Kej 9:8-17 Tanda dunia yang baru [18 Feb 2018] (Prapaskah I)

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan bagian akhir cerita air bah. Setelah bahtera mendarat dan semua binatang yang selamat keluar daripadanya, Nuh berfungsi sebagai imam dengan mempersembahkan binatang dan burung yang tidak haram, dan harumnya korban bakaran itu mengingatkan Tuhan akan maksud awal untuk memberkati bumi dan bersekutu dengan manusia sehingga Dia berniat untuk tidak membinasakan bumi lagi (8:20-22). Niat “dalam hati” itu disampaikan dan diwujudkan dalam 9:1-17. Dalam 9:1-7, Allah mengulang kepada Nuh amanat yang diberikan kepada manusia perdana untuk bertambah banyak, hanya dengan beberapa perkembangan, seperti adanya binatang sebagai makanan (kecuali darahnya), dan larangan untuk membunuh karena sifat manusia sebagai gambar Allah. Dalam perikop kita, niat itu berwujud sebagai perjanjian yang ditandai oleh busur di awan.

Apa yang disampaikan Allah dalam perikop ini dibagi dalam tiga pernyataan (ditandai dengan “Allah berfirman”). Aa.9-11 menyatakan pengadaan perjanjian. Aa.12-16 menjelaskan fungsi pelangi sebagai tanda perjanjian itu, dan a.17 merupakan penutup kepada Nuh, sekalian penutup untuk seluruh kisah air bah, karena Nuh adalah orang pilihan yang dipakai untuk keselamatan manusia di tengah penghukuman Allah. Latar belakang untuk perjanjian ini ada dalam 6:18, sebelum Nuh masuk ke dalam bahtera. Frase “mengadakan perjanjian” (heqim berit) berarti meneguhkan perjanjian yang sudah ada, biar dalam bentuk informal. Nuh sudah berkenan di hadapan Allah, dan sudah taat membangun bahtera. Jadi, Allah berjanji untuk menyelamatkan Nuh dari air bah yang akan datang. Air bah akan menghapus kerusakan bumi dari kekerasan manusia, kecuali yang terlindung di dalam bahtera itu. Adalah menarik bahwa semua jenis binatang turut di dalam bahtera: manusia tidak bisa selamat tanpa makhluk-makhluk yang lain.

Dalam aa.9-11, Allah meneguhkan perjanjian-Nya dengan Nuh dalam rangka yang lebih luas. Semua makhluk yang ikut dalam bahtera disebutkan secara eksplisit. Kemudian, tiadanya lagi air bah yang memusnahkan seluruh bumi dijanjikan. Jadi, seluruh bumi dijadikan bahtera yang terjamin kelestariannya. Semua aspek itu (keamanan yang universal dan selama-lamanya) diulang dalam aa.12-16 dengan penambahan busur di awan (pelangi) sebagai tanda perjanjian itu. Yang menarik, fungsi tanda yang disebutkan adalah untuk Allah sendiri. Bagian Allah dalam perjanjian ini adalah tidak memusnahkan kembali. Barangkali, bagian bumi adalah menjadi-jadi sesuai dengan hakikatnya, dalam keyakinan (khususnya bagi manusia) bahwa dunia ini tetap. Pelangi menjadi tanda yang universal untuk perjanjian yang universal ini.

Penutup mengalamatkan Nuh, karena kepada Nuh-lah Allah pertama-tama meneguhkan perjanjian-Nya. Perjanjian pertama menyangkut bahtera, dan kelanjutannya di sini menyangkut seluruh bumi. Tetapi perlu diingat bahwa seluruh makhluk itu (termasuk manusia) berasal dari bahtera. Bahtera yang kecil itu telah menjadi keseluruhan. Nuh merupakan semacam Adam kedua (9:1), dan dunia pada zaman Nuh merupakan dunia baru yang terdiri atas semua yang diselamatkan dari dunia sebelumnya. Tanda pelangi menunjukkan bahwa dunia yang baru ini lebih kukuh daripada yang sebelumnya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah mempersiapkan dunia baru yang kukuh, dan baptisan menjadi tanda bahwa kita menuju dunia itu. Sama seperti pelangi meyakinkan kita untuk bertindak dalam ciptaan sekarang karena kukuh, baptisan meyakinkan kita untuk melangkah dalam iman karena keselamatan yang terjamin.

Makna

Pola keselamatan kelompok kecil yang menjadi dunia baru bermuncul-muncul dalam kisah Alkitab. Israel diselamatkan dari Mesir melalui air Teberau yang menghancurkan tentara Firaun. Israel memasuki tanah perjanjian melalui sungai Yordan, dan Israel juga akan kembali dari pembuangan melalui air (Yes 43:2). Baptisan Yohanes diadakan di sungai Yordan sebagai petunjuk bahwa Israel yang berdosa harus kembali dari pembuangan melalui air, dan Yesus bersatu dalam baptisan-Nya dengan umat yang berdosa itu sebelum Dia dicobai dan mulai memberitakan kedatangan Kerajaan Allah (Mrk 1:9-15). Dengan menjadi bagian dari keluarga-Nya sebagai orang-orang yang mendengarkan-Nya (Mrk 3:31-35), kita masuk ke dalam bahtera keselamatan.

Dalam 1 Pet 3:18-22, Petrus merujuk langsung kepada air bah sebagai tipe (patron/pola) dari baptisan. Nas itu tidak mudah ditafsir. Petrus menempatkannya dalam kerangka kematian, kebangkitan, dan kedudukan Kristus di sebelah kanan Allah. Karya Kristus itu dilakukan untuk “membawa kita kepada Allah” (3:18b); pengharapan itulah yang dipertanggungjawabkan kepada orang luar (3:15b). Maksud Petrus secara keseluruhan muncul dalam a.22b, yaitu untuk mengatakan bahwa Kristus akan menang atas semua kuasa yang melawan jemaat karena melawan Kristus. Kemenangan itu dilihat bahkan atas roh-roh yang tidak taat (a.19-20),1 dan baptisan adalah tanda bahwa kita berada di dalam bahtera keselamatan itu.

