1 Petrus 3:13-22 Saksi yang menderita karena Kristus [21 Mei 2017]

Penggalian Teks

Bagian pertama surat Petrus menjelaskan identitas orang percaya di dalam Kristus (1:1–2:10). Kemudian, dia berbicara tentang cara hidup berdasarkan identitas itu. Pertama-tama adalah pengendalian diri (2:11, dilanjutkan dalam p.4), kemudian menjadi teladan di tengah masyarakat yang sering akan membenci (2:12). Hal itu menuntut sikap seperti Kristus terhadap pemerintah, tuan, dan suami/isteri (2:13–3:7). Sikap seperti itu dimulai dalam persekutuan orang percaya yang mencari berkat dari Tuhan (3:8–12). Penderitaan yang tidak adil justru menjadi kesempatan untuk bersaksi (3:13–17) berdasarkan kisah Kristus yang menjadi teladan dan pengharapan (3:18–22).

Petrus mengakui bahwa berbuat baik semestinya diterima dengan baik (13), tetapi dia juga tahu bahwa dalam kenyataan orang menderita karena kebenaran (14a). Dia menyebut mereka “berbahagia”, dan mengutip dari penguatan Allah kepada Yesaya ketika ditekan oleh Ahas karena menyuarakan kebenaran kepadanya (Yes 8:12–13). Yesaya disuruh untuk tidak takut terhadap bangsa-bangsa tetangga yang ditakuti raja, karena Tuhan saja yang kudus dan layak ditakuti. Yesus adalah Tuhan, dan ketika Dia menjadi yang kudus bagi kita, kita tidak akan takut lagi terhadap penderitaan karena kebenaran. Sikap tidak takut itu tidak biasa, sehingga menimbulkan pertanyaan, entah karena tertarik atau karena tergelitik dan mau menjatuhkan. Jadi, Petrus menasihati jemaat untuk siap memberi apologia, pembelaan (LAI: “pertanggungan jawab”), yang akan menjelaskan pengharapannya. Dari 1:3–4, pengharapan itu menyangkut Kristus, Tuhan yang diimani dan dikuduskan itu. Jadi, yang dimaksud Petrus di sini bukan penjelasan hak menurut hukum negara, dan bukan adu argumen tentang kebenaran, tetapi kesaksian: bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus membawa pengharapan yang lebih dari cukup untuk bertahan dalam penderitaan itu.

Sejauh orang percaya itu hidup saleh sesuai dengan kesaksiannya, dia akan mampu berbicara dengan lemah lembut (15b–16). Rasa takut dan rasa malu sama-sama membuat orang tegang, membela diri, dsb. Menguduskan Kristus sebagai Tuhan tidak hanya mengobati rasa takut terhadap manusia, tetapi juga rasa malu terhadap manusia: yang penting ialah tidak mendapat malu di hadapan Allah yang kudus itu. Orang percaya itu yakin bahwa Allah akan melawat orang-orang yang melawan Dia (2:12), entah dalam rangka pertobatan, entah pada pengadilan terakhir. Jadi, orang itu akan menilai lebih baik tetap pada kesaksiannya, walaupun dia harus menderita karenanya (17).

Kemudian, Petrus bercerita tentang Kristus (dan sedikit tentang Nuh) untuk menguatkan pesannya. Kristus menderita demi kebenaran, yaitu untuk mengampuni dosa kita yang tidak benar supaya kita dibawa kepada Allah dan menjadi benar (18a). Dia juga merintis jalan yang menjadi pengharapan kita, yaitu mati dalam daging (LAI: “keadaan sebagai manusia”) lalu bangkit menurut Roh (18b). Kemudian, semua kuasa yang ditakuti orang sudah takluk kepada-Nya karena Dia duduk di sebelah kanan Allah (22).

Aa.19–21 mengingatkan mereka tentang pemberitaan Injil dan baptisan. Dalam a.20, kepentingan soal taat pada pemberitaan Injil dilihat dalam hal Nuh sekeluarga diselamatkan sementara yang tidak taat binasa. Petrus mengaitkan hal itu dengan konteks jemaat melalui tipologi air (21). Air bah yang di atasnya bahtera mengambang menjadi tanda nyata keselamatan yang disediakan Allah kepada mereka yang percaya dan taat memasukinya. Air baptisan menjadi tanda nyata bahwa orangnya telah berharap hanya kepada persediaan Allah untuk membersihkan hati nurani dari kesadaran akan malapetaka karena dosa. Persediaan itu adalah kematian Kristus bagi dosa yang diteguhkan oleh kebangkitan-Nya. A.19 mengantarkan hal-hal itu dengan menyebut tema pemberitaan, tetapi kata “Injil” ditambahkan LAI. Tafsiran yang dengan paling baik menghubungkan aa.19–21 dengan a.22 yaitu bahwa roh-roh itu adalah “malaikat, kuasa dan kekuatan” yang diceritakan dalam Kej 6:1–6 pada zaman Nuh. Pemberitaan Roh kepada mereka bukan kabar baik, tetapi kabar bahwa mereka sudah ditaklukkan. Oleh iman yang dinyatakan dalam baptisan, orang percaya sudah selamat dari kehancuran yang menantikan mereka.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Petrus rindu supaya jemaat menjadi saksi Kristus yang siap menderita dan siap berbicara tentang Kristus, karena mereka sendiri kagum akan jalan yang ditempuh Kristus, dan keselamatan yang Dia raih bagi mereka.

Makna

Dalam perdebatan tentang strategi misi yang tepat dalam dunia majemuk, perikop ini cukup jelas. Jemaat yang dewasa akan siap menderita karena Kristus, dan jemaat yang dewasa akan mampu berbicara tentang Kristus ketika ditanya ataupun ditantang. Syukur ada program-program seperti EE. Apapun kelemahannya, di luar orang-orang yang mengikuti program-program seperti itu, kebanyakan jemaat kita bisu saja kalau diminta pertanggungan jawab.

Bahwa Petrus berbicara tentang apa yang ditakuti dan dikuduskan menunjukkan bahwa ini hal yang pokok. Yang kita kuduskan adalah hal yang kita anggap paling mulia dan penting, sehingga apa saja yang lain akan dikorbankan kalau perlu. Jika anggota jemaat cerewet tentang keluarganya atau pekerjaannya atau uangnya atau tongkonan-nya, tetapi bisu tentang Kristus, hal itu bukan gejala yang baik.

Untuk menguatkan iman jemaat, Petrus tidak hanya mengatakan, “kuduskanlah Kristus di dalam hatimu”, dia juga mengingatkan mereka tentang siapakah Kristus itu, bagaimana Kristus menjadi perintis jalan keselamatan dan juga dasar keselamatan. Menguduskan Kristus bertumbuh karena Kristus diperlihatkan dan dipandang. Rasa kagum itu kemudian ditempa melalui usaha untuk menjadi saksi yang setia dan tidak bisu.

