Mat 25:31-46 Dukunglah Misi Sang Raja [26 Nov 2017]

Penggalian Teks

Perikop ini adalah puncak dari beberapa perumpamaan yang berbicara tentang menjadi siap untuk kedatangan Anak Manusia. Seperti dalam perumpamaan-perumpamaan sebelumnya, ada unsur kejutan, tetapi kali ini bukan tentang waktunya Dia datang, tetapi atas vonis yang Dia jatuhkan. Perumpamaan ini mengungkapkan cara hidup yang mencirikan murid-murid-Nya yang mau siap untuk kedatangan-Nya.

“Anak Manusia” (31) adalah sebutan yang sering dipakai Yesus untuk diri-Nya sendiri (dan tidak dipakai orang lain). Seringkali, maksudnya tidak jauh dari “manusia”. Bahkan, sebutan itu dipakai ketika Yesus menubuatkan kematian-Nya. Tetapi ketika Anak Manusia itu duduk di atas takhta (Mat 19:28) atau datang seperti sosok yang mulia (parousia, 24:27), kita teringat akan kedatangan Anak Manusia kepada Allah dalam Dan 7:13 untuk menerima Kerajaan Allah, dan memang Yesus mengutip ayat itu dalam 24:30. Yang menarik, dalam Dan 7:13, seorang seperti anak manusia datang kepada Yang Lanjut Usia setelah keempat kerajaan manusia sudah dihukum, dan dia diberi kuasa. Tetapi di sini, Anak Manusia akan mengadakan pemisahan yang disebutkan dalam Dan 12:2 antara yang menerima hidup kekal dan yang menerima kebinasaan kekal (32–33). Yesus yang sebentar lagi akan diadili oleh bangsa-bangsa akan menjadi Hakim yang mengusir semua yang tidak cocok untuk Kerajaan Allah yang menjadi tujuan Allah sejak Dia menciptakan manusia (34b), tempat berkat dan bukan kutuk.

Keputusan Raja disampaikan dengan urutan yang sama untuk yang selamat dan yang untuk yang binasa. Dia mulai dengan vonis (34, 41) serta buktinya (35–36, 42–43); bukti itu ditanggapi dengan nada terkejut oleh penerimanya (37–39, 44), lalu dijelaskan oleh Yesus (40, 46). Dengan struktur ini, empat kali ada daftar enam kebutuhan yang disebutkan: lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dan di penjara. Dalam aa.37–39, keenam hal itu menjadi tiga pasangan: lapar dan haus (kekurangan jasmani), asing dan telanjang (kekurangan sosial), dan sakit dan penjara (tekanan dari luar). Keempat kekurangan itu ditanggapi sesuai dengan kebutuhan itu; kedua terakhir ditanggapi dengan perkunjungan. Adalah menarik bahwa para kambing hanya menyebut keenam kebutuhan: sebuah tanggapan tidak memungkinkan karena kebutuhan tidak dilihat.

Yang mengejutkan ialah bahwa yang berkebutuhan dan ditolong ialah Sang Raja Yesus dalam ‚Äúsaudara-Ku yang paling hina ini‚Äù (40). Dalam Mat 12:49–50, saudara-saudara Yesus adalah orang-orang yang melakukan kehendak Allah Bapa dengan mendengarkan ajaran Yesus. Tetapi, apakah mengejutkan bahwa pelayanan kepada seorang murid Yesus dihitung sebagai pelayanan terhadap Yesus sendiri? Makanya, satu tafsiran kuno mengatakan bahwa Yesus dilayani dalam semua orang miskin, yang non-kristen sekalipun. Semangat tafsiran ini baik; adalah jelas bahwa kemiskinan lebih mencerminkan kehidupan Yesus daripada kekayaan. Hanya, apakah orang-orang yang melayani Yesus dalam orang miskin akan terkejut ketika dikatakan bahwa Yesus dilayani dalam pelayanan mereka? Tidak juga, karena mereka sudah membaca dan merenungkan ajaran ini. Yesus tidak bermaksud menyampaikan laporan harfiah tentang kejadian pada penghakiman terakhir. Yesus menyampaikan cerita untuk murid-murid-Nya pada saat itu, dan melalui Injil Matius untuk jemaat sekarang. Soal kekejutan adalah untuk kita sekarang, karena solidaritas Yesus dengan umat-Nya bukanlah sesuatu yang nyata secara jasmani, melainkan sesuatu yang dipercayai karena sabda Yesus.

Pada hemat saya, kita dapat mempertajam maksud Yesus dengan memperhatikan bahwa salah satu dari keenam kebutuhan tadi muncul dalam Mat 10:42. Yesus menjanjikan upah kepada “barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku”. Dalam p.10 ini, sifat misioner dari menjadi murid Yesus ditonjolkan. Jika dipikirkan, keenam kebutuhan yang disampaikan Yesus cukup mencirikan pergumulan orang-orang yang terlibat dalam misi berkeliling seperti dalam p.10 itu, dan lebih luas, semua yang setia memikul salib (10:38). Jadi, Raja mengukur kesetiaan orang kepada Dia dari dukungan mereka untuk para pelaku misi-Nya. Jika demikian, ajaran Yesus ini mau mendorong jemaat untuk saling mendukung dalam misi. Tujuan itu klop dengan p.10, dengan pentingnya mengerjakan talenta dalam perumpamaan sebelumnya, dan dengan Amanat Agung (28:18–20).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Kristus adalah Anak Manusia yang menjadi raja Kerajaan Allah, dan dengan demikian Hakim bangsa-bangsa pada akhir zaman. Kesetiaan kepada-Nya dilihat dalam dukungan praktis bagi jemaat dalam usaha misi bagi-Nya.

