Ibr 10:5-10 Maksud tetap Kristus untuk menguduskan [23 Des 2018] (Minggu Adven IV)

Penggalian Teks

Kitab Ibrani mau meyakinkan pembaca bahwa keselamatan di dalam Kristus dengan tuntas menyelesaikan masalah dosa dan membawa kita kepada Allah secara sempurna. Dalam PL, Allah telah menyediakan sistem kurban dan imamat Lewi supaya Israel dapat mendekati Allah. Jadi, penulis menjelaskan bagaimana Kristus menggenapi dan melampaui sistem itu. Kristus adalah Imam Besar dalam imamat menurut Melkisedek (p.7) di Kemah Suci yang surgawi (8:1-6) dengan dasar hukum dari perjanjian yang baru (8:7-13). Darah Kristus menyucikan manusia dalam batin (9:13-14), mengadakan perjanjian yang baru itu (9:15-23), dan sekalian menyelesaikan masalah dosa di hadapan Allah (9:24-26) sehingga akhirat menjadi titik pengharapan bukan ketakutan (9:27-28). Dalam 10:1-4, penulis menguraikan perbandingan yang sudah beberapa kali disebutkan, antara kurban binatang yang diadakan terus-menerus, dan kurban Kristus yang sekali untuk selama-lamanya. Adanya pengulangan menunjukkan bahwa ritus itu dapat mengangkat kesadaran tentang dosa, tetapi tidak mampu menghapusnya.

Mulai 10:5, penulis menyoroti peran Yesus sebagai Raja. Sama seperti Melkisedek (7:2) dan nubuat dalam Mazmur 110, Dia adalah sekalian Raja dan Imam Besar. Penulis mengutip dari Mazmur 40 yang merupakan doa Daud sebagai raja Israel supaya umat Allah diselamatkan seperti pada masa lampau. Mzm 40:7-9 menyampaikan kesadaran raja bahwa tugas pokoknya bukan mempersembahkan kurban melainkan hidup sesuai dengan firman Tuhan (mungkin firman tentang raja dalam Ul 17:14-20). Karena menyangkut Daud, nas ini dengan mudah dibaca sebagai nubuatan tentang Kristus. Karena ada terjemahan LXX (bahasa Yunani) yang mengganti frase “membuka telinga” dengan “menyediakan tubuh”, penulis melihat di dalam nas ini suatu pernyataan tentang maksud kedatangan Kristus ke dalam dunia (5). Peminggiran kurban sebagai tugas pokok oleh Daud digenapi dalam penghapusan sistem kurban oleh Kristus (9).

Jadi, dalam a.10 penulis Ibrani mengangkat tiga kata dari nas itu, “kehendak”, “persembahan”, dan “tubuh”. Kata “kehendak” merujuk pada kehendak Allah yang diemban oleh raja Daud kemudian oleh Kristus. Kata “persembahan” merujuk pada kurban-kurban yang digenapi di dalam persembahan Kristus sehingga tidak dibutuhkan lagi. Kata “tubuh” (diambil dari terjemahan LXX) merujuk pada tubuh raja, yang secara kejutan dalam diri Kristus menjadi kurban final itu. Hasil dari persembahan tubuh Kristus adalah pengudusan satu kali untuk selama-lamanya. Karena terjadi sekali saja, pengudusan di sini merujuk pada status sebagai milik Allah yang mendahului perubahan karakter yang menjadi buahnya. Persembahan diri oleh Yesus adalah cara Dia sebagai Raja menyelamatkan umat-Nya, seperti diperjelas dalam 10:11-14.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Karya keselamatan Sang Raja adalah meraih kekudusan yang tuntas bagi umat-Nya. Hal itu membuat mubasir semua usaha yang lain untuk mencari berkat sebagai kondisi hidup kita.

Makna

Jika apa yang diimani itu rapuh, iman terhadapnya tidak berguna, sekalipun iman kita penuh semangat. Ada yang bergantung pada KKR untuk membawa mereka sejenak kepada Allah; ada yang bergantung pada bentuk ibadah tertentu (entah musik yang keras atau keheningan) untuk merasa dekat dengan Allah; ada yang mengandalkan usaha untuk hidup baik. Perikop ini membawa kita bukan kepada usaha manusia melainkan kepada niat tetap Kristus yang datang untuk menyelamatkan kita sesuai dengan rencana Allah dan telah menuntaskan masalah dosa dalam persembahan diri-Nya pada salib. Kehendak manusia selalu rapuh dan labil; kehendak Kristus adalah sesuatu yang layak kita andalkan.

Dengan dikaruniai status sebagai orang-orang kudus, kita yakin bahwa kita ada pada ranah berkat dan kehidupan, bukan ranah kutuk dan kematian. Keyakinan itu akan mengungguli keyakinan lama. Sekalipun kita lahir cacat atau miskin, kita sakit-sakitan atau mandul, ketika mengalami bencana atau penghinaan, kita percaya bahwa di dalam Kristus kita berdiri kudus di hadapan Allah sehingga berkat Allah tetap mengalir: terutama kita tetap boleh mendekati-Nya dengan penuh keyakinan (10:19-22). Pergumulan yang diizinkan Allah untuk mendewasakan kita (Ibr 12:5-11) tidak membuat kita meragukan niat-Nya ataupun kuasa-Nya untuk menyelamatkan kita.

Iklan
Dipublikasi di Ibrani | Tag , | Meninggalkan komentar

Fil 1:3-11 Karya Allah di dalam jemaat [9 Des 2018] (Minggu Adven II)

Penggalian Teks

Paulus menulis surat ini kepada “semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi”, yaitu kumpulan orang di Filipi yang dijadikan milik Allah yang Kudus karena percaya kepada Kristus. Pemicu surat ini muncul di bagian akhir surat di mana Paulus menanggapi pemberian yang mereka sampaikan melalui Epafroditus (3:25) untuk mendukung misi Paulus (4:10-20). Meskipun Paulus adalah penerima uang dari mereka, dia menulis sebagai hamba Kristus kepada jemaat yang menjadi milik Allah oleh iman kepada Kristus.

