Yoh 6:24-35 Kerjarlah Roti yang Sejati [2 Ag 2015]

Penggalian Teks

Yohanes 6 merupakan perenungan tentang peristiwa memberi makan lima ribu orang. Pada a.15 orang banyak mau menjadikan Dia raja, tetapi pada akhir pasal itu, kebanyakan orang tidak mengikuti-Nya lagi. Peristiwa Yesus berjalan di atas air (6:16–21) menjadi penguatan bahwa Dia berkuasa atas badai yang menantikan para pengikut-Nya yang setia. Kemudian, orang banyak itu mencari Yesus dan menemukan-Nya (24–25), dan terjadilah percakapan panjang di rumah ibadat di Kapernaum, yang diceritakan sampai a.58.

Perikop kita mencakup empat tanya-jawab pertama antara orang banyak dan Yesus. Kedua tanya-jawab pertama berbicara tentang pencarian (25–29). Mereka mungkin heran melihat Yesus di Kapernaum, karena mereka tahu bahwa Dia tidak mengikuti perahu murid-murid (22). Tetapi bentuk pertanyaan mereka (“bilamana”) menunjukkan bahwa mereka mencari Yesus. Hanya, Yesus menyoroti bahwa mereka tidak mencari makna (“tanda-tanda”) dari peristiwa memberi makan itu; mereka tidak berpikir lebih luas daripada kekenyangan mereka (a.26; kekenyangan tidak selalu dinikmati oleh orang-orang miskin). Jadi, mereka sudah bekerja keras mencari Dia demi makanan yang sementara saja, tetapi Yesus menyuruh mereka mencari makanan yang akan membawa mereka kepada hidup dalam zaman mendatang (“hidup kekal”). Penyedia makanan itu ialah “Anak Manusia”, yang sudah dijamin oleh Allah Bapa (27). Gelar “Anak Manusia” pertama dipakai dalam 1:51, di mana Yesus adalah titik temu antara surga dan bumi dalam penyataan. Setiap kali dipakai kemudian, Dia tetap adalah titik temu, dalam keselamatan (3:14), hukuman (5:27), dan di sini, sebagai makanan surgawi. Tetapi mereka belum menangkap hal itu. Mereka mendengar kata “Berkerjalah”, dan bertanya tentang apa yang harus dikerjakan (28). Jawaban Yesus mengejutkan: pekerjaan Allah ialah percaya kepada Yesus, utusan-Nya (29). Kepercayaan itu tidak sekadar penerimaan konsep. Tersirat di dalamnya adalah kerinduan akan hidup yang kekal dan kesadaran bahwa Yesuslah Pemberinya. Kepercayaan ini adalah melekatkan diri dengan siapa yang dipercayai. Peristiwa memberi makan banyak orang adalah tanda yang menunjukkan bahwa Yesuslah orang yang layak dipercayai.

Dalam tanya-jawab ketiga (30–33), mereka mulai berpikir tentang tanda, dan mereka menuntut tanda supaya mereka dapat melihat dan percaya. Sepertinya, mereka lupa bahwa mereka baru saja menyaksikan tanda besar dalam peristiwa memberi makan itu. Jadi, mereka sudah melihat tetapi belum percaya. Malahan, mereka menuntut balik supaya Yesus yang bekerja! Mereka mengangkat manna dari surga sebagai mukjizat yang membuat mereka percaya kepada Musa (31). Adalah menarik bahwa mereka mengutip dari Mazmur 78 yang menceritakan tentang Israel yang memberontak padahal mereka melihat karya-karya Allah. Yesus tidak menanggapi tuntutan mereka, tetapi menggunakan pemberian manna untuk memberitakan roti dari surga yang sungguh menghidupkan dunia (32–33). Tersirat di sini bahwa mereka salah paham tentang Musa. Mereka menganggap bahwa dengan menaati hukum Taurat dan giat melawan orang-orang kafir (bdk. 6:15 di mana mereka mau menjadikan Yesus raja) mereka akan mendatangkan Kerajaan Allah, alias hidup yang kekal. Yesus mau mereka melihat bahwa Musa merujuk kepada Dia, yang membawa hidup yang kekal dengan cara yang berbeda.

Penawaran Yesus tentang roti itu menarik perhatian mereka, apakah karena mereka menafsirnya berkaitan dengan perut lagi? Mereka minta diberi roti itu (34), dan akhirnya Yesus mengungkapkan identitas roti yang Dia berikan itu, yakni, diri-Nya sendiri (35). Jadi, percaya kepada-Nya akan memenuhi rasa lapar dan haus selama-lamanya. Jadi, soal roti dan percaya tadi sudah disimpulkan di sini. Tentunya, rasa lapar dan haus itu bukan perkara tubuh jasmani. Yesus adalah jawabannya, tetapi atas pertanyaan yang tidak diajukan semua orang, karena kerinduan akan Allah tidak dimiliki semua orang. Aa.36–46 menunjukkan bahwa hal itu bahkan mustahil bagi manusia; hanya Allah yang bisa menarik orang kepada Kristus. Tetapi bagi yang dipilih, pilihan itu tampak dengan mereka datang kepada Kristus, ada jaminan akan kebangkitan dan hidup kekal (40).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk mengejar Yesus seperti orang yang rindu kenyang dengan hidup yang kekal, hidup yang sesuai dengan zaman yang akan datang.

Makna

Kita sepertinya agak gelisah mendengar ucapan Yesus bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah ialah percaya kepada Kristus (29). Kita biasanya mau mengatakan bahwa iman tidak cukup tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Mengapa kita enggan setuju dengan Yesus? Satu alasan mungkin adalah bahwa kita berpikir bahwa ada iman tanpa rasa lapar, bahwa kita bisa mengimani Yesus tanpa merindukan-Nya. Jika kita mulai puas dengan Yesus, maka judi, gosip yang menjatuhkan, gila hormat, dsb, mulai hilang kuasanya atas kehidupan kita. Sebaliknya, kita akan giat hidup dalam terang (bdk. 3:19–21) sama seperti orang banyak itu giat mencari roti yang sementara.

Jadi, hati-hatilah terhadap tema “Kerjakanlah yang dikehendaki Allah”, bahwa “yang dikehendaki Allah” dengan sangat jelas diartikan sebagai kepercayaan dalam artian kerinduan akan Yesus yang melebihi kerinduan-kerinduan yang lain. Lupakan tujuan “Agar warga jemaat memahami bahwa kehidupan dan pekerjaan kita adalah untuk mewujudkan rencana Allah”, bukan karena salah, tetapi karena kalau kita belum merindukan Yesus, belum menjadi sadar bahwa Dia adalah roti yang paling memuaskan, maka percuma kita diajak untuk terlibat dalam rencana Allah. Perikop kita berfokus pada yang mendasar, Yesus sebagai roti hidup. (Mengapa tema dan tujuan itu tidak menyebutkan Kristus?) Bukan waktunya kali ini untuk berfokus pada perbuatan baik ataupun misi dalam rangka rencana Allah; tugas kita adalah berfokus pada fokus perikop itu.

Untuk hal itu, bisa saja ada hal-hal tertentu dibahas (seperti daftar gila dsb di atas), tetapi bukan untuk membahas kesalahan kegiatan itu, tetapi untuk menyorotinya sebagai roti yang palsu. Bagi orang Israel, perang suci terhadap orang Romawi adalah roti yang palsu. Mungkin dalam masyarakat kita, ada berbagai bentuk yang lain. Orang suka memfitnah sesama karena suka tampil lebih baik daripada orang lain. Hal itu berarti bahwa mereka tidak puas dengan penerimaan oleh Allah di dalam Kristus, sehingga mereka mencari pujian dari sesama. Orang suka berkorupsi, karena tidak percaya bahwa kekayaan di dalam Kristus melebihi uang. Banyak roti palsu yang ditawarkan dalam dunia ini, tetapi Kristuslah roti yang datangnya dari surga. Orang mencari aman dalam pilihan pekerjaan karena belum menangkap bahwa Yesus adalah Raja di atas segala raja, bahkan atas pemerintah Indonesia.

Ingat bahwa ketika orang melihat mukjizat yang besar yang dilakukan oleh Yesus, mereka tidak percaya (36). Hanya Allah yang dapat menimbulkan rasa tertarik dalam diri orang sehingga mencari Yesus (44). Injil tidak benar karena dipercaya ramai-ramai atau karena ada mukjizat-mukjizat, tetapi karena Yesus. Mari kita mengejar Dia.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , , | Meninggalkan komentar

Ef 2:11-22 Damai antar kelompok dalam tubuh Kristus [19 Jul 2015]

Kitab Efesus memaparkan kehidupan kristiani sebagai kehidupan bersama. Tafsiran Alkitab di Indonesia tertular dengan individualisme Barat, tetapi hal itu tidak cocok untuk perikop ini, yang berbicara tentang bangsa-bangsa, Israel, dan tubuh Kristus. Terus, untuk yang lupa (atau tidak pernah tahu), “LAI” merujuk pada Alkitab bahasa Indonesia, dan “Yunani” pada terjemahan saya yang harfiah atas teks aslinya dalam bahasa Yunani. Bukan karena LAI salah, tetapi karena ada segi dari teks yang tidak sempat dibawa ke dalam terjemahan yang mau saya pakai dalam tafsiran saya.

Penggalian Teks

Tema kitab Efesus muncul dalam 1:10, yaitu rencana Allah “untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu”. Rencana itu mencakup semua manusia yang percaya dan menerima Roh Kudus (1:13). Dalam 2:1–10, Paulus menggunakan pola A B -A (lawan dari A). Kondisi manusia berdosa yang di bawah murka Allah itu dijelaskan dalam aa.1–3; kondisi manusia yang sudah diselamatkan dan sedang diperbaiki dijelaskan dalam aa.8–10; yang memungkinkan perubahan dahsyat itu ialah Kristus, karena oleh iman kita turut dibangkitkan dan diberi tempat di surga bersama dengan Dia (aa.4–7). Perikop kita menggunakan pola yang sama, pada tingkat kelompok atau bangsa. Aa.11–12 menjelaskan kondisi bangsa-bangsa yang terasing dari Allah dan umat-Nya; aa.19–22 menjelaskan kondisi umat yang telah menjadi satu. Kembali, yang menentukan dalam perubahan ini ialah Kristus yang mempersatukan (aa.13–18).

Keterasingan bangsa-bangsa itu terjadi “dahulu”, yaitu pada zaman “daging” yang di dalamnya sunat “lahiriah” (Yunani: “dalam daging”) menjadi ciri khas umat Allah (11). Pada zaman itu, rencana Allah berpusat pada Israel (12). Dia memanggil Abraham dan mengadakan serangkaian perjanjian yang mengembangkan janji-Nya kepada Abraham bahwa semua bangsa akan diberkati di dalam keturunannya (LAI “ketentuan-ketentuan yang dijanjikan” adalah “perjanjian-perjanjian dari janji” secara harfiah). Pada zaman nabi-nabi, janji itu berpusat pada pengharapan akan seorang Mesias (alias Kristus; bdk. Mzm 89:20–38 untuk perjanjian dengan Daud yang mendasari pengharapan itu). Bahasa Paulus dalam a.12 menegaskan keterasingan bangsa-bangsa: LAI “tidak termasuk” = Yunani “terasing”, dan LAI “tidak mendapat bagiam dalam” = Yunani “orang-orang asing”. Makanya, mereka tanpa pengharapan dan pengenalan akan Allah yang tersedia bagi kaum Israel. Hal itu mungkin tercermin dalam perbedaan cara berdosa antara bangsa-bangsa dan Israel dalam aa.1–3. Bangsa-bangsa itu mudah dikendalikan oleh Iblis (a.2), karena tidak memiliki pengharapan dan tidak mengenal Sang Khalik. Dosa Israel tidak kentara seperti itu, tetapi hawa nafsu “daging” mereka tetap tidak dikendalikan (a.3). Tersirat dalam “yang menamakan dirinya ‘sunat’” dalam a.11 adalah suatu kekurangan rohani dari Israel juga.

Dalam rencana Allah, zaman itu sudah berlalu karena Kristus (13a). Dengan demikian, bangsa-bangsa yang jauh (terasing) dimungkinkan menjadi dekat, karena pengampunan dosa oleh darah Kristus (a.13b, bdk. 1:7). Hal itu diuraikan dalam aa.14–16. Hasil Kristus disebut “damai sejahtera” (14a), dan ada tiga klausa (bagian kalimat) yang menjabarkan hasil itu (14b–15a): mempersatukan dua pihak; merubuhkan perseteruan; dan membatalkan hukum Taurat. Hukum Taurat dengan jelas membagi manusia menjadi dua pihak, dan hal itu menimbulkan perseteruan karena kedagingan masing-masing pihak. Israel menganggap bangsa-bangsa paling sedikit najis, kalau bukan musuh Allah, sehingga harus dijauhi, dan hal itu dengan mudahnya dilakukan dalam kesombongan rohani (bdk. Rom 2:17–24). Bangsa-bangsa tentunya tidak suka sikap orang-orang Israel yang tampil angkuh. Jadi, dengan hukum Taurat tidak berlaku lagi, ketentuan-ketentuan yang menjaga kekudusan Israel tetapi juga memisahkan Israel dari bangsa-bangsa yang lain itu tidak lagi menimbulkan perseteruan.

Yang membuat hukum Taurat tidak berlaku lagi ialah daging Yesus (a.15a: LAI “dengan mati-Nya sebagai manusia” = Yunani “dalam daging-Nya”). Karena Paulus baru saja menyebut darah Yesus, hal itu memang merujuk pada kematian-Nya. Jika di bawah hukum Taurat, daging dan darah hewan dipersembahkan untuk menghapus dosa, daging Yesus telah menanggung kedagingan manusia, baik dari bangsa-bangsa maupun dari Israel. Jadi, fungsi hukum Taurat untuk menggambarkan dosa dan pengampunan Allah melalui ketentuan-ketentuan tentang kenajisan dan persembahan itu sudah digenapi oleh kematian Yesus. Kematian Yesus adalah tempat pengampunan dan pintu masuk untuk hidup yang berkenan di hadapan Allah.

Hasil Yesus itu memiliki dua tujuan (15b–16). Damai sejahtera tercapai dengan adanya satu manusia baru yang dibuat dari kedua pihak tadi. Di dalam Kristus, Yahudi dan non-Yahudi mendapat identitas di dalam Kristus yang lebih mendasar daripada identitas bangsanya. Yang kedua, kedua pihak itu diperdamaikan dengan Allah. Hal itu terjadi bersama-sama dalam tubuh Kristus, atas dasar pengampunan dosa dalam salib Kristus. Salib itu melenyapkan perseteruan, bukan hanya antara kedua pihak, tetapi juga antara manusia dengan Allah.

Jadi, Paulus kembali menyimpulkan hasil karya Kristus sebagai damai sejahtera bagi yang jauh dan yang dekat (17). Jika dulunya hanya orang Israel yang dapat mendekati Allah dalam Bait-Nya, sekarang kedua pihak memiliki jalan masuk kepada Allah Bapa (18). Hal itu terjadi dalam satu Roh (bdk. 1:13–14), yang memberi petunjuk bahwa tubuh Kristus dilihat sebagai pengganti Bait Allah sebagai tempat Allah hadir.

Hal itu dibuktikan dalam aa.19–22, yang membahas kondisi baru manusia karena hasil Kristus itu. Bangsa-bangsa (di dalam jemaat di Efesus) sudah menjadi warga umat Allah sama seperti orang Yahudi seperti Paulus, dan anggota keluarga Allah (19). Hal itu mejawab keterasingan mereka tadinya. Tetapi, tiba-tiba metafora Paulus beralih ke bangunan (20). Yesus Kristus dan para rasul dan para nabi memiliki tempat yang mendasar dalam bangunan itu (a.21; dalam 3:5b nabi-nabi adalah nabi-nabi kristen). Bangunan itu bertumbuh dalam Kristus—Paulus menggunakan bahasa yang mirip tentang tubuh Kristus dalam 4:15—menjadi bait Allah (21). Kita melihat dalam a.22 bahwa definisi Paulus tentang bait Allah itu bukan gedung melainkan tempat kediaman Allah oleh Roh. Jemaat telah mengambil alih fungsi Bait Allah, sama seperti Kristus telah menggenapi fungsi hukum Taurat. Di dalam Kristus, bangsa-bangsa mulai bersekutu dengan Israel, dan lebih dari itu, telah bersekutu dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk menaruh pengharapan kepada Kristus dengan menghayati tempat kita dalam tubuh-Nya sebagai kedudukan yang kudus. Hal itu merelatifkan pengharapan kelompok, kedudukan di dalam kelompok, dan semua yang membuat bait Allah (gereja) retak.

Makna

Yang saya maksud dengan “pengharapan kelompok” ialah pengharapan-pengharapan yang dianggap penting dalam kelompok itu, seperti pesta besar untuk kaum Toraja, pangkat dan jabatan yang tinggi untuk kaum pegawai, dsb. Pengharapan-pengharapan itu sah-sah saja (hanya, kadangkala menghalalkan cara yang tidak sah), tetapi itu bukanlah pengharapan yang ditawarkan dalam Injil. Kalau bangsa-bangsa itu “tanpa pengharapan”, yang dimaksud ialah janji-janji Allah dalam PL yang bermuara pada pembaruan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai kepala (1:10). Intinya dalam perikop ini adalah jalan masuk kepada Bapa (18).

Namun, jalan masuk itu ternyata tidak ditempuh sendirian. Allah diam di dalam bait Allah/tubuh Kristus yang terdiri atas banyak orang. Makanya, damai sejahtera disoroti. Tetapi penekanan di sini bukan pada pendamaian antar orang, melainkan pada pendamaian antar kelompok. Kelompok, entah berdasarkan kedudukan, budaya, bangsa, atau (dalam dunia modern) pendidikan, selalu bisa menjadi tembok pemisah. Dengan wajar, kita beridentifikasi dengan orang-orang yang mirip dalam hal-hal yang kita anggap penting. Tantangannya di sini adalah menjadi satu di dalam Kristus, dengan menganggap identitas di dalam Kristus lebih pokok daripada perbedaan-perbedaan yang ada. Perbedaan itu tidak dihapus—Injil tidak menuntut orang buta huruf belajar membaca—tetapi Kristus yang mati bagi kita lebih penting daripada semua perbedaan itu.

Paulus juga tidak menghapus kategori “jauh”, tetapi mengubah isinya. Hukum Taurat adalah pemberian Allah, dan salah satu tujuan adalah supaya Israel menjadi bangsa yang kudus, yang lain dari yang lain. Jika dahulu sunat menjadi ciri khas umat Allah, sekarang Kristus menjadi ciri khasnya. “Di dalam Kristus” menyiratkan kondisi di luar Kristus; menjadi anggota keluarga Allah tidak berlaku otomatis untuk semua manusia. Masih ada yang jauh dan yang dekat. Bedanya bahwa yang dekat itu terdiri atas banyak bangsa dan budaya, bukan lagi hanya budaya hukum Taurat dalam Israel. Dengan demikian, damai sejahtera tetap diberitakan kepada yang jauh, supaya mereka juga diberi kesempatan untuk bergabung dengan Kristus dan menjadi bagian dari tempat kediaman Allah.

Tempat kediaman Allah itu tempat yang kudus. Prasangka terhadap orang kristen yang kurang berpendidikan, atau budayanya kita anggap terbelakang, mencemarkan tubuh Kristus jika kita menganggap iman kita lebih maju karena kita pakai baju modern. Bukannya bahwa embel-embel budaya modern tidak berguna, tetapi itu hanya salah satu dari banyak bentuk budaya yang membuat bangunan tubuh Kristus yang paling indah dan menarik.

Dipublikasi di Efesus | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Mzm 24:1-10 Bersekutu dengan Allah yang kudus [12 Jul 2015]

Penggalian Teks

Dalam 1 Samuel 4 kita membaca bagaimana tentara Israel membawa tabut Tuhan ke dalam medan perang. Kali itu tabut Tuhan dirampas orang Filistin (sebagai hukuman terhadap Israel), dan kita tidak tahu apakah hal itu dilakukan kemudian. Kalaupun tidak, Mazmur 24 ini menunjukkan bahwa tabut Tuhan dibawa dalam arak-arakkan, dan mazmur ini dipakai sebagai bagian dari liturginya. LAI menafsir (dengan dugaan yang masuk akal) bahwa ada tiga pemeran. Ayat-ayat yang tidak pakai tanda petik (1–2, 7, 9) anggaplah pemandu liturgi, kemudian ada penanya dan penjawab. Bisa saja penjawab adalah orang-orang Lewi yang membawa tabut itu. Sebagai perkiraan tentang alur liturgi itu, a.3 diajukan ketika rombongan tabut perjanjian mau menaiki bukit Sion (“gunung Tuhan”), dan a.7 dinyatakan ketika rombongan mau masuk di pelataran Bait Allah.

Aa.1–2 merujuk pada penciptaan dunia. Khususnya, bumi dan dunia diletakkan di atas lautan dan sungai-sungai. Ada dua macam air yang disebut di sini, dengan dua maksud. Sungai-sungai adalah sumber berkat bagi manusia di dunia sebagai tempat kediaman manusia (bdk. Kej 2:10; Mzm 46:5). Tetapi lautan terlalu kacau untuk manusia tinggal di atas/dalamnya. Hanya karena Tuhan mendasarkan sesuatu yang kukuh, yakni bumi, maka kita bisa hidup. Makanya, lautan kadang menjadi kiasan untuk dunia politik-sosial yang kacau (bdk. Mzm 46:2–4 & 5–7). Dalam skenario tentara Israel baru kembali dari medan perang, mereka telah mengalami Allah membuat tempat aman bagi umat-Nya di tengah-tengah bangsa.

Membuat tempat yang teratur dan aman di tengah kekacauan adalah gambaran tentang kekudusan. Pertanyaan dalam a.3 mau mencegah pengacau masuk ke dalam tempat Allah yang kudus. Pengangkut tabut menjawab dengan gambaran tentang orang yang beres. A.4 membandingkan tindakan (tangan) dan rencana (hati) yang bersih dengan penipuan. Jadi, tangan yang bersih dan hati yang murni menyangkut konsistensi antara janji atau nilai yang dipegang dengan tindakan selanjutnya. Konsistensi itu sering disebut integritas. Lawan dari integritas ialah tenaga yang dikerahkan untuk menipu sesama, dan sumpah yang kemudian diingkari. Orang seperti itu akan menerima berkat dari Tuhan (bdk. Sungai yang mengairi dunia dalam a.2), dan keadilan dari Tuhan, yaitu pertolongan Tuhan yang membuat dia kukuh di hadapan kekacauan yang didatangkan musuh (bdk. bumi di atas lautan dalam a.2). Orang-orang seperti itu berkumpul menjadi angkatan yang mencari petunjuk (“menanyakan”) dan persekutuan (“wajah-Nya”) dengan Allah. Karena mereka menerapkan kekudusan (integritas) dalam kehidupannya, mereka cocok di dalam Bait Allah.

Jadi, rombongan tabut itu berani mendekati pintu gerbang, supaya Allah Raja Kemuliaan masuk dalam istananya (aa.7, 9; kata “Bait” dan “istana” sama dalam bahasa Ibrani). Sebagai Raja yang mulia, dia menjadi pusat kebanggaan angkatan setia itu. Sebagai Raja yang perkasa, Dia memperjuangkan keadilan dengan memerangi kekacauan dalam bentuk bangsa-bangsa musuh (8). Dalam a.10, Allah adalah Tuhan atas semuanya.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mengucapkan mazmur ini, kita dibawa untuk mengaku kemuliaan Tuhan sebagai Raja yang berjaya dan perkasa, sehingga kita tergerak untuk hidup sesuai dengan kekudusannya.

Makna

Keadilan Allah dilihat dengan paling jelas ketika Yesus dibangkitkan dari antara orang mati. Yesus tidak menikmati keadilan dari pimpinan orang Yahudi ataupun Pilatus, sehingga Dia mati, tetapi Allah membenarkan Dia pada hari ketiga itu. Israel mengalami keadilan Allah ketika diberi kemenangan atas musuh. Kita yang setia kepada Allah dalam sengketa dengan sesama mengalami keadilan Allah ketika orangnya kalah.

Berkat Allah dilihat dengan paling jelas dalam Ef 1:3–14: berkat-berkat rohani termasuk menjadi kudus (4), menjadi anak Allah (5), ditebus/diampuni (7), dan mengetahui rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus (9–10). Jaminan dari berkat-berkat itu adalah Roh Kudus (14), yang disebut sebagai sungai dalam Yoh 7:37–39. Sebagai orang percaya, kita sudah menikmati keadilan Allah, yang dari hukuman dan kuasa dosa telah menyelamatkan kita. Keadilan itu akan kita alami ketika kita ikut dibangkitkan pada akhir zaman. Hal itu bukan hanya bahwa kita akan hidup kembali, tetapi juga bahwa kita tidak akan mendapat malu pada penghakiman terakhir (bdk. Rom 10:9–11). Kata Yesus bahwa tidak ada rahasia yang tidak akan diumumkan (Luk 8:16–18), semua penipuan dan sumpah palsu akan terbongkar, sebagian dalam hidup ini, sebagian pada akhir zaman. Sebagai Raja, Yesus akan membereskan segala sesuatu supaya dunia baru sesuai dengan kehendak Allah.

Mungkin tidak banyak orang mengangkat sumpah sekarang, karena Yesus mengatakan bahwa seluruh perkataan kita mencerminkan integritas. Tetapi, hal sepadan dalam dilihat dalam ikrar seperti janji dalam pengutusan pelayan, dan juga dalam stempel dan tanda tangan dalam pengorganisasian. Jika dikaitkan dengan “murni hatinya” (Mzm 24:4), ada yang menganggap bahwa sebuah ikrar, janji, atau keikutsertaan dalam keputusan resmi diukur dari kondisi hati pada saat janji itu dibuat. Tetapi, Yesus mengatakan bahwa pohon dilihat dari buahnya, bukan dengan menggali akarnya. Keraguan dalam hati tentang diri sendiri ketika diurapi bukan noda pada janji itu jika kita tetap setia; perasaan khusyuk yang sedalam-dalamnya tidak berarti jika kemudian kita lari dari pelayanan yang ditentukan Tuhan. Tuhan yang mengenal hati kita, bukan kita sendiri.

Hal itu saya sebutkan, karena ada gaya orang yang untuknya rasa bersalah itu rasa tetap, walaupun tidak terlalu jelas apa salahnya. Ada juga orang yang dilanda pikiran yang kotor, perasaan dengki dsb, yang bisa saja membuatnya merasa tidak layak. Tetapi kemurnian hati tidak terletak di situ. Jika hal-hal itu tidak diladeni, tetapi kita bertindak sesuai dengan komitmen-komitmen kita, hati kita tetap murni, sama seperti langkah orang pincang itu murni ketika menuju sebuah tempat untuk berbuat baik.

Dipublikasi di Mazmur | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

2 Kor 12:1-10 Bermegah atas kelemahan [5 Jul 2015]

Penggalian Teks

Dalam 2 Korintus 10–13, Paulus membela diri—atau lebih tepat, membela pelayanannya—terhadap “rasul-rasul yang luar biasa” (12:11). Di balik semua yang dia katakan ada salib. Dalam kelemahan dan kehinaan salib, Allah justru mengerjakan keselamatan, dan pelayanan Injil itu harus bercermin pada pola itu. Makanya, dalam 11:23–33, Paulus membuktikan bahwa dia adalah pelayan Kristus (11:23) dengan serangkaian penderitaan. Bentuknya seperti daftar kemegahan yang biasa pada zaman itu, untuk menunjukkan sifat kepahlawanan dalam diri. Hanya, isinya berupa kesusahan, dan puncaknya menunjukkan kelemahan Paulus, bahwa dia tidak berdaya dan melarikan diri dari seorang penguasa (11:31–33). Paulus bermegah dalam kelemahan, yang di sini bersifat sosial/politik: Paulus bukan orang berkedudukan tinggi.

Perikop kita melanjutkan penyampaian Paulus tentang kemegahan itu. Dia masuk ke dalam soal penglihatan dan penyataan (1)—sesuatu yang sepertinya digemari oleh jemaat di sana dan mungkin menjadi kemegahan rasul-rasul luar biasa itu. Dalam aa.2–4 dia bermain-main dengan kegemaran itu. Dia tidak tahu penglihatan itu seperti apa, dan apa yang dia dengar tidak boleh diucapkan. Jadi, tidak ada penyataan baru daripadanya. Maksud Paulus diperjelas dalam aa.5–6. Dia memang pernah mengalami yang seperti itu, tetapi dia berbicara seakan-akan pengalaman itu terjadi pada orang lain untuk menegaskan bahwa dia akan bermegah atas kelemahannya (5), dan supaya orang menilai dia atas kinerjanya, bukan karena pengalaman tertentu (6).

Ternyata, sikap itu diajarkan langsung kepada Paulus oleh Tuhan. Kita tidak tahu apa yang disebut Paulus sebagai “duri di dalam daging” dan “utusan Iblis”. “Daging” sering dipakai Paulus untuk sifat manusia yang melawan Allah (bdk. Rom 8:5–8), jadi belum tentu yang dimaksud adalah penyakit. Usul-usul termasuk penyakit, pencobaan, bahkan musuh-musuh Paulus! Yang jelas, gangguan itu “menggocoh” (LAI versi baru: menghantam) Paulus. Yang dijelaskan Paulus ialah tujuan gangguan itu, yaitu untuk menekan kesombongan yang dapat muncul dari penglihatan itu (7). Lebih dari itu, Tuhan mengajar Paulus bahwa kelemahan Paulus adalah sarana yang paling cocok untuk kuasa Tuhan disalurkan (8–9a). Makanya, Paulus bermegah dalam kelemahannya. Ketika dia lemah, kuasa Tuhan membuat dia kuat, sehingga hal-hal yang sungguh berguna dihasilkan melaluinya (9b). Dari pengalaman pribadi itu, dia belajar untuk menerima semua bentuk kesulitan (pribadi, sosial, umum) sebagai kesempatan untuk Kristus berkarya melaluinya (10).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk bermegah atas kelemahan kita, supaya kuasa Tuhan tidak dihambat oleh kesombongan dan pengandalan diri.

Makna

Pengalaman Paulus bukan hal yang baru untuk umat Allah. Mazmur 123 menyampaikan keluhan umat Allah yang sudah jenuh dengan penghinaan. Mrk 6:1–13 menceritakan penolakan Yesus oleh kaum-Nya sendiri, serta kesederhanaan yang dituntut bagi murid-murid-Nya dalam misi mereka. Melalui pengalamannya, Paulus dimampukan untuk melihat lebih dalam makna salib Kristus bagi semua yang mau mengikuti-Nya.

Kuasa Tuhan dalam kelemahan kita tidak berarti bahwa kemampuan kita mubasir. Kalau kita mampu menulis, atau membawa motor di jalan yang sulit, atau menafsir dari bahasa Yunani dan Ibrani, itu semua hal-hal yang masing-masing berguna pada tempatnya. Tetapi, kejagoan dalam membawa motor tidak melunakkan hati seorang pendosa untuk bertobat, dan kehebatan dalam ilmu-ilmu tafsir tidak membawa anggota jemaat untuk merenungkan Alkitab secara pribadi. Jika dilakukan dengan sombong, justru efeknya terbalik: pendosa dikuatkan dalam dosanya karena melihat kemunafikan hamba Tuhan, dan anggota jemaat berkecil hati atas kemampuannya untuk membaca Alkitab sendiri. Kelemahan membuat kita setara dengan orang-orang lemah yang lain, dan menunjukkan bahwa yang berkarya adalah Allah sendiri.

Paulus tidak hanya menyadari bahwa kelemahannya merupakan kesempatan bagi Allah. Dia juga membangun kebiasaan bermegah atas kelemahan. Dalam budaya Yunani, bermegah atas kelebihan adalah hal yang penting dalam rangka diperhatikan dan diperhitungkan. Dalam budaya Toraja, bermegah atas kelebihan dianggap sebagai perendahan orang lain yang tidak sehebat. Tetapi, dalam semua budaya itu kelemahan ditutupi. Paulus bermegah atas kelemahan sebagai disiplin rohani yang mengingatkan dia bahwa Tuhanlah yang pokok, sehingga kuasa Tuhan dapat mengalir dengan lebih lancar dalam hidupnya dan pelayanannya. Bermegah atas kelemahan bukan cara untuk menyenangkan orang lain, melainkan cara untuk tetap berguna bagi Tuhan dalam berbagai macam kesulitan.

Dipublikasi di 2 Korintus | Tag , , | 1 Komentar

Mrk 5:21-43 Yesus Pembaru Dunia [28 Jun 2015]

Kisah-kisah mukjizat Yesus sering diangkat untuk mengatakan bahwa Yesus berkuasa sekarang. Hal itu benar, tetapi dapat menimbulkan pertanyaan mengapa Yesus yang bangkit justru tidak menyembuhkan semua orang yang memohon kepada-Nya seperti yang Dia lakukan di Galilea. Ternyata kita harus memahami perikop ini dalam kerangka lebih luas.

Penggalian Teks

Ketiga pemulihan dalam Markus 5 mau memperlihatkan kuasa Yesus atas maut. Orang Gerasa yang kerasukan banyak roh tinggal di tempat pekuburan (5:2), dan dia dibebaskan dari kuasa setan-setan menjadi orang yang waras (15). Dalam perikop kita, pendarahan berkaitan dengan maut, dan cerita itu diapit oleh kisah anak perempuan dibangkitkan.

Yesus kembali dari daerah di luar Israel ke Galilea (21). Yairus, si kepala rumah ibadat (anggaplah Ketua Majelis yang bukan pendeta) datang kepada-Nya dengan sikap seperti banyak orang lainnya, yaitu tidak ada harapan lagi selain Yesus untuk anaknya yang sekarat (22–23). Perempuan itu pun demikian, para tabib tidak bisa membantu dengan pendarahannya (25–26). Beda dengan kepala rumah ibadat itu, dia tidak berani menghadap Yesus. Antara lain, pendarahannya membuatnya najis terus-menerus, sehingga dia sudah terpola untuk malu sendiri. Tetapi dia percaya bahwa akan cukup menyentuh jubah Yesus untuk pendarahannya sembuh. Dan ternyata demikian jadinya (27–29).

Yesus juga tahu bahwa ada “tenaga” (dunamis) keluar dari pada-Nya (30a). Hal itu menunjukkan bahwa perempuan itu tidak sembuh karena kuasa percaya yang ada dalam dirinya, melainkan karena kuasa dalam diri Yesus sendiri. Tetapi, adalah menarik bahwa kuasa itu keluar atas tindakan si perempuan, bukan keputusan Yesus. Malahan, Dia belum tahu kepada siapa tenaga itu pergi (30). Pertanyaan-Nya soal itu hanya menyebut sentuhan, bukan tenaga itu, tetapi Yesus tahu bahwa orang yang menyentuh-Nya itu menyentuh dengan sengaja, sehingga akan memahami maksud dari pertanyaan itu. Para murid, yang tidak tahu tentang tenaga itu, bingung, karena banyak yang menyentuh Yesus dengan tidak sengaja (31). Si perempuan ketakutan, karena usahanya untuk “mencuri” tenaga Yesus secara diam-diam terbongkar. Tetapi dia mengaku “ulahnya” dengan jujur di hadapan Yesus (32–33). Yesus justru menilainya positif: iman si perempuan telah membawa dia untuk menikmati pemulihan, dan Yesus mengucap semacam berkat atasnya (34). Tenaga Yesus keluar atas inisiatif si perempuan karena dia memiliki iman, dan Yesus tidak mempersoalkan bahwa Dia seakan-akan lepas kendali dalam peristiwa ini.

Tentunya, peristiwa itu makan waktu, karena pasti mereka berhenti selama Yesus mencari dan berbicara dengan perempuan itu. Dalam waktu itu, apa yang ditakutkan telah terjadi, anaknya Yairus telah mati. Dengan demikian, pikir orang, Yesus sudah sampai batas kemampuan-Nya untuk memulihkan (35). Yesus tidak beranggapan demikian, dan dia mengajak Yairus untuk percaya, sama seperti telah dia lihat pada perempuan itu (36). Namun, apa yang mau dilakukan Yesus itu menghebohkan, sehingga hanya sekelompok kecil yang diajak menyaksikannya (37).

Keributan duka sudah mulai, dan Yesus memberitahu mereka bahwa anaknya hanya tidur (39). Tentunya, mereka tidak percaya, tetapi Yesus masuk ke kamar anak itu berenam saja (40). Dengan tangan dan ucapan saja, Yesus membangkitkan dia (41), sehingga semua yang menyaksikannya takjub (42). Namun, Yesus berpesan supaya hal itu tidak disebarluaskan (43). Barangkali, Dia berharap bahwa orang akan menerima bahwa anak itu hanya tidur. Namun, ketiga murid-Nya sudah melihat bahwa Dia berkuasa bahkan atas maut.

Maksud bagi Pembaca

Kita diperhadapkan dengan Yesus, yang menunjukkan bentuk dunia baru yang akan bebas penyakit dan maut (dan rasa malu). Kita diajak untuk percaya kepada-Nya, baik ketika berhadapan dengan apa yang buruk sekarang, maupun untuk ikut serta melawan hal-hal itu sampai Dia datang kembali.

Makna

Apakah anak Yairus sudah menikmati hidup kekal dalam tubuh kebangkitan? Tidak, tubuhnya tetap sama, dan dia kemudian mati. Namun, ketika Yesus mengatakan bahwa anak itu tidur, kemungkinan Dia merujuk pada Dan 12:2. Ayat itu menggambarkan orang mati sebagai “tidur” saja, dan berjanji bahwa mereka akan “bangun” untuk menikmati hidup atau kehinaan kekal. Janji itu menjelaskan bagaimana orang yang mati karena setia kepada Allah (Dan 11:33–35) tetap akan menikmati kerajaan yang didatangkan Allah. Jadi, kisah anak Yairus yang “tidur” dan “bangun” itu adalah gambaran akan kebangkitan pada akhir zaman, yang dirintis oleh kebangkitan Yesus.

Kita juga bisa melihat kenajisan dari perempuan itu sebagai gambaran akan dosa. Kenajisan dalam PL menjadi kiasan tentang dosa yang mengancam hubungan Israel dengan Allah yang kudus. Perempuan yang berdarah terus akan terhambat dalam persekutuan dengan Allah melalui ritus Israel. Ucapan Yesus, “imanmu telah menyelamatkan engkau” dapat juga diterjemahkan “imanmu telah memulihkan engkau”, tetapi perempuan itu menerima lebih dari kesembuhan, dia juga dimungkinkan untuk terlibat lebih penuh dalam ibadah. Kematian Yesus melayakkan semua orang beriman untuk beribadah kepada Allah.

Pada umumnya, mukjizat Yesus memperlihatkan sifat Kerajaan Allah, dan dengan demikian memberitakan Yesus sebagai Sang Raja kerajaan itu. Kerajaan itu baru akan dinyatakan secara tuntas ketika Yesus datang kembali. Makanya, sekarang tidak semua orang yang gila dibuat waras, tidak semua orang yang mengalami penyakit jangka panjang dipulihkan. Jadi, perikop ini pertama-tama membawa kita pada pengharapan yang tertuju kepada Yesus akan hidup dalam dunia baru. Tentunya, pengharapan itu mengarahkan kita untuk dunia sekarang. Kita tahu bahwa penyakit dan maut bukan tujuan Allah bagi dunia, sehingga kita berani berdoa untuk kesembuhan, dan bekerja untuk kesembuhan orang lain. Tafsiran eskatologis (mukjizat Yesus menggambarkan dunia yang akan datang) adalah landasan untuk penerapan kuasa (mengandalkan kuasa Tuhan untuk dunia kini, seperti dalam Mazmur 30:9–13; 130) dan penerapan etis (berjuang melawan hal-hal yang dilawan Yesus). Jika kuasa diutamakan, kita beranggapan bahwa semua yang beriman akan sembuh, sehingga kita mempersalahkan iman orang yang tidak jadi sembuh. Jika etis diutamakan, kita menjadikan diri kita sebagai sarana Kerajaan Allah, bukan Yesus.

Yang menyatukan ketiga tafsiran itu ialah iman. Iman si perempuan adalah iman yang berani bergerak dalam rasa malu dan takut, dan dia diperkenan “merebut” tenaga Yesus. Iman si Yairus adalah iman yang siap melangkah walaupun secara manusiawi tidak ada harapan. Melalui iman, kita diselamatkan dari dosa, diterima ke dalam umat Allah, tubuh Kristus, dan kita akan diselamatkan dari maut dalam kebangkitan. Tentunya, iman ini berguna karena sasarannya adalah Yesus Kristus. Iman mereka berdua tidak murni, tetapi bercampur ketakutan. Tetapi karena ditujukan kepada Yesus, iman itu cukup.

Dipublikasi di Markus | Tag , | Meninggalkan komentar

Mrk 4:35-41 Memandang Yesus di tengah Badai [21 Jun 2015]

Minggu ini kita kembali ke Injil Markus selama dua minggu. Bacaan PL dan mazmur lebih banyak dicocokkan dengan bacaan Injil, dan minggu ini membantu untuk menangkap makna dari perikop ini.

Penggalian Teks

Jika Markus 1–3 memperkenalkan Yesus dan pelayanan-Nya, dan 4:1–34 ajaran-Nya, maka mulai dengan perikop ini kita melihat Yesus berfokus pada murid-murid-Nya. Pertanyaan yang muncul pada akhir perikop ini, “Siapa gerangan orang ini?”, baru dijawab oleh Petrus dalam 8:29 (“Engkaulah Mesias”), dan diperjelas dalam pp.9–16.

Dalam pp.4–8 ini, Yesus bolak-balik di danau Galilea (4:35; 5:21; 6:45; 8:13), sesuai dengan tugas-Nya untuk memberitakan Injil di berbagai tempat (1:38). Jadi, setelah selesai memberitakan Injil kepada orang di tepi danau dari dalam perahu (4:1), Dia menyuruh murid-murid-Nya untuk pergi ke tempat yang lain (35), naik perahu (36). Perintah Yesus itu ternyata “keliru”, karena mereka berhadapan dengan topan yang mengancam nyawa mereka (36). Namun, Yesus tidur (37a)! Mereka membangunkan-Nya, mungkin seperti Yunus dibangunkan, yaitu supaya Dia bisa berdoa (Yun 1:5–6). Walaupun beberapa murid-Nya adalah nelayan, tetapi mereka kewalahan dan secara spontan minta tolong kepada Yesus, tetapi dengan bujukan yang tipikal kalau sedang stres, yaitu seakan-akan Yesus sengaja tidur karena tidak peduli (37b). Yesus tidak mengucapkan doa, Dia langsung berbicara kepada angin dan danau (39). Dalam 1:25 Yesus menghardik roh jahat dan menyuruhnya diam. Pada saat itu, orang kaget akan kuasa Yesus sehingga roh-roh jahat itu taat (1:27). Di sini, Yesus menuduh murid-murid-Nya bahwa mereka kurang berani, dan hal itu menunjukkan bahwa mereka belum percaya (a.40; kata “belum” dihilangkan oleh LAI). Alasannya muncul dalam respons mereka: mereka belum memahami siapakah Yesus ini (41).

Maksud bagi Pembaca

Kita dibimbing untuk melihat bahwa Yesus melakukan apa yang dilakukan Allah, supaya di tengah topan hidup, kita percaya kepada-Nya dengan tidak takut.

Makna

Dalam Ayub 38:8–11, Allah adalah yang membatasi laut. Laut berpotensi untuk “membual” (8) sehingga perlu dihardik (“di sini gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan!”, a.11). Mazmur 107 menceritakan beberapa contoh di mana orang berseru kepada Tuhan dan dijawab; Mzm 107:23–32 menyangkut orang di laut, di mana Tuhan membuat badai diam dan laut tenang (29). Nas-nas ini dari PL menunjukkan mengapa para murid takut dan bingung, karena apa yang dilakukan Yesus adalah apa yang dilakukan oleh Allah. Markus 5–6 merujuk pada Mazmur 107 untuk tiga contoh lagi dari (Mzm 107:5 “lapar dan haus”, bdk Mk 6:30–44; Mzm 107:10 “terkurung dalam besi”, bdk. Mrk 5:1–20; Mzm 107:17–18 “sakit…pintu gerbang maut”, bdk. Mrk 5:21–43 minggu depan).

Hal itu menjawab pertanyaan Yesus: mereka takut karena mereka belum memahami siapa Yesus. Hal itu penting diamati, karena kadangkala kita mau meningkatkan kepercayaan orang dengan memompa semangat, seakan-akan iman itu buatan manusia. Cara meningkatkan kepercayaan adalah memandang kepada Yesus. Melihat siapa Yesus lebih dari sekadar memperhatikan bahwa Dia berkuasa. Kita melihat di sini bagaimana perintah Yesus justru membawa mereka ke dalam badai, dan bagaimana Dia seakan-akan berdiam diri, baru kuasa-Nya dinyatakan di ajang kebinasaan.

Pertolongan Yesus ini bukan berdasarkan kekuatan doa murid-murid, melainkan bahwa masih ada untuk mereka kerjakan bagi Allah. Iman mereka sebesar biji sesawi, tidak kelihatan (Mrk 4:31). Doa mereka yang penuh ketakutan langsung dikabulkan; doa Yesus yang penuh penyerahan diri di taman Getsemane diterima tetapi tidak dikabulkan. Ada kalanya Allah akan menunjukkan kuasa-Nya di balik maut, yaitu pada hari kebangkitan (lihat minggu depan).

Dipublikasi di Markus | Tag | Meninggalkan komentar

2 Kor 5:11-21 Kristus dasar pelayanan [14 Jun 2015]

Tulisan Paulus itu ringkas dan padat. Suatu tafsiran berhasil kalau kita mulai menangkap mengapa Paulus menulis seperti ini, dan lebih lagi kalau kita mulai menangkap suatu relevansi untuk kita. Semoga tulisan ini membantu untuk kedua-duanya.

Penggalian Teks

Dalam 2 Kor 2–7, Paulus menjelaskan pelayanannya kepada jemaat di Korintus yang diresahkan oleh pengajar-pengajar lain. Pada setiap tahap dalam penguraiannya, dia mendasarkan pelayanannya pada Kristus. Kemuliaan pelayanan di dalam Kristus ialah hati jemaat yang diubah oleh Roh Kudus (p.3). Dengan mengejar kemuliaan itu, Paulus dimampukan untuk melayani dengan integritas, terutama bahwa pelayanannya mengikuti pola Kristus, yaitu kuasa kebangkitan yang dilihat justru di tengah kesusahan (p.4). Hal itu dilakukan dalam pengharapan akan kebangkitan, termasuk bahwa dia dan orang-orang yang kepadanya dia memberitakan Injil harus menghadap takhta pengadilan Kristus (5:10). Perikop kita menyoroti karya Kristus yang mendamaikan, sebagai dasar untuk mendorong jemaat didamaikan dengan Allah. Paulus kembali menekankan penderitaannya sebagai bukti kesejatian pelayananya (6:1–10), sebelum dia memohon mereka berdamai dengan dia, dan membantu proses itu dengan merefleksikan peristiwa yang memicu masalah di antara mereka (6:11–7:16).

Dalam aa.11–12 Paulus mengingatkan mereka akan tujuannya dalam menulis surat, yaitu supaya mereka mengerti pelayanannya yang tampak kurang keren, dan mulai memegahkannya karena memahami dasarnya dalam Kristus. Dia digerakkan oleh kepentingan Allah (a.13, “demi Allah”) dan kepentingan jemaat (“demi kamu”). Kepentingan Allah membuat Paulus bertindak di luar batas, termasuk hal-hal yang sama sekali tidak keren seperti siap menderita dan dihina sama seperti Kristus. Tetapi Paulus membatasi tingkah lakunya supaya pelayanannya menjadi bermanfaat bagi jemaat.

Ayat-ayat berikut menjelaskan kedua segi itu (“dalam pelayanan Allah”/“untuk kepentingan kamu”). Kedua motivasi itu diringkas sebagai “kasih Kristus” yang dilihat dalam kematian-Nya (14). Frase itu bisa merujuk pada kasih Paulus kepada Kristus yang karya-Nya begitu mulia: oleh karena Paulus asyik dengan Kristus maka dia melayani Allah. Frase itu juga bisa merujuk pada kasih Kristus bagi manusia dalam kematian-Nya. Yang disoroti di sini bukan kerelaan Kristus untuk menderita, melainkan hasilnya. Jika kita membandingkan aa.14–15 di sini dengan Rom 6:1–10 atau Ef 2:4–10, Paulus melihat bahwa semua orang percaya ada di dalam Kristus, sehingga kita ikut serta dalam kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, kita telah mati terhadap dosa sehingga kita dimungkinkan untuk hidup bagi Kristus (15).

Pemahaman itu telah membawa Paulus kepada revolusi dalam cara dia melihat sesama manusia (16). Setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru (17). Dengan kata lain, hidup bagi Kristus yang dimungkinkan oleh kematian-Nya adalah partisipasi dalam rencana Allah akan pembaruan dunia yang dirintis oleh kebangkitan Kristus. Kita bisa melihat bahwa cakrawala Paulus luas sekali, dan kerangka itu yang menguasai imajinasinya sehingga dia begitu giat bagi Kristus.

Dalam aa.18–21 dia bertahap-tahap menjelaskan inti dari proses pembaruan itu, yaitu pendamaian manusia dengan Allah. Kristus telah menjadi perantara pendamaian itu, dan Paulus telah dipercayakan dengan pelayanan pendamaian itu (18). Di dalam Kristus, Allah telah membereskan apa yang menjadi halangan dari pihak Allah, yaitu pelanggaran kita (19a). Hal itu adalah sesuatu yang perlu diberitakan (19b), supaya manusia berdosa memahami bahwa kemungkinan untuk pendamaian itu ada, dan menerima ajakan yang berasal dari Allah sendiri untuk melepaskan halangan di dalam diri mereka untuk didamaikan dengan Allah (20). Akhirnya, Paulus menjelaskan bagaimana pelanggaran kita tidak diperhitungkan: Kristus menjadi dosa dengan menanggung dosa kita sehingga dosa kita dihukum di dalam-Nya pada salib (21a). Oleh karena itu, kita dibebaskan dari hukuman Allah; kita diterima Allah sebagai orang-orang benar, sebagai bagian dari solusi Allah. Semuanya itu terjadi “di dalam Kristus”, karena kita mati dan bangkit bersama dengan Dia oleh iman, dan kita hidup bagi Dia.

Harapan Paulus bahwa jemaat di Korintus menerima pendamaian dari Allah, sehingga menilai pelayanan Paulus menurut ukuran Kristus, bukan menurut ukuran manusia. Dengan demikian, status mereka sebagai ciptaan baru akan makin terwujud.

Maksud bagi Pembaca

Kristus yang mati dan bangkit adalah dasar pelayanan dan perubahan di dalam jemaat. Aa.11–13 merupakan tantangan Paulus bagi jemaat: pelayan seperti apa yang akan mereka banggakan? Aa.14–17 menjelaskan kasih Kristus yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya membuat kita ciptaan baru, sehingga kita menilai orang sama seperti Kristus: mampu melihat kemuliaan di dalam Mesias yang disalibkan; mampu melihat ciptaan baru di dalam manusia yang bobrok. Aa.18–21 merupakan implikasi: pelayanan yang memberitakan pendamaian mengajak semua orang untuk memberi diri didamaikan dengan Allah.

Makna

Kata “mitos” dipakai untuk berbicara tentang kisah agung yang mendasari cara hidup sebuah masyarakat. Orang Toraja tempo dulu diarahkan dalam kehidupan sehari-hari oleh tujuan untuk membawa hormat bagi keluarga dengan upacara mati yang baik. Dengan demikian, mereka bisa menjadi leluhur ilahi yang membawa berkat bagi keturunannya. Oleh karena itu, mereka akan rajin dengan tuntutan adat, menjaga keharmonisan, dan lain sebagainya. Ketika mitos itu pudar, bawa-membawa hewan, mengalah, dan hal-hal yang lain yang memelihara relasi itu direduksi menjadi hitung-menghitung keuntungan pribadi.

Gereja modern itu seringkali lemah karena Injil tidak menjadi “mitos” bagi anggotanya. Bagi Paulus, kebangkitan Kristus yang dipahami dalam terang firman Allah (yakni PL) menyatakan rencana Allah bagi dunia. PL menyatakan bahwa Allah berkerja untuk memperbaharui dunia melalui keturunan Abraham. Dalam Kristus, keturunan itu dibuka bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Makanya, siapa yang ada di dalam Kristus itu adalah ciptaan baru, bagian dari masa depan dunia dalam rencana Allah. Injil adalah berita tentang Kristus, tetapi mengandaikan Kisah Agung Alkitab dari penciptaan sampai pada dunia baru. Inti masalah yang harus diatasi dalam Kisah Agung itu dinyatakan dalam PL sebagai pelanggaran yang memisahkan kita dari Allah. Dalam Kristus, pelanggaran itu tidak diperhitungkan lagi, sehingga kita dapat diterima oleh Allah, dan diajak untuk menerima Allah. Kerangka itulah yang telah kita lihat dalam perikop ini (dilengkapi sedikit dari konteks lebih luas), dan yang menggerakkan Paulus.

Jika Injil itu tidak menjadi mitos yang mengarahkan anggota jemaat, maka agama Kristen menjadi kerdil. Kebaikan Allah direduksi menjadi keprihatinan ilahi tentang saya—yang penting bagi Allah ialah bahwa saya sehat, saya berulang tahun, saya lulus ujian, dsb. Gereja seperti itu tetap menilai orang menurut ukuran manusia, bukan ukuran ciptaan baru. Majelis menyenangkan jemaat, bukan Allah; jemaat tidak berminat untuk bermisi; cekcok merajalela karena tidak ada tujuan bersama—setiap anggota punya tujuan masing-masing, yaitu dirinya sendiri.

Paulus menghadapi gejela-gejala seperti itu dalam jemaat di Korintus dengan mengingatkan mereka tentang karya Kristus. Dia menekankan pendamaian dengan Allah. Pendamaian menyangkut dua pihak. Yang pertama ialah Allah, yang menjauh dari dosa. Orang-orang yang sadar akan hal itu merasa tidak layak di hadapan Allah, tetapi Injil menyatakan bahwa pelanggaran kita tidak diperhitungkan lagi, bahwa Allah siap menerima kita karena Kristus! Bukan hanya itu, Allah siap untuk menciptakan kita kembali di dalam Kristus, membentuk kita perlahan-lahan menjadi manusia baru, yang mampu hidup layak bagi Dia yang mati dan bangkit untuk kita. Kita menjadi bagian dari rencana Allah yang jauh lebih mulia dari apa yang ditawarkan dunia, sehingga kita tidak lagi terpukau oleh orang yang kaya, berkedudukan, atau sukses secara duniawi.

Pihak kedua dalam pendamaian itu adalah manusia. Dalam a.20b, “berilah dirimu didamaikan” sebenarnya adalah bentuk pasif, “Didamaikanlah”. Paulus tidak mengatakan, “damaikanlah Allah dengan dirimu”, seakan-akan persembahan atau amal dapat melunakkan hati Allah. Allah yang berinisiatif mendamaikan kita, dan kita tinggal melepaskan kendala untuk menerima pendamaian itu. Satu kendala ialah rasa dihakimi oleh Allah karena kebiasaan buruk yang tidak mau ditinggalkan, yang bahkan bisa muncul dalam bentuk kemarahan kepada Allah, atau kepada manusia yang mengungkitnya. Dan memang, didamaikan itu menyiratkan bahwa saya menerima: penilaian Allah tentang apa yang baik dan benar; bahwa saya adalah pelanggar yang layak dihukum; dan bahwa saya tidak berdaya untuk memberbaiki diri sendiri dan hanya bisa mengandalkan kematian Kristus. Satu kendala lagi ialah rasa kecewa karena suatu pengalaman pahit yang diizinkan Allah terjadi pada diri saya. Didamaikan itu berarti bahwa saya menerima kebangkitan Kristus sebagai pengharapan yang sejati dalam kekecewaan saya. Jadi, memberi diri didamaikan adalah satu cara untuk menjelaskan pertobatan. Pertobatan bukan sekadar bahwa beberapa kebiasaan buruk ditinggalkan, tetapi bahwa orientasi hidup saya berubah total karena kematian dan kebangkitan Kristus menjadi pokok dalam imajinasi saya. Hal itu tidak terjadi seketika; menjadi ciptaan baru adalah status dalam Kristus yang berangsur-angsur berwujud dalam kehidupan kita, dan kendala-kendala itu harus terus-menerus dilawan dengan kasih Kristus. Tetapi, ketika proses itu berjalan di dalam jemaat, mitos Injil mulai menentukan etosnya.

Dipublikasi di 2 Korintus | Tag , , | Meninggalkan komentar