Mzm 84:1-13 Berziarah hendak menghadap Allah [23 Ag 2015]

Penggalian Teks

Mazmur ini berjalan dari kerinduan kepada kepuasan. Kerinduan disampaikan dalam aa.2–5. Bait Allah itu disenangi sebagai tempat kediaman Allah (1). Kerinduan itu itu menghabiskan daya nafsu jiwa pemazmur, dan dia hendak bersorak-sorai kepada Allah secara jasmani dan juga batiniah. (Saya mengatakan “hendak”, karena bentuk kata kerja a.3a perfek untuk menyatakan kondisinya, sementara a.3b imperfek untuk menyatakan sesuatu yang belum aktual.) Jikalau burung dapat menikmati Bait Allah, tempat mezbah-mezbah menyediakan sarana untuk berdamai dengan dan bersekutu dengan Allah (4), lebih lagi manusia yang diam di sana berbahagia, karena mereka dapat memuji Allah terus (5).

Tetapi kebahagiaan tidak dibatasi hanya kepada manusia yang sudah ada di Bait Allah. Aa.6–8 menyampaikan pergumulan orang yang mau berziarah kepada Bait Allah. Mereka berbahagia karena mengandalkan kekuatan Tuhan dan rindu untuk melihat Bait-Nya (6). Bahkan perjalanan mereka menjadi berkat; a.7 mungkin merujuk pada hujan yang mulai turun pada saat berziarah yang mengisi mata air. Perjalanan mereka bertambah semangat semakin mereka mendekati tujuan mereka, yaitu berjumpa dengan Allah di Sion. Saya mengaitkan a.9 dengan aa.6–8 sebagai doa para peziarah.

Aa.9–10 merupakan doa untuk “yang Kauurapi” (mesyikheka), yaitu Mesias atau Raja. Dialah yang melindungi (sebagai perisai) Bait Allah. Dia didoakan “sebab” (awal a.11) dengan perlindungannya, Bait Allah menjadi tempat yang jauh dari kemah-kemah orang fasik, sehingga sungguh Allah dapat dinikmati di pelataran-Nya. Kerinduan pemazmur membuatnya lebih memilih satu hari dalam kerendahan di rumah Allahnya daripada seribu hari dalam kesenangan semu di tempat yang lain. Pilihan itu oleh karena (“sebab”, awal a.12) sifat Allah. Allah berfungsi sebagai matahari bagi Israel, yaitu sebagai terang yang menjadi sumber hidup, dan juga sebagai perisai (pelindung). Dia adalah sumber kasih dan kemuliaan dan semua kebaikan. Yang menerima semuanya itu ialah orang yang berintegritas (tamim, LAI “tidak bercela”). Fokus dari kata itu bukan bahwa mereka berhasil menghindar dari semua kesalahan, tetapi bahwa mereka berjalan sesuai dengan kerinduan mereka akan Tuhan. Yang berintegritas itu kelompok yang sama dengan a.13, dan lawan dari orang fasik. Jadi, manusia yang percaya itu berbahagia, biar mereka sementara jauh dari hadirat Allah dalam Bait-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk berziarah menghadap Allah kita, Raja yang baik dan mulia itu, dalam persekutuan jemaat di bawah perlindungan Mesias kita Yesus.

Makna

Mazmur ini menggambarkan orang Israel yang berziarah setahun tiga kali ke perayaan besar di Yerusalem. Di dalam perayaan itu mereka akan menghadap Allah dan disegarkan dalam jalan yang benar. Daya tarik kemah-kemah fasik akan pudar di pelataran Bait Allah yang mengingatkan mereka tentang kasih dan kemuliaan Allah.

Bait Allah tentunya bukan gedung gereja tetapi jemaat yang berkumpul untuk beribadah kepada Allah, dilindungi oleh Mesias Yesus yang melindungi umat-Nya supaya kita dapat menikmati hubungan dengan Allah. Jadi, setiap kali kita berkumpul, kita diberi kesempatan untuk disegarkan dalam dan menikmati Tuhan.

Aa.2–5 menantang kita tentang kerinduan kita akan Allah. Kalau kerinduan penjudi akan pertemuan, ataupun kerinduan keluarga akan upacara yang semarak, kedua kerinduan itu sering penuh dengan kegelisahan dan sukacita yang sementara saja. Tetapi pemazmur mengenal Allah sebagai Rajanya dan Allahnya. Kita tidak menghadap pejabat tinggi melainkan Tuhan yang dengan sukacita kita sembah.

Aa.6–8 mengajar kita tentang perjuangan iman. Mungkin bentuk kita bukan perjalanan jasmnani. Tetapi, sama seperti perjalanan jauh membutuhkan keberanian dan ketekunan dalam pengharapan, mempraktekkan sarana-sarana anugerah seperti berdoa, membaca Alkitab, menyisihkan persembahan, dan rajin bersekutu adalah hal-hal yang harus dijalani terus, untuk kita lebih mengenal Allah.

Aa.8–9 mengingatkan kita bahwa Kristus adalah perisai kita, yang sudah dipandang Allah dengan dibangkitkan dari antara orang mati. Aa.11–13 menunjukkan perbedaan ketika Kristus diterima sebagai Raja sehingga jemaat percaya kepada Allah, yaitu suasana persekutuan jemaat yang menyegarkan dan jauh lebih indah daripada berbagai tawaran yang lain. Di sini titik lemah kita. Gedung tidak susah diperindah, bahkan liturgi bisa dibuat menarik, tetapi persekutuan yang indah (karena, ingat, jemaat adalah Bait Allah, bukan gedungnya) lebih menantang. Namun, walaupun ada kesan bahwa kadang orang-orang fasik justru suka berkemah di dalam kemajelisan, dan kekacauan masyarakat dilampiaskan ke dalam jemaat, Tuhan itu ada dan dipuji-puji, kebaikan-Nya dan kemuliaan-Nya tampak bagi orang yang percaya, bagi orang yang hidupnya dikuasai oleh kerinduan akan Dia. Kembali, “hidup tidak bercela” tidak berarti bebas dari dosa, tetapi bebas dari menduakan Tuhan. Orang-orang yang percaya kepada Allah bisa saja banyak kepergiannya, tetapi hanya ada satu tujuan ziarah mereka, yaitu persekutuan dengan Allah bersama dengan umat-Nya.

Dipublikasi di Mazmur | Tag , | Meninggalkan komentar

Mzm 111:1-10 Layak diselidiki supaya takut akan Tuhan [16 Ag 2015]

Penggalian Teks

Mazmur ini merupakan mazmur hikmat, sebagaimana dilihat dalam a.10, dan juga oleh bentuknya sebagai mazmur akrostik (setiap baris—setengah ayat, atau sepertiga ayat untuk aa.9–10—berawal dengan huruf berdasarkan abjad Ibrani). Sebagaimana selayaknya untuk sebuah mazmur, perikop ini berawal dan berakhir dengan pujian. Tetapi tujuannya supaya jemaah (1) belajar takut akan Tuhan dan dengan demikian berakal budi yang baik (10). Hal itu akan terjadi ketika mereka suka menyelidiki perbuatan-perbuatan Tuhan (2). Jadi, aa.3–9 menyampaikan hasil penyelidikan pemazmur untuk membuat kita takut akan Tuhan sehingga berhikmat.