Seperti biasa dalam surat-suratnya, Paulus mulai dengan ucapan syukur. Dia sering mengingat mereka dalam doa, dan ingatan itu selalu membawa syukur dan sukacita (3-4). Yang terutama disyukuri adalah Injil yang mengikat Paulus dengan jemaat. Sebelum Paulus datang ke Filipi tidak ada jemaat sama sekali. Tetapi pada saat itu Allah bertindak sehingga ada yang menjadi percaya, mulai bertumbuh dalam iman, tetap percaya walaupun mendapat tantangan, dan berminat terus untuk mendukung misi Allah yang dilakukan oleh Paulus (5-6). Paulus seakan-akan membenarkan syukur itu dengan menyebutkan bantuan mereka dalam apa yang sudah dia lalui, yaitu penjara dan pengadilan (7). Hal itu menyatakan kerinduan yang berasal dari Kristus yang ada di antara mereka (7-8).

Kemudian, Paulus melaporkan apa yang dia doakan untuk mereka. Yang menjadi pokok dalam doanya ialah kasih mereka (9). Kasih yang semestinya berakar dalam “pengetahuan yang benar” (epignōsis) dan “pengertian” (aisthēsis). Epignōsis merujuk pada pengetahuan yang dalam atau lengkap. Aisthēsis dapat dipakai untuk persepsi melalui indera atau dengan akal, dan bersifat jamak (“segala macam”). Kedua hal itu sudah mereka tunjukkan, karena Paulus berdoa supaya kasih mereka “makin melimpah” di dalamnya. Jadi, semestinya kita memahmai pengetahuan yang dimaksud sebagai pengetahuan akan Injil yang sudah disyukuri Paulus, dan pengertian itu sebagai kejelian mereka terhadap situasi Paulus sehingga mereka memberikan bantuan yang tepat. Kasih mereka itu praktis dan teologis, dan dia berdoa supaya kasih itu bertambah demikian.

Hasil dari kasih yang demikian ialah pilihan yang baik (10a), dan tujuannya ialah diri jemaat yang tanpa noda dalam motivasi (“suci”) dan tindakan (“tak bercacat”) ketika Kristus datang kembali (10b). Lalu Paulus menegaskan bahwa perubahan itu adalah karya Allah yang dihasilkan melalui Kristus sehingga Allah yang dimuliakan (11). Mengingat a.6, Paulus berdoa demikian karena dia tahu bahwa itulah rencana eskatologis Allah untuk jemaat.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah menghasilkan kasih di dalam jemaat melalui dan demi Kristus. Itulah yang layak kita syukuri, yang semestinya mewarnai relasi kita dengan sesama orang percaya, dan yang patut menjadi pokok doa syafaat kita.

Makna

Kisah yang mendasari syukur dan doa Paulus adalah kisah Injil sebagai berita tentang Kristus yang mewujudkan jemaat ketika disampaikan, lalu membentuk jemaat dalam kasih sampai jemaat menjadi indah ketika Kristus datang kembali. Mengingat bahwa jemaat di Filipi merupakan kelompok manusia yang pasti sedang mengalami banyak suka duka yang biasa, adalah menarik bahwa yang pokok bagi Paulus ialah peran Injil bagi mereka. Kehangatan yang ada di antara mereka adalah hal yang manusiawi, tetapi menjadi sangat berharga karena Injil menjadi dasarnya. Kasih yang sudah muncul dalam jemaat membawa kemuliaan bagi Allah karena merupakan buah dari berita tentang Kristus dan karya Kristus di dalam mereka. Di dalam Kristus Paulus menemukan semua yang paling baik tentang Allah dan tentang manusia, sehingga buah kebenaran yang dikerjakan Kristus di dalam manusia menjadi hal yang sangat indah baginya; layak disyukuri, dan layak didoakan.

Syukur dan sukacita itu tidak bergantung pada keberadaan manusia: Paulus di penjara dan jemaat Filipi juga menghadapi perlawanan. Namun, kasih yang menjadi pokok buah kebenaran tidak lepas dari kejelian, dari kemampuan untuk melihat dan menanggapi kondisi riil orang. Ketika Kristus mulai dikenal dengan benar, pelayanan gerejawi akan melayani manusia, bukan melayani program. Khotbah akan mendarat karena pelayan firman mendengarkan pergumulan jemaat dan tidak hanya membaca pedoman (atau blog). Diakonia akan mengenai kebutuhan karena diaken melihat lapangan dan tidak hanya berpedoman pada daftar nama.

Pada saat yang sama, kasih yang jeli itu akan memberi respons berdasarkan Injil. Jika Kristus adalah yang paling baik, dan kita dapat mengenal-Nya melalui berita Injil, hal itu akan berpengaruh pada penekanan dalam khotbah dan tujuan dalam diakonia. Hal itu akan juga membawa kita untuk mendukung pelayanan penginjilan, seperti yang dilakukan jemaat di Fililipi untuk Paulus. Kasih yang pokok itu bukan kasih ala pikiran dan perasaan kita, melainkan kasih yang didasarkan dan dibentuk oleh Injil. Makanya, tugas kita adalah mengenal Kristus dalam Injil dan melihat sesama dengan jeli; Kristuslah yang membuahkan kasih di dalam jemaat.

