Yoh 18:33-37 Satu-satunya Kerajaan yang Benar [22 Nov 2015]

Penggalian Teks

Yesus ditangkap sesuai dengan kepentingan Yahudi yang diucapkan kembali dalam 18:14, “Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.” Tetapi mereka harus menyerahkan Yesus kepada Pilatus, karena mereka tidak berhak menghukum mati orang (18:31). Perikop kita adalah awal pemeriksaan Yesus oleh Pilatus. Pilatus masuk kembali ke dalam gedungnya, karena orang Yahudi ada di luar supaya tidak najis, dan Yesus ada di dalam sebagai orang tahanan. (Hal itu ironis, karena niat para pemimpin Yahudi menajiskan mereka, sementara Yesus tidak bersalah.)

Pilatus bertanya tentang Yesus sebagai raja (33). Barangkali, dia sudah tahu tentang harapan Mesianis akan adanya raja Israel yang akan menggulingkan orang Romawi, dan hanya hal yang sebesar itu yang layak untuk dia dipanggil oleh pemimpin-pemimpin Yahudi. Tetapi Yesus tidaklah tampil sebagai pemberontak biasa, makanya Pilatus bertanya dengan nada terkejut, “Engkau inikah?” Jawaban Yesus ironis tetapi penuh makna (34). Dia menjawab seakan-akan Pilatus bersaksi tentang diri-Nya, dan Dia bertanya apakah kesaksian itu muncul dari dalamnya atau hanya mengikuti pendapat orang lain. Pilatus dengan tegas meletakkan tanggung jawab untuk pengadilan Yesus pada pimpinan Yahudi, tetapi mau memberi Yesus kesempatan untuk membela diri-Nya (35).

Tiga kali dalam jawaban-Nya, Yesus menyebutkan “Kerajaan-Ku” (36). Dengan mengatakan bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia atau dari sini, Dia menjawab pertanyaan tersirat Pilatus: raja seperti apakah yang para pengikutnya sama sekali tidak berjuang untuk dia? Yesus mengakui bahwa kerajaan dunia akan demikian. Pilatus menangkap pengakuan tersirat Yesus bahwa Dia adalah raja, dan mempertanyakan hal itu lagi (37a). Yesus enggan mengiyakan bahwa Dia adalah raja, karena konsep Pilatus itu duniawi. Jadi, Yesus menjawab bahwa Dia datang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran. Kata “kebenaran” adalah aletheia, apa yang sebenarnya di balik yang kelihatan (bukan dikaiosune, apa yang sesuai dengan norma). Tetapi maksud Yesus bukan aletheia ala filsafat Yunani. Yang di balik yang kelihatan itu kerajaan Allah, kerajaan yang ada di balik segala kuasa duniawi.

Pilatus langsung bertanya dengan sinis atau ragu, “Apakah kebenaran itu?” Perkembangan selanjutnya—bahwa Yesus disalibkan meskipun Pilatus tahu bahwa Dia tidak bersalah—membuktikan bahwa kebenaran itu tidak ada pada penguasa-penguasa dunia, termasuk agama. Di balik keadilan yang kelihatan justru ada kepentingan-kepentingan yang najis.

Maksud bagi Pembaca

Kita perlu mengimani bahwa hanya kerajaan Allah yang didatangkan oleh Kristus itu merupakan kerajaan yang sebenarnya, sehingga kita akan memilih setia kepada Allah meskipun ditolak oleh kerajaan-kerajaan dunia.

Makna

Ada pemahaman filsafat Yunani bahwa kebenaran filosofis adalah jalan untuk menguasai diri: rasio menjadi raja atas nafsu. Pemahaman itu merembes ke dalam gereja dalam bentuk bahwa cukup kita melawan dosa dalam diri kita untuk menjadi anggota sejati kerajaan Allah. Kedua bacaan yang lain membantu kita untuk memahami tema kerajaan dengan lebih tepat.

Dalam Dan 7:9–14, pada zaman Israel di bawah kuasa kerajaan-kerajaan raksasa, Daniel melihat penglihatan tentang Anak Manusia yang diberi kerajaan Allah sebagai jawaban terhadap empat kerajaan raksasa yang digambarkan sebagai binatang buas. Kerajaan itu merupakan kebenaran di balik kemuliaan yang kelihatan dari kerajaan-kerjaan dunia, dan kerajaan itulah yang mau didirikan oleh Yesus melalui salib dan kebangkitan-Nya.

Why 1:4–8 berbicara dari perspektif pasca-kematian dan kebangkitan Yesus. Yesus Kristus sudah terbukti sebagai Saksi yang setia (5) yang menjadi penguasa atas raja-raja bumi. Kemuliaan dan kuasa yang sejati ada pada Dia (6b). Kemuliaan adalah daya tarik yang menyatakan kelayakan sesuatu untuk dikagumi dan diterima; berkaitan dengan kuasa, kemuliaan menyatakan keabsahannya sehingga kuasa itu diamini, bukan dilawan. Kita yang telah menerima kasih Kristus yang melepaskan kita dari dosa kita itu telah menjadi anggota-anggota kerajaan yang bukan dari dunia itu (5b–6a). Sifatnya yang non-duniawi dilihat dari identitas kita, yakni imam-iman yang beribadah kepada Allah dan memberitahukan kemuliaan Kristus kepada bangsa-bangsa.

Jadi, kerajaan Kristus merupakan kerajaan. Dia adalah rajanya yang memiliki warga, yaitu mereka yang menerima kasih-Nya sehingga dibebaskan dari dosa. Dia sementara bersabar sampai semua musuh-Nya meratapi Dia, entah dalam pertobatan entah karena dihukum.

Jika hal itu diimani, apa akibatnya? Kita tidak akan memutlakkan kerajaan dan lembaga duniawi lagi. Pemerintah berhenti menjadi harapan pertama kita, kuasa berhenti menjadi perebutan pertama kita. Semangat kita akan ditujukan kepada kerajaan Kristus sebagai kerajaan yang sejati, yang sungguh mulia sebagai sumber kasih dan pembebasan yang sejati. Hal itu tentu berdampak pada cara kita terlibat dalam politik dan masyarakat, lebih lagi karena kita hidup dalam demokrasi. Kita peduli, tetapi karena digerakkan oleh pengharapan kerajaan Kristus, bukan karena kandidat atau program tertentu adalah jawaban terhadap kondisi dunia ini.