Jadi, baptisan di sini memiliki dua segi. Air bah adalah sekalian hukuman dan juga sarana keselamatan sama seperti kematian dan kebangkitan Kristus. Jadi, baptisan merujuk pada karya Allah di dalam Kristus. Tetapi Petrus juga menegaskan bahwa baptisan itu berkaitan dengan hati nurani yang baik (atau murni; istilahnya sama dengan 3:16). Maksud “hati nurani yang baik” adalah iman yang dengan tulus menerima bahwa Kristus telah mati bagi dosa. Terjemahan LAI melihat baptisan sebagai cara untuk meneguhkan iman itu; alternatifnya (“memohon kepada Allah berdasarkan hati nurani yang baik”) melihat baptisan sebagai penyataan iman itu.


  1. Terjemahan LAI menambahkan kata “Injil” setelah kata “memberitakan”, dan kata “mereka” setelah “roh-roh”. Kedua tambahan itu (yang wajar saja) mengikuti tafsiran kuno bahwa roh-roh manusia dari zaman Nuh diberitahu Injil, sesuatu yang biasanya dianggap terjadi antara kematian dan kebangkitan Kristus. Pada zaman Reformasi, tafsiran itu diwaspadai karena dikaitkan dengan berbagai praktek Katolik seperti doa untuk orang mati. Mereka melihat Roh Kristus dalam Nuh sebagai yang mengumumkan hukuman Allah dan jalan keselamatan. Tafsiran yang biasa sekarang dan tersirat di atas mengikuti urutan Petrus dengan mengatakan bahwa Kristus yang telah bangkit mengumumkan kemenangan-Nya kepada roh-roh jahat yang berkaitan dengan kejatuhan malaikat-malaikat dalam Kej 6:1-3 (menurut tafsiran lazim pada zaman PB), dan tetap berpengaruh. Relevansi pesan seperti itu untuk pendengar surat Petrus lebih jelas dari kedua alternatifnya.

Iklan
Dipublikasi di Kejadian | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mrk 9:2-9 Kemuliaan yang sejati dalam jalan salib [11 Feb 2018] (Minggu Transfigurasi)

Penggalian Teks

Jarang Injil Markus menunjukkan jarak waktu yang jelas, tetapi barangkali Markus mau mengaitkan peristiwa dalam perikop ini dengan pemberitahuan Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya (8:31), dan kedatangan kerajaan Allah (9:1). Yesus naik ke sebuah gunung tinggi seperti Musa dalam Kel 24 (Kel 24:16 juga menyebut “enam hari”); murid-murid-Nya ada di gunung kaki seperti ketujuh puluh tua-tua Israel, dan Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik lebih jauh seperti Yosua, abdi Musa. Mereka akan menjadi saksi dari peristiwa ini.

Yang berbeda dengan Sinai ialah bahwa yang dilihat bukan kemuliaan Allah dari bawah, melainkan kemuliaan yang terpancar dari Yesus sendiri (2-3). Kemudian, Elia dan Musa tampil (4). Musa tentu adalah perantara ketika Allah membuat perjanjian dengan Israel di gunung Sinai, dan Elia juga kembali ke gunung Sinai untuk dikuatkan dalam pelayanan kenabiannya untuk memanggil Israel kembali ke dalam perjanjian itu (1 Raj 19). Respons Petrus muncul dari dampak yang dahsyat dari penampakan ini (5-6). Tetapi ucapannya mengungkapkan salah paham, seakan-akan Musa dan Elia setara dengan Yesus. Jadi, mereka semua ditutupi oleh awan, dan muncullah suara Allah seperti pada baptisan Yesus (7). Suara itu mengaku Yesus sebagai Anak Allah, yaitu Mesias (Mzm 2:7) yang mendapat tempat khusus dalam hati Allah. Hanya, suara ini dialamatkan kepada ketiga murid, sehingga berakhir bukan dengan penguatan (“kepada-Mulah Aku berkenan”) melainkan dengan perintah untuk mendengarkan Yesus. Sebenarnya mereka sudah mengakui identitas Yesus sebagai Mesias (8:29), tetapi mereka belum menangkap semua implikasinya: Musa dan Elia mewakili firman Allah dalam PL, tetapi semuanya tercakup dalam ajaran Yesus, termasuk tentang jalan salib (8:34). Makanya, ketika awan itu tiba-tiba hilang, tinggal Yesus seorang diri (8).

Dalam a.9, Injil kembali ke soal kesalahpahaman murid-murid Yesus. Tetapi ayat ini juga memberi petunjuk bahwa peristiwa ini bukan bagian dari pelayanan Yesus di bumi, tetapi suatu penampakan tentang kemuliaan-Nya yang akan dinyatakan setelah Dia bangkit. Untuk semua pembaca Injil, kebangkitan itu sudah terjadi. Peristiwa ini membantu kita untuk membaca semua pergumulan Yesus selanjutnya, termasuk penderitaan, penolakan, dan penyaliban yang sudah Dia nubuatkan (8:31), bukan sebagai nasib yang naas melainkan sebagai jalan yang Dia pilih dengan sadar sebagai Anak Allah yang mulia.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus yang berjalan dalam kerendahan dan akhirnya disalibkan adalah Anak Allah dan firman Allah yang sejati. Kita diperintah mendengarkan Dia untuk mengetahui makna firman Allah, termasuk bahwa Allah dinyatakan dalam Yesus itu, dan bahwa kemuliaan kita didapat dalam mengikuti-Nya pada jalan salib.

