Lukas 9:57-62 “Lebih Penting dari Keluarga” [26 Jun 2016]

Renungan ini diperkaya dalam diskusi dengan beberapa rekan pelayan Wilayah II.

Penggalian Teks

Yesus melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem (9:51b), tempat Dia akan menderita, mati, dan dibangkitkan (9:22) selaku Mesias dari Allah (9:20, 35) sebelum Dia diangkat ke surga (9:51a). Yesus sudah memberitahu murid-murid-Nya bahwa mereka juga harus memikul salib (9:23) sebagai jalan menuju hidup (9:24). Cerita pertama setelah Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem ialah penolakan orang kepada-Nya, sehingga mereka harus mencari desa yang lain (9:52–56). Yesus sudah memberitahu keduabelas murid tentang kemungkinan itu (9:5), dan setelah perikop kita Dia mengutus tujuh puluh murid dengan kemungkinan yang sama (10:10–12). Mengikuti Yesus ternyata bukan hal yang mudah, dan dalam perikop kita Lukas memetik tiga perjumpaan orang dengan Yesus untuk memberi gambaran tentang hal itu. Perhatikan bahwa kita tidak diberitahu apakah mereka jadi mengikuti Yesus atau tidak; maksudnya supaya kita yang mendengar firman ini mengambil keputusan kita sendiri.

Dalam setiap perjumpaan ini ada ucapan orang dengan tanggapan Yesus. Ketiga tanggapan Yesus menggunakan gaya bahasa yang berlebihan dengan maksud menggelitik. Sama seperti ucapan-Nya untuk mencungkil mata (Mat 5:29) atau membenci orangtua (Luk 14:26), Dia tidak menyampaikan hukum positif, tetapi Dia mengajukan tantangan yang dimaksud untuk mengungkapkan atau menguji kesiapan hati orangnya. Ucapan-Nya merupakan hikmat, bukan hukum.

Dalam perjumpaan pertama, ada orang menawar untuk mengikuti Yesus “ke mana saja” (57). Yesus mengangkat rubah (Yunani alopex berarti rubah yang dianggap licik, bukan serigala yang dianggap ganas) dan burung sebagai contoh binatang yang memiliki tempat tinggal, yaitu tempat tetap untuk meletakkan kepala (58). Ada usul yang menarik bahwa rubah menyinggung Herodes (bdk. 13:31–32), sementara burung menyinggung orang Romawi (burung bisa merujuk pada orang-orang non-Yahudi, dan burung rajawali menjadi simbol di panji tentara Romawi). Kalau begitu, Yesus membandingkan kondisi warga Kerajaan Allah yang mengembara dengan kondisi kerajaan-kerajaan duniawi yang kelihatan mantap. Bagaimanapun juga, mengikuti Yesus berarti berbagi dalam kondisi Yesus yang berjalan ke Yerusalem dengan selalu berhadapan dengan perlawanan. Hal itu berlawanan dengan kerinduan kebanyakan orang untuk memiliki tempat yang tetap, aman, dan nyaman.

Dalam perjumpaan kedua, Yesus memanggil seseorang yang siap, tetapi mau menguburkan bapanya lebih dulu (59). Jawaban Yesus kasar dalam budaya Yahudi, dan mungkin dalam kebanyakan budaya di bumi (60). Dia menempatkan pemberitaan Kerajaan Allah di atas kewajiban seorang anak untuk menghormati ayah dengan mengurus penguburannya. Tidak dijelaskan apakah bapa itu tua tetapi sehat, sedang sekarat, atau sudah meninggal sehingga yang dimaksud adalah peletakan ulang tulang almarhum setahun setelah kematiannya. Yang terakhir paling masuk akal jika kita mengandaikan bahwa Yesus tidak bermaksud melarang orangnya mengikuti acara penguburan itu. Tetapi kita tetap harus mendengar bahasa Yesus yang kasar itu: orang matilah yang menjadi asyik dengan urusan orang mati. Merupakan kiasan biasa bagi orang Yahudi untuk menyebut orang non-Yahudi sebagai orang mati, tetapi di sini Yesus mengecap orang yang tidak mau bergabung dengan Kerajaan Allah demikian. Sebaliknya, Kerajaan Allah berorientasi hidup. Ucapan Yesus menusuk perasaan kita, dan mengundang pertanyaan, apakah Kerajaan Allah lebih penting bahkan daripada keluarga?

Dalam perjumpaan ketiga, orangnya memohon untuk pamitan dahulu dengan keluarganya. Kita melihat permintaan yang mirip dari Elisa ketika dia dipanggil Elia, dan dia diberi izin bahkan untuk upacara perpisahan yang cukup mega, dengan sepasang lembu sebagai dagingnya (1 Raj 19:19–21). Yesus tidak melarang orangnya pamitan dengan keluarganya, tetapi mengambil gambaran dari kisah Elisa itu untuk mengatakan bahwa mengikuti Yesus berarti melihat ke depan, ke misi Kerajaan Allah itu, bukan mengingat-ingat apa yang ditinggalkan. Kalau dicermati, maksud Elisa juga begitu, karena dia membakar sarana pencarian nafkahnya, baik kedua ekor lembu, maupun bajaknya. Mengikuti Yesus membutuhkan komitmen yang tegas, yang menempatkan Kerajaan Allah di atas hal-hal berharga seperti keluarga.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Mengikuti Yesus dalam misi Kerajaan Allah lebih penting bahkan dari keluarga. Kita ditantang untuk mengambil langkah yang menunjukkan identitas baru kita di dalam Kristus, bukan lagi sebagai anggota keluarga/tongkonan jasmani yang dibantu-bantu Allah, melainkan sebagai anggota keluarga/tongkonan Kristus yang giat untuk kepentingan Allah.

Makna

Pemberhalaan adalah kekeliruan besar dalam PL (Mzm 16:4). Seperti dalam Dasa Titah satu sampai tiga, Allah adalah lebih penting dari semua yang lain, bahkan lebih penting dari diri saya. Bukannya Dia menyatakan diri-Nya kepada manusia untuk menjadi sarana penopang bagi cita-cita kita (entah diri, keluarga, kelompok), melainkan supaya cita-cita kita disesuaikan (dibuang atau diubah) sesuai dengan misi dan rencana Dia.

