Mat 17:1-9 Yesuslah yang didengarkan [26 Feb 2017] (Transfigurasi)

Penggalian Teks

Peristiwa transfigurasi (“perubahan bentuk menjadi lebih istimewa”) ini mirip dengan peristiwa Musa dipanggil ke atas gunung untuk menghadap Allah (Kel 24:12–18): paling sedikit ada gunung, awan, kemuliaan Tuhan, Musa, dan juga ada enam hari. Enam hari awan dalam Kel 24:16 sepertinya merupakan lanjutan dari awan tebal yang turun ke atas gunung Sinai pada hari ketiga orang Israel tiba di sana (Kel 19:16). Jadi, dalam enam hari itu, Allah menyampaikan isi perjanjian-Nya dengan Israel (Kel 20–23; termasuk kesepuluh hukum dalam Kel 20:1–17 dan janji penyertaan dalam memasuki tanah perjanjian, Kel 23:20–33), mengadakan perjanjian itu dengan darah (Kel 24:1–8), dan berjumpa dengan para tua-tua Israel (Kel 24:9–11). Pada hari yang ketujuh, Musa dipanggil untuk naik ke atas gunung (tidak jelas seberapa jauh Yosua ikut, Kel 24:13), dan di sana dia menerima perintah-perintah berkaitan dengan ibadah dan pembuatan Kemah Suci (Kel 25–31). Allah menyatakan kemuliaan-Nya sebagai landasan untuk perjanjian-Nya dengan Israel, di mana Israel akan beribadah kepada-Nya dan taat kepada hukum-Nya.

Dalam Injil Matius, tidak ada awan selama enam hari, tetapi di awal enam hari itu ada pemberitahuan Yesus bahwa Dia akan menderita, mati dan bangkit (Mat 16:21). Pada perjamuan malam, sehari sebelum Dia mati, Dia memberitahu mereka bahwa darah-Nya adalah “darah perjanjian” (26:28). Kemudian, dalam a.9 perikop kita, Yesus mengaitkan transfigurasi-Nya dengan kebangkitan-Nya; transfigurasi tidak bisa dipahami sebelum Yesus bangkit. Allah menyatakan kemuliaan Anak-Nya sebagai landasan untuk pembaruan perjanjian yang akan diadakan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Berbeda dengan Musa, Yesus tidak harus menunggu dipanggil Allah. Dia membawa tiga murid terdekat yang akan menjadi saksi mata (a.9; bdk. 2 Pet 1:16–18) dan juga penerus pelayanan Yesus setelah Dia naik ke surga, sama seperti Yosua meneruskan pelayanan Musa. Berbeda dengan Musa, wajah Yesus bercahaya sebelum ada awan dan suara Allah; cahaya itu muncul dari dalam diri-Nya (2). Kemudian, Yesus menjadi Dia yang dengan-Nya Musa berjumpa (3). Musa mewakili hukum Taurat sebagai dasar perjanjian; Elia mewakili para nabi yang terus-menerus memanggil Israel untuk kembali ke jalan perjanjian itu. Kita bisa mengerti kalau Petrus belum menangkap hal itu, sehingga dia menawarkan tempat teduh bagi ketiga orang itu (4). Tetapi yang bersinar ialah Yesus; Dialah penggenapan Kemah Suci yang desainnya diberitahukan Allah kepada Musa. Maksud sebenarnya langsung diberitahukan ketika awan (yang terang, bukan gelap) turun dan Allah Bapa bersuara. Sama seperti suara pada baptisan-Nya (Mat 3:17), Yesus adalah Raja (“Anak-Ku” [revisi PB berbunyi, “Anak-Ku yang terkasih”], Mzm 2:7) yang akan menjadi korban (bdk. Kej 22:2 “anak … yang engkau kasihi”) sebagai hamba Tuhan (bdk. Yes 42:1 “yang kepadanya Aku berkenan”). Yang ditambahkan di sini, “dengarkanlah Dia”, menyinggung Ul 18:15 tentang nabi yang akan menggantikan Musa. Ternyata, Musa dan nabi Elia telah muncul untuk mengakui bahwa Yesuslah yang sekarang menjadi perantara firman Allah (bdk. 2 Pet 1:19–21). Dalam perjanjian yang akan diadakan dalam kematian-Nya, Dia menjadi tempat ibadah kepada Allah dan sabda-Nya yang akan ditaati.

Sepertinya baru dengan suara dari surga itu, ketika murid Yesus menjadi sadar akan apa yang mereka saksikan, dan mungkin juga akan kebodohan mereka (6). Tetapi Yesus bermaksud bukan untuk menghukum mereka (7) melainkan untuk tetap membina mereka, sampai kematian dan kebangkitan-Nya sudah terjadi dan mereka siap diutus (9; bdk. 28:18–20).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus adalah Anak (Raja) dan Hamba Allah yang menyatakan kemuliaan Allah dan menyampaikan firman-Nya. Di dalam Dia semua aspek hubungan kita dengan Allah, Yesus yang harus menjadi pusat perhatian kita.

Makna

Pertanyaan tentang jemaat yang muncul dari penguraian di atas ialah, Di mana suara Allah yang membawa hidup yang sejati itu dicari? Di dalam keluarga, budaya, pemerintah, gereja? Suara Yesus adalah suara orang yang menderita dan mati, dan menyuruh pengikut-Nya untuk melakukan hal yang sama. Manusia yang hidup dalam daging (termasuk ketiga murid pada saat itu) lebih menyukai suara-suara yang membenarkan keinginan daging, tetapi penglihatan ini amat tegas: suara Yesus, Sang Raja dan Hamba, itulah suara Allah. Tentu, suara Yesus semestinya kedengaran di gereja dan lembaga-lembaga yang lain, tetapi jika yang dicari adalah kenyamanan daging, suara-Nya tetap tidak akan didengarkan.

Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar

Mat 5:38-48 Kasih seperti Allah Bapa kita [19 Feb 2017]

Penggalian Teks

Minggu yang lalu kita belajar tentang manusia yang “duniawi”, yaitu yang dikendalikan oleh daging yang tidak mau mengandalkan Allah. Khotbah di bukit menunjukkan bahwa Israel juga menerapkan hidup keagamaan yang tetap dikendalikan oleh daging (5:20), dan dalam 5:21–48 Yesus menawarkan tafsiran hukum Taurat untuk anggota-anggota Kerajaan Surga yang akan dibaptis dengan Roh Kudus (3:11). Dalam 5:21–27 kita melihat bahwa orang beragama rentan merendahkan, berselisih, dan tidak setia dalam pernikahan dan perkataan. Hal-hal itu menyangkut integritas atau kedewasaan dalam berbagai tanggung jawab yang jelas. Standar Yesus di sini memang menantang karena kedagingan kita, tetapi manusia duniawi pun mampu mengakui kebaikan visi Yesus. Dalam perikop kita, Yesus melangkah ke soal lawan. Di sini, nasihat Yesus tidak hanya menantang, tetapi sulit dibayangkan sebagai cara hidup. Apakah orang jahat dibiarkan tetap berbuat jahat (39)? Apakah kita harus memberikan atau meminjamkan rumah kita kepada orang yang memintanya (42)?

Berdasarkan 5:17, saya menilai bahwa Yesus tidak memberi kita hukum baru dalam Khotbah di Bukit. Dia menuntun kita untuk memahami bagaimana hukum yang diberikan Allah itu diterapkan oleh orang-orang yang sedang dibebaskan dari kuasa daging oleh Roh Kudus (meminjam bahasa rasul Paulus). Kemudian, kita harus memperhatikan gaya bahasa Yesus. Semua setuju bahwa mencungkil mata bukan perintah. Jika larangan akan kata “jahil” sebagai ejekan dalam a.22 dianggap perintah, Yesus sendiri menggunakan kata yang sama (moros, “bodoh”) terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dalam 23:17. Yesus tidak mengganti hukum Taurat dengan hukum baru; Dia menggunakan bahasa dengan gaya hikmat yang menggugah untuk membawa kita pada pemahaman yang lebih benar. Pemahaman itu memahami hukum Taurat dalam rangka maksud Allah dalam menciptakan manusia (bdk. 19:4–6 yang menjelaskan ketegasan Yesus tentang perceraian dari kisah penciptaan laki-laki dan perempuan) dan dalam kebahagiaan Kerajaan Surga (5:3–10).

Aa.38–42 beranjak dari kutipan prinsip pembalasan yang muncul tiga kali dalam hukum Taurat (Kel 21:24, Im 24:20, Ul 19:21). Ketiga nas itu berbicara tentang respons masyarakat yang diwakili hakim-hakim terhadap tindakan kejahatan yang merugikan sesama. Prinsip itu memberi keadilan bagi pihak yang rugi, membatasi pembalasan berlebihan seperti Lamekh, dan memberi efek jera (lihat Ul 19:20–21). Ada dua gejala daging yang tersirat di situ. Efek jera bermaksud untuk menjinakkan kedagingan yang muncul dalam kekerasan; orangnya mengendalikan dirinya karena takut. Pembalasan adalah salah satu ciri khas kedagingan yang melihat keuntungan sesama sebagai kerugian diri saya. Khususnya, jika harga diri direndahkan di mata orang, menjadi sangat penting untuk ditinggikan kembali.

Jadi, Yesus tidak menanggapi tugas hakim, tetapi sifat kedagingan itu. Jika disimak, usul-usul dalam aa.39–42 mempraktekkan bahwa harga diri seorang murid Yesus berakar dalam kebahagiaan menjadi empunya Kerajaan Surga (5:3–10), bukan dalam penghormatan oleh sesama. Yesus tidak memberi perintah mutlak, tetapi usul-usul memberitakan kebahagiaan itu. Kemudian, usul-usul itu menawarkan cara lain dari efek jera untuk membawa perubahan pada sesama. Tindakan yang diusulkan Yesus memutuskan lingkaran balas-membalas yang menjadi ciri khas manusia duniawi. Ketika diperlakukan dengan buruk, kita diajak untuk menemukan cara kreatif untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Kepada orang yang meminta dengan sembarangan kita tetap memberikan sesuatu; biar kita tidak mau meminjamkan sesuatu, kita tetap mencari cara untuk menerima orangnya sendiri (42).

Aa.43–48 menanggapi satu sifat kedagingan lagi, yaitu keinginan untuk membatasi kasih pada orang sepihak. Im 19:18b yang dikutip dalam a.43 berbicara tentang “sesama”, dan “bencilah musuhmu” meringkas semangat yang muncul dalam PL untuk membenci musuh-musuh Allah (Mzm 139:21). Pada saat yang sama, ada beberapa nas PL yang mendorong Israel untuk tidak membenci musuh: Kel 23:4 menyuruh orang Israel untuk menyelamatkan hewannya; Ams 24:17 melarang kesenangan atas kemalangannya. Jadi, inti dalam memusuhi musuh Allah bukan merugikannya melainkan tidak ikut dalam permusuhannya terhadap Allah, seperti ikut memeras orang miskin atau menyembah berhala. Masalahnya, manusia kedagingan tidak akan mampu mengasihi musuh tanpa juga mengasihi sifat-sifatnya yang buruk.

Jadi, nasihat Yesus untuk mengasihi musuh mengandaikan bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah dalam artian yang lebih dalam (Israel adalah anak Allah sebagai bangsa). Allah sangat mampu mengasihi musuh-musuh-Nya tanpa dipengaruhi oleh kejahatan mereka, sebagaimana dilihat dalam pemeliharaan yang mencakup orang baik dan jahat (45). Yesus sudah mengangkat usaha membawa damai sebagai salah satu ciri anak-anak Allah (5:9); mengasihi dan mendoakan musuh itu berkaitan erat dengan usaha itu. Kasih seperti itu yang menjadi garam dan terang di tengah dunia yang selalu bermain balas-membalas dalam kebaikan pun (46–47). Itulah yang dimaksud Yesus dengan menjadi “sempurna” (teleios, sudah menjadi seperti semestinya); berkaitan dengan manusia kata itu sering diterjemahkan “dewasa”. Anak-anak Allah tidak menjadi sesama manusia duniawi sebagai patokan, tetapi Allah sendiri (48). Daripada puas karena lebih benar daripada si Anu yang kacau di sebelah, mereka selalu didorong untuk maju dalam kasih dengan melihat kasih Allah sendiri.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Pola hidup yang mencontoh Allah sebagai Bapa itu membalas kejahatan dengan kebaikan dan permusuhan dengan kasih. Yesus menawarkan pola itu sebagai cara untuk menikmati kebahagiaan sebagai anak-anak Allah, dan juga untuk menjadi garam di dalam umat Allah, dan terang bagi dunia.