Dipublikasi di Filipi | Tag , , | Meninggalkan komentar

1 Tes 3:9-13 Kudus dalam kasih di hadapan Allah [2 Des 2018] (Adven 1)

Penggalian Teks

Dalam paruh pertama surat ini, Paulus mengingatkan jemaat di Tesalonika tentang apa yang sudah terjadi di antara mereka, sambil menguatkan dan menasihati mereka di tengah tekanan yang mereka alami. Tentu, ketika dia datang tidak ada jemaat sama sekali, tetapi dia dan Silas (dan mungkin Timotius) memberitakan Injil sehingga ada yang percaya oleh kuasa Roh (p.1; bdk. Kis 17:1-4 yang tidak menyebutkan Timotius). Jemaat yang baru itu diasuh sebagai anak-anak dalam iman (2:1-12) sehingga teguh di tengah penganiayaan (2:13-16). Tetapi Paulus dan kawan-kawannya diusir dari Tesalonika dan tidak mendapat kesempatan kembali (2:17-20; bdk. Kis 17:5-10a), sampai Timotius dikirim kembali kepada mereka (3:1-5; bdk. Kis 17:14-16). Hal itu semua sudah mereka ketahui, tetapi Paulus berlanjut dengan reaksinya yang gembira ketika Timotius kembali dengan kabar baik tentang keadaan mereka (3:6-7; menurut Kis 18:5 Paulus sudah di Korintus). Perikop kita mengakhiri paruh pertama ini dengan syukur dan doa Paulus bagi mereka.

Paulus telah mengaku menyayangi mereka seperti ibu (2:7) dan bapa (2:11) kepada anak-anaknya. Mereka sudah dewasa secara jasmani, tetapi dalam iman kepada Kristus yang membawa kepada keselamatan di hadapan Allah, mereka masih muda dan rentan (2:17; 3:5). Makanya, berita Timotius bahwa mereka tetap kuat dalam iman membawa kelegaan besar (3:8). Sebelum berita itu datang, dia tetap bersyukur kepada Allah atas sambutan mereka yang baik terhadap Injil dan pembawa berita Injil (1:3-6; 2:13). Tetapi syukur itu ditambah dengan syukur atas berita baru yang membawa sukacita yang besar bagi Paulus (9). Sambil bersyukur, dia berdoa supaya berjumpa kembali (10). Kembali, kita melihat bahwa yang pokok baginya sebagai orangtua rohani adalah iman mereka.

Sebagai hal terakhir (sebelum beralih ke nasihat dalam pp.4-5), dia menyampaikan isi doanya. Doa itu ditujukan kepada Allah yang dikenal sebagai Bapa (yang mengasihi dan mendewasakan) dan juga di dalam Yesus sebagai Tuhan (yang memerintah dan memimpin). Paulus tidak membedakan kedua oknum ilahi dalam rangka permohonan pertamanya, yaitu untuk berjumpa kembali dengan jemaat (11). Tetapi kemudian dia melihat karya Tuhan Yesus dalam mempersiapkan jemaat untuk berhadapan dengan Allah Bapa (12-13). Hal utama yang dikerjakan Yesus di dalam jemaat ialah kasih, kasih kepada sesama jemaat dan kasih yang menjangkau semua. Modelnya adalah Paulus sendiri yang mengasihi mereka sebelum mereka percaya dengan membawa Injil, dan mengasihi mereka sebagai sesama orang percaya dengan membangun iman mereka. Tujuannya supaya hati mereka menjadi “tak bercacat dan kudus”. Bahasa itu adalah bahasa tentang persembahan yang layak di hadapan Allah. Yesus akan datang kembali dan menghadapkan jemaat kepada Allah sebagai hasil karya-Nya. Karya ini yang menjadi landasan untuk berbagai nasihat Paulus selanjutnya. Dalam nasihat itu, soal kekudusan dan kecemaran dibahas dalam rangka pernikahan dan percabulan (4:3-8). Tetapi hal itu langsung diikuti dengan himbauan untuk saling mengasihi (4:9-12).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Tuhan Yesus sedang mempersiapkan keluarga Allah yang kudus dalam kasih untuk dipersembahkan kepada Allah ketika Dia datang kembali. Kita semestinya meneladani Paulus dalam kerinduannya untuk bersekutu dan berdoa demi rencana Allah itu.

Makna

Kasih sayang Paulus adalah perasaan yang jasmani. Kegelisahan, kegembiraan, kerinduan untuk berjumpa, dsb., dialami di dalam daging Paulus secara biasa, sejenis dengan pengalaman banyak orangtua dan orang-orang yang lain. Tetapi kasih sayang itu sekaligus rohani karena motivasinya berakar dalam Injil. Paulus jadi mengasihi kelompok orang yang berbeda keluarga, tempat, dan suku karena Injil. Kemudian, kebaikan utama yang dicari dalam rangka kasih itu adalah keselamatan karena iman kepada Yesus. Di dalam Paulus kita melihat kasih kepada sesama yang teosentris, karena muncul dari kebersamaan dalam keluarga Allah.

Sikap itu berakar dalam karya Tritunggal. Allah Bapa yang memberi Yesus misi untuk mempersiapkan jemaat sampai Dia datang kembali, dan Roh Kudus diandaikan sebagai kuasa yang melalui-Nya Yesus menunaikan misi itu (bdk. 1:5-6; 4:8; 5:19). Makanya Paulus banyak berbicara tentang Allah sambil menceritakan riwayat relasianya bersama dengan jemaat. Kekudusan dan kasih jemaat adalah bagian dari kisah ilahi yang melampaui kepentingan kita. Jemaat yang belum menangkap hal itu tidak mungkin menjadi dewasa dalam iman. Dalam Luk 21:34-38 Yesus juga membahas kedatangan-Nya kembali sebagai kebenaran yang membangkitkan kita dari berbagai bius rohani (“pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi”).

Kadang orang mempertentangkan kasih yang mencari kebaikan sesama dengan kekudusan yang menjaga hal-hal yang sakral bagi Allah. Dan memang, para Farisi menjadi simbol cara beragama yang menjaga kekudusan dengan cara yang tidak lagi mengenal belas kasihan. Tetapi kekudusan yang dibahas Paulus mendukung kasih. Berselingkuh dan pergaulan bebas jelas menyakiti sesama. Dalam pelacuran dan pornografi, orang yang dibayar atau ditonton menjadi objek nafsu berahi dan bukan mitra dalam cinta, dan orang yang membayar atau menonton melatih diri untuk memandang semua perempuan sebagai objek nafsu berahi. Melihat jenis postingan tertentu yang muncul bahkan di sosmed gerejawi dan yang dianggap lucu saja oleh sebagian laki-laki, ini masalah aktual. Untuk keluar dari jerat itu, kita perlu menangkap rencana Allah akan jemaat yang kudus. Tetapi sama pentingnya bahwa kita mengalami kasih persaudaraan yang hangat. Itulah yang akan menguatkan hati untuk meninggalkan kecemaran dan hidup kudus.

