Tit 3:1-7 Rahmat yang membawa Pembaruan [25 Des 2016]

Penggalian Teks

Di awal surat ini kepada rekan sekerjanya Titus, Paulus memberi gambaran yang suram tentang kondisi jemaat di Kreta, dengan antara lain adanya orang-orang yang mencari keuntungan dalam pelayanan (1:11). Titus disuruh untuk menunjukkan cara hidup yang sehat (2:1–10, 15) berdasarkan kasih karunia Allah (2:11–14). Perikop kita mengikuti pola yang sama: nasihat (1–2) berdasarkan kasih karunia Allah (3–7). Ternyata jemaat itu kacau karena belum menangkap (atau menolak) kaitan antara kasih karunia Allah dan cara hidup mereka.

Aa.1–2 memberi gambaran singkat tentang orang yang sudah dididik oleh kasih karunia Allah: mereka akan menjadi warga masyarakat yang baik (1), dan tetangga yang baik (2). Dalam a.3 ada gambaran tentang orang yang belum dididik demikian; Paulus mengingatkan Titus bahwa dia pun pernah begitu ketika belum mengenal Kristus. Ada tujuh sifat yang disebut. Yang pas di tengah yaitu menjadi hamba nafsu. Ketiga sifat sebelumnya menggambarkan sudut pandang yang rusak; ketiga sifat berikutnya menunjukkan efeknya dalam rusaknya hubungan dengan sesama. Kesesatan manusia terjadi karena kerja sama antara kejahilan dan ketidaktaatan, sehingga kejahatan dan kebencian dalam dirinya (atau dalam kelompoknya) justru dianggap benar. Dalam kondisi pembenaran diri itu, nasihat tidak berdaya karena akan ditolak atau dialihkan dengan merendahkan kelompok yang lain.

Makanya, Paulus kembali kepada karya Allah di dalam Kristus oleh Roh (4–7). Paulus mulai dengan kemurahan dan “kasih-untuk-manusia” (filanthropia) Allah (4); sifat-sifat Allah itu menjadi nyata ketika Kristus datang (2:11) dan mati untuk kita (2:14). Berkat penyataan Kristus itu, Allah menyelematkan kita (5). Sejalan dengan kemurahan Allah, Paulus melihat dasar dari keselamatan itu sebagai rahmat Allah. Kata “kemurahan” menunjukkan bagaimana Allah memberi kita sesuatu yang baik; kata “rahmat” menunjukkan bahwa hal itu diberikan kepada orang yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Kita tidak mampu mengerjakan suatu kebenaran yang menyelamatkan, tetapi Kristus menjadi pemberian baik Allah yang menjawab kebutuhan kita.

Kemudian, Paulus menggambarkan keselamatan itu sebagai proses yang dimulai dengan baptisan (“permandian”) dan akan berpuncak pada penerimaan hidup yang kekal (5b–7). Baptisan menandai penjadian ulang (palinggenesia; LAI “kelahiran kembali”) orang-orang percaya. Sebelumnya kita adalah orang yang dibentuk oleh dan bergantung pada budaya dan adat yang dalam hal-hal tertentu menjadi wadah untuk menyatakan kejahilan dan ketidaktaatan manusia. Baptisan membersihkan kita dari semuanya itu sehingga kita memiliki identitas baru di dalam Kristus. Tetapi, identitas itu harus dibentuk terus-menerus di dalam diri kita, dan pembaruan itulah yang dikerjakan Roh Kudus. Roh Kudus itu merupakan pemberian yang paling berharga yang dilimpahkan kepada kita oleh Kristus (6), dengan demikian mewujudkan rahmat Allah (sehingga Kristus dan Allah sama-sama disebut Juruselamat). Akhir dari keselamatan itu adalah hidup yang kekal (7). Kembali Paulus menegaskan bahwa kelayakan (“dibenarkan”) untuk menjadi pewaris (LAI: “berhak menerima”) hidup kekal itu adalah kasih karunia Allah, bukan usaha kita.

Demikian pemberian Kristus mengobati kondisi kita: kejahilan dipulihkan oleh sudut pandang yang dibuka oleh kemurahan Allah. Karena kita dibenarkan oleh kasih karunia, kita dibebaskan dari pembenaran diri sehingga kita dimampukan untuk menyadari ketidaktaatan kita. Karena kita lahir kembali ke dalam identitas baru di dalam Kristus, kita menolak kuasa nafsu jahat atas kehidupan kita. Karena Roh Kudus dilimpahkan kepada kita, kita dimampukan untuk meninggalkan kejahatan dan kebencian, dan hidup sehat.

Dalam ayat berikutnya, Paulus mengatakan kepada Titus bahwa berita itu yang harus ditegaskan kepada jemaat untuk memotivasi “mereka yang sudah percaya kepada Allah” (3:8). Mungkin saja ada yang tidak percaya dan akan tetap hidup jahil, tetapi orang percaya tidak hanya perlu dinasihati tetapi juga dimotivasi dengan berita karya Allah di dalam Kristus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kemurahan dan rahmat Allah di dalam Kristus yang membawa kita kepada pembaruan dan hidup kekal itu menjadi motivasi untuk kehidupan dengan sesama yang sehat. Kita diajak untuk menerima hidup kekal sebagai tujuan hidup kita yang diterima sebagai anugerah, dan memberi diri diperbaharui oleh kuasa Roh Kudus.

Makna

Pada saat-saat merasa pesimis, analisis saya tentang kondisi gereja sbb. Paulus berbicara tentang karya Allah di dalam Kristus untuk mengangkat wawasan jemaat di Kreta sehingga kehidupan yang sehat itu menjadi sesuatu terasa wajar, meski sulit. Kita para pelayan agak enggan berbicara panjang lebar tentang Allah dan karya-Nya, karena wawasan kita semua (termasuk jemaat) condong terbatas pada apa yang kita lihat langsung di sekitar kita. Masyarakat dan tetangga bukan dilihat dari perspektif para pewaris hidup kekal yang dibenarkan oleh kasih karunia, tetapi seakan-akan kita hidup-mati berdasarkan pembenaran oleh sesama. Kita risih dengan identitas baru kita, dan enggan diperbaharui oleh Roh Kudus, karena dengan demikian kita harus tampil beda. Dengan demikian kita menjadi hamba “apa kata orang” (nafsu dan keinginan bersama) yang menuju upacara kematian yang hebat, bukan hamba Kristus yang menuju hidup yang kekal.