Makna

Manusia duniawi dianggap benar ketika membalas kebaikan atau kejahatan dengan hal yang sama; Yesus mengatakan bahwa manusia yang bahagia, anak-anak Allah, membalas kejahatan dengan kebaikan. Bagi manusia duniawi, usul itu tidak masuk akal; bagi anggota jemaat yang belum dewasa (teleios), nasihat itu dapat didengar tetapi sulit diterapkan. Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.” (1 Kor 3:18) Kita perlu mengaku bahwa kita sering sok bijak saja, dan kemudian kembali ke Ucapan Bahagia Yesus untuk mempelajari kembali hikmat Kerajaan Surga. Dengan demikian, nasihat Yesus akan dilihat bukan sebagai hukum yang mustahil, melainkan sebagai cara hidup yang sangat menarik.

Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar

1 Kor 3:1-9 Ladang Tuhan yang Rohani [12 Feb 2017]

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus yang dialamatkan Paulus dalam surat ini tidak tahu diri. Artinya, mereka tidak tahu siapakah diri mereka di dalam Kristus yang mati (p.1), bangkit (p.15), dan yang membawa hadirat Allah dalam persekutuan kita (3:16; 10:16–17). Masalah yang ditanggapi dalam pp.1–4 ialah adanya kubu-kubu yang mengatasnamakan pelayan-pelayan (1:11–12; 11:18–22 memberi petunjuk bahwa kubu-kubu itu antara lain berbau tingkat ekonomi atau kelas). Untuk menanggapinya, Paulus menyoroti hikmat berdasarkan salib Kristus: hikmat itu melihat rencana Allah dalam kelemahan bukan kuasa, dan hikmat itu mencari pemberian Allah yang tidak kelihatan tetapi dinyatakan oleh Roh Kudus (pp.1–2). Adanya kubu bertentangan dengan hikmat salib (3:1–9), mengganggu pembangunan jemaat sebagai Bait Allah yang tidak kelihatan (3:10–17), dan mengundang perlawanan Allah terhadap kesombongan manusia (3:18–23). Justru para pelayan yang dimegahkan mengikuti jejak Kristus dalam kerendahan (p.4).

Ada tiga kiasan yang menjadi sarana himbauan Paulus. Dalam aa.1–4, kiasan kedewasaan berbaur dengan kiasan daging/Roh. Secara harfiah, daging (sarx) adalah kekuatan manusia yang sekaligus fana. Manusa fana yang tidak mau mengandalkan Allah mencari cara-cara yang buruk untuk bertahan hidup lepas dari Allah. Jadi, Paulus menggunakan kata daging untuk berbicara tentang sifat manusia secara individu dan bersama yang selalu condong ke dosa. Tanpa Roh Kudus, manusia itu sarkinos, “terdiri atas daging” (a.1; LAI duniawi).

Sebaliknya, Roh Kudus menyatakan kasih dan janji Allah yang membongkar kebodohan daging yang tidak percaya itu (2:9–12). Makanya, jemaat merupakan orang *pneumatikos“, ”rohani“ (2:13; LAI ”mereka yang mempunyai Roh“). Orang-orang itu semestinya mampu menangkap hikmat dari Allah, tetapi jemaat di Korintus lebih mirip manusia sarkinos (1). Mereka mirip manusia yang terdiri atas daging, tetapi karena mereka adalah jemaat Tuhan, dalam a.3 Paulus menyebut mereka sarkikos, ”berkaitan dengan/seperti daging” (LAI: duniawi). Mereka adalah orang rohani yang berlagak sebagai orang duniawi. Gejalanya dilihat dalam iri hati (sifat individu) dan perselisihan dan kubu (sifat bersama).

Makanya, jemaat di Korintus ibarat bayi (a.1 nepioi; LAI belum dewasa) yang hanya siap menerima susu, bukan makanan keras (2). Kiasan itu menggunakan perkembangan fisik yang mudah diamati untuk berbicara tentang hal tadi. Orang sarkinos belum lahir dalam Roh sehingga murni hidup menurut daging. Orang rohani yang sudah dewasa itu mampu menerima hikmat Allah (2:6) sehingga tidak lagi dikuasai oleh kegelisahan dan kebodohan daging. Tetapi jemaat di Korintus ada di antaranya: mereka sudah menerima Roh tetapi pertumbuhan mereka mandek pada tahap bayi sehingga gaya hidupnya tidak jauh beda dari orang daging.

Kiasan ketiga dalam aa.5–9 ialah para pelayan sebagai tukang kebun Allah (bdk. kiasan Israel sebagai kebun Allah dalam Yesaya 5 dsb). Pendirian jemaat oleh Paulus adalah seperti menanam; kelanjutan pelayanan oleh Apolos adalah seperti menyiram. Di bawah semua pelayan itu jemaat tetap bertumbuh dengan adanya orang baru menjadi percaya, tetapi pertumbuhan itu adalah karya Allah, bukan karya pelayan. Adalah wajar saja jika seseorang merasa berhutang budi pada pelayan yang di bawahnya dia menjadi percaya (5–6; bdk. 1:13–14), dan bisa saja ada perbedaan sifat antar pelayan yang membuat salah satunya lebih menarik untuk kelompok tertentu. Hal wajar itu menjadi buruk ketika manusia daging (yang fana dan rentan) itu mencari keamanan, kuasa, dan status di dalam kubu, karena status, kuasa, dan keamanan itu akan diperebutkan dengan kubu-kubu yang lain. Dengan membuat pelayan sebagai lambang kubu, pelayan itu seakan-akan menjadi sumber (atau saluran utama) keamanan dan status itu, seakan-akan Roh Kudus hanya bekerja melalui dia. Tetapi tanaman-tanaman di dalam sebuah kebun bukannya hidup dari tukang-tukang kebun melainkan dari Sang Pemilik kebun yang mengatur semuanya dan yang untuk-Nya kebun itu dikerjakan (7). Kemudian, para pelayan sama sekali tidak terikat dengan kubu tertentu, tetapi mereka bekerja untuk Allah yang daripada-Nya upah mereka (8).