Pernyataan-pernyataan Yesus dalam perikop kita mempertajam tuntutan itu. Tempat tinggal dan keluarga (keduanya tercakup dalam konsep tongkonan, sama seperti bet dalam bahasa Ibrani dan oikos dalam bahasa Yunani) adalah hal yang baik yang menjadi penghalang bagi misi Kerajaan Allah ketika apa yang baik itu menjadi prioritas utama. Tanpa pemujaan dewa dalam ritus lama adat Toraja, keluarga tetap bisa menjadi berhala. Martabat diri terletak dalam citra keluarga yang tampak dalam upacara-upacara besar; pengharapan untuk hidup terletak pada keluarga. Makanya, norma dan tuntutan keluargalah yang berlaku, misi Kerajaan Allah diberi tempat sejauh mana tidak bertabrakan dengan keluarga yang utama itu. Tantangan Yesus bukan untuk berbuat baik saja (kegiatan keluarga itu baik, pada umumnya), tetapi untuk berbuat apa yang baik bagi misi Allah dalam dunia.

Soal berbuat baik menjadi fokus Galatia 5. Paulus sudah menjelaskan bahwa orang yang percaya kepada Kristus bukan lagi di bawah pengawasan Hukum Taurat. Dalam bagian ini, dia menunjukkan bahwa jika kita hidup oleh Roh Kudus, kita akan memenuhi inti dari Hukum Taurat, yakni kasih. Roh Kudus berlawanan dengan keinginan daging, termasuk cita-cita yang kurang baik. Dengan demikian, pertobatan lebih dari sekadar meninggalkan beberapa kebiasaan buruk; Roh mengubah karakter dan keinginan kita. Dengan demikian, Kristus hidup di dalam kita (Gal 2:19–20) dan kita mencerminkan watak keluarga Allah (Gal 3:26–27). Hal itu pelengkap yang penting bagi penekanan Yesus dalam perikop kita akan prioritasnya misi Kerajaan Allah.

Jadi, ajaran Paulus juga menempatkan keluarga Allah sebagai keluarga yang pokok. Reaksi kita terhadap ucapan-ucapan Yesus mengungkapkan sejauh mana identitas kita masih terletak pada keluarga jasmani kita. Kembali, Dia tidak memberi perintah, dan orang kristen berabad-abad terlibat dalam penguburan orangtua. Namun, pemberhalaan keluarga kuat di kalangan orang Toraja. Walaupun semua dapat melihat pemborosan dalam upacara keluarga yang lain, ada perlawanan yang panas dari banyak keluarga ketika ada usul supaya ritus dalam kalangan sendiri disederhanakan. Menyesuaikan upacara demi Kerajaan Allah adalah salah satu cara untuk menyampaikan bahwa memang Kerajaan Allah yang paling penting. Usul seperti itu dapat menjadi ilustrasi yang mempan untuk mengungkapkan berhala-berhala di dalam jemaat.

Dipublikasi di Lukas | Tag , , | Meninggalkan komentar

Yesaya 65:1-9 “Keselamatan di tengah umat yang memberontak” [19 Jun 2016]

Penggalian Teks

Perikop kita merupakan awal jawaban Tuhan terhadap doa nabi dalam 63:7–64:12. Pp.65–66 memperbandingkan orang yang setia dengan orang yang tidak setia, orang yang gentar kepada firman Allah (66:2b) dengan orang yang lebih menyukai jalannya sendiri (66:3b). Ada dua akhir yang disampaikan: langit dan bumi yang baru bagi mereka yang setia (65:17), dan kengerian bagi mereka yang memberontak (66:24). Unsur-unsur itu muncul dalam perikop kita. Aa.1–5 menceritakan ulah-ulah Israel yang menjadi seperti asap dalam hidung Allah, dan aa.6–7 menceritakan rencana pembalasan Tuhan kepada mereka. Aa.8–9 menjadi kunci untuk bagian selanjutnya: di tengah umat yang bobrok, tetap ada yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan Allah.

A.1 memperbandingkan kerelaan Allah untuk menolong, ditemukan oleh, dan hadir dengan bangsa yang tidak bertanya, mencari, atau memanggil. Analisis Allah tentang Israel disampaikan dalam a.2a: Israel memberontak terhadap Allah (sehingga tidak memanggil), menempuh jalan sendiri (sehingga tidak mencari Allah), dan mengikuti rancanangannya sendiri (sehingga tidak menanyakan Allah). Muka (LAI: “mata”) Allah terarah kepada Israel sehingga Dia dibuat sakit hati (3a) dan terganggu (5b). Aa.3b–5a mendaftar ulah Israel: persembahan kepada dewa (3b), mencari petunjuk dari orang mati (tafsiran umum a.4a), makan makanan yang najis (4b), dan mengklaim dirinya sakti ketika melaksanakan ritus (a.5a). Allah bermaksud baik, tetapi manusia mengambil jalan sendiri.

Keputusan Allah dalam aa.6–7 digambarkan sebagai keputusan tertulis, mungkin karena sesuai dengan hukuman kepada bangsa yang memberontak dalam Taurat (misalnya, Ulangan 28), mungkin untuk menegaskan bahwa keputusan itu sudah tetap. Allah mengabulkan permintaan dalam doa nabi supaya Allah tidak tinggal diam (64:12; 65:6a), tetapi Dia akan membalas bukan dosa bangsa-bangsa melainkan dosa Israel sendiri, yang diringkas kembali dalam a.7b. Allah tidak tinggal diam terhadap pemberontakan umat-Nya.

