Kol 2:6-15 “Berakar di dalam Kristus, bukan kuasa-kuasa dunia” [24 Jul 2016]

Penggalian Teks

Aa.6–7 ini bisa dilihat sebagai ringkasan dari seluruh surat. Karya dan kodrat Kristus Yesus sebagai Tuhan telah diuraikan dalam 1:13–23. Penerimaan Yesus oleh jemaat dan di seluruh dunia telah disyukuri dalam 1:3–8, termasuk peran pemberita Injil seperti Epafras, dan pelayan Paulus, termasuk pengajaran, diuraikan dalam 1:24–2:5. Gambaran dari ‘hidup di dalam Dia’ sudah muncul dalam doa Paulus (1:9–12), dan akan diuraikan secara lebih terperinci dalam pp.3–4. Yang diuraikan dalam perikop kita adalah bagaimana kita berakar di dalam dan dibangun di atas Kristus itu. Hal itu dimulai dengan peringatan untuk membangun cara berpikir (“filsafat”, a.8), termasuk budaya (“ajaran turun-temurun”), atas dasar Kristus. Kemudian, 2:16–23 memaparkan ajaran sesat yang mencari dasar yang lain, diimbangi dengan cara berpikir di dalam Kristus (3:1–4).

Aa.9–10 menyampaikan bahwa apapun yang menawarkan hidup yang “penuh”, yaitu apapun yang kita anggap keren, berbobot, asyik, layak dikagumi atau ditakuti, yaitu apa yang disebut sebagai “pemerintah dan penguasa” yang mengendalikan sekaligus menopang kehidupan kita, Kristus adalah kepala dari semuanya karena Allah diam sepenuhnya di dalam Dia, seperti sudah dia jelaskan dalam 1:19. Dalam 1:20, bahwa Allah diam di dalam Kristus menjadi dasar untuk pendamaian seluruh dunia; dalam 2:11–15, Paulus menyoroti identitas orang percaya di dalam Kristus. Jadi, berakar dan dibangun atas Kristus pertama-tama berarti menerima Kristus sebagai kepala atas segala yang selama ini menjadi penguasa dan pengendali hidup. Kita mendapatkan kepenuhan di dalam Kristus; semua yang lain adalah filsafat yang kosong, jika ditempatkan sebagai sumber kepenuhan di atas Kristus.

Bagaimana manusia mendapatkan kepenuhan itu? Dalam aa.11–15, Paulus beranjak dari dasar bahwa di dalam umat Allah ada kehidupan yang sejati. Filfsafat dunia bermaksud menawarkan cara hidup yang menghidupkan. Taurat adalah “filsafat” Allah yang menawarkan kepada umat-Nya pengampunan lewat kurban, dan cara hidup bersama yang berkenan di hadapan Allah. Paulus menunjukkan bagaimana di dalam Yesus, Allah menawarkan itu. Dia mulai dengan sunat sebagai lambang keanggotaan umat Allah. Sunat lahiriah diganti dengan “sunat Kristus”, yaitu kematian Kristus pada kayu salib (11). Kristus disunat; orang yang percaya ikut disunat dengan ikut dikuburkan dan dibangkitkan bersama dengan Kristus. Menjadi bagian dari umat Allah dilakukan dengan menjadi bagian dari Kristus. Penguburan terhadap hidup lama ditandai dengan baptisan; orientasi kepada hidup baru terjadi dengan iman kepada kemampuan Allah untuk membangkitkan manusia yang mati (12).

Kemudian, Paulus memperjelas bahwa dasar untuk hidup baru itu ialah penghapusan pendakwaan hukum (13–15). Hukum itu bukan hanya hukum Taurat, tetapi semua hukum dari filsafat yang menjadi penguasa atas kehidupan manusia. Sejauh mana hukum-hukum itu mencerminkan kehendak Allah, ketidakmampuan manusia untuk hidup baik — kematian rohaninya — terungkap olehnya. Tetapi, filsafat itu tidak mampu menghidupkan kembali. Sebaliknya, kematian Kristus meniadakan hukum-hukum itu sebagai sesuatu yang berhak mendakwa dan menghukum. Tuntutannya dipakukan pada salib sehingga dianggap dilunasi oleh kematian Kristus sendiri. Kemudian kebangkitan Kristus melepaskan kuasa yang menghidupkan. Dengan demikian, penguasa-penguasa kehilangan kuasanya. Ternyata mereka tidak bersenjata lagi dengan hak menghukum, dan mereka dibuat malu karena terbongkar ketidakberdayaan mereka untuk menghidupkan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita diajak untuk berakar dalam Kristus sebagai kepala atas semua penguasa, yaitu sebagai satu-satunya Penguasa yang membebaskan dari kuasa dosa dan memberi kita hidup baru.

Makna

Berakar di dalam Kristus berarti membuat kematian dan kebangkitan-Nya sebagai sumber nutrisi dan batu karang kehidupan kita. Dia menjadi kekaguman tertinggi kita, di atas semua penguasa. Dia menjadi sumber identitas: orang percaya melihat dirinya sebagai orang yang diampuni, dilepaskan dari ikatan-ikatan buruk adat dan budaya, dan yang memiliki masa depan karena kebangkitan Kristus. Identitas di sini dilihat sebagai konsep tentang asal usul, tentang masa depan, dan tentang kelompok di mana seseorang mencari solidaritas. Memang manusia termasuk dalam berbagai kelompok yang mendukun kehidupannya dan membawa harapan-harapan tertentu. Tetapi bagi orang percaya, Kristus lebih mulia dan lebih menentukan dari semuanya.

Jadi, akar di dalam Kristus yang menentukan cara hidup, bukan cara hidup yang menentukan apakah saya berakar dalam Kristus. Usaha kita untuk berbuat baik tidak mampu mengalahkan filsafat yang kosong, entah itu budaya seperti materialisme, praktek seperti judi, atau adat yang bermaksud baik tetapi sering merugikan karena dibelokkan oleh dosa. Masyarakat akan keluar dari berbagai “penyakit sosial” ketika mereka menemukan sesuatu yang lebih baik; tugas kita, seperti Paulus, adalah memberitakan Kristus kepada tiap-tiap orang supaya Dia yang terbaik menuntun kita kepada kedewasaan (1:28).

