Lukas 6:43-45 Hati yang berbuah [14 Ag 2016]

Perikop minggu ini hanya terdiri atas tiga ayat, dan ketiga ayat itu mirip saja dengan klise yang lazim pada zaman Yesus sampai sekarang. Untuk dimaknai, kita harus melihatnya dalam konteks lebih luas, yaitu dalam alur khotbah yang disampaikan Yesus, dan visi Kerajaan Allah yang Dia perlihatkan.

Penggalian Teks

Luk 6:20–49 adalah versi Lukas akan khotbah di bukit dari Matius 5–7. Aa.20–26 mencirikan murid-murid Yesus sebagai kelompok yang memilih kesusahan dalam kesetiaan sekarang ketimbang kenikmatan duniawi (bdk. Ibr 11:1–16 minggu yang lalu). Nasihat Yesus yang tidak masuk akal duniawi itu dilanjutkan dengan mengatakan bahwa murid Yesus akan melampaui timbal-balik yang mencirikan relasi manusia dengan berbuat baik dan bermurah hati bahkan kepada musuh dan orang yang tidak bisa membalas budi kita (6:27–38).

Mulai a.39, fokus Yesus adalah cara komunitas murid-murid bisa menuju pola hidup Yesus itu. Dasarnya adalah belajar dengan rendah hati dari Yesus Sang Guru (6:39–40); tujuannya ialah tingkah laku sesuai dengan ajaran Yesus itu sehingga hidup kita sungguh kukuh (6:46–49). Halangannya ialah kemunafikan yang muncul dalam kecaman kepada sesama tentang hal-hal kecil, sementara si pengkritik sendiri gagal dalam hal-hal besar, terutama kasih yang melampaui hukum timbal-balik itu. Untuk bisa berubah, murid-murid Yesus harus mampu untuk mengakui kesalahan, bahkan kegagalan, diri sebelum mengoreksi sesama (6:41–42). Perikop kita (aa.43–45) menjadi peringatan tentang cara berkata yang demikian: menjatuhkan sesama sambil menutupi masalah besar dalam diri sendiri adalah gejala utama orang yang berseru, “Tuhan!” tetapi tidak bertingkah laku sesuai dengan kasih yang melampaui hukum timbal balik itu (6:46–47).

Peringatan itu disampaikan melalui tiga kiasan. Pertama, baik-buruknya pohon diketahui dari buahnya (43). Ukuran itu cukup mendasar: buah biasanya adalah manfaat utama dari sebuah pohon yang berbuah. Tetapi juga, buah yang jelek menunjukkan pohon yang tidak sehat. Kecaman munafik adalah buah yang tidak baik, dan juga gejala orang yang tidak sehat rohani. Kedua, jenis buah menandakan jenis pohon (44). Dengan menyebut semak duri, Yesus mungkin merujuk pada Kej 3:18 di mana semak duri adalah pertanda tanah yang terkutuk. Soal buah anggur mungkin merujuk pada Yes 5:2, 4 di mana Israel tidak membuahkan buah anggur sebagaimana semestinya. Pohon yang tidak baik dan semak duri adalah orang munafik yang merusak hasil jemaat bagi Kerajaan Allah.

A.45 memperjelas maksud Yesus: kondisi dan jenis pohon merujuk pada kondisi dan jenis hati, dan buah merujuk pada perkataan. Tetap ada kiasan di sini: hati ibarat perbendaharaan, dan perkataan sebagai harta yang dikeluarkan dari perbendaharaan itu. Jika selama ini yang disimpan adalah hal-hal yang baik atau yang jahat, itulah yang bisa dikeluarkan. Kecaman kepada sesama yang memvonisnya tentang hal-hal sepele itu muncul dari hati yang jahat, bukan dari hati yang dibentuk oleh kemurahan hati Allah. Untuk hidup seperti Yesus, hal-hal yang baik, yaitu ajaran Yesus yang menjadi dasar di atas batu itu (6:48–49) perlu disimpan di dalam hati untuk menjadi perbendaharaan baru yang akan meluap dengan perkataan yang membangun kasih dalam komunitas Yesus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Hati adalah sumber dari cara kita berbicara, entah yang menjatuhkan atau yang membangun sesama orang percaya menjadi komunitas yang mengasihi musuh. Oleh karena itu, kita diajak untuk mengisi hati kita dengan hal-hal yang baik, yaitu dengan mendengarkan Yesus (6:47).

Makna

Semak duri tidak mampu menjadi pohon anggur, dan sebuah pohon yang sakit tidak mampu menjadi sembuh. Tetapi a.45 menunjukkan bahwa Yesus berbicara tentang manusia yang dapat berubah. Perubahan itu muncul bukan dari dalam, melainkan dari luar, yaitu dengan mendengarkan Yesus dan melakukan apa yang didengar (6:47). Yang didengar itu bukan sekadar peraturan. Yang didengar adalah suatu visi tentang kedatangan Kerajaan Allah, sebagaimana dilihat dalam mukjizat-mukjizat Yesus yang diceritakan di awal pasal 6 ini, serta visi hidup yang tidak harus menuntut timbal-balik kepada sesama karena percaya kepada Allah.

Menjatuhkan sesama, dalam bentuk menghakimi atau mencari kesalahan (biar selumbar saja), muncul karena kita terkurang dalam hukum timbal-balik yang rusak, yang melebihkan jasa saya dan mengurangi jasa sesama, atau melebihkan kesalahan sesama dan mengurangi kesalahan saya. Hukum timbal-balik adalah hal yang wajar, tetapi penerapannya oleh orang berdosa bermuara pada komunitas yang sakit.

Jadi, buah yang perlu dipertunjukkan kepada jemaat adalah kesakitan karena gosip yang menjatuhkan, prasangka, sedapnya mendengar fitnah dsb. Itulah buah yang mengungkapkan kondisi jemaat yang sebenarnya, meskipun seruan “Tuhan” itu banyak. Solusinya bukan larangan untuk gosip dsb, tetapi mengajak orang untuk mengisi kembali perbendaharaan hati mereka dengan karya dan visi Yesus.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | 2 Komentar

Ibrani 11:1-16 Iman yang menyenangkan Allah [7 Ag 2016]

Penggalian Teks

Dalam Ibrani 3–4, penulis mengangkat perjalanan Israel di padang gurun menuju tanah perjanjian sebagai peringatan untuk para pendengarnya (surat ini dimaksud untuk diperdengarkan, bukan dibaca): “mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka” (3:19). Jika Allah adalah pangala tondok Israel yang membawa mereka ke tempat baru untuk mendirikan sebuah tempat perhentian dengan aluk (adat/Taurat) baru, Yesus sebagai Anak Allah adalah pangala tondok (3:1–6) yang memimpin umat orang percaya ke dunia baru (2:5, 10). Makanya, pengalaman Israel di padang gurun dapat berfungsi sebagai peringatan bagi kita. Di akhir penguraian itu, penulis menjelaskan bahwa Kristus adalah juga Imam Besar yang akan memberi orang percaya pertolongan supaya mencapai tujuan eskatologis itu (4:16). Pp. 5–10 menguraikan pelayanan Kristus sebagai Imam Besar, dengan kesimpulan bahwa kita memperoleh status kudus yang tidak pasang surut untuk mendekati Allah (10:19–22), asal “kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup” (10:31). Jadi, iman adalah cara kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Yesus itu.

