Luk 24:36-49 Berita bagi semua bangsa [19 Apr 2015]

Catatan teknis: Mzm 4:1–8 adalah segenap mazmur dalam bahasa Inggris, sehingga yang dimaksud adalah Mzm 4:1–9 (atau 2–9) dalam penomoran ayat bahasa Indonesia. Terus, saya penulis bahan MJ untuk minggu depan, jadi blog akan libur satu minggu.

Penggalian Teks

Kisah Lukas tentang kebangkitan dimulai dengan beberapa kesaksian yang tidak dipercaya: kesaksian para perempuan dianggap omong kosong (24:11), dan kesaksian kedua orang Emaus tidak langsung diterima melainkan dipercakapkan (36). Tiba-tiba Yesus menampakkan diri dan mengucapkan damai sejahtera. Kelompok ini adalah murid-murid yang melarikan diri dan sekarang tidak percaya, tetapi yang ditawarkan ialah pemulihan, bukan hukuman. Namun, mereka belum siap. Mereka menganggap bahwa Dia adalah hantu, roh (Yunani: pneuma) dari orang yang telah mati (37). Hal itu wajar, karena memang Yesus telah mati, dan Dia muncul dengan cara yang tidak jelas. Mereka takut: hantu biasanya tidak menampakkan diri dengan sembarangan. Yesus menuntun mereka untuk mulai menangkap apa yang sebenarnya terjadi dengan memperlihatkan tubuh-Nya yang padat, bahkan makan makanan (38–43). Jika bombo (hantu Toraja) kelihatan memiliki tulang dan daging, orang akan kaget kalau sajian yang diberikan kepadanya dimakan habis. Tubuh Yesus lebih dari yang biasa, karena muncul begitu saja, tetapi tubuh-Nya tubuh yang padat. Itulah namanya kebangkitan, dan konsepnya berbeda dengan konsep jiwa yang pergi ke alam lain setelah mati.

Kemudian, Yesus berbicara tentang penggenapan Kitab Suci. Dia telah memberitahukan hal itu kepada mereka (44), tetapi baru setelah mereka mulai menangkap bahwa Dia sungguh bangkit maka Dia membuka pikiran mereka untuk mengerti Kitab Suci itu (45). Menurut Yesus, Kitab Suci (tentunya PL pada saat itu) telah menubuatkan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, dan bahwa hal itu harus menggerakkan misi kepada semua bangsa (46–47). Kemudian, Dia mengakui mereka sebagai “saksi” dari semuanya itu (48). Mereka adalah saksi mata bahwa peristiwa-peristiwa itu sudah terjadi, dan dengan demikian pemberitaan pesan tentang pengampunan dan pertobatan akan dimulai melalui mereka, setelah mereka menerima kuasa Roh Kudus (49).

Mengapa pemberitaan pengampunan dan pertobatan itu digerakkan oleh kebangkitan Yesus? Ada anak yang dibangkitkan oleh Elia, ada anak Jairus, ada Lazarus, tetapi kebangkitan mereka tidak menggerakkan apa-apa. Memang, kebangkitan Yesus itu lebih dari yang lain, karena Yesus tidak akan mati lagi, dan tubuh-Nya sudah lebih mulia. Tetapi, mengapa pemberitaan setelah kebangkitan itu menyangkut pengampunan dan pertobatan? Di situlah pentingnya Kitab Suci. Sama seperti dua orang bermalam bersama itu jauh beda maknanya kalau sudah menikah sesuai dengan rencana lama, kebangkitan Yesus bermakna karena Dia adalah Mesias yang sudah lama dijanjikan Allah, Mesias yang ternyata harus menderita bagi dosa dan bangkit untuk mengalahkan maut. Tanpa janji Allah dalam Kitab Suci, kebangkitan Yesus itu kejadian aneh saja. Hal itu akan diuraikan lebih jauh di bawah.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mendorong kita untuk menjadi pelaku rencana Allah yang dinubuatkan dalam PL dan berpuncak dalam karya Kristus supaya berita tentang kebangkitan Kristus yang berimplikasi pertobatan dan pengampunan dibawa ke semua bangsa.

Makna

Di mana perincian tafsiran Yesus akan PL? Tidak langsung diceritakan, tetapi para rasul dibekali Yesus selama 40 hari sehingga kita semestinya pertama-tama melihat ke khotbah-khotbah mereka, lalu ke tulisan-tulisan mereka (yakni, PB). Hal itu tidak mungkin di sini, tetapi di bawah saya mencoba memberi beberapa petunjuk, sesuai dengan pemahaman saya (yang banyak dibentuk oleh pakar PB N. T. Wright, untuk yang pintar membaca bahasa Inggris). (Lihat juga di sini.) Alinea terakhir memberi kesimpulan berkaitan dengan kesaksian kita.

Hubungan antara PL dan PB ada berbagai aspek, tetapi ada dua yang penting di sini. Yang utama ialah bahwa seluruh Alkitab merupakan satu Kisah Agung. Jadi, janji kepada Abraham yang menyangkut berkat bagi semua bangsa itu (Kej 12:3) dapat digenapi dalam diri Yesus, keturunan Abraham itu. Nabi seperti Musa—yang membawa firman berkat itu—dapat digenapi dalam diri Yesus, orang Israel itu (Kis 3:22–23). Janji Allah kepada Daud bahwa takhtanya—takhta Kerajaan Allah yang menjadi wadah berkat itu—akan kekal (2 Samuel 7) dapat digenapi dalam diri Yesus, anak Daud itu. Hal itu berlaku, karena para rasul (yang diajar oleh Yesus) melihat Yesus sebagai ujung dari sejarah Israel, sama seperti Sumpah Pemuda tidak dilihat hanya dalam rangka konteksnya langsung tetapi juga dalam perkembangan sejarah Indonesia sampai merdeka. Yesus datang dengan klaim-Nya sebagai Mesias, Dia taat sebagai orang Israel ketika dicobai di padang gurun, Dia memperlihatkan pemulihan yang dijanjikan Allah dalam nabi-nabi (Mt 11:2–6 yang mengutip Yes 35:5–6). Tetapi kebangkitan-Nya menjadi bukti bahwa Allah memang berkarya di dalam pelayanan-Nya, sehingga Dia menjadi kunci untuk memahami PL, sama seperti PL merupakan dasar untuk memahami Yesus.