Dipublikasi di 1 Tesalonika | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Why 1:4-8 Identitas di dalam Kristus [25 Nov 2018] (Akhir Tahun Gerejawi)

Penggalian Teks

Kitab Wahyu mulai dengan pendahuluan yang menjelaskan bahwa isinya merupakan wahyu yang berasal dari Allah Bapa dan diberikan kepada Yesus Kristus untuk diteruskan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu gereja (1:1-3). Kemudian ada salam dari Yohanes kepada ketujuh jemaat di Asia Kecil (aa.4-8). Tujuh adalah angka kegenapan sehingga kita memahami bahwa ketujuh jemaat itu mewakili gereja secara keseluruhan. Kemudian, sesuai dengan kata-kata pertama, “wahyu Yesus Kristus”, penglihatan pertama yang diceritakan Yohanes adalah tentang Kristus yang mengutus Yohanes (1:9-20) lalu menyampaikan pesan masing-masing kepada ketujuh jemaat itu (pp.2-3). Jadi, dari satu segi kitab ini adalah surat untuk mempersiapkan jemaat-jemaat pada zaman Yohanes untuk penganiayaan yang akan segera terjadi. Tetapi pesan itu juga berlaku untuk gereja sepanjang abad, sampai Kristus datang kembali dan dunia baru didirikan.

Seperti biasa, salam berisi petunjuk tentang penulis (“Dari Yohanes”), penerima (“ketujuh jemaat yang di Asia Kecil”), dan ucapan berkat. Dalam surat-surat PB, ucapan berkat itu memohonkan kasih karunia dari Allah. Yohanes menyebutkan kasih karunia dan damai sejahtera, lalu menguraikan Allah secara Tritunggal (4b-5a). Allah (Bapa) disebut sebagai yang mencakup masa sekarang, masa lampau, dan masa depan. Hal itu cocok karena kitab Wahyu mau supaya pendengarnya mengandalkan Allah sekarang berdasarkan karya Allah masa lampau (hal itu muncul dalam banyaknya kutipan dari PL), dan dalam pengharapan akan apa yang akan datang (yang diberitahukan kitab ini). Kemudian, “ketujuh roh” di depan takhta Allah sepertinya merujuk pada Roh Kudus yang hadir dan berkata kepada ketujuh jemaat (2:7, 11, 17; 3:1, 6, 13, 22) yang mewakili segenap gereja. Kemudian, Yesus Kristus menjadi oknum ketiga yang tergolong dengan Allah, tetapi yang juga menjadi perintis jalan bagi kita sebagai manusia (5a). Dia setia dalam bersaksi (imbauan utama kitab ini); Dia merintis kebangkitan yang membuat mati syahid masuk akal; dan Dia berkuasa atas semua penguasa di bumi. Gambaran itu beralih menjadi pujian akan kasih Kristus. Kristus bangkit karena sebelumnya Dia mati bagi dosa kita (5b). Dengan demikian, kita dijadikan bagian dari Kerajaan Allah dan dari imamat yang melayani Allah, seperti Israel dalam Kel 19:5-6. Makanya, Kristus layak kita puji sebagai yang paling mulia dan berkuasa.

Kemudian, Yohanes meringkas kisah seluruh kitab ini dengan mengutip dari Dan 7:13 dan Zak 12:10. Dan 7:13-14 berbicara tentang Anak Manusia yang menerima kuasa dan pemerintahan di hadapan Allah sebagai wakil umat Allah (Dan 7:18). Zak 12:10 berbicara tentang penyesalan Israel atas orang yang mereka tikam. Sepertinya Yohanes memperluas rujukannya untuk mencakup semua bangsa yang terlibat (melalui orang Romawi) dalam penyaliban Yesus. Kedua aspek ini menjadi penting dalam kitab ini: Kristus yang mulia adalah Anak Domba yang disembelih. Nasib manusia juga akan terbalik: mereka yang setia akan menderita sekarang lalu dimuliakan, dan sebaliknya.

Penggenapan kisah itu ditopang oleh pernyataan Allah sendiri, bahwa Dia adalah awal (Alfa adalah huruf pertama dalam abjad Yunani) dan akhir (Omega adalah huruf terakhir) dari segala sesuatu, yang berkuasa sepenuhnya atas seluruh sejarah manusia (8). Ucapan sebagai Alpha dan Omega diulang berkaitan dengan penjadian dunia baru (21:6), dan diambil oleh Yesus dalam penutup kitab (22:13).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dasar iman yang akan bertahan adalah Kristus, saksi yang setia, Juruselamat, dan Anak Allah yang Mahakuasa. Dengan memandang kepada-Nya dan mendapatkan identitas di dalam-Nya, jemaat akan tetap setia dalam tekanan dan penganiayaan.

Makna

A.6 menawarkan identitas di dalam Kristus yang dihayati dengan menangkap betapa kemuliaan dan kuasa Kristus melampaui semua penguasa duniawi. Tentu, kuasa Kristus berakar dalam kemahakuasaan Allah, tetapi kemuliaan-Nya terwujud dalam karya keselamatan yang terwujud melalui kehidupan dan kematian yang bersaksi tentang kasih Allah. Kita bertahan karena kita telah menjadi bagian dari Kerajaan Allah yang mengagumkan kemuliaan yang demikian, yang mau beribadah kepada Anak Domba yang disembelih (p.5). Kuasa kaisar atau pemerintah atau penguasa agama yang memasang citra yang hebat dan gemilang tidak lagi menarik ketimbang Kristus yang berkeliling di Galilea dan menuju Yerusalem untuk mati bagi umat-Nya. Tentu, kuasa Allah juga lebih hebat dari kuasa duniawi, tetapi Kristus menyatakan bahwa kuasa itu adalah kuasa yang mengasihi dan yang menyelamatkan.

