Lukas 7:1-10 “Kuasa Yesus yang layak diimani” [29 Mei 2016]

Penggalian Teks

Perikop ini terjadi setelah khotbah Yesus di dataran, yang isinya mirip dengan Khotbah di Bukit dari Matius 5–7. (Keduanya barangkali merupakan ringkasan dari ajaran Yesus yang disampaikan berulang kali.) Setelah perikop ini, identitas Yesus menjadi tema penceritaan Lukas: kebangkitan anak muda di Nain menimbulkan laporan bahwa Yesus adalah nabi besar (7:16), dan Yohanes Pembaptis bertanya apakah Yesus adalah Mesias (7:19). Tetapi perikop kita menyoroti iman. Jika khotbah Yesus berakhir dengan seruan untuk menjadikan perkataan-Nya sebagai dasar hidup (6:47–49), perikop ini menyampaikan satu aspek dari iman yang demikian.

Aa.1–2 meletakkan dasar untuk cerita ini: Yesus telah datang ke Kapernaum, tempat perwira dengan hamba favoritnya yang sakit keras. Berdasarkan wacana yang mungkin muncul karena Yesus telah datang, perwira itu mengambil inisiatif untuk memanggil Yesus dengan perantaraan tua-tua Yahudi. Jelas bahwa kedua pihak itu dekat, dan tua-tua yang pernah ditolong senang untuk bisa menolong si perwira itu, dan mereka menyampaikan kelayakan perwira itu (3–5). Yesus menerima panggilan itu, tetapi sebelum Dia sampai pada rumahnya, ada perantara lagi menemui-Nya, kali ini sahabat-sahabat perwira (a.6a; tidak jelas apakah mereka adalah orang asing seperti perwira, atau orang Israel). Mereka membawa pesan dengan dua unsur. Yang pertama, perwira tidak merasa layak untuk berjumpa dengan Yesus; perhatikan bahwa ini berbeda dengan penilaian tua-tua Yahudi. Yang kedua, perwira menilai kemampuan Yesus untuk menyembuhkan sama seperti otoritas seorang perwira atas bawahannya (7b–8). Bagi perwira itu, Yesus tidak bergumul dengan penyakit sebagai lawan yang seimbang, tetapi Dia berhak untuk menyuruh penyakit itu keluar. Makanya, Yesus tidak harus hadir untuk melakukan ritus penyembuhan untuk membujuk penyakit keluar; cukup Yesus mengatakan sepatah kata. Ternyata pemahaman itu pas. Yesus malah heran bahwa perwira itu memiliki pemahaman itu, dan mengangkatnya sebagai contoh iman yang baik untuk orang banyak (9). Pada saat yang sama, Dia menyembuhkan hamba itu.

Cerita ini mulai dengan hamba yang sakit, dan berakhir dengan hamba yang sembuh. Yang berperan dalam perubahan itu ialah iman perwira. Iman itu dilihat secara umum ketika dia memanggil Yesus, tetapi ciri khasnya dilihat ketika dia menolak kelayakannya sendiri, dan menjunjung tinggi kelayakan Yesus untuk menyembuhkan hambanya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yang mendapat pujian Yesus ialah iman yang melihat Yesus di atas masalah-masalah kita, bukan perbuatan baik. Yesus menyembuhkan berdasarkan iman itu, bukan berdasarkan kelayakan. Perikop ini mendorong kita untuk melupakan kelayakan-kelayakan yang mungkin saja ada pada diri kita, dan mengandalkan kuasa Yesus yang mutlak. Untuk itu, kita perlu merenungkan kuasa Yesus, dan berdoa berdasarkan pemahaman itu.

Makna

Iman seperti perwira itu mengherankan karena dalam Kitab Suci orang Israel, Allah menciptakan dunia dengan sepatah dua kata, sementara dalam mitos-mitos orang kafir seperti si perwira, dewa-dewi bergumul dan berjuang untuk mengalahkan kuasa-kuasa yang lain. Cara Allah menciptakan dunia yang teratur dari yang tak berbentuk dan kosong adalah juga cara Yesus menyembuhkan orang. Oleh karena itu, Yesus tidak perlu ritus yang dramatis atau doa yang berapi-api untuk mengalahkan kuasa-kuasa gelap; sepatah kata saja sudah cukup. Para dukun berusaha untuk mempengaruhi kuasa-kuasa yang lebih kuat dari diri mereka; Yesus mengusir penyakit sebagai bawahan saja. Hal itu berarti bahwa jika kita berdoa untuk penyembuhan tetapi hal itu tidak terjadi, kita harus menerimanya sebagai kehendak Allah, bukan sebagai kelemahan dalam cara atau sikap kita berdoa. Iman perwira adalah keyakinan akan kuasa Yesus, bukan pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan Yesus.

