Yohanes 13:31-35 Memuliakan Allah dengan kasih seperti Yesus [24 Apr 2016]

Penggalian Teks

Ketika Yudas keluar dari perkumpulan Yesus dengan murid-murid-Nya (a.31a), penderitaan dan kematian Yesus sudah terjamin. Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah waktu kemuliaan Yesus. Karena Yesus adalah utusan Allah yang akan melaksanakan rencana keselamatan Allah dengan ditinggikan pada salib, maka kemuliaan Yesus juga adalah kemuliaan bagi Allah (a.31b). Makanya, Yesus yakin bahwa rencana itu akan segera terwujud (a.32). Dia akan mati, bangkit, dan kembali kepada Bapa-Nya di surga.

Tetapi, ketika Yesus pergi, murid-murid-Nya akan tinggal di sini. Bagaimana keadaan mereka? Hal itu melatarbelakangi percakapan Yesus mulai dengan perikop ini sampai doa Yesus di p.17. Akhir doa itu juga berbicara tentang kemuliaan, kasih, dan hubungan erat antara Yesus dan murid-murid-Nya (17:24–26). Dalam a.34 Yesus memberi mereka sebuah perintah baru, yaitu untuk saling mengasihi. Perintah untuk mengasihi tidak baru, tetapi caranya baru. Mereka harus saling mengasihi sama seperti Yesus mengasihi mereka, yaitu, dengan pelayanan, pengorbanan dan kesabaran. Cara itu baru saja diperlihatkan dengan peristiwa membasuh kaki yang mengungkapkan satu makna dari kematian-Nya di salib, yaitu bahwa baik kemuliaan maupun kasih bukan dipraktekkan dalam rangka mencari status melainkan dengan mengutamakan kepentingan sesama.

Dalam a.35 ternyata perintah baru itu menjawab soal identitas mereka sebagai pengikut Yesus, yang terancam hilang ketika Dia tidak ada lagi untuk diikuti. Cara saling mengasihi yang baru itu begitu khas sehingga dapat menandai mereka sebagai pengikut Yesus, walaupun Dia tidak ada lagi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Cara membawa kemuliaan kepada Allah di hadapan manusia sama seperti Yesus yaitu saling mengasihi sama seperti Yesus.

Makna

Saling mengasihi sering dipahami sebagai saling membuat merasa nyaman, tanpa harus memikirkan kedudukan dan kepentingan. Artinya, orang yang berkedudukan tinggi merasa rela mengasihani orang rendah, asal kedudukannya tidak terancam. Tetapi kita harus mengingat bahwa perikop ini menjadi kesimpulan dari pembasuhan kaki. Cara Yesus mengasihi termasuk menjadi seorang hamba bagi murid-murid-Nya. Mengasihani dengan mempertahankan kedudukan bukan cara Yesus mengasihi.

Jadi, jemaat akan memulikan Allah antara lain ketika kepentingan orang kecil mendapat perhatian yang sama dengan kepentingan orang besar. Kesetaraan itu berlaku di mata Tuhan, bukan di mata kaum atas. Bahwa orang kecil dibina sejak kecil untuk berdiam diri bukan pembenaran bagi kaum atas. Bahwa pimpinan semua dari kaum atas, sehingga kepentingan orang kecil tidak diingat juga bukan alasan yang diterima — Yesus memerintah kita untuk saling membasuh kaki, dan perikop ini menegaskan bahwa hal itu bukan ritus saja. Pembaca yang tidak dapat melihat relevansi pemaknaan ini mungkin saja dibutakan oleh kedudukannya dalam kaum atas.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , | Meninggalkan komentar

Yohanes 21:1-19 “Semeja dan sejalan dengan Tuhan” [10 Apr 2016]

Penggalian Teks

Injil Yohanes sudah mencapai kesimpulan yang kuat pada akhir p.20, sehingga pasal 21 terasa sebagai tambahan. Fokusnya bukan hanya pada kebangkitan Yesus, tetapi juga pada kehidupan bergereja: Petrus diutus untuk menjadi gembala domba-domba Yesus yang perdana; suatu tugas yang kemudian diemban oleh semua penatua, yaitu tua-tua jemaat (1 Pet 5:1–2).

Aa.1–14 menyampaikan penampakan Yesus (lihat “Yesus menampakkan diri” dalam a.1 & 14). Penampakan ini terjadi di Galilea. Dalam Injil Lukas, Yesus hanya menampakkan diri kepada para murid di Yerusalem, tetapi dalam Injil Matius para murid disuruh ke Galilea (Mat 28:7), dan tidak ada penampakan diri Yesus di Yerusalem. Injil Yohanes melihat dua penampakan kepada murid-murid Yesus di Yerusalem (dengan beberapa lagi kepada individu), baru penampakan ketiga ini (kepada murid-murid) di Galilea. Barangkali, pertemuan ini terjadi sebelum pertemuan di Mat 28:16–20 (yang menjadi pertemuan keempat kepada murid-murid sebagai kelompok).

