Kol 1:15-23 Dasar Iman ialah Kristus yang Utama [20 Nov 2016]

Penggalian Teks

Dalam suratnya kepada orang-orang percaya di Kolose, Paulus mau supaya mereka berakar di dalam dan dibangun di atas Kristus (2:7). Seruan itu hanya masuk akal kalau Kristus memang layak menjadi dasar. Perikop kita adalah awal dan dasar dari penguraian yang menyampaikan siapa dan bagaimana Kristus itu. Sebelum perikop kita, doa dan syukur Paulus berakhir dengan syukur kepada Allah yang memindahkan kita dari kuasa kegelapan ke dalam Kerajaan Kristus, sama seperti Dia membawa Israel keluar dari perbudakan ke dalam Kerajaan Israel. Perikop kita menjelaskan bagaimana hal itu terjadi. Aa.15–20 merupakan puisi (syair dari himne?) yang menunjukkan bahwa Kristus adalah Anak Sulung atas ciptaan lama, dan Anak Sulung atas ciptaan baru. Kata “sulung” merujuk pada otoritas anak pertama, seperti dikatakan tentang raja Israel (Mzm 89:28). Puisi ini kaya dengan makna — uraian di sini hanya mencicipinya. Aa.21–23 menjelaskan bagaimana orang percaya di Kolose telah menjadi bagian dari ciptaan baru itu.

A.15 mulai dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Tentu, yang tidak kelihatan ialah Allah, dan Kristus menjadi gambar-Nya. Manusia diciptakan untuk menjadi gambar Allah bagi ciptaan-Nya dengan mandat untuk mengolah ciptaan yang masih mentah itu sesuai dengan kehendak Allah (Kej 1:27). Itulah gambar Allah yang terbatas. Kristus menjadi gambar Allah yang penuh dan utuh, karena Dia tidak hanya mengolah ciptaan tetapi menjadi sarana penjadiannya (16). Menciptakan adalah hak istimewa Allah, sehingga Kristus tergolong dengan Allah (tetapi dibedakan dari Allah Bapa, lihat 1:3b). Dengan menjadi bagian dari Kerajaan Kristus (1:13), kita menjadi bagian dari Kerajaan Allah sendiri. Kemudian, sebagai sarana penciptaan, segala hikmat dan pengetahuan terdapat dalam Dia (2:4; bdk. Ams 8:22 dst). Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu, termasuk kuasa-kuasa rohani/gaib dalam a.16b, adalah hasil karya Kristus dalam menciptakan, sehingga jelas Dia ada di atas semuanya.

Aa.17–18a merupakan peralihan (penggolongan a.18a dengan a.17 lebih jelas dalam bahasa aslinya). A.17a meringkas aa.15–16: Kristus mendahului segala sesuatu. A.17b menyatakan bahwa karya penciptaan itu tidak berhenti: sekarang segala sesuatu tetap berada karena Dia. Kalimat pertama a.18 mengantar bagian berikutnya yang menyangkut jemaat sebagai wadah penciptaan baru: Kristus adalah kepalanya. Dia adalah kunci dari asal usul, kesementaraan, dan masa depan ciptaan.

Aa.18b–20 mengikuti alur yang mirip dengan aa.15–16. Kristus adalah yang pertama, sulung dari antara orang mati (mengikuti urutan aslinya; kata “bangkit” ditambahkan LAI untuk memperjelas maksudnya). Dengan menyebut adanya “orang mati”, Paulus menyinggung masalah penciptaan pertama: adanya dosa dan maut. Dengan menjadi yang pertama-tama dibangkitkan, Kristus menjadi yang utama dalam rencana Allah untuk pembaruan segala sesuatu, sama seperti Dia menjadi yang utama dalam penciptaan sebagai gambar Allah. Aa.19–20 menguraikan peran Kristus ini (“Karena”). Walaupun Kristus menjadi manusia, Allah berdiam sepenuhnya di dalam-Nya (a.19; perhatikan bagaimana Kristus adalah Allah tetapi dibedakan dari Allah Bapa). Sebagai Allah sejati dan manusia sejati, Dia menjadi sarana pendamaian. Sama seperti Allah menciptakan segala sesuatu melalui-Nya, Allah memperdamaikan segala sesuatu melalui-Nya (20). Caranya ialah salib yang mencucurkan darah Kristus; yang terjangkau bahkan kuasa-kuasa rohani/gaib. Entah kuasa-kuasa itu berubah menjadi baik, atau ditaklukkan (seperti dalam Kol 2:15), intinya bahwa mereka dijinakkan di dalam Kristus.

Aa.21–23 menjelaskan bagaimana kita sebagai manusia berbagi dalam karya pendamaian itu. Paulus menegaskan bagaimana perbuatan jahat manusia adalah buah atau gejala dari permusuhan terhadap Allah (21), sehingga pendamaian yang diadakan dalam kematian Kristus itu diperlukan (22a). Dengan memulihkan hati/pikiran sehingga kita tidak lagi memusuhi Allah, Allah bermaksud untuk membuat kita menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Nya (“kudus”, “tak bercela”, dan “tak bercacat” biasa dipakai untuk persembahan). Ternyata inti dari sikap yang dipulihkan itu disebut “iman”. Iman itu percaya pada pendamaian di dalam Kristus sehingga mengasihi Allah dan sesama dan menantikan apa yang diamankan di surga untuk dinyatakan kelak (1:3; 3:3–4). Dengan uraian di dalam aa.15–22, seruan dalam a.23a untuk tetap teguh dalam iman itu sudah sangat kuat. Keutamaan Kristus juga menjadi dasar untuk pelayanan Paulus yang menjadi topik berikutnya (a.23b).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dasar dan motivasi iman yang teguh ialah Yesus Kristus yang utama dalam penciptaan dan penciptaan baru, dan menjadi sarana pendamaian dengan Allah.