Dipublikasi di Kolose | Tag , , | Meninggalkan komentar

Amos 8:1-8 “Ketidakadilan mengundang hukuman Tuhan” [17 Jul 2016]

Penggalian Teks

Amos bernubuat pada suatu masa kejayaan Israel utara. Israel berjaya secara ekonomi dan politik, tetapi kejayaan itu diperoleh atas penderitaan dan pemerasan orang miskin. Karena kaum atas rajin beribadah dan diberkati secara jasmani, mereka yakin bahwa Tuhan berkenan atas mereka. Amos diutus dari Yehuda, kerajaan Selatan, untuk memperingati orang dalam kerajaan Utara bahwa Allah yang memberkati mereka juga adalah Allah yang tega menghukum mereka kalau seandainya mereka melanggar — dan untuk memberitahukan mereka bahwa mereka sedang melanggar dengan sangat. Dalam 7:10–17, kita membaca bagaimana pemberitaan Amos itu tidak diterima, sehingga 8:1–9:10 menjadi penegasan tentang hukuman yang akan datang itu.

Aa.1–3 menceritakan sebuah penglihatan yang berfungsi sebagai permainan kata: “buah-buahan musim kemarau” (Ibrani: qayits, a.1) mirip dengan “kesudahan” (qets, a.2b). Kesudahan yang dimaksud itu mengerikan. Secara teologis, Allah “tidak akan memaafkan” (‘-B-R) umat-Nya lagi. Selama itu, Allah melewati (artian harfiah ’-B-R itu) umat-Nya, sehingga kesudahan tidak datang. Dengan kedatangan Allah untuk menghukum, pujian akan diganti dengan ratapan karena banyaknya mayat.

Aa.4–7 menjelaskan dasar untuk kesudahan itu. Intinya bahwa para penguasa menindas orang miskin (a.4). Aa.5–6 mengungkapkan isi hati atau motivasi mereka yang sebenarnya, bukan wacana mereka seorang kepada yang lain yang mereka pakai untuk membenarkan budaya penindasan mereka. Jika selama itu Allah melewati mereka, mereka menantikan hari raya lewat (“berlalu” juga dari kata dasar ’-B-R), supaya laba yang merugikan sesama bisa mereka lanjutkan. Ternyata ibadah kepada Allah bukan puncak dari seminggu atau sebulan bekerja, melainkan interupsi pada ibadah mereka yang sesungguhnya, yaitu ibadah kepada laba dan kuasa (5). Selain kecurangan dalam berdagang barang, mereka juga ternyata tega memperdagangkan manusia (6).

Tetapi, bukankah Allah itu Mahapengampun, Mahapengertian? A.7 menegaskan bahwa Dia sama sekali bukan Mahapelupa. Semua penindasan yang mereka lakukan akan diingat, dan hukuman Allah akan menjadi seperti banjir yang mengacaukan segalanya sebelum surut. Ayat-ayat berikutnya menggambarkan dahsyatnya hukuman itu.

Kurang lebih empat puluh tahun setelah Amos membongkar dalih-dalih masyarakat kerajaan Utara (sekitar 760 SM), kerajaan Utara itu dihancurkan oleh orang Asyur (722/1 SM). Hanya 9:11–15 yang memberi petunjuk bahwa di balik hukuman itu akan ada keselamatan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Perikop ini menjadi peringatan bahwa keadilan dalam berdagang dan dalam memperlakukan sesama adalah ciri dari umat Allah yang setia. Kita diajak untuk mengukur motivasi hati bukan dari wacana di dalam pikiran atau dengan sesama, tetapi dari praktek kita di mana saja kita memiliki kuasa. Namun, konteks kita berbeda dari Amos. Keselamatan dalam 9:11–15 sudah terwujud dalam Kristus. Kesudahan belum datang, dan pertobatan masih terbuka. Pengampunan yang sudah digenapi di dalam Kristus memampukan kita untuk bertobat dari praktek-praktek itu.

Makna

Bahkan orang kristen yang saleh mampu mengembangkan wacana yang membenarkan diri. Banyak orang saleh pada abad ke–18 dan ke–19 membenarkan perbudakan orang kulit hitam di Amerika. Ada juga orang saleh yang merasa tega memberi gaji yang rendah sebagai praktek bisnis yang ‘lasim’. Tentu, para pejabat negara yang menyelewengkan uang yang diperuntukkan bagi masyarakat itu sama. Semuanya mengembangkan wacana bersama yang membenarkan diri, tetapi perikop kita mengungkapkan motivasi yang sebenarnya.

Satu cara untuk mencapai pembenaran itu adalah menggeneralisir seruan seperti dalam perikop kita menjadi tentang ‘dosa’ secara umum. Kemudian, yang disebut dosa adalah dosa kalangan orang lain, misalnya: orang miskin mencuri makanan sedikit itu dosa, tetapi kalau orang besar memberi gaji rendah untuk kerja keras buruhnya itu legal dan sah. (Paling sedikit, ketentuan UMP membuat gaji rendah tidak legal.) Seruan Amos yang mengancam kepentingan orang berkuasa dijinakkan dan dialihkan. Kemudian, karena wacana etis di kalangan kita menyoroti dosa orang lain, hati nurani kita merasa kurang lebih nyaman, dan ternyata Anak Allah menderita dan mati di kayu salib sekadar untuk mengampuni beberapa kelemahan kecil dalam kehidupan kita.

Memang, semua manusia telah berdosa (Rom 3:23), terutama karena tidak memuliakan Allah sebagai Allah (Rom 1:21–23). Oleh karena itu, kita semua juga cenderung menyalahgunakan kuasa yang kita miliki atas sesama, besar atau kecil (Rom 1:29–31). Buruh yang ditindas bisa saja melampiaskan sakit hatinya kepada isteri atau anak; orang dalam minoritas yang ditekan saling memperebutkan status di dalam minoritas itu. Hanya, kemakmuran membuat kita makin mudah membenarkan diri seperti di atas, karena berkat jasmani yang mengalir dianggap pembenaran atas gaya hidup kita. Andaikan kita sungguh-sungguh duduk di kaki Yesus daripada sibuk-sibuk dengan pelayanan (Luk 10:38–42), kita akan belajar bahwa Yesus melanjutkan ajaran nabi-nabi yang membongkar dalih-dalih komunal kita. Yesus membenci ketidakadilan, dan dalih-dalih komunal tidak membenarkannya.

Tentu, di dalam kematian Yesus Kristus ada pengampunan (Kol 1:15). Tetapi, pengampunan bukan izin untuk berdosa; karya Kristus bermaksud untuk membebaskan kita dari kuasa kegelapan (1:14) supaya kita bersekutu dengan Allah di dalam Kristus (1:27) dan menjadi dewasa (‘sempurna’, 1:28). Artinya bahwa kita rindu dan makin mampu untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Tuhan, yang di dalamnya tidaklah termasuk ketidakadilan. Hal itu merupakan proses; tidak semua dalih komunal dibongkar begitu orang bertobat. Tetapi orang percaya mampu bertobat, yaitu, mampu mengaku bahwa cara kita selama ini salah sehingga kita mulai berubah. Kita tidak harus membenarkan diri ketika ditegur, karena kita tahu bahwa kita dibenarkan hanya di dalam Kristus. Orang yang bersikeras dalam dalih komunal yang membenarkan penyalahgunaan kuasa menunjukkan apa yang paling penting bagi mereka, yaitu laba dan kuasa (bdk. Mazmur 52).