Makna

Adalah menarik bahwa kedua tokoh PL yang muncul bersama dengan Yesus bukan penguasa yang besar, seperti raja Daud atau Salomo, tetapi seorang pemimpin kelompok pengungsi, dan seorang nabi yang sering menjadi buronan. Allah tidak alergi kuasa. Dia memakai embel-embel kuasa duniawi seperti logam berharga dan kebesaran ketika tua-tua Israel melihat-Nya di gunung Sinai, dan Dia melawan kekerasan Firaun di Mesir dengan kekerasan alam. Tetapi Dia menyediakan sarana untuk kekudusan umat-Nya dalam sistem kurban jauh sebelum mereka menjadi kerajaan yang bernama, dan firman-Nya melalui para nabi biasanya menentang kepentingan penguasa, dari umat-Nya sendiri sekalipun. Walaupun Yakobus dan Yohanes sempat mengejar kedudukan di sebelah kanan dan kiri Yesus, setelah Dia mati dan bangkit mereka bersama dengan semua murid dimampukan oleh Roh Kudus untuk menempuh jalan salib itu.

Ada banyak suara dalam dunia ini. Sebagian dengan kasar menentang atau mengesampingkan jalan Tuhan, tetapi bahkan suara dalam bidang agama yang beranjak dari kitab Suci belum tentu menuntun pada jalan yang benar. Jalan itu adalah jalan salib seperti yang ditempuh Yesus sendiri, jalan yang siap menghadapi kerendahan dan penderitaan demi panggilan Allah untuk sesama.

Dipublikasi di Markus | Tag , | Meninggalkan komentar

Mrk 1:29-39 Bukan untuk satu tempat saja [4 Feb 2018]

Penggalian Teks

Markus 1-3 menyampaikan gambaran tentang pelayanan Yesus yang memberitakan kedatangan Kerajaan Allah (1:14-15) dan memanggil beberapa murid untuk menjadi bagian di dalamnya (1:16-20). Gambaran itu dimulai dengan beberapa peristiwa di Kapernaum yang mengungkapkan otoritas Yesus dalam mengajar dan atas roh jahat (1:21-28), dan juga atas penyakit (1:29-34). Kemudian kita melihat Yesus mengajar murid-murid-Nya tentang misi yang tidak puas dengan hasil di satu tempat saja (1:35-39).

Penyembuhan dalam 1:29-31 adalah yang pertama dalam Injil Markus. Dalam menafsir sebuah mukjizat, tentu ada pesan tentang kuasa Yesus, tetapi kita juga mencari makna dalam apa yang khas dalam peristiwa ini. Singkatnya, mertua Petrus bangkit dan melayani. Kata “membangunkan” (Yunani: egeirō) adalah salah satu kata yang dipakai juga untuk kebangkitan dari antara orang mati. Jika kita mengingat bahwa penyakit mewakili ranah maut, kita melihat gambaran kecil tentang maksud pembaruan orang dalam Kerajaan Allah.

Cerita berlanjut setelah matahari terbenam, terutama karena hari Sabat sudah selesai. Dalam aa.32-34, kedua peristiwa sebelumnya (di rumah ibadat dan rumah Simon Petrus) diulang untuk orang banyak (termasuk setan-setan didiamkan). Kota Kapernaum ada dalam kegelapan di bawah kutuk penyakit dan setan; seluruh kota menjadi semacam jemaah yang berkumpul di sekitar Yesus mencari berkat.

Yesus pun pergi untuk berdoa ketika masih malam (35). Pokok-pokok doa-Nya tidak diceritakan, tetapi barangkali salah satunya adalah tujuan pelayanan Yesus yang terungkap dalam a.38. Ternyata masih banyak orang yang belum sembuh di Kapernaum, dan tentu Simon, anak kota itu dan juga murid Yesus, diandalkan untuk menarik Yesus kembali ke kota untuk menjawab kebutuhan orang banyak (36-37). Jawaban Yesus sepertinya kasar: Dia menolak kebutuhan kota yang sudah menampung Dia, dan dengan demikian membuat Petrus mendapat malu karena gagal menarik Yesus kembali. Sumber ketegaan Yesus itu doa. Orang-orang di Kapernaum mungkin saja kecewa ketika Yesus pergi, dan kebutuhannya tidak dibuat-buat. Tetapi ada kebutuhan yang sama di seluruh Galilea (39). Yang membedakan apakah Yesus semestinya tinggal atau pergi bukan desakan manusia melainkan panggilan Allah atas Yesus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Berkat dari Kerajaan Allah bukan untuk satu tempat saja. Kita selayaknya bersyukur bahwa Injil sudah datang kepada kita, dan juga mendukung pemberitaan Injil ke tempat-tempat yang lain.

Makna

Setelah kebangkitan Yesus, kita memahami bahwa Yesus tidak hanya mengalahkan penyakit, Dia mengalahkan dosa dan maut. Roh-Nya memampukan kita untuk bangkit dari keberdosaan kita untuk melayani orang lain, seperti mertua Petrus. Dan ketika tiba waktunya untuk doa untuk disembuhkan tidak dikabulkan, kita akan meninggal dalam pengharapan akan kebangkitan ke dalam dunia baru.

Pelayanan gereja sehingga jemaat menikmati berkat dari Injil dan mensyukurinya itu penting. Namun, pelayanan itu tidak pernah akan merasa tuntas, dan ketika gereja mau memberi perhatian ke luar, selalu akan ada yang keberatan. Tetapi Kristus tidak mengutus kita ke satu tempat saja.