Jika mereka telah disuruh ke Galilea, tetapi belum bertemu dengan Yesus, maka wajar saja bahwa mereka mengisi waktu dan/atau mencari nafkah dengan kembali ke pekerjaan mereka. Sama seperti dalam Lukas 5:5, hasil mereka nol, tetapi ketika mereka mengikuti nasihat Yesus, banyak ikan ditangkap. Kemiripan peristiwa itu bisa menjelaskan mengapa murid yang dikasihi Yesus mengenali Yesus (7), yang ternyata tidak jelas di pantai (4). Makan ikan dan roti mungkin juga suatu kebiasaan, mengingat bahwa justru kedua makanan itu yang tersedia untuk “diperbanyak” ketika Yesus memberi makan lima ribu orang/keluarga (Yoh 6:9).

Cara Yesus bertemu dengan mereka lembut dan ramah. Sikap itu melanjutkan ketiga kali Dia sudah mengucapkan “damai sejahtera” kepada mereka dalam dua pertemuan sebelumnya. Soalnya, mereka semua gagal setia kepada-Nya, dan kaget dengan kebangkitan-Nya. Dengan beberapa cara, seperti makan roti dan ikan bersama, Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Yesus yang mereka kenal, walaupun dalam kondisi yang baru, dan bahwa Dia tetap menerima dan menyertai mereka.

Yang mungkin paling merasakan kegagalannya ialah Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali. Aa.15–17 memulihkan Petrus dan mengutusnya kembali. Ketiga kali dia menyangkal Yesus diimbangi dengan tiga kali dia menyatakan kasihnya kepada Yesus, dan tiga kali dia diutus untuk menjadi gembala. Domba-domba yang mau digembalakan adalah milik Yesus (“-Ku”), tetapi penggembalaan dilakukan oleh manusia. Tugas itu penuh risiko, sehingga Yesus menantang Petrus untuk mengikuti-Nya, meskipun dia harus menderita (18–19).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus menerima dan mengampuni murid-murid-Nya untuk menjadi sahabat serta gembala yang juga siap menderita.

Makna

Dalam banyak film Barat (diikuti oleh film Asia seperti dari Jackie Chan), pahlawannya mencapai titik terburuk seakan-akan mau mati, tetapi kemudian bangkit kembali. Kemudian apa? Pembalasan habis-habisan terhadap musuh! Itulah yang sering dicari manusia yang sudah diinjak-injak dan dipermalukan. Apakah yang dilakukan Yesus ketika Dia berjumpa dengan murid-murid-Nya yang telah meninggalkan Dia? (Pertanyaan itu lebih tajam lagi jika kita mengingat kemuliaan-Nya yang diperlihatkan dalam Why 5:11–14.) Dia mengucap, “Damai sejahtera bagi kamu!” Makan bersama, serta percakapan dengan Petrus, meneguhkan penerimaan dan pengampunan itu. Hanya, mereka diterima untuk mengikuti Yesus dalam jalan salib. Kecuali mereka mengasihi Yesus, hal itu tidak akan mungkin. (Pola itu lebih jelas lagi dalam pemanggilan musuh jemaat, Paulus, menjadi utusan kepada bangsa-bangsa dalam Kis 9:1–20.)

Yang ditawarkan kepada ketujuh murid ialah persekutuan: mereka makan bersama. Itulah tujuan penerimaan Yesus: bukan tiket gratis masuk surga (saja), tetapi hubungan yang erat, yang di dalamnya kita menjadi bagian dari persekutuan Tritunggal (bdk., misalnya, Yoh 17:21–23). Hal itu ditawarkan kepada semua orang percaya, bukan hanya mereka yang dipanggil menjadi gembala.

Urutannya jelas: makan dulu, baru dipanggil menjadi gembala. Jadi, menjadi gembala adalah pertama-tama soal mengenal Yesus selaku orang percaya biasa. Kita menjadi gembala karena mengasihi Yesus. Gembala yang tidak mengasihi Yesus, yang hanya membaca Alkitab untuk menegur orang lain dan berdoa syafaat karena ada akta di dalam liturgi, adalah gembala upahan. Dia akan menghilang begitu ada ancaman dalam tugasnya (10:12), dan dia tidak akan mampu menggembalakan domba-domba Yesus dengan setia, lebih lagi menyerahkan nyawanya sama seperti Yesus (21:18–19).

Dipublikasi di Yohanes | Tag , | Meninggalkan komentar

Kis 5:26-33 “Berita tentang Kristus Paling Penting” [3 Apr 2016]

Penggalian Teks

Kis 3–5 memberi gambaran tentang kehidupan jemaat di Yerusalem setelah keturunan Roh Kudus. Selain persekutuan mereka, unsur yang menonjol ialah keberanian Petrus dan rasul-rasul memberitakan Kristus, disertai mukjizat. Kali pertama mereka dibawa ke hadapan Mahkama Agama, mereka dilarang memberitakan Kristus (4:18), tetapi mereka langsung menyatakan niat mereka untuk taat kepada Allah (4:19) dan bersaksi tentang Yesus (4:20). Itulah yang mereka lakukan (5:12–16). Oleh karena itu, mereka dipenjara lagi (5:18), tetapi diselamatkan oleh malaikat pada malam (5:19) dan besoknya pagi-pagi kembali ke Bait Allah untuk memberitakan Kristus (5:21a). Makanya, ketika mereka mau dibawa ke hadapan Mahkama Agung, mereka harus diambil dari Bait Allah itu (26). Sama seperti ketika Yesus di Bait Allah, orang banyak tidak memihak pimpinan Yahudi, sehingga mereka harus hati-hati.