Aa.3–5 mulai dengan keagungan Tuhan yang abadi (3). “Agung dan semarak” adalah kombinasi yang lazim (aslinya enak diucapkan: hod wehadar), dan cocok untuk seorang raja (bdk. Mzm 21:6). Yang semarak itu pekerjaan Tuhan (3a), dan yang abadi ialah keadilan Tuhan (3b). Tetapi pemazmur tidak menguraikan dua hal yang terpisah, tetapi satu hal yang dilihat dari dua perspektif: pekerjaan Tuhan yang hebat, karena mengerjakan keadilan (tsedaqa). Kata tsedaqa merujuk pada sifat atau tindakan yang sesuai dengan relasi; di sini Allah membuat yang adil (atau benar) bagi umat-Nya. Aa.4–5 berbicara tentang wujud dari keadilan itu. Perbuatan-perbuatan yang ajaib yang pernah dilakukan Tuhan merupakan hal yang dapat diingat umat-Nya untuk membuktikan kasih sayang-Nya (4). Hal itu termasuk pemberian rezeki kepada orang yang takut akan Dia, karena orang-orang itu yang telah membiarkan dirinya terikat dengan Tuhan dalam perjanjian, yang diingat Tuhan untuk selama-lamanya (5). Ketika diselidiki, perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan mengingatkan jemaah akan kasih sayang-Nya berdasarkan janji-Nya. Sikap yang cocok terhadap Tuhan yang melakukan keajaiban dan memberi jemaah rezeki tidak lain dari takut akan Tuhan yang akan membawa akal budi yang baik.

A.6 memperjelas dasar dari semuanya itu: karya Allah memberi Israel tanah Kanaan. Dalam keluaran dari Mesir, Israel melihat keajaiban-keajaiban Tuhan, termasuk diberi rezeki (manna dsb), dan Dia membuat perjanjian dengan mereka. Aa.4–6 merujuk pada peristiwa itu, tetapi bahasa yang lebih umum dipakai untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tetap seperti itu.

Aa.7–9 menyelidiki beberapa aspek dari keluaran itu. Keluaran itu merupakan perbuatan tangan Allah, disebut “tangan” karena Allah langsung bekerja. Sifat dari perbuatan itu ialah kebenaran (emet) dan keadilan (di sini mishpat). Kata emet berarti sesuai dengan standar yang ada; dalam konteks ini maksudnya bahwa Tuhan setia pada janji-Nya dalam perjanjian. Kata misypat merujuk pada hasil dari pekerjaan seorang hakim (syopet); tangan Tuhan membentuk umat yang tertata dengan baik (7a). Hal itu termasuk titah-titah-Nya, yang memungkinkan jemaah berjalan sesuai dengan perjanjian (emet) dan dalam kejujuran (yasyar, diterjemahkan “orang-orang benar” dalam a.1). Hal itu juga termasuk pembebasan, yaitu pembebasan dari Mesir yang memungkinkan hidup jujur mereka (9a). Jadi, kembali perjanjian Tuhan ditegaskan sebagai hal yang abadi (9b). Akhirnya, tema keagungan diangkat kembali: nama Tuhan kudus dan dahsyat (9c). Kata “dahsyat” secara harfiah berarti “layak ditakuti”. Pembebasan dan perintah Tuhan menciptakan jemaah yang dapat menikmati tanah yang diberikan kepada mereka, sehingga Tuhan layak dihormati.

Jadi, a.10 merupakan kesimpulan yang tepat. Tuhan itu layak ditakuti, dan takut akan Tuhan akan membawa akal budi yang baik. Orang-orang itu akan membawa puji-pujian yang abadi bagi Tuhan di depan jemaah-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur ini mengajak kita untuk menyelidiki perbuatan Tuhan supaya kita menjadi kagum dan takut akan Dia (percaya kepada Yesus) sehingga berhikmat. Mencermati pemeliharaan Tuhan (4–5), perintah-Nya (7–8) dan karya-Nya yang membebaskan kita akan membuat kita orang yang makin membanggakan Tuhan dan menikmati perjanjian-Nya.

Makna

Kekuatan perbuatan Allah diberitakan kepada kita dengan membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Perbuatan besar itu menjamin bahwa kita akan memiliki dunia sebagai keturunan Abraham dalam iman (bdk. Rom 4:13; 5:17). Yesus memperlihatkan kepada kita melalui kata dan tindakan suatu cara hidup yang benar dan jujur, dan membebaskan kita dari hukuman dan kuasa dosa. Kasih sayang Allah dibuktikan pada salib Kristus, sehingga kita hidup dalam keyakinan bahwa Allah Bapa akan memberi kita hal-hal yang baik. Allah setia pada perjanjian-Nya, yang bertujuan dunia baru yang penuh keadilan. Jadi, satu bagian dari karya-Nya adalah perubahan jemaat menjadi semakin serupa dengan Kristus oleh kuasa Roh Kudus.

Karya itu agung dan semarak; nama Yesus itu kudus dan dahsyat! Ketika keagungan keluarga dalam upacara lebih dipentingkan, atau kesemarakan judi yang ramai lebih menarik, kita diperkenan Tuhan untuk melihat kondisi sebenarnya dari hati anggota-anggota jemaat, bahwa ada “jemaah” selain jemaat Tuhan yang lebih mereka andalkan. Jika pada waktu yang sama kita melihat banyak akal budi yang buruk dalam tingkah laku jemaat, tidak usah heran. Orang memperebutkan rezeki karena belum menangkap bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Orang tidak bertindak setia kepada Tuhan dan sesama (dengan emet) karena belum memahami kesetiaan (emet) Tuhan. Orang tidak menghargai pembebasan dari kuasa dosa, hanya berharap akan pembebasan dari hukuman supaya bebas berdosa lagi. Bahkan pelayan mencari popularitas dengan jemaat, termasuk dengan khotbah-khotbah yang mengatakan secara tersirat bahwa pergumulan dan dosa jemaat lebih penting daripada karya Tuhan, karena karya Tuhan nyaris alpa dari khotbah-khotbah tersebut.

Jadi, akar dari kebodohan jemaat adalah belum takut akan Tuhan, atau, dalam bahasa Yohanes 6, belum percaya kepada Yesus sebagai roti yang hidup. Kita belum mengenal karya-Nya, sehingga belum mengenal sifat-Nya, sehingga belum mengerti sikap seperti apa yang semestinya kita pakai kepada-Nya, yakni, takut, bangga, percaya. Bagi Paulus, terang dari Kristus yang menjadi alasan untuk mempergunakan waktu yang ada, bukan seperti orang bebal (Ef 5:14–16). Jika besoknya Indonesia merayakan hari kemerdekaan, kita bisa bersyukur bahwa ada banyak kesempatan untuk bertindak di dalam negara berdemokrasi ini sebagai orang yang berakal budi yang baik.

Semoga Saudara mau memuji Tuhan dalam khotbah minggu ini, dengan menyelidiki perbuatan-perbuatan-Nya yang besar di tengah jemaat.

