Luk 24:1-12 Percaya pada berita kebangkitan [21 Apr 2019] (Paskah)

Penggalian Teks

Dalam pasal terakhir Injil ini, Lukas mau menegaskan bahwa Yesus memang bangkit. Hal itu terjadi sebagai penggenapan firman Allah dalam PL (24:25-26, 44-46) dan perkataan Yesus sendiri (9:22; 18:33). Hal itu juga menjadi dasar untuk kenaikan-Nya ke surga untuk memimpin pemberitaan Injil ke ujung bumi (24:47). Lukas juga tahu bahwa kejadian itu luar biasa. Firman Allah/sabda Yesus ternyata harus disertai dengan saksi-saksi mata dan perjumpaan dengan Yesus. Perikop kita menyoroti unsur kekejutan dari kebangkitan, dan perikop berikutnya (dua orang ke Emaus) menceritakan perubahan sikap yang terjadi dalam perjumpaan, sesuatu yang dapat dialami melalui penjelasan firman Allah dan sakramen (24:30-32).

Perikop kita mulai sebagai lanjutan dari persiapan rempah-rempah selama hari Sabat. Beberapa perempuan itu yang datang ke kubur datang bukan dalam pengharapan tetapi dalam rangka duka (1). Ternyata yang mereka temukan jauh dari dugaan: batu terguling, dan mayat hilang (2-3). Makanya, mereka termangu-mangu, tetapi sebelum mereka sempat mengartikan apa yang terjadi, dua malaikat muncul (4). Kebingungan ditambah dengan ketakutan yang diperparah lagi oleh teguran dari malaikat bahwa semestinya mereka tidak kaget, karena Yesus sudah mengatakan bahwa Dia akan mati dan bangkit (5-7). Melalui kebingungan dan ketakutan mereka, Lukas menunjukkan betapa mengherankannya peristiwa kebangkitan itu, sekalipun bagi orang yang sudah pernah diberitahu.

Namun, ada perbedaan yang muncul. Perempuan-perempuan itu menerima teguran malaikat, dan mengingat perkataan Yesus (8). Dengan demikian, tujuan mereka berubah dari penghargaan orang mati ke pemberitaan kekejutan ini kepada orang lain. Ternyata kasus para rasul menjadi hal yang lain. Baru pada saat ini Lukas menyebut tiga nama perempuan-perempuan itu, dan adanya beberapa perempuan lagi (9). Dua perempuan termasuk perempuan yang mampu yang mendukung pelayanan Yesus (8:2-3); satu adalah ibu dari seorang rasul. Jadi, mereka bukan saksi mata yang sembarang, dan mereka banyak. Tetapi hal itu tidak cukup untuk mengimbangi kekejutan bagi para rasul akan berita adanya kebangkitan ini (11). Para rasul tidak teringat akan kata-kata Yesus, dan tidak tertarik untuk melacaknya. Hanya Petrus yang pergi untuk melacak kebenaran laporan itu, dan ternyata kubur kosong, walaupun dia tidak ditemui malaikat (12). Dia yang pertama dari para rasul yang dijumpai Yesus (24:34). Semua kaget dengan berita itu, tetapi ada yang lebih cepat percaya (kelompok perempuan) dan ada yang lamban percaya (kelompok rasul).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kristus telah bangkit sesuai dengan perkataan-Nya. Berhadapan dengan berita itu selalu mengagetkan, tetapi kita diajak untuk mengingat firman Allah dan kembali memercayainya dengan semangat yang baru.

Makna

Kebangkitan sulit dipercaya bukan hanya sebagai mukjizat, melainkan juga sebagai pengharapan besar yang menuntut perubahan tujuan hidup. PL sudah menjanjikan pemulihan dunia secara keseluruhan (Yes 65:17-25) dan kebangkitan orang-orang percaya untuk berbagi di dalamnya (Dan 12:2-3). Janji itu menantang untuk orang Israel yang terus-menerus ada dalam penjajahan. Murid-murid Yesus pun percaya pada kebangkitan pada akhir zaman, tetapi kepercayaan mereka hancur ketika Yesus dibunuh. Mungkin kita juga sulit percaya berhadapan dengan kesusahan hidup, penderitaan orang lain, atau kebobrokan gereja yang mengatasnamakan Yesus. Kebangkitan Yesus sebagai fakta selalu mengejutkan dalam dunia yang lebih mirip pengadilan Pilatus dan salib ini.

Tetapi menerima pengharapan itu juga menuntut perubahan hidup yang dapat sulit diterima. Soalnya, budaya manusia cenderung ditentukan oleh adanya maut. Dengan demikian kuasa, atau kehormatan, atau golongan sendiri, menjadi “harga mati”. Itulah yang membuat kekuasaan dan pemerintahan di dunia selalu melenceng dari kebenaran. Walaupun hasilnya (seperti korupsi, kekerasan, dsb) tidak disukai, kita sebenarnya sudah betah di dalamnya. Tetapi jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus telah bangkit, kita harus juga menerima bahwa Dia telah naik ke surga dan sedang mengalahkan semua kuasa itu (1 Kor 15:24), dan bahwa kita telah dibawa dari dunia maut ke dalam dunia kehidupan (15:21-22). Kita yang sudah biasa dengan hidup yang ditentukan oleh maut harus belajar hidup dalam pengharapan (15:58).

Iklan
Dipublikasi di Lukas | Tag | Meninggalkan komentar

Luk 19:28-44 Raja di luar Dugaan [14 Apr 2019] (Prapaskah VI)

Penggalian Teks

Dengan menceritakan Yesus memasuki Yerusalem, perikop ini merupakan peralihan dari perjalanan Yesus menuju Yerusalem ke kisah penderitaan, pembunuhan, dan kebangkitan Yesus yang telah Dia nubuatkan. Perjalanan itu berakhir dengan dua cerita yang menjelaskan maksud karya Yesus. Pertobatan Zakheus menggambarkan bagaimana Dia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang hilang (19:1-10), dan perumpamaan tentang mina (yang mirip dengan perumpamaan tentang talenta dalam Injil Matius) berbicara tentang perlunya murid-murid Yesus giat melayani-Nya sebagai Raja selama Dia tidak ada (19:11-27). Perikop ini mulai dengan kegembiraan akan karya keselamatan Yesus yang sudah digambarkan dalam pelayanan-Nya selama itu, tetapi berakhir dengan ratapan atas Yerusalem yang ternyata bersikeras untuk tetap hilang.