Ada beberapa langkah dalam uraian penulis. Dia meletakkan dasar dalam aa.1–3, dengan definisi tentang iman yang akan dijelaskan melalui cerita-cerita nenek moyang, dan yang dasarnya adalah Allah sebagai Pencipta. Kemudian penulis menjelaskan iman sebagai jalan untuk berkenan di hadapan Allah (4–7). Kemudian dia mengangkat perjalanan Abraham (bdk. perjalanan Israel dalam pp.3–4) untuk mengatakan bahwa iman merindukan janji Allah di atas janji dunia ini (8–16). Aa.17–31 menambahkan orang-orang yang bertindak atas dasar hal-hal yang tidak kelihatan. Kemudian, penulis menyimpulkan kejayaan orang yang beriman (32–35a), dan penderitaan orang beriman (35b–38) yang dihina oleh dunia, tetapi sebenarnya dunia yang mendapat malu (38a). Kesimpulannya penting: janji yang mereka percayai belum mereka terima, karena semuanya akan ditepati bersama dengan orang yang percaya kepada Kristus (39–40).

Definisi penulis dalam a.1 menimbulkan berbagai tafsiran, tetapi terjemahan LAI cukup tepat. Kata “dasar” sebaiknya diartikan sebagai “substansi” (artian filosofis dari hupostasis), dan maksudnya bahwa dengan iman kita mulai berbagi dalam apa yang diharapkan. Dengan demikian, iman menjadi bukti akan apa yang tidak dilihat. Dalam agama tradisional, ritus menjadi bukti akan apa yang tidak dilihat, baik adanya roh dan dewa, maupun harapan akan kesuburan. Uraian berikutnya menjelaskan bagaimana iman dapat berperan demikian: yang tidak kelihatan itu tampak dalam kehidupan tokoh-tokoh beriman yang disaksikan dalam Kitab Suci (a.2). Dasar teologisnya muncul dalam a.3, yang belum berbicara tentang iman nenek moyang, yaitu penciptaan. Sebagaimana akan dilihat dalam tokoh-tokoh PL, orang beriman percaya bahwa Allah yang menciptakan dunia dari yang tidak kelihatan mampu untuk menepati janji tentang dunia baru yang belum kelihatan.

Habel, Henokh, dan Nuh menunjukkan bahwa manusia berkenan di hadapan Allah karena iman (4–7). Habel dibunuh, Henokh malah diangkat ke surga tanpa mati, tetapi mereka semua berkenan di hadapan Allah karena iman. Penulis menjelaskan bahwa dua aspek dari iman yang membuatnya diperlukan. Pertama, iman percaya bahwa Allah yang tidak kelihatan itu ada. Kedua, iman percaya bahwa Allah itu menawarkan apa yang baik kepada orang yang mencari Dia (6). Kisah Nuh menegaskan bahwa upah Allah itu berharga, yaitu keselamatan ketimbang hukuman. Nuh percaya pada apa yang belum kelihatan (air bah) sehingga dia menyelamatkan keluarganya dan membongkar kejahatan manusia yang lain (7).

Kisah Abraham membuat penjelasan penulis lebih tajam lagi. Abraham adalah bapa orang percaya (2:16) dan penerima sumpah Allah yang digenapi di dalam Kristus (6:13–20). Aa.8–9 memperlawankan status Abraham sebagi ahli waris dengan kondisi riilnya sebagai orang asing. Oleh iman, hal itu bukanlah masalah bagi Abraham, karena yang dia dambakan ialah kota Allah yang teguh. Apa saja kondisinya dalam kehidupan ini, baik atau buruk, tidak sebanding dengan upah yang terbaik itu (a.10, bdk. a.6). Aa.11–12 mengangkat soal keturunan yang banyak, yang walaupun tidak dilihat oleh Abraham, diketahui oleh penulis dan pendengarnya. Allah menciptakan umat-Nya dari apa yang tidak kelihatan, yaitu pasangan yang menjelang maut.

Dalam aa.13–16, penulis sampai pada kesimpulan sementara: yang pokok dari iman mereka ialah kerinduan. Penulis menegaskan bahwa meskipun janji Allah tidaklah menjadi kelihatan selama mereka hidup (13), dan apa yang kelihatan adalah terjangkau (15), namun mereka memilih untuk menjadi pendatang di dunia ini karena janji Allah begitu lebih baik (12). Pengharapan akan janji Allah lebih berharga bagi mereka daripada wujud duniawi. A.16 mengembangkan a.6. Orang yang mencari Allah merindukan upah, yaitu tanah air surgawi yang tawarkan Allah. Allah tidak sekadar berkenan, tetapi malah bangga disebut Allah mereka, karena apa yang dirindukan itu memang sudah dipersiapkan. Iman mereka telah menangkap janji Allah sedemikian rupa sehingga janji itu menjadi kenyataan yang mengarahkan kehidupan orang beriman itu. Iman adalah cara mereka mulai berbagi dalam apa yang diharapkan; iman menjadi bukti, wujud nyata, dari apa yang tidak kelihatan itu.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Iman yang memampukan orang bertahan: percaya kepada Allah Pencipta yang dapat mewujudkan janji yang belum kelihatan; merindukan dunia baru itu di atas dunia sementara ini; dan melangkah sesuai dengan apa yang tidak kelihatan itu. Kita diajak untuk percaya dan rindu demikian, supaya hidup kita menjadi bukti dan kesaksian akan janji Allah itu. Dengan demikian, kita mulai mengalami dan menikmati realita mendatang itu, terutama bahwa Allah bangga menjadi Allah kita.

Makna

Judul LAI untuk p.11 adalah “saksi-saki iman”. Sebenarnya, yang pertama-tama bersaksi dalam p.11 ialah Allah melalui Kitab Suci (a.2 & a.39). Namun, iman mereka berbicara kepada kita (a.4b). Dengan demikian, iman adalah bukti, bukan untuk orangnya sendiri, melainkan bagi orang lain yang bisa menangkap apa yang tidak kelihatan dari cara orang beriman itu hidup. Dengan demikian, orang beriman memang bisa disebut saksi (seperti dalam 12:1), karena cara hidup mereka bersaki tentang janji Allah itu.

