Rut 3:1-5; 4:13-17 Pemulihan oleh Penebus [11 Nov 2018]

Penggalian Teks

Kitab Rut menceritakan pemulihan nasib Naomi yang menantunya Rut melahirkan kakeknya Raja Daud. Pasal 1 menceritakan perginya Naomi penuh dengan suami dan dua anak, dan pulangnya dalam keadaan “kosong” dengan hanya disertai menantunya orang asing. Pemulihan itu mulai digerakkan dalam 2:1 yang menyebutkan Boas, orang kaya dari pihak suami Naomi. Pasal 2 memperkenalkan Boas sebagai orang yang saleh dan yang menghargai kesetiaan Rut kepada mertuanya. Di dalamnya kita melihat rentannya perempuan (misalnya, 2:9, 22) dan integritasnya Boas soal itu. Boas mengerti bahwa dengan mengikuti Naomi ke tanah Israel, Rut sudah memilih untuk berlindung kepada Tuhan, dan dia sendiri menjadi bagian dari perlindungan itu. Naomi memuji Tuhan atas perkembangan ini, dan mulai percaya kembali bahwa Tuhan akan setia kepadanya (2:20). Khususnya, dia menyebut bahwa Boas termasuk goel (penebus), seorang keluarga dekat yang diberi tugas untuk membantu keluarga yang jatuh miskin (Im 25:25). Skenario yang diandaikan dalam 4:1-10 ialah bahwa Elimelekh pernah menjual hak panen ladangnya kepada pihak di luar keluarganya (makanya Naomi dan Rut melarat). Jadi, ada dua aspek di mana seorang goel dapat membantu: menebus ladang itu dari pihak ketiga itu supaya Naomi dapat memanfaatkannya (Im 25:14-16), dan menikahi Rut supaya ada keturunan dari suami yang meninggal. Aspek kedua itu mirip dengan kewajiban saudara almarhum untuk menikahi janda dalam Ul 25:5-10, tetapi karena Boas dan keluarga yang lebih dekat itu bukan saudara langsung, yang berlaku bukan kewajiban hukum melainkan kesempatan untuk menunaikan fungsi yang sama.

Ketika panen (yang menjadi pencarian hidup Rut) sudah selesai, Naomi mengambil inisiatif. Kita hanya dapat menduga-duga mengapa dia menyuruh Rut pada rencana yang akan berani dan rentan (3:1-5). Dalam budaya patriarkhal zaman itu, ayah dalam keluarga yang bertanggung jawab atas pernikahan anak-anaknya. Hal itu bisa saja atas permintaan anaknya, dan jelas Boas berkenan atas Rut. Tetapi mungkin saja ayah Boas sudah meninggal: Boas sendiri tidak muda (3:10) dan dia bertindak sebagai penguasa utama dalam soal ladangnya. Sepertinya Naomi juga tidak memiliki laki-laki yang dia percayai untuk mengurus kepentingannya. Bagaimanapun persisnya letak persoalan, status Boas sebagai goel yang menjadi jalan keluarnya. Dengan menyuruh Rut kepada Boas, kerelaan Rut untuk dinikahi dapat disampaikan, sekaligus kerinduan Boas dihasut.

Boas menyambut baik prakarsa Rut itu (3:10), dan memberi pertanda baik untuk Naomi (3:17). Boas menghadapi calon goel itu dalam keadaan yang paling resmi untuk kota kecil, yakni di pintu gerbang dengan tua-tua kota (4:1-2). Boas memberitahu orangnya bahwa Naomi mau menyerahkan haknya untuk menebus ladangnya (yang ada di tangan pihak di luar keluarga) kepada keluarga yang lain yang akan mampu menebusnya. Hal itu menarik bagi orang itu karena, walaupun dia harus memelihara Naomi selama dia hidup, dia akan memiliki tanah itu setelah Naomi meninggal tanpa pewaris. Tetapi kemudian Boas mengangkat soal Rut. Andaikan Rut dinikahi dan melahirkan anak, anak itulah yang akan mewarisi tanah yang ditebus, bukan keluarga dari calon goel itu. Jadi, uang yang dipakai untuk menebus ladang Elimelekh akan hilang dari warisan keluarganya yang sudah ada. Tidak ada kewajiban hukum untuk orangnya membantu Rut, tetapi dengan sudah disebut di hadapan sepuluh tua-tua itu, dia akan kelihatan pelit andaikan dia hanya menerima bagian yang menguntungkan dan mengabaikan kebutuhan Rut. Hal itu tidak masalah bagi Boas yang sepertinya belum memiliki keluarga sendiri.

Ketika Boas dan Rut menikah dan dikaruniai anak (4:13), ternyata Naomi yang disoroti (4:14-17). Melalui penebus, Naomi yang tadinya terkutuk diberkati dengan anak yang akan memeliharanya pada masa tuanya dan yang termasuk silsilah raja Daud. Rut yang mau ditolak dan yang tidak dihitung oleh Naomi ternyata lebih berharga dari tujuh anak laki-laki.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Tuhan membawa orang keluar dari kepahitan melalui seorang penebus. Kita bersukacita dalam penebusan yang kita alami dalam Kristus, dan hidup kita diarahkan olehnya.

Makna

Tema penebusan menonjol dalam kitab Rut. Tidak terlalu sulit bagi Israel untuk menempatkan dirinya dengan Naomi dan Rut, karena Israel diselamatkan dari ketidakberdayaannya di Mesir oleh seorang Penebus lalu menjadi terikat kepada-Nya dalam perjanjian di Sinai yang dapat digambarkan sebagai pernikahan. Gereja juga ditebus oleh Kristus dari ketidakberdayaannya terhadap dosa untuk menjadi pengantin-Nya. Kitab Rut memberi kita gambaran konkret tentang penebusan itu. Tetapi cerita itu bukan alegori (cerita tentang kebenaran rohani yang berbaju sejarah). Apa yang dilakukan Boas, Naomi, dan Rut adalah hasil dari penebusan Israel oleh Allah: mereka berada di Betlehem karena karya Allah itu, dan mereka dituntun oleh hukum penebusan yang mencontoh Allah. Kemudian, salah satu hasil mereka adalah Mesias yang menjadi Penebus dari semua manusia (Ibr 9:23-28). Jadi, dalam cerita ini kita melihat bahwa penebusan universal yang dikerjakan Allah juga terwujud dalam kehidupan sehari-hari, entah dari belenggu kemiskinan atau penindasan, penyakit, atau terutama dari kuasa dosa.