Visi itu yang pudar atau kabur dalam beberapa jemaat yang ditegur Yesus dalam pp.2-3. Gereja yang sibuk memperebutkan posisi dan perhatian tidak siap menghadapi tekanan yang akan datang.

Dipublikasi di Wahyu | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mrk 13:1-13 Hidup bagi Kristus dalam zaman sekarang [18 Nov 2018]

Penggalian Teks

Markus 13 menjadi sela antara perdebatan yang terjadi selama Yesus berkuasa di Bait Allah (pp.11-12) dan cerita tentang penangkapan dan penyaliban Yesus (pp.14-15). Dengan demikian, riwayat Yesus ditempatkan dalam kisah Alkitab yang lebih luas, terutama bahan apokaliptik seperti Dan 7-12 yang menyingkapkan kedatangan Kerajaan Allah bagi seluruh dunia. Dan 12:1-3 meringkas alurnya: setelah pergumulan orang-orang yang setia (Dan 11), sejarah dunia akan berpuncak pada kesesakan yang besar, lalu kebangkitan akan membawa keselamatan kekal bagi sebagian orang, dan kehinaan kekal bagi yang lain. Konsep kebangkitan ini mejawab pertanyaan bagaimana orang yang mati dalam kesetiaan kepada Allah (lihat Dan 11:32-35) mendapat bagian dalam Kerajaan Allah, dan orang Yahudi pada zaman Yesus (kecuali aliran Saduki) melihat di dalamnya cara Allah akan menegakkan keadilan bagi semua manusia secara eskatologis. Dalam Markus 13 ini, Yesus menggambarkan pergumulan orang setia (aa.5-13), lalu kesesakan yang besar (14-23) yang bermuara pada kedatangan Anak Manusia (aa.24-26 yang mirip dengan Dan 7:13-14) yang mengutus malaikat-malaikat untuk mengumpulkan manusia. Semua itu menjadi alasan untuk berjaga-jaga (13:27-37).

Apa yang dirujuk di sini? Ada tiga lapisan yang muncul dalam pasal ini yang saling berkaitan; tiga tahap yang melaluinya Yesus menggenapi pengharapan apokaliptik itu menuju zaman baru. Lapisan pertama adalah pelayanan Yesus sendiri. Dia mengumumkan kedatangan Kerajaan Allah, sesuatu yang akan mulai dengan kebangkitan-Nya sebagai buah sulung dari kebangkitan yang dijanjikan dalam Dan 12 itu. Dengan demikian, Dia sendiri melalui pergumulan orang setia ketika ditangkap, dan menanggung kesesakan dunia atas diri-Nya dalam kematian-Nya. Kemudian, Dia dibangkitkan sebagai orang yang setia, dan sebagai Anak Manusia Dia naik ke surga untuk menerima Kerajaan dan mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil ke pelosok dunia.

Lapisan kedua muncul dalam 13:1-4. Para pemimpin Israel telah menolak Yesus sebagai utusan Allah sehingga Kerajaan akan diberikan kepada kelompok yang lain (Mrk 12:9). Ketika murid-murid Yesus mengagumkan Bait Allah, Yesus memberitahu mereka bahwa pusat ibadah Israel itu pun akan turut dihancurkan (13:1-2). Bagi murid-murid Yesus, peristiwa seperti itu bersifat apokaliptik, yaitu menandakan kesesakan besar dan akhir zaman, sehingga mereka penasaran mengetahui maksud Yesus (3-4). Kita tahu bahwa Bait Allah memang dihancurkan oleh kekaisaran Romawi pada 70 M, dan peristiwa itu membuktikan bahwa Kerajaan Allah sudah diberikan kepada Yesus yang ditolak pimpinan Yahudi. Ibr 10:19-25 menunjukkan bagaiman sekarang kita menghadap Allah tanpa adanya gedung fisik.

Lapisan ketiga adalah akhir zaman yang sudah tersirat dalam kehancuran Bait Allah, tetapi ternyata masih kita nantikan. Dengan demikian, aa.5-13 memberi kita gambaran tentang menjadi murid Yesus dalam dunia yang terancam oleh-Nya, mulai dengan Yesus sendiri (yang setia) dan murid-murid-Nya (yang gagal setia), jemaat perdana di Yerusalem dan tanah Israel sampai Bait Allah dihancurkan, dan gereja sepanjang zaman yang sewaktu-waktu ditekan oleh penguasa dan raja.

Jadi, yang disampaikan Yesus bukan jadwal akhir zaman melainkan peringatan. Peringatan termasuk bahaya Mesias palsu (5-6), adanya gejolak alam dan politik terus-menerus (7-8), penganiayaan dalam rangka memberitakan Injil (9-10), dan pengkhianatan bahkan dari keluarga sendiri (12-13a). Maksud dari berbagai peringatan ini ialah supaya mereka tidak gelisah (7, 11) tetapi bertahan sampai kesudahannya (13b). Dia mengingatkan mereka tentang tugas untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah (10), dan juga tentang kuasa Roh Kudus (11). Yesus menggenapi nubuat tentang akhir zaman secara bertahap-tahap. Tugas kita adalah menjadi murid-murid-Nya di tengah gejolak alam, politik, dan sosial, dalam keyakinan bahwa dengan demikian kita berbagi dalam kebangkitan yang Dia rintis.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Hidup bagi Kristus dalam dunia yang melawan Allah akan penuh tantangan. Kita disuruh untuk memberitakan Injil oleh kuasa Roh dalam keyakinan akan keselamatan di dalam Kristus.