Dipublikasi di Amos | Tag , | Meninggalkan komentar

Galatia 6:1-10 “Cara dan Hasil Hidup dalam Roh” [3 Jul 2016]

Penggalian Teks

Sudah dua kali Paulus memperingati jemaat tentang sikap mereka: saling menelan (5:15) dan gila hormat (5:26). Sikap itu bertentangan dengan kasih yang merupakan penggenapan hukum Taurat (5:14). Tetapi hukum Taurat bukan solusinya, karena sikap-sikap itu muncul dari daging (5:19–21) yang hanya bisa dilawan oleh Roh (5:16–18a) lepas dari hukum Taurat (5:18b). Perikop kita menyampaikan beberapa langkah supaya jemaat bisa berubah dari kondisi yang rentan pelanggaran (1) menjadi jemaat yang tetap berbuat baik (10).

Paulus mengajukan himbauan kepada “kamu yang rohani”, yaitu, anggota jemaat yang memberi dirinya dipimpin oleh Roh (5:18). Merekalah yang akan mampu mendampingi orang yang berdosa untuk ‘memperbaiki’ mereka (artian harfiah dari LAI “memimpin ke jalan yang benar”). Tugas itu ternyata tidak mudah, karena yang mendampingi bisa juga dicobai, entah oleh dosa yang dibahas, entah oleh pendampingan yang kasar kepada orangnya sehingga tidak lagi menerapkan kasih (1).

Dalam aa.2–5, Paulus mulai dengan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian, dan berakhir dengan tanggungan yang dapat, dan harus, dipikul sendiri. Di antaranya dia membahas soal bermegah (3–4). A.3 langsung menanggapi sikap gila hormat yang menjadi peringatannya dalam 5:26, dan a.4 menyampaikan alternatifnya. Daripada memperbandingkan diri dengan orang yang jatuh ke dalam dosa (“keadaan orang lain”) sehingga menganggap diri berarti, semestinya dia bermegah dalam karya Roh Kudus dalam dirinya, lepas dari perbandingan dengan orang lain. Alasannya (“Sebab”, a.5) karena pekerjaan setiap orang adalah tanggungannya sendiri.

Jadi, aa.2–5 melanjutkan a.1. Dosa dan pendampingan orang berdosa adalah beban yang tidak mungkin dipikul sendirian, sehingga saling membantu dalam tugas itu adalah satu cara untuk saling mengasihi sesuai dengan hukum Kristus (cara menaati Allah dalam terang karya Kristus, dengan kuasa Roh). Tetapi berbuat baik, yaitu dengan dipimpin oleh Roh (5:25), bukan sesuatu yang bisa ditanggung oleh orang lain. Dalam mendampingi orang berdosa, ada bahaya yang besar bahwa kita memegahkan diri dalam perbandingan dengan orang berdosa itu.

A.6 mengandaikan relasi antara pengajar dan pelajar Firman. Firman merujuk pada berita keselamatan; dalam surat ini kita melihat bahwa PL dan ajaran seorang rasul (yang kemudian menjadi PB) adalah sarana utama. Para pengajar barangkali termasuk di antara “kamu yang rohani”, dan Paulus mau supaya pemuridan berdasarkan relasi yang erat berjalan, sebagai sarana supaya makin kentara cara hidup Roh daripada cara hidup daging. Pembagian “segala sesuatu yang baik” (kata “baik” sepertinya hilang dalam LAI) juga adalah contoh menabur dalam Roh (8).

Sebagai puncak dari 5:1–6:10, Paulus memberi peringatan yang keras bahwa Allah tidak dapat dipermainkan (7). Pembenaran oleh iman tidak berarti bahwa dosa tidak penting lagi. Menabur dalam daging atau Roh berarti memihak keinginan daging atau keinginan Roh yang berlawanan itu (5:17). Menabur dalam daging ada akibatnya; kehidupan makin hancur karena dosa-dosa yang dilakukan, dan Roh sebagai sumber hidup yang kekal makin asing dalam pengalaman orangnya (8). Pemahaman itu membawa pemahaman tertentu tentang waktu (kairos). Ada waktu yang diharapkan (bdk. 5:5), yaitu waktu kita menuai hidup yang kekal, yang menjadi motivasi untuk tetap berbuat baik (9). Kemudian, setiap waktu dilihat sebagai kesempatan untuk berbuat baik (10). Paulus tidak membatasi kasih sebagai penggenapan Hukum Taurat pada kalangan sendiri, tetapi jika mereka yang seiman tidak bisa saling mengasihi, adalah percuma berharap mereka bisa mengasihi yang lain.

Jadi, melalui pendampingan, tanggung jawab moral secara pribadi, pengajaran firman, dan kebergantungan pada Roh Kudus, jemaat yang rentan dosa bisa menjadi jemaat yang menggenapi Hukum Taurat, bukan dengan menanggung Hukum Taurat tetapi karena Roh Kudus yang diterima oleh iman.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Paulus menjelaskan cara supaya jemaat dapat menyatakan hidup dalam Roh. Mereka harus saling menolong dalam meluruskan orang yang melanggar. Mereka harus menilai pekerjaannya sendiri di bawah firman Tuhan, bukan membandingkan diri dengan yang lebih lemah. Mereka harus tetap takut akan Tuhan, yang tidak akan meniadakan akibat dari arah hidup, entah menabur dalam daging atau Roh. Hasilnya adalah jemaat yang tekun dalam berbuat baik.

Makna

Satu masalah dalam kekristenan (konteks jemaat di mana beragama kristen itu biasa) ialah anugerah “gampangan”. Orang mendengar pesan tentang pengampunan pelanggaran, dan menyimpulkan bahwa dosa ternyata tidak terlalu masalah bagi Allah. Mereka tidak lagi takut akan Allah karena ancaman hukuman hilang, dan mereka betah dalam kedagingan. Perselingkuhan, jimat, fitnah, dan percekcokan adalah hal-hal biasa yang dianggap kurang, tetapi, toh, ‘kita adalah manusia yang lemah’. Reaksi terhadap sikap seringkali adalah memasang hukum untuk mengendalikan tingkah laku orang. Hukum itu tidak membantu soal keinginan daging, tetapi memberi orang ‘benar’ dasar untuk menghakimi yang ‘salah’. Hal itu justru mendorong adanya saling menelan dan gila hormat; keinginan daging sama-sama muncul dalam orang ‘benar’ dan orang ‘salah’, hanya dengan cara yang berbeda-beda. Sokoguru gereja dengan mudah menjadi orang Farisi baru; gerakan pembaruan menyerang penyakit sosial dan membuat jemaat sakit dalam kesombongan dan kepentingan kelompok; Tata Gereja makin lama makin tebal.