Keluhan Imam Besar termasuk bahwa pimpinan Yahudi dipersalahkan karena kematian Yesus (28). Petrus mengulang bahwa rasul-rasul harus taat kepada Allah daripada manusia (29), mengulang tuduhan itu (30b), dan memberitakan Injil (30–32). Berita Injil itu mulai dengan penyataan Allah kepada nenek moyang mereka. Kemudian ada kematian yang tidak adil, yang ditanggapi Allah dengan meninggikan Yesus untuk menerima gelar yang sering dipakai pemimpin Romawi, yaitu Pemimpin dan Juruselamat. Istilah “tangan kanan-Nya” menunjukkan bahwa ini adalah karya besar Allah. Karya itu bertujuan supaya ada pertobatan dan pengampunan bagi Israel. Kemudian, lewat Roh Kudus Allah mengutus rasul-rasul untuk menjadi saksi-saksi akan karya itu.

Karya Allah itu yang membuat para rasul harus memberitakan Injil sebagai saksi (29b, 32). Sebaliknya, para anggota Mahkama Agama tidak mau menerima penjelasan Petrus tentang rencana Allah, dan tidak mampu mendengar kabar baik bahwa pengampunan ditawarkan kepada mereka. Mereka hanya mendengar tuduhan Petrus. Cara yang bisa mereka pikirkan untuk menghapus kesalahan mereka adalah dengan membunuh rasul-rasul yang membawa pesan tentang kesalahan itu. Setelah perikop kita, Allah melindungi rasul-rasul dengan nasihat bijak Gamaliel (5:34 dst), dan juga melindungi Mahkama Agama dari mengulang kesalahan mereka terhadap Yesus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Berita tentang Kristus lebih penting daripada kepentingan agama.

Makna

Bahawa para rasul diutus untuk menjadi saksi akan kebangkitan Yesus dengan kuasa Roh Kudus disampaikan dalam Yoh 20:21–23. Dasar kesetiaan mereka adalah Yesus, yang menjadi Saksi yang setia (Why 1:5).

Konsep kebebasan beragama di Eropa muncul ketika bentuk ketaatan kepada Allah tidak lagi disepakati bersama, sehingga ada Katolik dan beberapa warna Protestan saling menyerang berdasarkan pemahaman masing-masing. Bahkan, berkembangnya individualisme berarti bahwa hati nurani bisa berbeda per orang, daripada pola lebih kolektif di mana suatu bentuk beragama dipegang bersama. Karena negara tidak bisa tahu mana yang sebenarnya dikehendaki Allah, nasihat Gamaliel dijadikan prinsip toleransi. Hal itu cocok dari sudut pandang negara.

Namun, toleransi beragama bukan maksud Petrus, yang notabene adalah rasul, bukan pejabat agama atau negara. Prinsip Petrus adalah taat kepada Allah. Allah sudah berkarya di dalam Kristus, makanya Kristus harus diberitakan. Kristus diberitakan bukan hanya kepada orang-orang Yahudi, tetapi juga kepada orang-orang non-Yahudi, termasuk pejabat-pejabat kekaisaran seperti Felix dan Festus (pp. 24–25). Sekarang, kita bukan saksi mata, dan tidak semua orang percaya dipanggil untuk memberitakan Injil di depan umum. Namun, Allah sudah berkarya di dalam Kristus, dan karya itu harus diberitakan.

Pemberitaan itu bisa saja mengganggu kepentingan, termasuk kepentingan pemuka agama. Berbeda dengan kesaksian Paulus kepada pejabat Romawi, Petrus di sini berbicara kepada lembaga yang mengaku mengabdi kepada Allah. Mereka sudah kecolongan membunuh Mesias Allah tetapi menolak untuk mengaku kesalahan itu. Jadi, di dalam pemberitaan Injil, Petrus juga harus membongkar kemunafikan mereka. Bahwa mereka sangat marah adalah risikonya membongkar kebenaran. Hal yang mirip terjadi ketika para Reformator mau memperjelas Injil dan membongkar korupsi yang merajalela di Gereja pada zaman itu, juga ketika gerakan Methodis yang dimulai sebagai gerakan pembaruan di dalam Gereja Anglikan di Inggris diusir dari gereja itu. Orang-orang yang mengutamakan Kristus di atas segalanya sering dikecam sebagai pengacau oleh denominasi. Tetapi, berita tentang Kristus itu lebih penting daripada kenyamanan pimpinan gereja.

Dipublikasi di Kisah Para Rasul | Tag , | Meninggalkan komentar

Fil 2:1-11 “Menerapkan Pola Kemuliaan yang Sejati” [20 Mar 2016]

Minggu depan blog istirahat, antara lain karena materi MJ untuk minggu Paskah adalah bagian saya.

Penggalian Teks

Fil 2:1–2 memperjelas apa yang dimaksud Paulus dengan seruannya untuk hidup berpadanan dengan Injil sehingga bersatu menghadapi perlawanan (1:27–30). Dia tahu dan bersukacita bahwa mereka berakar dalam Kristus melalui Roh sehingga perasaan mereka terbuka terhadap sesama (1), tetapi dia memanggil mereka untuk mewujudkan potensi itu dalam kesatuan pikiran dan jiwa (2). Kemudian, dia menyoroti dua halangan, yaitu pencarian kepentingan sendiri, dan pencarian pujian yang sia-sia (3a). Kedua halangan itu ditanggapi dalam urutan yang terbalik. Sebagai ganti mencari pujian, jemaat harus menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri (3b). Sebagai ganti mencari kepentingan sendiri, setiap warga jemaat harus memperhatikan kepentingan orang lain (4). Andaikan semua anggota jemaat begitu, maka keharmonisan berdasarkan kasih Allah dalam Kristus melalui Roh akan terwujud.

