1 Raj 3:4-15 Wakil Allah yang mulia dalam hikmat [30 Jul 2017]

Penggalian Teks

1 Raj 1–2 menceritakan cara keras Salomo mengukuhkan kerajaan Israel, dan perikop ini mulai menceritakan pemerintahannya. 1 Raj 3:1–3 menyebut kasih Salomo kepada Tuhan, tetapi juga memberi petunjuk tentang apa yang akan menjadi masalah Salomo ke depan, yaitu isteri asing dan ibadah yang tidak setia. Di atas kasih Salamo itu, perikop kita menceritakan asal usul kelebihan Salomo yang paling besar, yaitu hikmat.

Dalam aa.4–5 kita melihat bahwa Tuhan tidak mempersoalkan bahwa Salomo pergi ke bukit di Gibeon untuk mempersembahkan korban. 2 Taw 1:3–5 menunjukkan bahwa walaupun tabut perjanjian ada di Yerusalem, Kemah Suci ada di Gibeon itu. Adanya jumlah korban yang besar menunjukkan bahwa Salomo mencari peneguhan ilahi untuk pemerintahannya, mungkin seperti yang didapatkan Daud dalam firman Allah yang disampaikan melalui Natan (1 Sam 7).

Kemudian, Allah berfirman kepada Salomo dalam mimpi untuk meminta sesuatu (6). Salomo mulai jawabannya dengan menempatkan dirinya di dalam relasi Allah dengan Daud (6). Relasi itu dicirikan oleh kasih setia Allah kepada Daud, dan sikap setia, benar, dan jujur dari Daud di hadapan Allah. Sebagai pengganti Daud, Salomo mengharapkan kesetiaan yang sama, dan secara tersirat mengakui perlunya sikap seperti Daud dari dirinya sendiri. Kemudian, dia menggambarkan kebutuhannya (7–8). Dia mengaku kelemahannya, sementara tanggung jawabnya besar di hadapan Allah karena Israel adalah umat pilihan Allah yang sudah menjadi bangsa yang besar, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Oleh karena itu, dia meminta kemampuan untuk memimpinnya dengan baik (a.9; cakupan tugas menghakimi lebih luas daripada mendengarkan perkara saja, bandingkan hakim-hakim Israel yang juga memimpin dalam perang). Kemampuan itu termasuk hati yang mendengarkan perkara dengan teliti dan mampu membedakan apa yang baik dan yang jahat. Kemampuan itu mirip dengan apa yang ditawarkan pohon yang dilarang di taman Eden itu (Kej 2:9), di mana “yang baik” berarti apa yang sesuai dengan ciptaan Allah yang sangat baik. Salomo akan berkuasa sesuai dengan amanat Allah kepada Adam, tetapi dia tidak merampas hikmat yang dibutuhkan itu.

Karena permintaan Salomo berpusat pada kepentingan Tuhan (11), yaitu umat-Nya, Tuhan mengabulkan permintaan Salomo itu (12), dan juga menjanjikan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan Salomo, yaitu kekayaan dan kemuliaan (13) dan, jika Salomo taat, umur yang panjang. Soal nyawa musuh yang diangkat dalam a.11 tidak termasuk dalam daftar itu. Sebenarnya, kedua hal itu tidak juga lepas dari kepentingan Allah, karena kemuliaan Salomo menjadi daya tarik untuk kunjungan ratu negeri Syeba yang di dalamnya Israel menjadi bangsa percontohan, walaupun seketika saja (p.10).

Dalam a.15, Salomo kembali ke Yerusalem dan mengadakan perayaan bagi pegawai-pegawainya (harfiah: hamba-hambanya). Hal itu mirip dengan pengadaan perjanjian Sinai, dengan Salomo sebagai Musa, dan pegawai-pegawai sebagai tua-tua Israel (Kel 24). Salomo sepantasnya bersyukur, tetapi arah birokratis yang akan menindas (pegawai menggantikan tua-tua lokal) tersirat juga di sini. Pola itu salah satu pemicu perpecahan kerajaan kemudian (12:4).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Hikmat adalah dasar kemuliaan yang sejati. Dalam berbagai tanggung jawab kita sebagai hamba Tuhan, kita diajak untuk mencari lebih dulu hikmat dari Allah. Kristus lebih berhikmat daripada Salomo (dan tidak tersesat), dan Dia menjadi lebih mulia. Bagi kita, pengejaran hikmat adalah sekalian pendewasaan untuk menjadi serupa dengan Kristus melalui pergumulan dalam pengharapan (Rom 8:26–39).

Makna

Dalam perjanjian Allah dengan Israel di Sinai, pelayanan imamat menjadi pokok yang penting. Pelaksanaan persembahan menuntut ketelitian dalam menaati berbagai peraturan. Tetapi untuk menjadi raja, ketaatan yang teliti tidak cukup. Untuk menjalankan keadilan, dibutuhkan juga hikmat. Hikmat jeli membedah keadaan yang sebenarnya, seperti antara kedua ibu yang memperebutkan bayi dalam cerita selanjutnya (3:16–28). Dalam hal ini, kitab Amsal, yang mengumpulkan hikmat yang dikumpulkan oleh Salomo dan aliran hikmat yang dia pelopori, menjadi pelengkap dari hukum Taurat.

Kita bukan raja, tetapi semua orang beriman adalah orang merdeka yang bertanggung jawab kepada Allah atas satu bagian kecil dalam dunia Allah di rumah, tempat kerja, dan lebih luas. Di dalam Kristus, menjadi orang berhikmat berarti menjadi seorang anak Allah yang mulia karena serupa dengan Dia (Rom 8:29). Hikmat di dalam Kristus tidak selalu masuk akal dunia, karena hikmat itu melihat apa yang paling berharga dalam Kerajaan Allah (Mat 13:44–45). Sebagai hamba dan wakil Allah di bumi, kita dituntut untuk mengasihi semua. Tema ini mengingatkan kita bahwa kasih itu bukan soal perasaan dan perhatian saja; kasih juga membutuhkan hikmat (kedewasaan) supaya dilakukan dengan tepat (seperti doa Paulus dalam Fil 1:9–10). Misalnya, kita memberitakan Kristus kepada orang yang belum tentu merasa membutuhkan-Nya, karena kita tahu bahwa Dia berharga di atas semua. Dalam hikmat-Nya, Yesus bergaul dengan orang-orang yang hidup dalam kekacauan dan menegur dengan keras orang-orang yang beres.