Ὀψίας δὲ γενομένης, ὅτε  ἔδυ ὁ ἥλιος, 
Dipublikasi di Markus | Tag | Meninggalkan komentar

1 Kor 8:1-13 Peka terhadap sesama penerima anugerah [28 Jan 2018]

Penggalian Teks

Perikop ini mengawali diskusi baru dari Paulus tentang makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Barangkali, dia menanggapi salah satu pokok lagi dari surat mereka kepadanya (bdk. 7:1). Ternyata ada dua sikap yang muncul di dalam jemaat tentang pokok ini: sikap bebas yang tidak melihat masalah bahkan dengan makan di kuil berhala (hal yang berguna untuk maju dalam masyarakat), dan sikap terikat yang menghindari segala sesuatu berkaitan dengan berhala sehingga praktis tidak makan daging lagi, karena bahkan daging yang dijual di pasar pada umumnya berasal dari kuil (bdk. a.13). Dalam p.10, Paulus membedakan dua aspek dalam pokok ini. Yang satu, yakni makan di dalam kuil, dilarang (berbeda dengan kelompok sikap bebas) sebagai persekutuan dengan roh jahat yang ada di balik berhala (10:14-22). Yang satu, yakni membeli daging di pasar, diperbolehkan (10:25-26; aspek ini berbeda dengan kelompok sikap terikat), termasuk makan daging di dalam rumah orang, kecuali orangnya sendiri memaknai daging itu sebagai persembahan dari kuil (10:27-28). Tetapi sebelum dia menyampaikan semuanya itu, Paulus menanggapi dulu rasa “berhak bebas” dari kelompok sikap bebas itu.

Kelompok sikap bebas bangga bahwa mereka sudah sungguh menangkap prinsip monoteisme sehingga bagi mereka kuil itu sekadar bangunan biasa yang tidak memiliki daya sakti (lihat semboyannya dalam tanda kutip dalam a.1 dan a.4). Paulus mulai dengan menyerang konsep mereka tentang pengetahuan sebagai keunggulan (1-3), kemudian mempertajam konsep mereka tentang Allah supaya Kristosentris (4-6), baru menempatkan kelompok sikap terikat sebagai kelompok yang berharga di dalam Kristus itu. Dalam uraian selanjutnya (p.9), dia menjelaskan bagaimana dia menempatkan haknya sebagai rasul di bawah kebutuhan orang akan Injil Kristus itu.

Tentang pengetahuan, Paulus membandingkan dua cara berkembang: digelembungkan1 oleh pengetahuan,2 atau dibangun dengan kasih. Dalam pp.13-14, kasih kepada sesama menjadi tema pokok, dan implikasinya ialah pembangunan sesama jemaat. Di sini Paulus menyoroti kasih kepada Allah sebagai sumber pengetahuan yang sejati yang menyangkut bukan apa yang kita ketahui melainkan bahwa Allah mengenal kita (3).3 Hanya Allah yang sungguh tahu, dan walaupun ada pengetahuan dalam Injil, maksud utamanya adalah membawa kita kepada relasi dengan Allah. Dalam relasi itu, “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa” (4) adalah pujian yang membangun, bukan milik yang dianggap keunggulan pribadi.

Namun, Paulus juga mempertanyakan konsep mereka tentang Allah (4-6). A.4 tentu adalah dasar monoteisme yang harus disaksikan di tengah dunia yang menempatkan apa saja sebagai ilah dan tuan ilahi. Tetapi Paulus mengingatkan mereka bahwa Allah yang esa itu dikenal di dalam Yesus Kristus. Allah Bapa adalah asal dari segala sesuatu dan juga menjadi tujuan hidup kita, tetapi asal itu diwujudkan melalui Kristus, dan kita akan mencapai tujuan itu melalui Kristus.4 Soalnya, pemahaman monoteis tidak hanya ada dalam ajaran Kristen. Filsafat Yunani pun memiliki konsep monoteis. Tetapi monoteisme tidak cukup untuk membawa kita kepada sikap yang benar. Tanpa Kristus, konsep kita tentang Allah abstrak dan umum.5 Itulah yang memudahkan pendekatan yang mengutamakan pengetahuan yang abstrak di atas perhatian yang konkret terhadap sesama.

Jadi, dikenal oleh Allah adalah yang paling penting, dan hal itu terjadi di dalam Kristus, bukan melalui pengetahuan tentang rumus-rumus teologis. Dari kedua pokok umum itu, Paulus menarik implikasi untuk tingkah laku mereka yang berdampak pada kelompok sikap terikat itu. Paulus mengakui bahwa “hati nurani” kelompok itu lemah. Mereka pasti percaya pada prinsip dalam a.4, tetapi hati nurani mereka tetap menilai semua daging sebagai bagian dari penyembahan berhala. Dengan daging itu dimakan, hati nurani mereka “dinodai”: mereka merasa najis, kehilangan berkat Allah (7). Paulus membayangkan bantahan kelompok sikap bebas (atau mungkin dia mengutip kembali dari surat mereka) bahwa makanan tidak berarti di hadapan Allah (8). Prinsip itu benar, tetapi penerapan kelompok sikap bebas tidak, jika pengetahuan mereka menjadi batu sandungan bagi sesama (9). Paulus mengangkat contoh dengan orang lemah melihat saudara seiman ikut makan di dalam kuil sehingga terbawa juga untuk makan (10). Dengan demikian dia “binasa” (11), dalam artian sudah melangkah pada jalan untuk meninggalkan Kristus. Tentu, tindakan demikian adalah dosa terhadap yang lemah, tetapi Paulus menyoroti dosanya terhadap Kristus sebagai penjamin martabat orang lemah: orang lemah dikenal oleh Allah di dalam Kristus sama seperti kelompok sikap bebas (11). Kesimpulan Paulus menegaskan bahwa keselamatan sesama orang percaya lebih penting dari kebebasan diri.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah yang esa dikenal di dalam Kristus yang mati untuk semua orang, bukan hanya mereka yang kuat dalam pengetahuan. Paulus mau supaya orang yang menganggap dirinya memiliki kelebihan siap melepaskan haknya demi kepentingan pihak yang lemah.

Makna

Adanya kesombongan karena pengetahuan tentunya sudah salah. Tetapi Paulus melacak lebih jauh. Kesombongan itu muncul karena Allah bukan pusat martabat diri, melainkan pengetahuan. Allah tidak menjadi pusat karena Dia tidak dikenal sebagai Bapa dari Yesus Kristus tetapi hanya sebagai Allah yang abstrak. Kemudian, kesombongan itu berwujud dalam sikap yang menilai sesama dalam perbandingan dengan kelebihan diri sendiri, bukan sebagai bagian dari karya Kristus. Makanya, ada tingkah laku yang melukai sesama tanpa rasa bertanggung jawab.