Jadi, Paulus mengajak mereka untuk tahu dirinya sendiri serta diri-diri yang lain (9). Paulus dan Apolos adalah kawan sekerja Allah, bukan bagian dari kubu jemaat. Jemaat adalah ladang Allah yang semestinya mencari hidup dari Allah, bukan dari kubu, dan mementingkan Allah, bukan kubu. Kemudian, Paulus beralih kiasan ke bangunan (yakni Bait Allah, 3:16, yang diletakkan di atas dasar Kristus, 3:10) sebagai penyataan Roh selanjutnya. Identitas di dalam kubu terlalu sempit: kita adalah bagian dari tubuh Kristus. Kelompok itu memang berhadapan dengan kubu-kubu di dunia, tetapi bukan dengan cara-cara kedagingan, melainkan dengan hikmat berdasarkan Kristus yang disalibkan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Orang rohani mengenal diri sebagai orang yang hidup dari Allah sehingga tidak perlu membuat kubu. Hal itu mengajak kita untuk bertobat dari kebergantungan kita pada kubu-kubu di dalam jemaat. Sulitnya untuk melakukan hal itu menjadi petunjuk bahwa kedewasaan kita masih kurang.

Makna

Maksud Allah dalam salib Kristus bukan hanya supaya kita diampuni, tetapi supaya kita menerima Roh Kudus sehingga mulai keluar dari kedagingan yang mendatangkan maut. Adanya kategori “bayi” (belum dewasa) membawa pengharapan bahwa ketidakdewasaan di dalam kehidupan bergereja bukannya meniadakan maksud Allah itu. Namun, kesempatan yang diberikan kepada daging dalam ketidakdewasaan jelas berdampak buruk. Iri hati dan perselisihan merongrong atau merusak pelayanan dari tingkat jemaat sampai pada pusat. Gereja menjadi tempat untuk mencari status (termasuk oleh pendeta dan majelis); macam-macam kubu dibentuk untuk mencari kepentingan bersama dalam hal-hal tertentu. Semua itu gejala bahwa apa yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi-Nya (2:9) belum menjadi realita yang membawa kita keluar dari kepentingan-kepentingan duniawi.

Kristus mati supaya kita hidup, tetapi kita memilih menderita dalam cara lama yang berasal dari kedagingan. Hukum Taurat ditawarkan Allah kepada Israel sebagai pola hidup yang mengikis kedagingan (bdk. renungan ini tentang Ul 30:15–20), dan dalam khotbah di bukit Yesus menguraikan maknanya bagi orang yang akan diberi Roh Kudus (bdk. renungan ini tentang Mt 5:17–26). Adanya kubu berarti kita telah memilih kematian dan keagamaan yang tidak melebihi “ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi”.

Dipublikasi di 1 Korintus | Tag , | 1 Komentar

Tit 3:1-7 Rahmat yang membawa Pembaruan [25 Des 2016]

Penggalian Teks

Di awal surat ini kepada rekan sekerjanya Titus, Paulus memberi gambaran yang suram tentang kondisi jemaat di Kreta, dengan antara lain adanya orang-orang yang mencari keuntungan dalam pelayanan (1:11). Titus disuruh untuk menunjukkan cara hidup yang sehat (2:1–10, 15) berdasarkan kasih karunia Allah (2:11–14). Perikop kita mengikuti pola yang sama: nasihat (1–2) berdasarkan kasih karunia Allah (3–7). Ternyata jemaat itu kacau karena belum menangkap (atau menolak) kaitan antara kasih karunia Allah dan cara hidup mereka.

Aa.1–2 memberi gambaran singkat tentang orang yang sudah dididik oleh kasih karunia Allah: mereka akan menjadi warga masyarakat yang baik (1), dan tetangga yang baik (2). Dalam a.3 ada gambaran tentang orang yang belum dididik demikian; Paulus mengingatkan Titus bahwa dia pun pernah begitu ketika belum mengenal Kristus. Ada tujuh sifat yang disebut. Yang pas di tengah yaitu menjadi hamba nafsu. Ketiga sifat sebelumnya menggambarkan sudut pandang yang rusak; ketiga sifat berikutnya menunjukkan efeknya dalam rusaknya hubungan dengan sesama. Kesesatan manusia terjadi karena kerja sama antara kejahilan dan ketidaktaatan, sehingga kejahatan dan kebencian dalam dirinya (atau dalam kelompoknya) justru dianggap benar. Dalam kondisi pembenaran diri itu, nasihat tidak berdaya karena akan ditolak atau dialihkan dengan merendahkan kelompok yang lain.

Makanya, Paulus kembali kepada karya Allah di dalam Kristus oleh Roh (4–7). Paulus mulai dengan kemurahan dan “kasih-untuk-manusia” (filanthropia) Allah (4); sifat-sifat Allah itu menjadi nyata ketika Kristus datang (2:11) dan mati untuk kita (2:14). Berkat penyataan Kristus itu, Allah menyelematkan kita (5). Sejalan dengan kemurahan Allah, Paulus melihat dasar dari keselamatan itu sebagai rahmat Allah. Kata “kemurahan” menunjukkan bagaimana Allah memberi kita sesuatu yang baik; kata “rahmat” menunjukkan bahwa hal itu diberikan kepada orang yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Kita tidak mampu mengerjakan suatu kebenaran yang menyelamatkan, tetapi Kristus menjadi pemberian baik Allah yang menjawab kebutuhan kita.