Jadi, kita dapat menempatkan diri dengan berbagai tokoh dalam cerita ini untuk belajar tentang makna penebusan bagi kita. Naomi mewakili kita dalam keputasasaan dan kepahitan hidup. Tuhan berprakarsa untuk menolongnya sebelum sikapnya membaik, dan akhirnya memberinya kepenuhan di luar dugaan. Tetapi dia juga menanggapi titik harapan yang mulai muncul, dan rencananya yang disampaikan kepada Rut adalah tindakan yang berani dalam pengharapan.

Allah memakai Rut yang merupakan orang marjinal dua rangkap: janda dan orang asing. Yang ada pada Rut adalah kesetiaan, terutama kepada Naomi, tetapi di balik Naomi Allahnya Naomi yang mungkin saja pernah diceritakan selama mereka di Moab. Dalam kesetiaan sebagai pengerja, dan dalam menaati nasihat mertuanya, dia menerima berkat yang diucapkan Boas kepadanya.

Dalam Boas (tetapi lebih muncul di luar perikop kita dalam p.2 dan awal p.4) kita melihat bagaimana dia mencontoh Allah: dia menjadi cara Allah melindungi Rut di bawah sayap-Nya. Dalam hasil dari usahanya, kita melihat beberapa unsur dari berkat yang dijanjikan kepada Abraham, yakni keturunan dan nama yang masyhur. Ketika Kristus datang kembali untuk kawin dengan gereja, berkatnya akan melimpah lebih lagi.

Iklan
Dipublikasi di Rut | Tag , | Meninggalkan komentar

Mrk 12:28-34 Kasih sebagai hakikat manusia [4 Nov 2018]

Penggalian Teks

Yesus memasuki Yerusalem sebagai Raja untuk menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (10:45). Kemudian, Dia menyatakan otoritas-Nya di Bait Allah dengan mengusir para pedagang dari pelatarannya. Otoritas itu adalah otoritas sebagai utusan Allah seperti Yohanes Pembaptis (11:29-33), dan lebih lagi sebagai Anak Allah, Mesias (12:1-12). Berbagai kepentingan berusaha menjatuhkan Yesus, pertama-tama orang Farisi dan Herodian dengan pertanyaan tentang politik praktis (12:13-17), lalu orang Saduki dengan pertanyaan teologis (12:18-27). Di dalamnya, kita melihat bahwa pimpinan Israel betah dengan kuasa Kaisar, tetapi tidak mengenal kuasa Allah.

Dalam Injil Matius, ahli Tuarat yang kemudian mendekati Yesus diutus oleh kelompok Farisi untuk mencobai Yesus (Mat 22:34-35). Tetapi Markus menyoroti orangnya sendiri yang memperhatikan isi dari debat itu dan mampu melihat tepatnya jawaban Yesus walaupun Dia semestinya dianggap musuh. Dia bertanya tentang sesuatu yang termasuk keahliannya, yaitu bagaimana hukum Taurat ditafsir (28). Pertanyaannya mengutamakan perintah, tetapi (dalam cerita Markus ini) Yesus mulai dengan Allah yang memerintah, sama seperti Ul 6:4-5 yang Dia kutip. Karena Allah itu Allah “kita”, maka Israel terikat untuk menaati-Nya. Karena Allah itu esa, maka ibadah Israel kepada-Nya tidak terbagi-bagi seperti dalam politeisme di mana setiap sumber kuasa ilahi menuntut bagiannya (29).

Respons umat Allah adalah kasih. Kata “kasih” menunjukkan sikap yang positif yang muncul dalam respons yang tepat. Karena Allah adalah Raja yang besar yang berkenan menjadi Allah kita, kasih kepada-Nya terutama merupakan ketaatan dan kesetiaan yang dianggap sebagai kebahagiaan, bukan sebagai beban. Ul 6:5 melihat kasih itu dari tiga perspektif. Hati merujuk pada sumber motivasi yang muncul dalam pikiran dan keinginan tetapi tidak langsung kelihatan oleh orang lain. Jiwa merujuk pada semangat atau daya hidup. Kekuatan merujuk pada pewujudan motivasi dan semangat itu dalam tindakan. Motivasi orang Israel ditujukan sepenuhnya pada Allah dan hidup/mati digantungkan kepada Allah sehingga kekuatan dipakai untuk melayani Allah. Mrk 12:30 ini menambahkan akal budi pada daftar itu (seperti juga Luk 10:25-28); Mat 22:37 mengganti kekuatan dengan akal budi. Tambahan itu memperjelas peran pikiran yang sudah tersirat dalam istilah “hati”. Kata dianoia itu berhubungan dengan kata metanoia (perubahan pikiran) yang dipakai dalam PB untuk pertobatan.

Yesus langsung menambahkan Im 19:18b tentang kasih kepada sesama. Hal itu memperjelas bahwa kasih kepada Allah tidak bersaing dengan kasih kepada sesama. Tentu, bentuknya berbeda. Imamat 19 memaknai kesepuluh firman, termasuk kepedulian terhadap orang miskin dan penyandang cacat, dan penegakan keadilan. Im 19:16-18 menolak permusuhan di dalam umat Allah, dan dalam Im 19:34, sesama itu termasuk orang asing yang berdiam di Israel. Jadi, sesama adalah siapa saja yang ada di sekitarnya, dan kasih dinyatakan kepadanya dengan perlakuan yang adil dan tepat sesuai dengan kebutuhannya. Tolok ukur tindakan kasih adalah “dirimu sendiri”. Kita tidak mau difitnah, diperdaya, dsb. Kasih menempatkan kepentingan sesama selevel dengan kepentingan diri sendiri.

Kemudian, si ahli Taurat menanggapi pernyataan Yesus dengan bahasa sendiri (32-33). Bahasa itu dipuji Yesus sebagai pemahaman yang cocok dengan Kerajaan Allah (34a). Dia menangkap bahwa keesaan Allah merujuk pada keuniqan-Nya, seperti dalam Ul 4:35 dan Yes 45:21. Dia mengartikan “segenap jiwa” sebagai pengertian, dan membandingkannya dengan korban yang dipersembahkan di Bait Allah. Korban itu tidak ditolak, tetapi yang lebih utama adalah pemahaman tentang Allah dan ketaatan yang berhikmat.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Hakikat manusia dinyatakan dalam mengasihi Allah dan sesama. Sebagai orang yang ditebus oleh persembahan Kristus, kita diajak untuk membiarkan Roh Kudus mengerjakan kasih itu dalam diri kita.