Bukit Zaitun berada di seberang kota Yerusalem, diantarai sebuah lembah. Aa.29-34 menceritakan pengambilan keledai untuk Yesus tunggangi. Termasuk perintah Yesus, kita mendengarnya dua kali, sehingga perlu dimaknai. Ada dua gambaran tentang menjadi hamba Sang Raja. Pertama, “orang yang empunya” adalah bentuk jamak dari Yunani kurios (“tuan-tuan”), sementara Yesus juga disebut kurios (“tuan”/“Tuhan”). Jika murid-murid Yesus mewakili orang-orang yang mengembara bagi Injil, tuan-tuan ini mewakili orang-orang yang berada, tetapi tetap mengakui hak Yesus atas kepunyaan mereka. Kedua, tugas murid-murid adalah menaati perintah-Nya, walaupun kita tidak dapat melihat ujungnya. Tuhan yang akan mengatur supaya apa yang dilakukan berguna bagi rencana-Nya.

Kemudian, murid-murid Yesus menyambut-Nya sebagai Raja (35-39). Hal itu sudah jelas dari Zak 9:9 yang menubuatkan raja Israel datang di atas keledai (ayat itu dikutip dalam Mat 21:5), dan juga dari penghamparan pakaian di hadapan Yesus (bdk. 2 Raj 9:13). Injil ini memperjelasnya dalam a.38 dengan menyisipkan kata “Raja” ke dalam kutipan dari Mzm 118:26. Kedatangan Yesus ke Yerusalem disambut dengan sukacita oleh murid-murid-Nya (37). Mereka mengingat semua mukjizat Yesus yang memberi gambaran tentang Kerajaan Allah yang memulihkan dan membebaskan. Bagi mereka, Yesus merupakan Raja dan Juruselamat yang membawa kemuliaan bagi Allah karena damai sejahtera yang Dia bawa di bumi, seperti raja-raja Israel yang disambut dalam Mzm 118 itu.

Nada gembira itu diganggu dengan keluhan beberapa orang Farisi yang bergabung dengan rombongan Yesus tetapi masih terpola oleh latar belakang mereka. Sepertinya, mereka takut bahwa pujian itu terlalu ekstrim dan mungkin berbahaya, mengingat rentannya orang banyak seandainya Yesus memimpin pemberontakan terhadap orang-orang Romawi (39). Tetapi makna dari kejadian ini sangat melampaui kekhawatiran mereka. Seluruh ciptaan diwakili dalam pujian itu (40).

Namun, keluhan mereka merupakan gejala dari kondisi Israel secara umum. Begitu Yesus melihat kota Yerusalem, Dia menangis (41). Murid-murid-Nya melihat damai sejahtera di dalam karya Yesus, tetapi Israel secara keseluruhan tidak mampu melihatnya (42). Yerusalem akan kembali dihancurkan dalam perang (42-44a) karena mereka tidak mengenali lawatan Allah di dalam kedatangan Yesus (44b).

Peristiwa selanjutnya yang diceritakan adalah penyucian Bait Allah, dan selama beberapa hari Yesus berkuasa di sana. Namun, akhirnya Dia ditangkap (di Bukit Zaitun ini), diadili, dan dibunuh pada salib, sesuatu yang pasti menjadi pukulan yang sangat berat bagi mereka yang memuji Allah karena pelayanan Yesus itu. Baru setelah kebangkitan-Nya, makna sebenarnya dari karya Yesus menjadi jelas. Yesus tidak hanya membawa pemulihan dengan mukjizat-mukjizat yang efeknya sementara saja, Dia mengalahkan dosa dan maut. Jadi, dari satu segi orang Farisi itu tepat untuk mengkhawatirkan gaya Yesus sebagai seorang raja, tetapi semua murid Yesus pada saat peristiwa ini belum memahami bagaimana caranya Yesus akan menjadi Juruselamat yang sungguh membawa damai sejahtera dan kemuliaan bagi Allah.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus adalah Raja yang datang dengan cara membawa damai sejahtera yang di luar dugaan pengikut maupun musuh. Kita taat kepada-Nya karena kita turut memuji karya Allah di dalam Yesus, dan kita juga turut menangisi manusia yang menolak-Nya dan menuju kehancuran.

Makna

Dalam dua ayat yang bersampingan Yesus menyebutkan pujian yang tiada hentinya lalu Dia menangis (40-41). Karya Allah selalu layak dipuji karena menjanjikan pemulihan dunia; kondisi manusia selalu menyedihkan, baik karena kedegilan hatinya maupun karena kehancuran yang menjadi akibatnya. Kematian dan kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa kedua segi itu tak terpisahkan sebelum Dia datang. Hal itu sudah ada bayangannya dalam hamba Tuhan (Yes 50:4-9) dan perlu diterapkan oleh jemaat (Fil 2:1-11), di mana kerendahan di hadapan manusia dan kemuliaan di hadapan Allah juga tak terpisahkan. Gereja sekarang sering seperti orang-orang Farisi tadi: tertarik dengan Yesus tetapi berjalan dalam kekhawatiran menurut pertimbangan duniawi karena belum menangkap jalan salib yang tidak aman tetapi menuju kemuliaan yang sejati.

Ketika kita menangkap jalan itu, kita akan lebih siap menaati perintah Yesus dalam konteks kita masing-masing bahkan ketika ujungnya tidak jelas. Bagi saya, hal itu termasuk rutinitas dalam pelayanan yang mengutamakan firman Allah dan memperhatikan dengan saksama kondisi jemaat. Tetapi hal itu juga termasuk pegawai yang ngotot jujur, pengusaha yang membangun jasa bagi masyarakat tanpa laba, dan bantuan kepada mereka yang tidak dapat mengembalikannya. Secara duniawi hal-hal itu sering terasa tidak berguna, tetapi kita tidak tahu bagaimana Tuhan akan memakainya.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | Meninggalkan komentar

Yes 43:16-21 Memuji karena karya Allah yang baru [7 Apr 2019] (Prapaskah V)