Dipublikasi di 1 Petrus | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kis 7:54-8:1a Iman kepada Yesus yang Mulia [14 Mei 2017]

Penggalian Teks

Stepanus diangkat untuk membantu dengan pelayanan diakonia, tetapi ternyata dia juga penuh kuasa dan Roh untuk memberitakan Kristus dengan tanda dan debat (6:8–10). Oleh karena itu, kepekaan agama Yahudi tentang Bait Allah dimanfaatkan untuk menghasut orang banyak supaya dia diadili oleh Mahkama Agama (6:12). Pembelaan Stefanus tidak memperhalus keadaan: dia mengangkat titik-titik dalam sejarah Israel yang menunjukkan kekerasan hati Israel, dan juga bagaimana Allah bekerja di luar Israel (7:1–50), berpuncak dengan tuduhan bahwa mereka membunuh para nabi dan juga “Orang Benar” (Yesus) yang mereka beritakan, dan dengan demikian mengingkari hukum Taurat sendiri (7:51–53). Perikop kita membahas reaksi mereka dan Stepanus secara bergantian.

Kita tidak heran kalau mereka tidak senang, tetapi reaksi mereka adalah amarah yang dilampiaskan kepada sesuatu yang mengancam hal yang dianggap sangat berharga (a.54; pikirkan saja orangtua terhadap orang yang mau menculik anaknya). Mereka membunuh Yesus karena kecintaan mereka terhadap hukum Taurat dan Bait Allah. Sambil mereka meluap dengan gejala kedagingan mereka, Stepanus diberi penglihatan akan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah (55–56). Penglihatan itu meneguhkan bahwa Yesus yang ditolak para pemimpin Yahudi itu dibangkitkan oleh Allah dan sedang berkuasa. Tetapi laporan Stepanus itu hanya memanaskan mereka lebih lagi sehingga segera mereka membawanya keluar dan melemparinya (57–58a).

Dua kata akhir Stepanus itu dibingkai laporan tentang Saulus, yang segera setelah peristiwa ini meluncurkan penganiayaan terhadap gereja. Stepanus berdoa untuk dirinya (59), dan juga untuk mereka yang melemparinya (60). Dalam hal ini, dia mirip dengan Yesus. Dengan perspektif surgawinya, dia menempatkan keselamatan dirinya dan musuh-musuhnya di hadapan Allah di atas keselamatan jasmaninya. Bagi Saulus, musuh seperti Stefanus yang mengancam agamanya perlu dihapus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Lukas mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa dari tempat-Nya di sebelah kanan Allah. Dengan iman yang menangkap hal itu (sebagai sesuatu yang tidak hanya benar tetapi juga baik dan mulia), kita dipanggil untuk giat dalam misi Allah bahkan sampai mati.

Makna

Rencana Allah bagi Stepanus memang indah. Dia diberi kemampuan dan keberanian lebih untuk memberitakan Kristus dengan cara yang mengena, bahkan dia dapat menyampaikan khotbah yang sangat berdampak dalam kondisi terdesak dan tegang. Dengan demikian, dia meninggalkan teladan mengampuni musuh, dan juga memicu penganiayaan bagi gereja. Dan inilah indahnya: penganiayaan itu yang membuat Injil mulai terseber keluar dari Yerusalem, ke Samaria (8:4–25), dan sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia (11:19). Antiokhia adalah tempat Injil mulai menjangkau orang-orang berbahasa Yunani (11:20), dan kemudian menjadi tempat yang mengutus Paulus dan Barnabas (13:2).

Tentu, keindahan rencana itu hanya kelihatan oleh orang yang menangkap perspektif surgawi Stepanus, yang melihat Yesus di sebelah kanan Allah itu sebagai yang paling mulia, jauh lebih mulia dari Mahkama Agama dan segala kuasa yang ada di baliknya, juga lebih mulia dari simbol-simbol Yahudi yang diberikan Allah tetapi sudah digenapi di dalam Kristus itu. Bagi Stepanus, Yesus adalah batu penjuru yang mahal (1 Pet 2:6). Dengan iman seperti itu, dia mampu berdoa untuk pengampunan, dan kita tahu bahwa Allah menjawabnya (bdk. Yoh 14:12–14): paling sedikit Saulus diperjumpakan dengan Yesus dan bertobat.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , , | Meninggalkan komentar

Yoh 10:1-21 Masuk dan Menikmati Hidup [7 Mei 2017]

Penggalian Teks

Dalam perikop ini, Yesus masih berbicara kepada orang-orang Farisi yang bertanya, “Apakah kami juga buta?” (9:40). Mereka masih berada dalam dosa mereka karena mereka mengaku melihat (9:41). Di akhir perikop, “orang-orang Yahudi”, yaitu kurang lebih kelompok yang sama, terbelah oleh apa yang dikatakan Yesus. Bahwa Yesus baru saja membuat orang buta melihat adalah gejala bahwa Dia adalah gembala yang baik; bahwa mereka menolak kesaksian orang buta itu adalah gejala bahwa mereka adalah gembala upahan.

Aa.1–5 merupakan kiasan (paroimia, juga dalam 16:25), yaitu ucapan yang mengandung makna yang dalam. Yesus bercerita tentang pengenalan yang terjadi antara seorang gembala dengan kawanannya: si gembala mengenal setiap domba menurut namanya, dan setiap domba mengenali suara (atau panggilan) gembalanya. Gembala itu berhak memanggil dombanya, dan mereka akan menolak panggilan pihak yang lain. Para pendengar Yesus pasti memahami cerita Yesus, tetapi mereka bingung tentang apa yang ada di baliknya (6). Memang Yeh 34 berbicara tentang gembala dan kawanan domba untuk mengecam penindasan oleh pimipinan Israel terhadap orang-orang Israel (Yeh 34:1–10), dan menjanjikan bahwa Allah sendiri akan menjadi gembala mereka yang menuntun mereka untuk menikmati hidup yang baik (Yeh 34:11–16), melalui seorang Mesias (Yeh 34:24). Namun, nubuat Yehezkiel berbicara tentang gembala yang sah tetapi jahat; kiasan Yesus berbicara tentang pencuri dan perampok.

Kemudian, Yesus mulai menjelaskan kiasan-Nya dengan menyebut diri-Nya sebagai pintu (7–10) dalam perbandingan dengan pencuri dan perampok. Perbandingan antara benda (memang pada zaman itu ada kandang yang dijaga dengan gembala berbaring sebagai pintu, tetapi dalam a.3 pintu itu benda yang dibuka oleh seorang penjaga) dan manusia itu tidak langsung jelas, dan yang muncul dalam aa.9–10 adalah efeknya, antara hidup yang berkelimpahan dan kebinasaan. Yesus mau menekankan bahwa Dia adalah pintu masuk untuk hidup itu (bdk. 14:6), bukan hanya pemeliharanya. A.9 mirip dengan Mzm 118:20 yang berbicara tentang pintu gerbang Bait Allah sebagai cara masuk menikmati hadirat Allah. (Peralihan dari penggembalaan ke soal Bait Allah dapat dilihat juga dalam Mzm 23:6.) Bait Allah itu seperti kandang domba yang membawa hidup yang sejati, dan Yesus adalah pintunya. Yang datang sebelum Yesus — termasuk orang-orang Yahudi yang kepada mereka Dia berbicara — berkecimpung di sekitar kandang domba itu, tetapi hanya membawa akibat buruk, seperti dilihat dengan orang buta itu.

