Yeh 37:1-14 Pengharapan karena Roh Kudus [24 Mei 2015]

Tahun yang lalu perikop Yeh 37:1–14 ini termasuk leksionari, hanya dengan perikop Injil dan surat yang lain. Renungan itu ada di sini. Penggalian teks saya ambil dari sana (dengan diedit sedikit), tetapi pemaknaan berubah, karena kedua perikop pendamping mengajak kita untuk lebih fokus pada sikap hidup, bukan perbaikan hidup. Kedua renungan ini mengandaikan bahwa perikop kita harus dipahami dalam terang penggenapan di dalam Kristus.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah lanjutan dari Yehezkiel 36 yang berbicara tentang pemulihan keadaan Israel setelah pembuangan. P.36 itu berbicara tentang pemulihan kondisi Israel, termasuk pentahiran (36:25) dan hati daging ganti hati batu (36:26; terjemahan harfiah untuk “hati yang keras” dan “hati yang taat”), melalui Roh Allah yang akan diam di dalam batin Israel (36:27). Dengan demikian, keadaan Israel akan pulih, dan Tuhan akan dimuliakan di dalam mereka.

P.37 menguraikan dua aspek dari pemulihan kondisi Israel itu. Perikop kita (37:1–14) menggunakan penglihatan tentang tulang-tulang yang dihidupkan untuk menjadi pasukan tentara yang besar, sementara 37:15–28 menubuatkan pemersatuan Israel di bawah seorang raja seperti Daud. Dengan demikian, Israel akan siap untuk peperangan akhir zaman (pp.38–39) yang akan mendatangkan dunia baru yang berpusat pada Bait Allah tempat Allah hadir kembali (pp.40–48; kemuliaan Tuhan yang meninggalkan Bait Allah dalam p.10 kembali dalam 43:4). Yang dibahas di sini ialah pemulihan umat Allah untuk menjadi alat bagi rencana Allah, yang di dalamnya kebangkitan pribadi hanyalah satu aspek.

Di dalam penglihatan (1a), Yehezkiel diperhadapkan dengan tulang-tulang yang berserakan. Karena mayat-mayat tidak dikuburkan, ada dugaan bahwa ini adalah tentara yang kalah besar dalam perang (bdk. 10b). Tulang-tulang itu “amat kering”—dalam a.11 “tulang yang kering” ternyata adalah kiasan yang lazim untuk menggambarkan keputusasaan. Aa.1–6 kemudian menceritakan perintah Tuhan untuk bernubuat menghadapi hal itu. Ada empat tahap yang disebutkan dalam pemulihan itu: urat, daging, kulit dan nafas hidup. Kata untuk nafas hidup sama dengan kata untuk roh, ruakh. Aa.7–8 menceritakan terjadinya ketiga hal pertama, tetapi belum yang keempat, sehingga belum ada hidup. Jadi, nubuatan untuk nafas hidup (roh) diulang dan dikembangkan: keempat penjuru angin (ruakh juga berarti angin) disuruh untuk masuk ke dalam orang-orang ini. Tentara yang pernah kalah besar itu berdiri kembali.

Allah menjelaskan penglihatan itu dalam aa.11–14. Israel mengungkapkan keputusasaan dengan sebuah kiasan tentang tulang yang kering (11), dan Allah menjawab dengan sebuah kiasan mengenai kebangkitan dari kubur (aa.12–13; maksudnya tidak harfiah, karena dialamatkan kepada Israel yang hidup). Seperti dalam penglihatan Yehezkiel, ada dua tahap. Yang pertama ialah kembalinya Israel ke tanah Israel (12). Ketika Israel kembali ke Israel, hal itu seperti tulang-tulang bergabung, berdaging dan berkulit: Israel akan menjadi utuh dan mampu bergerak bagi Tuhan. Tetapi hal itu belum cukup: mereka tetap butuh nafas, yaitu Roh Allah (a.14; ingat bahwa kata untuk nafas dan roh itu sama). Alhasil, Israel mengetahui bahwa Allah itu Tuhan.

Jadi, perubahan batin Israel dalam 36:25–27 disampaikan dengan lebih tegas lagi dalam perikop ini. Kenajisan Israel dalam 36:25 ternyata adalah kenajisan mayat, Israel adalah mati. Hati batu dalam 36:26 sejajar dengan tulang kering, dan hati daging sejajar dengan urat, daging dan kulit. Hal itu menunjukkan betapa hancurnya batin Israel: tulang-tulang yang kering, yang tidak dapat bekerja sama (urat), tidak ada kekuatan (daging), dan tidak ada batas atau perlindungan (kulit). Semua itu dikerjakan Allah bagi Israel. Tetapi, sama seperti tubuh Adam yang sudah dibentuk dari debu itu baru menjadi makhluk hidup ketika ada nafas hidup masuk, perubahan batin ini baru menjadi hidup yang sejati ketika Roh Allah diberikan.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk melangkah demi Allah dalam pengharapan, berdasarkan kuasa Roh Kudus yang memberdayakan hidup baru yang kita peroleh di dalam kebangkitan Kristus.

Makna

Dalam perikop kita, kubur menjadi kiasan tentang kondisi Israel dalam pembuangan, dan kebangkitan menjadi kiasan tentang pemulihan bangsa Israel. Tetapi ketika Yesus datang sebagai Israel yang sejati, sebagai Mesias yang mewakili Israel dan Hamba yang menunaikan tugas Israel (bdk. Yes 49:6–7), yang Dia lakukan ialah mati, dikuburkan, dan bangkit secara harfiah. Dengan demikian, arah pengiasan menjadi terbalik: pembuangan menjadi gambaran tentang maut, dan kembalinya dari pembuangan menjadi gambaran tentang kebangkitan. Yesus masuk ke ranah maut dan keputusasaan, dan membuka jalan keluar, atau dengan lebih tepat, jalan pulang ke hidup yang sejati.

Dengan demikian, kebangkitan Kristus memberi kita daging dan kulit. Israel dalam pembuangan merasakan kondisi manusia berdosa dengan tepat: mereka tahu bahwa di luar pengenalan akan Allah hanya ada harapan-harapan yang semu, tetapi mereka meragukan niat dan/atau kuasa Allah untuk membawa mereka kembali ke tanah suci dan ibadah di Bait Allah. Kebangkitan Kristus membuktikan maksud Allah untuk membawa kita dari ranah maut yang jauh dari Tuhan ke ranah kehidupan di mana kita mengenal Dia.