Dalam kisah selanjutnya, memulihkan dosa tidak semudah memulihkan penyakit. Yesus harus masuk ke tengah kejahatan manusia yang berkedok kehormatan sebagai agama dan negara supaya Dia bisa membawa manusia berdosa keluar dalam kebangkitan-Nya. Namun, hal itu telah Dia lakukan, sehingga pengampunan pun ada di tangan-Nya; cukup kita minta dengan iman. Tentu, kesadaran tentang ketidaklayakan kita makin penting; memohon pengampunan sambil menganggap diri orang yang layak adalah sangat rancu. Perhatikan bagaimana iman perwira itu bukan sikap sok alim: dia mencegah Yesus masuk ke dalam rumah karena dia yakin Yesus memiliki kuasa itu dan bahwa dia tidak layak.

Iman si perwira itu muncul ketika dia mendengar tentang Yesus, dan rasa tidak layaknya muncul, saya duga, ketika dia menangkap otoritas Yesus yang begitu tinggi atas penyakit, bukan karena sopan santun atau rasa tidak enak. Otoritas Yesus tidak dibatasi pada penyakit saja. Dia berkuasa untuk memanggil manusia, mengampuni dosa, memperbanyak makanan, menafsir Taurat Allah, dan menghardik taufan, setan, dan penguasa agama dan negara (bdk. Allah dalam Mazmur 96). Akhirnya, Dia berkuasa bahkan atas maut, sehingga Dia dapat “melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (Gal 1:4). Layakkah kita di hadapan Yesus ini? Tentu, tidak. Layakkah Dia kita imani? Kalau kita siap mendengarkan Injil tentang Yesus dengan baik, iman tidak harus dibuat-buat lagi.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | Meninggalkan komentar

Amsal 8:1-13 “Hikmat Membuat Teguh dalam Kebenaran” [22 Mei 2016]

Penggalian Teks

Amsal 8 melanjutkan wacana hikmat sebagai saudara perempuan. Dalam 7:5 dst, lawan dari hikmat ibarat perempuan yang jalang dan asing yang menyesatkan. Pasal 8 menyampaikan seruan hikmat (aa.1, 4–5, 32–36) di tempat-tempat yang ramai (aa.2–3) dengan menyampaikan ciri-ciri hikmat (8:6–31). Aa.6–13 menyampaikan bagaimana semua yang baik didapatkan di dalam hikmat; 8:14–21 menyampaikan berbagai keuntungan dari hikmat (termasuk untuk penguasa dalam bidang politik, 8:15–16); 8:22–31 menyampaikan bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan hikmat, dan 8:32–36 menutup penyampaian hikmat dengan seruan untuk mendengarkan hikmat supaya hidup. Intisari dari p.8 ini terdapat dalam bagian tentang penciptaan: karena dunia diciptakan dengan hikmat maka hikmat mencakup semua yang baik, membawa keuntungan, dan membawa hidup.

Dalam aa.4–5, hikmat berseru kepada manusia yang tak berpengalaman sehingga kurang cerdas, dan kepada manusia yang bebal sehingga kurang mengerti. Aa.1–3 mengandaikan bahwa banyak manusia berada dalam kondisi yang buruk itu, sehingga hikmat mencari tempat-tempat yang ramai untuk menyampaikan seruannya. Dalam sisa perikop ini, ada dua bagian yang ditunjuk oleh perintah dengan alasan: aa.6–9 (“dengarlah”), dan aa.10–13 (“terimalah”).

Aa.6 menjanjikan mutu dari perkataan hikmat sebagai alasan pertama untuk mendengar seruan hikmat. A.7 dan a.8 menyampaikan dua perbandingan: hikmat ada pada pihak yang benar (sesuai dengan kenyataan) dan adil (sesuai dengan tatanan sosial yang baik), lawan dari yang fasik, belat-belit, dan serong, yaitu cara-cara yang menipu dan menindas sesama. Bagi yang sudah cerdas dan tahu, hal-hal itu jelas (a.9). Hikmat menawarkan kemampuan untuk hidup dengan “tepat” (a.6b).

Oleh karena itu, seruan berikutnya adalah untuk menerima (atau mengambil) didikan dan pengetahuan yang ditawarkan hikmat itu di atas perak dan emas (10). Alasannya karena hikmat lebih berharga daripada semua hal yang biasanya dianggap berharga oleh manusia (11). Hal itu dilihat karena hikmat adalah satu paket dengan kecerdasan, sehingga pengetahuan dan kebijaksanaan (kemampuan untuk menggunakan pengetahuan itu) ikut serta (12). A.13 mengangkat kembali perbandingan dengan menegaskan bahwa hikmat searah dengan takut akan Tuhan, lawan dari kesombongan, kejahatan, dan kelicikan, yaitu hati yang menganggap diri paling penting sehingga bertindak dan berkata hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dengan penuh hasrat, hikmat mencari-cari orang yang kurang cerdas dan kurang mengerti, supaya mereka menjadi orang yang teguh dalam kebenaran yang berkata jujur dan bertindak dengan tepat. Kita diajak untuk mendengarkan hikmat dan mengejar didikannya supaya kita tidak mudah diseret oleh tipu muslihat kefasikan.