Seluruh aa.4–7 ini termasuk dalam pemberitaan Paulus sebagai satu paket yang utuh. Kadang pembenaran oleh kasih karunia diberitakan lepas dari kelahiran kembali dan kuasa Roh Kudus, sehingga orang menganggap bahwa Allah membenarkan semua cita-cita mereka, dan tidak sadar bahwa Allah memiliki misi yang jauh lebih mulia dari misi-misi kerdil kita (bdk. Luk 2:14). Kadang hidup kekal diberitakan sebagai semacam pemberesan masalah hidup pribadi setelah mati (dengan demikian jemaat dibebaskan untuk berfokus pada apa yang penting, yakni adat), bukan sebagai keanggotaan dalam masyarakat yang mulia dan termasyhur (Yes 62:7, 12). Kadang Allah dibicarakan lepas sama sekali dari Kristus, sehingga rahmat-Nya menjadi sifat yang melayang-layang dan kabur, bukan sesuatu yang dilihat secara konkret di dalam Kristus. Semoga penyataan Kristus dalam pemberitaan kita pada Natal ini membuka mata iman sehingga pembaruan hidup juga nyata.

Dipublikasi di Titus | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Yes 7:10-17 Percayalah pada pertanda Tuhan [18 Des 2016]

Penggalian Teks

Yesaya bernubuat di Yehuda (kerajaan Selatan) selama zaman pemerintahan beberapa raja (1:1). Dia dipanggil pada tahun kematian raja Uzia (6:1, 740/739 SM). Kurang lebih lima tahun kemudian, ketika Ahas baru mulai mengambil alih kendali pemerintahan dari ayahnya Yotam, Israel (kerajaan Utara) dan Aram (daerah Suriah sekarang) menyerang Yehuda karena Yehuda tidak mau bersekutu dengan mereka untuk melawan Asyur. (Ahas malah menjadikan Yehuda sebagai negara vasal dari Asyur; lihat 2 Raj 16:7–9.) Dalam Yes 7:1, kita diberitahu bahwa penyerangan itu tidak berhasil (demikian juga 2 Raj 16:5); fokus narasi ini adalah (kurangnya) iman raja Ahas sebelum hasil itu terjadi. Bahwa Yehuda gemetar wajar saja (7:2), tetapi melalui Yesaya, Allah memberitahu Ahas bahwa sebentar lagi Israel dan Aram akan hancur (7:3–9a). Oleh karena itu, Ahas disuruh untuk percaya sehingga teguh (7:9b).

Untuk menguatkan (atau menguji?) iman Ahas, Tuhan kemudian menawarkan pertanda yang akan ditentukan oleh Ahas sendiri (11). Ahas menolak tawaran itu, dengan alasan yang kelihatan saleh, yaitu untuk tidak mencobai Tuhan (12). Ul 6:16 memang memperingati Israel demikian, dengan merujuk pada peristiwa di Masa. Pada saat itu, menghadapi kekurangan air, Israel mempertanyakan apakah Tuhan hadir di tengah-tengah mereka (Kel 17:7). Andaikan Ahas sungguh saleh, dia akan mengaminkan hadirat Tuhan dengan menjawab bahwa sebuah pertanda mubasir karena dia sudah percaya pada janji Allah melalui Yesaya itu. Tetapi, dia tidak hanya menolak untuk mencobai Tuhan, dengan minta tolong ke Asyur dia juga menolak untuk mengandalkan Tuhan. Dia gagal percaya, seperti sudah dikira dalam 7:9b itu.

Jawaban Yesaya adalah jawaban hukuman. Ahas (serta keluarga Daud) dituduh melelahkan Allah (13), tetapi Allah tetap menyediakan pertanda bagi Ahas (14a). Pertanda ini dari satu segi biasa-biasa saja, yaitu kelahiran putera yang menandakan bahwa hanya dalam waktu beberapa tahun, Israel dan Aram akan ditinggalkan kosong (14b–16). Hanya namanya yang luar biasa: anak ini akan menjadi pertanda akan hadirat Tuhan (Imanuel = “Allah menyertai kita”) yang ditolak Ahas itu. Oleh karena Ahas tidak percaya, dia “tidak teguh jaya” (7:9), sehingga hadirat Tuhan pertama-tama dialami Yehuda dalam hukuman (17). Upeti yang diberikan Ahas kepada Asyur menjadi satu langkah lagi dalam kemerosotoan kejayaan Yehuda yang akhirnya bermuara pada pembuangan ke Babel.

Anak Imanuel itu ternyata adalah anak Yesaya sendiri (8:1–4), tetapi setelah hukuman Allah atas Israel, kita membaca tentang seorang putera yang lain yang akan lahir. Putera itu akan menjadi seorang keturunan Daud yang kebalikan dari Ahas: bijak, kuat, damai, dan adil (9:5–6). Sebagai “Allah yang Perkasa”, Dia akan membawa hadirat Allah ke tengah-tengah umat-Nya, bahkan ke tengah-tengah umat manusia.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus, Sang Imanuel yang lahir dan bangkit dan akan menyertai kita sampai pada akhir zaman, adalah wujud janji Allah yang memampukan kita berdiri teguh jaya di hadapan ancaman.