Makna

Hukum kedua menjadi wadah utama kita menerapkan hukum pertama. Tetapi adalah penting bahwa kedua hukum ini tetap dibedakan. Kita mempelajari kasih kepada sesama dari kasih kepada diri sendiri, tetapi tolok ukur itu hanya tepat ketika diri kita makin tertuju kepada Allah. Misalnya, tanpa kasih kepada Allah, kita tidak akan menegur sesama yang berdosa (Im 19:17a) karena kedamaian semu akan lebih penting daripada kebenaran. Pemahaman tentang apa yang benar dan yang salah atau palsu harus bersumber dari Allah, bukan dari manusia. Jadi, kasih kepada sesama harus dilakukan dalam kerangka ketaatan kepada Allah.

Mengasihi Allah merupakan kegiatan bersama. Yang tulus hatinya, besar jiwanya, cerdas akal budinya, dan kuat belum tentu orang yang sama; kita saling melengkapi dalam menuju “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13). Ahli Taurat dalam perikop kita menjadi contoh orang yang mencari pengetahuan yang benar tentang Allah dengan mencerna apa yang dikatakan Yesus. Tidak semua anggota jemaat yang harus menjadi ahli Alkitab, tetapi kita semua harus mengasihi Allah dengan segenap akal budi yang ada. Orang yang ahli terhadap kepentingan politik tetapi bodoh terhadap kepentingan Kerajaan Allah tidak memakai akal budinya untuk Allah. Masalahnya bukan minatnya akan politik duniawi tetapi bahwa minat itu tidak akan diterangi oleh pemahaman akan misi Allah dalam dunia. Kita membutuhkan orang cerdas dalam semua bidang yang dibekali oleh firman. Makanya, salah satu tugas pendeta yang penting adalah tugasnya sebagai pengajar.

Ibr 9:11-14 meringkas pesan kitab Ibrani bahwa Yesus telah mengungguli sistem persembahan PL dengan kematian-Nya pada salib. Tetapi pesan itu bukan maksud si ahli Taurat ketika menempatkan korban di bawah kedua hukum utama. Secara teologis, kedua hukum itu lebih mendasar karena menyatakan hakikat manusia sebagai imago Dei. Kedua hukum itu tersirat di taman Eden dan akan menjadi kebahagiaan kita dalam dunia baru. Tetapi korban merupakan hal sementara karena pelanggaran kedua hukum itu. Sebagian korban dalam PL menghapus dosa itu; persembahan Yesus menggenapi dan menyelesaikan jenis kurban ini secara tuntas. Sebagian lagi korban dalam PL menjadi cara orang Israel menikmati kembali persekutuan dengan Tuhan yang akan bermuara pada kasih kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Ibr 13:15-16 orang yang percaya kepada Yesus itu tetap memberi Allah persembahan dalam bentuk pujian yang menyatakan kasih kepada-Nya, dan perbuatan baik yang menyatakan kasih kepada sesama.

Dipublikasi di Markus | Tag , | Meninggalkan komentar

Ayub 42:1-6, 10-17 Cara Tuhan tidaklah terjangkau manusia [28 Okt 2018] (Hari Reformasi, Sumpah Pemuda, PKBGT)

Penggalian Teks

Ayub 42 menyelesaikan tiga aspek dari seluruh kisah Ayub. Pertama, penderitaan Ayub yang saleh itu diceritakan dalam pp.1-2 dan dipulihkan dalam aa.10-17 dari perikop kita. Kedua, dalam pp.3-37 ada percakapan antara Ayub dengan tiga sahabat (ditambah Elihu) yang makin panas: mereka menyuruh Ayub untuk mengaku dosanya yang pasti ada di balik penderitaannya dan bertobat supaya dipulihkan sementara Ayub mengaku tidak bersalah. Aa.7-9 menyampaikan penilaian Allah yang mengejutkan terhadap kedua belah pihak itu. Ketiga, dalam percakapan itu, Ayub makin mengabaikan ketiga sahabatnya dan makin berseru untuk berjumpa dengan Allah sendiri. Kerinduan itu berpuncak dalam tuntutan untuk beperkara dengan Allah supaya Ayub dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah (31:35-37). Di luar dugaan, Tuhan menjawabnya (38:1; 40:1), dan itulah yang ditanggapi Ayub dalam aa.1-6. Jadi, untuk menafsir bagian itu kita perlu meninjau ucapan Tuhan itu (pp.38-41).

Satu kunci untuk memahami kitab Ayub adalah memahami bahwa jawaban Tuhan tidak menanggapi Ayub menurut kerangka berpikirnya tetapi justru mempertanyakannya (38:2-3). Dia menawarkan dua pilihan kepada Ayub: jawablah pertanyaan-pertanyaan tentang cara Tuhan dengan dunia, atau mengaku bahwa Tuhan memerintah dunia dengan hikmat yang jauh melampaui pemahaman Ayub. Dari dalam badai Ia menunjukkan pemerintahan-Nya yang melampaui pengalaman Ayub dalam ruang (binatang laut dsb.) dan waktu (proses penciptaan). Dalam 39:34-40:9, tantangan Tuhan termasuk kemampuan Ayub untuk menegakkan keadilan. Ayub mengaku kehinaanya, dan berjanji untuk tidak melanjutkan keluhannya (39:37-38). Namun, sikap itu belum cukup, dan Tuhan melanjutkan tantangan-Nya sampai Ayub berbicara lagi dalam perikop kita.

Ayub sedang terlibat dalam sesuatu yang ajaib sekalipun tidak nyaman, yaitu jawab-menjawab dengan Tuhan (1). Ayub meringkas ucapan Tuhan dengan mengakui bahwa pemerintahan-Nya tidak ada batasnya (2). Tetapi kali ini dia tidak berdiam diri. Dia mengamini tuduhan Tuhan bahwa berbagai ucapannya dalam percakapan dengan sahabat-sahabatnya itu sok tahu (3). Kemudian, dia menanggapi bahwa Allah telah menanyainya (4). Dia membandingkan laporan yang dia dengar tentang Tuhan dengan pengalaman langsung yang sudah dikaruniakan kepadanya (5). Dengan perspektif baru itu, dia mencabut perkaranya dengan Tuhan (6a). Hal terakhir yang dia katakan (6b) dapat diterjemahkan dengan tiga cara, karena kata “menyesal” (nikham) dapat juga berarti “bertobat” atau “terhibur”. Banyak versi bahasa Inggris menganggap bahwa Ayub bertobat atas tuduhannya terhadap Tuhan. Terjemahan LAI (“menyesal”) menganggap bahwa Ayub sudah berubah pikiran dan menolak perkataannya dengan keras. Kemungkinan ketiga mengatakan bahwa dengan berjumpa dengan Tuhan, Ayub “terhibur atas debu dan abu” yang sudah dia alami.