Makna

Adalah penting mengingat bahwa Yesus tidak bermaksud untuk menyampaikan di sini garis besar ajaran-Nya tentang bagaimana murid-murid-Nya semestinya hidup, tetapi untuk mengangkat hal-hal konkret sebagai ukuran sikap terhadap Dia dan misi-Nya. Ada banyak ajaran Yesus yang tidak termasuk dalam keenam poin itu, termasuk hukum pertama untuk mengasihi Allah (Mat 22:37). Pentingnya berbuat baik kepada semua orang yang berkebutuhan ada dalam ajaran Yesus (Mat 5:42; 6:4), dan juga diperlihatkan dalam pelayanan-Nya. Tafsiran tadi cocok dengan beberapa nas yang di dalamnya ukuran keselamatan eskatologis itu Kristosentris: Yesus menolak orang yang tidak Dia kenal (7:23; 25:12); mendengarkan firman yang Dia beritakan adalah cara bertahan dan berbuah (13:3–9); hamba yang malas diusir karena sikapnya yang buruk terhadap tuannya (25:24–26).

Dalam beberapa bacaan yang lain kita juga melihat solidaritas Allah dengan umat-Nya. Mzm 95:1–7a mensyukuri hubungan antara Allah Raja yang mengatasi segala allah dengan Israel, kawanan domba-Nya. Dalam Yeh 34:11–16, Allah menjadi Gembala (sebuah kiasan yang lazim untuk seorang Raja) yang merawat domba-domba-Nya. Dalam terang kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga, pada kedudukan yang paling tinggi, Paulus bahkan menempatkan jemaat sebagai tubuh-Nya (Ef 1:20–23). Paulus pernah mendengar langsung bahwa apa yang dia lakukan kepada jemaat dilakukan juga kepada Kristus (Kis 9:4–5).

Bagaimana caranya memahami ajaran Yesus ini dalam rangka penekanan Injil Yohanes dan rasul Paulus bahwa kita diselamatkan oleh iman kepada Yesus. Adalah menarik mengenai pengadilan terakhir, mereka juga berbicara tentang perbuatan (Yoh 5:29; Rom 2:6–8). Rom 5:8–9 menerangi ketegangan itu: oleh iman kita sudah berdamai dengan Allah, sehingga vonis pada akhir zaman sudah diketahui. Perbuatan pada akhir zaman diangkat bukan untuk menilai apakah amal kita ‚Äúcukup‚Äù untuk kita masuk ke dalam dunia baru, tetapi sebagai bukti akan iman yang menggabungkan kita dengan Kristus Sang Penebus. Namun, pengadilan itu tetap berdampak. Paulus menyebutnya sebagai pertanggungan jawab (Rom 12:10; 2 Kor 5:10) yang termasuk ujian terhadap kualitas pelayanan yang menentukan apakah pelayanan itu menjadi upah dalam dunia baru (1 Kor 3:14–15, perhatikan bahwa si pelayan tetap selamat). Makanya, hidup sesuai dengan ajaran Yesus adalah cara untuk mengumpulkan harta di surga (Mat 6:20).

Iklan
Dipublikasi di Matius | Tag | Meninggalkan komentar

Mat 25:1-13 Bijaksanalah bersiap-siap untuk penantian yang lama [12 Nov 2017]

Penggalian Teks

Kembali Yesus menceritakan perumpamaan tentang Kerajaan Surga dilihat dari perspektif orang bijaksana dan orang bodoh. Konteks dari cerita itu ada dalam p.24 yang menanggapi perincian dosa para pemimpin Yahudi dalam p.23. Ada tiga hal yang diangkat dalam pertanyaan murid-murid dalam 24:3, yaitu kehancuran Bait Allah (24:2), kedatangan (parousia) Yesus, dan kesudahan dunia (atau zaman, aionos). Banyak dalam 24:4–35 menyoroti aspek pertama (yang juga merupakan salah satu kedatangan Yesus), yang akan terjadi dalam generasi Yesus (24:35; kehancuran Bait Allah terjadi kurang lebih 40 tahun setelah Yesus berbicara). Tetapi 24:36–25:46 menyoroti kedatangan Yesus berkaitan dengan kesudahan dunia dan penghakiman terakhir (25:31–32). Yesus menegaskan bahwa kedatangan itu tiba-tiba dan tak terduga, sehingga murid-murid-Nya harus berjaga-jaga (24:37–44). Dalam empat perumpamaan berikutnya, Yesus menjelaskan apa yang harus dilakukan dalam berjaga-jaga: jangan jahat (24:4–51); jangan bodoh (25:1–13); giat mengerjakan kepentingan Yesus (25:14–30); dan melayani orang yang paling hina (25:31–46). Ketiga pertama memakai tiga wilayah sosial sebagai kiasan untuk menyampaikan pesannya: rumah tangga, acara pernikahan, dan dunia usaha. Yang keempat berbicara tentang dunia riil para murid yang ditekan dan dianiaya, sesuai dengan prediksi Yesus dalam p.24.

Jadi, perikop kita berbicara tentang kebodohan dalam konteks pernikahan (1–2). Bahwa pernikahan itu berbicara tentang kedatangan Kristus kembali jelas dari konteks, dari 9:15 yang menyebut Yesus sebagai mempelai, dan dari aa.11–12 yang bahasa penolakannya mencerminkan Yesus dalam 7:21 & 23, bukan mempelai biasa. Kebodohan berbeda dengan kejahatan, tetapi di akhir Khotbah di Bukit, Yesus sudah mencirikan orang yang menolak ajaran-Nya sebagai orang-orang bodoh (7:24–27). Dalam perumpamaan ini, kebodohan dilihat dalam hal tidak membawa minyak yang cukup sehingga kecolongan ketika mempelai (akhirnya) datang. Jadi, kebijaksanaan berarti kesiapan untuk penantian yang bisa saja lama.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Orang-orang yang tidak siap untuk kedatangan Yesus yang tiba-tiba itu akan ditolak. Murid Yesus yang sejati akan bijaksana bersiap-siap untuk penantian yang panjang.

Makna

Ada banyak pertanyaan yang muncul ketika cerita ini mau dimaknai. Apakah pelita adalah semangat rohani/perbuatan baik (bdk. 5:14–16, waluapun kata asli untuk pelita berbeda)? Apakah minyak adalah iman/Roh Kudus/disiplin rohani (sebagai sesuatu yang tidak dapat dibagikan)? Mungkin semua jawaban itu ada benarnya, tetapi kuncinya adalah persiapan supaya bertahan lama. Yesus sudah mengatakan bahwa orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (24:13). Jadi, apapun yang dibutuhkan supaya bertahan lama dapat masuk sebagai penjelasan minyak.

