Markus 15:20b-32 Memandang Salib [29 Mar 2015] (Minggu Sengsara VII)

Minggu-minggu pra-paskah menjadi kesempatan emas untuk pemberitaan Injil, karena kita berfokus pada diri dan karya Yesus yang begitu luar biasa. Tidak salah pada hemat saya kalau tidak banyak usul praktis yang ditawarkan. Yang penting Yesus yang ditonjolkan, supaya Dia dapat diimani lebih dalam oleh kita semua.

Penggalian Teks

Ada dua adegan dalam perikop ini. Aa.20b–25 menceritakan penyaliban Yesus, dan aa.27–32 menceritakan pengolok-olokan Yesus. Di antara kedua bagian ini, kita diberitahu bahwa alasan tertulis mengapa Yesus disalibkan ialah sebagai Raja orang Yahudi. Hal itu sudah muncul beberapa kali dalam p.15 ini. Imam-imam kepala bertanya tentang apakah Yesus adalah “Mesias” (14:61), tetapi untuk Pilatus istilah itu bergeser menjadi “Raja orang Yahudi” (15:2, 9, 12) supaya unsur politik yang menjadi urusan Roma dalam istilah Mesias itu jelas. Bagi Pilatus gelar itu tidak masuk akal, dan bagi tentara, gelar itu lucu (15:16–20).

Bagian pertama (20b–25) memberi dua petunjuk bahwa gelar itu tidak lucu. Yang pertama adalah sebutan Aleksander dan Rufus, yang sepertinya akan dikenal oleh pendengar Injil Markus. (Bdk. nama Rufus dalam Rom 16:13, satu alasan mengapa ada kemungkinan Injil Markus ditulis untuk jemaat-jemaat di sana.) Penyaliban Yesus bukan akhir cerita. Yang kedua ialah kutipan dalam a.24 dari Mzm 22:19 terkait dengan pembagian pakaian Yesus. Yesus mengalami penderitaan seperti raja Daud dalam Mazmur itu, tetapi akhir Mazmur 22 itu menceritakan pemulihan oleh Allah. Yang terjadi pada Yesus adalah bagian dari rencana Allah, dan rencana itu telah berbuah dalam keluarga Simon, orang Kirene itu.

Bagian kedua menunjukkan bagaimana Yesus menjadi Raja di atas salib, sesuai dengan papan di atas salib itu. Dengan disalibkannya Yesus, Bait Allah dirobohkan untuk dibangun kembali dalam tiga hari (29). Tetapi, hal itu hanya bisa dilakukan kalau Yesus tidak menyelamatkan diri-Nya (30). Jadi, ejekan imam-imam kepada adalah benar (tanpa disadari): untuk menyelamatkan orang lain, Yesus tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (31), karena Dia harus menjadi tebusan bagi banyak orang (Mk 10:45). Mereka mencari mujizat, yaitu Yesus turun dari salib, tetapi mereka tidak bisa melihat, lebih lagi percaya, bahwa Dia adalah Mesias yang sejati karena menyelamatkan orang banyak.

Jadi, p.15 ini sarat dengan ironi—pertentangan antara makna di permukaan dengan makna yang sebenarnya. Yesus disebut Raja orang Israel sebagai sindiran oleh tentara (15:16–20) dan sebagai ejekan oleh orang Yahudi (aa.27–32). Tetapi, Dia justru adalah Raja orang Yahudi, hanya dengan cara yang terlalu mengagetkan.

Maksud bagi Pembaca

Yesus menjadi Raja di atas salib untuk menyelamatkan kita. Kita selayaknya kagum, bersyukur, dan dengan demikian, cara pandang kita tentang dunia berubah. Kita belajar siap direndahkan demi kepentingan orang lain.

Makna

Flp 2:1–11 mengangkat penyaliban Yesus sebagai teladan untuk kita mementingkan orang lain. Jadi, kita tidak harus menunggu sampai diancam mati baru kita bisa mengikuti teladan Yesus. Merendahkan diri dan mementingkan orang lain bisa dalam banyak konteks. Hal itu tidak pernah mudah. Bahkan murid-murid Yesus saja yang telah mengikuti Dia selama tiga tahun, tetap tuli terhadap pemberitahuan tentang penghinaan dan kematian-Nya. Mereka tidak mau menerima anak diberkati (Mk 10:13–16), dan malahan sibuk bertengkar tentang siapa yang terbesar (Mk 10:35–45). Hanya Roh Kudus yang mengubah sikap mereka sehingga mereka siap ikut menderita dan dihina, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul mulai pasal 2. Hamba Tuhan dalam Yes 50:4–9 (lihat di sini juga menunjukkan bagaimana kesetiaan kepada Allah bisa membawa masalah/penderitaan.

Banyak implikasi praktis dari pandangan dunia yang dibukakan oleh pengorbanan Yesus. Tetapi, implikasi-implikasi itu belum bisa dilakukan selama imajinasi orang masih duniawi. Orang Yahudi melihat Yesus di salib dan tidak dapat melihat kemuliaan-Nya sehingga tidak percaya. Kita harus belajar memandang salib dan melihat kemuliaan Allah dalam kasih-Nya kepada kita. Dengan imajinasi yang mulai dibentuk oleh salib, maka mementingkan orang lain, bersabar dalam penghinaan, tekun dalam kegagalan, dan banyak hal lagi mulai masuk akal. Semoga memandang kepada Yesus menyegarkan iman dan pengharapan kita.

Dipublikasi di Markus | Tag | Tinggalkan komentar

Yoh 12:20-33 Menempuh jalan Raja yang disalibkan [22 Mar 2015] (Minggu Sengsara VI)

Dengan senang hati saya kembali ke blog ini, agar tulisan ini menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pelayan-pelayan firman, khususnya di Gereja Toraja, tetapi juga di mana saja leksionari dipakai. Pada hemat saya, mengajarkan firman Tuhan merupakan kesempatan yang luar biasa untuk mempelajari firman-Nya. Saya berharap bahwa bahan ini membantu dalam rangka itu. Tentunya, kewajiban pelayan firman untuk berdoa dan menerapkan firman itu pertama-tama kepada dirinya sendiri ada di luar jangkauan materi ini.