Nasihat ini kedengaran agak konyol (jika kedengaran wajar, mungkin belum dipahami). Apakah seorang tuan harus menganggap hambanya lebih utama? Apakah seseorang yang terpandang (misalnya, purnawirawan, karena Filipi adalah kota untuk pensiunan militer) mengutamakan anggota jemaat yang belum lama bertobat dari kehidupan yang kacau? Kata “rendah hati” (tapeinofrosunh, a.3b) biasanya dipakai dalam budaya Yunani untuk kerendahan, yaitu kedudukan rendah yang tidak dipilih. Menyuruh orang yang berkedudukan untuk merendahkan diri bahkan sampai menjunjung orang rendah lebih tinggi adalah nasihat yang mengacaukan tatanan sosial. Kemudian, memperhatikan kepentingan orang lain bisa dipahami kalau orang lain itu keluarga atau berada dalam relasi pelindung atau pendukung. Tetapi yang dimaksud Paulus adalah anggota jemaat yang dengannya mungkin saja tidak ada ikatan apa-apa kecuali bahwa mereka satu di dalam Kristus. Nasihat Paulus tidak terlalu masuk akal.

Makanya, Paulus menawarkan akal yang baru, yaitu pikiran dan perasaan seperti Kristus (5). Kristus yang setara dengan Allah mengutamakan manusia berdosa. Kedudukan-Nya tidak dipertahankan, tetapi diganti dengan kedudukan sebagai hamba (6–7). Dia merendahkan diri, yaitu, Dia dengan sengaja memiliki kedudukan yang rendah: rendah (taat) terhadap Allah, tetapi juga rendah di hadapan manusia pada kayu salib itu (8). Artinya, “merendahkan diri” bukan (hanya) soal tidak menyombongkan diri, melainkan kesiapan masuk dalam kondisi yang secara objektif rendah, bahkan hina. Yesus tidak hanya rendah hati, Dia masuk dalam kondisi sosial yang hina.

Pada saat yang sama, Dia tidak menjaga kepentingan-Nya, tetapi mengejar kepentingan manusia. Apa itu kepentingan manusia tidak dijelaskan di sini, tetapi sudah disingguung dalam a.1, dan dapat dilihat dalam 3:8–11. Dia bebas mengejar kepentingan manusia, karena Dia percaya kepada Allah Bapa-Nya. Dan memang, Allah meninggikan Dia dan menghormati-Nya dengan memberi-Nya nama tertinggi (9–11). Jadi, pikiran dan perasaan Kristus adalah ketaatan kepada Allah yang mempertaruhkan kepentingan dan hormat dalam keyakinan bahwa Tuhan akan bertindak.

Dengan memandang kepada Kristus ini dan mulai menyerap pikiran dan perasaan-Nya, nasihat Paul mulai masuk akal. Dengan demikian, harapan sukacita karena jemaat yang sehati sepikir dapat mulai terwujud.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kristus menunjukkan jalan menuju kemuliaan melalui kerendahan yang sangat. Paulus mau supaya kita menerapkan pola itu dalam relasi di dalam jemaat: memilih kerendahan demi mementingkan sesama dalam keyakinan bahwa kita akan ikut ditinggikan di dalam Kristus.

Makna

Perikop ini dengan muda dicampurkan dengan perikop yang lain yang melihat besarnya kasih Kristus/Allah dalam penderitaan Yesus. Hal itu tentu benar, tetapi bukan fokus perikop ini. Fokus perikop ini adalah kedudukan, atau status, atau penghormatan. Soal kepentingan yang sempit dan gila hormat sering dikeluhkan, tetapi solusinya bukan kerelaan untuk menderita. Banyak orang siap menderita demi dihormati atau tidak mendapat malu. Tetapi orang akan siap mendapat malu demi Kristus sudah mulai menangkap di mana kemuliaan yang sejati ditemukan.

Berikut ada dua contoh untuk menegaskan bahwa merendahkan diri menuntut lebih dari perasaan dalam hati bahwa saya tidak sombong. Yang pertama, warga jemaat yang buta huruf dengan pendeta yang berpendidikan teologi. Kepentingannya adalah pola pelayanan yang tidak membutuhkan dia membaca; kepentingan pendeta adalah pola pelayanan yang sudah diketahui. Mana yang mau diutamakan? Apakah pendeta mampu menganggap lebih utama warga jemaat seperti itu? Pada umumnya, daripada ketidakbecusan gereja dalam menanggapi keadaan mereka diakui, mereka diremehkan dengan istilah “terbelakang” dan “kolot”. Hal itu bukan berdasarkan pikiran dan perasaan Yesus.

Yang kedua, seorang donatur besar dan kelompok warga jemaat yang tidak mampu. Pikiran di luar Kristus mengatakan bahwa yang mendanai harus didengarkan; yang tidak mendanai didengarkan kalau tidak merepotkan. Di dalam Kristus, seorang donatur akan siap mengutamakan orang lain, bahkan ditegur karena usul yang melanggar kepentingan orang-orang tidak mampu itu. Tentu, usul orang mampu juga penting, tetapi bukan mereka yang pendapatnya biasanya diremehkan.