Paulus menawarkan solusi yang lain, yang cocok dengan kemerdekaan yang mencirikan hidup dalam Kristus (5:1). Dia mau orang hidup sesuai dengan kehendak Allah dari dalam, bukan karena ‘apa kata orang’ (bdk. aa.3–4). Allah memang tetapi perlu ditakuti, dan konsep dalam aa.7–8 mirip dengan konsep pemali dalam artian bahwa ada akibat yang buruk dari pelanggaran. Tetapi Paulus membahas akibat itu dalam rangka batin dan relasi, bukan dalam rangka hal-hal yang datang dari luar (seperti hama atau penyakit; hal itu tidak mutlak, karena dalam 1 Kor 11:29–30 ada penyakit sebagai hukuman). Menabur dalam daging berbuahkan kebinasaan sebagai akibat alami, karena mengikuti keinginan daging merusak diri dan merusak relasi di dalam jemaat. Konsep Paulus tentang pembenaran oleh iman tidak berarti bahwa kematian Kristus menghapus akibat alami itu; sebaliknya, pembenaran oleh iman membuka jalan untuk menabur dalam Roh supaya dosa lama yang dihapus itu bisa ditinggalkan dan tidak merusak lagi. Hidup kekal juga bukan upah yang datang dari luar melainkan kelanjutan dari menabur dalam Roh. Menabur dalam Roh berarti sudah mulai menikmati relasi dengan Allah dalam Kristus (lihat Gal 2:19–20) dan relasi kasih dengan sesama. Di dunia baru, tidak ada jimat, fitnah, atau cekcok, sehingga tidak mungkin orang yang menabur dalam daging akan betah di sana. Teganya Allah dilihat dalam hal ini: Dia tidak akan menyesuaikan dunia baru supaya hidup menurut daging ada tempatnya. Manusia yang harus disesuaikan. Bagi orang yang menabur dalam Roh, penyesuaian itu akan membawa kelegaan, dengan tubuh kebangkitan yang lancar dikendalikan oleh Roh (1 Kor 15:42–44). Orang yang menabur dalam daging tidak dapat tahan dalam penyesuaian seperti itu; pikirkan saja kemarahan orang ketika terancam kepentingan jahatnya.

Dengan cara Roh, bukan hukum, kita tidak menghukum dan mengusir orang yang jatuh, tetapi membantu mereka untuk kembali memihak keinginan Roh yang ada dalam dirinya. (Pengucilan adalah langkah terakhir kalau semua usaha yang lain belum berefek.) Tujuannya supaya hati (keingingan, kerinduan, cita-cita) dan relasi pulih, dan dengan demikian mereka bisa kembali bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri.

Dipublikasi di Galatia | Tag , , | Meninggalkan komentar

Lukas 9:57-62 “Lebih Penting dari Keluarga” [26 Jun 2016]

Renungan ini diperkaya dalam diskusi dengan beberapa rekan pelayan Wilayah II.

Penggalian Teks

Yesus melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem (9:51b), tempat Dia akan menderita, mati, dan dibangkitkan (9:22) selaku Mesias dari Allah (9:20, 35) sebelum Dia diangkat ke surga (9:51a). Yesus sudah memberitahu murid-murid-Nya bahwa mereka juga harus memikul salib (9:23) sebagai jalan menuju hidup (9:24). Cerita pertama setelah Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem ialah penolakan orang kepada-Nya, sehingga mereka harus mencari desa yang lain (9:52–56). Yesus sudah memberitahu keduabelas murid tentang kemungkinan itu (9:5), dan setelah perikop kita Dia mengutus tujuh puluh murid dengan kemungkinan yang sama (10:10–12). Mengikuti Yesus ternyata bukan hal yang mudah, dan dalam perikop kita Lukas memetik tiga perjumpaan orang dengan Yesus untuk memberi gambaran tentang hal itu. Perhatikan bahwa kita tidak diberitahu apakah mereka jadi mengikuti Yesus atau tidak; maksudnya supaya kita yang mendengar firman ini mengambil keputusan kita sendiri.

Dalam setiap perjumpaan ini ada ucapan orang dengan tanggapan Yesus. Ketiga tanggapan Yesus menggunakan gaya bahasa yang berlebihan dengan maksud menggelitik. Sama seperti ucapan-Nya untuk mencungkil mata (Mat 5:29) atau membenci orangtua (Luk 14:26), Dia tidak menyampaikan hukum positif, tetapi Dia mengajukan tantangan yang dimaksud untuk mengungkapkan atau menguji kesiapan hati orangnya. Ucapan-Nya merupakan hikmat, bukan hukum.

Dalam perjumpaan pertama, ada orang menawar untuk mengikuti Yesus “ke mana saja” (57). Yesus mengangkat rubah (Yunani alopex berarti rubah yang dianggap licik, bukan serigala yang dianggap ganas) dan burung sebagai contoh binatang yang memiliki tempat tinggal, yaitu tempat tetap untuk meletakkan kepala (58). Ada usul yang menarik bahwa rubah menyinggung Herodes (bdk. 13:31–32), sementara burung menyinggung orang Romawi (burung bisa merujuk pada orang-orang non-Yahudi, dan burung rajawali menjadi simbol di panji tentara Romawi). Kalau begitu, Yesus membandingkan kondisi warga Kerajaan Allah yang mengembara dengan kondisi kerajaan-kerajaan duniawi yang kelihatan mantap. Bagaimanapun juga, mengikuti Yesus berarti berbagi dalam kondisi Yesus yang berjalan ke Yerusalem dengan selalu berhadapan dengan perlawanan. Hal itu berlawanan dengan kerinduan kebanyakan orang untuk memiliki tempat yang tetap, aman, dan nyaman.

Dalam perjumpaan kedua, Yesus memanggil seseorang yang siap, tetapi mau menguburkan bapanya lebih dulu (59). Jawaban Yesus kasar dalam budaya Yahudi, dan mungkin dalam kebanyakan budaya di bumi (60). Dia menempatkan pemberitaan Kerajaan Allah di atas kewajiban seorang anak untuk menghormati ayah dengan mengurus penguburannya. Tidak dijelaskan apakah bapa itu tua tetapi sehat, sedang sekarat, atau sudah meninggal sehingga yang dimaksud adalah peletakan ulang tulang almarhum setahun setelah kematiannya. Yang terakhir paling masuk akal jika kita mengandaikan bahwa Yesus tidak bermaksud melarang orangnya mengikuti acara penguburan itu. Tetapi kita tetap harus mendengar bahasa Yesus yang kasar itu: orang matilah yang menjadi asyik dengan urusan orang mati. Merupakan kiasan biasa bagi orang Yahudi untuk menyebut orang non-Yahudi sebagai orang mati, tetapi di sini Yesus mengecap orang yang tidak mau bergabung dengan Kerajaan Allah demikian. Sebaliknya, Kerajaan Allah berorientasi hidup. Ucapan Yesus menusuk perasaan kita, dan mengundang pertanyaan, apakah Kerajaan Allah lebih penting bahkan daripada keluarga?