Makna

Mesias palsu biasanya berhasil menipu orang karena menawarkan solusi cepat terhadap kegelisahan yang muncul. Kegelisahan itu muncul karena kita berpikir bahwa dunia zaman ini semestinya aman, dan selalu diguncangkan ketika ternyata tidak. Kita berharap bahwa menjadi orang baik akan membuat kita terhormat dan disukai, dan kaget ketika dianggap ancaman oleh agama (9a), pemerintah (9b), bahkan oleh keluarga sendiri (12). Tentu, kegelisahan harus dilawan oleh keberanian, tetapi atas dasar apa? Itulah pentingnya uraian Yesus ini, yang memperingati kita bahwa pengharapan kita adalah zaman baru, dan zaman sekarang akan penuh gejolak terus. Dengan kata-kata, kita mengaku Kristus di depan dunia dan mengambil segala kesempatan untuk memberi kesaksian ketika pengakuan itu dipertanyakan.

Perspektif ini dapat bermuara pada pesimisme yang tidak melihat gunanya berbuat baik (ingat hukum kedua dalam 11:31) kecuali untuk memberitakan Injil. Tetapi pikiran itu terlalu kaku. Kekaisaran Romawi membawa banyak hal yang baik, tetapi tidak pernah lepas dari kekerasan dan berbagai bentuk penindasan. Dunia sekarang sama. Di Indonesia yang menghargai pluralitas agama tetap ada penganiayaan sewaktu-waktu terhadap orang percaya; di kantong-katong yang mengaku kristen; orang yang melawan korupsi lebih sulit berhasil secara duniawi; di gereja-gereja mapan, gerakan pembaruan yang mengancam zona nyamannya dapat ditolak dan ditekan. Ajaran Yesus ini memberi kita kerangka untuk memahami konsep mengumpulkan harta di surga: kita berbuat baik untuk Kerajaan Allah, sekalipun tidak dilihat gunanya secara duniawi.

Dipublikasi di Markus | Tag , | 2 Komentar

Rut 3:1-5; 4:13-17 Pemulihan oleh Penebus [11 Nov 2018]

Penggalian Teks

Kitab Rut menceritakan pemulihan nasib Naomi yang menantunya Rut melahirkan kakeknya Raja Daud. Pasal 1 menceritakan perginya Naomi penuh dengan suami dan dua anak, dan pulangnya dalam keadaan “kosong” dengan hanya disertai menantunya orang asing. Pemulihan itu mulai digerakkan dalam 2:1 yang menyebutkan Boas, orang kaya dari pihak suami Naomi. Pasal 2 memperkenalkan Boas sebagai orang yang saleh dan yang menghargai kesetiaan Rut kepada mertuanya. Di dalamnya kita melihat rentannya perempuan (misalnya, 2:9, 22) dan integritasnya Boas soal itu. Boas mengerti bahwa dengan mengikuti Naomi ke tanah Israel, Rut sudah memilih untuk berlindung kepada Tuhan, dan dia sendiri menjadi bagian dari perlindungan itu. Naomi memuji Tuhan atas perkembangan ini, dan mulai percaya kembali bahwa Tuhan akan setia kepadanya (2:20). Khususnya, dia menyebut bahwa Boas termasuk goel (penebus), seorang keluarga dekat yang diberi tugas untuk membantu keluarga yang jatuh miskin (Im 25:25). Skenario yang diandaikan dalam 4:1-10 ialah bahwa Elimelekh pernah menjual hak panen ladangnya kepada pihak di luar keluarganya (makanya Naomi dan Rut melarat). Jadi, ada dua aspek di mana seorang goel dapat membantu: menebus ladang itu dari pihak ketiga itu supaya Naomi dapat memanfaatkannya (Im 25:14-16), dan menikahi Rut supaya ada keturunan dari suami yang meninggal. Aspek kedua itu mirip dengan kewajiban saudara almarhum untuk menikahi janda dalam Ul 25:5-10, tetapi karena Boas dan keluarga yang lebih dekat itu bukan saudara langsung, yang berlaku bukan kewajiban hukum melainkan kesempatan untuk menunaikan fungsi yang sama.

Ketika panen (yang menjadi pencarian hidup Rut) sudah selesai, Naomi mengambil inisiatif. Kita hanya dapat menduga-duga mengapa dia menyuruh Rut pada rencana yang akan berani dan rentan (3:1-5). Dalam budaya patriarkhal zaman itu, ayah dalam keluarga yang bertanggung jawab atas pernikahan anak-anaknya. Hal itu bisa saja atas permintaan anaknya, dan jelas Boas berkenan atas Rut. Tetapi mungkin saja ayah Boas sudah meninggal: Boas sendiri tidak muda (3:10) dan dia bertindak sebagai penguasa utama dalam soal ladangnya. Sepertinya Naomi juga tidak memiliki laki-laki yang dia percayai untuk mengurus kepentingannya. Bagaimanapun persisnya letak persoalan, status Boas sebagai goel yang menjadi jalan keluarnya. Dengan menyuruh Rut kepada Boas, kerelaan Rut untuk dinikahi dapat disampaikan, sekaligus kerinduan Boas dihasut.

Boas menyambut baik prakarsa Rut itu (3:10), dan memberi pertanda baik untuk Naomi (3:17). Boas menghadapi calon goel itu dalam keadaan yang paling resmi untuk kota kecil, yakni di pintu gerbang dengan tua-tua kota (4:1-2). Boas memberitahu orangnya bahwa Naomi mau menyerahkan haknya untuk menebus ladangnya (yang ada di tangan pihak di luar keluarga) kepada keluarga yang lain yang akan mampu menebusnya. Hal itu menarik bagi orang itu karena, walaupun dia harus memelihara Naomi selama dia hidup, dia akan memiliki tanah itu setelah Naomi meninggal tanpa pewaris. Tetapi kemudian Boas mengangkat soal Rut. Andaikan Rut dinikahi dan melahirkan anak, anak itulah yang akan mewarisi tanah yang ditebus, bukan keluarga dari calon goel itu. Jadi, uang yang dipakai untuk menebus ladang Elimelekh akan hilang dari warisan keluarganya yang sudah ada. Tidak ada kewajiban hukum untuk orangnya membantu Rut, tetapi dengan sudah disebut di hadapan sepuluh tua-tua itu, dia akan kelihatan pelit andaikan dia hanya menerima bagian yang menguntungkan dan mengabaikan kebutuhan Rut. Hal itu tidak masalah bagi Boas yang sepertinya belum memiliki keluarga sendiri.