Makna

Bagaimana caranya menguatkan iman jemaat? Dengan teguran berapi-api untuk beriman? Dengan iming-imingan bahwa iman adalah kunci hidup yang sukses, iman adalah cara menjadi kuat dalam pergumulan? Padahal, iman adalah sifat dan sikap manusia, dan hanya berguna sejauh mana apa yang diimani itu berguna.

Bagaimana kalau kita menguatkan iman jemaat (dan kita) dengan menjunjung tinggi Kristus yang diimani? Paling sedikit, itulah strategi Paulus di sini. Beriman, berakar, dsb, tidak ada gunanya kecuali yang diimani itu kuat dan bermaksud baik bagi kita. Paulus memberitakan bahwa kuasa Kristus ada di atas segalanya, dan bahwa di dalam-Nya ada pendamaian yang sungguh-sungguh dengan Allah. Di dalam darah Kristus, kita melihat Allah yang sejati, sehingga kita ditarik keluar dari permusuhan kita dengan Allah. (Soal penghapusan dosa muncul kemudian pada 2:14–15.) Pada setiap poin dalam penguraian tadi, kita dapat menjelaskannya dan kemudian mengajak jemaat untuk mengimani aspek itu dari pribadi dan karya Kristus. Adakah jemaat yang percaya pada kuasa gaib, gerakan politik, uang, atau bentuk kuasa yang lain (bdk. a.16b, a.20a)? Adakah jemaat yang cemas dengan kondisi dunia/gereja, sehingga mundur dari keterlibatan (bdk. a.18a). Adakah jemaat yang menganggap dirinya penting di dalam jemaat (bdk. a.18a)? Adakah jemaat yang mengandalkan amalnya sendiri (bdk. aa.20, 22)? Adakah jemaat yang patuh kepada sebagian norma kristiani tetapi dalam hati kesal terhadap Allah karena dianggap mengurangi kesenangannya (bdk. a.21)?

Dipublikasi di Kolose | Tag , | Meninggalkan komentar

Yesaya 65:17-25 “Bertobat dalam pengharapan” [13 Nov 2016]

Penggalian Teks

Yesaya 64 merupakan doa nabi kepada Allah untuk umat-Nya, yang dibalas dalam Yes 65:1–16 bahwa Israel yang tidak mau mendengar, tetapi bahwa Allah akan menyelamatkan “hamba-hamba-Ku” tetapi membinasakan para pemberhala. Perikop kita adalah gambaran tentang berkat yang akan dialami hamba-hamba itu (65:16). Gambaran itu disampaikan sesuai dengan tingkat penyataan Allah pada zaman itu, dan menjadi lebih mulia ketika diambil dalam Wahyu 21 dalam terang karya Yesus.

Janji akan langit dan bumi yang baru belum tentu berarti bahwa jagad raya akan lenyap dan dibuat dari nol kembali; bahawa tentang alam semesta sering dipakai untuk berbicara tentang kondisi manusia. Yang jelas dijanjikan ialah kondisi manusia yang sepenuhnya baru, sehingga kondisi Israel yang tidak hanya susah tetapi juga cemar dan memalukan itu tidak akan diingat lagi (17). Kondisi baru akan disertai dengan kegirangan dari penduduk Yerusalem (18), bahkan dari Allah sendiri (19a).

Aa.19b–25 merincikan kondisi itu. Pertama, duka tidak ada lagi, karena setiap orang mencapai tujuan hidupnya (19b–23). Hal itu dilihat dalam dua aspek: tidak ada mati muda, entah sebagai bayi (sangat sering pada zaman itu) entah sebagai masih muda; malahan umur biasa akan seperti pohon. Kemudian, tidak ada “bersusah-susah dengan percuma”, sebagaimana digambarkan dalam a.21. Ayat itu membalikkan pengalaman perang dan pembuangan di mana rumah dan kebun yang dikerjakan menjadi milik orang lain. Kedua aspek itu disimpulkan dalam “umur suntuk”, atau dalam bahasa aslinya, “hari-harinya penuh”. Kepenuhan itu bukan saja soal kuantitas tetapi juga kualitas: setiap orang akan mencapai semua hal yang semestinya dari kehidupan yang sejati. Hal itu terjadi sebagai umat penerima berkat Tuhan.

Kedua, kondisi baru itu dilihat dalam jarak yang hilang antara Allah dan manusia dalam soal permohonan. Ketiga, bahkan dunia binatang akan mencerminkan kondisi damai yang berlaku “di segenap gunung-Ku yang kudus”. Gambaran itu menjadi dasar untuk seruan untuk bertobat dalam p.66 (66:22).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Perikop ini menyampaikan alasan untuk bertobat dan bertekun dalam pengharapan, pengharapan bahwa setia kepada Tuhan tidaklah sia-sia. Hidup yang kudus adalah masa depan manusia dalam langit dan bumi yang baru. Perikop ini juga memberitahu kita bahwa maksud Tuhan bagi kehidupan adalah bekerja dan menikmati hasilnya, entah dalam bentuk rumah, kebun, ataupun anak-cucu.

Makna

Pada zaman Yesus, ajaran dalam Dan 12:1–3 tentang kebangkitan ke dalam hidup yang kekal sudah menjadi umum dipercaya antara orang-orang Yahudi. Ajaran Yesus bahwa tidak ada pernikahan di dalamnya adalah kesimpulan yang masuk akal, mengingat bahwa perintah untuk memenuhi bumi barangkali sudah digenapi dalam dunia baru. Wahyu 21 mengutip soal langit dan bumi yang baru (21:1), serta tiadanya tangisan lagi (21:4). Janjinya tentang gunung Allah yang kudus, yakni Sion yang diatasnya ada Bait Allah (Yes 65:25), ditingkatkan menjadi visi Yerusalem yang baru dan bebas kecemaran (Why 21:2, 8, 27).

