Penggalian Teks
Dalam bagian awal surat Paulus kepada jemaat di Filipi, dia berdoa supaya mereka menjadi jeli dalam menimbang apa yang baik (1:9-10). Tentu, isi suratnya bermaksud untuk menopang proses itu. Mereka tinggal di kota Filipi, koloni Roma yang menjadi tempat tinggal banyak purnawirawan. Bahwa Paulus sementara dipenjara oleh pemerintah Romawi dapat menjadi masalah bagi mereka, entah secara pribadi atau dalam pergaulan dengan orang-orang lain. Paulus memulai ajarannya dengan penekanan Kristosentris: dia di penjara karena Injil, dan berita tentang Kristus itu (kurios yang sebenarnya) maju (1:12-18a). Kemudian, dia bersaksi tentang keselamatan yang intinya adalah kemuliaan Kristus, baik dalam kehidupan maupun dalam kematian (1:18b-20). Baik pemberitaan Kristus maupun keselamatan versi Kristosentris itu menjadi sumber sukacita.
Paulus meringkas sikap itu dalam a.21 yang dikembangkan dalam aa.22-24. Hidup adalah Kristus. Mati berarti lebih dekat dengan Kristus, tetapi tinggal di dunia berarti ada buah, termasuk di antara mereka. Hal itu memberinya keyakinan bahwa Tuhan akan tetap memberi kesempatan baginya untuk kemajuan iman mereka yang tidak lepas dari sukacita dalam iman (25). Daripada malu bahwa pendiri gerakan mereka adalah tahanan, mereka dapat semakin bermegah dalam Kristus yang membawa Paulus kembali kepada mereka (26).
Hal itu mengandaikan bahwa mereka makin menghayati bahwa ukuran kemegahan yang sejati ialah Injil Kristus (27a). Kata “hidup” dalam ayat ini adalah politeuomai yang berarti hidup sebagai warga (bdk. politeuma, “kewargaan”, 3:20). Hidup yang berpadanan itu harus muncul lepas dari pengamatan Paulus, tetapi tidak lepas dari sesama jemaat. Hal utama adalah berdiri dalam satu roh. Pendirian itu dijabarkan dalam dua hal, perjuangan demi Injil dan tidak digentarkan oleh lawannya (27b-28a).
Bahasa solider dalam keberanian itu pasti tidak asing dalam budaya militer, dan budaya kehormatan Romawi pada umumnya. Seruan itu diteguhkan oleh akhir bagi kedua kelompok yang berlawanan yang munculnya dari Allah (28b). Dalam rangka itu, penderitaan jemaat karena perlawanan dapat dilihat sebagai bagian dari anugerah percaya (29). Hal itu sudah dicontoh oleh Paulus (bdk Kis 16) dan oleh apa yang dia saksikan dalam 1:12-18.
Bahwa soal kehormatan ada di balik uraian Paulus muncul dalam a.26, dan didukung dalam uraian selanjutnya yang menekankan kerendahan hati seperti Yesus yang siap menjadi hamba sampai mati pada salib baru dimuliakan (2:1-11).
Tentang Apa dan Untuk Apa?
Kristus lebih mulia dan berharga dari apa pun yang lain dalam kehidupan ini. Kita mencari kehormatan sebagai warga Kerajaan-Nya yang saling mendukung dalam perjuangan iman.
Makna
Pada umumnya, orang siap berjuang jika harga diri/kelompok tersangkut, misalnya dalam upacara. Jadi, kesaksian dan anjuran Paulus menantang, karena hidupnya membuktikan bahwa Kristus memang lebih berharga dari segala yang lain, dan bahwa dia mencari kehormatan sebagai warga Kerajaan-Nya, bukan dari kelompok-kelompok manusia. Orientasi kita diuji ketika harus memilih antara Kristus dan kehormatan kelompok (siap “bekerja sama” di kantor, menuruti kepentingan adat, ikut dalam praktek kemajelisan yang hanya menguntungkan majelis). Ayat 29 bukan perintah untuk menderita, tetapi pemberitahuan bahwa kesetiaan kepada Kristus tidak lepas dari perlawanan dunia terhadap-Nya.
Paulus melihat pentingnya solidaritas jemaat, karena seorang diri kita terlalu lemah untuk mempertahankan visi iman yang demikian. Tentu, solidaritas itu harus terdapat dalam Injil, bukan dalam kehendak para penguasa di jemaat. Solidaritas itu terbukti bukan dalam suara bulat dalam rapat, dan tidak hanya dalam perhatian ketika sakit, berduka, dsb, tetapi juga dalam dukungan kepada anggota jemaat yang melawan judi dalam upacara, difitnah karena jujur di kantor, atau berusaha setia dalam rumah tangga yang rusak.
Perbandingan antara keselamatan bagi orang percaya dan hukuman bagi para lawannya bermaksud untuk menguatkan jemaat bahwa kehormatan duniawi sementara saja. Pertobatan selalu dibuka bagi lawan Injil pun. Berjalan dengan integritas yang dibentuk oleh Injil memicu orang di sekitar kita untuk harus berpikir tentang klaim kita tentang Kristus, seperti terjadi di sekitar Paulus di istana.