Efesus 5:8-14 Diterangi Kristus [26 Mar 2017] (Prapaskah IV)

Penggalian Teks

Mulai p.4, Paulus berbicara tentang implikasi Injil yang menyediakan jalan masuk kepada Allah kepada jemaat sebagai Bait Allah (Ef 2:17–22). Jemaat itu seperti tubuh yang berdarah kebenaran tentang Kristus (4:11–16) yang memampukan identitas baru (“manusia lama/baru”) yang tidak lagi dikendalikan oleh hawa nafsu (4:17–24). Gambaran konkret tentang identitas itu disampaikan dalam 4:24–5:6. Gambaran itu berakhir dengan daftar dosa yang tidak cocok dengan Kerajaan Kristus dan Allah (5:5). Dosa-dosa itulah yang menyakiti hati Allah sehingga demi Kerajaan-Nya Dia harus menghapus para pelaku dosa itu yang tidak berlindung dalam Kristus (5:6). Makanya, adalah sangat tidak cocok jika orang-orang percaya masih terlibat di dalamnya, entah langsung atau sebagai pendukung (5:7). Perikop kita menjelaskan 5:7 itu melalui kiasan terang dan kegelapan. Dengan terang menjadi jatidiri jemaat (8–10), mereka dapat menelanjangi kegelapan (11–14).

Terang dan kegelapan mengiaskan dua identitas manusia, yaitu sebelum dan sesudah bergabung dengan Kristus (8). Saya menyebutnya “identitas” karena jemaat disuruh untuk hidup (“berjalan”) sebagai anak-anak terang. Hidup seperti itu diusahakan dengan menilai pada setiap saat apa yang berkenan kepada Tuhan (a.10; hal itu lawannya dari menimbulkan murka-Nya). Mengingat diskusi Paulus dalam p.4, pengujian itu tidak hanya berjalan secara perorangan, tetapi juga dalam kehidupan jemaat bersama yang berbagi dalam kebenaran tentang Kristus itu. Buah dari usaha itu adalah “kebaikan dan keadilan dan kebenaran” (9), tiga ciri persekutuan yang sedang bertumbuh kepada Kristus (4:15). “Kebaikan” (agathosune) berarti kecenderungan untuk berbuat baik kepada sesama; “keadilan” (dikaiosune; kata ini biasanya diterjemahkan “kebenaran”) berarti cara berelasi dengan sesama yang tepat; “kebenaran” (aletheia) berarti keterusterangan seorang kepada yang lain (4:25).

Kemudian Paulus membahas “perbuatan-perbuatan kegelapan” (seperti dalam 5:5). A.11 menyampaikan perbandingan antara “mengambil bagian dalam” (sungkoinoneo) dan “menelanjangi” (elengkho). Kata elengkho itu sering dipakai sebagai bagian dari proses yang mengandung unsur pengharapan akan perbaikan, misalnya dalam Mat 18:15 (“tegorlah”), dan Yoh 16:8 (“menginsafkan”). Perbuatan-perbuatan kegelapan itu hanya dapat bertahan selama disembunyikan (12), sehingga adanya terang sudah berfungsi untuk menelanjanginya (13). Jemaat sudah mengalami hal itu karena terang Kristus di atas mereka (14). Jadi, Paulus pertama-tama berbicara tentang efek terang Kristus di dalam jemaat yang diteruskan oleh sesama jemaat melalui pengungkapan perbuatan-perbuatan kegelapan yang tersisa dari masa lampau mereka (ketika mereka masih “manusia lama”, 4:22). Jemaat menjadi tempat terang dengan anggota-anggota jemaat makin diterangi.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Jemaat yang diterangi Kristus menjadi terang dengan menguji apa yang dilakukan dan dengan mengungkapkan dosa-dosa tersembunyi.

Makna

Manusia selalu digerakkan sebagian oleh citra, bagaimana sesuatu tampak di depan orang lain. Paulus mengharapkan dua hal yang berbeda. Pertama, jemaat sadar bahwa terang Kristus menyinari mereka; Kristus tahu apa saja yang kita perbuat. Jadi, “apa kata orang?” menjadi “apa kata Kristus?”. Kedua, ketika ada sesuatu yang buruk yang terungkap, hal itu dinilai sebagai kemajuan. Perbuatan kegelapan yang diterangi tidak lagi ada dalam gelap; pertobatan dan pemulihan dapat mulai. Oleh karena itu, jemaat (dan lembaga-lembaga kristiani) berusaha untuk mengungkapkan dosa demi pemulihan, bukan untuk menutupinya demi pencitraan.

Fokus Paulus bukan supaya jemaat menegur “mereka” yang masih hidup sebagai manusia lama (lihat 1 Kor 5:12). Dia menuntut pembaruan di dalam jemaat. Jemaat menjadi terang Kristus dengan kejujuran (“kebenaran”) dan saling menegur. Namun, jemaat yang makin hidup dalam terang akan menelanjangi dosa di luar jemaat dengan sendirinya. Misalnya, jika ada pejabat yang jujur atau rajin, akan lebih kentara kurangnya rekan-rekan yang main curang atau malas. Jemaat yang menegur sementara perbuatan kegelapannya ditutupi akan menuai bencana. Hal itu yang terjadi dengan gereja-gereja di Australia. Berpuluh-puluh tahun pelecehan seksuiil anak oleh pastor, pendeta, dan gembala sidang ditutupi oleh lembaga-lembaga gerejawi. Korban tidak dipercayai; pelaku dipindahkan ke tempat baru untuk melanjutkan dosanya. Berpuluh-puluh tahun citra gereja dijaga tetapi beribu-ribu korban menganggap gereja munafik. Sekarang ada pengadilan negara khusus — yang sekuler — yang menjadi tempat korban mengungkapkan semuanya dan mulai mendapat pengakuan dan sedikit keadilan. Citra dijaga dengan palsu dan kemudian menjadi kotoran ibarat tai.

Dipublikasi di Efesus | Tag | Meninggalkan komentar

Yohanes 4:4-42 Memberitakan Sumber Hidup Kekal [19 Mar 2017] (Prapaskah III)

Penggalian Teks

Air sudah beberapa kali dipakai sebagai simbol dalam Injil Yohanes. Yohanes Pembaptis membaptis dengan air; Yesus mengubah air menjadi anggur (2:9); seseorang harus lahir dari air dan Roh untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah (3:5); dan murid-murid Yesus juga membaptis (4:1–2). Kemudian, Yesus datang ke sumur Yakub di Samaria (6), dan ada percakapan dengan seorang perempuan Samaria yang berakhir dengan pengakuan sebuah kota di Samaria bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia. Dalam percakapan itu, kita mendapat gambaran tentang karunia hidup kekal itu.