Yang tidak ada dalam Wahyu 21 ialah perbaikan sebab-akibat, yaitu, jaminan bahwa pekerjaan (mendirikan rumah/kebun) akan berhasil dan dinikmati. Perumpamaan seperti perumpamaan tentang talenta memberi petunjuk bahwa tetap akan ada tugas di dalam dunia baru (Mat 25:21, 23), tetapi fokus kitab Wahyu ialah istirahat setelah kesetiaan sampai mati. PB menegaskan bahwa dunia sekarang tidak demikian (Rom 8:18–25), tetapi Yesus berjanji bahwa hasil pekerjaan bagi Kerajaan Allah itu aman di surga (Mat 6:20), dan bagi Paulus, janji kebangkitan adalah jaminan bahwa pekerjaan kita bagi Tuhan tidaklah sia-sia. Pengharapan itu tidak merongrong etos kerja yang baik (2 Tes 3:6).

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Hagai 2:1b-10 Allah Memberi Harapan Dan Kepastian [6 Nov 2016]

Penggalian Teks

Kitab Hagai memuat beberapa nubuatan dari nabi Hagai kepada orang-orang Israel yang sudah kembali dari Babel dan tinggal di Yerusalem. Rombongan pertama pulang di bawah pemerintahan Koresy, raja pertama Persia sebagai kekaisaran, kurang lebih 538 SM (Ezra 1). Mereka bisa menetap di Yehuda, sebuah wilayah administratif seperti kabupaten, tetapi tidak mampu menyelesaikan Bait Allah. Hampir dua puluh tahun kemudian, pada tahun 521 SM, Darius menjadi raja ketiga kekaisaran Persia. Melalui nabi Hagai dan nabi Zakharia, Allah menggerakkan bupati Zerubabel dan imam besar Yosua untuk melanjutkan pembangunan Bait Allah itu (Hagai 1; bdk. Ezra 5:1). Akhirnya, mereka berhasil (Ezra 6).

Perikop kita adalah nubuatan kedua, satu bulan setelah bangsa mulai bekerja (bdk. 2:1a dan 2:2). Kembali, bupati dan imam besar yang dialamatkan, tetapi juga “selebihnya dari bangsa itu” (3). Kata “selebihnya” dapat juga diterjemahkan “sisa”, yaitu sisa dari Israel sebagai bangsa yang besar. Dalam a.4, ada sisa lagi (LAI “adakah”!) orang yang tua yang pernah melihat Bait Allah yang pertama yang hancur 66/67 tahun sebelumnya. Bait Allah yang pertama dibangun pada masa kejayaan Salomo dan mungkin saja dikembangkan selanjutnya, sementara yang dibangun di Yehuda sederhana saja. Bait Allah baru mencerminkan kondisi mereka sebagai sisa bangsa saja.

Kemudian Allah menyampaikan penguatan bagi bupati, imam besar, bahkan “segala rakyat negeri” (’am ha’arets) — suatu sebutan seakan-akan mereka sudah menjadi bangsa yang utuh lagi. Ada tiga perintah, “kuatkanlah hatimu”, “bekerjalah”, dan “janganlah takut”. Perintah untuk bekerja tidak ada gunanya kalau hati masih lemah dan takut. Ada beberapa alasan untuk kuat dan tidak takut yang disampaikan. Allah adalah Allah yang berkuasa (Tuhan semesta alam); Dia tetap setia pada janji yang diikat ketika Israel keluar dari Mesir; dan Roh-Nya ada di tengah mereka, paling sedikit dalam kedua nabi yang mendorong pekerjaan itu, tetapi mungkin juga dalam orang-orang yang bekerja sesuai dengan keterampilan mereka (bdk. Kel 31:3).

Firman berikutnya merupakan janji eskatologis (7–10). Allah berjanji bahwa Dia akan menggoncangkan seluruh ciptaan-Nya (7). Seperti biasa, bahasa alam semesta itu merujuk pada gejolak dalam bangsa-bangsa. Melalui penggoncangan, barang indah yang melengket pada bangsa-bangsa akan lepas, dan Allah akan menggunakannya untuk membuat Bait-Nya mega (8). Bait Allah Salomo juga memakai barang-barang indah dari bangsa-bangsa di sekitarnya, tetapi bangsa Yehuda tidak memiliki kuasa dan pengaruh seperti Salomo. Jadi, selaku Pencipta segala sesuatu (9), Allah akan mengatur supaya kemegahan Bait Allah baru bahkan melebihi yang lama itu (10). Lebih lagi, Bait itu akan menjadi saluran damai sejahtera, termasuk berkat yang akan mengalir begitu mereka mulai pembangunan itu (2:20).

Walaupun dikatakan “sedikit waktu lagi”, kitab Ezra dan Nehemia menunjukkan bahwa damai sejahtera tidak menjadi milik orang-orang Yehuda seterusnya, dan juga bahwa janji di akhir kitab Hagai, bahwa Zerubabel itu seperti “cincin meterai” yang dipilih Allah, tidak digenapi dalam Zerubabel sendiri. Makanya, janji-janji itu menjadi bagian dari pengharapan eskatologis yang menantikan tindakan Allah untuk mendatangkan zaman baru. Menurut Paulus, semua janji Allah itu diiyakan dalam Yesus Kristus (2 Kor 1:20). Hal itu diuraikan di bawah.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah akan membuat Bait-Nya lebih megah lagi dengan menggoncangkan bangsa-bangsa dan membawa kekayaan mereka ke dalamnya. Hal itu telah Dia lakukan di dalam Kristus, dan sedang Dia lakukan di dalam tubuh Kristus. Kita semestinya membanggakan pertemuan-pertemuan kita sebagai jemaat, yang di dalamnya semua kekayaan bangsa-bangsa terdapat.