Semangat yang bertahan berasal dari visi; semangat iman yang sejati berasal dari visi akan kerajaan Kristus yang bukan dari dunia.

Dipublikasi di Yohanes | Tag | 1 Komentar

Ibr 9:24-28 Menantikan Sang Juruselamat [8 Nov 2015]

Penggalian Teks

Kitab Ibrani mau mendorong para pendengarnya untuk setia kepada Kristus. Ada tiga aspek besar dalam rangka itu. Yang pertama, penulis menjunjung tinggi Kristus. Apa saja yang dianggap mulia oleh manusia, Kristus itu lebih mulia. Yang kedua, Kristus mau membawa kita kepada kemuliaan itu, kepada peristirahatan yang kekal (4:9). Tetapi, yang ketiga, manusia adalah makhluk yang berdosa, yang sulit setia, seperti dilihat ketika Israel memberontak dan tewas di padang gurun. Bagaimana caranya Yesus bisa tidak malu menyebut kita saudara (2:11), dan bisa menjadi Imam Besar yang takhta-Nya dihampiri dengan berani (4:15)? Dalam 8:8–12, penulis mengutip janji dalam Yer 31:31–34 tentang perlunya perjanjian yang baru, yang membereskan persoalan dosa yang begitu melekat pada Israel, yang dalam hal ini mewakili manusia secara umum.

Pengadaan perjanjian baru itu yang dijelaskan dalam p.9, termasuk perikop kita. Kuncinya adalah darah Kristus. Dalam 9:11–14, darah itu menyucikan hati nurani sehingga kita berani beribadah kepada Allah. Tetapi, bukan hanya umat Israel yang ditahirkan oleh darah dalam PL. Allah itu intoleran terhadap dosa, sehingga kemah suci sebagai simbol tempat tinggal-Nya harus juga ditahirkan oleh darah, bersama dengan semua alatnya juga ditahirkan oleh darah (9:21–22). Darah Kristus menggenapi kedua fungsi itu, tetapi di dalam tempat tinggal Allah yang sebenarnya, yakni surga (9:23).

A.24 merupakan penegasan bahwa Kristus menyucikan tempat kudus di surga, sehingga penyucian itu sampai ke akar masalah, diadakan di hadirat Allah sendiri. Aa.25–26 menegaskan bahwa masalah itu diselesaikan secara tuntas, satu kali saja untuk selamanya. Dia menghapus dosa—membuatnya tidak berlaku lagi sebagai kendala di hadapan Allah—dan dengan demikian memulai zaman akhir, zaman penggenapan janji-janji Allah.

Semuanya itu disimpulkan dalam aa.27–28. Kematian dan penghakiman merupakan akhir dari kehidupan manusia. Kisah Yesus juga menyangkut kematian dan penghakiman terakhir. Dia mati bagi dosa yang merupakan penyebab kematian manusia. Oleh karena itu, ketika Dia datang untuk menghakimi dunia, dosa tidak menjadi masalah. Bagi orang yang menantikan Dia, kedatangan-Nya membawa keselamatan, beda dari angkatan Israel yang binasa di padang gurun.

Maksud bagi Pembaca

Penulis mau supaya pendengar yakin bahwa darah Yesus telah menuntaskan soal dosa, bukan hanya dari pihak manusia (hati nurani, 9:14) tetapi juga dari pihak Allah (surga, 9:23). Dengan demikian, kita akan menantikan Dia untuk mendapat keselamatan.

Makna

Jika kita bertanya kepada jemaat tentang apakah kedatangan Yesus dinantikan, apa jawaban mereka? Bagi seseorang yang sudah merasa dirinya benar, atau seseorang yang merasa puas dengan dunia ini, kedatangan Yesus adalah hal yang tidak menarik.

Lebih banyak menganggap bahwa kegiatan ritus (termasuk persembahan uang dsb) adalah pengganti kurban binatang, yang menghapus dosa-dosa kecil mereka. Kembali, kurban Kristus tidak terlalu dibutuhkan, dan kedatangan-Nya tidak sepenting kegiatan religius itu. Pernah ada mahasiswa mengadakan angket di sebuah jemaat, dan ketika ditanya tentang kebenaran dari Alkitab yang relevan untuk orang yang jatuh ke dalam dosa, hampir tidak ada yang menyebutkan Yesus. Allah adalah Mahapengampun, dan salib Kristus hanyalah simbol identitas kristiani.

Namun, saya duga bahwa orang-orang ini (sebagian cukup besar dari jemaat-jemaat yang kita layani) tidak nyaman dalam hati nuraninya, karena jelas kegiatan religius tidak mampu menuntaskan dosa. Kedatangan Kristus dikhawatirkan, sehingga ucapan agama lain, “semoga dia diterima di sisi Allah”, dianggap sah-sah saja.

Tidak ada “semoga” dalam a.28b. Bagi orang yang menantikan Dia, Yesus datang untuk menganugerahkan keselamatan. Mereka diterima di sisi Allah, karena Kristus telah membawa diri-Nya sebagai kurban ke dalam hadirat Allah sehingga menuntaskan soal dosa.

Bagaimana orang menjadi orang percaya yang menantikan Kristus? Yang pertama adalah kesadaran bahwa dirinya gagal di hadapan Allah—entah sadar karena hal-hal yang dilakukan, karena orang-orang di sekitarnya yang dikecewakan, atau karena introspeksi diri. Yang kedua, kesadaran itu tidak ditutupi dengan dalih atau pengandalan pada usaha sendiri. Yang ketiga, ditangkap bahwa kurban Yesus sudah cukup: kenajisan hati sudah disucikan; intoleransi Allah terhadap dosa sudah dinyatakan atas Kristus sebagai kurban.

Orang-orang itu akan menantikan Kristus sambil menempuh jalan yang telah Dia rintis, yaitu setia kepada Allah meski dihina, menderita, bahkan terancam maut. Hal itu akan mereka lakukan karena Kristus telah menjadi yang utama bagi mereka, lebih mulia dari segala yang lain.