Akhirnya dalam aa.8–9 ada sedikit pengharapan. Dalam doa sebelumnya, nabi memohon pengampunan dengan mengingat Allah bahwa Israel adalah umat-Nya (64:9). Sebelumnya dalam 63:17b, dia sudah mengingatkan Allah bahwa orang Israel adalah hamba-hamba Tuhan dan kepunyaan-Nya. Israel adalah pusat dari janji dan rencana Allah untuk memperbaharui dunia, seperti yang akan digambarkan dalam 65:17 dst. Allah mengaku bahwa masih ada berkat di dalam Israel. Dia berjanji untuk mengeluarkan (LAI: “membangkitkan”) dari umat pilihan-Nya orang-orang yang akan memiliki tanah Yehuda. Perjanjian dengan Israel yang seakan-akan terputus karena dosa Israel akan terwujud. Hanya, tidak semua Israel akan menikmatinya. Sebagian (“tidak … sekaliannya”, a.8b) akan luput dari hukuman Allah supaya janji-Nya terwujud. Kita melihat Allah menghukum karena dosa, dan menyelamatkan karena rencana keselamatan-Nya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Di tengah umat yang bobrok, tetap ada pengharapan bahwa Allah akan mengangkat orang-orang pilihan-Nya untuk menggenapi janji-Nya dan menjadi berkat. Kita diajak untuk meninggalkan jalan yang memberontak terhadap Allah dan mencari Dia, kemudian menempuh jalan hidup sebagai hamba Tuhan dan pewaris dunia baru.

Makna

Perikop kita adalah salah satu dari banyak contoh yang menggambarkan tesis Paulus bahwa “Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa” (Gal 3:22), sehingga keselamatan datang melalui iman kepada Yesus Kristus (3:22b). Dalam PL, Yesus menyamar di balik simbol hadirat Allah seperti Sion (pokok dalam Yesaya 60–62), sehingga seruan Yesaya untuk percaya bahwa Tuhan mau ditemukan dan akan menyelamatkan umat-Nya adalah seruan akan iman yang sepadan dengan iman kepada Kristus dalam PB. Kekuasaan dosa sebagai kuasa yang mematikan digambarkan secara ekstrim (sehingga lebih jelas) dalam orang yang kerasukan dalam Luk 8:26–39; orang itu dibebaskan oleh kuasa Yesus. Kepada para pemberontak, pengampunan dan pembebasan ditawarkan.

Namun, jika pemberontak menganggap diri benar (Yes 65:2, “mengikuti rancangannya sendiri”), anugerah Allah akan ditolak. Aa.3b–5a menggambarkan umat yang gelisah karena berbagai kuasa gaib dan masa depan yang kabur. Semestinya mereka mencari perlindungan dari Tuhan, dan andaikan demikian, mereka akan memiliki pengharapan yang jelas. Masalahnya bahwa Tuhan juga menuntut jalan hidup yang tidak masuk akal mereka. Oleh karena itu, mereka menolak Injil yang mengumumkan kerelaan Allah untuk ditemukan dan diminta pengarahan dalam kegelisahan hidup itu. Penolakan itu bisa saja terjadi dalam hati dan tindakan, sementara mulut mengaku percaya.

Sekarang, gereja berhadapan dengan makin semaraknya orang kristen yang berani melangkah sesuai rancangannya sendiri secara terus terang. Bagi sebagian pimpinan gereja (majelis, pendeta, pejabat struktural), masalah pokok ialah bahwa jemaat tidak lagi patuh kepada mereka selaku tua-tua masyarakat. Gereja makin kehilangan wibawa, katanya. Tetapi gereja tidak dipanggil untuk berkuasa dalam masyarakat; gereja dipanggil untuk memberitakan Injil. Tugas kita bukan supaya orang patuh terhadap gereja, melainkan supaya orang percaya (dan dengan demikian mereka akan mulai taat kepada Allah). Semaraknya berbagai penyakit sosial menantang kita untuk memperjumpakan orang dengan Kristus yang menawarkan pengampunan dan hidup baru yang jauh lebih mulia daripada pengharapan-pengharapan semu yang mereka andalkan sekarang.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , , | 1 Komentar

2 Samuel 11:26-12:15 “Tuhan mengampuni dan mendidik” [12 Jun 2016]

Penggalian Teks

Perikop ini mulai pas setelah titik dosa kedua dalam cerita Daud dan Batsyeba, yaitu bagaimana Daud menyalahgunakan kuasanya sebagai raja untuk mengatur kematian Uria yang berintegritas itu supaya dosa yang pertamanya ditutupi. Dalam a.26 nama Uria dipakai dua kali, setiap kali sebagai orang yang sudah mati, sementara nama Batsyeba tidak dipakai; dia hanya dirujuk sebagai isteri Uria (harfiah: “perempuan”, sama seperti bahasa Toraja baine bisa berarti “isteri”), dan Uria disebut sebagai suaminya dengan dua kata: ish (“laki-laki”, sama seperti bahasa Toraja muane bisa berarti “suami”) dan baal yang berarti “tuan”. Dengan demikian, perkawinan mereka yang terputus oleh ulah Daud diberi penekanan. Namun, muslihat Daud untuk kawin dengan Batsyeba supaya aib dari kehamilannya ditutupi sepertinya berhasil (11:26–27) — andaikan tidak dilihat dan dinilai oleh Tuhan (11:27b).

Kali terakhir Tuhan disebut adalah dalam 10:12 dalam konteks perang. Dalam p.11, Daud bertindak lepas dari kesadaran tentang Tuhan. Tetapi ternyata Tuhan tidak alpa. Dia menunjukkan kedaulatan-Nya atas Daud dengan mengutus nabi Natan. Sebagai warga Israel, Natan ada di bawah kuasa Daud, tetapi sebagai nabi, pesannya memiliki otoritas Allah. Namun, Natan mendekati Daud sebagai orang yang hatinya keras, sebagaimana jelas dari ulahnya. Jadi, Natan tidak langsung menegur Daud, tetapi menyampaikan cerita yang menggambarkan dosa Daud dengan seorang kaya yang merampas satu-satunya ekor anak domba seorang miskin (12:1–4). Sebenarnya, hanya perzinahan Daud yang digambarkan, karena orang miskin itu tidak sampai dibunuh. Baru setelah Daud sudah mengadili orang kaya itu dengan sangat keras (12:5–6), Natan mengungkapkan bahwa Daud adalah orangnya (12:7a). Ada beberapa naskah bahasa Ibrani yang mencantumkan tanda pemisah (semacam alinea ringan) setelah kata-kata itu, pertanda betapa dramatis ucapan itu. Sebenarnya Natan mempertaruhkan nyawanya, mengingat bahwa Daud sudah membuktikan ketegaannya untuk membunuh orang demi menutupi masalah.