Makna

Mazmur 80 menyampaikan kerinduan Israel dalam pembuangan supaya Allah memulihkan mereka melalui orang yang Dia pilih (80:18–20). Anak yang diharapkan itu yang lahir dari keturunan Daud menurut daging (Rom 1:3), dan yang merintis zaman Roh ketika dibangkitkan (1:4). Injil Matius mulai dengan silsilah yang menempatkan Yesus sebagai jawaban Allah terhadap pembuangan Israel (Mat 1:17), kemudian mengangkat janji Yesaya untuk memberitakan bahwa di dalam Yesus Allah menyertai kita (1:23). Injil itu berakhir dengan janji bahwa penyertaan itu akan berlaku untuk semua orang dari segala bangsa yang bergabung dengan Yesus yang telah dibangkitkan itu (28:20).

Kelahiran Yesus yang mau dibunuh Herodes dan akhirnya disalibkan oleh Pilatus itu mengungkapkan kondisi manusia “menurut daging”, yakni bahwa kita rentan dan fana. Makanya, sama seperti keluarga Daud pada zaman Ahas, manusia di dalam daging melelahkan sesama dan Allah dengan ulah-ulah yang berasal dari ketakutan dan ketidakpercayaan. Manusia di dalam daging malah menolak untuk percaya kepada Tuhan, dan lebih suka mencari jalan keluar sendiri. Tetapi Tuhan telah memberi kita lebih dari sebuah pertanda saja, yaitu Sang Imanuel yang telah bangkit dan akan menyertai kita sampai pada akhir zaman. Jika kita menolak Sang wujud dari janji Allah itu, kita menghadapi malapetaka yang lebih dahsyat lagi dari Asyur, yaitu kebinasaan kekal. Tetapi jika ketika percaya kepada-Nya, kita akan berdiri teguh jaya sebagai orang-orang kudus yang dikasihi Allah (Rom 1:5–7).

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Yes 35:1-10 Dikuatkan oleh Pengharapan [11 Des 2016]

Penggalian Teks

Yesaya 28–35 berbicara tentang hukuman dan keselamatan Allah, dengan Yes 34 sebagai hukuman terhadap bangsa-bangsa. Yes 34:9–17 memberi gambaran tentang alam yang sudah dikuasai maut dan tidak lagi layak untuk manusia. Pasal 35 ini menjawab dengan janji keselamatan bagi Israel. Padang gurun akan berubah (1–2) sebagai persiapan untuk pembalasan oleh Allah untuk menyelematkan umat-Nya (3–4); orang dan tanah akan pulih (5–7) sehingga ada jalan raya untuk umat Allah pulang dengan sukacita (8–10).

A.10 diulang pada 51:11, sehingga sebagian besar penafsir menafsir perikop ini berkaitan dengan pulangnya Israel dari pembuangan ke Babel, seperti dalam pp.40 dst. Kalau begitu, padang gurun yang bergirang adalah padang gurun yang ada di antara Israel dan Babel. Sebagai sarana untuk pembebasan umat Allah, padang gurun itu akan diberi semarak seperti beberapa tempat yang terkenal (1–2; Libanon terkenal karena pohon-pohon aras, salah satu kayu yang istimewa; Saron dan Karmel adalah dua daerah yang subur). Kesuburan baru padang gurun itu digambarkan sebagai kegirangan; dalam a.10 kita melihat ada manusia yang menyatakan kegirangan itu.

Janji itu menjadi latar belakang untuk menguatkan orang-orang Israel yang memperhatikan nubuatan ini (4). Dasar penguatan itu adalah tindakan Allah yang akan menyelamatkan melalui pembalasan (5). Sejauh keselamatan itu dari pihak yang menindas, entah Firaun, Babel, atau Iblis, keselamatan mengandaikan ketegasan Allah terhadap pihak itu.

Keselamatan itu digambarkan sebagai penyembuhan manusia (5–6a) dan pemulihan alam (6b–7). Keempat hal yang disembuhkan bisa ditafsir sebagai masalah jasmani, dan juga sebagai kiasan untuk masalah rohani, seperti tuli terhadap firman Allah (Yes 29:18), atau malas bergerak (lumpuh) dan bersyukur (bisu). Alam itu diubah dari tempat yang sulit didiami menjadi tempat yang subur dan segar. Yang menarik, pemulihan alam itu diangkat sebagai alasan (“sebab”) untuk penyembuhan manusia: yang baru dilihat ketika mata dibuka adalah alam yang menimbulkan sorak-sorai, bukan ketandusan dan kegersangan.

Padang gurun yang dipulihkan itu menjadi jalan raya untuk Israel pulang (8–10). Jalannya kudus: hanya orang yang layak mendapat tempat di atasnya (8), dan mereka dilindungi dari segala bahaya (9). Sama seperti dalam kitab Keluaran, rombongan Israel ini dibebaskan dari seberang sebuah padang gurun untuk berjumpa dengan Tuhan (Allah hadir di gunung Sinai kemudian di Kemah Suci dalam kitab Keluaran, kemudian di Bait Allah di atas bukit Sion pada zaman Yesaya dst). Kemuliaan padang gurun di awal perikop itu menjadi gambaran dari kemuliaan perjumpaan dengan Allah oleh orang-orang yang dibebaskan dari pembuangan itu; kemuliaan itu diiringi oleh sorak-sorai dan sukacita yang abadi (10).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita dikuatkan untuk menempuh jalan keselamatan dengan pembaruan oleh Roh Kudus dan pengharapan akan dunia baru.

Makna

Dalam perikop ini, pulangnya Israel dan pemulihan dunia terjadi serentak. Namun, ketika pulangnya Israel diceritakan dalam kitab Ezra, tidak ada penyembuhan orang (5–6a), pemulihan alam (6b–7), jalan raya (8), atau sukacita abadi (10); sebaliknya yang mereka mengalami ialah banyak keluh kesah. Hal itu tidak dianggap meniadakan janji Allah dalam nubuatan ini; janji itu ditunda saja. Adalah menarik bahwa silsilah Matius tidak menyebutkan pulangnya Israel (Mat 1:12–16), seakan-akan pembuangan itu masih berlangsung sampai zaman Yesus. Kemudian, Yesus menyinggung a.5 dari perikop kita untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dinantikan itu (Mat 11:3). Dia memang menyembuhkan orang secara jasmani, tetapi hal itu juga menjadi simbol dari hal-hal rohani (misalnya, orang buta dalam Yohanes 9). Namun, pemulihan alam semesta belum terwujud dalam pelayanan-Nya; ternyata hal itu masih kita nantikan (Rom 8:18–25). Jadi, Ibr 12:12 menerapkan seruan dalam a.3 untuk jemaat yang dia tujukan. Pengharapan akan penggenapan nubuatan ini menjadi dasar untuk bersabar dalam kondisi yang buruk (Yak 5:7–11).