Pertama, hidup kekal, digambarkan oleh Yesus sebagai mata air, adalah karunia Allah (10). Soal memberi adalah kata pertama Yesus kepada perempuan itu (7), tetapi yang penting bagi Yesus bukan bahwa perempuan itu memberi, tetapi dia siap menerima karunia Allah itu.

Kedua, penawaran hidup kekal itu terjadi walaupun Yesus mengenal kekacauan hidup perempuan itu (aa.16–18; bdk. 2:25). Perempuan itu tidak membela diri. Sebaliknya, dia menerima pengungkapan kekacauan itu oleh Yesus sebagai bagian sejati dari tugas seorang nabi (19). Hal itu merupakan suatu langkah menuju penerimaan karunia hidup kekal itu.

Ketiga, hidup kekal itu berkaitan dengan penyembahan sejati. Yesus sepertinya mendukung pandangan PL bahwa Allah menaruh nama-Nya di Yerusalem dan bukan di gunung Gerizim yang kelihatan dari sumur itu (22), tetapi kedatatangan Yesus membawa perubahan besar: air penyembahan di satu tempat saja akan diubah menjadi anggur penyembahan di mana saja (21, 23); makanya Yesus bisa menjadi Juruselamat dunia. Walaupun Allah menaruh nama-Nya di satu tempat, Allah adalah Roh yang tidak kelihatan dan tidak dibatasi oleh ruang. Barangkali, dilahirkan kembali oleh Roh membantu menyembah Allah dalam roh (7:37–39 juga menghubungkan aliran air dan Roh). Kata “kebenaran” di sini adalah aletheia (truth, apa yang sebenarnya), bukan dikaiosune (tingkah laku yang benar). Barangkali, Yesus telah mengungkapkan kebenaran tentang perempuan itu; menyembah dalam kebenaran berarti menyembah dengan membuka kekacauan hidup di hadapan Allah. Penjelasan Yesus ini cukup berkesan bagi perempuan itu sehingga dia mulai mengaku Yesus sebagai Mesias (25–26).

Keempat, hidup kekal itu ternyata untuk semua orang, dan yang sudah menerimanya diutus untuk memberitakannya. Perempuan itu meninggalkan tempayannya (berisi air pola penyembahan lama; kata “tempayan” hanya terjadi di sini dan 2:6) dan pergi ke dalam kota untuk memberitakan Yesus sebagai Kristus (28–30). Tetapi para murid harus diajak untuk melihat penaburan dan penuaian berita yang membawa hidup kekal itu sebagai hal yang memuaskan (30–34). Yesus melihat ladang itu sudah ditabur, mungkin oleh Yohanes Pembaptis dan/atau perempuan itu, dan siap dituai oleh murid-murid-Nya (35–38). Buktinya bahwa memang orang-orang Samaria itu datang kepada Yesus dan percaya (39–42). Merekalah yang bersaksi bahwa Yesus adalah Juruselamat bukan hanya untuk orang Yahudi yang bisa ke Yerusalem untuk beribadah kepada Allah, tetapi bagi seluruh dunia, di mana saja mereka berada.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus adalah sumber hidup kekal untuk seluruh dunia. Kita diajak untuk menikmati keselamatan itu seperti orang haus menikmati air, dan memberitakan Yesus kepada semua bangsa.

Makna

Kiasan Yesus bahwa hidup kekal seperti mata air memiliki akar dalam PL: dalam Kej 2:10–14, Eden adalah sumber air yang mengairi bumi di luar Eden. Yer 2:13 menuduh Israel menggali kolam sendiri ganti Allah sebagai sumber air yang hidup. Yeh 47:1–12 mengembangkan gambaran itu untuk berbicara tentang Bait Allah eskatologis yang membawa penyembuhan bagi bangsa-bangsa (Yeh 47:12). Semua manusia haus, dan hanya Tuhan yang dapat memuaskan kehausan itu, tetapi manusia mencari kepuasan di tempat-tempat yang lain. Ketika hal itu terjadi di dalam gereja, mampuslah kemampuan kita untuk menawarkan air hidup itu kepada sesama manusia. Kita menjadi seperti Israel dalam Kel 17:1–7: haus tetapi hanya tahu mengomel, tidak tahu berdoa dan percaya.

Apa yang memuaskan kehausan itu? Pengakuan oleh sesama? Agama? Jawaban Yesus ialah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (“truth”). Kejujuran tentang kebenaran tentang diri sendiri, dan kelahiran kembali oleh Roh, memampukan penyembahan yang berkenan di hadapan Allah. Dalam Rom 5:1–11, Paulus menggambarkannya sebagai kemegahan, yaitu bermegah di dalam Allah karena di dalam Kristus kita orang durhaka diterima dan diselamatkan. Jadi, kebenaran tentang diri sendiri berjalan seiring dengan kebenaran tentang Yesus yang datang bukan untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkan (Yoh 3:17). Selama orang haus akan pengakuan oleh sesama, mereka akan cepat haus kembali. Dalam pengakuan oleh Allah, seperti yang dialami si perempuan ketika berbicara dengan Yesus, kita dipuaskan. Dari situlah muncul semangat kita untuk memberi tahu sesama kita tentang Yesus, Juruselamat semua bangsa.

Dipublikasi di Yohanes | Tag | 1 Komentar

Roma 4:1-5, 13-17 Janji yang diterima dengan iman [12 Mar 2017] (Prapaskah II)

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, Paulus memaparkan pemahamannya tentang Injil Kristus kepada jemaat yang belum pernah dia kunjungi tetapi diharapkan mendukung dia dalam misi ke Spanyol. Salah satu konteks dalam suratnya, yang muncul juga dalam perikop kita, adalah budaya yang suka bermegah atau mencari muka. Pencarian itu belum tentu sesat: Paulus menggambarkan orang yang akan dibenarkan oleh Allah dan menerima hidup kekal sebagai mereka yang “mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan” (Rom 2:7). Pencarian itu juga berhubungan dengan metafor pengadilan yang menjadi konteks utama konsep pembenaran, karena vonis “benar” menjadi pesan untuk orang banyak, bukan hanya hakim dan terdakwa. Jadi, orang Yahudi mencari kemuliaan dsb melalui hukum Taurat yang memampukan mereka berdiri tegak di depan sesama sebagai penuntun orang buta, terang, pendidik dan pengajar dan juga bermegah dalam Allah karena hukum Taurat itu (2:17–20).