Satu aspek yang dapat dipikirkan ialah adanya dua “budaya” dalam kesepuluh gadis itu. Kelima gadis yang bodoh sepertinya tidak menyadarinya karena teman-temannya sama-sama bodoh; kelima gadis yang bijaksana mungkin saja saling mengingatkan dalam kebiasaan yang baik. Barangkali, satu cara bersiap-siap ialah persekutuan dengan orang-orang bijaksana yang membangun hidupnya di atas ajaran Yesus (7:24–25). Dalam konteks di mana jemaat adalah pertama-tama lembaga sosial, dengan variasi keseriusan iman yang cukup luas, itulah gunanya kelompok GCA (bukan hanya membaca Alkitab sendiri), atau kelompok persiapan bersama untuk pelayan, dsb. Manusia tidak dapat bertahan lama seorang diri.

Dipublikasi di Matius | Tag | Meninggalkan komentar

Mat 23:1-12 Persaudaraan yang sederajat [5 Nov 2017]

Penggalian Teks

Perikop ini terjadi setelah Yesus mendiamkan lawan-lawan-Nya di Bait Allah. Selanjutnya, sebelum Yesus bernubuat tentang kehancuran Bait Allah Dia mengecam pimpinan agama Yahudi. Dalam Injil Markus dan Injil Lukas, kecaman itu singkat (aa.5–7 dari perikop kita dan cerita tentang persembahan janda), tetapi Matius membuatnya bagian yang panjang. Perikop kita menyoroti intisari dari masalah mereka, dan sikap yang sebenarnya dalam murid-murid Yesus. Kemudian, ada tujuh celaka yang menjadi dasar untuk hukuman Allah dalam p.24. Matius memperjelas bahwa Israel akan segera melalui pola hukuman-keselamatan yang dilalui dalam pembuangan.

Alamat ucapan Yesus ialah orang banyak dan murid-murid-Nya (1). Artinya bahwa Dia tidak berharap bahwa para ahli Taurat dan Farisi akan berubah pola mereka, tetapi Dia mau membantu para pengikut-Nya untuk mengikuti pola yang lain. Intinya dalam aa.2–3 ialah menghargai ajaran mereka sebagai firman Allah melalui Musa, tetapi mengabaikan pola hidup mereka yang buruk. Jarak antara ucapan dan perbuatan itu yang melatarbelakangi istilah “munafik” dalam ketujuh celaka. Jarak itu menuntut pemisahan antara penghargaan terhadap jabatan (atau firman Allah yang ada di dalamnya) dengan penghargaan terhadap tingkah lakunya. Pemisahan itu juga dilakukan Allah: Dia memakai mereka untuk tujuan-Nya (dalam hal ini, firman-Nya disampaikan) tetapi tidak meluputkan mereka dari akibat dosanya.

Kemudian, Yesus memperjelas kekurangan mereka (4–7). Ada dua aspek, penindasan rohani (4) dan gila hormat (5–7). Penindasan rohani terjadi melalui ajaran mereka yang menjadi beban berat. Beban itu adalah hukum Taurat, tetapi dalam kemasan yang membuatnya sulit ditanggung, seperti larangan-larangan yang membuat hari Sabat sesuatu yang tidak lagi menyejahterakan (Mat 12:1–12). Yesus menawarkan cara lain yang ringan (11:28–30). Kemudian, pemimpin agama yang meletakkan beban itu sama sekali tidak mau membantu orang-orang yang dibebani untuk membawa beban itu (LAI “tidak mau menyentuhnya” = “tidak mau memindahkan/menggeserkan beban-beban itu dengan sejari pun”). Alasannya sederhana: mereka mencari perhatian dan pujian, bukan kesejahteraan umat. Atribut jabatan diperbesar supaya lebih kentara (5), dan empat tanda penghormatan disukai (6–7). Mereka begitu asyik dengan perhatian itu sehingga beban umat diabaikan sama sekali.

Kemudian Yesus menjelaskan alternatifnya bagi pengikut-pengikutnya (8–12). Semua gelar dilarang! Rabi (guru), bapa, dan pemimpin (dalam artian penuntun atau pembimbing) dilarang karena sudah diklaim oleh Kristus sebagai Guru dan Pemimpin, dan Allah sebagai Bapa. Di hadapan Allah dan Kristus, kita semua adalah saudara yang setara (8b). Nenek yang sulit keluar dari rumah dan gelandangan yang kurang waras sama derajatnya dengan pendeta dan pilar jemaat. Orang yang gila hormat mau menonjol, mau tampil lebih dari sesama, sehingga menolak untuk sederajat saja. Namun, selalu akan ada dalam keluarga orang percaya yang lebih menonjol menurut ukuran manusia. Yesus menyuruh mereka untuk menjadi pelayan (11). Orang yang meninggikan diri akan direndahkan, tetapi dengan merendahkan diri dalam pelayanan (jadi, bukan hanya dalam perkataan tetapi juga dalam tindakan), orang besar mendapat kedudukan sejati dari Allah.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Yesus menggambarkan pengikut-pengikut-Nya sebagai keluarga yang sederajat karena menempatkan diri di bawah kepemimpinan dan pengarahan Allah Bapa dan Mesias-Nya. Untuk menerapkan hal itu, kita perlu menghindar dari penindasan dan gila hormat dengan melayani.

Makna

Memang benar kalau dikatakan bahwa kita harus saling melayani, tetapi bukan itu yang dikatakan Yesus di sini. Dia menyuruh yang terbesar untuk melayani. Alasannya sederhana saja. Orang kecil sudah biasa melayani; yang tidak biasa melayani ialah orang besar. Masalahnya bahwa orang besar yang tidak melayani akan menindas, tetapi akan menganggap diri benar karena dihormati sesama pembesar yang juga merupakan sesama penindas. Pola itu bisa kasar, seperti dalam Mik 3:5–12. Tetapi pola itu dapat muncul secara halus. Sebagai contoh, tuntutan untuk memakai baju yang baik dalam ibadah ada cara efektif untuk mencegah orang miskin dari persekutuan. Pada umumnya, gereja-gereja Protestan memihak orang-orang yang melek huruf dan mandiri. Untuk kelompok tertentu, hal itu merupakan beban yang berat.