Kendala utama dengan terjemahan “bertobat” itu muncul dalam aa.7-9 yang mengatakan (dua kali) bahwa Ayub berkata benar tentang Tuhan sementara ketiga sahabatnya tidak. Hal itu merupakan kejutan karena Tuhan sudah mengecam perkataan Ayub yang mempertanyakan keadilan Tuhan, sementara ucapan ketiga sahabat itu penuh dengan teologi yang lazim bahwa Tuhan membalas tingkah laku manusia. Kuncinya adalah mengingat tuduhan Iblis kepada Tuhan bahwa manusia hanya menaati Tuhan untuk mendapat berkat-Nya (1:8-11; 2:4-5). Tuduhan itu menjungkirbalikkan teologi sebab-akibat yang mengatakan bahwa berkat dan kutuk adalah hasil dari tingkah laku manusia. Teologi itu mengatakan bahwa manusia diberkati karena berbuat baik; Iblis mengatakan bahwa manusia berbuat baik supaya diberkati. Menurut Iblis, Tuhan hanya penting dan menarik bagi manusia sebagai penjamin berkat. Jadi, jika Ayub menderita, dia akan mengutuki Tuhan.

Ketika ketiga sahabat menyuruh Ayub untuk bertobat supaya dia mendapat kembali berkat Tuhan, mereka membuktikan tuduhan Iblis: bagi mereka kebenaran menjadi alat untuk beruntung dari kuasa Tuhan. Walaupun Ayub memiliki pemahaman teologis yang sama, dia menolak untuk berpura-pura bertobat supaya selamat. Sebaliknya, dia mencari Tuhan walaupun kelihatannya tidak ada imbalan baginya. Tuhan mengecam Ayub karena teologinya yang sempit itu. Tetapi Tuhan membenarkan Ayub karena Ayub menganggap Tuhan lebih penting daripada berkat-Nya. Ayub menjadi pengantara yang meluputkan ketiga sahabatnya dari hukuman Allah. Dengan demikian, kedua belah pihak diperdamaikan.

Sebelum Tuhan menyatakan diri kepada Ayub, semua yang melihat Ayub dalam penderitaannya menganggapnya jijik bahkan terkutuk (19:13-15), mulai dengan Ayub sendiri (p.3). Tetapi setelah Ayub berdamai dengan Tuhan (6), dan dibenarkan oleh Tuhan di depan umum (9), berkat Allah dapat mengalir kembali (10). Keluarga dan kenalan tidak lagi takut mendekatinya, dan bahkan menghibur dan membantu dia sebagaimana semestinya untuk orang yang berduka (11). Ada anak-anak baru ganti yang lama; bahwa anak perempuan yang dinamai dan mendapat warisan menempatkan Ayub sebagai pangeran besar yang semua anaknya penting (13-15). Dia mati dengan umur yang dua kali lipat berkatnya: dua kali tujuh puluh tahun lamanya, dan dua kali dua generasi yang dilihat (16-17).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Rencana dan cara Tuhan dalam dunia ini tidak terjangkau oleh manusia, walaupun ada pengharapan akan berkat di balik penderitaan berdasarkan janji Allah. Kita dituntun untuk menolak teologi sebab-akibat yang membuat kita sok tahu tentang nasib sesama, dan untuk membantu dan menghibur mereka yang menderita. Kita didorong untuk mencari Tuhan ketika penderitaan tidak dapat masuk akal.

Makna

Sama seperti Ayub, Yesus menderita bukan karena dosa melainkan karena rencana Tuhan untuk mengalahkan Iblis, lalu dipulihkan (dibangkitkan). Kisah Ayub bermaksud untuk membuka visi teologis kita. Manusia selalu mencari penyebab untuk setiap akibat, dan teologi sebab-akibat membuat seluruh pengalaman manusia seolah-olah jelas. Tetapi Ayub belajar bahwa manusia terlalu bodoh untuk memahami cara Allah dalam dunia ini. Dia bersabar di bawah malapetaka yang ditimpakan Tuhan kepada-Nya tanpa penjelasan, dan akhirnya Dia melihat belas kasihan Tuhan (Yak 5:11).

Kesabaran Ayub sarat dengan keluhan dan seruan yang bertujuan untuk berjumpa dengan Tuhan. Semangat yang sama muncul dalam orang buta kepada Yesus (Mrk 10:46-52). Dia berseru kepada Tuhan dengan berani dan menjadi puas ketika dia mendapat penglihatan baru. Kesabaran ala filsafat Yunani mau melampaui penderitaan dengan meremehkannya. Tetapi dalam Alkitab, penderitaan dilampaui dalam pengharapan akan pemulihan Allah. Dalam konteks PB, pemulihan Ayub adalah gambaran tentang dunia baru.

Sebagai yang berkata benar tentang Allah sama seperti Ayub, Yesus menjadi Pengantara bagi semua yang percaya kepada-Nya, dan juga menjadi kurban yang membawa keselamatan yang kekal (Ibr 7:25). Dia berdamai dengan mereka yang melawan-Nya, dan kita ikut serta dalam pendamaian itu. Tetapi kita menjadi lawan Yesus ketika kita menganggap terkutuk orang yang menderita dan mencari kesalahan mereka daripada membantu mereka dalam penderitaannya.

Dipublikasi di Ayub | Tag , | Meninggalkan komentar

Ibr 5:1-10 Belajar taat karena menderita [21 Okt 2018]

Penggalian Teks

Dalam pp.3-4, penulis menyamakan perjalanan iman menuju dunia yang akan datang (2:5) dengan perjalanan Israel menuju tanah perjanjian. Peringatannya bahwa orang yang tidak percaya tidak akan mencapai tujuan itu, seperti angkatan Israel yang tewas di padang gurun. Dalam 4:13-16, dia menjelaskan bahwa selaku Imam Besar, Yesus dapat menolong umat-Nya bertahan dalam iman sehingga selamat (4:16). Dalam perikop kita, penulis mulai menjelaskan tugas sebagai Imam Besar itu.

Dia mulai dengan menjelaskan peran imam besar (1-4). Imam itu mengurus hubungan manusia dengan Allah yang menjadi masalah karena dosa (1). Dia sendiri adalah manusia sehingga dia mengerti kelemahan manusia (2), tetapi sebagai manusia dia juga lemah sehingga dia turut membutuhkan kurban untuk dosa (3). Namun, jabatan itu jelas merupakan kehormatan, dan panggilan itu harus berasal dari Allah (4). Jadi, seorang imam dipanggil untuk menghubungkan manusia berdosa kepada Tuhan melalui bimbingan dan kurban.