Hal itu penting dalam budaya yang masih berpikir konkret. Monoteisme agak sulit ditangkap dalam budaya yang demikian, karena jika Allah menciptakan segala sesuatu, tidak ada hal-hal konkret, seperti berhala atau upacara atau mimpi dari almarhum, yang mencirikan Allah itu. Lebih lagi, kurban PL yang juga konkret telah diganti dengan persembahan diri Yesus dalam Bait Allah di surga (9:24). Aliran filsafat yang berpendidikan pada zaman penulis kitab Ibrani sudah biasa menjadikan rasio sebagai bukti akan hal-hal yang tidak kelihatan, dan penulis agaknya tergolong orang terpelajar. Namun, kepada para pendengarnya dia menawarkan bukan argumentasi filosofis melainkan kisah-kisah orang beriman (berpuncak pada Kristus, 12:2–3). Mereka telah diakui oleh Allah dalam Kitab Suci, dan mereka memperlihatkan realita yang tidak/belum kelihatan dalam kehidupan mereka.

Namun, yang inti tidak sekadar percaya pada adanya Allah. Lebih penting — dan menantang — ialah kerinduan akan apa yang dijanjikan Allah itu. Kota surgawi, yang digambarkan sebagai upacara besar-besaran dalam 12:22–24, begitu lebih menarik daripada kediaman duniawi sehingga mereka siap mengabaikan yang duniawi itu supaya memperoleh yang surgawi. Setelah menguraikan karya Kristus yang begitu mempesona, taktik penulis untuk membangun kerinduan itu adalah melalui kisah-kisah orang yang rindu dalam iman. Kerinduan itu yang mulai menggabungkan kita dengan kenyataan yang kita harapkan itu.

Dipublikasi di Ibrani | Tag , | 1 Komentar

Kol 3:1-11 Kejarlah hidup dan kemuliaan di dalam Kristus [31 Jul 2016]

Penggalian Teks

Paulus sudah menjelaskan keutamaan Kristus (p.1), dan bahwa kita menemukan keberkatan atau kehidupan yang berhubungan dengan Allah karena sudah mati dan bangkit bersama dengan Kristus. Soal mati itu diuraikan dalam 2:20–23, dan Paulus menegaskan bahwa orang percaya telah mati terhadap ‘roh-roh dunia’ (2:20) yang berkaitan dengan peraturan hidup untuk menemukan kesaktian atau keberkatan. Tetapi, jika kita telah mati terhadap cara lama untuk memperoleh berkat, bagaimana cara barunya? Jadi, perikop ini menguraikan implikasi dari kebangkitan kita bersama dengan Kristus (1a). Aa.1–4 menguraikan keberadaan kita di surga bersama dengan Kristus; aa.5–7 pelepasan dosa dalam rangka murka Allah; aa.8–11 pelepasan dosa dalam rangka tujuan Allah akan manusia baru. Aa.12 dst menguraikan lebih terperinci pola hidup baru itu.

Gambaran Paulus dalam aa.1–4 sederhana: Kristus yang bersama dengannya kita dibangkitkan itu duduk di sebelah kanan Allah. Kelestarian hidup kita terpusat pada Kristus, aman bersama Dia di surga (3). Kemuliaan kita — bobot kita sebagai manusia sehingga keberadaan kita berarti — tersimpan dengan Kristus dan akan dinyatakan kelak (4). Manusia selalu mau maju dalam hal-hal yang dianggap menentukan dalam soal kelestarian hidup dan kemuliaan (termasuk citra dan penghargaan). Cara yang tepat dicari; pemahaman untuk lebih berhasil di dalamnya dipikirkan. Jadi, kalau hidup dan kemuliaan kita berada di dalam Kristus, kita akan mau mendalami “segala harta hikmat dan pengetahuan” yang tersembunyi di dalam Kristus supaya kita hidup sesuai dengannya.

Dalam aa.5–11, menjadi jelas bahwa perlawanan antara perkara di atas dan di bumi bukan soal di mana kita bertindak, tetapi bagaimana kita bertindak di bumi. Juga, perlawanan itu bukan soal jiwa melawan raga. Hawa nafsu adalah masalah jiwa yang duniawi (5); berkata jujur kepada sesama orang percaya adalah tindakan tubuh yang surgawi (9). Orang yang duniawi mencari kelestarian hidup dan kemuliaan di dalam dunia; orang yang surgawi mencari hal-hal itu di dalam Kristus yang ada di surga (tetapi akan kembali dari sana kelak). Kedua-duanya mengungkapkan dasar hidup mereka dalam tingkah laku mereka di bumi.

Secara harfiah, a.5a berbunyi, “Karena itu, matikanlah anggota-anggota yang di bumi”; “yang di bumi” itu memang sama dengan akhir a.2. “Anggota-anggota” barangkali dipakai seperti dalam Rom 6:11 untuk merujuk pada tubuh manusia yang menjadi sarana dosa. Terjemahan LAI bisa memberi kesan bahwa proses mematikan itu menyangkut batin saja (“dalam dirimu”), tetapi bahasa Paulus itu mengandaikan bahwa mematikan dosa itu akan menyangkut baik motivasi dan perasaan, maupun tindakan. Lima cara anggota tubuh berdosa disebutkan (5b). Yang pertama melanggar batas pernikahan, yang terakhir melanggar pengutamaan Allah sebagai sumber hidup, dan ketiga di tengah menggambarkan kenajisan batin yang terbawa oleh nafsu. Paulus mengajukan dua alasan mengapa kekacauan seperti itu mau dimatikan. Pertama, kekacauan itu merusak apa yang sakral di hadapan Allah (sekualitas dan penyembahan hanya kepada dia) sehingga menimbulkan murka Allah (6); hal-hal itu tidak cocok dengan dunia yang akan didirikan ketika Kristus kembali, sehingga harus disingkirkan. Kedua, jemaat pernah mengalami buruknya hidup seperti itu (7). Maksud Paulus bukan bahwa sekali jatuh kembali ke dalam hal-hal itu, orang percaya masuk neraka. Sebaliknya, mencari hal-hal di atas berarti bekerja sama dengan rencana Allah untuk menyingkirkan hal-hal itu. Allah menghapusnya dari dunia melalui proses hukuman; kita mematikan dan membuangnya dalam diri kita melalui pertobatan.

Aa.8–11 beralih dari hukuman Allah ke tujuan Allah, yaitu suatu manusia baru yang tidak terbagi-bagi oleh adat, keberadaban (orang Barbar dan Skit berada di luar peradaban kekaisaran), ataupun kedudukan sosial (11). A.8 menambahkan lima dosa yang merusak relasi antar-manusia. Semua dosa dalam a.8, dan juga soal berdusta dalam a.9, lebih mudah dilakukan kepada orang yang dianggap rendah, dan manusia lama menggunakannya untuk meninggikan diri atas orang lain. Tetapi di dalam Kristus semua memiliki kedudukan yang sama, ditandai dengan seragam Kristus yang dikenakan, dan gambar Allah dalam semua orang yang percaya kepada Kristus sedang diperbaiki (10). Mendustai (dan memarahi dsb) sesama orang percaya adalah menghina gambar Khalik yang melekat padanya.