Dasar teologis untuk nasihat Yesus ialah bahwa “kamu semua adalah saudara” di bawah satu Bapa di surga yang mengajar dan memimpin melalui Mesias-Nya, yaitu Yesus. Hanya ada dua tingkat: manusia yang sederajat, dan Allah. Oleh karena itu, setiap usaha untuk menempatkan diri di atas sesama menghujat Allah. Apakah dengan demikian Yesus menolak semua bentuk kuasa dan kedudukan? Sepertinya, gereja perdana tidak menafsir ajaran-Nya demikian. Ada rasul (yang justru menjadi “seperti” bapa dan ibu bagi jemaat, 1 Tes 2:9–12), ada pemimpin-pemimpin jemaat (yang harus ditaati, Ibr 13:17), dan jemaat sering dianjurkan untuk memberi hormat kepada penguasa-penguasa dunia (1 Pet 2:17). Kuncinya dalam a.11. Manusia tidak mampu hidup dalam kesetaraan yang mutlak; selalu akan ada yang diberi kedudukan lebih tinggi. Tetapi di dalam jemaat, kebesaran itu dinyatakan dalam pelayanan yang merendahkan diri; sikap itu muncul dengan jelas dalam nas-nas tadi.

Dipublikasi di Matius | Tag , , | 1 Komentar

1 Tes 2:1-12 Kasih sayang yang tegas [29 Okt 2017]

Penggalian Teks

Iman, kasih, dan pengharapan jemaat di Tesalonika yang menjadi buah dari pemberitaan Paulus dan Silwanus (p.1) bukanlah berita baru bagi jemaat (1a; kata “kedatangan” = “sambut” dalam 1:9). Dalam perikop kita, Paulus menyoroti pelayanannya yang tidak sia-sia itu (1). Yang mendasar ialah keberanian dia dan Silwanus berbicara (2). Keberanian itu bukan terhadap masalah rasa sungkan dalam dirinya — rasa takut jangan-jangan saya dihina — melainkan terhadap penghinaan yang sudah dialami di tempat yang lain dan hampir pasti akan terjadi kembali di Tesalonika. Penganiayaan dan penghinaan itu menjadi dasar bukti bahwa Paulus dan Silwanus tidak mencari keuntungan diri. Paulus mau membela Injil dari tuduhan bahwa pesan itu adalah sarana pencarian keuntungan, seperti banyak pesan yang lain.

Aa.3–6 menjelaskan (“Sebab”) motivasi mereka sehingga mereka mampu berani demikian. Tiga hal disebutkan yang akan menghancurkan kredibilitas pelayanan mereka. Kedua yang pertama (“kesesatan” dan “maksud yang tidak murni”) merujuk pada asal usul kegiatan mereka (Yunani: ek). Jika Paulus dan Silwanus sendiri tersesat, tentu berita mereka menyesatkan. Jika hati mereka dikuasi oleh keinginan-keinginan yang busuk, berita mereka juga layak ditolak. Kemudian, kedua asal usul itu akan bermuara pada cara tipu daya dalam pemberitaan mereka (Yunani: en). Jadi, Paulus menegaskan bahwa asal usul Injil mereka adalah Allah, dan bahwa perkenan Allah adalah tujuan mereka (4). Kemudian, dia mendukung klaim itu dengan merujuk pada tingkah lakunya (5–6). Jemaat sendiri melihat bahwa Paulus dan Silwanus berbicara terus terang (5a); Allah menjadi saksi bahwa mereka tidak rakus (5b); dan mereka juga tidak mencari pujian, walaupun secara budaya pujian kepada guru/pengajar/pendiri gerakan (dalam hal ini, rasul) itu sangat wajar (6). Dengan demikian, tingkah laku kedua rasul menunjukkan bahwa hanya Allah yang mau disukakan.

Kemudian, Paulus beralih dari apa yang dihindari (mulut manis dsb.) ke cara mereka melayani, yakni seperti seorang ibu (7–9) dan seperti seorang bapa (10–12; pembagian pada a.10 lebih jelas dalam bahasa aslinya). Seperti seorang ibu, Paulus dan Silwanus ramah, merawat jemaat, penuh kasih sayang, dan bekerja supaya tidak menjadi beban. Dalam suasana kasih yang hangat itu, Injil diberitakan, dan hidup Paulus dan Silwanus yang dibentuk oleh Injil itu juga dibagi. Dalam gambaran ini, seorang ibu membawa daya pemulihan yang membentuk nilai-nilai anaknya melalui kasih sayang. Pada saat yang sama, Paul dan Silwanus juga bertindak seperti seorang bapa. Mereka menunjukkan teladan yang jelas (10), dan mendorong dan menguatkan jemaat untuk hidup dengan cara yang sama (11–12a) sebagai anggota-anggota Kerajaan Allah yang hidup untuk kemuliaan Allah (12b). Penguatan itu dilakukan “seorang demi seorang” (11b), tidak hanya di depan umum. Tentu, kedua cara ini saling melengkapi. Orang yang terluka belum tentu siap dinasihati, tetapi orang yang tidak pernah ditantang tidak akan bertumbuh dewasa. Yang menarik ialah, Paulus dan Silwanus berusaha mecakup kedua segi ini dalam cara pelayanan mereka.

Beberapa catatan secara keseluruhan. Dari a.12b kita menjadi sadar bahwa memberitakan Injil selalu membutuhkan keberanian karena kerajaan-kerajaan manusia merasa terancam oleh Kerajaan Allah. Ketekunan dalam penghinaan menjadi bukti bagaimana pengikut Kristus menganggap Kerajaan Allah itu lebih mulia daripada kerajaan manusia. Kemudian, beberapa kosa kata (“maksud yang tidak murni” dalam a.3 melawan kelakukan yang “tak bercacat” dalam a.10) memberi petunjuk bahwa Paulus melihat pelayanannya sebagai persembahan kepada Allah. Yang terakhir, jemaat adalah keluarga dari Allah yang Mahakasih dan Mahakudus. Makanya, jemaat perlu dirawat dan ditantang supaya siap menjadi anggota Kerajaan Allah yang berguna.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Pelayanan yang sejati dilakukan di hadapan Allah dengan integritas dan dengan kasih sayang yang tegas kepada sesama. Pelayanan seperti itulah yang semestinya dihargai oleh jemaat dan diteladani oleh para pelayan.