Yang kedua ialah pola-pola dalam PL yang maknanya dipertegas dalam kisah Yesus. Mati dan hidup kembali adalah tema yang mewarnai seluruh PL, mulai dengan pengusiran Adam dan Hawa dari tempat kehidupan. Ada peristiwa-peristiwa tertentu, seperti Ishak yang hampir mati, tetapi hidup kembali (Kejadian 22). Bangsa Israel mengalami semacam kematian ketika dibuang ke Babel; pengembalian Israel dari pembuangan ibarat tulang-tulang menjadi manusia hidup kembali (Yehezkiel 37). Yesaya mempersonifikasikan Israel sebagai hamba Tuhan, yang mati bagi dosa tetapi hidup kembali (Yesaya 53; perhatikan dalam Yes 52:15 bahwa bangsa-bangsa berkepentingan dalam hal ini). Israel sebagai hamba mewakili manusia dengan dihukum karena dosa dan dipulihkan, dan hamba Tuhan mewakili Israel. Yesaya berani mengatakan bahwa hamba ini menjadi korban penebus salah (Yes 53:10), sehingga sistem kurban (kitab Imamat!) digenapi di dalamnya.

Penerobosan Yesus dalam menafsir PL ialah mengaitkan pola mati-hidup sebagai hamba dengan tugas memerintah sebagai Mesias. Yang baru bukan bahwa Mesias akan menderita dalam memperjuangkan kejayaannya. Hal itu dilihat dalam, misalnya, nyanyian Hana (1 Sam 2:1–10, yang menggambarkan riwayat Daud, lihat 1 Sam 2:10b), dan banyak mazmur yang menggambarkan bagaimana orang percaya hampir binasa tetapi diluputkan oleh Allah, seperti Mazmur 4. Tetapi, setelah kebangkitan Yesus, Petrus dapat mengangkat salah satu mazmur yang paling jelas tentang pola itu (Kis 2:25–28, mengutip Mzm 16:8–11), untuk mengatakan bahwa dalam Yesus, kematian dimasuki oleh Mesias dan Allah tetap meluputkan Orang Kudus-Nya. Yesus memahami bahwa Mesias harus menempuh jalan hamba Tuhan untuk mengalahkan musuh-musuh Allah, terumata Iblis, dosa, dan dunia (termasuk kuasa-kuasa politik yang menindas).

Yang dihasilkan oleh hamba Tuhan dalam Yesaya ialah kejayaan Sion. Yes 2:2–4 menggambarkan bangsa-bangsa diberkati dengan datang kepada Sion dan belajar dari Allah (bdk. Yes 49:6, pemulihan Israel dan terang bagi bangsa-bangsa). Karena fungsi Bait Allah/Sion/Yerusalem diambil alih oleh Yesus dan jemaat-Nya, ternyata Sion berada di tengah bangsa-bangsa (Mt 28:18–20), tetapi tetap sebagai terang yang menarik (Mt 5:14–16). Terang itu menyangkut bagaimana bangsa-bangsa itu hidup di hadapan Allah. Makanya, implikasi dari kebangkitan ialah pertobatan dan pengampunan. Sifat bangsa-bangsa (termasuk Israel) diperlihatkan dalam salib Yesus, sebagai sarat dengan kepentingan politik dan teriakan emosi. Hal itu terbukti berasal dari Iblis ketika Allah membangkitkan Yesus (bdk. Kis 3:15). Yesus yang bangkit menunjukkan bahwa sungguh-sungguh arah hidup manusia itu salah, sehingga pertobatan diperlukan. Kemudian, ucapan “damai sejahtera” Yesus menunjukkan bahwa semuanay itu rencana Allah (bdk. Kis 3:18): dosa dikumpulkan di dalam diri Yesus yang tersalib sebagai korban penebus salah dan dengan demikian dihapus. Makanya, adalah penting pengampunan dosa ditawarkan. Tetapi kebangkitan juga membawa suatu daya hidup baru, yang mulai berdampak besar ketika Roh Kudus dicurahkan. Jadi, pertobatan itu lebih dari penyesalan saja; kebangkitan membawa perubahan. (1 Yoh 3:1–10 menguraikan hal itu; Allah menanam benih hidup baru yang akan selalu membawa kita untuk keluar dari dosa, meskipun kedagingan tetap terasa juga, bdk. 1 Yoh 1:8–10.)

Dalam semua aspek itu, yang dibawa Yesus melampaui apa yang dijanjikan Allah. Makanya, Yesus hanya dapat membuka pikiran para murid setelah mereka mulai menangkap bahwa Dia sudah bangkit. PL merupakan teka-teki yang terlalu sulit untuk dipecahkan manusia, tetapi dipecahkan oleh Yesus dan di dalam karya-Nya. Hal itu berlaku juga untuk harapan Israel yang mendasar, yaitu supaya Allah akan kembali hadir di antara mereka (misalnya, Mal 3:1–5 dalam rangka hukuman; Yes 40:9–11 dalam rangka keselamatan). Ternyata Allah tidak hanya mengutus seorang Mesias-Hamba, Firman Allah datang sebagai Mesias-Hamba itu.

Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Tanggapan jemaat bahwa “bagaimana mau bermisi ke luar sementara yang di dalam saja belum beres” menunjukkan bahwa jemaat menganggap ketaatan itu menyangkut perintah-perintah Tuhan saja, bukan misi Allah dalam dunia. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.

Dipublikasi di Lukas | Tag | Tinggalkan komentar

Kis 4:32-35 Kebangkitan dasar jemaat yang bermurah hati [12 Apr 2015]

Kebangkitan bermaksud untuk membawa perubahan–dan perubahan kristiani muncul dari kebangkitan. Gambaran jemaat perdana memang luar biasa, tetapi kita perlu menangkap bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi dasarnya.

Penggalian Teks

Setelah khotbah Petrus pada hari Pentakosta, Lukas berselang-seling berbicara tentang cara hidup jemaat (2:42–47; 4:32–5:16) dan kesaksian rasul-rasul (3:1–4:31; 5:17–42). Kedua hal itu saling menopang, sebagaimana dilihat dalam kesehatian kumpulan orang percaya berdoa pas sebelum perikop kita (4:23–31).

Perikop kita berfokus pada soal menjual tanah untuk memenuhi kebutuhan jemaat. Hal itu terjadi dalam sikap “sehati dan sejiwa”, yang dalam soal kebutuhan diterapkan dengan sikap yang sudah membudaya (“tidak seorang pun yang berkata”) bahwa kepunyaan dianggap milik bersama (32). Hal itu bukan semacam sikap komunis, karena kita melihat bahwa Barnabaslah yang pergi menjual tanahnya, bukan orang percaya yang lain. Tetapi sikap itu melihat bahwa kepunyaan seseorang merupakan pemberian Tuhan untuk kebutuhan seluruh jemaat, bukan hanya untuk keluarganya sendiri.