Penggalian Teks

Mulai pasal 40, kitab Yesaya mau menguatkan Israel untuk siap melangkah dalam jalan keselamatan yang sedang dipersiapkan Tuhan, yaitu dari Babel ke tanah Israel. Dalam rangka itu, penekanan paling besar ada pada Tuhan sebagai satu-satunya Allah yang berkuasa, dan yang juga memperhatikan umat-Nya. Perhatian itu berakar dalam pemilihan Abraham dan Sara (51:2) dan cucunya Yakub. Pemilihan itu tertuju pada kemuliaan Allah dan juga terang bagi bangsa-bangsa (terutama berkaitan dengan hamba Tuhan, 42:6; 49:6). Dalam 43:8-44:8 (yang mencakup perikop kita), Israel semestinya berperan dalam kedua tujuan itu dengan menjadi saksi bahwa Allah telah memberitahukan apa yang akan terjadi sebelumnya (43:9-10; 44:8). Tetapi Israel itu tuli dan buta (43:8; bdk. 42:18-19). Walaupun Allah berjanji untuk membawa Israel keluar dari Babel (perikop kita), Israel tidak memanggil Tuhan atau menyembah-Nya (43:22-24). Bahkan dalam keterpurukannya, Israel tidak mampu berubah dan menjadi hamba Tuhan dalam hal sesederhana bersaksi akan anugerah-Nya. Makanya, peran Israel perlu diambil alih oleh hamba Tuhan demi keselamatan Israel dan bangsa-bangsa (49:1-7).

Perikop kita mulai dengan Tuhan menunjuk diri sebagai Dia yang menyeberangkan Israel melalui Laut Teberau (16) dan menghancurkan tentara (yaitu kuasa) Mesir (17). Deskripsi itu menyatakan satu aspek konkret dari gelar-Nya dalam ayat sebelumnya sebagai Raja dan Pencipta Israel. Di dalam sejarah itu, Israel pernah melihat kuasa Tuhan yang dahsyat terhadap musuh yang dianggap sangat kuat. Namun demikian, Tuhan justru menyuruh Israel untuk tidak memperhatikan masa lampau itu (18) tetapi untuk melihat ke depan, ke jalan yang akan dibuka Tuhan untuk Israel kembali dari Babel (19). Akan ada keluaran kedua yang akan lebih penting lagi bagi umat Allah. Jika dalam keluaran pertama laut dijadikan tanah kering, dalam keluaran kedua ini tanah gersang akan dijadikan sungai. Sepertinya ada makna simbolis di sini, karena dalam 44:3, air itu dipadankan dengan pencurahan Roh. Kemudian, tujuan dari karya keselamatan ini diangkat, yaitu supaya Israel memberitakan kemasyhuran Tuhan (21). Ternyata, binatang-binatang yang beruntung dari karya Tuhan itu akan memuliakan-Nya (20), tetapi bukan Israel (43:23). Di situ dilihat buruknya Israel yang tidak hanya lemah menaati Tuhan tetapi juga masa bodoh terhadap anugerah Allah.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah berkuasa untuk menyelamatkan umat yang sudah lesu secara rohani. Kita akan disemangati kembali dengan menaruh pengharapan akan karya baru yang dijanjikan Allah.

Makna

Dalam perikop ini, kita melihat bagaimana Yesaya mengangkat keluaran dari Mesir secara tipologis untuk berbicara tentang keselamatan dari Babel. Penulis-penulis PB melakukan hal yang sama (misalnya, Kol 1:13-14) dan juga menggali kitab Yesaya untuk berbicara tentang Yesus (termasuk istilah “memberitakan Injil”, euanggelizomai, yang terdapat dalam Yes 40:9; 52:7; 61:1). Hal yang paling baru yang dilakukan Allah ialah mengutus Kristus untuk membawa kita bangsa-bangsa dari kerajaan kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib.

Paulus memberi contoh tentang melupakan yang lama dalam Fil 3:13. Yang dilupakan adalah kelebihan-kelebihannya sebagai orang Farisi, hal-hal yang di dalamnya ada banyak yang baik tetapi yang menjadi sampah ketimbang mengenal Kristus (Fil 3:2-11). Karya Kristus adalah hal yang selalu baru menuju kedatangan-Nya kembali sehingga memberi arah dan semangat yang baru bagi orang percaya (3:12-14). Jika Paulus harus melupakan keyahudiannya, mungkin gereja yang sudah mapan harus belajar melupakan kelebihan-kelebihannya dalam sejarah dan tetap mencari arah dan semangat dari karya Kristus yang membawa kita kepada masa depan Allah.

Tugas (atau hak istimewa) umat Allah untuk memberitakan kemasyhuran-Nya tetap ada untuk gereja. Tetapi sama seperti Israel, kita hidup dalam dunia yang tidak memuliakan Tuhan dan berbuat jahat, dan gereja sering turut meminggirkan Allah dengan mencari keselamatan duniawi dari penguasa duniawi. Dengan demikian, pengharapan kepada Allah pudar, dan gereja menjadi kurang dari binatang-binatang yang dengan caranya tersendiri tahu berterima kasih kepada Penciptanya.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Yos 5:1-12 Diampuni untuk Bersekutu [31 Mar 2019] (Prapaskah IV)

Penggalian Teks

Kitab Yosua mulai dengan peneguhan Yosua sebagai pengganti Musa. Dia dikuatkan secara pribadi oleh penyertaan Tuhan (p.1), secara strategis bahwa bangsa-bangsa takut karena mendengar tentang perbuatan-perbuatan Allah (p.2), dan di hadapan bangsa Israel dengan menyeberangi sungai Yordan secara ajaib seperti mereka menyeberangi Laut Teberau di bawah pimipinan Musa (pp.3-4; lihat 4:14). Dalam perikop kita, cela Israel diangkat (9) sehingga mereka bisa kembali menjadi umat Allah yang kudus. Pentingnya pemulihan itu dilihat dalam dua peristiwa berikutnya, di mana Yerikho dikalahkan oleh semacam liturgi imam-imam, dan Israel kemudian kalah karena Akhan mencuri barang yang dikuduskan untuk dihancurkan. Pemulihan itu menyangkut berbagai unsur yang sudah berperan dalam pembentukan Israel sebagai umat Allah (sungai, sunat, Paskah, manna).