Penulis menerapkan tiga unsur itu kepada Yesus sebagai Imam Besar, yakni panggilan (5-6, 10), bimbingan (7-9a), dan kurban (9b). Panggilan Yesus sebagai Anak dan Raja sudah dia buktikan di awal surat dari Mzm 2:7 (Ibr 1:5) dan Mzm 110:1 (Ibr 1:13). Tafsiran Kristologis terhadap kitab Mazmur berakar dalam ajaran Yesus sendiri (misalnya, Mat 21:42), termasuk bahwa Yesus mengenakan Mzm 110:1 itu kepada diri-Nya sendiri (Mat 22:44). Penulis mengingatkan kita tentang uraiannya dalam p.1 itu (5), kemudian dia mengangkat ayat 4 dari Mzm 110 tadi (6). Ayat itu menempatkan “tuanku” yang duduk di sebelah kanan Tuhan (Mzm 110:1) sebagai imam menurut peraturan Melkisedek. Hal itu akan diuraikan secara terperinci dalam p.7, tetapi untuk sementara penulis sudah membuktikan bahwa Yesus ditentukan sebagai imam.

Kemudian penulis harus menjelaskan bagaimana Yesus yang mulia sebagai Anak dan bebas dari dosa dapat membantu manusia berdosa dalam kelemahannya. Dia sudah memberi petunjuk dalam 4:15 bahwa Yesus dicobai sama seperti kita. Dalam a.7 dia menyoroti teladan dari pergumulan Yesus menghadapi maut. Yesus berperan sebagai orang saleh dalam kitab Mazmur yang menderita dan percaya sehingga berseru kepada Allah dan didengarkan Allah. Tersirat di sini ialah bahwa Allah menjawab doa Yesus dengan membangkitkan-Nya dari dalam maut, bukan dengan menghindarkan-Nya dari kematian (demikian Petrus dalam Kis 2:25-31). Tetapi fokus penulis di sini adalah pada kemampuan Yesus untuk membantu orang yang dicobai dan terancam mengingkari imannya. Jadi, dia menjelaskan bahwa dalam penderitaan-Nya Yesus belajar taat (8) dan dengan demikian disempurnakan (8) sehingga layak menjadi Imam Besar. Istilah “belajar taat” dapat memberi kesan bahwa Yesus pernah tidak taat, padahal penulis sudah menegaskan bahwa Yesus tidak berdosa (4:15). Maksud sebenarnya ialah bahwa ketika menghadapi salib, Yesus mengalami pencobaan yang paling tinggi dan belajar mengatasinya. Dengan demikian, Dia sudah sempurna dalam kemampuan-Nya untuk membimbing orang yang dicobai. Pikirkan seorang anak sekolah yang tidak pernah salah dalam tes matematika. Namun, kemampuannya pada kelas 1 dan kelas 12 tentu berbeda. Yesus pada umur duabelas tahun belum siap memulai pelayanan-Nya; Yesus di awal pelayanan-Nya belum teruji kemampuan-Nya untuk menghadapi salib. Tetapi ketika memilih untuk taat kepada Allah dan percaya bahwa Dia akan dibangkitkan, Dia sudah menjadi justru lebih mampu dari imam besar yang berdosa untuk membimbing orang yang lemah.

Aspek terakhir adalah soal menghapus dosa. Penulis sudah menyinggung kematian Yesus yang mengalahkan maut dan Iblis (2:14-15), dan pp.7-10 akan menguraikan karya Kristus sebagai persembahan yang sungguh menuntaskan masalah dosa. Semuanya itu dapat terjadi karena Kristus belajar taat sampai mati. Jadi, di sini penulis hanya menyebut bahwa Yesus menjadi sumber (LAI: “pokok”) keselamatan (9) selaku Imam Besar ala Melkisedek itu (10). Yang penting ialah bahwa keselamatan itu diraih bagi mereka yang taat kepada-Nya. Pengikut Yesus harus belajar taat sama seperti Dia adalah taat, yaitu dalam kepercayaan akan keselamatan Allah yang lebih kuat dari maut.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus adalah Imam Besar yang sungguh mampu membawa orang yang lemah kepada keselamatan. Kita diajak untuk mengikuti jalan-Nya, yaitu jalan yang belajar taat melalui penderitaan dan maut.

Makna

Ada pola berpikir yang mengatakan bahwa karena kita adalah anak-anak Allah Sang Raja maka semestinya kita mengharapkan kekayaan seperti pangeran. Pandangan itu mengabaikan awal dari a.8, “sekalipun Ia adalah Anak”. Yesus adalah Anak Allah yang sejati yang belajar taat melalui penderitaan. Jalan keselamatan dimungkinkan oleh persembahan-Nya yang menghapus dosa secara tuntas, tetapi isi jalan itu adalah belajar taat melalui pergumulan.

Sebagai contoh, tekanan finansial bukan waktunya untuk berkorupsi, tetapi justru waktunya untuk belajar jujur. Cekcok dalam keluarga bukan waktunya untuk berselingkuh, tetapi justru waktunya untuk belajar setia. Yesus tidak menjadi teladan yang jauh dari kita, Dia juga menjadi pembimbing, siap didekati dalam doa seperti imam dapat didekati sesama orang Israel untuk membantu kita (4:16).

Dipublikasi di Ibrani | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mrk 10:28-31 Berpindah Keluarga [14 Okt 2018]

Penggalian Teks

Dalam Markus 9-10 yang menyoroti cara hidup sebagai murid Yesus, yang paling disoroti adalah status atau kedudukan, seperti dalam 10:13-16 yang menjunjung tinggi anak-anak yang kedudukannya rendah. Tetapi biasanya kedudukan berkaitan erat dengan harta, dan hal itu muncul dalam cerita selanjutnya. Murid yang bergantung pada Allah Bapa seperti seorang anak bergantung sepenuhnya pada orangtuanya akan menjadi bagian dari Kerajaan Allah (10:14-15), sementara orang kaya yang sudah menerima banyak berkat dari Allah tetapi tidak mampu melepaskannya untuk menerima panggilan Allah tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah itu (10:22-25). Hal itu mengejutkan murid-murid Yesus yang sepertinya menyamakan berkat dari Allah dengan perkenan Allah (10:26). Tetapi bagi Yesus, berkat Allah yang sejati (yang menyertai perkenan Allah) terdapat di tempat yang lain.