Bacaan Rom 8:18–30 menguraikan beberapa aspek dari ‘daging dan kulit’ ini. Yang utama, kita ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Anak Allah, sebagai adik-adik-Nya (Rom 8:29; saudara dari anak sulung adalah adik). Hal itu sudah dijelaskan dalam Rom 6:1–14. Karena kita berada di dalam Kristus, kita telah mati terhadap dosa bersama-sama dengan Dia supaya kita bisa hidup bagi Allah (Rom 6:1–11). Dalam Rom 8:30, Paulus meringkas caranya Allah membuat kita serupa dengan Kristus: berdasarkan penentuan Allah yang mendahului kehendak kita, kita dipanggil melalui pemberitaan Injil (bdk. Rom 1:15); kita dibenarkan atas dasar pengorbanan Yesus melalui iman (bdk. Rom 3:21–26) sehingga kita menjadi bagian dari Kristus dan keluarga Allah; dan di dalam Kristus kemuliaan Allah yang hilang karena dosa (Rom 3:23) dipulihkan kembali. Proses itu terjadi dengan kita menempuh jalan sama seperti Yesus: kita siap menderita bersama dengan Dia supaya kita dipermuliakan bersama dengan Dia (Rom 8:17). Kemuliaan itu akan kita terima secara tuntas ketika kita dibangkitkan (Rom 8:21, 23; “pembebasan [harfiah: penebusan] tubuh kita” bukan pembebasan dari tubuh). Pengharapan itu mencakup seluruh dunia, yang akan turut dimerdekakan dari kesia-siaan, meniadakan dampak dari kejatuhan ke dalam dosa (Rom 8:21; bdk. Rom 5:12–21).

Jadi, kebangkitan Kristus membuka jalan kepada kemuliaan yang sejati, dalam perlawanan terhadap dosa dan melalui penderitaan. Itulah ‘daging dan kulit’ yang diberikan kepada kita. Tetapi semuanya itu hanya dapat terwujud karena kuasa Roh Kudus. Roh Kuduslah yang bersaksi tentang status kita sebagai anak-anak Allah (Rom 8:16). Antara lain, kesaksian itu terjadi karena kuasa Roh Kudus yang memampukan kita untuk melawan kedagingan, yaitu dosa yang terpola dalam tubuh kita (Rom 8:13). Kemudian, Roh Kudus memampukan kita untuk tidak betah dalam dunia yang bobrok ini, tetapi mengeluh sebagaimana semestinya terhadap dunia yang ditaklukkan kepada kesia-siaan dan kefanaan (8:20–21). Pertolongan Roh Kudus itu dilihat dalam doa: pada waktu kita kehilangan akal mau berdoa bagaimana, Roh Kudus melengkapi keluhan-keluhan yang sangat terasa tetapi sulit diucapkan (8:26–27).

Yeh 37:14 adalah janji yang digenapi pada hari Pentakosta, tujuh minggu setelah janji dalam aa.12–13 digenapi dalam kebangkitan Yesus. Roh Kudus memampukan kita untuk melawan dosa, dan juga untuk bertahan dalam penderitaan. Dengan demikian, Allah turut bekerja dalam segala kondisi kita untuk mendatangkan kebaikan, yaitu menjadikan kita serupa dengan Kristus (8:28).

Dipublikasi di Yehezkiel | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Kis 1:15-26 Pemimpin yang menjaga integritas kesaksian jemaat [17 Mei 2015]

# #

Penggalian Teks

Perikop ini terasa sebagai selingan antara doa jemaat (1:14) dan jawaban doa itu pada hari Pentakosta (p.2). Di dalamnya, ada dua hal yang muncul berkaitan dengan peran Yudas. Yang pertama, bagaimana nasib orang yang mengkhianati Yesus itu (16)? Yang kedua, bagaimana dengan jumlah rasul yang tidak lagi genap duabelas (17)? Hal pertama dijawab dalam aa.18–20a, dan hal kedua dijawab dalam aa.20b–26.

Tentang nasib Yudas, Lukas menyisipkan informasi yang sudah diketahui oleh Petrus dan jemaat perdana yang kepadanya dia berbicara, yaitu bagaimana Yudas membeli tanah dengan hasil pengkhianatannya tetapi kemudian mati (18–19). Petrus kemudian mengutip dua nas dari kitab Mazmur. Kedua nas ini terdapat dalam doa pemazmur supaya orang jahat kena hukuman dari Allah. Mazmur yang pertama, Mazmur 69, dikutip beberapa kali dalam PB untuk menggambarkan penderitaan Yesus (misalnya, Mzm 69:22 oleh Mt 27:48). Kemudian, pemazmur berdoa supaya keadilan Tuhan tampak kepada mereka (Mzm 69:23–29). Petrus melihat dalam nasib Yudas bahwa Tuhan sudah bertindak demikian terhadap Yudas.

Mazmur kedua yang dikutip Petrus, yaitu Mazmur 109, memiliki pola yang sama. (LAI menggunakan tanda kutip di sekitar aa.6–20, sesuai dengan suatu tafsiran bahwa kutuk-kutuk itu bukan dari pemazmur melainkan dari musuhnya. Tetapi sepertinya Petrus melihat ayat-ayat itu sebagai harapan yang sah akan hukuman Allah terhadap seorang penindas.) Bedanya bahwa hukuman dalam nas yang dikutip termasuk “jabatannya” diambil orang lain. Jabatan Yudas sebagai salah satu dari keduabelas rasul diuraikan dalam aa.21–22, yaitu sebagai saksi. Kebangkitan adalah hal utama yang disaksikan, tetapi ternyata seorang rasul harus mampu bersaksi tentang seluruh kisah Yesus dari baptisan-Nya sampai kenaikan-Nya. Kebangkitan itu hanya bermakna dalam konteks seluruh kisah Yesus.

Ternyata ada dua orang yang memenuhi kriteria yang disampaikan Petrus (23). Kriteria itu jelas, tetapi mengenal hati ada di luar kemampuan manusia, sehingga mereka berdoa supaya Tuhan yang memilih di antara kedua calon ini (24–25). Pilihan itu dinyatakan melalui undi (26)—sesuatu yang tidak dilihat lagi dalam Kisah Para Rasul, dan mungkin terjadi karena Roh Kudus belum dicurahkan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau memperlihatkan bagaimana integritas kesaksian jemaat tentang Kristus dipelihara melalui kepemimpinan Petrus yang peka dan Alkitabiah. Dengan demikian, kita diyakinkan bahwa kesaksian rasul-rasul itu benar, dan kita juga didorong untuk menjaga integritas kesaksian kita tentang Kristus.

Makna

Ternyata pengampunan Allah ada batas—jika seseorang tidak mau bertobat, maka dia menempatkan dirinya di luar jangkauan pengampunan itu. Yudas bertindak sebagai musuh Yesus, dan nasibnya dianggap bukti tentang hukuman Allah. Kitab Ayub memperingati kita untuk tidak menafsir semua penderitaan sebagai hukuman Allah. Tetapi kalau dosanya jelas, seperti dosa Yudas, maka kita tidak usah heran jika Allah bertindak terhadap orangnya. Bagi jemaat yang menganggap bahwa pengampunan Allah itu kelonggaran terhadap kelemahan yang biasa-biasa saja, bukan pengampunan terhadap pemberontakan yang selayaknya dihukum berat, peringatan ini penting.