Aa.11–18 menyoroti karya pengorbanan Yesus yang membuktikan bahwa Dia adalah gembala yang baik, yaitu memberi nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Karya itu dibandingkan dengan upahan yang menyelamatkan diri sehingga kawanan domba tercerai-berai (12–13), sesuatu yang tidak separah pencuri dan perampok dari segi motivasi, tetapi akibatnya justru lebih parah. Pemberian nyawa itu muncul dari saling mengenal antara Yesus dan domba-domba-Nya yang berakar dalam saling mengenal antara Allah Bapa dan Anak. Hidup yang berkelimpahan adalah hidup yang mengenal Allah di dalam Yesus. Kemudian, Yesus menjelaskan bahwa pengenalan itu tidak hanya untuk kandang Bait Allah, yaitu orang-orang Israel, tetapi kawanan domba Yesus juga akan ditambahi dengan domba dari bangsa-bangsa (16). Akhirnya, Yesus menegaskan bahwa Dia mengemban tugas dari Bapa-Nya itu dengan sukarela dan tanpa paksaan dari pihak apapun, termasuk penguasa-penguasa duniawi yang akan kelihatan berkuasa atas-Nya (bdk. percakapan Pilatus dan Yesus dalam 19:10–11). Sebagai gembala yang baik, Yesus akan berkorban dengan sukarela untuk semua orang, sesuai dengan kehendak Bapa-Nya dan demi hubungan saling mengenal dengan domba-domba-Nya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus mengajak kita untuk memasuki hidup yang sejati melalui Dia sebagai pintu, dan menikmatinya di bawah Dia sebagai gembala yang baik. Bagi domba yang juga diberi tugas sebagai gembala, perbandingan Yesus dengan orang-orang Farisi mengajar kita tentang penggembalaan yang rela berkorban dan menghadapi serigala. Mungkin juga ada domba yang dipanggil untuk terlibat dalam pemanggilan domba dari kandang yang lain.

Makna

Kita pertama-tama ditantang untuk menempatkan diri dengan domba-domba dalam perumpamaan Yesus. Seperti banyak ajaran Yesus, bahan ini menjadi cocok untuk meditasi, membayangkan diri (bersama dengan kawanan domba, yakni jemaat, bdk. Kis 2:41–47) dengan Yesus yang memanggil dengan nama, yang menuntun, yang membela dari musuh, dan yang mengorbankan diri bagi kita. Justru karena Dia telah bangkit (17–18) sehingga Dia menjadi gembala kita, bukan hanya murid-murid-Nya pada saat itu. Dari perenungan demikian kita mulai memahami hidup yang berkelimpahan itu.

Dari perspektif sebagai domba itu, berbagai perspektif “teologis” menjadi bermakna. Kematian Yesus menjadi sesuatu yang berharga. Yesus menyelamatkan kita dari bahaya (antara lain murka Allah, 3:36) sesuai dengan rencana Allah Bapa (17), dan Dia melakukannya bukan sebagai tumbal tetapi dengan sukarela (17–18). Pengenalan akan Yesus menjadi pengenalan akan Allah Bapa yang di dalam Anak-Nya Yesus dinyatakan bukan sebagai ayah yang mencari salah tetapi sebagai Gembala yang baik. Yesus sebagai gembala yang berani menentang bahaya itu juga akan dicontoh oleh pelayan-pelayan yang lebih dahulu menjadi domba-Nya yang mengagumi dan mengikuti-Nya (bdk. 1 Pet 2:18–25).

Ternyata tidak semua orang mau percaya kepada Gembala yang baik ini. Hal itu bisa membuat kita kecil hati: betulkah bahwa Yesus adalah satu-satunya pintu masuk? Perumpamaan Yesus menjelaskan bahwa kemampuan percaya (mengenali suara gembala) itu ada karena orangnya sudah termasuk dalam domba-domba Yesus (10:26). Adanya orang yang menolak bukan karena mereka lebih tahu, dan bukan karena pelayanan kita kurang. (Tentu, pengetahuan dan pelayanan selalu mau dikembangkan.) Pada dasarnya, manusia tidak mau supaya dosanya terungkap (3:19–20). Semua tradisi gereja setuju bahwa manusia berdosa tidak mampu mengenali suara Yesus tanpa penerangan dari Roh Kudus. Aliran Calvinis menganggap bahwa penerangan itu pasti berhasil, dan bahwa Allah memilih siapa yang diterangi; aliran Arminius menganggap bahwa penerangan membuka kemungkinan bertobat tetapi orangnya yang menentukan. Kedua aliran tidak memberi celah sedikit pun untuk seseorang membanggakan diri karena percaya, atau membanggakan pelayanannya karena ada yang percaya. Tugas kita sebagai pelayan hanya supaya suara Yesus cukup jelas untuk dikenali oleh orang yang siap mengikutinya.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , | Meninggalkan komentar

Matius 27:11-54 Karya seorang Raja pada Salib [9 Apr 2017] (Prapaskah VI)

Penggalian Teks

Perikop yang panjang ini berawal dengan pertanyaan Pilatus selaku wali negeri (gubernur), Apakah Yesus adalah raja orang Yahudi (11). Perikop ini berakhir dengan pengakuan anak buahnya bahwa Yesus adalah Anak Allah (54). Di antaranya, Matius menunjukkan kepada kita yang sudah dua kali mendengar suara dari surga mengaku Yesus sebagai Anak-Nya (3:17; 17:5) itu bagaimana penderitaan dan penyaliban Yesus adalah jalan Dia menjadi Raja.

Di tengah proses pengadilan yang kacau, Yesus ditanya apakah Dia adalah raja Israel. Pertanyaan Pilatus itu barangkali muncul dari tuduhan imam-imam kepala yang harus mencari alasan politik supaya Pilatus menyalibkan Yesus. Yesus kurang lebih mengiyakan bahwa Dia adalah raja orang Yahudi (11), tetapi selain itu Dia tidak berkenan membenarkan keabsahan proses yang kacau itu dengan membela diri (12–14). Sifat sebenarnya proses itu terungkap kemudian ketika orang banyak dihasut untuk membebaskan Barabas daripada Yesus (15–26). Dengan demikian, para pemimpin dan sebagian dari umat Israel menempatkan diri dengan seorang penjahat dan menolak Yesus. Pilatus sendiri sadar bahwa mereka mendengki Yesus (18) dan dia menegaskan bahwa dia bertindak karena desakan mereka, bukan kemauan dia (24). Namun, hasilnya ialah bahwa penguasa non-Yahudi dan Yahudi berkumpul untuk melawan Yesus (Kis 4:27) sesuai dengan rencana Allah sendiri (Kis 2:23). Yesus yang tidak bersalah disalibkan sebagai pengganti penjahat, seorang penjahat yang mewakili Israel yang telah menolak Yesus sebagai raja Israel. Namun, Injil ini sudah menunjukkan bagaimana Yesus sudah menempatkan diri-Nya dengan Israel berdosa dalam baptisan-Nya. Sang Raja menanggung hukuman yang semestinya jatuh atas bangsa Israel yang Barabas-awi itu.