Ucapan Petrus dalam a.28 menunjukkan bahwa dia telah menangkap sebagian dari makna Yesus, yakni soal meninggalkan harta untuk mengikuti Yesus. Yesus tidak menyangkal pemahaman itu, tetapi jawaban-Nya memperdalamnya. Yang ditinggalkan dalam a.29 adalah kondisi hidup yang semestinya: sebuah rumah tangga yang memiliki ladang. Dalam hukum Taurat, itulah hak orang Israel sampai ada tahun Yobel untuk mengembalikan tanah kepada pewaris asli. Jadi, keluarga dan ladang selayaknya dipertahankan, bukan ditinggalkan. Namun, Yesus malah mengatakan bahwa sebenarnya murid-murid-Nya beruntung, karena keluarga yang ditinggalkan diganti dengan keluarga Allah (30). Dalam keluarga itu, ada jauh lebih banyak anggota dan pelayanan (“ladang”) ketimbang keluarga asli. Keluarga itu menuju Kerajaan Allah di mana ada hidup kekal yang tidak lagi rentan. Hanya, tentu, ada penganiayaan di antara hal-hal baik itu. Mengikuti Yesus menjadi menarik ketika keluarga Allah dan hidup kekal dianggap lebih berharga dari keluarga asli dan tiadanya penganiayaan.

Perhitungan itu menjelaskan mengapa ada penjungkirbalikan status dalam Kerajaan Allah (31). Orang-orang yang mapan cenderung tidak tertarik dengan keluarga Allah yang banyak terdiri atas orang-orang rendah, betapa banyak mereka. Di situlah soal kedudukan dan harta bersatu. Kerendahan status pengikut Yesus itu sudah minus, lalu ditambah penganiayaan. Hidup kekal (yang sulit dibayangkan, atau bahkan disangkal oleh kelompok Saduki yang kaya) tidak sebanding. Makanya, adalah sulit bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebaliknya, bagi orang-orang yang keluarganya tidak mapan atau hancur, perhitungannya akan berbeda. Namun, yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah sehingga Yesus mengatakan “banyak” yang terdahulu (kaya) akan menjadi yang terakhir, bukan semuanya. Dan ada juga orang yang miskin yang menolak Yesus. Intinya bahwa orang yang mengikuti Yesus bergabung dengan keluarga yang menuju Kerajaan Allah itu.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Mengikuti Yesus berarti menjadi bagian dari keluarga dan misi hidup yang baru dan yang menuju dunia yang baru. Kita diajak untuk meninggalkan hidup lama dan mengikuti Yesus.

Makna

Dalam Kisah Para Rasul, kita melihat beberapa orang seperti Paulus yang meninggalkan segala sesuatu, tetapi kebanyakan orang yang bertobat tidak meninggalkan apa-apa (kecuali dosa). Kadang hal itu dijelaskan dengan mengatakan bahwa kita meninggalkan harta kita secara rohani; kita tidak terikat lagi olehnya. Penjelasan itu cukup disukai oleh orang yang memiliki banyak harta. Hati orang kaya tidak dapat dilihat oleh manusia, dan Allah Mahapengampun. Tetapi betulkah semudah itu menjadi pengikut Yesus sebagai orang kaya?

Dengan mengamati penekanan Yesus pada keluarga Allah, kita dapat melihat persoalan ini dari perspektif yang lain. Dalam Kis 16:14-15, Lidia adalah orang mampu yang tidak menjual rumahnya, tetapi menggunakannya untuk Kerajaan Allah. Rumahnya menjadi salah satu dari seratus rumah yang diberikan kepada Paulus yang secara jasmani meninggalkan rumahnya sendiri. Jadi, bagi yang tidak dipanggil untuk meninggalkan keluarga dan tempat, sikap “rohani” semestinya dipahami sebagai sikap kekeluargaan yang tidak hanya melihat kepada keluarga jasmani, tetapi juga kepada keluarga rohani. Mungkin harta tertentu dijual (Kis 4:34-37) atau dipakai orang, dan kemandirian dalam kecukupan juga dihargai (2 Tes 3:10-12). Sikap “tidak terikat” berarti semua harta dipakai seperlunya untuk Kerajaan Allah, urusan utama keluarga rohani itu.

Dipublikasi di Markus | Tag , | 2 Komentar

Ibr 2:5-12 Keluarga yang menuju dunia baru [7 Okt 2018]

Penggalian Teks

Surat Ibrani ditujukan kepada kelompok yang menghadapi tekanan dari luar sehingga imannya goyang. Kelompok ini menjunjung tinggi Perjanjian Lama (mungkin karena latar belakang Yahudi), sehingga penulis memakai PL untuk menunjukkan bagaimana Yesus melampaui PL. Dalam 1:1-14, penulis memperkenalkan Anak Allah yang menyatakan Allah dengan sempurna, dan yang sebagai Anak itu menjadi Raja yang ilahi. Jika firman Allah dalam hukum Taurat wajib didengarkan, lebih lagi berita keselamatan dari Anak itu (2:1-4). Tema keselamatan itu yang mulai dikembangkan dalam nas kita yang menjelaskan salah satu dasarnya, yakni identifikasi yang utuh antara Anak ini dengan manusia.

Keselamatan yang dimaksud diperjelas dalam a.5, yaitu “dunia yang akan datang”. Kata dunia (oikoumenē) merujuk pada bagian ciptaan Allah yang dihuni manusia. Bagi penulis, keselamatan bukan soal jiwa yang luput dari tubuh dan dunia ini untuk pergi ke alam sana yang lain, tetapi pemulihan dunia yang dicemarkan oleh dosa ini (lihat 1:3b). Ternyata, dunia yang akan datang itu tidak akan dikuasai oleh malaikat yang menjadi perantara Allah dalam PL. Tentu, kita sudah menduga bahwa yang akan menjadi penguasanya adalah Anak Allah tadi.