Secara keseluruhan dalam pp.1–8, Paulus mau mengatakan bahwa Hukum Taurat yang dimegahkan orang Yahudi itu tidak mampu memulihkan kondisi manusia berdosa yang dikuasai oleh kedagingan. Makanya, Allah menawarkan jalan pembenaran yang lain di dalam Yesus Kristus. Jalan ini diterima dengan iman, dan membuka kuasa Roh Kudus untuk memuliakan kita. Jalan itu “tanpa hukum Taurat” tetapi “disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi” (3:21). Mengapa jalan itu harus tanpa hukum Taurat ialah karena hukum Taurat adalah milik orang Yahudi saja, sementara Allah adalah Allah segala bangsa (3:29). Tetapi Paulus juga perlu membuktikan bahwa jalan iman tanpa hukum Taurat disaksikan dalam Kitab Suci. Bagi orang Yahudi, bahkan Abraham, bapa leluhur Israel, berjalan taat kepada hukum Taurat secara tersirat ketika dia dan seisi rumahnya disunat. Untuk menanggapi tafsiran itu, Paulus kembali ke kisah Abraham sebelum dia disunat.

Ada lima langkah dalam penguraiannya (leksionari mengambil langkah 1 dan 3 saja). 1) Aa.1–8 menunjukkan pentingnya pembenaran oleh iman dengan kembali ke Abraham, bapa leluhur Israel (1) dan bibit rencana keselamatan Allah (13). Hal itu didukung dengan kesaksian raja Daud tentang pengampunan dari Mzm 32:1–2. 2) Kemudian, dia mengangkat soal seberapa luas peruntukan pembenaran itu, dan menjawab bahwa Abraham dibenarkan oleh iman sebelum dia disunat supaya dia menjadi bapa dari semua pihak, Israel dan non-Israel (9–12). Yang penting bukan sunat melainkan “mengikuti jejak iman” Abraham sebelum dia disunat (12b). 3) Aa.13–17 mejelaskan mengapa ‘sebelum sunat’ itu penting: janji Allah bagi semua bangsa akan batal jika penggenapannya tergantung pada ketaatan pada hukum Taurat. 4) Seperti apa “jejak iman” Abraham itu dijelaskan dalam aa.17b–22 sebagai kepercayaan pada Allah Pencipta yang menghidupkan orang mati, sebagaimana dilihat dalam kelahiran Ishak dari Sara yang mandul (18–22). 5) Aa.23–25 menerapkan bagi orang percaya sekarang: iman yang sama dengan Abraham dimiliki oleh orang-orang yang percaya kepada Allah yang membangkitkan Yesus. Jadi, siapa saja yang percaya kepada Kristus menjadi pewaris janji Allah kepada Abraham, Yahudi dan non-Yahudi.

Jadi, aa.1–5 meletakkan dasar untuk bukti Paulus bahwa Kitab Suci menyaksikan pembenaran oleh iman, beranjak dari pengalaman Abraham (1). A.2 mencerminkan tafsiran biasa orang Yahudi tentang Abraham seperti tadi: dia layak bermegah dalam Allah karena taat kepada hukum-Nya. Tetapi Paulus menolak bahwa tafsiran itu benar “di hadapan Allah”. Dia menyampaikan pandangan Allah dari Kej 15:6: Allah menerima Abraham sebagai orang benar sekadar karena dia percaya pada janji Allah bahwa dia akan memiliki keturunan yang sangat banyak, meskipun isterinya mandul dan dia belum memiliki anak. Status benar itu adalah pemberian yang luar biasa, dan dalam a.4 Paulus mengingatkan kita tentang dua jenis pemberian: upah dan hadiah. Upah atas pekerjaan merupakan hak yang boleh saja dimegahkan. Tetapi percaya bukanlah bekerja (5a). Di dalam Kristus, Allah menawarkan status sebagai orang benar sebagai hadiah. Hadiah itu diberikan bahkan kepada orang-orang durhaka (seperti orang-orang non-Yahudi), sehingga sama sekali tidak menjadi dasar untuk bermegah. Percaya kepada Kristus berarti menempatkan diri sebagai manusia berdosa.

Setelah menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan sebelum dia disunat, dalam a.13 Paulus menyoroti janji Allah kepada Abraham. Janji bahwa “ia akan memiliki [Yunani: mewarisi] dunia” adalah tafsiran Paulus berdasarkan Kej 12:1, 7; 15:7. Kata Ibrani ’arets dapat berarti tanah, negeri (seperti terjemahan LAI dalam ketiga ayat itu), atau bumi (misalnya, dalam Kej 1:1). Janji kepada Abraham itu menyangkut satu negeri, yaitu tanah Kanaan, tetapi Paulus melihat maksud Allah yang mencakup seluruh bumi. Maksud itu tersirat dalam janji awal Allah bahwa semua kaum di muka bumi akan diberkati di dalam Abraham (Kej 12:3), dan muncul dengan jelas dalam nabi-nabi. Keagungan janji itu adalah alasan mengapa pembenaran itu penting (hidup kekal bukan di surga tetapi di dalam dunia baru). Paulus memperhatikan bahwa janji itu diulang kepada Abraham pas setelah imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, jauh sebelum dia disunat.

Kemudian, Paulus mempertentangkan hukum Taurat dengan janji itu (14–15). Hukum Taurat menjadi milik orang Yahudi tetapi hanya berhasil memperjelas keberdosaan mereka ketika dilanggar sehingga mereka dikenai murka Allah dan tidak dapat menikmati janji itu. Yang dibutuhkan adalah cara tanpa hukum sehingga tidak ada pelanggaran yang membatalkan kita menerima janji itu. Itulah yang dimungkinkan oleh iman berdasarkan kasih karunia, sehingga janji itu diberikan sebagai hadiah bahkan kepada orang durhaka. Dengan demikian, janji kepada Abraham tidak batal karena kedagingan orang Israel, tetapi malah dibuka bagi orang non-Yahudi yang beriman seperti Abraham (16–17a). Yang diimani ialah Allah yang mampu mengubah apa yang tidak ada atau mati menjadi berada dan hidup (17b). Kemandulan Sara yang melahirkan dan kematian Yesus yang dibangkitkan merupakan perwujudan masing-masing bagi Abraham dan kita dalam ayat-ayat berikutnya.

