Mat 20:1-16 Murah hati memberi upah [24 Sep 2017]

Penggalian Teks

Cerita ini terkenal, tetapi juga tergolong perumpamaan Yesus yang agak sulit ditangkap. Dilihat dari ayat sebelumnya (19:30) dan ayat terakhirnya (16), perikop ini menjelaskan ucapan Yesus bahwa yang terakhir akan menjadi yang pertama dan sebaliknya. Ucapan itu muncul sebagai tanggapan terhadap diskusi tentang upah mengikut Yesus (19:27–29). Pengikut Yesus yang terakhir dalam kehidupan ini akan menjadi yang pertama dalam hidup yang kekal. Perumpamaan ini juga berbicara tentang upah. Hidup mengikut Yesus yang mendapat warisan hidup kekal itu digambarkan sebagai buruh harian yang mendapat kesempatan mendapat upah dengan bekerja di kebun anggur. Para murid telah mengikut Yesus sejak awalnya; bagaimana dengan yang lain?

Dalam bagian pertama di pasar (1–7), menjadi penting bahwa kelompok pertama sepakat tentang upah mereka (2), tetapi bahwa kesepakatan dengan kelompok-kelompok selanjutnya hanya “apa yang pantas” (4). Adalah menarik bahwa pemilik kebun itu pergi beberapa kali untuk mencari pekerja lagi, jam 9 pagi, jam 12 siang, jam 3 sore, bahkan jam 5 sore. Sepertinya dia mencari kesempatan untuk mempekerjakan orang; pada umumnya buruh harian bergantung pada hasil pekerjaan sehari untuk makan. Aa.6–7 mau menunjukkan bahwa kelompok terakhir ini bukan pemalas, tetapi belum mendapat kesempatan bekerja.

Bagian kedua menceritakan pembagian upah itu (8–15). Yang terakhir bekerja menjadi yang pertama menerima upah. Di luar dugaan, mereka mendapat upah satu dinar, yaitu yang pantas untuk satu hari penuh, suatu petunjuk tentang kemurahan hati pemilik (15). Tetapi konflik muncul ketika yang pertama datang dan tetap menerima satu dinar saja (10–12). Pengharapan mereka ternyata meningkat, mengingat bahwa jam kerja mereka duabelas kali lipat kelompok yang pertama, termasuk pertengahan hari yang berat. Mereka mengeluh bahwa pemilik kebun “menyamakan” kedua kelompok yang begitu berbeda ini (12). Tetapi perbandingan horisontal itu ditolak oleh pemilik kebun (14). Kesepakatan buruh adalah dengan dia secara perorangan (perhatikan bahwa pemilik kebun itu menjawab “seorang” dari mereka), bukan dengan orang lain. Jadi, yang dianggap soal keadilan oleh kelompok pertama itu oleh pemilik kebun dicap iri hati (15).

Jadi, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya (pendengar pertama perumpamaan ini) bahwa walaupun mereka masuk dalam pekerjaan di kebun Allah sejak dini, mereka harus siap untuk menjadi yang terakhir menerima upah hidup kekal, dan menerima upah itu bersama-sama dengan orang lain yang masa giatnya sebentar saja. Jika seperti kata Petrus mereka telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus (19:27), maka mereka justru akan bersukacita akan kebaikan Allah kepada orang yang bertobat belakangan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah itu bermurah hati untuk menawarkan hidup kekal kepada siapa saja yang bergabung dengan misi Yesus. Jika kita memahami hidup kekal sebagai pemberian Allah karena kebutuhan kita, bukan sebagai hak, kita akan bersukacita atas orang lain yang menerima hidup kekal tanpa susah payah yang banyak.

Makna

Yesus menggunakan konsep upah dalam kisah ini sebagai gambaran tentang penerimaan hidup kekal, sesuatu yang kelihatan bersitegang dengan penegasan Paulus bahwa pembenaran oleh iman adalah soal anugerah (“hadiah”), bukan soal upah sebagai hak (Rom 4:4). Tetapi Yesus tidak menanggapi teologi amal di sini. Di awal Khotbah di Bukit, Yesus mengangkat konsep upah untuk menggambarkan hasil surgawi dari kehidupan yang setia dalam penganiayaan (Mat 5:12). Kemudian, upah diangkat dalam perbandingan mengenai pemberinya: Allah atau manusia (6:1, 5, 16). Anugerah adalah pintu yang dibuka bagi orang yang sama sekali tidak layak, seperti panggilan Yesus kepada murid-murid yang belum berbuat apa-apa (4:18–22; bdk. 5:3). Tetapi bagi orang yang sudah masuk, yang sudah mulai berjalan dengan Yesus, hidup kekal adalah akhir yang cocok, searah dengan kerinduan kita sekarang untuk mengenal dan melayani Tuhan. Bahkan ketika kita kehilangan banyak, kita akan menerima lebih banyak lagi (19:29). Konsep upah menyatakan bahwa jerih payah kita dalam dunia ini tidaklah sia-sia (Fil 1:21–30).