Dipublikasi di Mazmur | Tag , | Meninggalkan komentar

Mzm 130:1-8 Berseru kepada Tuhan yang membebaskan [9 Ag 2015]

Dalam tafsiran di bawah, kita melihat manfaatnya teologi biblika (di sini, soal perjanjian), supaya apa yang tersirat bisa diungkapkan.

Penggalian Teks

Mazmur ini merupakan mazmur seruan dalam serangkaian mazmur yang diberi judul “nyanyian ziarah” (Mazmur 120–134). Ziarah yang dimaksud ialah ziarah naik ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah. Di sekitar mazmur kita, Mazmur 127 & 128 bercerita tentang syalom, dan Mazmur 129 bercerita tentang musuh-musuh yang mengancam syalom itu. Mazmur kita dan Mazmur 131 mendorong Israel untuk berharap hanya kepada Tuhan, dan Mazmur 132 mengangkat perjanjian Tuhan dengan Daud sebagai dasar untuk harapan itu. Mazmur 133 & 134 mengakhiri kelompok mazmur ini dengan gambaran tentang kesatuan dan berkat.

Soal perjanjian itu muncul dalam istilah “kasih setia” (a.7; Ibrani khesed) yang merujuk pada sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan relasi yang ada. Perjanjian dengan Daud meneguhkan perjanjian Tuhan dengan Abraham dan Israel. Sejak awalnya, Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari jurang-jurang yang dalam, terutama ketika membawa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, dan juga dalam riwayat Daud yang diselamatkan dari tangan Saul. Makanya, pemazmur tidak segan untuk berseru kepada Allah (1–2). Seruan itu tidak berasal dari sikap “siapa tahu, Tuhan bisa menolong” (dan kalau tidak, kita mencari ilah yang lain), tetapi dari sikap sudah mengenal siapa itu Tuhan. Pemazmur menggambarkan kondisinya (a.1 “jurang yang dalam”) dan keyakinannya bahwa jika Tuhan memperhatikan seruannya, Tuhan akan menolongnya (2).

Namun ada halangan yang muncul sejak Abraham pergi ke Mesir dan berbohong bahwa Sarai bukan isterinya, pas setelah dia menerima janji Allah yang luar biasa itu (Kej 12:10–20), dan juga dilihat dalam sepanjang riwayat Israel. Pemazmur sadar bahwa dia adalah orang yang sering berdosa (a.3; perhatikan bentuk jamak “kesalahan-kesalahan”). Kembali perjanjian dengan Allah menjadi dasarnya. Allah telah berkarya untuk memiliki suatu umat kesayangan-Nya, meskipun umat itu sering memberontak. A.3 menunjukkan bahwa andaikan Tuhan memperhitungkan dosa dengan tegas, tidak ada manusia yang luput. A.4 mengingatkan Tuhan tentang niat-Nya untuk mengampuni, sebagaimana dilihat juga dalam sejarah Israel, riwayat Daud, dan dalam sistem kurban bagi dosa dan kesalahan yang mewujudkan pengampunan itu. Perhatikan bahwa dia tidak bermaksud untuk menyepelekan dosanya atau membenarkan dirinya dengan dalih bahwa banyak orang yang lain juga ikut berdosa. Hal itu jelas dalam bahasanya: “siapakah yang dapat tahan?” Dosa membuat manusia selayaknya dihancurkan; hanya pengampunan dosa yang ditawarkan dalam perjanjian dengan Tuhan yang membawa pengharapan. Yang menarik di sini, Tuhan mengampuni supaya ditakuti. Bagi orang berdosa, sebuah relasi yang baik dengan Tuhan tidak mungkin andaikan yang diharapkan itu hukuman saja. Hukuman tanpa pengampuan hanya membuat manusia putus asa. Tetapi jika ada pengampunan dari Tuhan, maka kita bisa berelasi baik dengan Tuhan. Tentunya, relasi itu berbentuk takut akan Tuhan sebagaimana semestinya oleh sebuah umat kepada Tuhannya.

Makanya, dalam aa.5–6 pemazmur menyatakan pengharapannya kepada Tuhan. Berharap hanya kepada Tuhan adalah bagian dari takut akan Tuhan. Pemazmur menyatakan suatu pengharapan yang bersemangat: kata “jiwa” (Ibrani nefesh) di sini merujuk pada semangat, kerinduan, bahkan nafsu. Campur tangan Tuhan didambakan, seperti pengawal mengharapkan pagi. Kerinduan itu yang dianjurkan kepada Israel dalam aa.7–8. Di sini konteks lebih luas dari pengampunan Tuhan, yaitu pembebasan, muncul dalam istilah “kasih setia” yang dibahas tadi. Israel sering memberontak, sehingga pembebasan Israel dari jurang juga merupakan pembebasan dari kesalahan.

Kesetiaan terhadap perjanjian yang mencakup pengampunan dan pembebasan itu diteguhkan di dalam Yesus Kristus, anak Daud. Makanya, perikop ini menjadi firman Allah bagi kita yang percaya kepada Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Kita belajar dari pemazmur untuk berseru kepada Tuhan sebagai umat yang dibebaskan dari dosa dan hanya berharap kepada Tuhan.

Makna

Mazmur ini mengandaikan bahwa yang berseru itu orang setia, yaitu orang yang menempatkan dirinya sebagai anggota keluarga Allah atas dasar pengampunan Allah. Pola itu diperkuat di dalam Kristus. Melalui pengampunan karena karya-Nya pada salib, kita menjadi manusia baru, anggota tubuh Kristus, hamba-hamba Kristus. Hal-hal itu mau mengatakan bahwa identitas kita terletak dalam Kristus, sehingga hidup bagi Kristus adalah tujuan kita, bukan alat untuk sesuatu yang lain. Sama seperti orang Toraja hidup untuk upacara kematian yang baik, kita hidup untuk menjadi serupa dengan Kristus. Hal itu bisa dilihat berkaitan dengan ketiga tema tadi, yaitu seruan, pengampunan, dan pengharapan.

Jika ada orang yang tidak kita kenal yang minta tolong kepada kita, bisa saja kita membantunya, meskipun tidak ada imbalannya nanti, sama seperti Allah menganugerahkan matahari dan hujan bagi orang baik maupun jahat. Tetapi seruan pemazmur dan kita kepada Allah tidak demikian. Kita adalah bagian dari umat Allah yang dimaksud untuk membawa kemuliaan bagi Allah, bagian dari tujuan Allah untuk pembaruan bumi. Jadi, kita berseru kepada Allah bukan hanya karena kita bermasalah, tetapi karena kemampuan kita untuk hidup sebagai umat Allah itu terancam. Misalnya, Paulus dan Silas memuji Allah di penjara karena mereka tetap bisa bersaksi tentang Kristus (Kis 16:25), sementara Paulus gelisah tentang dosa besar dalam jemaat yang mengancam kesuciannya (2 Kor 11:2–3). Seruan orang yang mengenal Allah tentunya berbeda dengan seruan seseorang yang belum menjadi bagian dari umat Allah dalam hati. Orang itu mungkin saja berseru kepada Tuhan supaya luput dari malu karena dosa terungkap, atau menyertai seruannya dengan ketaatan yang berakhir ketika masalah selesai, atau berseru kepada Tuhan sebagai salah satu dari berbagai kuasa ilahi yang dikira mungkin saja bisa menolong.