Dipublikasi di Ibrani | Tag , | Meninggalkan komentar

Yes 25:6-9 Bersukacita dalam pengharapan [1 Nov 2015]

Penggalian Teks

Yesaya 24 bernubuat tentang kehancuran bumi karena penghukuman Allah atas dosa manusia. Maksudnya menjadi jelas dalam 24:21–23, yaitu supaya semua penguasa yang melawan Allah dihancurkan, sehingga Allah memerintah di tengah umat-Nya di Sion. Yes 25:1–5 memuji Allah karena penghukuman itu membebaskan orang lemah dan miskin dari penguasa-penguasa itu, dan mendiamkan nyanyian bualan mereka.

Perikop kita menggambarkan pemerintahan Allah semesta alam—Allah yang berkuasa atas semua penguasa itu—di gunung Sion itu. Ternyata yang miskin dan lemah itu berasal dari segala bangsa. Mereka akan menikmati perjamuan yang layak untuk kaum raja yang tadinya menindas mereka (6). Bahkan dalam Why 21:24, 26 dikatakan bahwa segala kekayaan bangsa-bangsa akan dinikmati oleh umat Allah. Lebih dari itu, Dia akan meniadakan maut yang menjadi kain perkabungan dan tudung atas segala bangsa; dengan demikian tidak ada lagi air mata dan aib (7–8). Aib yang dimaksud adalah kegagalan Israel untuk hidup sebagai umat pilihan Allah yang dinyatakan dalam hukuman Allah atas Israel—perikop ini melihat pemulihan setelah aib itu.

Respons umat Allah disampaikan dalam a.9. Yang dipuji ialah Allah. Dia dipuji dengan gembira karena dinanti-nantikan; di tengah kesusahan, umat-Nya berharap hanya kepada Dia sehingga pujian mereka meluap ketika keselamatan itu tiba. Sebaliknya (setelah perikop kita), orang-orang yang sombong, yang tidak menantikan Allah, akan seperti Moab: diinjak-injak dan dicampakkan ke tanah dan debu (25:10–12).

Maksud bagi Pembaca

Supaya umat Allah bersukacita dalam pengharapan akan perjamuan akbar dan pemulihan bahkan dari maut dan dosa pada akhir zaman.

Makna

Perikop ini berbicara tentang Yesus Kristus. Dia yang menanggung penghukuman Allah lalu bangkit mengalahkan maut. Oleh karena itu, Dia telah diberi segala kuasa di bumi dan di surga (Mt 28:18), dan Dia sedang memerintah sampai semua musuh Allah ditaklukkan di bawah kaki-Nya (1 Kor 15:25). Dia menjadi roti hidup yang bertahan sampai hidup yang kekal: daging-Nya mengenyangkan dan darah-Nya menggembirakan (bdk. Yohanes 6). Maut adalah musuh terakhir untuk ditiadakan; aib umat-Nya telah dihapus. Dialah yang dengan sempurna menantikan keselamatan sehingga menjadi yang pertama bangkit dari antara orang mati.

Perikop ini berbicara tentang gereja (kita). Di dalam Kristus, kita turut dihukum dan dipulihkan (Rom 6:1–14) sehingga kita diperkenan menikmati daging yang mengenyangkan dan darah yang menggembirakan itu (mungkin Yoh 11:32–44 dapat dilihat sebagai gambaran akan hal itu). Maut tidak lagi membuat kita takut dan pelit; rasa malu tidak lagi mengendalikan jalan kita di depan orang lain. Di dalam kebangkitan Kristus, kita memiliki dasar yang kuat untuk menantikan keselamatan Allah yang tuntas, untuk mengejar sukacita yang sejati. Hal itu membuat kita optimis: bukan tentang manusia atau penguasa-penguasa dunia, melainkan tentang daya kebangkitan yang sedang bekerja oleh Roh Kudus dalam dunia ini karena Kristus adalah Raja. Optimisme itu bisa disebut optimisme yang kristosentris.

Perikop ini berbicara tentang dunia baru, suatu pengharapan yang tetap bermakna bahkan untuk orang-orang percaya yang hidupnya sudah hancur di Suria dan tempat-tempat yang lain, karena melampaui kondisi kita. Pada saat itu, perjamuan itu bukan lagi hanya melalui simbol; Allah dan Kristus akan ada di tengah kita, tanpa selubung apa saja; dan pujian kita akan sempurna. Hal itu digambarkan dalam Why 21:1–7. Sebaliknya, Why 21:8 menunjukkan bahwa akan ada “orang-orang Moab” yang menolak anugerah Allah dan binasa. (Leksionari tidak memasukkan ayat-ayat hukuman itu, tetapi bagi saya konsep keselamatan tidak utuh tanpa melihat alternatifnya.)

Ketiga hal ini saling berkaitan. Tujuan MJ yang pertama berbicara tentang optimisme (“Allah sanggup memulihkan keadaan kita”). Saya istilahkan sebagai optimisme yang kristosentris, dalam perbandingan dengan optimisme yang alami tentang manusia dan penguasa. Soalnya, kedua pihak itu sering mengecewakan. Saya memilih kristosentris daripada teosentris karena rencana Allah jauh lebih jelas ketika dilihat di dalam Kristus. Memang betul bahwa Allah sanggup memulihkan kita, tetapi dalam kematian dan kebangkitan Kristus kita sudah melihat bagaimana caranya, dan kita mengenal Kristus yang sedang memerintah sebagai Raja. Kristus adalah gambar Allah yang konkret bagi manusia yang sulit menangkap apa yang abstrak saja.