Upah hidup kekal itu juga merupakan kebutuhan manusia berdosa, dan di situlah kita melihat kemurahan Allah. Dia mencari kesempatan untuk memberi manusia hidup yang kekal, sekalipun mereka akan segera mati (seperti pencuri di salib). Jadi, dalam perumpamaan ini, hidup kekal diambil dari ranah keadilan dan ditempatkan dalam ranah kemurahan hati, pemberian sesuatu yang sangat dibutuhkan. Mat 18:23–27 dari minggu yang lalu sudah menunjukkan ketidakmampuan manusia menghadapi keadilan Allah. Iri hati tidak menerima pemberian Allah sebagai penyataan kemurahan hati Allah tetapi sebagai hak (bdk Yun 3:10–4:11). Tetapi, hak itu (untuk “mewarisi” dalam bahasa aslinya Mat 19:29) tidak berasal dari diri kita tetapi dari janji Allah. Semua yang dipekerjakan oleh pemilik kebun anggur dalam cerita itu beruntung tidak menganggur sepanjang hari.

Dengan para murid sebagai pendengar pertama, saya menilai bahwa perumpamaan ini pertama-tama diarahkan untuk aktivis gereja yang tergoda untuk melihat kegiatan mereka sebagai pekerjaan yang selayaknya diupah, bukan sebagai penghayatan keselamatan karena mau melayani Yesus. Tetapi perumpamaan ini juga mengatakan kepada orang-orang yang selama ini mengabaikan penawaran keselamatan bahwa kesempatan masih diberikan, dan bahwa upah Allah akan cukup walaupun usaha kita terlanjur relatif sedikit.

Iklan
Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar

Yesaya 51:1-6 Lihat rencana Allah dan berharap [27 Ag 2017]

Penggalian Teks

Dalam ayat-ayat sebelumnya, hamba Tuhan mendapat perlawanan, dan ada peringatan bagi orang-orang yang mengandalkan diri (50:10–11). Dalam aa.1–3, nubuat mengalamatkan orang-orang yang mencari Tuhan untuk menguatkan mereka bahwa Tuhan masih merencanakan keselamatan bagi mereka. Dalam aa.4–5, keselamatan Tuhan akan menjangkau bahkan bangsa-bangsa. Bagi semua, keselamatan itu lebih pasti daripada langit dan bumi (6). Selanjutnya, hal itu berarti bahwa orang-orang benar tidak usah takut dinista orang (51:7–8).

Dalam a.1, mengejar apa yang benar disejajarkan dengan mencari Tuhan. Kondisi mereka kemungkinan tidak menentu, tetapi mereka yakin bahwa Tuhanlah pemberi jalan keluar, kalau ada. Tuhan mengarahkan mereka kepada Abraham dan Sara. Mereka menjadi bangsa yang besar bukan karena ada sesuatu yang memungkinkan dalam diri mereka, melainkan karena panggilan Allah. Tuhan berjanji bahwa Dia akan mengulang karya itu untuk Sion. Sion akan menjadi ramai kembali (dihibur), dan bahkan padang gurunnya akan diberkati dengan kesuburan. Dengan menyebut taman Eden, Allah menyinggung tujuan dari panggilan Abraham sekaligus tujuan-Nya dalam memulihkan Israel, yaitu pemulihan kondisi manusia yang kehilangan berkat Allah.

Ternyata, tujuan itu menjangkau bangsa-bangsa. Aa.4–5 mirip dengan bebarapa perikop tentang bangsa-bangsa. Misalnya, keluarnya pengajaran (Ibr: “Torah”) dilihat dalam 2:2–4, dan terang bagi bangsa-bangsa merupakan tugas hamba dalam 49:6–7. Dengan Allah memerintah, ada pengharapan bagi bangsa-bangsa, bahkan yang paling jauh (pulau-pulau). Jika mereka mengharapkan karya Tuhan, lebih lagi umat Allah sendiri!

A.6 membandingkan kefanaan ciptaan ini dengan kelanggengan keselamatan yang dijanjikan Tuhan. Yesus berjanji bahwa gereja tidak akan kalah sebagai perintisan Kerajaan Allah ini (Mat 16:18). Jadi, umat Allah diundang untuk melihat ke belakang (apa yang dikerjakan di dalam satu keluarga Abraham), dan juga melihat ke depan, yaitu bahwa Sion (jemaat) adalah masa depan Tuhan, bibit dari dunia yang baru.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Umat Allah pada titik paling bawah ditempatkan dalam ranka rencana Allah dari Abraham sampai dunia baru. Kita diajak untuk mengharapkan kedatangan Kerajaan Allah yang membawa keselamatan.

Makna

Jika para antropolog mengatakan bahwa salah satu landasan budaya ialah mitos, Alkitab juga sering memaparkan karya Allah sebagai Kisah Agung yang menjadi landasan iman dan pengharapan. Kita beriman kepada Allah karena kita melihat apa yang sudah Dia lakukan. Kita berharap kepada Allah karena janji-janji-Nya. Jadi, penerapan yang dilihat di dalam perikop adalah memandang Abraham, memperhatikan suara Tuhan, dan berharap pada keselamatan-Nya. Fokus perikop adalah Allah dan karya-Nya, dan ke situlah jemaat perlu diarahkan.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Yes 55:1-5 Dikenyangkan dalam Kristus [6 Ag 2017]

(Minggu depan, materi MJ adalah materi saya, dan minggu berikutnya sudah ada bahan blog dari 2013 untuk Yes 56:1–8, jadi blog akan istirahat satu atau dua minggu.)