Skenario seperti yang digambarkan Paulus sering muncul dalam budaya modern yang menekankan kebebasan pribadi dalam hal seperti meminum minuman beralkohol, merokok, main kartu, dsb, yang belum tentu diterima di kalangan-kalangan tertentu. Tidak selalu kita harus mengalah kepada yang tidak setuju dengan tindakan tertentu (ketidaksukaan tidak sama dengan hati nurani dilukai), tetapi tidak cukup mengangkat prinsip teologis seperti “Allah menciptakan segala sesuatu baik; saya bebas.” Jika kita menghargai karya Kristus di dalam semua anggota jemaat, kita akan berusaha keluar dari keasyikan dengan kebebasan kita untuk sungguh memperhatikan dan menilai efeknya pada orang lain. Efek itu belum tentu masalah perbedaan pendapat. Seorang pemabuk yang sudah luput dari kecanduannya mungkin saja mengerti bahwa meminum alkohol bukan dosa, namun semestinya kita peka terhadap pergumulannya, walaupun kita harus membatasi kebebasan kita.


  1. Yunani fusioō berarti menggelumbungkan, dengan artian kiasan “menjadi sombong”.

  2. Tidak ada frase “yang demikian” dalam aslinya, tetapi dengan tepat LAI mau menunjukkan bahwa pengetahuan ala kelompok sikap bebas yang dimaksud.

  3. Kata dasar Yunani yang sama, gnōsis, ada di balik LAI “pengetahuan” dan LAI “mengenal”.

  4. LAI “oleh” dan “karena” mengartikan Yunani dia + genitif yang berarti “melalui”.

  5. Tentu, orang Israel mengenal Allah melalui perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Namun, penyataan Allah itu juga menjadi lebih tajam di dalam Kristus.

Dipublikasi di 1 Korintus | Tag | Meninggalkan komentar

1 Korintus 7:29-31 Bagian dari Dunia Mendatang [21 Jan 2018]

Penggalian Teks

Perikop ini adalah bagian dari uraian Paulus tentang “para gadis” (7:25-40), yang menentang kebiasaan dalam banyak budaya untuk mengejar status kawin. Paulus sudah mengakui bahwa pada umumnya orang percaya akan menikah, dan untuk mengurangi percabulan semestinya demikian (7:1-5). Dalam bagian ini dia mengembangkan petunjuk tentang tidak menikah dalam 7:6-7. Paulus menegaskan bahwa bagian ini adalah refleksinya dalam Roh (7:40) sebagai orang terpercaya (7:25), bukan perintah yang diturunkan dalam tradisi tentang ajaran Yesus. Untuk menerapkan perikop ini dalam konteks kita, kita perlu mengamati dasar uraian Paulus. Dia menyebut “waktu darurat sekarang” (7:25; bisa juga “yang akan segera datang”), “kesusahan badani” (7:28; en sarki, “dalam daging”, bisa juga diartikan “kehidupan sehari-hari”), singkatnya waktu (aa.29-31), “kekuatiran” (7:32), dan “melayani Tuhan tanpa gangguan” (7:35). Para penafsir terbagi soal apakah Paulus berbicara tentang keadaan darurat yang menimpa (atau mengancam) jemaat di Korintus, tentang kondisi umum orang percaya dalam dunia sekarang, atau tentang kesusahan berkaitan dengan akhir zaman yang dianggap akan segera datang. Menurut usul pertama, kesusahan badani dan gangguan melayani Tuhan itu karena pada masa penganiayaan orang-orang yang dianiaya dibebani dengan nasib keluarga juga. Sebaliknya, orang-orang percaya dalam masyarakat yang relatif aman mengalami keluarga justru sebagai wadah dan pangkal untuk melayani Tuhan, bukan gangguan. Perikop kita muncul di tengah uraian ini sebagai penjelasan yang lebih luas tentang dasar pemikiran Paulus.

Paulus mengangkat singaktnya waktu yang tersisa untuk kehidupan ini (29a), dan menerapkannya kepada sikap dalam kehidupan sehari-hari (29b-31a). Ada lima paradoks yang ditunjukkan dengan “seolah-olah tidak”, berkaitan dengan beristeri, menangis, bergembira, membeli, dan mempergunakan barang. Paradoks yang ditafsir secara kaku menjadi kerancuan. Jadi, Paulus tidak melarang suami untuk bersetubuh dengan isterinya (bdk. 7:3-5), dan tidak melarang orang yang berdukacita atau bersukacita untuk bersuara. Kata “seolah-olah” (Yunani: hos) diperjelas dalam ucapan terakhir bahwa “dunia seperti yang kita kenal” (harfiah: “bentuk dunia”) sedang (LAI: “akan”, tetapi maknanya berbeda tipis) berlalu. Kata hos dapat berarti “sebagai” yang merujuk pada identitas. Identitas orang percaya ditentukan oleh dunia mendatang, bukan dunia sekarang. Pada zaman itu, pernikahan tidak berlaku lagi; duka telah hilang; apa yang digembirakan sekarang, termasuk barang-barang duniawi yang dibeli dan dipakai, sudah berlalu. Jadi, paradoks-paradoks ini muncul karena kita berada dalam dunia sekarang tetapi di dalam Kristus kita merupakan bagian dari dunia mendatang.