Sunat ulang Israel diceritakan dalam aa.2-8. A.1 menjelaskan bahwa bangsa-bangsa di sekitar Israel takut, sehingga menjadi aman untuk Israel dilumpuhkan sekian hari (a.8; bdk. Kej 34:25). Yosua disebut sebagai pelaku penyunatan (2-3). Tentu saja tidak mungkin dia melakukannya seorang diri, tetapi bahasa itu menunjukkan bagaimana dia sudah menjadi salah satu pokok identitas mereka, seperti Musa sebelumnya. Kemudian, dijelaskan mengapa Israel perlu disunat ulang. Bingkai penjelasan itu (4-5, 7) menyangkut angkatan pertama yang keluar dari Mesir yang disunat tetapi sudah mati, sementara angkatan berikutnya masih hidup tetapi belum disunat. Dalam bingkai itu, kehilangan identitas Israel ditunjukkan secara halus oleh perubahan istilah. Israel yang keluar dari Mesir disebut sebagai umat (aa.4-5; Ibrani ’am; LAI “orang”), tetapi Israel yang tiba di Kanaan disebut sebagai bangsa (a.7; Ibrani goy), suatu istilah yang lebih biasa dipakai untuk bangsa-bangsa di luar Israel. Perubahan istilah itu terjadi dalam a.6, berkaitan dengan dosa angkatan pertama yang tidak mendengarkan firman Tuhan sehingga dilarang untuk menikmati tanah perjanjian. Jadi, kesembuhan setelah disunat itu lebih dari sekadar pemulihan fisik. Kata yang dipakai untuk kesembuhan itu khyh, “hidup”. Melalui sunat, Israel dihidupkan kembali.

Kondisi Israel itu disebut Allah sebagai “cela Mesir” yang sudah digulingkan (gll, juga asal dari kata “Gilgal”) dari atas mereka (LAI: “dihapuskan…dari padamu”) (9). Cela Mesir mungkin merujuk pada kondisi Israel dalam perbudakan di Mesir, tetapi sepertinya cela itu sudah dikeluarkan dalam Paskah dan keselamatan melalui Laut Teberau. Mengingat a.6, adalah lebih tepat melihat cela Mesir berkaitan dengan kerinduan akan Mesir yang menjadi rujukan tetap dalam sungut-sungut Israel sehingga angkatan itu tewas di padang gurun. Dengan disunat, mereka menjadi umat yang baru, tanpa cela di hadapan Allah.

Sebagai umat yang disunat, mereka bersekutu dengan Tuhan dengan merayakan Paskah (10). Dalam Kel 12:43-49 kita melihat bahwa disunat adalah salah satu syarat mengikuti upacara Paskah. Sunat adalah tanda menjadi anggota umat Allah sejak perjanjian dengan Abraham (Kej 17); Paskah adalah persekutuan dengan Allah sehingga berada di bawah kasih setia-Nya dan bukan di bawah hukuman-Nya (Kel 12:13). Paskah itu diikuti dengan berhentinya manna (12-13). Dalam hal ini ada unsur yang baru: Israel menuju kedewasaan sebagai bangsa yang tidak harus disuap tetapi dapat hidup dari hasil tanah.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita adalah kumpulan orang yang dibaptis yang dikuduskan dalam Kristus untuk perjuangan rohani. Mari kita merayakan persekutuan kita dengan-Nya supaya kita kuat untuk misi-Nya.

Makna

Tipologi menjadi penting dalam menafsir kitab Yosua, karena ada bahaya besar ketika jemaat menempatkan diri dengan Yosua, dan satu kelompok musuh serta tanahnya sebagai orang Kanaan yang perlu ditumpas. Tipologi berarti membaca dua tahap dalam rencana keselamatan Allah secara bersama, dengan bayangan dan penggenapan saling menjelaskan. Misalnya, berdasarkan Ibr 3 atau 1 Kor 10:1-13 kita melihat pengembaraan di padang gurun sebagai perjalanan menuju dunia baru, dan dari PL kita memahami pentingnya tetap setia kepada Allah di dalamnya. Dalam Ef 6:10-12 kita memahami perang suci sebagai perjuangan yang membutuhkan keberanian dan iman seperti yang dilihat dalam diri Yosua, Daud, dsb, tetapi tidak melawan darah dan daging seperti mereka.

Dalam perikop kita, ada beberapa unsur yang dapat dimaknai berkaitan dengan Kristus: tanah perjanjian yang sudah dimasuki lewat sungai Yordan, sunat, Paskah, dan manna.

  • Penyeberangan sungai sebagai cara Israel memasuki status yang baru menjadi bagian dari makna baptisan ketika Yohanes membaptis di sungai Yordan. Hal itu menandakan bahwa Israel pada zaman Yesus harus menjadi umat Allah kembali. Walaupun kita tidak berpindah tempat ketika dibaptis, kita dimasukkan ke dalam dunia baru di dalam Kristus, dan tidak lagi memandang dunia seperti orang lain.

  • Dalam Kol 2:11 jemaat disunat di dalam Kristus. Kristus adalah pemimpin yang melakukannya dalam hati (melalui Roh Kudus) sehingga identitas yang melawan Allah (“tubuh yang berdosa”) dilepaskan. Identitas itu dikuburkan bersama dengan Yesus yang mati dalam baptisan yang efeknya sama dengan digulingkan. Identitas yang baru muncul dari kebangkitan. Kita dapat melihat gambaran pelepasan identitas lama dalam soal Israel melalui Laut Teberau (melepaskan perbudakan) dan sungai Yordan (melepaskan ketidakpercayaan), dan sunat sebagai cara melepaskan kekuatan sendiri untuk mengandalkan Allah.

  • Dalam Perjamuan Kudus kita merayakan Paskah versi Yesus yang menjadi persekutuan dengan-Nya (1 Kor 10:16) dengan mengingat kematian-Nya dan juga menantikan perjamuan eskatologis ketika Dia datang kembali (Mat 26:29). Jika kita mengikuti petunjuk Ibr 4:1-10 dan memahami tanah Kanaan sebagai simbol dunia baru, maka kita mungkin dapat memaknai keberhentian manna. Hadirat Kristus secara rohani (dalam Perjamuan Kudus dan firman) akan menjadi nyata ketika Dia datang kembali. Hal itu tidak meniadakan makna lain untuk kita sekarang bahwa di dalam Kristus kita disuruh untuk menjadi anak-anak dewasa yang siap berjuang bagi-Nya.

Jika dicermati, berbagai pemaknaan ini tidak selalu konsisten. Bukannya bahwa PL menjadi semacam alegori (setiap poin ada padanan yang tunggal dalam PB) melainkan bahwa berbagai pola dalam PL dipakai untuk memahami Kristus. Jadi, semua pemaknaan ini mau membantu jemaat untuk memahami dirinya sebagai anak-anak Allah dan sebagai umat yang kudus yang sedang dipersiapkan untuk berjuang melawan musuh-musuh Allah, yaitu berbagai daya sosial-politik yang dikendalikan oleh arah hidup yang, seperti Israel, tidak mendengarkan firman Allah dan merindukan perbudakan di Mesir di atas susu dan madu tanah perjanjian. Tanpa pembaruan identitas sebagai umat, gereja akan makin menjadi “bangsa”, sekadar lembaga sosial yang tetap menyandang cela-cela dari cara hidup dunia ini.