Penggalian Teks

Allah memilih Israel untuk memulihkan berkat yang lenyap karena dosa (Kej 12:1–3). Tetapi Israel terdiri atas orang-orang berdosa, dan perjanjian Allah dengan Israel memperjelas sifat manusia yang berdosa, karena mereka membalas kebaikan Allah dengan pemberontakan (Yer 31:32). Makanya, melalui Yeremia yang banyak menubuatkan hukuman atas Israel, Allah juga memberitakan keselamatan di balik hukuman itu (Yeremia 31–32). Khususnya, Dia menjanjikan perjanjian yang baru (Yer 31:31). Dalam perjanjian itu, hati umat-Nya akan berubah menjadi taat, dan mereka akan menikmati hubungan dengan Allah sebagai umat-Nya (Yer 31:33), karena dosa mereka akan diampuni dengan tuntas (Yer 31:34).

Pas sebelum perikop kita, Yesus masuk ke Yerusalem sebagai Raja Israel (Mesias) untuk menggenapi janji-janji Allah seperti itu (Yoh 12:12–19). Orang Farisi, yang mewakili kepentingan kaum kalangan atas Yahudi, melihat bahwa pengaruh mereka atas orang banyak itu terancam oleh popularitas Yesus (12:19). Tetapi, pengaruh mereka yang moralistis dan banyak menghakimi itu tidak sanggup membawa pengampunan atau mengubah hati, seperti yang Allah janjikan melalui Yeremia. Dalam perikop kita, Yesus menjelaskan bagaimana Dia akan menjadi Mesias yang menderita demi tujuan itu.

Penjelasan Yesus dipicu oleh permintaan beberapa orang Yunani untuk bertemu dengan Yesus (20–22), karena karya-Nya justru akan membuka berkat bagi bangsa-bangsa. Dia melukiskan karya-Nya sebagai pemuliaan (23), dan mungkin saja mereka mengaitkan hal itu dengan kedatangan-Nya masuk Yerusalem sebagai Raja Israel. Tetapi Yesus malah berbicara tentang kematian: biji gandum baru mencapai tujuannya bila mati (24). Jika hal itu saja sudah mengagetkan, terlebih lagi implikasinya bagi murid-murid Yesus (25–26). Jalan menuju hubungan dengan Allah sebagai umat-Nya (bahasa Yeremia), yaitu mencapai hidup yang kekal dan dihormati Allah (bahasa Yesus), ialah siap mati sama seperti Yesus.

Yesus langsung memperlihatkan sikap yang Dia maksudkan (27–28a). Dia tidak menghadapi kematian dengan tenang: jiwa-Nya “terharu”. Dia rindu supaya bisa diselamatkan dari salib, tetapi Dia mengingat kembali dan memilih tujuan-Nya demi kemuliaan Allah. Allah langsung bersuara mendukung bahwa jalan salib adalah jalan kemuliaan bagi Yesus, dan suara itu memisahkan orang banyak: ada yang mendengarnya, ada yang menganggap itu bunyi guntur saja (28b–29). Hal itu menggambarkan pemisahan yang akan terjadi disebabkan oleh cara Yesus mati (30–33). Para pengikut penguasa dunia (seperti orang Farisi tadi) akan tuli terhadap perlunya Mesias Allah disalibkan, dan mereka akan dilemparkan ke luar (31). Tetapi, “semua orang”—artinya, bukan hanya orang Yahudi tetapi juga bangsa-bangsa seperti yang datang tadi—akan ditarik oleh salib untuk datang kepada Yesus, yaitu siapa saja yang memandang kepada salib itu (bdk. 3:14–15 dari minggu yang lalu).

Jadi, perikop ini berawal dan berakhir dengan penjelasan Yesus bahwa Dia akan dimuliakan dengan ditinggikan pada salib, dan dengan demikian akan membawa keselamatan bagi semua orang. Di tengah penjelasan itu, kita belajar bahwa jalan yang ditempuh oleh kita yang ikut dalam keselamatan itu sama.

Maksud bagi Pembaca

Kita diarahkan untuk mengejar kemuliaan dengan jalan yang telah dirintis oleh Yesus, yaitu tidak mencintai nyawa di dunia ini. Pengarahan itu terjadi ketika kita memandang pada Yesus, sang Raja, yang disalibkan.

Makna

Jalan salib sama sekali tidak masuk akal. Dalam a.27, Yesus mengutip Mzm 6:4–5, di mana pemazmur berdoa untuk diselamatkan dari bahaya. Manusia diciptakan untuk hidup, dan mencintai nyawa adalah hal yang wajar. (Tentu, orang berdosa cenderung mengangkat berhala-berhala yang kehilangannya dianggap setara dengan mati—entah materi, hormat, atau kenikmatan.) Makanya, imajinasi kita perlu dipenuhi oleh kisah Yesus supaya kita mulai memahami mengapa jalan salib itu tidak hanya perlu, tetapi bahkan menjadi jalan yang mulia. Menyuruh orang menempuh jalan salib tanpa mereka menangkap jalan Yesus adalah moralisme—etika tanpa Injil.

Ibr 5:5–6 menangkap intinya dengan membandingkan penetapan Yesus sebagai Anak Allah sekaligus Imam Besar Agung. Mazmur 2 yang dikutip dalam Ibr 5:5 menggambarkan raja Israel sebagai orang yang menegakkan Kerajaan Allah dengan tegas (bdk. “gada besi” dalam Mzm 2:9). Tetapi, seorang imam mengenal kelemahan manusia dan mengobatinya dengan persembahan (Ibr 5:1–3), dan Yesus juga mengalami kondisi manusia itu sehingga Dia “dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibr 4:15).

