2 Kor 12:1-10 Bermegah atas kelemahan [5 Jul 2015]

Penggalian Teks

Dalam 2 Korintus 10–13, Paulus membela diri—atau lebih tepat, membela pelayanannya—terhadap “rasul-rasul yang luar biasa” (12:11). Di balik semua yang dia katakan ada salib. Dalam kelemahan dan kehinaan salib, Allah justru mengerjakan keselamatan, dan pelayanan Injil itu harus bercermin pada pola itu. Makanya, dalam 11:23–33, Paulus membuktikan bahwa dia adalah pelayan Kristus (11:23) dengan serangkaian penderitaan. Bentuknya seperti daftar kemegahan yang biasa pada zaman itu, untuk menunjukkan sifat kepahlawanan dalam diri. Hanya, isinya berupa kesusahan, dan puncaknya menunjukkan kelemahan Paulus, bahwa dia tidak berdaya dan melarikan diri dari seorang penguasa (11:31–33). Paulus bermegah dalam kelemahan, yang di sini bersifat sosial/politik: Paulus bukan orang berkedudukan tinggi.

Perikop kita melanjutkan penyampaian Paulus tentang kemegahan itu. Dia masuk ke dalam soal penglihatan dan penyataan (1)—sesuatu yang sepertinya digemari oleh jemaat di sana dan mungkin menjadi kemegahan rasul-rasul luar biasa itu. Dalam aa.2–4 dia bermain-main dengan kegemaran itu. Dia tidak tahu penglihatan itu seperti apa, dan apa yang dia dengar tidak boleh diucapkan. Jadi, tidak ada penyataan baru daripadanya. Maksud Paulus diperjelas dalam aa.5–6. Dia memang pernah mengalami yang seperti itu, tetapi dia berbicara seakan-akan pengalaman itu terjadi pada orang lain untuk menegaskan bahwa dia akan bermegah atas kelemahannya (5), dan supaya orang menilai dia atas kinerjanya, bukan karena pengalaman tertentu (6).

Ternyata, sikap itu diajarkan langsung kepada Paulus oleh Tuhan. Kita tidak tahu apa yang disebut Paulus sebagai “duri di dalam daging” dan “utusan Iblis”. “Daging” sering dipakai Paulus untuk sifat manusia yang melawan Allah (bdk. Rom 8:5–8), jadi belum tentu yang dimaksud adalah penyakit. Usul-usul termasuk penyakit, pencobaan, bahkan musuh-musuh Paulus! Yang jelas, gangguan itu “menggocoh” (LAI versi baru: menghantam) Paulus. Yang dijelaskan Paulus ialah tujuan gangguan itu, yaitu untuk menekan kesombongan yang dapat muncul dari penglihatan itu (7). Lebih dari itu, Tuhan mengajar Paulus bahwa kelemahan Paulus adalah sarana yang paling cocok untuk kuasa Tuhan disalurkan (8–9a). Makanya, Paulus bermegah dalam kelemahannya. Ketika dia lemah, kuasa Tuhan membuat dia kuat, sehingga hal-hal yang sungguh berguna dihasilkan melaluinya (9b). Dari pengalaman pribadi itu, dia belajar untuk menerima semua bentuk kesulitan (pribadi, sosial, umum) sebagai kesempatan untuk Kristus berkarya melaluinya (10).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk bermegah atas kelemahan kita, supaya kuasa Tuhan tidak dihambat oleh kesombongan dan pengandalan diri.

Makna

Pengalaman Paulus bukan hal yang baru untuk umat Allah. Mazmur 123 menyampaikan keluhan umat Allah yang sudah jenuh dengan penghinaan. Mrk 6:1–13 menceritakan penolakan Yesus oleh kaum-Nya sendiri, serta kesederhanaan yang dituntut bagi murid-murid-Nya dalam misi mereka. Melalui pengalamannya, Paulus dimampukan untuk melihat lebih dalam makna salib Kristus bagi semua yang mau mengikuti-Nya.

Kuasa Tuhan dalam kelemahan kita tidak berarti bahwa kemampuan kita mubasir. Kalau kita mampu menulis, atau membawa motor di jalan yang sulit, atau menafsir dari bahasa Yunani dan Ibrani, itu semua hal-hal yang masing-masing berguna pada tempatnya. Tetapi, kejagoan dalam membawa motor tidak melunakkan hati seorang pendosa untuk bertobat, dan kehebatan dalam ilmu-ilmu tafsir tidak membawa anggota jemaat untuk merenungkan Alkitab secara pribadi. Jika dilakukan dengan sombong, justru efeknya terbalik: pendosa dikuatkan dalam dosanya karena melihat kemunafikan hamba Tuhan, dan anggota jemaat berkecil hati atas kemampuannya untuk membaca Alkitab sendiri. Kelemahan membuat kita setara dengan orang-orang lemah yang lain, dan menunjukkan bahwa yang berkarya adalah Allah sendiri.

Paulus tidak hanya menyadari bahwa kelemahannya merupakan kesempatan bagi Allah. Dia juga membangun kebiasaan bermegah atas kelemahan. Dalam budaya Yunani, bermegah atas kelebihan adalah hal yang penting dalam rangka diperhatikan dan diperhitungkan. Dalam budaya Toraja, bermegah atas kelebihan dianggap sebagai perendahan orang lain yang tidak sehebat. Tetapi, dalam semua budaya itu kelemahan ditutupi. Paulus bermegah atas kelemahan sebagai disiplin rohani yang mengingatkan dia bahwa Tuhanlah yang pokok, sehingga kuasa Tuhan dapat mengalir dengan lebih lancar dalam hidupnya dan pelayanannya. Bermegah atas kelemahan bukan cara untuk menyenangkan orang lain, melainkan cara untuk tetap berguna bagi Tuhan dalam berbagai macam kesulitan.

Dipublikasi di 2 Korintus | Tag , , | Tinggalkan komentar

Mrk 5:21-43 Yesus Pembaru Dunia [28 Jun 2015]

Kisah-kisah mukjizat Yesus sering diangkat untuk mengatakan bahwa Yesus berkuasa sekarang. Hal itu benar, tetapi dapat menimbulkan pertanyaan mengapa Yesus yang bangkit justru tidak menyembuhkan semua orang yang memohon kepada-Nya seperti yang Dia lakukan di Galilea. Ternyata kita harus memahami perikop ini dalam kerangka lebih luas.

Penggalian Teks

Ketiga pemulihan dalam Markus 5 mau memperlihatkan kuasa Yesus atas maut. Orang Gerasa yang kerasukan banyak roh tinggal di tempat pekuburan (5:2), dan dia dibebaskan dari kuasa setan-setan menjadi orang yang waras (15). Dalam perikop kita, pendarahan berkaitan dengan maut, dan cerita itu diapit oleh kisah anak perempuan dibangkitkan.

Yesus kembali dari daerah di luar Israel ke Galilea (21). Yairus, si kepala rumah ibadat (anggaplah Ketua Majelis yang bukan pendeta) datang kepada-Nya dengan sikap seperti banyak orang lainnya, yaitu tidak ada harapan lagi selain Yesus untuk anaknya yang sekarat (22–23). Perempuan itu pun demikian, para tabib tidak bisa membantu dengan pendarahannya (25–26). Beda dengan kepala rumah ibadat itu, dia tidak berani menghadap Yesus. Antara lain, pendarahannya membuatnya najis terus-menerus, sehingga dia sudah terpola untuk malu sendiri. Tetapi dia percaya bahwa akan cukup menyentuh jubah Yesus untuk pendarahannya sembuh. Dan ternyata demikian jadinya (27–29).