Makna

Hikmat kita adalah Kristus, yang mengajar kita tentang kasih Allah sehingga kita bertumbuh bahkan dalam kesengsaraan (Rom 5:1–11). Kita belajar hikmat di dalam Kristus oleh karena Roh Kudus yang akan memberitakan kepada kita apa yang diterima dari Kristus (Yoh 16:14; Rom 5:5). Hikmat Kristus itu jelas bertentangan dengan kefasikan, kesombongan, dan tipu muslihat. Hikmat itu yang akan memulihkan citra Allah di dalam manusia yang dirusak oleh dosa (bdk. Mazmur 8). Perikop ini adalah bagian dari pengantar untuk kitab Amsal sebagai kumpulan hikmat, tetapi seluruh Alkitab menjadi sumber hikmat dalam berbagai bentuk.

Di dalam jemaat, tidak banyak orang menganggap diri bodoh, tetapi ada yang siap berlaku fasik, sombong, dan berdusta. Lebih banyak tidak berniat buruk, tetapi mereka mudah diseret oleh orang fasik yang terpandang sehingga kehilangan integritasnya. Sebagian lagi menjaga integritas secara pribadi, tetapi belum memiliki kecerdasan yang cukup untuk berpengaruh positif dalam konteks kantor atau masyarakat yang rumit. Perikop ini tidak menawarkan solusi praktis untuk hal-hal itu, tetapi memberitahu kita bahwa di dalam firmah Allah cara hidup seperti Kristus dapat dipelajari.

Dipublikasi di Amsal | Tag | Meninggalkan komentar

Yohanes 14:15-26 Roh Kudus membawa Hadirat Allah [15 Mei 2016]

Penggalian Teks

Setelah pembasuhan kaki, Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi (13:33). Setelah Petrus menyatakan keinginannya untuk mengikuti Yesus, Yesus mulai menguatkan murid-murid-Nya dengan penjelasan tentang makna dari kepergian-Nya. Dia menyuruh mereka untuk jangan gelisah tetapi percaya (14:1). Kemudian, Dia menjelaskan ke mana Dia akan pergi (rumah Bapa-Nya), dan bahwa dengan demikian Dia akan menjadi perantara doa mereka supaya mereka dapat melanjutkan misi-Nya di bumi (14:11–14). Bagian itu menegaskan bahwa di dalam diri Yesus, murid-murid berjumpa dengan Allah Bapa (14:8–10). Dalam aa.18–20, hal itu akan menjadi jelas bagi murid-murid Yesus ketika mereka berjumpa dengan Dia setelah Dia bangkit. Tetapi apa gunanya mereka berjumpa dengan Allah di dalam diri Yesus kalau mereka tidak berjumpa lagi dengan Yesus?

Dalam perikop kita, pemberian Roh Kudus menjawab kegelisahan itu. Sama seperti Yesus dikenal oleh murid-murid yang mengasihi-Nya, Roh Kudus akan diberikan bukan kepada dunia yang membenci Yesus, melainkan kepada murid-murid Yesus untuk menggantikan Yesus. Dengan demikian, persekutuan Yesus dengan Bapa-Nya (14:8–10 tadi) diperluas untuk mencakup murid-murid-Nya (Yesus dalam a.20b, Yesus dan Bapa dalam a.23b). Sama seperti Yesus, Roh Kudus akan menguatkan mereka (“Penolong” a.15 dan “Penghibur” a.26 menerjemahkan parakletos yang berarti pendamping, misalnya dalam pengadilan). Dia juga akan melanjutkan pelayanan Pengajaran oleh Yesus dengan mengingatkan mereka tentang ajaran Yesus (24–25). Oleh karena itu, Yesus menawarkan damai sejahtera ganti kegelisahan (14:27): persekutuan mereka dengan Allah yang mereka alami selama itu dengan Yesus akan menjadi lebih kaya dengan adanya Roh Kudus sebagai Penolong abadi. Damai sejahtera itu akan membantu mereka bersukacita bersama dengan Yesus bahwa Dia pulang ke Bapa-Nya (16:28).

Tiga kali Yesus mengaitkan kasih kepada-Nya dengan ketaatan: “memelihara perintah-perintah-Ku” (15), “memegang perintah-perintah-Ku dan memeliharanya” (21), dan “memelihara firman-Ku” (23). Wujud kasih tergantung pada apa yang dikasihi: mengasihi anak berbeda dengan mengasihi orang tua dalam berbagai aspek. Mengasihi Yesus dengan sejati harus menghitung bahwa Dia adalah Tuhan (Tuan) dan Guru (13:13). Jadi, kita hanya bisa mengasihi Yesus jika kita menempatkan diri sebagai hamba dan murid. Allah Bapa dan Yesus hanya bisa hadir dalam hati melalui Roh Kudus jika hati siap menerima Yesus sebagai Tuan dan Guru. Perintah yang baru saja disampaikan Yesus ialah untuk saling mengasihi dengan cara Yesus mengasihi kita (13:31–35), yaitu dengan kerendahan seperti ketika Yesus membasuh kaki.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Roh Kudus akan membawa hadirat Allah di dalam Yesus Kristus kepada kita yang mengasihi-Nya. Kita diajak untuk percaya kepada janji itu, sehingga kita mendapat kekuatan, belajar dari firman Yesus, dan hidup sebagai Bait Allah yang kudus.