Dalam ayat-ayat berikutnya (Ibr 5:5–7), penulis Ibrani agak mempertentangkan kedua status itu. Disalibkan tidak cocok dengan status-Nya sebagai Anak Allah (Ibr 5:8, “sekalipun Ia adalah Anak”), tetapi perlu untuk “Ia menjadi pokok [sumber/penyebab] keselamatan yang abadi” sebagai Imam Besar. Hal itu tidak mudah bagi Yesus. Dia berdoa dengan “ratap tangis dan keluhan” (Ibr 5:7), dan dalam pergumulan itu Dia belajar sulitnya manusia taat dalam pencobaan. Kita melihat hal yang senada dalam Yoh 14:27, bahwa Yesus terharu. Kata itu (tarasso) dipakai juga dalam Yoh 14:1, di mana Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya yang mulai memahami kedukaan yang menunggu mereka malam itu, “Jangan gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Maksud Yesus ternyata bukan bahwa semestinya kita tenang-tenang saja, karena Dia sendiri tidak tenang. Sebaliknya, tidak mencintai nyawa kita dalam dunia selalu merupakan hal yang sulit. Hati kita akan terharu, sama seperti Yesus. Tetapi, dalam kegelisahan hati kita percaya kepada Allah bahwa Dia menghormati orang yang tidak mencintai nyawanya dalam dunia ini, dan kita percaya kepada Yesus dengan mengejar kemuliaan dengan menempuh jalan salib itu. Jalan salib itu merupakan Taurat yang ditaruh dalam batin kita sehingga kita menjadi umat Allah yang sejati.

Kita adalah orang berdosa sama seperti Israel, tetapi ketika kemuliaan Sang Raja yang disalibkan mulai meresap sampai ke motivasi dan keinginan yang paling dalam, perubahan hati itu terjadi. Kita menjadi lega karena dosa kita diampuni dengan tuntas. Yang tadinya dicintai dan dianggap harga mati mulai hilang kemuliaannya; sebaliknya, salib Kristus yang menarik hati kita. Itulah cara Allah membentuk umat yang sejati dalam perjanjian baru.

Dipublikasi di Ibrani, Yeremia, Yohanes | Tag | Tinggalkan komentar

Yes 40:1-11 Allah Datang dengan Kekuatan [7 Des 2014]

Dengan tulisan terakhir untuk tahun ini, saya mengucapkan selamat merayakan dan menantikan kedatangan Juruselamat kita. Sampai jumpa tahun depan.

Penggalian Teks

Yesaya 1–35 berfokus pada hukuman yang akan menimpa Yehuda karena dosanya. Pp.36–39 menceritakan sejarah Hizkia yang luput dari kerajaan Asyur (yang menghancurkan Kerajaan Utara) tetapi memberi peluang bagi orang Babel yang kemudian menjadi alat Tuhan untuk menghancurkan Yehuda, dan membawa umat Israel ke dalam pembuangan. Perikop ini merupakan peralihan ke sudut pandang pembuangan yang sedang berlangsung. Ada beberapa tokoh yang tersirat di dalamnya. Penutur adalah nabi (6a) yang menyampaikan firman dari Allah (1b). “Hiburkanlah” adalah perintah yang jamak, jadi dia berbicara kepada sebuah kelompok. Barangkali, ini adalah kelompok orang yang siap mendengarkan firman itu. Kelompok ini yang disuruh untuk menyampaikan kabar baik kepada umat Allah.

Isi penghiburan ialah waktu dalam pembuangan sudah habis (2). Waktu itu disebut sebagai perhambaan, akibat kesalahan, dan hukuman karena dosa. Hukuman itu sudah diterima “dua kali lipat”. Hal itu menegaskan bahwa hukuman itu sudah tuntas betul. (Ada beberapa kemungkinan untuk memahami maksud persisnya, tetapi satu tafsiran yang menarik merujuk ke Yes 47:8–9 bahwa sebuah kota yang dihukum kehilangan suami dan anak-anak [baca “kehilangan anak” untuk LAI “punah”], jadi, dihukum dua kali.)

Dalam aa.3–5, ada suara berseru supaya kelompok yang siap mendengarkan itu mempersiapkan jalan pulang dari Babel, dengan membuat jalan raya melalui medan yang sulit. Dengan kata “harus” dalam a.4, LAI memberi kesan bahwa manusia yang akan meratakan medan itu, tetapi, sesuai dengan versi-versi dalam bahasa Inggris, “akan” lebih cocok (“setiap lembah akan ditutup”): pembuatan jalan itu adalah karya Tuhan, dan manusia hanya ikut di dalamnya. Penggenapan pertama ayat-ayat ini menunjukkan itu: Israel kembali dari pembuangan di Babel dengan jalannya diperlancar secara politik oleh pemerintah Koresh (Ezra 1). Tuhan membuka jalan, tinggal mereka berani menjalaninya, karena percaya pada firman Allah ini. Dengan demikian, kemuliaan Tuhan diperlihatkan kepada semua orang (5). Dalam PB, Yohanes Pembaptis berperan sebagai suara itu, dan umat Israellah yang disuruh untuk mempersiapkan jalan raya itu dengan pertobatan yang sungguh-sungguh (Mk 1:1–8). Namun, karya Allah yang memperlihatkan kemuliaan-Nya bukan dalam pertobatan itu, melainkan dalam Yesus yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mk 1:8).

Dalam a.6, suara itu berseru kepada si nabi. Pesannya menegaskan bahwa firman Allah itu tetap, dan manusialah yang fana (aa.6–8). Ingat bahwa bagi Israel dalam pembuangan, kerajaan Babel kelihatan sangat kukuh, sehingga firman Allah ini sulit dipercaya. Petrus mengutip ayat-ayat ini dan mengatakan bahwa firman tentang pemulihan Israel itu adalah firman yang diberitakan kepada jemaat, yakni Injil (1 Pet 1:24–25). Dia melihat bahwa pemulihan Israel digenapi di dalam Yesus.

Dalam aa.9–11, Sion dipanggil untuk membawa kabar baik kepada kota-kota Yehuda bahwa Allah mendekat (9). Tuhan kembali di jalan raya tadi dengan umat Israel yang dibuang sebagai upah dari jerih payah-Nya dalam rangka menyelamatkan mereka (10). Umat itu seperti kawanan domba yang Dia pelihara dengan baik (11). PB melihat Yesus sebagai gembala yang baik, dan “kabar baik” dalam a.9 adalah istilah Injil (euanggelion) dalam versi LXX.