Bisa dibayangkan suasana jemaat yang di dalamnya semua dihargai, karena orang-orang yang berkedudukan tinggi siap menjadi rendah, sehingga semua sehati sepikir. Dasarnya adalah penghiburan kasih di dalam Kristus; polanya dipelajari dengan memandang Kristus. Di dalam Dia, yang dianggap konyol oleh dunia malah menjadi yang paling wajar.

Dipublikasi di Filipi | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Yohanes 12:1-8 “Karya Kristus lebih berharga” [13 Mar 2016]

Penggalian Teks

Cerita ini tidak sulit dipahami sepintas lalu: Lazarus bersama kedua saudara Maria dan Marta menunjukkan rasa syukur mereka atas kebangkitan Lazarus (yang diceritakan dalam pasal sebelumnya, 11:1–44). Cara mereka adalah mengadakan perjamuan. Lazarus yang dibangkitkan makan bersama dengan Yesus; Marta melayani, dan Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang sangat berharga. Yudas keberatan, sehingga ada kesempatan bagi Yesus untuk menubuatkan kematian-Nya.

Tentu saja, yang mau diperlihatkan Yohanes dalam cerita ini ialah makna tentang Yesus. A.1 menunjukkan kedua hal pokok: Paskah dan kebangkitan. Kebangkitan Lazarus melihat ke kebangkitan Yesus yang menjadi dasar untuk kebangkitan semua orang percaya. Paskah adalah penyembelihan anak domba untuk merayakan awal dari penyelamatan Israel dari Mesir. Dalam Injil Yohanes, Yesus disalibkan pada hari persiapan (lihat 19:14), bersamaan dengan anak domba yang akan dimakan pada perayaan Paskah pada Jumat malam. (Dalam Alkitab kata Paskah hanya dipakai untuk perayaan itu, dan juga penggenapannya oleh Yesus dalam 1 Kor 5:7, bukan untuk kebangkitan Yesus.) Dengan demikian, Dia menjadi Anak Domba Allah yang “mengangkat” (LAI: menghapus) dosa dunia (Yoh 1:29).

Dalam rangka itu, Yesus menafsir ulang tindakan Maria (7). Tindakannya menjadi pertanda akan penguburan Yesus, yang tentunya menyiratkan kematian-Nya. Lepas dari soal seberapa jauh Maria sadar bahwa Yesus akan mati (dan mau menyoroti kemungkinan itu dengan tindakannya), kebangkitan Lazarus yang dia syukuri sudah cukup untuk merujuk padanya. Artinya, kebangkitan Lazarus adalah pertanda kebangkitan Yesus, yang menjamin kebangkitan orang percaya karena Yesus sebelumnya mati sebagai Anak Domba yang menghapus dosa itu. Penguburan Yesus ada di antara kedua peristiwa itu, dan mayat biasanya diminyaki seperti yang dilakukan Maria.

Mungkin juga tindakan Maria dapat dilihat sebagai semacam pengurapan. Kata aleifo (mengoles, mengurapi) dipakai untuk pengurapan, dan beberapa ayat kemudian, Yesus akan tampil sebagai Raja (12:12–15). Kemudian, Dia akan diurapi seperti raja oleh Nikodemus (19:39). Usul itu adalah implikasi dari alur cerita, bukan langsung dari teks.

Beberapa makna ini jelas tidak dilihat oleh Yudas. Bahkan syukur Maria sepertinya tidak diakui. Jawabannya mengangkat orang miskin sebagai prioritas di atas mengurapi Yesus, tetapi Yohanes membongkar alasannya dari dua segi. Yang pertama, dia akan segera menyerahkan Yesus (4), sehingga jelas bahwa dia tidak mencintai Yesus. Yang kedua, dia mencuri dari kas (5), sehingga diragukan bahwa dia mempedulikan orang miskin. Jawaban Yesus mengangkat penguburan-Nya, yang (dalam alur cerita lebih luas) menjadi dasar harapan untuk semua orang, termasuk orang miskin. Artinya, tindakan Maria itu baik bukan (hanya) karena motivasinya, tetapi karena maknanya tentang karya Yesus. Mempersiapkan tubuh-Nya untuk kematian-Nya lebih penting daripada menjawab kebutuhan manusia sesaat saja. Setelah Dia pergi, Dia tidak bisa diurapi lagi.

Karena sekarang Yesus sudah pergi, kita harus hati-hati dengan a.8. Ul 15:11 yang dikutip (“orang-orang miskin selalu ada pada kamu”) adalah bagian dari perintah supaya orang Israel tidak jemu bermurah hati kepada orang-orang miskin itu. Bisa saja Yesus menyindir Yudas, kalau selama itu Yudas belum giat memberi kepada orang miskin, sebagaimana dugaan kita mengingat a.6. Dalam 1 Yoh 4:20, ketika Yesus tidak ada lagi, mengasihi orang yang berkebutuhan justru merupakan cara mengasihi Allah. Walaupun memaknai Yesus sebagai Juruselamat lebih penting daripada melayani orang miskin, sekarang kasih tidak harus memilih di antaranya. Sebaliknya, Yudas membenci (paling sedikit dalam tindakannya) kedua-duanya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Karya Kristus (terutama kematian dan kebangkitan-Nya) lebih berharga dari apapun. Kesadaran bahwa hidup baru kita adalah pemberian-Nya semata-mata akan membuat kita juga siap untuk mempersembahkan apa yang paling berharga kepadanya.