Penggalian Teks

Yes 40–55 biasanya dianggap satu bagian besar dari kitab Yesaya dengan fokus pada Israel yang diberi janji keselamatan dari pembuangan. Israel digambarkan sebagai hamba Tuhan yang gagal menjadi saksi Tuhan, dan dalam Yes 49:3, fungsinya diambil alih oleh seorang individu (demikian salah satu tafsiran). Dalam Yes 53, hamba itu meraih keselamatan bagi Israel melalui pengorbanannya, hasil yang digambarkan dalam Yes 54. Yes 55 berseru kepada Israel untuk kembali kepada Tuhan. Dia akan memberi keselamatan yang mengenyangkan itu (55:1–2) di bawah seorang Mesias (55:3–5). Oleh karena itu, Israel disuruh bertobat (55:6–7). Rencana Tuhan ini memang melampaui dugaan manusia (55:8–9), tetapi firman-Nya pasti akan mencapai tujuan-Nya (9–10), yaitu keselamatan bagi umat Tuhan (11–13).

Gambaran dalam aa.1–2 cukup jelas, yaitu penawaran minuman dan makanan yang baik dan lezat secara gratis. Lanjutannya dalam aa.3–5 juga membuat jelas bahwa minuman dan makanan itu kiasan untuk sesuatu yang lain, yaitu perjanjian abadi. Jadi, nafsu minum dan makan yang membawa kepada kehidupan jasmani menjadi kiasan untuk perjanjian Allah yang menyediakan kehidupan rohani. Manusia haus akan kehidupan rohani itu, tetapi berjerih payah untuk hal-hal yang tidak memenuhi kebutuhan itu. Yang disediakan Allah itu akan mengenyangkan.

Bagaimana perjanjian abadi itu mengenyangkan? A.3b merujuk pada kasih setia yang teguh yang akan ditunjukkan kepada seluruh umat di dalamnya, seperti yang ditunjukkan kepada Daud mulai dengan pemilihannya sebagai anak bungsu sampai menjadi raja dan pengampunan dosanya yang besar. Hidup sejati adalah hidup sebagai umat Allah yang terikat oleh perjanjian sehingga setia kepada-Nya dan bergantung kepada-Nya. Dalam a.4a, perjanjian itu dikaitkan dengan sosok yang menjadi saksi dan raja, menggabungkan peran hamba Tuhan dalam pp.42–53 dengan janji mesianis dalam p.9 & 11. Jadi, bangsa Israel yang dibuang karena pemberontakannya akan mengalami pemulihan karena pelayanan Sang Hamba itu. Tetapi aa.4–5 juga memberi janji bahwa semua suku bangsa akan mengakuinya sebagai raja. Pemulihan umat Allah termasuk kedudukan baru di bawah raja yang diagungkan Allah. Sama seperti Sion dalam 2:2–4, raja ini akan menjadi daya tarik dan sumber berkat bagi bangsa-bangsa itu. Bagi orang Israel dalam pembuangan, hidup sejati akan didapatkan melalui mendengarkan dan mengharapkan janji Allah ini, bukan dengan mendirikan kedudukan di Babel.

Paulus mengenakan a.3b pada kebangkitan Kristus ketika dia memberitakan Kristus kepada sinagoge di Antiokhia di Pisidia (Kis 13:34). Kristus adalah anak Daud yang menjadi saksi akan kasih setia Tuhan dalam hidup-Nya dan terutama ketika Allah membangkitkan-Nya setelah Dia mati bagi dosa. Kebangkitan-Nya juga menyatakan-Nya sebagai Raja Kerajaan Allah yang berlaku atas semua bangsa. Di dalam Raja ini ada pengampunan dosa yang tidak didapatkan dalam perjanjian dengan Musa (Kis 13:38–39).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah adalah sumber hidup yang paling memuaskan, dan Dia telah membuktikannya dalam perjanjian-Nya dalam Yesus Kristus. Dia mau supaya kita berlari kepada-Nya dan menikmati hubungan kita dengan Dia.

Makna

Ada dua aspek dari pesan Yesaya ini. Pertama, ada gambaran tentang Mesias (Kristus) berdasarkan raja Daud. Kasih setia Tuhan seperti yang dialami Daud (termasuk perlindungan dan pengampunan) menjadi milik kita di dalam Kristus. Bedanya bahwa hubungan dengan Allah yang dibentuk oleh perjanjian di dalam Kristus adalah hubungan yang abadi, yang tidak akan berakhir dengan kematian. Mesias ini juga agung, begitu agung sehingga menjadi menarik untuk orang dari segala bangsa. Makanya, rasul Paulus tidak hanya memberitakan Injil kepada kaumnya sendiri tetapi juga kepada bangsa-bangsa non-Yahudi yang belum mengenal Kristus.

Kedua, Mesias ini adalah jawaban untu kehausan rohani manusia. Aspek ini yang sulit disampaikan. Manusia berdosa tidak mau bergantung pada Allah untuk kepuasan rohani, sehingga berusaha merasa puas dengan hal-hal yang lain yang belum tentu buruk tetapi tidak mampu memberi hidup yang sejati. Salah satu karya Roh Kudus di dalam orang percaya ialah perubahan selera sehingga makanan dari Tuhan mulai digemari dan dosa dan hal-hal sepele mulai tawar rasanya.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

1 Raj 3:4-15 Wakil Allah yang mulia dalam hikmat [30 Jul 2017]

Penggalian Teks

1 Raj 1–2 menceritakan cara keras Salomo mengukuhkan kerajaan Israel, dan perikop ini mulai menceritakan pemerintahannya. 1 Raj 3:1–3 menyebut kasih Salomo kepada Tuhan, tetapi juga memberi petunjuk tentang apa yang akan menjadi masalah Salomo ke depan, yaitu isteri asing dan ibadah yang tidak setia. Di atas kasih Salamo itu, perikop kita menceritakan asal usul kelebihan Salomo yang paling besar, yaitu hikmat.