Hal itu lebih lagi berlaku dalam kaitan dengan gereja. Kesaksian tentang Yesus adalah soal hidup/mati kekal (1 Yoh 5:9–12). Kesaksian itu juga harus muncul dengan satu suara. Yesus merujuk pada soal Yudas, yang ditentukan untuk binasa sesuai dengan Kitab Suci (Yoh 17:12). Tetapi yang dibutuhkan setelah Yesus pergi ialah bahwa para rasul itu menjadi satu, seperti Allah dan Yesus adalah satu (Yoh 17:11). Pemilihan Matias memulihkan keutuhan kerasulan sehingga memelihara integritas kesaksiannya.

Petrus mampu melihat kebutuhan itu, dan untuk mendukungnya, dia mulai mempraktekkan tafsiran PL yang Kristosentris, yang sudah diajarkan Yesus kepada para rasul (Luk 24:44–47), dengan melihat Yesus sebagai penggenapan pemazmur yang tertindas.

Perikop ini sebenarnya tidak bermaksud untuk ditiru—kita bukan gereja perdana yang di dalamnya ada rasul-rasul yang kesaksiannya menjadi dasar untuk pemberitaan jemaat seterusnya. Tetapi kita bisa yakin bahwa Tuhan akan bekerja untuk menjaga kesaksian tentang Anak-Nya Yesus Kristus. Jika tidak ada pimpinan yang siap melangkah dengan jelas seperti Petrus, jangan sampai ada jemaat atau kelompok orang yang harus dipangkas, seperti Yudas.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , | 2 Komentar

Kis 10:1-48 Berita untuk semua orang [10 Mei 2015]

Renungan ini dibantu oleh kelompok proponen yang akan membawa perikop ini di beberapa jemaat hari Minggu ini.

Penggalian Teks

Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk menjadi saksi-Nya di Yerusalem (pp.1–7), Yudea dan Samaria (8:1–9:31), sampai ke ujung bumi. Hal terakhir sudah dimulai ketika Filipus menginjili orang Etiopia itu (8:26–40), dan dalam p.9 rasul Paulus dipanggil kepada bangsa-bangsa. Tetapi ada satu hal yang belum terlalu dipikirkan oleh gereja perdana, yaitu, sejauh mana bangsa-bangsa itu harus menanggung hukum Taurat, termasuk menghindari makanan yang najis, dan disunat. Peristiwa yang diceritakan dalam p.10 ini menjadi penting kemudian untuk menjawab persoalan itu (lihat sidang Yerusalem, p.15). Sulitnya serta pentingnya persoalan itu dilihat dalam berbagai keajaiban yang dipakai Tuhan untuk mempertemukan Kornelius dan Petrus, termasuk malaikat, penglihatan, dan penentuan waktu secara terpisah.

Lukas menyampaikan kisah Kornelius dan Petrus secara bergantian sampai mereka bertemu. Kornelius diperkenalkan sebagai orang yang saleh, walaupun dia bukan orang Yahudi (aa.1–2; “takut akan Tuhan” menunjukkan bahwa dia biasa mengikuti ibadah orang Yahudi sehingga dia tahu tentang Allah Israel). Sama seperti Ayub dalam PL, kesalehannya melebihi kebanyakan orang dari umat Allah. Namun, ada sesuatu yang belum dia miliki, dan Allah akan memperhatikan (“mengingat”) dia dengan menyampaikan hal itu kepadanya melalui Petrus (3–6). Apanya yang kurang sama sekali belum dijelaskan di sini. Kornelius taat pada penglihatan itu dengan langsung menyuruh orang-orang kepada Petrus (7–8).

Jika jawaban akan kebutuhan Kornelius ada pada Petrus, ternyata ada sesuatu dalam Petrus yang harus diperbaiki supaya tidak menghalanginya menyampaikannya kepada Kornelius. Hal itu dilakukan melalui penglihatan tentang makanan-makanan najis (9–16). Lukas tidak merekam perikop yang ditemukan dalam Mk 7:1–20 yang menunjukkan bahwa Yesus menganggap semua makanan itu halal (Mk 7:19b). Bagaimanapun juga, gereja perdana hidup sebagai orang Yahudi, hanya dengan perbedaan bahwa mereka menyembah Yesus sebagai Mesias yang di dalam-Nya Allah telah melawat umat-Nya (bdk. Luk 1:76–78). Tidak ada alasan di Yerusalem untuk memikirkan ulang soal makanan, Sabat, ataupun sunat, karena semua di dalam gereja perdana adalah orang Yahudi. Petrus masih dalam kondisi bingung ketika ketiga pesuruh Kornelius datang, dan Roh Kudus harus tetap menuntun dia untuk menerima mereka (17–23a).

Semuanya baru mulai dijelaskan ketika Petrus sampai ke rumah Kornelius (23b–27). Petrus menjelaskan makna dari penglihatannya, yaitu bahwa tidak ada manusia yang najis (28). Sistem kenajisan dalam PL bermaksud untuk mendorong Israel tampil lain dari yang lain untuk memperlihatkan kekudusan Allah, tetapi oleh banyak orang Yahudi, keterpisahan dari manusia lain menjadi lebih utama daripada kesaksiannya. Petrus mulai sadar bahwa Allah tidak bermaksud untuk umat-Nya menajiskan orang. Setelah penjelasan dari Kornelius yang dengan jelas menunjukkan bahwa Allah memperhatikan Kornelius sama seperti orang-orang Yahudi yang saleh (bandingkan Zakaria dan Elisabet, Lk 1:6), Petrus sampai pada pengakuannya dalam a.34–35, bahwa Allah tidak membedakan antara orang Yahudi dengan bangsa-bangsa.

Namun, Petrus juga tahu apa yang dibutuhkan oleh Kornelius dan oleh banyak orang yang sudah dia kumpulkan itu. Kepada orang Yahudi yang saleh dan orang non-Yahudi yang saleh, Petrus akan memberitakan Kristus. Kristus adalah Tuhan dari semua orang—hal itu sudah lebih bermakna bagi Petrus sekarang—yang membawa damai sejahtera bagi semua orang (36). Damai sejahtera itu diperlihatkan dalam pelayanan-Nya (37–38), tetapi sifat manusia diperlihatkan dalam reaksi orang Yahudi (yang saleh!) untuk menyalibkan Dia (39). Namun, Allah mengungkapkan realita yang sebenarnya dengan membangkitkan Yesus, dan menentukan Petrus dkk untuk menjadi saksi akan kebangkitan itu. Yesus ini telah ditentukan untuk melaksanakan penghakiman Allah, yaitu cara Allah memulihkan dunia dengan menyingkirkan semua (orang) yang melawan Allah (40–42). Karena orang salehpun membunuh Yesus, semestinya tidak ada harapan bagi manusia berhadapan dengan Sang Hakim itu. Tetapi, Petrus juga bersaksi bahwa ada pengampunan untuk setiap orang yang percaya kepada Yesus (43). Manusia yang membunuh Yesus diberi kesempatan untuk bertobat.