Satu aspek dari hukuman ialah bahwa orang yang bersalah mendapat malu. Oleh karena itu, cara paling ampuh untuk menutupi ketidakadilan adalah dengan mempermalukan atau menghina pihak yang sebenarnya tidak bersalah itu, supaya paling sedikit hukumannya terasa wajar. Sebelum hal itu dilakukan oleh orang-orang Yahudi, prajurit-prajurit mewakili bangsa-bangsa dalam menghina Yesus (27–31). Olok-olokan mereka menuduh Yesus sebagai pemberontak terhadap Kaisar, tetapi secara ironis menempatkan mereka sebagai pemberontak terhadap Anak Allah, Sang Raja di atas segala raja. Jadi, Yesus pun menanggung hukuman sebagai pemberontak yang semestinya mereka tanggung.

Kemudian, Matius menceritakan dua detil yang menunjukkan bagaimana penghinaan Yesus itu menggenapi penghinaan yang dialami oleh Daud dalam kesetiaannya kepada Allah (a.34 mirip Mzm 69:22; a.35 mirip Mzm 22:19). Tulisan di atas kepala Yesus juga memberitakan bahwa Yesus adalah penerus Daud (38). Dalam aa.38–44 Matius menunjukkan kehinaan yang lebih dahsyat lagi: jangankan orang-orang yang lewat (39–40) dan imam-imam (aa.41–43; a.42 meniru para pengolok dalam Mzm 22:9), kedua penyamun yang disalibkan di samping-Nya mencela-Nya (a.44; Matius tidak menceritakan pertobatan salah satunya). Kembali ada ironi yang dapat kita tangkap, yaitu bahwa sindiran mereka menjelaskan apa yang sedang dilakukan Yesus sebagai Raja. Bait Allah (diri Yesus) sedang diruntuhkan, dan pada hari ketiga akan dibangun kembali (40). Yesus tidak dapat menyelamatkan diri-Nya karena Dia harus menyelamatkan orang-orang lain (42), dan Allah akan menyelamatkan Anak-Nya pada hari ketiga itu (43). Penyampaian mereka menangkap fungsi seorang raja Israel atau Mesias untuk menyediakan tempat untuk Allah hadir (seperti Salomo menyediakan gedung fisik) dan menyelamatkan rakyatnya (seperti Daud), dan Matius mau kita memahami bahwa itulah yang sedang dikerjakan Yesus pada salib.

Ironi itu baru akan menjadi kentara setelah Yesus bangkit. Pada saat Yesus ada pada salib, pertanyaan yang muncul, sekalipun sebagai sindiran saja, ialah apakah Allah akan menyelamatkan Yesus dari salib. Dalam a.45, ada kegelapan yang tidak mungkin terjadi secara alami (Paskah terjadi pada bulan purnama, sementara gerhana hanya terjadi di sekitar bulan mati). Dengan demikian, Allah mengatakan, “Tidak”. Dalam a.46, Yesus ikut mengatakan, “Tidak” melalui seruan-Nya dari Mzm 22:2. Bagi saya, penolakan Allah ini tidaklah berpura-pura, dan bukan perasaan Yesus saja, tetapi karena Yesus sedang mengambil tempat manusia berdosa. Yesus sudah masuk dalam ranah orang bersalah, dalam ranah orang hina, dan di sini Dia masuk dalam ranah orang yang ditinggalkan oleh Allah. Bahwa semua itu akan dikembalikan dalam kebangkitan-Nya, sama seperti Mazmur 22 itu berakhir dengan keselamatan, tidak mengurangi identifikasi-Nya yang total dengan kondisi manusia berdosa ini. Salah paham tentang kata “Eli” itu (47–49) berakhir dengan Yesus tidak diselamatkan oleh Elia ataupun Allah tetapi mati (50).

Setelah tiga jam Allah memberi kegelapan dan diam, begitu Yesus mati ada serangkaian tanda dari Allah (51–53). Terbelahnya tabir Bait Suci (tidak jelas tabir yang mana) kemungkinan menyatakan hukuman Allah atas bangsa yang membunuh Anak-Nya (21:33–43; 23:38–24:2). Tafsiran itu tidak bertentangan dengan tafsiran yang melihat pengoyakan “baju” karena Allah berduka (seperti Kej 37:29). Peristiwa itu juga menjadi tanda bahwa fungsi Bait Allah akan diambil alih oleh Kristus ketika Dia selaku Bait Allah dibangunkan kembali dalam tiga hari. Kemudian gempa bumi, terbukanya kuburan-kuburan, dan kebangkitan “orang-orang kudus” menegaskan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus itu memiliki makna eskatologis sebagai titik balik dalam rencana keselamatan Allah. (Kalau kebangkitan orang-orang kudus dilihat sebagai cerita harfiah dan bukan sebagai cerita simbolis, semestinya “dan banyak orang kudus” dalam a.52 dijadikan awal dari kalimat baru, supaya seluruh hal yang berkaitan dengan kebangkitan orang-orang kudus itu dikaitkan dengan frase “sesudah kebangkitan Yesus”.)

Tanda-tanda ini bermuara pada pengakuan oleh para prajurit bahwa Yesus adalah Anak Allah (54). Pengakuan itu tidak lagi ironis; mereka sadar bahwa Dia yang diolok-olok itu ternyata berkenan di hadapan Allah. Barangkali, pada waktu kemudian mereka akan memahami bahwa mereka telah menyaksikan Yesus menanggung hukuman mereka yang semestinya, dan bahwa pengampunan ditawarkan kepada mereka. Yesus ternyata adalah raja orang Yahudi, bahkan lebih dari itu, Anak Allah. Ternyata Allah berkenan kepada-Nya, dan dalam waktu dekat Dia akan menyelamatkan-Nya dari kubur. Kematian-Nya berarti bahwa Bait Allah akan diganti, dan kebangkitan-Nya akan menjadi awal dari pembaruan segala sesuatu.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus menjadi Raja dengan menyelamatkan umat-Nya (dan semua yang mau bergabung dengan mereka) pada salib. Dia masuk sepenuhnya ke dalam kondisi manusia berdosa, dan menanggung hukuman yang semestinya mereka tanggung. Sebagai seorang Barabas atau prajurit yang jelas melawan Allah, kita semestinya mengaku Yesus sebagai Anak Allah dan menerima pengampunan daripada-Nya. Sebagai seorang imam kepala yang melawan Allah justru dalam semangat agamawinya, kita semestinya mengaku Yesus sebagai Anak Allah dalam kelemahan-Nya, menerima pengampunan daripada-Nya, dan mulai mempelajari jalan salib. Hal pertama yang disalibkan ialah penghinaan terhadap sesama yang ternyata adalah cermin dari dosa dalam diri sendiri yang disembunyikan.