Makanya, perikop ini dipahami secara eskatologis: janji Allah ini mulai digenapi di dalam Yesus Kristus, dan kita masih menantikan penuntasannya. Dalam kitab Ibrani 3–4, perjalanan Israel di padang gurun adalah gambaran dari hidup yang mengikuti jalan yang dipelopori Yesus. Ada beberapa implikasi dari pehamaman itu untuk kita. Yak 5:7–11 sejajar dengan a.4 dari perikop kita: pembalasan Allah yang sudah dekat menjadi alasan untuk bertekun. Ibr 10:14 menyimpulkan bahwa oleh pengorbanan Yesus, kita pasti akan dibawa di atas Jalan Kudus sampai selamat (9). Ibr 12:4–11 juga menyampaikan bagaimana Allah sebagai Bapa menggunakan kesusahan sekarang untuk mendewasakan kita anak-anak-Nya.

Tema pemulihan (1–2, 5–7) juga ada penggenapannya dalam PB. Roh Kudus adalah pembawa berkat Allah bagi kita sekarang (Gal 3:14) dan jaminan akan penuntasannya ke depan (Ef 1:14). Dengan kuasa Roh Kudus, kita mulai dipulihkan, dan kita menjadi lebih mampu melihat kemuliaan dan janji Allah di tengah kebobrokan dunia ini.

Hal terakhir: penafsiran ini bukan “perohanian” perikop Yesaya yang menyepelekan tubuh, karena Roh menghidupkan tubuh kita untuk menjadi persembahan yang hidup (Rom 8:11; 12:1). Jalan mengikuti Yesus adalah jalan tubuh, bukan hanya jalan di dalam hati. Yang berubah ialah tempatnya. Kita tidak berjalan dari Babel ke Yerusalem, ataupun berkeliling di Galilea. Kita menuju dunia baru di mana saja kita berada, dengan diperbaharui oleh Roh Kudus dan dengan sukacita akan pengharapan sukacita abadi.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Kol 1:15-23 Dasar Iman ialah Kristus yang Utama [20 Nov 2016]

Penggalian Teks

Dalam suratnya kepada orang-orang percaya di Kolose, Paulus mau supaya mereka berakar di dalam dan dibangun di atas Kristus (2:7). Seruan itu hanya masuk akal kalau Kristus memang layak menjadi dasar. Perikop kita adalah awal dan dasar dari penguraian yang menyampaikan siapa dan bagaimana Kristus itu. Sebelum perikop kita, doa dan syukur Paulus berakhir dengan syukur kepada Allah yang memindahkan kita dari kuasa kegelapan ke dalam Kerajaan Kristus, sama seperti Dia membawa Israel keluar dari perbudakan ke dalam Kerajaan Israel. Perikop kita menjelaskan bagaimana hal itu terjadi. Aa.15–20 merupakan puisi (syair dari himne?) yang menunjukkan bahwa Kristus adalah Anak Sulung atas ciptaan lama, dan Anak Sulung atas ciptaan baru. Kata “sulung” merujuk pada otoritas anak pertama, seperti dikatakan tentang raja Israel (Mzm 89:28). Puisi ini kaya dengan makna — uraian di sini hanya mencicipinya. Aa.21–23 menjelaskan bagaimana orang percaya di Kolose telah menjadi bagian dari ciptaan baru itu.

A.15 mulai dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Tentu, yang tidak kelihatan ialah Allah, dan Kristus menjadi gambar-Nya. Manusia diciptakan untuk menjadi gambar Allah bagi ciptaan-Nya dengan mandat untuk mengolah ciptaan yang masih mentah itu sesuai dengan kehendak Allah (Kej 1:27). Itulah gambar Allah yang terbatas. Kristus menjadi gambar Allah yang penuh dan utuh, karena Dia tidak hanya mengolah ciptaan tetapi menjadi sarana penjadiannya (16). Menciptakan adalah hak istimewa Allah, sehingga Kristus tergolong dengan Allah (tetapi dibedakan dari Allah Bapa, lihat 1:3b). Dengan menjadi bagian dari Kerajaan Kristus (1:13), kita menjadi bagian dari Kerajaan Allah sendiri. Kemudian, sebagai sarana penciptaan, segala hikmat dan pengetahuan terdapat dalam Dia (2:4; bdk. Ams 8:22 dst). Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu, termasuk kuasa-kuasa rohani/gaib dalam a.16b, adalah hasil karya Kristus dalam menciptakan, sehingga jelas Dia ada di atas semuanya.

Aa.17–18a merupakan peralihan (penggolongan a.18a dengan a.17 lebih jelas dalam bahasa aslinya). A.17a meringkas aa.15–16: Kristus mendahului segala sesuatu. A.17b menyatakan bahwa karya penciptaan itu tidak berhenti: sekarang segala sesuatu tetap berada karena Dia. Kalimat pertama a.18 mengantar bagian berikutnya yang menyangkut jemaat sebagai wadah penciptaan baru: Kristus adalah kepalanya. Dia adalah kunci dari asal usul, kesementaraan, dan masa depan ciptaan.