Makna

Bahwa Allah diam di dalam kita melalui Roh Kudus berarti bahwa kita adalah Bait Allah. Hal itu menegaskan pentingnya taat: meremehkan perintah Yesus membuat kita tidak cocok untuk Allah hadir. Tentu, yang dimaksud dengan ketaatan di sini bukan kesempurnaan, melainkan kasih kepada Yesus. Kita mencintai cara Yesus hidup sebagai manusia dan kita peduli akan “apa kata Yesus”, bukan “apa kata orang”, yaitu pandangan dunia. Dalam bahasa Paulus, kita membiarkan diri dipimpin oleh Roh sehingga berbagi dalam kemuliaan Kristus (Rom 8:14–17). Dipimpin oleh Roh berarti memihak keinginan dari Roh (8:7) sehingga mematikan perbuatan yang berasal dari daging (8:13). Jika Yesus dalam perikop kita melihat Roh melawan dunia, Paulus melihat Roh melawan daging. (Kisah menara Babel bisa dilihat sebagai contoh dunia yang melawan Allah itu.)

Secara paling sederhana, janji Roh itu berarti bahwa di dalam pergumulan dan pencobaan, saya menyadari bahwa ada kuasa ilahi yang menolong saya. Kemudian, saya menyadari bahwa Yesus itu dekat, bahwa tuntunan yang dialami murid-murid Yesus juga ditawarkan kepada saya dengan Roh Kudus. Kemudian, saya menyadari bahwa hadirat ilahi itu bertentangan dengan pilihan untuk berdosa. Kuasa ilahi itu akan membantu saya untuk makin rindu hidup seperti yang diperintahkan Yesus. Adalah penting diingat bahwa ini merupakan janji. Roh Kudus hadir bagi semua orang beriman, yang mengasihi Yesus walau dengan tidak sempurna. Jadi, bukan kita mengukur adanya Roh Kudus dengan perasaan kita, tetapi kita percaya akan janji Yesus sebagai dasar untuk menikmati kehadiran Roh Kudus. Kita percaya akan janji Yesus karena kita percaya pada kesaksian murid-murid yang berjumpa dengan Yesus setelah Dia bangkit.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kis 16:19-34 “Bergembira karena Kristus yang menyelamatkan” [8 Mei 2016]

Penggalian Teks

Kis 16:11–40 menceritakan awal pelayanan Paulus dkk di Makedonia, suatu langkah yang baru. Filipi adalah kota pertama mereka memberitakan Injil di wilayah itu, dan Tuhan membuka hati orang sehingga mulai ada jemaat (16:14). Pembukaan hati itu dilakukan oleh Tuhan, artinya, Yesus Kristus sebagai kurios yang sebenarnya. Selain bahwa Dia berkuasa atas hati manusia, 16:16–18 menunjukkan bagaimana Dia berkuasa atas dunia roh-roh untuk membebaskan manusia yang terbelenggu. Dalam kasus ini, dunia roh itu bekerja sama dengan Mamon, sehingga Paulus dan Silas diperhadapkan dengan penguasa politik (16:19). Adalah jelas bagi penganut Mamon itu bahwa berita Paulus tentang Kristus mengancam kepentingan Mamon itu. Namun, karena Filipi adalah kota perantauan orang Roma (16:12; Yunani: kolonia), mereka mengangkat soal adat istiadat yang asing (16:20–21). Jadi, mereka mengelabui kepentingan Mamon itu dengan mengatasnamakan adat. Taktik itu berhasil meraih baik orang banyak maupun pembesar kota, sehingga Paulus dan Silas didera dan dilemparkan ke dalam penjara (22–23a). Kelihatannya Mamon menang dengan memperdayakan rakyat dan negara. Namun, negara masih khawatir: Paulus dan Silas diamankan dengan sangat, seakan-akan mereka adalah pemberontak yang hebat (23b–24).

Tugas Paulus dan Silas adalah memberitakan Injil, dan ternyata penjara tidak mampu membelenggu semangat itu: mereka bersaksi kepada orang hukuman lain dengan doa dan pujian (25). Kemudian, Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan gempa bumi (26). Meskipun dibebaskan demikian, Paulus memilih untuk mengasihi musuh (yang tiba-tiba dalam kondisi gawat karena gagal dalam tugasnya) dengan tidak melarikan diri (27–28). Tindakan itu membuka hati kepala penjara untuk sadar bahwa ada Kuasa selain negara dan dewa-dewinya, dan bertanya bagaimana dia bisa selamat berhadapan dengan Kuasa itu (30). Paulus menjawab dengan memberitakan Injil, yaitu firman tentang Yesus sebagai kurios, supaya dia sekeluarga dapat percaya kepada Yesus itu (31). Walaupun Lukas tidak menyampaikan isi pemberitaan Paulus (32), khotbah-khotbah sebelumnya (p. 2, 7, 13) menunjukkan bahwa Paulus akan menjelaskan bagaimana Yesus dibangkitkan oleh Allah untuk menjadi kurios, dan bagaimana Allah menawarkan pengampunan kepada semua yang menentang Tuhan Yesus itu tetapi sekarang mempercayakan diri kepada-Nya. Tentu, tanpa bercerita tentang Yesus, nama “Yesus” tinggal label saja. Tidak ada iman tanpa firman.