Akar sikap itu disebut dalam a.33: kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, sehingga kasih karunia melimpah-limpah atas mereka. Oleh karena Yesus bangkit, orang-orang berada tidak lagi percaya terutama pada hartanya, melainkan pada kuasa Tuhan untuk memlihara mereka. Kuasa itu dilihat bukan hanya dalam mukjizat yang dilakukan oleh para rasul, melainkan juga dalam kecukupan yang dialami oleh seluruh jemaat (34a). Hal itu terjadi karena orang berada menguangkan tanah atau ladang (35). Adalah penting untuk memperhatikan bahwa kata “tanah” dan “rumah” dalam bahasa Yunani itu jamak. Maksudnya bukan bahwa yang hanya memiliki satu rumah menjualnya, karena dengan demikian dia sendiri akan menjadi miskin. Tetapi orang-orang yang memiliki beberapa rumah siap menjual salah satunya untuk kebutuhan jemaat. Uangnya dikumpulkan pada para rasul (35). Mengapa cara itu dipakai tidak dijelaskan, tetapi ada beberapa kemungkinan yang saya usulkan di bawah. Barnabas diangkat sebagai contoh (36–37), sekaligus untuk memperkenalkannya, karena dia menjadi penting sebagai rekan Paulus, mulai dengan Barnabas memperkenalkan Paulus kepada para rasul di Yerusalem (9:27).

Jadi, kesehatian jemaat bukanlah soal sikap saja. Sikap itu terwujud sesuai dengan kebutuhan.

Maksud bagi Pembaca

Iman kepada Yesus yang bangkit membawa jemaat untuk melihat hartanya sebagai sarana untuk melayani sesama sesuai dengan kebutuhannya. Itulah yang menjadi kesaksian hidup jemaat yang mengiringi pemberitaan kebangkitan itu.

Makna

Salah satu tanda bahwa pemberitaan Injil belum masuk ke dalam hati orang berada ialah ketika orang itu masih takut untuk bermurah hati dan membagikan kelebihannya kepada orang lain. Tanda yang lain: orang berada siap berbagi, tetapi dengan syarat bahwa si penerima berutang budi kepadanya. Oleh karena itu, menarik untuk diperhatikan bahwa para rasul menjadi pokok dalam penyaluran uang bantuan itu. Dengan demikian, tidak ada ikatan yang dibangun antara si pemberi dengan si penerima, sebagaimana kebiasaan pada zaman itu (dan sekarang). Si pemberi memberi kepada Kristus, dan mengharapkan balasan berkat dari Dia. Si penerima bersyukur kepada Kepala jemaat, dan membalas budi kepada Dia. Itulah namanya memberi tanpa pamrih: semua perhitungan ada di tangan Tuhan, bukan manusia, supaya Tuhan yang dimuliakan. (Jika ada filsuf yang mengatakan bahwa ketaatan manusia kepada Tuhan baru sempurna ketika dilakukan tanpa pamrih, filsuf itu menyingkirkan pengharapan yang dibawa oleh kebangkitan Yesus, yang mendahului semua yang kita lakukan. Hanya Allah yang memberi tanpa pamrih—hanya, sebenarnya ketika jemaat bertobat dan hidup sehati sejiwa termasuk dengan harta bendanya, Allah dimuliakan dan bersukacita. Mungkin filsuf itu berpikir logis tetapi terlalu sempit.)

Jadi, pola di mana diakonia diatur oleh kelompok yang berwenang di dalam jemaat itu tepat. Tentu, adalah penting bahwa pembagian itu sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan tersebut bisa diketahui dengan tepat ketika ada perhatian yang muncul dari kasih di dalam jemaat. Kalau tidak, kebutuhan bisa dilebih-lebihkan oleh calon penerima yang terlalu khawatir atau pemalas. Lebih sering, kebutuhan yang riil tidak diperhatikan karena perhatian yang kurang. Ketika hal itu mulai terjadi di Yerusalem, sistem segera diperbaiki supaya tidak ada yang diabaikan (Kis 6:1–6).

Namun, diakonia sulit kalau tidak ada yang siap memberi. Dan hal itu sulit ketika tidak ada orang berada, karena semua orang yang kepadanya Tuhan memberi kelebihan menganggap diri berkekurangan karena hati belum dikuatkan oleh berita kebangkitan Yesus, dan/atau belum menempatkan Yesus sebagai Pemimpin (Tuhan = kurios = tuan) atas keputusannya.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , , | Tinggalkan komentar

Kis 10:34-43 Kebangkitan yang disaksikan [5 Apr 2015] (Perayaan Paskah)

Selamat Paskah! Semoga pemberitaan kita diasah dengan merenungkan pemberitaan rasul Petrus, sehingga Roh Kudus berkarya di antara kita.

Penggalian Teks

Cerita tentang perkunjungan Petrus ke rumah Kornelius menjadi terkenal, karena perubahan sikap yang terjadi dalam Petrus bahwa tidak ada manusia yang najis, orang kafir sekalipun (10:28). Perikop kita adalah isi penyampaian Petrus setelah Kornelius mempersilakannya untuk menyampaikan pesan dari Allah. Tentunya, Petrus berbicara tentang Yesus.

Petrus mulai dengan mengagumi Allah yang tidak membedakan orang berdasarkan bangsa (34). A.35 menimbulkan macam-macam tafsiran tentang maksud dari dan hubungan antara “takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran” dan “berkenan kepada-Nya”. Walaupun Petrus berbicara secara umum, contohnya Kornelius, yang memang digambarkan sebagai orang yang saleh dan takut akan Allah (10:2). Oleh karena itu, frase “Allah berkenan” sepertinya tidak bisa disamakan dengan “Kornelius sudah diselamatkan”, karena dalam 11:14 yang mendatangkan keselamatan itu berita yang disampaikan Petrus. Allah berkenan untuk mendatangkan berita keselamatan tentang Kristus. Jadi, yang baru bagi Petrus di dalam perkataan ini ialah soal “setiap bangsa”. Kristus datang kepada Kornelius sebagai orang non-Yahudi, bukannya Kornelius harus datang kepada Kristus dengan disunat menjadi orang Yahudi.

Cara Petrus menyampaikan Injil ialah dengan menceritakan kisah Kristus (36–41) serta maknanya (42–43). Sebagai orang yang “takut akan Tuhan” (10:2; istilah itu dipakai untuk orang-orang yang belajar dari orang Yahudi tetapi belum sampai disunat), Kornelius sudah tahu tentang Allah dan Israel. Jadi, Petrus memulai kisah Kristus dengan garis besarnya bahwa Yesus diutus ke Israel untuk membawa damai sejahtera (harapan PL), dan Ia juga adalah Tuhan (kurios = tuan, penguasa) dari semua orang (36). Petrus menonjolkan bahwa Allah ada di balik Yesus: baptisan-Nya oleh Yohanes (37) adalah pengurapan oleh Allah dengan Roh Kudus (a.38a), pelayanan Yesus yang membawa damai sejahtera itu bukti dari penyertaan Allah (a.38b), dan kematian Yesus dibalas oleh Allah dengan cara membangkitkan-Nya kembali (a.39b–40a). Petrus juga menegaskan bahwa dia adalah saksi mata dari apa yang terjadi di Yerusalem, baik penyaliban Yesus (39a), maupun kebangkitan-Nya (40b), termasuk makan dan minum bersama Dia (41), suatu hal yang membuktikan bahwa Yesus bangkit secara jasmani.