Dalam perikop selanjutnya (5:1–11), Paulus kembali ke soal kemegahan. Orang percaya yang berdiri di dalam kasih karunia itu bermegah dalam pengharapan akan kemuliaan, bukan berdasarkan perbuatan hukum Taurat, tetapi di tengah kesengsaraan yang menempa mereka (5:3–4), karena kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus membuktikan kasih Allah kepada mereka lepas dari keberhasilan kehidupan kita (5:11). Hidup mereka tidak lagi ditentukan oleh usaha atau hasil mereka dalam bidang perbuatan baik (lebih lagi bidang yang lain), tetapi oleh keyakinan akan kasih karunia Kristus dan kasih Allah yang dinikmati dengan persekutuan Roh Kudus (5:5).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Paulus membuktikan dari Kitab Suci bahwa sejak awalnya cara Allah akan menggenapkan janji-Nya adalah melalui pembenaran orang durhaka oleh iman, bukan pembenaran orang yang berusaha oleh perbuatan. Dia mau mengungkapkan kemegahan mereka atas perbuatan atau sistem etika mereka dan mengajak mereka untuk menempatkan diri sebagai orang durhaka yang hanya percaya dan tidak bekerja untuk mendapat upah. (Roma 8 akan menunjukkan bagaimana kita akan bekerja karena Roh.)

Makna

Manusia bermegah dalam banyak hal yang fana, sebagai cara untuk menutupi bahwa kita adalah daging yang fana juga. Bobotnya sesuatu yang dimegahkan itu diukur oleh popularitasnya (karena kita adalah makhluk sosial) dan hasilnya (karena kita mau bertahan hidup). “Semua orang” bermain di kantor, katanya, dan ketika kemudian ada upacara mati yang meriah, sumber-sumber kemewahan itu tidaklah penting. Kemudian, kita menuntut supaya hormat diperhitungkan sebagai upah, supaya usaha kita bisa menjamin tempat kita dalam dunia, dan kita dapat menolak pemalas dan pengacau. Tuduhan Paulus (mengikuti Yesus dan nabi-nabi) terhadap orang Yahudi ialah bahwa Allah dimanfaatkan untuk menopang hormat kelompok dan diri sendiri. Hukum Taurat yang kudus, baik, dan benar (7:12) menjadi cara “mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri” (10:3).

Saya melihat Rom 5:3 sebagai salah satu tolok ukur: jika orang tetap bermegah dalam Allah karena Kristus di tengah tekanan, lebih lagi ketika tekanan itu termasuk ancaman kehilangan muka, kemegahan dalam Allah itu sehat. Ketika kita lebih dikendalikan oleh kemegahan-kemegahan duniawi, hal itu berarti bahwa pesan perikop kita belum ditangkap. Tolok ukur yang lain terdapat dalam 14:1–15:7 yang berakhir dengan anjuran, “terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah”. Pahitnya banyak gosip adalah pertanda bahwa orang belum menerima penerimaan Allah sebagai hadiah. Mungkin satu tolok ukur lagi adalah sikap meremehkan kepada orang atau kelompok yang kita anggap tidak layak, sehingga kita sulit menerima bahwa “orang durhaka” seperti itu pun dapat diterima oleh Allah.

Aa.1–5 mengobati kemegahan yang tidak sehat dengan menekankan bahwa penerimaan Allah, pembenaran yang mendirikan kita sebagai manusia yang berada di depan sesama, adalah hadiah bukan upah. Percaya kepada Kristus berarti menempatkan diri sebagai orang durhaka, sebagai orang yang tidak layak dihormati karena perbuatannya sendiri. Orang seperti itu akan lebih bebas dikucilkan di kantor karena tidak ikut main korupsi, atau dicap “sok alim” oleh sesama pemuda karena tidak ikut mencontek.

A.13 mengingatkan kita bahwa apa yang dijanjikan Allah menjawab kerinduan kita, tetapi bukan karena kita layak tetapi karena hadiah kebenaran oleh iman itu. Aa.14–17 menunjukkan bahayanya bermegah dalam perbuatan atau kebenaran diri. Kita meremehkan kasih karunia Allah dan mengundang murka-Nya atas kita, dan meremehkan kelompok-kelompok yang lain yang juga dapat percaya kepada Kristus. Kita seakan-akan membatalkan janji Allah dengan menempatkan kebenaran kita di atas janji itu.

Dipublikasi di Roma | Tag , | Meninggalkan komentar

Mazmur 32:1-11 Kebahagiaan yang dikaruniakan kembali [5 Mar 2017] (Prapaskah I)

Penggalian Teks

Ada tiga aspek dosa yang muncul dalam Kej 2–3. Yang pertama ialah pelanggaran. Kej 2:17 menyampaikan larangan yang kemudian dilanggar oleh manusia dalam Kej 3:1–7. Yang kedua ialah kekurangan yang memalukan. Kej 3:6 menunjukkan bahwa pelanggaran itu muncul dari kelemahan dalam diri mereka, sehingga ketika mata mereka dibuka, mereka malu karena yang dilihat adalah ketelanjangan mereka seperti anak, bukan kemuliaan seperti seorang raja (“pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” adalah hikmat yang semestinya dimiliki seorang raja; 1 Raj 3:9). Yang ketiga adalah kelayakan untuk dihukum (Kej 3:14–19). Karena dosa, kebahagiaan manusia di taman Eden menjadi kesialan.

Kitab Imamat menjelaskan cara yang dikaruniakan Allah kepada Israel supaya kebahagiaan itu dapat dialami kembali oleh umat yang berdosa itu. Mazmur kita menceritakan pengalaman itu. Segi pertama ialah karya Allah, yang diceritakan dalam tiga aspek tadi. Dia mengampuni pelanggaran, dalam artian menanggung atau membawa keluar (Ibrani nasa’) akibatnya. Hal itu terjadi dengan kekurangan dosa itu ditutupi, sehingga kelayakan untuk dihukum tidak diperhitungkan lagi (1–2). Segi kedua ialah pengakuan dosa oleh pemazmur (3–5). Pemazmur bersaksi bagaimana kondisinya berubah ketika dia menutupi lagi dosanya tetapi mengakuinya kepada Tuhan (3–5). Tentu, pengakuan dosa itu dilakukan dengan tulus, dengan kesadaran bahwa pelanggaran itu memang dosa (2b). Allah menutupi dosa kita ketika kita tidak lagi menutupinya di hadapan Dia.