Yesus juga tahu bahwa ada “tenaga” (dunamis) keluar dari pada-Nya (30a). Hal itu menunjukkan bahwa perempuan itu tidak sembuh karena kuasa percaya yang ada dalam dirinya, melainkan karena kuasa dalam diri Yesus sendiri. Tetapi, adalah menarik bahwa kuasa itu keluar atas tindakan si perempuan, bukan keputusan Yesus. Malahan, Dia belum tahu kepada siapa tenaga itu pergi (30). Pertanyaan-Nya soal itu hanya menyebut sentuhan, bukan tenaga itu, tetapi Yesus tahu bahwa orang yang menyentuh-Nya itu menyentuh dengan sengaja, sehingga akan memahami maksud dari pertanyaan itu. Para murid, yang tidak tahu tentang tenaga itu, bingung, karena banyak yang menyentuh Yesus dengan tidak sengaja (31). Si perempuan ketakutan, karena usahanya untuk “mencuri” tenaga Yesus secara diam-diam terbongkar. Tetapi dia mengaku “ulahnya” dengan jujur di hadapan Yesus (32–33). Yesus justru menilainya positif: iman si perempuan telah membawa dia untuk menikmati pemulihan, dan Yesus mengucap semacam berkat atasnya (34). Tenaga Yesus keluar atas inisiatif si perempuan karena dia memiliki iman, dan Yesus tidak mempersoalkan bahwa Dia seakan-akan lepas kendali dalam peristiwa ini.

Tentunya, peristiwa itu makan waktu, karena pasti mereka berhenti selama Yesus mencari dan berbicara dengan perempuan itu. Dalam waktu itu, apa yang ditakutkan telah terjadi, anaknya Yairus telah mati. Dengan demikian, pikir orang, Yesus sudah sampai batas kemampuan-Nya untuk memulihkan (35). Yesus tidak beranggapan demikian, dan dia mengajak Yairus untuk percaya, sama seperti telah dia lihat pada perempuan itu (36). Namun, apa yang mau dilakukan Yesus itu menghebohkan, sehingga hanya sekelompok kecil yang diajak menyaksikannya (37).

Keributan duka sudah mulai, dan Yesus memberitahu mereka bahwa anaknya hanya tidur (39). Tentunya, mereka tidak percaya, tetapi Yesus masuk ke kamar anak itu berenam saja (40). Dengan tangan dan ucapan saja, Yesus membangkitkan dia (41), sehingga semua yang menyaksikannya takjub (42). Namun, Yesus berpesan supaya hal itu tidak disebarluaskan (43). Barangkali, Dia berharap bahwa orang akan menerima bahwa anak itu hanya tidur. Namun, ketiga murid-Nya sudah melihat bahwa Dia berkuasa bahkan atas maut.

Maksud bagi Pembaca

Kita diperhadapkan dengan Yesus, yang menunjukkan bentuk dunia baru yang akan bebas penyakit dan maut (dan rasa malu). Kita diajak untuk percaya kepada-Nya, baik ketika berhadapan dengan apa yang buruk sekarang, maupun untuk ikut serta melawan hal-hal itu sampai Dia datang kembali.

Makna

Apakah anak Yairus sudah menikmati hidup kekal dalam tubuh kebangkitan? Tidak, tubuhnya tetap sama, dan dia kemudian mati. Namun, ketika Yesus mengatakan bahwa anak itu tidur, kemungkinan Dia merujuk pada Dan 12:2. Ayat itu menggambarkan orang mati sebagai “tidur” saja, dan berjanji bahwa mereka akan “bangun” untuk menikmati hidup atau kehinaan kekal. Janji itu menjelaskan bagaimana orang yang mati karena setia kepada Allah (Dan 11:33–35) tetap akan menikmati kerajaan yang didatangkan Allah. Jadi, kisah anak Yairus yang “tidur” dan “bangun” itu adalah gambaran akan kebangkitan pada akhir zaman, yang dirintis oleh kebangkitan Yesus.

Kita juga bisa melihat kenajisan dari perempuan itu sebagai gambaran akan dosa. Kenajisan dalam PL menjadi kiasan tentang dosa yang mengancam hubungan Israel dengan Allah yang kudus. Perempuan yang berdarah terus akan terhambat dalam persekutuan dengan Allah melalui ritus Israel. Ucapan Yesus, “imanmu telah menyelamatkan engkau” dapat juga diterjemahkan “imanmu telah memulihkan engkau”, tetapi perempuan itu menerima lebih dari kesembuhan, dia juga dimungkinkan untuk terlibat lebih penuh dalam ibadah. Kematian Yesus melayakkan semua orang beriman untuk beribadah kepada Allah.

Pada umumnya, mukjizat Yesus memperlihatkan sifat Kerajaan Allah, dan dengan demikian memberitakan Yesus sebagai Sang Raja kerajaan itu. Kerajaan itu baru akan dinyatakan secara tuntas ketika Yesus datang kembali. Makanya, sekarang tidak semua orang yang gila dibuat waras, tidak semua orang yang mengalami penyakit jangka panjang dipulihkan. Jadi, perikop ini pertama-tama membawa kita pada pengharapan yang tertuju kepada Yesus akan hidup dalam dunia baru. Tentunya, pengharapan itu mengarahkan kita untuk dunia sekarang. Kita tahu bahwa penyakit dan maut bukan tujuan Allah bagi dunia, sehingga kita berani berdoa untuk kesembuhan, dan bekerja untuk kesembuhan orang lain. Tafsiran eskatologis (mukjizat Yesus menggambarkan dunia yang akan datang) adalah landasan untuk penerapan kuasa (mengandalkan kuasa Tuhan untuk dunia kini, seperti dalam Mazmur 30:9–13; 130) dan penerapan etis (berjuang melawan hal-hal yang dilawan Yesus). Jika kuasa diutamakan, kita beranggapan bahwa semua yang beriman akan sembuh, sehingga kita mempersalahkan iman orang yang tidak jadi sembuh. Jika etis diutamakan, kita menjadikan diri kita sebagai sarana Kerajaan Allah, bukan Yesus.

Yang menyatukan ketiga tafsiran itu ialah iman. Iman si perempuan adalah iman yang berani bergerak dalam rasa malu dan takut, dan dia diperkenan “merebut” tenaga Yesus. Iman si Yairus adalah iman yang siap melangkah walaupun secara manusiawi tidak ada harapan. Melalui iman, kita diselamatkan dari dosa, diterima ke dalam umat Allah, tubuh Kristus, dan kita akan diselamatkan dari maut dalam kebangkitan. Tentunya, iman ini berguna karena sasarannya adalah Yesus Kristus. Iman mereka berdua tidak murni, tetapi bercampur ketakutan. Tetapi karena ditujukan kepada Yesus, iman itu cukup.

Dipublikasi di Markus | Tag , | Tinggalkan komentar

Mrk 4:35-41 Memandang Yesus di tengah Badai [21 Jun 2015]

Minggu ini kita kembali ke Injil Markus selama dua minggu. Bacaan PL dan mazmur lebih banyak dicocokkan dengan bacaan Injil, dan minggu ini membantu untuk menangkap makna dari perikop ini.