Dalam aa.4–5 kita melihat bahwa Tuhan tidak mempersoalkan bahwa Salomo pergi ke bukit di Gibeon untuk mempersembahkan korban. 2 Taw 1:3–5 menunjukkan bahwa walaupun tabut perjanjian ada di Yerusalem, Kemah Suci ada di Gibeon itu. Adanya jumlah korban yang besar menunjukkan bahwa Salomo mencari peneguhan ilahi untuk pemerintahannya, mungkin seperti yang didapatkan Daud dalam firman Allah yang disampaikan melalui Natan (1 Sam 7).

Kemudian, Allah berfirman kepada Salomo dalam mimpi untuk meminta sesuatu (6). Salomo mulai jawabannya dengan menempatkan dirinya di dalam relasi Allah dengan Daud (6). Relasi itu dicirikan oleh kasih setia Allah kepada Daud, dan sikap setia, benar, dan jujur dari Daud di hadapan Allah. Sebagai pengganti Daud, Salomo mengharapkan kesetiaan yang sama, dan secara tersirat mengakui perlunya sikap seperti Daud dari dirinya sendiri. Kemudian, dia menggambarkan kebutuhannya (7–8). Dia mengaku kelemahannya, sementara tanggung jawabnya besar di hadapan Allah karena Israel adalah umat pilihan Allah yang sudah menjadi bangsa yang besar, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Oleh karena itu, dia meminta kemampuan untuk memimpinnya dengan baik (a.9; cakupan tugas menghakimi lebih luas daripada mendengarkan perkara saja, bandingkan hakim-hakim Israel yang juga memimpin dalam perang). Kemampuan itu termasuk hati yang mendengarkan perkara dengan teliti dan mampu membedakan apa yang baik dan yang jahat. Kemampuan itu mirip dengan apa yang ditawarkan pohon yang dilarang di taman Eden itu (Kej 2:9), di mana “yang baik” berarti apa yang sesuai dengan ciptaan Allah yang sangat baik. Salomo akan berkuasa sesuai dengan amanat Allah kepada Adam, tetapi dia tidak merampas hikmat yang dibutuhkan itu.

Karena permintaan Salomo berpusat pada kepentingan Tuhan (11), yaitu umat-Nya, Tuhan mengabulkan permintaan Salomo itu (12), dan juga menjanjikan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan Salomo, yaitu kekayaan dan kemuliaan (13) dan, jika Salomo taat, umur yang panjang. Soal nyawa musuh yang diangkat dalam a.11 tidak termasuk dalam daftar itu. Sebenarnya, kedua hal itu tidak juga lepas dari kepentingan Allah, karena kemuliaan Salomo menjadi daya tarik untuk kunjungan ratu negeri Syeba yang di dalamnya Israel menjadi bangsa percontohan, walaupun seketika saja (p.10).

Dalam a.15, Salomo kembali ke Yerusalem dan mengadakan perayaan bagi pegawai-pegawainya (harfiah: hamba-hambanya). Hal itu mirip dengan pengadaan perjanjian Sinai, dengan Salomo sebagai Musa, dan pegawai-pegawai sebagai tua-tua Israel (Kel 24). Salomo sepantasnya bersyukur, tetapi arah birokratis yang akan menindas (pegawai menggantikan tua-tua lokal) tersirat juga di sini. Pola itu salah satu pemicu perpecahan kerajaan kemudian (12:4).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Hikmat adalah dasar kemuliaan yang sejati. Dalam berbagai tanggung jawab kita sebagai hamba Tuhan, kita diajak untuk mencari lebih dulu hikmat dari Allah. Kristus lebih berhikmat daripada Salomo (dan tidak tersesat), dan Dia menjadi lebih mulia. Bagi kita, pengejaran hikmat adalah sekalian pendewasaan untuk menjadi serupa dengan Kristus melalui pergumulan dalam pengharapan (Rom 8:26–39).

Makna

Dalam perjanjian Allah dengan Israel di Sinai, pelayanan imamat menjadi pokok yang penting. Pelaksanaan persembahan menuntut ketelitian dalam menaati berbagai peraturan. Tetapi untuk menjadi raja, ketaatan yang teliti tidak cukup. Untuk menjalankan keadilan, dibutuhkan juga hikmat. Hikmat jeli membedah keadaan yang sebenarnya, seperti antara kedua ibu yang memperebutkan bayi dalam cerita selanjutnya (3:16–28). Dalam hal ini, kitab Amsal, yang mengumpulkan hikmat yang dikumpulkan oleh Salomo dan aliran hikmat yang dia pelopori, menjadi pelengkap dari hukum Taurat.

Kita bukan raja, tetapi semua orang beriman adalah orang merdeka yang bertanggung jawab kepada Allah atas satu bagian kecil dalam dunia Allah di rumah, tempat kerja, dan lebih luas. Di dalam Kristus, menjadi orang berhikmat berarti menjadi seorang anak Allah yang mulia karena serupa dengan Dia (Rom 8:29). Hikmat di dalam Kristus tidak selalu masuk akal dunia, karena hikmat itu melihat apa yang paling berharga dalam Kerajaan Allah (Mat 13:44–45). Sebagai hamba dan wakil Allah di bumi, kita dituntut untuk mengasihi semua. Tema ini mengingatkan kita bahwa kasih itu bukan soal perasaan dan perhatian saja; kasih juga membutuhkan hikmat (kedewasaan) supaya dilakukan dengan tepat (seperti doa Paulus dalam Fil 1:9–10). Misalnya, kita memberitakan Kristus kepada orang yang belum tentu merasa membutuhkan-Nya, karena kita tahu bahwa Dia berharga di atas semua. Dalam hikmat-Nya, Yesus bergaul dengan orang-orang yang hidup dalam kekacauan dan menegur dengan keras orang-orang yang beres.