Jadi, Kristus berada di surga bukan supaya kita melarikan diri dari dunia ini, tetapi sebagai penjamin bahwa manusia baru yang sedang dikerjakan di dalam jemaat adalah masa depan dunia ini, sehingga kita menanggalkan praktek manusia lama. Karena kita menganggap Kristus lebih mulia, dan melihat masa depan kita di dalam tangan-Nya, kita rindu untuk menanggalkan manusia lama yang najis dan merusak itu. Proses itu adalah usaha kita (“matikanlah”) sekaligus karya Allah di dalam diri kita (“diperbaharui”).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kristus adalah sumber kelestarian hidup (termasuk tidak dimurkai Allah) dan kemuliaan yang sejati (sebagai manusia baru). Oleh karena itu, kita sudah asyik dengan Kristus dan karya-Nya bagi kita, walaupun hal-hal itu baru akan dinyatakan kelak, dan kita berusaha untuk menolak hal-hal yang menyakiti hati Allah dan merusak persekutuan dengan sesama percaya.

Makna

Mungkin saja ada keasyikan dengan karya Kristus yang menjadi pelarian, tetapi hal itu masalah segelintir orang dalam konteks kita. Untuk sebagian jemaat, Kristus adalah lambang identitas saja, dan Allah berada untuk membantu mereka dalam cita-cita mereka. Yang menjadi jaminan kelestarian hidup dan/atau sumber pencariaan kemuliaan adalah pekerjaan atau keluarga. Bagi mereka, pertobatan berarti keluar dari beberapa kebiasaan buruk. Kesia-siaan pola itu disoroti dalam ketiga bacaan yang lain untuk minggu ini.

Bagi Paulus, Kristus harus menjadi substansi identitas kita, bukan embel-embel saja. Di atas saya mengartikan “hidup” sebagai kelestarian hidup, dan menyoroti kemuliaan, sebagai dua hal yang jelas mengarahkan kehidupan banyak orang. Kemudian, ada suatu visi tentang rencana Allah bagi dunia ini yang kita terapkan dalam cara hidup yang makin mendekati manusia baru, yakni Kristus. Hal-hal itulah yang harus disampaikan kepada jemaat, bukan sekadar “coba lebih baiklah”, jika kita mau menunaikan tanggung jawab kita untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan (kedewasaan) dalam Kristus (1:28).

Dipublikasi di Kolose | Tag | Meninggalkan komentar

Kol 2:6-15 “Berakar di dalam Kristus, bukan kuasa-kuasa dunia” [24 Jul 2016]

Penggalian Teks

Aa.6–7 ini bisa dilihat sebagai ringkasan dari seluruh surat. Karya dan kodrat Kristus Yesus sebagai Tuhan telah diuraikan dalam 1:13–23. Penerimaan Yesus oleh jemaat dan di seluruh dunia telah disyukuri dalam 1:3–8, termasuk peran pemberita Injil seperti Epafras, dan pelayan Paulus, termasuk pengajaran, diuraikan dalam 1:24–2:5. Gambaran dari ‘hidup di dalam Dia’ sudah muncul dalam doa Paulus (1:9–12), dan akan diuraikan secara lebih terperinci dalam pp.3–4. Yang diuraikan dalam perikop kita adalah bagaimana kita berakar di dalam dan dibangun di atas Kristus itu. Hal itu dimulai dengan peringatan untuk membangun cara berpikir (“filsafat”, a.8), termasuk budaya (“ajaran turun-temurun”), atas dasar Kristus. Kemudian, 2:16–23 memaparkan ajaran sesat yang mencari dasar yang lain, diimbangi dengan cara berpikir di dalam Kristus (3:1–4).

Aa.9–10 menyampaikan bahwa apapun yang menawarkan hidup yang “penuh”, yaitu apapun yang kita anggap keren, berbobot, asyik, layak dikagumi atau ditakuti, yaitu apa yang disebut sebagai “pemerintah dan penguasa” yang mengendalikan sekaligus menopang kehidupan kita, Kristus adalah kepala dari semuanya karena Allah diam sepenuhnya di dalam Dia, seperti sudah dia jelaskan dalam 1:19. Dalam 1:20, bahwa Allah diam di dalam Kristus menjadi dasar untuk pendamaian seluruh dunia; dalam 2:11–15, Paulus menyoroti identitas orang percaya di dalam Kristus. Jadi, berakar dan dibangun atas Kristus pertama-tama berarti menerima Kristus sebagai kepala atas segala yang selama ini menjadi penguasa dan pengendali hidup. Kita mendapatkan kepenuhan di dalam Kristus; semua yang lain adalah filsafat yang kosong, jika ditempatkan sebagai sumber kepenuhan di atas Kristus.

Bagaimana manusia mendapatkan kepenuhan itu? Dalam aa.11–15, Paulus beranjak dari dasar bahwa di dalam umat Allah ada kehidupan yang sejati. Filfsafat dunia bermaksud menawarkan cara hidup yang menghidupkan. Taurat adalah “filsafat” Allah yang menawarkan kepada umat-Nya pengampunan lewat kurban, dan cara hidup bersama yang berkenan di hadapan Allah. Paulus menunjukkan bagaimana di dalam Yesus, Allah menawarkan itu. Dia mulai dengan sunat sebagai lambang keanggotaan umat Allah. Sunat lahiriah diganti dengan “sunat Kristus”, yaitu kematian Kristus pada kayu salib (11). Kristus disunat; orang yang percaya ikut disunat dengan ikut dikuburkan dan dibangkitkan bersama dengan Kristus. Menjadi bagian dari umat Allah dilakukan dengan menjadi bagian dari Kristus. Penguburan terhadap hidup lama ditandai dengan baptisan; orientasi kepada hidup baru terjadi dengan iman kepada kemampuan Allah untuk membangkitkan manusia yang mati (12).

Kemudian, Paulus memperjelas bahwa dasar untuk hidup baru itu ialah penghapusan pendakwaan hukum (13–15). Hukum itu bukan hanya hukum Taurat, tetapi semua hukum dari filsafat yang menjadi penguasa atas kehidupan manusia. Sejauh mana hukum-hukum itu mencerminkan kehendak Allah, ketidakmampuan manusia untuk hidup baik — kematian rohaninya — terungkap olehnya. Tetapi, filsafat itu tidak mampu menghidupkan kembali. Sebaliknya, kematian Kristus meniadakan hukum-hukum itu sebagai sesuatu yang berhak mendakwa dan menghukum. Tuntutannya dipakukan pada salib sehingga dianggap dilunasi oleh kematian Kristus sendiri. Kemudian kebangkitan Kristus melepaskan kuasa yang menghidupkan. Dengan demikian, penguasa-penguasa kehilangan kuasanya. Ternyata mereka tidak bersenjata lagi dengan hak menghukum, dan mereka dibuat malu karena terbongkar ketidakberdayaan mereka untuk menghidupkan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita diajak untuk berakar dalam Kristus sebagai kepala atas semua penguasa, yaitu sebagai satu-satunya Penguasa yang membebaskan dari kuasa dosa dan memberi kita hidup baru.