Pada titik itu dalam pemberitaan, Roh Kudus turun ke atas para pendengar sama seperti Roh turun atas murid-murid pada hari Pentakosta (Kis 2; bdk. 11:15). Kornelius dkk tidak hanya diperkenankan mendengar berita tentang Yesus, tetapi Allah menunjukkan bahwa mereka diterima sepenuhnya ke dalam gereja tanpa bersunat atau menanggung peraturan hukum Taurat yang lainnya. Demikian pengartian Petrus ketika dia menjelaskannya kepada gereja di Yerusalem (11:2–3, 16–18; 15:1 dst). Percaya kepada Kristus yang bangkit dan menerima Roh Kudus yang dicurahkan itu menjadi ciri umat Allah, bukan lagi memegang hukum Taurat.

Maksud bagi Pembaca

Berita tentang Kristus sebagai Hakim yang mengampuni itu untuk semua orang dan semua macam orang. Jika kita beridentifikasi dengan Kornelius sebagai orang non-Yahudi yang mungkin berusaha hidup baik, kita akan belajar bahwa Yesus tetap adalah kebutuhan utama kita untuk bersekutu dengan Allah. Jika kita beridentifikasi dengan Petrus, sebagai orang percaya yang mau bersaksi tentang Kristus (lebih lagi sebagai pelayan), kita akan belajar bahwa kita harus melepaskan semua prasangka tentang siapa bisa dan tidak bisa dijangkau oleh Injil.

Makna

Walaupun warga jemaat belajar bahwa kita diselamatkan semata-mata karena karya Kristus bagi kita, saya menduga bahwa banyak jemaat akan bingung seandainya khotbah dimulai dengan menggambarkan Kornelius dan bertanya, “Apa yang masih kurang padanya?” Karena dia seperti anggota jemaat idaman: rajin memberi persembahan, rajin berdoa, saleh. Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya kepadanya dengan mengutus Petrus untuk memberitakan Kristus kepadanya. Dalam 11:14, malah diperjelas bahwa pesan Petrus akan membawa keselamatan bagi Kornelius dkk.

Apakah jemaat bisa ditempatkan seperti Kornelius: belum percaya kepada Yesus meskipun mereka dibaptis dan disidi? Pertanyaan itu tidak usah dilakukan per orang, tetapi kita bisa bertanya apakah kesalehan jemaat itu muncul dari iman yang membuat Yesus yang berbuat baik, mati dan bangkit itu sentral? Iman yang lazim siap mengandalkan kuasa di luar diri dalam kondisi yang terdesak, dan siap melakukan hal-hal tertentu (seperti rajin beribadah) supaya berkenan kepada kuasa itu. Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Yesus jauh lebih daripada itu. Kita melihat hati misi Allah dalam pelayanan Yesus; kita melihat kasih Allah yang berkorban, dan hikmat Allah yang bermain dalam kelemahan dalam salib Kristus, dan kita melihat kuasa pemulihan Allah dalam kebangkitan Yesus. Percaya pada Yesus berarti menjadi tertarik untuk bermisi, menderita, dan mencari pembaruan jiwa bukan pemaksaan tubuh. Bertobat berarti menempatkan Yesus ini sebagai Hakim sehingga agenda Yesus mengarahkan kehidupan kita. Ciri khasnya Yesus bukan bahwa Dia adalah Allah ala konsep kita tentang Allah, melainkan bahwa Dia yang melayani, mati, dan bangkit itu Allah yang sejati

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag | Tinggalkan komentar

Kis 8:26-40 Firman memberitakan Yesus bagi semua [3 Mei 2015]

Penggalian Teks

Filipus diperkenalkan dalam Kis 6:5 sebagai orang yang penuh iman dan Roh kudus. Walaupun dia dipilih untuk mengatur pembagian diakonia, dia kemudian berperan sebagai penginjil (8:5), ketika banyak dari jemaat di Yerusalem harus pergi ke tempat yang lain karena kondisi yang panas. Kis 8:4–40 menyampaikan beberapa cerita yang menunjukkan bagaimana Injil mulai menerobos keluar dari kalangan orang Yahudi saja. Sesuai dengan perintah Yesus dalam Kis 1:8, Filipus dan Petrus melayani di Samaria, dan dalam perikop kita, Filipus melayani orang bukan Yahudi yang juga adalah orang yang di kebiri (bdk. Yes 56:1–8). Kisah-kisah itu membawa kita sampai pada panggilan Paulus sebagai rasul bangsa-bangsa dalam pasal 9.

Karena ada maksud khusus Allah untuk mulai menjangkau bangsa-bangsa itu, Filipus dibimbing secara khusus oleh Tuhan (26, 29). Dengan adanya panen yang sudah siap dituai di Samaria (8:25), perintah Tuhan untuk pergi ke jalan yang sunyi tidak terlalu masuk akal. Tetapi Filipus taat, sampai diperjumpakan dengan seorang Etiopia (mungkin daerah Sudan sekarang). Orang itu sudah menjadi penyembah Allah Israel, tetapi bagaimana caranya tidak dijelaskan. Sebagai orang kaya dia mampu memiliki naskah PL (atau paling sedikit, kitab Yesaya), dan juga sanggup membacanya (28). Pada zaman itu, orang membaca dengan bersuara. Makanya, Filipus mendengar apa yang dia baca, dan bisa bertanya tentang pengartiannya (30). Orang Etiopia mengaku bingung, sehingga Filipus diberi kesempatan untuk menjelaskannya (31). Nasnya berbicara tentang seorang hamba Tuhan dari Yesaya 53 (32–33). Nabi Yesaya adalah seorang hamba Tuhan, tetapi sepertinya bahasa puisi itu berlebihan untuk merujuk pada Yesaya sendiri (34). Tetapi kalau bukan Yesaya, siapakah lagi? Filipus tahu jawabannya, dan menggunakan perikop ini untuk memberitakan Yesus kepadanya. Kata kerja bahasa Yunani euanggelizo (LAI: “memberitakan Injil”) berarti menyampaikan berita yang penting untuk semua, seperti kelahiran anak Kaisar atau kemenangan dalam perang. Berita yang disampaikan Filipus itu menyangkut Yesus, Sang Hamba dalam kita Yesaya itu. Yesaya 53 cocok untuk berbicara tentang kematian Yesus untuk dosa (Yes 53:5), dan kebangkitan-Nya yang membenarkan banyak orang (Yes 53:10–12).

Orang Etiopia percaya pada berita itu, sehingga dia mau dibaptis (38). Walaupun Filipus segera hilang, orang itu bersukacita karena telah percaya kepada Yesus. Filipus justru dibawa ke tempat orang Filistin, musuh bebuyutan Israel dalam PL, supaya mereka ditaklukkan di bawah Mesias Israel dengan cara Yesus, yaitu dengan bertobat dan diampuni.

Maksud bagi Pembaca

Kita diberitahu bahwa Injil yang diberitakan dalam PL itu untuk semua bangsa. Hal itu mendorong kita untuk menggunakan Alkitab untuk memberitakan Yesus kepada semua orang.