Berdasarkan pengalaman itu, pemazmur menghimbau jemaah untuk berdoa kepada Allah (6a). Dengan demikian, tekanan tangan Tuhan karena rasa bersalah akan berubah menjadi perlindungan dalam kesesakan (6b–7). Lebih baik kesesakan dengan pertolongan Tuhan daripada tekanan dari tangan Tuhan sendiri.

Kemudian, Tuhan berbicara (8–9). Tuhan rindu mengajar manusia dalam jalan yang baik, dan tekanan karena dosa merupakan usaha Allah untuk mendidik dan menjinakkan manusia yang tidak mau mendengar. Makanya, pemazmur menunjukkan isi kebahagiaan orang benar, yaitu dikelilingi kasih setia Tuhan sehingga bersukacita di dalam-Nya (10–11). Orang benar dan jujur di sini bukan orang yang sudah sempurna, melainkan orang yang dengan jujur mengaku dosanya kepada Tuhan dan memberi dirinya diarahkan oleh Tuhan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kebahagiaan yang hilang karena dosa dikaruniakan kembali kepada manusia oleh karya pengampunan Allah. Kita diajak untuk mengaku dosa kita bukan hanya sebagai pelanggaran tetapi juga sebagai cacat dalam diri kita yang memalukan dan layak dihukum. Dengan demikian, kita akan rindu diarahkan oleh Tuhan, seperti Yesus Kristus ketika dicobai.

Makna

Paulus mengutip Mzm 32:1–2 dalam Rom 4:7–8 sebagai penekanan tentang pembenaran oleh iman. Pelanggaran ditanggung oleh penebusan dalam Kristus (Rom 3:24) karena Yesus menjadi tempat Allah menghapus dosa dengan darah-Nya sendiri (Rom 3:25; “jalan pendamaian” = hilasterion, tutup dari tabut perjanjian tempat darah ditaruh oleh Imam Besar untuk menghapus dosa Israel pada Hari Pendamaian). Karena kita telah dibenarkan, kita pasti akan selamat dari murka Allah (Rom 5:9). Jadi, pembenaran di dalam Kristus lebih dalam daripada pengampunan yang diceritakan dalam mazmur kita, karena ada jaminan keselamatan di dalamnya. Tetapi arahnya sama: kebahagiaan yang hilang dalam Kejadian 3 dan hanya dimiliki sewaktu-waktu oleh orang-orang dalam PL menjadi pengharapan yang teguh di dalam Yesus Kristus. Dan kejujuran di hadapan Allah serta kesiapan mendengarkan-Nya tetap merupakan cara untuk menikmati damai sejahtera.

Sebelum Yesus menanggung dosa kita, Dia mengalahkan Iblis di padang gurun dengan dicobai (Mat 4:1–11). Berbeda dengan Adam dan Hawa dalam Kej 3, dan orang fasik dalam Mzm 32:9, Yesus mendengarkan firman Allah (dalam hal ini, kitab Ulangan yang dikutip tiga kali) sehingga tidak melanggar perintah Allah dan tidak terbawa oleh nafsu yang sesat. Dia menunjukkan jalan yang benar, dan kita dihitung benar di dalam-Nya. Kita juga diberi Roh Kudus yang menuntun Dia ke dalam padang gurun supaya kita menempuh jalan yang sama. Kebahagiaan kita baru akan utuh ketika pengakuan dosa disertai oleh perubahan hidup.

Dipublikasi di Mazmur | Tag , | Meninggalkan komentar

Mat 17:1-9 Yesuslah yang didengarkan [26 Feb 2017] (Transfigurasi)

Penggalian Teks

Peristiwa transfigurasi (“perubahan bentuk menjadi lebih istimewa”) ini mirip dengan peristiwa Musa dipanggil ke atas gunung untuk menghadap Allah (Kel 24:12–18): paling sedikit ada gunung, awan, kemuliaan Tuhan, Musa, dan juga ada enam hari. Enam hari awan dalam Kel 24:16 sepertinya merupakan lanjutan dari awan tebal yang turun ke atas gunung Sinai pada hari ketiga orang Israel tiba di sana (Kel 19:16). Jadi, dalam enam hari itu, Allah menyampaikan isi perjanjian-Nya dengan Israel (Kel 20–23; termasuk kesepuluh hukum dalam Kel 20:1–17 dan janji penyertaan dalam memasuki tanah perjanjian, Kel 23:20–33), mengadakan perjanjian itu dengan darah (Kel 24:1–8), dan berjumpa dengan para tua-tua Israel (Kel 24:9–11). Pada hari yang ketujuh, Musa dipanggil untuk naik ke atas gunung (tidak jelas seberapa jauh Yosua ikut, Kel 24:13), dan di sana dia menerima perintah-perintah berkaitan dengan ibadah dan pembuatan Kemah Suci (Kel 25–31). Allah menyatakan kemuliaan-Nya sebagai landasan untuk perjanjian-Nya dengan Israel, di mana Israel akan beribadah kepada-Nya dan taat kepada hukum-Nya.