Makna

Berakar di dalam Kristus berarti membuat kematian dan kebangkitan-Nya sebagai sumber nutrisi dan batu karang kehidupan kita. Dia menjadi kekaguman tertinggi kita, di atas semua penguasa. Dia menjadi sumber identitas: orang percaya melihat dirinya sebagai orang yang diampuni, dilepaskan dari ikatan-ikatan buruk adat dan budaya, dan yang memiliki masa depan karena kebangkitan Kristus. Identitas di sini dilihat sebagai konsep tentang asal usul, tentang masa depan, dan tentang kelompok di mana seseorang mencari solidaritas. Memang manusia termasuk dalam berbagai kelompok yang mendukun kehidupannya dan membawa harapan-harapan tertentu. Tetapi bagi orang percaya, Kristus lebih mulia dan lebih menentukan dari semuanya.

Jadi, akar di dalam Kristus yang menentukan cara hidup, bukan cara hidup yang menentukan apakah saya berakar dalam Kristus. Usaha kita untuk berbuat baik tidak mampu mengalahkan filsafat yang kosong, entah itu budaya seperti materialisme, praktek seperti judi, atau adat yang bermaksud baik tetapi sering merugikan karena dibelokkan oleh dosa. Masyarakat akan keluar dari berbagai “penyakit sosial” ketika mereka menemukan sesuatu yang lebih baik; tugas kita, seperti Paulus, adalah memberitakan Kristus kepada tiap-tiap orang supaya Dia yang terbaik menuntun kita kepada kedewasaan (1:28).

Dipublikasi di Kolose | Tag , , | Meninggalkan komentar

Amos 8:1-8 “Ketidakadilan mengundang hukuman Tuhan” [17 Jul 2016]

Penggalian Teks

Amos bernubuat pada suatu masa kejayaan Israel utara. Israel berjaya secara ekonomi dan politik, tetapi kejayaan itu diperoleh atas penderitaan dan pemerasan orang miskin. Karena kaum atas rajin beribadah dan diberkati secara jasmani, mereka yakin bahwa Tuhan berkenan atas mereka. Amos diutus dari Yehuda, kerajaan Selatan, untuk memperingati orang dalam kerajaan Utara bahwa Allah yang memberkati mereka juga adalah Allah yang tega menghukum mereka kalau seandainya mereka melanggar — dan untuk memberitahukan mereka bahwa mereka sedang melanggar dengan sangat. Dalam 7:10–17, kita membaca bagaimana pemberitaan Amos itu tidak diterima, sehingga 8:1–9:10 menjadi penegasan tentang hukuman yang akan datang itu.

Aa.1–3 menceritakan sebuah penglihatan yang berfungsi sebagai permainan kata: “buah-buahan musim kemarau” (Ibrani: qayits, a.1) mirip dengan “kesudahan” (qets, a.2b). Kesudahan yang dimaksud itu mengerikan. Secara teologis, Allah “tidak akan memaafkan” (‘-B-R) umat-Nya lagi. Selama itu, Allah melewati (artian harfiah ’-B-R itu) umat-Nya, sehingga kesudahan tidak datang. Dengan kedatangan Allah untuk menghukum, pujian akan diganti dengan ratapan karena banyaknya mayat.

Aa.4–7 menjelaskan dasar untuk kesudahan itu. Intinya bahwa para penguasa menindas orang miskin (a.4). Aa.5–6 mengungkapkan isi hati atau motivasi mereka yang sebenarnya, bukan wacana mereka seorang kepada yang lain yang mereka pakai untuk membenarkan budaya penindasan mereka. Jika selama itu Allah melewati mereka, mereka menantikan hari raya lewat (“berlalu” juga dari kata dasar ’-B-R), supaya laba yang merugikan sesama bisa mereka lanjutkan. Ternyata ibadah kepada Allah bukan puncak dari seminggu atau sebulan bekerja, melainkan interupsi pada ibadah mereka yang sesungguhnya, yaitu ibadah kepada laba dan kuasa (5). Selain kecurangan dalam berdagang barang, mereka juga ternyata tega memperdagangkan manusia (6).

Tetapi, bukankah Allah itu Mahapengampun, Mahapengertian? A.7 menegaskan bahwa Dia sama sekali bukan Mahapelupa. Semua penindasan yang mereka lakukan akan diingat, dan hukuman Allah akan menjadi seperti banjir yang mengacaukan segalanya sebelum surut. Ayat-ayat berikutnya menggambarkan dahsyatnya hukuman itu.

Kurang lebih empat puluh tahun setelah Amos membongkar dalih-dalih masyarakat kerajaan Utara (sekitar 760 SM), kerajaan Utara itu dihancurkan oleh orang Asyur (722/1 SM). Hanya 9:11–15 yang memberi petunjuk bahwa di balik hukuman itu akan ada keselamatan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Perikop ini menjadi peringatan bahwa keadilan dalam berdagang dan dalam memperlakukan sesama adalah ciri dari umat Allah yang setia. Kita diajak untuk mengukur motivasi hati bukan dari wacana di dalam pikiran atau dengan sesama, tetapi dari praktek kita di mana saja kita memiliki kuasa. Namun, konteks kita berbeda dari Amos. Keselamatan dalam 9:11–15 sudah terwujud dalam Kristus. Kesudahan belum datang, dan pertobatan masih terbuka. Pengampunan yang sudah digenapi di dalam Kristus memampukan kita untuk bertobat dari praktek-praktek itu.

Makna

Bahkan orang kristen yang saleh mampu mengembangkan wacana yang membenarkan diri. Banyak orang saleh pada abad ke–18 dan ke–19 membenarkan perbudakan orang kulit hitam di Amerika. Ada juga orang saleh yang merasa tega memberi gaji yang rendah sebagai praktek bisnis yang ‘lasim’. Tentu, para pejabat negara yang menyelewengkan uang yang diperuntukkan bagi masyarakat itu sama. Semuanya mengembangkan wacana bersama yang membenarkan diri, tetapi perikop kita mengungkapkan motivasi yang sebenarnya.

Satu cara untuk mencapai pembenaran itu adalah menggeneralisir seruan seperti dalam perikop kita menjadi tentang ‘dosa’ secara umum. Kemudian, yang disebut dosa adalah dosa kalangan orang lain, misalnya: orang miskin mencuri makanan sedikit itu dosa, tetapi kalau orang besar memberi gaji rendah untuk kerja keras buruhnya itu legal dan sah. (Paling sedikit, ketentuan UMP membuat gaji rendah tidak legal.) Seruan Amos yang mengancam kepentingan orang berkuasa dijinakkan dan dialihkan. Kemudian, karena wacana etis di kalangan kita menyoroti dosa orang lain, hati nurani kita merasa kurang lebih nyaman, dan ternyata Anak Allah menderita dan mati di kayu salib sekadar untuk mengampuni beberapa kelemahan kecil dalam kehidupan kita.