Makna

Filipus berada dalam Yesus (Yoh 15:1–8) sehingga dia peka untuk dibimbing oleh Roh Kudus. Dia siap pergi jauh supaya berita tentang Yesus itu sampai kepada siapa saja yang dipersiapkan Tuhan. Itulah salah satu wujud kasih yang berasal dari Allah (1 Yoh 4:7–21).

Orang Etiopia adalah orang yang mampu membaca pada zaman di mana hanya sedikit bisa membaca. Jadi, sulitnya mengerti siapakah yang dirujuk oleh Yesaya bukan karena dia kurang pintar. PL merupakan teka-teki yang kuncinya ialah Yesus. Hamba Tuhan dalam Yesaya mewakili Israel, dan hamba itu menunaikan tugas Israel supaya berkat Allah sampai kepada bangsa-bangsa (bdk. Yes 49:7; 52:15, yang kita bahas dalam beberapa minggu terakhir ini). Baru ketika kita memahami bahwa Yesus adalah Pokok Anggur, yaitu Israel yang sejati (Yoh 15:1), maka maksud Yesaya dan nabi-nabi yang lain menjadi jelas. Sama seperti orang Etiopia itu, kita perlu dibimbing untuk memahami bagaimana Alkitab berbicara tentang Yesus. Kalau tidak, kita akan menganggap bahwa Alkitab itu terutama merupakan pedoman hidup, atau peringatan tentang dosa, atau penguatan dalam kesusahan hidup. Tetapi adalah salah kalau kita berbicara tentang cara hidup lepas dari Yesus, atau dosa lepas dari kematian Yesus, atau kesusahan hidup lepas dari kuasa kebangkitan Yesus. Yesus menjadi kunci untuk seluruh Alkitab, dan pembimbingan yang baik menggunakan Alkitab untuk membawa orang kepada Yesus.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag | Tinggalkan komentar

Luk 24:36-49 Berita bagi semua bangsa [19 Apr 2015]

Catatan teknis: Mzm 4:1–8 adalah segenap mazmur dalam bahasa Inggris, sehingga yang dimaksud adalah Mzm 4:1–9 (atau 2–9) dalam penomoran ayat bahasa Indonesia. Terus, saya penulis bahan MJ untuk minggu depan, jadi blog akan libur satu minggu.

Penggalian Teks

Kisah Lukas tentang kebangkitan dimulai dengan beberapa kesaksian yang tidak dipercaya: kesaksian para perempuan dianggap omong kosong (24:11), dan kesaksian kedua orang Emaus tidak langsung diterima melainkan dipercakapkan (36). Tiba-tiba Yesus menampakkan diri dan mengucapkan damai sejahtera. Kelompok ini adalah murid-murid yang melarikan diri dan sekarang tidak percaya, tetapi yang ditawarkan ialah pemulihan, bukan hukuman. Namun, mereka belum siap. Mereka menganggap bahwa Dia adalah hantu, roh (Yunani: pneuma) dari orang yang telah mati (37). Hal itu wajar, karena memang Yesus telah mati, dan Dia muncul dengan cara yang tidak jelas. Mereka takut: hantu biasanya tidak menampakkan diri dengan sembarangan. Yesus menuntun mereka untuk mulai menangkap apa yang sebenarnya terjadi dengan memperlihatkan tubuh-Nya yang padat, bahkan makan makanan (38–43). Jika bombo (hantu Toraja) kelihatan memiliki tulang dan daging, orang akan kaget kalau sajian yang diberikan kepadanya dimakan habis. Tubuh Yesus lebih dari yang biasa, karena muncul begitu saja, tetapi tubuh-Nya tubuh yang padat. Itulah namanya kebangkitan, dan konsepnya berbeda dengan konsep jiwa yang pergi ke alam lain setelah mati.

Kemudian, Yesus berbicara tentang penggenapan Kitab Suci. Dia telah memberitahukan hal itu kepada mereka (44), tetapi baru setelah mereka mulai menangkap bahwa Dia sungguh bangkit maka Dia membuka pikiran mereka untuk mengerti Kitab Suci itu (45). Menurut Yesus, Kitab Suci (tentunya PL pada saat itu) telah menubuatkan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, dan bahwa hal itu harus menggerakkan misi kepada semua bangsa (46–47). Kemudian, Dia mengakui mereka sebagai “saksi” dari semuanya itu (48). Mereka adalah saksi mata bahwa peristiwa-peristiwa itu sudah terjadi, dan dengan demikian pemberitaan pesan tentang pengampunan dan pertobatan akan dimulai melalui mereka, setelah mereka menerima kuasa Roh Kudus (49).

Mengapa pemberitaan pengampunan dan pertobatan itu digerakkan oleh kebangkitan Yesus? Ada anak yang dibangkitkan oleh Elia, ada anak Jairus, ada Lazarus, tetapi kebangkitan mereka tidak menggerakkan apa-apa. Memang, kebangkitan Yesus itu lebih dari yang lain, karena Yesus tidak akan mati lagi, dan tubuh-Nya sudah lebih mulia. Tetapi, mengapa pemberitaan setelah kebangkitan itu menyangkut pengampunan dan pertobatan? Di situlah pentingnya Kitab Suci. Sama seperti dua orang bermalam bersama itu jauh beda maknanya kalau sudah menikah sesuai dengan rencana lama, kebangkitan Yesus bermakna karena Dia adalah Mesias yang sudah lama dijanjikan Allah, Mesias yang ternyata harus menderita bagi dosa dan bangkit untuk mengalahkan maut. Tanpa janji Allah dalam Kitab Suci, kebangkitan Yesus itu kejadian aneh saja. Hal itu akan diuraikan lebih jauh di bawah.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mendorong kita untuk menjadi pelaku rencana Allah yang dinubuatkan dalam PL dan berpuncak dalam karya Kristus supaya berita tentang kebangkitan Kristus yang berimplikasi pertobatan dan pengampunan dibawa ke semua bangsa.

Makna

Di mana perincian tafsiran Yesus akan PL? Tidak langsung diceritakan, tetapi para rasul dibekali Yesus selama 40 hari sehingga kita semestinya pertama-tama melihat ke khotbah-khotbah mereka, lalu ke tulisan-tulisan mereka (yakni, PB). Hal itu tidak mungkin di sini, tetapi di bawah saya mencoba memberi beberapa petunjuk, sesuai dengan pemahaman saya (yang banyak dibentuk oleh pakar PB N. T. Wright, untuk yang pintar membaca bahasa Inggris). (Lihat juga di sini.) Alinea terakhir memberi kesimpulan berkaitan dengan kesaksian kita.