Makna

Yohanes sudah menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa (1:29) yang akan diangkat pada salib supaya siapa saja yang percaya memperoleh hidup yang kekal (3:14–15). Dia adalah gembala yang baik yang akan menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (10:11). Juga, Dialah yang akan memanggil orang mati dari kubur (5:28), sebagaimana Dia memanggil Lazarus dari kubur (11:43). Pengampunan dosa, hidup kekal, dan persekutuan dengan Dia (kawanan domba dengan gembala) adalah makna kaya yang tersirat dalam a.1–2. Perjamuan dalam a.2 memberi gambaran tentang persekutuan ini (menarik bahwa dalam Mazmur 23, rumput yang baik menjadi meja yang berlimpah-limpah).

Tindakan Maria sudah menunjukkan kasih yang tidak menghitung-hitung lagi. Tindakannya sama seperti seorang keluarga yang mempersiapkan mayat orang kekasih untuk penguburannya; harga yang dibayar tidak penting. Dengan demikian, Maria mengaku bahwa Yesus menjadi sepenting keluarga, malah lebih. Sementara Yudas terasing dari Yesus, dan juga dari sesama.

Adakah usul praktis? Karena tindakan Maria tidak bisa ditiru, dan karena perikop ini mau menyampaikan kesadaran tentang Yesus dan rasa syukur yang timbul daripadanya, belum tentu ada tindakan baru yang akan diusulkan. Satu pengukur bagi pelayan bisa begini: sejauh mana kepuasan dalam pelayanan timbul dari amplop yang tebal (sebagai penghormatan), atau iman jemaat yang bertumbuh. Gaji setahun (300 dinar) tidak penting bagi Yesus, karena Allah tidak dibatasi oleh kekurangan dana, tetapi ucapan syukur Maria berharga bagi-Nya.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , , | 1 Komentar

Lukas 15:1-3,11-32 “Penerimaan yang mengobati keterasingan” [6 Mar 2016]

Penggalian Teks

Perumpamaan tentang anak yang hilang yang terkenal ini muncul dalam konteks ketegangan yang makin menjadi dalam pp.13–14 antara Yesus dengan orang Farisi, karena orang-orang berdosa menjadi penggemar Yesus (15:1–2). Ada tiga perumpamaan yang disampaikan Yesus yang menyampaikan sukacita di surga ketika orang yang hilang ditemukan dengan bertobat. Pesan itu terutama ditujukan bagi “para pemungut cukai dan orang-orang berdosa” yang bertobat dengan mendengarkan Yesus. Perumpamaan yang ketiga memiliki struktur yang sama, tetapi diceritakan dari sudut pandang orangnya yang hilang, bukan pemilik yang kehilangan seperti dalam kedua perumpamaan awal. Dengan demikian, ada gambaran naratif tentang dosa, pertobatan, dan pengampunan Allah. Ada juga tambahan yang ditujukan bukan kepada orang-orang berdosa tetapi justru kepada orang-orang “benar” yang mempersoalkan penerimaan orang-orang berdosa oleh Yesus.

Semua ini semestinya disampaikan melalui khotbah naratif, yang mengikuti alur cerita dengan pemaknaan dan penerapan. Perhatikan bahwa yang menjadi hilang adalah seorang anak. Dosanya adalah melanggar kekeluargaan dengan mengejar kepentingan yang lain dari kepentingan ayahnya. Ternyata, dia menganggap bahwa kebahagiaan bukan ditemukan bersama dengan bapanya, melainkan sejauh mungkin daripadanya. Yang dicari dari ayahnya ialah kekayaannya, tetapi bukan orangnya. Pemungut cukai membuat uang lebih penting dari Allah; orang-orang berdosa yang lain dengan berbagai cara mencari kehidupan dalam “keluarga” (tongkonan) yang lain dari keluarga Allah. Akar itu yang menimbulkan kekacauan hidup. Makanya, Yesus tidak takut akan orang-orang itu, karena Dia mengerti masalah mereka yang sebenarnya.

Tentu saja, keterasingan dari sang bapa itu membawa kesengsaraan, walaupun hal itu hanya menjadi kentara ketika berhala yang mengobati keterasingan itu (dalam kisah ini, uang) habis. Kesadaran itu membawa si anak kepada pertobatan yang mungkin saja belum jelas. Ucapan yang dia rencanakan tetap melihat bapanya sebagai orang kaya, dan tidak membayangkan kemungkinan untuk rekonsiliasi. Dia mencari keselamatan, tetapi hal itu tidak dipahami sebagai pendamaian yang utuh dengan bapanya.

Ternyata sikap anaknya tidak terlalu penting. Begitu dia dilihat, sang bapa tergerak oleh perasaan kekeluargaan dan merangkul dan menerima dia dengan sangat. Rasa malu dan aib yang meliputi anak itu larut dan hilang dalam rangkulan yang penuh kerinduan ini. Perhatikan kembali, pengampunan di sini bukan terhadap pelanggaran ini atau itu, tetapi rangkulan yang menciptakan kedamaian dalam diri si anak itu. Yang dibutuhkan hanya bahwa anak itu kembali, bukan bahwa dia kembali dengan sikap yang sudah beres.