Optimisme tidak sama dengan pengharapan. Optimisme tidak ada gunanya bagi orang yang berlutut sebelum dipenggal kepalanya karena setia kepada Kristus. Mereka bertahan karena pengharapan. Namun, optimisme adalah salah satu wujud pengharapan dalam keseharian. Kedewasaan iman muncul ketika kita puas dengan darah dan daging Kristus dan memandang Yesus sebagai Raja yang sebenarnya atas dunia ini. Dengan demikian, kita tidak dikendalikan oleh uang dan reputasi, dan kita akan berani mengambil risiko.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Mrk 10:35-45 Siap dihina untuk melayani [18 Okt 2015]

Penggalian Teks

Rombongan Yesus makin dekat Yerusalem dan makin cemas (10:32). Untuk ketiga kalinya Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita, mati, dan bangkit (10:33–34). Dalam kondisi ini, Yakobus dan Yohanes mendekati Yesus dengan iman yang kuat. Permintaan mereka supaya Yesus “mengabulkan suatu permintaan kami” (35) mirip dengan Yoh 14:13 (“apa juga yang kamu minta”; kemiripannya lebih jelas dalam bahasa aslinya dan TB2): mereka berani memohon. Mereka yakin bahwa Allah akan turun tangan untuk mendirikan kerajaan-Nya, meskipun Yesus tidak memiliki tentara atau kuasa, sehingga mereka meminta kedudukan terhormat ketika Yesus naik sebagai Raja Israel dan dunia (35–37). Yesus tidak menolak apa yang mereka imani, yaitu adanya kerajaan, dan adanya kedudukan yang tinggi di dalamnya (40). Namun, permintaan mereka bodoh (a.38: “Kamu tidak tahu”) karena tidak memperhitungkan penderitaan dan penghinaan yang harus dilalui, pertama-tama oleh Yesus (38), kemudian oleh mereka (39). Penderitaan itu digambarkan sebagai cawan dan baptisan. Penderitaan dan penghinaan akan masuk ke dalam diri-Yesus seperti minuman, dan akan meliputi-Nya seperti ketika seseorang dibaptis. Lebih lagi, kematian Yesus akan menjadi penggenapan baptisan-Nya. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Dia bergabung dengan Israel yang mengaku berdosa (1:5, 9). Dengan demikian, kematian-Nya bisa mewakili kematian Israel yang berdosa, seperti dinubuatkan dalam Yesaya 53 tentang hamba Tuhan. Kalau demikian, cawan itu berisi murka Allah, seperti dalam Yes 51:17. Cawan itu diambil dari Israel (Yes 51:22) karena pelayanan hamba Tuhan itu. Yakobus dan Yohanes tidak akan ikut mati bagi dosa dunia, tetapi mereka akan ikut menderita demi Injil kerajaan Allah, seperti kata Paulus dalam Kol 1:24. Kemenangan Yesus bukan soal unggul atas orang lain seperti dalam pertandingan, tetapi hasil perjuangan yang penuh pengorbanan. Kita mengingat bahwa Yakobus mati syahid ketika belum tua (Kis 12:2).

Mereka juga tidak tahu bahwa bukan Yesus yang menentukan kedudukan itu, melainkan Allah (40). Tugas Yesus adalah mati bagi dunia, bukan membagi-bagikan jabatan. Namun, ternyata sikap dangkal Yakobus dan Yohanes diikuti oleh murid-murid yang lain, yang menjadi marah, sepertinya karena mereka sendiri belum berani meminta kedudukan yang didambakan itu (41). Yesus menjawab dengan ucapan-Nya yang terkenal dalam aa.42–45. A.42 memaparkan cara dunia memimpin. Dua kata dipakai di sini, katakurieuo (tafsiran LAI: “memerintah dengan tangan besi”) dan katexousiazo (tafsiran LAI: “menjalankan kuasa dengan keras”). Kata yang pertama itu dipakai, misalnya, untuk penguasaan nafsu-nafsu buruk, jadi konsepnya adalah rakyat sebagai hal liar yang harus ditaklukkan, dikendalikan supaya sesuai dengan kepentingan pemerintah. Kata kedua langka, tetapi mungkin maksudnya adalah pemakaian kuasa yang melewati batas. Kepentingan pemerintah belum tentu buruk—kekaisaran Romawi bangga akan kedamaian yang terwujud—tetapi kepentingan itu dengan mudah menggilas rakyat. Mungkin saja banyak orang Yahudi membayangkan bahwa Mesias juga akan memerintah demikian, menerapkan Kerajaan Allah atas bangsa-bangsa dengan paksa demi kemuliaan Allah. Sepertinya itulah harapan Yakobus dan Yohanes.

Yesus menjungkirbalikkan makna kepemimpinan itu. Di komunitas Yesus, pembesar harus menjadi pelayan, dan yang terkemuka malah menjadi hamba (43–44). Hal itu sejajar dengan 10:31, di mana orang yang terdahulu dalam materi (kaya) menjadi terakhir (tidak masuk) dalam Kerajaan Allah, sementara orang miskin akan masih lebih dahulu. Yesus menerapkan prinsip itu ke dalam struktur komunitas-Nya. Dia tidak menyangkal bahwa akan ada pembesar dan orang-orang terkemuka, dan memang keduabelas murid menjadi terkemuka di gereja perdana. Tetapi caranya adalah cara pelayan atau hamba. Seorang pelayan mencari kebaikan orang-orang yang dilayani, dan seorang hamba tidak menuntut dihormati.

Akhirnya, Yesus mengangkat diri-Nya sebagai teladan (45). Dia adalah Anak Manusia yang akan menerima segala kuasa Kerajaan Allah (bdk. Dan 7:13–14), tetapi untuk mencapai garis itu Dia harus meminum cawan penderitaan dan penghinaan seperti baru saja dikatakan kepada mereka (10:32–34). Salib adalah hukuman yang dikhususkan bagi kaum budak, sehingga Yesus akan menjadi seorang hamba dalam soal kehilangan hormat. Hal itu akan Dia lakukan sebagai pelayan untuk kebaikan banyak orang, karena nyawa-Nya akan menjadi tebusan bagi mereka. Kata tebusan (lutron) merujuk pada uang yang dipakai untuk menebus seorang hamba. Seperti dijelaskan di atas, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya menjadi cara Allah membawa manusia dari maut ke hidup baru; nyawa Yesus menjadi harga yang dibayar supaya kita bebas dari dosa dan maut.

Maksud bagi Pembaca

Yesus menusuk dengan teladan-Nya sendiri kesombongan murid-murid sepanjang zaman yang mau mengendalikan daripada melayani, mau dipandang daripada menjadi hamba.

Makna

Kembali saya menyoroti soal penghinaan dan hormat, karena bagi saya, pemahaman akan salib Kristus paling tepat diukur di situ. Dengan gampang orang menerima bahwa dosa mereka diampuni, tetapi adalah jauh lebih sulit menerima soal memikul salib, menjadi seperti anak, dan di sini menjadi seperti hamba yang siap tidak dihormati. Pada hemat saya, kalau hal itu belum ditangkap, kemungkinan besar pengampunan dosa juga kurang dihargai, dan kita belum memasuki jalur yang sejati sebagai pengikut Yesus. Mengkhotbahkan teologi salib ini dengan tepat akan seperti menyentuh bisul.