Kemudian, Paulus menggambarkan keselamatan itu sebagai proses yang dimulai dengan baptisan (“permandian”) dan akan berpuncak pada penerimaan hidup yang kekal (5b–7). Baptisan menandai penjadian ulang (palinggenesia; LAI “kelahiran kembali”) orang-orang percaya. Sebelumnya kita adalah orang yang dibentuk oleh dan bergantung pada budaya dan adat yang dalam hal-hal tertentu menjadi wadah untuk menyatakan kejahilan dan ketidaktaatan manusia. Baptisan membersihkan kita dari semuanya itu sehingga kita memiliki identitas baru di dalam Kristus. Tetapi, identitas itu harus dibentuk terus-menerus di dalam diri kita, dan pembaruan itulah yang dikerjakan Roh Kudus. Roh Kudus itu merupakan pemberian yang paling berharga yang dilimpahkan kepada kita oleh Kristus (6), dengan demikian mewujudkan rahmat Allah (sehingga Kristus dan Allah sama-sama disebut Juruselamat). Akhir dari keselamatan itu adalah hidup yang kekal (7). Kembali Paulus menegaskan bahwa kelayakan (“dibenarkan”) untuk menjadi pewaris (LAI: “berhak menerima”) hidup kekal itu adalah kasih karunia Allah, bukan usaha kita.

Demikian pemberian Kristus mengobati kondisi kita: kejahilan dipulihkan oleh sudut pandang yang dibuka oleh kemurahan Allah. Karena kita dibenarkan oleh kasih karunia, kita dibebaskan dari pembenaran diri sehingga kita dimampukan untuk menyadari ketidaktaatan kita. Karena kita lahir kembali ke dalam identitas baru di dalam Kristus, kita menolak kuasa nafsu jahat atas kehidupan kita. Karena Roh Kudus dilimpahkan kepada kita, kita dimampukan untuk meninggalkan kejahatan dan kebencian, dan hidup sehat.

Dalam ayat berikutnya, Paulus mengatakan kepada Titus bahwa berita itu yang harus ditegaskan kepada jemaat untuk memotivasi “mereka yang sudah percaya kepada Allah” (3:8). Mungkin saja ada yang tidak percaya dan akan tetap hidup jahil, tetapi orang percaya tidak hanya perlu dinasihati tetapi juga dimotivasi dengan berita karya Allah di dalam Kristus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kemurahan dan rahmat Allah di dalam Kristus yang membawa kita kepada pembaruan dan hidup kekal itu menjadi motivasi untuk kehidupan dengan sesama yang sehat. Kita diajak untuk menerima hidup kekal sebagai tujuan hidup kita yang diterima sebagai anugerah, dan memberi diri diperbaharui oleh kuasa Roh Kudus.

Makna

Pada saat-saat merasa pesimis, analisis saya tentang kondisi gereja sbb. Paulus berbicara tentang karya Allah di dalam Kristus untuk mengangkat wawasan jemaat di Kreta sehingga kehidupan yang sehat itu menjadi sesuatu terasa wajar, meski sulit. Kita para pelayan agak enggan berbicara panjang lebar tentang Allah dan karya-Nya, karena wawasan kita semua (termasuk jemaat) condong terbatas pada apa yang kita lihat langsung di sekitar kita. Masyarakat dan tetangga bukan dilihat dari perspektif para pewaris hidup kekal yang dibenarkan oleh kasih karunia, tetapi seakan-akan kita hidup-mati berdasarkan pembenaran oleh sesama. Kita risih dengan identitas baru kita, dan enggan diperbaharui oleh Roh Kudus, karena dengan demikian kita harus tampil beda. Dengan demikian kita menjadi hamba “apa kata orang” (nafsu dan keinginan bersama) yang menuju upacara kematian yang hebat, bukan hamba Kristus yang menuju hidup yang kekal.

Seluruh aa.4–7 ini termasuk dalam pemberitaan Paulus sebagai satu paket yang utuh. Kadang pembenaran oleh kasih karunia diberitakan lepas dari kelahiran kembali dan kuasa Roh Kudus, sehingga orang menganggap bahwa Allah membenarkan semua cita-cita mereka, dan tidak sadar bahwa Allah memiliki misi yang jauh lebih mulia dari misi-misi kerdil kita (bdk. Luk 2:14). Kadang hidup kekal diberitakan sebagai semacam pemberesan masalah hidup pribadi setelah mati (dengan demikian jemaat dibebaskan untuk berfokus pada apa yang penting, yakni adat), bukan sebagai keanggotaan dalam masyarakat yang mulia dan termasyhur (Yes 62:7, 12). Kadang Allah dibicarakan lepas sama sekali dari Kristus, sehingga rahmat-Nya menjadi sifat yang melayang-layang dan kabur, bukan sesuatu yang dilihat secara konkret di dalam Kristus. Semoga penyataan Kristus dalam pemberitaan kita pada Natal ini membuka mata iman sehingga pembaruan hidup juga nyata.

Dipublikasi di Titus | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Yes 7:10-17 Percayalah pada pertanda Tuhan [18 Des 2016]

Penggalian Teks

Yesaya bernubuat di Yehuda (kerajaan Selatan) selama zaman pemerintahan beberapa raja (1:1). Dia dipanggil pada tahun kematian raja Uzia (6:1, 740/739 SM). Kurang lebih lima tahun kemudian, ketika Ahas baru mulai mengambil alih kendali pemerintahan dari ayahnya Yotam, Israel (kerajaan Utara) dan Aram (daerah Suriah sekarang) menyerang Yehuda karena Yehuda tidak mau bersekutu dengan mereka untuk melawan Asyur. (Ahas malah menjadikan Yehuda sebagai negara vasal dari Asyur; lihat 2 Raj 16:7–9.) Dalam Yes 7:1, kita diberitahu bahwa penyerangan itu tidak berhasil (demikian juga 2 Raj 16:5); fokus narasi ini adalah (kurangnya) iman raja Ahas sebelum hasil itu terjadi. Bahwa Yehuda gemetar wajar saja (7:2), tetapi melalui Yesaya, Allah memberitahu Ahas bahwa sebentar lagi Israel dan Aram akan hancur (7:3–9a). Oleh karena itu, Ahas disuruh untuk percaya sehingga teguh (7:9b).

Untuk menguatkan (atau menguji?) iman Ahas, Tuhan kemudian menawarkan pertanda yang akan ditentukan oleh Ahas sendiri (11). Ahas menolak tawaran itu, dengan alasan yang kelihatan saleh, yaitu untuk tidak mencobai Tuhan (12). Ul 6:16 memang memperingati Israel demikian, dengan merujuk pada peristiwa di Masa. Pada saat itu, menghadapi kekurangan air, Israel mempertanyakan apakah Tuhan hadir di tengah-tengah mereka (Kel 17:7). Andaikan Ahas sungguh saleh, dia akan mengaminkan hadirat Tuhan dengan menjawab bahwa sebuah pertanda mubasir karena dia sudah percaya pada janji Allah melalui Yesaya itu. Tetapi, dia tidak hanya menolak untuk mencobai Tuhan, dengan minta tolong ke Asyur dia juga menolak untuk mengandalkan Tuhan. Dia gagal percaya, seperti sudah dikira dalam 7:9b itu.