Makna

Bait Allah bukan sejajar dengan gedung gereja dalam PB. Tidak ada gedung gereja di PB. Bait Allah adalah Yesus Kristus (Yoh 2:21) dan tubuh-Nya, yakni jemaat (1 Kor 3:16). Jadi, pembangunan Bait Allah dalam Hagai sudah digenapi ketika Kristus bangkit (Yoh 2:19), dan sedang berproses dalam pembangunan jemaat (1 Kor 3:9–10; Ef 2:20–22 serta 4:11–15), yakni, penginjilan ke luar dan ke dalam, menanam dan menyiram seperti Paulus dan Apolos. Pembangunan jemaat yang dibutuhkan di setiap tempat mungkin berbeda-beda, tetapi jelas ada yang beratnya dan pentingnya tidak jauh beda dari tantangan yang dihadapi Israel pada saat itu.

Termasuk di dalamnya ialah bahwa Yesus yang disalibkan itu tidak semarak seperti gedung Bait Allah. Jemaat-jemaat yang berkumpul di rumah-rumah pada zaman Paulus juga tidak ada kesemarakan ketimbang kuil-kuil di kota-kota Yunani. Yang ada ialah Roh Kudus yang hadir di tengah jemaat (1 Kor 3:16). Satu aspek dari kedewasaan iman ialah kekaguman atas hadirat Roh itu meskipun gedung dan persekutuan tidak apa-apa.

Menarik bahwa janji-janji dalam Hag 2:7–10 diangkat secara eksplisit dalam PB. Ibr 12:26 mengutip Hag 2:7a untuk mengatakan bahwa Allah akan menyaring semua yang fana supaya tinggal kerajaan Allah yang tetap. Hal itu diceritakan dalam Why 20:11–21:2, di mana dunia lama “lenyap”, dan Yerusalem baru turun ke atas bumi yang baru. Namun demikian, dalam 21:24b–26 bangsa-bangsa membawa kekayaan mereka kepada Yerusalem baru itu. Sama seperti dalam kitab Hagai, Alkitab tidak berbicara tentang jagad raya secara fisik, tetapi tentang dunia manusia. Bangsa-bangsa akan dihukum (Why 20:12–15), tetapi semua yang baik di dalamnya akan menjadi bagian dari kemuliaan Allah dalam dunia baru.

Jika demikian, upaya untuk menggunakan kekayaan budaya dalam ibadah sekarang adalah tepat. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah penggoncangan pertama yang membuka Bait Allah bagi semua bangsa. Gereja yang berada di hampir semua budaya bumi membuat tubuh Kristus jauh lebih megah dari Bait Allah Israel dan semua gedung ibadah yang lain.

Dipublikasi di Hagai | Tag , | Meninggalkan komentar

Lukas 19:1-10 Wujud Nyata Keselamatan [30 Okt 2016]

Penggalian Teks

Dengan tiba di Yerikho (1), Yesus makin dekat Yerusalem, tempat Dia akan mati (18:31–34). Tujuan itu masih misteri bagi murid-murid-Nya, tetapi implikasinya dilihat dalam dua cerita mustahil berikutnya: ada orang buta yang melihat dan mengikuti Yesus (18:35–43), dan ada orang kaya yang berjumpa dengan Yesus dan dimampukan masuk ke dalam Kerajaan Allah (19:1–10; bdk. 18:24, “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah”).

Zakheus, orang kaya itu, adalah kepala pemungut cukai untuk daerah itu. Posisi itu ditender pemerintahan Romawi, dan pembayaran untuk mendapat posisi itu diganti dengan penambahan pajak semau pemungut cukai. Dia dianggap pengkhianat yang memeras masyarakat dengan bekerja sama dengan penjajah. Makanya, orang banyak tidak berminat memberinya kesempatan untuk melihat Yesus (2–3) sehingga dia memanjat pohon ara (4). Mengapa dia begitu bersemangat (“berlarilah ia”) untuk melihat Yesus tidak dijelaskan, dan hal itu berguna: setiap pembaca diberi ruang untuk menempatkan diri dengan Zakheus tetapi dengan motivasi masing-masing untuk berjumpa dengan Yesus.

Barangkali tindakan Zakheus itu menarik perhatian Yesus dan orang banyak, tetapi bahwa Yesus memilih tempatnya untuk istirahat adalah kejutan besar (5). Zakheus menerimanya dengan sukacita (a.6; kemungkinan besar maksudnya bahwa mereka pergi ke rumah Zakheus sebelum a.7), tetapi semua yang lain bingung bahwa Yesus memilih seorang berdosa (a.7; makan bersama di rumah Zakheus adalah tingkat pergaulan di atas bercakap-cakap saja). Kata “semua” menunjukkan bahwa reaksi ini bukan dari musuh Yesus seperti orang Farisi, yang keberatan secara prinsip dengan pergaulan Yesus. “Semua” itu termasuk orang-orang biasa yang sebagian barangkali pernah menjadi korban langsung pemerasannya. Mereka keberatan karena Yesus sepertinya memihak musuh mereka.

Perkataan Zakheus kepada Yesus juga menanggapi keluhan orang banyak (8). Kepada Yesus dia berjanji membagikan setengah dari kekayaannya kepada orang miskin, pertanda bahwa dia melepaskan uang sebagai tujuan hidup. Tetapi dia juga mengaku dosanya secara konkret di hadapan orang banyak, yaitu pemerasan, dan berjanji untuk mengganti rugi orang. Kelipatan empat menunjukkan bahwa Zakheus menganggap pemerasannya sebagai pencurian (bdk. 2 Sam 12:6; Kel 22:1; kalau tidak sengaja, ganti rugi di PL hanya penambahan seperlima, Im 5:16; Bil 5:7). Jadi, pertobatannya di hadapan Yesus tidak lepas dari kebutuhan untuk ganti rugi kepada sesama.