Penggalian Teks

Jika Markus 1–3 memperkenalkan Yesus dan pelayanan-Nya, dan 4:1–34 ajaran-Nya, maka mulai dengan perikop ini kita melihat Yesus berfokus pada murid-murid-Nya. Pertanyaan yang muncul pada akhir perikop ini, “Siapa gerangan orang ini?”, baru dijawab oleh Petrus dalam 8:29 (“Engkaulah Mesias”), dan diperjelas dalam pp.9–16.

Dalam pp.4–8 ini, Yesus bolak-balik di danau Galilea (4:35; 5:21; 6:45; 8:13), sesuai dengan tugas-Nya untuk memberitakan Injil di berbagai tempat (1:38). Jadi, setelah selesai memberitakan Injil kepada orang di tepi danau dari dalam perahu (4:1), Dia menyuruh murid-murid-Nya untuk pergi ke tempat yang lain (35), naik perahu (36). Perintah Yesus itu ternyata “keliru”, karena mereka berhadapan dengan topan yang mengancam nyawa mereka (36). Namun, Yesus tidur (37a)! Mereka membangunkan-Nya, mungkin seperti Yunus dibangunkan, yaitu supaya Dia bisa berdoa (Yun 1:5–6). Walaupun beberapa murid-Nya adalah nelayan, tetapi mereka kewalahan dan secara spontan minta tolong kepada Yesus, tetapi dengan bujukan yang tipikal kalau sedang stres, yaitu seakan-akan Yesus sengaja tidur karena tidak peduli (37b). Yesus tidak mengucapkan doa, Dia langsung berbicara kepada angin dan danau (39). Dalam 1:25 Yesus menghardik roh jahat dan menyuruhnya diam. Pada saat itu, orang kaget akan kuasa Yesus sehingga roh-roh jahat itu taat (1:27). Di sini, Yesus menuduh murid-murid-Nya bahwa mereka kurang berani, dan hal itu menunjukkan bahwa mereka belum percaya (a.40; kata “belum” dihilangkan oleh LAI). Alasannya muncul dalam respons mereka: mereka belum memahami siapakah Yesus ini (41).

Maksud bagi Pembaca

Kita dibimbing untuk melihat bahwa Yesus melakukan apa yang dilakukan Allah, supaya di tengah topan hidup, kita percaya kepada-Nya dengan tidak takut.

Makna

Dalam Ayub 38:8–11, Allah adalah yang membatasi laut. Laut berpotensi untuk “membual” (8) sehingga perlu dihardik (“di sini gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan!”, a.11). Mazmur 107 menceritakan beberapa contoh di mana orang berseru kepada Tuhan dan dijawab; Mzm 107:23–32 menyangkut orang di laut, di mana Tuhan membuat badai diam dan laut tenang (29). Nas-nas ini dari PL menunjukkan mengapa para murid takut dan bingung, karena apa yang dilakukan Yesus adalah apa yang dilakukan oleh Allah. Markus 5–6 merujuk pada Mazmur 107 untuk tiga contoh lagi dari (Mzm 107:5 “lapar dan haus”, bdk Mk 6:30–44; Mzm 107:10 “terkurung dalam besi”, bdk. Mrk 5:1–20; Mzm 107:17–18 “sakit…pintu gerbang maut”, bdk. Mrk 5:21–43 minggu depan).

Hal itu menjawab pertanyaan Yesus: mereka takut karena mereka belum memahami siapa Yesus. Hal itu penting diamati, karena kadangkala kita mau meningkatkan kepercayaan orang dengan memompa semangat, seakan-akan iman itu buatan manusia. Cara meningkatkan kepercayaan adalah memandang kepada Yesus. Melihat siapa Yesus lebih dari sekadar memperhatikan bahwa Dia berkuasa. Kita melihat di sini bagaimana perintah Yesus justru membawa mereka ke dalam badai, dan bagaimana Dia seakan-akan berdiam diri, baru kuasa-Nya dinyatakan di ajang kebinasaan.

Pertolongan Yesus ini bukan berdasarkan kekuatan doa murid-murid, melainkan bahwa masih ada untuk mereka kerjakan bagi Allah. Iman mereka sebesar biji sesawi, tidak kelihatan (Mrk 4:31). Doa mereka yang penuh ketakutan langsung dikabulkan; doa Yesus yang penuh penyerahan diri di taman Getsemane diterima tetapi tidak dikabulkan. Ada kalanya Allah akan menunjukkan kuasa-Nya di balik maut, yaitu pada hari kebangkitan (lihat minggu depan).

Dipublikasi di Markus | Tag | Tinggalkan komentar

2 Kor 5:11-21 Kristus dasar pelayanan [14 Jun 2015]

Tulisan Paulus itu ringkas dan padat. Suatu tafsiran berhasil kalau kita mulai menangkap mengapa Paulus menulis seperti ini, dan lebih lagi kalau kita mulai menangkap suatu relevansi untuk kita. Semoga tulisan ini membantu untuk kedua-duanya.

Penggalian Teks

Dalam 2 Kor 2–7, Paulus menjelaskan pelayanannya kepada jemaat di Korintus yang diresahkan oleh pengajar-pengajar lain. Pada setiap tahap dalam penguraiannya, dia mendasarkan pelayanannya pada Kristus. Kemuliaan pelayanan di dalam Kristus ialah hati jemaat yang diubah oleh Roh Kudus (p.3). Dengan mengejar kemuliaan itu, Paulus dimampukan untuk melayani dengan integritas, terutama bahwa pelayanannya mengikuti pola Kristus, yaitu kuasa kebangkitan yang dilihat justru di tengah kesusahan (p.4). Hal itu dilakukan dalam pengharapan akan kebangkitan, termasuk bahwa dia dan orang-orang yang kepadanya dia memberitakan Injil harus menghadap takhta pengadilan Kristus (5:10). Perikop kita menyoroti karya Kristus yang mendamaikan, sebagai dasar untuk mendorong jemaat didamaikan dengan Allah. Paulus kembali menekankan penderitaannya sebagai bukti kesejatian pelayananya (6:1–10), sebelum dia memohon mereka berdamai dengan dia, dan membantu proses itu dengan merefleksikan peristiwa yang memicu masalah di antara mereka (6:11–7:16).

Dalam aa.11–12 Paulus mengingatkan mereka akan tujuannya dalam menulis surat, yaitu supaya mereka mengerti pelayanannya yang tampak kurang keren, dan mulai memegahkannya karena memahami dasarnya dalam Kristus. Dia digerakkan oleh kepentingan Allah (a.13, “demi Allah”) dan kepentingan jemaat (“demi kamu”). Kepentingan Allah membuat Paulus bertindak di luar batas, termasuk hal-hal yang sama sekali tidak keren seperti siap menderita dan dihina sama seperti Kristus. Tetapi Paulus membatasi tingkah lakunya supaya pelayanannya menjadi bermanfaat bagi jemaat.