Ucapan selanjutnya menunjukkan bagaimana Daud tidak hanya melanggar dua hukum Allah, tetapi juga menghina anugerah Tuhan yang telah membebaskannya dan memberinya rumah dan kerajaan Saul (12:7–9). Hukuman Allah dalam 12:10–12 keras (ternyata terlalu keras untuk penyusun leksionari sehingga 12:11–12 dilewati): taktik Daud untuk menyelesaikan masalah dengan pedang akan merasuki seluruh keturunannya (12:10); hasrat Daud untuk mencemari isteri orang akan muncul dalam anaknya terhadap isteri-isteri Daud sendiri, tetapi di depan umum untuk memaksimalkan penghinaan terhadap Daud (12:11–12). Hal kedua ini digenapi dalam 16:22, tetapi hanya kepada gundik-gundik (dalam 12:11 kata ishah, “perempuan”, dipakai, yang bisa lebih luas dari isteri resmi saja). Kepada Daud sendiri, ternyata, janji Allah tentang keturunannya sudah berlaku: Daud dihukum, tetapi kasih setia Allah tidak ditarik daripadanya seperti ketika Saulus berodsa (7:14–15).

Kisah Natan ternyata berhasil menggerakkan nurani Daud, dan dia mengaku sudah berdosa. Natan menyatakan pengampunan Tuhan (12:13), tetapi ada satu hukuman lagi: anaknya harus mati (12:14). Penggenapannya langsung diceritakan ketika anak itu ditulahi Tuhan (12:15). Untuk kali terakhirnya (kecuali dalam daftar pahlawan dalam 2 Sam 23:39) nama Uria disebutkan untuk merujuk kepada Batsyeba (yang namanya tidak muncul). Kata “bekas” tidak ada dalam bahasa aslinya; maksudnya untuk menyoroti kembali perzinahan Daud itu.

Kemudian Daud berusaha untuk membujuk Tuhan untuk menyelamatkan nyawa anak yang sakit itu dengan puasa dan tangisan, tetapi keputusan Tuhan tetap (12:22–23). Kemudian, dia menghampiri Batsyeba, sekarang sebagai isterinya, dan anak yang lahir itu Salomo, “kekasih Tuhan” (artian julukan Yedija) yang menjadi raja paling berjaya dalam sejarah Israel (12:24–25). Cerita tentang perang yang dimenangkan oleh Daud menunjukkan bahwa memang Tuhan telah mengampuni Daud (12:26–31). Itulah puncak kejayaan Daud; setelah p.12, kekacauan dalam keluarganya yang menjadi cerita utama yang panjang dan memilukan. Sebagai raja, dosa Daud berakibat bagi seluruh rakyat.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Bahkan Daud yang dipilih Allah dan diberi janji yang luar biasa itu gagal menjadi raja teladan. Hal itu menjadi contoh bagaimana Allah mengampuni dosa orang yang bertobat tanpa meniadakan akibat dari dosa itu.

Makna

Dalam leksionari, perikop ini dikaitkan dengan penjelasan awal Paulus tentang pembenaran oleh iman dalam Gal 2:15–21 (yang disejajarkan dengan pengampunan dosa dalam Rom 4:6–8), dan perempuan berdosa yang mengurapi kaki Yesus dalam Luk 7:36–50. Perikop-perikop itu menangkap satu segi dari cerita ini, yaitu bahwa Tuhan mengampuni Daud, dan menunjukkan bahwa dasar untuk pengampunan Allah ialah pengorbanan Kristus (Gal 2:21). Tetapi, perikop ini juga menggambarkan Gal 6:7, “Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”

Di balik kedua aspek itu adalah kesetiaan Allah kepada janji-Nya demi rencana keselamatan. Daud tidak luput dari akibat dari dosanya, tetapi janji Allah kepadanya tidak dibatalkan olehnya. Bahwa dia siap ditegur dan mengakui dosanya berarti relasinya dengan Allah dapat pulih, tetapi andaikan tidak, Allah tidak akan dihalangi untuk mengangkat keturunan untuk menjadi nenek moyang Kristus.

Pola didikan itu dilihat di dalam sejarah Israel, yang tidak ditolak oleh Allah tetapi dihukum terus. Orang kristen yang berdosa dan berbuat fasik mengalami akibatnya. Berkat pengorbanan Kristus, mengaku kepada Allah akan memulihkan hubungan dengan Allah. Tetapi demi kebaikan kita, Allah tetap mendidik kita sebagai anak-anak (Ibr 12:5–11).

====

Dipublikasi di 2 Samuel | Tag , | Meninggalkan komentar

Galatia 1:11-24 “Berjumpa dengan Yesus melebihi adat” [5 Jun 2016]

Penggalian Teks

Kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus pernah memberitakan Injil tentang Tuhan Yesus Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (1:4) sehingga mereka menerima Roh Kudus dan mengalami berbagai mukjizat Tuhan (3:2, 5). Paulus mencirikan Injil ini sebagai Injil kasih karunia (1:6), karena penyerahan Kristus bagi dosa adalah pemberian Allah kepada orang-orang yang tidak layak. Masalahnya, ada yang menyusul datang mengatakan bahwa untuk sungguh dibenarkan di hadapan Allah, orang percaya harus menanggung Hukum Taurat, terutama dengan disunat (6:12–13). Dengan demikian, pemberian Allah di dalam Kristus dipinggirkan untuk sesuatu yang lain (Hukum Taurat) sehingga praktis ditolak dan tidak berlaku lagi (5:4). Seluruh surat mau menanggapi masalah ini. Dalam pp.3–4 dia membuktikan Injil itu dari Kitab Suci, dan dalam pp.5–6 dia menunjukkan bagaimana Roh Kudus menimbulkan perubahan yang diharapkan oleh Hukum Taurat. Dalam 1:11–2:10, dia membela kerasulannya, termasuk dalam kaitan dengan rasul-rasul di Yerusalem yang sepertinya diatasnamakan oleh pengajar-pengajar sesat itu.