Yesus mengiyakan janji Zakheus dengan pernyataan bahwa keselamatan “terjadi” pada saat dan tempat itu (9). Kata “keselamatan” dipakai dalam nyanyian Zakharia untuk pemenuhan janji Allah bagi Israel (1:71) dan pengampunan dosa (1:77); kata “menyelematkan” dipakai untuk pemulihan tubuh (8:36) dan jiwa (6:9; 9:24), dan sering dikaitkan dengan iman (8:48; 17:19). Keselamatan yang eskatologis berwujud dalam pemulihan orang-orang sekarang; Zakheus menunjukkan pemulihan hati di hadapan Allah dan pemulihan relasi dengan sesama. Keputusan Zakheus menyangkut seisi rumahnya, sehingga mereka termasuk dalam perwujudan keselamatan ini, meskipun dari segi keuangan mereka akan rugi.

A.10 menjelaskan kejutan dari a.5: misi Yesus sebagai Anak Manusia (raja yang manusiawi ala Dan 7:13–14) ialah mencari orang-orang seperti Zakheus supaya keselamatan eskatologis berwujud dalam kehidupan mereka. Tentunya, misi Yesus ini adalah misi Allah (Lukas 15).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Cerita ini menyampaikan bentuk pertobatan yang menjadi wujud keselamatan dalam kehidupan orang yang berjumpa dengan Yesus yang mati untuk dosa kita. Bentuk itu adalah berpaling dari berhala lama (misalnya, uang), mengaku dosa secara konkret, dan menghargai sesama yang selama ini menjadi korban dosa kita.

Makna

Saya menegaskan janji Zakheus tentang ganti rugi karena sering pertobatan diartikan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kepentingan orang yang berdosa sebagai orang berkuasa. Orang-orang berkuasa (kategori itu termasuk pendeta, bukan?) sering merasa bersalah atau tidak tenang, dan siap saja menangis di hadapan Allah seperti pemungut cukai, asal kuasanya tidak diganggu gugat. Tangisan pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus dan ganti rugi Zakheus dalam cerita ini saya anggap bukan sebagai alternatif tetapi sebagai saling melengkapi untuk menggambarkan pertobatan.

Kita tidak tahu bagaimana hidup Zakheus selanjutnya. Apakah dia mundur dari pekerjaannya untuk mengikuti Yesus (seperti Matius)? Kalau dia tidak lagi memeras masyarakat sehingga pendapatannya berkurang (bdk. Luk 3:13), apakah dia memaksakan bawahannya juga untuk mengikuti kebijakan itu? Ajaran Yesus untuk melepaskan kuasa dengan menjual segalanya bagi Yesus (12:33; 14:33; 18:22) tidak diikuti Zakheus di sini, atapun di Kisah Para Rasul (misalnya, Barnabas menjual hanya sebagian hartanya, Kis 4:36–37; Lidia tidak menjual rumahnya, Kis 16:15, 40).

Yang jelas, Zakheus tidak lagi membenarkan diri, tidak lagi meremehkan orang biasa, dan dengan sukacita rugi demi sesama. Dia menyebut dosanya, pemerasan, secara tersurat, dan menunjukkan sifatnya sebagai pencurian, bukan, misalnya, sebagai kelemahan karena terbawa budaya “profesi”. Ganti ruginya menghargai korbannya sebagai sesama.

Semua ini terjadi karena Zakheus berjumpa dengan Yesus. Perjumpaan itu membawa pusat baru dalam hidupnya yang memampukan dia untuk tidak lagi membenarkan diri dan meremehkan orang lain. Dalam perumpamaan Yesus, pemungut cukai pergi ke Bait Allah dan dibenarkan di hadapan Allah. Dalam cerita ini, Yesus sendiri adalah hadirat Allah yang membawa pengampunan dosa, berdasarkan persembahan diri-Nya yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Oleh karena itu, kita juga bisa menjadi Yesus sebagai pusat, dan melepaskan kuasa dan hak yang membelenggu kita di hadapan Allah dan sesama.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | Meninggalkan komentar

Lukas 18:9-18 Menjadi seperti orang berdosa dan anak [23 Okt 2016]

Penggalian Teks

Lukas 17:20–37 berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang membedakan, artinya, ada yang selamat, ada yang dihukum. Perumpamaan berikut (18:1–8) berbicara tentang kerinduan Allah untuk membenarkan umat pilihan-Nya yang tertindas. Pada akhir cerita itu, Yesus bertanya, “jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (18:8). Kemudian, ada tiga cerita yang sepertinya menjelaskan soal iman itu. Orang Farisi itu beriman kepada kesalehannya sendiri (18:11–12), dan orang kaya itu beriman kepada kekayaannya (18:22–23). Hanya pemungut cukai yang imannya seperti seorang anak, yaitu, merendahkan diri (18:14b).

Perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dialamatkan kepada orang yang “menganggap dirinya benar” (bisa juga “mengandalkan dirinya sebagai orang benar”) dan “memandang rendah semua orang lain” (9). Yesus menceritakan dua orang, yang satu jelas benar, yang satu jelas tidak benar (10). Orang Farisi itu berlaku adil terhadap sesama (11) dan juga taat kepada Allah (12). Yesus tidak mempersoalkan penilaian itu. Sebaliknya, pemungut cukai mengaku sendiri bahwa dia tidak layak di hadapan Allah. Dan memang begitu; dia adalah pejabat yang korup dan memeras orang kecil. Tetapi keputusan Allah kebalikan dari kenyataan itu. Orang Farisi mungkin menganggap bahwa dia merendahkan dirinya di hadapan Allah, tetapi sikapnya terhadap orang lain bercerita lain. Tidak ada rendah hati di hadapan Allah bersama dengan sombong di hapadan manusia. Sebaliknya, si pemungut cukai sadar akan kondisinya yang sangat rendah di hadapan Allah sehingga mengandalkan kemurahan Allah semata-mata.