Dalam penceritaan Lukas, Paulus bisa saja dilihat sebagai cermin dari kondisi hati kepala penjara: pada awalnya dibelenggu, tetapi kemudian keluar dari belenggu sehingga terbuka untuk mendengarkan kebenaran. Dalam a.33 kesejajaran itu berlanjut: kepala penjara memulihkan badan mereka dengan air, dan mereka memulihkan jiwanya dengan air baptisan. Kemudian, bersama-sama mereka merayakan keselamatan Allah dengan gembira dengan makan bersama (34). Yesus telah memperdayakan Mamon untuk menyelematkan keluarga ini. Kemudian, Paulus menggunakan haknya sebagai warganegara Roma untuk menyadarkan para pembesar kota bahwa mereka telah tergiur untuk bertindak semena-mena (16:35–40). Bagi Lukas, kuasa negara sah tetapi rentan; lawan sebenarnya terhadap kerajaan Kristus ialah Mamon dan dunia gaib.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus adalah Tuhan yang membawa kebaikan dari penganiayaan dan menawarkan pengampunan kepada para lawan. Oleh karena itu, kita bergembira karena percaya, bernyanyi dan bersaksi dalam kesusahan.

Makna

Mazmur 97 memuji Allah sebagai Raja yang mendatangkan keadilan dalam dunia yang kacau, termasuk melepaskan orang benar dari tangan orang fasik (97:10). Israel diciptakan untuk menjadi gambar dari Kerajaan Allah itu, tetapi gambar itu rusak karena dosa. Tetapi Yesuslah yang dibangkitkan sebagai manusia yang sejati dan benar untuk menjadi Tuhan (kurios) dan Kristus (Raja). Dalam dunia baru, Dia akan menjadi Tuhan dan Raja dalam kota yang berkuasa atas kerajaan-kerajaan (Why 21:22–27); harapan itu adalah motivasi untuk tetap setia sekarang (22:12–17). Tetapi untuk sementara, Yesus adalah Raja dengan cara mengutus saksi-saksi-Nya untuk membawa berita keselamatan yang membebaskan orang dari belenggu kegelapan dan ketidakpercayaan. Seperti dalam Injil-Injil, kuasa-Nya dilihat bukan dalam birokrasi dan militer yang taat kepada-Nya, melainkan dalam otoritas-Nya atas kehidupan manusia dan berbagai kuasa yang merusaknya.

Toraja termasuk tempat di mana adat istiadat dengan mudah diperdayakan oleh kepentingan-kepentingan yang sebenarnya menyembah Mamon; judi adalah contoh aktualnya sekarang. Ketika ada orang yang melawan kepentingan itu, dia diserang sebagai orang yang melawan kebersamaan. Dari satu segi, tuduhan itu benar. Orang yang pertama-tama setia kepada Kristus jelas tidak dapat dipercaya untuk menutupi dan membenarkan dosa bersama, serta menyatakan belenggu dosa sebagai suatu kebebasan.

Nyanyian dan doa Paulus dan Silas menunjukkan betapa mereka sudah bebas dari imingan “apa kata orang”, termasuk seruan yang semu tentang adat istiadat. Mereka tidak merasa malu di penjara; sebaliknya mereka melihat diri sebagai hamba Tuhan yang telah mengalahkan belenggu maut. Kebebasan yang berasal dari Injil itulah dasar untuk membawa perubahan. Seruan terhadap penyakit sosial tertentu yang muncul dari ketakutan terhadap kekacauan atau dari kepentingan yang terancam oleh penyakit itu tidak akan membawa keselamatan atau pemulihan, karena merupakan persaingan kuasa duniawi. Paulus dan Silas yang sudah bebas sebagai hamba Yesus menjadi alat untuk pembebasan orang lain oleh kuasa surgawi Yesus.