Makna dari kebangkitan yang diangkat oleh Petrus di sini ialah bahwa Yesus ditentukan menjadi Hakim pada penghakiman terakhir (42), tetapi juga bahwa ada pengampunan bagi mereka yang percaya kepada-Nya (43). Hal itu menggeneralisir apa yang dikatakan Petrus di Yerusalem. Orang Yerusalem selayaknya takut bahwa Yesus yang mereka salibkan telah dibangkitkan oleh Allah. Tetapi perihal Kornelius tidaklah demikian, dia tidak langsung terlibat dalam penyaliban Yesus. Namun, sekalipun dia adalah orang yang saleh yang berkenan di hadapan Allah, dia tetap selayaknya takut tentang penghakiman terakhir itu, suatu konsep yang kemungkinan besar sudah dia pelajari dari orang-orang Yahudi. Jadi, adanya pengampunan dalam nama Yesus adalah kabar baik. Pengampunan itu sesuai dengan rencana Allah yang disampaikan dalam nabi-nabi yang mungkin juga dia kenal, sedikit atau banyak.

Penyampaian berita bahwa Yesus adalah Hakim dan juga pembawa pengampunan sepertinya dianggap cukup oleh Roh Kudus, yang menguasai para pendengar Petrus sebagai tanda bahwa bahkan bangsa-bangsa dapat menerima berita tentang Kristus dan diselamatkan.

Maksud bagi Pembaca

Percayailah kesaksian para rasul bahwa kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Dia adalah jalan sejati menuju damai sejahtera yang sejati.

Makna

Mzm 118:14–24 merayakan keselamatan Allah kepada orang yang terbuang, tetapi ternyata menjadi pokok dalam rencana Allah (Mzm 118:22). Kalau dibaca berkaitan dengan Yesus, kita memahami bahwa Yesus dihajar karena dosa kita, tetapi tidak ditinggalkan dalam dunia orang mati (Mzm 118:18; bdk. penjelasan Petrus dalam Kis 2:31). Berita itulah yang disampaikan oleh Petrus kepada Kornelius.

Dari 1 Kor 15:1–11, kita diingatkan bahwa definisi Injil dalam PB ialah berita, khususnya berita tentang Kristus yang mati bagi dosa dan dibangkitkan sebagai penggenapan kisah Allah dengan Israel dalam PL (1 Kor 15:3–4). Berita menyangkut peristiwa. Berita Injil menyangkut peristiwa-peristiwa berkaitan dengan Kristus. Jadi, kalau dikatakan bahwa Allah itu baik maka tentu itu bukan Injil. Kita melihat kebaikan Allah di dalam berita Injil, tetapi Injil adalah berita tentang bagaimana Allah menunjukkan kebaikan-Nya di dalam Kristus. Berbicara tentang kebaikan Allah lepas dari Kristus bukanlah pemberitaan Injil. Sama halnya, damai sejahtera bukan Injil. Tentu saja, hanya kedatangan Kristus yang membawa damai sejahtera yang sejati dan kekal. Tetapi, berbicara tentang damai sejahtera lepas dari Kristus bukanlah pemberitaan Injil. Makanya, saya menganggap bahwa Injil itu baru ke Toraja 100an tahun yang lalu, kecuali mau diklaim bahwa dalam adat lama ada pengetahuan tentang Yesus yang mati bagi dosa dan dibangkitkan oleh Allah. Berbicara tentang penghapusan dosa oleh babi bukanlah pemberitaan Injil.

Dalam Kisah Para Rasul, para rasul tidak jemu-jemu berbicara tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang berkaitan dengan Kristus. Bahkan kepada para filsuf di Atena, di mana penyampaian Paulus agak filosofis (berbicara secara umum tentang kondisi dunia), ujung penyampaiannya ialah peristiwa kebangkitan Yesus. Kepada seorang tentara kafir yang saleh, Petrus lebih terperinci berbicara tentang pelayanan Yesus. Jadi, pemaknaan berita Injil memperhatikan konteks penyampaian, tetapi selalu berakar dalam apa yang dilakukan oleh Yesus.

Dalam khotbah Petrus ini, wujud dari damai sejahtera yang sejati itu dilihat dalam pelayanan Yesus, yakni perbuatan baik yang memulihkan (38). Kata “berbuat baik” (euergeteo) sering dipakai untuk para pembesar yang memberi masyarakat jasa yang besar, suatu nilai yang akan dipahami oleh orang berkedudukan seperti Kornelius. Tentu, pelepasan dari kuasa Iblis adalah jasa yang tidak terjangkau oleh orang kaya; kebaikan yang dibawa Yesus itu lebih dalam. Namun, ujungnya kematian Yesus. Hal itu bisa saja dilihat sebagai kegagalan jalan Yesus, sehingga manusia yang pikirannya wajar akan kembali ke pola berkuasa dan menjaga kepentingan seperti yang dikenal Kornelius dalam tugasnya sebagai pemimpin militer. Mzm 118:14–24 mencerminkan lazimnya orang benar dihantam, bahkan oleh umat Allah sendiri. Tetapi, ternyata Allah juga mampu menyelamatkan orang benar (Mzm 118:22–23), dan di dalam Yesus, Dia bahkan menyelematkan-Nya dari kuasa maut. Para rasul bersaksi bahwa hal itu telah terjadi. Dengan demikian, perkara dibalikkan: bukan dunia yang menghakimi Yesus yang tersalib, melainkan Yesus yang akan menghakimi dunia. Tetapi, syukur bahwa ada pengampunan, sehingga oleh kuasa Roh Kudus kita dapat menjadi bagian dari rencana damai sejahtera Allah itu.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , | Tinggalkan komentar

Markus 15:20b-32 Memandang Salib [29 Mar 2015] (Minggu Sengsara VII)

Minggu-minggu pra-paskah menjadi kesempatan emas untuk pemberitaan Injil, karena kita berfokus pada diri dan karya Yesus yang begitu luar biasa. Tidak salah pada hemat saya kalau tidak banyak usul praktis yang ditawarkan. Yang penting Yesus yang ditonjolkan, supaya Dia dapat diimani lebih dalam oleh kita semua.