Ayat-ayat berikut menjelaskan kedua segi itu (“dalam pelayanan Allah”/“untuk kepentingan kamu”). Kedua motivasi itu diringkas sebagai “kasih Kristus” yang dilihat dalam kematian-Nya (14). Frase itu bisa merujuk pada kasih Paulus kepada Kristus yang karya-Nya begitu mulia: oleh karena Paulus asyik dengan Kristus maka dia melayani Allah. Frase itu juga bisa merujuk pada kasih Kristus bagi manusia dalam kematian-Nya. Yang disoroti di sini bukan kerelaan Kristus untuk menderita, melainkan hasilnya. Jika kita membandingkan aa.14–15 di sini dengan Rom 6:1–10 atau Ef 2:4–10, Paulus melihat bahwa semua orang percaya ada di dalam Kristus, sehingga kita ikut serta dalam kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, kita telah mati terhadap dosa sehingga kita dimungkinkan untuk hidup bagi Kristus (15).

Pemahaman itu telah membawa Paulus kepada revolusi dalam cara dia melihat sesama manusia (16). Setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru (17). Dengan kata lain, hidup bagi Kristus yang dimungkinkan oleh kematian-Nya adalah partisipasi dalam rencana Allah akan pembaruan dunia yang dirintis oleh kebangkitan Kristus. Kita bisa melihat bahwa cakrawala Paulus luas sekali, dan kerangka itu yang menguasai imajinasinya sehingga dia begitu giat bagi Kristus.

Dalam aa.18–21 dia bertahap-tahap menjelaskan inti dari proses pembaruan itu, yaitu pendamaian manusia dengan Allah. Kristus telah menjadi perantara pendamaian itu, dan Paulus telah dipercayakan dengan pelayanan pendamaian itu (18). Di dalam Kristus, Allah telah membereskan apa yang menjadi halangan dari pihak Allah, yaitu pelanggaran kita (19a). Hal itu adalah sesuatu yang perlu diberitakan (19b), supaya manusia berdosa memahami bahwa kemungkinan untuk pendamaian itu ada, dan menerima ajakan yang berasal dari Allah sendiri untuk melepaskan halangan di dalam diri mereka untuk didamaikan dengan Allah (20). Akhirnya, Paulus menjelaskan bagaimana pelanggaran kita tidak diperhitungkan: Kristus menjadi dosa dengan menanggung dosa kita sehingga dosa kita dihukum di dalam-Nya pada salib (21a). Oleh karena itu, kita dibebaskan dari hukuman Allah; kita diterima Allah sebagai orang-orang benar, sebagai bagian dari solusi Allah. Semuanya itu terjadi “di dalam Kristus”, karena kita mati dan bangkit bersama dengan Dia oleh iman, dan kita hidup bagi Dia.

Harapan Paulus bahwa jemaat di Korintus menerima pendamaian dari Allah, sehingga menilai pelayanan Paulus menurut ukuran Kristus, bukan menurut ukuran manusia. Dengan demikian, status mereka sebagai ciptaan baru akan makin terwujud.

Maksud bagi Pembaca

Kristus yang mati dan bangkit adalah dasar pelayanan dan perubahan di dalam jemaat. Aa.11–13 merupakan tantangan Paulus bagi jemaat: pelayan seperti apa yang akan mereka banggakan? Aa.14–17 menjelaskan kasih Kristus yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya membuat kita ciptaan baru, sehingga kita menilai orang sama seperti Kristus: mampu melihat kemuliaan di dalam Mesias yang disalibkan; mampu melihat ciptaan baru di dalam manusia yang bobrok. Aa.18–21 merupakan implikasi: pelayanan yang memberitakan pendamaian mengajak semua orang untuk memberi diri didamaikan dengan Allah.

Makna

Kata “mitos” dipakai untuk berbicara tentang kisah agung yang mendasari cara hidup sebuah masyarakat. Orang Toraja tempo dulu diarahkan dalam kehidupan sehari-hari oleh tujuan untuk membawa hormat bagi keluarga dengan upacara mati yang baik. Dengan demikian, mereka bisa menjadi leluhur ilahi yang membawa berkat bagi keturunannya. Oleh karena itu, mereka akan rajin dengan tuntutan adat, menjaga keharmonisan, dan lain sebagainya. Ketika mitos itu pudar, bawa-membawa hewan, mengalah, dan hal-hal yang lain yang memelihara relasi itu direduksi menjadi hitung-menghitung keuntungan pribadi.

Gereja modern itu seringkali lemah karena Injil tidak menjadi “mitos” bagi anggotanya. Bagi Paulus, kebangkitan Kristus yang dipahami dalam terang firman Allah (yakni PL) menyatakan rencana Allah bagi dunia. PL menyatakan bahwa Allah berkerja untuk memperbaharui dunia melalui keturunan Abraham. Dalam Kristus, keturunan itu dibuka bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Makanya, siapa yang ada di dalam Kristus itu adalah ciptaan baru, bagian dari masa depan dunia dalam rencana Allah. Injil adalah berita tentang Kristus, tetapi mengandaikan Kisah Agung Alkitab dari penciptaan sampai pada dunia baru. Inti masalah yang harus diatasi dalam Kisah Agung itu dinyatakan dalam PL sebagai pelanggaran yang memisahkan kita dari Allah. Dalam Kristus, pelanggaran itu tidak diperhitungkan lagi, sehingga kita dapat diterima oleh Allah, dan diajak untuk menerima Allah. Kerangka itulah yang telah kita lihat dalam perikop ini (dilengkapi sedikit dari konteks lebih luas), dan yang menggerakkan Paulus.

Jika Injil itu tidak menjadi mitos yang mengarahkan anggota jemaat, maka agama Kristen menjadi kerdil. Kebaikan Allah direduksi menjadi keprihatinan ilahi tentang saya—yang penting bagi Allah ialah bahwa saya sehat, saya berulang tahun, saya lulus ujian, dsb. Gereja seperti itu tetap menilai orang menurut ukuran manusia, bukan ukuran ciptaan baru. Majelis menyenangkan jemaat, bukan Allah; jemaat tidak berminat untuk bermisi; cekcok merajalela karena tidak ada tujuan bersama—setiap anggota punya tujuan masing-masing, yaitu dirinya sendiri.

Paulus menghadapi gejela-gejala seperti itu dalam jemaat di Korintus dengan mengingatkan mereka tentang karya Kristus. Dia menekankan pendamaian dengan Allah. Pendamaian menyangkut dua pihak. Yang pertama ialah Allah, yang menjauh dari dosa. Orang-orang yang sadar akan hal itu merasa tidak layak di hadapan Allah, tetapi Injil menyatakan bahwa pelanggaran kita tidak diperhitungkan lagi, bahwa Allah siap menerima kita karena Kristus! Bukan hanya itu, Allah siap untuk menciptakan kita kembali di dalam Kristus, membentuk kita perlahan-lahan menjadi manusia baru, yang mampu hidup layak bagi Dia yang mati dan bangkit untuk kita. Kita menjadi bagian dari rencana Allah yang jauh lebih mulia dari apa yang ditawarkan dunia, sehingga kita tidak lagi terpukau oleh orang yang kaya, berkedudukan, atau sukses secara duniawi.