Nyanyian dan kegembiraan menjadi gejala akan kebebasan itu. Sebagai tuan, baik adat dan Mamon menuntut banyak tetapi menawarkan kebahagiaan yang sementara saja, termasuk karena nilai-nilai tertentu (di antara yang baik-baik saja) yang tidak membawa damai di dalam hati karena menindas sesama. Yesus menawarkan keanggotaan dalam kerajaan-Nya yang kekal, dengan nilai-nilai yang dibentuk oleh pengorbanan-Nya di salib.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag | 1 Komentar

Yohanes 13:31-35 Memuliakan Allah dengan kasih seperti Yesus [24 Apr 2016]

Penggalian Teks

Ketika Yudas keluar dari perkumpulan Yesus dengan murid-murid-Nya (a.31a), penderitaan dan kematian Yesus sudah terjamin. Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah waktu kemuliaan Yesus. Karena Yesus adalah utusan Allah yang akan melaksanakan rencana keselamatan Allah dengan ditinggikan pada salib, maka kemuliaan Yesus juga adalah kemuliaan bagi Allah (a.31b). Makanya, Yesus yakin bahwa rencana itu akan segera terwujud (a.32). Dia akan mati, bangkit, dan kembali kepada Bapa-Nya di surga.

Tetapi, ketika Yesus pergi, murid-murid-Nya akan tinggal di sini. Bagaimana keadaan mereka? Hal itu melatarbelakangi percakapan Yesus mulai dengan perikop ini sampai doa Yesus di p.17. Akhir doa itu juga berbicara tentang kemuliaan, kasih, dan hubungan erat antara Yesus dan murid-murid-Nya (17:24–26). Dalam a.34 Yesus memberi mereka sebuah perintah baru, yaitu untuk saling mengasihi. Perintah untuk mengasihi tidak baru, tetapi caranya baru. Mereka harus saling mengasihi sama seperti Yesus mengasihi mereka, yaitu, dengan pelayanan, pengorbanan dan kesabaran. Cara itu baru saja diperlihatkan dengan peristiwa membasuh kaki yang mengungkapkan satu makna dari kematian-Nya di salib, yaitu bahwa baik kemuliaan maupun kasih bukan dipraktekkan dalam rangka mencari status melainkan dengan mengutamakan kepentingan sesama.

Dalam a.35 ternyata perintah baru itu menjawab soal identitas mereka sebagai pengikut Yesus, yang terancam hilang ketika Dia tidak ada lagi untuk diikuti. Cara saling mengasihi yang baru itu begitu khas sehingga dapat menandai mereka sebagai pengikut Yesus, walaupun Dia tidak ada lagi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Cara membawa kemuliaan kepada Allah di hadapan manusia sama seperti Yesus yaitu saling mengasihi sama seperti Yesus.

Makna

Saling mengasihi sering dipahami sebagai saling membuat merasa nyaman, tanpa harus memikirkan kedudukan dan kepentingan. Artinya, orang yang berkedudukan tinggi merasa rela mengasihani orang rendah, asal kedudukannya tidak terancam. Tetapi kita harus mengingat bahwa perikop ini menjadi kesimpulan dari pembasuhan kaki. Cara Yesus mengasihi termasuk menjadi seorang hamba bagi murid-murid-Nya. Mengasihani dengan mempertahankan kedudukan bukan cara Yesus mengasihi.

Jadi, jemaat akan memulikan Allah antara lain ketika kepentingan orang kecil mendapat perhatian yang sama dengan kepentingan orang besar. Kesetaraan itu berlaku di mata Tuhan, bukan di mata kaum atas. Bahwa orang kecil dibina sejak kecil untuk berdiam diri bukan pembenaran bagi kaum atas. Bahwa pimpinan semua dari kaum atas, sehingga kepentingan orang kecil tidak diingat juga bukan alasan yang diterima — Yesus memerintah kita untuk saling membasuh kaki, dan perikop ini menegaskan bahwa hal itu bukan ritus saja. Pembaca yang tidak dapat melihat relevansi pemaknaan ini mungkin saja dibutakan oleh kedudukannya dalam kaum atas.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , | Meninggalkan komentar

Yohanes 21:1-19 “Semeja dan sejalan dengan Tuhan” [10 Apr 2016]

Penggalian Teks

Injil Yohanes sudah mencapai kesimpulan yang kuat pada akhir p.20, sehingga pasal 21 terasa sebagai tambahan. Fokusnya bukan hanya pada kebangkitan Yesus, tetapi juga pada kehidupan bergereja: Petrus diutus untuk menjadi gembala domba-domba Yesus yang perdana; suatu tugas yang kemudian diemban oleh semua penatua, yaitu tua-tua jemaat (1 Pet 5:1–2).

Aa.1–14 menyampaikan penampakan Yesus (lihat “Yesus menampakkan diri” dalam a.1 & 14). Penampakan ini terjadi di Galilea. Dalam Injil Lukas, Yesus hanya menampakkan diri kepada para murid di Yerusalem, tetapi dalam Injil Matius para murid disuruh ke Galilea (Mat 28:7), dan tidak ada penampakan diri Yesus di Yerusalem. Injil Yohanes melihat dua penampakan kepada murid-murid Yesus di Yerusalem (dengan beberapa lagi kepada individu), baru penampakan ketiga ini (kepada murid-murid) di Galilea. Barangkali, pertemuan ini terjadi sebelum pertemuan di Mat 28:16–20 (yang menjadi pertemuan keempat kepada murid-murid sebagai kelompok).