Hubungan antara PL dan PB ada berbagai aspek, tetapi ada dua yang penting di sini. Yang utama ialah bahwa seluruh Alkitab merupakan satu Kisah Agung. Jadi, janji kepada Abraham yang menyangkut berkat bagi semua bangsa itu (Kej 12:3) dapat digenapi dalam diri Yesus, keturunan Abraham itu. Nabi seperti Musa—yang membawa firman berkat itu—dapat digenapi dalam diri Yesus, orang Israel itu (Kis 3:22–23). Janji Allah kepada Daud bahwa takhtanya—takhta Kerajaan Allah yang menjadi wadah berkat itu—akan kekal (2 Samuel 7) dapat digenapi dalam diri Yesus, anak Daud itu. Hal itu berlaku, karena para rasul (yang diajar oleh Yesus) melihat Yesus sebagai ujung dari sejarah Israel, sama seperti Sumpah Pemuda tidak dilihat hanya dalam rangka konteksnya langsung tetapi juga dalam perkembangan sejarah Indonesia sampai merdeka. Yesus datang dengan klaim-Nya sebagai Mesias, Dia taat sebagai orang Israel ketika dicobai di padang gurun, Dia memperlihatkan pemulihan yang dijanjikan Allah dalam nabi-nabi (Mt 11:2–6 yang mengutip Yes 35:5–6). Tetapi kebangkitan-Nya menjadi bukti bahwa Allah memang berkarya di dalam pelayanan-Nya, sehingga Dia menjadi kunci untuk memahami PL, sama seperti PL merupakan dasar untuk memahami Yesus.

Yang kedua ialah pola-pola dalam PL yang maknanya dipertegas dalam kisah Yesus. Mati dan hidup kembali adalah tema yang mewarnai seluruh PL, mulai dengan pengusiran Adam dan Hawa dari tempat kehidupan. Ada peristiwa-peristiwa tertentu, seperti Ishak yang hampir mati, tetapi hidup kembali (Kejadian 22). Bangsa Israel mengalami semacam kematian ketika dibuang ke Babel; pengembalian Israel dari pembuangan ibarat tulang-tulang menjadi manusia hidup kembali (Yehezkiel 37). Yesaya mempersonifikasikan Israel sebagai hamba Tuhan, yang mati bagi dosa tetapi hidup kembali (Yesaya 53; perhatikan dalam Yes 52:15 bahwa bangsa-bangsa berkepentingan dalam hal ini). Israel sebagai hamba mewakili manusia dengan dihukum karena dosa dan dipulihkan, dan hamba Tuhan mewakili Israel. Yesaya berani mengatakan bahwa hamba ini menjadi korban penebus salah (Yes 53:10), sehingga sistem kurban (kitab Imamat!) digenapi di dalamnya.

Penerobosan Yesus dalam menafsir PL ialah mengaitkan pola mati-hidup sebagai hamba dengan tugas memerintah sebagai Mesias. Yang baru bukan bahwa Mesias akan menderita dalam memperjuangkan kejayaannya. Hal itu dilihat dalam, misalnya, nyanyian Hana (1 Sam 2:1–10, yang menggambarkan riwayat Daud, lihat 1 Sam 2:10b), dan banyak mazmur yang menggambarkan bagaimana orang percaya hampir binasa tetapi diluputkan oleh Allah, seperti Mazmur 4. Tetapi, setelah kebangkitan Yesus, Petrus dapat mengangkat salah satu mazmur yang paling jelas tentang pola itu (Kis 2:25–28, mengutip Mzm 16:8–11), untuk mengatakan bahwa dalam Yesus, kematian dimasuki oleh Mesias dan Allah tetap meluputkan Orang Kudus-Nya. Yesus memahami bahwa Mesias harus menempuh jalan hamba Tuhan untuk mengalahkan musuh-musuh Allah, terumata Iblis, dosa, dan dunia (termasuk kuasa-kuasa politik yang menindas).

Yang dihasilkan oleh hamba Tuhan dalam Yesaya ialah kejayaan Sion. Yes 2:2–4 menggambarkan bangsa-bangsa diberkati dengan datang kepada Sion dan belajar dari Allah (bdk. Yes 49:6, pemulihan Israel dan terang bagi bangsa-bangsa). Karena fungsi Bait Allah/Sion/Yerusalem diambil alih oleh Yesus dan jemaat-Nya, ternyata Sion berada di tengah bangsa-bangsa (Mt 28:18–20), tetapi tetap sebagai terang yang menarik (Mt 5:14–16). Terang itu menyangkut bagaimana bangsa-bangsa itu hidup di hadapan Allah. Makanya, implikasi dari kebangkitan ialah pertobatan dan pengampunan. Sifat bangsa-bangsa (termasuk Israel) diperlihatkan dalam salib Yesus, sebagai sarat dengan kepentingan politik dan teriakan emosi. Hal itu terbukti berasal dari Iblis ketika Allah membangkitkan Yesus (bdk. Kis 3:15). Yesus yang bangkit menunjukkan bahwa sungguh-sungguh arah hidup manusia itu salah, sehingga pertobatan diperlukan. Kemudian, ucapan “damai sejahtera” Yesus menunjukkan bahwa semuanay itu rencana Allah (bdk. Kis 3:18): dosa dikumpulkan di dalam diri Yesus yang tersalib sebagai korban penebus salah dan dengan demikian dihapus. Makanya, adalah penting pengampunan dosa ditawarkan. Tetapi kebangkitan juga membawa suatu daya hidup baru, yang mulai berdampak besar ketika Roh Kudus dicurahkan. Jadi, pertobatan itu lebih dari penyesalan saja; kebangkitan membawa perubahan. (1 Yoh 3:1–10 menguraikan hal itu; Allah menanam benih hidup baru yang akan selalu membawa kita untuk keluar dari dosa, meskipun kedagingan tetap terasa juga, bdk. 1 Yoh 1:8–10.)

Dalam semua aspek itu, yang dibawa Yesus melampaui apa yang dijanjikan Allah. Makanya, Yesus hanya dapat membuka pikiran para murid setelah mereka mulai menangkap bahwa Dia sudah bangkit. PL merupakan teka-teki yang terlalu sulit untuk dipecahkan manusia, tetapi dipecahkan oleh Yesus dan di dalam karya-Nya. Hal itu berlaku juga untuk harapan Israel yang mendasar, yaitu supaya Allah akan kembali hadir di antara mereka (misalnya, Mal 3:1–5 dalam rangka hukuman; Yes 40:9–11 dalam rangka keselamatan). Ternyata Allah tidak hanya mengutus seorang Mesias-Hamba, Firman Allah datang sebagai Mesias-Hamba itu.

Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Tanggapan jemaat bahwa “bagaimana mau bermisi ke luar sementara yang di dalam saja belum beres” menunjukkan bahwa jemaat menganggap ketaatan itu menyangkut perintah-perintah Tuhan saja, bukan misi Allah dalam dunia. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.

Dipublikasi di Lukas | Tag | Tinggalkan komentar

Kis 4:32-35 Kebangkitan dasar jemaat yang bermurah hati [12 Apr 2015]

Kebangkitan bermaksud untuk membawa perubahan–dan perubahan kristiani muncul dari kebangkitan. Gambaran jemaat perdana memang luar biasa, tetapi kita perlu menangkap bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi dasarnya.