Jawaban Yesaya adalah jawaban hukuman. Ahas (serta keluarga Daud) dituduh melelahkan Allah (13), tetapi Allah tetap menyediakan pertanda bagi Ahas (14a). Pertanda ini dari satu segi biasa-biasa saja, yaitu kelahiran putera yang menandakan bahwa hanya dalam waktu beberapa tahun, Israel dan Aram akan ditinggalkan kosong (14b–16). Hanya namanya yang luar biasa: anak ini akan menjadi pertanda akan hadirat Tuhan (Imanuel = “Allah menyertai kita”) yang ditolak Ahas itu. Oleh karena Ahas tidak percaya, dia “tidak teguh jaya” (7:9), sehingga hadirat Tuhan pertama-tama dialami Yehuda dalam hukuman (17). Upeti yang diberikan Ahas kepada Asyur menjadi satu langkah lagi dalam kemerosotoan kejayaan Yehuda yang akhirnya bermuara pada pembuangan ke Babel.

Anak Imanuel itu ternyata adalah anak Yesaya sendiri (8:1–4), tetapi setelah hukuman Allah atas Israel, kita membaca tentang seorang putera yang lain yang akan lahir. Putera itu akan menjadi seorang keturunan Daud yang kebalikan dari Ahas: bijak, kuat, damai, dan adil (9:5–6). Sebagai “Allah yang Perkasa”, Dia akan membawa hadirat Allah ke tengah-tengah umat-Nya, bahkan ke tengah-tengah umat manusia.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus, Sang Imanuel yang lahir dan bangkit dan akan menyertai kita sampai pada akhir zaman, adalah wujud janji Allah yang memampukan kita berdiri teguh jaya di hadapan ancaman.

Makna

Mazmur 80 menyampaikan kerinduan Israel dalam pembuangan supaya Allah memulihkan mereka melalui orang yang Dia pilih (80:18–20). Anak yang diharapkan itu yang lahir dari keturunan Daud menurut daging (Rom 1:3), dan yang merintis zaman Roh ketika dibangkitkan (1:4). Injil Matius mulai dengan silsilah yang menempatkan Yesus sebagai jawaban Allah terhadap pembuangan Israel (Mat 1:17), kemudian mengangkat janji Yesaya untuk memberitakan bahwa di dalam Yesus Allah menyertai kita (1:23). Injil itu berakhir dengan janji bahwa penyertaan itu akan berlaku untuk semua orang dari segala bangsa yang bergabung dengan Yesus yang telah dibangkitkan itu (28:20).

Kelahiran Yesus yang mau dibunuh Herodes dan akhirnya disalibkan oleh Pilatus itu mengungkapkan kondisi manusia “menurut daging”, yakni bahwa kita rentan dan fana. Makanya, sama seperti keluarga Daud pada zaman Ahas, manusia di dalam daging melelahkan sesama dan Allah dengan ulah-ulah yang berasal dari ketakutan dan ketidakpercayaan. Manusia di dalam daging malah menolak untuk percaya kepada Tuhan, dan lebih suka mencari jalan keluar sendiri. Tetapi Tuhan telah memberi kita lebih dari sebuah pertanda saja, yaitu Sang Imanuel yang telah bangkit dan akan menyertai kita sampai pada akhir zaman. Jika kita menolak Sang wujud dari janji Allah itu, kita menghadapi malapetaka yang lebih dahsyat lagi dari Asyur, yaitu kebinasaan kekal. Tetapi jika ketika percaya kepada-Nya, kita akan berdiri teguh jaya sebagai orang-orang kudus yang dikasihi Allah (Rom 1:5–7).

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Yes 35:1-10 Dikuatkan oleh Pengharapan [11 Des 2016]

Penggalian Teks

Yesaya 28–35 berbicara tentang hukuman dan keselamatan Allah, dengan Yes 34 sebagai hukuman terhadap bangsa-bangsa. Yes 34:9–17 memberi gambaran tentang alam yang sudah dikuasai maut dan tidak lagi layak untuk manusia. Pasal 35 ini menjawab dengan janji keselamatan bagi Israel. Padang gurun akan berubah (1–2) sebagai persiapan untuk pembalasan oleh Allah untuk menyelematkan umat-Nya (3–4); orang dan tanah akan pulih (5–7) sehingga ada jalan raya untuk umat Allah pulang dengan sukacita (8–10).

A.10 diulang pada 51:11, sehingga sebagian besar penafsir menafsir perikop ini berkaitan dengan pulangnya Israel dari pembuangan ke Babel, seperti dalam pp.40 dst. Kalau begitu, padang gurun yang bergirang adalah padang gurun yang ada di antara Israel dan Babel. Sebagai sarana untuk pembebasan umat Allah, padang gurun itu akan diberi semarak seperti beberapa tempat yang terkenal (1–2; Libanon terkenal karena pohon-pohon aras, salah satu kayu yang istimewa; Saron dan Karmel adalah dua daerah yang subur). Kesuburan baru padang gurun itu digambarkan sebagai kegirangan; dalam a.10 kita melihat ada manusia yang menyatakan kegirangan itu.

Janji itu menjadi latar belakang untuk menguatkan orang-orang Israel yang memperhatikan nubuatan ini (4). Dasar penguatan itu adalah tindakan Allah yang akan menyelamatkan melalui pembalasan (5). Sejauh keselamatan itu dari pihak yang menindas, entah Firaun, Babel, atau Iblis, keselamatan mengandaikan ketegasan Allah terhadap pihak itu.