Dipublikasi di 1 Raja-raja | Tag | Meninggalkan komentar

Rom 8:12-25 Pengharapan Anak-anak Allah [23 Jul 2017]

Penggalian Teks

Paulus sudah menjelaskan kuasa Roh sebagai solusi terhadap kedagingan manusia berdasarkan identitas baru oleh iman kepada Kristus, bukan ketaatan kepada hukum Taurat. Aa.12–25 yang menjadi perikop kita merupakan penerapannya, terutama bahwa identitas baru itu

Dalam perikop kita, Paulus menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Kristus dan diubah oleh kuasa Roh Kudus menjadi anak-anak Allah yang dikuatkan di dalam penderitaan. Ayat-ayat berikutnya menunjukkan bagaimana sebagai anak kita didewasakan melalui “segala hal” yang sulit menjadi serupa dengan gambar Kristus (8:26–20), dan bahwa kita pasti akan diselamatkan, apapun penderitaan kita (8:31–39). Jadi, paruh kedua pasal 8 ini menguraikan lebih dalam pernyataan Paulus tentang bermegah dalam kesengsaraan dan mengenal kasih Allah dalam 5:1–11.

Aa.12–13 langsung menerapkan diskusi Paulus tentang Roh Kudus. Hukum Taurat tidak berdaya terhadap dosa yang mendarah daging dalam manusia, tetapi Roh Kudus menerapkan hukuman terhadap dosa dalam tubuh Kristus di salib (8:3) dengan membawa niat yang baru dalam hati (8:5–8) dan kuasa kebangkitan ke dalam tubuh (tingkah laku) orang percaya (8:9–11). Berdasarkan niat dan kuasa Roh itu, perbuatan daging dalam tubuh harus dimatikan. Tens presen kata kerja “mematikan” menunjukkan bahwa Paulus berbicara tentang proses. Karena identitas baru di dalam Kristus, utang budi kita bukan untuk kepentingan daging (citra keluarga/kelompok, penutupan korupsi atau penyelewengan) melainkan untuk kepentingan Roh.

Identitas itu diperjelas dalam aa.14–17, yaitu sebagai anak Allah. Kiasan ini bukan embel-embel saja. Menjadi anak Allah berarti dituntun oleh Roh dalam keputusan-keputusan sehari-hari, bukan oleh kepentingan keluarga asli (14). Identitas itu juga berarti merasa aman dengan Allah, lebih dari dengan orangtua sendiri (15). Tentu, tidak ada rangkulan jasmani atau makan bersama, tetapi Roh Kudus bersaksi dengan roh pribadi, suatu pengalaman pribadi yang sifatnya berbeda untuk setiap orang, tetapi membawa hasil bahwa memanggil Allah “Bapa” terasa wajar, bukan aneh (16). Identitas itu juga membawa masa depan yang tidak berasal dari keluarga jasmani, yaitu janji-janji Allah yang menjadi warisan ilahi (17a).

Berdasarkan penuntunan, keamanan, dan warisan sebagai anak Allah, orang percaya siap melalui kesusahan hidup ini dengan cara bersabar yang mengikuti jejak Kristus dan diberdayakan oleh Roh. Penderitaan menjadi sesuatu yang dilalui bersama dengan Kristus, dengan melihat kemuliaan Kristus sebagai tujuan yang pasti dalam janji Allah (17). Kemuliaan itu bukan sekadar pelepasan dari penderitaan, tetapi buah sulung dari pembaruan seluruh ciptaan Allah (18–25). Keyakinan Paulus dalam a.18 tidak langsung menyambung dengan pengalaman kita, karena penderitaan sekarang ini nyata, sementara pengharapan kita belum dilihat (24–25).

Paulus mulai menjelaskan pengharapan itu dengan berbicara tentang kerinduan ciptaan akan “penyataan” anak-anak Allah (19). Kerinduan itu muncul dalam konteks kisah tentang ciptaan. (Tentu, yang memiliki perasaan dalam ciptaan adalah kita manusia sendiri, tetapi personifikasi Paulus ini, dengan ciptaan digambarkan sebagai orang, mau mencerminkan wawasan bahwa kepentingan Allah lebih luas daripada kepentingan pribadi atau kelompok saja.) Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menaklukkan ciptaan-Nya ke dalam kesia-siaan (20): tugas manusia untuk bertambah banyak dan berkuasa atas bumi menjadi sulit (Kej 3:16–19). Ciptaan menjadi sia-sia sebagai akibat dosa manusia, dan mengalami kemerosotan, kehancuran, dan kefanaan (21a). Ternyata, ikatan antara ciptaan dengan manusia itu berlaku sampai dengan kemerdekaan manusia (21b). Anak-anak Allah sudah mulai mengalami kemerdekaan dari kebinasaan dan perbudakan dan masuk ke dalam pemulihan kemuliaan yang selayaknya sebagai anak-anak Allah, seperti dijelaskan dalam pp.6–8. Itulah yang menjadi pengharapan ciptaan yang lain.