Dalam Injil Matius, tidak ada awan selama enam hari, tetapi di awal enam hari itu ada pemberitahuan Yesus bahwa Dia akan menderita, mati dan bangkit (Mat 16:21). Pada perjamuan malam, sehari sebelum Dia mati, Dia memberitahu mereka bahwa darah-Nya adalah “darah perjanjian” (26:28). Kemudian, dalam a.9 perikop kita, Yesus mengaitkan transfigurasi-Nya dengan kebangkitan-Nya; transfigurasi tidak bisa dipahami sebelum Yesus bangkit. Allah menyatakan kemuliaan Anak-Nya sebagai landasan untuk pembaruan perjanjian yang akan diadakan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Berbeda dengan Musa, Yesus tidak harus menunggu dipanggil Allah. Dia membawa tiga murid terdekat yang akan menjadi saksi mata (a.9; bdk. 2 Pet 1:16–18) dan juga penerus pelayanan Yesus setelah Dia naik ke surga, sama seperti Yosua meneruskan pelayanan Musa. Berbeda dengan Musa, wajah Yesus bercahaya sebelum ada awan dan suara Allah; cahaya itu muncul dari dalam diri-Nya (2). Kemudian, Yesus menjadi Dia yang dengan-Nya Musa berjumpa (3). Musa mewakili hukum Taurat sebagai dasar perjanjian; Elia mewakili para nabi yang terus-menerus memanggil Israel untuk kembali ke jalan perjanjian itu. Kita bisa mengerti kalau Petrus belum menangkap hal itu, sehingga dia menawarkan tempat teduh bagi ketiga orang itu (4). Tetapi yang bersinar ialah Yesus; Dialah penggenapan Kemah Suci yang desainnya diberitahukan Allah kepada Musa. Maksud sebenarnya langsung diberitahukan ketika awan (yang terang, bukan gelap) turun dan Allah Bapa bersuara. Sama seperti suara pada baptisan-Nya (Mat 3:17), Yesus adalah Raja (“Anak-Ku” [revisi PB berbunyi, “Anak-Ku yang terkasih”], Mzm 2:7) yang akan menjadi korban (bdk. Kej 22:2 “anak … yang engkau kasihi”) sebagai hamba Tuhan (bdk. Yes 42:1 “yang kepadanya Aku berkenan”). Yang ditambahkan di sini, “dengarkanlah Dia”, menyinggung Ul 18:15 tentang nabi yang akan menggantikan Musa. Ternyata, Musa dan nabi Elia telah muncul untuk mengakui bahwa Yesuslah yang sekarang menjadi perantara firman Allah (bdk. 2 Pet 1:19–21). Dalam perjanjian yang akan diadakan dalam kematian-Nya, Dia menjadi tempat ibadah kepada Allah dan sabda-Nya yang akan ditaati.

Sepertinya baru dengan suara dari surga itu, ketika murid Yesus menjadi sadar akan apa yang mereka saksikan, dan mungkin juga akan kebodohan mereka (6). Tetapi Yesus bermaksud bukan untuk menghukum mereka (7) melainkan untuk tetap membina mereka, sampai kematian dan kebangkitan-Nya sudah terjadi dan mereka siap diutus (9; bdk. 28:18–20).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus adalah Anak (Raja) dan Hamba Allah yang menyatakan kemuliaan Allah dan menyampaikan firman-Nya. Di dalam Dia semua aspek hubungan kita dengan Allah, Yesus yang harus menjadi pusat perhatian kita.

Makna

Pertanyaan tentang jemaat yang muncul dari penguraian di atas ialah, Di mana suara Allah yang membawa hidup yang sejati itu dicari? Di dalam keluarga, budaya, pemerintah, gereja? Suara Yesus adalah suara orang yang menderita dan mati, dan menyuruh pengikut-Nya untuk melakukan hal yang sama. Manusia yang hidup dalam daging (termasuk ketiga murid pada saat itu) lebih menyukai suara-suara yang membenarkan keinginan daging, tetapi penglihatan ini amat tegas: suara Yesus, Sang Raja dan Hamba, itulah suara Allah. Tentu, suara Yesus semestinya kedengaran di gereja dan lembaga-lembaga yang lain, tetapi jika yang dicari adalah kenyamanan daging, suara-Nya tetap tidak akan didengarkan.

Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar

Mat 5:38-48 Kasih seperti Allah Bapa kita [19 Feb 2017]

Penggalian Teks

Minggu yang lalu kita belajar tentang manusia yang “duniawi”, yaitu yang dikendalikan oleh daging yang tidak mau mengandalkan Allah. Khotbah di bukit menunjukkan bahwa Israel juga menerapkan hidup keagamaan yang tetap dikendalikan oleh daging (5:20), dan dalam 5:21–48 Yesus menawarkan tafsiran hukum Taurat untuk anggota-anggota Kerajaan Surga yang akan dibaptis dengan Roh Kudus (3:11). Dalam 5:21–27 kita melihat bahwa orang beragama rentan merendahkan, berselisih, dan tidak setia dalam pernikahan dan perkataan. Hal-hal itu menyangkut integritas atau kedewasaan dalam berbagai tanggung jawab yang jelas. Standar Yesus di sini memang menantang karena kedagingan kita, tetapi manusia duniawi pun mampu mengakui kebaikan visi Yesus. Dalam perikop kita, Yesus melangkah ke soal lawan. Di sini, nasihat Yesus tidak hanya menantang, tetapi sulit dibayangkan sebagai cara hidup. Apakah orang jahat dibiarkan tetap berbuat jahat (39)? Apakah kita harus memberikan atau meminjamkan rumah kita kepada orang yang memintanya (42)?

Berdasarkan 5:17, saya menilai bahwa Yesus tidak memberi kita hukum baru dalam Khotbah di Bukit. Dia menuntun kita untuk memahami bagaimana hukum yang diberikan Allah itu diterapkan oleh orang-orang yang sedang dibebaskan dari kuasa daging oleh Roh Kudus (meminjam bahasa rasul Paulus). Kemudian, kita harus memperhatikan gaya bahasa Yesus. Semua setuju bahwa mencungkil mata bukan perintah. Jika larangan akan kata “jahil” sebagai ejekan dalam a.22 dianggap perintah, Yesus sendiri menggunakan kata yang sama (moros, “bodoh”) terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dalam 23:17. Yesus tidak mengganti hukum Taurat dengan hukum baru; Dia menggunakan bahasa dengan gaya hikmat yang menggugah untuk membawa kita pada pemahaman yang lebih benar. Pemahaman itu memahami hukum Taurat dalam rangka maksud Allah dalam menciptakan manusia (bdk. 19:4–6 yang menjelaskan ketegasan Yesus tentang perceraian dari kisah penciptaan laki-laki dan perempuan) dan dalam kebahagiaan Kerajaan Surga (5:3–10).

Aa.38–42 beranjak dari kutipan prinsip pembalasan yang muncul tiga kali dalam hukum Taurat (Kel 21:24, Im 24:20, Ul 19:21). Ketiga nas itu berbicara tentang respons masyarakat yang diwakili hakim-hakim terhadap tindakan kejahatan yang merugikan sesama. Prinsip itu memberi keadilan bagi pihak yang rugi, membatasi pembalasan berlebihan seperti Lamekh, dan memberi efek jera (lihat Ul 19:20–21). Ada dua gejala daging yang tersirat di situ. Efek jera bermaksud untuk menjinakkan kedagingan yang muncul dalam kekerasan; orangnya mengendalikan dirinya karena takut. Pembalasan adalah salah satu ciri khas kedagingan yang melihat keuntungan sesama sebagai kerugian diri saya. Khususnya, jika harga diri direndahkan di mata orang, menjadi sangat penting untuk ditinggikan kembali.