Dipublikasi di 1 Raja-raja | Tag | Meninggalkan komentar

Rom 8:12-25 Pengharapan Anak-anak Allah [23 Jul 2017]

Penggalian Teks

Paulus sudah menjelaskan kuasa Roh sebagai solusi terhadap kedagingan manusia berdasarkan identitas baru oleh iman kepada Kristus, bukan ketaatan kepada hukum Taurat. Aa.12–25 yang menjadi perikop kita merupakan penerapannya, terutama bahwa identitas baru itu

Dalam perikop kita, Paulus menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Kristus dan diubah oleh kuasa Roh Kudus menjadi anak-anak Allah yang dikuatkan di dalam penderitaan. Ayat-ayat berikutnya menunjukkan bagaimana sebagai anak kita didewasakan melalui “segala hal” yang sulit menjadi serupa dengan gambar Kristus (8:26–20), dan bahwa kita pasti akan diselamatkan, apapun penderitaan kita (8:31–39). Jadi, paruh kedua pasal 8 ini menguraikan lebih dalam pernyataan Paulus tentang bermegah dalam kesengsaraan dan mengenal kasih Allah dalam 5:1–11.

Aa.12–13 langsung menerapkan diskusi Paulus tentang Roh Kudus. Hukum Taurat tidak berdaya terhadap dosa yang mendarah daging dalam manusia, tetapi Roh Kudus menerapkan hukuman terhadap dosa dalam tubuh Kristus di salib (8:3) dengan membawa niat yang baru dalam hati (8:5–8) dan kuasa kebangkitan ke dalam tubuh (tingkah laku) orang percaya (8:9–11). Berdasarkan niat dan kuasa Roh itu, perbuatan daging dalam tubuh harus dimatikan. Tens presen kata kerja “mematikan” menunjukkan bahwa Paulus berbicara tentang proses. Karena identitas baru di dalam Kristus, utang budi kita bukan untuk kepentingan daging (citra keluarga/kelompok, penutupan korupsi atau penyelewengan) melainkan untuk kepentingan Roh.

Identitas itu diperjelas dalam aa.14–17, yaitu sebagai anak Allah. Kiasan ini bukan embel-embel saja. Menjadi anak Allah berarti dituntun oleh Roh dalam keputusan-keputusan sehari-hari, bukan oleh kepentingan keluarga asli (14). Identitas itu juga berarti merasa aman dengan Allah, lebih dari dengan orangtua sendiri (15). Tentu, tidak ada rangkulan jasmani atau makan bersama, tetapi Roh Kudus bersaksi dengan roh pribadi, suatu pengalaman pribadi yang sifatnya berbeda untuk setiap orang, tetapi membawa hasil bahwa memanggil Allah “Bapa” terasa wajar, bukan aneh (16). Identitas itu juga membawa masa depan yang tidak berasal dari keluarga jasmani, yaitu janji-janji Allah yang menjadi warisan ilahi (17a).

Berdasarkan penuntunan, keamanan, dan warisan sebagai anak Allah, orang percaya siap melalui kesusahan hidup ini dengan cara bersabar yang mengikuti jejak Kristus dan diberdayakan oleh Roh. Penderitaan menjadi sesuatu yang dilalui bersama dengan Kristus, dengan melihat kemuliaan Kristus sebagai tujuan yang pasti dalam janji Allah (17). Kemuliaan itu bukan sekadar pelepasan dari penderitaan, tetapi buah sulung dari pembaruan seluruh ciptaan Allah (18–25). Keyakinan Paulus dalam a.18 tidak langsung menyambung dengan pengalaman kita, karena penderitaan sekarang ini nyata, sementara pengharapan kita belum dilihat (24–25).

Paulus mulai menjelaskan pengharapan itu dengan berbicara tentang kerinduan ciptaan akan “penyataan” anak-anak Allah (19). Kerinduan itu muncul dalam konteks kisah tentang ciptaan. (Tentu, yang memiliki perasaan dalam ciptaan adalah kita manusia sendiri, tetapi personifikasi Paulus ini, dengan ciptaan digambarkan sebagai orang, mau mencerminkan wawasan bahwa kepentingan Allah lebih luas daripada kepentingan pribadi atau kelompok saja.) Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menaklukkan ciptaan-Nya ke dalam kesia-siaan (20): tugas manusia untuk bertambah banyak dan berkuasa atas bumi menjadi sulit (Kej 3:16–19). Ciptaan menjadi sia-sia sebagai akibat dosa manusia, dan mengalami kemerosotan, kehancuran, dan kefanaan (21a). Ternyata, ikatan antara ciptaan dengan manusia itu berlaku sampai dengan kemerdekaan manusia (21b). Anak-anak Allah sudah mulai mengalami kemerdekaan dari kebinasaan dan perbudakan dan masuk ke dalam pemulihan kemuliaan yang selayaknya sebagai anak-anak Allah, seperti dijelaskan dalam pp.6–8. Itulah yang menjadi pengharapan ciptaan yang lain.

Kemudian, Paulus menerapkan cerita tentang ciptaan itu kepada manusia sendiri. Ciptaan mengeluh dengan berat (a.23; penderitaan bersalin juga mengandung pengharapan); kita juga mengeluh. Yang menarik, kita mengeluh karena telah menerima Roh Kudus. Roh itu adalah “karunia sulung” (23a). Oleh Roh, kita sudah mencicipi status sebagai anak-anak Allah. Namun, proses itu baru akan tuntas dengan pembebasan tubuh kita (23). Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan “pembebasan jiwa dari tubuh” seperti pemikiran Yunani pada zaman itu. Dilihat dari diskusi Paulus sebeleumnya, tubuh akan dibebaskan dari dosa dan kefanaan. Jadi, justru karena kita sudah mulai menikmati relasi dengan Allah sebagai anak-anak-Nya, rusaknya ciptaan Allah menjadi hal yang dikeluhkan kita. Dosa tidak lagi membutakan orang percaya terhadap kesia-siaan dunia ini.