Makna

Ada tiga segi dari kematian Yesus yang dapat ditonjolkan. Pertama, Dia menempatkan diri dengan orang bersalah dan mati untuk mereka. “Bersalah” di sini berarti pelaku, pelaku terhadap sesama seperti Barabas, dan pelaku terhadap Allah seperti imam-imam kepala dan prajurit-prajurit terhadap Yesus. Para prajurit ketakutan ketika mereka mulai sadar bahwa Allah ada pada pihak Yesus, dan satu-satunya pengharapan mereka adalah berita bahwa penghinaan Raja yang mereka lakukan sudah ditanggung dalam diri Yesus.

Kedua, Yesus menempatkan diri dengan para korban yang dihina dan dianggap ditinggalkan oleh Allah. Hal itu yang menjadi dasar kepedulian gereja kepada kelompok-kelompok yang dianggap hina, dan penguatan bagi kelompok-kelompok itu bahwa di hadapan Allah kemanusiaan mereka sama dengan yang lain. Kebangkitan Yesus yang dihukum, dihina, bahkan ditinggalkan oleh Allah, menjadi puncak dari penjungkirbalikan nilai-nilai manusia oleh Allah yang dilihat juga dalam nabi-nabi dan mazmur-mazmur keluhan orang benar yang menderita (termasuk kedua yang dirujuk tadi).

Ketiga, Yesus menjadi teladan kesetiaan kepada Allah di tengah penghinaan (seperti juga dilihat oleh nabi-nabi dan di dalam mazmur-mazmur, bdk. Yes 50:4–9). Saya menekankan penghinaan di sini di atas penderitaan, karena sepertinya jemaat siap menderita untuk mengejar dambaan, tetapi sangat enggan menanggung penghinaan. Menaati Allah sehingga mendapat malu di hadapan manusia adalah konsep yang hampir-hampir tidak masuk akal. Tetapi di sini Yesus menaati Allah di hadapan penolakan oleh semua pihak, baik para musuh maupun para sahabat, bahkan oleh Allah. Itulah jalan salib.

Ketiga aspek ini penting. Anugerah gampangan menekankan pengampunan (+1) tanpa jalan salib (–3), dan bisa saja melimpah dalam penghinaan kepada orang berdosa/miskin/asing dsb (–2). Solidaritas Yesus (+2) dapat juga ditekankan sambil menolak kematian Yesus bagi para pelaku (–1). Masalahnya bahwa menjadi korban tidak berarti kita bebas dari menjadi pelaku. Dalam kelompok yang tertindas, biasanya ada yang menindas ke dalam, dan banyak korban membalas dendam kalau sempat. Para korban juga perlu mempelajari jalan salib. Tentu saja, jalan salib (+3) tanpa pengampunan (–1) dan solidaritas Yesus (–2) akan menjadi kuk yang mematikan, bukan jalan hidup.

Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar

Matius 27:11-54 Karya seorang Raja pada Salib [9 Apr 2017] (Prapaskah VI)

Penggalian Teks

Perikop yang panjang ini berawal dengan pertanyaan Pilatus selaku wali negeri (gubernur), Apakah Yesus adalah raja orang Yahudi (11). Perikop ini berakhir dengan pengakuan anak buahnya bahwa Yesus adalah Anak Allah (54). Di antaranya, Matius menunjukkan kepada kita yang sudah dua kali mendengar suara dari surga mengaku Yesus sebagai Anak-Nya (3:17; 17:5) itu bagaimana penderitaan dan penyaliban Yesus adalah jalan Dia menjadi Raja.

Di tengah proses pengadilan yang kacau, Yesus ditanya apakah Dia adalah raja Israel. Pertanyaan Pilatus itu barangkali muncul dari tuduhan imam-imam kepala yang harus mencari alasan politik supaya Pilatus menyalibkan Yesus. Yesus kurang lebih mengiyakan bahwa Dia adalah raja orang Yahudi (11), tetapi selain itu Dia tidak berkenan membenarkan keabsahan proses yang kacau itu dengan membela diri (12–14). Sifat sebenarnya proses itu terungkap kemudian ketika orang banyak dihasut untuk membebaskan Barabas daripada Yesus (15–26). Dengan demikian, para pemimpin dan sebagian dari umat Israel menempatkan diri dengan seorang penjahat dan menolak Yesus. Pilatus sendiri sadar bahwa mereka mendengki Yesus (18) dan dia menegaskan bahwa dia bertindak karena desakan mereka, bukan kemauan dia (24). Namun, hasilnya ialah bahwa penguasa non-Yahudi dan Yahudi berkumpul untuk melawan Yesus (Kis 4:27) sesuai dengan rencana Allah sendiri (Kis 2:23). Yesus yang tidak bersalah disalibkan sebagai pengganti penjahat, seorang penjahat yang mewakili Israel yang telah menolak Yesus sebagai raja Israel. Namun, Injil ini sudah menunjukkan bagaimana Yesus sudah menempatkan diri-Nya dengan Israel berdosa dalam baptisan-Nya. Sang Raja menanggung hukuman yang semestinya jatuh atas bangsa Israel yang Barabas-awi itu.

Satu aspek dari hukuman ialah bahwa orang yang bersalah mendapat malu. Oleh karena itu, cara paling ampuh untuk menutupi ketidakadilan adalah dengan mempermalukan atau menghina pihak yang sebenarnya tidak bersalah itu, supaya paling sedikit hukumannya terasa wajar. Sebelum hal itu dilakukan oleh orang-orang Yahudi, prajurit-prajurit mewakili bangsa-bangsa dalam menghina Yesus (27–31). Olok-olokan mereka menuduh Yesus sebagai pemberontak terhadap Kaisar, tetapi secara ironis menempatkan mereka sebagai pemberontak terhadap Anak Allah, Sang Raja di atas segala raja. Jadi, Yesus pun menanggung hukuman sebagai pemberontak yang semestinya mereka tanggung.

Kemudian, Matius menceritakan dua detil yang menunjukkan bagaimana penghinaan Yesus itu menggenapi penghinaan yang dialami oleh Daud dalam kesetiaannya kepada Allah (a.34 mirip Mzm 69:22; a.35 mirip Mzm 22:19). Tulisan di atas kepala Yesus juga memberitakan bahwa Yesus adalah penerus Daud (38). Dalam aa.38–44 Matius menunjukkan kehinaan yang lebih dahsyat lagi: jangankan orang-orang yang lewat (39–40) dan imam-imam (aa.41–43; a.42 meniru para pengolok dalam Mzm 22:9), kedua penyamun yang disalibkan di samping-Nya mencela-Nya (a.44; Matius tidak menceritakan pertobatan salah satunya). Kembali ada ironi yang dapat kita tangkap, yaitu bahwa sindiran mereka menjelaskan apa yang sedang dilakukan Yesus sebagai Raja. Bait Allah (diri Yesus) sedang diruntuhkan, dan pada hari ketiga akan dibangun kembali (40). Yesus tidak dapat menyelamatkan diri-Nya karena Dia harus menyelamatkan orang-orang lain (42), dan Allah akan menyelamatkan Anak-Nya pada hari ketiga itu (43). Penyampaian mereka menangkap fungsi seorang raja Israel atau Mesias untuk menyediakan tempat untuk Allah hadir (seperti Salomo menyediakan gedung fisik) dan menyelamatkan rakyatnya (seperti Daud), dan Matius mau kita memahami bahwa itulah yang sedang dikerjakan Yesus pada salib.