Ibr 5:5–10 menegaskan hal itu. Yesus adalah Anak Allah dan juga Imam Besar (5:5–6). Soal Yesus diangkat sebagai Imam Besar langsung diikuti dengan cerita tentang penderitaan Yesus di taman Getsemane (5:7). Ternyata, sekalipun Dia adalah Anak yang mulia, Dia harus belajar taat melalui penderitaan (5:8). Artinya, ketaatan hanya terbukti dan disempurnakan dalam penderitaan. Kedudukan Yesus tidak meluputkan Dia dari melakukan apa saja yang dibutuhkan supaya Dia menjadi pokok keselamatan bagi kita (5:9). Jadi, sebagai Imam Besar, Dia tidak hanya mengerti pergumulan kita (4:15), tetapi Dia sudah menunjukkan jalan yang harus ditempuh oleh orang-orang yang telah menerima keselamatan.

Dipublikasi di Markus | Tag , | Meninggalkan komentar

Ibr 4:12-16 Setia kepada Yesus yang Agung [11 Okt 2015] (Minggu Kesatuan Umat Kristen se-Dunia)

Penggalian Teks

Surat Ibrani adalah khotbah yang disampaikan supaya para pendengarnya setia kepada Kristus. Demi tujuan itu, penulis menjunjung tinggi Sang Anak sebagai Firman yang terakhir dari Allah, lebih unggul bahkan dari Taurat (1:1–2:4). Sang Anak tidak hanya menyampaikan pesan dari Allah, Dia menyatakan keberadaan Allah (1:3). Jika Sang Anak itu mulia dan tinggi, mulai 2:5 penulis menjelaskan bahwa Anak itu tidak lain dari Yesus yang memasuki kondisi manusia dan memulihkannya (2:5–8). Mendengar Sang Anak berarti mengikuti jalan pemulihan yang telah Dia rintis itu (2:9–14). Cara pemulihan itu terkait dengan gelar Yesus sebagai Imam Besar yang mengalahkan Iblis dan maut dan mendamaikan dosa, sehingga keturunan Abraham, umat Allah, dipulihkan (2:15–16). Jadi, sebagai Anak, Yesus mewahyukan keberadaan Allah dan mewakili kuasa-Nya; sebagai Imam Besar, Yesus membuka jalan menuju ke kemanusiaan yang sejati dengan mendamaikan dosa dan menolong umat Allah dalam pencobaan.

Jalan yang dirintis Yesus itu menuju tempat perhentian yang kekal (4:9–11). Manusia perdana menikmati hari ketujuh Allah di tanah Eden, sementara Israel menikmatinya di tanah Kanaan. Tetapi kita belum sampai pada tempat perhentian itu; kita masih seperti Israel di padang gurun. 3:1–6 menempatkan kita sebagai rumah Allah seperti Israel di bawah Musa, sementara 3:7–4:11 mengangkat kegagalan Israel di padang gurun sebagai peringatan untuk tetap setia. Seperti dikutip dari Mzm 95:7–11, Israel tidak mendengar suara Allah karena hati yang keras, sehingga satu angkatan tidak mencapai tujuannya tetapi tewas di padang gurun (3:15–19).

Jadi, fungsi firman yang hidup dan kuat itu membuka dan membongkar ketidakpercayaan dan ketidaktaatan yang bersembunyi dalam pertimbangan dan pikiran kita (12–13). Firman Allah hidup dan berdampak: Dia bersumpah bahwa Israel tidak akan masuk ke tempat perhentian-Nya, dan itulah yang terjadi (3:15). Firman Allah menusuk: ia membongkar dalih-dalih kita, menelanjangi kekerasan hati kita, dan membawa penilaian dari Allah terhadap hati kita (LAI “membedakan” diperbaiki dengan “menilai” dalam Terjemahan Baru edisi 2). Penilaian itu tuntas, karena segala sesuatu terbuka di depan mata Allah, dan penilaian itu menjadi tolok ukur pertanggungjawaban kita terhadap Allah.

Setelah bagian ini yang mengingatkan kita tentang kuasa dan otoritas Allah, kembali penulis menyoroti Yesus sebagai Imam Besar yang Agung dan juga turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Bahwa Yesus itu memiliki kedudukan yang tinggi, sebagai manusia yang telah dimahkotai dengan kemuliaan (2:7–8a) dan sebagai Anak Allah, menjadi alasan untuk tetap setia (14). Yang disoroti dengan istilah “pengakuan” (“iman kita” adalah tambahan penjelas dari LAI) ialah kesetiaan kepada Yesus di depan umum; kita lebih kagum akan Yesus daripada pendapat umum.

Kesetiaan itu memang wajib, tetapi pada saat yang sama, penulis menunjukkan bagaimana Yesus membantu kita untuk setia. Kedudukan Yesus yang tinggi tidak meniadakan pengalaman-Nya di dunia; Dia mengerti pencobaan, dan juga bagaimana mengatasinya (15). A.16 berbicara tentang doa. Doa itu adalah doa kepada seorang Raja yang bertakhta. Makanya, penulis berbicara tentang “keberanian”, yaitu mengatasi rasa segan di hadapan petinggi. Keberanian itu sah karena takhta itu merupakan takhta “kasih karunia”. Kasih karunia di sini berarti bahwa Sang Anak akan berkenan mendengar permohonan kita karena rahmat-Nya. Makanya ada janji bahwa kita akan mendapat pertolongan pada waktunya. Pertolongan yang dimaksud ialah pertolongan supaya tetap setia, supaya dikoreksi oleh firman Allah yang hidup sehingga tidak jatuh dalam perjalanan karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan.

Maksud bagi Pembaca

Kita setia kepada Kristus dengan dikoreksi oleh firman Allah, dengan kagum akan kemuliaan Anak Allah, dan dengan ditolong oleh kasih karunia-Nya.