Makanya, orang percaya hidup dalam pengharapan. Dalam pengharapan itu, kita bertekun (25). Ketekunan itu diberdayakan oleh Roh sebagai karunia sulung itu: dunia sekarang terbongkar sifatnya, dunia mendatang mulai dicicipi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Penderitaan adalah kondisi dunia yang menjadi pengalaman orang-orang percaya juga, tetapi di dalam Kristus disertai pengharapan akan kemuliaan. Dengan demikian, kita bertekun dalam pengharapan yang jelas berdasarkan kemuliaan Kristus, bukan dalam kepasrahan atau rasa terkutut.

Makna

Menjadi anak adalah salah satu status paling penting dalam kehidupan beriman. Makin Allah dipandang dan dihayati sebagai Bapa, makin orang akan mau dituntun oleh Allah dan akan mampu percaya dalam kesusahan. Namun, soal penderitaan menunjukkan bahwa ada ketegaan dalam kebapaan Allah yang tidak memungkinkan untuk orangtua manusia. Manusia hanya bisa mendidik dan menantang anak sampai taraf cukup rendah, tetapi Allah menempatkan manusia dalam dunia yang sungguh-sungguh susah, supaya kita menjadi serupa dengan Kristus (8:28–29) dan turut dimuliakan (8:17–18, 30). Roh yang membawa kesaksian itu ke dalam hati. Saya mengusulkan tadi bahwa proses itu bermacam-macam dan belum tentu selalu sama dalam pengalaman satu orang. Ada yang lebih dibawa oleh perasaan, ada yang diyakinkan dalam akal, ada yang mengalami persekutuan, dsb. Tetapi dalam penguraian Paulus, penghayatan itu merupakan dasar ketekunan iman dalam kesusahan hidup.

Penghayatan itu membawa konsep ketekunan yang khas. Kedaulatan Allah dalam agama monoteis sering bermuara pada kepasrahan: Allah berdaulat, jadi manusia hanya bisa menerima nasib begitu saja. Tetapi kematian dan kebangkitan Kristus membawa pola yang lain. Penderitaan di dalam Kristus bermuara pada kebangkitan, sehingga penderitaan kita juga menyiratkan janji kemuliaan. Ketekunan terjadi dalam penantian akan pengharapan yang jelas.

Dipublikasi di Roma | Tag , | Meninggalkan komentar

Yes 55:10-13 Melangkah dalam iman dengan sukacita [16 Jul 2017]

Penggalian Teks

Yes 40–55 biasanya dianggap satu bagian besar dari kitab Yesaya dengan fokus pada Israel yang diberi janji keselamatan dari pembuangan. Israel digambarkan sebagai hamba Tuhan yang gagal menjadi saksi Tuhan, dan dalam Yes 49:3, fungsinya diambil alih oleh seorang individu (demikian salah satu tafsiran). Dalam Yes 53, hamba itu meraih keselamatan bagi Israel melalui pengorbanannya, hasil yang digambarkan dalam Yes 54. Yes 55 berseru kepada Israel untuk kembali kepada Tuhan. Dia akan memberi keselamatan yang mengenyangkan itu (55:1–2) di bawah seorang Mesias (55:3–5). Oleh karena itu, Israel disuruh bertobat (55:6–7). Rencana Tuhan ini memang melampaui dugaan manusia (55:8–9), tetapi firman-Nya pasti akan mencapai tujuan-Nya (9–10), yaitu keselamatan bagi umat Tuhan (11–13).

Yesaya (atau muridnya pada zaman pembuangan) bernubuat bagi Israel dalam pembuangan. Dalam konteks PL, pembuangan sejajar dengan Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, yaitu sebagai maut dalam artian keterpisahan dengan Allah. Kemudian, PB melihat figur hamba Tuhan itu digenapi dalam diri Yesus Kristus. Jadi, jika Yes 54 berbicara tentang pemulihan Zion, Why 21 berbicara tentang Yerusalem baru yang turun dari surga. Seruan Yes 55 menjadi seruan bagi manusia untuk bergabung dengan perjanjian Allah di dalam anak Daud, Yesus Kristus (55:3b). Tafsiran tipologis ini perlu karena janji-janji Allah kepada Israel digenapi oleh Yesus, Mesias Israel yang kita sembah sebagai Kristus itu.

Dalam ayat-ayat ini, keselamatan disampaikan dengan bahasa mengenai berkat alam. Firman Allah itu subur, berbuah sesuai dengan maksud Allah baginya. Buah alam itu yang ditawarkan gratis untuk umat-Nya dalam aa.1–2. Untuk buah itu dinikmati, orang-orang Israel harus keluar dari pembuangan, tempat yang sudah menjadi biasa bagi mereka, dan kembali ke tanah perjanjian (12a). Kembalinya mereka akan diiringi oleh sukacita alam (12b). Alam itu digambarkan sebagai dunia baru yang di dalamnya kutuk semak duri (Kej 3:17–19) diganti dengan tanaman yang mulia (13a). Semua ini akan terjadi demi kemuliaan Tuhan sendiri (13b).

Secara tipologis, perikop ini berbicara tentang berkat Tuhan sebagai keberangkatan menuju tanah perjanjian, yaitu dunia baru. Yang berangkat sudah bersukacita walaupun belum sampai karena janji tentang kepastian firman Allah itu. Selama perjalanan iman mereka, mereka mengalami penyertaan Tuhan. Perjalanan kembali dari Babel ke Israel (yang terjadi beberapa kali) menjadi gambaran dari perjalanan mengikuti Yesus yang menuju dunia baru. Berangkat dalam perjalanan itu berarti sudah mulai mengalami berkatnya.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Janji (firman) Allah tentang keselamatan sudah diteguhkan di dalam Kristus dan akan bekerja sampai penggenapannya dalam dunia baru. Kita diajak untuk percaya dan melangkah dalam iman dengan sukacita, baik atas dunia baru itu, maupun atas transformasi-transformasi yang terjadi dalam diri, jemaat, dan masyarakat.