Aa.18b–20 mengikuti alur yang mirip dengan aa.15–16. Kristus adalah yang pertama, sulung dari antara orang mati (mengikuti urutan aslinya; kata “bangkit” ditambahkan LAI untuk memperjelas maksudnya). Dengan menyebut adanya “orang mati”, Paulus menyinggung masalah penciptaan pertama: adanya dosa dan maut. Dengan menjadi yang pertama-tama dibangkitkan, Kristus menjadi yang utama dalam rencana Allah untuk pembaruan segala sesuatu, sama seperti Dia menjadi yang utama dalam penciptaan sebagai gambar Allah. Aa.19–20 menguraikan peran Kristus ini (“Karena”). Walaupun Kristus menjadi manusia, Allah berdiam sepenuhnya di dalam-Nya (a.19; perhatikan bagaimana Kristus adalah Allah tetapi dibedakan dari Allah Bapa). Sebagai Allah sejati dan manusia sejati, Dia menjadi sarana pendamaian. Sama seperti Allah menciptakan segala sesuatu melalui-Nya, Allah memperdamaikan segala sesuatu melalui-Nya (20). Caranya ialah salib yang mencucurkan darah Kristus; yang terjangkau bahkan kuasa-kuasa rohani/gaib. Entah kuasa-kuasa itu berubah menjadi baik, atau ditaklukkan (seperti dalam Kol 2:15), intinya bahwa mereka dijinakkan di dalam Kristus.

Aa.21–23 menjelaskan bagaimana kita sebagai manusia berbagi dalam karya pendamaian itu. Paulus menegaskan bagaimana perbuatan jahat manusia adalah buah atau gejala dari permusuhan terhadap Allah (21), sehingga pendamaian yang diadakan dalam kematian Kristus itu diperlukan (22a). Dengan memulihkan hati/pikiran sehingga kita tidak lagi memusuhi Allah, Allah bermaksud untuk membuat kita menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Nya (“kudus”, “tak bercela”, dan “tak bercacat” biasa dipakai untuk persembahan). Ternyata inti dari sikap yang dipulihkan itu disebut “iman”. Iman itu percaya pada pendamaian di dalam Kristus sehingga mengasihi Allah dan sesama dan menantikan apa yang diamankan di surga untuk dinyatakan kelak (1:3; 3:3–4). Dengan uraian di dalam aa.15–22, seruan dalam a.23a untuk tetap teguh dalam iman itu sudah sangat kuat. Keutamaan Kristus juga menjadi dasar untuk pelayanan Paulus yang menjadi topik berikutnya (a.23b).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dasar dan motivasi iman yang teguh ialah Yesus Kristus yang utama dalam penciptaan dan penciptaan baru, dan menjadi sarana pendamaian dengan Allah.

Makna

Bagaimana caranya menguatkan iman jemaat? Dengan teguran berapi-api untuk beriman? Dengan iming-imingan bahwa iman adalah kunci hidup yang sukses, iman adalah cara menjadi kuat dalam pergumulan? Padahal, iman adalah sifat dan sikap manusia, dan hanya berguna sejauh mana apa yang diimani itu berguna.

Bagaimana kalau kita menguatkan iman jemaat (dan kita) dengan menjunjung tinggi Kristus yang diimani? Paling sedikit, itulah strategi Paulus di sini. Beriman, berakar, dsb, tidak ada gunanya kecuali yang diimani itu kuat dan bermaksud baik bagi kita. Paulus memberitakan bahwa kuasa Kristus ada di atas segalanya, dan bahwa di dalam-Nya ada pendamaian yang sungguh-sungguh dengan Allah. Di dalam darah Kristus, kita melihat Allah yang sejati, sehingga kita ditarik keluar dari permusuhan kita dengan Allah. (Soal penghapusan dosa muncul kemudian pada 2:14–15.) Pada setiap poin dalam penguraian tadi, kita dapat menjelaskannya dan kemudian mengajak jemaat untuk mengimani aspek itu dari pribadi dan karya Kristus. Adakah jemaat yang percaya pada kuasa gaib, gerakan politik, uang, atau bentuk kuasa yang lain (bdk. a.16b, a.20a)? Adakah jemaat yang cemas dengan kondisi dunia/gereja, sehingga mundur dari keterlibatan (bdk. a.18a). Adakah jemaat yang menganggap dirinya penting di dalam jemaat (bdk. a.18a)? Adakah jemaat yang mengandalkan amalnya sendiri (bdk. aa.20, 22)? Adakah jemaat yang patuh kepada sebagian norma kristiani tetapi dalam hati kesal terhadap Allah karena dianggap mengurangi kesenangannya (bdk. a.21)?

Dipublikasi di Kolose | Tag , | Meninggalkan komentar

Yesaya 65:17-25 “Bertobat dalam pengharapan” [13 Nov 2016]

Penggalian Teks

Yesaya 64 merupakan doa nabi kepada Allah untuk umat-Nya, yang dibalas dalam Yes 65:1–16 bahwa Israel yang tidak mau mendengar, tetapi bahwa Allah akan menyelamatkan “hamba-hamba-Ku” tetapi membinasakan para pemberhala. Perikop kita adalah gambaran tentang berkat yang akan dialami hamba-hamba itu (65:16). Gambaran itu disampaikan sesuai dengan tingkat penyataan Allah pada zaman itu, dan menjadi lebih mulia ketika diambil dalam Wahyu 21 dalam terang karya Yesus.

Janji akan langit dan bumi yang baru belum tentu berarti bahwa jagad raya akan lenyap dan dibuat dari nol kembali; bahawa tentang alam semesta sering dipakai untuk berbicara tentang kondisi manusia. Yang jelas dijanjikan ialah kondisi manusia yang sepenuhnya baru, sehingga kondisi Israel yang tidak hanya susah tetapi juga cemar dan memalukan itu tidak akan diingat lagi (17). Kondisi baru akan disertai dengan kegirangan dari penduduk Yerusalem (18), bahkan dari Allah sendiri (19a).