Dalam perjumpaan ketiga, orangnya memohon untuk pamitan dahulu dengan keluarganya. Kita melihat permintaan yang mirip dari Elisa ketika dia dipanggil Elia, dan dia diberi izin bahkan untuk upacara perpisahan yang cukup mega, dengan sepasang lembu sebagai dagingnya (1 Raj 19:19–21). Yesus tidak melarang orangnya pamitan dengan keluarganya, tetapi mengambil gambaran dari kisah Elisa itu untuk mengatakan bahwa mengikuti Yesus berarti melihat ke depan, ke misi Kerajaan Allah itu, bukan mengingat-ingat apa yang ditinggalkan. Kalau dicermati, maksud Elisa juga begitu, karena dia membakar sarana pencarian nafkahnya, baik kedua ekor lembu, maupun bajaknya. Mengikuti Yesus membutuhkan komitmen yang tegas, yang menempatkan Kerajaan Allah di atas hal-hal berharga seperti keluarga.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Mengikuti Yesus dalam misi Kerajaan Allah lebih penting bahkan dari keluarga. Kita ditantang untuk mengambil langkah yang menunjukkan identitas baru kita di dalam Kristus, bukan lagi sebagai anggota keluarga/tongkonan jasmani yang dibantu-bantu Allah, melainkan sebagai anggota keluarga/tongkonan Kristus yang giat untuk kepentingan Allah.

Makna

Pemberhalaan adalah kekeliruan besar dalam PL (Mzm 16:4). Seperti dalam Dasa Titah satu sampai tiga, Allah adalah lebih penting dari semua yang lain, bahkan lebih penting dari diri saya. Bukannya Dia menyatakan diri-Nya kepada manusia untuk menjadi sarana penopang bagi cita-cita kita (entah diri, keluarga, kelompok), melainkan supaya cita-cita kita disesuaikan (dibuang atau diubah) sesuai dengan misi dan rencana Dia.

Pernyataan-pernyataan Yesus dalam perikop kita mempertajam tuntutan itu. Tempat tinggal dan keluarga (keduanya tercakup dalam konsep tongkonan, sama seperti bet dalam bahasa Ibrani dan oikos dalam bahasa Yunani) adalah hal yang baik yang menjadi penghalang bagi misi Kerajaan Allah ketika apa yang baik itu menjadi prioritas utama. Tanpa pemujaan dewa dalam ritus lama adat Toraja, keluarga tetap bisa menjadi berhala. Martabat diri terletak dalam citra keluarga yang tampak dalam upacara-upacara besar; pengharapan untuk hidup terletak pada keluarga. Makanya, norma dan tuntutan keluargalah yang berlaku, misi Kerajaan Allah diberi tempat sejauh mana tidak bertabrakan dengan keluarga yang utama itu. Tantangan Yesus bukan untuk berbuat baik saja (kegiatan keluarga itu baik, pada umumnya), tetapi untuk berbuat apa yang baik bagi misi Allah dalam dunia.

Soal berbuat baik menjadi fokus Galatia 5. Paulus sudah menjelaskan bahwa orang yang percaya kepada Kristus bukan lagi di bawah pengawasan Hukum Taurat. Dalam bagian ini, dia menunjukkan bahwa jika kita hidup oleh Roh Kudus, kita akan memenuhi inti dari Hukum Taurat, yakni kasih. Roh Kudus berlawanan dengan keinginan daging, termasuk cita-cita yang kurang baik. Dengan demikian, pertobatan lebih dari sekadar meninggalkan beberapa kebiasaan buruk; Roh mengubah karakter dan keinginan kita. Dengan demikian, Kristus hidup di dalam kita (Gal 2:19–20) dan kita mencerminkan watak keluarga Allah (Gal 3:26–27). Hal itu pelengkap yang penting bagi penekanan Yesus dalam perikop kita akan prioritasnya misi Kerajaan Allah.

Jadi, ajaran Paulus juga menempatkan keluarga Allah sebagai keluarga yang pokok. Reaksi kita terhadap ucapan-ucapan Yesus mengungkapkan sejauh mana identitas kita masih terletak pada keluarga jasmani kita. Kembali, Dia tidak memberi perintah, dan orang kristen berabad-abad terlibat dalam penguburan orangtua. Namun, pemberhalaan keluarga kuat di kalangan orang Toraja. Walaupun semua dapat melihat pemborosan dalam upacara keluarga yang lain, ada perlawanan yang panas dari banyak keluarga ketika ada usul supaya ritus dalam kalangan sendiri disederhanakan. Menyesuaikan upacara demi Kerajaan Allah adalah salah satu cara untuk menyampaikan bahwa memang Kerajaan Allah yang paling penting. Usul seperti itu dapat menjadi ilustrasi yang mempan untuk mengungkapkan berhala-berhala di dalam jemaat.

Dipublikasi di Lukas | Tag , , | Meninggalkan komentar

Yesaya 65:1-9 “Keselamatan di tengah umat yang memberontak” [19 Jun 2016]

Penggalian Teks

Perikop kita merupakan awal jawaban Tuhan terhadap doa nabi dalam 63:7–64:12. Pp.65–66 memperbandingkan orang yang setia dengan orang yang tidak setia, orang yang gentar kepada firman Allah (66:2b) dengan orang yang lebih menyukai jalannya sendiri (66:3b). Ada dua akhir yang disampaikan: langit dan bumi yang baru bagi mereka yang setia (65:17), dan kengerian bagi mereka yang memberontak (66:24). Unsur-unsur itu muncul dalam perikop kita. Aa.1–5 menceritakan ulah-ulah Israel yang menjadi seperti asap dalam hidung Allah, dan aa.6–7 menceritakan rencana pembalasan Tuhan kepada mereka. Aa.8–9 menjadi kunci untuk bagian selanjutnya: di tengah umat yang bobrok, tetap ada yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan Allah.

A.1 memperbandingkan kerelaan Allah untuk menolong, ditemukan oleh, dan hadir dengan bangsa yang tidak bertanya, mencari, atau memanggil. Analisis Allah tentang Israel disampaikan dalam a.2a: Israel memberontak terhadap Allah (sehingga tidak memanggil), menempuh jalan sendiri (sehingga tidak mencari Allah), dan mengikuti rancanangannya sendiri (sehingga tidak menanyakan Allah). Muka (LAI: “mata”) Allah terarah kepada Israel sehingga Dia dibuat sakit hati (3a) dan terganggu (5b). Aa.3b–5a mendaftar ulah Israel: persembahan kepada dewa (3b), mencari petunjuk dari orang mati (tafsiran umum a.4a), makan makanan yang najis (4b), dan mengklaim dirinya sakti ketika melaksanakan ritus (a.5a). Allah bermaksud baik, tetapi manusia mengambil jalan sendiri.