Keselamatan itu digambarkan sebagai penyembuhan manusia (5–6a) dan pemulihan alam (6b–7). Keempat hal yang disembuhkan bisa ditafsir sebagai masalah jasmani, dan juga sebagai kiasan untuk masalah rohani, seperti tuli terhadap firman Allah (Yes 29:18), atau malas bergerak (lumpuh) dan bersyukur (bisu). Alam itu diubah dari tempat yang sulit didiami menjadi tempat yang subur dan segar. Yang menarik, pemulihan alam itu diangkat sebagai alasan (“sebab”) untuk penyembuhan manusia: yang baru dilihat ketika mata dibuka adalah alam yang menimbulkan sorak-sorai, bukan ketandusan dan kegersangan.

Padang gurun yang dipulihkan itu menjadi jalan raya untuk Israel pulang (8–10). Jalannya kudus: hanya orang yang layak mendapat tempat di atasnya (8), dan mereka dilindungi dari segala bahaya (9). Sama seperti dalam kitab Keluaran, rombongan Israel ini dibebaskan dari seberang sebuah padang gurun untuk berjumpa dengan Tuhan (Allah hadir di gunung Sinai kemudian di Kemah Suci dalam kitab Keluaran, kemudian di Bait Allah di atas bukit Sion pada zaman Yesaya dst). Kemuliaan padang gurun di awal perikop itu menjadi gambaran dari kemuliaan perjumpaan dengan Allah oleh orang-orang yang dibebaskan dari pembuangan itu; kemuliaan itu diiringi oleh sorak-sorai dan sukacita yang abadi (10).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kita dikuatkan untuk menempuh jalan keselamatan dengan pembaruan oleh Roh Kudus dan pengharapan akan dunia baru.

Makna

Dalam perikop ini, pulangnya Israel dan pemulihan dunia terjadi serentak. Namun, ketika pulangnya Israel diceritakan dalam kitab Ezra, tidak ada penyembuhan orang (5–6a), pemulihan alam (6b–7), jalan raya (8), atau sukacita abadi (10); sebaliknya yang mereka mengalami ialah banyak keluh kesah. Hal itu tidak dianggap meniadakan janji Allah dalam nubuatan ini; janji itu ditunda saja. Adalah menarik bahwa silsilah Matius tidak menyebutkan pulangnya Israel (Mat 1:12–16), seakan-akan pembuangan itu masih berlangsung sampai zaman Yesus. Kemudian, Yesus menyinggung a.5 dari perikop kita untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dinantikan itu (Mat 11:3). Dia memang menyembuhkan orang secara jasmani, tetapi hal itu juga menjadi simbol dari hal-hal rohani (misalnya, orang buta dalam Yohanes 9). Namun, pemulihan alam semesta belum terwujud dalam pelayanan-Nya; ternyata hal itu masih kita nantikan (Rom 8:18–25). Jadi, Ibr 12:12 menerapkan seruan dalam a.3 untuk jemaat yang dia tujukan. Pengharapan akan penggenapan nubuatan ini menjadi dasar untuk bersabar dalam kondisi yang buruk (Yak 5:7–11).

Makanya, perikop ini dipahami secara eskatologis: janji Allah ini mulai digenapi di dalam Yesus Kristus, dan kita masih menantikan penuntasannya. Dalam kitab Ibrani 3–4, perjalanan Israel di padang gurun adalah gambaran dari hidup yang mengikuti jalan yang dipelopori Yesus. Ada beberapa implikasi dari pehamaman itu untuk kita. Yak 5:7–11 sejajar dengan a.4 dari perikop kita: pembalasan Allah yang sudah dekat menjadi alasan untuk bertekun. Ibr 10:14 menyimpulkan bahwa oleh pengorbanan Yesus, kita pasti akan dibawa di atas Jalan Kudus sampai selamat (9). Ibr 12:4–11 juga menyampaikan bagaimana Allah sebagai Bapa menggunakan kesusahan sekarang untuk mendewasakan kita anak-anak-Nya.

Tema pemulihan (1–2, 5–7) juga ada penggenapannya dalam PB. Roh Kudus adalah pembawa berkat Allah bagi kita sekarang (Gal 3:14) dan jaminan akan penuntasannya ke depan (Ef 1:14). Dengan kuasa Roh Kudus, kita mulai dipulihkan, dan kita menjadi lebih mampu melihat kemuliaan dan janji Allah di tengah kebobrokan dunia ini.

Hal terakhir: penafsiran ini bukan “perohanian” perikop Yesaya yang menyepelekan tubuh, karena Roh menghidupkan tubuh kita untuk menjadi persembahan yang hidup (Rom 8:11; 12:1). Jalan mengikuti Yesus adalah jalan tubuh, bukan hanya jalan di dalam hati. Yang berubah ialah tempatnya. Kita tidak berjalan dari Babel ke Yerusalem, ataupun berkeliling di Galilea. Kita menuju dunia baru di mana saja kita berada, dengan diperbaharui oleh Roh Kudus dan dengan sukacita akan pengharapan sukacita abadi.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Kol 1:15-23 Dasar Iman ialah Kristus yang Utama [20 Nov 2016]

Penggalian Teks

Dalam suratnya kepada orang-orang percaya di Kolose, Paulus mau supaya mereka berakar di dalam dan dibangun di atas Kristus (2:7). Seruan itu hanya masuk akal kalau Kristus memang layak menjadi dasar. Perikop kita adalah awal dan dasar dari penguraian yang menyampaikan siapa dan bagaimana Kristus itu. Sebelum perikop kita, doa dan syukur Paulus berakhir dengan syukur kepada Allah yang memindahkan kita dari kuasa kegelapan ke dalam Kerajaan Kristus, sama seperti Dia membawa Israel keluar dari perbudakan ke dalam Kerajaan Israel. Perikop kita menjelaskan bagaimana hal itu terjadi. Aa.15–20 merupakan puisi (syair dari himne?) yang menunjukkan bahwa Kristus adalah Anak Sulung atas ciptaan lama, dan Anak Sulung atas ciptaan baru. Kata “sulung” merujuk pada otoritas anak pertama, seperti dikatakan tentang raja Israel (Mzm 89:28). Puisi ini kaya dengan makna — uraian di sini hanya mencicipinya. Aa.21–23 menjelaskan bagaimana orang percaya di Kolose telah menjadi bagian dari ciptaan baru itu.