Jadi, Yesus tidak menanggapi tugas hakim, tetapi sifat kedagingan itu. Jika disimak, usul-usul dalam aa.39–42 mempraktekkan bahwa harga diri seorang murid Yesus berakar dalam kebahagiaan menjadi empunya Kerajaan Surga (5:3–10), bukan dalam penghormatan oleh sesama. Yesus tidak memberi perintah mutlak, tetapi usul-usul memberitakan kebahagiaan itu. Kemudian, usul-usul itu menawarkan cara lain dari efek jera untuk membawa perubahan pada sesama. Tindakan yang diusulkan Yesus memutuskan lingkaran balas-membalas yang menjadi ciri khas manusia duniawi. Ketika diperlakukan dengan buruk, kita diajak untuk menemukan cara kreatif untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Kepada orang yang meminta dengan sembarangan kita tetap memberikan sesuatu; biar kita tidak mau meminjamkan sesuatu, kita tetap mencari cara untuk menerima orangnya sendiri (42).

Aa.43–48 menanggapi satu sifat kedagingan lagi, yaitu keinginan untuk membatasi kasih pada orang sepihak. Im 19:18b yang dikutip dalam a.43 berbicara tentang “sesama”, dan “bencilah musuhmu” meringkas semangat yang muncul dalam PL untuk membenci musuh-musuh Allah (Mzm 139:21). Pada saat yang sama, ada beberapa nas PL yang mendorong Israel untuk tidak membenci musuh: Kel 23:4 menyuruh orang Israel untuk menyelamatkan hewannya; Ams 24:17 melarang kesenangan atas kemalangannya. Jadi, inti dalam memusuhi musuh Allah bukan merugikannya melainkan tidak ikut dalam permusuhannya terhadap Allah, seperti ikut memeras orang miskin atau menyembah berhala. Masalahnya, manusia kedagingan tidak akan mampu mengasihi musuh tanpa juga mengasihi sifat-sifatnya yang buruk.

Jadi, nasihat Yesus untuk mengasihi musuh mengandaikan bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah dalam artian yang lebih dalam (Israel adalah anak Allah sebagai bangsa). Allah sangat mampu mengasihi musuh-musuh-Nya tanpa dipengaruhi oleh kejahatan mereka, sebagaimana dilihat dalam pemeliharaan yang mencakup orang baik dan jahat (45). Yesus sudah mengangkat usaha membawa damai sebagai salah satu ciri anak-anak Allah (5:9); mengasihi dan mendoakan musuh itu berkaitan erat dengan usaha itu. Kasih seperti itu yang menjadi garam dan terang di tengah dunia yang selalu bermain balas-membalas dalam kebaikan pun (46–47). Itulah yang dimaksud Yesus dengan menjadi “sempurna” (teleios, sudah menjadi seperti semestinya); berkaitan dengan manusia kata itu sering diterjemahkan “dewasa”. Anak-anak Allah tidak menjadi sesama manusia duniawi sebagai patokan, tetapi Allah sendiri (48). Daripada puas karena lebih benar daripada si Anu yang kacau di sebelah, mereka selalu didorong untuk maju dalam kasih dengan melihat kasih Allah sendiri.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Pola hidup yang mencontoh Allah sebagai Bapa itu membalas kejahatan dengan kebaikan dan permusuhan dengan kasih. Yesus menawarkan pola itu sebagai cara untuk menikmati kebahagiaan sebagai anak-anak Allah, dan juga untuk menjadi garam di dalam umat Allah, dan terang bagi dunia.

Makna

Manusia duniawi dianggap benar ketika membalas kebaikan atau kejahatan dengan hal yang sama; Yesus mengatakan bahwa manusia yang bahagia, anak-anak Allah, membalas kejahatan dengan kebaikan. Bagi manusia duniawi, usul itu tidak masuk akal; bagi anggota jemaat yang belum dewasa (teleios), nasihat itu dapat didengar tetapi sulit diterapkan. Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.” (1 Kor 3:18) Kita perlu mengaku bahwa kita sering sok bijak saja, dan kemudian kembali ke Ucapan Bahagia Yesus untuk mempelajari kembali hikmat Kerajaan Surga. Dengan demikian, nasihat Yesus akan dilihat bukan sebagai hukum yang mustahil, melainkan sebagai cara hidup yang sangat menarik.

Dipublikasi di Matius | Tag , | Meninggalkan komentar

1 Kor 3:1-9 Ladang Tuhan yang Rohani [12 Feb 2017]

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus yang dialamatkan Paulus dalam surat ini tidak tahu diri. Artinya, mereka tidak tahu siapakah diri mereka di dalam Kristus yang mati (p.1), bangkit (p.15), dan yang membawa hadirat Allah dalam persekutuan kita (3:16; 10:16–17). Masalah yang ditanggapi dalam pp.1–4 ialah adanya kubu-kubu yang mengatasnamakan pelayan-pelayan (1:11–12; 11:18–22 memberi petunjuk bahwa kubu-kubu itu antara lain berbau tingkat ekonomi atau kelas). Untuk menanggapinya, Paulus menyoroti hikmat berdasarkan salib Kristus: hikmat itu melihat rencana Allah dalam kelemahan bukan kuasa, dan hikmat itu mencari pemberian Allah yang tidak kelihatan tetapi dinyatakan oleh Roh Kudus (pp.1–2). Adanya kubu bertentangan dengan hikmat salib (3:1–9), mengganggu pembangunan jemaat sebagai Bait Allah yang tidak kelihatan (3:10–17), dan mengundang perlawanan Allah terhadap kesombongan manusia (3:18–23). Justru para pelayan yang dimegahkan mengikuti jejak Kristus dalam kerendahan (p.4).

