meninggalkan komentar

Yoh 15:1-8 Berbuah dalam Firman dan Doa [29 Apr 2018]

Penggalian Teks

Yesus sudah memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia sebentar lagi akan meninggalkan mereka. Dia sudah menjanjikan Roh Kudus sebagai pengganti-Nya yang oleh-Nya Dia dan Bapa akan diam bersama mereka (14:23). Dengan demikian Yesus menjelaskan hubungan erat yang dimungkinkan dengan Dia pergi ke surga. Perikop kita berbicara tentang hubungan itu dari segi yang lain, dalam kiasan Yesus sebagai pokok anggur, suatu kiasan yang lasim untuk Israel (misalnya, Hos 10:1-2; Mzm 80:8-18). Dalam ayat-ayat berikutnya, hubungan itu dilihat sebagai kasih yang dinyatakan dalam kasih persaudaraan berdasarkan kasih Yesus dalam pengorbanan-Nya (15:9-17).

Dalam PL, Israel adalah pokok (atau kebun, Yes 5:1-7) angggur dan Tuhan (Yahweh) adalah pengusahanya. Sama seperti dalam kiasan Yesus ini, buah yang dicari Tuhan dan dipersoalkan ketika tidak ada. Jadi, yang baru di sini ialah Yesus sebagai pokok (1). Dialah yang akan memungkinkan umat Allah berbuah sebagai semestinya, dengan demikian memuliakan Allah (8). Kemudian, dalam PL, pokok atau kebun anggur dihancurkan ketika terus-menerus tidak berbuah. Tetapi di dalam Yesus, umat Allah aman secara keseluruhan. Yang dipotong ialah ranting yang tidak berbuah, tetapi juga ada pemeliharaan (“pembersihan” atau pemangkasan) untuk membantu ranting berbuah lebih banyak (2).

Jadi, ada dua pokok yang dipersoalkan: bagaimana tinggal di dalam Yesus, dan bagaimana berbuah. Yesus mulai dengan menegaskan bahwa murid-murid-Nya sudah bersih oleh firman Yesus (3). Yang dimaksud mungkin paling jelas dalam Yoh 6:68-69, tempat Petrus mengaku percaya bahwa Yesus adalah Yang Kudus, berdasarkan kata-kata-Nya. Mereka sudah di dalam Yesus, tetapi untuk berbuah harus tetap tinggal di dalam-Nya, sama seperti ranting (4). A.5 menjelaskan bahwa cara berbuah ialah tinggal di dalam Yesus yang juga berarti Yesus tinggal di dalam dia. A.6 menguraikan proses pemotongan dari a.2: dibuang, menjadi kering, kemudian dikumpulkan untuk dibakar. Menurut urutan ini, menjadi kering bukan penyebab dipotong, tetapi akibatnya. Kurang lebih, ranting itu tidak bersambung dengan pokok (hanya kelihatan bagian daripadanya) sehingga tidak berbuah.

Kemudian, Yesus mengangkat firman dan doa sebagai cara tinggal di dalam-Nya (7). Cara Dia tinggal di dalam kita adalah dengan firman-Nya tinggal di dalam kita; anggaplah sebagai firman yang didengarkan dan diimani, tidak sekadar didengar. Janji tentang “apa saja yang kamu kehendaki” perlu dipahami dalam konteks uraian Yesus. Jika firman tinggal di dalam kita, yang akan kita kehendaki ialah untuk berbuah demi kemuliaan Allah Bapa. Melalui doa, kita akan menerima apa saja yang dibutuhkan untuk berbuah banyak.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dengan tinggal di dalam Yesus, umat Allah akan berbuah dan memuliakan Allah. Kita diajak untuk mendengarkan firman dan berdoa untuk buah itu.