Penggalian Teks

Ada dua adegan dalam perikop ini. Aa.20b–25 menceritakan penyaliban Yesus, dan aa.27–32 menceritakan pengolok-olokan Yesus. Di antara kedua bagian ini, kita diberitahu bahwa alasan tertulis mengapa Yesus disalibkan ialah sebagai Raja orang Yahudi. Hal itu sudah muncul beberapa kali dalam p.15 ini. Imam-imam kepala bertanya tentang apakah Yesus adalah “Mesias” (14:61), tetapi untuk Pilatus istilah itu bergeser menjadi “Raja orang Yahudi” (15:2, 9, 12) supaya unsur politik yang menjadi urusan Roma dalam istilah Mesias itu jelas. Bagi Pilatus gelar itu tidak masuk akal, dan bagi tentara, gelar itu lucu (15:16–20).

Bagian pertama (20b–25) memberi dua petunjuk bahwa gelar itu tidak lucu. Yang pertama adalah sebutan Aleksander dan Rufus, yang sepertinya akan dikenal oleh pendengar Injil Markus. (Bdk. nama Rufus dalam Rom 16:13, satu alasan mengapa ada kemungkinan Injil Markus ditulis untuk jemaat-jemaat di sana.) Penyaliban Yesus bukan akhir cerita. Yang kedua ialah kutipan dalam a.24 dari Mzm 22:19 terkait dengan pembagian pakaian Yesus. Yesus mengalami penderitaan seperti raja Daud dalam Mazmur itu, tetapi akhir Mazmur 22 itu menceritakan pemulihan oleh Allah. Yang terjadi pada Yesus adalah bagian dari rencana Allah, dan rencana itu telah berbuah dalam keluarga Simon, orang Kirene itu.

Bagian kedua menunjukkan bagaimana Yesus menjadi Raja di atas salib, sesuai dengan papan di atas salib itu. Dengan disalibkannya Yesus, Bait Allah dirobohkan untuk dibangun kembali dalam tiga hari (29). Tetapi, hal itu hanya bisa dilakukan kalau Yesus tidak menyelamatkan diri-Nya (30). Jadi, ejekan imam-imam kepada adalah benar (tanpa disadari): untuk menyelamatkan orang lain, Yesus tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (31), karena Dia harus menjadi tebusan bagi banyak orang (Mk 10:45). Mereka mencari mujizat, yaitu Yesus turun dari salib, tetapi mereka tidak bisa melihat, lebih lagi percaya, bahwa Dia adalah Mesias yang sejati karena menyelamatkan orang banyak.

Jadi, p.15 ini sarat dengan ironi—pertentangan antara makna di permukaan dengan makna yang sebenarnya. Yesus disebut Raja orang Israel sebagai sindiran oleh tentara (15:16–20) dan sebagai ejekan oleh orang Yahudi (aa.27–32). Tetapi, Dia justru adalah Raja orang Yahudi, hanya dengan cara yang terlalu mengagetkan.

Maksud bagi Pembaca

Yesus menjadi Raja di atas salib untuk menyelamatkan kita. Kita selayaknya kagum, bersyukur, dan dengan demikian, cara pandang kita tentang dunia berubah. Kita belajar siap direndahkan demi kepentingan orang lain.

Makna

Flp 2:1–11 mengangkat penyaliban Yesus sebagai teladan untuk kita mementingkan orang lain. Jadi, kita tidak harus menunggu sampai diancam mati baru kita bisa mengikuti teladan Yesus. Merendahkan diri dan mementingkan orang lain bisa dalam banyak konteks. Hal itu tidak pernah mudah. Bahkan murid-murid Yesus saja yang telah mengikuti Dia selama tiga tahun, tetap tuli terhadap pemberitahuan tentang penghinaan dan kematian-Nya. Mereka tidak mau menerima anak diberkati (Mk 10:13–16), dan malahan sibuk bertengkar tentang siapa yang terbesar (Mk 10:35–45). Hanya Roh Kudus yang mengubah sikap mereka sehingga mereka siap ikut menderita dan dihina, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul mulai pasal 2. Hamba Tuhan dalam Yes 50:4–9 (lihat di sini juga menunjukkan bagaimana kesetiaan kepada Allah bisa membawa masalah/penderitaan.

Banyak implikasi praktis dari pandangan dunia yang dibukakan oleh pengorbanan Yesus. Tetapi, implikasi-implikasi itu belum bisa dilakukan selama imajinasi orang masih duniawi. Orang Yahudi melihat Yesus di salib dan tidak dapat melihat kemuliaan-Nya sehingga tidak percaya. Kita harus belajar memandang salib dan melihat kemuliaan Allah dalam kasih-Nya kepada kita. Dengan imajinasi yang mulai dibentuk oleh salib, maka mementingkan orang lain, bersabar dalam penghinaan, tekun dalam kegagalan, dan banyak hal lagi mulai masuk akal. Semoga memandang kepada Yesus menyegarkan iman dan pengharapan kita.

Dipublikasi di Markus | Tag | Tinggalkan komentar

Yoh 12:20-33 Menempuh jalan Raja yang disalibkan [22 Mar 2015] (Minggu Sengsara VI)

Dengan senang hati saya kembali ke blog ini, agar tulisan ini menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pelayan-pelayan firman, khususnya di Gereja Toraja, tetapi juga di mana saja leksionari dipakai. Pada hemat saya, mengajarkan firman Tuhan merupakan kesempatan yang luar biasa untuk mempelajari firman-Nya. Saya berharap bahwa bahan ini membantu dalam rangka itu. Tentunya, kewajiban pelayan firman untuk berdoa dan menerapkan firman itu pertama-tama kepada dirinya sendiri ada di luar jangkauan materi ini.

Penggalian Teks

Allah memilih Israel untuk memulihkan berkat yang lenyap karena dosa (Kej 12:1–3). Tetapi Israel terdiri atas orang-orang berdosa, dan perjanjian Allah dengan Israel memperjelas sifat manusia yang berdosa, karena mereka membalas kebaikan Allah dengan pemberontakan (Yer 31:32). Makanya, melalui Yeremia yang banyak menubuatkan hukuman atas Israel, Allah juga memberitakan keselamatan di balik hukuman itu (Yeremia 31–32). Khususnya, Dia menjanjikan perjanjian yang baru (Yer 31:31). Dalam perjanjian itu, hati umat-Nya akan berubah menjadi taat, dan mereka akan menikmati hubungan dengan Allah sebagai umat-Nya (Yer 31:33), karena dosa mereka akan diampuni dengan tuntas (Yer 31:34).

Pas sebelum perikop kita, Yesus masuk ke Yerusalem sebagai Raja Israel (Mesias) untuk menggenapi janji-janji Allah seperti itu (Yoh 12:12–19). Orang Farisi, yang mewakili kepentingan kaum kalangan atas Yahudi, melihat bahwa pengaruh mereka atas orang banyak itu terancam oleh popularitas Yesus (12:19). Tetapi, pengaruh mereka yang moralistis dan banyak menghakimi itu tidak sanggup membawa pengampunan atau mengubah hati, seperti yang Allah janjikan melalui Yeremia. Dalam perikop kita, Yesus menjelaskan bagaimana Dia akan menjadi Mesias yang menderita demi tujuan itu.