Makna

Perikop ini, seperti kitabnya secara keseluruhan, menekankan pentingnya setia, teguh berpegang pada pengakuan iman. Pergi ke gereja adalah salah satu wujud mengaku percaya yang diterima secara umum, tetapi sepertinya mengaku Kristus tidak diterima dalam semua konteks. Banyak orang tidak mau supaya iman mengganggu kebiasaan mereka, sehingga orang yang setia dicap “sok alim” atau “fanatik”. Di sini pentingnya gambaran kita akan Yesus. Jika kita menganggap Yesus agung dan mulia, kita akan justru merasa lebih malu menyangkal Dia daripada mengaku Dia di hadapan orang yang menyindir kesalehan kita. Jika kita menangkap bahwa Dia mengerti, kita tidak akan segan untuk memohon pertolongan-Nya dalam kelemahan kita.

Sikap kagum dan berani itu tidak muncul dengan sendirinya. Seringkali, orang menganggap berhak ditolong Allah, atau bahwa Allah tidak peduli. Kedua sikap itu muncul dari hati yang keras (yang satu dalam kesombongan, yang satu dalam kecemasan). Hanya firman Allah yang dapat membongkar hati kita supaya kita berubah. Jemaat yang marah-marah kepada pelayan setiap kali tersinggung oleh firman perlu diingatkan bahwa itulah salah satu fungsi firman itu.

Kedudukan Yesus mirip dengan peran leluhur (nene‘) dalam kepercayaan tradisional orang Toraja. Dia adalah bagian dari keluarga kita (2:11–14); Dia pernah hidup di dunia ini sehingga memahami pergumulan kita sebagai manusia (bdk. Mazmur 22); dan sekarang Dia menjadi sumber berkat ilahi. Makanya, di berbagai daerah di dunia, Yesus digelar Sang Leluhur. Tentu saja, Yesus adalah Anak Allah sebelum Dia lahir, karena dunia diciptakan melalui Dia (1:2). Maksud dari gelar itu bukan bahwa Yesus itu sesuai dengan kepercayaan lama, tetapi bahwa fungsi yang terasa dalam penyembahan dan doa kepada leluhur itu digenapi dengan lebih baik lagi dalam diri Yesus. Orang yang giat ma’nene’ sebagai sumber berkat belum menangkap bahwa Yesuslah lebih dari nene’, Dia juga adalah Imam Besar yang mendamaikan dosa kita, dan menuntun kita ke dunia yang baru.

Dipublikasi di Ibrani | Tag , | Meninggalkan komentar

Mrk 9:38-50 Persembahan hidup yang bergaram [27 Sep 2015]

Penggalian Teks

Titik balik dalam Injil Markus adalah pemberitahuan Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa selaku Mesias Dia harus menderita (8:29–31). Hal itu diulang dua kali dalam perjalanan Yesus ke Yerusalem, sambil Yesus mengajar mereka makna mengkuti Mesias yang menderita. Perikop kita terdapat setelah pemberitahuan kedua (9:30–32). Pemberitahuan itu diikuti dengan teguran Yesus bahwa murid-murid-Nya harus menjadi yang terakhir. Sikap itu dicontohkan dengan penerimaan mereka terhadap anak (9:37). Yesus bisa saja diwakili oleh seorang anak, sama seperti Allah diwakili dalam diri Yesus yang bukan pembesar atau penguasa.

Murid-murid langsung menunjukkan ketidakpahaman mereka ketika Yohanes melaporkan, sepertinya dengan bangga, bahwa mereka mencegah orang mengusir setan dalam nama Yesus (38). Sepertinya, para murid mau menjadi yang terbesar dalam rangka pelayanan demi Yesus. Kepada orang Farisi yang menganggap bahwa kuasa Roh Kudus yang berlaku dalam Yesus itu kuasa Iblis, Yesus mengatakan bahwa “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku” (Mat 12:30). Tetapi orang ini, meskipun tidak termasuk dalam rombongan Yesus, searah dengan pelayanan Yesus, dia ada di pihak Yesus (39–40). Bukan hanya murid Yesus yang menjadi inti rombongan Yesus yang terlibat dalam misi-Nya, memberi secangkir air pun kepada utusan Yesus ada upahnya (41).

Sikap murid-murid Yesus itu menyesatkan. Yesus memperingatkan mereka untuk jangan menularkan sikap mereka kepada “anak-anak kecil yang percaya ini”, yaitu orang sederhana yang memberi secangkir air itu (42). Untuk tidak menyesatkan orang lain, mereka harus membuang sikap yang menyesatkan dalam diri sendiri, entah tangan, kaki, atau mata (43–48). Tentu, Yesus yang melihat hati sebagai sumber kenajisan (Mrk 7:20–23) menggunakan ketiga anggota ini sebagai kiasan. Dengan tangan kehendak manusia dinyatakan, termasuk kehendak untuk berkuasa (mis. Yos 2:24), yang bisa menjadi keinginan untuk menjadi yang pertama tadi. Kaki bisa tergelincir sehingga membawa orang ke dalam dosa (mis. Mzm 56:14; Ams 29:5), atau menjadi indah dengan membawa kabar baik (Yes. 52:7). Mata melihat hal yang diingini, entah baik atau buruk. Ini contoh-contoh saja. Pada hemat saya, kita bebas menerapkan ketiga anggota ini dengan cara yang masuk akal pendengar kita. Intinya bahwa membuang dosa dari kehidupan kita ibarat kehilangan anggota tubuh.

Alasan yang mendorong pembuangan dosa yang menyakitkan itu cukup keras. Ada dua akhir dalam aa.43–48, yaitu hidup (= Kerajaan Allah dalam a.47) dan Gehenna (“neraka”). Gehenna adalah Lembah Ben-Hinom di sebelah Selatan dari Yerusalem yang menjadi tempat pembuagan sampah karena pernah ada praktek menjijikkan seperti mengorbankan anak di dalamnya (Yer 7:31; bdk. Yes 66:24). Sebagai tempat sampah, ulat dan api tidak pernah mati (48). Makanya, tempat itu sudah menjadi kiasan lazim bagi orang Yahudi untuk tempat pembuangan manusia yang ditolak dari Kerajaan Allah. Maksud Yesus jelas. Lebih baik hidup kekal yang cacat daripada mati utuh. Tentu, perbandingan Yesus itu berlebihan. Bukan anggota tubuh yang dipotong, tetapi dosa dalam hati. Tetapi akibatnya untuk membiarkan dosa adalah serius sekali.