Makna

Kiasan buah disukai di dalam Alkitab, karena adalah jelas bahwa buah bukan sesuatu yang dilakukan atas kehendak tanaman, tetapi sesuatu yang muncul dari kondisi tanaman. Jadi, inti wacana Yesus di sini adalah untuk tinggal di dalam Dia dengan firman dan doa; soal berbuah akan menyusul. Tentu, tindakan juga penting. Tetapi karena kehendak manusia ikut rusak oleh dosa, kita tidak dapat membawa kemuliaan bagi Allah melalui usaha kita. Orang Farisi yang menentang Yesus memiliki kehendak yang kuat, tetapi apa yang mereka kehendaki muncul dari hati yang belum dibersihkan dengan beriman kepada Yesus.

Jadi, fokus di sini semestinya firman dan doa. Mengingat ayat-ayat selanjutnya (yang dikembangkan juga dalam 1 Yoh 4:7-21), hal-hal itu terjadi dalam persekutuan seorang dengan yang lain. Kisah Filipus dalam Kis 8:26-40 menjadi contoh orang yang peka terhadap Roh Kristus sehingga dipakai untuk membuahkan orang percaya yang baru.

ἤδη ὑμεῖς καθαροί ἐστε διὰ τὸν λόγον ὃν λελάληκα ὑμῖν· 4 μείνατε ἐν ἐμοί, κἀγὼ ἐν ὑμῖν. καθὼς τὸ κλῆμα οὐ δύναται καρπὸν φέρειν⸌ ἀφ᾿ ἑαυτοῦ ἐὰν μὴ μένῃ ἐν τῇ ἀμπέλῳ, οὕτως ⸂οὐδὲ ὑμεῖς ἐὰν μὴ ἐν ἐμοὶ μένητε⸃. 5

Dipublikasi di Yohanes | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Kis 4:1-12 Nama yang menyelamatkan [22 Apr 2018]

Penggalian Teks

Sementara Petrus dan Yohanes memberitakan Yesus yang bangkit kepada orang banyak yang menyaksikan penyembuhan orang lumpuh itu (Kis 3), ada reaksi dari pimpinan orang Yahudi. Peristiwa ini merupakan kali pertama mereka disebutkan sejak Yesus bangkit, dan Lukas menyoroti bahwa di antara mereka ada orang-orang Saduki (1) yang keberatan dengan pemberitaan kebangkitan (a.2, bdk. 23:8; Imam Besar termasuk mazhab itu, 5:17). Walaupun kedua rasul ditahan semalam (a.3, mungkin juga dengan orang lumpuh itu karena dia hadir di sidang besoknya, a.10), perlawanan dari pimipinan agama itu tidak mengurangi kuasa berita Petrus di halaman Bait Allah, dan banyak percaya (4). Daya Roh Kudus yang sudah dicurahkan ke atas gereja itu jelas dalam hasil pemberitaan para rasul. Namun, sidang besoknya akan merupakan kali pertama para rasul berhadapan dengan para penguasa. Yesus pernah berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Roh Kudus akan memberdayakan mereka di hadapan para penguasa (Luk 12:11-12), tetapi Petrus pernah gagal. Kita menunggu bagaimana hasilnya di sini.

Dalam menceritakan sidang besoknya, Lukas menyoroti banyaknya orang terpandang dari berbagai pihak yang hadir (5-6). Kegelisahan mereka muncul dalam pertanyaan mereka kepada kedua rasul, yaitu tentang kuasa dan nama. Pertanyaan itu (dan daftar penanya) mirip dengan pertanyaan kepada Yesus setelah Dia menyucikan Bait Allah (Luk 20:1-2). Yesus ditantang untuk menunjukkan wewenang-Nya (Yunani: exousia; LAI: “kuasa”) untuk mengganggu wilayah para imam. Pertanyaan tentang “dalam nama” merujuk pada hal yang sama, tetapi diawali dengan pertanyaan tentang sumber daya penyembuhan itu (Yunani: dunamis; LAI: “kuasa”). Berkaitan dengan Bait Allah dan ajaran, nama pimpinan Yahudi yang semestinya berlaku. Tetapi ternyata makin banyak orang yang mulai mengikuti nama yang lain; yang terpandang mulai hilang wibawanya.