Makna

Pelayanan Paulus dan Silwanus memiliki intensitas tertentu karena dilakukan dalam tekanan dan juga singkat. Namun, di balik cara mereka ada Injil. Mereka berani karena diutus untuk memberitakan Injil oleh Raja di atas segala raja. Mereka berintegritas karena pelayanan mereka adalah persembahan kepada Allah yang tidak boleh bercacat. Injil yang berbicara tentang kasih dan kekudusan Allah diperlihatkan dalam cara mereka berlaku seperti ibu dan bapa dengan jemaat.

Dalam budaya yang melatih anak-anaknya untuk sungkan, keberanian untuk berterus terang kepada kaum atas yang menganggap diri berhak menyuruh menjadi hal yang sulit, meskipun ancaman sebenarnya tidak besar. Namun, pendeta dan majelis diutus secara formal untuk menegaskan bahwa mereka pertama-tama melayani Allah, dan melayani jemaat demi Allah. Ketika jemaat makin makmur dan budaya amplop menjamur, para pelayan makin dibius olehnya untuk menjaga kepentingan dan perasaan para donatur. Penderitaan yang terjadi karena menyuarakan kebenaran dapat membantu memulihkan citra sebagai pelayan bayaran.

Pelayanan seperti seorang ibu dan bapa menuntut perhatian pribadi lepas pribadi. Hal itu tersirat paling sedikit dalam konsep perawatan dalam a.7, dan tersurat dalam a.11 (“seorang demi seorang”). Nasihat yang hanya disampaikan di depan umum belum tentu kena. Kita adalah jago mengenakan dosa yang digambarkan kepada orang lain dan bukan kepada diri sendiri. Baik nasihat maupun penguatan hati lebih mengena ketika seseorang tahu bahwa dia adalah sasarannya. Perkunjungan memiliki tujuan itu dalam tradisi Calvinis; kelompok kecil dapat juga memenuhi fungsi itu dalam budaya kota. Kebaktian rumah tangga berusaha memberi perhatian khusus kepada keluarga yang dikunjungi, tetapi yang terjadi hanya penguatan, karena fungsi nasihat pribadi memang tidak cocok dalam konteks itu.

Dipublikasi di 1 Tesalonika | Tag , | Meninggalkan komentar

1 Tes 1:1-10 Iman, Kasih, dan Pengharapan [22 Okt 2017]

Penggalian Teks

Paulus menulis surat ini kepada jemaat yang didirikan oleh pemberitaan Paulus dan Silas (= Silwanus) tetapi harus cepat ditinggalkan karena perlawanan orang Yahudi (Kis 17:1–9; pp.1–2 dari surat ini mencerminkan konteks itu). Kemudian, Paulus mengirim Timotius untuk mengetahui perkembangan mereka, dan surat ini ditulis dari mereka bertiga (1:1) begitu Timotius kembali dengan kabar yang baik (3:6). Namun, yang disampaikan Paulus ketika dia melaporkan syukur dan doanya bagi mereka adalah pemilihan mereka oleh Allah yang terbukti dalam semangat rohani mereka (4). Semangat itu diringkas dalam a.3, diceritakan dari penerimaan mereka terhadap Injil (aa.5–6), dan dari laporan tentang mereka dari jemaat-jemaat yang lain (aa.7–10).

A.3 menyebut tiga “kebajikan teologis” yang juga muncul di tempat yang lain, yaitu iman, kasih, dan pengharapan. Iman dilihat dalam pekerjaan mereka; kasih dilihat dalam usaha mereka yang sungguh-sungguh (kata Yunani kopos mungkin lebih dekat artinya dengan “jerih payah”); pengharapan dilihat dalam ketekunan mereka. Daftar ini agak aneh: pekerjaan, lebih lagi jerih payah, adalah yang cocok untuk hamba atau bawahan; ketekunan dibutuhkan oleh orang yang tertindas. Tetapi itulah yang disyukuri Paulus.

Syukur dan doa Paulus dkk. yang mereka lakukan dengan setia bahkan sebelum ada berita dari Timotius itu muncul dari keyakinan bahwa Allah telah mengasihi dan memilih jemaat di Tesalonika (4). Keyakinan itu muncul pertama-tama karena ada kekuatan dan keyakinan dalam pemberitaan Paulus dan Silwanus yang berasal dari Roh (5). Kemudian, sambutan orang-orang Tesalonika mencerminkan Roh yang sama: mereka bersukacita sekalipun mereka ditindas dengan berat (6). Sukacita itu menjadi teladan bagi orang-orang percaya lainnya (7). Jadi, Paulus menceritakan laporan orang lain tentang iman mereka (8). Ada tiga aspek yang mencerminkan ketiga kebajikan tadi. Mereka menerima Paulus dkk. dengan kasih (9a); mereka mengalihkan iman dan ibadah (pelayanan) mereka dari berhala kepada Allah yang hidup (9b); dan mereka menaruh pengharapan kepada Kristus yang akan datang kembali (10).

Unsur pengharapan ini layak disoroti. Dalam dunia itu, Kaisar banyak mempromosikan diri sebagai Juruselamat dunia, dan memang dia sangat berkuasa sehingga perkenannya dicari dan murkanya ditakuti. Tetapi dalam a.10 dilaporkan bahwa jemaat di Tesalonika memilih untuk takut akan murka Allah yang hidup, dan percaya bahwa Kristus menjadi Juruselamat yang sejati dengan menyelamatkan mereka dari murka itu. Makanya, mereka berani menanggung perlawanan dan penindasan, karena mereka tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut terhadap penguasa yang mewakili Kaisar, tetapi oleh rasa takut terhadap Kristus (diwakili oleh Paulus dkk.) yang mewakili Allah.