Jika mereka telah disuruh ke Galilea, tetapi belum bertemu dengan Yesus, maka wajar saja bahwa mereka mengisi waktu dan/atau mencari nafkah dengan kembali ke pekerjaan mereka. Sama seperti dalam Lukas 5:5, hasil mereka nol, tetapi ketika mereka mengikuti nasihat Yesus, banyak ikan ditangkap. Kemiripan peristiwa itu bisa menjelaskan mengapa murid yang dikasihi Yesus mengenali Yesus (7), yang ternyata tidak jelas di pantai (4). Makan ikan dan roti mungkin juga suatu kebiasaan, mengingat bahwa justru kedua makanan itu yang tersedia untuk “diperbanyak” ketika Yesus memberi makan lima ribu orang/keluarga (Yoh 6:9).

Cara Yesus bertemu dengan mereka lembut dan ramah. Sikap itu melanjutkan ketiga kali Dia sudah mengucapkan “damai sejahtera” kepada mereka dalam dua pertemuan sebelumnya. Soalnya, mereka semua gagal setia kepada-Nya, dan kaget dengan kebangkitan-Nya. Dengan beberapa cara, seperti makan roti dan ikan bersama, Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Yesus yang mereka kenal, walaupun dalam kondisi yang baru, dan bahwa Dia tetap menerima dan menyertai mereka.

Yang mungkin paling merasakan kegagalannya ialah Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali. Aa.15–17 memulihkan Petrus dan mengutusnya kembali. Ketiga kali dia menyangkal Yesus diimbangi dengan tiga kali dia menyatakan kasihnya kepada Yesus, dan tiga kali dia diutus untuk menjadi gembala. Domba-domba yang mau digembalakan adalah milik Yesus (“-Ku”), tetapi penggembalaan dilakukan oleh manusia. Tugas itu penuh risiko, sehingga Yesus menantang Petrus untuk mengikuti-Nya, meskipun dia harus menderita (18–19).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus menerima dan mengampuni murid-murid-Nya untuk menjadi sahabat serta gembala yang juga siap menderita.

Makna

Dalam banyak film Barat (diikuti oleh film Asia seperti dari Jackie Chan), pahlawannya mencapai titik terburuk seakan-akan mau mati, tetapi kemudian bangkit kembali. Kemudian apa? Pembalasan habis-habisan terhadap musuh! Itulah yang sering dicari manusia yang sudah diinjak-injak dan dipermalukan. Apakah yang dilakukan Yesus ketika Dia berjumpa dengan murid-murid-Nya yang telah meninggalkan Dia? (Pertanyaan itu lebih tajam lagi jika kita mengingat kemuliaan-Nya yang diperlihatkan dalam Why 5:11–14.) Dia mengucap, “Damai sejahtera bagi kamu!” Makan bersama, serta percakapan dengan Petrus, meneguhkan penerimaan dan pengampunan itu. Hanya, mereka diterima untuk mengikuti Yesus dalam jalan salib. Kecuali mereka mengasihi Yesus, hal itu tidak akan mungkin. (Pola itu lebih jelas lagi dalam pemanggilan musuh jemaat, Paulus, menjadi utusan kepada bangsa-bangsa dalam Kis 9:1–20.)

Yang ditawarkan kepada ketujuh murid ialah persekutuan: mereka makan bersama. Itulah tujuan penerimaan Yesus: bukan tiket gratis masuk surga (saja), tetapi hubungan yang erat, yang di dalamnya kita menjadi bagian dari persekutuan Tritunggal (bdk., misalnya, Yoh 17:21–23). Hal itu ditawarkan kepada semua orang percaya, bukan hanya mereka yang dipanggil menjadi gembala.

Urutannya jelas: makan dulu, baru dipanggil menjadi gembala. Jadi, menjadi gembala adalah pertama-tama soal mengenal Yesus selaku orang percaya biasa. Kita menjadi gembala karena mengasihi Yesus. Gembala yang tidak mengasihi Yesus, yang hanya membaca Alkitab untuk menegur orang lain dan berdoa syafaat karena ada akta di dalam liturgi, adalah gembala upahan. Dia akan menghilang begitu ada ancaman dalam tugasnya (10:12), dan dia tidak akan mampu menggembalakan domba-domba Yesus dengan setia, lebih lagi menyerahkan nyawanya sama seperti Yesus (21:18–19).

Dipublikasi di Yohanes | Tag , | Meninggalkan komentar

Kis 5:26-33 “Berita tentang Kristus Paling Penting” [3 Apr 2016]

Penggalian Teks

Kis 3–5 memberi gambaran tentang kehidupan jemaat di Yerusalem setelah keturunan Roh Kudus. Selain persekutuan mereka, unsur yang menonjol ialah keberanian Petrus dan rasul-rasul memberitakan Kristus, disertai mukjizat. Kali pertama mereka dibawa ke hadapan Mahkama Agama, mereka dilarang memberitakan Kristus (4:18), tetapi mereka langsung menyatakan niat mereka untuk taat kepada Allah (4:19) dan bersaksi tentang Yesus (4:20). Itulah yang mereka lakukan (5:12–16). Oleh karena itu, mereka dipenjara lagi (5:18), tetapi diselamatkan oleh malaikat pada malam (5:19) dan besoknya pagi-pagi kembali ke Bait Allah untuk memberitakan Kristus (5:21a). Makanya, ketika mereka mau dibawa ke hadapan Mahkama Agung, mereka harus diambil dari Bait Allah itu (26). Sama seperti ketika Yesus di Bait Allah, orang banyak tidak memihak pimpinan Yahudi, sehingga mereka harus hati-hati.