Aa.11–12 menjadi dalil Paulus, yaitu bahwa Injil itu berasal dari “penyataan Yesus Kristus” (12). Frase itu bisa berarti “penyataan yang disampaikan oleh Yesus Kristus”, tetapi dalam Kis 9:3–8 tidak ada petunjuk bahwa Yesus mengajar Paulus, sebaliknya Yesus menyatakan diri-Nya kepada Paulus. Dalil itu yang kemudian mau dibuktikan dalam 1:13–2:10. Fokus Paulus adalah membuktikan bahwa dia tidak bergantung pada manusia dalam menerima Injil itu. Tetapi dia juga memberi beberapa petunjuk tentang sifat Injil itu sebagai Injil anugerah, dan juga bahwa Injil itu sama dengan Injil para rasul yang lain.

Aa.13–17 menceritakan panggilan Paulus oleh Allah. Ada beberapa efek dari kesaksiannya. Pertama, dia mengaku maju dalam Hukum Taurat yang dibanggakan pengajar sesat, tetapi hal itu malah membawa dia untuk menganiaya jemaat Allah. Kedua, panggilan Allah atas hidupnya dialami bukan dalam ketaatannya terhadap Hukum Taurat, melainkan ketika Yesus berjumpa dengan dia. Di sini kita melihat sifat Injil sebagai kasih karunia: Paulus dipilih di kandungan ibunya sebelum dia berbuat baik atau buruk, dan dijumpai Kristus ketika dia telah berbuat buruk dengan menjadi musuh Allah. Ketiga, seperti nabi Yeremia yang dipanggil untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, Allah merencanakan kerasulan Paulus sejak dia dikandung. Beda dengan imam dan raja, nabi-nabi dipanggil di luar lembaga-lembaga Israel. Karena dipanggil langsung oleh Allah melalui penyataan diri Yesus, Paulus tidak perlu pergi ke Yerusalem supaya kerasulannya mereka teguhkan. Injilnya tidak bergantung pada mereka.

Aa.18–24 adalah bagian pertama dari soal relasi kerasulan Paulus dan Injilnya dengan Injil rasul-rasul di Yerusalem, yang notabene menjadi murid-murid Yesus langsung. Dalam bagian ini, Paulus tetap menekankan bahwa dia tidak bergantung pada mereka, tetapi ada paling sedikit dua petunjuk bahwa mereka satu haluan. Pertama, dia menumpang limabelas hari bersama dengan Petrus. Kedua, dia mengatakan bahwa mereka memuliakan Allah karena perubahan yang dia alami. Kerasulan dan Injil Paulus tidak sah karena mereka, tetapi tidak juga bertentangan. Hal itu diperjelas dalam 2:1–10, di mana mereka berunding dan bersepakat untuk satu Injil dengan pelayanan masing-masing.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita selayaknya tetap percaya pada Injil yang diberitakan Paulus, karena sumbernya adalah Yesus Kristus. Injil itu melebihi adat istiadat apapun karena memperjumpakan kita dengan Kristus, dan mampu menjangkau bahkan penganiaya seperti Paulus.

Makna

Untuk memberitakan perikop ini dengan jelas, kita perlu memikirkan di mana jemaat ditempatkan di dalamnya. Apakah jemaat ditempatkan bersama dengan Paulus yang dipanggil untuk memberitakan Injil? Usul itu tidak salah, tetapi tema itu lebih cocok untuk 1 Kor 9–10, misalnya. Di sini, kerasulan Paulus yang dipersoalkan, berkaitan dengan Injil apa yang dipercayai. Dalam Gal 2:19–21 Paulus menyampaikan pengalaman hidupnya sebagai contoh, tetapi untuk menjelaskan implikasi dari pembenaran oleh iman, bukan sebagai contoh penginjilan.

Kalau begitu, bagaimana dengan pertobatan Paulus dari agama Yahudi ke iman kepada Kristus? Hal itu jelas menyindir pengajar palsu yang menonjolkan Hukum Taurat, tetapi hal itu bukan masalah sekarang (kecuali kalau Adven atau saksi Jehovah kuat di suatu daerah?). Dalam tradisi Reformasi, Hukum Taurat dijadikan simbol dari usaha manusia untuk menyelamatkan diri. Hal itu benar, tetapi saya mau menawarkan tafsiran yang melengkapi pemahaman itu.

Saya beranjak dari bahasa Paulus yang merelatifkan kepercayaan lamanya sebagai suatu -isme (Yunani: Yudaismos) yang merupakan ‘adat istiadat’ atau tradisi yang diwariskan turun-temurun (Yunani: paradosis). Dalam argumentasi teologisnya, dia menerima bahwa Hukum Taurat berasal dari Allah, tetapi dia menganggap janji kepada Abraham yang digenapi dalam Kristus itu lebih mendasar, sehingga Taurat hanya berlaku sampai iman kepada Kristus (3:15–25). Namun, dalam 4:3, 5, 8–9, dia menyamakan Taurat itu dengan kepercayaan kafir jemaat Galatia sebagai “roh-roh dunia” (4:3, 9) yang memperhamba (bdk. “takluk” 4:3). Menanggung Hukum Taurat adalah kembali ke perhambaan yang lama, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Jadi, Hukum Taurat bisa juga dilihat sebagai simbol adat istiadat yang memperhamba. Dalam konteks kita, “Injil yang lain” adalah berkat melalui adat dan pemali, dengan upacara mati sebagai harapan eskatologis. Perhatikan bahwa Paulus menggambarkan Injil sebagai janji berkat, berdasarkan Kej 12:3, yang digenapi dalam pemberian Roh Kudus karena percaya kepada Kristus (Gal 3:8, 14). Pertanyaan tentang Injil mana yang mau dipercaya dapat juga diajukan sebagai pertanyaan tentang tempat di mana berkat dicari.