Penjelasan Yesus dipicu oleh permintaan beberapa orang Yunani untuk bertemu dengan Yesus (20–22), karena karya-Nya justru akan membuka berkat bagi bangsa-bangsa. Dia melukiskan karya-Nya sebagai pemuliaan (23), dan mungkin saja mereka mengaitkan hal itu dengan kedatangan-Nya masuk Yerusalem sebagai Raja Israel. Tetapi Yesus malah berbicara tentang kematian: biji gandum baru mencapai tujuannya bila mati (24). Jika hal itu saja sudah mengagetkan, terlebih lagi implikasinya bagi murid-murid Yesus (25–26). Jalan menuju hubungan dengan Allah sebagai umat-Nya (bahasa Yeremia), yaitu mencapai hidup yang kekal dan dihormati Allah (bahasa Yesus), ialah siap mati sama seperti Yesus.

Yesus langsung memperlihatkan sikap yang Dia maksudkan (27–28a). Dia tidak menghadapi kematian dengan tenang: jiwa-Nya “terharu”. Dia rindu supaya bisa diselamatkan dari salib, tetapi Dia mengingat kembali dan memilih tujuan-Nya demi kemuliaan Allah. Allah langsung bersuara mendukung bahwa jalan salib adalah jalan kemuliaan bagi Yesus, dan suara itu memisahkan orang banyak: ada yang mendengarnya, ada yang menganggap itu bunyi guntur saja (28b–29). Hal itu menggambarkan pemisahan yang akan terjadi disebabkan oleh cara Yesus mati (30–33). Para pengikut penguasa dunia (seperti orang Farisi tadi) akan tuli terhadap perlunya Mesias Allah disalibkan, dan mereka akan dilemparkan ke luar (31). Tetapi, “semua orang”—artinya, bukan hanya orang Yahudi tetapi juga bangsa-bangsa seperti yang datang tadi—akan ditarik oleh salib untuk datang kepada Yesus, yaitu siapa saja yang memandang kepada salib itu (bdk. 3:14–15 dari minggu yang lalu).

Jadi, perikop ini berawal dan berakhir dengan penjelasan Yesus bahwa Dia akan dimuliakan dengan ditinggikan pada salib, dan dengan demikian akan membawa keselamatan bagi semua orang. Di tengah penjelasan itu, kita belajar bahwa jalan yang ditempuh oleh kita yang ikut dalam keselamatan itu sama.

Maksud bagi Pembaca

Kita diarahkan untuk mengejar kemuliaan dengan jalan yang telah dirintis oleh Yesus, yaitu tidak mencintai nyawa di dunia ini. Pengarahan itu terjadi ketika kita memandang pada Yesus, sang Raja, yang disalibkan.

Makna

Jalan salib sama sekali tidak masuk akal. Dalam a.27, Yesus mengutip Mzm 6:4–5, di mana pemazmur berdoa untuk diselamatkan dari bahaya. Manusia diciptakan untuk hidup, dan mencintai nyawa adalah hal yang wajar. (Tentu, orang berdosa cenderung mengangkat berhala-berhala yang kehilangannya dianggap setara dengan mati—entah materi, hormat, atau kenikmatan.) Makanya, imajinasi kita perlu dipenuhi oleh kisah Yesus supaya kita mulai memahami mengapa jalan salib itu tidak hanya perlu, tetapi bahkan menjadi jalan yang mulia. Menyuruh orang menempuh jalan salib tanpa mereka menangkap jalan Yesus adalah moralisme—etika tanpa Injil.

Ibr 5:5–6 menangkap intinya dengan membandingkan penetapan Yesus sebagai Anak Allah sekaligus Imam Besar Agung. Mazmur 2 yang dikutip dalam Ibr 5:5 menggambarkan raja Israel sebagai orang yang menegakkan Kerajaan Allah dengan tegas (bdk. “gada besi” dalam Mzm 2:9). Tetapi, seorang imam mengenal kelemahan manusia dan mengobatinya dengan persembahan (Ibr 5:1–3), dan Yesus juga mengalami kondisi manusia itu sehingga Dia “dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibr 4:15).

Dalam ayat-ayat berikutnya (Ibr 5:5–7), penulis Ibrani agak mempertentangkan kedua status itu. Disalibkan tidak cocok dengan status-Nya sebagai Anak Allah (Ibr 5:8, “sekalipun Ia adalah Anak”), tetapi perlu untuk “Ia menjadi pokok [sumber/penyebab] keselamatan yang abadi” sebagai Imam Besar. Hal itu tidak mudah bagi Yesus. Dia berdoa dengan “ratap tangis dan keluhan” (Ibr 5:7), dan dalam pergumulan itu Dia belajar sulitnya manusia taat dalam pencobaan. Kita melihat hal yang senada dalam Yoh 14:27, bahwa Yesus terharu. Kata itu (tarasso) dipakai juga dalam Yoh 14:1, di mana Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya yang mulai memahami kedukaan yang menunggu mereka malam itu, “Jangan gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Maksud Yesus ternyata bukan bahwa semestinya kita tenang-tenang saja, karena Dia sendiri tidak tenang. Sebaliknya, tidak mencintai nyawa kita dalam dunia selalu merupakan hal yang sulit. Hati kita akan terharu, sama seperti Yesus. Tetapi, dalam kegelisahan hati kita percaya kepada Allah bahwa Dia menghormati orang yang tidak mencintai nyawanya dalam dunia ini, dan kita percaya kepada Yesus dengan mengejar kemuliaan dengan menempuh jalan salib itu. Jalan salib itu merupakan Taurat yang ditaruh dalam batin kita sehingga kita menjadi umat Allah yang sejati.

Kita adalah orang berdosa sama seperti Israel, tetapi ketika kemuliaan Sang Raja yang disalibkan mulai meresap sampai ke motivasi dan keinginan yang paling dalam, perubahan hati itu terjadi. Kita menjadi lega karena dosa kita diampuni dengan tuntas. Yang tadinya dicintai dan dianggap harga mati mulai hilang kemuliaannya; sebaliknya, salib Kristus yang menarik hati kita. Itulah cara Allah membentuk umat yang sejati dalam perjanjian baru.

Dipublikasi di Ibrani, Yeremia, Yohanes | Tag | Tinggalkan komentar

Yes 40:1-11 Allah Datang dengan Kekuatan [7 Des 2014]

Dengan tulisan terakhir untuk tahun ini, saya mengucapkan selamat merayakan dan menantikan kedatangan Juruselamat kita. Sampai jumpa tahun depan.