Pihak kedua dalam pendamaian itu adalah manusia. Dalam a.20b, “berilah dirimu didamaikan” sebenarnya adalah bentuk pasif, “Didamaikanlah”. Paulus tidak mengatakan, “damaikanlah Allah dengan dirimu”, seakan-akan persembahan atau amal dapat melunakkan hati Allah. Allah yang berinisiatif mendamaikan kita, dan kita tinggal melepaskan kendala untuk menerima pendamaian itu. Satu kendala ialah rasa dihakimi oleh Allah karena kebiasaan buruk yang tidak mau ditinggalkan, yang bahkan bisa muncul dalam bentuk kemarahan kepada Allah, atau kepada manusia yang mengungkitnya. Dan memang, didamaikan itu menyiratkan bahwa saya menerima: penilaian Allah tentang apa yang baik dan benar; bahwa saya adalah pelanggar yang layak dihukum; dan bahwa saya tidak berdaya untuk memberbaiki diri sendiri dan hanya bisa mengandalkan kematian Kristus. Satu kendala lagi ialah rasa kecewa karena suatu pengalaman pahit yang diizinkan Allah terjadi pada diri saya. Didamaikan itu berarti bahwa saya menerima kebangkitan Kristus sebagai pengharapan yang sejati dalam kekecewaan saya. Jadi, memberi diri didamaikan adalah satu cara untuk menjelaskan pertobatan. Pertobatan bukan sekadar bahwa beberapa kebiasaan buruk ditinggalkan, tetapi bahwa orientasi hidup saya berubah total karena kematian dan kebangkitan Kristus menjadi pokok dalam imajinasi saya. Hal itu tidak terjadi seketika; menjadi ciptaan baru adalah status dalam Kristus yang berangsur-angsur berwujud dalam kehidupan kita, dan kendala-kendala itu harus terus-menerus dilawan dengan kasih Kristus. Tetapi, ketika proses itu berjalan di dalam jemaat, mitos Injil mulai menentukan etosnya.

Dipublikasi di 2 Korintus | Tag , , | Tinggalkan komentar

Kej 3:8-19 Akibat dosa [7 Jun 2015]

Ada banyak perdebatan tentang apakah kisah ini cerita nyata atau simbolis. Penguraian di bawah mengandaikan dua hal. Yang pertama, dosa pernah masuk ke dalam dunia; kisah ini berbicara tentang sesuatu dalam sejarah dunia. Yang kedua, makna dari ular, pohon dan sebagainya adalah simbolis. Kita tidak belajar tentang menghadapi ular, tetapi tentang menghadapi Iblis; kita tidak belajar tentang berbagai jenis pohon, tetapi tentang dosa. Di luar itu, kita tidak tahu, dan tidak perlu tahu.

Penggalian Teks

Perikop ini menceritakan akibat dari ketidaktaatan manusia perdana. A.8 (bersama dengan a.7) menunjukkan perubahan dalam diri mereka akibat makan buah terlarang itu dalam a.6. Aa.9–13 menceritakan tanya-jawab Tuhan dengan mereka, yang membongkar kelicikan tanya-jawab ular dengan perempuan dalam 3:1–5. Aa.14–19 menceritakan vonis Tuhan yang mengubah kondisi baik taman Eden dalam 2:18–25 menjadi kondisi buruk yang kita alami sekarang. Setelah itu (3:22–24), manusia diusir dari taman, yang ke dalamnya Allah membawa masuk manusia setelah dibentuk dari tanah (2:5–17).

Perempuan makan buah itu karena pohon itu kelihatan enak, sedap, dan membuat berpengertian (6). Pengertian itu sudah disebut sebagai “pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Frase itu mungkin merujuk pada kemampuan untuk menentukan nilai sendiri, sama seperti Allah. Hanya, kemampuan itu jauh melampaui kemampuan manusia. Yang terjadi setelah makan ialah: mereka tahu bahwa mereka telanjang (7). Sebelumnya, mereka telanjang dan tidak merasa malu (2:25). Mereka mulai “tahu diri”, dan diri itu harus ditutupi.

Bahwa rasa malu itu pertanda masalah yang dalam menjadi jelas ketika mereka mendengar Tuhan berjalan-jalan di taman. Secara harfiah, “mereka mendengar suara Tuhan Allah” (“suara”, qol, diterjemahkan LAI “bunyi langkah”), suatu rumusan yang sering diperintahkan kepada Israel. Hanya, suara atau bunyi ini menjadi ancaman bagi mereka, sehingga mereka bersembunyi (8). Tuhan mencari Adam, dan memberinya kesempatan untuk menyatakan diri (9). Jawaban Adam mewakili manusia selanjutnya. Dia mendengar suara Allah (“suara-Mu”, qol-ka, diterjemahkan “bahwa Engkau ada”) dan dia takut; dia takut karena sadar bahwa dia telanjang, sehingga bersembunyi. Pertanyaan Allah mengungkapkan bahwa manusia itu berada di tempat rasa malu dan takut.

Kemudian Allah bertanya kepada mereka, seperti hakim bertanya kepada terdakwa (11–13). Dengan demikian, mereka memiliki kesempatan untuk mengaku. Dan memang, mereka mengaku, tetapi jawaban mereka menjadi licik, seperti ucapan si ular dalam aa.1–5. Manusia mempersalahkan isterinya, dan secara tersirat menuduh bahwa Allah berandil di dalamnya karena isterinya diberikan oleh Allah (12). Isterinya mempersalahkan ular yang memperdayakannya (13). Alasan mereka tidak salah, tetapi mereka tidak bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. Manusia yang langsung menerima larangan dari Allah lebih mengutamakan suara isterinya. Mereka yang semestinya berkuasa atas binatang dikendalikan oleh ular.

Kemudian, Allah menjatuhkan vonis atas masing-masing pihak. Ular akan makan debu—suatu kiasan untuk kekalahan yang besar (a.14, bdk. Mik 7:17). Ular akan dikalahkan oleh keturunan perempuan (a.15). Keturunan yang dimaksud mulai jelas dalam Kej 49:10, yaitu raja Daud, sehingga ayat ini dapat dilihat sebagai janji tentang Kristus, anak Daud itu. Hal itu memberi harapan ke depan, tetapi untuk sementara, pengalaman mereka akan diwarnai oleh susah payah—perempuan dalam melahirkan (16), laki-laki dalam mengerjakan tanah (17).

Kemudian, relasi laki-laki dan perempuan diganggu. Ada banyak tafsiran akan bagian ini; yang berikut adalah refleksi saya. A.16b hampir identik dengan 4:7b. Dalam 4:7b, gairah dosa tertuju kepada Kain, dan Kain harus berkuasa atas dosa itu. Dalam a.16b, gairah perempuan tertuju kepada suami, dan suami akan berkuasa atas perempuan itu. Dalam Kid 7:10, gairah itu dari suami kepada isteri. Jadi, gairah itu belum tentu keinginan yang buruk. Terus, “akan” dan “harus” menggunakan bentuk kata kerja yang sama. Jadi, karena dosa mau merusak, keinginanya buruk (“menggoda”) dan Kain harus menguasainya. Apakah perempuan itu sejajar dengan dosa yang merusak? Pada dasarnya tidak, tetapi kondisi pasca kejatuhan membuat kepentingan isteri dan suami terasa bertentangan. Dalam 2:25 itu manusia dan isterinya begitu terbuka karena tidak ada yang harus ditutupi. Tetapi sekarang, Isteri menuntut dari suami menurut kepentingan yang tersembunyi, bahkan dari isteri sendiri. Suami mempertahankan kepentingannya dengan usaha mengendalikan isterinya. Kadangkala usaha itu perlu, kadangkala suami mempertahankan kepentingan yang tidak baik. Tetapi relasi kepala-pendamping dalam 2:18–25 menjadi perebutan kepentingan dalam kekelabuan motivasi karena dosa.