Memang, semua manusia telah berdosa (Rom 3:23), terutama karena tidak memuliakan Allah sebagai Allah (Rom 1:21–23). Oleh karena itu, kita semua juga cenderung menyalahgunakan kuasa yang kita miliki atas sesama, besar atau kecil (Rom 1:29–31). Buruh yang ditindas bisa saja melampiaskan sakit hatinya kepada isteri atau anak; orang dalam minoritas yang ditekan saling memperebutkan status di dalam minoritas itu. Hanya, kemakmuran membuat kita makin mudah membenarkan diri seperti di atas, karena berkat jasmani yang mengalir dianggap pembenaran atas gaya hidup kita. Andaikan kita sungguh-sungguh duduk di kaki Yesus daripada sibuk-sibuk dengan pelayanan (Luk 10:38–42), kita akan belajar bahwa Yesus melanjutkan ajaran nabi-nabi yang membongkar dalih-dalih komunal kita. Yesus membenci ketidakadilan, dan dalih-dalih komunal tidak membenarkannya.

Tentu, di dalam kematian Yesus Kristus ada pengampunan (Kol 1:15). Tetapi, pengampunan bukan izin untuk berdosa; karya Kristus bermaksud untuk membebaskan kita dari kuasa kegelapan (1:14) supaya kita bersekutu dengan Allah di dalam Kristus (1:27) dan menjadi dewasa (‘sempurna’, 1:28). Artinya bahwa kita rindu dan makin mampu untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Tuhan, yang di dalamnya tidaklah termasuk ketidakadilan. Hal itu merupakan proses; tidak semua dalih komunal dibongkar begitu orang bertobat. Tetapi orang percaya mampu bertobat, yaitu, mampu mengaku bahwa cara kita selama ini salah sehingga kita mulai berubah. Kita tidak harus membenarkan diri ketika ditegur, karena kita tahu bahwa kita dibenarkan hanya di dalam Kristus. Orang yang bersikeras dalam dalih komunal yang membenarkan penyalahgunaan kuasa menunjukkan apa yang paling penting bagi mereka, yaitu laba dan kuasa (bdk. Mazmur 52).

Dipublikasi di Amos | Tag , | Meninggalkan komentar

Galatia 6:1-10 “Cara dan Hasil Hidup dalam Roh” [3 Jul 2016]

Penggalian Teks

Sudah dua kali Paulus memperingati jemaat tentang sikap mereka: saling menelan (5:15) dan gila hormat (5:26). Sikap itu bertentangan dengan kasih yang merupakan penggenapan hukum Taurat (5:14). Tetapi hukum Taurat bukan solusinya, karena sikap-sikap itu muncul dari daging (5:19–21) yang hanya bisa dilawan oleh Roh (5:16–18a) lepas dari hukum Taurat (5:18b). Perikop kita menyampaikan beberapa langkah supaya jemaat bisa berubah dari kondisi yang rentan pelanggaran (1) menjadi jemaat yang tetap berbuat baik (10).

Paulus mengajukan himbauan kepada “kamu yang rohani”, yaitu, anggota jemaat yang memberi dirinya dipimpin oleh Roh (5:18). Merekalah yang akan mampu mendampingi orang yang berdosa untuk ‘memperbaiki’ mereka (artian harfiah dari LAI “memimpin ke jalan yang benar”). Tugas itu ternyata tidak mudah, karena yang mendampingi bisa juga dicobai, entah oleh dosa yang dibahas, entah oleh pendampingan yang kasar kepada orangnya sehingga tidak lagi menerapkan kasih (1).

Dalam aa.2–5, Paulus mulai dengan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian, dan berakhir dengan tanggungan yang dapat, dan harus, dipikul sendiri. Di antaranya dia membahas soal bermegah (3–4). A.3 langsung menanggapi sikap gila hormat yang menjadi peringatannya dalam 5:26, dan a.4 menyampaikan alternatifnya. Daripada memperbandingkan diri dengan orang yang jatuh ke dalam dosa (“keadaan orang lain”) sehingga menganggap diri berarti, semestinya dia bermegah dalam karya Roh Kudus dalam dirinya, lepas dari perbandingan dengan orang lain. Alasannya (“Sebab”, a.5) karena pekerjaan setiap orang adalah tanggungannya sendiri.

Jadi, aa.2–5 melanjutkan a.1. Dosa dan pendampingan orang berdosa adalah beban yang tidak mungkin dipikul sendirian, sehingga saling membantu dalam tugas itu adalah satu cara untuk saling mengasihi sesuai dengan hukum Kristus (cara menaati Allah dalam terang karya Kristus, dengan kuasa Roh). Tetapi berbuat baik, yaitu dengan dipimpin oleh Roh (5:25), bukan sesuatu yang bisa ditanggung oleh orang lain. Dalam mendampingi orang berdosa, ada bahaya yang besar bahwa kita memegahkan diri dalam perbandingan dengan orang berdosa itu.

A.6 mengandaikan relasi antara pengajar dan pelajar Firman. Firman merujuk pada berita keselamatan; dalam surat ini kita melihat bahwa PL dan ajaran seorang rasul (yang kemudian menjadi PB) adalah sarana utama. Para pengajar barangkali termasuk di antara “kamu yang rohani”, dan Paulus mau supaya pemuridan berdasarkan relasi yang erat berjalan, sebagai sarana supaya makin kentara cara hidup Roh daripada cara hidup daging. Pembagian “segala sesuatu yang baik” (kata “baik” sepertinya hilang dalam LAI) juga adalah contoh menabur dalam Roh (8).

Sebagai puncak dari 5:1–6:10, Paulus memberi peringatan yang keras bahwa Allah tidak dapat dipermainkan (7). Pembenaran oleh iman tidak berarti bahwa dosa tidak penting lagi. Menabur dalam daging atau Roh berarti memihak keinginan daging atau keinginan Roh yang berlawanan itu (5:17). Menabur dalam daging ada akibatnya; kehidupan makin hancur karena dosa-dosa yang dilakukan, dan Roh sebagai sumber hidup yang kekal makin asing dalam pengalaman orangnya (8). Pemahaman itu membawa pemahaman tertentu tentang waktu (kairos). Ada waktu yang diharapkan (bdk. 5:5), yaitu waktu kita menuai hidup yang kekal, yang menjadi motivasi untuk tetap berbuat baik (9). Kemudian, setiap waktu dilihat sebagai kesempatan untuk berbuat baik (10). Paulus tidak membatasi kasih sebagai penggenapan Hukum Taurat pada kalangan sendiri, tetapi jika mereka yang seiman tidak bisa saling mengasihi, adalah percuma berharap mereka bisa mengasihi yang lain.