Hal itu diperjelas dalam aa.6-8a dengan mengutip Mzm 8:5-7. Mazmur itu memuji anugerah Allah yang menempatkan manusia yang begitu kecil itu di atas ciptaan-Nya, sesuai dengan amanat Allah dalam Kej 1:26-28. Masalahnya bahwa kuasa yang semestinya menyeluruh itu tidak kelihatan dalam dunia sekarang (8).1 Manusia gagal memenuhi nas ini. Tetapi ada yang menggenapinya, yang membuat nas itu kelihatan dan bermakna, yakni Yesus (9). Dalam riwayat Yesus, tiga aspek tetap dari kondisi manusia (kerendahan, kemuliaan, dan kuasa) muncul secara berturut-turut. Dia telah mati (direndahkan), telah bangkit dan naik ke surga (dimuliakan), dan sementara duduk di sebelah kanan Allah sampai semua musuh diletakkan di bawah kaki-Nya (tersurat dalam 10:12-13).2 Bagi pendengar surat yang sementara dihina karena imannya, pola Yesus itu menunjukkan bahwa kemuliaan di hadapan Allah dapat dicapai melalui penderitaan. Tetapi kematian Yesus adalah lebih dari sekadar teladan: bahwa Dia mati bagi manusia menunjukkan bahwa ada keuntungan tertentu olehnya.

Hal itu diuraikan dalam aa.10-13 sebagai rencana Allah (10a) untuk mengadakan keluarga yang mulia (a.10b; “banyak anak” semestinya “banyak anak”). Yesus sebagai Anak Allah adalah perintis dari keselamatan itu, dan dalam rangka itu Dia sendiri perlu disempurnakan (a.10c; hal itu diperjelas dalam 5:7-9). Kemuliaan itu juga disebut sebagai pengudusan (11a). Yesus merangkul semua orang beriman sebagai saudara, seperti raja Daud dengan jemaah (a.12 yang mengutip Mzm 22:23) dan nabi Yesaya dengan murid-muridnya (a.13 yang mengutip Yes 8:17-18). Jadi, manusia yang cemar dikuduskan oleh Yesus; manusia yang dihinakan oleh dunia dimuliakan bersama dengan Yesus yang mati dan bangkit; dengan demikian Allah membentuk keluarga yang sudah siap untuk dunia yang akan datang.

Uraian selanjutnya menjelaskan caranya. Yesus menjadi sama seperti manusia dalam segala kelemahannya, termasuk darah dan daging (2:14) dan pencobaan (2:18). Dia memimpin umat-Nya kepada dunia yang akan datang sama seperti Allah memimpin Israel kepada tanah perjanjian (3:1-4:10). Itulah pentingnya tetap teguh dalam iman, walaupun menderita seperti Yesus sendiri.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah membentuk keluarga yang siap untuk dunia baru melalui Yesus yang menguduskan mereka oleh kematian-Nya dan memimpin mereka kepada kemuliaan yang sejati. Dalam iman, kita menerima pengudusan itu dan mencari kemuliaan di dalam keluarga Allah, tempat imago Dei dipulihkan.

Makna

Karya Theo Kobong menceritakan konsep pangala tondok sebagai orang yang meninggalkan desanya (tondok) untuk mendirikan tongkonan (tempat tinggal keluarga besar) yang baru. Kebaruan adalah hal yang melekat pada cerita Alkitab: Allah memimpin Israel ke tempat yang baru untuk menjadi manusia baru, dan Yesus memimpin keluarga Allah ke dunia yang akan datang. Bedanya bahwa perjalanan Israel adalah perjalanan jasmani, sementara perjalanan jemaat adalah perjalanan dalam iman. Tetapi hal yang penting dalam kedua-duanya ialah bahwa keluarga Allah itu tidak lagi mencari muka dari yang lama, tetapi dari yang baru. Kemuliaan yang sejati terdapat bukan dari kegiatan yang dipuji atau dikagumi oleh dunia, tetapi dalam identifikasi dengan Kristus yang menderita dan dihina. Orang percaya rindu untuk menjadi mulia seperti Kristus, bukan untuk menjadi mulia secara duniawi.

Adanya tongkonan baru berarti adanya ritus yang baru, termasuk cara untuk menjadi kudus, bebas dari kecemaran yang merusak berkat. Status itu telah dimenangkan oleh Kristus bagi jemaat dan dipegang oleh iman (a.11). Makanya, orang percaya tidak lagi takut merangkul orang cacat, korban musibah, kaum bawah, atau kelompok-kelompok lain yang dianggap terkutuk. Bahkan orang berdosa dapat dirangkul supaya dibantu bertobat. Orang percaya juga tidak perlu membangun kekudusan sendiri dengan mengambinghitamkan pihak-pihak yang lain: semua kejelekan dan kegagalan kita telah ditanggung Kristus yang mati bagi kita sehingga kita bebas untuk mengaku dosa seorang kepada yang lain.


  1. Dalam a.8, LAI tiba-tiba memakai huruf besar untuk “-Nya”, padahal rujukannya sama dengan “-nya” dalam aa.6-7, yakni “manusia/anak manusia”. Yesus baru menjadi pokok dalam a.9.

  2. Penulis dibantu dalam tafsiran Kristologis ini dengan terjemahan Yunani (LXX) yang dia pakai. Dalam bahasa Ibrani, yang sedikit itu jarak antara kedudukan manusia dengan kedudukan Allah (atau malaikat-malaikat). Tetapi kata Yunani yang menjadi terjemahannya dapat juga diartikan mengenai waktu yang singkat.

Dipublikasi di Ibrani | Tag , | 1 Komentar

Bil 11:4-6, 10-16 Umat yang dikuasai oleh daging [30 Sep 2018]

Penggalian Teks

Bilangan 10 menceritakan bagaimana Israel akhirnya berangkat dari gunung Sinai, dituntun oleh awan Tuhan. Bil 9:15-23 sudah menjelaskan bagaimana Israel mengikuti awan Tuhan itu, dan dengan demikian menjadi taat kepada Tuhan (9:23). Tetapi mulai p.11, yang ditonjolkan kembali adalah sifat Israel yang tidak mengenal berterima kasih, seperti dalam Kel 16-18 (yang memuat beberapa cerita yang mirip). Bil 11:1-3 menggambarkan suasana itu: Israel bersungut-sungut tentang “nasib buruk” mereka yang bukan lagi budak, tetapi begitu diancam oleh api Tuhan di tepi perkemahan, mereka berteriak kepada Musa. Walaupun mereka dipanggil untuk menjadi mitra Allah dalam perjanjian (Kel 19:5), mereka bersifat kekanak-kanakan.