Ketika Boas dan Rut menikah dan dikaruniai anak (4:13), ternyata Naomi yang disoroti (4:14-17). Melalui penebus, Naomi yang tadinya terkutuk diberkati dengan anak yang akan memeliharanya pada masa tuanya dan yang termasuk silsilah raja Daud. Rut yang mau ditolak dan yang tidak dihitung oleh Naomi ternyata lebih berharga dari tujuh anak laki-laki.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Tuhan membawa orang keluar dari kepahitan melalui seorang penebus. Kita bersukacita dalam penebusan yang kita alami dalam Kristus, dan hidup kita diarahkan olehnya.

Makna

Tema penebusan menonjol dalam kitab Rut. Tidak terlalu sulit bagi Israel untuk menempatkan dirinya dengan Naomi dan Rut, karena Israel diselamatkan dari ketidakberdayaannya di Mesir oleh seorang Penebus lalu menjadi terikat kepada-Nya dalam perjanjian di Sinai yang dapat digambarkan sebagai pernikahan. Gereja juga ditebus oleh Kristus dari ketidakberdayaannya terhadap dosa untuk menjadi pengantin-Nya. Kitab Rut memberi kita gambaran konkret tentang penebusan itu. Tetapi cerita itu bukan alegori (cerita tentang kebenaran rohani yang berbaju sejarah). Apa yang dilakukan Boas, Naomi, dan Rut adalah hasil dari penebusan Israel oleh Allah: mereka berada di Betlehem karena karya Allah itu, dan mereka dituntun oleh hukum penebusan yang mencontoh Allah. Kemudian, salah satu hasil mereka adalah Mesias yang menjadi Penebus dari semua manusia (Ibr 9:23-28). Jadi, dalam cerita ini kita melihat bahwa penebusan universal yang dikerjakan Allah juga terwujud dalam kehidupan sehari-hari, entah dari belenggu kemiskinan atau penindasan, penyakit, atau terutama dari kuasa dosa.

Jadi, kita dapat menempatkan diri dengan berbagai tokoh dalam cerita ini untuk belajar tentang makna penebusan bagi kita. Naomi mewakili kita dalam keputasasaan dan kepahitan hidup. Tuhan berprakarsa untuk menolongnya sebelum sikapnya membaik, dan akhirnya memberinya kepenuhan di luar dugaan. Tetapi dia juga menanggapi titik harapan yang mulai muncul, dan rencananya yang disampaikan kepada Rut adalah tindakan yang berani dalam pengharapan.

Allah memakai Rut yang merupakan orang marjinal dua rangkap: janda dan orang asing. Yang ada pada Rut adalah kesetiaan, terutama kepada Naomi, tetapi di balik Naomi Allahnya Naomi yang mungkin saja pernah diceritakan selama mereka di Moab. Dalam kesetiaan sebagai pengerja, dan dalam menaati nasihat mertuanya, dia menerima berkat yang diucapkan Boas kepadanya.

Dalam Boas (tetapi lebih muncul di luar perikop kita dalam p.2 dan awal p.4) kita melihat bagaimana dia mencontoh Allah: dia menjadi cara Allah melindungi Rut di bawah sayap-Nya. Dalam hasil dari usahanya, kita melihat beberapa unsur dari berkat yang dijanjikan kepada Abraham, yakni keturunan dan nama yang masyhur. Ketika Kristus datang kembali untuk kawin dengan gereja, berkatnya akan melimpah lebih lagi.

Dipublikasi di Rut | Tag , | Meninggalkan komentar

Mrk 12:28-34 Kasih sebagai hakikat manusia [4 Nov 2018]

Penggalian Teks

Yesus memasuki Yerusalem sebagai Raja untuk menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (10:45). Kemudian, Dia menyatakan otoritas-Nya di Bait Allah dengan mengusir para pedagang dari pelatarannya. Otoritas itu adalah otoritas sebagai utusan Allah seperti Yohanes Pembaptis (11:29-33), dan lebih lagi sebagai Anak Allah, Mesias (12:1-12). Berbagai kepentingan berusaha menjatuhkan Yesus, pertama-tama orang Farisi dan Herodian dengan pertanyaan tentang politik praktis (12:13-17), lalu orang Saduki dengan pertanyaan teologis (12:18-27). Di dalamnya, kita melihat bahwa pimpinan Israel betah dengan kuasa Kaisar, tetapi tidak mengenal kuasa Allah.

Dalam Injil Matius, ahli Tuarat yang kemudian mendekati Yesus diutus oleh kelompok Farisi untuk mencobai Yesus (Mat 22:34-35). Tetapi Markus menyoroti orangnya sendiri yang memperhatikan isi dari debat itu dan mampu melihat tepatnya jawaban Yesus walaupun Dia semestinya dianggap musuh. Dia bertanya tentang sesuatu yang termasuk keahliannya, yaitu bagaimana hukum Taurat ditafsir (28). Pertanyaannya mengutamakan perintah, tetapi (dalam cerita Markus ini) Yesus mulai dengan Allah yang memerintah, sama seperti Ul 6:4-5 yang Dia kutip. Karena Allah itu Allah “kita”, maka Israel terikat untuk menaati-Nya. Karena Allah itu esa, maka ibadah Israel kepada-Nya tidak terbagi-bagi seperti dalam politeisme di mana setiap sumber kuasa ilahi menuntut bagiannya (29).