Penggenapan ayat ini dalam PB menjadi jelas ketika kita memahami bahwa pembuangan Israel, sama seperti pengusiran Adam dari taman Eden, adalah hukuman atas dosa, sepadan dengan kematian. Kembalinya umat Israel ke tanah Israel berarti pengampunan dan kehidupan. Dalam kematian-Nya, Yesus masuk ranah kematian sebagai hukuman dosa, walaupun Dia tidak bersalah, dan dalam kebangkitan-Nya Allah membawa Dia dan semua yang berada di dalam-Nya (karena percaya kepada-Nya) ke dalam ranah kehidupan sebagai orang yang diampuni. Oleh karena itu, janji Allah kepada Israel dalam perikop ini adalah janji-Nya kepada kita juga.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini membawa penghiburan bagi semua orang yang tertekan oleh dosa, dengan menyampaikan kabar baik bahwa karya Allah telah melenyapkan semua yang dapat menghalangi kita untuk dibawa dari ranah kematian ke ranah kehidupan. Kita didorong untuk percaya pada firman itu sehingga kita terus-menerus mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan pertobatan.

Makna

Masa Adven menekankan persiapan bagi Tuhan dengan pertobatan, dan perikop ini mengingatkan kita bahwa dasar pertobatan adalah pengharapan. Andaikan kita tetap dalam perhambaan karena dosa dan tidak ada jalan keluar, apa gunanya melawan dosa? Tetapi, karena Allah telah, terus, dan akan berkarya di dalam dunia melalui Yesus Kristus, kita melangkah dalam pengharapan. Kelesuan Israel diobati Allah dengan berita yang membawa pengharapan. Sama halnya untuk kelesuan jemaat.

Pertobatan merupakan perubahan cara kita memandang dunia. Yang tadinya dianggap menarik dan menguntungkan, sekarang dianggap rugi dan sampah. Perubahan itu hanya bisa terjadi ketika kita percaya pada firman Allah. Dari satu segi, kita sudah melihat penggenapan janji perikop ini dalam karya Kristus, tetapi pada segi yang lain, kita tetap menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menuntaskan keselamatan itu. Jadi, penegasan tentang firman Allah itu tetap penting.

Visi Yesaya tentang pembaruan yang dikerjakan Allah sangat luas, bahkan sampai ciptaan baru (Yes 65:17–25). Yang disoroti di sini adalah intinya: umat Allah akan menikmati Allah sebagai gembala yang telah berjuang bagi mereka dengan kekuatan ilahi-Nya (10–11). Allah itulah yang kita kenal di dalam Yesus, Sang Gembala yang Agung.

Dipublikasi di Yesaya | Tag | 2 Komentar

Mt 25:14-30 Giat untuk Tuhan kita [16 Nop 2014]

Tulisan saya muncul untuk satu kali saja bulan ini, karena ini perikop yang saya pakai ketika mengunjungi jemaat-jemaat di Sydney. Bila penyusunan disertasi sudah selesai, saya mau kembali menulis secara teratur. Tolong didoakan.

Penggalian Teks

Matius 24–25 berbicara tentang akhir zaman, sesuatu yang akan dimulai dalam kematian dan kebangkitan Kristus, tetapi lama kemudian baru akan sampai pada puncaknya. Kelamaannya itu menjadi tema dalam perumpamaan tentang hamba yang jahat (24:9), tentang kesepuluh gadis yang bijaksana dan bodoh (25:5), dan dalam perikop kita (25:19).

Cerita Yesus menyebutkan “seorang” yang ternyata tidak hanya memiliki beberapa hamba, tetapi juga kaya: dia memiliki uang tunai sebanyak delapan talenta. Satu talanton dalam bahasa Yunani itu anggaplah senilai satu milyar rupiah sekarang, jadi ada delapan milyar rupiah yang dipercayakan kepada tiga hamba itu (14–15). Yesus tidak menyebutkan apa urusan kepergiannya, tetapi pada zaman itu bepergian berisiko, dan tidak jelas kapan dia akan kembali. Namun, hamba pertama dan kedua tidak ragu-ragu, dan langsung menjalankan uang mereka sehingga beroleh laba 100% (16–17). Hamba ketiga beroleh 0%, karena dia mencari aman dengan menyembunyikan uangnya (18).

Akhirnya, tuan itu pulang, dan memanggil ketiga hamba (19). Hamba pertama dan kedua dengan penuh sukacita menunjukkan hasil mereka (20, 22). Tuan mereka pun bersukacita atas mereka. Dia memuji mereka dan menawarkan tanggung jawab yang lebih besar (21, 23). Intinya di kalimat terakhir perkataannya: “turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. Kedua hamba itu masing-masing bertindak sebagai orang yang menganggap diri satu kepentingan dengan tuannya. Kebahagiaan tuan dan hamba tak terpisahkan.

Lain cerita dengan hamba yang ketiga. Dia membela diri dengan menuduh bahwa tuannya tidak baik (kejam) dan tidak setia (menuai dengan tidak menabur). Dan memang, tuannya baru saja beroleh laba tujuh milyar tanpa bekerja sendiri sama sekali. Jadi, hamba itu berdalih bahwa mencari aman adalah satu-satunya respons yang cocok terhadap tuan seperti dia. Bahwa dia tidak merasa berbagian dalam kepentingan tuannya muncul dalam kalimat terakhir yang dia ucapkan: talentanya adalah kepunyaan tuan, bukan urusan dia (24–25).