Perubahan mereka dapat dilihat dari perspektif rasa malu. Ada banyak alasan untuk merasa malu terhadap Paulus dan Silwanus: mereka membawa pesan yang aneh; mereka tidak menjadi bagian dari jaringan yang memiliki kedudukan; bahkan bagi beberapa orang Yahudi di sana, berita mereka lebih dari memalukan dan harus dihapus (Kis 17:5, 13); bagi pembesar di kota, keberadaan mereka menggelisahkan (Kis 17:8). Perubahan orientasi hidup mereka sehingga mereka melayani Allah bukan berhala dilihat pertama-tama dalam sambutan mereka terhadap pemberita Injil itu. Kemudian, pujian dari jemaat-jemaat yang lain menjadi sesuatu yang melebihi pujian dari orang banyak atau pembesar.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Iman, kasih, dan pengharapan jemaat di Tesalonika menjadi teladan bagi semua orang percaya. Kita dituntun untuk mencari hormat dalam persekutuan orang percaya, melayani Allah yang hidup dan benar, dan menaruh pengharapan pada Raja yang sebenarnya.

Makna

Perikop ini dapat dilihat dari perspektif berbagai tokoh yang muncul di dalamnya. Dari perspektif Paulus sebaga penginjil kita melihat pentingnya kuasa Roh. Dari perspektif Allah, kita melihat bahwa pemilihan-Nya yang menentukan melalui Roh itu. Dari perspektif jemaat kita melihat bagaiman kuasa Roh itu berwujud dalam iman, kasih, dan pengharapan.

Cerita Paulus mencerminkan jemaat yang mengalami perubahan afektif, yaitu dalam penilaian tentang apa yang terhormat dan apa yang layak ditakuti. Hal-hal itu sulit dibuat-buat. Ketika kita mencari muka dengan kelompok tertentu, kita membuktikan pentingnya mereka bagi kita. Ketika kita takut akan atasan atau pemerintah, kita membuktikan di mana kita menganggap kuasa yang sebenarnya terletak. Jemaat di Tesalonika yang menyambut pemberita Injil dan menantikan Kristus dapat diangkat sebagai cermin supaya jemaat mengukur kualitas iman, kasih, dan pengharapan mereka.

Dipublikasi di 1 Tesalonika | Tag , , | Meninggalkan komentar

Yes 5:1-7 Berbuah selaku kebun Tuhan [8 Okt 2017]

Penggalian Teks

Satu pola yang terdapat dalam kitab Yesaya ialah beberapa perikop tentang dosa dan hukuman yang berakhir dengan pengharapan keselamatan, seperti 1:2–2:5; 2:6–4:6. Setelah pengharapan dalam p.4 itu, perikop ini memulai satu rangkaian baru dengan kembali pada soal dosa. Perikop ini mengambil perspektif yang lebih luas, yaitu bagaimana Israel gagal menjadi taman Eden yang kedua yang subur dan berbuah. Jadi, fokus dalam perikop ini ialah kondisi bangsa Israel yang tidak mampu berbuah baik. Uraian berikutnya berakhir dengan panggilan Yesaya sebagai nabi, yang di dalamnya Allah tetap pesimis tentang kondisi Israel.

Alur perikop ini cukup jelas, dan bisa dilihat dalam struktur konsentrik. A. Ada kebun yang dimiliki “kekasihku” (1). B. Kebun dipersiapkan baik-baik olehnya (2a). C. Dia menantikan hasil (2b). D. Ajakan bagi Israel untuk mengadili antara pemilik dan kebun (3–4a). C′. Bukti: hasilnya buruk (4b). B′. Kebun dirusak pemilik (5–6). A′. Pemilik itu Tuhan; kebun itu Israel; hasil buruk itu kelaliman dan keonaran (7). Jadi, B–C memaparkan tuduhan terhadap Israel, dan B′ menyampaikan vonisnya. Inti dari struktur itu ialah bagian D, dan di situlah kita melihat maksud dari perikop ini, yaitu menuntun Israel untuk memahami mengapa Allah harus menghukum mereka. A.1a mulai dengan nada ringan sebagai nyanyian tentang kebun seorang sahabat, tetapi tentu nada itu berubah. Aa.1b–2 menyampaikan bahwa Allah sudah melakukan semua yang diperlukan untuk mendapat hasil yang baik; barangkali yang tersirat di sini termasuk keluaran dari Mesir, pemberian hukum Taurat, dan perjanjian dengan Daud. Buah kelaliman dan keonaran itu diuraikan dalam perikop selanjutnya.

Selain menjelaskan hukuman Allah, perikop ini menimbulkan pertanyaan, Apakah Israel sebagai kebun anggur yang jelek dapat berubah? Pengutusan Yesaya oleh Allah menunjukkan bahwa Israel tidak akan mendengarkan firman yang diberitakan Yesaya (6:9–10), dan bahwa pengharapan yang tipis saja (“tunas” dalam 6:13b) hanya akan muncul setelah hukuman yang sudah tidak dapat dihindari (6:11–13a). Dalam penguraian kemudian, tunas yang kudus itu diungkapkan sebagai keturunan raja Daud (Yes 9:1–6; 11:1–10). Tetapi Israel (yang mewakili manusia) tidak mampu bertobat; Allah harus melakukan sesuatu yang lebih dahsyat supaya umat-Nya pulih dan pengajaran Allah yang membawa damai itu sampai ke ujung bumi (Yes 2:2–4). Dalam konteks pp.40–55, Hamba Tuhanlah yang menanggung dosa Israel sehingga pemulihan itu dapat terwujud (p.53), dan Sion, kota Tuhan, dimuliakan (pp.60–62).

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Dengan membayangkan diri sebagai kebun anggur Tuhan yang sudah diberi segala sesuatu untuk berbuah, kita menangkap bahwa dosa berakar dalam pengingkaran terhadap anugerah Allah dan penolakan terhadap identitas yang Dia anugerahkan kepada kita. Hukuman Allah muncul sebagai penarikan anugerah-Nya sehingga kita menanggung akibat hidup tanpa pemberian-pemberian Allah. Perikop ini menantang kita untuk memeluk identitas kita sebagai kebun anggur Tuhan sehingga kita berbuah baik.