Keluhan Imam Besar termasuk bahwa pimpinan Yahudi dipersalahkan karena kematian Yesus (28). Petrus mengulang bahwa rasul-rasul harus taat kepada Allah daripada manusia (29), mengulang tuduhan itu (30b), dan memberitakan Injil (30–32). Berita Injil itu mulai dengan penyataan Allah kepada nenek moyang mereka. Kemudian ada kematian yang tidak adil, yang ditanggapi Allah dengan meninggikan Yesus untuk menerima gelar yang sering dipakai pemimpin Romawi, yaitu Pemimpin dan Juruselamat. Istilah “tangan kanan-Nya” menunjukkan bahwa ini adalah karya besar Allah. Karya itu bertujuan supaya ada pertobatan dan pengampunan bagi Israel. Kemudian, lewat Roh Kudus Allah mengutus rasul-rasul untuk menjadi saksi-saksi akan karya itu.

Karya Allah itu yang membuat para rasul harus memberitakan Injil sebagai saksi (29b, 32). Sebaliknya, para anggota Mahkama Agama tidak mau menerima penjelasan Petrus tentang rencana Allah, dan tidak mampu mendengar kabar baik bahwa pengampunan ditawarkan kepada mereka. Mereka hanya mendengar tuduhan Petrus. Cara yang bisa mereka pikirkan untuk menghapus kesalahan mereka adalah dengan membunuh rasul-rasul yang membawa pesan tentang kesalahan itu. Setelah perikop kita, Allah melindungi rasul-rasul dengan nasihat bijak Gamaliel (5:34 dst), dan juga melindungi Mahkama Agama dari mengulang kesalahan mereka terhadap Yesus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Berita tentang Kristus lebih penting daripada kepentingan agama.

Makna

Bahawa para rasul diutus untuk menjadi saksi akan kebangkitan Yesus dengan kuasa Roh Kudus disampaikan dalam Yoh 20:21–23. Dasar kesetiaan mereka adalah Yesus, yang menjadi Saksi yang setia (Why 1:5).

Konsep kebebasan beragama di Eropa muncul ketika bentuk ketaatan kepada Allah tidak lagi disepakati bersama, sehingga ada Katolik dan beberapa warna Protestan saling menyerang berdasarkan pemahaman masing-masing. Bahkan, berkembangnya individualisme berarti bahwa hati nurani bisa berbeda per orang, daripada pola lebih kolektif di mana suatu bentuk beragama dipegang bersama. Karena negara tidak bisa tahu mana yang sebenarnya dikehendaki Allah, nasihat Gamaliel dijadikan prinsip toleransi. Hal itu cocok dari sudut pandang negara.

Namun, toleransi beragama bukan maksud Petrus, yang notabene adalah rasul, bukan pejabat agama atau negara. Prinsip Petrus adalah taat kepada Allah. Allah sudah berkarya di dalam Kristus, makanya Kristus harus diberitakan. Kristus diberitakan bukan hanya kepada orang-orang Yahudi, tetapi juga kepada orang-orang non-Yahudi, termasuk pejabat-pejabat kekaisaran seperti Felix dan Festus (pp. 24–25). Sekarang, kita bukan saksi mata, dan tidak semua orang percaya dipanggil untuk memberitakan Injil di depan umum. Namun, Allah sudah berkarya di dalam Kristus, dan karya itu harus diberitakan.

Pemberitaan itu bisa saja mengganggu kepentingan, termasuk kepentingan pemuka agama. Berbeda dengan kesaksian Paulus kepada pejabat Romawi, Petrus di sini berbicara kepada lembaga yang mengaku mengabdi kepada Allah. Mereka sudah kecolongan membunuh Mesias Allah tetapi menolak untuk mengaku kesalahan itu. Jadi, di dalam pemberitaan Injil, Petrus juga harus membongkar kemunafikan mereka. Bahwa mereka sangat marah adalah risikonya membongkar kebenaran. Hal yang mirip terjadi ketika para Reformator mau memperjelas Injil dan membongkar korupsi yang merajalela di Gereja pada zaman itu, juga ketika gerakan Methodis yang dimulai sebagai gerakan pembaruan di dalam Gereja Anglikan di Inggris diusir dari gereja itu. Orang-orang yang mengutamakan Kristus di atas segalanya sering dikecam sebagai pengacau oleh denominasi. Tetapi, berita tentang Kristus itu lebih penting daripada kenyamanan pimpinan gereja.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , | Meninggalkan komentar