Akhirnya, kepada manusia itu Allah meletakkan tanggung jawab atas kejadian ini, karena kepada dialah perintah itu disampaikan, tetapi suara isterilah yang didengar, bukan suara Tuhan (17). Selain kesusahan mencari rezeki (18), kefanaan manusia yang dibuat dari debu akan muncul dan berlaku, sesuai dengan peringatan Allah berkaitan dengan larangan untuk memakan dari pohon itu (19). Tentunya, isterinya termasuk dalam hal kefanaan ini, dan mereka berdua kemudian diusir dari taman Eden supaya tidak hidup kekal dalam kekacauan itu dengan memakan dari pohon kehidupan.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk memahami kondisi dunia sebagai akibat dosa, dan untuk melawan dosa dalam pengharapan akan kemenangan Kristus atas Iblis.

Makna

Dosa merusak martabat manusia. Si perempuan (dan suaminya ikut saja) mencari apa yang baik, enak, dan menarik. Tetapi pengertian yang diperoleh membawa rasa malu seorang kepada yang lain, dan ketakutan terhadap Allah. Mereka tidak lagi bisa berbicara terus terang, sehingga relasi mereka dipersulit. Keenakan yang diharapkan menjadi kesusahan. Pohon itu dilihat baik, tetapi menimbulkan mereka diusir dari taman yang baik itu.

Dari satu segi, akibat dari dosa itu sudah terpola dalam dunia ini. Orang-orang benar tetap mengalami kesusahan dan tinggal di dunia yang jauh dari taman Eden. Makanya, banyak orang tidak melihat apa gunanya menjadi terlalu baik. Perikop ini tidak berguna untuk menakut-nakuti orang, karena menceritakan akibat yang sudah terlanjur terjadi. Jadi, adalah penting untuk memperhatikan janji di dalamnya, bahwa akibat-akibat buruk ini akan ditiadakan melalui keturunan perempuan itu, yakni Yesus Kristus. Pengharapan itu yang menggerakkan Paulus dalam 2 Kor 4:13–5:1. Kefanaan dikalahkan oleh kebangkitan (4:14; 5:1), dan kerusakan martabat dikalahkan oleh kasih karunia Allah (4:15–17). Dalam pengharapan itu, kita melihat bahwa ada gunanya melawan dosa, dan perikop ini membantu kita untuk memahami bagaimana.

Kita belajar bahwa kerusakan martabat diakibatkan oleh dusta Iblis dan diteguhkan oleh dusta manusia, dusta yang sering tidak disadari karena muncul dari kebutuhan untuk menutupi rasa malu dan takut yang ada. Dinamika itu membuat para ahli Taurat mengecap pelayanan Yesus yang dilakukan oleh kuasa Roh sebagai karya Iblis—Yesus melihat sikap itu sebagai pertanda hati yang begitu bengkok sehingga tidak ada harapan untuk bertobat (Mrk 3:28–30). Obat Yesus dan Paulus terhadap dusta Iblis ialah penyampaian kebenaran. Yesus membongkar dalih para ahli Taurat. Paulus percaya pada kebangkitan Yesus, sehingga dia siap memberitakan Injil (2 Kor 4:13–14). Makin kita memahami firman Allah, makin kita dapat menangkis dusta Iblis itu.

Khususnya, cara ular memperdayakan ialah dengan menawarkan sesuatu yang menarik, tetapi mustahil, seperti manusia menentukan apa yang baik dan yang jahat lepas dari firman Allah. Jadi, orang berkorupsi supaya aman secara ekonomi, dan tahu-tahu, merasa gelisah. Pemuda main perempuan untuk membuktikan kejantanannya, dan menjadi brengsek. Pemudi ikut karena mencari cinta, dan dikhianati. Di atas semua itu, persekutuan dengan Allah dirusak. Jadi, martabat mulai pulih ketika pengorbanan Yesus diterima sebagai penghapus noda yang meremukkan kepala Iblis, dan kita menolak dusta Iblis dan dusta dalam diri sendiri. Hal itu tidak berarti kita luput dari akibat dosa perdana manusia. Tetapi, kita mulai menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah, solusi Allah di dalam Kristus.

Dipublikasi di Kejadian | Tag , , | Tinggalkan komentar

Yes 6:1-8 Diutus oleh Allah Tritunggal [31 Mei 2015]

Hari Minggu ini adalah hari Tritunggal, walaupun tidak semua gereja berani mengangkat ajaran itu sebagai tema. Gereja saya mengangkat tema dari a.8a, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Jawabannya dalam kedua bacaan yang lain menunjukkan bahwa yang diutus itu orang yang percaya kepada Kristus oleh Roh Kudus.

Penggalian Teks

Yesaya 1–5 menggambarkan kebobrokan Israel yang akan bermuara pada penghukuman dari Allah. Yesaya 6 menceritakan panggilan nabi Yesaya. Secara kronologis hal itu terjadi sebelum nubuatan-nubuatan dalam pp. 1–5, tetapi pasal-pasal itu memberi latar belakang untuk panggilan Yesaya. Panggilan itu terjadi pada tahun kematian raja Uzia, raja yang lama berkuasa dan cukup berjaya (lihat 2 Raj 15:1–7; 2 Raj 15:32 menunjukkan bahwa Azarya juga disebut Uzia).

Yesaya berada di pelataran Bait Suci, tempat kurban dipersembahkan di atas mezbah. Allah (atau nama-Nya) hadir di sana, khususnya di ruang paling dalam. Tetapi dalam penglihatan Yesaya, jubah Allah saja memenuhi seluruh Bait Suci. Kata untuk Bait Suci (hekal) juga dipakai untuk istana, karena bait adalah istana dewa. Jadi, Yesaya melihat Allah sebagai Raja Agung, yang duduk di atas takhta di dalam istana-Nya (1). Abdi-abdi-Nya adalah para serafim, yang menyuarakan kekudusan Allah dengan bahasa isyarat—mereka menutupi wajah dan kaki (2)—dan juga suara (3a). Kekudusan itu dijelaskan dengan gelar “Tuhan semesta alam”. “Semesta alam” menerjemahkan kata tsevaot yang berarti tentara besar dan menegaskan kuasa-Nya sebagai Raja; a.3b menyatakan bahwa kemuliaan Allah—kesemarakan-Nya, nama-Nya yang agung, kemasyhuran-Nya—berada di seluruh bumi, walaupun manusia berdosa (dalam hal ini, Israel) tidak mampu melihatnya. Goyangan dan asap menyampaikan hal itu melalui indera sentuhan dan penciuman (4).