Makna

Firman Allah yang ditabur Yesus membawa berkat berlipat ganda bagi mereka yang menerimanya (Mat 13:1–9). Hidup yang ibarat semak duri/kecubung mulai menjadi seperti pohon sanobar/murad. Namun, ada juga yang berangkat dengan sukacita dalam perjalanan iman tetapi tidak bertahan sehingga berkat itu hilang. Ketika Yesus mati, Dia masuk dalam pembuangan maut, sehingga kebangkitan-Nya merupakan kembalinya Israel dari pembuangan, dan kembalinya manusia ke taman Eden, tempat hidup dan berkat. Roh Kudus dicurahkan supaya hidup itu berkuasa dalam tubuh kita (Rom 8:9–11); sambil kita menuju dunia baru, Roh Kudus adalah penggenapan janji berkat kepada Abraham (Gal 3:14).

Dalam konteks perikop ini, firman Allah yang dipercayai adalah firman mengenai keselamatan yang di dalamnya ada pembaruan. Kepercayaan itu terwujud (dan dibuktikan) dalam “berangkat dengan sukacita”, yaitu melangkah dalam iman. Bagi orang Israel, langkah iman itu jelas, yaitu bersiap-siap keluar dari Babel ketika Koresh mengizinkannya (Yes 44:28; bdk. Ezra 1), tetapi tafsiran tipologis menjadi umum. Pertanyaan untuk jemaat sekarang mungkin seperti berikut. Di mana sumber berkat yang sejati? Apakah kita percaya pada janji Allah, dan apakah kita bersukacita dalam pengharapan akan janji itu? Apakah kita mendambakan pembaruan dalam buah Roh yang membawa kemuliaan bagi Allah, atau harta dan kedudukan duniawi yang akan membawa kemuliaan bagi kita dan keluarga kita?

Dipublikasi di Yesaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mat 11:16-19, 25-30 Berguru kepada Sang Guru yang lemah lembut [9 Jul 2017]

Penggalian Teks

Setelah memberi gambaran dalam pp.4–10 tentang ajaran, sifat, dan misi Kerajaan Allah yang didatangkan Yesus, pp.11–16 menyoroti berbagai tanggapan manusia terhadap pelayanan Yesus, berpuncak dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias. Pasal 11 mulai dengan keraguan Yohanes Pembaptis (11:2–6) dan penegasan Yesus bahwa Yohanes adalah Elia yang akan mendahului kedatangan Tuhan (11:7–15). Perikop kita memuat kesimpulan dari diskusi itu (16–19), melewati pernyataan keras Yesus tentang hukuman atas kota-kota yang sudah menolak-Nya (20–24), dan kembali memuat penjelasan Yesus tentang penolakan terhadap-Nya serta ajakan-Nya untuk memikul kuk-Nya.

Aa.16–19 menyindir hikmat “angkatan ini”, frase yang merujuk kepada Israel pada zaman Yesus secara keseluruhan. Mereka menganggap diri berhikmat (seperti manusia pada umumnya), tetapi mereka sebenarnya seperti anak-anak yang hanya tahu bermain, karena belum memahami makna dari menari dan berkabung. Kerasnya Yohanes Pembaptis dan pergaulan Yesus yang bebas adalah dua segi dari hikmat Allah; angkatan ini hanya mampu melihat permukaannya, bukan perbuatan berhikmat di dalam apa yang dilakukan Yesus dan Yohanes masing-masing. Hal itu dilihat dalam kota-kota yang tidak bertobat meskipun mereka melihat banyak mukjizat.

Kemudian Yesus berdoa tentang penolakan itu, sepertinya di depan orang lain walaupun tidak disebut siapa (25). Doa ini berbicara tentang pelayanan Yesus. Penerimaan dan polakan terhadap Yesus adalah soal penyataan Allah Bapa. Dia menyembunyikan makna perbuatan Yesus dari orang yang bijak dan pandai menurut penilaian manusia, dan menyatakannya kepada “bayi-bayi” (Yunani: nepioi; LAI: “orang kecil”). Hal yang serupa muncul dalam Yes 29:14b di mana kepandaian manusia dipakai untuk memberontak terhadap Tuhan. Dalam a.26, pola itu terjadi atas perkenan Allah Bapa. Dalam a.27a, kita melihat bahwa wewenang itu terwujud dalam Yesus sebagai Anak Allah. Hal itu terjadi karena pengenalan akan Allah Bapa dan Anak adalah milik Anak dan Bapa saja (27bc). Pada saat Yesus berdoa, Allah belum menyatakan identitas Yesus itu kepada siapapun (a.27b; hal itu baru terjadi kemudian pada pengakuan Petrus, 16:16–17). Tetapi Yesus sudah mulai menyatakan Allah Bapa kepada orang-orang kecil yang menerima Yesus itu (27cd).

Namun, Yesus telah membedakan para pendengar-Nya dari angkatan ini yang disebut “mereka”, bukan “kamu”. Ajakan Yesus mewujudkan penyataan Allah di dalam Yesus, dan hal itu ditawarkan kepada semua yang mendengar Yesus. Inti dari penawaran Yesus ialah kelegaan. “Memberi kelegaan” dan “ketenangan” memakai kata dasar (anapau-) yang sering dipakai dalam PL bahasa Yunani untuk hari Sabat sebagai hari perhentian (misalnya, Kel 16:23; 23:12), dan sebuah kata dasar yang mirip, katapau-, dipakai untuk taman Eden, tanah Israel, dan dunia mendatang dalam Ibr 4:1–10. Yesus menawarkan kondisi jiwa yang mulai menikmati kebahagiaan kekal.

Kelegaan itu dialami dengan menjadi murid Yesus (29a). Kuk itu enak karena tepat untuk setiap murid, dan tidak terlalu berat. Sifat kuk itu mungkin mengejutkan, karena jalan yang di dalamnya para murid mengikuti Yesus adalah jalan salib yang ditempuh Yesus. Sifat itu muncul karena Yesus Sang Guru itu lemah lembut dan rendah hati. Klaim itu mungkin mengejutkan karena Dia baru saja mengklaim sebagai Anak Allah. Tetapi kerendahan hati bukan soal berpura-pura rendah, tetapi kemampuan untuk sungguh memperhatikan sesama karena tidak asyik dengan diri sendiri. Orang Farisi membebani orang-orang yang mengikuti nasihat mereka karena adanya pengikut itu hanyalah alat untuk status mereka (Mat 23:4–6). Oleh karena itu, mereka sudah lupa akan belas kasihan, sebagaimana dilihat dalam kedua cerita selanjutnya yang juga membahas hari Sabat (12:8). Sebaliknya, Yesus lemah lembut dalam hal bersabar dengan kelemahan dan kelambanan murid-murid-Nya, sebagaimana akan dilihat dalam interaksi-Nya dengan murid-murid-Nya selanjutnya. Kuk-Nya tepat karena menawarkan pengenalan akan Allah yang untuknya manusia diciptakan. Adanya pengampunan dari Allah berarti bahwa jalan itu ditempuh bukan dalam kegelisahan tetapi dalam pengharapan yang pasti yang membuat ringan.