Aa.19b–25 merincikan kondisi itu. Pertama, duka tidak ada lagi, karena setiap orang mencapai tujuan hidupnya (19b–23). Hal itu dilihat dalam dua aspek: tidak ada mati muda, entah sebagai bayi (sangat sering pada zaman itu) entah sebagai masih muda; malahan umur biasa akan seperti pohon. Kemudian, tidak ada “bersusah-susah dengan percuma”, sebagaimana digambarkan dalam a.21. Ayat itu membalikkan pengalaman perang dan pembuangan di mana rumah dan kebun yang dikerjakan menjadi milik orang lain. Kedua aspek itu disimpulkan dalam “umur suntuk”, atau dalam bahasa aslinya, “hari-harinya penuh”. Kepenuhan itu bukan saja soal kuantitas tetapi juga kualitas: setiap orang akan mencapai semua hal yang semestinya dari kehidupan yang sejati. Hal itu terjadi sebagai umat penerima berkat Tuhan.

Kedua, kondisi baru itu dilihat dalam jarak yang hilang antara Allah dan manusia dalam soal permohonan. Ketiga, bahkan dunia binatang akan mencerminkan kondisi damai yang berlaku “di segenap gunung-Ku yang kudus”. Gambaran itu menjadi dasar untuk seruan untuk bertobat dalam p.66 (66:22).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Perikop ini menyampaikan alasan untuk bertobat dan bertekun dalam pengharapan, pengharapan bahwa setia kepada Tuhan tidaklah sia-sia. Hidup yang kudus adalah masa depan manusia dalam langit dan bumi yang baru. Perikop ini juga memberitahu kita bahwa maksud Tuhan bagi kehidupan adalah bekerja dan menikmati hasilnya, entah dalam bentuk rumah, kebun, ataupun anak-cucu.

Makna

Pada zaman Yesus, ajaran dalam Dan 12:1–3 tentang kebangkitan ke dalam hidup yang kekal sudah menjadi umum dipercaya antara orang-orang Yahudi. Ajaran Yesus bahwa tidak ada pernikahan di dalamnya adalah kesimpulan yang masuk akal, mengingat bahwa perintah untuk memenuhi bumi barangkali sudah digenapi dalam dunia baru. Wahyu 21 mengutip soal langit dan bumi yang baru (21:1), serta tiadanya tangisan lagi (21:4). Janjinya tentang gunung Allah yang kudus, yakni Sion yang diatasnya ada Bait Allah (Yes 65:25), ditingkatkan menjadi visi Yerusalem yang baru dan bebas kecemaran (Why 21:2, 8, 27).

Yang tidak ada dalam Wahyu 21 ialah perbaikan sebab-akibat, yaitu, jaminan bahwa pekerjaan (mendirikan rumah/kebun) akan berhasil dan dinikmati. Perumpamaan seperti perumpamaan tentang talenta memberi petunjuk bahwa tetap akan ada tugas di dalam dunia baru (Mat 25:21, 23), tetapi fokus kitab Wahyu ialah istirahat setelah kesetiaan sampai mati. PB menegaskan bahwa dunia sekarang tidak demikian (Rom 8:18–25), tetapi Yesus berjanji bahwa hasil pekerjaan bagi Kerajaan Allah itu aman di surga (Mat 6:20), dan bagi Paulus, janji kebangkitan adalah jaminan bahwa pekerjaan kita bagi Tuhan tidaklah sia-sia. Pengharapan itu tidak merongrong etos kerja yang baik (2 Tes 3:6).

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Hagai 2:1b-10 Allah Memberi Harapan Dan Kepastian [6 Nov 2016]

Penggalian Teks

Kitab Hagai memuat beberapa nubuatan dari nabi Hagai kepada orang-orang Israel yang sudah kembali dari Babel dan tinggal di Yerusalem. Rombongan pertama pulang di bawah pemerintahan Koresy, raja pertama Persia sebagai kekaisaran, kurang lebih 538 SM (Ezra 1). Mereka bisa menetap di Yehuda, sebuah wilayah administratif seperti kabupaten, tetapi tidak mampu menyelesaikan Bait Allah. Hampir dua puluh tahun kemudian, pada tahun 521 SM, Darius menjadi raja ketiga kekaisaran Persia. Melalui nabi Hagai dan nabi Zakharia, Allah menggerakkan bupati Zerubabel dan imam besar Yosua untuk melanjutkan pembangunan Bait Allah itu (Hagai 1; bdk. Ezra 5:1). Akhirnya, mereka berhasil (Ezra 6).

Perikop kita adalah nubuatan kedua, satu bulan setelah bangsa mulai bekerja (bdk. 2:1a dan 2:2). Kembali, bupati dan imam besar yang dialamatkan, tetapi juga “selebihnya dari bangsa itu” (3). Kata “selebihnya” dapat juga diterjemahkan “sisa”, yaitu sisa dari Israel sebagai bangsa yang besar. Dalam a.4, ada sisa lagi (LAI “adakah”!) orang yang tua yang pernah melihat Bait Allah yang pertama yang hancur 66/67 tahun sebelumnya. Bait Allah yang pertama dibangun pada masa kejayaan Salomo dan mungkin saja dikembangkan selanjutnya, sementara yang dibangun di Yehuda sederhana saja. Bait Allah baru mencerminkan kondisi mereka sebagai sisa bangsa saja.

Kemudian Allah menyampaikan penguatan bagi bupati, imam besar, bahkan “segala rakyat negeri” (’am ha’arets) — suatu sebutan seakan-akan mereka sudah menjadi bangsa yang utuh lagi. Ada tiga perintah, “kuatkanlah hatimu”, “bekerjalah”, dan “janganlah takut”. Perintah untuk bekerja tidak ada gunanya kalau hati masih lemah dan takut. Ada beberapa alasan untuk kuat dan tidak takut yang disampaikan. Allah adalah Allah yang berkuasa (Tuhan semesta alam); Dia tetap setia pada janji yang diikat ketika Israel keluar dari Mesir; dan Roh-Nya ada di tengah mereka, paling sedikit dalam kedua nabi yang mendorong pekerjaan itu, tetapi mungkin juga dalam orang-orang yang bekerja sesuai dengan keterampilan mereka (bdk. Kel 31:3).