Yang terakhir ialah anak sulung yang menjadi marah. Dia taat, tetapi ternyata dia juga tidak merasa satu kepentingan dengan ayahnya; makanya dia tidak pernah berani memohon anak kambing untuk bersukacita dengan teman-temannya. Hanya, berbeda dengan adiknya, dia tidak berani menyatakan keterasingannya. Dia tampil taat, tetapi ketaatan itu justru dipakai untuk menuduh bapanya. Sikap orang Farisi yang mau supaya orang kacau ditolak menunjukkan bahwa, walaupun mereka tampil taat, secara tersembunyi Allah dimusuhi. Kita tidak diberitahu apakah anak sulung itu bergabung dengan sukacit bapanya atau tidak, tetapi itulah penawaran Yesus kepada orang-orang Farisi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Cerita ini menyampaikan penerimaan Allah yang menjembatani keterasingan manusia. Penerimaan itu menjawab akar dosa, yaitu ketidakpercayaan sehingga menolak Allah sebagai Bapa yang baik. Dengan demikian, manusia yang kacau dikuatkan bahwa penerimaan Allah itu tidak berdasarkan ketaatan, dan manusia yang tidak kacau didorong untuk bersukacita bersama dengan Allah dan Bapa mereka atas orang yang bertobat.

Makna

Gambaran naratif Yesus tentang dosa itu penting. Kita cenderung menganggap diri sedikit di atas rata-rata dalam banyak hal, termasuk kebenaran. Bahkan orang Farisi tidak menganggap diri sempurna, tetapi mereka adalah yang giat dalam urusan Allah, sehingga semestinya dihargai di atas para pengacau. Di balik ketidakpercayaan diri banyak warga jemaat untuk menyatakan diri benar, kita menemukan sikap meremehkan orang-orang tertentu (misalnya, narapidana) yang membuktikan bahwa sebenarnya mereka menganggap diri cukup benar. Tetapi ukuran dosa di sini menghancurkan kita: kebenaran yang cukup tidak berarti jika kita menganggap bahwa tuntutan Allah berlawanan dengan kepentingan kita. Setiap kali warga jemaat mengungkapkan bahwa suatu nilai hanya berlaku bagi pendeta, atau menganggap bahwa suatu nilai terlalu berat untuk diikuti kecuali oleh orang “fanatik”, kita menemukan bahwa sebenarnya mereka adalah anak-anak sulung: taat tetapi dalam hati tidak merasa satu kepentingan dengan Allah. Kemunafikan halus seperti itu sering bergandengan tangan dengan sikap cepat menghakimi sesama.

Lebih lagi para pendeta yang lain cerita di hadapan jemaat, lain cerita bersama dengan teman-teman. (Maksudnya bukan bahwa kita lebih santai dengan teman-teman–Yesus pun lebih terus terang dengan murid-murid-Nya. Tetapi jika nilai Alkitabiah yang dianjurkan di jemaat ternyata kita langgar ketika kita tidak sedang diamati, hal itu menunjukkan bahwa kita pun belum menerima Allah sebagai Bapa yang baik.) Apakah pendeta-pendeta itu yang juga suka menjelekkan sesama pendeta?

Syukur bahwa penerimaan Allah melampaui ketidakmampuan kita untuk bertobat dengan sungguh-sungguh. Justru dalam penerimaan Allah, sikap curiga kita terhadap Allah perlahan-lahan terkikis. Kemampuan bersukacita akan kebaikan Allah kepada orang lain adalah suatu pertanda akan perubahan itu dalam diri kita.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | 1 Komentar

Lukas 13:1-9 “Bertobatlah Sebelum Binasa” [28 Feb 2016]

Penggalian Teks

Perikop ini terjadi di tengah perjalanan Yesus ke Yerusalem, sebagai langkah sebelum Dia diangkat ke surga (9:51). Dalam perjalanan itu, Dia mau memanggil Israel kepada pertobatan, yaitu, ke jalan yang baru. Hal itu menuntut komitmen yang penuh (9:57–62) akan misi (10:1–24) dan kasih (10:25–37) Yesus yang ditopang oleh mendengarkan Yesus (10:38–42) dan berdoa (11:1–13). Hal-hal ini dituntut dari angkatan yang tidak percaya dan sesat (ingat 9:41). Hanya orang kecil yang kepadanya Allah menyatakannya yang akan menangkap pemberitaan Yesus. Para pemimpin moral Israel melihat Iblis di balik Yesus (11:14–36) sementara mereka menindas sesama (11:37–54). Oleh karena itu, murid-murid Yesus harus mengandalkan Allah dalam perlawanan terhadap angkatan ini (12:1–12). Bahkan keluarga sendiri bisa menjadi musuh (12:49–53).

Kepercayaan itu termasuk pemahaman tentang akhir atau tujuan kehidupan manusia: kekayaan tidak dibawa oleh orang mati (12:13–21); Allah memelihara orang yang mencari Kerajaan Allah (12:22–34); dan Tuhan akan datang kembali (12:35–48). Akhir itu ditandai oleh pilihan yang ada di depan Israel pada saat itu: semestinya orang Israel dapat melihat dari tanda-tanda zaman, dan siap berdamai (12:54–59). Lawan dalam 12:58 kemungkinan merujuk pada kekaisaran Romawi (dengan Allah sebagai “pemerintah”): daripada membenci musuh dan memberontak, Israel semestinya mendoakannya (6:27–36).