Yang kedua, jika kita mengenal Allah di dalam Kristus, pengampunan dosa berharga karena membuka relasi dengan Tuhan, yaitu membuka kemungkinan untuk belajar takut akan Tuhan. Hal itu sangat berbeda dengan pengampunan sebagai izin untuk “berkanjang dalam dosa”. Hal itu juga berbeda dengan pandangan bahwa Tuhan mengampuni kita karena dosa kita sebenarnya “wajar saja” karena semua manusia berdosa. Secara manusiawi, anggapan itu masuk akal, tetapi dilihat dari perspektif anugerah Allah dosa itu sangat tidak wajar, karena membalas kebaikan Allah—pengorbanan Kristus—dengan kejahatan. Menyepelekan dosa adalah cara untuk menyepelekan anugerah, dan anugerah mengganggu orang-orang tertentu karena dengan demikian kita berutang budi kepada Allah.

Pengharapan menyangkut dua hal: apa yang diharapkan, dan sejauh mana hal itu dimungkinkan. Menjadi anak Allah berarti kita mengharapkan apa yang dijanjikan Allah. Hal itu termasuk kesatuan umat (Mazmur 133) dan berkat (Mazmur 134), tetapi sebelum hal-hal itu dapat dinikmati, kita perlu dibebaskan dari kesalahan kita. Kasih setia Tuhan tidak diukur oleh sejauh mana Dia mengabulkan cita-cita kita, tetapi sejauh mana Dia setia pada janji-janji-Nya di dalam Kristus.

Demikianlah pola kita berseru kepada Tuhan sebagai anggota tubuh Kristus. Jadi, pengampunan itu tidak bisa dipisahkan dari pembebasan dan pengharapan: pembebasan dari kuasa dosa, sehingga ada hati yang mencari apa yang dijanjikan Tuhan.

Dipublikasi di Mazmur | Tag , , | Meninggalkan komentar

Yoh 6:24-35 Kerjarlah Roti yang Sejati [2 Ag 2015]

Penggalian Teks

Yohanes 6 merupakan perenungan tentang peristiwa memberi makan lima ribu orang. Pada a.15 orang banyak mau menjadikan Dia raja, tetapi pada akhir pasal itu, kebanyakan orang tidak mengikuti-Nya lagi. Peristiwa Yesus berjalan di atas air (6:16–21) menjadi penguatan bahwa Dia berkuasa atas badai yang menantikan para pengikut-Nya yang setia. Kemudian, orang banyak itu mencari Yesus dan menemukan-Nya (24–25), dan terjadilah percakapan panjang di rumah ibadat di Kapernaum, yang diceritakan sampai a.58.

Perikop kita mencakup empat tanya-jawab pertama antara orang banyak dan Yesus. Kedua tanya-jawab pertama berbicara tentang pencarian (25–29). Mereka mungkin heran melihat Yesus di Kapernaum, karena mereka tahu bahwa Dia tidak mengikuti perahu murid-murid (22). Tetapi bentuk pertanyaan mereka (“bilamana”) menunjukkan bahwa mereka mencari Yesus. Hanya, Yesus menyoroti bahwa mereka tidak mencari makna (“tanda-tanda”) dari peristiwa memberi makan itu; mereka tidak berpikir lebih luas daripada kekenyangan mereka (a.26; kekenyangan tidak selalu dinikmati oleh orang-orang miskin). Jadi, mereka sudah bekerja keras mencari Dia demi makanan yang sementara saja, tetapi Yesus menyuruh mereka mencari makanan yang akan membawa mereka kepada hidup dalam zaman mendatang (“hidup kekal”). Penyedia makanan itu ialah “Anak Manusia”, yang sudah dijamin oleh Allah Bapa (27). Gelar “Anak Manusia” pertama dipakai dalam 1:51, di mana Yesus adalah titik temu antara surga dan bumi dalam penyataan. Setiap kali dipakai kemudian, Dia tetap adalah titik temu, dalam keselamatan (3:14), hukuman (5:27), dan di sini, sebagai makanan surgawi. Tetapi mereka belum menangkap hal itu. Mereka mendengar kata “Berkerjalah”, dan bertanya tentang apa yang harus dikerjakan (28). Jawaban Yesus mengejutkan: pekerjaan Allah ialah percaya kepada Yesus, utusan-Nya (29). Kepercayaan itu tidak sekadar penerimaan konsep. Tersirat di dalamnya adalah kerinduan akan hidup yang kekal dan kesadaran bahwa Yesuslah Pemberinya. Kepercayaan ini adalah melekatkan diri dengan siapa yang dipercayai. Peristiwa memberi makan banyak orang adalah tanda yang menunjukkan bahwa Yesuslah orang yang layak dipercayai.

Dalam tanya-jawab ketiga (30–33), mereka mulai berpikir tentang tanda, dan mereka menuntut tanda supaya mereka dapat melihat dan percaya. Sepertinya, mereka lupa bahwa mereka baru saja menyaksikan tanda besar dalam peristiwa memberi makan itu. Jadi, mereka sudah melihat tetapi belum percaya. Malahan, mereka menuntut balik supaya Yesus yang bekerja! Mereka mengangkat manna dari surga sebagai mukjizat yang membuat mereka percaya kepada Musa (31). Adalah menarik bahwa mereka mengutip dari Mazmur 78 yang menceritakan tentang Israel yang memberontak padahal mereka melihat karya-karya Allah. Yesus tidak menanggapi tuntutan mereka, tetapi menggunakan pemberian manna untuk memberitakan roti dari surga yang sungguh menghidupkan dunia (32–33). Tersirat di sini bahwa mereka salah paham tentang Musa. Mereka menganggap bahwa dengan menaati hukum Taurat dan giat melawan orang-orang kafir (bdk. 6:15 di mana mereka mau menjadikan Yesus raja) mereka akan mendatangkan Kerajaan Allah, alias hidup yang kekal. Yesus mau mereka melihat bahwa Musa merujuk kepada Dia, yang membawa hidup yang kekal dengan cara yang berbeda.

Penawaran Yesus tentang roti itu menarik perhatian mereka, apakah karena mereka menafsirnya berkaitan dengan perut lagi? Mereka minta diberi roti itu (34), dan akhirnya Yesus mengungkapkan identitas roti yang Dia berikan itu, yakni, diri-Nya sendiri (35). Jadi, percaya kepada-Nya akan memenuhi rasa lapar dan haus selama-lamanya. Jadi, soal roti dan percaya tadi sudah disimpulkan di sini. Tentunya, rasa lapar dan haus itu bukan perkara tubuh jasmani. Yesus adalah jawabannya, tetapi atas pertanyaan yang tidak diajukan semua orang, karena kerinduan akan Allah tidak dimiliki semua orang. Aa.36–46 menunjukkan bahwa hal itu bahkan mustahil bagi manusia; hanya Allah yang bisa menarik orang kepada Kristus. Tetapi bagi yang dipilih, pilihan itu tampak dengan mereka datang kepada Kristus, ada jaminan akan kebangkitan dan hidup kekal (40).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk mengejar Yesus seperti orang yang rindu kenyang dengan hidup yang kekal, hidup yang sesuai dengan zaman yang akan datang.