Tentu, hal pertama yang disebutkan Paulus adalah pernikahan, tetapi dia menyejajarkan pernikahan dengan berbagai hal yang lain sebagai perbandingan. Efeknya ialah bahwa soal menikah atau tidak direlatifkan. Orang percaya yang mampu tidak menikah tetap memiliki identitas di dalam melayani Tuhan, sama seperti orang yang menikah. Bedanya bahwa yang tidak menikah akan lebih leluasa dalam pelayanan. Ketika penganiayaan muncul secara tak terduga, seperti sering terlihat dalam sejarah gereja, mereka dihindarkan dari berbagai pergumulan. Tetapi semua orang percaya semestinya hidup sesuai dengan dunia mendatang.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Orang percaya adalah bagian dari dunia mendatang, sehingga semua keterikatan (termasuk pernikahan) tidak menentukan siapa kita. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kita hidup bagi Tuhan, bukan untuk hal-hal duniawi yang dengannya kita berurusan.

Makna

Mrk 1:14-20 menceritakan bagaimana beberapa murid yang pertama-tama dipanggil tidak memegang dan tidak lagi mempergunakan milik mereka (atau keluarga mereka). Tentu, tidak semua murid Yesus meninggalkan rumah dan barang secara harfiah. Mereka menerapkan makna teologis yang disampaikan Paulus dengan menggunakannya untuk kepentingan Kerajaan Allah, misalnya dengan membuka rumah untuk dipakai untuk kumpulan jemaat.

Konsep yang dinyatakan Paulus mencerminkan suatu keanehan kekristenan sebagai keyakinan monoteis, yaitu bahwa peran kita sebagai pengikut Tuhan meliputi sema peran kita yang lainnya. Kita tetap berperan di dalam keluarga, di dalam suka-duka dunia sekarang, dan di dalam ekonomi masyarakat, tetapi semua peran itu harus takluk kepada peran kita sebagai anak-anak angkat Allah yang ditebus dari perbudakan terhadap dosa di dalam Kristus (6:20).

Dalam memberitakan perikop ini, kita perlu memikirkan di mana jemaat mengemban peran di dalam kehidupan sehari-hari seakan-akan peran itu adalah yang utama, bukan identitas baru di dalam Kristus.

Dipublikasi di 1 Korintus | Tag , | Meninggalkan komentar

1 Kor 6:12-20 Tubuh pun penting bagi Allah [14 Jan 2018]

Penggalian Teks

Penyimpangan dalam bidang percabulan katanya semarak dalam kehidupan orang-orang Korintus yang tidak mengenal Kristus (kebanyakan pada saat Paulus menulis), dan ternyata sebagian jemaat (yang belum lama mengenal Kristus, karena jemaat hanya didirikan beberapa tahun sebelum surat ini) belum meninggalkan hal-hal itu, bahkan belum sadar bahwa ada masalah. Dalam pp. 5-6, Paulus menegaskan bahwa jemaat harus murni supaya menjadi persembahan yang pantas di hadapan Allah (5:6-8), bahwa orang yang dicirikan oleh berbagai dosa termasuk percabulan tidak cocok untuk Kerajaan Allah (6:9-11), dan bahwa anggota-anggota jemaat adalah anggota tubuh Kristus. Khususnya dalam perikop kita, dia menanggapi salah paham bahwa tubuh tidak penting bagi Allah.

Perikop kita disampaikan dalam suasana polemik (debat). Ada semboyan jemaat, ada tanggapan langsung serta penegasan, dan akhirnya seruan. Kita dapat melihat susunannya (menurut tafsiran yang saya ikuti) dalam tabel ini:

Semboyan jemaat Tanggapan: Tetapi… Penegasan: Tidak tahukah kamu bahwa… Seruan
Segala sesuatu halal bagiku (12) … bukan semuanya berguna … aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun
Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. (13a) … tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. (13b-14) … tubuhmu adalah anggota Kristus… (15) … siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia… (16-17) Jauhkanlah dirimu dari percabulan! (18a)
Setiap dosa … yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya [tubuhnya]. (18b) … orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya [tubuhnya] sendiri. (18c) … tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu… (19-20a) muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (20b)

A.12 menyampaikan kebanggaan jemaat dalam kemerdekaannya di dalam Kristus: seperti diajarkan Paulus, mereka bebas dari hukum Taurat, tetapi sepertinya mereka menafsir kebebasan itu sangat luas. Tanggapan Paulus mengangkat dua kerangka berpikir yang perlu untuk menafsir kebebasan itu dengan tepat, kegunaan dan perhambaan. Apa sebenarnya gunanya saya bebas? Bagaimana kebebasan yang sesungguhnya?

Aa.13-17 menjawab kerangka yang pertama. Semboyan jemaat cocok dengan kebebasan dari hukum Taurat, dalam hal tidak ada lagi makanan yang najis. Hanya, alasan bahwa “kedua-duanya akan dibinasakan Allah” menempatkan kebebasan itu bukan dalam rangka ciptaan baru yang didatangkan oleh Kristus (2 Kor 5:17) melainkan dalam pemahaman bahwa tubuh itu fana sehingga tidak penting. (Paulus akan menanggapi pemahaman itu dalam pp.8-10.) Pemahaman itu menjadi parah ketika dipakai untuk menilai percabulan. Persetubuhan dijadikan sekadar pemuasan nafsu saja sama seperti makan, yang dianggap sepele karena kelamin juga akan dibinasakan Allah. Bagi mereka, kegunaan tubuh adalah untuk memuaskan nafsu. Makanya, Paulus menyangkal semboyan mereka dengan menegaskan bahwa kegunaan tubuh orang percaya terkait dengan Kristus (13). Buktinya bahwa tubuh tidak akan binasa tetapi akan dibangkitkan Allah sama seperti Kristus dibangkitkan (14). Masa depan tubuh adalah kebangkitan, bukan kebinasaan.