Dipublikasi di Yosua | Tag , | Meninggalkan komentar

1 Kor 10:1-13 Allah yang Kudus dan Setia [24 Mar 2019] (Prapaskah III)

Penggalian Teks

Dalam 1 Kor 8-10, Paulus menanggapi pertanyaan mereka tentang memakan daging yang dipersembahkan kepada berhala. Persoalan itu mengungkapkan satu segi lagi dari sikap dalam sebagian jemaat yang belum menangkap hikmat berdasarkan salib (pp.1-4). Mereka memakan daging itu dengan bebas karena mereka tahu bahwa berhala bukan sesuatu (8:4), bahkan mereka makan di kuil berhala (8:10). Sikap pertama yang disoroti Paulus adalah bahwa mereka menempatkan pengetahuan mereka di atas kasih kepada sesama jemaat yang hati nuraninya lemah (p.8). Sikap kedua adalah kecintaan akan kebebasan yang tidak terarah pada Injil. Sebagai perbandingan, Paulus menceritakan bagaimana dia menggunakan kebebasannya untuk menolak haknya untuk dihidupi oleh Injil dan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai budaya untuk memberitakan Injil (p.9). Sikap ketiga adalah kesombongan yang menduakan Kristus. Mereka bersekutu dengan Kristus dalam perjamuan kudus dan juga dengan roh-roh jahat yang ada di balik berhala yang menjadi sponsor acara makan di kuil itu (10:19-21).

Untuk merongrong kesombongan mereka, Paulus menjelaskan pentingnya melatih diri supaya tidak kehilangan keselamatan (9:24-27), dan perikop kita mengembangkan peringatan itu dari kitab Suci. Dia menjelaskan bagaimana Israel juga mengalami keselamatan dan persekutuan dengan Allah tetapi tewas di padang gurun (1-5). Kemudian, dia mengangkat berbagai dosa Israel sebagai peringatan bagi jemaat sekarang (5-11). Tujuannya supaya jemaat menyadari kondisinya yang rentan sehingga menghadapi pencobaan dengan pertolongan Tuhan (12-13).

Untuk mengangkat Israel sebagai peringatan bagi jemaat, Paulus menjelaskan bagaimana Israel sungguh-sungguh menjadi umat Allah sama seperti jemaat di dalam Kristus, sampai Paulus dapat menyebut mereka sebagai “nenek moyang kita”, padahal jemaat di Korintus kebanyakan bukan orang Yahudi. Titik awalnya, yang sejajar dengan baptisan, adalah ketika awan mulai menyertai mereka (Kel 13:21, disebut sebagai perlindungan dalam Mzm 105:39) dan mereka menyeberangi Laut Teberau (Kel 14:21-22). Melalui peristiwa yang sekali saja itu, Israel diselamatkan dari penguasa yang melawan Allah (Firaun sejajar dengan Iblis) dan mengalami penyertaan Allah yang menuntun (seperti Roh Kudus bagi jemaat). Mereka menjadi umat Allah di bawah Musa yang sejajar dengan Kristus sebagai perantara dan pemimpin umat (1-2). Selaku umat Allah, Israel juga menerima makanan dan minuman rohani yang sejajar dengan roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus (3-4). Makanan dan minuman itu juga bersifat jasmani (baik untuk Israel maupun untuk jemaat) tetapi disebut rohani karena memampukan umat Allah bertahan dalam perjalanan sampai tujuannya. Bagi Israel tujuannya tanah perjanjian; bagi jemaat tujuannya kebangkitan dalam Kerajaan Allah (lihat p.15). Allah yang memanggil menyediakan bekal yang cukup untuk perjalanan masing-masing. Peringatan terjadi sebagai kesimpulan dalam a.5: dalam kisah Israel kita melihat bahwa bekal itu tidak berhasil lepas dari niat umat untuk taat kepada Allah.

Dalam aa.6-11 Paulus menjelaskan bagaimana pengalaman Israel menjadi contoh (Yunani: tupos) bagi jemaat. Secara umum, jemaat dihimbau melawan keinginan jahat (6b). Keinginan itu dijabarkan ke dalam empat pokok: penyembahan berhala (7), percabulan (8), mencobai Tuhan (9), dan bersungut-sungut (10), dengan merujuk pada beberapa peristiwa dalam perjalanan Israel yang di dalamnya banyak orang Israel mati karena hukuman Allah. Kedua pokok pertama jelas berkaitan dengan jemaat di Korintus: Paulus sudah membahas percabulan (pp.5-7) dan sedang berbicara tentang penyembahan berhala (lihat 10:14 dst). Kedua pokok berikutnya tidak menyangkut hal yang langsung dibahas dalam surat ini, tetapi mungkin menyinggung sikap sombong mereka. Ketika kekurangan di padang gurun, Israel mencobai Tuhan dengan meragukan kebaikan-Nya (Bil 21:5) dan sering bersungut-sungut (misalnya, Bil 14:2). Paulus memahami bahwa di dalam Kristus jemaat adalah bentuk terakhir dari umat Allah, sehingga pengalaman Israel yang terekam untuk Israel berlaku juga untuk jemaat (11).

Penerapan dari kisah Israel bagi jemaat muncul dalam aa.12-13. A.12 mengungkapkan pengandaian yang mendorong Paulus dalam perikop ini. Mereka menganggap bahwa mereka berdiri teguh tetapi sebenarnya mereka rapuh. Paulus akan mempertajam tuduhan itu dalam seruan berikutnya untuk menjauhi penyembahan berhala (10:13). Andaikan mereka menangkap dan menerima nasihat Paulus itu, Paulus mau menguatkan mereka supaya jangan cemas. Pencobaan yang mereka hadapi berkaitan dengan penyembahan berhala (dan beberapa hal yang lain dalam surat ini) tidaklah luar biasa. Allah adalah setia. Dia tidak bermaksud menjebak mereka tetapi sebaliknya akan menyediakan jalan keluar. Bagaimana jalan keluar itu tidak dijelaskan, tetapi jalan keluar yang terakhir adalah kebangkitan. Maksud dari janji itu adalah supaya jemaat bertahan selama perlu sehingga tidak jatuh (13). Kesadaran akan kerentanan mereka akan membawa mereka untuk mengandalkan kekuatan Tuhan sehingga tidak jatuh.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah Israel menghukum semua sikap yang meremehkan batas yang Dia tentukan. Kesadaran akan hal itu membawa kita keluar dari sikap yang mengandalkan status kita sebagai orang percaya kepada sikap yang dalam pencobaan meminta tolong kepada Allah yang setia.