Tentu, sang tuan tidak menerima dalih itu. Kebalikan dari kedua hamba yang lain, hamba ini jahat (tidak baik) dan malas (tidak setia). Kejahatannya karena sudah memfitnah tuannya. Kemalasannya karena, andaikan fitnahnya benar, dia tetap tidak merepotkan diri bahkan untuk pergi ke orang yang pintar berusaha pun tidak (26–27). Tetapi a.28 menunjukkan bahwa memang tuduhan hamba ketiga itu fitnah. Sang tuan mengambil talentanya dari hamba ketiga itu, bukan untuk dirinya, melainkan untuk diberikan kepada hamba pertama. Artinya bahwa kedua hamba pertama sungguh sudah menjadi bagian dari kepentingan tuannya; tuan mereka tidak akan membuang mereka, tetapi akan tetap melibatkan mereka dalam urusannya.

Akhirnya, aa.29–30 menunjukkan bahwa mencari aman ternyata bukan jalan yang aman. Hamba ketiga, yang tidak merasa berbagian dalam kepentingan tuannya, kehilangan apa yang dia terima dari tuannya, dan dikeluarkan.

Maksud bagi Pembaca

Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya, termasuk kita yang membaca perumpamaan ini, untuk kepergian-Nya, supaya kita giat bekerja untuk Kerajaan Allah karena kita sadar bahwa kita berbagian dalam kepentingan Dia. Cara kita menghadapi kehidupan kita, apakah dengan mencari aman atau dengan keberanian dan kreativitas, bergantung pada sikap kita terhadap Yesus, Tuhan kita.

Makna

Dalam bahasa Indonesia, talenta berarti pembawaan seseorang sejak lahir, bakat. Kata itu berasal dari perumpamaan ini melalui bahasa-bahasa Eropa, tetapi maksud Yesus lebih luas daripada bakat saja. Apa saja yang diberikan Tuhan kepada kita, termasuk uang, jaringan, kedudukan, pendidikan, dan waktu, bisa dipakai untuk kepentingan Tuhan kita, yakni Kerajaan Allah. Tentu, pemberian yang pokok ialah berita Injil, yang menjelaskan siapakah Raja dari Kerajaan Allah, yakni Yesus yang mati dan bangkit itu.

Perhatikan bahwa hamba ketiga tidak melanggar aturan apapun. Dia tidak merugikan tuannya dengan mencuri atau berkorupsi. Sebaliknya, kedua hamba pertama mempertaruhkan harta tuan mereka, karena ada kemungkinan bahwa usaha mereka tidak akan membawa hasil yang jelas, atau bahkan membawa kerugian. Tetapi mereka yakin bahwa tuan mereka akan menghargai mereka dan usaha mereka. Hamba ketiga hanya melihat peraturan dan risiko (a.25, “takut”), bukan kesempatan. Seorang kristen bisa saja memelihara kesepuluh hukum namun tidak peduli tentang Kerajaan Allah. Sebagai bendahara dia akan jujur, tetapi diminta untuk pelayanan yang di luar zona amannya, dia akan takut untuk mencobanya.

Masalahnya, ketakutan itu muncul dari sikap tidak percaya terhadap Yesus, Tuhan kita. Rasa takut itu mengatakan bahwa Tuhan itu kejam, Dia mau menjatuhkan kita kalau salah sedikit, sehingga lebih aman tidak berusaha sama sekali. Kemalasan itu juga muncul dari kesan bahwa Tuhan hanya mau memanfaatkan kita. Kita akan rugi dari segi waktu atau materi, tanpa ada imbalan sedikit pun. Dan memang, hanya kalau kita merasa berbagian dalam kepentingan Tuhan, maka semuanya akan dianggap sebagai kesempatan, bukan kerugian, entah uang yang dipersembahkan, waktu yang diberikan untuk melayani, atau kesusahan dalam mempedulikan sesama.

Makanya, rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah anggota tubuh Kristus, bagian dari Kristus dan satu kepentingan dengan Dia. Oleh karena kita dibenarkan oleh iman, kita tidak takut salah sehingga harus mencari aman, tetapi berani mengerjakan kasih yang timbul dari iman dan pengharapan.

Dipublikasi di Matius | Tag | 2 Komentar

Rom 14:1-12 Terimalah sesama hamba Tuhan [14 Sep 2014]

Renungan di bawah adalah yang terakhir untuk selama beberapa minggu mendatang, supaya saya bisa fokus untuk menyusun. Untuk perikop minggu depan, lihat ini. Untuk perikop tgl 28 Sep, bahan MJ adalah bahan saya.

Penggalian Teks

Paulus masuk bagian ini setelah menguraikan mengenai kasih kepada sesama (12:9; 13:9) sebagai wujud mempersembahkan tubuh karena kemurahan Allah (12:1). Hal itu akan menuntut mereka tampil beda (12:2) sama seperti terang tampil beda pada waktu malam (13:11–14). Rom 14:1–15:13 membahas kesatuan dalam memuliakan Allah (15:6) walaupun ada perbedaan tingkat kekuatan iman (14:1; 15:1). Perikop kita menegaskan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Hakim. Oleh karena itu, sebagai ganti menghakimi sesama, kita semestinya bertindak dalam kasih (14:13–23), dengan membangun sesama, sama seperti Kristus tidak menyenangkan diri-Nya dan datang baik untuk orang Yahudi, maupun untuk bangsa-bangsa (15:1–13).

Ujung tombak sikap itu adalah penerimaan: orangnya diterima lepas dari pendapatnya yang mengganggu kita (1). Paulus menyebutkan dua contoh: makanan (2), dan pengkhususan hari (5). Soal makanan merujuk pada soal kenajisan, dan sebenarnya di dalam Kristus tidak ada yang najis lagi (14:14, 20). Makanya, Paulus menganggap iman kelompok itu “lemah”, karena mereka belum menangkap sepenuhnya kebebasan di dalam Kristus. Kelompok yang kuat cenderung menghina kelompok yang lemah—tentu kelompok yang lemah itu tidak bisa dianggap bersalah, mereka hanya bodoh atau kolot (3a). Tetapi kelompok yang lemah menghakimi kelompok yang kuat, karena mereka dianggap berbuat najis (3b). Tetapi, entah menghakimi secara sosial (menghina) atau secara agamawi (menghakimi), sikap itu melawan Allah (3c). Allah telah menerima setiap orang sebagai hamba-Nya, Dia yang berhak untuk menjatuhkan malah akan meneguhannya (4). Paulus beralih ke persoalan yang mungkin tidak sama hangatnya, yakni memelihara hari khusus (5a), untuk berbicara tentang tanggung jawab setiap hamba, yaitu, kita harus yakin tentang pendirian kita (5b). Hal itu dilihat karena kita melakukannya untuk Tuhan (6a). Soal makanan juga sama: sikap yang benar dilihat dalam diri orangnya yang bersyukur kepada Allah, entah makan atau tidak (6b).