Dalam penegasannya, Paulus berbicara tentang makna tubuh sekarang: setiap tubuh jemaat sedang merupakan anggota Kristus. Jadi, Kristus terbawa dalam percabulan yang dilakukan orang percaya, sesuatu yang tidak berguna bagi orang yang mencintai-Nya (15). Kemudian, percabulan menimbulkan penyatuan dengan perempuan cabul sama seperti persetubuhan menyatukan suami-isteri menjadi satu keluarga (16). Hal itu tidak ada gunanya bagi orang percaya yang menghayati dan merindukan kesatuan dengan Tuhan dalam Roh (mengandaikan bahwa Roh Kudus adalah sarana kesatuan dalam roh). Percabulan sama sekali tidak berguna, sehingga diserukan untuk dijauhkan (18a).

Semboyan jemaat berikutnya memisahkan dosa dari ranah tubuh (18b); hal itu menjadi dasar kebebasan mereka bertindak dalam tubuh. (Dalam terjemahan LAI, kata “lain” ditambahkan—tidak ada dalam bahasa aslinya—sehingga ada perbandingan antara percabulan dan dosa lain.) Kembali semboyan itu ditolak oleh Paulus: paling sedikit percabulan adalah dosa terhadap tubuh (LAI: “diri”) kita. Alasannya karena tubuh kita bukan milik kita (18c). Tubuh kita sudah menjadi tempat Roh Kudus hadir sehingga Allah dapat disembah, dan hal itu adalah berkat kematian Kristus yang dengannya Allah telah membeli kita (a.19-20a). Karena hanya budak yang dapat diperjualbelikan, Paulus merongrong pemahaman mereka tentang kebebasan dengan mengatakan bahwa tadinya di luar Kristus mereka adalah budak dosa, dan sekarang di dalam Kristus dengan hadirat Roh Kudus mereka telah menjadi hamba Allah (lihat Roma 6). Percabulan adalah perhambaan terhadap dosa, bukan kebebasan. Kebebasan yang sejati ialah kemampuan oleh Roh untuk memuliakan Allah bahkan dengan tubuh. Dengan tidak terlibat dalam percabulan (dan dengan menahan diri makan demi keselamatan sesama, lihat p.8), kita menyatakan bahwa Kristuslah yang lebih layak dan mulia daripada nafsu sebagai sasaran tingkah laku kita.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Tubuh orang percaya diperuntukkan bagi Kristus sebagai anggota tubuh-Nya dan bait Roh Kudus yang dibeli tuntas oleh Allah. Kita disuruh untuk meninggalkan percabulan dalam kerinduan untuk menggunakan tubuh kita untuk memuliakan Allah.

Makna

Banyak orang meragukan kemampuan manusia untuk mengendalikan nafsu berahi, dan bahkan menganggapnya sebagai kebutuhan sama seperti makan. Makanya, dianggap wajar untuk pejabat yang bepergian jauh untuk memakai pelacur, sebagai contoh. Masalahnya bahwa dosa ini diputihkan dan dianggap wajar pada level yang kebal terhadap seruan pejabat agama mengatakan “jangan berbuat dosa”. Jadi, Paulus tidak sekadar menyuruh kita (tetapi seruannya jelas!); dia mau supaya kita menghayati tubuh kita sebagai anggota tubuh Kristus dan bait Roh Kudus. Penghayatan itu mengungkapkan percabulan sebagai pelecehan dan kebodohan: pelecehan terhadap Kristus dan Roh; kebodohan karena melanjutkan perhambaan terhadap dosa.

Tentu, implikasinya lebih luas dari hal percabulan saja. Teologi Paulus di sini mirip secara ringkas uraiannya dalam Roma 6, dan seruannya menerapkan Rom 12:1 (“mempersembahkan tubuhmu”) kepada soal percabulan. Kita dapat diperhamba oleh nafsu makan, nafsu hiburan (termasuk miras, judi, dan pemakaian alat elektronik secara berlebihan), dsb. Kuncinya bahwa tubuh kita tidak hanya perlu dipakai bagi Tuhan di dalam ibadah, tetapi di mana saja kita berada.

Dipublikasi di 1 Korintus | Tag | Meninggalkan komentar

Yes 61:1-4 Penghiburan Sejati [17 Des 2017] (Adven III)

Penggalian Teks

Dalam konteks Israel, Yes 61 memaparkan pelayanan seorang ‚Äúaku‚Äù yang diurapi, yang melaluinya Allah akan memulihkan Sion sebagaimana diberitakan dalam pasal sebelumnya. Dalam Yes 1:2–2:4, pemulihan Sion adalah perubahan Sion sehingga kota yang cemar menjadi pusat pembelajaran damai dari Taurat Tuhan. Yes 60–62 tetap ada tema Israel sebagai terang bagi bangsa-bangsa (60:3), tetapi menekankan penukaran keadaan Israel dan bangsa-bangsa: Israel yang tertindas akan menjadi berjaya, dan bangsa-bangsa yang menindas akan direndahkan dengan mengaku Sion sebagai milik Allah Israel (60:14). Dalam a.1, penutur (‚Äúaku‚Äù) diberi Roh Kudus sama seperti tunas Isai dalam 11:1 dan hamba Tuhan dalam 42:1. Pasal 11 itu sering disebut nubuat mesianis karena tunas Isai berarti keturunan Daud yang diurapi (mesias = Ibrani masiakh = orang yang diurapi), tetapi dalam a.1 perikop kita, pengurapan itu menjadi tersurat. Sepertinya, peran Raja Damai (seperti dalam 9:5) dan Hamba Tuhan (yang terakhir muncul dalam p.53 sebagai korban penebus salah) digabung dalam satu orang.

Namun, dalam perikop ini dia berfungsi sebagai nabi dalam artian bahwa semua perubahan dalam a.1 diberitakan, bukan dilaksanakan. (Kesimpulan itu mengandaikan bahwa merawat orang-orang yang remuk hati juga dilakukan dengan kata-kata.) Mengingat bahwa konteksnya berbicara tentang Sion, yang diberitakan ialah pembebasan umat Allah yang disimpulkan sebagai tahun rahmat Tuhan (2). Sama seperti dalam Yes 40:1–2, artinya pembebasan dari pembuangan. Hal itu dipahami sebagai semacam tahun Yobel. Im 25:10 menyebut tahun kelima puluh itu sebagai ‚Äúkebebasan‚Äù (Ibrani: deror) yang dalam a.1 perikop kita menjadi ‚Äúpembebasan‚Äú kepada orang-orang tawanan. Israel dalam pembuangan ibarat budak dan orang tanpa tanah (kedua kelompok yang dipulihkan pada tahun Yobel). Mereka akan dibebaskan dan menerima kembali tanah perjanjian warisan Allah, semuanya sebagai pertanda rahmat Tuhan.