Makna

Manusia modern begitu menjunjung tinggi kebebasan sehingga otonomi pribadi (diri sebagai penentu utama nilai dan hidup) menjadi satu-satunya hal yang sakral, yang tidak boleh dilanggar. Jadi, moralitasnya hanya mempertimbangkan kerugian pada sesama. Agama dinilai baik sejauh mana mendorong manusia membantu sesama, tetapi peraturan-peraturan agamawi dianggap tidak berguna bagi orang yang lebih tahu. Filsafat Yunani merupakan salah satu bibit dari sikap modern itu, termasuk meremehkan konsep agamawi seperti murka Allah sebagai konsep yang dilampaui oleh pengetahuan yang benar. Mungkin saja kelompok “kuat” di jemaat di Korintus adalah orang-orang yang terpengaruh oleh filsafat seperti itu. Jadi, adalah menarik bahwa keempat dosa yang diangkat Paulus merupakan pelanggaran terhadap Allah, bukan ketidakadilan terhadap sesama. Hanya soal percabulan yang ada unsur kemanusiaan di dalamnya, tetapi percabulan yang dirujuk dari Bil 25 itu merupakan praktek yang dianggap baik-baik saja dalam budaya di sekitar Israel, dan juga akan dianggap baik-baik saja dalam budaya modern karena tidak ada unsur paksaan (yang melanggar otonomi pribadi) di dalamnya. Percabulan itu hanya menjadi dosa karena Allah menentukan suatu batas yang ketat untuk persetubuhan, yaitu pernikahan.

Kadang orang-orang percaya sekarang yang lebih berpendidikan justru mulai meremehkan hal-hal seperti setia dalam ibadah dan pernikahan, penyerahan diri, dan praktek bersyukur seperti doa makan, yang menyatakan sikap hormat kepada Allah. Bagi mereka, yang penting adalah sikap terhadap manusia. Mungkin saja mereka rajin beribadah, tetapi menyembah dan memahsyurkan Kristus tidak terlalu pokok di dalamnya. Karena Allah dianggap tidak murka, kehati-hatian terhadap dosa tidak penting. Ternyata kondisi mereka justru rawan menurut Paulus.

Tafsiran ini menunjukkan bahwa sorotan a.13 bukan hal-hal yang muncul dari kelemahan dan ketidakdewasaan melainkan hal-hal yang dapat membawa kepada sikap hati yang menduakan Kristus dan meremehkan perintah Allah. Sebagai contoh dari pokok tentang bersungut-sungut, Paulus tidak mengatakan bahwa orang yang kurang bersyukur terancam tewas dan masuk neraka. Selama kita ada dalam dunia sekarang, kita tidak akan mencapai hati yang selalu bersyukur sebagaimana semestinya. Tetapi keluhan yang wajar perlu diwaspadai supaya jangan membesar dan menjadi sungut-sungut yang mempertanyakan otoritas Allah atas kehidupan umat-Nya (lihat misalnya Kel 16:2; Bil 14:2). Sama halnya, kita perlu hati-hati terhadap harta atau status atau kenikmatan yang kalau dibiarkan akan menjadi berhala, terhadap nafsu yang menjadi liar dan membawa kita untuk melanggar perintah Allah, terhadap keraguan yang mulai menuntut bukti akan kebaikan Tuhan.

Allah adalah Bapa kita yang kudus. Dalam kekudusan-Nya Dia menentukan batas-batas tertentu untuk kita taati. Sebagai Bapa kita, Dia setia dalam menuntun kita melalui berbagai pencobaan supaya kita tidak jatuh dan binasa.

Dipublikasi di 1 Korintus | Tag , | Meninggalkan komentar

Luk 13:31-35 Jalan Yesus dalam dunia berdosa [17 Mar 2019] (Prapaskah II)

Penggalian Teks

Perikop ini berakar dalam kisah Lukas secara lebih luas, terutama berkaitan dengan jalan salib. Yesus sudah memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita, mati, dan dibangkitkan sesuai dengan rencana Allah (9:22), dan bahwa semua yang mau mengikuti-Nya harus menempuh jalan yang sama (9:23). Langsung setelah itu, transfigurasi Yesus menegaskan bahwa jalan salib itu disetujui oleh Allah (9:35), dan bahwa, walaupun jalan itu susah, tujuannya kemuliaan yang sejati. Mulai 9:51, jalan itu ditempuh secara harfiah oleh murid-murid Yesus (13:22), dan dalam bagian Injilnya yang panjang (pp.9-19) Lukas memasukkan berbagai kisah dan ajaran yang memperjelas jalan salib itu. Fokus dalam konteks perikop kita adalah kondisi Israel. Perikop sebelumnya memperbandingkan Israel yang sulit menemukan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan banyak dari bangsa-bangsa yang akan masuk (13:23-30). Kebencian terhadap Yesus sebagai wakil Allah itu dilihat dalam pemimpin politik (perikop kita), pemimpin agama yang mengutamakan peraturan di atas berbuat baik (14:1-6), dan rakyat secara umum yang memperebutkan kehormatan dari sesama (14:7 dst). Ditengah kecaman Yesus yang keras itu perikop kita juga menyampaikan keluhan ilahi terhadap bangsa yang tidak mau bertobat (34-35).

Keluhan itu dipicu oleh beberapa orang Farisi yang memperingati Yesus bahwa Herodes mau membunuh-Nya (31). Tidak jelas dalam rangka apa mereka menyampaikan pesan itu, tetapi efeknya adalah mereka menempatkan diri sebagai orang yang dekat dengan penguasa sementara Yesus adalah orang yang rentan. Yesus tidak menerima pengandaian mereka. Mereka adalah pesuruh dari orang seperti rubah (LAI “serigala” keliru untuk Yunani alōpēx), suatu binatang yang licik tetapi sebenarnya tidak berbahaya (32a). Waktu Yesus ditentukan oleh Allah, bukan Herodes. Untuk sementara waktu Dia akan memperlihatkan Kerajaan Allah dalam pengusiran setan dan penyembuhan, dan Dia akan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem untuk dibunuh di sana sesuai dengan rencana Allah (32b-33).