Jadi, melalui pendampingan, tanggung jawab moral secara pribadi, pengajaran firman, dan kebergantungan pada Roh Kudus, jemaat yang rentan dosa bisa menjadi jemaat yang menggenapi Hukum Taurat, bukan dengan menanggung Hukum Taurat tetapi karena Roh Kudus yang diterima oleh iman.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Paulus menjelaskan cara supaya jemaat dapat menyatakan hidup dalam Roh. Mereka harus saling menolong dalam meluruskan orang yang melanggar. Mereka harus menilai pekerjaannya sendiri di bawah firman Tuhan, bukan membandingkan diri dengan yang lebih lemah. Mereka harus tetap takut akan Tuhan, yang tidak akan meniadakan akibat dari arah hidup, entah menabur dalam daging atau Roh. Hasilnya adalah jemaat yang tekun dalam berbuat baik.

Makna

Satu masalah dalam kekristenan (konteks jemaat di mana beragama kristen itu biasa) ialah anugerah “gampangan”. Orang mendengar pesan tentang pengampunan pelanggaran, dan menyimpulkan bahwa dosa ternyata tidak terlalu masalah bagi Allah. Mereka tidak lagi takut akan Allah karena ancaman hukuman hilang, dan mereka betah dalam kedagingan. Perselingkuhan, jimat, fitnah, dan percekcokan adalah hal-hal biasa yang dianggap kurang, tetapi, toh, ‘kita adalah manusia yang lemah’. Reaksi terhadap sikap seringkali adalah memasang hukum untuk mengendalikan tingkah laku orang. Hukum itu tidak membantu soal keinginan daging, tetapi memberi orang ‘benar’ dasar untuk menghakimi yang ‘salah’. Hal itu justru mendorong adanya saling menelan dan gila hormat; keinginan daging sama-sama muncul dalam orang ‘benar’ dan orang ‘salah’, hanya dengan cara yang berbeda-beda. Sokoguru gereja dengan mudah menjadi orang Farisi baru; gerakan pembaruan menyerang penyakit sosial dan membuat jemaat sakit dalam kesombongan dan kepentingan kelompok; Tata Gereja makin lama makin tebal.

Paulus menawarkan solusi yang lain, yang cocok dengan kemerdekaan yang mencirikan hidup dalam Kristus (5:1). Dia mau orang hidup sesuai dengan kehendak Allah dari dalam, bukan karena ‘apa kata orang’ (bdk. aa.3–4). Allah memang tetapi perlu ditakuti, dan konsep dalam aa.7–8 mirip dengan konsep pemali dalam artian bahwa ada akibat yang buruk dari pelanggaran. Tetapi Paulus membahas akibat itu dalam rangka batin dan relasi, bukan dalam rangka hal-hal yang datang dari luar (seperti hama atau penyakit; hal itu tidak mutlak, karena dalam 1 Kor 11:29–30 ada penyakit sebagai hukuman). Menabur dalam daging berbuahkan kebinasaan sebagai akibat alami, karena mengikuti keinginan daging merusak diri dan merusak relasi di dalam jemaat. Konsep Paulus tentang pembenaran oleh iman tidak berarti bahwa kematian Kristus menghapus akibat alami itu; sebaliknya, pembenaran oleh iman membuka jalan untuk menabur dalam Roh supaya dosa lama yang dihapus itu bisa ditinggalkan dan tidak merusak lagi. Hidup kekal juga bukan upah yang datang dari luar melainkan kelanjutan dari menabur dalam Roh. Menabur dalam Roh berarti sudah mulai menikmati relasi dengan Allah dalam Kristus (lihat Gal 2:19–20) dan relasi kasih dengan sesama. Di dunia baru, tidak ada jimat, fitnah, atau cekcok, sehingga tidak mungkin orang yang menabur dalam daging akan betah di sana. Teganya Allah dilihat dalam hal ini: Dia tidak akan menyesuaikan dunia baru supaya hidup menurut daging ada tempatnya. Manusia yang harus disesuaikan. Bagi orang yang menabur dalam Roh, penyesuaian itu akan membawa kelegaan, dengan tubuh kebangkitan yang lancar dikendalikan oleh Roh (1 Kor 15:42–44). Orang yang menabur dalam daging tidak dapat tahan dalam penyesuaian seperti itu; pikirkan saja kemarahan orang ketika terancam kepentingan jahatnya.

Dengan cara Roh, bukan hukum, kita tidak menghukum dan mengusir orang yang jatuh, tetapi membantu mereka untuk kembali memihak keinginan Roh yang ada dalam dirinya. (Pengucilan adalah langkah terakhir kalau semua usaha yang lain belum berefek.) Tujuannya supaya hati (keingingan, kerinduan, cita-cita) dan relasi pulih, dan dengan demikian mereka bisa kembali bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri.

Dipublikasi di Galatia | Tag , , | Meninggalkan komentar

Lukas 9:57-62 “Lebih Penting dari Keluarga” [26 Jun 2016]

Renungan ini diperkaya dalam diskusi dengan beberapa rekan pelayan Wilayah II.

Penggalian Teks

Yesus melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem (9:51b), tempat Dia akan menderita, mati, dan dibangkitkan (9:22) selaku Mesias dari Allah (9:20, 35) sebelum Dia diangkat ke surga (9:51a). Yesus sudah memberitahu murid-murid-Nya bahwa mereka juga harus memikul salib (9:23) sebagai jalan menuju hidup (9:24). Cerita pertama setelah Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem ialah penolakan orang kepada-Nya, sehingga mereka harus mencari desa yang lain (9:52–56). Yesus sudah memberitahu keduabelas murid tentang kemungkinan itu (9:5), dan setelah perikop kita Dia mengutus tujuh puluh murid dengan kemungkinan yang sama (10:10–12). Mengikuti Yesus ternyata bukan hal yang mudah, dan dalam perikop kita Lukas memetik tiga perjumpaan orang dengan Yesus untuk memberi gambaran tentang hal itu. Perhatikan bahwa kita tidak diberitahu apakah mereka jadi mengikuti Yesus atau tidak; maksudnya supaya kita yang mendengar firman ini mengambil keputusan kita sendiri.

Dalam setiap perjumpaan ini ada ucapan orang dengan tanggapan Yesus. Ketiga tanggapan Yesus menggunakan gaya bahasa yang berlebihan dengan maksud menggelitik. Sama seperti ucapan-Nya untuk mencungkil mata (Mat 5:29) atau membenci orangtua (Luk 14:26), Dia tidak menyampaikan hukum positif, tetapi Dia mengajukan tantangan yang dimaksud untuk mengungkapkan atau menguji kesiapan hati orangnya. Ucapan-Nya merupakan hikmat, bukan hukum.