Penggalian Teks

Setelah khotbah Petrus pada hari Pentakosta, Lukas berselang-seling berbicara tentang cara hidup jemaat (2:42–47; 4:32–5:16) dan kesaksian rasul-rasul (3:1–4:31; 5:17–42). Kedua hal itu saling menopang, sebagaimana dilihat dalam kesehatian kumpulan orang percaya berdoa pas sebelum perikop kita (4:23–31).

Perikop kita berfokus pada soal menjual tanah untuk memenuhi kebutuhan jemaat. Hal itu terjadi dalam sikap “sehati dan sejiwa”, yang dalam soal kebutuhan diterapkan dengan sikap yang sudah membudaya (“tidak seorang pun yang berkata”) bahwa kepunyaan dianggap milik bersama (32). Hal itu bukan semacam sikap komunis, karena kita melihat bahwa Barnabaslah yang pergi menjual tanahnya, bukan orang percaya yang lain. Tetapi sikap itu melihat bahwa kepunyaan seseorang merupakan pemberian Tuhan untuk kebutuhan seluruh jemaat, bukan hanya untuk keluarganya sendiri.

Akar sikap itu disebut dalam a.33: kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, sehingga kasih karunia melimpah-limpah atas mereka. Oleh karena Yesus bangkit, orang-orang berada tidak lagi percaya terutama pada hartanya, melainkan pada kuasa Tuhan untuk memlihara mereka. Kuasa itu dilihat bukan hanya dalam mukjizat yang dilakukan oleh para rasul, melainkan juga dalam kecukupan yang dialami oleh seluruh jemaat (34a). Hal itu terjadi karena orang berada menguangkan tanah atau ladang (35). Adalah penting untuk memperhatikan bahwa kata “tanah” dan “rumah” dalam bahasa Yunani itu jamak. Maksudnya bukan bahwa yang hanya memiliki satu rumah menjualnya, karena dengan demikian dia sendiri akan menjadi miskin. Tetapi orang-orang yang memiliki beberapa rumah siap menjual salah satunya untuk kebutuhan jemaat. Uangnya dikumpulkan pada para rasul (35). Mengapa cara itu dipakai tidak dijelaskan, tetapi ada beberapa kemungkinan yang saya usulkan di bawah. Barnabas diangkat sebagai contoh (36–37), sekaligus untuk memperkenalkannya, karena dia menjadi penting sebagai rekan Paulus, mulai dengan Barnabas memperkenalkan Paulus kepada para rasul di Yerusalem (9:27).

Jadi, kesehatian jemaat bukanlah soal sikap saja. Sikap itu terwujud sesuai dengan kebutuhan.

Maksud bagi Pembaca

Iman kepada Yesus yang bangkit membawa jemaat untuk melihat hartanya sebagai sarana untuk melayani sesama sesuai dengan kebutuhannya. Itulah yang menjadi kesaksian hidup jemaat yang mengiringi pemberitaan kebangkitan itu.

Makna

Salah satu tanda bahwa pemberitaan Injil belum masuk ke dalam hati orang berada ialah ketika orang itu masih takut untuk bermurah hati dan membagikan kelebihannya kepada orang lain. Tanda yang lain: orang berada siap berbagi, tetapi dengan syarat bahwa si penerima berutang budi kepadanya. Oleh karena itu, menarik untuk diperhatikan bahwa para rasul menjadi pokok dalam penyaluran uang bantuan itu. Dengan demikian, tidak ada ikatan yang dibangun antara si pemberi dengan si penerima, sebagaimana kebiasaan pada zaman itu (dan sekarang). Si pemberi memberi kepada Kristus, dan mengharapkan balasan berkat dari Dia. Si penerima bersyukur kepada Kepala jemaat, dan membalas budi kepada Dia. Itulah namanya memberi tanpa pamrih: semua perhitungan ada di tangan Tuhan, bukan manusia, supaya Tuhan yang dimuliakan. (Jika ada filsuf yang mengatakan bahwa ketaatan manusia kepada Tuhan baru sempurna ketika dilakukan tanpa pamrih, filsuf itu menyingkirkan pengharapan yang dibawa oleh kebangkitan Yesus, yang mendahului semua yang kita lakukan. Hanya Allah yang memberi tanpa pamrih—hanya, sebenarnya ketika jemaat bertobat dan hidup sehati sejiwa termasuk dengan harta bendanya, Allah dimuliakan dan bersukacita. Mungkin filsuf itu berpikir logis tetapi terlalu sempit.)

Jadi, pola di mana diakonia diatur oleh kelompok yang berwenang di dalam jemaat itu tepat. Tentu, adalah penting bahwa pembagian itu sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan tersebut bisa diketahui dengan tepat ketika ada perhatian yang muncul dari kasih di dalam jemaat. Kalau tidak, kebutuhan bisa dilebih-lebihkan oleh calon penerima yang terlalu khawatir atau pemalas. Lebih sering, kebutuhan yang riil tidak diperhatikan karena perhatian yang kurang. Ketika hal itu mulai terjadi di Yerusalem, sistem segera diperbaiki supaya tidak ada yang diabaikan (Kis 6:1–6).

Namun, diakonia sulit kalau tidak ada yang siap memberi. Dan hal itu sulit ketika tidak ada orang berada, karena semua orang yang kepadanya Tuhan memberi kelebihan menganggap diri berkekurangan karena hati belum dikuatkan oleh berita kebangkitan Yesus, dan/atau belum menempatkan Yesus sebagai Pemimpin (Tuhan = kurios = tuan) atas keputusannya.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , , | Tinggalkan komentar

Kis 10:34-43 Kebangkitan yang disaksikan [5 Apr 2015] (Perayaan Paskah)

Selamat Paskah! Semoga pemberitaan kita diasah dengan merenungkan pemberitaan rasul Petrus, sehingga Roh Kudus berkarya di antara kita.

Penggalian Teks

Cerita tentang perkunjungan Petrus ke rumah Kornelius menjadi terkenal, karena perubahan sikap yang terjadi dalam Petrus bahwa tidak ada manusia yang najis, orang kafir sekalipun (10:28). Perikop kita adalah isi penyampaian Petrus setelah Kornelius mempersilakannya untuk menyampaikan pesan dari Allah. Tentunya, Petrus berbicara tentang Yesus.

Petrus mulai dengan mengagumi Allah yang tidak membedakan orang berdasarkan bangsa (34). A.35 menimbulkan macam-macam tafsiran tentang maksud dari dan hubungan antara “takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran” dan “berkenan kepada-Nya”. Walaupun Petrus berbicara secara umum, contohnya Kornelius, yang memang digambarkan sebagai orang yang saleh dan takut akan Allah (10:2). Oleh karena itu, frase “Allah berkenan” sepertinya tidak bisa disamakan dengan “Kornelius sudah diselamatkan”, karena dalam 11:14 yang mendatangkan keselamatan itu berita yang disampaikan Petrus. Allah berkenan untuk mendatangkan berita keselamatan tentang Kristus. Jadi, yang baru bagi Petrus di dalam perkataan ini ialah soal “setiap bangsa”. Kristus datang kepada Kornelius sebagai orang non-Yahudi, bukannya Kornelius harus datang kepada Kristus dengan disunat menjadi orang Yahudi.