Ironi itu baru akan menjadi kentara setelah Yesus bangkit. Pada saat Yesus ada pada salib, pertanyaan yang muncul, sekalipun sebagai sindiran saja, ialah apakah Allah akan menyelamatkan Yesus dari salib. Dalam a.45, ada kegelapan yang tidak mungkin terjadi secara alami (Paskah terjadi pada bulan purnama, sementara gerhana hanya terjadi di sekitar bulan mati). Dengan demikian, Allah mengatakan, “Tidak”. Dalam a.46, Yesus ikut mengatakan, “Tidak” melalui seruan-Nya dari Mzm 22:2. Bagi saya, penolakan Allah ini tidaklah berpura-pura, dan bukan perasaan Yesus saja, tetapi karena Yesus sedang mengambil tempat manusia berdosa. Yesus sudah masuk dalam ranah orang bersalah, dalam ranah orang hina, dan di sini Dia masuk dalam ranah orang yang ditinggalkan oleh Allah. Bahwa semua itu akan dikembalikan dalam kebangkitan-Nya, sama seperti Mazmur 22 itu berakhir dengan keselamatan, tidak mengurangi identifikasi-Nya yang total dengan kondisi manusia berdosa ini. Salah paham tentang kata “Eli” itu (47–49) berakhir dengan Yesus tidak diselamatkan oleh Elia ataupun Allah tetapi mati (50).

Setelah tiga jam Allah memberi kegelapan dan diam, begitu Yesus mati ada serangkaian tanda dari Allah (51–53). Terbelahnya tabir Bait Suci (tidak jelas tabir yang mana) kemungkinan menyatakan hukuman Allah atas bangsa yang membunuh Anak-Nya (21:33–43; 23:38–24:2). Tafsiran itu tidak bertentangan dengan tafsiran yang melihat pengoyakan “baju” karena Allah berduka (seperti Kej 37:29). Peristiwa itu juga menjadi tanda bahwa fungsi Bait Allah akan diambil alih oleh Kristus ketika Dia selaku Bait Allah dibangunkan kembali dalam tiga hari. Kemudian gempa bumi, terbukanya kuburan-kuburan, dan kebangkitan “orang-orang kudus” menegaskan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus itu memiliki makna eskatologis sebagai titik balik dalam rencana keselamatan Allah. (Kalau kebangkitan orang-orang kudus dilihat sebagai cerita harfiah dan bukan sebagai cerita simbolis, semestinya “dan banyak orang kudus” dalam a.52 dijadikan awal dari kalimat baru, supaya seluruh hal yang berkaitan dengan kebangkitan orang-orang kudus itu dikaitkan dengan frase “sesudah kebangkitan Yesus”.)

Tanda-tanda ini bermuara pada pengakuan oleh para prajurit bahwa Yesus adalah Anak Allah (54). Pengakuan itu tidak lagi ironis; mereka sadar bahwa Dia yang diolok-olok itu ternyata berkenan di hadapan Allah. Barangkali, pada waktu kemudian mereka akan memahami bahwa mereka telah menyaksikan Yesus menanggung hukuman mereka yang semestinya, dan bahwa pengampunan ditawarkan kepada mereka. Yesus ternyata adalah raja orang Yahudi, bahkan lebih dari itu, Anak Allah. Ternyata Allah berkenan kepada-Nya, dan dalam waktu dekat Dia akan menyelamatkan-Nya dari kubur. Kematian-Nya berarti bahwa Bait Allah akan diganti, dan kebangkitan-Nya akan menjadi awal dari pembaruan segala sesuatu.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus menjadi Raja dengan menyelamatkan umat-Nya (dan semua yang mau bergabung dengan mereka) pada salib. Dia masuk sepenuhnya ke dalam kondisi manusia berdosa, dan menanggung hukuman yang semestinya mereka tanggung. Sebagai seorang Barabas atau prajurit yang jelas melawan Allah, kita semestinya mengaku Yesus sebagai Anak Allah dan menerima pengampunan daripada-Nya. Sebagai seorang imam kepala yang melawan Allah justru dalam semangat agamawinya, kita semestinya mengaku Yesus sebagai Anak Allah dalam kelemahan-Nya, menerima pengampunan daripada-Nya, dan mulai mempelajari jalan salib. Hal pertama yang disalibkan ialah penghinaan terhadap sesama yang ternyata adalah cermin dari dosa dalam diri sendiri yang disembunyikan.

Makna

Ada tiga segi dari kematian Yesus yang dapat ditonjolkan. Pertama, Dia menempatkan diri dengan orang bersalah dan mati untuk mereka. “Bersalah” di sini berarti pelaku, pelaku terhadap sesama seperti Barabas, dan pelaku terhadap Allah seperti imam-imam kepala dan prajurit-prajurit terhadap Yesus. Para prajurit ketakutan ketika mereka mulai sadar bahwa Allah ada pada pihak Yesus, dan satu-satunya pengharapan mereka adalah berita bahwa penghinaan Raja yang mereka lakukan sudah ditanggung dalam diri Yesus.

Kedua, Yesus menempatkan diri dengan para korban yang dihina dan dianggap ditinggalkan oleh Allah. Hal itu yang menjadi dasar kepedulian gereja kepada kelompok-kelompok yang dianggap hina, dan penguatan bagi kelompok-kelompok itu bahwa di hadapan Allah kemanusiaan mereka sama dengan yang lain. Kebangkitan Yesus yang dihukum, dihina, bahkan ditinggalkan oleh Allah, menjadi puncak dari penjungkirbalikan nilai-nilai manusia oleh Allah yang dilihat juga dalam nabi-nabi dan mazmur-mazmur keluhan orang benar yang menderita (termasuk kedua yang dirujuk tadi).

Ketiga, Yesus menjadi teladan kesetiaan kepada Allah di tengah penghinaan (seperti juga dilihat oleh nabi-nabi dan di dalam mazmur-mazmur, bdk. Yes 50:4–9). Saya menekankan penghinaan di sini di atas penderitaan, karena sepertinya jemaat siap menderita untuk mengejar dambaan, tetapi sangat enggan menanggung penghinaan. Menaati Allah sehingga mendapat malu di hadapan manusia adalah konsep yang hampir-hampir tidak masuk akal. Tetapi di sini Yesus menaati Allah di hadapan penolakan oleh semua pihak, baik para musuh maupun para sahabat, bahkan oleh Allah. Itulah jalan salib.