Makna

Kita sepertinya agak gelisah mendengar ucapan Yesus bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah ialah percaya kepada Kristus (29). Kita biasanya mau mengatakan bahwa iman tidak cukup tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Mengapa kita enggan setuju dengan Yesus? Satu alasan mungkin adalah bahwa kita berpikir bahwa ada iman tanpa rasa lapar, bahwa kita bisa mengimani Yesus tanpa merindukan-Nya. Jika kita mulai puas dengan Yesus, maka judi, gosip yang menjatuhkan, gila hormat, dsb, mulai hilang kuasanya atas kehidupan kita. Sebaliknya, kita akan giat hidup dalam terang (bdk. 3:19–21) sama seperti orang banyak itu giat mencari roti yang sementara.

Jadi, hati-hatilah terhadap tema “Kerjakanlah yang dikehendaki Allah”, bahwa “yang dikehendaki Allah” dengan sangat jelas diartikan sebagai kepercayaan dalam artian kerinduan akan Yesus yang melebihi kerinduan-kerinduan yang lain. Lupakan tujuan “Agar warga jemaat memahami bahwa kehidupan dan pekerjaan kita adalah untuk mewujudkan rencana Allah”, bukan karena salah, tetapi karena kalau kita belum merindukan Yesus, belum menjadi sadar bahwa Dia adalah roti yang paling memuaskan, maka percuma kita diajak untuk terlibat dalam rencana Allah. Perikop kita berfokus pada yang mendasar, Yesus sebagai roti hidup. (Mengapa tema dan tujuan itu tidak menyebutkan Kristus?) Bukan waktunya kali ini untuk berfokus pada perbuatan baik ataupun misi dalam rangka rencana Allah; tugas kita adalah berfokus pada fokus perikop itu.

Untuk hal itu, bisa saja ada hal-hal tertentu dibahas (seperti daftar gila dsb di atas), tetapi bukan untuk membahas kesalahan kegiatan itu, tetapi untuk menyorotinya sebagai roti yang palsu. Bagi orang Israel, perang suci terhadap orang Romawi adalah roti yang palsu. Mungkin dalam masyarakat kita, ada berbagai bentuk yang lain. Orang suka memfitnah sesama karena suka tampil lebih baik daripada orang lain. Hal itu berarti bahwa mereka tidak puas dengan penerimaan oleh Allah di dalam Kristus, sehingga mereka mencari pujian dari sesama. Orang suka berkorupsi, karena tidak percaya bahwa kekayaan di dalam Kristus melebihi uang. Banyak roti palsu yang ditawarkan dalam dunia ini, tetapi Kristuslah roti yang datangnya dari surga. Orang mencari aman dalam pilihan pekerjaan karena belum menangkap bahwa Yesus adalah Raja di atas segala raja, bahkan atas pemerintah Indonesia.

Ingat bahwa ketika orang melihat mukjizat yang besar yang dilakukan oleh Yesus, mereka tidak percaya (36). Hanya Allah yang dapat menimbulkan rasa tertarik dalam diri orang sehingga mencari Yesus (44). Injil tidak benar karena dipercaya ramai-ramai atau karena ada mukjizat-mukjizat, tetapi karena Yesus. Mari kita mengejar Dia.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , , | Meninggalkan komentar

Ef 2:11-22 Damai antar kelompok dalam tubuh Kristus [19 Jul 2015]

Kitab Efesus memaparkan kehidupan kristiani sebagai kehidupan bersama. Tafsiran Alkitab di Indonesia tertular dengan individualisme Barat, tetapi hal itu tidak cocok untuk perikop ini, yang berbicara tentang bangsa-bangsa, Israel, dan tubuh Kristus. Terus, untuk yang lupa (atau tidak pernah tahu), “LAI” merujuk pada Alkitab bahasa Indonesia, dan “Yunani” pada terjemahan saya yang harfiah atas teks aslinya dalam bahasa Yunani. Bukan karena LAI salah, tetapi karena ada segi dari teks yang tidak sempat dibawa ke dalam terjemahan yang mau saya pakai dalam tafsiran saya.

Penggalian Teks

Tema kitab Efesus muncul dalam 1:10, yaitu rencana Allah “untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu”. Rencana itu mencakup semua manusia yang percaya dan menerima Roh Kudus (1:13). Dalam 2:1–10, Paulus menggunakan pola A B -A (lawan dari A). Kondisi manusia berdosa yang di bawah murka Allah itu dijelaskan dalam aa.1–3; kondisi manusia yang sudah diselamatkan dan sedang diperbaiki dijelaskan dalam aa.8–10; yang memungkinkan perubahan dahsyat itu ialah Kristus, karena oleh iman kita turut dibangkitkan dan diberi tempat di surga bersama dengan Dia (aa.4–7). Perikop kita menggunakan pola yang sama, pada tingkat kelompok atau bangsa. Aa.11–12 menjelaskan kondisi bangsa-bangsa yang terasing dari Allah dan umat-Nya; aa.19–22 menjelaskan kondisi umat yang telah menjadi satu. Kembali, yang menentukan dalam perubahan ini ialah Kristus yang mempersatukan (aa.13–18).

Keterasingan bangsa-bangsa itu terjadi “dahulu”, yaitu pada zaman “daging” yang di dalamnya sunat “lahiriah” (Yunani: “dalam daging”) menjadi ciri khas umat Allah (11). Pada zaman itu, rencana Allah berpusat pada Israel (12). Dia memanggil Abraham dan mengadakan serangkaian perjanjian yang mengembangkan janji-Nya kepada Abraham bahwa semua bangsa akan diberkati di dalam keturunannya (LAI “ketentuan-ketentuan yang dijanjikan” adalah “perjanjian-perjanjian dari janji” secara harfiah). Pada zaman nabi-nabi, janji itu berpusat pada pengharapan akan seorang Mesias (alias Kristus; bdk. Mzm 89:20–38 untuk perjanjian dengan Daud yang mendasari pengharapan itu). Bahasa Paulus dalam a.12 menegaskan keterasingan bangsa-bangsa: LAI “tidak termasuk” = Yunani “terasing”, dan LAI “tidak mendapat bagiam dalam” = Yunani “orang-orang asing”. Makanya, mereka tanpa pengharapan dan pengenalan akan Allah yang tersedia bagi kaum Israel. Hal itu mungkin tercermin dalam perbedaan cara berdosa antara bangsa-bangsa dan Israel dalam aa.1–3. Bangsa-bangsa itu mudah dikendalikan oleh Iblis (a.2), karena tidak memiliki pengharapan dan tidak mengenal Sang Khalik. Dosa Israel tidak kentara seperti itu, tetapi hawa nafsu “daging” mereka tetap tidak dikendalikan (a.3). Tersirat dalam “yang menamakan dirinya ‘sunat’” dalam a.11 adalah suatu kekurangan rohani dari Israel juga.