Yesaya menjadi sangat sadar akan kenajisannya, yang menjadi bagian dari kenajisan seluruh bangsa Israel (5). Ritus-ritus PL mengajar Israel bahwa apa yang kudus tidak boleh bersentuhan dengan apa yang najis, dan hal itu melambangkan sulitnya Allah yang kudus berdiam di tengah bangsa yang penuh dosa (ingat saja peristiwa anak lembu emas, di mana Allah mau menghapus bangsa itu, Keluaran 32–34). Para serafim saja, yang tidak berdosa, harus menutupi mulut dan kaki. Kenajisan itu seperti bahan bakar di hadapan api kekudusan Allah, sehingga terancam binasa. Khususnya, bibir bangsa itu najis karena ibadah kepada Tuhan disertai ketidakadilan dan pemberhalaan (lihat, misalnya, 1:15). Tetapi Tuhan telah menyediakan cara untuk mentahirkan umat-Nya, yakni dengan kurban-kurban. Jadi, seorang serafim mengambil bara dari mezbah untuk membakar habis kenajisan bibir Yesaya (6–7). Hal itu diartikan sebagai perginya (sar) kesalahannya dan penutupan (kiper) dosanya, sehingga akibat yang semestinya, kehancuran di hadapan Allah yang kudus, dihindarkan.

Dengan dikuduskannya Yesaya, dia siap untuk mendengar panggilan Tuhan. Tuhan memanggil terlebih dahulu (8), lalu memberitahu apa tugas Yesaya. Tugas itu adalah mengatakan firman Tuhan kepada bangsa (9)—makanya adalah penting bahwa bibir Yesaya ditahirkan lebih dulu.

Maksud bagi Pembaca

Tugas kenabian adalah membawa terang yang mengungkapkan dosa, termasuk dalam umat Allah sendiri. Kita harus ditahirkan oleh pengorbanan Kristus dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus untuk menjadi mampu menunaikan tugas itu.

Makna

Allah disebut kudus tiga kali, dan dalam a.8 Dia bertanya, “siapakah mau pergi untuk kami” (LAI “Aku”, tetapi bentuknya jamak). Mungkin Yesaya dan para pendengarnya akan memahami “kami” itu sebagai Allah beserta abdi-abdi-Nya di surga (makanya, LAI mungkin kesulitan dengan kata “kami”, karena jika pakai huruf besar, abdi-abdi itu tidak ilahi, tetapi jika pakai huruf kecil, melanggar kaidah modern tentang kata ganti untuk Allah). Tetapi, setelah kebangkitan Yesus, murid-murid-Nya menjadi sadar bahwa Allah telah datang dalam diri-Nya. Kemudian, setelah Yesus naik ke surga, mereka mengalami hadirat Yesus dan Bapa lewat Roh Kudus (bdk. Yoh 14:16–20). Keramaian di surga ternyata bukan hanya soal adanya malaikat-malaikat, tetapi ada dalam diri Allah sendiri.

Dalam Yoh 3:1–21, Yesus adalah pemberita Kerajaan Allah, sebagai Anak Manusia yang turun dari surga (12–13). Dia juga adalah Juruselamat (14–15). Tetapi, berita itu tidak bisa diterima, dan keselamatan itu tidak bisa dinikmati, kecuali seseorang dilahirkan kembali oleh Roh Kudus (3–6). Ini semua adalah karya Allah (16). Kita melihat bagaimana Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja sama untuk membawa keselamatan bagi manusia: Allah mengutus, Anak mewujudkan, Roh menerapkan di dalam diri manusia. Sama halnya dengan terang. Dalam aa.19–21, percaya itu dikaitkan dengan respons kita terhadap terang—sepadan dengan kekudusan Allah yang dilihat Yesaya. Yesus Kristus adalah wujud terang itu—Dialah yang mengekspos seberapa jauh bangsa Yahudi dari Allah (bdk. Yoh 12:41). Roh Kudus yang membuat kita lahir kembali sehingga kita siap diekspos oleh terang itu.

Kita bisa menambahkan contoh lagi dari Rom 8:12–17. Roh Kudus yang memampukan kita mematikan perbuatan daging (12) yang kuasanya hilang di dalam salib Kristus (6:6). Dengan demikian, kita menjadi anak Allah, dan pewaris bersama dengan Kristus, Sang Anak (17). Jadi, yang mengutus dalam Yes 6:8 adalah Allah Tritunggal yang tri-Kudus. Yang diutus adalah orang yang mampu melihat terang Allah oleh kuasa Roh Kudus, sehingga ditahirkan oleh pengorbanan Kristus.

Satu implikasi yang semestinya tidak dilupakan ialah bahwa pengutusan itu terjadi dalam konteks keberdosaan. Yesaya diutus kepada bangsa yang najis, dan dia alami apa yang dialami Yesus dalam Yoh 3:19–21, yaitu bahwa manusia menghindar dari terang karena dosanya. Rom 8:12–17 mulai dengan dosa dalam diri, dan berakhir dengan menderita bersama dengan Yesus karena kita ikut dalam tugas kenabian-Nya. Semua yang setia kepada Allah akan mengalami hal itu, lebih lagi pelayan yang tugasnya ialah memberitakan firman Tuhan yang mengungkapkan dosa tanpa memandang buluh. Hanya karya Allah Tritunggal yang akan memampukan kita.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , , | Tinggalkan komentar

Yeh 37:1-14 Pengharapan karena Roh Kudus [24 Mei 2015]

Tahun yang lalu perikop Yeh 37:1–14 ini termasuk leksionari, hanya dengan perikop Injil dan surat yang lain. Renungan itu ada di sini. Penggalian teks saya ambil dari sana (dengan diedit sedikit), tetapi pemaknaan berubah, karena kedua perikop pendamping mengajak kita untuk lebih fokus pada sikap hidup, bukan perbaikan hidup. Kedua renungan ini mengandaikan bahwa perikop kita harus dipahami dalam terang penggenapan di dalam Kristus.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah lanjutan dari Yehezkiel 36 yang berbicara tentang pemulihan keadaan Israel setelah pembuangan. P.36 itu berbicara tentang pemulihan kondisi Israel, termasuk pentahiran (36:25) dan hati daging ganti hati batu (36:26; terjemahan harfiah untuk “hati yang keras” dan “hati yang taat”), melalui Roh Allah yang akan diam di dalam batin Israel (36:27). Dengan demikian, keadaan Israel akan pulih, dan Tuhan akan dimuliakan di dalam mereka.

P.37 menguraikan dua aspek dari pemulihan kondisi Israel itu. Perikop kita (37:1–14) menggunakan penglihatan tentang tulang-tulang yang dihidupkan untuk menjadi pasukan tentara yang besar, sementara 37:15–28 menubuatkan pemersatuan Israel di bawah seorang raja seperti Daud. Dengan demikian, Israel akan siap untuk peperangan akhir zaman (pp.38–39) yang akan mendatangkan dunia baru yang berpusat pada Bait Allah tempat Allah hadir kembali (pp.40–48; kemuliaan Tuhan yang meninggalkan Bait Allah dalam p.10 kembali dalam 43:4). Yang dibahas di sini ialah pemulihan umat Allah untuk menjadi alat bagi rencana Allah, yang di dalamnya kebangkitan pribadi hanyalah satu aspek.