Firman berikutnya merupakan janji eskatologis (7–10). Allah berjanji bahwa Dia akan menggoncangkan seluruh ciptaan-Nya (7). Seperti biasa, bahasa alam semesta itu merujuk pada gejolak dalam bangsa-bangsa. Melalui penggoncangan, barang indah yang melengket pada bangsa-bangsa akan lepas, dan Allah akan menggunakannya untuk membuat Bait-Nya mega (8). Bait Allah Salomo juga memakai barang-barang indah dari bangsa-bangsa di sekitarnya, tetapi bangsa Yehuda tidak memiliki kuasa dan pengaruh seperti Salomo. Jadi, selaku Pencipta segala sesuatu (9), Allah akan mengatur supaya kemegahan Bait Allah baru bahkan melebihi yang lama itu (10). Lebih lagi, Bait itu akan menjadi saluran damai sejahtera, termasuk berkat yang akan mengalir begitu mereka mulai pembangunan itu (2:20).

Walaupun dikatakan “sedikit waktu lagi”, kitab Ezra dan Nehemia menunjukkan bahwa damai sejahtera tidak menjadi milik orang-orang Yehuda seterusnya, dan juga bahwa janji di akhir kitab Hagai, bahwa Zerubabel itu seperti “cincin meterai” yang dipilih Allah, tidak digenapi dalam Zerubabel sendiri. Makanya, janji-janji itu menjadi bagian dari pengharapan eskatologis yang menantikan tindakan Allah untuk mendatangkan zaman baru. Menurut Paulus, semua janji Allah itu diiyakan dalam Yesus Kristus (2 Kor 1:20). Hal itu diuraikan di bawah.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah akan membuat Bait-Nya lebih megah lagi dengan menggoncangkan bangsa-bangsa dan membawa kekayaan mereka ke dalamnya. Hal itu telah Dia lakukan di dalam Kristus, dan sedang Dia lakukan di dalam tubuh Kristus. Kita semestinya membanggakan pertemuan-pertemuan kita sebagai jemaat, yang di dalamnya semua kekayaan bangsa-bangsa terdapat.

Makna

Bait Allah bukan sejajar dengan gedung gereja dalam PB. Tidak ada gedung gereja di PB. Bait Allah adalah Yesus Kristus (Yoh 2:21) dan tubuh-Nya, yakni jemaat (1 Kor 3:16). Jadi, pembangunan Bait Allah dalam Hagai sudah digenapi ketika Kristus bangkit (Yoh 2:19), dan sedang berproses dalam pembangunan jemaat (1 Kor 3:9–10; Ef 2:20–22 serta 4:11–15), yakni, penginjilan ke luar dan ke dalam, menanam dan menyiram seperti Paulus dan Apolos. Pembangunan jemaat yang dibutuhkan di setiap tempat mungkin berbeda-beda, tetapi jelas ada yang beratnya dan pentingnya tidak jauh beda dari tantangan yang dihadapi Israel pada saat itu.

Termasuk di dalamnya ialah bahwa Yesus yang disalibkan itu tidak semarak seperti gedung Bait Allah. Jemaat-jemaat yang berkumpul di rumah-rumah pada zaman Paulus juga tidak ada kesemarakan ketimbang kuil-kuil di kota-kota Yunani. Yang ada ialah Roh Kudus yang hadir di tengah jemaat (1 Kor 3:16). Satu aspek dari kedewasaan iman ialah kekaguman atas hadirat Roh itu meskipun gedung dan persekutuan tidak apa-apa.

Menarik bahwa janji-janji dalam Hag 2:7–10 diangkat secara eksplisit dalam PB. Ibr 12:26 mengutip Hag 2:7a untuk mengatakan bahwa Allah akan menyaring semua yang fana supaya tinggal kerajaan Allah yang tetap. Hal itu diceritakan dalam Why 20:11–21:2, di mana dunia lama “lenyap”, dan Yerusalem baru turun ke atas bumi yang baru. Namun demikian, dalam 21:24b–26 bangsa-bangsa membawa kekayaan mereka kepada Yerusalem baru itu. Sama seperti dalam kitab Hagai, Alkitab tidak berbicara tentang jagad raya secara fisik, tetapi tentang dunia manusia. Bangsa-bangsa akan dihukum (Why 20:12–15), tetapi semua yang baik di dalamnya akan menjadi bagian dari kemuliaan Allah dalam dunia baru.

Jika demikian, upaya untuk menggunakan kekayaan budaya dalam ibadah sekarang adalah tepat. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah penggoncangan pertama yang membuka Bait Allah bagi semua bangsa. Gereja yang berada di hampir semua budaya bumi membuat tubuh Kristus jauh lebih megah dari Bait Allah Israel dan semua gedung ibadah yang lain.

Dipublikasi di Hagai | Tag , | Meninggalkan komentar

Lukas 19:1-10 Wujud Nyata Keselamatan [30 Okt 2016]

Penggalian Teks

Dengan tiba di Yerikho (1), Yesus makin dekat Yerusalem, tempat Dia akan mati (18:31–34). Tujuan itu masih misteri bagi murid-murid-Nya, tetapi implikasinya dilihat dalam dua cerita mustahil berikutnya: ada orang buta yang melihat dan mengikuti Yesus (18:35–43), dan ada orang kaya yang berjumpa dengan Yesus dan dimampukan masuk ke dalam Kerajaan Allah (19:1–10; bdk. 18:24, “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah”).

Zakheus, orang kaya itu, adalah kepala pemungut cukai untuk daerah itu. Posisi itu ditender pemerintahan Romawi, dan pembayaran untuk mendapat posisi itu diganti dengan penambahan pajak semau pemungut cukai. Dia dianggap pengkhianat yang memeras masyarakat dengan bekerja sama dengan penjajah. Makanya, orang banyak tidak berminat memberinya kesempatan untuk melihat Yesus (2–3) sehingga dia memanjat pohon ara (4). Mengapa dia begitu bersemangat (“berlarilah ia”) untuk melihat Yesus tidak dijelaskan, dan hal itu berguna: setiap pembaca diberi ruang untuk menempatkan diri dengan Zakheus tetapi dengan motivasi masing-masing untuk berjumpa dengan Yesus.