Soal kerendahan muncul dengan anak-anak yang dibawa. Mereka adalah brefos, yaitu anak yang masih menyusu. Anak-anak kecil seperti itu sudah serendah mungkin, sepenuhnya bergantung pada ibunya untuk bisa bertahan hidup. Mereka dibawa kepada Yesus untuk dijamah, yaitu, diberkati (bdk. Mrk 10:16). Para murid tidak setuju (15b). Kata “memarahi” (epitimao) berarti menegor dengan keras untuk menghentikan sesuatu. Mengapa mereka keberatan tidak dijelaskan, tetapi jika kita berangkat dari 18:14b, mereka menganggap bahwa tidak pantas kalau Yesus berurusan dengan anak.

Sikap mereka terhadap seorang brefos mengungkapkan sikap hati mereka yang sebenarnya. Alhasil, Yesus sangat keberatan terhadap mereka (16). Dengan paralelisme yang tegas — “biarlah mereka datang … jangan menghalangi mereka” — Yesus mau menerima anak-anak itu. Justru anak-anak itu yang memiliki sifat anggota-anggota Kerajaan Allah. Implikasinya ialah bahwa cara masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah menjadi seperti anak kecil itu.

Kata brefos menarik karena menutup tafsiran yang merujuk pada sifat yang diklaim untuk anak, seperti kepolosan atau kerendahan hati. Seorang bayi belum sampai sombong atau tidak, tetapi kerendahannya adalah sesuatu yang objektif. Pemungut cukai itu juga tidak mengada-ada dengan menyesali dosanya, dia sadar akan keadaannya yang sebenarnya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus mendorong kita untuk bergantung hanya kepada Allah dengan menjadi sadar bahwa kita adalah orang berdosa sama seperti yang lain, dan bahwa kita tidak berdaya membantu diri sendiri, sama seperti anak kecil. Dia mengangkat sikap kita terhadap koruptor dan anak kecil sebagai ukurannya.

Makna

Alangkah enaknya andaikan kita bisa merendahkan diri di hadapan Allah dengan kata dan dengan perasaan, sementara kita masih bebas untuk memandang rendah anak, bawahan, koruptor, pengacau masyarakat, dsb. Perasaan bahwa saya polos, tangisan dalam ibadah di hadapan Allah, dan sandiwara-sandiwara yang lain bukan petunjuk yang andal tentang kondisi kita; hanya bagaimana kita bersikap terhadap dan memperlakukan orang-orang yang dianggap remeh, entah karena kecil seperti anak, entah karena jahat seperti koruptor. Sikap yang ditunjukkan Yesus bukan menganggap mereka baik-baik saja seperti kita, tetapi memahami bahwa kita juga tidak berdaya seperti anak kecil, dan lepas dari kuasa Allah yang terus-menerus kita juga busuk seperti koruptor; kemampuan dan perubahan yang ada pada diri kita bukan milik kita tetapi pemberian Allah.

Tentunya, ketidakberdayaan kita tidak persis seperti anak kecil, dan kebusukan kita tidak persis seperti orang yang tega merugikan orang miskin. Tetapi, mungkin kita ditolong jika kita mengingat bahwa tingkah laku yang paling membuat kita marah dalam diri orang lain seringkali mencerminkan kelemahan dalam diri kita sendiri. Saya kesal terhadap orang yang tidak tepat waktu, tetapi saya sendiri sering terlambat; saya bersuara dengan berapi-api terhadap perselingkuhan, tetapi mata saya berkeliaran terus. Jadi, kritik saya terhadap orang lain adalah titik awal kesadaran diri. Kemudian, kita mengamati sikap kita terhadap koruptor dan bertanya, apakah saya tidak pernah memilih pelayanan berdasarkan amplop, atau cemburu kepada rekan pelayanan yang di tempat “basah”? Setelah diberi mobil dinas dan tunjangan-tunjangan besar oleh majelis, mampukah saya mengungkapkan dosa-dosa majelis itu dengan tegas dari firman Allah?

Sama halnya, sebuah kemajelisan yang mengabaikan pelayanan anak sudah terjamin menjalankan pelayanan yang mengutamakan gengsi dan memihak orang besar, betapa kemampuan mereka untuk berdoa di konsistori. Yesus mengamati tutur kata dan tindakan yang muncul dari hati, bukan pengakuan diri di depan sesama.

Dipublikasi di Lukas | Tag | Meninggalkan komentar

2 Timotius 2:8-13 “Ingatlah Yesus Kristus” [9 Okt 2016]

Penggalian Teks

Surat 2 Timotius ini ditulis oleh Paulus kepada anak rohaninya Timotius ketika Paulus sadar bahwa sebentar lagi dia akan mati (4:6), barangkali oleh keputusan pengadilan Romawi (4:16). Dia mulai dengan menguatkan Timotius dalam kebenaran Injil (1:1–18), dan kemudian berpesan kepada Timotius untuk melanjutkan pelayanan Injil itu kepada orang lain (2:1–26, lihat 2:2 “orang-orang yang dapat dipercayai” yang termasuk “mereka” dalam 2:14). Setelah beberapa gambaran tentang sikap seorang pelayan (2:3–7), dalam perikop kita Paulus meringkas Injil yang diteruskan itu.