Kelemahlembutan Yesus tidak berlaku bagi orang yang menolak-Nya, yang menentang semua wujud hikmat Allah. Sifat itu juga tidak berarti bahwa murid-murid-Nya selalu luput dari teguran yang keras. Tetapi bagi yang mengikuti Yesus, jalan-Nya enak dan ringan. Injil Matius sepertinya ditulis sebagai rangkuman hikmat Yesus dalam ajaran, tindakan, dan karya-Nya, supaya bangsa-bangsa juga dapat belajar untuk melakukan segala sesuatu yang diajarkan Yesus (29:19).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus, Guru yang paling layak memperkenalkan Allah, menawarkan jalan sebagai murid yang paling cocok untuk kita. Kita dituntun untuk melihat hikmat Allah di dalam perbuatan dan jalan Yesus, untuk rindu akan pengenalan akan Allah, dan untuk berguru kepada-Nya dengan mengandalkan hikmat-Nya sebagai Anak Allah.

Makna

Manusia cenderung menganggap diri “berhikmatlah”, tidak bodoh walaupun diakui bahwa ada yang lebih pintar. Tetapi di mana saja kita melihat manusia mengambil jalan-jalan yang dilarang Allah, sering juga dengan alasan yang konyol seperti “begitulah dunia riil”, “jangan fanatik”, dsb. Hikmat Allah tidak dibenarkan oleh manusia, sebaliknya kita semestinya melihat apa yang dilakukan oleh utusan-utusan Allah, terutama Yesus, dan mengakui hikmat Allah di situ.

Sayangnya, sikap sok tahu manusia berlaku juga dalam hal mengenal Allah. Karena ada beberapa hal yang pernah ditangkap dari khotbah atau sering dikatakan orang (di sinetron, sosmed, dsb.), kita menganggap bahwa kita tahulah. Tetapi hanya Yesuslah yang mengenal Allah Bapa yang menyatakan-Nya kepada manusia.

Memikul kuk Yesus semestinya mewarnai seluruh kehidupan bergereja. Jemaat adalah tempat belajar, tetapi dengan suasana yang berbeda dengan sekolah yang menjadi tempat perebutan prestasi dan ancaman DO. Yesus mengajar setiap murid sesuai dengan keberadaannya, dan dengan beban sesuai dengan kemampuannya. Kita diajak untuk mempercayakan diri kepada Yesus sebagai Guru dalam proses pembelajaran itu. Membaca firman Allah menjadi satu aspek di dalamnya, dan menerapkan hikmat Allah menjadi pelengkapnya.

Tentunya adalah konyol jika para gembala di jemaat lebih kasar dan lebih tinggi hati daripada Gembala Agung mereka (1 Pet 5:2–4).

Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar

Roma 6:15-23 Tuhan atau dosa tuan yang baik? [2 Jul 2017]

Penggalian Teks

Dalam pp.5–8 Paulus mau menjelaskan bagaimana pembenaran oleh iman berhasil membawa hidup baru yang tidak dihasilkan oleh hukum Taurat. Bingkai dari penguraian itu ialah jaminan keselamatan di tengah penderitaan; tema ini diangkat dalam 5:1–11 dan dikembangkan dalam 8:18–39. Tetapi, sebagaimana dijelaskan dalam 5:12, akar dari kondisi dunia itu dosa yang membawa maut. Maut merujuk pada segala kebusukan dan kerusakan terhadap ciptaan Allah yang baik, termasuk martabat manusia (3:23) dan relasi (1:29–31). Kematian fisik baru merupakan puncak dari seluruh proses itu di dunia ini, dan lambang dari keterpisahan kekal dari Allah dalam dunia mendatang. Taurat membongkar sifat dosa sebagai pelanggaran (5:20), tetapi cara Allah menguasai dosa dan maut bukan dengan Taurat melainkan kasih karunia di dalam Kristus (5:21). Rom 6:1–8:17 menguraikan cara itu, yaitu bagaimana kasih karunia membebaskan manusia dari kuasa dosa dan maut untuk melayani Allah, sehingga kita menjadi manusia yang bermartabat lagi (8:29, serupa dengan Kristus; bdk. 12:1–2) dan mampu berelasi (pp.12–14). Rom 6:1–14 menjelaskan dasar pembebasan itu: dalam persatuan dengan Kristus kita telah mati terhadap semua klaim dosa atas kita. Ternyata bagi Paulus, hal itu berarti bahwa kita bukan di bawah hukum Taurat melainkan di bawah kasih karunia (6:14). Rom 6:15–23 menjelaskan mengapa berada di bawah kasih karunia tidak berarti bebas berdosa (15). Kemudian, Rom 7:1–8:17 menjelaskan mengapa Taurat gagal mengubah kita (karena sifat keberdosaan manusia), dan bagaimana Roh berhasil (dengan membawa kuasa kebangkitan Kristus ke dalam kehidupan kita, bdk. Rom 8:3–4, 11).

Konsep mendasar dalam penguraian Paulus ialah bahwa hanya ada dua pilihan mengenai penguasa yang dapat dilayani manusia, yakni dosa atau ketaatan kepada Allah. Kedua penguasa ini bertolakbelakangan: menjadi hamba kebenaran berarti merdeka dari dosa (18), sementara menjadi hamba dosa berarti merdeka dari kebenaran (a.20; kata dasar yang sama, eleuther-, ada di balik LAI “dimerdekakan” dan “bebas”). Jadi, mau tidak mau, manusia akan membantu kepentingan dosa, atau kepentingan kebenaran. Kedua penguasa ini juga memiliki sifat yang bertolakbelakangan. Akhir dosa ialah kematian (16, 21, 23), dan pengalaman dosa sekarang ialah kecemaran dan kedurhakaan (19) yang sebenarnya memalukan bagi orang percaya yang sudah menangkap bahwa hidup berdosa itu berbau kematian (a.21; perhatikan bahwa baik kata “maut” maupun “kematian” menerjemahkan kata Yunani yang sama, thanatos). Akhir ketaatan ialah hidup kekal (23) yang dialami sekarang sebagai kebenaran (16) dan pengudusan (19, 22).