Cara Petrus menyampaikan Injil ialah dengan menceritakan kisah Kristus (36–41) serta maknanya (42–43). Sebagai orang yang “takut akan Tuhan” (10:2; istilah itu dipakai untuk orang-orang yang belajar dari orang Yahudi tetapi belum sampai disunat), Kornelius sudah tahu tentang Allah dan Israel. Jadi, Petrus memulai kisah Kristus dengan garis besarnya bahwa Yesus diutus ke Israel untuk membawa damai sejahtera (harapan PL), dan Ia juga adalah Tuhan (kurios = tuan, penguasa) dari semua orang (36). Petrus menonjolkan bahwa Allah ada di balik Yesus: baptisan-Nya oleh Yohanes (37) adalah pengurapan oleh Allah dengan Roh Kudus (a.38a), pelayanan Yesus yang membawa damai sejahtera itu bukti dari penyertaan Allah (a.38b), dan kematian Yesus dibalas oleh Allah dengan cara membangkitkan-Nya kembali (a.39b–40a). Petrus juga menegaskan bahwa dia adalah saksi mata dari apa yang terjadi di Yerusalem, baik penyaliban Yesus (39a), maupun kebangkitan-Nya (40b), termasuk makan dan minum bersama Dia (41), suatu hal yang membuktikan bahwa Yesus bangkit secara jasmani.

Makna dari kebangkitan yang diangkat oleh Petrus di sini ialah bahwa Yesus ditentukan menjadi Hakim pada penghakiman terakhir (42), tetapi juga bahwa ada pengampunan bagi mereka yang percaya kepada-Nya (43). Hal itu menggeneralisir apa yang dikatakan Petrus di Yerusalem. Orang Yerusalem selayaknya takut bahwa Yesus yang mereka salibkan telah dibangkitkan oleh Allah. Tetapi perihal Kornelius tidaklah demikian, dia tidak langsung terlibat dalam penyaliban Yesus. Namun, sekalipun dia adalah orang yang saleh yang berkenan di hadapan Allah, dia tetap selayaknya takut tentang penghakiman terakhir itu, suatu konsep yang kemungkinan besar sudah dia pelajari dari orang-orang Yahudi. Jadi, adanya pengampunan dalam nama Yesus adalah kabar baik. Pengampunan itu sesuai dengan rencana Allah yang disampaikan dalam nabi-nabi yang mungkin juga dia kenal, sedikit atau banyak.

Penyampaian berita bahwa Yesus adalah Hakim dan juga pembawa pengampunan sepertinya dianggap cukup oleh Roh Kudus, yang menguasai para pendengar Petrus sebagai tanda bahwa bahkan bangsa-bangsa dapat menerima berita tentang Kristus dan diselamatkan.

Maksud bagi Pembaca

Percayailah kesaksian para rasul bahwa kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Dia adalah jalan sejati menuju damai sejahtera yang sejati.

Makna

Mzm 118:14–24 merayakan keselamatan Allah kepada orang yang terbuang, tetapi ternyata menjadi pokok dalam rencana Allah (Mzm 118:22). Kalau dibaca berkaitan dengan Yesus, kita memahami bahwa Yesus dihajar karena dosa kita, tetapi tidak ditinggalkan dalam dunia orang mati (Mzm 118:18; bdk. penjelasan Petrus dalam Kis 2:31). Berita itulah yang disampaikan oleh Petrus kepada Kornelius.

Dari 1 Kor 15:1–11, kita diingatkan bahwa definisi Injil dalam PB ialah berita, khususnya berita tentang Kristus yang mati bagi dosa dan dibangkitkan sebagai penggenapan kisah Allah dengan Israel dalam PL (1 Kor 15:3–4). Berita menyangkut peristiwa. Berita Injil menyangkut peristiwa-peristiwa berkaitan dengan Kristus. Jadi, kalau dikatakan bahwa Allah itu baik maka tentu itu bukan Injil. Kita melihat kebaikan Allah di dalam berita Injil, tetapi Injil adalah berita tentang bagaimana Allah menunjukkan kebaikan-Nya di dalam Kristus. Berbicara tentang kebaikan Allah lepas dari Kristus bukanlah pemberitaan Injil. Sama halnya, damai sejahtera bukan Injil. Tentu saja, hanya kedatangan Kristus yang membawa damai sejahtera yang sejati dan kekal. Tetapi, berbicara tentang damai sejahtera lepas dari Kristus bukanlah pemberitaan Injil. Makanya, saya menganggap bahwa Injil itu baru ke Toraja 100an tahun yang lalu, kecuali mau diklaim bahwa dalam adat lama ada pengetahuan tentang Yesus yang mati bagi dosa dan dibangkitkan oleh Allah. Berbicara tentang penghapusan dosa oleh babi bukanlah pemberitaan Injil.

Dalam Kisah Para Rasul, para rasul tidak jemu-jemu berbicara tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang berkaitan dengan Kristus. Bahkan kepada para filsuf di Atena, di mana penyampaian Paulus agak filosofis (berbicara secara umum tentang kondisi dunia), ujung penyampaiannya ialah peristiwa kebangkitan Yesus. Kepada seorang tentara kafir yang saleh, Petrus lebih terperinci berbicara tentang pelayanan Yesus. Jadi, pemaknaan berita Injil memperhatikan konteks penyampaian, tetapi selalu berakar dalam apa yang dilakukan oleh Yesus.

Dalam khotbah Petrus ini, wujud dari damai sejahtera yang sejati itu dilihat dalam pelayanan Yesus, yakni perbuatan baik yang memulihkan (38). Kata “berbuat baik” (euergeteo) sering dipakai untuk para pembesar yang memberi masyarakat jasa yang besar, suatu nilai yang akan dipahami oleh orang berkedudukan seperti Kornelius. Tentu, pelepasan dari kuasa Iblis adalah jasa yang tidak terjangkau oleh orang kaya; kebaikan yang dibawa Yesus itu lebih dalam. Namun, ujungnya kematian Yesus. Hal itu bisa saja dilihat sebagai kegagalan jalan Yesus, sehingga manusia yang pikirannya wajar akan kembali ke pola berkuasa dan menjaga kepentingan seperti yang dikenal Kornelius dalam tugasnya sebagai pemimpin militer. Mzm 118:14–24 mencerminkan lazimnya orang benar dihantam, bahkan oleh umat Allah sendiri. Tetapi, ternyata Allah juga mampu menyelamatkan orang benar (Mzm 118:22–23), dan di dalam Yesus, Dia bahkan menyelematkan-Nya dari kuasa maut. Para rasul bersaksi bahwa hal itu telah terjadi. Dengan demikian, perkara dibalikkan: bukan dunia yang menghakimi Yesus yang tersalib, melainkan Yesus yang akan menghakimi dunia. Tetapi, syukur bahwa ada pengampunan, sehingga oleh kuasa Roh Kudus kita dapat menjadi bagian dari rencana damai sejahtera Allah itu.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , | Tinggalkan komentar