Penggalian Teks

Yesaya 1–35 berfokus pada hukuman yang akan menimpa Yehuda karena dosanya. Pp.36–39 menceritakan sejarah Hizkia yang luput dari kerajaan Asyur (yang menghancurkan Kerajaan Utara) tetapi memberi peluang bagi orang Babel yang kemudian menjadi alat Tuhan untuk menghancurkan Yehuda, dan membawa umat Israel ke dalam pembuangan. Perikop ini merupakan peralihan ke sudut pandang pembuangan yang sedang berlangsung. Ada beberapa tokoh yang tersirat di dalamnya. Penutur adalah nabi (6a) yang menyampaikan firman dari Allah (1b). “Hiburkanlah” adalah perintah yang jamak, jadi dia berbicara kepada sebuah kelompok. Barangkali, ini adalah kelompok orang yang siap mendengarkan firman itu. Kelompok ini yang disuruh untuk menyampaikan kabar baik kepada umat Allah.

Isi penghiburan ialah waktu dalam pembuangan sudah habis (2). Waktu itu disebut sebagai perhambaan, akibat kesalahan, dan hukuman karena dosa. Hukuman itu sudah diterima “dua kali lipat”. Hal itu menegaskan bahwa hukuman itu sudah tuntas betul. (Ada beberapa kemungkinan untuk memahami maksud persisnya, tetapi satu tafsiran yang menarik merujuk ke Yes 47:8–9 bahwa sebuah kota yang dihukum kehilangan suami dan anak-anak [baca “kehilangan anak” untuk LAI “punah”], jadi, dihukum dua kali.)

Dalam aa.3–5, ada suara berseru supaya kelompok yang siap mendengarkan itu mempersiapkan jalan pulang dari Babel, dengan membuat jalan raya melalui medan yang sulit. Dengan kata “harus” dalam a.4, LAI memberi kesan bahwa manusia yang akan meratakan medan itu, tetapi, sesuai dengan versi-versi dalam bahasa Inggris, “akan” lebih cocok (“setiap lembah akan ditutup”): pembuatan jalan itu adalah karya Tuhan, dan manusia hanya ikut di dalamnya. Penggenapan pertama ayat-ayat ini menunjukkan itu: Israel kembali dari pembuangan di Babel dengan jalannya diperlancar secara politik oleh pemerintah Koresh (Ezra 1). Tuhan membuka jalan, tinggal mereka berani menjalaninya, karena percaya pada firman Allah ini. Dengan demikian, kemuliaan Tuhan diperlihatkan kepada semua orang (5). Dalam PB, Yohanes Pembaptis berperan sebagai suara itu, dan umat Israellah yang disuruh untuk mempersiapkan jalan raya itu dengan pertobatan yang sungguh-sungguh (Mk 1:1–8). Namun, karya Allah yang memperlihatkan kemuliaan-Nya bukan dalam pertobatan itu, melainkan dalam Yesus yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mk 1:8).

Dalam a.6, suara itu berseru kepada si nabi. Pesannya menegaskan bahwa firman Allah itu tetap, dan manusialah yang fana (aa.6–8). Ingat bahwa bagi Israel dalam pembuangan, kerajaan Babel kelihatan sangat kukuh, sehingga firman Allah ini sulit dipercaya. Petrus mengutip ayat-ayat ini dan mengatakan bahwa firman tentang pemulihan Israel itu adalah firman yang diberitakan kepada jemaat, yakni Injil (1 Pet 1:24–25). Dia melihat bahwa pemulihan Israel digenapi di dalam Yesus.

Dalam aa.9–11, Sion dipanggil untuk membawa kabar baik kepada kota-kota Yehuda bahwa Allah mendekat (9). Tuhan kembali di jalan raya tadi dengan umat Israel yang dibuang sebagai upah dari jerih payah-Nya dalam rangka menyelamatkan mereka (10). Umat itu seperti kawanan domba yang Dia pelihara dengan baik (11). PB melihat Yesus sebagai gembala yang baik, dan “kabar baik” dalam a.9 adalah istilah Injil (euanggelion) dalam versi LXX.

Penggenapan ayat ini dalam PB menjadi jelas ketika kita memahami bahwa pembuangan Israel, sama seperti pengusiran Adam dari taman Eden, adalah hukuman atas dosa, sepadan dengan kematian. Kembalinya umat Israel ke tanah Israel berarti pengampunan dan kehidupan. Dalam kematian-Nya, Yesus masuk ranah kematian sebagai hukuman dosa, walaupun Dia tidak bersalah, dan dalam kebangkitan-Nya Allah membawa Dia dan semua yang berada di dalam-Nya (karena percaya kepada-Nya) ke dalam ranah kehidupan sebagai orang yang diampuni. Oleh karena itu, janji Allah kepada Israel dalam perikop ini adalah janji-Nya kepada kita juga.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini membawa penghiburan bagi semua orang yang tertekan oleh dosa, dengan menyampaikan kabar baik bahwa karya Allah telah melenyapkan semua yang dapat menghalangi kita untuk dibawa dari ranah kematian ke ranah kehidupan. Kita didorong untuk percaya pada firman itu sehingga kita terus-menerus mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan pertobatan.

Makna

Masa Adven menekankan persiapan bagi Tuhan dengan pertobatan, dan perikop ini mengingatkan kita bahwa dasar pertobatan adalah pengharapan. Andaikan kita tetap dalam perhambaan karena dosa dan tidak ada jalan keluar, apa gunanya melawan dosa? Tetapi, karena Allah telah, terus, dan akan berkarya di dalam dunia melalui Yesus Kristus, kita melangkah dalam pengharapan. Kelesuan Israel diobati Allah dengan berita yang membawa pengharapan. Sama halnya untuk kelesuan jemaat.

Pertobatan merupakan perubahan cara kita memandang dunia. Yang tadinya dianggap menarik dan menguntungkan, sekarang dianggap rugi dan sampah. Perubahan itu hanya bisa terjadi ketika kita percaya pada firman Allah. Dari satu segi, kita sudah melihat penggenapan janji perikop ini dalam karya Kristus, tetapi pada segi yang lain, kita tetap menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menuntaskan keselamatan itu. Jadi, penegasan tentang firman Allah itu tetap penting.

Visi Yesaya tentang pembaruan yang dikerjakan Allah sangat luas, bahkan sampai ciptaan baru (Yes 65:17–25). Yang disoroti di sini adalah intinya: umat Allah akan menikmati Allah sebagai gembala yang telah berjuang bagi mereka dengan kekuatan ilahi-Nya (10–11). Allah itulah yang kita kenal di dalam Yesus, Sang Gembala yang Agung.

Dipublikasi di Yesaya | Tag | 2 Komentar

Mt 25:14-30 Giat untuk Tuhan kita [16 Nop 2014]

Tulisan saya muncul untuk satu kali saja bulan ini, karena ini perikop yang saya pakai ketika mengunjungi jemaat-jemaat di Sydney. Bila penyusunan disertasi sudah selesai, saya mau kembali menulis secara teratur. Tolong didoakan.