Paulus menegaskan kepemilikan Tuhan dengan mengingatkan mereka bahwa Kristus telah mati dan hidup kembali, sehingga menjadi Tuhan baik atas kehidupan kita maupun kematian kita (7–9). Mungkin kematian di sini tidak hanya merujuk pada kematian fisik, tetapi juga usaha untuk mematikan dosa yang bisa saja menjadi salah satu alasan untuk tidak makan (bdk. 8:14). Atau, kematian fisik anggota kelompok yang lain dianggap bukti bahwa Allah tidak berkenan atas orangnya. Paulus menegaskan bahwa semua segi dari kehidupan kita ada di bawah kuasa Tuhan.

Kepemilikan Tuhan berlaku untuk semua orang percaya. Menghina sesama tidaklah membuktikan bahwa si penghina itu terpuji; menghakimi sesama tidaklah membuktikan bahwa si hakim itu benar (10a). Si penghina dan si hakim akan menghadap takhta pengadilan Allah juga (10b). Maksud Allah dalam menghakimi ialah sebagai penggenapan rencana keselamatan. Tuhan satu-satunya yang menawarkan keselamatan kepada semua orang (Yes 45:22), dan semua orang akan mengakui hal itu (Yes 45:23, yang dikutip Paulus dalam a.11). Kita tidak sanggup melakukan hal itu kepada sesama; kita cukup mempersiapkan diri saja (12).

Maksud bagi Pembaca

Paulus menuntut kita untuk menerima sesama, dengan mengingat bahwa Kristus yang mati dan bangkit adalah Tuhan yang: 1) telah menerima setiap hamba-Nya; 2) akan menilai pelayanan setiap hamba-Nya pada waktunya. Menghina dan menghakimi sesama orang percaya melangkahi hak Kristus sebagai Tuhan.

Makna

Perhatikan bahwa Paulus menilai pendapat kaum lemah tentang makanan itu salah (14). Jadi, maksudnya bukan untuk mengatakan bahwa setiap pendapat di dalam jemaat sama benarnya dan sama bobotnya. Soal makanan malah bukan hal yang sepele, karena menunjukkan sejauh mana orang tersebut menangkap bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat (10:4). Tetapi, sebuah pendapat yang keliru tidak membuat pemegangnya kafir, bodoh, atau seorang hamba kelas dua dalam Kerajaan Allah. Dia tetap dihargai Tuhan, dan berurusan dengan Tuhan mengenai kesetiaannya dalam melayani Tuhan. Bilamana ada diskusi tentang apa yang dipersoalkan, kita tidak berhak untuk menilai motivasi orang tersebut di hadapan Tuhan. Singkatnya: mengecam pendapat bukanlah menghakimi; menghakimi adalah menjatuhkan vonis bahwa seseorang (atau kelompok) bukan hamba yang setia kepada Tuhan.

Aa.10–12 perlu direnungkan oleh setiap pelayan, karena dalam tugas kita untuk menasihati sesama, kita bisa lupa bahwa kita sendiri akan diadili Allah. Saya agak gelisah ketika seorang pelayan mengatakan tentang tingkah laku yang salah secara umum, “Hal itu tidak pantas untuk seorang pelayan.” Seakan-akan, dia hanya mau taat dalam hal itu demi jabatannya. Setiap “hamba Tuhan” dalam artian sehari-hari adalah pertama-tama hamba Tuhan, sama seperti setiap jemaat biasa.

Dipublikasi di Roma | Tag | Tinggalkan komentar

Rom 12:9-21 Menjadi tubuh Kristus dalam dunia [31 Ag 2014]

Perikop ini mengandung serangkaian nasihat yang semuanya indah dan menantang, tetapi sulit untuk dapat mengingat semuanya. Harapan saya bahwa penguraian ini dapat menjelaskan alur perikop, sehingga isinya lebih bisa diingat. (NB: Minggu depan tidak ada tulisan yang dimuat.)

Penggalian Teks

Kita perlu mengingat bahwa perikop ini adalah lanjutan dari nasihat mendasar untuk mempersembahkan tubuh kita kepada Allah (12:1–2), dalam konteks tubuh Kristus (12:3–8). Kita akan kewalahan kalau kita menganggap bahwa semuanya harus diterapkan seorang diri. Sebaliknya, tujuan Paulus ialah persekutuan yang diarahkan oleh kemurahan Allah sehingga tampil beda di dunia.

Aa.9–13 merupakan satu kalimat (dalam bahasa aslinya) yang menguraikan a.9a. Kasih kepada sesama berpura-pura kalau menutupi kejahatan (9b), kalau dingin (10a), kalau meremehkan sesama (10b). Kasih kepada Allah itu berpura-pura kalau malas (11a), karena Roh Allah tidak dipersilakan bekerja dalam roh kita, atau Kristus bukan lagi tujuan dari kehidupan kita (11b). Semangat kasih itu dipelihara dalam kesusahan, dengan mengingat pengharapan yang ditawarkan dalam Injil sehingga kita rajin berdoa (a.12; bdk. 5:3–5 dan 8:18–25). Dengan demikian, kita siap mental untuk membantu sesama orang percaya dalam kekurangan dan kebutuhannya (13).