Paulus mulai penguraiannya dengan pernyataan tentang dua penguasa tadi (16). Kemudian, dia mengangkat pengalaman jemaat sendiri bahwa dengan menaati ajaran yang mereka terima berkaitan dengan Injil, mereka telah menjadi merdeka dari dosa (17–18). Cara menjadi hamba penguasa-penguasa ini ialah dengan “menyerahkan anggota-anggota tubuh” kepada penguasa itu (19). Manusia tidak mampu memikirkan setiap tindakan satu per satu, tetapi apa saja yang dipertuan di dalam hati muncul dalam tindakan dan menjadi kebiasaan. Jemaat di Roma sudah mengalami kebiasaan berdosa, tetapi baptisan ke dalam kematian Kristus (6:3) berarti bahwa hidup lama itu sudah disalibkan. Jadi, orang percaya harus belajar menyerahkan semua tindakannya untuk dipakai bagi kebenaran (19). Paulus memperjelas pilihan itu dengan melihat buahnya masing-masing: rasa malu atau pengudusan (20–22). Sebagai akhir kata, dia kembali ke soal hukum dan kasih karunia (23). Dosa menarik hukuman maut, tetapi hidup kekal adalah karunia di dalam Kristus.

Dengan mengangkat konsep dua penguasa, Paulus dengan sengaja menggunakan kiasan yang tidak sulit ditangkap (19). Namun, penguraian itu tidak cukup, karena menyerahkan anggota-anggota tubuh itu sulit. Hal itu ditanggapi dalam penguraian selanjutnya berkaitan dengan daging dan Roh Kudus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Ketaatan kepada Allah merupakan tuan hidup yang jauh lebih mulia dan menguntungkan daripada hidup bagi dosa. Ketaatan itu adalah karunia Allah berkat identitas baru di dalam Kristus (ditandai oleh baptisan), dan hidup kekal adalah karunia Allah berdasarkan pembenaran oleh iman. Kedua-duanya dikaruniai lepas dari hukum Taurat, tetapi penguraian Paulus menunjukkan bahwa kasih karunia sama sekali tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah. Paulus mau supaya jemaat menyerahkan dirinya untuk kepentingan kebenaran di dalam Kristus.

Makna

Selama dosa dilihat sebagai kesempatan, Injil belum bisa dipahami dengan baik. Kristus datang untuk memerdekakan kita dari dosa, dan kasih karunia adalah pintu masuk untuk pemulihan dari dosa. Selama dosa-dosa tertentu dilihat sebagai sesuatu yang menguntungkan, pembenaran oleh iman disalahpahami sebagai kelonggaran dari Allah. Kuasa Roh Kudus mungkin akan dicari untuk mengurangi kelemahan yang mengganggu karena memalukan, tetapi hidup orangnya tetap diserahkan kepada dosa dalam bentuk yang lain. Paulus tidak langsung mengecap orang yang demikian sebagai orang yang tidak percaya, tetapi dia mau mendorong mereka untuk hidup sesuai dengan Penguasa mereka yang sebenarnya, yakni Tuhan kita Kristus Yesus.

Menarik bahwa Paulus tidak mengatakan di sini bahwa dosa itu salah, tetapi bahwa dosa itu mencemarkan, memalukan, dan membawa kepada maut/kematian. Jika dosa tertentu dianggap membawa hidup yang terasa, seru, lebih lagi dipuji sesama, banyak orang sepertinya tidak peduli apakah hal itu dianggap salah oleh gereja atau tidak. Kecemaran diri dalam pemberhalaan, kebencian, perzinahan, pencurian (korupsi), saksi dusta (gosip), dan semua bentuk iri hati itu adalah nyata di hadapan Allah, dan ketika disadari, kasih karunia Allah menjadi pengharapan besar akan hidup yang baru.

Dipublikasi di Roma | Tag , | Meninggalkan komentar

Mat 10:24-39 Yesus lebih dari semua penghalang misi [25 Jun 2017]

Penggalian Teks

Matius 4–10 menyampaikan suatu visi tentang Kerajaan Allah (KA, lebih biasa “Kerajaan Sorga” dalam Injil Matius) yang datang dalam diri Yesus. Yesus memanggil murid-murid, dan menjelaskan identitas mereka sebagai anak-anak Allah yang dituntut dewasa seperti Allah sendiri (p.5) dengan percaya (p.6) dan hidup dalam kasih (p.7). Kemudian, Dia memperlihatkan KA melalui serangkaian mukjizat (pp.8–9). Setelah persiapan itu, Dia memanggil beberapa murid (10:1–4) untuk memperluas pelayanan-Nya di desa-desa Israel (10:5–6).

Matius 10 merupakan pembekalan Yesus kepada mereka, dan perikop kita adalah bagian akhir dari pembekalan itu. Mulai 10:16, ada kesan bahwa Yesus memperluas diskusi-Nya untuk mencakup pelayanan murid-murid setelah mereka diutus kepada bangsa-bangsa oleh Yesus yang telah bangkit (28:18–20). Paling sedikit, Matius memuat ajaran Yesus ini untuk mengarahkan para penginjil yang mungkin saja tetap memberitakan Kristus di daerah Israel. Keadaan dibenci tidak hanya untuk murid-murid pada saat itu tetapi untuk semua yang terlibat dalam misi Yesus selanjutnya (10:20–23).

Pilihan batas perikop dalam leksionari menyoroti bahwa Kristus adalah dasar misi itu. Aa.24–25 di awal perikop menegaskan bahwa fitnah yang akan dialami murid-murid sudah dialami oleh Yesus sendiri; aa.38–39 di akhir perikop menegaskan bahwa jalan Yesus yang di dalamnya murid-murid Yesus ikut dengan mengaku Yesus ialah jalan salib. Di tengah perikop, Yesus memperingati murid-murid-Nya bahwa Yesus adalah penentu keselamatan di hadapan Allah Bapa (32–33), sehingga pengakuan Yesus, meski penuh tantangan, adalah jalan hidup (39).