Kemudian, Paulus menerapkan cerita tentang ciptaan itu kepada manusia sendiri. Ciptaan mengeluh dengan berat (a.23; penderitaan bersalin juga mengandung pengharapan); kita juga mengeluh. Yang menarik, kita mengeluh karena telah menerima Roh Kudus. Roh itu adalah “karunia sulung” (23a). Oleh Roh, kita sudah mencicipi status sebagai anak-anak Allah. Namun, proses itu baru akan tuntas dengan pembebasan tubuh kita (23). Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan “pembebasan jiwa dari tubuh” seperti pemikiran Yunani pada zaman itu. Dilihat dari diskusi Paulus sebeleumnya, tubuh akan dibebaskan dari dosa dan kefanaan. Jadi, justru karena kita sudah mulai menikmati relasi dengan Allah sebagai anak-anak-Nya, rusaknya ciptaan Allah menjadi hal yang dikeluhkan kita. Dosa tidak lagi membutakan orang percaya terhadap kesia-siaan dunia ini.

Makanya, orang percaya hidup dalam pengharapan. Dalam pengharapan itu, kita bertekun (25). Ketekunan itu diberdayakan oleh Roh sebagai karunia sulung itu: dunia sekarang terbongkar sifatnya, dunia mendatang mulai dicicipi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Penderitaan adalah kondisi dunia yang menjadi pengalaman orang-orang percaya juga, tetapi di dalam Kristus disertai pengharapan akan kemuliaan. Dengan demikian, kita bertekun dalam pengharapan yang jelas berdasarkan kemuliaan Kristus, bukan dalam kepasrahan atau rasa terkutut.

Makna

Menjadi anak adalah salah satu status paling penting dalam kehidupan beriman. Makin Allah dipandang dan dihayati sebagai Bapa, makin orang akan mau dituntun oleh Allah dan akan mampu percaya dalam kesusahan. Namun, soal penderitaan menunjukkan bahwa ada ketegaan dalam kebapaan Allah yang tidak memungkinkan untuk orangtua manusia. Manusia hanya bisa mendidik dan menantang anak sampai taraf cukup rendah, tetapi Allah menempatkan manusia dalam dunia yang sungguh-sungguh susah, supaya kita menjadi serupa dengan Kristus (8:28–29) dan turut dimuliakan (8:17–18, 30). Roh yang membawa kesaksian itu ke dalam hati. Saya mengusulkan tadi bahwa proses itu bermacam-macam dan belum tentu selalu sama dalam pengalaman satu orang. Ada yang lebih dibawa oleh perasaan, ada yang diyakinkan dalam akal, ada yang mengalami persekutuan, dsb. Tetapi dalam penguraian Paulus, penghayatan itu merupakan dasar ketekunan iman dalam kesusahan hidup.

Penghayatan itu membawa konsep ketekunan yang khas. Kedaulatan Allah dalam agama monoteis sering bermuara pada kepasrahan: Allah berdaulat, jadi manusia hanya bisa menerima nasib begitu saja. Tetapi kematian dan kebangkitan Kristus membawa pola yang lain. Penderitaan di dalam Kristus bermuara pada kebangkitan, sehingga penderitaan kita juga menyiratkan janji kemuliaan. Ketekunan terjadi dalam penantian akan pengharapan yang jelas.

Dipublikasi di Roma | Tag , | Meninggalkan komentar

Yes 55:10-13 Melangkah dalam iman dengan sukacita [16 Jul 2017]

Penggalian Teks

Yes 40–55 biasanya dianggap satu bagian besar dari kitab Yesaya dengan fokus pada Israel yang diberi janji keselamatan dari pembuangan. Israel digambarkan sebagai hamba Tuhan yang gagal menjadi saksi Tuhan, dan dalam Yes 49:3, fungsinya diambil alih oleh seorang individu (demikian salah satu tafsiran). Dalam Yes 53, hamba itu meraih keselamatan bagi Israel melalui pengorbanannya, hasil yang digambarkan dalam Yes 54. Yes 55 berseru kepada Israel untuk kembali kepada Tuhan. Dia akan memberi keselamatan yang mengenyangkan itu (55:1–2) di bawah seorang Mesias (55:3–5). Oleh karena itu, Israel disuruh bertobat (55:6–7). Rencana Tuhan ini memang melampaui dugaan manusia (55:8–9), tetapi firman-Nya pasti akan mencapai tujuan-Nya (9–10), yaitu keselamatan bagi umat Tuhan (11–13).

Yesaya (atau muridnya pada zaman pembuangan) bernubuat bagi Israel dalam pembuangan. Dalam konteks PL, pembuangan sejajar dengan Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, yaitu sebagai maut dalam artian keterpisahan dengan Allah. Kemudian, PB melihat figur hamba Tuhan itu digenapi dalam diri Yesus Kristus. Jadi, jika Yes 54 berbicara tentang pemulihan Zion, Why 21 berbicara tentang Yerusalem baru yang turun dari surga. Seruan Yes 55 menjadi seruan bagi manusia untuk bergabung dengan perjanjian Allah di dalam anak Daud, Yesus Kristus (55:3b). Tafsiran tipologis ini perlu karena janji-janji Allah kepada Israel digenapi oleh Yesus, Mesias Israel yang kita sembah sebagai Kristus itu.

Dalam ayat-ayat ini, keselamatan disampaikan dengan bahasa mengenai berkat alam. Firman Allah itu subur, berbuah sesuai dengan maksud Allah baginya. Buah alam itu yang ditawarkan gratis untuk umat-Nya dalam aa.1–2. Untuk buah itu dinikmati, orang-orang Israel harus keluar dari pembuangan, tempat yang sudah menjadi biasa bagi mereka, dan kembali ke tanah perjanjian (12a). Kembalinya mereka akan diiringi oleh sukacita alam (12b). Alam itu digambarkan sebagai dunia baru yang di dalamnya kutuk semak duri (Kej 3:17–19) diganti dengan tanaman yang mulia (13a). Semua ini akan terjadi demi kemuliaan Tuhan sendiri (13b).