Dalam perjumpaan pertama, ada orang menawar untuk mengikuti Yesus “ke mana saja” (57). Yesus mengangkat rubah (Yunani alopex berarti rubah yang dianggap licik, bukan serigala yang dianggap ganas) dan burung sebagai contoh binatang yang memiliki tempat tinggal, yaitu tempat tetap untuk meletakkan kepala (58). Ada usul yang menarik bahwa rubah menyinggung Herodes (bdk. 13:31–32), sementara burung menyinggung orang Romawi (burung bisa merujuk pada orang-orang non-Yahudi, dan burung rajawali menjadi simbol di panji tentara Romawi). Kalau begitu, Yesus membandingkan kondisi warga Kerajaan Allah yang mengembara dengan kondisi kerajaan-kerajaan duniawi yang kelihatan mantap. Bagaimanapun juga, mengikuti Yesus berarti berbagi dalam kondisi Yesus yang berjalan ke Yerusalem dengan selalu berhadapan dengan perlawanan. Hal itu berlawanan dengan kerinduan kebanyakan orang untuk memiliki tempat yang tetap, aman, dan nyaman.

Dalam perjumpaan kedua, Yesus memanggil seseorang yang siap, tetapi mau menguburkan bapanya lebih dulu (59). Jawaban Yesus kasar dalam budaya Yahudi, dan mungkin dalam kebanyakan budaya di bumi (60). Dia menempatkan pemberitaan Kerajaan Allah di atas kewajiban seorang anak untuk menghormati ayah dengan mengurus penguburannya. Tidak dijelaskan apakah bapa itu tua tetapi sehat, sedang sekarat, atau sudah meninggal sehingga yang dimaksud adalah peletakan ulang tulang almarhum setahun setelah kematiannya. Yang terakhir paling masuk akal jika kita mengandaikan bahwa Yesus tidak bermaksud melarang orangnya mengikuti acara penguburan itu. Tetapi kita tetap harus mendengar bahasa Yesus yang kasar itu: orang matilah yang menjadi asyik dengan urusan orang mati. Merupakan kiasan biasa bagi orang Yahudi untuk menyebut orang non-Yahudi sebagai orang mati, tetapi di sini Yesus mengecap orang yang tidak mau bergabung dengan Kerajaan Allah demikian. Sebaliknya, Kerajaan Allah berorientasi hidup. Ucapan Yesus menusuk perasaan kita, dan mengundang pertanyaan, apakah Kerajaan Allah lebih penting bahkan daripada keluarga?

Dalam perjumpaan ketiga, orangnya memohon untuk pamitan dahulu dengan keluarganya. Kita melihat permintaan yang mirip dari Elisa ketika dia dipanggil Elia, dan dia diberi izin bahkan untuk upacara perpisahan yang cukup mega, dengan sepasang lembu sebagai dagingnya (1 Raj 19:19–21). Yesus tidak melarang orangnya pamitan dengan keluarganya, tetapi mengambil gambaran dari kisah Elisa itu untuk mengatakan bahwa mengikuti Yesus berarti melihat ke depan, ke misi Kerajaan Allah itu, bukan mengingat-ingat apa yang ditinggalkan. Kalau dicermati, maksud Elisa juga begitu, karena dia membakar sarana pencarian nafkahnya, baik kedua ekor lembu, maupun bajaknya. Mengikuti Yesus membutuhkan komitmen yang tegas, yang menempatkan Kerajaan Allah di atas hal-hal berharga seperti keluarga.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Mengikuti Yesus dalam misi Kerajaan Allah lebih penting bahkan dari keluarga. Kita ditantang untuk mengambil langkah yang menunjukkan identitas baru kita di dalam Kristus, bukan lagi sebagai anggota keluarga/tongkonan jasmani yang dibantu-bantu Allah, melainkan sebagai anggota keluarga/tongkonan Kristus yang giat untuk kepentingan Allah.

Makna

Pemberhalaan adalah kekeliruan besar dalam PL (Mzm 16:4). Seperti dalam Dasa Titah satu sampai tiga, Allah adalah lebih penting dari semua yang lain, bahkan lebih penting dari diri saya. Bukannya Dia menyatakan diri-Nya kepada manusia untuk menjadi sarana penopang bagi cita-cita kita (entah diri, keluarga, kelompok), melainkan supaya cita-cita kita disesuaikan (dibuang atau diubah) sesuai dengan misi dan rencana Dia.

Pernyataan-pernyataan Yesus dalam perikop kita mempertajam tuntutan itu. Tempat tinggal dan keluarga (keduanya tercakup dalam konsep tongkonan, sama seperti bet dalam bahasa Ibrani dan oikos dalam bahasa Yunani) adalah hal yang baik yang menjadi penghalang bagi misi Kerajaan Allah ketika apa yang baik itu menjadi prioritas utama. Tanpa pemujaan dewa dalam ritus lama adat Toraja, keluarga tetap bisa menjadi berhala. Martabat diri terletak dalam citra keluarga yang tampak dalam upacara-upacara besar; pengharapan untuk hidup terletak pada keluarga. Makanya, norma dan tuntutan keluargalah yang berlaku, misi Kerajaan Allah diberi tempat sejauh mana tidak bertabrakan dengan keluarga yang utama itu. Tantangan Yesus bukan untuk berbuat baik saja (kegiatan keluarga itu baik, pada umumnya), tetapi untuk berbuat apa yang baik bagi misi Allah dalam dunia.

Soal berbuat baik menjadi fokus Galatia 5. Paulus sudah menjelaskan bahwa orang yang percaya kepada Kristus bukan lagi di bawah pengawasan Hukum Taurat. Dalam bagian ini, dia menunjukkan bahwa jika kita hidup oleh Roh Kudus, kita akan memenuhi inti dari Hukum Taurat, yakni kasih. Roh Kudus berlawanan dengan keinginan daging, termasuk cita-cita yang kurang baik. Dengan demikian, pertobatan lebih dari sekadar meninggalkan beberapa kebiasaan buruk; Roh mengubah karakter dan keinginan kita. Dengan demikian, Kristus hidup di dalam kita (Gal 2:19–20) dan kita mencerminkan watak keluarga Allah (Gal 3:26–27). Hal itu pelengkap yang penting bagi penekanan Yesus dalam perikop kita akan prioritasnya misi Kerajaan Allah.

Jadi, ajaran Paulus juga menempatkan keluarga Allah sebagai keluarga yang pokok. Reaksi kita terhadap ucapan-ucapan Yesus mengungkapkan sejauh mana identitas kita masih terletak pada keluarga jasmani kita. Kembali, Dia tidak memberi perintah, dan orang kristen berabad-abad terlibat dalam penguburan orangtua. Namun, pemberhalaan keluarga kuat di kalangan orang Toraja. Walaupun semua dapat melihat pemborosan dalam upacara keluarga yang lain, ada perlawanan yang panas dari banyak keluarga ketika ada usul supaya ritus dalam kalangan sendiri disederhanakan. Menyesuaikan upacara demi Kerajaan Allah adalah salah satu cara untuk menyampaikan bahwa memang Kerajaan Allah yang paling penting. Usul seperti itu dapat menjadi ilustrasi yang mempan untuk mengungkapkan berhala-berhala di dalam jemaat.

Dipublikasi di Lukas | Tag , , | Meninggalkan komentar