Aa.24–25 membawa murid-murid untuk tidak menyerah karena dipermalukan; mereka harus siap mengambil tempat Yesus yang dihina. Aa.26–31 mau menguatkan mereka terhadap ketakutan. Aa.26–27 mendorong murid-murid untuk tidak berdiam diri karena takut akan manusia. Untuk sementara, Yesus mengajar mereka secara pribadi, karena identitas-Nya sebagai Mesias belum dapat dipahami dengan baik. Tetapi setelah Dia bangkit, semuanya akan diumumkan. Dalam rangka itu, mereka harus lebih takut mengecewakan Allah daripada mati jasmani (28). Selama mereka belum mati, mereka harus mengganti rasa takut mengenai kebutuhan mereka dengan kepercayaan kepada Allah, Bapa surgawi yang berdaulat bahkan atas burung dan helai dan yang lebih menghargai anak-anak-Nya daripada burung-burung itu (29–31). Murid-murid Yesus tidak usah takut akan manusia yang membenci berita tentang Yesus, tidak usah takut akan manusia yang dapat membunuh tubuh, dan tidak usah takut tentang kebutuhan mereka dalam mengerjakan misi Yesus.

Penguatan itu berlaku hanya bagi orang-orang yang mengakui Yesus sehingga diakui oleh Allah, Bapa Yesus (32–33). Kemudian, Yesus berbicara tentang ancaman bukan dari musuh di luar, melainkan dari keluarga sendiri (34–38). Damai sejahtera yang merupakan tujuan eskatologis Kerajaan Allah harus didahului dengan pedang (34), yaitu pemberitaan Kristus yang diterima sebagian anggota satu keluarga dan ditolak sebagian yang lain. Perpecahan itu digambarkan Yesus dengan kutipan dari Mik 7:6 yang menjadi puncak keluhan nabi Mikah tentang kondisi buruk umat Israel (35–36). Dalam kondisi sulit ini, Yesus menuntut dikasihi lebih dari anggota-anggota keluarga sendiri, yaitu murid-murid-Nya harus bertahan mengaku Yesus walaupun dimusuhi keluarga sendiri (37). Itulah satu bagian dari memikul jalan salib Yesus (38), tetapi jalan itu justru adalah jalan kehidupan (39).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus adalah pusat identitas baru murid-murid-Nya: Dia menjadi pesan kita, dan akses kita kepada Allah Bapa yang menjamin hidup kita dan mendirikan keluarga ilahi yang baru. Kita diajak untuk terlibat dalam misi Yesus dengan menempatkan-Nya di atas rasa malu, rasa takut, bahkan di atas keluarga sendiri.

Makna

Kerajaan Allah menghadapi banyak perlawanan dari manusia berdosa, dan orang-orang yang mengikuti Yesus akan mengalami perlawanan itu bahkan dari keluarga sendiri. Banyak manusia berani melawan pihak luar demi keluarga, tetapi melawan keluarga sendiri lebih sulit masuk akal. Mengikuti Yesus berarti menjadi keluarga Allah yang mencari dukungan jasmani dan relasional pertama-tama dari Allah melalui keluarga itu, dan juga mengejar kepentingan keluarga itu sebagai kepentingan sendiri. Tetapi keluarga ini adalah keluarga rajani, dengan Yesus sebagai Raja karena Dia adalah Anak Allah yang sulung. Jadi, kepentingan keluarga ini tidak lain dari kedatangan Kerajaan Allah dalam Yesus, Anak Allah. Semangat murid-murid adalah semangat orang yang diterima oleh anugerah ke dalam keluarga ilahi, yang melihat wajah Allah di dalam Yesus, Anak-Nya, dan mulai kagum dan rindu akan gaya hidup seperti yang digambarkan dalam khotbah di bukit. Orang-orang seperti itu akan takut hanya akan Allah, dan siap mati demi keluarga yang mulia ini.

Keluarga itu semestinya identik dengan jemaat, tetapi dalam konteks kekristenan, ada banyak alasan menjadi anggota jemaat selain kekaguman akan Yesus. Oleh karena itu, muncullah adanya orang yang sepertinya mengakui Kristus di depan manusia, tetapi kelihatannya tetap masa bodoh terhadap (bahkan melawan) perjuangan Kerajaan Allah. Hal itu menjadi masalah ketika semangat rohani yang lesu mulai dianggap keadaan wajar untuk para pengikut Kristus. Perkataan Yesus dalam perikop ini memperingati setiap kita bahwa iman yang sejati akan nyata dalam kesiapan memikul salib dalam rangka kesetiaan kepada Kristus. Biasanya ada di sekitar kita yang dapat menjadi teladan yang menguatkan kita, tetapi kondisi jemaat bukanlah ukuran tentang kehidupan yang setia dan layak bagi Kristus. Syukur kalau keteladanan itu terdapat dalam keluarga sendiri, tetapi perlawanan atau kurangnya dukungan dari keluarga juga bukan suara atau panggilan Allah. Menghadapi tantangan-tantangan ini adalah bagian dari memikul salib yang sudah dilalui oleh Kristus.

====

Dipublikasi di Matius | Tag | Meninggalkan komentar

Roma 5:1-11 Bermegah dalam Allah oleh Kristus [18 Jun 2017]

Penggalian Teks

Dalam 4:24–25, Paulus meringkas pemaparannya tentang pembenaran oleh iman dengan mengatakan bahwa kita diterima sebagai orang benar di hadapan Allah dengan percaya kepada kebangkitan Kristus sebagai penggenapan janji Allah kepada Abraham (4:13), karena di dalamnya tersirat kematian Kristus untuk pelanggaran kita (bdk. 3:25) dan kemenangan Allah atas maut (bdk. 5:12–21). Rom 5–8 menguraikan hasil pembenaran itu sebagai damai sejahtera dengan Allah yang berisi pemuliaan (5:2; 5:12–8:13; artinya pemulihan gambar Allah yang rusak, 3:23) dan pengharapan yang yakin akan keselamatan di tengah pergumulan dan penderitaan (5:3–5; 8:14–30) berdasarkan kasih Allah di dalam Kristus (5:6–10; 8:31–39). Semangat yang muncul dari damai sejahtera dan pengharapan itu dibahasakan Paulus sebagai kemegahan, suatu kebanggaan yang di dalamnya ada kekebalan terhadap penghinaan dari pihak-pihak yang menolak kemegahan itu. Misalnya, orang Yahudi bermegah dalam Allah berdasarkan hukum Taurat, dan jika diejek karena menaatinya (misalnya, karena tidak memakan daging babi), justru akan bangga (2:17–23). Orang yang dibenarkan dalam Kristus bermegah dalam pengharapan (2), kesengsaraan (3), dan Allah oleh Kristus (11).