Keputusan Allah dalam aa.6–7 digambarkan sebagai keputusan tertulis, mungkin karena sesuai dengan hukuman kepada bangsa yang memberontak dalam Taurat (misalnya, Ulangan 28), mungkin untuk menegaskan bahwa keputusan itu sudah tetap. Allah mengabulkan permintaan dalam doa nabi supaya Allah tidak tinggal diam (64:12; 65:6a), tetapi Dia akan membalas bukan dosa bangsa-bangsa melainkan dosa Israel sendiri, yang diringkas kembali dalam a.7b. Allah tidak tinggal diam terhadap pemberontakan umat-Nya.

Akhirnya dalam aa.8–9 ada sedikit pengharapan. Dalam doa sebelumnya, nabi memohon pengampunan dengan mengingat Allah bahwa Israel adalah umat-Nya (64:9). Sebelumnya dalam 63:17b, dia sudah mengingatkan Allah bahwa orang Israel adalah hamba-hamba Tuhan dan kepunyaan-Nya. Israel adalah pusat dari janji dan rencana Allah untuk memperbaharui dunia, seperti yang akan digambarkan dalam 65:17 dst. Allah mengaku bahwa masih ada berkat di dalam Israel. Dia berjanji untuk mengeluarkan (LAI: “membangkitkan”) dari umat pilihan-Nya orang-orang yang akan memiliki tanah Yehuda. Perjanjian dengan Israel yang seakan-akan terputus karena dosa Israel akan terwujud. Hanya, tidak semua Israel akan menikmatinya. Sebagian (“tidak … sekaliannya”, a.8b) akan luput dari hukuman Allah supaya janji-Nya terwujud. Kita melihat Allah menghukum karena dosa, dan menyelamatkan karena rencana keselamatan-Nya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Di tengah umat yang bobrok, tetap ada pengharapan bahwa Allah akan mengangkat orang-orang pilihan-Nya untuk menggenapi janji-Nya dan menjadi berkat. Kita diajak untuk meninggalkan jalan yang memberontak terhadap Allah dan mencari Dia, kemudian menempuh jalan hidup sebagai hamba Tuhan dan pewaris dunia baru.

Makna

Perikop kita adalah salah satu dari banyak contoh yang menggambarkan tesis Paulus bahwa “Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa” (Gal 3:22), sehingga keselamatan datang melalui iman kepada Yesus Kristus (3:22b). Dalam PL, Yesus menyamar di balik simbol hadirat Allah seperti Sion (pokok dalam Yesaya 60–62), sehingga seruan Yesaya untuk percaya bahwa Tuhan mau ditemukan dan akan menyelamatkan umat-Nya adalah seruan akan iman yang sepadan dengan iman kepada Kristus dalam PB. Kekuasaan dosa sebagai kuasa yang mematikan digambarkan secara ekstrim (sehingga lebih jelas) dalam orang yang kerasukan dalam Luk 8:26–39; orang itu dibebaskan oleh kuasa Yesus. Kepada para pemberontak, pengampunan dan pembebasan ditawarkan.

Namun, jika pemberontak menganggap diri benar (Yes 65:2, “mengikuti rancangannya sendiri”), anugerah Allah akan ditolak. Aa.3b–5a menggambarkan umat yang gelisah karena berbagai kuasa gaib dan masa depan yang kabur. Semestinya mereka mencari perlindungan dari Tuhan, dan andaikan demikian, mereka akan memiliki pengharapan yang jelas. Masalahnya bahwa Tuhan juga menuntut jalan hidup yang tidak masuk akal mereka. Oleh karena itu, mereka menolak Injil yang mengumumkan kerelaan Allah untuk ditemukan dan diminta pengarahan dalam kegelisahan hidup itu. Penolakan itu bisa saja terjadi dalam hati dan tindakan, sementara mulut mengaku percaya.

Sekarang, gereja berhadapan dengan makin semaraknya orang kristen yang berani melangkah sesuai rancangannya sendiri secara terus terang. Bagi sebagian pimpinan gereja (majelis, pendeta, pejabat struktural), masalah pokok ialah bahwa jemaat tidak lagi patuh kepada mereka selaku tua-tua masyarakat. Gereja makin kehilangan wibawa, katanya. Tetapi gereja tidak dipanggil untuk berkuasa dalam masyarakat; gereja dipanggil untuk memberitakan Injil. Tugas kita bukan supaya orang patuh terhadap gereja, melainkan supaya orang percaya (dan dengan demikian mereka akan mulai taat kepada Allah). Semaraknya berbagai penyakit sosial menantang kita untuk memperjumpakan orang dengan Kristus yang menawarkan pengampunan dan hidup baru yang jauh lebih mulia daripada pengharapan-pengharapan semu yang mereka andalkan sekarang.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , , | 1 Komentar

2 Samuel 11:26-12:15 “Tuhan mengampuni dan mendidik” [12 Jun 2016]

Penggalian Teks

Perikop ini mulai pas setelah titik dosa kedua dalam cerita Daud dan Batsyeba, yaitu bagaimana Daud menyalahgunakan kuasanya sebagai raja untuk mengatur kematian Uria yang berintegritas itu supaya dosa yang pertamanya ditutupi. Dalam a.26 nama Uria dipakai dua kali, setiap kali sebagai orang yang sudah mati, sementara nama Batsyeba tidak dipakai; dia hanya dirujuk sebagai isteri Uria (harfiah: “perempuan”, sama seperti bahasa Toraja baine bisa berarti “isteri”), dan Uria disebut sebagai suaminya dengan dua kata: ish (“laki-laki”, sama seperti bahasa Toraja muane bisa berarti “suami”) dan baal yang berarti “tuan”. Dengan demikian, perkawinan mereka yang terputus oleh ulah Daud diberi penekanan. Namun, muslihat Daud untuk kawin dengan Batsyeba supaya aib dari kehamilannya ditutupi sepertinya berhasil (11:26–27) — andaikan tidak dilihat dan dinilai oleh Tuhan (11:27b).