Penggalian Teks

Matius 24–25 berbicara tentang akhir zaman, sesuatu yang akan dimulai dalam kematian dan kebangkitan Kristus, tetapi lama kemudian baru akan sampai pada puncaknya. Kelamaannya itu menjadi tema dalam perumpamaan tentang hamba yang jahat (24:9), tentang kesepuluh gadis yang bijaksana dan bodoh (25:5), dan dalam perikop kita (25:19).

Cerita Yesus menyebutkan “seorang” yang ternyata tidak hanya memiliki beberapa hamba, tetapi juga kaya: dia memiliki uang tunai sebanyak delapan talenta. Satu talanton dalam bahasa Yunani itu anggaplah senilai satu milyar rupiah sekarang, jadi ada delapan milyar rupiah yang dipercayakan kepada tiga hamba itu (14–15). Yesus tidak menyebutkan apa urusan kepergiannya, tetapi pada zaman itu bepergian berisiko, dan tidak jelas kapan dia akan kembali. Namun, hamba pertama dan kedua tidak ragu-ragu, dan langsung menjalankan uang mereka sehingga beroleh laba 100% (16–17). Hamba ketiga beroleh 0%, karena dia mencari aman dengan menyembunyikan uangnya (18).

Akhirnya, tuan itu pulang, dan memanggil ketiga hamba (19). Hamba pertama dan kedua dengan penuh sukacita menunjukkan hasil mereka (20, 22). Tuan mereka pun bersukacita atas mereka. Dia memuji mereka dan menawarkan tanggung jawab yang lebih besar (21, 23). Intinya di kalimat terakhir perkataannya: “turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. Kedua hamba itu masing-masing bertindak sebagai orang yang menganggap diri satu kepentingan dengan tuannya. Kebahagiaan tuan dan hamba tak terpisahkan.

Lain cerita dengan hamba yang ketiga. Dia membela diri dengan menuduh bahwa tuannya tidak baik (kejam) dan tidak setia (menuai dengan tidak menabur). Dan memang, tuannya baru saja beroleh laba tujuh milyar tanpa bekerja sendiri sama sekali. Jadi, hamba itu berdalih bahwa mencari aman adalah satu-satunya respons yang cocok terhadap tuan seperti dia. Bahwa dia tidak merasa berbagian dalam kepentingan tuannya muncul dalam kalimat terakhir yang dia ucapkan: talentanya adalah kepunyaan tuan, bukan urusan dia (24–25).

Tentu, sang tuan tidak menerima dalih itu. Kebalikan dari kedua hamba yang lain, hamba ini jahat (tidak baik) dan malas (tidak setia). Kejahatannya karena sudah memfitnah tuannya. Kemalasannya karena, andaikan fitnahnya benar, dia tetap tidak merepotkan diri bahkan untuk pergi ke orang yang pintar berusaha pun tidak (26–27). Tetapi a.28 menunjukkan bahwa memang tuduhan hamba ketiga itu fitnah. Sang tuan mengambil talentanya dari hamba ketiga itu, bukan untuk dirinya, melainkan untuk diberikan kepada hamba pertama. Artinya bahwa kedua hamba pertama sungguh sudah menjadi bagian dari kepentingan tuannya; tuan mereka tidak akan membuang mereka, tetapi akan tetap melibatkan mereka dalam urusannya.

Akhirnya, aa.29–30 menunjukkan bahwa mencari aman ternyata bukan jalan yang aman. Hamba ketiga, yang tidak merasa berbagian dalam kepentingan tuannya, kehilangan apa yang dia terima dari tuannya, dan dikeluarkan.

Maksud bagi Pembaca

Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya, termasuk kita yang membaca perumpamaan ini, untuk kepergian-Nya, supaya kita giat bekerja untuk Kerajaan Allah karena kita sadar bahwa kita berbagian dalam kepentingan Dia. Cara kita menghadapi kehidupan kita, apakah dengan mencari aman atau dengan keberanian dan kreativitas, bergantung pada sikap kita terhadap Yesus, Tuhan kita.

Makna

Dalam bahasa Indonesia, talenta berarti pembawaan seseorang sejak lahir, bakat. Kata itu berasal dari perumpamaan ini melalui bahasa-bahasa Eropa, tetapi maksud Yesus lebih luas daripada bakat saja. Apa saja yang diberikan Tuhan kepada kita, termasuk uang, jaringan, kedudukan, pendidikan, dan waktu, bisa dipakai untuk kepentingan Tuhan kita, yakni Kerajaan Allah. Tentu, pemberian yang pokok ialah berita Injil, yang menjelaskan siapakah Raja dari Kerajaan Allah, yakni Yesus yang mati dan bangkit itu.

Perhatikan bahwa hamba ketiga tidak melanggar aturan apapun. Dia tidak merugikan tuannya dengan mencuri atau berkorupsi. Sebaliknya, kedua hamba pertama mempertaruhkan harta tuan mereka, karena ada kemungkinan bahwa usaha mereka tidak akan membawa hasil yang jelas, atau bahkan membawa kerugian. Tetapi mereka yakin bahwa tuan mereka akan menghargai mereka dan usaha mereka. Hamba ketiga hanya melihat peraturan dan risiko (a.25, “takut”), bukan kesempatan. Seorang kristen bisa saja memelihara kesepuluh hukum namun tidak peduli tentang Kerajaan Allah. Sebagai bendahara dia akan jujur, tetapi diminta untuk pelayanan yang di luar zona amannya, dia akan takut untuk mencobanya.

Masalahnya, ketakutan itu muncul dari sikap tidak percaya terhadap Yesus, Tuhan kita. Rasa takut itu mengatakan bahwa Tuhan itu kejam, Dia mau menjatuhkan kita kalau salah sedikit, sehingga lebih aman tidak berusaha sama sekali. Kemalasan itu juga muncul dari kesan bahwa Tuhan hanya mau memanfaatkan kita. Kita akan rugi dari segi waktu atau materi, tanpa ada imbalan sedikit pun. Dan memang, hanya kalau kita merasa berbagian dalam kepentingan Tuhan, maka semuanya akan dianggap sebagai kesempatan, bukan kerugian, entah uang yang dipersembahkan, waktu yang diberikan untuk melayani, atau kesusahan dalam mempedulikan sesama.

Makanya, rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah anggota tubuh Kristus, bagian dari Kristus dan satu kepentingan dengan Dia. Oleh karena kita dibenarkan oleh iman, kita tidak takut salah sehingga harus mencari aman, tetapi berani mengerjakan kasih yang timbul dari iman dan pengharapan.

Dipublikasi di Matius | Tag | 2 Komentar