Ketiga aspek ini penting. Anugerah gampangan menekankan pengampunan (+1) tanpa jalan salib (–3), dan bisa saja melimpah dalam penghinaan kepada orang berdosa/miskin/asing dsb (–2). Solidaritas Yesus (+2) dapat juga ditekankan sambil menolak kematian Yesus bagi para pelaku (–1). Masalahnya bahwa menjadi korban tidak berarti kita bebas dari menjadi pelaku. Dalam kelompok yang tertindas, biasanya ada yang menindas ke dalam, dan banyak korban membalas dendam kalau sempat. Para korban juga perlu mempelajari jalan salib. Tentu saja, jalan salib (+3) tanpa pengampunan (–1) dan solidaritas Yesus (–2) akan menjadi kuk yang mematikan, bukan jalan hidup.

Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar

Yohanes 11:1-45 Percaya dan melihat kemuliaan Allah [2 Apr 2017] (Prapaskah V)

Penggalian Teks

Sementara Yesus menyingkir ke seberang sungai Yordan, karena “orang-orang Yahudi” (para pemimpin) ingin membunuh-Nya (10:39–40), Dia mendapat berita bahwa sahabat-Nya Lazarus sakit (1–3). Yesus tidak langsung pergi untuk menolongnya. Dia mau supaya Allah dimuliakan (4) dan murid-murid-Nya percaya (15).

Salah satu kunci untuk memahami kisah ini ialah pernyataan Yesus dalam a.4. “Penyakit ini tidak akan membawa kematian” sepertinya berjanji bahwa Lazarus tidak akan mati. Pemulihan itu akan memuliakan Allah di dalam Anak-Nya, Yesus, barangkali karena Yesus akan menyembuhkannya secara ajaib, seperti yang Dia lakukan dengan orang buta (bdk. 9:3), atau malahan dari jauh, seperti dengan anak pegawai istana itu (4:50). Tafsiran itu cocok bagi mereka karena mereka kurang percaya (15). Mereka takut pergi ke Yudea (8), dan belum memahami bahwa Allah akan melindungi mereka selama ada terang dunia (aa.9–10; ciri khas pepatah ini ketimbang 9:4–5 ialah soal kaki terantuk, yaitu keamanan). Pernyataan Yesus itu menyangkut pemeliharaan Allah terhadap mereka yang melakukan misi-Nya secara umum. Lebih lagi, setelah Yesus memberitahu mereka bahwa Lazarus sudah mati, mereka tidak berusaha untuk tetap percaya pada pernyataan Yesus dalam a.4, yaitu dengan memikirkan bagaimana caranya kematian Lazarus bukan akhir cerita. Dalam ketidakpercayaan mereka, mereka menghadapi kematian dengan cemas (16).

Soal percaya yang disoroti dalam percakapan Yesus dengan Marta (17–27). Lazarus sudah empat hari di kubur, berbeda dengan kebangkitan anak Yairus dan sebagainya yang baru mati (orang Yahudi dikuburkan dengan cepat). Ternyata masih banyak teman mereka yang ada untuk menghibur keluarga. Mereka yang kemudian menjadi saksi mata kepada orang-orang lain di Yerusalem sehingga pimpinan Yahudi harus bergerak terhadap Yesus (11:45–46). Marta berbicara dengan Yesus di tempat yang terpisah. Dia sudah percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan Lazarus (21), dan sepertinya masih memungkinkan baginya bahwa Lazarus dapat dihidupkan kembali (22). Namun, ketika Yesus berjanji bahwa Lazarus akan bangkit, dia hanya berani mengaku percaya akan kebangkitan pada akhir zaman (23–24). Dalam aa.25–26, Yesus menegaskan bahwa Dialah kuncinya untuk kebangkitan itu. Yang perlu dipercayai bukan adanya kebangkitan tetapi Yesus sebagai penentu kebangkitan. Marta mengaku percaya, paling sedikit kepada Yesus sebagai Mesias (27).

Soal kurang percaya yang dilihat ketika Maria datang kepada Yesus, dengan rombongan penghibur mengikutinya (28–37). Baik Maria (32) maupun mereka (37) mengaku bahwa Yesus dapat menyembuhkan Lazarus seandainya dia masih hidup, mengingat peristiwa dengan orang buta itu. Pernyataan itu sama dengan pernyataan awal Marta, tetapi disertai tangisan. Mungkin adanya banyak orang memengaruhi suasana, tetapi sepertinya Maria dan orang banyak itu tidak dapat membayangkan kebangkitan Lazarus, berbeda dengan Marta yang mampu berharap akan hal itu, walaupun belum yakin. Tangisan mereka membuat Yesus terharu, sedih, dan akhirnya turut menangis (34–35). Seperti diamati sebagian orang Yahudi, hal itu adalah petunjuk tentang kasih-Nya terhadap Lazarus dan keluarga yang ditinggalkan (36). Tetapi mungkin juga terharu-Nya (kata itu sering menunjukkan unsur marah) menunjukkan keprihatinan Yesus akan kondisi manusia yang masih berada di bawah kuasa maut.

Akhirnya, Yesus membuktikan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup dengan memanggil Lazarus keluar dari kuburnya. Yesus didorong oleh rasa terharu-Nya (38), karena Dia datang untuk mengalahkan maut dan membawa hidup yang kekal (3:16). Perintah-Nya untuk membuka kubur menantang iman Marta (39), dan Yesus mendorong dia dengan mengangkat kedua hal yang sudah Dia katakan kepada murid-murid-Nya, yaitu percaya dan kemuliaan (40). Ternyata Marta percaya (41a). Kemudian, Yesus mengajar orang banyak yang ada supaya mereka melihat kemuliaan Allah dalam mukjizat Yesus ini (41b–42). Makna dari kebangkitan Lazarus ini diperdalam dengan dua rujukan silang yang halus. Lazarus dipanggil dari kuburnya oleh suara Yesus sama seperti semua orang pada akhir zaman (a.43, bdk. 5:28–29); kebangkitan Lazarus adalah pertanda kebangkitan semua orang. Kain kafan dan kain peluh yang disebutkan Yohanes itu juga disebutkan berkaitan dengan kebangkitan Yesus sendiri (a.44; bdk. 20:6–7). Kebangkitan Yesus yang menjadi dasar pengharapan akan kebangkitan semua orang. Bedanya bahwa Yesus keluar dari kain kafan dan kain peluh itu, sementara Lazarus akan mati lagi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita diajak untuk percaya bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup, sehingga kita dikuatkan oleh kemuliaan Allah yang kelihatan di dalam kebangkitan dan hidup itu.

Makna

Lebih banyak orang percaya pada kebangkitan semua orang daripada orang yang melihat kebangkitan dan hidup itu sebagai tempat Allah paling dimuliakan dalam kehidupan mereka. Orang mengaku percaya akan hal itu sementara mencari kekekalan dalam nama, kedudukan, dan keturunan. Orang mengaku percaya akan hal itu sementara mengobati ketakutan akan maut dengan berbagai kesenangan yang mempercepat datangnya maut itu. Lazarus memiliki nama bukan karena kehebatannya tetapi karena dia menjadi sarana untuk kemuliaan Allah. Allah dimuliakan di dalam kita karena hidup kekal mulai di dalam kita ketika kita dilahirkan kembali/dari atas, dan Dia akan dimuliakan lebih lagi ketika kita dibangkitkan.