Kalau begitu, Gal 1:11–12 mengatakan bahwa hanya ada satu sumber berkat sejati, yaitu Kristus. Aa.13–17 menunjukkan bagaiman bahkan adat yang diberikan Allah tidak membawa berkat itu. Aa.18–24 menunjukkan bahwa berjumpa dengan Yesus tidak bergantung pada lembaga gereja, tetapi lembaga gereja yang sejati akan memuliakan Allah setiap kali ada kehidupan yang dijamah Kristus (24). Injil itu dijamin oleh Paulus yang dipilih Allah untuk menjadi baik teladan anugerah maupun pemberita dari anugerah itu.

Dipublikasi di Galatia | Tag , , | Meninggalkan komentar

Lukas 7:1-10 “Kuasa Yesus yang layak diimani” [29 Mei 2016]

Penggalian Teks

Perikop ini terjadi setelah khotbah Yesus di dataran, yang isinya mirip dengan Khotbah di Bukit dari Matius 5–7. (Keduanya barangkali merupakan ringkasan dari ajaran Yesus yang disampaikan berulang kali.) Setelah perikop ini, identitas Yesus menjadi tema penceritaan Lukas: kebangkitan anak muda di Nain menimbulkan laporan bahwa Yesus adalah nabi besar (7:16), dan Yohanes Pembaptis bertanya apakah Yesus adalah Mesias (7:19). Tetapi perikop kita menyoroti iman. Jika khotbah Yesus berakhir dengan seruan untuk menjadikan perkataan-Nya sebagai dasar hidup (6:47–49), perikop ini menyampaikan satu aspek dari iman yang demikian.

Aa.1–2 meletakkan dasar untuk cerita ini: Yesus telah datang ke Kapernaum, tempat perwira dengan hamba favoritnya yang sakit keras. Berdasarkan wacana yang mungkin muncul karena Yesus telah datang, perwira itu mengambil inisiatif untuk memanggil Yesus dengan perantaraan tua-tua Yahudi. Jelas bahwa kedua pihak itu dekat, dan tua-tua yang pernah ditolong senang untuk bisa menolong si perwira itu, dan mereka menyampaikan kelayakan perwira itu (3–5). Yesus menerima panggilan itu, tetapi sebelum Dia sampai pada rumahnya, ada perantara lagi menemui-Nya, kali ini sahabat-sahabat perwira (a.6a; tidak jelas apakah mereka adalah orang asing seperti perwira, atau orang Israel). Mereka membawa pesan dengan dua unsur. Yang pertama, perwira tidak merasa layak untuk berjumpa dengan Yesus; perhatikan bahwa ini berbeda dengan penilaian tua-tua Yahudi. Yang kedua, perwira menilai kemampuan Yesus untuk menyembuhkan sama seperti otoritas seorang perwira atas bawahannya (7b–8). Bagi perwira itu, Yesus tidak bergumul dengan penyakit sebagai lawan yang seimbang, tetapi Dia berhak untuk menyuruh penyakit itu keluar. Makanya, Yesus tidak harus hadir untuk melakukan ritus penyembuhan untuk membujuk penyakit keluar; cukup Yesus mengatakan sepatah kata. Ternyata pemahaman itu pas. Yesus malah heran bahwa perwira itu memiliki pemahaman itu, dan mengangkatnya sebagai contoh iman yang baik untuk orang banyak (9). Pada saat yang sama, Dia menyembuhkan hamba itu.

Cerita ini mulai dengan hamba yang sakit, dan berakhir dengan hamba yang sembuh. Yang berperan dalam perubahan itu ialah iman perwira. Iman itu dilihat secara umum ketika dia memanggil Yesus, tetapi ciri khasnya dilihat ketika dia menolak kelayakannya sendiri, dan menjunjung tinggi kelayakan Yesus untuk menyembuhkan hambanya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yang mendapat pujian Yesus ialah iman yang melihat Yesus di atas masalah-masalah kita, bukan perbuatan baik. Yesus menyembuhkan berdasarkan iman itu, bukan berdasarkan kelayakan. Perikop ini mendorong kita untuk melupakan kelayakan-kelayakan yang mungkin saja ada pada diri kita, dan mengandalkan kuasa Yesus yang mutlak. Untuk itu, kita perlu merenungkan kuasa Yesus, dan berdoa berdasarkan pemahaman itu.

Makna

Iman seperti perwira itu mengherankan karena dalam Kitab Suci orang Israel, Allah menciptakan dunia dengan sepatah dua kata, sementara dalam mitos-mitos orang kafir seperti si perwira, dewa-dewi bergumul dan berjuang untuk mengalahkan kuasa-kuasa yang lain. Cara Allah menciptakan dunia yang teratur dari yang tak berbentuk dan kosong adalah juga cara Yesus menyembuhkan orang. Oleh karena itu, Yesus tidak perlu ritus yang dramatis atau doa yang berapi-api untuk mengalahkan kuasa-kuasa gelap; sepatah kata saja sudah cukup. Para dukun berusaha untuk mempengaruhi kuasa-kuasa yang lebih kuat dari diri mereka; Yesus mengusir penyakit sebagai bawahan saja. Hal itu berarti bahwa jika kita berdoa untuk penyembuhan tetapi hal itu tidak terjadi, kita harus menerimanya sebagai kehendak Allah, bukan sebagai kelemahan dalam cara atau sikap kita berdoa. Iman perwira adalah keyakinan akan kuasa Yesus, bukan pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan Yesus.

Dalam kisah selanjutnya, memulihkan dosa tidak semudah memulihkan penyakit. Yesus harus masuk ke tengah kejahatan manusia yang berkedok kehormatan sebagai agama dan negara supaya Dia bisa membawa manusia berdosa keluar dalam kebangkitan-Nya. Namun, hal itu telah Dia lakukan, sehingga pengampunan pun ada di tangan-Nya; cukup kita minta dengan iman. Tentu, kesadaran tentang ketidaklayakan kita makin penting; memohon pengampunan sambil menganggap diri orang yang layak adalah sangat rancu. Perhatikan bagaimana iman perwira itu bukan sikap sok alim: dia mencegah Yesus masuk ke dalam rumah karena dia yakin Yesus memiliki kuasa itu dan bahwa dia tidak layak.