Aa.14–21 beralih fokus kepada orang luar. Paulus mulai dengan konteks yang paling sulit: penganiayaan. Tubuh Kristus harus memberkati penganiaya (14), sama seperti Kristus mati bagi orang-orang durhaka (5:6). Untuk dapat mencapai kemampuan menanggapi seperti itu, tubuh Kristus harus bersatu dalam perasaan (15), dan dalam pemikiran (16a). Pemikiran yang dimaksud adalah kerendahan hati seperti dalam a.3. “Perkara-perkara yang sederhana” dapat diterjemahkan “orang-orang yang sederhana” (seperti NIV dan NRSV). Ke dalam, tubuh Kristus belajar untuk saling memberkati tanpa meremehkan penderitaan orang dan tanpa memandang bulu. Dengan demikian, tubuh Kritus mampu untuk memikirkan apa yang baik bagi semua orang (17b), baik yang berbuat jahat kepada kita (17a), maupun yang menerima usaha kita untuk hidup dalam perdamaian (18). Cara itu masuk akal, karena Allah sedang memperbaiki dunia. Yang menolak Dia akan dimurkai (19), tetapi ada juga yang akan dimenangkan karena jemaat tidak menuntut pembalasan (a.20; “bara api di atas kepala” mungkin merupakan kiasan akan pertobatan). Tidak membalas melainkan berbuat baik adalah cara kita ikut dalam jalan Tuhan yang telah mengalahkan dosa dalam Kristus (21).

Maksud bagi Pembaca

Paulus menasihati kita tentang bagaimana caranya kita tampil beda dalam dunia sebagai tubuh Kristus, bahkan terhadap dunia yang menganiaya kita.

Makna

Damai sejahtera bagi semua orang adalah tujuan Allah dalam Kristus. Namun, damai sejahtera tidak cocok dengan kejahatan (9), dan karena tubuh Kristus harus tampil beda (12:2), selalu akan ada ketegangan dengan dunia (14a, 17a). Kejahatan harus dikalahkan (21)! Hanya, cara kita mengalahkan kejahatan ialah dengan memberkati penganiaya (14b) dan berbuat baik kepadanya (17b, 20a), supaya dia bertobat (20b). Cara itu bisa saja terasa tidak adil, tetapi Paulus mengingatkan kita bahwa di balik semua yang terjadi, Allah akan mengerjakan keadilan (19b).

Namun, hukuman Allah adalah langkah terakhir dalam mewujudkan damai sejahtera. Langkah awal Allah ialah manusia baru di dalam tubuh Kristus, di mana kasih kepada sesama dan Allah dibentuk dan dipelihara (9–13). Kita sering merasa cemas tentang kualitas kasih dalam jemaat. Adalah jelas dalam nasihat Paulus bahwa kasih tidak sekadar sikap tetapi terwujud juga dalam tindakan konkret: bersukacita dengan (bukan iri hati terhadap) orang yang bersukacita, menangis dengan (bukan mendiamkan) orang yang menangis, membantu orang dalam kekurangan, dan bergaul dengan orang yang sederhana. Tetapi juga jelas bahwa tindakan dan sikap saling memengaruhi. Pembaruan budi oleh kemurahan Allah dibutuhkan supaya hidup dalam kasih serta memberkati penganiaya itu menjadi hal yang wajar; sebaliknya, usaha untuk hidup dalam kasih dan damai membantu kita untuk lebih mendalami kemurahan Allah yang memperdamaikan orang-orang durhaka (5:6).

Satu hasil dari nasihat Paulus ialah bahwa ternyata kita tidak perlu takut akan manusia. Manusia yang bersukacita, yang menangis, yang berkebutuhan, bahkan yang menganiaya, tetap adalah manusia yang kepadanya kita bisa memberi respons yang merupakan ibadah sejati kita kepada Tuhan.

Dipublikasi di Roma | Tag , | Tinggalkan komentar

Rom 12:1-8 Demi kemurahan Allah [24 Ag 2014]

Meskipun dengan perikop ini Paulus sudah masuk ke bagian yang sering disebut “etis”, namun Paulus tetap berbicara tentang Allah. Satu cara seorang pendeta dapat menjadi serupa dengan dunia ialah kalau dia berhenti berbicara tentang Allah. Khotbah-khotbah yang miskin teologi menjamin gereja menjadi duniawi.

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan peralihan dalam surat Paulus kepada orang-orang kudus di Roma. Paulus baru selesai menguraikan kemurahan Allah, dan mulai menasihati keluarga Allah (“saudara-saudara”) “karena itu” (1). Frase “demi kemurahan Allah” perlu disimak. Kata “kemurahan” adalah jamak dalam bahasa aslinya, sehingga merujuk pada berbagai tindakan Allah yang menyatakan sikap murah hati-Nya. Pasal 11 (yang kita bahas minggu yang lalu) menyimpulkan karya Allah itu sebagai kemurahan; tetapi di pasal 12 ini Paulus merujuk pada segenap penguraiannya dalam pp.1–11, yang berpusat pada Kristus sebagai wujud nyata kemurahan Allah, dan Roh Kudus sebagai pewujud kemurahan itu dalam kehidupan kita. Kata “demi” berarti “melalui” atau “oleh”, dan dalam susunan kalimat aslinya, dapat menerangkan “menasihatkan” atau “mempersembahkan”. LAI memilih “menasihatkan”, bahwa kemurahan Allah memberi Paulus alasan dan motivasi untuk menasihati mereka. Tetapi mungkin juga, Paulus mau mengatakan bahwa persembahan tubuh itu hanya dimungkinkan oleh karya Allah dalam Kristus dan Roh Kudus.

Aa.1–2 sering dibahas lepas dari aa.3–8, tetapi kaitannya erat. A.1 dan aa.4–8 berbicara tentang tubuh. A.2 dan a.3 berbicara tentang sikap. Bedanya bahwa aa.1–2 berbicara tentang identitas kita di dalam dunia, sementara aa.3–8 berbicara tentang identitas kita dalam tubuh Kristus. Aa.1–2 menyangkut skala kosmis; aa.3–6 skala praktis.