Kemudian, Yesus merujuk pada aspek lain dari api: bukan hukuman melainkan pemurnian (49). Api sebagai pemurni terdapat dalam Mal 3:2–3; Mal 3:1 (“Tuhan…akan masuk ke bait-Nya”) akan digenapi ketika Yesus tiba di Yerusalem. Hasil dari pemurnian itu ialah persembahan korban yang benar (Mal 3:3). Dalam Im 2:13, korban sajian harus memakai garam, yang menyimbolkan kelestarian perjanjian Israel dengan Allah. Jika api yang disebutkan Yesus merujuk pada Roh Kudus (Mt 3:11), maka Yesus merujuk pada daya pemurnian Roh Kudus yang dilepaskan setelah Dia datang ke Yerusalem dan melalui perapian mati di salib kemudian bangkit pada hari ketiga (bdk. pemberitahuan kedua tadi). Roh Kudus yang memampukan pembuangan dosa dalam diri seorang murid, sehingga mereka menjadi persembahan hidup yang bergaram.

Jadi, garam adalah hidup yang makin disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan, yaitu Kerajaan Allah. Garam itu menjadi hambar ketika dosa dibiarkan berkembang, terutama dosa persaingan dan pengejaran kedudukan seperti yang dilihat dalam murid-murid Yesus tadi. Makanya, kumpulan murid yang bergaram akan hidup berdamai (50). Sebaliknya, damai adalah pertanda bahwa murid-murid mulai menangkap makna dari perendahan Yesus yang Dia lalui di Yerusalem sehingga mereka membuang sikap dan praktek yang menyesatkan.

Maksud bagi Pembaca

Para pengikut Yesus diajak menjadi persembahan hidup yang bergaram dengan membuang sikap-sikap yang menyesatkan dan merendahkan. Dasar dari perjuangan itu ialah pengorbanan Yesus sendiri.

Makna

Akhir dari perikop ini (50b) menegaskan apa yang dilihat dari perikop sebelumnya, yaitu bahwa yang dicari Yesus, yang cocok dengan cara Yesus mendatangkan Kerajaan Allah, ialah hidup berdamai. Hidup berdamai dilihat ketika pemimpin menghargai yang kecil seperti anak, dan ketika mereka yang menonjol dalam pelayanan menghargai mereka yang hanya mampu membantu dengan memberi minum. Hal itu terjadi ketika mereka yang berpengaruh berjuang keras terhadap sikap-sikap yang menyesatkan dalam dirinya, supaya tidak menyesatkan yang lain. Dengan demikian, persekutuan murid Yesus menjadi persembahan hidup kepada Allah yang tidak akan menjadi busuk ketika melayani dunia yang penuh daya pembusuk, sehingga menjadi kesaksian tentang kesetiaan janji-janji Allah di dalam Kristus.

Saya menegaskan aspek relasional dari ajaran Yesus ini karena warisan teologi yang individualis terlalu cepat menjadikan kemurnian jiwa sebagai ukuran, bukan dampaknya pada relasi. Contohnya, seorang pemarah berjuang untuk mengendalikan emosinya, dan berhasil. Karena jiwanya sudah baik-baik saja, dia tidak memperhatikan bahwa dia tetap merendahkan orang lain dengan berbagai cara, hanya sekarang dengan cara yang lebih lembut. Makanya, Yesus mengangkat sikap terhadap anak dan orang yang tidak memberi sumbangsih (atau sumbangun) sebagai ukuran akan sejauh mana seseorang menjadi murid yang sejati. Jika saya mengandalkan hati nurani melalui introspeksi hati, saya bisa saja menipu diri saya sendiri.

Lebih lagi, perlawanan terhadap dosa harus berakar dalam Kristus yang akan melalui penderitaan dan kematian supaya Kerajaan Allah memasuki fase baru dalam kebangkitan-Nya. Api Roh Kudus adalah hasil karya Kristus itu. Garam hidup berdamai adalah kesaksian terhadap kesetiaan janji-janji Allah dalam Kristus itu. Pertobatan yang radikal yang dituntut oleh Yesus dalam aa.43–48 tidak terlepas dari sejauh mana kita menangkap bahwa jalan hina yang ditempuh Yesus adalah juga jalan yang ditempuh oleh para pengikut-Nya.

Inti dari pertobatan itu adalah mengenali bahwa jalan melawan dosa itu merupakan jalan hidup yang sejati, yang searah dengan Kerajaan Allah.

Pada hemat saya, jemaat-jemaat kita sudah lama menjadi hambar, dan pada hemat saya juga, tidak kebetulan bahwa pemahaman mereka akan karya Kristus kabur. Jangan melewatkan kesempatan untuk menjunjung tinggi Kristus yang sedang menuju salib, yang menjadi teladan kerendahan diri yang membawa hidup yang sejati, termasuk damai seorang dengan yang lain. Dengan demikian, seruan pahit untuk membuang dosa memiliki dasar dalam Kristus, dan tujuan yang jelas, yaitu hidup bersama yang bersaksi tentang janji-janji Allah di dalam Kristus.

Dipublikasi di Markus | Tag , | Meninggalkan komentar

Mzm 1:1-6 Teguh dan berbuah karena Firman [13 Sep 2015]

Penggalian Teks

Mazmur ini memulai kitab Mazmur. Aslinya sebuah mazmur ialah untuk dipakai dalam ibadah di Bait Allah, tetapi dengan dibukukan, mazmur-mazmur itu bisa juga menjadi bahan perenungan. Ucapan manusia menjadi firman Allah. Jadi, mazmur ini mengarahkan kita yang akan membaca dan memakai kitab Mazmur. Dengan demikian, Taurat dalam a.2 menjadi lebih luas dari kelima kitab Musa saja. Kata tora (Taurat) berarti pengarahan, dan kitab Mazmur termasuk di dalamnya.