Sikap Herodes adalah bagian dari sikap pimpinan Israel yang turun-temurun menolak, bahkan membunuh, nabi-nabi Allah. Namun, Herodes hanya ada di pinggir Israel. Pusat Israel ialah Yerusalem, tempat nama Allah hadir. Di situlah, sifat sebenarnya dari Israel sehingga Mesiasnya dibunuh perlu diperlihatkan supaya jelas bahwa peristiwa itu bukan “kasus” tetapi mencerminkan kodrat bangsa secara keseluruhan (34a).

Kodrat bangsa itu menimbulkan keluhan Yesus yang mencerminkan keluhan Allah atas Israel (a.34b; lihat, misalnya, Hosea 11). Dalam pelayanan-Nya Yesus menawarkan perlindungan bagi Israel yang tertekan oleh Iblis sama seperti Allah melindungi Israel yang keluar dari Mesir (Ul 32:11). Tetapi mereka menolak perlindungan itu sehingga Yerusalem akan kembali dihancurkan (35a), sebagaimana memang terjadi pada tahun 70 M. Kerinduan Yesus ditolak dan hal itu membawa bencana bagi mereka. Namun, di balik bencana itu ada pengharapan. Yesus menubuatkan penerimaan eskatologis, di mana umat Israel (mungkin diperluas dengan bangsa-bangsa) akan menyambut Mesiasnya (35b). Dia mengutip Mzm 118:26 untuk bahasa dari sambutan itu. Adalah menarik bahwa yang disambut dalam mazmur itu adalah batu yang ditolak oleh manusia tetapi menjadi batu penjuru yang membawa keselamatan bagi Israel (Mzm 118:22). Nas itu dipakai Yesus berhadapan dengan orang Farisi untuk berbicara tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang akan segera terjadi (Luk 20:17). Sambutan dalam a.35b itu paling bermakna dalam terang salib dan kebangkitan. Ketika Yesus datang ke Yerusalem, murid-murid-Nya menggunakan nas itu (Luk 19:38), walaupun mereka belum menangkap sepenuhnya maksudnya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita mengikuti Yesus di tengah dunia berdosa yang terancam oleh kebenaran. Kita didorong untuk berlindung pada-Nya sebagai keluarga-Nya dan untuk menyambut Dia sebagai Juruselamat.

Makna

Di dalam kisah-kisah Israel kita melihat kodrat manusia berdosa secara umum, bahkan oleh manusia yang diberi pengenalan akan Allah. Banyak pemimpin sekular yang licik, dan banyak pemimpin agama yang terganggu oleh suara kenabian. Yesus akan diserahkan untuk disalibkan oleh pimpinan agama yang tinggi pendidikannya dan dianggap paling bertanggung jawab di Israel. Secara perorangan, para pemimpin itu berusaha berbuat baik, termasuk untuk menjaga citra atau kedudukan lembaga agama yang dianggap sangat penting. Sampai sekarang kita melihat pola yang sama. Orang yang mengungkapkan dosa sering menderita sementara pelakunya dilindungi demi citra lembaga, dan pemimpin agama tidak segan bersekutu dengan penguasa untuk kepentingan seperti itu. Hal itu terjadi karena agama tanpa jalan salib menjadi lembaga yang sama rawannya terhadap dosa dengan lembaga manusia yang lainnya. Tanpa salib, agama pun menjadi alat Iblis.

Jadi, selain gambaran tentang sifat dunia, kita juga diberi gambaran tentang jalan salib itu. Seperti yang kita lihat dalam Kisah Para Rasul, murid-murid Yesus akan berhadapan dengan penguasa politik dan agama yang terancam oleh kebenaran. Sama seperti Yesus, kita harus siap bekerja selama ditentukan Allah, dan harus siap selesai pada “hari ketiga” kita yang ditentukan Allah, dalam pengharapan akan kemuliaan yang dijanjikan oleh kebangkitan Yesus (dan terungkap dalam transfigurasi Yesus).

Dengan demikian, kita akan rindu untuk dikumpulkan oleh Yesus untuk memenuhi kerinduan-Nya atas kita sebagai keluarga-Nya. Kita akan mengakui-Nya sebagai batu yang ditolak tetapi dibangkitkan oleh Allah, dan menyambut Dia yang menyandang nama Tuhan. Pengenalan akan Kristus dalam Injil dan mengikuti jalan-Nya akan saling menguatkan dan saling memperjelas.

Dipublikasi di Lukas | Tag , | Meninggalkan komentar

Rom 10:4-15 Menanggapi firman tentang Tuhan Yesus yang bangkit [10 Mar 2019] (Prapaskah I)

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya untuk orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan pengharapan dalam PL itu sendiri (1:2; dalam 15:9-12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Namun, Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, termasuk hukum Taurat, janji-janji, dan hak istimewa menurunkan Mesias (Rom 9:4-5). Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9-11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak di atas Ismael dan Yakub di atas Esau. Kemudian (9:24-29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima-Nya, dan dalam p.11 dia sampai pada kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, tetapi di tengah dan melalui kehendak-kehendak manusia. Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari sudut pandang Israel sendiri. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, ganti menerima pembenaran dari Allah (9:30-10:3). Perikop kita menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) itu diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak berita keselamatan itu.

Rom 10:4 menjelaskan (“sebab”) mengapa cara Israel mengejar keselamatan itu salah, yaitu karena mereka tidak melihat bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, seperti diuraikan Paulus dalam pp.3-8. Ayat itu juga menjadi dasar untuk penguraian Paulus yang berikut. Paulus memperlihatkan dari Taurat sendiri bahwa pembenaran terdapat dengan percaya. A.5, yang mengutip dari kitab Imamat, merujuk pada ritus-ritus yang dilakukan supaya Israel yang najis karena dosa dapat beroleh penyucian. Cara itu tepat pada waktunya (sebelum Kristus menjadi jalan pendamaian, 3:25), sejauh dilakukan dengan iman (9:32). Tetapi Taurat sendiri mengemukan pentingnya iman sebagai respons terhadap firman. Dalam aa.6-7 Paulus mengutip dari Ul 30:11-14 yang mengatakan bahwa firman Allah itu dekat, di dalam mulut dan hati. Maksud Musa ialah bahwa makna Taurat bukan sesuatu yang terlalu jauh atau tinggi untuk dipahami, dan hanya menuntut pengakuan di mulut dan hati yang mengasihi Allah. Dia berlanjut dengan menantang Israel untuk memilih hidup dengan mendengarkan firman itu. Tetapi firman itu tidak dibatasi pada hukum Taurat. Musa sudah memperingati Israel dengan kutuk kalau tidak setia (Dt 28-29), tetapi baru saja menubuatkan pemulihan Israel setelahnya (Ul 30:1-10), termasuk janji akan hati yang baru (Ul 30:6). Hal-hal itulah yang digenapi oleh Kristus, seperti sudah diuraikan dalam pp.1-8. Memang, keselamatan dalam Kristus menyangkut kekekalan bagi setiap orang dari semua bangsa (2:6-10). Tetapi apa yang dikatakan oleh Musa tentang penerimaan Taurat sebagai firman berlaku lebih lagi untuk firman tentang Kristus.