Kata “Injil” (euanggelion) berarti kabar baik yang penting untuk seluruh dunia. Jadi, kata itu merujuk pada peristiwa (“Sang Kaisar mempunyai seorang putera”), bukan kebenaran umum (“Allah itu baik”), dan peristiwa yang bermakna bagi semua, bukan bagi kelompok kecil saja. Peristiwa yang diumumkan dalam Injil Paulus yaitu kebangkitan Yesus dari antara orang mati; peristiwa itu penting bagi semua manusia karena menggenapi janji-janji Allah dalam PL akan pembaruan dunia melalui seorang anak Daud (a.8; lihat 3:14–15 untuk pentingnya PL sebagai saksi tentang Kristus). Yesus Kristus, Anak Daud, datang dan mengalahkan bukan penguasa duniawi secara duniawi, melainkan maut sebagai musuh terbesar manusia.

Karena berita itu penting bagi semua manusia, Paulus tidak mempersoalkan banyaknya penderitaannya sebagai pemberita Injil, bahkan bahwa dia diperlakukan sebagai seorang penjahat. Yang penting, firman Allah itu tetap dapat disiarkan (9). Injil itu menawarkan kemuliaan yang kekal yang jauh melampaui kehinaan penjara, dan Paulus rindu supaya keselamatan di dalam Kristus yang dia nikmati itu boleh juga dinikmati orang-orang yang dipilih Allah (10).

Isi Injil dan sikap Paulus sebagai pelayan Injil ditopang dengan syair yang barangkali lasim di jemaat (11–13). Ketiga baris pertama berbicara tentang awal, kelanjutan, dan akhir hidup orang percaya (“kita”). Baris pertama mirip dengan Rom 6:8 yang berbicara tentang perubahan status yang terjadi satu kali saja ketika seseorang bergabung dengan Kristus, sebagaimana ditandai dalam baptisan (Rom 6:2–4). Dasar perubahan status itu kematian dan kebangkitan Kristus. Orang percaya telah mati (tens aorist) terhadap hidup lama supaya hidup bersama dengan Kristus sekarang. Baris kedua memakai tens presen yang cocok dengan kondisi sementara, yaitu perlunya orang yang telah mati dengan Kristus untuk bertekun dalam iman (bdk. 2:3–7). Janji untuk memerintah dengan Kristus adalah bagian kita dalam pemulihan kuasa Adam yang dirusak oleh dosa (bdk. Why 22:5b, misalnya). Baris ketiga memakai tens futur, dan merupakan peringatan. Sama seperti Yesus dalam Mat 10:33, akibat dari penyangkalan Kristus ialah disangkal oleh Kristus. Dari contoh Petrus pada pengadilan Kristus, kita mengerti bahwa maksud Kristus bukan soal satu kali menyangkal, tetapi orientasi hidup. Pada akhir kehidupan seseorang, dilihat dari arah hidupnya apakah dia menyangkal Yesus atau tidak.

Baris keempat melanjutkan tema itu, karena “tidak setia” mirip dengan “menyangkal” (13). Hanya, dalam baris ini syair mengatakan bahwa Kristus “tetap” setia, bukan “tidak setia”. Ada sebagian penafsir yang menyamakan kesetiaan Kristus ini dengan penyangkalan dalam a.12b, sehingga baris keempat ini merupakan penegasan dari peringatan dalam baris ketiga. Hanya, setahu saya (dan beberapa penafsir yang lebih tahu), kata setia (pistos) tidak biasa dipakai untuk niat menghukum, hanya untuk niat menyelamatkan. Kemudian, tensnya dalam baris keempat ini kembali presen, cocok dengan kondisi sementara. Jadi, kita bisa menafsir, “Jika pada akhir hidup kita, jelas dari arah hidup bahwa sebenarnya kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; tetapi jika kita sementara tidak setia, Dia tetap setia memulihkan kita, karena tujuan dan janji-Nya ialah menyelamatkan semua orang percaya”. Jadi, ada peringatan, tetapi juga penguatan bagi kita yang sementara lemah bahwa Kristus akan tetap bekerja untuk memulihkan kita.

Hal itu juga merupakan penguatan bagi Timotius sebagai pelayan, bahwa menegur orang yang keliru dan sesat bisa saja ada hasilnya (lihat 2:14).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Berita tentang Yesus Kristuslah yang menjadi dasar untuk bertekun dalam kehidupan beriman dan pelayanan. Kematian dan kebangkitan-Nya menjadi patron untuk pertobatan, ketekunan, dan kesetiaan kita, serta penguatan ketika kita gagal. Jadi, mengingat Kristus adalah kunci untuk menjadi pelayan dan jemaat yang baik. Di dalam Dia ada keselamatan dan kemuliaan yang tidak akan hilang dengan kematian.

Makna

Satu-satunya perintah dalam perikop ini ialah “Ingatlah Yesus Kristus”. Memang benar bahwa hal itu mendorong Paulus untuk memberitakan firman supaya orang-orang pilihan Allah selamat, tetapi jika jemaat kita belum biasa mengingat Kristus, mereka belum siap menjadi pembawa berita tentang Kristus. Dengan kata lain, jika mereka belum merasakan kemuliaan di dalam Kristus, mereka akan tetap mempromosikan duit, gengsi, dan citra keluarga dalam pesta daripada mempromosikan Kristus.

Aa.11–13 meringkas implikasi Injil Paulus untuk orang percaya, dan semestinya mendapat porsi besar dalam khotbah kita, entah sebagai penjelasan akan misi Kristus yang di dalamnya kita mengambil bagian, entah untuk mengajak kita mencari kemuliaan yang kekal. Semangat memuji Allah dalam Mazmur 111 cocok juga untuk karya Allah di dalam Kristus.