Tahun rahmat itu juga disebut ‚Äúhari pembalasan Allah kita‚Äù yang merujuk pada karya Allah tadi yang menukarkan kedudukan Israel dan bangsa-bangsa. Dalam a.2b–3a, hal itu dilihat sebagai penghiburan: ciri-ciri duka (dalam abu, pakaian, dan semangat) diganti dengan suasana pesta dan pujian. Kondisi baru Israel yang kuat dalam kebenaran membawa kemuliaan bagi Tuhan karena adalah hasil karya keselamatan-Nya (‚Äútanaman Tuhan‚Äù, a.3b). Kekuatan itu akan termasuk pembangunan fisik dan keramaian kembali tanah perjanjian (4). Aa.5–7 kembali ke penukaran kedudukan tadi, yang juga menjadi kesaksian di hadapan semua bangsa (9–11).

Perikop ini disampaikan sebagai janji yang membawa pengharapan. Keselamatan yang akan terjadi dalam penukaran kedudukan itu akan memindahkan Israel dari konteks yang selayaknya mendukakan menjadi konteks yang selayaknya dipestakan. Bagaimana sejarah penggenapannya (mengingat bahwa nubuat dapat berlapis-lapis)? Sepertinya, sampai zaman Yesus, Israel hanya mengalami sedikit dari pemulihan itu. Sewaktu-waktu ada pembangunan fisik dan keramaian, tetapi bahkan ketika ada kemenangan politik (lihat kitab Ester dan kitab-kitab Makabe dalam Apokrif) mereka tidak berjaya atas bangsa-bangsa yang lain. Mzm 126 mencerminkan sejarah itu dengan sukacitanya yang menjadi permohonan. (Adven juga mencerminkan kedua aspek itu.)

Jadi, penggenapan perikop ini masih terbuka pada zaman Yesus. Injil Lukas menyinggung kemesiasan Yesus dengan menempatkan kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus sebagai jawaban terhadap pertanyaan tentang apakah Yohanes adalah mesias (Luk 3:15–17). Langsung setelah itu, Yesus dibaptis oleh Roh. Hal itu mempersiapkan kita untuk pemberitahuan oleh Yesus sendiri bahwa Dia menggenapi perikop kita dalam pelayanan-Nya (Luk 4:18–21). Selama pelayanan-Nya, Dia membebaskan orang dari berbagai bentuk penindasan, dan penukaran keadaan yang paling dahsyat terjadi ketika Dia disalibkan sebagai penghujat dan pemberontak oleh pimpinan umat Allah dan wakil bangsa-bangsa lalu dibangkitkan oleh Allah menjadi Raja atas segala bangsa. Dengan pencurahan Roh Kudus, umat Allah mulai dibangun kembali sebagai Bait Allah (1 Kor 3:15–16). Namun, kita masih menunggu penggenapan lagi ketika Yerusalem yang baru turun ke atas bumi yang baru (Why 21:2). Jadi, bagi kita sudah ada karya keselamatan yang membawa pujian dan sukacita (1 Tes 5:16–18). Namun, misi Allah akan pembebasan dan pembalasan masih sementara berjalan, seperti digambarkan dalam 1 Kor 15:24–26.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Keselamatan Allah dalam sang Hamba-Raja membawa perubahan total dalam keadaan umat Allah. Kita diingatkan untuk bersukacita dan memuji Allah karena keselamatan itu, sekalian tetap berduka (dan berkarya/berdoa) karena belum tuntas (1 Tes 5:16–18).

Makna

Adalah menarik bahwa Paulus menyisipkan seruan untuk berdoa di antara seruan untuk bersukacita dan memuji Allah, dengan semuanya cocok di dalam Kristus (1 Tes 5:16–18). Perikop kita harus pertama-tama berfungsi untuk mengingatkan kita akan pembebasan Allah supaya kita bersyukur. Tentu, syukur yang dimaksud bukan syukur atas hasil penindasan. Jadi, orang kaya bergumul sedikit dengan Injil. Satu jalan keluar ialah mengatakan bahwa Injil itu menyangkut ‚Äúpengampunan‚Äù karena pertobatan yang dipahami sebagai permintaan maaf kepada Tuhan. Adalah menarik bahwa kata Yunani untuk pembebasan (dalam Yes 62:1 dan Luk 4:19) adalah afesis yang sering berarti pengampunan. Artinya bahwa afesis dosa berarti pembebasan dari dosa, yaitu dari akibatnya (karena tindakan masa lampau tidak dapat diubah). Dalam Yes 40:1–2, dosa adalah alasan pembuangan sehingga pengampunan dari Allah berarti pelepasan. Itulah yang memang mendasar. Namun, dalam Luk 19:1–10, seorang penindas (Zakeus) mengalami pembebasan dari dosa dengan mengganti rugi semua yang tertindas.

Kesimpulan saya bahwa duka dalam Yes 61:2–3 bukanlah sekadar atas penderitaan pribadi tetapi atas kondisi dunia yang menderita karena dosa pada setiap tingkat pengalaman manusia (pribadi, rumah tangga, masyarakat, tempat kerja, bangsa). Penghiburan yang kita alami di dalam karya Kristus juga mendorong kita untuk membagikan penghiburan itu kepada dunia yang tetap berduka, dengan berdoa dan berkarya.

Dipublikasi di Yesaya | Tag | Meninggalkan komentar