Dalam rencana Allah, zaman itu sudah berlalu karena Kristus (13a). Dengan demikian, bangsa-bangsa yang jauh (terasing) dimungkinkan menjadi dekat, karena pengampunan dosa oleh darah Kristus (a.13b, bdk. 1:7). Hal itu diuraikan dalam aa.14–16. Hasil Kristus disebut “damai sejahtera” (14a), dan ada tiga klausa (bagian kalimat) yang menjabarkan hasil itu (14b–15a): mempersatukan dua pihak; merubuhkan perseteruan; dan membatalkan hukum Taurat. Hukum Taurat dengan jelas membagi manusia menjadi dua pihak, dan hal itu menimbulkan perseteruan karena kedagingan masing-masing pihak. Israel menganggap bangsa-bangsa paling sedikit najis, kalau bukan musuh Allah, sehingga harus dijauhi, dan hal itu dengan mudahnya dilakukan dalam kesombongan rohani (bdk. Rom 2:17–24). Bangsa-bangsa tentunya tidak suka sikap orang-orang Israel yang tampil angkuh. Jadi, dengan hukum Taurat tidak berlaku lagi, ketentuan-ketentuan yang menjaga kekudusan Israel tetapi juga memisahkan Israel dari bangsa-bangsa yang lain itu tidak lagi menimbulkan perseteruan.

Yang membuat hukum Taurat tidak berlaku lagi ialah daging Yesus (a.15a: LAI “dengan mati-Nya sebagai manusia” = Yunani “dalam daging-Nya”). Karena Paulus baru saja menyebut darah Yesus, hal itu memang merujuk pada kematian-Nya. Jika di bawah hukum Taurat, daging dan darah hewan dipersembahkan untuk menghapus dosa, daging Yesus telah menanggung kedagingan manusia, baik dari bangsa-bangsa maupun dari Israel. Jadi, fungsi hukum Taurat untuk menggambarkan dosa dan pengampunan Allah melalui ketentuan-ketentuan tentang kenajisan dan persembahan itu sudah digenapi oleh kematian Yesus. Kematian Yesus adalah tempat pengampunan dan pintu masuk untuk hidup yang berkenan di hadapan Allah.

Hasil Yesus itu memiliki dua tujuan (15b–16). Damai sejahtera tercapai dengan adanya satu manusia baru yang dibuat dari kedua pihak tadi. Di dalam Kristus, Yahudi dan non-Yahudi mendapat identitas di dalam Kristus yang lebih mendasar daripada identitas bangsanya. Yang kedua, kedua pihak itu diperdamaikan dengan Allah. Hal itu terjadi bersama-sama dalam tubuh Kristus, atas dasar pengampunan dosa dalam salib Kristus. Salib itu melenyapkan perseteruan, bukan hanya antara kedua pihak, tetapi juga antara manusia dengan Allah.

Jadi, Paulus kembali menyimpulkan hasil karya Kristus sebagai damai sejahtera bagi yang jauh dan yang dekat (17). Jika dulunya hanya orang Israel yang dapat mendekati Allah dalam Bait-Nya, sekarang kedua pihak memiliki jalan masuk kepada Allah Bapa (18). Hal itu terjadi dalam satu Roh (bdk. 1:13–14), yang memberi petunjuk bahwa tubuh Kristus dilihat sebagai pengganti Bait Allah sebagai tempat Allah hadir.

Hal itu dibuktikan dalam aa.19–22, yang membahas kondisi baru manusia karena hasil Kristus itu. Bangsa-bangsa (di dalam jemaat di Efesus) sudah menjadi warga umat Allah sama seperti orang Yahudi seperti Paulus, dan anggota keluarga Allah (19). Hal itu mejawab keterasingan mereka tadinya. Tetapi, tiba-tiba metafora Paulus beralih ke bangunan (20). Yesus Kristus dan para rasul dan para nabi memiliki tempat yang mendasar dalam bangunan itu (a.21; dalam 3:5b nabi-nabi adalah nabi-nabi kristen). Bangunan itu bertumbuh dalam Kristus—Paulus menggunakan bahasa yang mirip tentang tubuh Kristus dalam 4:15—menjadi bait Allah (21). Kita melihat dalam a.22 bahwa definisi Paulus tentang bait Allah itu bukan gedung melainkan tempat kediaman Allah oleh Roh. Jemaat telah mengambil alih fungsi Bait Allah, sama seperti Kristus telah menggenapi fungsi hukum Taurat. Di dalam Kristus, bangsa-bangsa mulai bersekutu dengan Israel, dan lebih dari itu, telah bersekutu dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk menaruh pengharapan kepada Kristus dengan menghayati tempat kita dalam tubuh-Nya sebagai kedudukan yang kudus. Hal itu merelatifkan pengharapan kelompok, kedudukan di dalam kelompok, dan semua yang membuat bait Allah (gereja) retak.

Makna

Yang saya maksud dengan “pengharapan kelompok” ialah pengharapan-pengharapan yang dianggap penting dalam kelompok itu, seperti pesta besar untuk kaum Toraja, pangkat dan jabatan yang tinggi untuk kaum pegawai, dsb. Pengharapan-pengharapan itu sah-sah saja (hanya, kadangkala menghalalkan cara yang tidak sah), tetapi itu bukanlah pengharapan yang ditawarkan dalam Injil. Kalau bangsa-bangsa itu “tanpa pengharapan”, yang dimaksud ialah janji-janji Allah dalam PL yang bermuara pada pembaruan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai kepala (1:10). Intinya dalam perikop ini adalah jalan masuk kepada Bapa (18).

Namun, jalan masuk itu ternyata tidak ditempuh sendirian. Allah diam di dalam bait Allah/tubuh Kristus yang terdiri atas banyak orang. Makanya, damai sejahtera disoroti. Tetapi penekanan di sini bukan pada pendamaian antar orang, melainkan pada pendamaian antar kelompok. Kelompok, entah berdasarkan kedudukan, budaya, bangsa, atau (dalam dunia modern) pendidikan, selalu bisa menjadi tembok pemisah. Dengan wajar, kita beridentifikasi dengan orang-orang yang mirip dalam hal-hal yang kita anggap penting. Tantangannya di sini adalah menjadi satu di dalam Kristus, dengan menganggap identitas di dalam Kristus lebih pokok daripada perbedaan-perbedaan yang ada. Perbedaan itu tidak dihapus—Injil tidak menuntut orang buta huruf belajar membaca—tetapi Kristus yang mati bagi kita lebih penting daripada semua perbedaan itu.

Paulus juga tidak menghapus kategori “jauh”, tetapi mengubah isinya. Hukum Taurat adalah pemberian Allah, dan salah satu tujuan adalah supaya Israel menjadi bangsa yang kudus, yang lain dari yang lain. Jika dahulu sunat menjadi ciri khas umat Allah, sekarang Kristus menjadi ciri khasnya. “Di dalam Kristus” menyiratkan kondisi di luar Kristus; menjadi anggota keluarga Allah tidak berlaku otomatis untuk semua manusia. Masih ada yang jauh dan yang dekat. Bedanya bahwa yang dekat itu terdiri atas banyak bangsa dan budaya, bukan lagi hanya budaya hukum Taurat dalam Israel. Dengan demikian, damai sejahtera tetap diberitakan kepada yang jauh, supaya mereka juga diberi kesempatan untuk bergabung dengan Kristus dan menjadi bagian dari tempat kediaman Allah.