Iman si perwira itu muncul ketika dia mendengar tentang Yesus, dan rasa tidak layaknya muncul, saya duga, ketika dia menangkap otoritas Yesus yang begitu tinggi atas penyakit, bukan karena sopan santun atau rasa tidak enak. Otoritas Yesus tidak dibatasi pada penyakit saja. Dia berkuasa untuk memanggil manusia, mengampuni dosa, memperbanyak makanan, menafsir Taurat Allah, dan menghardik taufan, setan, dan penguasa agama dan negara (bdk. Allah dalam Mazmur 96). Akhirnya, Dia berkuasa bahkan atas maut, sehingga Dia dapat “melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (Gal 1:4). Layakkah kita di hadapan Yesus ini? Tentu, tidak. Layakkah Dia kita imani? Kalau kita siap mendengarkan Injil tentang Yesus dengan baik, iman tidak harus dibuat-buat lagi.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | 1 Komentar

Amsal 8:1-13 “Hikmat Membuat Teguh dalam Kebenaran” [22 Mei 2016]

Penggalian Teks

Amsal 8 melanjutkan wacana hikmat sebagai saudara perempuan. Dalam 7:5 dst, lawan dari hikmat ibarat perempuan yang jalang dan asing yang menyesatkan. Pasal 8 menyampaikan seruan hikmat (aa.1, 4–5, 32–36) di tempat-tempat yang ramai (aa.2–3) dengan menyampaikan ciri-ciri hikmat (8:6–31). Aa.6–13 menyampaikan bagaimana semua yang baik didapatkan di dalam hikmat; 8:14–21 menyampaikan berbagai keuntungan dari hikmat (termasuk untuk penguasa dalam bidang politik, 8:15–16); 8:22–31 menyampaikan bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan hikmat, dan 8:32–36 menutup penyampaian hikmat dengan seruan untuk mendengarkan hikmat supaya hidup. Intisari dari p.8 ini terdapat dalam bagian tentang penciptaan: karena dunia diciptakan dengan hikmat maka hikmat mencakup semua yang baik, membawa keuntungan, dan membawa hidup.

Dalam aa.4–5, hikmat berseru kepada manusia yang tak berpengalaman sehingga kurang cerdas, dan kepada manusia yang bebal sehingga kurang mengerti. Aa.1–3 mengandaikan bahwa banyak manusia berada dalam kondisi yang buruk itu, sehingga hikmat mencari tempat-tempat yang ramai untuk menyampaikan seruannya. Dalam sisa perikop ini, ada dua bagian yang ditunjuk oleh perintah dengan alasan: aa.6–9 (“dengarlah”), dan aa.10–13 (“terimalah”).

Aa.6 menjanjikan mutu dari perkataan hikmat sebagai alasan pertama untuk mendengar seruan hikmat. A.7 dan a.8 menyampaikan dua perbandingan: hikmat ada pada pihak yang benar (sesuai dengan kenyataan) dan adil (sesuai dengan tatanan sosial yang baik), lawan dari yang fasik, belat-belit, dan serong, yaitu cara-cara yang menipu dan menindas sesama. Bagi yang sudah cerdas dan tahu, hal-hal itu jelas (a.9). Hikmat menawarkan kemampuan untuk hidup dengan “tepat” (a.6b).

Oleh karena itu, seruan berikutnya adalah untuk menerima (atau mengambil) didikan dan pengetahuan yang ditawarkan hikmat itu di atas perak dan emas (10). Alasannya karena hikmat lebih berharga daripada semua hal yang biasanya dianggap berharga oleh manusia (11). Hal itu dilihat karena hikmat adalah satu paket dengan kecerdasan, sehingga pengetahuan dan kebijaksanaan (kemampuan untuk menggunakan pengetahuan itu) ikut serta (12). A.13 mengangkat kembali perbandingan dengan menegaskan bahwa hikmat searah dengan takut akan Tuhan, lawan dari kesombongan, kejahatan, dan kelicikan, yaitu hati yang menganggap diri paling penting sehingga bertindak dan berkata hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dengan penuh hasrat, hikmat mencari-cari orang yang kurang cerdas dan kurang mengerti, supaya mereka menjadi orang yang teguh dalam kebenaran yang berkata jujur dan bertindak dengan tepat. Kita diajak untuk mendengarkan hikmat dan mengejar didikannya supaya kita tidak mudah diseret oleh tipu muslihat kefasikan.

Makna

Hikmat kita adalah Kristus, yang mengajar kita tentang kasih Allah sehingga kita bertumbuh bahkan dalam kesengsaraan (Rom 5:1–11). Kita belajar hikmat di dalam Kristus oleh karena Roh Kudus yang akan memberitakan kepada kita apa yang diterima dari Kristus (Yoh 16:14; Rom 5:5). Hikmat Kristus itu jelas bertentangan dengan kefasikan, kesombongan, dan tipu muslihat. Hikmat itu yang akan memulihkan citra Allah di dalam manusia yang dirusak oleh dosa (bdk. Mazmur 8). Perikop ini adalah bagian dari pengantar untuk kitab Amsal sebagai kumpulan hikmat, tetapi seluruh Alkitab menjadi sumber hikmat dalam berbagai bentuk.

Di dalam jemaat, tidak banyak orang menganggap diri bodoh, tetapi ada yang siap berlaku fasik, sombong, dan berdusta. Lebih banyak tidak berniat buruk, tetapi mereka mudah diseret oleh orang fasik yang terpandang sehingga kehilangan integritasnya. Sebagian lagi menjaga integritas secara pribadi, tetapi belum memiliki kecerdasan yang cukup untuk berpengaruh positif dalam konteks kantor atau masyarakat yang rumit. Perikop ini tidak menawarkan solusi praktis untuk hal-hal itu, tetapi memberitahu kita bahwa di dalam firmah Allah cara hidup seperti Kristus dapat dipelajari.