Baris pertama: A.11b berbicara tentang pertobatan yang sejati: kita telah mati terhadap upacara dan rumah (dan amplop) besar sebagai tujuan hidup, supaya kita menikmati kehidupan yang sederhana bersama dengan Kristus. Kedua cerita tentang orang kusta (2 Raj 5; Luk 17:11–19) menggambarkan perubahan itu: kondisi kita berubah dari yang najis menjadi tahir.

Baris kedua: Pada prinsipnya, kematian dengan Kristus itu kejadian satu kali saja (makanya simbolnya, baptisan, tidak boleh diulang), tetapi kita perlu bertekun di dalamnya (2 Tim 2:12a), sama seperti Paulus menekuni (LAI: sabar menanggung) segala sesuatu (10a). Pemerintahan-Nya yang di dalamnya kita akan berbagi itu dialami sekarang sebagai kuasa untuk menjadi hamba-Nya yang sejati dengan melawan dosa (Rom 6:11–12).

Baris ketiga/keempat: Bagi orang-orang pilihan Allah, disangkal Kristus adalah penolakan yang paling ditakuti, jauh di atas penolakan keluarga (2 Tim 2:12b). Tetapi lemahnya kesetiaan kita tidak membatalkan kesetiaan Kristus yang telah mati bagi kita (13).

Demikianlah Injil yang mendasari hidup yang sungguh mulia sampai kekal: masa lampau duniawi disalibkan; masa kini diperjuangkan dengan Kristus; masa depan dipergantungkan hanya pada kesetiaan Kristus.

Dipublikasi di 2 Timotius | Tag , , | Meninggalkan komentar

Lukas 17:5-10 “Iman yang tidak Berdalih” [2 Okt 2016]

Penggalian Teks

Dalam penceritaan Lukas, Yesus mulai mengajar murid-murid-Nya dengan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (16:1), tetapi reaksi orang Farisi yang tersinggung (16:14) ditanggapi dengan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang menunjukkan bahwa uang bukan jaminan berkat Allah (16:19–31). Dalam Luk 17:1, Yesus kembali berbicara kepada murid-murid-Nya dengan dua perkataan yang berat: bahayanya menyesatkan orang-orang kecil (17:1–2), dan perlunya mengampuni berulang kali jika orang yang ditegur menyesal (17:3–4). Menjadi murid Yesus berarti memahami bahwa uang tidak berguna, menanggung tanggung jawab yang besar terhadap orang yang dianggap tidak penting, dan mengadakan pengampunan yang melampaui keraguan dan kekesalan terhadap orang yang berulang kali melanggar.

Makanya, murid-murid Yesus memohon penambahan iman (5); mereka sadar akan beratnya ajaran Yesus ini. Ada dua jawaban Yesus. Pertama, Dia mengundang mereka untuk menggunakan iman yang ada, yang ternyata sudah cukup (6). Pohon ara adalah pohon yang besar, dan secara alami tidak dapat ditanam di laut. Tetapi bahkan yang semustahil itu dapat diatasi dengan iman yang paling kecil. Kedua, Yesus adalah Tuhan mereka, sehingga mereka tidak usah berdalih tetapi cukup melaksanakan ajaran-Nya saja (7–10). Tidak ada pujian ketika seorang percaya menjaga diri untuk tidak membuat orang berdosa, atau mengampuni sesama terus, karena demikian kewajiban kita sebagai hamba Tuhan. Tentu juga, iman yang berkuasa itu adalah iman yang bekerja untuk apa yang diperintah Allah.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Iman sejati bukan soal besar kecilnya, tetapi soal iman itu bergerak dalam ketaatan kepada Yesus sebagai Tuhan.

Makna

Perkataan Yesus dalam perikop kita tergolong keras, karena menantang daripada menghibur. Perumpamaan tentang hamba yang semestinya menganggap dirinya tidak berguna itu merendahkan kinerja hamba itu. Hal itu dapat dibandingkan dengan perumpamaan tentang talenta, yang di dalamnya tuan itu mengucap, “Baik sekali perbuatanmu itu”, atau Luk 12:37, di mana tuan yang kembali dari upacara justru melayani hamba-hamba yang setia menantikannya. Jadi, Luk 17:10 dalam perikop kita bukan satu-satunya gambaran tentang sikap Yesus terhadap kita, hamba-hamba-Nya. Yesus di sini khususnya menanggapi hama-hama iman: ketakutan, pengandalan diri, dan mengasihani diri sendiri. Kurang lebih, demikian juga tujuan Paulus kepada Timotius dalam 2 Timotius 1.

Yesus tidak menuntut sesuatu yang tidak Dia lakukan. Dia menuju salib dalam ketaatan yang penuh kepada Bapa-Nya, dan iman bahwa Allah akan membangkitkan Dia dari antara orang mati. Dalam doa-Nya di taman Getsemane, Dia tidak memohon supaya dikasihani, tetapi supaya dikuatkan. Dia melangkah dalam iman karena keyakinan-Nya bahwa Allah mampu menggenapi janji-Nya. Iman seperti itu yang diuraikan dalam Mzm 37:1–6 juga, pada level kehidupan sehari-hari.

Tantangan Yesus penting dalam budaya kekristenan yang melihat Allah sebagai penopang diri sendiri, bukan sebagai Tuhan yang mulia di atas keluarga, karir, dan uang. Berbuat baik sedikit, dan sebagian orang sudah merasa benar. Yang sama dalam semua perumpamaan tadi ialah bahwa hamba Yesus hidup bagi Tuhannya, bukan untuk dirinya sendiri. Melayani Dia sudah cukup; bahwa nanti ada pujian bagi hamba yang setia adalah anugerah saja.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | 1 Komentar