Yesus tidak memberi jawaban langsung kepada para penanya-Nya, karena Dia belum mati dan bangkit. Tetapi pencurahan Roh Kudus mengantarkan bab yang baru, dan sekarang Roh Kudus memberdayakan Petrus di depan penguasa-penguasa itu (8). Dia mulai dengan menyinggung masalah pokok bagi mereka, bahwa orang lumpuh itu berdiri di depan mereka sehat, dan bahwa menyembuhkan orang sakit sulit digolongkan sebagai kejahatan (9). Tetapi seperti di depan orang banyak, Petrus tidak lama menyoroti penyembuhan itu tetapi langsung mulai berbicara tentang Yesus (10). Nama Yesuslah yang memberi mereka daya dan wewenang untuk menyembuhkan orang itu. Kemudian, Petrus menegaskan bahwa nama Yesus itu yang diunggulkan oleh Allah jauh di atas nama mereka dengan membangkitkan Yesus yang mereka salibkan (10). Hal itu terjadi sesuai dengan Mzm 118:22, suatu nas yang meringkas pengalaman banyak hamba Tuhan dalam PL yang ditolak oleh bangsa yang hatinya keras (11).

Puncak kesaksian Petrus ialah pernyataan bahwa hanya nama Yesus yang dapat menyelematkan (12). Keselamatan tidak ada pada pimpinan Yahudi, keselamatan juga tidak ada pada Kaisar (para Kaisar biasa disebut “Juruselamat”). Kata “menyelamatkan” dan kata “disembuhkan” dalam a.9 sama (Yunani: sōzō). Jelas bahwa Kaisar dan pimpinan Yahudi tidak bisa menyembuhkan. Walaupun penyembuhan tidak selalu terjadi dalam kehidupan ini, kebangkitan orang percaya merupakan pemulihan Dasar pernyataan Petrus ialah kebangkitan Yesus yang memang unik; penyembuhan itu adalah gambaran tentang kuasa (daya, wewenang) nama itu.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus memiliki nama di atas segala nama duniawi sebagai satu-satunya Juruselamat yang sejati yang telah bangkit. Dalam dan demi nama itu gereja bersaksi dalam kuasa Roh Kudus.

Makna

Gaya para pemimpin Yahudi ditemukan di setiap jenjang gereja, yaitu orang yang menganggap diri sebagai saluran berkat dan penentu kebijakan. Dalam bahasa Yoh 10:11-18, mereka mau diakui sebagai gembala yang baik, padahal hanya ada Satu. Banyak teolog melihat kaitan antara kedudukan tinggi orang-orang Saduki dan penolakan pengharapan akan kebangkitan. Mereka sudah mendapat upahnya dalam kehidupan ini, dan kebangkitan merupakan ancaman terhadap kedudukan mereka, lebih lagi kebangkitan orang yang mereka salibkan. Kebangkitan Kristus mengungkapkan bahwa keputusan para petinggi bisa tidak hanya keliru tetapi jahat; yang mengaku sebagai gembala yang baik bisa saja jahat. Akitab dari gembala yang berpura-pura baik ialah tindakan yang konyol, seperti menyidangkan orang yang berbuat baik.

Tentu, kita belajar dari rasul Petrus. Dia menunjukkan bagaimana janji Yesus tentang pertolongan Roh Kudus terwujud. Jika keselamatan—hidup yang sejati sekarang dan hidup yang kekal—hanya ada dalam nama Yesus, siapkah kita dipakai oleh Roh Kudus untuk bersaksi tentang nama itu? Petrus tidak takut menyinggung perasaan dan menolak perintah pimpinan, bukan karena dia suka membangkang, melainkan karena ada nama yang terlalu mulia, yang membawa keselamatan yang terlalu berharga, untuk disembunyikan.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , | Meninggalkan komentar