Dipublikasi di Amsal | Tag | Meninggalkan komentar

Yohanes 14:15-26 Roh Kudus membawa Hadirat Allah [15 Mei 2016]

Penggalian Teks

Setelah pembasuhan kaki, Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi (13:33). Setelah Petrus menyatakan keinginannya untuk mengikuti Yesus, Yesus mulai menguatkan murid-murid-Nya dengan penjelasan tentang makna dari kepergian-Nya. Dia menyuruh mereka untuk jangan gelisah tetapi percaya (14:1). Kemudian, Dia menjelaskan ke mana Dia akan pergi (rumah Bapa-Nya), dan bahwa dengan demikian Dia akan menjadi perantara doa mereka supaya mereka dapat melanjutkan misi-Nya di bumi (14:11–14). Bagian itu menegaskan bahwa di dalam diri Yesus, murid-murid berjumpa dengan Allah Bapa (14:8–10). Dalam aa.18–20, hal itu akan menjadi jelas bagi murid-murid Yesus ketika mereka berjumpa dengan Dia setelah Dia bangkit. Tetapi apa gunanya mereka berjumpa dengan Allah di dalam diri Yesus kalau mereka tidak berjumpa lagi dengan Yesus?

Dalam perikop kita, pemberian Roh Kudus menjawab kegelisahan itu. Sama seperti Yesus dikenal oleh murid-murid yang mengasihi-Nya, Roh Kudus akan diberikan bukan kepada dunia yang membenci Yesus, melainkan kepada murid-murid Yesus untuk menggantikan Yesus. Dengan demikian, persekutuan Yesus dengan Bapa-Nya (14:8–10 tadi) diperluas untuk mencakup murid-murid-Nya (Yesus dalam a.20b, Yesus dan Bapa dalam a.23b). Sama seperti Yesus, Roh Kudus akan menguatkan mereka (“Penolong” a.15 dan “Penghibur” a.26 menerjemahkan parakletos yang berarti pendamping, misalnya dalam pengadilan). Dia juga akan melanjutkan pelayanan Pengajaran oleh Yesus dengan mengingatkan mereka tentang ajaran Yesus (24–25). Oleh karena itu, Yesus menawarkan damai sejahtera ganti kegelisahan (14:27): persekutuan mereka dengan Allah yang mereka alami selama itu dengan Yesus akan menjadi lebih kaya dengan adanya Roh Kudus sebagai Penolong abadi. Damai sejahtera itu akan membantu mereka bersukacita bersama dengan Yesus bahwa Dia pulang ke Bapa-Nya (16:28).

Tiga kali Yesus mengaitkan kasih kepada-Nya dengan ketaatan: “memelihara perintah-perintah-Ku” (15), “memegang perintah-perintah-Ku dan memeliharanya” (21), dan “memelihara firman-Ku” (23). Wujud kasih tergantung pada apa yang dikasihi: mengasihi anak berbeda dengan mengasihi orang tua dalam berbagai aspek. Mengasihi Yesus dengan sejati harus menghitung bahwa Dia adalah Tuhan (Tuan) dan Guru (13:13). Jadi, kita hanya bisa mengasihi Yesus jika kita menempatkan diri sebagai hamba dan murid. Allah Bapa dan Yesus hanya bisa hadir dalam hati melalui Roh Kudus jika hati siap menerima Yesus sebagai Tuan dan Guru. Perintah yang baru saja disampaikan Yesus ialah untuk saling mengasihi dengan cara Yesus mengasihi kita (13:31–35), yaitu dengan kerendahan seperti ketika Yesus membasuh kaki.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Roh Kudus akan membawa hadirat Allah di dalam Yesus Kristus kepada kita yang mengasihi-Nya. Kita diajak untuk percaya kepada janji itu, sehingga kita mendapat kekuatan, belajar dari firman Yesus, dan hidup sebagai Bait Allah yang kudus.

Makna

Bahwa Allah diam di dalam kita melalui Roh Kudus berarti bahwa kita adalah Bait Allah. Hal itu menegaskan pentingnya taat: meremehkan perintah Yesus membuat kita tidak cocok untuk Allah hadir. Tentu, yang dimaksud dengan ketaatan di sini bukan kesempurnaan, melainkan kasih kepada Yesus. Kita mencintai cara Yesus hidup sebagai manusia dan kita peduli akan “apa kata Yesus”, bukan “apa kata orang”, yaitu pandangan dunia. Dalam bahasa Paulus, kita membiarkan diri dipimpin oleh Roh sehingga berbagi dalam kemuliaan Kristus (Rom 8:14–17). Dipimpin oleh Roh berarti memihak keinginan dari Roh (8:7) sehingga mematikan perbuatan yang berasal dari daging (8:13). Jika Yesus dalam perikop kita melihat Roh melawan dunia, Paulus melihat Roh melawan daging. (Kisah menara Babel bisa dilihat sebagai contoh dunia yang melawan Allah itu.)

Secara paling sederhana, janji Roh itu berarti bahwa di dalam pergumulan dan pencobaan, saya menyadari bahwa ada kuasa ilahi yang menolong saya. Kemudian, saya menyadari bahwa Yesus itu dekat, bahwa tuntunan yang dialami murid-murid Yesus juga ditawarkan kepada saya dengan Roh Kudus. Kemudian, saya menyadari bahwa hadirat ilahi itu bertentangan dengan pilihan untuk berdosa. Kuasa ilahi itu akan membantu saya untuk makin rindu hidup seperti yang diperintahkan Yesus. Adalah penting diingat bahwa ini merupakan janji. Roh Kudus hadir bagi semua orang beriman, yang mengasihi Yesus walau dengan tidak sempurna. Jadi, bukan kita mengukur adanya Roh Kudus dengan perasaan kita, tetapi kita percaya akan janji Yesus sebagai dasar untuk menikmati kehadiran Roh Kudus. Kita percaya akan janji Yesus karena kita percaya pada kesaksian murid-murid yang berjumpa dengan Yesus setelah Dia bangkit.

Dipublikasi di Yohanes | Tag , , | Meninggalkan komentar