Secara tipologis, perikop ini berbicara tentang berkat Tuhan sebagai keberangkatan menuju tanah perjanjian, yaitu dunia baru. Yang berangkat sudah bersukacita walaupun belum sampai karena janji tentang kepastian firman Allah itu. Selama perjalanan iman mereka, mereka mengalami penyertaan Tuhan. Perjalanan kembali dari Babel ke Israel (yang terjadi beberapa kali) menjadi gambaran dari perjalanan mengikuti Yesus yang menuju dunia baru. Berangkat dalam perjalanan itu berarti sudah mulai mengalami berkatnya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Janji (firman) Allah tentang keselamatan sudah diteguhkan di dalam Kristus dan akan bekerja sampai penggenapannya dalam dunia baru. Kita diajak untuk percaya dan melangkah dalam iman dengan sukacita, baik atas dunia baru itu, maupun atas transformasi-transformasi yang terjadi dalam diri, jemaat, dan masyarakat.

Makna

Firman Allah yang ditabur Yesus membawa berkat berlipat ganda bagi mereka yang menerimanya (Mat 13:1–9). Hidup yang ibarat semak duri/kecubung mulai menjadi seperti pohon sanobar/murad. Namun, ada juga yang berangkat dengan sukacita dalam perjalanan iman tetapi tidak bertahan sehingga berkat itu hilang. Ketika Yesus mati, Dia masuk dalam pembuangan maut, sehingga kebangkitan-Nya merupakan kembalinya Israel dari pembuangan, dan kembalinya manusia ke taman Eden, tempat hidup dan berkat. Roh Kudus dicurahkan supaya hidup itu berkuasa dalam tubuh kita (Rom 8:9–11); sambil kita menuju dunia baru, Roh Kudus adalah penggenapan janji berkat kepada Abraham (Gal 3:14).

Dalam konteks perikop ini, firman Allah yang dipercayai adalah firman mengenai keselamatan yang di dalamnya ada pembaruan. Kepercayaan itu terwujud (dan dibuktikan) dalam “berangkat dengan sukacita”, yaitu melangkah dalam iman. Bagi orang Israel, langkah iman itu jelas, yaitu bersiap-siap keluar dari Babel ketika Koresh mengizinkannya (Yes 44:28; bdk. Ezra 1), tetapi tafsiran tipologis menjadi umum. Pertanyaan untuk jemaat sekarang mungkin seperti berikut. Di mana sumber berkat yang sejati? Apakah kita percaya pada janji Allah, dan apakah kita bersukacita dalam pengharapan akan janji itu? Apakah kita mendambakan pembaruan dalam buah Roh yang membawa kemuliaan bagi Allah, atau harta dan kedudukan duniawi yang akan membawa kemuliaan bagi kita dan keluarga kita?

Dipublikasi di Yesaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mat 11:16-19, 25-30 Berguru kepada Sang Guru yang lemah lembut [9 Jul 2017]

Penggalian Teks

Setelah memberi gambaran dalam pp.4–10 tentang ajaran, sifat, dan misi Kerajaan Allah yang didatangkan Yesus, pp.11–16 menyoroti berbagai tanggapan manusia terhadap pelayanan Yesus, berpuncak dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias. Pasal 11 mulai dengan keraguan Yohanes Pembaptis (11:2–6) dan penegasan Yesus bahwa Yohanes adalah Elia yang akan mendahului kedatangan Tuhan (11:7–15). Perikop kita memuat kesimpulan dari diskusi itu (16–19), melewati pernyataan keras Yesus tentang hukuman atas kota-kota yang sudah menolak-Nya (20–24), dan kembali memuat penjelasan Yesus tentang penolakan terhadap-Nya serta ajakan-Nya untuk memikul kuk-Nya.

Aa.16–19 menyindir hikmat “angkatan ini”, frase yang merujuk kepada Israel pada zaman Yesus secara keseluruhan. Mereka menganggap diri berhikmat (seperti manusia pada umumnya), tetapi mereka sebenarnya seperti anak-anak yang hanya tahu bermain, karena belum memahami makna dari menari dan berkabung. Kerasnya Yohanes Pembaptis dan pergaulan Yesus yang bebas adalah dua segi dari hikmat Allah; angkatan ini hanya mampu melihat permukaannya, bukan perbuatan berhikmat di dalam apa yang dilakukan Yesus dan Yohanes masing-masing. Hal itu dilihat dalam kota-kota yang tidak bertobat meskipun mereka melihat banyak mukjizat.

Kemudian Yesus berdoa tentang penolakan itu, sepertinya di depan orang lain walaupun tidak disebut siapa (25). Doa ini berbicara tentang pelayanan Yesus. Penerimaan dan polakan terhadap Yesus adalah soal penyataan Allah Bapa. Dia menyembunyikan makna perbuatan Yesus dari orang yang bijak dan pandai menurut penilaian manusia, dan menyatakannya kepada “bayi-bayi” (Yunani: nepioi; LAI: “orang kecil”). Hal yang serupa muncul dalam Yes 29:14b di mana kepandaian manusia dipakai untuk memberontak terhadap Tuhan. Dalam a.26, pola itu terjadi atas perkenan Allah Bapa. Dalam a.27a, kita melihat bahwa wewenang itu terwujud dalam Yesus sebagai Anak Allah. Hal itu terjadi karena pengenalan akan Allah Bapa dan Anak adalah milik Anak dan Bapa saja (27bc). Pada saat Yesus berdoa, Allah belum menyatakan identitas Yesus itu kepada siapapun (a.27b; hal itu baru terjadi kemudian pada pengakuan Petrus, 16:16–17). Tetapi Yesus sudah mulai menyatakan Allah Bapa kepada orang-orang kecil yang menerima Yesus itu (27cd).