Respons umat Allah adalah kasih. Kata “kasih” menunjukkan sikap yang positif yang muncul dalam respons yang tepat. Karena Allah adalah Raja yang besar yang berkenan menjadi Allah kita, kasih kepada-Nya terutama merupakan ketaatan dan kesetiaan yang dianggap sebagai kebahagiaan, bukan sebagai beban. Ul 6:5 melihat kasih itu dari tiga perspektif. Hati merujuk pada sumber motivasi yang muncul dalam pikiran dan keinginan tetapi tidak langsung kelihatan oleh orang lain. Jiwa merujuk pada semangat atau daya hidup. Kekuatan merujuk pada pewujudan motivasi dan semangat itu dalam tindakan. Motivasi orang Israel ditujukan sepenuhnya pada Allah dan hidup/mati digantungkan kepada Allah sehingga kekuatan dipakai untuk melayani Allah. Mrk 12:30 ini menambahkan akal budi pada daftar itu (seperti juga Luk 10:25-28); Mat 22:37 mengganti kekuatan dengan akal budi. Tambahan itu memperjelas peran pikiran yang sudah tersirat dalam istilah “hati”. Kata dianoia itu berhubungan dengan kata metanoia (perubahan pikiran) yang dipakai dalam PB untuk pertobatan.

Yesus langsung menambahkan Im 19:18b tentang kasih kepada sesama. Hal itu memperjelas bahwa kasih kepada Allah tidak bersaing dengan kasih kepada sesama. Tentu, bentuknya berbeda. Imamat 19 memaknai kesepuluh firman, termasuk kepedulian terhadap orang miskin dan penyandang cacat, dan penegakan keadilan. Im 19:16-18 menolak permusuhan di dalam umat Allah, dan dalam Im 19:34, sesama itu termasuk orang asing yang berdiam di Israel. Jadi, sesama adalah siapa saja yang ada di sekitarnya, dan kasih dinyatakan kepadanya dengan perlakuan yang adil dan tepat sesuai dengan kebutuhannya. Tolok ukur tindakan kasih adalah “dirimu sendiri”. Kita tidak mau difitnah, diperdaya, dsb. Kasih menempatkan kepentingan sesama selevel dengan kepentingan diri sendiri.

Kemudian, si ahli Taurat menanggapi pernyataan Yesus dengan bahasa sendiri (32-33). Bahasa itu dipuji Yesus sebagai pemahaman yang cocok dengan Kerajaan Allah (34a). Dia menangkap bahwa keesaan Allah merujuk pada keuniqan-Nya, seperti dalam Ul 4:35 dan Yes 45:21. Dia mengartikan “segenap jiwa” sebagai pengertian, dan membandingkannya dengan korban yang dipersembahkan di Bait Allah. Korban itu tidak ditolak, tetapi yang lebih utama adalah pemahaman tentang Allah dan ketaatan yang berhikmat.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Hakikat manusia dinyatakan dalam mengasihi Allah dan sesama. Sebagai orang yang ditebus oleh persembahan Kristus, kita diajak untuk membiarkan Roh Kudus mengerjakan kasih itu dalam diri kita.

Makna

Hukum kedua menjadi wadah utama kita menerapkan hukum pertama. Tetapi adalah penting bahwa kedua hukum ini tetap dibedakan. Kita mempelajari kasih kepada sesama dari kasih kepada diri sendiri, tetapi tolok ukur itu hanya tepat ketika diri kita makin tertuju kepada Allah. Misalnya, tanpa kasih kepada Allah, kita tidak akan menegur sesama yang berdosa (Im 19:17a) karena kedamaian semu akan lebih penting daripada kebenaran. Pemahaman tentang apa yang benar dan yang salah atau palsu harus bersumber dari Allah, bukan dari manusia. Jadi, kasih kepada sesama harus dilakukan dalam kerangka ketaatan kepada Allah.

Mengasihi Allah merupakan kegiatan bersama. Yang tulus hatinya, besar jiwanya, cerdas akal budinya, dan kuat belum tentu orang yang sama; kita saling melengkapi dalam menuju “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13). Ahli Taurat dalam perikop kita menjadi contoh orang yang mencari pengetahuan yang benar tentang Allah dengan mencerna apa yang dikatakan Yesus. Tidak semua anggota jemaat yang harus menjadi ahli Alkitab, tetapi kita semua harus mengasihi Allah dengan segenap akal budi yang ada. Orang yang ahli terhadap kepentingan politik tetapi bodoh terhadap kepentingan Kerajaan Allah tidak memakai akal budinya untuk Allah. Masalahnya bukan minatnya akan politik duniawi tetapi bahwa minat itu tidak akan diterangi oleh pemahaman akan misi Allah dalam dunia. Kita membutuhkan orang cerdas dalam semua bidang yang dibekali oleh firman. Makanya, salah satu tugas pendeta yang penting adalah tugasnya sebagai pengajar.

Ibr 9:11-14 meringkas pesan kitab Ibrani bahwa Yesus telah mengungguli sistem persembahan PL dengan kematian-Nya pada salib. Tetapi pesan itu bukan maksud si ahli Taurat ketika menempatkan korban di bawah kedua hukum utama. Secara teologis, kedua hukum itu lebih mendasar karena menyatakan hakikat manusia sebagai imago Dei. Kedua hukum itu tersirat di taman Eden dan akan menjadi kebahagiaan kita dalam dunia baru. Tetapi korban merupakan hal sementara karena pelanggaran kedua hukum itu. Sebagian korban dalam PL menghapus dosa itu; persembahan Yesus menggenapi dan menyelesaikan jenis kurban ini secara tuntas. Sebagian lagi korban dalam PL menjadi cara orang Israel menikmati kembali persekutuan dengan Tuhan yang akan bermuara pada kasih kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Ibr 13:15-16 orang yang percaya kepada Yesus itu tetap memberi Allah persembahan dalam bentuk pujian yang menyatakan kasih kepada-Nya, dan perbuatan baik yang menyatakan kasih kepada sesama.

Dipublikasi di Markus | Tag , | Meninggalkan komentar