Kali terakhir Tuhan disebut adalah dalam 10:12 dalam konteks perang. Dalam p.11, Daud bertindak lepas dari kesadaran tentang Tuhan. Tetapi ternyata Tuhan tidak alpa. Dia menunjukkan kedaulatan-Nya atas Daud dengan mengutus nabi Natan. Sebagai warga Israel, Natan ada di bawah kuasa Daud, tetapi sebagai nabi, pesannya memiliki otoritas Allah. Namun, Natan mendekati Daud sebagai orang yang hatinya keras, sebagaimana jelas dari ulahnya. Jadi, Natan tidak langsung menegur Daud, tetapi menyampaikan cerita yang menggambarkan dosa Daud dengan seorang kaya yang merampas satu-satunya ekor anak domba seorang miskin (12:1–4). Sebenarnya, hanya perzinahan Daud yang digambarkan, karena orang miskin itu tidak sampai dibunuh. Baru setelah Daud sudah mengadili orang kaya itu dengan sangat keras (12:5–6), Natan mengungkapkan bahwa Daud adalah orangnya (12:7a). Ada beberapa naskah bahasa Ibrani yang mencantumkan tanda pemisah (semacam alinea ringan) setelah kata-kata itu, pertanda betapa dramatis ucapan itu. Sebenarnya Natan mempertaruhkan nyawanya, mengingat bahwa Daud sudah membuktikan ketegaannya untuk membunuh orang demi menutupi masalah.

Ucapan selanjutnya menunjukkan bagaimana Daud tidak hanya melanggar dua hukum Allah, tetapi juga menghina anugerah Tuhan yang telah membebaskannya dan memberinya rumah dan kerajaan Saul (12:7–9). Hukuman Allah dalam 12:10–12 keras (ternyata terlalu keras untuk penyusun leksionari sehingga 12:11–12 dilewati): taktik Daud untuk menyelesaikan masalah dengan pedang akan merasuki seluruh keturunannya (12:10); hasrat Daud untuk mencemari isteri orang akan muncul dalam anaknya terhadap isteri-isteri Daud sendiri, tetapi di depan umum untuk memaksimalkan penghinaan terhadap Daud (12:11–12). Hal kedua ini digenapi dalam 16:22, tetapi hanya kepada gundik-gundik (dalam 12:11 kata ishah, “perempuan”, dipakai, yang bisa lebih luas dari isteri resmi saja). Kepada Daud sendiri, ternyata, janji Allah tentang keturunannya sudah berlaku: Daud dihukum, tetapi kasih setia Allah tidak ditarik daripadanya seperti ketika Saulus berodsa (7:14–15).

Kisah Natan ternyata berhasil menggerakkan nurani Daud, dan dia mengaku sudah berdosa. Natan menyatakan pengampunan Tuhan (12:13), tetapi ada satu hukuman lagi: anaknya harus mati (12:14). Penggenapannya langsung diceritakan ketika anak itu ditulahi Tuhan (12:15). Untuk kali terakhirnya (kecuali dalam daftar pahlawan dalam 2 Sam 23:39) nama Uria disebutkan untuk merujuk kepada Batsyeba (yang namanya tidak muncul). Kata “bekas” tidak ada dalam bahasa aslinya; maksudnya untuk menyoroti kembali perzinahan Daud itu.

Kemudian Daud berusaha untuk membujuk Tuhan untuk menyelamatkan nyawa anak yang sakit itu dengan puasa dan tangisan, tetapi keputusan Tuhan tetap (12:22–23). Kemudian, dia menghampiri Batsyeba, sekarang sebagai isterinya, dan anak yang lahir itu Salomo, “kekasih Tuhan” (artian julukan Yedija) yang menjadi raja paling berjaya dalam sejarah Israel (12:24–25). Cerita tentang perang yang dimenangkan oleh Daud menunjukkan bahwa memang Tuhan telah mengampuni Daud (12:26–31). Itulah puncak kejayaan Daud; setelah p.12, kekacauan dalam keluarganya yang menjadi cerita utama yang panjang dan memilukan. Sebagai raja, dosa Daud berakibat bagi seluruh rakyat.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Bahkan Daud yang dipilih Allah dan diberi janji yang luar biasa itu gagal menjadi raja teladan. Hal itu menjadi contoh bagaimana Allah mengampuni dosa orang yang bertobat tanpa meniadakan akibat dari dosa itu.

Makna

Dalam leksionari, perikop ini dikaitkan dengan penjelasan awal Paulus tentang pembenaran oleh iman dalam Gal 2:15–21 (yang disejajarkan dengan pengampunan dosa dalam Rom 4:6–8), dan perempuan berdosa yang mengurapi kaki Yesus dalam Luk 7:36–50. Perikop-perikop itu menangkap satu segi dari cerita ini, yaitu bahwa Tuhan mengampuni Daud, dan menunjukkan bahwa dasar untuk pengampunan Allah ialah pengorbanan Kristus (Gal 2:21). Tetapi, perikop ini juga menggambarkan Gal 6:7, “Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”

Di balik kedua aspek itu adalah kesetiaan Allah kepada janji-Nya demi rencana keselamatan. Daud tidak luput dari akibat dari dosanya, tetapi janji Allah kepadanya tidak dibatalkan olehnya. Bahwa dia siap ditegur dan mengakui dosanya berarti relasinya dengan Allah dapat pulih, tetapi andaikan tidak, Allah tidak akan dihalangi untuk mengangkat keturunan untuk menjadi nenek moyang Kristus.

Pola didikan itu dilihat di dalam sejarah Israel, yang tidak ditolak oleh Allah tetapi dihukum terus. Orang kristen yang berdosa dan berbuat fasik mengalami akibatnya. Berkat pengorbanan Kristus, mengaku kepada Allah akan memulihkan hubungan dengan Allah. Tetapi demi kebaikan kita, Allah tetap mendidik kita sebagai anak-anak (Ibr 12:5–11).

====

Dipublikasi di 2 Samuel | Tag , | Meninggalkan komentar

Galatia 1:11-24 “Berjumpa dengan Yesus melebihi adat” [5 Jun 2016]

Penggalian Teks

Kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus pernah memberitakan Injil tentang Tuhan Yesus Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (1:4) sehingga mereka menerima Roh Kudus dan mengalami berbagai mukjizat Tuhan (3:2, 5). Paulus mencirikan Injil ini sebagai Injil kasih karunia (1:6), karena penyerahan Kristus bagi dosa adalah pemberian Allah kepada orang-orang yang tidak layak. Masalahnya, ada yang menyusul datang mengatakan bahwa untuk sungguh dibenarkan di hadapan Allah, orang percaya harus menanggung Hukum Taurat, terutama dengan disunat (6:12–13). Dengan demikian, pemberian Allah di dalam Kristus dipinggirkan untuk sesuatu yang lain (Hukum Taurat) sehingga praktis ditolak dan tidak berlaku lagi (5:4). Seluruh surat mau menanggapi masalah ini. Dalam pp.3–4 dia membuktikan Injil itu dari Kitab Suci, dan dalam pp.5–6 dia menunjukkan bagaimana Roh Kudus menimbulkan perubahan yang diharapkan oleh Hukum Taurat. Dalam 1:11–2:10, dia membela kerasulannya, termasuk dalam kaitan dengan rasul-rasul di Yerusalem yang sepertinya diatasnamakan oleh pengajar-pengajar sesat itu.