Pembenaran adalah tindakan Allah sebagai Hakim, dan kasih karunia dalam a.2 adalah sikap Allah sebagai Raja yang berkenan atas orang-orang berdosa yang beriman kepada Kristus yang Dia bangkitkan. Sikap itu digambarkan sebagai kondisi yang tetap sehingga kita dapat berdiri di dalamnya. Tetapi kondisi yang tetap itu juga mengandung pengharapan yang dimegahkan, yaitu bahwa kecemaran yang memalukan sebagai orang berdosa akan diganti dengan kemuliaan yang menjadi maksud awal Allah bagi manusia. Kemuliaan itu termasuk amanat untuk berkuasa atas bumi. Jadi, kemegahan itu seperti kemegahan orang yang menantikan kelulusan dalam pendidikan yang mulia atau menuju promosi. Tentu, kemuliaan Allah yang diharapkan jauh lebih mulia. Kita melihat bahwa pembenaran adalah pintu masuk, bukan tujuan; damai sejahtera dengan Allah termasuk pengharapan yang besar.

Pengharapan itu menuntut pembaruan pada saat ini, dan cara utama Allah menempa kita adalah dengan kesengsaraan (3–4; kata thlipsis secara harfiah berarti penindasan). Dengan bertekun setia kepada Kristus dalam kesengsaraan, kita tahan uji dan pengharapan akan kemuliaan Allah makin teguh. Oleh karena itu, kita juga bermegah dalam kesengsaraan itu, karena kesengaraan itu dipahami bukan sebagai kutuk atau hukuman Allah melainkan sebagai didikan-Nya untuk mendewasakan kita menuju kemuliaan itu.

Pengharapan semestinya membuat jemaat tidak malu setia kepada Kristus, tetapi jemaat tidak dituntut bertahan dalam pengharapan saja. Roh Kudus membawa pengalaman akan kasih Allah ke dalam hati (batin) orang percaya sehingga kekosongan martabat diri akibat kesengsaraan diisi dengan kasih Allah sendiri (5). Barangkali, kasih Allah itulah yang memampukan orang percaya bertekun dan bertahan uji. Paulus memakai bentuk perfek kata kerja “dicurahkan” yang cocok dengan pencurahan itu sebagai kejadian yang tetap berlangsung. Kemungkinan bahwa Paulus melihat titik jadi percaya dan dibaptis sebagai saat pencurahan itu. Yang dibawa Roh Kudus di sini bukan pengalaman mistis yang tak terucapkan melainkan pengenalan akan makna kematian Kristus yang dilakukan untuk orang lemah/durhaka/berdosa (6–8). Paulus sudah menjelaskan bahwa kasih karunia Allah diberikan kepada orang-orang durhaka, bukan orang-orang layak (4:4–5). Di sini dia menambahkan bahwa kasih karunia itu berasal dari kasih Allah. Kematian Kristus menjadi bukti akan kasih Allah yang melampaui keadaan kita. Karena Dia mati untuk kita ketika kita masih berdosa, tidak masuk akal untuk melihat kesengsaraan sebagai hukuman Allah.

Jadi, kita sekarang dikuatkan oleh Roh Kudus untuk mengenal kasih Allah yang dibuktikan dalam kematian Kristus. Kemudian, Paulus kembali ke persoalan pengharapan. Pembenaran oleh darah Kristus berarti keselamatan dari murka Allah (9), karena darah Kristus itu telah menjadikan kita berdamai dengan Allah, dan hidup-Nya menjamin bahwa kita akan bertahan sampai selamat (10). Diskusi Paulus selanjutnya (dan juga aa.3–4 tadi) menunjukkan bahwa jaminan keselamatan ini bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis, tetapi justru dalam pergumulan untuk menawarkan tubuh kita kepada Allah (6:12) dan menjadi hamba kebenaran (6:18) dalam kuasa Roh (8:13).

Paulus menyimpulkan bahwa kita bermegah dalam Allah, bukan oleh hukum Taurat tetapi oleh Kristus. Dalam Kristus kita diterima sepenuhnya oleh Allah dan dituntun melalui pergumulan menuju pengharapan yang mulia.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Paulus menjelaskan kedudukan orang percaya di hadapan Allah karena kasih karunia yang mengandung pengharapan yang mulia dan pengenalan akan kasih Allah dalam pergumulan sekarang. Dia mau supaya jemaat bermegah dalam Kristus karena hal-hal itu, bukan dalam Taurat dan bukan dalam dirinya sendiri.

Makna

Kemegahan di sini adalah aspek dari penyembahan; manusia bermegah dalam sesuatu yang dianggap layak menjadi dasar hidup dan harga mati. Ketika Paulus berjumpa dengan Kristus, dia tetap mau bermegah dalam Allah, tetapi Kristus menggantikan hukum Taurat sebagai fokus dari kemegahan itu. Dengan demikian, kemegahannya dibentuk oleh salib: salib adalah bukti kasih Allah sehingga kesengsaraan (karena setia dan mengasihi) tidak lagi dianggap menakutkan dan memalukan tetapi juga dimegahkan sebagai bagian dari rencana Allah untuk memuliakan kita (bdk. 8:26–30).

Kemegahan adalah obat yang tepat terhadap rasa malu yang melumpuhkan. Adalah sulit berharap bahwa jemaat akan menjadi umat yang kudus (Kel 19:6) atau pengerja ladang Tuhan (Mat 9:37–38) selama jemaat cepat berubah setia begitu terancam mendapat malu. Kemegahan dalam Kristus membawa semangat untuk bertumbuh dewasa dan terlibat dalam misi Allah.

Dipublikasi di Roma | Tag , , | Meninggalkan komentar