Barangkali tindakan Zakheus itu menarik perhatian Yesus dan orang banyak, tetapi bahwa Yesus memilih tempatnya untuk istirahat adalah kejutan besar (5). Zakheus menerimanya dengan sukacita (a.6; kemungkinan besar maksudnya bahwa mereka pergi ke rumah Zakheus sebelum a.7), tetapi semua yang lain bingung bahwa Yesus memilih seorang berdosa (a.7; makan bersama di rumah Zakheus adalah tingkat pergaulan di atas bercakap-cakap saja). Kata “semua” menunjukkan bahwa reaksi ini bukan dari musuh Yesus seperti orang Farisi, yang keberatan secara prinsip dengan pergaulan Yesus. “Semua” itu termasuk orang-orang biasa yang sebagian barangkali pernah menjadi korban langsung pemerasannya. Mereka keberatan karena Yesus sepertinya memihak musuh mereka.

Perkataan Zakheus kepada Yesus juga menanggapi keluhan orang banyak (8). Kepada Yesus dia berjanji membagikan setengah dari kekayaannya kepada orang miskin, pertanda bahwa dia melepaskan uang sebagai tujuan hidup. Tetapi dia juga mengaku dosanya secara konkret di hadapan orang banyak, yaitu pemerasan, dan berjanji untuk mengganti rugi orang. Kelipatan empat menunjukkan bahwa Zakheus menganggap pemerasannya sebagai pencurian (bdk. 2 Sam 12:6; Kel 22:1; kalau tidak sengaja, ganti rugi di PL hanya penambahan seperlima, Im 5:16; Bil 5:7). Jadi, pertobatannya di hadapan Yesus tidak lepas dari kebutuhan untuk ganti rugi kepada sesama.

Yesus mengiyakan janji Zakheus dengan pernyataan bahwa keselamatan “terjadi” pada saat dan tempat itu (9). Kata “keselamatan” dipakai dalam nyanyian Zakharia untuk pemenuhan janji Allah bagi Israel (1:71) dan pengampunan dosa (1:77); kata “menyelematkan” dipakai untuk pemulihan tubuh (8:36) dan jiwa (6:9; 9:24), dan sering dikaitkan dengan iman (8:48; 17:19). Keselamatan yang eskatologis berwujud dalam pemulihan orang-orang sekarang; Zakheus menunjukkan pemulihan hati di hadapan Allah dan pemulihan relasi dengan sesama. Keputusan Zakheus menyangkut seisi rumahnya, sehingga mereka termasuk dalam perwujudan keselamatan ini, meskipun dari segi keuangan mereka akan rugi.

A.10 menjelaskan kejutan dari a.5: misi Yesus sebagai Anak Manusia (raja yang manusiawi ala Dan 7:13–14) ialah mencari orang-orang seperti Zakheus supaya keselamatan eskatologis berwujud dalam kehidupan mereka. Tentunya, misi Yesus ini adalah misi Allah (Lukas 15).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Cerita ini menyampaikan bentuk pertobatan yang menjadi wujud keselamatan dalam kehidupan orang yang berjumpa dengan Yesus yang mati untuk dosa kita. Bentuk itu adalah berpaling dari berhala lama (misalnya, uang), mengaku dosa secara konkret, dan menghargai sesama yang selama ini menjadi korban dosa kita.

Makna

Saya menegaskan janji Zakheus tentang ganti rugi karena sering pertobatan diartikan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kepentingan orang yang berdosa sebagai orang berkuasa. Orang-orang berkuasa (kategori itu termasuk pendeta, bukan?) sering merasa bersalah atau tidak tenang, dan siap saja menangis di hadapan Allah seperti pemungut cukai, asal kuasanya tidak diganggu gugat. Tangisan pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus dan ganti rugi Zakheus dalam cerita ini saya anggap bukan sebagai alternatif tetapi sebagai saling melengkapi untuk menggambarkan pertobatan.

Kita tidak tahu bagaimana hidup Zakheus selanjutnya. Apakah dia mundur dari pekerjaannya untuk mengikuti Yesus (seperti Matius)? Kalau dia tidak lagi memeras masyarakat sehingga pendapatannya berkurang (bdk. Luk 3:13), apakah dia memaksakan bawahannya juga untuk mengikuti kebijakan itu? Ajaran Yesus untuk melepaskan kuasa dengan menjual segalanya bagi Yesus (12:33; 14:33; 18:22) tidak diikuti Zakheus di sini, atapun di Kisah Para Rasul (misalnya, Barnabas menjual hanya sebagian hartanya, Kis 4:36–37; Lidia tidak menjual rumahnya, Kis 16:15, 40).

Yang jelas, Zakheus tidak lagi membenarkan diri, tidak lagi meremehkan orang biasa, dan dengan sukacita rugi demi sesama. Dia menyebut dosanya, pemerasan, secara tersurat, dan menunjukkan sifatnya sebagai pencurian, bukan, misalnya, sebagai kelemahan karena terbawa budaya “profesi”. Ganti ruginya menghargai korbannya sebagai sesama.

Semua ini terjadi karena Zakheus berjumpa dengan Yesus. Perjumpaan itu membawa pusat baru dalam hidupnya yang memampukan dia untuk tidak lagi membenarkan diri dan meremehkan orang lain. Dalam perumpamaan Yesus, pemungut cukai pergi ke Bait Allah dan dibenarkan di hadapan Allah. Dalam cerita ini, Yesus sendiri adalah hadirat Allah yang membawa pengampunan dosa, berdasarkan persembahan diri-Nya yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Oleh karena itu, kita juga bisa menjadi Yesus sebagai pusat, dan melepaskan kuasa dan hak yang membelenggu kita di hadapan Allah dan sesama.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | Meninggalkan komentar