Makna

Jemaat adalah kumpulan orang yang percaya kepada Hamba Tuhan tadi sehingga dosa-dosanya telah ditebus. Jadi, bagaimana nyanyian ini mau dipahami? PB tetap mengangkat hukuman Allah terhadap Israel dalam PL sebagai peringatan untuk jemaat (misalnya, 1 Kor 10:1–13). Tetapi Paulus juga mengatakan bahwa kita sudah diselamatkan dari murka Allah dalam Kristus (Rom 5:8–10), sehingga dia mengatakan bahwa murka Allah itu untuk orang-orang durhaka (Ef 5:6). Namun, tetap ada peringatan dalam Ef 5:6: tidak mungkin anak-anak Allah yang sejati mau menyakiti hati Tuhan kembali. Jadi, ketika Yesus berbicara tentang jemaat sebagai pokok anggur (mempertajam kiasan kebun dalam perikop kita), Dia memperingati murid-murid-Nya bahwa ranting pokok anggur yang tidak berbuah akan dibuang (Yoh 15:6). Berkanjang dalam dosa mengungkapkan hati yang sudah menolak anugerah dan pengharapan. Berikutnya adalah usaha saya untuk memahami perikop kita dalam konteks Kristologis itu.

Aa.1–2 menyoroti dosa sebagai pengingkaran anugerah itu. Bagi Israel, anugerah itu dilihat dalam keluaran dari Mesir dan semua pemberian Allah yang memungkinkan Israel menjadi bangsa yang penuh berkat. Bagi jemaat, anugerah itu lebih luar biasa lagi dalam Yesus. Perhatikan isi anugerah itu: kebun adalah milik Tuhan, yang dirawat untuk berbuah. Manusia berdosa menganggap menjadi milik Tuhan itu kutuk: mereka mau menentukan kehidupan sendiri. Manusia berdosa mau berbuah dalam cita-cita sendiri, bukan untuk Tuhan. Tetapi kedua hal itu termasuk dalam anugerah Allah kepada kita; kita menjadi milik Tuhan dalam Kristus, dan kita dipagari oleh kuasa Roh Kudus. Makanya, bagi Paulus, menderita dan bangkit bersama dengan Kristus adalah cara hidup yang paling membahagiakan dan layak dikejar (Fil 3:7–16).

Aa.3–4 mengundang Israel turut dalam proses pengadilan. Mereka diajak untuk melepaskan dalih-dalih mereka yang mempersalahkan kondisi dan menutupi kekurangan mereka. Semestinya kita juga bertanya, apakah lagi yang bisa dilakukan Tuhan yang sudah mengutus Anak-Nya dan mencurahkan Roh-Nya atas kita? Hal itu bukan untuk mengurangi bahwa di berbagai tempat di dunia, jemaat dianiaya, miskin, dan mengalami berbagai tekanan yang lain. Tetapi seringkali buah Roh dalam konteks yang demikian justru jelas, sementara jemaat-jemaat Protestan di daerah-daerah mayoritas kristen di Indonesia rentan korupsi, perselingkuhan, perdukunan, dsb.

Aa.5–6 menunjukkan apa yang terjadi ketika perlindungan dan perawatan Allah ditarik, dan Allah membiarkan umat-Nya mengurus dirinya sendiri. Menolak anugerah Allah muncul dari kebutaan, di mana manusia tidak melihat bahwa berkat yang mereka salahgunakan hanya ada sebagai pemberian Allah. Adalah menarik berapa banyak orang tiba-tiba merindukan doa ketika sakit atau dilanda musibah, dan kefanaan mereka terbongkar. Tentu, akibatnya lebih dari hal itu saja. Ujung dari hukuman bagi Israel ialah pembuangan, dan secara perorangan kita memahami hal itu dalam rangka peringatan Kristus tentang neraka. Paulus juga melihat hukuman Allah sudah mulai berjalan dalam perbudakan yang terjadi terhadap dosa (Rom 1:18–31).

Dalam perumpamaan Yesus tentang penggarap kebun anggur (Mat 21:33–46), kita melihat satu aspek yang lain. Fokusnya di sini bukan kondisi kebunnya melainkan ulah penggarapnya. Para pemimpin Israel ditolak sebagai pemimpin umat, untuk diganti dengan “bangsa” lain. Bangsa itu bukan bangsa etnis, tetapi tubuh Kristus yang mencakup orang Yahudi dan orang non-Yahudi. Peralihan yang mendasar itu sudah terjadi, tetapi dalam sejarah gereja kita melihat bagaimana Allah mampu mengangkat gerakan baru di dalam gereja ketika gereja terlalu mapan dan membanggakan diri. Perpecahan yang sudah menjadi hobi gereja-gereja Protestan muncul sebagai akibat dari gereja yang sudah menjadi pertama-tama lembaga manusiawi, bukan lagi pokok anggur Tuhan.

Dipublikasi di Yesaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Fil 2:1-13 Kerjakan karena Diberdayakan [1 Okt 2017]

Penggalian Teks

Batas perikop dalam leksionari tidaklah biasa, karena dilanjutkan sampai a.13. Ada renungan tentang aa.1–11 di sini yang menyoroti kerendahan, jadi renungan ini akan menyoroti aa.12–13. Memang, ucapan “saudara-saudaraku yang kekasih” dalam a.12 menunjukkan peralihan fokus dari pemberitaan tentang Kristus ke penerapan, tetapi kata penghubung di awal kalimat (hoste = “sehingga”, yang tidak muncul dalam LAI) menandai bahwa nasihat ini adalah penerapan dari uraian Paulus sebelumnya. Jadi, ketaatan dalam a.12 bukan kepada Paulus melainkan kepada Kristus yang telah dibangkitkan Allah, yang setiap orang akan mengaku sebagai Tuhan (11). Dan ketaatan itu termasuk kesehatian dengan menganggap sesama orang percaya lebih utama daripada kita sendiri (3).

Namun, Paulus masuk dalam penerapan, dan yang pertama disoroti ialah supaya semangat rohani mereka muncul dari visi tentang alur pemuliaan Kristus melalui kerendahan, bukan dari kehadiran Paulus. Hal itu tidak berarti bahwa mereka tidak lagi bergantung pada sesama manusia, tetapi bahwa mereka tidak bergantung pada manusia tertentu, sekalipun dia adalah rasul (atau pendeta). Mereka perlu sehati sepikir untuk menghadapi tantangan terhadap Injil (1:27–30), tetapi yang semestinya menggerakkan mereka ialah penglihatan mereka akan Kristus, bukan tokoh manusia.