Perikop kita melanjutkan diskusi itu. Ada dua peristiwa naas yang disebutkan Yesus, satu yang baru terjadi (a.1; ingat belum ada Facebook pada zaman itu, jadi berita disampaikan secara lisan), satu yang sudah menjadi pengetahuan umum (4a). Peristiwa pertama menyangkut sekelompok orang Galilea yang dibantai di pelataran Bait Allah sewaktu mereka telah membawa persembahan. Mereka disangka “pendosa” (hamartoloi) kemungkinan karena mereka menunjukkan (atau dianggap menunjukkan) pemberontakan terhadap para penguasa di Yerusalem sehingga langsung ditindak Pilatus (2). Yesus tidak menyangkal kalau mereka adalah pendosa, tetapi Dia menegaskan bahwa angkatan yang sesat yang Dia hadapi tidak berbeda (3). Tinggal waktu (kurang lebih 40 tahun) dan mereka akan mengalami nasib yang sama (penduduk Yerusalem dibantai oleh tentara Romawi) oleh karena mereka tidak siap berdamai dengan musuh. Peristiwa kedua merupakan kecelakaan, dan kedelapanbelas korbannya disangka “pengutang” (ofeiletai), yaitu kena sanksi dari Allah karena berbuat salah (4). Tetapi nasib yang sama menunggu semua penduduk Yerusalem 40 tahun kemudian, ketika Yerusalem dirubuhkan oleh tentara Romawi (5). Dengan demikian, Yesus menjadikan kedua peristiwa itu sebuah ancang-ancang akan hukuman mendatang itu.

Kemudian, Yesus mengibaratkan keadaan Israel sebagai pohon ara yang sudah terlambat berbuah. Pemilik kebun siap menebangnya karena tidak berguna, tetapi pengurus kebun anggur menawarkan untuk berusaha satu tahun lagi. Kurang lebih, Allah adalah pemilik kebun, Yesus pengurusnya, dan pelayanan Yesus untuk membawa Israel kepada pertobatan adalah usaha terakhir supaya Israel berbuah. Saya bilang “kurang lebih” karena percakapan antara pemilik dan pengurus kebun bisa saja ditafsir seakan-akan Yesus tidak sepandangan dengan Allah. Yang disampaikan dalam percakapan itu adalah kedua segi dari pertimbangan Allah, Bapa dan Anak: hukuman dibutuhkan, tetapi jalan keluar tetap mau ditawarkan. Daripada menghakimi sesama yang dilanda musibah, orang Israel semestinya melihat musibah itu sebagai peringatan untuk mereka sendiri bertobat. Pertobatan itu berarti mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus berarti hidup dalam kasih bahkan kepada musuh, yaitu dengan kasih seperti yang akan diperlihatkan di salib.

Tetang Apa dan Untuk Apa?

Perikop ini bercerita tentang hukuman Allah yang ditunda supaya manusia bisa bertobat. Bertobat berarti menerima pemberitaan Yesus yang memampukan kita untuk berbuah. Jadi, kita diajak untuk bertobat. Mungkin juga kita diajak untuk berperan sama seperti Yesus dalam mempersiapkan umat Allah menerima Injil supaya berbuah.

Makna

Yesus di sini berbicara soal waktu. Dalam Yes 53:6 dikatakan, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui”. Ketika hukuman terjadi, sudah terlambat mencari Tuhan, antara lain karena yang dicari bukan Tuhan tetapi pelepasan dari musibah. Hal itu jelas untuk hukuman pada akhir zaman, tetapi juga berlaku untuk hukuman terhadap kelompok-kelompok seperti Israel dan jemaat. Jemaat yang membangun gedung yang mewah dari uang orang fasik sudah mengambil jalan yang sulit ditinggalkan. Ketika penyelewengan uang dan perpecahan meruntuhkan jemaat sebagai persekutuan, jemaat itu sudah lewat kesempatan untuk bertobat. Secara individu, orang yang mengatakan, “nanti saja saya bertobat” biasanya tidak bisa bertobat bahkan ketika menghadapi ajal hidupnya.

Bacaan dari Yes 55:1–9 juga menjelaskan pertobatan yang sejati. Pertobatan itu mulai dengan merindukan keselamatan Allah sebagai hal yang akan memuaskan jiwa. Dengan keinginan mulai berubah demikian, orang akan ingin meninggalkan jalan fasiknya (55:7). Soal nafsu yang salah muncul juga dalam 1 Kor 10:6–8, khususnya pemberhalaan dan percabulan. Nafsu-nafsu inilah yang menuntun kita keluar dari jalan keselamatan. Makanya, bagian Injil Lukas tentang perjalanan ke Yerusalem tadi dimulai dengan tantangan untuk mengingini Yesus di atas segalanya. Hal itu adalah dasar dari pertobatan. Cara hidup yang diajarkan memberi wujud nyata dari pertobatan itu.

Dalam kepercayaan lama, musibah dilihat sebagai akibat pelanggaran. Yesus menerima bahwa dosa ada akibatnya, tetapi pemahaman-Nya berbeda dalam dua hal. Yang pertama, musibah itu pertanda akan musibah yang lebih dahsyat (misalnya, hukuman atas Yerusalem, hukuman kekal), dan musibah itu peringatan bagi semua orang yang melihatnya, bukan hanya bagi yang langsung menjadi korban.

Dipublikasi di Lukas | Tag | Meninggalkan komentar