Aa.11–12 menjadi dalil Paulus, yaitu bahwa Injil itu berasal dari “penyataan Yesus Kristus” (12). Frase itu bisa berarti “penyataan yang disampaikan oleh Yesus Kristus”, tetapi dalam Kis 9:3–8 tidak ada petunjuk bahwa Yesus mengajar Paulus, sebaliknya Yesus menyatakan diri-Nya kepada Paulus. Dalil itu yang kemudian mau dibuktikan dalam 1:13–2:10. Fokus Paulus adalah membuktikan bahwa dia tidak bergantung pada manusia dalam menerima Injil itu. Tetapi dia juga memberi beberapa petunjuk tentang sifat Injil itu sebagai Injil anugerah, dan juga bahwa Injil itu sama dengan Injil para rasul yang lain.

Aa.13–17 menceritakan panggilan Paulus oleh Allah. Ada beberapa efek dari kesaksiannya. Pertama, dia mengaku maju dalam Hukum Taurat yang dibanggakan pengajar sesat, tetapi hal itu malah membawa dia untuk menganiaya jemaat Allah. Kedua, panggilan Allah atas hidupnya dialami bukan dalam ketaatannya terhadap Hukum Taurat, melainkan ketika Yesus berjumpa dengan dia. Di sini kita melihat sifat Injil sebagai kasih karunia: Paulus dipilih di kandungan ibunya sebelum dia berbuat baik atau buruk, dan dijumpai Kristus ketika dia telah berbuat buruk dengan menjadi musuh Allah. Ketiga, seperti nabi Yeremia yang dipanggil untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, Allah merencanakan kerasulan Paulus sejak dia dikandung. Beda dengan imam dan raja, nabi-nabi dipanggil di luar lembaga-lembaga Israel. Karena dipanggil langsung oleh Allah melalui penyataan diri Yesus, Paulus tidak perlu pergi ke Yerusalem supaya kerasulannya mereka teguhkan. Injilnya tidak bergantung pada mereka.

Aa.18–24 adalah bagian pertama dari soal relasi kerasulan Paulus dan Injilnya dengan Injil rasul-rasul di Yerusalem, yang notabene menjadi murid-murid Yesus langsung. Dalam bagian ini, Paulus tetap menekankan bahwa dia tidak bergantung pada mereka, tetapi ada paling sedikit dua petunjuk bahwa mereka satu haluan. Pertama, dia menumpang limabelas hari bersama dengan Petrus. Kedua, dia mengatakan bahwa mereka memuliakan Allah karena perubahan yang dia alami. Kerasulan dan Injil Paulus tidak sah karena mereka, tetapi tidak juga bertentangan. Hal itu diperjelas dalam 2:1–10, di mana mereka berunding dan bersepakat untuk satu Injil dengan pelayanan masing-masing.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita selayaknya tetap percaya pada Injil yang diberitakan Paulus, karena sumbernya adalah Yesus Kristus. Injil itu melebihi adat istiadat apapun karena memperjumpakan kita dengan Kristus, dan mampu menjangkau bahkan penganiaya seperti Paulus.

Makna

Untuk memberitakan perikop ini dengan jelas, kita perlu memikirkan di mana jemaat ditempatkan di dalamnya. Apakah jemaat ditempatkan bersama dengan Paulus yang dipanggil untuk memberitakan Injil? Usul itu tidak salah, tetapi tema itu lebih cocok untuk 1 Kor 9–10, misalnya. Di sini, kerasulan Paulus yang dipersoalkan, berkaitan dengan Injil apa yang dipercayai. Dalam Gal 2:19–21 Paulus menyampaikan pengalaman hidupnya sebagai contoh, tetapi untuk menjelaskan implikasi dari pembenaran oleh iman, bukan sebagai contoh penginjilan.

Kalau begitu, bagaimana dengan pertobatan Paulus dari agama Yahudi ke iman kepada Kristus? Hal itu jelas menyindir pengajar palsu yang menonjolkan Hukum Taurat, tetapi hal itu bukan masalah sekarang (kecuali kalau Adven atau saksi Jehovah kuat di suatu daerah?). Dalam tradisi Reformasi, Hukum Taurat dijadikan simbol dari usaha manusia untuk menyelamatkan diri. Hal itu benar, tetapi saya mau menawarkan tafsiran yang melengkapi pemahaman itu.

Saya beranjak dari bahasa Paulus yang merelatifkan kepercayaan lamanya sebagai suatu -isme (Yunani: Yudaismos) yang merupakan ‘adat istiadat’ atau tradisi yang diwariskan turun-temurun (Yunani: paradosis). Dalam argumentasi teologisnya, dia menerima bahwa Hukum Taurat berasal dari Allah, tetapi dia menganggap janji kepada Abraham yang digenapi dalam Kristus itu lebih mendasar, sehingga Taurat hanya berlaku sampai iman kepada Kristus (3:15–25). Namun, dalam 4:3, 5, 8–9, dia menyamakan Taurat itu dengan kepercayaan kafir jemaat Galatia sebagai “roh-roh dunia” (4:3, 9) yang memperhamba (bdk. “takluk” 4:3). Menanggung Hukum Taurat adalah kembali ke perhambaan yang lama, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Jadi, Hukum Taurat bisa juga dilihat sebagai simbol adat istiadat yang memperhamba. Dalam konteks kita, “Injil yang lain” adalah berkat melalui adat dan pemali, dengan upacara mati sebagai harapan eskatologis. Perhatikan bahwa Paulus menggambarkan Injil sebagai janji berkat, berdasarkan Kej 12:3, yang digenapi dalam pemberian Roh Kudus karena percaya kepada Kristus (Gal 3:8, 14). Pertanyaan tentang Injil mana yang mau dipercaya dapat juga diajukan sebagai pertanyaan tentang tempat di mana berkat dicari.

Kalau begitu, Gal 1:11–12 mengatakan bahwa hanya ada satu sumber berkat sejati, yaitu Kristus. Aa.13–17 menunjukkan bagaiman bahkan adat yang diberikan Allah tidak membawa berkat itu. Aa.18–24 menunjukkan bahwa berjumpa dengan Yesus tidak bergantung pada lembaga gereja, tetapi lembaga gereja yang sejati akan memuliakan Allah setiap kali ada kehidupan yang dijamah Kristus (24). Injil itu dijamin oleh Paulus yang dipilih Allah untuk menjadi baik teladan anugerah maupun pemberita dari anugerah itu.

Dipublikasi di Galatia | Tag , , | Meninggalkan komentar