Kristus yang mulia itulah yang membuat mereka takut dan gentar sambil mengerjakan keselamatan mereka. Dalam PL, takut dan gentar hampir selalu dipakai untuk menggambarkan reaksi musuh-musuh Allah terhadap kedahsyatan keselamatan-Nya untuk Israel (misalnya, Kel 15:16; Mzm 2:11). Dalam surat-surat Paulus, pasangan kata itu dipakai untuk keseganan yang sangat: Paulus dalam memberitakan Injil kepada orang yang belum dikenal (1 Kor 2:3); jemaat di Korintus kepada utusan Paulus setelah mereka mengecewakannya (2 Kor 7:15); dan hamba kepada tuannya (Ef 6:5). Benang merahnya adalah kerinduan untuk berkenan bersamaan dengan kesadaran akan ketidaklayakan diri.

Demikian semestinya sikap kita di hadapan Kristus, sehingga kita giat mengerjakan keselamatan kita. Dari artian kata “mengerjakan” (Yunani: katergazomai) sendiri tidak jelas apakah keselamatan dihasilkan oleh usaha kita, atau diolah/dikembangkan oleh usaha kita. Barangkali, jemaat di Filipi sudah tahu apa yang disaksikan Paulus dalam 3:9–11, bahwa kita dibenarkan oleh iman kepada Kristus. Jadi, keselamatan itu bukan sesuatu yang kita hasilkan, tetapi pemberian Allah yang kita kembangkan dan hayati, antara lain dengan mengikuti pola kematian dan kebangkitan Yesus dalam kehidupan kita (3:10).

Dalam a.13, Paulus menguatkan niat jemaat untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan mengungkapkan bahwa Allah berperan bukan hanya dalam usaha kita melainkan juga dalam kemauan kita. Maksudnya untuk menanggapi kesadaran akan ketidaklayakan tadi: hasilnya tidak bergantung pada kelayakan atau kemampuan kita tetapi pada pengerjaan Allah yang tentunya sangat layak dan mampu.

Namun, pernyataan ini dapat menimbulkan pertanyaan. Kalau Allahlah yang mengerjakan kemauan dan pekerjaan saya, apakah saya semestinya menunggu saja Allah bekerja demikian? Pertanyaan itu membayangkan Allah sebagai oknum yang berkuasa di dalam dunia, sehingga setiap kali Dia bertindak dalam diri saya, kebebasan saya berkurang. Contoh kasar ialah ketika orang kesurupan: si dewa atau roh mengendalikan orang ganti orangnya sendiri. Kita berpikir bahwa jika Allah mengerjakan kemauan, maka kita tidak terlibat lagi. Tentu saja, tafsiran yang demikian tidak tepat. Kemauan ada pada inti diri kita; ketika saya mau, saya terlibat. Maksud Paulus lebih dekat dengan “memberdayakan”. Allah memberi kemauan kita berdaya untuk bekerja menurut apa saja yang berkenan kepada-Nya. Sebagai Pencipta, Allah sebenarnya memberdayakan semua tindakan manusia; kejahatan pun hanya bisa dilakukan karena kemampuan yang diberikan Allah dan disalahgunakan oleh manusia. Tetapi di sini Paulus menyoroti karya Roh Kudus (bdk. 2:1 & 3:3) dalam menjadikan kita ciptaan baru: Dia menghidupkan hati yang lesu sehingga kita mampu melawan keegoisan dan merendahkan diri sama seperti Kristus.

Tentang Apa dan Untuk Apa?

Allah memberdayakan usaha kita untuk memiliki sikap seperti Kristus yang dimuliakan karena menjadi seorang hamba. Pemberdayaan itu menyemangati usaha kita untuk bertumbuh dalam sikap dan praktek itu dalam persekutuan bersama.

Makna

Fil 2:1–11 memaparkan pola persekutuan yang indah dan menarik, dan teladan Kristus yang mengharukan. Tetapi nyatanya pola itu tidak mudah. Bagi Paulus, kita akan digerakkan untuk hidup demikian jika teladan Kristus itu besar dalam imajinasi kita, dan kita sadar bahwa Allah memberdayakan kehendak kita.

Teladan Kristus menusuk dalam budaya prestise (semua budaya di dunia, kurang lebih). Ternyata yang paling mulia di mata Allah ialah menjadi hamba semua orang. Tetapi bukankah manusia membutuhkan pengakuan dan penghormatan? Iman yang bermuara pada persekutuan seperti yang diharapkan dalam aa.1–4 yaitu iman yang tidak hanya percaya kepada Allah untuk materi, tetapi juga untuk penghormatan. Kita mengambil sikap dan kedudukan yang rendah terhadap sesama orang percaya karena kita yakin bahwa Allah akan meninggikan kita bersama dengan Kristus, dan karena kita mencintai penghormatan Allah di atas semua penghormatan manusia. Tentu, penghormatan manusia dapat menjadi saluran penghormatan Allah; dalam perikop berikutnya Paulus memuji teladan Timotius dan Epafroditus. Tetapi, sebagai persekutuan orang percaya, firman Allah menjadi patokan akan penghormatan yang benar dan yang sia-sia (2:3).

Sebaliknya, ketika kita berusaha mementingkan orang lain dan mendapat berkat (2:1–2), kita mulai lebih yakin bahwa pola yang dilalui Kristus (kemuliaan karena kerendahan) memang adalah pola hidup yang sejati. Mengerjakan keselamatan terjadi dalam timbal-balik antara mengusahakan cara hidup dan bertumbuh dalam iman itu.

Perubahan hati itu adalah proses (bdk. 3:12), dan janjinya dalam aa.12–13 ialah bahwa usaha kita untuk menangkap dan menghayati visi hidup seperti Kristus itu tidaklah sia-sia. Proses itu jarang terasa lancar atau lurus. Tetapi proses itu akan tetap berjalan (bdk. 1:6), karena Allahlah yang memberdayakannya.

Dipublikasi di Filipi | Tag , | Meninggalkan komentar