Ada tiga kiasan yang menjadi sarana himbauan Paulus. Dalam aa.1–4, kiasan kedewasaan berbaur dengan kiasan daging/Roh. Secara harfiah, daging (sarx) adalah kekuatan manusia yang sekaligus fana. Manusa fana yang tidak mau mengandalkan Allah mencari cara-cara yang buruk untuk bertahan hidup lepas dari Allah. Jadi, Paulus menggunakan kata daging untuk berbicara tentang sifat manusia secara individu dan bersama yang selalu condong ke dosa. Tanpa Roh Kudus, manusia itu sarkinos, “terdiri atas daging” (a.1; LAI duniawi).

Sebaliknya, Roh Kudus menyatakan kasih dan janji Allah yang membongkar kebodohan daging yang tidak percaya itu (2:9–12). Makanya, jemaat merupakan orang *pneumatikos“, ”rohani“ (2:13; LAI ”mereka yang mempunyai Roh“). Orang-orang itu semestinya mampu menangkap hikmat dari Allah, tetapi jemaat di Korintus lebih mirip manusia sarkinos (1). Mereka mirip manusia yang terdiri atas daging, tetapi karena mereka adalah jemaat Tuhan, dalam a.3 Paulus menyebut mereka sarkikos, ”berkaitan dengan/seperti daging” (LAI: duniawi). Mereka adalah orang rohani yang berlagak sebagai orang duniawi. Gejalanya dilihat dalam iri hati (sifat individu) dan perselisihan dan kubu (sifat bersama).

Makanya, jemaat di Korintus ibarat bayi (a.1 nepioi; LAI belum dewasa) yang hanya siap menerima susu, bukan makanan keras (2). Kiasan itu menggunakan perkembangan fisik yang mudah diamati untuk berbicara tentang hal tadi. Orang sarkinos belum lahir dalam Roh sehingga murni hidup menurut daging. Orang rohani yang sudah dewasa itu mampu menerima hikmat Allah (2:6) sehingga tidak lagi dikuasai oleh kegelisahan dan kebodohan daging. Tetapi jemaat di Korintus ada di antaranya: mereka sudah menerima Roh tetapi pertumbuhan mereka mandek pada tahap bayi sehingga gaya hidupnya tidak jauh beda dari orang daging.

Kiasan ketiga dalam aa.5–9 ialah para pelayan sebagai tukang kebun Allah (bdk. kiasan Israel sebagai kebun Allah dalam Yesaya 5 dsb). Pendirian jemaat oleh Paulus adalah seperti menanam; kelanjutan pelayanan oleh Apolos adalah seperti menyiram. Di bawah semua pelayan itu jemaat tetap bertumbuh dengan adanya orang baru menjadi percaya, tetapi pertumbuhan itu adalah karya Allah, bukan karya pelayan. Adalah wajar saja jika seseorang merasa berhutang budi pada pelayan yang di bawahnya dia menjadi percaya (5–6; bdk. 1:13–14), dan bisa saja ada perbedaan sifat antar pelayan yang membuat salah satunya lebih menarik untuk kelompok tertentu. Hal wajar itu menjadi buruk ketika manusia daging (yang fana dan rentan) itu mencari keamanan, kuasa, dan status di dalam kubu, karena status, kuasa, dan keamanan itu akan diperebutkan dengan kubu-kubu yang lain. Dengan membuat pelayan sebagai lambang kubu, pelayan itu seakan-akan menjadi sumber (atau saluran utama) keamanan dan status itu, seakan-akan Roh Kudus hanya bekerja melalui dia. Tetapi tanaman-tanaman di dalam sebuah kebun bukannya hidup dari tukang-tukang kebun melainkan dari Sang Pemilik kebun yang mengatur semuanya dan yang untuk-Nya kebun itu dikerjakan (7). Kemudian, para pelayan sama sekali tidak terikat dengan kubu tertentu, tetapi mereka bekerja untuk Allah yang daripada-Nya upah mereka (8).

Jadi, Paulus mengajak mereka untuk tahu dirinya sendiri serta diri-diri yang lain (9). Paulus dan Apolos adalah kawan sekerja Allah, bukan bagian dari kubu jemaat. Jemaat adalah ladang Allah yang semestinya mencari hidup dari Allah, bukan dari kubu, dan mementingkan Allah, bukan kubu. Kemudian, Paulus beralih kiasan ke bangunan (yakni Bait Allah, 3:16, yang diletakkan di atas dasar Kristus, 3:10) sebagai penyataan Roh selanjutnya. Identitas di dalam kubu terlalu sempit: kita adalah bagian dari tubuh Kristus. Kelompok itu memang berhadapan dengan kubu-kubu di dunia, tetapi bukan dengan cara-cara kedagingan, melainkan dengan hikmat berdasarkan Kristus yang disalibkan.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Orang rohani mengenal diri sebagai orang yang hidup dari Allah sehingga tidak perlu membuat kubu. Hal itu mengajak kita untuk bertobat dari kebergantungan kita pada kubu-kubu di dalam jemaat. Sulitnya untuk melakukan hal itu menjadi petunjuk bahwa kedewasaan kita masih kurang.

Makna

Maksud Allah dalam salib Kristus bukan hanya supaya kita diampuni, tetapi supaya kita menerima Roh Kudus sehingga mulai keluar dari kedagingan yang mendatangkan maut. Adanya kategori “bayi” (belum dewasa) membawa pengharapan bahwa ketidakdewasaan di dalam kehidupan bergereja bukannya meniadakan maksud Allah itu. Namun, kesempatan yang diberikan kepada daging dalam ketidakdewasaan jelas berdampak buruk. Iri hati dan perselisihan merongrong atau merusak pelayanan dari tingkat jemaat sampai pada pusat. Gereja menjadi tempat untuk mencari status (termasuk oleh pendeta dan majelis); macam-macam kubu dibentuk untuk mencari kepentingan bersama dalam hal-hal tertentu. Semua itu gejala bahwa apa yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi-Nya (2:9) belum menjadi realita yang membawa kita keluar dari kepentingan-kepentingan duniawi.

Kristus mati supaya kita hidup, tetapi kita memilih menderita dalam cara lama yang berasal dari kedagingan. Hukum Taurat ditawarkan Allah kepada Israel sebagai pola hidup yang mengikis kedagingan (bdk. renungan ini tentang Ul 30:15–20), dan dalam khotbah di bukit Yesus menguraikan maknanya bagi orang yang akan diberi Roh Kudus (bdk. renungan ini tentang Mt 5:17–26). Adanya kubu berarti kita telah memilih kematian dan keagamaan yang tidak melebihi “ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi”.

Dipublikasi di 1 Korintus | Tag , | 1 Komentar