Dari nas Musa itu Paulus mengembangkan dua kata kunci, yakni “mulut” dan “hati” (aa.9-13), supaya penguraiannya dalam pp.1-8 yang memang rumit dapat diterapkan secara sederhana. Mulut diartikan sebagai pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan (9a), dan hati diartikan sebagai kepercayaan bahwa Yesus bangkit sebagai karya Allah (9b). Memang Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah dan Tuhan oleh kebangkitan-Nya (1:4), jadi kedua hal ini berkaitan secara teologis. Tanggapan secara perorangan (“kamu” semestinya “engkau” dalam a.9) terhadap kebenaran itu ada dua segi. Di dalam hati yang penting ialah menempatkan kebangkitan Yesus sebagai hal yang membawa hidup yang sejati, sama seperti Abraham percaya pada janji Allah akan seorang anak padahal tubuhnya setengah mati, seperti dijelaskan Paulus dalam 4:18-25. Di depan umum (dengan mulut), Yesus perlu dinyatakan sebagai Juruselamat yang berkuasa atas kehidupan kita sebagai umat-Nya. Kedua segi itu dikaitkan dengan kedua langkah dalam keselamatan seperti dalam 5:8-10, yaitu pembenaran sekarang sebagai jaminan akan keselamatan eskatologis. Dengan percaya kita dibenarkan (10a), dan pengakuan menempatkan orangnya dengan umat Tuhan Yesus yang akan selamat (10b).

Kemudian, Paulus memperjelas maksudnya dengan merujuk kembali kepada kisah Israel dalam PL, kali ini dari dua nabi yang memperingati Israel yang tidak setia dan berhadapan dengan hukuman Allah terhadap bangsa itu. Dalam Yes 28:16 (dikutip dalam a.11), Allah meletakkan batu (Mesias) yang menjadi pembeda antara orang yang mau percaya kepada Allah dan kebanyakan yang mengandalkan muslihat sendiri. Pada penghakiman eskatologis, kebanggaan-kebangaan para penolak Kristus akan terbongkar di depan umum, tetapi orang yang percaya kepada Kristus tidak akan dipermalukan, karena Allah ada pada pihak mereka (bdk. 8:31-39). Kasih Allah tidak mengecewakan (5:5; kata Yunani untuk “mengecewakan” dalam ayat itu sama untuk “dipermalukan” di sini). Paulus menerapkan janji itu kepada seluruh umat manusia yang berhadapan dengan hukuman Allah secara eskatologis, dengan merujuk pada uraiannya tentang bagaimana Injil menyatakan kedaulatan Allah bagi semua bangsa (a.12; bdk. 3:29-20). Kemudian, pengakuan akan Kristus disamakan dengan berseru kepada nama Tuhan (13). Orang percaya tidak malu bergabung dengan sesama orang setia yang hanya berharap kepada Tuhan, dan Tuhan itu dikenal dengan nama Yesus.

Jika keselamatan berdasarkan janji Allah yang luar biasa itu ditunjukkan untuk semua orang, bagaimana dengan orang-orang yang belum berjumpa dengan janji itu? Dalam aa.14-15 Paulus mengajukan dan menjawab pertanyaan itu. Berseru (sehingga diselamatkan) hanya mungkin jika sudah percaya. Percaya hanya mungkin jika sudah mendengar tentang Kristus. Mengapa? Karena percaya berarti percaya bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa sejarah. Baik nalar maupun hati tidak bisa menjangkau peristiwa sejarah kecuali diberitahu. Budaya setempat bisa membawa banyak nilai Injili, tetapi tidak bisa memberitahu tentang kebangkitan Kristus. Makanya, perlu ada yang memberitakan Kristus. Siapa? Sama seperti Paulus dan Barnabas diutus (Kis 13:2-3), perlu ada yang diutus untuk membawa berita tentang Kristus kepada mereka yang belum mendengarnya. Dalam Rom 15:24 Paulus akan meminta dukungan mereka supaya misi itu dapat dia lanjutkan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Inti respons manusia terhadap Injil tentang Tuhan Yesus yang bangkit ialah percaya dalam hati dan mengaku dengan mulut. Respons itu menjadi hidup kita, dan kita juga didorong untuk memberitakan Injil supaya orang lain dari segala bangsa juga menemukan hidup dalam Tuhan Yesus yang bangkit itu.

Makna

Adalah jelas bahwa “mulut” dan “hati” yang dimaksud Paulus (mengikitu Musa) bukan soal “asal ngomong” atau “setuju saja”. Kebangkitan Kristus dipercayai ketika menjadi dasar pengharapan akan hidup yang sejati. Kristus diakui sebagai Tuhan dengan bangga (seperti dalam 5:11). Kita dapat membandingkan iman yang sejati itu dengan dua alternatif. Memang ada yang tidak tertarik dan murni ikut-ikutan andaikan beribadah. Tetapi yang lebih berbahaya di dalam jemaat (dan antara para pelayan) ialah gaya orang-orang Israel yang “sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar” karena “berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri” (10:2-3). Ada gaya wacana religius yang banyak berbicara tentang iman, pengakuan, perbuatan baik, tanpa memberi perhatian banyak pada Siapa yang diimani, diakui, dan ditaati. Dengan demikian, agamanya berpusat pada manusia, bukan pada Kristus. Walaupun a.9 memberi inti yang sederhana, di balik itu ada penguraian Paulus akan karya Allah dalam Kristus yang kaya. Semoga Kristus dijunjung tinggi dalam refleksi kita atas perikop ini.

Dipublikasi di Roma | Tag , , | Meninggalkan komentar