A.15 mulai dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Tentu, yang tidak kelihatan ialah Allah, dan Kristus menjadi gambar-Nya. Manusia diciptakan untuk menjadi gambar Allah bagi ciptaan-Nya dengan mandat untuk mengolah ciptaan yang masih mentah itu sesuai dengan kehendak Allah (Kej 1:27). Itulah gambar Allah yang terbatas. Kristus menjadi gambar Allah yang penuh dan utuh, karena Dia tidak hanya mengolah ciptaan tetapi menjadi sarana penjadiannya (16). Menciptakan adalah hak istimewa Allah, sehingga Kristus tergolong dengan Allah (tetapi dibedakan dari Allah Bapa, lihat 1:3b). Dengan menjadi bagian dari Kerajaan Kristus (1:13), kita menjadi bagian dari Kerajaan Allah sendiri. Kemudian, sebagai sarana penciptaan, segala hikmat dan pengetahuan terdapat dalam Dia (2:4; bdk. Ams 8:22 dst). Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu, termasuk kuasa-kuasa rohani/gaib dalam a.16b, adalah hasil karya Kristus dalam menciptakan, sehingga jelas Dia ada di atas semuanya.

Aa.17–18a merupakan peralihan (penggolongan a.18a dengan a.17 lebih jelas dalam bahasa aslinya). A.17a meringkas aa.15–16: Kristus mendahului segala sesuatu. A.17b menyatakan bahwa karya penciptaan itu tidak berhenti: sekarang segala sesuatu tetap berada karena Dia. Kalimat pertama a.18 mengantar bagian berikutnya yang menyangkut jemaat sebagai wadah penciptaan baru: Kristus adalah kepalanya. Dia adalah kunci dari asal usul, kesementaraan, dan masa depan ciptaan.

Aa.18b–20 mengikuti alur yang mirip dengan aa.15–16. Kristus adalah yang pertama, sulung dari antara orang mati (mengikuti urutan aslinya; kata “bangkit” ditambahkan LAI untuk memperjelas maksudnya). Dengan menyebut adanya “orang mati”, Paulus menyinggung masalah penciptaan pertama: adanya dosa dan maut. Dengan menjadi yang pertama-tama dibangkitkan, Kristus menjadi yang utama dalam rencana Allah untuk pembaruan segala sesuatu, sama seperti Dia menjadi yang utama dalam penciptaan sebagai gambar Allah. Aa.19–20 menguraikan peran Kristus ini (“Karena”). Walaupun Kristus menjadi manusia, Allah berdiam sepenuhnya di dalam-Nya (a.19; perhatikan bagaimana Kristus adalah Allah tetapi dibedakan dari Allah Bapa). Sebagai Allah sejati dan manusia sejati, Dia menjadi sarana pendamaian. Sama seperti Allah menciptakan segala sesuatu melalui-Nya, Allah memperdamaikan segala sesuatu melalui-Nya (20). Caranya ialah salib yang mencucurkan darah Kristus; yang terjangkau bahkan kuasa-kuasa rohani/gaib. Entah kuasa-kuasa itu berubah menjadi baik, atau ditaklukkan (seperti dalam Kol 2:15), intinya bahwa mereka dijinakkan di dalam Kristus.

Aa.21–23 menjelaskan bagaimana kita sebagai manusia berbagi dalam karya pendamaian itu. Paulus menegaskan bagaimana perbuatan jahat manusia adalah buah atau gejala dari permusuhan terhadap Allah (21), sehingga pendamaian yang diadakan dalam kematian Kristus itu diperlukan (22a). Dengan memulihkan hati/pikiran sehingga kita tidak lagi memusuhi Allah, Allah bermaksud untuk membuat kita menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Nya (“kudus”, “tak bercela”, dan “tak bercacat” biasa dipakai untuk persembahan). Ternyata inti dari sikap yang dipulihkan itu disebut “iman”. Iman itu percaya pada pendamaian di dalam Kristus sehingga mengasihi Allah dan sesama dan menantikan apa yang diamankan di surga untuk dinyatakan kelak (1:3; 3:3–4). Dengan uraian di dalam aa.15–22, seruan dalam a.23a untuk tetap teguh dalam iman itu sudah sangat kuat. Keutamaan Kristus juga menjadi dasar untuk pelayanan Paulus yang menjadi topik berikutnya (a.23b).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dasar dan motivasi iman yang teguh ialah Yesus Kristus yang utama dalam penciptaan dan penciptaan baru, dan menjadi sarana pendamaian dengan Allah.

Makna

Bagaimana caranya menguatkan iman jemaat? Dengan teguran berapi-api untuk beriman? Dengan iming-imingan bahwa iman adalah kunci hidup yang sukses, iman adalah cara menjadi kuat dalam pergumulan? Padahal, iman adalah sifat dan sikap manusia, dan hanya berguna sejauh mana apa yang diimani itu berguna.

Bagaimana kalau kita menguatkan iman jemaat (dan kita) dengan menjunjung tinggi Kristus yang diimani? Paling sedikit, itulah strategi Paulus di sini. Beriman, berakar, dsb, tidak ada gunanya kecuali yang diimani itu kuat dan bermaksud baik bagi kita. Paulus memberitakan bahwa kuasa Kristus ada di atas segalanya, dan bahwa di dalam-Nya ada pendamaian yang sungguh-sungguh dengan Allah. Di dalam darah Kristus, kita melihat Allah yang sejati, sehingga kita ditarik keluar dari permusuhan kita dengan Allah. (Soal penghapusan dosa muncul kemudian pada 2:14–15.) Pada setiap poin dalam penguraian tadi, kita dapat menjelaskannya dan kemudian mengajak jemaat untuk mengimani aspek itu dari pribadi dan karya Kristus. Adakah jemaat yang percaya pada kuasa gaib, gerakan politik, uang, atau bentuk kuasa yang lain (bdk. a.16b, a.20a)? Adakah jemaat yang cemas dengan kondisi dunia/gereja, sehingga mundur dari keterlibatan (bdk. a.18a). Adakah jemaat yang menganggap dirinya penting di dalam jemaat (bdk. a.18a)? Adakah jemaat yang mengandalkan amalnya sendiri (bdk. aa.20, 22)? Adakah jemaat yang patuh kepada sebagian norma kristiani tetapi dalam hati kesal terhadap Allah karena dianggap mengurangi kesenangannya (bdk. a.21)?

Dipublikasi di Kolose | Tag , | Meninggalkan komentar