Sifat itu diuraikan dalam cerita selanjutnya (termasuk perikop kita). Sumber masalah dikenakan kepada “orang-orang bajingan”.1 Kelompok ini dikendalikan oleh nafsu yang kuat, dan seluruh Israel terbawa oleh nafsu itu (4). Dalam artian tertentu, kelompok itu merupakan batin Israel yang dikuasai oleh nafsu daging.2

Yang diinginkan ialah daging ikan yang di Mesir dapat ditangkap di sungai setiap hari, serta berbagai sayur yang memang tidak kedapatan di padang gurun (5). Tentunya mereka memiliki hewan, tetapi daging domba dan lembu hanya akan dimakan ketika dipersembahkan pada perayaan. Jadi, sehari-hari hanya ada manna, dan mereka sudah jenuh.3 Aa.7-8 menyangkal penilaian itu dengan menunjukkan bahwa manna dapat dimasak dengan berbagai cara dan rasa, dan a.9 mengingatkan kita bahwa manna memampukan Israel bertahan hidup di pandang gurun. Hidup sederhana di padang gurun itu dianggap nasib buruk, meskipun mereka sudah dibebaskan dari perbudakan dan menuju tanah perjanjian yang baik.

Musa diapit antara tangisan bangsa yang mendesaknya sebagai pimpinan dan murka Tuhan terhadap sikap mereka yang tidak tahu berterima kasih (10). Hal itu dia pandang “jahat”—istilah yang sama dengan “nasib buruk” bangsa tadi (Ibrani: ra′). Keluhannya dia sampaikan secara terus terang kepada Tuhan (11-15). Dia mulai dengan mempertanyakan sikap Tuhan kepadanya dengan memberinya tanggung jawab sebagai pemimpin (11). Kemudian dia mempertanyakan tanggung jawab itu: bukan Musa yang melahirkan Israel sebagai bangsa atau menjanjikan tanah kepada nenek moyangnya (12). Intinya dalam a.13: dia tidak sanggup menyediakan daging yang mereka rindukan dengan tangisan. Kemudian, dia menjawab pertanyaan-pertanyaannya tadi: dia tidak dapat bertanggung jawab atas mereka (14), dan sebaiknya Tuhan membunuhnya langsung daripada mencelakanya pelan-pelan (15). Walaupun semua ini disampaikan secara gamblang (dan mungkin saja caranya terasa kurang sopan menurut budaya kita), keluhannya muncul dari identitasnya sebagai hamba Tuhan yang kewalahan, bukan dari nafsu yang menilai rendah karya keselamatan Allah.

Jadi, Tuhan menanggapi keluhan Musa dengan dua aksi (16-20). Dalam Kel 18:17-26, Musa sudah diajar untuk mendelegasikan tugas mengadili kepada jenjang dalam masyarakat; dari antara tua-tua Israel itu, tujuh puluh akan diberi bagian dari Roh yang membuat Musa pemimpin (16-17). Roh itu sama dengan Roh nubuatan, dan adanya Roh itu ditandai dengan ketujuh puluh orang itu bernubuat sekali saja (24-30). Aksi kedua adalah pemberian daging (18-20). Bangsa diperingati untuk menguduskan diri, dan juga bahwa mereka akan diberi makan daging sampai muak. Musa tetap bingung dengan hal kedua ini (21-22), dan dia perlu diingatkan bahwa Tuhan yang akan melakukannya (23). Setelah Roh dibagikan, burung-burung puyuh didatangkan Tuhan. Namun, yang memuaskan nafsu mereka yang rakus itu langsung menjadi kutuk sebagai hukuman-Nya (33-34). Walaupun baik Musa maupun Israel sulit menerima tindakan Tuhan tertentu, Musa mampu belajar dari Tuhan, sementara sebagian Israel tewas karena terbawa oleh nafsu.

Peristiwa berikutnya mengungkapkan ketidakmampuan Israel untuk mengatasi kegelisahan mereka dan percaya bahwa Tuhan itu berkuasa terhadap penduduk Kanaan. Hal itu menjadi puncak dari sikap mereka yang belum berubah walaupun mereka telah melihat kuasa-Nya di Mesir dan pemeliharaan-Nya menuju gunung Sinai, dan walaupun mereka mulai diajar oleh pemberian hukum Taurat. Mereka butuh waktu untuk didewasakan menjadi bangsa yang siap dipakai Tuhan. Makanya, mereka harus mengembara empat puluh tahun di padang gurun sampai generasi berikutnya yang dibentuk oleh perjuangan di padang gurun itu.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Manusia yang dikuasai oleh daging menganggap rendah keselamatan dan janji Tuhan dan tidak mampu belajar dari kesusahan. Kita diajak untuk menerima Roh Kudus supaya kita dijadikan imamat yang rajani, umat yang siap dipakai Tuhan.

Makna

Rasul Paulus mengangkat istilah “daging” untuk menamai kelemahan di batin Israel sehingga mereka tidak mampu menaati hukum Taurat, suatu kelemahan yang dimiliki segenap umat manusia. Tetapi Roh yang diberikan hanya kepada segelintir orang Israel itu sudah dicurahkan ke atas seluruh jemaat yang percaya. Yak 5:13-20 menyampaikan gambaran tentang hidup dalam Roh itu. Orang percaya akan tetap menderita, yaitu mengalami nasib buruk. Tetapi seperti Musa mereka akan berdoa, dan ketika ada kebaikan mereka akan memuji Allah (5:13). Mereka akan menjadi komunitas penyembuhan raga dan jiwa (5:14-16). Bukannya mereka tidak lagi lemah seperti Israel, tetapi mereka akan saling membangun ketika ada yang sesat (5:19-20). Dalam komunitas seperti ini, kesusahan mendewasakan orang sehingga kondisi jemaat termasuk para penatua yang sungguh dewasa dan jemaat yang tahu berterima kasih.

Semakin jemaat mirip dengan Israel dalam perikop kita, semakin kita harus menyimpulkan bahwa mereka masih hidup dalam daging. Memimpin jemaat seperti itu tetap merupakan beban yang berat, karena kekanak-kanakan akan muncul terus, dan pelayan menjadi diapit antara panggilan Tuhan dan tuntutan jemaat. Beban itu dapat berkurang ketika kita menyerahkan tanggung jawab atas perubahan hati kepada Tuhan, dan tetap memberitakan firman supaya Roh Kudus bekerja.


  1. Terjemahan Yunani (LXX) mengaitkan kelompok itu dengan orang dari berbagai-bagai bangsa dalam Kel 12:38 (LXX: epimiktos, campuran), tetapi bahasa Ibrani memakai kata yang berbeda yang berhubungan dengan bahasa Arab yang berarti “kurang”.

  2. Kata “antara” (Ibrani: qereb) berarti “bagian dalam”, dan diterjemahkan “batin” dalam Mzm 51:12.

  3. LAI “kita kurus kering” (harfiah: nefesy = “diri” kita layu) dapat juga diartikan “nafsu kita kurang” (nefesy = “nafsu” kita layu).

Dipublikasi di Bilangan | Tag , | Meninggalkan komentar