Untuk skala kosmis itu, Paulus mulai dengan soal ibadah, bagaimana kita memuliakan Allah sebagai Allah (1:21). Israel mempersembahkan tubuh hewan yang mati untuk menghapus dosa dan menyatakan syukur kepada Allah. Kurban Kristus telah menghapus dosa dengan tubuh-Nya sendiri dan telah bangkit kembali ke dalam hidup yang baru. Dengan demikian, persembahan apa yang cocok untuk bersyukur kepada Allah? Paulus sudah mendorong kita untuk mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah, berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus itu (6:13). Tubuh kita yang [terpola dalam dosa][Rom 7:13-26 Hukum tak berdaya ] (7:13–26) telah dihidupkan kembali oleh Roh (8:11b). Tubuh itulah yang menjadi persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, bukan karena kita berhasil sempurna atau rajin ke gereja, tetapi karena kemurahan Allah. Balasan yang diminta Allah bukan sekadar usaha untuk menghindar dari dosa ini atau itu, lebih lagi sekadar persembahan uang dan waktu, melainkan seluruh diri kita. Demi kemurahan-Nya dalam Kristus, Dia berjanji untuk berkenan atas diri kita dengan segala kekurangannya.

Di mana persembahan itu terjadi? Bukan di suatu tempat yang khusus, melainkan di dunia (2). Dengan tubuh, kita tampil—entah tampil beda atau tampil sama. Dengan tubuh kita bertindak. Kedua hal itu dijelaskan Paulus di sini. Dunia dikendalikan oleh pikiran-pikiran yang terkutuk (1:28, yang memakai kata vous yang diterjemahkan “budi” dalam ayat ini), tetapi kita mau diperbaharui oleh budi yang baru, yang dibentuk oleh kemurahan Allah dengan kuasa Roh Kudus (bdk. 8:5–6). Ketika Injil tentang Kristus menentukan identitas seseorang, dia tidak lagi diarahkan oleh status sosial, harapan akan upacara orang mati yang besar, atau ketakutan akan “apa kata orang”. Dengan demikian, dia dibebaskan untuk mengetahui kehendak Allah. Orang yang serupa dengan dunia akan menganggap baik banyak hal yang buruk, akan mencari apa yang berkenan menurut dunia, dan visinya tentang kehidupan yang sempurna akan juga duniawi. Dunia yang dimaksud Paulus mencakup agama Romawi dan bahkan agama Yahudi yang mengejar kebenaran diri (10:2–4). Hanya kemurahan Allah yang memperkenalkan Allah yang sejati, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak-Nya.

Jadi, seluruh kehidupan kita adalah persembahan kita, karena Allah adalah Allah dunia, termasuk dunia kantor dan dunia adat, bukan hanya Tuhan dalam gedung gereja. Namun, pembaruan yang dimaksud Paulus tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Tubuh kita berarti sebagai bagian dari tubuh Kristus (3–8). A.3 menegaskan kaitannya antara pikiran dan tindakan. Identitas kita di dunia berakar dalam penilaian diri. Penguasaan diri hanya dimungkinkan oleh penilaian diri yang sehat, yang tidak berlebihan. Ukuran yang dipakai bukan IQ, EQ, SQ, IPK, pujian manusia, atau ukuran apapun yang lain, melainkan iman. Iman bagi Paulus adalah penangkapan berita Injil dalam hati (bdk. 10:9b, 16a). Paulus mengatakan di sini bahwa penangkapan itu adalah karunia Allah, bukan hasil usaha sendiri. Dia tidak menuntut bahwa kita semua memiliki iman yang sekuat dia, misalnya, hanya bahwa penilaian diri sesuai dengan iman. Tokoh masyarakat yang imannya lemah tidak usah membual dalam konteks jemaat; orang kecil yang imannya kuat beranilah tampil beda. Aa.4–8 menunjukkan bagaimana tubuh Kristus menjadi tempat untuk belajar menggunakan karunia-karunia Allah demi sesama anggota jemaat, sehingga identitas kita terpusat bukan pada diri sendiri melainkan pada jemaat sebagai tubuh Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Cara kita berbagi dalam kemurahan Allah ialah dengan penyerahan diri mulai dengan pikiran dan budi sampai pada tindakan dan identitas kita dalam dunia. Tubuh Kristus menjadi tempat utama kita mempelajari dan mempraktekkan identitas itu.

Makna

Manusia beragama cenderung membedakan manakah yang kudus dan manakah yang tidak kudus. Misalnya, gereja itu kudus, sehingga hal-hal gerejawi dipemalikan, tetapi di kantor atau di dalam masyarakat, norma Alkitab tidak lagi dianggap relevan. Sebaliknya, manusia beretika (aliran filsafat pada zaman Paulus, sebagian orang berpendidikan masa kini) tidak menyakralkan gereja, sampai-sampai berjemaat dianggap seperti sekolah—berguna bagi yang masih lemah, tetapi mubazir bagi orang yang pemahamannya sudah kuat. Paulus melawan kedua pandangan itu. Seluruh dunia itu kudus, dan apa saja yang kita lakukan di dalam Kristus itu kudus. Tetapi adalah kesombongan untuk menganggap bahwa saya tidak membutuhkan tubuh Kristus lagi. Nilai jemaat bukan kadar manusia di dalamnya, melainkan Kristus.

Manusia beretika cenderung juga menganggap bahwa kemurahan Allah itu hanya penopang bagi kehidupan yang baik, sampai-sampai sebagian tidak terlalu merasa perlu bertuhan lagi. Kalau begitu, mempersembahkan tubuh kepada Allah tidak lagi masuk akal. Tetapi minat akan Tuhan dari manusia beragama juga terbatas. Yang dicari adalah kekuatan dalam tantangan dan pengarahan dalam kekacauan hidup. Diri Allah yang telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa kita dalam Kristus tidak dicari. Makanya, manusia beragama mencari wilayah yang terbatas yang akan cukup, asal Bapa surgawi senang. Budi yang baru itu siap menyerahkan seluruh identitas dan tindakan kepada Allah karena hati tertangkap oleh kemurahan-Nya. Tentu, hal itu adalah proses, dan kita semua sedang dalam perjalanan dari cara beragama yang dangkal menuju penyerahan diri yang selayaknya.

Dipublikasi di Roma | Tag , | Tinggalkan komentar