Tempat kediaman Allah itu tempat yang kudus. Prasangka terhadap orang kristen yang kurang berpendidikan, atau budayanya kita anggap terbelakang, mencemarkan tubuh Kristus jika kita menganggap iman kita lebih maju karena kita pakai baju modern. Bukannya bahwa embel-embel budaya modern tidak berguna, tetapi itu hanya salah satu dari banyak bentuk budaya yang membuat bangunan tubuh Kristus yang paling indah dan menarik.

Dipublikasi di Efesus | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Mzm 24:1-10 Bersekutu dengan Allah yang kudus [12 Jul 2015]

Penggalian Teks

Dalam 1 Samuel 4 kita membaca bagaimana tentara Israel membawa tabut Tuhan ke dalam medan perang. Kali itu tabut Tuhan dirampas orang Filistin (sebagai hukuman terhadap Israel), dan kita tidak tahu apakah hal itu dilakukan kemudian. Kalaupun tidak, Mazmur 24 ini menunjukkan bahwa tabut Tuhan dibawa dalam arak-arakkan, dan mazmur ini dipakai sebagai bagian dari liturginya. LAI menafsir (dengan dugaan yang masuk akal) bahwa ada tiga pemeran. Ayat-ayat yang tidak pakai tanda petik (1–2, 7, 9) anggaplah pemandu liturgi, kemudian ada penanya dan penjawab. Bisa saja penjawab adalah orang-orang Lewi yang membawa tabut itu. Sebagai perkiraan tentang alur liturgi itu, a.3 diajukan ketika rombongan tabut perjanjian mau menaiki bukit Sion (“gunung Tuhan”), dan a.7 dinyatakan ketika rombongan mau masuk di pelataran Bait Allah.

Aa.1–2 merujuk pada penciptaan dunia. Khususnya, bumi dan dunia diletakkan di atas lautan dan sungai-sungai. Ada dua macam air yang disebut di sini, dengan dua maksud. Sungai-sungai adalah sumber berkat bagi manusia di dunia sebagai tempat kediaman manusia (bdk. Kej 2:10; Mzm 46:5). Tetapi lautan terlalu kacau untuk manusia tinggal di atas/dalamnya. Hanya karena Tuhan mendasarkan sesuatu yang kukuh, yakni bumi, maka kita bisa hidup. Makanya, lautan kadang menjadi kiasan untuk dunia politik-sosial yang kacau (bdk. Mzm 46:2–4 & 5–7). Dalam skenario tentara Israel baru kembali dari medan perang, mereka telah mengalami Allah membuat tempat aman bagi umat-Nya di tengah-tengah bangsa.

Membuat tempat yang teratur dan aman di tengah kekacauan adalah gambaran tentang kekudusan. Pertanyaan dalam a.3 mau mencegah pengacau masuk ke dalam tempat Allah yang kudus. Pengangkut tabut menjawab dengan gambaran tentang orang yang beres. A.4 membandingkan tindakan (tangan) dan rencana (hati) yang bersih dengan penipuan. Jadi, tangan yang bersih dan hati yang murni menyangkut konsistensi antara janji atau nilai yang dipegang dengan tindakan selanjutnya. Konsistensi itu sering disebut integritas. Lawan dari integritas ialah tenaga yang dikerahkan untuk menipu sesama, dan sumpah yang kemudian diingkari. Orang seperti itu akan menerima berkat dari Tuhan (bdk. Sungai yang mengairi dunia dalam a.2), dan keadilan dari Tuhan, yaitu pertolongan Tuhan yang membuat dia kukuh di hadapan kekacauan yang didatangkan musuh (bdk. bumi di atas lautan dalam a.2). Orang-orang seperti itu berkumpul menjadi angkatan yang mencari petunjuk (“menanyakan”) dan persekutuan (“wajah-Nya”) dengan Allah. Karena mereka menerapkan kekudusan (integritas) dalam kehidupannya, mereka cocok di dalam Bait Allah.

Jadi, rombongan tabut itu berani mendekati pintu gerbang, supaya Allah Raja Kemuliaan masuk dalam istananya (aa.7, 9; kata “Bait” dan “istana” sama dalam bahasa Ibrani). Sebagai Raja yang mulia, dia menjadi pusat kebanggaan angkatan setia itu. Sebagai Raja yang perkasa, Dia memperjuangkan keadilan dengan memerangi kekacauan dalam bentuk bangsa-bangsa musuh (8). Dalam a.10, Allah adalah Tuhan atas semuanya.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mengucapkan mazmur ini, kita dibawa untuk mengaku kemuliaan Tuhan sebagai Raja yang berjaya dan perkasa, sehingga kita tergerak untuk hidup sesuai dengan kekudusannya.

Makna

Keadilan Allah dilihat dengan paling jelas ketika Yesus dibangkitkan dari antara orang mati. Yesus tidak menikmati keadilan dari pimpinan orang Yahudi ataupun Pilatus, sehingga Dia mati, tetapi Allah membenarkan Dia pada hari ketiga itu. Israel mengalami keadilan Allah ketika diberi kemenangan atas musuh. Kita yang setia kepada Allah dalam sengketa dengan sesama mengalami keadilan Allah ketika orangnya kalah.

Berkat Allah dilihat dengan paling jelas dalam Ef 1:3–14: berkat-berkat rohani termasuk menjadi kudus (4), menjadi anak Allah (5), ditebus/diampuni (7), dan mengetahui rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus (9–10). Jaminan dari berkat-berkat itu adalah Roh Kudus (14), yang disebut sebagai sungai dalam Yoh 7:37–39. Sebagai orang percaya, kita sudah menikmati keadilan Allah, yang dari hukuman dan kuasa dosa telah menyelamatkan kita. Keadilan itu akan kita alami ketika kita ikut dibangkitkan pada akhir zaman. Hal itu bukan hanya bahwa kita akan hidup kembali, tetapi juga bahwa kita tidak akan mendapat malu pada penghakiman terakhir (bdk. Rom 10:9–11). Kata Yesus bahwa tidak ada rahasia yang tidak akan diumumkan (Luk 8:16–18), semua penipuan dan sumpah palsu akan terbongkar, sebagian dalam hidup ini, sebagian pada akhir zaman. Sebagai Raja, Yesus akan membereskan segala sesuatu supaya dunia baru sesuai dengan kehendak Allah.