Kebangkitan itu menggenapi pengharapan PL akan kebangkitan umat Allah dari ranah maut, seperti dalam Yeh 37:1–14. Kepercayaan akan kemuliaan Allah dalam kebangkitan adalah bagian dari pikiran Roh yang oleh-Nya ada kuasa kebangkitan untuk menentang kuasa daging dalam kehidupan kita (Rom 8:6–11; saya menafsir a.11 sebagai pernyataan tentang perjuangan terhadap daging, bukan langsung tentang kebangkitan di akhir zaman). Oleh Roh, Kristus menjadi hidup dan pengharapan yang mewarnai kehidupan kita sekarang juga.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , | Meninggalkan komentar

Efesus 5:8-14 Diterangi Kristus [26 Mar 2017] (Prapaskah IV)

Penggalian Teks

Mulai p.4, Paulus berbicara tentang implikasi Injil yang menyediakan jalan masuk kepada Allah kepada jemaat sebagai Bait Allah (Ef 2:17–22). Jemaat itu seperti tubuh yang berdarah kebenaran tentang Kristus (4:11–16) yang memampukan identitas baru (“manusia lama/baru”) yang tidak lagi dikendalikan oleh hawa nafsu (4:17–24). Gambaran konkret tentang identitas itu disampaikan dalam 4:24–5:6. Gambaran itu berakhir dengan daftar dosa yang tidak cocok dengan Kerajaan Kristus dan Allah (5:5). Dosa-dosa itulah yang menyakiti hati Allah sehingga demi Kerajaan-Nya Dia harus menghapus para pelaku dosa itu yang tidak berlindung dalam Kristus (5:6). Makanya, adalah sangat tidak cocok jika orang-orang percaya masih terlibat di dalamnya, entah langsung atau sebagai pendukung (5:7). Perikop kita menjelaskan 5:7 itu melalui kiasan terang dan kegelapan. Dengan terang menjadi jatidiri jemaat (8–10), mereka dapat menelanjangi kegelapan (11–14).

Terang dan kegelapan mengiaskan dua identitas manusia, yaitu sebelum dan sesudah bergabung dengan Kristus (8). Saya menyebutnya “identitas” karena jemaat disuruh untuk hidup (“berjalan”) sebagai anak-anak terang. Hidup seperti itu diusahakan dengan menilai pada setiap saat apa yang berkenan kepada Tuhan (a.10; hal itu lawannya dari menimbulkan murka-Nya). Mengingat diskusi Paulus dalam p.4, pengujian itu tidak hanya berjalan secara perorangan, tetapi juga dalam kehidupan jemaat bersama yang berbagi dalam kebenaran tentang Kristus itu. Buah dari usaha itu adalah “kebaikan dan keadilan dan kebenaran” (9), tiga ciri persekutuan yang sedang bertumbuh kepada Kristus (4:15). “Kebaikan” (agathosune) berarti kecenderungan untuk berbuat baik kepada sesama; “keadilan” (dikaiosune; kata ini biasanya diterjemahkan “kebenaran”) berarti cara berelasi dengan sesama yang tepat; “kebenaran” (aletheia) berarti keterusterangan seorang kepada yang lain (4:25).

Kemudian Paulus membahas “perbuatan-perbuatan kegelapan” (seperti dalam 5:5). A.11 menyampaikan perbandingan antara “mengambil bagian dalam” (sungkoinoneo) dan “menelanjangi” (elengkho). Kata elengkho itu sering dipakai sebagai bagian dari proses yang mengandung unsur pengharapan akan perbaikan, misalnya dalam Mat 18:15 (“tegorlah”), dan Yoh 16:8 (“menginsafkan”). Perbuatan-perbuatan kegelapan itu hanya dapat bertahan selama disembunyikan (12), sehingga adanya terang sudah berfungsi untuk menelanjanginya (13). Jemaat sudah mengalami hal itu karena terang Kristus di atas mereka (14). Jadi, Paulus pertama-tama berbicara tentang efek terang Kristus di dalam jemaat yang diteruskan oleh sesama jemaat melalui pengungkapan perbuatan-perbuatan kegelapan yang tersisa dari masa lampau mereka (ketika mereka masih “manusia lama”, 4:22). Jemaat menjadi tempat terang dengan anggota-anggota jemaat makin diterangi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Jemaat yang diterangi Kristus menjadi terang dengan menguji apa yang dilakukan dan dengan mengungkapkan dosa-dosa tersembunyi.

Makna

Manusia selalu digerakkan sebagian oleh citra, bagaimana sesuatu tampak di depan orang lain. Paulus mengharapkan dua hal yang berbeda. Pertama, jemaat sadar bahwa terang Kristus menyinari mereka; Kristus tahu apa saja yang kita perbuat. Jadi, “apa kata orang?” menjadi “apa kata Kristus?”. Kedua, ketika ada sesuatu yang buruk yang terungkap, hal itu dinilai sebagai kemajuan. Perbuatan kegelapan yang diterangi tidak lagi ada dalam gelap; pertobatan dan pemulihan dapat mulai. Oleh karena itu, jemaat (dan lembaga-lembaga kristiani) berusaha untuk mengungkapkan dosa demi pemulihan, bukan untuk menutupinya demi pencitraan.

Fokus Paulus bukan supaya jemaat menegur “mereka” yang masih hidup sebagai manusia lama (lihat 1 Kor 5:12). Dia menuntut pembaruan di dalam jemaat. Jemaat menjadi terang Kristus dengan kejujuran (“kebenaran”) dan saling menegur. Namun, jemaat yang makin hidup dalam terang akan menelanjangi dosa di luar jemaat dengan sendirinya. Misalnya, jika ada pejabat yang jujur atau rajin, akan lebih kentara kurangnya rekan-rekan yang main curang atau malas. Jemaat yang menegur sementara perbuatan kegelapannya ditutupi akan menuai bencana. Hal itu yang terjadi dengan gereja-gereja di Australia. Berpuluh-puluh tahun pelecehan seksuiil anak oleh pastor, pendeta, dan gembala sidang ditutupi oleh lembaga-lembaga gerejawi. Korban tidak dipercayai; pelaku dipindahkan ke tempat baru untuk melanjutkan dosanya. Berpuluh-puluh tahun citra gereja dijaga tetapi beribu-ribu korban menganggap gereja munafik. Sekarang ada pengadilan negara khusus — yang sekuler — yang menjadi tempat korban mengungkapkan semuanya dan mulai mendapat pengakuan dan sedikit keadilan. Citra dijaga dengan palsu dan kemudian menjadi kotoran ibarat tai.

Dipublikasi di Efesus | Tag | Meninggalkan komentar