Namun, Yesus telah membedakan para pendengar-Nya dari angkatan ini yang disebut “mereka”, bukan “kamu”. Ajakan Yesus mewujudkan penyataan Allah di dalam Yesus, dan hal itu ditawarkan kepada semua yang mendengar Yesus. Inti dari penawaran Yesus ialah kelegaan. “Memberi kelegaan” dan “ketenangan” memakai kata dasar (anapau-) yang sering dipakai dalam PL bahasa Yunani untuk hari Sabat sebagai hari perhentian (misalnya, Kel 16:23; 23:12), dan sebuah kata dasar yang mirip, katapau-, dipakai untuk taman Eden, tanah Israel, dan dunia mendatang dalam Ibr 4:1–10. Yesus menawarkan kondisi jiwa yang mulai menikmati kebahagiaan kekal.

Kelegaan itu dialami dengan menjadi murid Yesus (29a). Kuk itu enak karena tepat untuk setiap murid, dan tidak terlalu berat. Sifat kuk itu mungkin mengejutkan, karena jalan yang di dalamnya para murid mengikuti Yesus adalah jalan salib yang ditempuh Yesus. Sifat itu muncul karena Yesus Sang Guru itu lemah lembut dan rendah hati. Klaim itu mungkin mengejutkan karena Dia baru saja mengklaim sebagai Anak Allah. Tetapi kerendahan hati bukan soal berpura-pura rendah, tetapi kemampuan untuk sungguh memperhatikan sesama karena tidak asyik dengan diri sendiri. Orang Farisi membebani orang-orang yang mengikuti nasihat mereka karena adanya pengikut itu hanyalah alat untuk status mereka (Mat 23:4–6). Oleh karena itu, mereka sudah lupa akan belas kasihan, sebagaimana dilihat dalam kedua cerita selanjutnya yang juga membahas hari Sabat (12:8). Sebaliknya, Yesus lemah lembut dalam hal bersabar dengan kelemahan dan kelambanan murid-murid-Nya, sebagaimana akan dilihat dalam interaksi-Nya dengan murid-murid-Nya selanjutnya. Kuk-Nya tepat karena menawarkan pengenalan akan Allah yang untuknya manusia diciptakan. Adanya pengampunan dari Allah berarti bahwa jalan itu ditempuh bukan dalam kegelisahan tetapi dalam pengharapan yang pasti yang membuat ringan.

Kelemahlembutan Yesus tidak berlaku bagi orang yang menolak-Nya, yang menentang semua wujud hikmat Allah. Sifat itu juga tidak berarti bahwa murid-murid-Nya selalu luput dari teguran yang keras. Tetapi bagi yang mengikuti Yesus, jalan-Nya enak dan ringan. Injil Matius sepertinya ditulis sebagai rangkuman hikmat Yesus dalam ajaran, tindakan, dan karya-Nya, supaya bangsa-bangsa juga dapat belajar untuk melakukan segala sesuatu yang diajarkan Yesus (29:19).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus, Guru yang paling layak memperkenalkan Allah, menawarkan jalan sebagai murid yang paling cocok untuk kita. Kita dituntun untuk melihat hikmat Allah di dalam perbuatan dan jalan Yesus, untuk rindu akan pengenalan akan Allah, dan untuk berguru kepada-Nya dengan mengandalkan hikmat-Nya sebagai Anak Allah.

Makna

Manusia cenderung menganggap diri “berhikmatlah”, tidak bodoh walaupun diakui bahwa ada yang lebih pintar. Tetapi di mana saja kita melihat manusia mengambil jalan-jalan yang dilarang Allah, sering juga dengan alasan yang konyol seperti “begitulah dunia riil”, “jangan fanatik”, dsb. Hikmat Allah tidak dibenarkan oleh manusia, sebaliknya kita semestinya melihat apa yang dilakukan oleh utusan-utusan Allah, terutama Yesus, dan mengakui hikmat Allah di situ.

Sayangnya, sikap sok tahu manusia berlaku juga dalam hal mengenal Allah. Karena ada beberapa hal yang pernah ditangkap dari khotbah atau sering dikatakan orang (di sinetron, sosmed, dsb.), kita menganggap bahwa kita tahulah. Tetapi hanya Yesuslah yang mengenal Allah Bapa yang menyatakan-Nya kepada manusia.

Memikul kuk Yesus semestinya mewarnai seluruh kehidupan bergereja. Jemaat adalah tempat belajar, tetapi dengan suasana yang berbeda dengan sekolah yang menjadi tempat perebutan prestasi dan ancaman DO. Yesus mengajar setiap murid sesuai dengan keberadaannya, dan dengan beban sesuai dengan kemampuannya. Kita diajak untuk mempercayakan diri kepada Yesus sebagai Guru dalam proses pembelajaran itu. Membaca firman Allah menjadi satu aspek di dalamnya, dan menerapkan hikmat Allah menjadi pelengkapnya.

Tentunya adalah konyol jika para gembala di jemaat lebih kasar dan lebih tinggi hati daripada Gembala Agung mereka (1 Pet 5:2–4).

Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar