Amos 6:1-7 “Merasa Aman tetapi Hidup Mewah” [25 Sep 2016]

Penggalian Teks

Amos adalah orang dari kerajaan selatan, biasanya disebut Yehudah (terdiri atas bani Yehuda dan Benyamin), yang berkhotbah kepada kerajaan utara, biasanya disebut Israel (terdiri atas kesepuluh bani yang lain), mungkin 30–40 tahun sebelum kerajaan utara dihancurkan oleh orang Asyur (722 SM). Zaman raja Uzia di Yehuda dan raja Yerobeam di Israel menjadi masa yang makmur, karena politik internasional relatif damai mengurangi kerugian perang dan menambahkan keuntungan perdagangan. Masalahnya, kemakmuran itu diiringi dengan ibadah kepada ilah-ilah asing yang membenarkan kemerosotan moral, termasuk pemerasan orang miskin oleh kaum atas.

Perikop kita meyoroti kaum atas itu, baik dari Yehuda (Sion) maupun Israel (Samaria). Mereka adalah orang terkemuka dari bangsa yang pada saat itu berjaya di antara bangsa-bangsa yang lain. Mereka merasa aman, tetapi Amos berseru “Celaka!” atas diri mereka (1–2). Mereka merasa jauh dari malapetaka, tetapi Amos memanggil mereka (“Hai kamu”) untuk memahami rusaknya hidup mereka (3–6) dan menyatakan isi dari kecelakaan mereka, yakni pembuangan (7).

Rasa aman diangkat dalam a.1, dan a.2 menyampaikan beberapa contoh kota yang pernah seteguh Israel, tetapi sekarang tidak berjaya lagi. Contoh-contohnya adalah kota-kota yang ditaklukkan oleh Israel dan Yehuda. Yang mereka menganggap sebagai bukit kejayaan mereka semestinya dilihat sebagai peringatan. Aa.4–6a menggambarkan kemewahan mereka: gading adalah bahan yang sangat mahal untuk sebuah tempat tidur; mereka dapat makan daging terus-menerus; hari-hari mereka dihabiskan dengan rekreasi; dan bahkan minyak yang dipakai untuk mencuci rambut itu yang paling mahal. Hanya, kemewahan itu adalah akibat dari pemerintahan kekerasan, bukan pertanda perkenan Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya lebih cocok minyak itu dipahami dalam rangka berduka atas “hancurnya keturunan Yusuf” (6b), kehancuran yang sedang terjadi secara rohani, dan akan bermuara pada kehancuran negara (7).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah akan menjungkirbalikkan keadaan orang percaya yang merasa aman dan hidup mewah sementara orang yang semasyarakat (satu sistem sosial) dengan mereka terjebak dalam keterpurukan.

Makna

Apakah ucapan Amos, “pemerintahan kekerasan”, akan diterima oleh para pembesar Israel? Apakah semua yang hidup mewah itu terlibat aktif dalam merampas orang kecil? Bukankah kemewahan mereka adalah berkat Tuhan untuk disyukuri? Dalam konteks kita sekarang, Amos justru akan dituduh “menghakimi”, mengenakan penilaian yang jelek terhadap motivasi semua orang kaya itu, padahal hanya Tuhan yang tahu hatinya. Tetapi tuduhan Allah melalui Amos bukan tentang hati, tetapi tentang sistem kuasa yang membenarkan diri dengan teologi semu, dan membius dengan kemewahan anggota-anggota kaum atas terhadap penderitaan kaum bawah. Lihat saja murka yang merasa diri sangat benar yang keluar dari para pembesar yang kepetingannya ditusuk oleh seorang seperti Ahok.

Namun, Amos tidak menuduh bangsa-bangsa di sekitarnya karena tidak adil; dalam pp.1–2, Allah menuduh bangsa-bangsa karena kejahatan yang berlebihan. Melalui Amos, Allah menuduh umat-Nya sendiri yang sudah memiliki hukum Taurat yang menuntut keadilan bagi seluruh umat, yang kecil maupun yang besar. Apakah gereja sebagai umat Tuhan sekarang luput dari tuduhan Amos? Budaya amplop yang berkembang di gereja sepertinya memiliki fungsi yang sama — atau memang amplop itu biasanya diberikan kepada kaum bawah, bukan kepada yang sudah memegang kuasa dalam jemaat dan masyarakat? Hati kita tenang-tenang saja karena semua dibenarkan oleh sistem yang berlaku, tetapi sistem itu yang menempatkan Tuhan di bawah uang, dan sistem itu yang membawa kita kepada kehancuran. Mungkin saja kita menganggap bahwa gereja lagi berjaya, sementara kita buta akan dorongan ilah lain (uang) yang sebenarnya menentukan apa yang kita lakukan.

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus ternyata dalam kondisi itu: dia merasa nyaman karena tidak pernah memperhatikan Lazarus yang miskin, tetapi akhir dari kehidupannya yang mewah itu neraka (Luk 16:19–31). Nasihat Paulus kepada orang kaya melanjutkan kedua aspek utama dari pemberitaan Amos: pengandalan Allah (1 Tim 6:17), dan penggunaan uang untuk kebajikan bagi sesama (1 Tim 6:18). Tentunya, dosa-dosa itu ikut ditanggung Yesus pada salib, sehingga bahkan seorang Zakheus dapat menikmati keselamatan (Luk 19:1–10). Tetapi Zakheus pun mendukung apa yang dikatakan Paulus: pengeluaran uang demi sesama adalah bukti utama bahwa kita mengandalkan Allah, bukan rasa aman dalam hati nurani.

Dipublikasi di Amos | Tag , , | Meninggalkan komentar

1 Timotius 2:1-7 “Doa untuk keselamatan semua orang” [18 Sep 2016]

Penggalian Teks

Perikop ini adalah nasihat pertama yang Paulus mau disampaikan Timotius sebagai dasar yang akan mencegah ajaran yang sesat yang dibahas dalam p.1. Sesuai dengan kesaksiannya Paulus menginginkan doa untuk keselamatan semua orang

Aa.1–2 mengusulkan doa dan syukur untuk semua orang dan untuk para pembesar. Soal doa untuk semua orang dilanjutkan dalam a.4. Soal doa untuk para pembesar menyebutkan tugas pemerintahan untuk menciptakan “hidup tenang dan tenteram” demi kesejahteraan masyarakat. Tetapi Paulus mengangkat tujuan yang lebih tajam, yaitu kesalehan dan cara hidup yang menonjol. Kesalehan itu memang berkenan di hadapan Allah (a.3), tetapi dengan menyebut Allah sebagai Juruselamat, Paulus memperluas cakrawala. Semua orang yang didoakan itu juga mau diselamatkan oleh Allah (a.4). Jadi, kesalehan itu juga penting dalam rangka mendukung tujuan Allah itu.

Aa.5–6 memperjelas kehendak Allah untuk menyelamatkan semua orang. Karena Allah itu esa, maka semua orang menjadi urusan-Nya. Cara Allah menyelamatkan semua orang itu dilaksanakan di dalam Yesus sebagai satu-satunya pengantara. Yesus menjadi pengantara antara Allah dan manusia sebagai manusia yang menyerahkan diri-Nya pada salib. Itulah inti berita yang muncul pada saatnya dalam rencana Allah.

Bagaimana berita itu sampai kepada semua orang? Paulus ditetapkan sebagai pemberita, utusan, dan pengajar, justru kepada semua orang (kecuali orang Yahudi yang memiliki rasul-rasul yang lain). Kata “pemberita” dan “rasul” sering dipakai untuk orang yang membawa berita yang penting bagi kerajaan. Jika Kaisar sering diberitakan sebagai juruselamat (soter), Paulus menjadi utusan Allah untuk memberitakan keselamatan yang sebenarnya, yang diadakan di dalam Yesus Kristus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dasar untuk jemaat yang sehat ialah kebenaran bahwa Allah mau menyelamatkan semua orang di dalam Yesus Kristus. Kita diajak untuk mendoakan semua orang supaya selamat, termasuk mendoakan pemerintah supaya kesaksian hidup kita tampak, dan untuk mendukung orang-orang yang diutus sebagai pemberita Injil.

Makna

Paulus menulis untuk jemaat yang percaya kepada Kristus, sama seperti kita. Allah masih mau supaya semua orang mengenal kebenaran melalui cara hidup jemaat dan pemberitaan Yesus Kristus. Dalam konteks kita, ada beberapa penekanan yang bisa diusulkan.

Hampir semua manusia rindu hidup tenang dan tenteram, tetapi jika terjadi, tidak semua mau hidup saleh. Allah memberi kita konteks sosial yang relatif tenang supaya kita bisa menunjukkan cara hidup yang sesuai dengan orang yang ditebus oleh Kristus. Dalam konteks kita, kita menunjukkan bahwa Kristus lebih utama dari uang, rumah yang besar, dan upacara yang mewah.

Kemauan Allah supaya semua diselamatkan diwujudkan melalui tebusan Yesus Kristus. Ada penelitian yang mengungkapkan bahwa banyak anggota jemaat tidak memikirkan Kristus ketika mereka jatuh ke dalam dosa. Sepertinya, mereka berharap pada kemurahan Allah, bukan pada pengorbanan Kristus. Kemurahan Allah yang dipahami secara umum saja itu dasar lemah untuk iman, harapan “mudah-mudahan”. Sementara kematian Kristus adalah dasar yang kuat untuk mengimani kemurahan Allah. Setiap kali ada perikop yang berbicara tentang karya Kristus, hal itu semestinya mendapat sorotan dalam pemberitaan kita.

Apa makna sekarang bahwa Paulus ditetapkan sebagai pemberita dan rasul? Jelas tidak semua jemaat menjadi rasul. Bagi kita, aspek itu mendorong kita untuk menghargai pemberitaan Paulus yang dituangkan dalam surat-suratnya. PB adalah sumber utama untuk mendapatkan kesaksian tentang Kristus. Juga, tidak semua jemaat menjadi pemberita kepada bangsa-bangsa, alias zending. Tetapi jemaat yang hidup saleh akan mendapat kesempatan untuk berbicara tentang tebusan Kristus itu.

Dipublikasi di 1 Timotius | Tag , | Meninggalkan komentar

1 Timotius 1:12-17 “Anugerah bagi manusia yang tidak layak” [11 Sep 2016]

Penggalian Teks

Paulus menulis surat untuk menguatkan Timotius dalam tugas berat untuk menangani ajaran sesat di Efesus (1:3), sesuatu yang sudah dinubuatkan Paulus sendiri ketika dia bertemu dengan para penatua jemaat (Kis 20:25–35; banyak tema dalam ucapan Paulus yang juga muncul dalam 1 Timotius). Paulus mengungkapkan akar masalah dalam 1:3b–4: ajaran yang tidak bermuara pada hidup yang tertib berdasarkan iman. Hidup itu berpola kasih yang dipelajari dari Injil (1:7, 10b–11), bukan berpola ketaatan kepada Taurat sebagai hukum positif, walaupun Taurat tetap berfungsi untuk memberitahu orang berdosa di mana hidup mereka melanggar kasih itu (1:9–10a). Perikop kita menyampaikan sifat Injil itu sebagai anugerah melalui pengalaman Paulus sendiri. Paulus kemudian menegaskan bahwa Timotius harus menunaikan tugas itu dengan cara yang juga Injili (“dengan iman dan hati nurani yang murni”, 1:18–20).

Kata “anugerah” dalam bahasa Indonesia berarti pemberian dari “pihak atas … kepada pihak bawah” (KBBI). Kata kharis dalam bahasa Yunani mempunyai inti makna yang sama. Dalam budaya Yunani, pemberian yang demikian dianggap mengungkapkan sikap berkenan, dan semestinya dibalas paling sedikit dengan rasa syukur. Jadi, kata kharis dipakai juga untuk sikap yang berkenan itu (yaitu, “kasih karunia” dalam terjemahan LAI), serta ucapan syukur itu. Dalam a.12, “Aku bersyukur” secara harfiah berbunyi “Aku memiliki kharis”; cara mengucap syukur dalam bahasa Yunani itu adalah dengan mengaku sebagai penerima sebuah anugerah, dalam hal ini, sebuah pemberian dari Allah yang merupakan pihak paling atas.

Pemberian dari Allah itu memiliki beberapa aspek. Kristus Yesus menguatkan Paulus, menghargai Paulus (“menganggap setia”), dan melibatkan Paulus dalam urusan-Nya (12). Paulus dikasihani sebagai orang yang tidak berdaya keluar dari kesalahannya karena tidak beriman (a.13b; ketidaktahuan tidak membuat dosa Paulus ringan saja, tetapi membuat Paulus tidak mampu menyelematkan dirinya), dan dibekali dengan apa yang dibutuhkan untuk tugasnya, yaitu iman dan kasih (14). Penghargaan, pengasihan, dan pembekalan semuanya termasuk dalam anugerah. Sama seperti dalam budaya Yunani (dan kita), anugerah Allah menciptakan relasi timbal-balik yang menuntut kesetiaan dari yang di bawah dan pembekalan dari yang di atas.

Yang khas dengan anugerah Allah ialah bahwa anugerah itu diberikan kepada “seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas” (13). Pada umumnya, para pembesar memberikan anugerah kepada orang yang tidak berdaya tetapi ada layaknya sedikit, entah potensi, entah penyesalan, entah usaha sendiri. Allah memberikan anugerah iman dan kasih kepada seorang musuh yang bukan hanya tidak layak melainkan selayaknya dihukum dan dibinasakan. Anugerah yang melawan kelayakan itu menjadi penegasan Paulus dalam aa.15–16. Kristus Yesus datang justru untuk orang berdosa (15), dan sebagai orang yang paling berdosa Paulus menjadi contoh akan kesabaran Kristus bagi semua orang berdosa selanjutnya yang akan percaya dan menerima hidup kekal sebagai anugerah pengganti hukuman kekal.

Pujian Paulus dalam a.17 juga menjadi contoh untuk kita ikuti. Allah dipuji sebagai Allah yang terlibat sebagai Raja dalam segala zaman ciptaan-Nya, dari penciptaan awal sampai penciptaan baru. Sebagai Raja, Dia telah berkenan menyelematkan para pemberontak seperti Paulus dan manusia berdosa lainnya. Pada saat yang sama, Dia adalah Allah yang transenden, yang tidak kelihatan dan tidak terkurung oleh waktu (“kekal”), satu-satunya Allah yang layak disembah. Tanpa transendensi itu, Allah akan kurang mampu membekali kita; tanpa keterlibatan-Nya sebagai Raja yang penuh kasih karunia, kebesaran Allah mengancam, bukan membawa pengharapan. Respons kita di sini adalah hormat dan kemuliaan. Karena Allah adalah sumber anugerah hidup, pengampunan, dan hidup baru, kita memberi Dia hormat di atas segala sumber hidup yang lain (seperti pemerintah atau keluarga). Karena Allah itu Raja yang kasih-Nya dan kuasa-Nya tiada taranya, kita terpesona dengan kemuliaan-Nya di atas semua yang lain yang mempesona (seperti upacara keluarga besar atau upacara pemerintahan yang ramai dan gemilang). Dengan demikian, iman yang dicetus oleh anugerah bermuara pada hidup tertib yang berpola kasih.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Paulus menggambarkan anugerah Allah dalam hidupnya sebagai hal yang tidak hanya melibatkan dan memberdayakannya, tetapi juga diberikan kepadanya padahal dia layak dihukum. Ajaran itu yang menjadi dasar hidup beriman, dan Paulus mau membawa kita untuk menghormati dan memuliakan Allah di atas segala pemberi yang lain.

Makna

Kedua bacaan PL menyoroti ketidakberdayaan manusia untuk keluar dari dosa. Israel sebagai bangsa segera membuat berhala ketika Musa naik ke gunung (Kel 32), dan bahkan Daud sebagai raja yang berkenan di hadapan Allah melanggar dengan berat (Mzm 51). Dalam Kel 32:7–14, Musa mengingatkan Allah akan tujuan-Nya untuk menyelamatkan Israel, dan pengharapan akan pengampunan menjadi dasar doa Daud itu (Mzm 51:9). Pergaulan Yesus dengan orang-orang berdosa juga menunjukkan bagaimana Allah mau menawarkan anugerah kepada orang yang sama sekali tidak layak (Luk 15:1–10).

Dunia Barat menjadi bingung tentang anugerah ketika ajaran sola gratia dari Reformasi dipertajam pada arah yang keliru secara teologis oleh filsuf Imanuel Kant (atau para penerusnya selanjutnya; saya bukan ahli tentang Kant sendiri). Dia menekankan bahwa sebuah tindakan baru etis ketika dimotivasi oleh kebaikan dari tindakan itu sendiri, bukan karena kebiasaan saja atau karena ada sesuatu yang diharapkan di dalamnya. Ditafsir secara ekstrim, seseorang semestinya bertindak sekarang lepas dari kisah hubungannya dengan orang lain: dia tidak membalas kejahatan dan tidak membalas budi baik; juga dia tidak mengharapkan balas budi dari penerima tindakannya. Dengan demikian, muncullah individu yang serba otonom, bukan manusia yang berada dalam jaringan relasi.

Ketika konsep itu diterapkan kepada Allah, Allah tidak lagi mengharapkan pertobatan manusia sebagai balas budi kasih Kristus pada salib yang mengharukan itu; Kant memang jauh lebih menekankan Allah sebagai penunjuk jalan yang diikuti oleh manusia yang berasio. Dengan demikian, muncullah anugerah murahan; pemberian Allah mau diterima tetapi relasi dengan Allah ditolak. (Itulah salah satu penyebab kristen KTP.) Tetapi kita sudah melihat bahwa anugerah Allah disertai kerinduan Allah yang besar, yaitu hidup manusia yang tertib berdasarkan iman (1 Tim 1:4), awal dari hidup yang kekal (16).

Pertobatan bisa dipahami sebagai kesadaran bahwa kerinduan Allah itu bukan pamrih, seakan-akan kita rugi jika pengharapan Allah akan pembaruan kita dipenuhi, melainkan pengharapan kita juga. Memberi hormat dan kemuliaan kepada Allah adalah pertanda bahwa kita sudah menangkap anugerah Allah kepada kita dalam semua aspeknya.

Dipublikasi di 1 Timotius | Tag | Meninggalkan komentar

Amsal 25:1-7 Berdiri di tempat hina Raja Yesus [28 Ag 2016]

Penggalian Teks

A.1 menjadi judul pada koleksi amsal yang ditambahkan pada pp.10–24 pada zaman raja Hizkia. Aa.2–7 berbicara tentang raja-raja: aa.2–3 tentang rahasia hati raja; aa.4–5 tentang orang fasik sebagai sanga (campuran yang mengurangi kemurnian logam); aa.6–7 tentang hormat sebagai sesuatu yang diterima, bukan diraih.

Dalam aa.2–3, ada perbandingan antara Allah dan raja-raja. Ams 24:21–22 menyamakan kedua pihak itu sebagai yang berkuasa mutlak atas kehidupan manusia sehingga perlu disegani dan ditaati. Tetapi a.2 membedakannya. Allah adalah Raja yang menciptakan seluruh Kerajaan-Nya, dan Dia dikagumi karena atas kemauan-Nya saja Dia merahasiakan atau menyatakan hal-hal itu kepada manusia. Itulah kemuliaan Allah yang berdaulat mutlak. Sebaliknya, raja-raja di bumi adalah manusia saja. Raja manusiawi juga harus mengenal kerajaannya, tetapi hal itu menuntut penyelidikan kuat. Mereka dimuliakan ketika mampu mengungkapkan atau membongkar hal-hal yang tersembunyi. Hikmat Salomo adalah contoh baik dari usaha untuk mengungkapkan hal-hal yang dirahasiakan Allah dalam tatanan ciptaan-Nya. A.5 menyebutkan kefasikan orang-orang tertentu sebagai sesuatu yang perlu dibongkar supaya disisihkan. Dengan demikian, raja jauh di bawah Allah. Tetapi, dilihat dari perspektif masyarakat, hati raja manusiawi tetap tidak terduga, sama seperti hati Allah (a.3).

Aa.4–7 berbicara tentang istana, tentang orang-orang di sekitar raja (bangsawan, penasihat) yang berpengaruh pada kebijakan raja dan bersaing untuk kemuliaan yang terpusat pada raja (aa.2–3). Bisa saja niat raja untuk memerintah dengan adil (“kebenaran”) dibelokkan oleh penasihat yang mencari kepentingan yang sempit (5). Hal itu melemahkan takhta raja sama seperti kecemaran merusak keindahan perak (4). Dengan demikian, kemuliaan raja dinodai.

Kemuliaan raja terpencar kepada orang-orang di sekitarnya, dan hal itu tergambar dengan posisi orang ketika ada pertemuan atau kumpulan orang. Hal itu muncul karena kedekatan secara jasmani memberi kesempatan untuk memohon atau memberi nasihat, dan juga untuk membunuh. Jadi, kedekatan menjadi tanda kepercayaan oleh raja dan pengaruh terhadap raja. Karena raja adalah mulia (pusat kerajaan), maka kedekatan itu menandakan kedudukan atau status. Aa.6–7 seakan-akan memberi nasihat bagi seseorang yang baru muncul dalam pertemuan di istana. Kata “berlagak” berasal dari kata yang berarti “memberi hormat” (hadar), dalam bentuk yang di sini menunjukkan bahwa hormat itu diberi kepada diri sendiri (hitpael). Jadi, dari dua artian kata “berlagak” dalam KBBI, yang dimaksud oleh LAI ialah “menyombongkan diri”, bukan “berpura-pura”. Dengan mengambil posisi yang dekat raja, orangnya mengaku memiliki kedudukan tertentu (6). Taktik itu bisa saja berhasil dalam konteks tertentu, tetapi di hadapan raja yang adil dan mampu menyelidiki sesuatu, orang yang tidak menyodorkan diri akan dihormati (“naiklah ke mari”), dan pelagak akan direndahkan (7). Raja yang mulia mengatur kehormatan orang di bawah dengan baik; warganya yang baik siap menerima keputusannya, walaupun keputusan itu tidak terduga (3).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Raja semestinya mengatur kerajaannya supaya hormat diberikan kepada orang secara adil. Oleh karena itu, cara terhormat untuk dihormati raja adalah mengambil tempat yang rendah dan percaya kepada raja untuk ditinggikan. Hal itu berlaku lebih lagi untuk Tuhan sebagai Raja; dan lebih lagi pula ketika Raja itu mati hina pada salib.

Makna

Mazmur 112 memuji Tuhan karena Dia membagikan hormat kepada orang yang benar dan menyisihkan orang fasik. Yesus juga berbicara tentang Kerajaan Allah dalam Lukas 14:7–14. Dia berbicara dalam konteks persaingan hormat di depan sesama orang berada, bukan di hadapan raja. Yang diperebutkan bukan berkat dari atas (raja) melainkan pengakuan yang menentukan dalam timbal-balik (balas-membalas) kehidupan sosial. Nasihat Yesus dalam 14:11 mengingatkan kita akan nasihat Ams 25:7 tadi, bahwa merendahkan diri adalah jalan menuju hormat yang sejati. Tetapi dalam 14:12–14, Yesus membawa kita kembali ke Raja ilahi yang dapat membangkitkan orang mati. Menghormati orang tersisih akan mendapatkan kehormatan dari Allah. Kita memiliki pilihan: mengejar pembalasan dari sesama manusia dengan memandang muka, atau mengejar pembalasan dari Tuhan dengan menghormati orang yang tidak akan menguntungkan kita dalam dunia ini (14:15–24). Pilihan itu dipertajam ketika Yesus bergabung dengan orang tersisih dan terhina dengan mati pada salib. Menurut Ibr 13:12–14, mencari hormat dari Kristus berarti menanggung kehinaan-Nya.

Amsal 25:1–7 tetap merupakan nasihat yang berguna tentang masalah menyombongkan diri. Orang fasik mencari kedudukan yang lebih untuk menjalankan kefasikannya, tetapi orang benar menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Tetapi di hapadan Raja Yesus, semua itu memiliki makna yang dalam: kita siap menanggung kehinaan Kristus di luar perkemahan. PNS siap dihina karena berlaku adil; Ambe’ Tondok siap dihina karena melayani kepentingan orang rendah; pendeta siap dihina karena memanggil orang besar juga untuk bertobat; ibu siap dihina karena mengarahkan anak-anaknya ke Sekolah Minggu daripada pergi ke tempat judi. Semuanya berharap pertama-tama kepada Kristus sebagai Raja, sehingga tidak bergantung pada pembalasan dari manusia.

Dipublikasi di Amsal | Tag , | 1 Komentar

Lukas 6:43-45 Hati yang berbuah [14 Ag 2016]

Perikop minggu ini hanya terdiri atas tiga ayat, dan ketiga ayat itu mirip saja dengan klise yang lazim pada zaman Yesus sampai sekarang. Untuk dimaknai, kita harus melihatnya dalam konteks lebih luas, yaitu dalam alur khotbah yang disampaikan Yesus, dan visi Kerajaan Allah yang Dia perlihatkan.

Penggalian Teks

Luk 6:20–49 adalah versi Lukas akan khotbah di bukit dari Matius 5–7. Aa.20–26 mencirikan murid-murid Yesus sebagai kelompok yang memilih kesusahan dalam kesetiaan sekarang ketimbang kenikmatan duniawi (bdk. Ibr 11:1–16 minggu yang lalu). Nasihat Yesus yang tidak masuk akal duniawi itu dilanjutkan dengan mengatakan bahwa murid Yesus akan melampaui timbal-balik yang mencirikan relasi manusia dengan berbuat baik dan bermurah hati bahkan kepada musuh dan orang yang tidak bisa membalas budi kita (6:27–38).

Mulai a.39, fokus Yesus adalah cara komunitas murid-murid bisa menuju pola hidup Yesus itu. Dasarnya adalah belajar dengan rendah hati dari Yesus Sang Guru (6:39–40); tujuannya ialah tingkah laku sesuai dengan ajaran Yesus itu sehingga hidup kita sungguh kukuh (6:46–49). Halangannya ialah kemunafikan yang muncul dalam kecaman kepada sesama tentang hal-hal kecil, sementara si pengkritik sendiri gagal dalam hal-hal besar, terutama kasih yang melampaui hukum timbal-balik itu. Untuk bisa berubah, murid-murid Yesus harus mampu untuk mengakui kesalahan, bahkan kegagalan, diri sebelum mengoreksi sesama (6:41–42). Perikop kita (aa.43–45) menjadi peringatan tentang cara berkata yang demikian: menjatuhkan sesama sambil menutupi masalah besar dalam diri sendiri adalah gejala utama orang yang berseru, “Tuhan!” tetapi tidak bertingkah laku sesuai dengan kasih yang melampaui hukum timbal balik itu (6:46–47).

Peringatan itu disampaikan melalui tiga kiasan. Pertama, baik-buruknya pohon diketahui dari buahnya (43). Ukuran itu cukup mendasar: buah biasanya adalah manfaat utama dari sebuah pohon yang berbuah. Tetapi juga, buah yang jelek menunjukkan pohon yang tidak sehat. Kecaman munafik adalah buah yang tidak baik, dan juga gejala orang yang tidak sehat rohani. Kedua, jenis buah menandakan jenis pohon (44). Dengan menyebut semak duri, Yesus mungkin merujuk pada Kej 3:18 di mana semak duri adalah pertanda tanah yang terkutuk. Soal buah anggur mungkin merujuk pada Yes 5:2, 4 di mana Israel tidak membuahkan buah anggur sebagaimana semestinya. Pohon yang tidak baik dan semak duri adalah orang munafik yang merusak hasil jemaat bagi Kerajaan Allah.

A.45 memperjelas maksud Yesus: kondisi dan jenis pohon merujuk pada kondisi dan jenis hati, dan buah merujuk pada perkataan. Tetap ada kiasan di sini: hati ibarat perbendaharaan, dan perkataan sebagai harta yang dikeluarkan dari perbendaharaan itu. Jika selama ini yang disimpan adalah hal-hal yang baik atau yang jahat, itulah yang bisa dikeluarkan. Kecaman kepada sesama yang memvonisnya tentang hal-hal sepele itu muncul dari hati yang jahat, bukan dari hati yang dibentuk oleh kemurahan hati Allah. Untuk hidup seperti Yesus, hal-hal yang baik, yaitu ajaran Yesus yang menjadi dasar di atas batu itu (6:48–49) perlu disimpan di dalam hati untuk menjadi perbendaharaan baru yang akan meluap dengan perkataan yang membangun kasih dalam komunitas Yesus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Hati adalah sumber dari cara kita berbicara, entah yang menjatuhkan atau yang membangun sesama orang percaya menjadi komunitas yang mengasihi musuh. Oleh karena itu, kita diajak untuk mengisi hati kita dengan hal-hal yang baik, yaitu dengan mendengarkan Yesus (6:47).

Makna

Semak duri tidak mampu menjadi pohon anggur, dan sebuah pohon yang sakit tidak mampu menjadi sembuh. Tetapi a.45 menunjukkan bahwa Yesus berbicara tentang manusia yang dapat berubah. Perubahan itu muncul bukan dari dalam, melainkan dari luar, yaitu dengan mendengarkan Yesus dan melakukan apa yang didengar (6:47). Yang didengar itu bukan sekadar peraturan. Yang didengar adalah suatu visi tentang kedatangan Kerajaan Allah, sebagaimana dilihat dalam mukjizat-mukjizat Yesus yang diceritakan di awal pasal 6 ini, serta visi hidup yang tidak harus menuntut timbal-balik kepada sesama karena percaya kepada Allah.

Menjatuhkan sesama, dalam bentuk menghakimi atau mencari kesalahan (biar selumbar saja), muncul karena kita terkurang dalam hukum timbal-balik yang rusak, yang melebihkan jasa saya dan mengurangi jasa sesama, atau melebihkan kesalahan sesama dan mengurangi kesalahan saya. Hukum timbal-balik adalah hal yang wajar, tetapi penerapannya oleh orang berdosa bermuara pada komunitas yang sakit.

Jadi, buah yang perlu dipertunjukkan kepada jemaat adalah kesakitan karena gosip yang menjatuhkan, prasangka, sedapnya mendengar fitnah dsb. Itulah buah yang mengungkapkan kondisi jemaat yang sebenarnya, meskipun seruan “Tuhan” itu banyak. Solusinya bukan larangan untuk gosip dsb, tetapi mengajak orang untuk mengisi kembali perbendaharaan hati mereka dengan karya dan visi Yesus.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | 2 Komentar

Ibrani 11:1-16 Iman yang menyenangkan Allah [7 Ag 2016]

Penggalian Teks

Dalam Ibrani 3–4, penulis mengangkat perjalanan Israel di padang gurun menuju tanah perjanjian sebagai peringatan untuk para pendengarnya (surat ini dimaksud untuk diperdengarkan, bukan dibaca): “mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka” (3:19). Jika Allah adalah pangala tondok Israel yang membawa mereka ke tempat baru untuk mendirikan sebuah tempat perhentian dengan aluk (adat/Taurat) baru, Yesus sebagai Anak Allah adalah pangala tondok (3:1–6) yang memimpin umat orang percaya ke dunia baru (2:5, 10). Makanya, pengalaman Israel di padang gurun dapat berfungsi sebagai peringatan bagi kita. Di akhir penguraian itu, penulis menjelaskan bahwa Kristus adalah juga Imam Besar yang akan memberi orang percaya pertolongan supaya mencapai tujuan eskatologis itu (4:16). Pp. 5–10 menguraikan pelayanan Kristus sebagai Imam Besar, dengan kesimpulan bahwa kita memperoleh status kudus yang tidak pasang surut untuk mendekati Allah (10:19–22), asal “kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup” (10:31). Jadi, iman adalah cara kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Yesus itu.

Ada beberapa langkah dalam uraian penulis. Dia meletakkan dasar dalam aa.1–3, dengan definisi tentang iman yang akan dijelaskan melalui cerita-cerita nenek moyang, dan yang dasarnya adalah Allah sebagai Pencipta. Kemudian penulis menjelaskan iman sebagai jalan untuk berkenan di hadapan Allah (4–7). Kemudian dia mengangkat perjalanan Abraham (bdk. perjalanan Israel dalam pp.3–4) untuk mengatakan bahwa iman merindukan janji Allah di atas janji dunia ini (8–16). Aa.17–31 menambahkan orang-orang yang bertindak atas dasar hal-hal yang tidak kelihatan. Kemudian, penulis menyimpulkan kejayaan orang yang beriman (32–35a), dan penderitaan orang beriman (35b–38) yang dihina oleh dunia, tetapi sebenarnya dunia yang mendapat malu (38a). Kesimpulannya penting: janji yang mereka percayai belum mereka terima, karena semuanya akan ditepati bersama dengan orang yang percaya kepada Kristus (39–40).

Definisi penulis dalam a.1 menimbulkan berbagai tafsiran, tetapi terjemahan LAI cukup tepat. Kata “dasar” sebaiknya diartikan sebagai “substansi” (artian filosofis dari hupostasis), dan maksudnya bahwa dengan iman kita mulai berbagi dalam apa yang diharapkan. Dengan demikian, iman menjadi bukti akan apa yang tidak dilihat. Dalam agama tradisional, ritus menjadi bukti akan apa yang tidak dilihat, baik adanya roh dan dewa, maupun harapan akan kesuburan. Uraian berikutnya menjelaskan bagaimana iman dapat berperan demikian: yang tidak kelihatan itu tampak dalam kehidupan tokoh-tokoh beriman yang disaksikan dalam Kitab Suci (a.2). Dasar teologisnya muncul dalam a.3, yang belum berbicara tentang iman nenek moyang, yaitu penciptaan. Sebagaimana akan dilihat dalam tokoh-tokoh PL, orang beriman percaya bahwa Allah yang menciptakan dunia dari yang tidak kelihatan mampu untuk menepati janji tentang dunia baru yang belum kelihatan.

Habel, Henokh, dan Nuh menunjukkan bahwa manusia berkenan di hadapan Allah karena iman (4–7). Habel dibunuh, Henokh malah diangkat ke surga tanpa mati, tetapi mereka semua berkenan di hadapan Allah karena iman. Penulis menjelaskan bahwa dua aspek dari iman yang membuatnya diperlukan. Pertama, iman percaya bahwa Allah yang tidak kelihatan itu ada. Kedua, iman percaya bahwa Allah itu menawarkan apa yang baik kepada orang yang mencari Dia (6). Kisah Nuh menegaskan bahwa upah Allah itu berharga, yaitu keselamatan ketimbang hukuman. Nuh percaya pada apa yang belum kelihatan (air bah) sehingga dia menyelamatkan keluarganya dan membongkar kejahatan manusia yang lain (7).

Kisah Abraham membuat penjelasan penulis lebih tajam lagi. Abraham adalah bapa orang percaya (2:16) dan penerima sumpah Allah yang digenapi di dalam Kristus (6:13–20). Aa.8–9 memperlawankan status Abraham sebagi ahli waris dengan kondisi riilnya sebagai orang asing. Oleh iman, hal itu bukanlah masalah bagi Abraham, karena yang dia dambakan ialah kota Allah yang teguh. Apa saja kondisinya dalam kehidupan ini, baik atau buruk, tidak sebanding dengan upah yang terbaik itu (a.10, bdk. a.6). Aa.11–12 mengangkat soal keturunan yang banyak, yang walaupun tidak dilihat oleh Abraham, diketahui oleh penulis dan pendengarnya. Allah menciptakan umat-Nya dari apa yang tidak kelihatan, yaitu pasangan yang menjelang maut.

Dalam aa.13–16, penulis sampai pada kesimpulan sementara: yang pokok dari iman mereka ialah kerinduan. Penulis menegaskan bahwa meskipun janji Allah tidaklah menjadi kelihatan selama mereka hidup (13), dan apa yang kelihatan adalah terjangkau (15), namun mereka memilih untuk menjadi pendatang di dunia ini karena janji Allah begitu lebih baik (12). Pengharapan akan janji Allah lebih berharga bagi mereka daripada wujud duniawi. A.16 mengembangkan a.6. Orang yang mencari Allah merindukan upah, yaitu tanah air surgawi yang tawarkan Allah. Allah tidak sekadar berkenan, tetapi malah bangga disebut Allah mereka, karena apa yang dirindukan itu memang sudah dipersiapkan. Iman mereka telah menangkap janji Allah sedemikian rupa sehingga janji itu menjadi kenyataan yang mengarahkan kehidupan orang beriman itu. Iman adalah cara mereka mulai berbagi dalam apa yang diharapkan; iman menjadi bukti, wujud nyata, dari apa yang tidak kelihatan itu.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Iman yang memampukan orang bertahan: percaya kepada Allah Pencipta yang dapat mewujudkan janji yang belum kelihatan; merindukan dunia baru itu di atas dunia sementara ini; dan melangkah sesuai dengan apa yang tidak kelihatan itu. Kita diajak untuk percaya dan rindu demikian, supaya hidup kita menjadi bukti dan kesaksian akan janji Allah itu. Dengan demikian, kita mulai mengalami dan menikmati realita mendatang itu, terutama bahwa Allah bangga menjadi Allah kita.

Makna

Judul LAI untuk p.11 adalah “saksi-saki iman”. Sebenarnya, yang pertama-tama bersaksi dalam p.11 ialah Allah melalui Kitab Suci (a.2 & a.39). Namun, iman mereka berbicara kepada kita (a.4b). Dengan demikian, iman adalah bukti, bukan untuk orangnya sendiri, melainkan bagi orang lain yang bisa menangkap apa yang tidak kelihatan dari cara orang beriman itu hidup. Dengan demikian, orang beriman memang bisa disebut saksi (seperti dalam 12:1), karena cara hidup mereka bersaki tentang janji Allah itu.

Hal itu penting dalam budaya yang masih berpikir konkret. Monoteisme agak sulit ditangkap dalam budaya yang demikian, karena jika Allah menciptakan segala sesuatu, tidak ada hal-hal konkret, seperti berhala atau upacara atau mimpi dari almarhum, yang mencirikan Allah itu. Lebih lagi, kurban PL yang juga konkret telah diganti dengan persembahan diri Yesus dalam Bait Allah di surga (9:24). Aliran filsafat yang berpendidikan pada zaman penulis kitab Ibrani sudah biasa menjadikan rasio sebagai bukti akan hal-hal yang tidak kelihatan, dan penulis agaknya tergolong orang terpelajar. Namun, kepada para pendengarnya dia menawarkan bukan argumentasi filosofis melainkan kisah-kisah orang beriman (berpuncak pada Kristus, 12:2–3). Mereka telah diakui oleh Allah dalam Kitab Suci, dan mereka memperlihatkan realita yang tidak/belum kelihatan dalam kehidupan mereka.

Namun, yang inti tidak sekadar percaya pada adanya Allah. Lebih penting — dan menantang — ialah kerinduan akan apa yang dijanjikan Allah itu. Kota surgawi, yang digambarkan sebagai upacara besar-besaran dalam 12:22–24, begitu lebih menarik daripada kediaman duniawi sehingga mereka siap mengabaikan yang duniawi itu supaya memperoleh yang surgawi. Setelah menguraikan karya Kristus yang begitu mempesona, taktik penulis untuk membangun kerinduan itu adalah melalui kisah-kisah orang yang rindu dalam iman. Kerinduan itu yang mulai menggabungkan kita dengan kenyataan yang kita harapkan itu.

Dipublikasi di Ibrani | Tag , | 1 Komentar

Kol 3:1-11 Kejarlah hidup dan kemuliaan di dalam Kristus [31 Jul 2016]

Penggalian Teks

Paulus sudah menjelaskan keutamaan Kristus (p.1), dan bahwa kita menemukan keberkatan atau kehidupan yang berhubungan dengan Allah karena sudah mati dan bangkit bersama dengan Kristus. Soal mati itu diuraikan dalam 2:20–23, dan Paulus menegaskan bahwa orang percaya telah mati terhadap ‘roh-roh dunia’ (2:20) yang berkaitan dengan peraturan hidup untuk menemukan kesaktian atau keberkatan. Tetapi, jika kita telah mati terhadap cara lama untuk memperoleh berkat, bagaimana cara barunya? Jadi, perikop ini menguraikan implikasi dari kebangkitan kita bersama dengan Kristus (1a). Aa.1–4 menguraikan keberadaan kita di surga bersama dengan Kristus; aa.5–7 pelepasan dosa dalam rangka murka Allah; aa.8–11 pelepasan dosa dalam rangka tujuan Allah akan manusia baru. Aa.12 dst menguraikan lebih terperinci pola hidup baru itu.

Gambaran Paulus dalam aa.1–4 sederhana: Kristus yang bersama dengannya kita dibangkitkan itu duduk di sebelah kanan Allah. Kelestarian hidup kita terpusat pada Kristus, aman bersama Dia di surga (3). Kemuliaan kita — bobot kita sebagai manusia sehingga keberadaan kita berarti — tersimpan dengan Kristus dan akan dinyatakan kelak (4). Manusia selalu mau maju dalam hal-hal yang dianggap menentukan dalam soal kelestarian hidup dan kemuliaan (termasuk citra dan penghargaan). Cara yang tepat dicari; pemahaman untuk lebih berhasil di dalamnya dipikirkan. Jadi, kalau hidup dan kemuliaan kita berada di dalam Kristus, kita akan mau mendalami “segala harta hikmat dan pengetahuan” yang tersembunyi di dalam Kristus supaya kita hidup sesuai dengannya.

Dalam aa.5–11, menjadi jelas bahwa perlawanan antara perkara di atas dan di bumi bukan soal di mana kita bertindak, tetapi bagaimana kita bertindak di bumi. Juga, perlawanan itu bukan soal jiwa melawan raga. Hawa nafsu adalah masalah jiwa yang duniawi (5); berkata jujur kepada sesama orang percaya adalah tindakan tubuh yang surgawi (9). Orang yang duniawi mencari kelestarian hidup dan kemuliaan di dalam dunia; orang yang surgawi mencari hal-hal itu di dalam Kristus yang ada di surga (tetapi akan kembali dari sana kelak). Kedua-duanya mengungkapkan dasar hidup mereka dalam tingkah laku mereka di bumi.

Secara harfiah, a.5a berbunyi, “Karena itu, matikanlah anggota-anggota yang di bumi”; “yang di bumi” itu memang sama dengan akhir a.2. “Anggota-anggota” barangkali dipakai seperti dalam Rom 6:11 untuk merujuk pada tubuh manusia yang menjadi sarana dosa. Terjemahan LAI bisa memberi kesan bahwa proses mematikan itu menyangkut batin saja (“dalam dirimu”), tetapi bahasa Paulus itu mengandaikan bahwa mematikan dosa itu akan menyangkut baik motivasi dan perasaan, maupun tindakan. Lima cara anggota tubuh berdosa disebutkan (5b). Yang pertama melanggar batas pernikahan, yang terakhir melanggar pengutamaan Allah sebagai sumber hidup, dan ketiga di tengah menggambarkan kenajisan batin yang terbawa oleh nafsu. Paulus mengajukan dua alasan mengapa kekacauan seperti itu mau dimatikan. Pertama, kekacauan itu merusak apa yang sakral di hadapan Allah (sekualitas dan penyembahan hanya kepada dia) sehingga menimbulkan murka Allah (6); hal-hal itu tidak cocok dengan dunia yang akan didirikan ketika Kristus kembali, sehingga harus disingkirkan. Kedua, jemaat pernah mengalami buruknya hidup seperti itu (7). Maksud Paulus bukan bahwa sekali jatuh kembali ke dalam hal-hal itu, orang percaya masuk neraka. Sebaliknya, mencari hal-hal di atas berarti bekerja sama dengan rencana Allah untuk menyingkirkan hal-hal itu. Allah menghapusnya dari dunia melalui proses hukuman; kita mematikan dan membuangnya dalam diri kita melalui pertobatan.

Aa.8–11 beralih dari hukuman Allah ke tujuan Allah, yaitu suatu manusia baru yang tidak terbagi-bagi oleh adat, keberadaban (orang Barbar dan Skit berada di luar peradaban kekaisaran), ataupun kedudukan sosial (11). A.8 menambahkan lima dosa yang merusak relasi antar-manusia. Semua dosa dalam a.8, dan juga soal berdusta dalam a.9, lebih mudah dilakukan kepada orang yang dianggap rendah, dan manusia lama menggunakannya untuk meninggikan diri atas orang lain. Tetapi di dalam Kristus semua memiliki kedudukan yang sama, ditandai dengan seragam Kristus yang dikenakan, dan gambar Allah dalam semua orang yang percaya kepada Kristus sedang diperbaiki (10). Mendustai (dan memarahi dsb) sesama orang percaya adalah menghina gambar Khalik yang melekat padanya.

Jadi, Kristus berada di surga bukan supaya kita melarikan diri dari dunia ini, tetapi sebagai penjamin bahwa manusia baru yang sedang dikerjakan di dalam jemaat adalah masa depan dunia ini, sehingga kita menanggalkan praktek manusia lama. Karena kita menganggap Kristus lebih mulia, dan melihat masa depan kita di dalam tangan-Nya, kita rindu untuk menanggalkan manusia lama yang najis dan merusak itu. Proses itu adalah usaha kita (“matikanlah”) sekaligus karya Allah di dalam diri kita (“diperbaharui”).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kristus adalah sumber kelestarian hidup (termasuk tidak dimurkai Allah) dan kemuliaan yang sejati (sebagai manusia baru). Oleh karena itu, kita sudah asyik dengan Kristus dan karya-Nya bagi kita, walaupun hal-hal itu baru akan dinyatakan kelak, dan kita berusaha untuk menolak hal-hal yang menyakiti hati Allah dan merusak persekutuan dengan sesama percaya.

Makna

Mungkin saja ada keasyikan dengan karya Kristus yang menjadi pelarian, tetapi hal itu masalah segelintir orang dalam konteks kita. Untuk sebagian jemaat, Kristus adalah lambang identitas saja, dan Allah berada untuk membantu mereka dalam cita-cita mereka. Yang menjadi jaminan kelestarian hidup dan/atau sumber pencariaan kemuliaan adalah pekerjaan atau keluarga. Bagi mereka, pertobatan berarti keluar dari beberapa kebiasaan buruk. Kesia-siaan pola itu disoroti dalam ketiga bacaan yang lain untuk minggu ini.

Bagi Paulus, Kristus harus menjadi substansi identitas kita, bukan embel-embel saja. Di atas saya mengartikan “hidup” sebagai kelestarian hidup, dan menyoroti kemuliaan, sebagai dua hal yang jelas mengarahkan kehidupan banyak orang. Kemudian, ada suatu visi tentang rencana Allah bagi dunia ini yang kita terapkan dalam cara hidup yang makin mendekati manusia baru, yakni Kristus. Hal-hal itulah yang harus disampaikan kepada jemaat, bukan sekadar “coba lebih baiklah”, jika kita mau menunaikan tanggung jawab kita untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan (kedewasaan) dalam Kristus (1:28).

Dipublikasi di Kolose | Tag | Meninggalkan komentar