Alur mazmur ini menarik. A.1 mulai dengan seseorang yang berbahagia, tetapi yang diuraikan adalah tiga kelompok pembanding: orang fasik, orang berdosa, dan pencemooh. Yang berbahagia itu tunggal, tetapi kata-kata “fasik”, “berdosa”, dan “pencemooh” itu jamak. Yang berbahagia itu melawan tiga tingkat pengaruh dunia: ajakan, contoh, dan ancaman. Tersirat dalam a.1 bahwa orang yang berbahagia itu menurut nasihat yang lain, berdiri di jalan yang lain, dan mengikuti kumpulan yang lain. A.2 mengandaikan saja hal-hal itu, dan mengemukakan sumber dari kemampuan orang yang berbahagia itu untuk tidak terseret ke dalam dosa: Taurat Tuhan menjadi kesukaannya dan bahan perenungannya. Firman Allah memampukan kita untuk melawan arus.

Hal itu dilihat dalam kondisi orangnya. Dia seperti pohon yang akarnya selalu mendapatkan air (3). Orang fasik, meskipun banyak, malahan seperti sekam (4). Biar ada angin sedikit, mereka terbawa ke mana saja; biar ada badai atau musim kemarau, orang yang berbahagia itu tetap teguh dan berhasil. Jadi, biar orang fasik kelihatan banyak, di mata Tuhan mereka seperti tumpuan sekam: besar tetapi hampa. Kondisi ini terkait dengan sifat masing-masing: perenungan firman Allah membangun diri yang teguh; dosa dan cemooh membuat keropos diri-diri orang yang berbuat demikian. Taurat yang menjadi air sungai.

Angin yang meniup itu termasuk penghakiman (5). Penghakiman pertama-tama merujuk pada pengadilan di desa. Kata eda (“perkumpulan”) diterjemahkan “rapat jemaah” dalam Yos 20:9, terdiri dari tua-tua masyarakat. Diandaikan bahwa perkumpulan ini terdiri atas orang-orang benar, yang tidak akan membiarkan atau memberi tempat dalam keputusan masyarakat bagi orang-orang fasik itu. Tetapi di balik pengadilan manusia, ada Tuhan yang menghakimi (6). Tuhan mengakui jalan orang benar, biar pengadilan manusia tidak. Sebaliknya, kelompok orang fasik akan dibiarkan hancur sesuai dengan kekeroposan mereka.

Jadi, struktur seluruh mazmur berdasarkan perbandingan. Jika kita mengikuti subyek kalimat: aa.1–3 berbicara tentang seseorang yang berbahagia dan teguh (bentuknya tunggal); aa.4–5 tentang orang fasik yang rentan (4–5); dan a.6 tentang Tuhan yang mengetahui jalannya masing-masing. Kita bisa juga mengikuti tema: aa.1–2 memperbandingkan sifat orang-orang berdosa dengan penggemar Taurat; aa.3–4 kondisinya masing-masing; dan aa.5–6 nasib mereka ketika hidup mereka diuji, termasuk oleh sesama tetapi lebih oleh Tuhan. Adalah penting untuk melihat bahwa Tuhan mengenal sesuatu yang riil, yaitu kondisi masing-masing. Penghakiman mengungkapkan karakter orang sebagai hasil dari pilihan hidup, sebagai pencemooh atau pendengar firman Tuhan.

Maksud bagi Pembaca

Firman dari Tuhan yang memperhatikan jalan semua manusia itu adalah sumber menjadi oknum yang teguh dan berbuah, tahan uji tidak seperti orang fasik.

Makna

Adalah mungkin membaca mazmur ini dan mengartikan Alkitab sebagai jimat: jika dibaca secara teratur maka hidup akan baik. A.1 mengklarifikasi bahwa Alkitab adalah cara membangun hidup di hadapan Allah sehingga kita melawan berbagai arus manusia. Sama seperti seorang anak lebih peduli apakah orangtuanya mengenal apa yang dia lakukan daripada orang lain, kita hidup supaya jalan kita berkenan di hadapan Allah. Bukan “Apa kata orang?” melainkan “Apa firman Tuhan?” Tentu hal itu tidak berarti berpisah total dari orang fasik; Yesus justru bergaul dengan orang berdosa. Hanya, Yesus membawa firman kepada mereka, bukan mengikuti nasihat mereka.

Berkaitan dengan itu, anugerah Allah bukan soal sekam (diri yang keropos, yang tidak bermartabat) disimpan di tempat yang aman supaya tidak ditiupkan angin. Sebaliknya, anugerah adalah cara sekam itu bisa ditanam untuk menjadi pohon yang kuat dan berbuah dengan buah Roh. Memang, keputusan Allah pada penghakiman terakhir tentang semua orang yang berada di dalam Kristus telah disampaikan dalam kebangkitan Kristus, yaitu “tidak bersalah”, diterima ke dalam dunia baru. Itulah maksud ajaran Paulus bahwa kita dibenarkan di dalam Kristus. Oleh karena itu, kita bertumbuh bukan dalam ketakutan, karena keselamatan tidak bergantung pada sejauh mana pohon itu berhasil menjadi seteguh dan seberbuah Kristus. Itulah pentingnya mengakui Yesus sebagai Kristus (Mrk 8:27–30). Namun, maksud dari Injil tidak bergeser dari maksud mazmur ini: orang benar menjadi seperti pohon, menjadi manusia yang pendiriannya dibentuk oleh firman Allah.

Mzm 1:5 mungkin bisa dilihat ketika ada orang yang tidak mau berjemaat karena tersinggung oleh firman Tuhan. Ketidaknyamanan orang dalam perkumpulan orang benar adalah pertanda ketidaknyamanan mereka dalam penghakiman di akhir zaman. Tentu, jemaat-jemaat kita (termasuk pelayannya!) tidak selalu bertindak benar. Tetapi, ketika keluhan seseorang menyangkut prinsip yang benar, tidak usah tawar hati.

Apanya yang diperbuat oleh orang berbahagia yang selalu berhasil? Dalam kitab Mazmur, kita menemukan orang-orang yang setia kepada Allah yang sakit dan tertekan, seringkali karena orang fasik sementara berjaya. Itulah yang dialami Yesus, dan dalam 2 Tim 3:10–13 kita menemukan bahwa penganiayaan adalah bagian dari kehidupan orang percaya. Jadi, hasilnya adalah bertahan dalam iman (14), dan tetap bertumbuh dalam perbuatan baik (17). Firman Allahlah yang memperlengkapi kita untuk berbuah bahkan dalam badai dan musim kemarau (15–17).

Dipublikasi di Mazmur | Tag , | Meninggalkan komentar