Mungkin tidak banyak orang mengangkat sumpah sekarang, karena Yesus mengatakan bahwa seluruh perkataan kita mencerminkan integritas. Tetapi, hal sepadan dalam dilihat dalam ikrar seperti janji dalam pengutusan pelayan, dan juga dalam stempel dan tanda tangan dalam pengorganisasian. Jika dikaitkan dengan “murni hatinya” (Mzm 24:4), ada yang menganggap bahwa sebuah ikrar, janji, atau keikutsertaan dalam keputusan resmi diukur dari kondisi hati pada saat janji itu dibuat. Tetapi, Yesus mengatakan bahwa pohon dilihat dari buahnya, bukan dengan menggali akarnya. Keraguan dalam hati tentang diri sendiri ketika diurapi bukan noda pada janji itu jika kita tetap setia; perasaan khusyuk yang sedalam-dalamnya tidak berarti jika kemudian kita lari dari pelayanan yang ditentukan Tuhan. Tuhan yang mengenal hati kita, bukan kita sendiri.

Hal itu saya sebutkan, karena ada gaya orang yang untuknya rasa bersalah itu rasa tetap, walaupun tidak terlalu jelas apa salahnya. Ada juga orang yang dilanda pikiran yang kotor, perasaan dengki dsb, yang bisa saja membuatnya merasa tidak layak. Tetapi kemurnian hati tidak terletak di situ. Jika hal-hal itu tidak diladeni, tetapi kita bertindak sesuai dengan komitmen-komitmen kita, hati kita tetap murni, sama seperti langkah orang pincang itu murni ketika menuju sebuah tempat untuk berbuat baik.

Dipublikasi di Mazmur | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

2 Kor 12:1-10 Bermegah atas kelemahan [5 Jul 2015]

Penggalian Teks

Dalam 2 Korintus 10–13, Paulus membela diri—atau lebih tepat, membela pelayanannya—terhadap “rasul-rasul yang luar biasa” (12:11). Di balik semua yang dia katakan ada salib. Dalam kelemahan dan kehinaan salib, Allah justru mengerjakan keselamatan, dan pelayanan Injil itu harus bercermin pada pola itu. Makanya, dalam 11:23–33, Paulus membuktikan bahwa dia adalah pelayan Kristus (11:23) dengan serangkaian penderitaan. Bentuknya seperti daftar kemegahan yang biasa pada zaman itu, untuk menunjukkan sifat kepahlawanan dalam diri. Hanya, isinya berupa kesusahan, dan puncaknya menunjukkan kelemahan Paulus, bahwa dia tidak berdaya dan melarikan diri dari seorang penguasa (11:31–33). Paulus bermegah dalam kelemahan, yang di sini bersifat sosial/politik: Paulus bukan orang berkedudukan tinggi.

Perikop kita melanjutkan penyampaian Paulus tentang kemegahan itu. Dia masuk ke dalam soal penglihatan dan penyataan (1)—sesuatu yang sepertinya digemari oleh jemaat di sana dan mungkin menjadi kemegahan rasul-rasul luar biasa itu. Dalam aa.2–4 dia bermain-main dengan kegemaran itu. Dia tidak tahu penglihatan itu seperti apa, dan apa yang dia dengar tidak boleh diucapkan. Jadi, tidak ada penyataan baru daripadanya. Maksud Paulus diperjelas dalam aa.5–6. Dia memang pernah mengalami yang seperti itu, tetapi dia berbicara seakan-akan pengalaman itu terjadi pada orang lain untuk menegaskan bahwa dia akan bermegah atas kelemahannya (5), dan supaya orang menilai dia atas kinerjanya, bukan karena pengalaman tertentu (6).

Ternyata, sikap itu diajarkan langsung kepada Paulus oleh Tuhan. Kita tidak tahu apa yang disebut Paulus sebagai “duri di dalam daging” dan “utusan Iblis”. “Daging” sering dipakai Paulus untuk sifat manusia yang melawan Allah (bdk. Rom 8:5–8), jadi belum tentu yang dimaksud adalah penyakit. Usul-usul termasuk penyakit, pencobaan, bahkan musuh-musuh Paulus! Yang jelas, gangguan itu “menggocoh” (LAI versi baru: menghantam) Paulus. Yang dijelaskan Paulus ialah tujuan gangguan itu, yaitu untuk menekan kesombongan yang dapat muncul dari penglihatan itu (7). Lebih dari itu, Tuhan mengajar Paulus bahwa kelemahan Paulus adalah sarana yang paling cocok untuk kuasa Tuhan disalurkan (8–9a). Makanya, Paulus bermegah dalam kelemahannya. Ketika dia lemah, kuasa Tuhan membuat dia kuat, sehingga hal-hal yang sungguh berguna dihasilkan melaluinya (9b). Dari pengalaman pribadi itu, dia belajar untuk menerima semua bentuk kesulitan (pribadi, sosial, umum) sebagai kesempatan untuk Kristus berkarya melaluinya (10).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk bermegah atas kelemahan kita, supaya kuasa Tuhan tidak dihambat oleh kesombongan dan pengandalan diri.

Makna

Pengalaman Paulus bukan hal yang baru untuk umat Allah. Mazmur 123 menyampaikan keluhan umat Allah yang sudah jenuh dengan penghinaan. Mrk 6:1–13 menceritakan penolakan Yesus oleh kaum-Nya sendiri, serta kesederhanaan yang dituntut bagi murid-murid-Nya dalam misi mereka. Melalui pengalamannya, Paulus dimampukan untuk melihat lebih dalam makna salib Kristus bagi semua yang mau mengikuti-Nya.

Kuasa Tuhan dalam kelemahan kita tidak berarti bahwa kemampuan kita mubasir. Kalau kita mampu menulis, atau membawa motor di jalan yang sulit, atau menafsir dari bahasa Yunani dan Ibrani, itu semua hal-hal yang masing-masing berguna pada tempatnya. Tetapi, kejagoan dalam membawa motor tidak melunakkan hati seorang pendosa untuk bertobat, dan kehebatan dalam ilmu-ilmu tafsir tidak membawa anggota jemaat untuk merenungkan Alkitab secara pribadi. Jika dilakukan dengan sombong, justru efeknya terbalik: pendosa dikuatkan dalam dosanya karena melihat kemunafikan hamba Tuhan, dan anggota jemaat berkecil hati atas kemampuannya untuk membaca Alkitab sendiri. Kelemahan membuat kita setara dengan orang-orang lemah yang lain, dan menunjukkan bahwa yang berkarya adalah Allah sendiri.

Paulus tidak hanya menyadari bahwa kelemahannya merupakan kesempatan bagi Allah. Dia juga membangun kebiasaan bermegah atas kelemahan. Dalam budaya Yunani, bermegah atas kelebihan adalah hal yang penting dalam rangka diperhatikan dan diperhitungkan. Dalam budaya Toraja, bermegah atas kelebihan dianggap sebagai perendahan orang lain yang tidak sehebat. Tetapi, dalam semua budaya itu kelemahan ditutupi. Paulus bermegah atas kelemahan sebagai disiplin rohani yang mengingatkan dia bahwa Tuhanlah yang pokok, sehingga kuasa Tuhan dapat mengalir dengan lebih lancar dalam hidupnya dan pelayanannya. Bermegah atas kelemahan bukan cara untuk menyenangkan orang lain, melainkan cara untuk tetap berguna bagi Tuhan dalam berbagai macam kesulitan.

Dipublikasi di 2 Korintus | Tag , , | 1 Komentar