Di dalam penglihatan (1a), Yehezkiel diperhadapkan dengan tulang-tulang yang berserakan. Karena mayat-mayat tidak dikuburkan, ada dugaan bahwa ini adalah tentara yang kalah besar dalam perang (bdk. 10b). Tulang-tulang itu “amat kering”—dalam a.11 “tulang yang kering” ternyata adalah kiasan yang lazim untuk menggambarkan keputusasaan. Aa.1–6 kemudian menceritakan perintah Tuhan untuk bernubuat menghadapi hal itu. Ada empat tahap yang disebutkan dalam pemulihan itu: urat, daging, kulit dan nafas hidup. Kata untuk nafas hidup sama dengan kata untuk roh, ruakh. Aa.7–8 menceritakan terjadinya ketiga hal pertama, tetapi belum yang keempat, sehingga belum ada hidup. Jadi, nubuatan untuk nafas hidup (roh) diulang dan dikembangkan: keempat penjuru angin (ruakh juga berarti angin) disuruh untuk masuk ke dalam orang-orang ini. Tentara yang pernah kalah besar itu berdiri kembali.

Allah menjelaskan penglihatan itu dalam aa.11–14. Israel mengungkapkan keputusasaan dengan sebuah kiasan tentang tulang yang kering (11), dan Allah menjawab dengan sebuah kiasan mengenai kebangkitan dari kubur (aa.12–13; maksudnya tidak harfiah, karena dialamatkan kepada Israel yang hidup). Seperti dalam penglihatan Yehezkiel, ada dua tahap. Yang pertama ialah kembalinya Israel ke tanah Israel (12). Ketika Israel kembali ke Israel, hal itu seperti tulang-tulang bergabung, berdaging dan berkulit: Israel akan menjadi utuh dan mampu bergerak bagi Tuhan. Tetapi hal itu belum cukup: mereka tetap butuh nafas, yaitu Roh Allah (a.14; ingat bahwa kata untuk nafas dan roh itu sama). Alhasil, Israel mengetahui bahwa Allah itu Tuhan.

Jadi, perubahan batin Israel dalam 36:25–27 disampaikan dengan lebih tegas lagi dalam perikop ini. Kenajisan Israel dalam 36:25 ternyata adalah kenajisan mayat, Israel adalah mati. Hati batu dalam 36:26 sejajar dengan tulang kering, dan hati daging sejajar dengan urat, daging dan kulit. Hal itu menunjukkan betapa hancurnya batin Israel: tulang-tulang yang kering, yang tidak dapat bekerja sama (urat), tidak ada kekuatan (daging), dan tidak ada batas atau perlindungan (kulit). Semua itu dikerjakan Allah bagi Israel. Tetapi, sama seperti tubuh Adam yang sudah dibentuk dari debu itu baru menjadi makhluk hidup ketika ada nafas hidup masuk, perubahan batin ini baru menjadi hidup yang sejati ketika Roh Allah diberikan.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk melangkah demi Allah dalam pengharapan, berdasarkan kuasa Roh Kudus yang memberdayakan hidup baru yang kita peroleh di dalam kebangkitan Kristus.

Makna

Dalam perikop kita, kubur menjadi kiasan tentang kondisi Israel dalam pembuangan, dan kebangkitan menjadi kiasan tentang pemulihan bangsa Israel. Tetapi ketika Yesus datang sebagai Israel yang sejati, sebagai Mesias yang mewakili Israel dan Hamba yang menunaikan tugas Israel (bdk. Yes 49:6–7), yang Dia lakukan ialah mati, dikuburkan, dan bangkit secara harfiah. Dengan demikian, arah pengiasan menjadi terbalik: pembuangan menjadi gambaran tentang maut, dan kembalinya dari pembuangan menjadi gambaran tentang kebangkitan. Yesus masuk ke ranah maut dan keputusasaan, dan membuka jalan keluar, atau dengan lebih tepat, jalan pulang ke hidup yang sejati.

Dengan demikian, kebangkitan Kristus memberi kita daging dan kulit. Israel dalam pembuangan merasakan kondisi manusia berdosa dengan tepat: mereka tahu bahwa di luar pengenalan akan Allah hanya ada harapan-harapan yang semu, tetapi mereka meragukan niat dan/atau kuasa Allah untuk membawa mereka kembali ke tanah suci dan ibadah di Bait Allah. Kebangkitan Kristus membuktikan maksud Allah untuk membawa kita dari ranah maut yang jauh dari Tuhan ke ranah kehidupan di mana kita mengenal Dia.

Bacaan Rom 8:18–30 menguraikan beberapa aspek dari ‘daging dan kulit’ ini. Yang utama, kita ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Anak Allah, sebagai adik-adik-Nya (Rom 8:29; saudara dari anak sulung adalah adik). Hal itu sudah dijelaskan dalam Rom 6:1–14. Karena kita berada di dalam Kristus, kita telah mati terhadap dosa bersama-sama dengan Dia supaya kita bisa hidup bagi Allah (Rom 6:1–11). Dalam Rom 8:30, Paulus meringkas caranya Allah membuat kita serupa dengan Kristus: berdasarkan penentuan Allah yang mendahului kehendak kita, kita dipanggil melalui pemberitaan Injil (bdk. Rom 1:15); kita dibenarkan atas dasar pengorbanan Yesus melalui iman (bdk. Rom 3:21–26) sehingga kita menjadi bagian dari Kristus dan keluarga Allah; dan di dalam Kristus kemuliaan Allah yang hilang karena dosa (Rom 3:23) dipulihkan kembali. Proses itu terjadi dengan kita menempuh jalan sama seperti Yesus: kita siap menderita bersama dengan Dia supaya kita dipermuliakan bersama dengan Dia (Rom 8:17). Kemuliaan itu akan kita terima secara tuntas ketika kita dibangkitkan (Rom 8:21, 23; “pembebasan [harfiah: penebusan] tubuh kita” bukan pembebasan dari tubuh). Pengharapan itu mencakup seluruh dunia, yang akan turut dimerdekakan dari kesia-siaan, meniadakan dampak dari kejatuhan ke dalam dosa (Rom 8:21; bdk. Rom 5:12–21).

Jadi, kebangkitan Kristus membuka jalan kepada kemuliaan yang sejati, dalam perlawanan terhadap dosa dan melalui penderitaan. Itulah ‘daging dan kulit’ yang diberikan kepada kita. Tetapi semuanya itu hanya dapat terwujud karena kuasa Roh Kudus. Roh Kuduslah yang bersaksi tentang status kita sebagai anak-anak Allah (Rom 8:16). Antara lain, kesaksian itu terjadi karena kuasa Roh Kudus yang memampukan kita untuk melawan kedagingan, yaitu dosa yang terpola dalam tubuh kita (Rom 8:13). Kemudian, Roh Kudus memampukan kita untuk tidak betah dalam dunia yang bobrok ini, tetapi mengeluh sebagaimana semestinya terhadap dunia yang ditaklukkan kepada kesia-siaan dan kefanaan (8:20–21). Pertolongan Roh Kudus itu dilihat dalam doa: pada waktu kita kehilangan akal mau berdoa bagaimana, Roh Kudus melengkapi keluhan-keluhan yang sangat terasa tetapi sulit diucapkan (8:26–27).

Yeh 37:14 adalah janji yang digenapi pada hari Pentakosta, tujuh minggu setelah janji dalam aa.12–13 digenapi dalam kebangkitan Yesus. Roh Kudus memampukan kita untuk melawan dosa, dan juga untuk bertahan dalam penderitaan. Dengan demikian, Allah turut bekerja dalam segala kondisi kita untuk mendatangkan kebaikan, yaitu menjadikan kita serupa dengan Kristus (8:28).

Dipublikasi di Yehezkiel | Tag , , , | Tinggalkan komentar